...

Katakan Jomblo Sejujurnya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Katakan Jomblo Sejujurnya
Katakan Jomblo Sejujurnya
Ditulis oleh Ayub Yahya
Jumat, 17 April 2009 12:26
Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang karena memang
sudah pilihan.
Jadi kesempatan sih ada. Kesiapan mental, spiritual
dan material juga oke. Cuma ya,
nggak mau saja. No way-lah.
Nah, nggak maunya itu bisa karena ingin konsen dengan studi atau
karier.
Nggak mau diganggu dengan segala urusan tetek dan bengek.
Bisa karena ingin total
mengabdi panggilan pelayanan. Misalnya,
ngurusin anak jalanan, atau pergi ke daerah
terpencil dan melayani
suku terasing di sana.
Atau bisa juga karena ingin setia menanti cinta "sang tambatan
hati". Biar pun
doi sudah punya "gandengan" (emangnya truk) alias
tidak sendiri lagi. Prinsipnya
sebelum "janur melengkung" (merit
maksudnya) penantian jalan terus. Bahkan,
andaikan pun nanti sang
janur
akhirnya melengkung juga: "Ku tunggu jandamu!" (kalau cewek, ya "Ku
tunggu
dudamu!").
Pokoknya, seperti lagunya Meriam Bellina: "Ku tutup pintu hati untuk
semua
cinta walau batin ini menjerit... hiks!" Lha habis gimana,
sudah cinta setengah mati
setengah hidup sama die. Nggak bisa pindah
ke lain hati.
(Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu ngehargainya.
Ngejomblo
atau tidak toh itu hak asasi setiap orang. Hak asasi
berarti hak itu diberikan oleh Tuhan
karena kita ini manusia. Sama
dengan hak untuk hidup, hak untuk diperlakukan secara
adil dan
beradab, hak untuk dicintai dan mencintai. Jadi, jangan malah sinis
atau curiga yang nggak-nggak)
****
Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma. Misalnya, dulu pernah
pacaran. Sayang banget sama doi, sampai-sampai segalanya sudah
diberikan. Tapi
eh, dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain.
Sakit sekali. Nyerinya sampai ke
sumsum tulang. Serasa digigit
seribu ekor nyamuk demam berdarah. Duh! Padahal
(ngutip iklan) satu
gigitan saja sudah berbahaya. Kapok deh kapok!
Atau, trauma karena ngelihat ortu berantem melulu. Nggak siang nggak
malam.
Mana berantemnya nggak kira-kira; pakai piring terbang dan
makian kebun binatang
segala. Sudah gitu, ngelihat teman yang sudah
berumah tangga sami mawon.
Barantakan pula. Malah sampai cerai.
Jadinya takut. Daripada sengsara mendingan
ngejomblo. Bisa bebas
sebebas burung di udara.
(Kita harus bersimpatik dengan orang-orang seperti itu. Hidup dengan
trauma
tuh nggak enak lho. Mereka adalah korban; korban sesamanya,
korban lingkungannya,
atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, mbok
ya tolong mereka. Minimal jadilah teman
buat mereka. Jangan sampai
sikap dan kata-kata kita malah tambah melukai).
****
1/3
Katakan Jomblo Sejujurnya
Ditulis oleh Ayub Yahya
Jumat, 17 April 2009 12:26
Ada juga yang ngejomblo bukan karena pilihan, tapi karena keadaan
dan
kesempatan yang belum klop. Jadi keinginan sih ada. Bahkan
besar. Doa dan usaha
juga sudah. Cuma ya, belum ketemu yang pas
saja.
Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar yang ketinggian.
Kebanyakan milih. Mikirnya tuh kayak orang mau naik bis. Yang itu
kotor, malas ah.
Yang ini nggak ada AC-nya, ogah ah. Yang ono
sopirnya nggak meyakinkan, nggak
mau ah - Ah uh ah uh terus, jadinya
nggak naik-naik. Tetap cengo di terminal.
Pengennya yang perfect: cakep (kalau cewek kayak Sophia Latjuba,
kalau
cowok kayak Ari Wibowo), kaya raya (kayak James Riady), pintar
(kayak B.J. Habibie),
baik hati dan tidak sombong serta enak kalau
di ajak ngobrol (kayak saya hehehe:) Eit, yang terakhir cuma
"ngecap" lho. Habis susah sih cari contohnya. Ntar dikira
promosi
diri, bisa tambah pengagum. Nggak ku ku deh hehehe :) - Pokoknya
yang ideal banget. Ya, nggak nemu-nemu. Jadinya, jomblo terussss.
Bisa juga karena kurang berusaha. Lha, gimana bisa ketemu yang pas
kalau
diam di rumah terus. Nggak mau bergaul. Ngeharep "doi"
nyamperin sendiri.
Kucluk-kucluk datang bawa setangkai bunga
(segepok "bunga" bank ?) dan bilang, "Hi,
it's me. Godain kita
dong!" - Ya, ampun! Broer and sus, jodoh nggak turun dari langit
lho. Usaha tuh kudu. Minimal
buka peluang dong supaya mengenal dan dikenal sebanyak mungkin orang
lain.
Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di gereja,
misalnya, gabung
dengan klub pencinta alam, atau klub apalah - yang
baik, tentunya. Kalau perlu jadi
anggota Ijo Lumut (Ikatan Jomblo
Lucu dan Imut). Semakin banyak dikenal dan
mengenal orang kan
semakin besar kemungkinan ketemu yang pas.
****
Tetapi bisa juga nggak ketemu yang pas itu karena "faktor x". Alias
blank.
Nggak tahu kenapa. Padahal, "modal" sih cukuplah - tampang
nggak jelek-jelak amat,
karier lumayan, jiwa-raga sehat nggak ada
gangguan serius. Doa dan usaha juga
sudah lebih dari cukup. Tuntutan
standar nggak macam-macam; pokoknya yang
penting seiman, sehat
jiwa-raga, dan (tentu saja) harus lawan jenis (habis masak
sejenis?!). Cuma itu. Tetapi eh, koq ya tetap saja jomblo.
Heran! Begitulah hidup. Nggak semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Otak
kita
terlalu terbatas untuk mengungkap semua realitas. Ada banyak
hal dalam hidup ini
yang hanya bisa kita terima tanpa reserve.
Itulah misteri. Misalnya: kenapa kita lahir di
sini, seperti ini dan
dari
orang tua si Anu? Nggak tahu. Kita hanya bisa menerimanya.
Jomblo juga (kadang-kadang) begitu. Kenapa sampai ngejomblo, nggak
bisa dijelaskan dengan logis. Pokoknya entah. selalu
2/3
Katakan Jomblo Sejujurnya
Ditulis oleh Ayub Yahya
Jumat, 17 April 2009 12:26
Lalu bagaimana dong?
Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah, jalan terbaik
- dan
sehat pula - ya, kita terima saja. Jalani dengan legowo. Toh
gerundelan, menyalahkan
diri sendiri, uring-uringan, marah-marah,
menyesali habis-habisan, nggak ada gunanya.
Selain malah memperburuk
keadaan.
Paling "enak" hidup tuh mengalir sajalah. Upayakan yang terbaik apa
pun yang
harus kita lakukan, selebihnya terserah DIA, Sang Pemilik
Kehidupan. Melawan arus
hanya akan menimbulkan "riak-riak"
gelombang. Kita akan capek sendiri. Buang-buang
energi. So, go with
the flow, Jomblo!
* Buat Henry Sujaya
270404
3/3
Fly UP