...

Document

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Remaja adalah masa dimana seseorang mengalami guncangan jiwa yang
hebat, karena masa ini merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dan
masa dewasa. Di masa ini, remaja bila bersikap seperti anak-anak akan dikatakan
kekanak-kanakan dan begitupula bila bersikap seperti orang dewasa akan
dikatakan terlalu muda untuk bersikap demikian. Sehingga remaja merasakan
frustasi dan kebingungan yang hebat, karena masalah peran dan identitasnya yang
belum diketahuinya secara pasti (Hurlock, 1980:207).
Sering kali remaja melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa
seperti merokok, minum obat-obatan dan menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Hal itu dilakukan supaya dirinya dicitrakan seperti orang dewasa. Dimana pernah
dilakukan Riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007
menyebutkan kebiasaan merokok di Jawa Barat rata-rata didominasi sejak usia
remaja antara 15-19 tahun, dengan persentase mencapai 50,4 persen (http://wwwpikiran-rakyat.com/node/89169 12. 20.08 di akses pada 22 Desember 2011).
Adapun remaja korban narkoba, 1,1 juta orang di Indonesia dan lebih dari
50% ada di Jabar, yaitu 600 ribu orang dalam Pikiran Rakyat, 17 Juni 2009. Hasil
survei dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang dilakukan BKKBN Jabar
terhadap 288 responden usia sekolah SMP dan SMA di enam kabupaten di Jabar
1
2
pada bulan Mei 2002 diperoleh data sekitar 39,65% remaja Jabar pernah
melakukan seks pranikah (perzinahan) (http://www.psikologi-islam.com/detalanalisis-04-indikator-lembaga- pendidikan-yang-baik.htnl diakses 21 Desember
2011)
Pola pikir dan harapan-harapanpun menjadi lebih idealis, segala sesuatu
hanya dipandang menurut kacamatanya. Jadi tidak menginginkan perbedaan
antara realita dengan apa yang ia harapkan. Misalnya, segala sesuatu ia pandang
berwarna merah, maka semua realita harus berwarna merah dan tidak
menginginkan warna-warna lain bila muncul dalam realita adalah warna lain,
maka itu adalah kesalahan dan harus dirubah. Seperti itulah pandangan saat
remaja (Hurlock, 1980:208).
Pada masa remaja pencarian identitas diri berlangsung karena pola pikir,
minat-minat yang kekanak-kanakan sudah mulai ditinggalkan dan tugas
perkembangan pun sudah mulai berbeda. Seperti apa yang diungkapkan oleh
Erikson dalam buku psikologi perkembangan Elizabet B. Hurlock :
Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan
siapa dirinya, apa peranannya dalam masarakat. Apakah ia seorang
anak atau seorang dewasa? Apakah nantinya ia akan menjadi
seorang suami atau ayah? Apakah ia mampu percaya diri meskipun
latar belakang ras agama atau nasionalismenya membuat beberapa
orang merenddahkannya? Secara keseluruhan, apakah ia akan
berhasil atau gagal? (Hurlock, 1980 : 208).
Perkembangan pada masa ini sangatlah penting dalam rentang kehidupan,
walau memang pada setiap tingkatan perkembanagn semuanya penting namun
pada masa remajalah yang sangat penting karena pada masa inilah remaja
3
mendapatkan nilai-nilai, pola pikir yang akan berpengaruh pada kehidupannya
baik jangka panjang ataupun jangka pendek. Jadi pada masa remaja ini perlu
diperhatikan, setelah masa balita yang disebut sebagai usia emas.
Remaja yang ideal adalah remaja yang memenuhi tugas perkembangannya. Dimana seorang remaja selalu ingin menjadi pusat perhatian, ingin
menonjolkan diri, idealis, bercita-cita tinggi, memiliki energi besar berusaha
menetapkan identitas diri, dan ingin mencapai ketidak tergantungan emosional
(Alex Sobur, 2009 : 134 ).
Namun dalam perjalanan hidup seorang remaja banyak permasalahan dan
persoalan, sehingga tidak mudah untuk memenuhi tugas perkembangannya.
Seorang remaja membutuhkan orang yang bersedia diajak bicara tentang dirinya,
baik itu dari saudara, teman, terlebih lagi dari orang tuanya. Remaja yang
memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan dan berbagi masalah,
kebanyakan mampu menyelesaikan persoalan atau mampu beradaptasi. Dan ada
pula remaja yang tidak memiliki teman untuk di ajak bicara, sekedar
mendengarkan masalah dan keluh kesahnya. Sehingga remaja tersebut tidak
mampu memecahkan persoalan, dan hal ini berpengaruh pada kepribadiannya,
yang kemudian disebut dengan tidak bisa beradaptasi (maladjusmen).
E.B Hurlock sebagimana dikutip Yusuf dan Hurihsan (2007;12)
mengatakan bahwa karakteristik penyesuaian yang sehat atau keperibadian yang
sehat ditandai dengan :
a. Mampu menilai diri secara realistik.
b. Mampu menilai situasi secara realistik.
4
c. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik.
d. Menerima tanggung jawab.
e. Kemandirian.
f. Dapat mengontrol emosi.
g. Berorientasi tujuan.
h. Berorientasi keluar.
i. Penerimaan social.
j. Memiliki filsafat hidup.
k. Berbahagia
Sebetulnya ada yang lebih penting dari kepribadian, yaitu inti dari
kepribadian. Inti dari keperibadian itu adalah konsep diri .Konsep diri inilah yang
memunculkan kepribadian. Konsep diri dapat diartikan sebagai: (a) persepsi,
keyakinan, perasaan, atau sikap seseorang tentang dirinya; (b) kualitas pensifatan
individu tentang dirinya ; (c) suatu sistem pemaknaan individu dan pandangan
orang lain tentang dirinya (Yusup dan Juntika, 2007 : 8).
Dalam pembentukan konsep diri, yang perlu diperhatikan adalah
pengalaman-pengalaman dari sikap lingkungan berupa respon perbuatan yang
dilakukan oleh individu itu. Kemudian akan sangat mempengaruhi sikap respon
seorang yang paling individu anggap penting dalam hidupnya pada konsep diri.
Disini juga peranan dan status sosial sangat menentukan pada individu dalam
memberikan pengetahuan akan gambaran diri seperti identitas diri, dan perasaan
akan kelayakan atau penilaian diri dan penghargaan diri (Alex Sobur : 2003 :
512).
Sudah dijelaskan di atas, bahwa remaja dalam pencarian indentitas dirinya,
segala bentuk kegiatan atau hal yang menjadi tren pada masanya akan ia coba.
Kegiatan coba-caba itu adalah dalam rangka untuk mengetahui hal tersebut
5
sesuaikah dengan apa yang ia harapkan dengan indentitas dirinya serta setatus
sosial dan peranannya. Pengalaman ini akan mempengaruhi cara pandang pada
penilaian terhadap dirinya, ini adalah saya dan ini bukan saya, yang nantinya akan
terlahir sebagi sikap, yang dalam penilaian orang lain akan disebut dengan
kepribadian seorang remaja (Juntika Nurihsan, 2008 : 13).
Berbeda halnya dengan remaja pada umumnya, remaja yang orang tuanya
bekerja sebagai TKW, jelas sekali akan mempengaruhi pada keadaan psikis
remaja, karena remaja selalu berpikir idealis, dimana keadaan lingkungan harus
sesuai dengan yang seharusnya. Dimana, remaja berpikiran seorang ibu harus ada
di rumah dan menjalankan peranannya sebagai ibu rumah tangga sesuai yang
remaja persepsikan kepada ibu rumah tangga. Karena tidak sesuainya harapan dan
kenyataan maka remaja akan prustasi dan kecewa, kekecewaan ini akan terungkap
pada pola tingkah laku remaja yang biasanya menjadi pribadi yang tidak sehat,
sebagai mana keluar dari kepribadian sehat yang diugkapkan di atas. Tidak jarang
bagi remaja perempun berperan sebagai ibu rumahtaga, padahal pada masanya ia
membutuhkan sosialisasi yang banyak dengan teman seusianya. Padahal remaja
membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa cinta yang diberikan keluarganya.
Konsep diri akan terpengaruhi oleh lingkunagn keluarga. Lingkungan keluarga
adalah yang paling berperan dalam perkembangan dan pembentukan konsep diri
karena keluarga merupakan lingkungan terdekat.
Penelitian mengenai kenakalan anak yang ditinggal oleh orang tua bekerja
sebagai TKI pernah dilakukan oleh Hamdalah Widia berupa sekripsi, yang
6
berjudul “Kenakalan Anak yang Ditinggal Orang Tua sebagai TKI ke Luar
Negeri” (studi kasus di Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan-Madura). Hasil
penelitian tersebut menunjukkan (1) Dampak TKI terhadap pendidikan Anak:
Orang tua yang bekerja sebagai TKI berpengaruh terhadap pendidikan anak, anak
hanya mempunyai status berpendidikan namun hasilnya tidak ada karena
kurangnya pengawasan dari orang tuanya" (2) Perubahan pola pengasuhan anak
pada keluarga TKI: Di Kecamatan Pasean terjadi perubahan dan pergeseran pola
pengasuhan anak-anak dititipkan pada anggota keluarga yang lain misalnya kakek
nenek, paman bibi dan lain-lain" (3) Bentuk-bentuk kenakalan anak yang
ditinggal orang tua sebagai TKI ke Luar Negeri antara lain bolos sekolah,
merokok, minum-minuman keras, taruhan (judi), kebut-kebutan, mencuri dan seks
bebas" (http://library.um.ac.id/ di akses hari kamis 22 Desember 2011).
Orang tua
pergi dengan waktu yang lama 2 sampai 4 tahun tanpa
berkomunikasi dengan remaja yang ditinggalkannya, kepergian orang tua dalam
hal ini ibu bukan tanpa masalah, sering kepergiannya diawali percekcokan terlebih
dahulu dengan suaminya yang melarang untuk pergi ke Negara lain sebagai
pekerja. Namun karena tekad ibu sudah sangat kuat untuk memperbaiki kondisi
ekonominya,
karena tidak puas dengan keadan ekonomi saat itu. Pekerjaan
sebagai TKW menjadi pilihan, karena ibu rumah tangga berkeyakinan hal itu bisa
merubah keadaan ekonomi keluarganya, biasanya ibu rumah tangga yang
berangkat bekerja sebagai TKW haya lulusan SMA (Hasil wawancara dengan
salah satu suami TKW yaitu bapak Jenal pada tanggal 8 September 2011).
7
Seorang ibu adalah orang yang penting dan dicintai remaja. Sebagaimana
apa yang diungkapkan tadi di atas konsep diri terbentuk dari internalisasi
pengalaman-pengalamn psikologis dari sikap orang yang penting atau dicintainya.
Dalam hal ini seorang ibu tidak ada, menghilang pada masa seorang remaja
membutuhkan bimbingan dan teman untuk bercerita dan membutuhkan respon
dari orang yang dicintai, hal ini juga akan perpengaruh pada status sosialnya
bagaimana pandangan teman dan orang laiannya yang hidup berinteraksi dengan
remaja tersebut, maka akan terganggulah konsep diri remaja yang menjadi inti
dari kepribadian.
Hal itu menjadi fenomena pada siswa MA YPK Cijulang dimana remaja
yang orang tuanya bekerja sebagai TKW, memiliki prilaku yang kurang sehat hal
ini terlihat pada kesehariannya yang setiap harinya selalu melakukan pelanggaran
di sekolah maupun pada nilai-nilai keagamaan. Pelanggaran-pelanggaran di
sekolah seperti bersikap tidak sopan pada guru, bertindak seperti preman, dan
melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah. Remaja ini jarang
sekali bahkan tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sekalipun
lingkungan di sekolah sangat mendukung untuk mengikuti kegiatan ini baik itu
dari minat siswa-siswa dan dukungan dari guru-guru. Bahkan ekstra kulikuler
yang menjadi andalan di sekolah (Hasil wawancara dengan kepala sekolah bapak
Mulyana pada tanggal 8 September 2011).
Di lingkungan masyarakat kebanyakan remaja yang orang tuanya bekerja
sebagai TKW lebih memililih geng-geng motor kebut-kebutan di jalan, untuk
8
remaja putri lebih banyak bergaul dengan lelaki dan sering bergunta-ganti
pasangan atau pacar,tidak jarang sering kabur dari sekolah dan rumahnya hanya
untuk pergi bermain bersama pacarnya. Anggota keluarga dan guru selalu
bekerjasama menyelesaikan permasalahan ini namun ternyata masih belum bisa
(Hasil observasi dan wawancara dengan kepala sekolah bapak Mulyana pada
tanggal 8 September 2011).
Remaja ini menjadi permasalahan di kalangan guru-guru dan masarakat.
Peranan guru tidak banyak membantu sebagai orang tua kedua, dikarenakan guru
di lingkungan MA YPK khususnya guru BK kurang
memiliki keterampilan
dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut remaja ini, karena memang
bukan berlatarbelakang sebagai guru BK . Walaupun demikan bukan berarti tidak
ada langkah-langkah atau usaha yang dilakukan pihak guru dalam mengatasi
permasalahan ini.
Memperhatikan bahwa remaja membutuhkan tempat untuk mendapatkan
kasih sayang dari seorang ibu, namun pada remaja yang orang tuanya bekerja
sebagai TKW mereka tidak mendapatkan hal itu. Dengan demikian ini menjadi
permasalahan bagi mereka dalam pembentukan konsep diri. Kemudian mereka
bertingkahlaku nakal sehingga menjadikan guru-guru jengkel di sekolah MA YPK
Cijulang.
Peneliti memilih masalah ini untuk diteliti dengan alasan, sebelum
penelitian ini ada perbincangan kecil dengan kepala sekolah MA YPK Cijulang
yaitu bapak Mulyana, yang mengatakan bahwa remaja yang orang tuanya sebagai
9
TKW banyak bermasalah di sekolah dan belum ada guru-guru yang bisa
menjawab penomena ini dan belum ada yang bisa menanganinya. Alasan lain
mengapa memilih masalah ini untuk di teliti, karena peneliti merasa tertarik dan
sesuai dengan kajian jurusan tasawuf psikoterapi yaitu tentang penilaian pada diri
sendiri. Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas penulis sebagai
mahasiswa jurusan tasawuf psikoterapi merasa perlu untuk meneliti lebih dalam
lagi dengan mempokuskan pada “KONSEP DIRI REMAJA ANAK TENAGA
KERJA WANITA (TKW) (STUDI DESKRIPTIF PADA SISWA MA YPK
CUJULANG KAB CIAMIS)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas ada beberapa hal yang
menjadi fokus permasalahan dan akan dikaji dalam penelitian ini, permasalahan
tersebut adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan konsep diri remaja anak tenaga kerja
wanita (TKW)?
2. Bagaimanakah gambaran konsep diri remaja anak tenaga kerja wanita
(TKW) pada siswa MA YPK Cijulang Kabupaten Ciamis?
C. Tujuan
Tujuan dari penelitin ini adalah sebagi berikut:
10
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep diri remaja anak
tenaga kerja wanita (TKW).
2. Untuk mengetahui gambaran konsep diri remaja anak tenaga kerja wanita
(TKW) pada siswa MA YPK Cijulang Kabupaten Ciamis.
D. Kegunaan Penelitian
Ada beberapa kegunaan dalam melakukan penelitian dapat disusun sebagai
berikut :
1. Kegunaan akademis (teoritis)
Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu psikoterapi dan menambah
wawasan kepada mahasiswa dan dosen jurusan tasawuf psikoterapi tentang
konsep diri remaja yang orang tuanya bekerja sebagai TKW
2. Kegunaan peraktis
Memberikan gambaran kepada guru Sekolah Menengah Atas dalam
membatu atau mengatasi siswa yang orang tuanya bekerja sebagai TKW
dan memberi masukan pada siswa/remaja yang orangtuanya bekerja
sebagai TKW untuk membangun konsep diri positif.
E. Kerangka Pemikiran
Setiap konsep memiliki bangunan atau penampakannya. Dalam hal konsep
diri yang menjadi bangunan adalah diri. Diri menurut James sebagai mana
11
dikutiap oleh Alex Sobur (2003 : 499) adalah komposisi pikiran dan perasaan
yang menjadi kesadaran seseorang mengenai eksistensi individualitasnya,
pengamatannya
tentang
apa
yang
merupakan
miliknya,
pengertianya
menjadisiapakah dia, dan peranannya tentang sifat-sifatnya, kualitasnya dan
segala miliknya. Diri seseorang ialah jumlah total dari apa yang bisa disebut
kepunyaan.
Banyak aspek yang menyangkut aspek diri yang diungkapkan oleh Markus
dan Nurius sebagai mana dikutip oleh Alex Sobur ( 2003 : 505) adalah sebagai
berikut :
a. Fisik diri ini merupakan aspek yang paling jelas dan semua aktipitas
biologis berlangsung di dalamnya.
b. Diri sebagai proses: suatu aliran akal, pikiran, emosi dan perilaku kita
yang konstan.
c. Diri sosial, yaitu sebuah konsep yang penting bagi ahli ilmu-ilmu
sosial.
d. Konsep diri, konsep diri adalah apa yang selintas dalam pikiran saat
anda berpikir tentang “saya”.
e. Citra diri, Apa yang anda inginkan.
Menurut Jalaluddin Rakhmat, konsep diri adalah pandangan dan perasaan
kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologis, sosial, dan
fisik (Jalaluddin Rakhmat, 2011 : 98).
George Herbet Mead sebagai mana dikutip oleh Alex Sobur ( 2003 : 512)
mengatakan bahwa konsep diri adalah merupakan produk sosial yang dibentuk
melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman psikologis.
Pengalaman-pengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu
12
terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dari dirinya yang diterima dari orangorang penting di sekitarnya.
Ketika masih kecil orang yang berpengaruh pada perkembangan konsep
diri adalah orang-orang yang dekat dengan kita, orang tua, anggota keluarga dan
orang yang tinggal satu atap. Dari merekalah anak membentuk konsep diri.
Senyuman, penghargaan, pelukan dan pujian membuat anak menilai dirinya
secara positif. Kemudian cemoohan, hardikan dan penerimaan bersarat yang
membuat anak menilai dirinya secara negatif (Jalaludin Rakhmat 2011 : 100).
Kondisi-kondisi yang mempengaruhi konsep diri adalah sebagi berikut:
usia kematangan, penampilan, kepatutan seks, nama dan julukan, hubungan
keluarga, teman-teman sebaya, kreativitas dan teman sebaya (Elizabeth B.
Hurlock 1980 : 235).
Dalam pembahasan konsep diri ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dan tidak boleh terlepas yaitu, gambaran diri, citra diri, penilaiaan diri,
penerimaan diri, serta penghargaan diri (Alex Sobur, 2003 : 512).
Calhon dan Acocella sebagimana dikutip oleh M. Gufron dan Rini
Risnawati ( 2011 : 19 ) membagi konsep diri menjadi dua jenis yaitu konsep diri
positif dan konsep diri negatif.
Karakateristik konsep diri remaja yang positif sebagai mana yang di
ungkapkan oleh D.E. Hamachek sebagaimana dikutip oleh Jalaludin Rakhmat
(2011 :104-105) ada 10 karakter yaitu sebagai berikut :
13
a. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa
bersalah yang berlebih-lebihan. Atau menyesali tindakannya jika orang
lain tidak menyetujui tindakannya.
b. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan yang
akan terjadi besok, apa yang terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang
terjadi pada waktu sekarang
c. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan,
bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
d. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau
rendah, walau terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar
belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.
e. Ia sangat menerima dirinya sebagai orang penting dan bernilai bagi orang
lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatsahabatnya
f. Ia menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima
penghargaan tanpa merasa bersalah
g. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya
h. Ia sanggup mengaku pada orang lain bahwa ia mampu merasakan
berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari
sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuasan
yang mendalam pula
i. ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatanmeliputi
pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kretif, persahabatan atau
sekedar mengisi waktu
j. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang mudah
diterima, dan terutama pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang
senang dengan mengorbankan orang lain.
Menurut Williarn D. Brooks dan Philip Emert dalam Jalaluddin Rakhmat (
2011 : 103) ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif: peka
terhadap kritik, respon sekali pada pujian, sikap hiperaktif dan cenderung merasa
tidak disenangi orang lain.
Hubungan antara konsep diri dan diri akan terlihat pada mental yang sehat
dan tidak sehat. Ciri yang sehat mentalnya adalah sebagai berikut:
a. Dia mampu mempersepsi dirinya, orang lain dan berbagai peristiwa
yang terjadi di lingkungan secara objektif.
14
b. Dia terbuka pada setiap pengalaman karena tidak mengancam konsep
diri.
c. Dia mampu menggunakan pengalamannya.
d. Dia mampu mengembangkan dirinya kearah aktualisasi diri ( Juntika
dan Nurihsan 2007 : 145).
Masa remaja adalah peralihan masa perkembangan antara masa kanakkanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan yang besar pada aspek fisik,
kognitip dan psikososial (Papalia, Olds dan Feldman, 2009 : 8 ).
Rentang usia remaja berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi
wanita, dan 13 tahun sapai 22 tahun nagi laki-laki. Jika dibagi atas remaja awal
dan remaja akhir, remaja awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun,
dan remaja akhir dalam rentang usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun. Adapun
priode sebelum masa remaja ini disebut sebagai ambang pintu masa remaja atau
sering disebut sebagai priode pubertas.Meskipun bertumpangtindih dengan masa
remaja awal, pubertas jelas berbeda dengan masa remaja (Muhammad AlMighwar 2006 : 62).
F. Langkah-langkah Penelitian
Secara umum penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di kampus
MA YPK Cijulang, Dusun
15
Kalensari Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Alasan
diambilnya lokasi ini adalah tersedianya sumber data yang diperlukan untuk
mengungkap masalah penelitian dan lokasi tersebut refresentatif untuk
mengungkapkan permasalahan penelitian serta terjangkau oleh penulis.
2.
Metode Penelitian
Metode
penelitian
adalah
cara
yang
digunakan
peneliti
untuk
mengumpulkan penelitiannya (Suharsimi Arikunto, 2002 : 136). Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Metode deskriftif bertujuan mengambarkan secara tepat sifat-sifat suatu
individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan
frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu
antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat (Koentjaraningrat dkk,
1994 : 29).
Peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran konsep diri siswa MA
YPK Cijulang yang orang tuanya bekerja sebagai TKW, bila lebih disepesipikan
lagih penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran diri, citra diri, penilaian diri,
penerimaan diri dan penghargaan diri mereka. Dan secara keseluruhan natinya
akan dinilai konsep diri yang dimiliki mereka negatif atau positif.
3. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan dari penelitian ini adalah data kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang
didasarkan pada upaya membangun pandangan yang diteliti secara rinci, dibentuk
16
dengan kata-kata dan gambaran holistik (Lexy J. Moleong, 2008:6). Data
kualitatif ditentukan dari penelitian secara langsung.
4. Sumber Data
Sumber data yaitu subjek dari mana data itu diperoleh. Sumber data
tersebut dibagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang berupa kata dan tindakan dari orangorang yang diamati dan diwawancarai yang dicatat melalui catatan tertulis
dan melalui alat perekam. Data primer ini didapat dari hasil penelitian di
lokasi penelitian berupa hasil observasi dan wawancara dengan informan.
Adapun yang menjadi objek yang diamati dan informan adalah 15 orang
siswa MA YPK Cijulang yang orang tuanya bekerja sebagia TKW, yang
terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Kemudian untuk
memperkuat data, penulis juga menambahkan imporman yaitu kepala
sekolah MA YPK Cijulang, guru BP MA YPK Cijulang, guru-guru MA
YPK Cijulang, teman-teman dekat objek di MA YPK Cijulang.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah tambahan berupa dokumen, buku-buku, dan
sebagainya yang berhubungan erat dengan penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu
untuk penelitian ini digunakan studi kepustakaan dan untuk penelitian empirik
17
digunakan teknik observasi dan wawancara.
a. Observasi
Observasi
dimaksudkan
untuk
mengumpulkan
data,
yaitu
mengumpulkan pernyataan yang berupa deskripsi, penggambaran dari
kenyataan yang menjadi perhatiannya. Penggunaan metode ini dimaksudkan
mengungkap berbagai kenyataan praktis yang terjadi di lokasi penelitian,
seperti melihat gambaran umum lokasi penelitian.
Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan cara observasi non
sistematis yaitu dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. penulis
hanya mengamati objek yang diteliti tanpa terlibat dalam kegiatan mereka (
Sugiono 2011 : 226). Adapun pengamatan ini dilakukan kepada siswa yang
orang tuanya bekerja sebagai TKW di MA YPK Cijulang, Dusun Kalensari,
Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis
b. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Suharsimi Arikunto, 2002:
149). Teknik wawancara ini dilakukan peneliti untuk memperoleh data
tentang konsep diri remaja yang orang tuanya bekerja sebagai TKW.
Adapun dalam pelaksanaannya peneliti mengunakan dua jenis wawancara
yaitu wawancara tersetruktur dan wawancara bebas terpimpin. Wawancara
terstruktur adalah wawancara yang peneliti sudah menyediakan jawabannya.
Sedangkan teknik interview bebas terpimpin, yakni penulis hanya membawa
18
pedoman yang merupakan garis besar tentang hal-hal yang ditanyakan (
Sugiono 2011 : 233). Adapun objek yang diwawancara dalam penelitian ini
adalah:
1. Siswa MA YPK Cijulang yang orangtuanya bekerja sebagai TKW
2. Kepala Sekolah MA YPK Cijulang
3. Guru bimbingan konseling MA YPK Cijulang
4. Guru-guru MA YPK Cijulang
5. Teman-teman dekat objek penelitian di MA YPK Cijulang
c. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan adalah penelitian yang bersumber pada bahan
bacaan, dilakukan dengan cara penelaahan naskah, yang berhubungan
dengan permasalahan yang diteliti (Cik Hasan Bisri, 2003 : 66). Hal ini
digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat teoritik
dari berbagai kepustakaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
6. Analisis Data
Analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan,
sistematisasi, penefsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai
sosial, akademis dan ilmiah.
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan
data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang
penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
19
kepada orang lain (Lexy J. Moleong, 2008 : 248).
Analisis data yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisa
kualitatif adalah menggambarkan variabel dalam bentuk distribusi frekuensi.
Kemudian untuk analisa kualitatif dalam penelitian menggunakan data kategorik
dalam bentuk distribusi frekuensi, di mana data tersebut adalah susunan data
angka yang menurut kategorinya (Sutanto, 2008).
Dalam hal ini data yang dimaksudkan terkumpul pada hasil observasi dan
wawancara. Adapun tahapan analisa datanya sebagai berikut:
a. Mencari dan mengumpulkam data yang berkenaan dengan masalah
penelitian
b. Menghubungkan data dengan teori yang berhubungan dengan konsep
diri.
c. Mengkaji data-data tersebut, baik data primer maupun sekunder.
d. Menarik kesimpulan.
Fly UP