...

EVALUASI PENERAPAN PATIENT SAFETY RISIKO JATUH UNIT

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

EVALUASI PENERAPAN PATIENT SAFETY RISIKO JATUH UNIT
EVALUASI PENERAPAN PATIENT SAFETY
RISIKO JATUH UNIT GAWAT DARURAT
DI RUMAH SAKIT PANTI RINI
KALASAN SLEMAN
NASKAH PUBLIKASI
Disusun Oleh:
SUPARNA
201310201193
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2015
EVALUASI PENERAPAN PATIENT SAFETY
RISIKO JATUH UNIT GAWAT DARURAT
DI RUMAH SAKIT PANTI RINI
KALASAN SLEMAN
NASKAH PUBLIKASI
Diajukan Guna Melangkapi Gelar Sarjana Keperawatan pada
Program Pendidikan Ners-Program Studi Ilmu Keperawatan
di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah
Yogyakarta
Disusun Oleh:
SUPARNA
201310201193
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2015
EVALUASI PENERAPAN PATIENT SAFETY
RISIKO JATUH UNIT GAWAT DARURAT
DI RUMAH SAKIT PANTI RINI
KALASAN SLEMAN1
Suparna, 2 Tenti Kurniawati3
INTISARI
Latar belakang : Rumah sakit sebagai pemberi layanan kesehatan harus
memperhatikan dan menjamin keselamatan pasien. Perilaku perawat yang tidak
menjaga keselamatan pasien berkontribusi terhadap insiden keselamatan pasien.
Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan
psikologis.Rumah Sakit Panti Rini merupakan salah satu rumah sakit swasta yang
berkomitmen pada keselamatan pasien dan telah memiliki SPO .Perawat dan petugas
sudah dilatih secara khusus tentang pencegahan pasien risiko jatuh, sehingga peneliti
tertarik ingin mengetahui apakah para perawat sudah menerapkan keselamatan
pasien berdasar SPO.
Tujuan : Untuk mengetahui evaluasi penerapan patient safety risiko jatuh unit gawat
darurat di Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman.
Metode : Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Instrumen pengumpul
data menggunakan checklist. Sampel yang digunakan sebanyak 24 perawat yang
diambil dengan cara total Sampling. Analisis data menggunakan statistik distribusi
frekuensi.
Hasil : Penerapan patient safety risiko jatuh berdasarkan SOP aspek yang
dilaksanakan 100% yaitu penulisan pada dokumentasi, sedangkan 50% pengkajian
risiko jatuh, aspek pada pemasangan tanda risiko jatuh, didapat keterlaksanaannya
hanya 51% .
Simpulan : Hasil penelitian menunjukkan patient safety risiko jatuh berdasarkan
SOP didapat 100% tidak terlaksana.
Saran : Bagi perawat hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi
dan masukan bagi tenaga keperawatan dalam penerapan patient safety risiko jatuh
Kata kunci
: Penerapan patient Safety risiko atuh
Daftar pustaka : 20 buku (tahun 2000-tahun 2014), 8 Internet, 1 jurnal
1.
2.
3.
Judul Skripsi
Mahasiswa Program Studi Ilmu keperawatan STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
Dosen Program Studi Ilmu keperawatan STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
2
THE EVALUATION OF THE PATIENT SAFETY IMPLEMENTATION OF
THE FALLING RISK IN EMERGENCY UNIT IN PANTI RINI HOSPITAL
OF KALASAN OF SLEMAN1
Suparna2, Tenti Kurniawati3
ABSTRACT
Research Background: A hospital as a health care provider must consider and
ensure the patient safety. The behaviors of nurses who do not maintain the patient
safety contribute to the patient safety incidents. Falling leads to various types of
injury, physical and psychological damage. Panti Rini Hospital is one of private
hospitals that commits to the patient safety dan has Standard Operational Procedure
(SOP). The nurses and the officers have been trained specifically on avoiding the
falling risk of the patients. Hence, the reseracher was interested to identify whether
the nurses have implemented SPO-based paient safety.
Research Objective: The research objective was to identify the evaluation of the
patient safety implementation of the falling risk in emergency unit in Panti Rini
Hospital of Kalasan of Sleman.
Research Method: The design of the study was descriptive. Tche ollecting data
instrument was checklist. The samples were 24 nurses taken by using total sampling.
The data were aalyzed by using frequency distribution statistic.
Research Results: The SOP-based patient safety application of the falling risk, the
aspects implemented on documentating was 100%, the falling risk assessment was
50%, and the implementation of the sign setting up was 51%.
Conclusion: The research results show that the SPO-based patient safety of the
falling risk is not implemented 100%.
Suggestion: For the nurses, the researcher hopes that the result of this study can be
used as an evaluation material dan input in implementing the patient safety of the
falling risk.
Keywords: the patient safety implementation of the falling risk
References: 20 books (200-2014), 8 internet, 1 journal
1
Thesis title
School of Nursing Student of ‘Aisyiyah Health Sciences College of Yogyakarta
3
Lecturer of ‘Aisyiyah Health Sciences College of Yogyakarta
2
3
PENDAHULUAN
Di era globalisasi ini perkembangan ilmu dan teknologi sangatlah pesat termasuk
ilmu dan teknologi kedokteran. Peralatan kedokteran baru banyak diketemukan
demikian juga dengan obat baru. Keadaan tersebut berdampak terhadap pelayanan
kesehatan, di mana pada masa lalu pelayanan kesehatan sangatlah sederhana, sering
kurang efektif namun lebih aman. Pada saat ini pelayanan kesehatan sangatlah
kompleks, lebih efektif namun apabila pemberi pelayanan kurang hati-hati dapat
berpotensi terjadinya kejadian tidak diharapkan atau adverse event (Depkes, 2006).
Keselamatan pasien merupakan hak pasien. Pasien berhak memperoleh keamanan
dan keselamatan dirinya selama masa perawatan di rumah sakit (Kemenkes, 2009). UU
No 36/2009 Pasal 53 (3) tentang kesehatan menyatakan bahwa pelaksanaan pelayanan
kesehatan harus mendahulukan nyawa pasien. Keselamatan pasien telah menjadi
prioritas untuk layanan kesehatan seluruh dunia (Cosway, 2012).
Menurut Ananta (2013) kejadian-kejadian yang berkaitan dengan keselamatan
pasien semakin marak masuk ke ranah hukum bahkan sampai ke pangadilan. Kenyataan
bahwa di RS terdapat puluhan bahkan ratusan jenis obat, ratusan prosedur, terdapat
banyak pasien, banyak profesi yang bekerja serta banyak sistem merupakan potensi yang
sangat besar terjadinya kesalahan. Keselamatan pasien merupakan hak pasien yang
dijamin dalam UU No. 44/2009 tentang Rumah Sakit, untuk itu pihak RS perlu
meminimalkan kesalahan – kesalahan yang mungkin terjadi dalam setiap tindakan yang
dilakukan terhadap pasien di RS. Salah satu upaya meminimalkan kejadian–kejadian
tersebut adalah dengan pembentukan Tim Keselamatan Pasien di RS yang bertugas
menganalisis dan mengkaji kejadian – kejadian yang berhubungan dengan keselamatan
pasien.
Menurut Depkes (2006) keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem di
mana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Salah satu tujuan penting dari
penerapan sistem keselamatan pasien di rumah sakit adalah mencegah dan mengurangi
terjadinya incident Keselamatan Pasien (IKP) dalam pelayanan kesehatan. IKP adalah
setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan
cidera yang seharusnya tidak terjadi. IKP ini meliputi kejadian tidak diharapkan (KTD),
kejadian nyaris cidera (KNC), kejadian potensial cedera (KPC), kejadian centinel (KKPRS 2007).
Di Amerika Serikat menerbitkan laporan yang mengagetkan banyak pihak “To
Error Is Human, Building a Safer Health Sistem. Laporan itu mengemukakan penelitian
di rumah sakit di Utah dan Colorado serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan
Kejadian tidak di inginkan (Adverse Event) sebesar 2,9 %, di mana 6,6% di antaranya
meninggal. Sedangkan di New York KTD adalah sebesar 3,7 % dengan angka kematian
13,6 %. Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang
berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.000 – 98.000 per tahun. Dalam buku
“Preventing Falls in Hospital. A Toolkit for Improving Quality of care” (2013)
menyebutkan di Inggris dan Wales, sekitar 152.000 jatuh dilaporkan di rumah sakit akut
setiap tahun, dengan lebih dari 26.000 dilaporkan dari unit kesehatan mental dan 28.000
dari rumah sakit masyarakat. Dalam Kongres Persi XXI di Jakarta pada tanggal 8
November 2012 melaporkan bahwa kejadian pasien jatuh di Indonesia pada bulan
Januari sampai September 2012 sebesar 14%. Hal ini membuat persentasi pasien jatuh
termasuk ke dalam lima besar insiden medis selain medicine error (Komariah, 2012).
4
Rumah sakit sebagai pemberi layanan kesehatan harus memperhatikan dan
menjamin keselamatan pasien. Rumah sakit merupakan organisasi yang berisiko tinggi
terhadap terjadinya incident keselamatan pasien yang diakibatkan oleh kesalahan
manusia. Kesalahan terhadap keselamatan paling sering disebabkan oleh kesalahan
manusia terkait dengan risiko dalam hal keselamatan, dan hal ini disebabkan oleh
kegagalan sistem di mana individu tersebut bekerja (Reason, 2009).
Beberapa kasus berakibat pada kematian dan luka berat. Jatuh dapat
mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis. Kerusakan fisik
yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fractur lain
yang sering terjadi akibat jatuh adalah fractur pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis
serta kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah walaupun cedera fisik tidak
terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak
konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam aktivitas
sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh (Stanley, 2006).
Strategi meningkatkan keselamatan pasien oleh Permenkes (2011) melalui enam
sasaran keselamatan pasien rumah sakit meliputi identifikasi pasien dengan tepat,
meningkatkan komunikasi yang efektif, meningkatkan keamanan obat perlu diwaspadai,
memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi, mengurangi risiko infeksi
terkait pelayanan kesehatan dan mengurangi risiko jatuh. Joint Commision International
(JCI) menetapkan sasaran internasional keselamatan pasien dengan meningkatkan
keamanan obat-obatan, memastikan lokasi pembedahan, prosedur yang benar dan
pembedahan pada pasien yang benar, memastikan keamanan risiko jatuh pasien ( JCI,
2011).
Dalam pelaksanaan program patient safety di rumah sakit, kejadian pasien jatuh
merupakan salah satu indikator berjalan tidaknya program ini. Mendefinisikan pasien
jatuhpun memiliki tantangan tersendiri MiakeLye (2013) dalam National Database of
Nursing Quality Indicators mendefinisikan jatuh sebagai “ an unplanned descent to the
floor with or without injury”. Sedangkan WHO mendefinisikan jatuh sebagai “an event
which results in a person coming to rest inadvertently on the ground or floor or some
lower level”.
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien harus menerapkan
keselamatan pasien. Perawat harus melibatkan kognitif, afektif, dan tindakan yang
mengutamakan keselamatan pasien. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
harus dengan penuh kepedulian. Persepsi perawat untuk menjaga keselamatan pasien
sangat berperan dalam pencegahan, pengendalian dan peningkatan keselamatan pasien
(Choo, Hutchinson & Bucknall, 2011; Elley et al, 2008). Angka kejadian incident
keselamatan pasien didasarkan pada standar pelayanan minimal rumah sakit. Standar
pelayanan minimal rumah sakit menetapkan bahwa kejadian infeksi pasca operasi
≤1,5%, kejadian infeki nosokomial ≤1,5%, tidak ada pasien jatuh yang berakibat
kecacatan/kematian 100%, tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100%, tidak
ada kejadian salah tindakan pada operasi 100% (Kepmenkes, 2008). Pemberi layanan
kesehatan berkontribusi terhadap terjadinya kesalahan yang mengancam keselamatan
pasien, khususnya perawat, pelayanan terlama ( 24 jam secara terus menerus) dan
tersering berinteraksi pada pasien berbagai prosedur dan tindakan keperawatan. Hal ini
dapat memberikan peluang yang besar untuk terjadi kesalahan dan keselamatan pasien.
Selain itu kelelahan pada perawat merupakan faktor yang berkontribusi terjadinya
5
kesalahan (Mattox, 2012). Karakteristik perawat mempengaruhi pekerjaannya seharihari dan berpotensi terhadap kesalahan dalam keselamatan pasien (White, 2012).
Strategi untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien telah
dilakukan banyak dikemukakan peneliti. Strategi membangun sistem pelaporan non
hukuman (Mwachofi, Walson, Al- Qmar, dan Badran 2011). Perawat pada posisi yang
unik untuk mengembangkan alat, proses, dan praktik yang berusaha untuk mengurangi
dan menghilangkan semua jenis kesalahan keselamatan pasien yaitu dengan
mengembangkan risiko berbasis kesalahan, Risiko berbasis kesalahan peraturan,
mengembangkan kemampuan untuk mengenali adanya risiko tinggi dan perilaku
berbasis pengetahuan (Mattox, 2012).
Perawat dalam melaksanakan keselamatan pasien dipengaruhi oleh faktor internal
dan eksternal. Faktor internal merupakan karakteristik perawat yang bersifat bawaan
yang teridentifikasi berupa tingkat kecerdasan, tingkat emosional, dan pengalaman
pribadi. Faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku perawat adalah lingkungan
seperti pengaruh orang lain yang dianggap penting atau kepemimpinan, budaya dan
sistem organisasi. Faktor ini sering menjadi faktor dominan yang mewarnai perilaku
seseorang ( Notoatmojo, 2007). Faktor eksternal berupa pengaruh orang lain juga dapat
menimbulkan persepsi perawat terhadap pelaksaan keselamatan pasien.
Perilaku perawat yang tidak menjaga keselamatan pasien berkontribusi terhadap
insiden keselamatan pasien. Perawat yang tidak memiliki kesadaran terhadap situasi
yang cepat memburuk gagal mengenali apa yang terjadi dan mengabaikan informasi
klinis penting yang terjadi pada pasien dapat mengancam keselamatan pasien (Reid,
2012). Perilaku yang tidak aman, Lupa, kurangnya perhatian, motivasi, kecerobohan dan
kelelahan berisiko untuk terjadinya kesalahan selanjutnya pengurangan kesalahan dapat
dicapai dengan memodifikasi perilaku (Choo dkk, 2010).
Rumah Sakit Panti Rini merupakan salah satu rumah sakit swasta yang berkomitmen
pada keselamatan pasien dan telah memiliki SPO (Standar Prosedur Operasional)
penerapan patient safety risiko jatuh sejak bulan November tahun 2013. Pada saat
sebelum penerapan patient safety terdapat kejadian 2 diantara 10 pasien terjadi di UGD
pada bulan Maret–April 2014, pasien jatuh dan setelah dilakukan penerapan patient
safety pada tahun 2014 sampai bulan September terdapat 1 pasien jatuh (KPRS Panti
Rini, 2014). Dalam pelaksanaan penandaan pasien jatuh diruang Unit Gawat Darurat
tanda dipasang pada dinding, dan untuk Bed pasien sudah menggunakan hek
pengamannya. Sedangkan di Rawat jalan tanda pasien risiko jatuh juga dipasang
ditembok,dan untuk bed pasien belum ada hek pengamannya. Untuk penandaan pasien
risiko jatuh di ruang Rawat Inap ada yang dipasang di tembok dan ada kamar yang di
pasang di tempat tidur pasien sedang untuk kamar anak-anak dipasang di dinding tanda
pasien risiko jatuh. Berdasarkan wawancara kepada perawat mereka mengatakan
penerapan patient safety risiko jatuh merupakan cara yang digunakan untuk membuat
asuhan pasien lebih aman dan terhindar terjadi kecelakaan dari terjatuh selama pasien di
rawat di rumah sakit baik di ruang UGD, Rawat Jalan, dan Rawat Inap. Mereka sudah
melaksanakan program tersebut, dan petugas sudah dilatih secara khusus tentang
pencegahan pasien risiko jatuh. Beberapa perawat UGD mengatakan bila jumlah pasien
melampui jumlah perawat misal terdapat 5-6 pasien semetara petugas hanya 2 perawat
maka pengawasan menjadi berkurang. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin melihat
evaluasi tentang penerapan pencegahan risiko jatuh apa saja yang mempengaruhi
keberhasilan penerapan keselamatan pasien secara optimal.
6
METODE PENELITIAN
Rancangan yang digunakan Penelitian deskriptif merupakan Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian non eksperimental, Metode
pendekatan waktu yang digunakan adalah cross sectional. Berdasarkan studi
pendahuluan pada bulan April 2015 . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
perawat berjumlah 24 perawat. pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total
sampling, maka jumlah sampel yang digunakan yaitu 24 perawat. Alat yang digunakan
untuk mengukur checklist sebagai alat untuk mengecek Adapun cara pengumpulan data
yaitu dengan mengambil data primer dengan mengisi lembar checklist yang dilakukan
peneliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Karakteristik Responden
Hasil penelitian karakteristik responden pendidikan dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 1 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan
Karakteristik Responden
Pendidikan
D III
SPK
Total
Lama Kerja
Baru (1- 2 tahun)
Menengah (3-5 tahun)
Lama ( lebih dari 5 tahun)
Total
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Umur
22-29 tahun
30-37 tahun
38 - 45 tahun
46 - 53 tahun
54 - 61 tahun
Total
Status Karyawan
Pegawai Kontrak
Pegawai tetap
Total
Gaji
2 juta- 3juta
lebih dari 3 juta
Frekuensi (f)
Prosentase %
13
11
24
54,2
45,8
100
3
6
15
24
12,5
25
62,5
100
4
20
24
16,7
83,33
100
10
1
11
1
1
24
41,7
4,2
45,8
4,2
4,2
100,0
3
21
24
12,5
87,5
100
2
22
8,3
91,7
7
Total
Status Perkawinan
Belum Menikah
Menikah
Total
Jumlah Anak
Belum memiliki anak
memiliki 1 anak
memiliki 2 anak
memiliki 3 anak
Total
Jarak Rumah
1-5 km
6-10 km
lebih dari 10 km
Total
24
100,0
5
19
24
20,8
79,2
100,0
7
5
7
5
24
29,2
20,8
29,2
20,8
100,0
12
8
4
24
50,0
33,3
16,7
100,0
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat mayoritas responden berpendidikan
lulusan D3 sebanyak 13 (54,2%). mayoritas responden memiliki lama kerja lebih
dari 5 tahun dalam kategori lama sebanyak 15 (62,5%). mayoritas responden
berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 (87,5%) mayoritas responden memiliki
umur pada kategori 38-45 tahun sebanyak 11 (45,8%).mayoritas responden status
karyawan pada pegawai tetap sebanyak 21(87,5%).mayoritas responden gaji lebih
dari 3 juta sebanyak 22 (91,7%).mayoritas responden status perkawinan sudah
menikah sebanyak 19 (79,2%).mayoritas responden paling banyak tidak memiliki
anak dan memiliki 2 anak masing-masing sebanyak (29,2%)mayoritas responden
paling banyak berjarak 1- 5 km sebanyak 12 responden (50%).
2) Penerapan patient safety resiko jatuh berdasarkan SOP
Hasil penelitian mengenai penerapan patient safety resiko jatuh berdasarkan
SOP dapat dilihat pada aspek-aspek berikut:
Tabel 2 Hasil keterlaksanaan penerapan pasien safety resiko jatuh
berdasarkan SOP
Indikator
Pengkajian
jatuh
risiko
Keterlaksaaan
50%
Butir
soal
3
7
Penulisan pada
dokumentasi
100%
1
2
Penggolongan Pasien
dengan risiko jatuh
1
4%
Melakukan
pengkajian dan
mengkaji berisiko
tinggi untuk jatuh
Tersedianya formulir
pemantauan risiko
jatuh di UGD
Kelengkapan
Pengisian formulir di
UGD dilihat
23
96%
24
100%
24
100%
8
Pemasangan tanda
risiko jatuh
dilakukan
4
25%
5
6
8
kelengkapan formulir
Pemberian tanda atau
tidak pada formulir
pemantauan risiko
jatuh rekam medis
Tanda risiko jatuh
dipasangkan begitu
pasien dikaji berisiko
jatuh
Pemasangan tanda
risiko jatuh dipasang
pada tempat tidur
pasien
Tanda dilepas setelah
pasien pulang dan
mengkaji ulang risiko
pasien jatuh
0
0%
24
100%
0
0%
0
0%
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa penerapan patient safety
risiko jatuh berdasarkan standar prosedur operasional aspek penulisan pada
dokumentasi dilakukan 100%, sedangkan 50% pengkajian risiko jatuh, aspek
pada pemasanan tanda risiko jatuh, didapat keterlaksanaannya hanya 25%. Dari
ketiga aspek sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan patient safety risiko
jatuh berdasarkan standar prosedur operasional tidak terlaksana 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tersedianya formulir
pemantauan risiko jatuh di UGD dilakukan 100% oleh 24 perawat. Pada
kelengkapan pengisian formulir di UGD dilihat kelengkapan formulir dilakukan
100%, pada penggolongan pasien dengan risiko jatuh digolongkan menjadi dua
yaitu pasien dengan risiko jatuh rendah (tanda berwarna kuning ) dan pasien
dengan risiko tinggi jatuh ( tanda berwarna merah ) dilakukan 4% oleh 1
perawat.
Pada pemberian tanda atau tidak pada formulir pemantauan risiko jatuh
rekam medis dilakukan 0% oleh 24 perawat, Tanda risiko jatuh dipasangkan
begitu pasien dikaji berisiko jatuh dilakukan 100% oleh 24 perawat. Pada
pemasangan tanda risiko jatuh dipasang pada tempat tidur pasien dilakukan 0%
oleh 24 perawat, Pada aspek melakukan pengkajian dan mengkaji berisiko tinggi
untuk jatuh tidak semua dilakukan oleh 23 perawat dan juga pada tanda dilepas
setelah pasien pulang dan mengkaji ulang risiko pasien jatuh tidak dilakukan
sama sekali oleh 24 perawat.
PEMBAHASAN
Formulir pemantauan pasien jatuh adalah formulir resmi rumah sakit yang
digunakan untuk mengkaji risiko jatuh pada pasien unit gawat darurat (UGD) rawat
jalan, maupun rawat inap. Hasil penelitian berdasarkan standar prosedur operasional
pada pengkajian penerapan formulir pemantauan risiko jatuh dilakukan 50% yang
meliputi penggolongan pasien dengan risiko jatuh didapat 4% dilakukan oleh 1
perawat dan melakukan pengkajian dan mengkaji berisiko tinggi untuk jatuh didapat
hasil kelengkapan sebesar 96% dari 24 perawat 1 orang tidak melakukan. Sehingga
9
dapat disimpulkan hasil penelitian pada pengkajian penerapan formulir pemantauan
risiko jatuh dapat dikatakan tidak maksimal. Para perawat hanya melakukan
pengkajian berisiko tinggi untuk jatuh namun tidak melakukan penggolongan
pasien.
Dampak positif bersumber dari Standar prosedur operasional penanganan pasien
jatuh di Rumah sakit Panti Rini Kalasan menerangkan bahwa ketika perawat
melakukan penggolongan pasien serta pengkajian berisiko tinggi untuk jatuh akan
memenuhi sasaran keselamatan pasien rumah sakit, mencegah terjadinya pasien
jatuh saat rawat inap dirumah sakit dan mempermudah petugas mengenali pasien
yang berisiko jatuh dan melakukan langkah-langkah pengamanan pada pasien
tersebut. Penggolongan pasien banyak yang tidak melaksanakannya. Menurut
asumsi penulis hal demikian akan mempersulit petugas mengenali pasien
berdasarkan tingkat risiko jatuh, dan dampak negative keamanan pasien tidak dapat
dijamin 100%
Hasil penelitian ini terjadi karena salah satu faktor yaitu faktor status
karyawan,sebagai pegawai tetap atau pegawai kontrak. Sesuai dengan teori
Henrisken (2006). Status ini dapat berpengaruh terhadap kinerja perawat, karena ini
sifat dasar pekerjaan merujuk pada karakteristik pekerjaan itu sendiri dan mengikuti
pola sejauh mana prosedur yang digunakan terdefinisi dengan baik, sifat alur kerja,
beban pasien, pada puncak dan tidak ada atau tidak adanya kerjasama tim,
kompleksitas perawatan, fungsional alat dan masa penyusutan, interupsi dan
pekerjaan yang bersaing dan persyaratan fisik atau kognitif untuk melakukan
pekerjaan. Meskipun studi empiric terhadap dampak faktor-faktor yang
berhubungan dengan pekerjaan tidak sebanyak studi pada faktor-faktor manusia.
Hasil ini sesuai dengan penelitian Bawelle dkk (2013). Melakukan penelitian
tentang hubungan pengetahuan dan sikap perawat dengan pelaksanaan keselamatan
pasien (patient safety) di Ruang Rawat Inap RSUD Liun Kendage Tahuna.
Menyatakan sikap terdapat hubungan dengan pelaksanaan, persamaan dengan
peneliitan ini menyatakan bahwa pegawai tetap justru tidak mematuhi penerapan
patient safety sikap tersebut akan mempengaruhi keterlaksananya penerapan patient
safety sikap.
Tujuan penerapan formulir pemantaun pasien jatuh adalah (1) Mengkaji
semua pasien rawat jalan yang akan rawat inap, Pasien UGD, dan pasien rawat inap
nterhadap risiko jatuh sehingga memenuhi sasaran keselamatan pasien rumah sakit.
(2). Mencegah terjadinya pasien jatuh saat rawat inap dirumah sakit. (3).
Mempermudah petugas mengenali pasien yang berisiko jatuh dan melakukan
langkah-langkah pengamanan pada pasien tersebut.(4). Mencegah insiden
keselamatan pasien. Hal itu dapat terwujud apabila salah satu indikator terlaksana,
dalam hal ini penulisan dokumen pengkajian sangat diperlukan untuk penerapan
formulir pemantauan risiko jatuh.
Hasil penelitian pada penulisan dokumen pengkajian penerapan formulir
100% perawat melakukan penulisan dokumen. Aspek yang dikatakan lengkap yaitu
pada tersedianya formulir pemantauan risiko jatuh di UGD dan Kelengkapan
formulir di UGD dilihat kelengkapan formulir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pada penulisan dokumen pengkajian para perawat melakukan 100% baik pada
persediaan formulir maupun kelengkapan pengisian.
10
Hal ini dapat terjadi karena faktor pendidikan dan faktor gaji. Diketahui pada
karakteristik responden berdasar pendidikan mayoritas responden berpendidikan
lulusan D3 sebanyak 13 (54,2%), sedangkan paling sedikit lulusan SPK sebanyak
11 orang (45,8%). Hal ini menjadi salah satu alasan keterlaksanaannya penulisan
dokumen pengkajian.
Perawat dengan pendidikan yang cukup baik akan melakukan praktik
keperawatan yang efektif dan efisien yang selanjutnya akan menghasilkan
pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi. Tingkat pendidikan yang cukup akan
memberikan kontribusi terhadap
praktik keperawatan. Tingkat pendidikan
seorang perawat akan mempengaruhi dasar pemikiran dibalik penetapan standar
keperawatan. Dimana pendidikan berkaitan dengan kepribadiannya
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Sumarianto dkk. (2009).
Melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap kinerja
perawat dalam penerapan program patient safety di ruang perawatan inap RSUD
Andi Makkasau Kota Pare Pare. Dapat disimpulkan bahwa perawat dengan
pendidikan yang tinggi akan memiliki hubungan dengan penerapan program patient
safety hal ini sama dengan hasil penelitian sumarianto bahwa terdapat hubungan
antara pengetahuan dengan penerapan program patient safety.
Faktor gaji juga mempengaruhi penulisan dokumen, Hasil penelitian
menyatakan bahwa pada karakteristik responden berdasarkan mayoritas responden
gaji lebih dari 3 juta sebanyak 22 (91,7%).Asumsi peneliti dengan adanya bukti
berupa penulisan dokumen, para perawat merasa yakin bahwa sudah melaksakan
penerapan patient safety risiko jatuh dibuktikan dengan dokumen, walaupun hal ini
tidak semua dilakukan. Hal ini dilakukan karena responden sudah memiliki gaji
yang lumayan tinggi, persepsi responden jika tidak ada bukti berupa dokumen para
responden tidak layak diberi gaji sedemikian.
Tanda pasien risiko jatuh adalah tanda yang dipasang pada tempat tidur
pasien yang berisiko jatuh saat di UGD, maupun saat dirawat inap di rumah sakit.
Pada indikator pemasangan tanda pada pasien risiko jatuh meliputi tanda risiko
jatuh dipasangkan begitu pasien dikaji berisiko jatuh 100% dilaksanakan. Menurut
asumsi peneliti pemasangan tanda 100% dilakukan agar para perawat tersebut
menghindari risiko jatuh.
Pemberian tanda atau tidak pada form pemantauan risiko jatuh rekam medis
tidak dilakukan (0%). Menurut asumsi peneliti tidak adanya tanda pada form
pemantauan risiko jatuh menurut asumsi antara perawat satu dengan perawat
lainnya sudah mengetahui dengan dilihatnya pemasangan tanda, sehingga menurut
pada perawat pemberian tanda pada form tidak diperlukan. Hal ini dapat terjadi
karena mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dan juga mayoritas sudah
menikah dan memiliki anak, sehingga asumsi peneliti para perawat tersebut lebih
efisien kinerjanya cukup dengan pemasangan tanda, bukan pemberian tanda di
form.
Pemasangan tanda risiko jatuh dipasang pada tempat tidur pasien 0% tidak
dilakukan oleh 24 perawat. Pemasangan tanda memang telah dilakukan namun
bukan pada tempatnya. Diketahui hasil penelitian menyatakan bahwa pemasangan
tanda tidak dilakukan ditempat tidur melainkan di dinding. Menurut asumsi peneliti
hal ini untuk mempermudah perawat mengenali pasien risiko jatuh. Tanda dilepas
11
setelah pasien pulang dan mengkaji ulang risiko pasien jatuh 0% tidak dilakukan
sama sekali oleh perawat.
Hasil penelitian ini menyatakan 25% yang melakukan pemasangan tanda.
Tanda dilepas setelah pasien pulang dan mengkaji ulang risiko pasien jatuh didapat
0% tidak dilakukan secara displin oleh perawat. Hal ini dapat terjadi karena
beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor umur dan faktor lama kerja.
Diketahui pada hasil karakteristik responden memiliki umur pada kategori
38-45 tahun sebanyak 11 (45,8%), hal ini tidak sesuai dengan teori Henriksen
(2006) Karakteristik seorang perawat berdasarkan umur sangat berpengaruh
terhadap kinerja dalam praktik keperawatan, dimana semakin tua umur perawat
maka dalam menerima sebuah pekerjaan akan semakin bertanggung jawab dan
berpengalaman, namun yang terjadi malah sebaliknya karena pasien sudah pulang
perawat tidak memperhatikan tanda untuk dilepas. Hal ini akan berdampak pada
kinerja perawat dalam praktik keperawatan pada pasien selanjutnya. Perawat
sebagai bagian penting dari rumah sakit dituntut memberikan perilaku yang
baik dalam rangka membantu pasien dalam mencapai kesembuhan. Pada hasil
penelitian ini justru didapati banyak yang tidak disiplin dalam pemasangan tanda
pasien risiko jatuh tidak dilakukan oleh perawat.
Faktor lain yang mempengaruhi ketidakterlaksanaan pemasangan tanda risiko
jatuh yaitu lama kerja. Para responden mayoritas responden memiliki lama kerja
lebih dari 5 tahun dalam kategori lama sebanyak 15 (62,5%). Hal ini tidak sesuai
dengan teori semakin lama masa kerja seseorang dalam bekerja maka semakin
banyak pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, hal ini dapat
membantu dalam meningkatkan kinerja seorang perawat. Masa kerja seseorang
dapat diketahui dari mulai awal perawat bekerja sampai saat berhenti atau masa
sekarang saat masih bekerja di Rumah Sakit. Namun pada kenyataannya justru tidak
terlaksananya indikator penerapan risiko jatuh oleh para perawat yang sudah bekerja
lebih dari 5 tahun. Asumsi peneliti faktor yang menyebabkan demikian antara lain
faktor jumlah anak, faktor jarak rumah dan faktor status perkawinan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sumarianto dkk. (2009)
menyatakan bahwa kelompok masa kerja responden yang terbanyak pada
penelitian ini adalah masa kerja >5 tahun yaitu sebanyak 30 responden atau 46,9%,
sedangkan pada hasil penelitian menyatakan masa kerja Para responden mayoritas
responden memiliki lama kerja lebih dari 5 tahun dalam kategori lama sebanyak 15
(62,5%). Terdapat persamaan bahwa mayoritas para responden memiliki masa
kerja lebih lama akan mempengaruhi kinerja, namun pada penelitian ini masa kerja
tidak memberikan pengaruh pada kinerja untuk menerapkan patient safety. Evaluasi
Penerapan Patient safety risiko ratuh unit gawat darurat di Rumah Sakit Panti Rini
Kalasan Sleman , Hasil penelitian menyatakan penerapan patient safety risiko jatuh
berdasarkan standar prosedur operasional aspek penulisan pada dokumentasi
dilakukan 100%, sedangkan 50% pengkajian risiko jatuh, aspek pada pemasanan
tanda risiko jatuh, didapat keterlaksanaannya hanya 25%. Dari ketiga aspek
sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan patient safety risiko jatuh berdasarkan
standar prosedur operasional tidak terlaksana 100%.
Ketidakterlaksanaan pengkajian risiko jatuh dikarenakan faktor- faktor yang
mempengaruhi responden. Asumsi peneliti faktor utama yang mempengaruhi yaitu
faktor individu dan budaya, walaupun faktor kepemimpinan, infrastruktur, dan
12
lingkungan sudah baik namun jika individu sendiri tidak ada sikap yang positif
untuk melakukan penerapan akan mempengaruhi juga budaya kerja rekan kerja.
Sehingga banyak yang tidak terlaksananya sesuai standar operational prosedur.
Menurut peneliti faktor individu dapat dilihat pada karakteristik bahwa
mayoritas status perkawinan yang didapat responden mayoritas responden status
perkawinan sudah menikah sebanyak 19 (79,2%). Mayoritas responden paling
banyak tidak memiliki anak dan memiliki 2 anak masing-masing sebanyak (29,2%),
mayoritas responden berpendidikan lulusan D3 sebanyak 13 (54,2%), mayoritas
responden memiliki lama kerja lebih dari 5 tahun dalam kategori lama sebanyak 15
(62,5%), mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 (87,5%),
mayoritas responden memiliki umur pada kategori 38-45 tahun sebanyak 11
(45,8%), mayoritas responden status karyawan pada pegawai tetap sebanyak 21
(87,5%). Mayoritas responden paling banyak berjarak 1- 5 km sebanyak 12
responden (50%).
Faktor kepemimpinan baik dapat dilihat bahwa penerapan patient safety
dilakukan pelatihan terlebih dahulu, faktor infrastruktur dapat dilihat bahwa rumah
sakit menyediakan form pemantauan, dan faktor lingkungan dapat dilihat bahwa
mayoritas jarak rumah kerumah sakit mayoritas responden paling banyak berjarak
1-5 km sebanyak 12 responden (50%).
Menurut Stanley (2006) dampak dari ketidak terlaksanaanya penerapan
patient safety risiko jatuh jika pasien menglami jatuh yaitu mengakibatkan berbagai
jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti
dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fractur lain yang sering
terjadi akibat jatuh adalah fractur pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta
kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah walaupun cedera fisik tidak
terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak
konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam
aktivitas sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh .
Dampak positif jika diterapkan yaitu budaya aman (safety) meningkat dan
berkembang, komunikasi dengan pasien berkembang, kejadian tidak diharapkan
menurun, risiko klinis menurun, keluhan dan litigasi berkurang, mutu pelayanan
meningkat, citra rumah sakit dan kepercayaan masyarakat meningkat, diikuti
kepercayaan diri meningkat. Hasil penelitian ini banyak dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Dari hasil evaluasi disarankan rumah sakit memilih penggerak keselamatan
pasien, pelatihan untuk perawat dalam pemasangan tanda risiko jatuh.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pendidikan mayoritas responden
berpendidikan lulusan D3 sebanyak 13 (54,2%), sehingga dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan para responden dapat dikatakan cukup tinggi. Sehingga akan
mempengaruhi sikap mendukung penerapan program patient safety.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Ariyani (2009) melakukan
penelitian tentang “Analisis pengetahuan dan motivasi perawat yang mempengaruhi
sikap mendukung penerapan program patient safety di Instalasi Perawatan Intensif
RSUD DR.Moerwadi Surakarta. Hasil penelitian ini menyatakan terdapat pengaruh
pengetahuan yang akan memberikan pengaruh sikap untuk mendukung penerapan
program patient safety, hal ini sama dengan hasil penelitian yang menyatakan
bahwa dengan pendidikan atau pelatihan dapat memberikan pengaruh terhadap
13
penerapan program patient safety. Faktor sikap yang dipengaruhi individu
memberikan pengaruh dalam pelaksanaan penerapan patient safety
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan didapat mayoritas responden
berpendidikan lulusan D3 sebanyak 13 (54,2%), Karakteristik responden berdasarkan
lama kerja didapat mayoritas responden memiliki lama kerja lebih dari 5 tahun dalam
kategori lama sebanyak 15 (62,5%), Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
didapat mayoritas responden berjenis kelamin sedikit perempuan 20 orang (83,33%).
Karakteristik responden berdasarkan umur didapat mayoritas responden memiliki umur
pada kategori dewasa akhir (36-45 tahun) sebanyak 11 (45,8%). Karakteristik responden
berdasarkan status karyawan mayoritas responden status karyawan pada pegawai tetap
sebanyak 21(87,5%). Mayoritas responden status perkawinan sudah menikah sebanyak
19 (79,2%). Mayoritas responden paling banyak tidak memiliki anak dan memiliki 2 anak
Masing-masing sebanyak (29,2%) Mayoritas responden paling banyak berjarak 1- 5 km
sebanyak 12 responden (50%).
Evaluasi Penerapan Patient Safety Risiko Jatuh unit gawat darurat di Rumah Sakit
Panti Rini Kalasan Sleman, Penerapan patient safety risiko jatuh berdasarkan standar
prosedur operasional tidak terlaksana 100%. Penerapan patient safety risiko jatuh
berdasarkan SOP aspek penulisan pada dokumentasi dilakukan 100%, sedangkan 50%
pengkajian risiko jatuh, aspek pada pemasanan tanda risiko jatuh, didapat
keterlaksanaannya hanya 25%. Dari ketiga aspek sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan patient safety risiko jatuh berdasarkan SOP tidak terlaksana 100%.
Saran
Dari hasil penelitian diketahui bahwa hasil penelitian ini diharapkan untuk perawat
dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi tenaga keperawatan dalam penerapan
patient safety risiko jatuh agar dapat diterapkan standar prosedur operasional terutama
pada aspek pemasangan tanda dan pengkajian risiko jatuh diharapkan lebih disiplin dalam
pelaksanaanya. Bagi Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman, Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi masukan bagi Direktur, yaitu Peninjauan kembali SOP
terutama yang menyebutkan tanda risiko jatuh dipasang ditempat tidur pasien pada
kenyataannya terpasang di dinding, Di adakan pelatihan secara khusus tentang Penerapan
patient safety risiko jatuh kepada seluruh staf perawat UGD. Bagi Kasi, Mengadakan
monitoring dan evaluasi secara teratur kepada seluruh staf perawat UGD. Bagi peneliti
selanjutnya, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk tidak mengambil data pada
saat jaga atau dinas.
DAFTAR RUJUKAN
Agency for Healthcare Research and Quality.2013. Making health care safer II: updated
Critical Analysis of the Evidence for Patient Safety Practic(available at
http://www.ahrq.gov, diakses pada tanggal 15 Maret 2013).
Bates, Gandhi & Frankel, 2003., Improving Patient Safety Across A Large Integrated
Health Care Delivery System. Int J Qual Health Care. 2003 Dec;15
14
Cahyono, S.B. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta : Kanisius.
Choo, J. Hutchinson, A., & Bucknall, T. 2010. Nurses' role in medication safety.
Journal of Nursing Management. Vol.18/No.5. Diunduh melalui
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=8&h pada 5 September 2012.
Turner, Roger .2007. Marketing Metrics, Innovation in Field Force Bonuses: Enhancing
Motivation Through aStructured Process-based Approach. International
Journal of Medical Marketing Vol 7 No 2
Darmojo RB, Mariono, HH 2004. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006. Profil Kesehatan 2005. .Panduan
Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008 Panduan Nasional Keselamatan
Pasien di Rumah Sakit. Edisi 2 : Jakarta.
Henriksen, K. & Dayton, E. Issues in the design of training for quality and safety.
Quality and Safety of Health Care. 2006; 15(1):117-124
Henrikson J. E., Bech-Nielsen H., 2009. Blood Glucose Levels. Available from:
http://www.netdoctor.co.uk/healthadvice/facts/diabetesbloodsugar. htm diakses
tanggal 10 februari 2015
Kemenkes RI., 2009. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2010 -2014.
Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI, 2011.
Profil Kesehatan Indonesia 2010.
http://www.depkes.go.id.
Komariah, S. 2012. Peran Keperawatan Dalam Menurunkan Insiden Keselamatan
Pasien
[online]
http://manajemenrumahsakit.net/files/siti%20komariah%20_PERAN%20KEP
%20DALAM%20IKP.pdf [9 Februari 2013].
Komariah, Nenden. 2014. budaya keselamatan dan kesehatan kerja dalam implementasi
keselamatan pasien (studi kasus pada rumah sakit x di kota batam). jurnal
pascasarjana fakultas kedokteran universitas gadjah mada,
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). 2008. Pedoman pelaporan insiden
keselamatan pasien (IKP). Jakarta : KKPRS.
Komite Keselamatan Rumah Sakit (KKP-RS) PERSI., 2007. Pedoman Pelaporan
Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta
Kovner, AR & Neuhauser, D. 2004. Health service management. Health Administration
Press. Washington
Makmuri Muchlas. 2008.Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Maramis W.F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University
Press; 2005. p. 63-9.
Mattox, E.A. 2012. Strategies for improving patient safety: Linkingt ask type to error
type.
Critical
Care
Nurse.
Vol.32/No.1.
Diunduh
melalui
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=25&hid=118&sid=b9117e5d-bab14cae-9010-559f1406d321%40sessionmgr1 pada 7 September 2012.Joint
Commission International. (2011). Accreditation standart for hospitals. Fourth
edition. Oarkbrook Terrace-Illinois: Departement of Publications Joint
Comission Resources.
15
Mwachofi, A., Walston, Stephen, L., Al-Omar, & Badran, A. 2011. Factors affecting
nurses' perceptions of patient safety. International Journal of Health Care
Quality
Assurance.
Vol
24/No.4.
Diunduh
melalui
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=32&hid=118&sid=b9117e5d-bab14cae-9010-559f1406d321%40sessionmgr pada 8 September 2012.
Mulyadi.2008. Sistem Akutansi. Edisi Ke-4. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Permenkes.2011. Permenkes RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang Higiene
Sanitasi Jasaboga. Jakarta.
Perry & Potter. 2006. Fundamental Keperawatan Konsep Proses dan Praktek. Jakarta :
Salemba Medika.
Reason, J. 2009 Managing the Risks of Organizational Accidents. Ashgate
Publishing Company.
Reid, J., & Bromiley, M. 2012. Clinical human factors: The need to speak up to improve
patient safety.
Nursing Standard. Vol.26/No.35. Diunduh melalui
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=4&hid=105&sid =834bc725-6a084ccf-b2b5-f6e0e6722704%40s pada 8 September 2012.
Sri Ananta Widhya. 2014. RSUD Ambon Lakukan Workshop Keselamatan Pasien
http://www.tribun-maluku.com/2013/08/rsud-ambon-lakukan-workshopkeselamatan.html, diakses 12 Januari 2015
Soemarso S.R. 2000. Akuntansi Suatu Pengantar. Salemba Empat : Jakarta
Stanley. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2006.
Walshe, K & Boaden, R. Patient safety: Research into practice. New York:
Open University Press;
White, N. 2012. Understanding the role of non-technical skills in patient safety. Nursing
Standard.
Vol.26/No.26.
Diunduh
melalui
http://web
ebscohost.com/ehost/detail?vid=28&hid=105 pada 8 September 2012.
Priyatnasari. Nurul.2013. Hubungan konflik peran ganda dengan kinerja perawat RSUD
daya kota makassar hubungan antara konflik pekerjaan keluarga dan konflik
keluarga pekerjaan dengan kinerja khususnya pada perawat wanita yang
bekerja di RSUD daya kota Makassar. Jurnal Bagian Administrasi dan
Kebijakan Kesehatan FKM Universitas Hasanuddin
Fly UP