...

- Selamat Datang di Repository UIN Sultan Syarif

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

- Selamat Datang di Repository UIN Sultan Syarif
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Indonesia negeri yang menakjubkan karena banyak hal yang akan
ditemukan di Kepulauan hijau nan indah yang disebut sebagai zamrud
khatulistiwa. Sebuah negeri yang menawan dengan pesona keanekaragaman alam
dan mampu memberi kesan terdalam bagi pengunjungnya. Kondisi alam yang
indah yang mayoritas adalah lautan mejadikan Indonesia kaya akan keindahan
alam terutama keindahan baharinya. Selain itu dengan keadaan seperti ini
Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam yang bisa menjadi potensi
wisata tersendiri (Rohim, 2000).
Aktifitas wisata dalam hakekatnya merupakan salah satu kebutuhan untuk
menghilangkan kepenatan yang diakibatkan oleh aktifitas. Umumnya orang
berlibur ketempat-tempat yang menawarkan kenyamanan, keamanan, dan
tentunya hiburan.
Salah satu kekayaan alam Indonesia terdapat di Pulau Sumatera, Provinsi
Riau Kabupaten Pelalawan, yang mempunyai wisata tidak kalah baik dengan
wisata lainnya. Kabupaten Pelalawan memiliki sejuta lokasi pariwisata yang dapat
menyegarkan mata dan memberikan ketenangan pikiran yang memiliki potensi
tidak kalah baik dibandingkan objek wisata lainnya diantaranya terdiri dari
Gelombang Bono, Pantai OGIS, Taman Nasional Tesso Nilo, Istana Sayap
Pelalawan, Desa Betung dan Pusat Budaya Petalangan, dan lain-lain. Daerah
pariwisata di Kabupaten Pelalawan juga dapat menghasilkan pendapatan bagi
1
masyarakat di daerah wisata tersebut. Sebagaimana diketahui dari segi ekonomi
pariwisata merupakan salah satu penghasil Devisa Negara, dan pendapatan
Daerah, dan dari segi sosial pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja.
Kabupaten Pelalawan mempunyai aset-aset wisata yang menarik untuk
dikunjungi dan cukup potensial. Salah satu objek wisata yang dapat menarik
perhatian dunia adalah gelombang Bono. Potensi gelombang Bono yang pada saat
ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas terutama masyarakat
dalam negeri perlu mendapat perhatian Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Pelalawan. Gelombang Bono ini diyakini bisa menjadi
objek wisata yang dapat menarik perhatian dunia. Pasalnya, gelombang Bono
yang sangat menghebohkan sepelancar dunia ini, dianggap mempunyai keunikan
tersendiri.
Dari tahun ke tahun kunjungan wisatawan yang berkunjung mengalami
peningkatan. Menurut situs berita Antara Riau.com kunjungan turis ke Bono
meningkat hampir 40 persen, dan untuk tahun 2012 kunjungan wisatawan ke
Bono mencapai 600-an orang. Dan perkiraan kunjungan wisatawan ke kawasan
wisata objek Bono oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Pelalawan tahun 2013 mencapai 12.600 orang. Dan ini mengalami
peningkatan kunjungan wisatawan yang sangat pesat.
Event yang pernah diadakan oleh Kabupaten Pelalawan dalam
mempromosikan kawasan wisata Gelombang Bono dimulai pada tahun 2010
dengan diadakannya surfing pertama kali oleh para peselancar dari luar negeri,
tahun 2011 pihak Pemerintah Kabupaten Pelalawan mengadakan pagelaran Seni
2
Budaya Tirta Bono untuk memberikan hiburan kepada para peselancar agar para
wisatawan atau turis mau berlama-lama di Teluk Meranti. Dan pada tahun 2013
lalu diadakan kembali Event Festival Bekudo Bono dengan tema 7 Days for 7
Ghost.
Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan,
wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata, sedangkan wisata
adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan
secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik
wisata (Muljadi, 2010: 12).
Sedangkan pariwisata itu sendiri adalah sejumlah kegiatan yang ada
hubungannya dengan perjalanan yang dilakukan hanya untuk sementara waktu
yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat setempat, adanya
pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing serta adanya orang-orang keluar
masuk kota di suatu daerah atau suatu negara dengan waktu yang relatif singkat
untuk menikmati perjalanan guna bertamasya dan berekreasi untuk memperoleh
kesenangan (Pendit, 1991:85). Untuk mendukung agar pariwisata dapat hidup dan
berkembang serta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan maka diperlukan
semua fasilitas prasarana dan sarana kepariwisataan guna memenuhi kebutuhan
mereka yang beraneka ragam. Salah satu sektor penentu keberhasilan pariwisata
diperlukan promosi. Bagian terpenting dari sebuah perusahaan, organisasi bahkan
industri pemerintah, baik yang bersifat komersial maupun yang non komersial
dalam mempromosikan suatu aset yang dimiliki dilihat dari strategi promosinya.
3
Ibarat suatu gunung es, maka strategi tindakan adalah bagian yang berada di
bawah permukaan air.
Upaya kegiatan mempromosikan tempat kunjungan wisata di daerah tidak
semudah dengan kegiatan serupa yang dilakukan untuk produk-produk
perusahaan. Promosi tempat tujuan wisata sangat diperlukan oleh daerah-daerah
yang memiliki banyak potensi di tanah air. Promosi tempat wisata yang dirancang
dengan baik akan memberikan tambahan penerimaan asli daerah, dan mendorong
proses multiplier perkembangan ekonomi lokalitas di sekitar daerah tujuan wisata.
Namun kenyataannya dalam mempromosikan objek wisata Bono masih
ada masyarakat yang belum mengetahui keajaiban alam ini, yang mana keajaiban
alam berupa Gelombang Bono yang langka di dunia ini kurang mendapat
perhatian dari masyarakat Indonesia, bahkan masih ada masyarakat Riau yang
belum mengenal keajaiban alam yang dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan ini.
Potensi objek wisata bono yang ada di Kabupaten Pelalawan ini mulai diminati
oleh banyak wisatawan dalam maupun luar negeri. Objek wisata unggulan yang di
miliki ini banyak diminati oleh para surfing profesional karna keunikannya yang
hanya ada satu di Indonesia. Ditengah gencarnya perhatian masyarakat luar dan
komunitas surfing dunia terhadap gelombang bono, ternyata masih banyak
masyarakat lokal dan Nasional sendiri yang masih belum mengenal potensi objek
wisata ini. Sedangkan jika fenomena ini terjadi, peselancar dari luar negeri yang
akan mengadakan pertunjukan surfing, sedangkan masyarakat dari dalam negeri
masih ada yang belum mengenal, begitu juga dengan objek wisata lainnya yang
dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan. Berdasarkan hasil pengamatan secara
4
langsung mengenai keajaiban alam yang dimiliki Kabupaten Pelalawan berupa
Gelombang Bono dalam mengembangkannya masih ditemukan gejala-gejala
sebagai berikut:
1. Masih ada masyarakat dalam negeri yang belum mengenal keajaiban
alam yang dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan berupa Gelombang
Bono.
2. Keajaiban alam yang dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan berupa
Gelombang Bono hanya terjadi ketika musim penghujan saja.
3. Sarana dan prasarana kurang mendukung di lokasi keajaiban alam ini
sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah setempat.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penulis
tertarik untuk mengembangkan dalam suatu penelitian, dengan judul : “Strategi
Promosi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten
Pelalawan Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Pada Event Wisata
Bono”.
B. Alasan Pemilihan Judul
Adapun alasan pemilihan judul dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Permasalahan ini cukup menarik untuk diteliti, karena pariwisata
merupakan salah satu sektor yang memberikan tambahan devisa negara
dan pendapatan daerah, dan juga objek wisata yang akan memberikan
dampak pada peningkatan wisatawan.
5
2.
Kabupaten Pelalawan mempunyai objek wisata baru yang tidak kalah
baik dengan objek wisata lainnya yaitu berupa Gelombang Bono.
3.
Judul memiliki relevansi terhadap pendidikan dan jurusan penulis yakni
ilmu komunikasi.
C. Permasalahan
1.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah masalah-masalah yang dapat dilihat pada
objek dan subjek penelitian yang kemudian dirumuskan. Maka dapat
diidentifikasikan masalah yang ada sebagai berikut :
a)
Bagaimana strategi promosi dan fasilitas sarana prasarana Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan
dalam meningkatkan kunjungan wisatawan pada event wisata Bono.
b)
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi promosi Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan
dalam meningkatkan kunjungan wisatawan pada event wisata Bono.
c)
Seberapa efektif kegiatan promosi yang digunakan Dinas Kebudayaan
Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam
mempromosikan objek wisata Bono.
2.
Batasan Masalah
Untuk lebih memfokuskan permasalahan, penulis membatasi masalah
dalam penelitian ini yaitu: strategi promosi Dinas Kebudayaan, Pariwisata,
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam meningkatkan kunjungan
wisatawan pada event wisata Bono.
6
3.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas,
maka rumusan masalahnya adalah bagaimana strategi promosi Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam
meningkatkan kunjungan wisatawan pada event wisata Bono?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
a) Untuk mengetahui strategi promosi Dinas Kebudayaan Pariwisata
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam meningkatkan
kunjungan wisatawan pada event wisata Bono.
2.
Kegunaan Penelitian
a) Kegunaan Akademis
1) Untuk
mengetahui
bagaimana
strategi
promosi
Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Pelalawan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan pada
event wisata Bono.
2) Sebagai salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana di
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SUSKA RIAU
b) Kegunaan Praktis
1) Sebagai
bahan
informasi
dan
masukan
kepada
Dinas
Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten
7
Pelalawan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di
Pelalawan.
2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah
ilmu pengetahuan dan ilmu komunikasi khususnya tentang
strategi promosi sebagai bagian dari proses belajar sehingga
dapat memahami aplikasi teori-teori yang telah diperoleh dari
bangku kuliah.
3) Untuk mengembangkan pemahaman dan disiplin ilmu penulis
dalam bentuk penelitian.
4) Untuk menambah wawasan pembaca pada umumnya dan
penulis
pada
khususnya
mengenai
permasalahan
dalam
penelitian ini.
E. Penegasan Istilah
1. Strategi Promosi
Menurut Lamb, Hair, McDaniel, strategi promosi adalah rencana untuk
penggunaan yang optimal dari elemen-elemen promosi: periklanan, hubungan
masyarakat, penjualan pribadi dan promosi penjualan yang akan dilakukan untuk
merealisasikan tujuan promosi wisata yang telah ditetapkan (Adit, 2007).
2. Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Pelalawan
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Pelalawan adalah suatu lembaga instansi pemerintah Kabupaten Pelalawan yang
bergerak di bidang kepariwisataan, kesenian dan kebudayaan dan mempunyai
8
tugas untuk membantu Bupati Pelalawan dalam melaksanakan tugas di bidang
pariwisata, kesenian, dan kebudayaan.
3. Wisatawan
Wisatawan ialah individu atau sekelompok individu yang melakukan
perjalanan dari tempat asalnya ke tempat/negara lain dan berada di tempat tersebut
tidak kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan untuk tujuan bersenangsenang dan non-imigran serta tidak untuk mencari nafkah (Muljadi, 2010: 11).
4. Wisata Bono
Bono merupakan keajaiban alam yang menakjubkan yang terjadi di
Hilir Sungai Kampar atau lebih dikenal dengan sebutan Semenanjung Kampar,
tepatnya di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Ombak Bono adalah pertemuan
arus pasang air laut dengan arus sungai dari Hulu menuju muara (Hilir). Air laut
mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai Kampar sehingga terjadi
gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan manghasilkan suara seperti
suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang
sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi
keseluruhan badan sungai. Pada saat sekarang ini ketika gelombang Bono terjadi
para peselancar akan melakukan surfing di atas gelombang Bono tersebut.
Gelombang Bono terjadi diakibatkan benturan tiga arus air yang berasal dari Selat
Melaka, Laut Cina Selatan dan aliran air Sungai Kampar. Secara ilmiah,
gelombang Bono merupakan salah satu peristiwa alam yang cukup langka dan
jarang terjadi. Faktor penyebab timbulnya ombak Bono adalah (wikipedia: 2013) :
9
1. Aliran air sungai yang menuju muara
2. Air pasang
Kata Bono sendiri berasal dari sebuah cerita pada dulu kalanya, cerita
ini telah menjadi cerita secara turun temurun, pada dulu kala orang Pelalawan
(Kerajaan Pelalawan) pergi berbelanja ke Malaka, saat itu mereka menggunakan
tongkang, sesampainya di Laut Embun (Teluk Meranti) Tongkang yang mereka
gunakan kandas terkena gelombang pasang. Lalu mereka kembali ke Pelalawan
dan melapor kepada Raja Pelalawan bahwa tongkang mereka kandas dan tidak
bisa melanjutkan perjalanan, tetapi raja Pelalawan tidak percaya begitu saja
dengan omongan warganya, kemudian Raja Pelalawan mengutus beberapa orang
untuk ke Teluk Embun membuktikan apakah benar yang dikatakan warganya dan
juga diikuti oleh beberapa orang sebagai saksi yaitu Anak Raja Pelalawan, Anak
Raja Ranah Tanjung Bunga (Langgam), Anak Raja Pagaruyung, Anak Raja
Gunung Sahilan, Anak Raja Macam Pandak. Apabila kemudian tidak terbukti
omongan para warganya yang mengatakan kapal mereka telah kandas, maka sang
Raja akan memberikan hukuman mati kepada sang juru kemudi Tongkang .
Sesampainya mereka di Teluk Embun mereka menemukan gelombang pasang dan
Tongkang mereka juga kandas, kemudian anak Raja Pelalawan berkata kepada
juru kemudi Tongkang “Iya bono gelombang pasang kata kamu” (ternyata benar
yang kamu katakan). Bono sendiri adalah bahasa Pelalawan yang berarti benar.
F. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan
Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini dicantumkan penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh peneliti lain.
10
Penelitian yang dilakukan oleh Anak Agung Ayu Ambarawati mahasiswi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta tahun 2011 tentang
Evaluasi Strategi Promosi Dinas Pariwisata Provinsi Bali dalam Event Pesta
Kesenian Bali Untuk Menarik Wisatawan Mancanegara. Penelitian ini mengamati
strategi yang digunakan Dinas Pariwisata Provinsi Bali dalam mempromosikan
wisata yang ada di Bali dan juga dalam hal mempromosikan Event Pesta Kesenian
Bali. Adapun yang digunakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali berupa elemenelemen bauran komunikasi pemasaran yaitu pemasaran langsung kepada
wisatawan dengan mengikuti pameran ataupun event yang ada di luar negeri.
Penggunaan komunikasi pemasaran secara langsung yaitu komunikasi verbal
seperti kegiatan publikasi, direct selling dan promosi penjualan untuk
meningkatkan kunjungan wisatawan asing. Sedangkan untuk mempromosikan
event Pesta Kesenian Bali Dinas Pariwisata menggunakan periklanan.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Yulius Railexander mahasiswi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2008 tentang
Strategi Humas Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun Dalam
Mengembangkan Pariwisata di Kabupaten Karimun. Penelitian ini mengamati
strategi Humas Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun yaitu
dengan menyusun tahapan perencanaan berupa program-program kerja yang akan
di lakukan 5 tahun kedepan dalam rangka usaha mewujudkan visi dan misinya,
adapun program-program kerjanya seperti pembuatan VCD profil pariwisata
Kabupaten Karimun, peningkatan objek wisata dan atraksi wisata, pengembangan
kegiatan seni dan budaya, pembinaan adat istiadat dan nilai-nilai sejarah namun
11
dalam pelaksanaannya belum didukung dengan promosi yang maksimal sehingga
tidak dapat mencapai sasaran secara keseluruhan karena media promosi yang
digunakan belum mampu menyentuh lapisan masyarakat secara keseluruhan dan
juga melaksanakan berbagai event-event secara berkala juga melakukan kerja
sama dengan pihak-pihak swasta.
Berikutnya, penelitian yang dilakukan oleh Siti Rahma mahasiswi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2008 tentang
Kinerja Humas Dalam Menggalakkan Pengembangan Potensi Pariwisata Siak
(Studi Pada Disparsenibudpera Kabupaten Siak). Penelitian ini mengamati
kinerja Disparsenibudpera Kabupaten Siak dalam menggalakkan potensi
pariwisata dengan mengadakan kerja sama dengan stakeholders untuk mengelola
objek wisata dan daya tarik wisata sebagai daerah tujuan wisata alam yang masih
alami dan masih melekat tradisional masyarakat melayu melalui media massa,
baik media cetak maupun media elektronik. Promosi kebanyakan dilakukan
dengan mengikuti event festival dan pameran di dalam dan di luar negeri.
Dari penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh beberapa penelitian,
penulis menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan penelitian.
Adapun penelitian yang akan dilakukan membahas mengenai strategi promosi
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam
meningkatkan kunjungan wisatawan pada event wisata Bono yang membedakan
penelitian ini lebih memfokuskan promosi dalam meningkatkan kunjungan
wisatawan dengan memperhatikan potensi wisata yang dimiliki selain itu yang
12
membedakannya dengan penelitian terdahulu adalah lokasi dan organisasi yang
berbeda.
G. Kerangka Teoritis
Sebagai dasar pemikiran dalam penelitian ini maka penulis terlebih dahulu
mengemukakan kerangka teoritis sesuai dengan masalah yang dibahas. Kerangka
teoritis merupakan dasar berpikir untuk mengkaji dan menjelaskan teori-teori
yang mengkaji landasan dalam penelitian ini guna mengarahkan penelitian dan
memperoleh kebenaran dalam penelitian ini ada beberapa teori yang dipaparkan
sebagai acuan terhadap permasalahan yang ada.
1.
Strategi Promosi
a) Strategi
Kata “strategi” berasal dari akar kata bahasa Yunani strategos yang
secara harfiah berarti “seni umum,” kelak term ini berubah menjadi kata sifat
strategia berarti “keahlian militer” yang belakangan diadaptasikan lagi ke
dalam lingkungan bisnis modern (Liliweri, 2011: 240).
Strategi adalah konsep yang mengacu pada suatu jaringan yang
kompleks dari pemikiran, ide-ide, pengertian yang mendalam, pengalaman,
sasaran, keahlian, memori, persepsi, dan harapan yang membimbing untuk
menyusun suatu kerangka pemikiran umum agar kita dapat memutuskan
tindakan-tindakan yang spesifik bagi tercapainya tujuan.
Keberadaan strategi tidak terlepas dari tujuan yang dicapai. Hal ini
ditunjukkan oleh suatu jaringan kerja yang membimbing tindakan yang akan
dilakukan, dan pada saat yang sama, strategi akan mempengaruhi tindakan
13
tersebut. Ini berarti bahwa prasyarat yang diperlukan untuk merumuskan
strategi adalah meningkatkan pemahaman tentang tujuan. Artinya, setelah
kita bersama-sama memahami hakikat dan makna suatu tujuan, maka kita
menentukan strategi untuk mencapai tujuan. Tanpa tujuan, maka tindakan
yang dibuat semata-mata sekadar suatu taktik yang dapat meningkat cepat
namun sebaliknya dapat merosot ke dalam satu masalah lain (Liliweri, 2011:
239).
Strategi merupakan simpulan taktik dalam keperluan bagaimana
tujuan yang diinginkan dapat diperoleh atau didapat. Oleh sebab itu, strategi
biasanya terdiri atas dua atau lebih taktik, dengan anggapan yang satu lebih
bagus dari yang lain. Dengan demikian, strategi merupakan kumpulan taktik
dengan maksud mencapai tujuan dan sasaran dari perusahaan, institusi atau
badan. Bila strateginya sudah benar, maka pertempuran sudah separuh
dimenangkan. Sebaliknya, bila pelaksanaan kurang baik, pertempurannya
lebih dari separuh dinyatakan kalah, seperti menurut Sun Tzu dalam The Art
War. Guna memudahkan pengertian strategi dalam pemasaran, maka para
pelaku pasar harus mengartikan strategi minimal sebagai sebuah gambaran
besar, pandangan jarak jauh (jangka panjang), cara mencapai tujuan,
ringkasan taktik, pedoman taktik, platfrom dan lain-lain (Prisgunanto, 2006:
87).
Manajemen strategi tidak dapat diterapkan pada organisasi atau
perusahaan yang cenderung tertutup. Pelaksanaan manajemen strategis
membutuhkan keterbukaan agar dapat dilaksanakan dengan baik. Menurut
14
Cutlip-Center-Broom, perencanaan strategis meliputi kegiatan (Morissan,
2008: 152-153) :
1) Membuat keputusan mengenai sasaran dan tujuan program.
2) Melakukan identifikasi khalayak penentu (key publics).
3) Menetapkan kebijakan atau aturan untuk menentukan strategi yang akan
dipilih, dan
4) Memutuskan strategi yang akan digunakan.
Dalam hal ini, harus terdapat hubungan yang erat atas seluruh tujuan
program yang sudah ditetapkan, khalayak yang ingin dituju dan juga strategi
yang dipilih. Hal terpenting adalah bahwa strategi dipilih untuk mencapai
suatu hasil tertentu sebagaimana dinyatakan dalam tujuan atau sasaran yang
sudah ditetapkan.
b) Promosi
Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran
yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk
jasa. Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara
perusahaan dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk
mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa
sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya (Lupiyoadi dan Hamdani, 2011:
120).
Kegiatan promosi ini harus dapat dilakukan sejalan dengan rencana
pemasaran serta diarahkan dan dikendalikan dengan baik sehingga promosi
15
tersebut benar-benar dapat memberikan kontribusi yang tinggi dalam upaya
meningkatkan volume penjualan.
Promosi berasal dari kata promote dalam bahasa Inggris yang
diartikan sebagai mengembangkan atau meningkatkan. Pengertian tersebut
jika dihubungkan dengan bidang penjualan berarti sebagai alat untuk
meningkatkan omzet penjualan.
Menurut Saladin (2003), promosi adalah salah satu unsur dalam
bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan,
membujuk, dan mengingatkan tentang produk perusahaan (Rangkuti, 2009:
49-50).
Pemasaran
pariwisata
berbeda
dengan
pemasaran
industri
manufaktur karena ciri khusus pariwisata. Berdasarkan sejarahnya, pemasaran
pariwisata diorientasikan pada produk. Fokus usaha pemasaran adalah
menyediakan
pantai
terbaik,
kamar
terbaik,
dan
sebagainya,
dan
mengasumsikan bahwa, karena hal-hal “terbaik” ini, wisatawan akan secara
otomatis mengunjungi tempat-tempat terbaik tersebut. Akan tetapi, bila
persediaan (tempat tujuan wisata, penerbangan, hotel) lebih besar dari
permintaan, fokusnya cenderung untuk berpindah pada orientasi penjualan –
di mana penekanannya pada bagaimana meyakinkan wisatawan untuk
mengunjungi tempat tujuan wisata tertentu. Dalam pariwisata kita
berhubungan dengan “produk yang hidup” – sebuah kawasan tujuan wisata.
Bila fokus kita harus diarahkan untuk kenyamanan wisatawan, lingkungan
fisik, sosial, dan budaya sebuah kawasan tujuan wisata haruslah dilindungi.
16
Kawasan tujuan wisata yang bisa memenuhi kebutuhan wisatawan tetapi
membuang budaya dari tata cara mereka sendiri akan segera kehilangan halhal yang justru membuat tempat itu menarik. Tugas bagian pemasaran adalah
memenuhi kebutuhan wisatawan sambil tetap melindungi integritas kawasan
tujuan wisata itu sendiri (Mill, 2000: 317-318).
c) Mengembangkan Rencana Promosi
Promosi terdiri dari kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
penjualan. Ada beberapa langkah pengembangan sebuah rencana promosi.
Langkah tersebut adalah (Mill, 2000: 318-331) :
1) Memilih pemirsa (pendengar atau pembaca) yang dituju.
Pemasaran pariwisata secara meluas melibatkan juga perantara atau
perusahaan perantara yang beroperasi dalam saluran distribusi antara
penghasil dan wisatawan. Kampanye promosi seringkali perlu ditujukan baik
bagi wisatawan maupun bagi satu atau banyak perantara yang terlihat.
Pengembangan atau pembangunan orientasi pemasaran melibatkan sasaran
pesan agar bisa cocok dengan yang dibutuhkan dan yang diinginkan.
Meskipun demikian, dalam pariwisata, penghasil, perantara, dan wisatawan
itu sendiri mempunyai kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Wisatawan
berlibur untuk mencari kesenangan atau menghilangkan rasa tidak nyaman.
Mereka menginginkan banyak informasi tentang apa yang mereka beli,
beragam pengalaman yang bisa mereka pilih, yang secara terus menerus
diperbarui, di mana mereka tinggal, apa yang bisa dilakukan, dan sebagainya.
Mereka ingin diperlakukan sebagai pribadi oleh tuan rumah yang ramah yang
17
tahu persis tentang berbagai pilihan yang tersedia dan dapat melakukan
liburan dengan waktu dan usaha yang minimum. Dapat dilihat bahwa, produk
yang sama, kampanye promosi yang sama sekali berbeda diperlukan baik
bagi wisatawan maupun agen perjalanan eceran yang menjualnya.
2) Menentukan Tujuan
Tujuan promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi, dan/atau
mengingatkan. Tujuan-tujuan ini berperan dengan tahapan yang berbeda
dalam proses pembelian yang dilakukan oleh wisatawan. Agar bisa membuat
wisatawan membeli dan membeli lagi, kampanye promosi yang sukses
haruslah (Mill, 2000: 320) :
(a) Menarik perhatian wisatawan
(b) Mengembangkan pemahaman tentang keuntungan paket wisata yang
ditawarkan
(c) Menciptakan sikap
yang positif tentang apa yang sedang
dipromosikan
(d) Mengembangkan preferensi wisatawan untuk apa yang sedang
dipromosikan
(e) Membuat wisatawan mau mengunjungi objek wisata
(f) Menjamin bahwa wisatawan bisa kembali dengan selamat
3) Mengembangkan Pesan yang Cocok
Tema promosi berasal dari perbandingan analisa produk, pasar, dan
kompetisi. Analisa pasar akan menginformasikan, satu diantara banyak hal,
apa yang diinginkan oleh pasar – apa yang penting bagi orang-orang dalam
18
pasar itu. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang penting bagi wisatawan
potensial dan membandingkan apa yang kita miliki dengan yang dimiliki
pesaing kita, sebuah tema promosi dapat dikembangkan.
Persepsi vs. Realitas (Mill, 2000: 325). Faktor yang rumit muncul
bila kita pertimbangkan bagaimana kita diterima atau dirasakan oleh pasar
berdasarkan faktor-faktor yang dianggap penting oleh pasar.
Tourist Image
Positive
Negative
1
2
Positive
3
4
Negative
Perbandingan
citra
berhadapan
Actual Situation
dengan
situasi
sebenarnya
ditunjukkan pada tabel diatas. Kotak 1 menunjukkan sebuah situasi di mana,
pada faktor yang penting bagi wisatawan yang tertarik untuk datang, citra
perusahaan atau kawasan tempat tujuan wisata berciri positif dan, dalam
kenyataannya, kita benar-benar positif. Sebagai contoh, orang-orang yang
ramah dan bersahabat adalah penting bagi wisatawan, mereka berpikir kita
mempunyai orang-orang yang ramah dan bersahabat dibandingkan dengan
pesaing. Kemudian, ini menjadi pesan dalam tema kampanye promosi.
Kotak 2 menggambarkan sebuah situasi di mana citra yang muncul
negatif tetapi keadaan sebenarnya adalah positif. Orang-orang yang ramah
penting, kita benar-benar mempunyai orang-orang yang ramah tetapi
wisatawan tidak merasakan orang-orang lokal sebagai orang yang ramah dan
19
bersahabat. Pesannya secara esensial sama, tetapi kita harus bekerja lebih
keras dan lebih lama untuk merubah citra ini.
Kotak 3 dan 4 mengindikasikan masalah bagi kawasan tujuan wisata
itu. Pada kotak 3, wisatawan percaya bahwa penduduk lokal bersahabat dan
ramah pada wisatawan tetapi kenyataannya mereka tidak seperti itu.
Wisatawan dapat ditarik untuk datang tetapi, begitu mereka tiba, mereka akan
menyadari bahwa persepsi mereka salah. Mereka tidak akan datang kembali
dan akan menyebarkan iklan negatif dari mulut ke mulut pada yang lain. Pada
kotak 4, wisatawan tidak percaya bahwa orang-orang lokal ramah dan
bersahabat dan dalam kenyataannya, mereka ternyata benar. Pada kedua
kasus ini “produknya” harus dirubah sebelum situasi dapat diperbaiki.
Mungkin sejumlah seminat pendidikan dapat diselenggarakan untuk
menunjukkan pada penduduk lokal betapa pentingnya pariwisata bagi
mereka.
4) Memilih Media Promosi Campuran
Banyak metode dapat digunakan agar pesan kita sampai. Metode
yang paling banyak digunakan dalam dunia pariwisata adalah mengiklankan –
konsumen dan produsennya, menjual secara personal, publisitas atau humas,
dan bahan-bahan promosi lainnya, seperti poster dan pajangan di etalase
kantor.
Komponen promosi wisata yang digunakan oleh instansi pemerintah
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan
semua unsurnya selalu terintegrasi ke dalam kampanye komunikasi yang
20
spesifik. Masing-masing komponen itu mempunyai keunggulan dan
kelemahan dalam artian biaya, ketepatan, dan kemampuan menyampaikan
pesan.
(a) Periklanan
Periklanan adalah regulasi yang mengatur mekanisme penyebaran
informasi tentang produk yang dikemas dalam “iklan” melalui media massa
cetak, elektronik, atau media ruang lain. Salah satu ciri utama dari iklan
adalah pembayaran terhadap ruang dan waktu kepada media komunikasi.
Salah satu fungsi utama iklan adalah “mengantar” informasi tentang produk
kepada audiens atau pelanggan. Iklan mempunyai keistimewaan, iklan berisi
konten atau informasi, dan audiens justru mendatangi tempat-tempat
penjualan. Jadi “iklan” sangat berjasa dalam aktivitas bisnis, karena dialah
yang mengantar informasi kepada target audiens (Liliweri, 2011: 498).
(1) Surat Kabar. Surat kabar relatif tidak mahal, baik pada biaya total
maupun biaya persatuannya – biaya untuk mencapai orang perorang.
Surat kabar menawarkan ketepatan secara geografis dan frekwensi
yang tinggi. Akan tetapi selektivitas pasarnya rendah.
(2) Majalah. Majalah membutuhkan jumlah biaya total dan biaya per
orang yang lebih tinggi dibandingkan dengan surat kabar. Majalah
juga mempunyai waktu berita bagi iklan yang lebih lama. Akan
tetapi, karena ciri dasar yang lebih khusus, majalah mempunyai
faktor selektivitas pasar yang lebih tinggi sedangkan edisi
21
regionalnya menawarkan sejumlah selektivitas geografik yang
bagus.
(3) Televisi. Televisi adalah media yang sangat bagus untuk
mempromosikan pariwisata karena media ini dapat menggunakan
daya pandang, suara, dan gerakan. Biayanya sangat mahal meskipun
biaya kontak per orangnya mungkin rendah.
(4) Radio. Radio menawarkan keuntungan biaya rendah dan fleksibilitas
waktu yang tinggi. Radio selektivitasnya tinggi secara geografis dan
menawarkan selektivitas pasar di atas rata-rata. Karena ini, dan fakta
bahwa pendengar biasanya mendengarkan radio sambil melakukan
sesuatu yang lain, iklan harus terdengar berulang-ulang jika iklan
tersebut diharapkan mempunyai pengaruh terhadap wisatawan
potensial.
(5) Papan Reklame. Ada dua jenis reklame – papan reklame dagang dan
tanda penunjuk transit. Papan reklame menawarkan selektivitas
secara geografis yang bagus dan biayanya rendah. Akan tetapi, jenis
iklan ini terbatas jumlah informasi yang bisa didapatkan. Agar bisa
efektif, pesannya harus singkat, mempunyai pandang yang tinggi dan
jauh, dan hendaknya juga dipasang di tempat lain.
(6) Bahan pustaka daya tarik komunitas. Bahan pustaka daya tarik
komunitas, seringkali dinamakan materi kolateral, terdiri dari brosur,
pamflet, peta, dan direktori. Bahan-bahan ini dapat bersifat
promosional, informasional, dan direksional. Sampul adalah bagian
22
terpenting brosur. Setelah foto sampul, judul adalah yang paling
banyak dibaca pada brosur. Pastikan bahwa judul menjual
personalitas dan ciri-ciri unik fasilitas kawasan tempat tujuan wisata.
(7) Film. Biaya film perjalanan wisata sangat mahal. Akibatnya,
penggunaan jenis promosi ini terbatas pada perusahaan-perusahaan
besar, kota-kota, negara bagian, dan negara-negara.
(8) Pengiklanan Kooperatif. Pengiklanan yang melibatkan sponsor
dikenal sebagai pengiklanan kooperatif, atau cukup pengiklanan coop.
(b) Publisitas atau Humas
Humas biasanya dianggap sebagai iklan gratis pada perusahaan atau
kawasan tempat tujuan wisata karena mereka tidak membayarkan sebagai
agen iklan. Tapi tetap saja ada biaya yang harus dikeluarkan. Agar efektif,
sebuah kampanye promosi humas haruslah direncanakan dengan baik dan
kemudian dilaksanakan dengan baik juga. Humas hendaknya mempunyai
tujuan, cara mencapai tujuan tersebut, pasar sasaran, jadwal waktu dan teknik
penilaian untuk mengukur hasilnya. Dan itu semua membutuhkan biaya.
Humas terdiri dari usaha yang dilibatkan dalam menciptakan citra positif bagi
perusahaan atau kawasan tempat tujuan wisata dalam hubungannya dengan
masyarakat – wisatawan, komunitas lokal dan bisnis, media dan pemasok.
Yang termasuk dalam aktifitas humas hal-hal seperti keterangan pers,
konferensi pers, penampilan pada siaran radio dan televisi, dan perjalanan
23
wisata khusus untuk agen perjalanan ataupun penulis-penulis wisata (Mill,
2000: 330).
Jenis pemasaran Humas merupakan pemasaran yang paling lama
dikenal dalam dunia pemasaran. Dari dasar tugas dan fungsinya maka Humas,
baik sebagai lembaga maupun sebagai perorangan, diwajibkan menyebarkan
informasi tentang sebuah perusahaan atau organisasi, juga semua hasil
karyanya kepada publik dengan tujuan untuk membentuk citra positif publik
terhadap organisasi. Biasanya di setiap perusahaan atau organisasi, Humas
diperlukan bertanggung jawab untuk menerbitkan media publisitas demi
kepentingan promosi. Oleh karena itu, kini publisitas biasanya merupakan
bagian dari departemen humas organisasi (Liliweri, 2011: 497).
Kotler dan Amstrong menjelaskan bahwa publisitas adalah aktivitas
untuk mempromosikan perusahaan atau produknya dengan memuat berita
mengenai subjek itu tanpa dibayar oleh sponsor (Rangkuti, 2009: 27).
(c) Pameran
Salah satu bentuk pemasaran dapat dilakukan melalui “pameran”.
Pameran adalah media yang berbentuk suatu forum di mana pihak
penyelenggara menyediakan ruang fisik (bangunan, blok, kamar, dan dinding
penyekat) bagi organisasi, perusahaan, atau pribadi tertentu untuk
mempertunjukkan (memamerkan) hasil karya mereka kepada publik. Jika
penyelenggaranya adalah organisasi pemerintah atau nonpemerintah maka
publik biasa menyebutnya sebagai “pameran pembangunan”, sedangkan pada
pelaku bisnis sering menyebutkan forum ini sebagai “pameran dagang”.
24
Terkadang pameran dagang disebut juga Expo, Fair, Promo, Expo-Promo,
Expo-Fair, dan Promo-Fair, dan lain-lain yang pada intinya menjadi ajang
mempertunjukkan hasil karya untuk ditonton khalayak (Liliweri, 2011: 498).
(d) Direct Mail
Direct Mail merupakan salah satu metode atau teknik pemasaran
yang difokuskan untuk menyebarkan informasi kepada terget audiens yang
sudah tercatat dalam database. Database ini dibentuk melalui penyediaan
fasilitas komunikasi berupa direct mail yang terhubung melalui e-mail atau
jaringan situs perusahaan. Para petugas Humas dan promosi yang andal
biasanya bekerja sama dengan desain situs untuk menjadikan direct mail ini
sebagai media iklan online. Keuntungan dari direct mail ini adalah audiens
dapat memperoleh informasi yang sangat lengkap, tambahan pula pelanggan
dapat memesan atau membeli melalui layanan direct mail (Liliweri, 2011:
497-498).
5) Menentukan Anggaran
Pada tahapan rencana promosi adalah tepat sekali menentukan
anggaran. Tujuan telah ditentukan, tema promosi ditetapkan, dan media
promosi telah dipilih. Berdasarkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana
itu semua dilakukan, jumlah uang yang dibutuhkan dapat ditemukan.
6) Menilai Kampanye Promosi yang Dilakukan
Tidak dapat ditentukan betapa pentingnya melakukan penilaian
terhadap kampanye promosi pada msing-masing tahapannya ketika tahapan
tersebut sedang berlangsung. Itu adalah langkah yang seringkali dilupakan.
25
Meskipun langkah terakhir adalah penilaian, tetapi penilaian itu
sendiri hendaknya dilakukan pada setiap tindakan pada masing-masing
tahapan prosesnya. Alasan mengapa sebuah promosi mungkin gagal adalah
karena segmen pasar yang dipilih adalah segmen yang salah, tujuannya tidak
tepat, anggarannya tidak cukup, pesan yang salah dikirimkan lewat media
yang salah, atau pesan yang tepat dikirimkan lewat media yang salah. Satusatunya cara untuk menjaga agar promosi yang dilakukan tetap dalam jalur
yang tepat adalah dengan mengevaluasinya pada masing-masing tahapannya.
d) Promosi Bagian dari Komunikasi Pemasaran
Pada hakikatnya promosi adalah salah satu bentuk komunikasi
pemasaran. Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communis yang berarti:
Bersama. Jadi, jika anda berkomunikasi, anda berusaha mengadakan
kebersamaan dengan seseorang.
Pemasaran adalah jumlah total aktivitas yang dilibatkan dalam
mendapatkan produk dan pelayanan dari produsen untuk konsumen. Dalam
pariwisata, produsennya bisa berupa tempat tujuan kawasan wisata,
perusahaan penerbangan, atau hotel (Mill,2000: 316).
Komunikasi pemasaran adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan
oleh pembeli dan penjual dan merupakan kegiatan yang membantu dalam
pengambilan keputusan di bidang pemasaran serta mengarahkan pertukaran
agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat
lebih baik.
26
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi
pemasaran merupakan informasi dua arah antara pihak-pihak/lembaga
(produsen, distributor dan pembeli) yang terlibat dalam pemasaran secara
langsung. Dengan demikian, walaupun semua pihaknya terlibat dalam proses
komunikasi pemasaran melakukan cara yang sama yang berawal dari mulai:
mendengarkan, bereaksi dan berbicara sampai terciptanya hubungan yang
saling memuaskan.
Komunikasi pemasaran meliputi tiga tujuan utama, yaitu untuk
menyebarkan informasi (komunikasi informatif), mempengaruhi untuk
melakukan pembelian atau menarik konsumen (komunikasi persuasif), dan
mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang (komunikasi
mengingatkan kembali) (Tjiptono, 2008: 220).
Komunikasi pemasaran adalah sebagai aktivitas dari keseluruhan
pemasaran. Dalam pemasaran dikenal marketing mix atau bauran pemasaran
yang terdiri dari (Liliweri, 2011: 514):
1)
Price (harga)
2)
Place (tempat)
3)
Promotion (promosi)
4)
Product (produk)
5)
People (manusia)
6)
Process (pemrosesan)
7)
Physical evidence (bukti fisik)
27
Salah satu unsur bauran pemasaran adalah “promosi”, dan promosi
tak dapat dilakukan tanpa publisitas dan publisitas ini adalah komunikasi
sehingga disebut komunikasi pemasaran (sebagai bagian dari pemasaran)
(Liliweri, 2011: 514).
2. Wisatawan
a) Pengertian Wisatawan
Dua lembaga internasional, yaitu Komisi Perserikatan BangsaBangsa (PBB) dan Komisi Fasilitas Internasional Civil Aviation Organization
(ICAO), memberi batasan pengertian tourist yang diambil dalam konvensi
PBB tahun 1954 dan diartifikasi oleh lebih dari 70 negara ialah “setiap orang
yang datang ke suatu negara karena alasan lain untuk tujuan berimigrasi dan
yang tinggal paling sedikit 24 jam, serta paling lama 6 bulan dalam tahun
yang sama”.
Menurut
Undang-Undang
No.
9
Tahun
1990
tentang
Kepariwisataan, wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata,
sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan
tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk
menikmati objek dan daya tarik wisata. Berdasarkan Undang-Undang No. 10
Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pengertian wisatawan masih sama
dengan pengertian pada undang-undang sebelumnya, sedangkan pengertian
wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi,
28
pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang
dikunjungi dalam jangka waktu sementara (Muljadi, 2009: 12).
b) Motivasi Perjalanan Wisata
Sejak dulu, manusia selalu bergerak dan berpindah dari satu tempat
ke tempat lain. Ciri itu selalu tampak pada pola kehidupan manusia baik
sebagai bangsa primitif maupun modern.
Zaman modern ditandai
dengan meningkatnya pertambahan
penduduk serta perkembangan sosial ekonomi yang ditunjang dengan
kemajuan teknologi sehingga mendorong manusia memenuhi kebutuhannya.
Teori motivasi yang dikemukan Abraham Maslow menyebutkan bahwa
manusia selalu terdorong untuk memenuhi kebutuhan yang kuat sesuai waktu,
keadaan dan pengalaman yang bersangkutan dengan mengikuti suatu hierarki.
Dalam tingkatan ini, kebutuhan pertama yang harus dipenuhi dahulu adalah
kebutuhan fisiologis, misalnya istirahat. Setelah kebutuhan pertama
dipuaskan, kebutuhan akan keamanan dan rasa aman. Kebutuhan ketiga akan
muncuk setelah kebutuhan kedua terpuaskan. Proses ini berjalan terus sampai
terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri.
Berdasarkan teori tersebut, maka setiap manusia terdorong
melakukan mobilitas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, diantaranya
kebutuhan minat kebudayaan dan kebutuhan untuk rekreasi (Muljadi,
2009:6).
Dorongan kebutuhan tersebut timbul demi kepentingan-kepentingan
hidup manusia karena kehidupan dalam suatu masyarakat wajar dan aktivitas-
29
aktivitas permintaan yang timbul tersebut dapat dipenuhi dan disediakan.
Motivasi
atau
dorongan
orang
untuk
melakukan
perjalanan
akan
menimbulkan permintaan-permintaan berupa jasa pariwisata yang disediakan
oleh masyarakat, sehingga permintaan akan jasa pariwisata yang disediakan
tersebut juga akan meningkat apabila terjadi peningkatan jumlah orang yang
melakukan perjalanan. Pada saat ini, terdapat kencenderungan untuk melihat
pariwisata sebagai suatu aktivitas yang wajar dan merupakan suatu
permintaan yang wajar pula untuk dipenuhi. Pariwisata tidak saja dilihat
sebagai suatu fenomena di mana sejak zaman purbakala manusia mempunyai
dorongan untuk mengadakan perjalanan.
c) Unsur-unsur yang Berkaitan dengan Perjalanan Wisata
Wisatawan melakukan perjalanan untuk mengunjungi daya tarik
wisata serta menggunakan jasa usaha pariwisata, seperti biro perjalanan,
angkutan wisata, akomodasi, restaurant, dan lain-lain.
Kelompok unsur yang berkaitan langsung dengan perjalanan wisata
antara lain (Muljadi, 2009:43) :
1) Daya tarik wisata, misalnya:
(a) Alam (gunung, pantai, danau, laut)
(b) Candi, benda-benda peninggalan kuno, adat istiadat atau kebiasaan
orang lain
(c) Buatan manusia (tempat hiburan, waduk)
30
2) Prasarana wisata, misalnya:
(a) Jaringan jalan raya, jaringan jalan kereta api, pelabuhan udara, laut,
serta terminal atau stasiun
(b) Instalasi listrik, air bersih, dan sistem telekomunikasi
3) Sarana wisata, yaitu perusahaan yang kehidupannya sangat tergantung
dari arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata, misalnya
biro perjalanan, angkutan wisata, akomodasi, restoran atau rumah makan
serta daya tarik wisata.
4) Aksesibilitas, misalnya:
(a) Transportasi udara, laut, dan darat
(b) CIQ (Custom, Imigration, Quarantine = bea cukai, imigrasi, dan
karantina)
Pada umumnya, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan fasilitas
yang harus tersedia pada suatu daerah tujuan wisata. Jika salah satunya tidak
ada, maka dapat dikatakan perjalanan wisata yang dilakukan oleh wisatawan
tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bagi wisatawan, sebenarnya
dengan tersedianya sarana kepariwisataan di atas belum sepenuhnya dianggap
mencukupi kebutuhannya, sehingga perlu adanya industri lain sebagai
industri pendukung, antara lain bank/ATM, money changer, kantor pos,
rumah sakit, warung telepon, supermarket, fasilitas umum dan lain-lain.
Selain unsur yang berkaitan dengan perjalanan wisata yang perlu
mendapat perhatian dari para pengelola dan pemasar untuk mengembangkan
31
kepariwisataan di suatu daerah tujuan wisata terdapat 3 aspek penting, yaitu
(Muljadi, 2009: 89) :
1) Attraction, yakni segala sesuatu baik itu berupa daya tarik wisata alam
dan budaya yang menarik bagi wisatawan untuk datang ke suatu daerah
tujuan wisata. Hal ini antara lain meliputi daya tarik keindahan alam,
pantai, atraksi wisata, budaya, kebiasaan dan cara hidup masyarakat,
keunikan alam dan budaya, atraksi-atraksi seni, pertemuan ilmiah,
dagang, dan sebagainya.
2) Accessibility, atau aksesibilitas, artinya kemudahan untuk mencapai
daerah tujuan wisata yang dimaksud melalui berbagai media transportasi,
udara, laut, atau darat. Hasil penelitian membuktikan bahwa hal ini
sangat mempengaruhi keputusan para calon wisatawan untuk datang ke
suatu daerah tujuan wisata.
3) Aminities, maksudnya berbagai fasilitas yang dapat memberikan
kenyamanan dan kepuasan bagi para wisatawan selama mereka
melakukan perjalanan wisata di suatu daerah tujuan wisata. Hal tersebut
antara lain akomodasi yang nyaman, restoran, bar, layanan informasi,
pramuwisata, sikap masyarakat setempat, keamanan, dan lain-lain.
Ketiga aspek (3A) diatas harus dapat dikemas sedemikian rupa
sehingga dapat menjadi lebih menarik, memberikan kenyamanan bagi calon
wisatawan sesuai dengan maksud kunjungan dari para wisatawan tersebut.
32
d) Hubungan Kebudayaan dan Pariwisata
Kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan
manusia baik material maupun non-material, menurut Herkovits kebudayaan
adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia (Setiadi,
2006: 28).
Saat ini pembangunan kebudayaan sering dihubungkan dengan
kegiatan pariwisata. Kebudayaan dikemas semenarik mungkin untuk dijual
kepada wisatawan. Kegiatan kebudayaan ditampilkan untuk mendapatkan
keuntungan ekonomi bagi sekelompok orang. Kebudayaan dan masyarakat
tempatan tidak lagi menjadi subjek dalam kehidupan ini akibat ambisi untuk
mendapatkan keuntungan ekonomi. Sebaliknya kebudayaan dan masyarakat
dieksploitasi. Realitas kehidupan yang cenderung materialistis memang
memaksa kita untuk menjual kebudayaan.
Pada hakikatnya, kebudayaan cenderung membimbing kehidupan
yang lebih ideal dan mengutamakan harmonisasi dengan mengedepankan
nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya pariwisata cenderung mendasarkan diri
pada aspek materi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Jika demikian,
diperlukan pemahaman yang benar tentang hubungan kebudayaan dan
pariwisata agar kebudayaan atau masyarakat tempatan tidak menjadi
“korban” dari penyebaran kebudayaan asing atau luar yang disebabkan oleh
kegiatan pariwisata.
Berikut disampaikan beberapa gagasan untuk memahami hubungan
kebudayaan dan pariwisata (Junaidi, 2009: 70-73) :
33
1) Penguatan nilai-nilai kebudayaan melalui pendidikan. Asas utama untuk
menguatkan nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat adalah melalui
pendidikan sebab melalui pendidikan pola pikir atau cara pandang
seseorang dapat dibentuk. Bila pengembangan kebudayaan tidak
didukung oleh sektor pendidikan maka kebudayaan yang dikembangkan
itu akan kehilangan esensinya, ibarat pohon yang telah tercabut dari
akarnya. Kebudayaan itu memang akan tetap ada tetapi ia telah
kehilangan identitas, jati diri, dan hakikatnya. Oleh karena itu, bila kita
hendak mengembangkan pariwisata maka kita harus menengok seberapa
besar perhatian yang telah kita berikan pada sektor pendidikan untuk
menanamkan nilai-nilai kebudayaan.
2) Kebudayaan dulu, setelah itu pariwisata. Setelah kebudayaan benar-benar
ditanamkan dengan kuat dalam diri kita melalui pendidikan, barulah kita
dapat melangkah ke wilayah pariwisata. Tanpa adanya usaha penguatan
nilai-nilai kebudayaan, kita sebaiknya menunda dulu pariwisata sebab
diri kita masih rapuh. Bila kita belum berhasil menegakkan identitas atau
jati diri kita maka kebudayaan asing yang dibawa oleh wisatawan akan
menerpa kebudayaan kita sendiri dan kita pun semakin kehilangan
identitas. Konsep pengembangan pariwisata kita seharusnya tidak
bertentangan dengan Islam sebab Islam itu menjadi identitas utama orang
Melayu. Hubungan agama dan kebudayaan dalam orang Melayu di Riau
terjadi hubungan yang timbal balik dapat diasumsikan bahwa semakin
baik kualitas agama akan semakin baik pula kualitas budaya yang
34
dilahirkannya. Kualitas suatu kebudayaan ternyata akan ditentukan oleh
agama yang memberikan dasar pada budaya itu (Thamrin, 2007: 16).
Bila tidak sesuai dengan Islam maka ia juga tidak sesuai dengan Melayu.
Kita harus benar-benar berhati-hati dalam merancang pengembangan
kebudayaan dan pariwisata sebab kesalahan dalam menempatkan
konsepnya akan merugikan dan menyesatkan banyak orang. Oleh karena
itu, pengembangan kebudayaan dan pariwisata seharusnya melibatkan
orang-orang yang memahami kebudayaan dan masyarakat setempat.
Perencanaan pengembangan kebudayaan dan pariwisata tidak bisa
diserahkan kepada orang-orang yang tidak memahami esensi kebudayaan
sebab ini akan berakibat buruk bagi perkembangan anak negeri ini.
3) Pariwisata bukan tujuan tetapi akibat. Bila direnungkan secara lebih
seksama hubungan kebudayaan dan pariwisata maka dapat dapat
dinyatakan bahwa pariwisata bukanlah tujuan yang hendak dicapai dalam
pelestaraian kebudayaan. Kepentingan pariwisata hanyalah suatu akibat
dari pelestarian kebudayaan. Tujuan kelestarian kebudayaan tetap untuk
mengangkat jati diri dan menuntun manusia ke arah kehidupan yang
benar. Bila kemudian pelestarian kebudayaan dapat menarik minat orang
untuk melihat kebudayaan itu maka diperlukan pula strategi untuk
mengelola kebudayaan itu untuk kegiatan pariwisata. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa pelestarian kebudayaan tidak hanya memerlukan
uang tetapi pelestarian juga bisa menghasilkan uang dengan cara
mengemas kebudayaan untuk kepentingan pariwisata.
35
4) Pariwisata untuk masyarakat tempatan. Pembangunan pariwisata
seharusnya
dirancang
untuk
meningkatkan
ekonomi
masyarakat
tempatan sebab masyarakat tempatan yang paling dekat hubungannya
dengan tempat wisata. Masyarakat perlu diberdayakan agar mereka
mempunyai kemampuan untuk dapat berperan dalam program pariwisata.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab memberikan bekal kepada
masyarakat agar masyarakat memperoleh keuntungan dari bisnis
pariwisata. Pemerintah mesti mendorong pertumbuhan usaha kecil
menengah dan memberikan bimbingan dan bantuan modal usaha. Di
sinilah sebenarnya peran pemerintah untuk memajukan pariwisata yang
berbasiskan kepentingan masyarakat. Anggaran yang dikeluarkan
pemerintah untuk kegiatan pariwisata harus dilihat secara kritis.
Salah satu konsep yang terdapat dalam community based tourism
adalah masyarakat tempatan mempunyai hak untuk menentukan apakah
mereka akan menerima atau menolak pariwisata. Masyarakat akan lebih
mengetahui pilihan mana yang akan mereka pilih. Oleh karena itu, bila kita
benar-benar ingin merancang program pariwisata maka masyarakat perlu
diajak untuk merundingkan itu agar masyarakat tidak hanya menjadi objek
dan bahkan korban dari pariwisata. Kebudayaan dan pariwisata itu dilahirkan
oleh
masyarakat
sehingga
masyarakatlah
pengembangan kebudayaan dan pariwisata.
36
yang
menentukan
arah
H. Konsep Operasional
Konsep operasional adalah konsep yang digunakan untuk memberikan
penjelasan terhadap konsep teoritis. Dilatarbelakangi oleh kerangka teoritis
sebelumnya, selanjutnya penulis merumuskan konsep operasional sebagai tolak
ukur atau indikator dalam peneltian.
Stephen Robbins (1990), strategi sebagai penentu tujuan jangka panjang
perusahaan dan memutuskan arah tindakan serta mendapatkan sumber-sumber
yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Strategi yang kita bicarakan adalah
perencanaan dan penyusunan program dan implementasi yang dilakukan oleh
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan
dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Setiap usaha yang dilakukan apapun
tujuannya pasti memerlukan perencanaan-perencanaan yang dilakukan secara
matang. Dimana perencanaan memungkinkan dipilihnya tindakan-tindakan yang
tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.
Dalam penelitian ini strategi promosi untuk meningkatkan kunjungan
wisatawan pada event wisata Bono memiliki indikator yaitu :
1.
Kepala Bidang Pariwisata membuat keputusan sasaran dan tujuan
program pariwisata.
2.
Pj. KASI Pengembangan Pariwisata melakukan identifikasi khalayak
penentu.
3.
KASI Promosi Pariwisata menetapkan kebijakan atau aturan untuk
menentukan kegiatan apa yang akan dipilih dalam meningkatkan
kunjungan wisatawan pada wisata Bono di Kabupaten Pelalawan.
37
4.
KASI Promosi Pariwisata memutuskan promosi apa yang akan
digunakan.
I. Metodologi Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dinas Kebudayaan Periwisata Pemuda dan
Olahraga Kabupaten Pelalawan yang berlokasi di Komplek Perkantoran Pemda
Kabupaten Pelalawan.
2.
Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah Pegawai Kantor Dinas Kebudayaan
Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan bidang Pariwisata.
Adapun objek penelitian ini adalah strategi promosi Dinas Kebudayaan
Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam meningkatkan
kunjungan wisatawan pada event wisata Bono.
3.
Sumber Data
a) Data primer, yaitu data yang di peroleh secara langsung dari objek
penelitian perorangan, kelompok dan organisasi (Ruslan, 2003: 29).
Sebagai data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara
penulis yang penulis lakukan.
b) Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi
atau tersedia melalui publikasi dan informasi yang dikeluarkan di
berbagai organisasi atau perusahaan (Ruslan, 2003: 30). Sebagai data
sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen serta arsip-
38
arsip yang ada di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Pelalawan.
4.
Informan Penelitian
Informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi tentang
objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek
penelitian (Bungin, 2010: 76).
Dalam memilih informan penulis menggunakan teknik purposive
dimana informan diambil dengan berdasarkan pertimbangan subyektif peneliti,
karena berdasarkan posisi jabatan informan berkaitan langsung dengan
penelitian ini (Subagyo, 1999: 31).
a. Informan Kunci
Dalam penelitian ini informan kunci yang penulis pilih sebanyak tiga
orang, terdiri dari satu orang Kepala Bidang Pariwisata, satu orang KASI
Promosi Pariwisata dan satu orang pj. KASI Pengembangan Pariwisata. Ketiga
informan tersebut dianggap kredibel dan memahami informasi tentang strategi
promosi dalam meningkatkan kunjungan wisatawan pada event wisata Bono di
Kabupaten Pelalawan.
b. Informan Pelengkap
Yang menjadi informan pelengkap dalam penelitian ini adalah tiga
orang masyarakat Kabupaten Pelalawan yang mengetahui dan pernah
mendatangi event wisata Bono. Ketiga masyarakat ini adalah Hendrik
Sugiantoro warga Sialang Sakti Kecamatan Pangkalan Kuras, Ima Caulata
39
warga BTN Lama Kecamatan Pangkalan Kerinci dan Iwan warga Kecamatan
Teluk Meranti.
5.
Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara mendalam, yakni suatu cara mengumpulkan data atau
informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar
mendapatkan data lengkap dan mendalam (Kriyantono, 98: 2006).
b. Dokumentasi, yakni teknik yang dilakukan dengan memanfaatkan
dokumen-dokumen tertulis, gambar, foto atau benda-benda lainnya
yang berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti (Widodo, 2012:61).
6.
Analisis Data
Analisis data yang penulis pakai atau gunakan dalam penelitian ini
adalah
deskriftif
kualitatif
yakni
menggambarkan
dan
menjelaskan
permasalahan yang diteliti dalam bentuk kalimat dan bukan dalam bentuk
angka-angka. Dan untuk mengecek keabsahan data penulis menggunakan
triangulasi data yang artinya peneliti harus melakukan klarifikasi tentang hasil
temuannya pada orang ketiga, atau pada orang yang sama dalam waktu
berbeda. Berarti teknik triangulasi, membandingkan dan mengecek kembali
derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat
yang berbeda dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil
wawancara, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan
berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, dan
membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
(Moleong, 2004: 330-331).
40
J.
Sistematika Penulisan
BAB I
:
PENDAHULUAN, yang meliputi latar belakang masalah, alasan
pemilihan judul, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian,
penegasan
istilah,
kerangka
teoritis,
konsep
operasional,
metodelogi penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II
:
GAMBARAN UMUM, yang berisi tentang gambaran umum
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Pelalawan dan potensi wisata di Kabupaten Pelalawan.
BAB III
:
PENYAJIAN DATA, berisi tentang strategi promosi dan faktorfaktor yang mempengaruhi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Pelalawan dalam meningkatkan
kunjungan wisatawan pada event wisata bono.
BAB IV
:
ANALISIS DATA, berisi tentang analisis dan penelitian.
BAB V
:
KESIMPULAN DAN SARAN
41
Fly UP