...

Ringkasan Hasil penelitian secara lengkap

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Ringkasan Hasil penelitian secara lengkap
KONSTRUK PSIKOLOGI KESABARAN DAN PERANNYA
DALAM KEBAHAGIAAN SESEORANG
Oleh:
Subhan El Hafiz, Fahrul Rozi, Ilham Mundzir, Lila Pratiwi
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
ABSTRAK
Kesabaran merupakan konsep yang berakar dari konsep Islam (Shabr) oleh karena itu perumusan
konstruk psikologi kesabaran harus mengacu pada sumber awalnya yaitu Al Quran dan Hadits.
Penelitian ini dilakukan dengan banyak pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Begitu juga dengan metode, dilakukan dengan banyak metode.
Studi 1 adalah pendefinisian psikologi kesabaran menggunakan pendekatan kualitatif dengan
tafsir Quraish Shihab terhadap ayat dan hadits yang memiliki kata sabar. Berdasarkan tafsir
tersebut peneliti mencari kata kunci dan membuat kategorisasi hingga analisa data. Hasilnya
didapat definisi psikologi kesabaran.
Studi 2 yang dilakukan pada 86 orang mahasiswa F. Ilmu Kesehatan dan 140 mahasiswa F.
Psikologi merupakan tahap pembuatan instrumen pengukuran sabar dengan dua metode, yaitu tes
dan skala. Tes bertujuan untuk dapat membedakan kelompok sabar dan tidak serta tingkatannya
sedangkan skala hanya melihat tingkatan kesabaran. Hasilnya kedua instrumen cukup baik dalam
konsistensi internal Alpha Cronbach, yaitu 0,830 untuk skala dan 0,708. Selain itu tes juga
mampu membedakan individu sabar dan tidak sabar.
Studi 3 merupakan lanjutan dari studi 2 untuk melihat hubungan kesabaran dengan variabel
kebahagiaan. Variabel yang diuji adalah kepuasan hidup, kebahagiaan, dan optimisme. Kepuasan
hidup diukur dengan Satisfaction with Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985),
Kebahagiaan menggunakan 1 aitem skala (Khalek & Ahmed, 2006), dan optimisme
menggunakan Revised-Life Orientation Test (Scheier, Carver dan Bridges, 1994) yang dianalisa
menggunakan uji korelasi Spearman. Hasilnya untuk skala kesabaran didapatkan korelasi yang
signifikan dengan kebahagiaan (r=0,346) dan optimisme (r=0,350) namun tidak dengan
kepuasan hidup sedangkan untuk tes kesabaran didapatkan korelasi yang signifikan dengan
kepuasan hidup (r=0,256) namun tidak dengan optimisme dan kebahagiaan.
Kata Kunci: Sabar, Psikologi Kesabaran, Skala Kesabaran, Tes Kesabaran, Kepuasan
Hidup, Kebahagiaan, Optimisme.
Psychologycal Construct on Patient (Sabar) and Its Role for Happiness ;Abstract;
Patient (sabar) is a concept that had rooted in Islamic value (shabr), therefore the making of
patient construct must refer to first source which are Al Quran and Hadits. This research was
conducted in multi approach, qualitative and quantitative. Also for the method, there are multi
method.
Study 1 purpose was to define what is patient (sabar) using qualitative approach. In this
approach, tafsir of Quraish Shihab for verse and hadits which has had word shabr as data. Based
on this tafsir, researcher define a key word using codification and continued with categorization,
till analyze. The result is definition of Psychology of Patient (Sabar).
Study 2 was conduct to 86 undergraduate student from Health Science Faculty and 140 from
Psychology Faculty using 2 instrument to measure patient (sabar), which are test and scale. Test
instrument was created to made distinct between patient and unpatient group and also the level of
patient (sabar). Scale was created only to see level of patient (sabar) in person. The result showed
both instrument has a good internal consistancy which showed from Alpha Cronbach, 0.830 for
scale and 0.708 for test, Result also found, test can made a distinction betwee patient (sabar) with
unpatient person.
Study 3 is next phase of second study with purpose of this study is to see correlation of patient to
other variabel of happiness. Those variabel were Life Satisfaction, Happiness, and Optimism.
Life satisfaction was measured with Satisfaction with Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, &
Griffin, 1985), Happines measured with singel item (Khalek & Ahmed, 2006), and optimism was
measured with Revised-Life Orientation Test (Scheier, Carver dan Bridges, 1994) and those
variable tested by Spearman Correlation. The result showed scale of patient (sabar) had
significant correlation to happiness (r=0.336) and optimism (r=0,350) but there is no correlation
to life satisfaction. While patient (sabar) test had correlation to life satisfaction but there is no
correlation to optimism and happiness.
Keywords: Sabar (Patient), Psychology of Patient (Sabar), Patient (Sabar) Scale, Patient
(Sabar) Test, Life Satisfaction, Happiness, Optimism.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Integrasi ilmu Islam dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu misi yang ingin
diemban oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Proses ini juga diupayakan untuk dipenuhi oleh
salah satu amal usahanya yaitu Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA).
Psikologi UHAMKA sebagai bagian dari UHAMKA juga memiliki misi yang sama, yaitu
mengintegrasikan ilmu jiwa (Psikologi) dengan Islam.
Upaya untuk membuat konstruk psikologi kesabaran merupakan salah satu upaya untuk
mencapai misi di atas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep Islam ke dalam ranah
Psikologi sehingga konsep ini tidak hanya indah dalam tataran normatif namun juga sederhana
dalam tataran aplikatif. Pada tataran aplikatif, penelitian ini berupaya membuat konstruksi alat
ukur kesabaran dan tahap-tahap untuk mendorong munculnya kesabaran dalam sebuah
konseling.
Alasan pemilihan sabar sebagai konsep yang akan dikonstruksi karena sabar merupakan
konsep yang sering disampaikan namun banyak terjadi miskonsepsi. Beberapa kesalah konsep
sabar dalam pemaknaannya dalam kehidupan sehari-hari antara lain: sabar disetarakan dengan
pasrah, sabar disetarakan dengan nrimo, atau sabar disamakan dengan menunggu, atau dengan
istilah lainnya yang sering ditemukan pada kehidupan sehari-hari. Secara konseptual,
penyetaraan diatas sesungguhnya menggiring pada reduksi dan pendangkalan makna sabar yang
sesungguhnya sehingga upaya untuk memahami sabar dalam konsep yang lebih komprehensif
perlu dilakukan.
Namun membahas hanya kesabaran saja belum mampu menjelaskan perannya dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dalam penelitian ini sabar juga akan dibahas dalam
konteks kebahagiaan seseorang yaitu bagaimana peran sabar dalam kebahagiaan seseorang.
1.2. Tujuan Khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan membuat kontruk psikologi kesabaran yang
kemudian dikreasikan dalam skala dan tes. Manfaat skala dan tes ini kemudian menjadi dasar
untuk munculnya terapi sabar dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konstruk sabar ini
juga perlu diuji dalam perannya dalam menghadirkan kebahagiaan dalam diri seseorang.
1.3. Keutamaan (Urgensi) Penelitian
Dalam upaya integrasi Islam dan Psikologi dan mendukung pelaksanaan kurikulum
berbasis kompetensi (KBK) Fakultas Psikologi UHAMKA, maka penelitian ini menjadi penting
untuk mendukung pelaksanaan integrasi Islam dan Psikologi dalam banyak aspek. Metode dalam
penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam upaya mengintegrasikan Islam dan Psikologi
sedangkan outputnya dapat dimanfaatkan untuk perkuliahan dan penggunaan alat tes/ skala sabar
dalam keseharian.
Selain manfaat berupa munculnya alat ukur kesabaran seseorang, penelitian ini juga
bermanfaat untuk membuat standar konseling untuk terapi kesabaran yang diharapkan dapat
membantu mengatasi masalah individu dan meningkatkan kebahagiaannya.
BAB II KAJIAN
PUSTAKA
2.1.
Sabar
Sabar berasal dari bahasa Arab Sabara. Ia memiliki sejumlah makna, tergantung pada
harf jarrin yang mengikutinya. Sabara ‘ala bermakna bersabar atau tabah hati. Sabara ‘an
bermakna menahan atau mencegah. Sabara bihi artinya menangung (Munawir, 1997).
Menurut Ensiklopedia al-Qur’an, kata sabar disebut sebanyak 103 kali (bandingkan, kata
shalat diungkap sebanyak 124 kali. 25 kali bermakna membakar dan derivasinya, 99 kali
bermakna berdoa dan meminta. Shalat yang bermakna sebagai shalat sebagai bentuk ibadah
“hanya”diungkap sebanyak 83 kali. Zakat, diungkap sebanyak 32 kali, adil 28 kali, afwu 32 kali,
amal 359 kali, fakkara disebut sebanyak 18 kali, Allah, disebut sebanayk 2.698), tersebar dalam
46 surah (terdiri dari 29 surah Makiyah, dan 17 surah Madaniyah), dan 101 ayat. Dijelaskan
bahwa sabar dari segi kebahasaan berarti menahan, puncak sesuatu dan batu.
Al-Ashfahani, dalam kitabnya Mufradat fi Gharabil-Qur’an, menjelaskan bahwa sabar
berarti menahan kesulitan. Namun demikian, kata sabar mempunyai arti berbeda-beda sesuai
dengan objek yang dihadapinya. Jika seseorang mampu bertahan dalam musibahyang
dihadapinya, ia disebut sabar. Lawannya adalah gelisah (jaza’). Sabar dalam perjuangan disebut
dengan
berani
(syaja’ah);
lawannya
adalah
takut
(jubnu).
Menahan
sesuatu
yang
mengkhawatirkan disebut dengan lapang dada; lawannya adalah cemas. Sabar, dengan demikian,
bermakna menahan diri atau tabah menghadapi sesuatu yang sulit, berat dan mencemaskan;
baikbersifat jasmani maupun rohani (Shihab, dkk., 2007).
Kata sabar diambil dari kata yang terdiri dari huruf shad, ba dan ra. Maknanya berkisar
pada tiga hal yakni menahan, ketinggian sesuatu dan sejenis batu. Dari makna menahan, lahirlah
kata konsisten atau bertahan, karena yang bertahan menahan pandangannya pada satu sikap.
Seseorang yang menahan gejolak hatinya dinamai bersabar; yang dipenjara sampai mati dinamai
mashburah. Dari makna kedua lahir kata shubr yang berarti puncak sesuatu dan dari makna
ketiga muncul kata ash-shubroh yaitu batu kukuh lagi kasar atau potongan besi. Ketiga makna
tersebut salng berkaitan. Seorang yang sabar akan menahan diri dan unttuk itu ia memerlukan
kekukuhan jiwa dan mental baja agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya.
Quraish shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan bahwa sabar artinya menahan diri
dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Selain itu, ia menjelaskan
bahwa kesabaran secara umum dibagi menjadi dua. Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran
dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota
tubuh seperti sabar dalam menunaikan ibadah haji yang menyebabkan keletihan. Termasuk pula,
sabar dalam menerima cobaan jasmaniyah seperti penyakit, penganiayaan dan sebagainya.
Kedua, sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar
kepada kejelekan semisal sabar dalam menahan amarah, atau menahan nafsu seksual yang bukan
pada tempatnya (Shihab, 2000a).
Kata sabar didalam Al-Qur’an disebut dalam beragam konteks dan pengertian yang
kemudian, apabila ditelaah bersama, dapat menunjukkan kepada makna tertentu.
2.2.
Konstruk Psikologi Kesabaran
Berdasarkan kata kunci di atas, psikologi kesabaran dapat dibagi ke dalam tiga unsur,
yaitu: unsur komponen utama, unsur komponen pendukung, dan unsur atribut dari sabar. Unsur
komponen utama terdiri dari: menahan sebagai respon awal, proses/ aktif, butuh ilmu, dan bertujuan kebaikan. Sedangkan unsur komponen pendukung terdiri dari: optimis, pantang
menyerah, patuh/ taat pada aturan, memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi, konsisten, dan tidak mengeluh. Sedangkan unsur atribut terdiri dari emosi, pikiran, perkataan, dan
perbuatan/ perilaku.
Pembagian ini juga dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 2.1.
Konstruk Psikologi Kesabaran
Unsur Komponen Utama
Unsur Komponen Pendukung
1. menahan sebagai respon awal, 1. Optimis
2. Pantang menyerah
2. proses/ aktif,
3. Semangat mencari informasi/ ilmu
4. Semangat untuk membuka
3. Taat/ patuh pada aturan, dan
alternatif solusi
5.
Konsisten
4. bertujuan kebaikan
6. Tidak mengeluh
Unsur Atribut
1. Emosi
2. Pikiran
3. Perkataan
4. Perbuatan/ Perilaku
Unsur komponen utama adalah dinamika yang ada dalam sebuah kesabaran seseorang.
Unsur proses terdiri dari 4 (empat) hal yang harus ada dalam sebuah kesabaran. Kehilangan salah
satu dari unsur aspek menyebabkan segala proses dinamis yang terjadi tidak dapat digolongkan
sebagai kesabaran.
Unsur komponen pendukung adalah unsur yang mewarnai kesabaran seseorang. Unsur
ini terdiri dari 6 hal yang masing-masing perlu ada dalam kesabaran seseorang namun
kekuatannya berbeda-beda. Perbedaan kekuatan dari masing-masing sifat kesabaran inilah yang
nantinya akan menjadi dasar untuk melihat tingkatan sabar seseorang.
Unsur atribut adalah unsur dimana proses sabar terjadi, yaitu emosi, pikiran, perkataan,
dan perbuatan/ perilaku. Setiap kesabaran dapat terjadi pada masing-masing atribut atau keseluruhan atribut baik secara bersamaan atau sendiri-sendiri. Walaupun dapat terjadi secara terpisah,
setiap atribut akan mempengaruhi atribut lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka susunan definisi Psikologi Kesabaran adalah sebagai berikut: Psikologi Kesabaran adalah respon awal yang aktif dalam menahan emosi, pikiran,
perkataan, dan perbuatan yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/ ilmu, memiliki semangat untuk membuka
alternatif solusi, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
Berdasarkan Atribut Psikologi kesabaran maka kesabaran berdasarkan atributnya adalah
sebagai berikut :
1. Atribut emosi
yaitu respon awal yang aktif dalam menahan emosi yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/ ilmu,
memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
2. Atribut pikiran
yaitu respon awal yang aktif dalam menahan pikiran yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/ ilmu,
memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi,, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
3. Atribut perkataan
yaitu respon awal yang aktif dalam menahan perkataan yang taat pada aturan untuk tujuan
kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/
ilmu, memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi,, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
4. Atribut perbuatan/ perilaku
yaitu respon awal yang aktif dalam menahan perilaku yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/ ilmu,
memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi,, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
2.3. Konsep Umum Kebahagiaan
Seligman (2002) dalam konsep autenthic happiness mengatakan bahwa emosi positif
seseorang terkait dengan hal-hal yang membahagiakan dapat dibagi kedalam tiga kelompok
besar, yaitu: emosi positif terhadap masa lalu, emosi positif terhadap masa kini, dan emosi positif
terhadap masa depan. Untuk masa lalu, emosi positif tersebut adalah kepuasan hidup
(satisfaction), sedangkan untuk masa depan, emosi positif tersebut adalah optimis. Selain itu,
untuk masa kini emosi positif dikenal dengan konsep kebahagiaan.
2.4. Optimis
Ada beberapa konsep yang serupa dalam kajian optimis, yaitu: harapan, berorientasi
masa depan (future-orientation), dan berpikir kedepan (future-mindedness) (Peterson dan
Seligman, 2004). Konsep optimis seringkali menjadi lawan dari pesimis, dan harapan merupakan
lawan dari tanpa harapan. Namun demikian, beberapa penelitian terkait dengan konsep ini
memberikan batasan yang berbeda-beda.
Salah satu kajiannya dari emosi positif masa depan adalah penelitian yang menempatkan
disposisi optimis. Konsep ini menempatkan harapan umum bahwa hal-hal baik akan banyak
terjadi pada masa yang akan datang, dengan demikian, konsep ini adalah perspektif mengenai
bagaimana seseorang mengejar tujuannya. Orang-orang optimis, berdasarkan konsep ini, akan
melanjutkan usaha untuk mencapai tujuannya (Carver & Scheier, 1981, 1990 dalam Peterson dan
Seligman 2004).
Konsep lain dari optimis diajukan oleh Seligman dkk (dalam Peterson dan Seligman,
2004) yang memberi batasan konsep optimis adalah orang yang mampu menjelaskan kejadian
buruk diakibatkan oleh faktor eksternal, ketidakstabilan, dan sebab yang spesifik. Namun
sebaliknya, jika seseorang menjelaskan kejadian-kejadian buruk dalam kaitannya dengan faktor
internal, kestabilan, dan sebab umum maka individu berorientasi pesimis.
Konsep lain adalah yang diajukan oleh Snyder (1994, 2000 dalam Peterson dan
Seligman, 2004) mengajukan konsep optimis sebagai terminology bahwa dimana individu
berharap bahwa tujuan dapat dicapai. Konsep ini lebih banyak membahas mengenai harapanharapan dan seberapa besar harapan itu dapat mendorong orang untuk mencapai tujuannya.
Berdasarkan tiga konsep optimis di atas, dalam penelitian ini konsep optimis yang akan
diteliti adalah konsep optimis yang diajukan oleh Carver dan Scheir (1981, 1990), yaitu disposisi
optimis. Pemilihan konsep ini mengacu pada konsep-konsep kesabaran yang menunjukkan sifat
aktif dalam upaya mencapai tujuan. Untuk mengukur optimis berdasarkan konsep ini, digunakan
Life Orientation Test (LOT). Namun dalam penelitian berikutnya tedapat beberapa revisi terkait
dengan tes ini maka pengukuran kesabaran yang digunakan adalah LOT versi revisi yaitu
Revised Life Orientation Test (LOT-R) (Carver, Scheir, & Bridges, 1994).
Mengacu pada dua variable diatas, maka hipotesa penelitiannya adalah ada hubungan
antara kesabaran dan disposisi optimis.
2.5. Kepuasan Hidup
Konsep kepuasan hidup umumnya mengacu pada memori positif terhadap masa lalu.
Pada orang-orang yang depresi, emosi mengenai masa lalu lebih banyak diwarnai oleh memori
yang menyedihkan dibandingkan memori yang membahagiakan. Walaupun demikian, masih
diperdebatkan apakah emosi senang atau sedih yang mempengaruhi cara berpikir kita terhadap
masa lalu atau sebaliknya (Seligman, 2002).
Kepuasan hidup didefinisikan dalam beberapa teori, diantaranya penjelasan Shin &
Jhonson (1978 dalam Diener, dkk. 1985) yang mengatakan bahwa kepuasan hidup adalah
penilaian menyeluruh dari kualitas hidup seseorang berdasarkan kriteria yang dia tentukan
sendiri. Penjelasan diatas mengacu pada konsep penilaian kepuasan hidup sebagai proses
penilaian dalam kognitif seseorang. Penjelasan ini menekankan bahwa penilaian terhadap
kepuasan hidup harus dilihat dari kondisi kekinian dan dibandingkan dengan kriteria yang
ditentukannya (Diener, dkk. 1985).
Konsep kesabaran dan kepuasan hidup merupakan konsep yang mengacu pada emosi
positif dan karakter positif dalam diri manusia. Jika dilihat apakah kepuasan hidup dan kesabaran
saling berkorelasi, nampaknya agak sulit menjelaskan hubungan kedua variable tersebut secara
teoritis karena sabar berorientasi pada masa depan sedangkan kepuasan hidup berorientasi pada
masa lalu. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa kepuasan hidup kemungkinan tidak
berkorelasi dengan kesabaran atau sebaliknya.
Jika melihat konsep kesabaran yang tidak berhubungan dengan kepuasan hidup maka
sulit untuk dibuat hipotesa bahwa kedua hal ini berkaitan. Namun demikian hal ini tetap akan
diuji dalam penelitian untuk melihat korelasi kedua variable di atas. Untuk mengukur kepuasan
hidup seseorang, digunakan Skala Kepuasan Hidup (Diener, dkk., 1985) yang dibuat
menggunakan beberapa aitem dalam skala tersebut, dengan dasar pemikiran bahwa seseorang
perlu menilai secara keseluruhan terhadap kepuasan hidup yang diukur.
2.6. Kebahagiaan
Ada banyak teori mengenai kebahagiaan, namun jika dibagi kedalam beberapa aspek,
kebahagiaan dapat dibagi menjadi kebahagiaan dalam konsep afeksi, kognisi, sikap, atau
gabungan. Untuk konsep afeksi, teori kebahagiaan Kahneman (2000 dalam Venhooven, 2006)
mengatakan bahwa kebahagiaan adalah gabungan pengalaman afektif yang menjadi dasar
penilaian umum dalam hidup. Dalam konsep kognisi, kebahagiaan adalah penilaian seseorang
terhadap kondisi dirinya dibandingkan dengan standar eksternal atau aspirasinya (McDowell &
Newll, 1987 dalam Venhooven, 2006).
Konsep kebahagiaan diatas terlihat hampir serupa dengan konsep kepuasan hidup kerena
memang sebagian besar konsep kebahagiaan dimulai dengan kepuasan hidup. Namun demikian,
mengacu pada konsep Seligman (2002) kepuasan hidup lebih berorientasi pada emosi positif
terhadap masa lalu sedangkan kebahagiaan berorientasi emosi positif masa kini. Dengan
demikian dapat dipahami mengapa kebahagiaan sangat terikat pada kepuasan hidup karena
individu yang masih merasa tertekan dengan masa lalunya akan menurunkan pemaknaan kondisi
saat ini berupa kebahagiaan.
Konsep kebahagiaan lain adalah kebahagiaan dalam sikap, yaitu sikap positif dalam
menghadapi hidup. Sementara dalam konsep gabungan, konsep yang dijadikan dasar
kebahagiaan adalah subjective well-being yaitu puas dengan hidup (sikap) dan memiliki emosi
positif. Dengan demikian, konsep gabungan menjelaskan bahwa kebahagiaan adalah sikap yang
positif terhadap hidup disertai dengan emosi-emosi yang juga positif (Venhooven, 2006).
Jika mengacu pada beberapa konsep bahagia yang dijelaskan di atas bahwa seseorang
akan merasa bahagia dalam kognisinya jika dibandingkan dengan kesabaran maka akan terlihat
pola hubungan antara dua variable tersebut. Dalam sabar, individu yakin tujuannya akan tercapai
apabila dia mampu menahan emosi, perkataan, pikiran, maupun perilakunya sehingga orang
yang sabar cenderung akan merasa bahwa kondisi pribadinya tidak jauh berbeda dengan kondisi
yang diharapkan. Dengan demikian, individu yang lebih sabar akan cenderung lebih bahagia
karena yang dirasakannya mendekati konsep idealnya.
Untuk mengukur kebahagiaan yang bersifat kognitif ini maka skala yang digunakan
adalah skala dengan satu pertanyaan, “seberapa bahagia anda?”. Hal ini akan menstimuli kognisi
individu untuk menilai level kebahagiaan individu. Pengukuran ini juga terlihat cukup valid
mengacu pada penelitian Khalek dan Ahmed (2006) yang mengukur kebahagiaan menggunakan
satu aitem skala.
Berdasarkan kajian diatas maka hipotesa mengenai hubungan kebahagiaan kognitif
dengan kesabaran menunjukkan ada hubungan antara kesabaran dengan kebahagiaan.
BAB III METODE
PENELITIAN
3.1. Tempat Penelitian
Lokasi penelitian disesuaikan dengan pendekatan penelitian yang dilakukan. Penelitian
dengan pendekatan kualitatif dilaksanakan di perpustakaan yang mendukung terjadinya proses
diskusi dan referensi yang sesuai dengan tema yang diteliti. Penelitian kulitatif merupakan deskresearch dalam membuat konstruk psikologi kesabaran. Sedangkan lokasi penelitian dengan
pendekatan kuantitatif dilakukan di Universitas Prof.DR.HAMKA (UHAMKA) terutama pada
Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Psikologi.
3.2. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif
digunakan untuk menyusun konstruk Psikologi Kesabaran dengan metode tafsir tafsir maudhu'i
atau tafsir tematik dengan tujuan—meminjam ungkapan Ali bin Abi Thalib—agar al-Qur’an
menguraikan sendiri maksudnya. Dalam metode ini peneliti akan menghimpun ayat-ayat yang
berkenaan dengan sabar dalam al-Qur’an dari berbagai surat. Lalu, peneliti akan membahas dan
menganalisa kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi kesatuan yang utuh (Shihab, 1995).
Sedangkan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Metode
survei deskriptif adalah suatu metode penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini, data dan
informasi yang telah dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner, hasilnya akan
dipaparkan secara deskriptif, dan pada akhir penelitian akan dianalisis untuk menguji hipotesis
yang telah diajukan di awal penelitian (Riduwan dalam
Karim, 2008). Penelitian kuantitatif
digunakan untuk mengetahui seberapa sabar, bahagia, optimis dan puas akan kehidupan
seseorang. Instrumen penelitian kuantitatif terdiri dari skala kesabaran, tes kesabaran,
kebahagiaan, kepuasan hidup dan orientasi hidup.
3.3. Responden Penelitian
Dalam penelitian ini, responden penelitian adalah 86 orang mahasiswa Fakultas Ilmu
Kesehatan dan 120 mahasiswa Fakultas Psikologi.
3.4. Instrumen Pengumpulan Data
Penelitian ini memiliki instrumen yang terdiri dari lima dan masing-masing memiliki
petunjuk yang berbeda-beda. Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya jawaban responden
yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, penulis memberikan petunjuk pengisian kuesioner
untuk mengantisipasi kesalahan yang terjadi karena kelalaian.
Untuk membuat instrumen pengumpulan data, digunakan :
a. Tes kesabaran : Instrumen tes kesabaran dibuat dengan tujuan untuk dapat membedakan individu yang sabar dan tidak sabar sebelum dilakukan pengukuran tingkat kesabaran. Instrumen
ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu bagian untuk mengkategorikan individu sabar atau
tidak dan bagian untuk melihat tingkat kesabaran individu.
Berikut blue print tes kesabaran:
Tabel 3.1
Blue Print Tes Kesabaran
Jenis
Penentuan Kategori Sabar
Penentuan
Tingkatan Sabar
Dimensi
Emosi
Pikiran
Emosi
Pikiran
Perkataan
Perbuatan
Komponen
Patuh/ Taat (Utama)
Patuh/ Taat (Utama)
Semangat mencari ilmu dan alternatif solusi
Tidak mengeluh
Pantang menyerah
Optimis
Semangat mencari alternatif solusi
Semangat mencari ilmu/ informasi
Tidak mengeluh
Optimis
Pantang menyerah
Semangat mencari ilmu
Semangat mencari ilmu dan alternatif solusi
Distraktor
No. Aitem
5*
7*
9*
14*
1*
3
10
13
15*
2*
4
11
12*
6, 8
Pada tes kesbaran ini, untuk kategori sabar menggunakan skoring 1 dan 0, 1 untuk sabar dan
0 untuk tidak sabar. Untuk kategori unfavorable, 0 diberikan untuk yang setuju (S) dan sangat
setuju (SS). Sedangkan pada bagian yang mengukur tingkat kesabaran, penilaian/ scoring
dari 0 sampai 3, dimana pada aitem favorable sangat setuju (SS) diberi nilai 3. Pada tes ini
tidak ada pilihan netral (N) atau tidak tahu (TT) karena individu diminta untuk membayangkan jika dirinya ada dalam situasi tersebut.
Tes diatas, pada bagian penentuan tingkatan sabar, cukup reliabel dengan alpha cronbach sebesar 0.708. Sedangkan validitas konstruk jika dibandingkan dengan resilience, terdapat
korelasi signifikan sebesar 0,259 (Sig. 0,002). Pemilihan hardiness sebagai penguji validitas
konstruk dikarenakan konsep sabar memiliki kemiripan dengan hardiness walaupun keduanya memiliki konsep yang berbeda. Adapun reliabilitas hardiness dalam penelitian ini adalah
0,503.
Pada bagian untuk menentukan sabar atau tidak seseorang, terlihat bahwa 2 (dua) aitem yang
dimaksud dapat dapat membedakan kedua kelompok secara signifikan. Untuk aitem nomor
5, terdapat perbedan nilai rata-rata skor tingkat kesabaran antara kelompok yang sabar (n=81)
dengan kelompok yang tidak sabar (n=52) sebesar 1,588 (Sig. 0.008), sedangkan untuk aitem
nomor 7, terdapat perbedan nilai rata-rata tingkat sabar antara kelompok yang sabar (n=63)
dengan kelompok yang tidak sabar (n=72) sebesar 1,526 dengan taraf signifikansi 0,035.
Berikut bagan perbandingan skor tingkat kesabaran pada aitem nomor 5 dan nomor 7:
10
8
6
1
2
Aitem 5
Frequency
4
0
10
8
6
0
4
2
0
20
25
30
Total Tingkat Sabar
Bagan 3.1
Grafik Perbedan Distribusi Nilai
Kelompok Sabar (1) dan Kelompok Tidak Sabar (2) pada Aitem No. 5
Untuk validitas konstruk, selain dilihat hubungan hasil tes kesabaran dengan hardiness, juga
dilihat korelasi antara tes kesabaran dengan kesabaran menurut persepsi diri. Dalam penelitian ini terlihat hubungan antara signifikan antara tes sabar dengan sabar menurut persepsi
diri sebesar 0,228 (Sig. 0,007). Berbeda dengan skala kesabaran, dalam tes kesabaran penilaian diri dengan hasil tes berkorelasi secara signifikan.
20
15
1
5
Aitem No. 7
Frequency
10
0
20
15
0
10
5
0
0
5
10
15
20
25
30
35
Total Skor Tingkat Sabar
Bagan 3.2
Grafik Perbedan Distribusi Nilai
Kelompok Sabar (1) dan Kelompok Tidak Sabar (2) pada Aitem No. 7
Jika aitem nomor 5 dan nomor 7 digabung sehingga terdapat tiga klasifikasi nilai, yaitu tidak
sabar (TS=0), agak sabar (AS=1), dan sabar (S=2). Dalam analisa terhadap tingkat kesabaran
dilihat dari tiga klasifikasi ini maka didapat hasil yang bahwa kelompok yang berbeda secara
signifikan hanya pada kelompok tidak sabar (n=53) dengan kelompok agak sabar (n=30) dan
kelompok sabar (n=57). Adapun perbedaan nilai rata-rata antara kelompok TS dengan AS
adalah 3,687 (Sig. 0,003) sedangkan kelompok TS dengan S adalah 4,268 (Sig. 0,0001).
Namun untuk kelompok agak sabar (AS) dan sabar (S) tidak ditemukan perbedaan yang signifikan, yaitu 0,581 (Sig. 0,631).
Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa ketiga kelompok hanya dapat dibedakan
pada Tidak Sabar (TS) dengan yang lain, yaitu Agak Sabar (AS) dan Sabar (S). Dengan demikian klasifikasi AS dan S tidak bisa digunakan untuk membedakan tingkatan sabar seseorang berdasarkan tes kesabaran ini.
b. Skala kesabaran. Skala ini disusun berdasarkan sifat unsur kesabaran yang diambil dari konstruk psikologi kesabaran yang telah ditentukan. Dari pengertian tersebut, dibuatlah definisi
operasional tentang sabar yaitu (1) optimis dalam menghadapi segala permasalahan, (2)
pantang menyerah dalam pemecahan masalah, (3) semangat mencari ilmu/ informasi, (4)
memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi, (5) konsisten dalam upaya pemecahan
masalah, dan (6) tidak mengeluh saat menghadapi masalah. Teknik yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan angket.
Pembuatan Skala kesabaran bertujuan untuk mengetahui tingkat kesabaran seseorang dalam
menjalani hidup. Skala kesabaran ini menggunakan skala Likert yang dimodifikasi dengan
empat alternatif jawaban, yaitu sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), setuju (3) dan sangat
setuju (4).
c.
Kesabaran (penilaian diri). Tes ini berupaya membandingkan konsep kesabaran yang
dimiliki oleh masyarakat dengan konsep kesabaran berdasarkan konsep Psikologi
Kesabaran. Tes kesabaran ini hanya memiliki 1 pertanyaan dengan rentang jawaban 0 – 10.
d.
Skala Kebahagian. Tes ini berupaya mengukur kebahagiaan dengan masing-masing 1
pertanyaan dengan rentang skor 0-10, 0 untuk jawaban sangat rendah dan 10 untuk jawaban
sangat tinggi. Tes ini bertujuan untuk mengukur efektifitas skala yang memiliki pernyataan
dan prosedur yang panjang dengan satu pertanyaan yang berkenaan dengan seberapa
bahagia seseorang dalam menjalani hidup. Skala ini bersumber dari penelitian Measuring
Happiness With a Single-Item Scale (Khalek & Ahmed, 2006).
e.
Skala Kepuasaan Hidup. Tes ini disadur dari The Satisfaction With Life Scale (SWLS)
(Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985). Tes ini terdiri dari 5 pernyataan yang masingmasing pernyataan diberikan pilihan jawaban dengan rentang skor 1-7.
f.
Tes Optimis (orientasi hidup). Tes ini disadur dari Revised Life orientation Test (LOT-R)
karya Scheier, Carver dan Bridges (1994 dalam Peterson & Seligmen, 2004). Tes ini
merupakan kuisioner lapor-diri yang terdiri dari sepuluh penyataan dengan dua penyataan
pengecoh yang merefleksikan optimis dan pesimistis yang dimiliki oleh seseorang.
Koesioner ini memiliki rentang skor 0-4 (Peterson & Seligmen, 2004).
3.5. Reliabilitas
Berdasarkan hasil analisa terlihat bahwa reliabilitas skala kesabaran adalah 0,830.
3.6. Prosedur Pengambilan Data
Prosedur yang dilakukan peneliti dalam pengambilan data untuk penelitian kualitatif adalah
sebagai berikut:
1. Menghimpun ayat-ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah tersebut.
2. Membahas ayat-ayat dan hadits yang berkaitan dengan sabar menurut kajian tafsir untuk
menemukan kata kunci dari tiap ayat dan hadits yang berhubungan sabar. Dalam hal ini,
kajian tafsir yang berhubungan dengan ayat atau hadits yang berbicara tentang sabar
merupakan bahan mentah (raw data) penelitian kualitatif ini.
3. Koding: tahapan koding adalah tahapan menetukan kata kunci dari bahasan tentang sabar
sebagaimana tafsir terhadap ayat dan hadits yang berbicara tentang sabar. Pada saat koding, aktivitas yang dilakukan oleh peneliti adalah membahas inti/ kesimpulan dari tiap
kajian tafsir untuk ditentukan kata kuncinya.
4. Kategorisasi: Berdasarkan kata kunci yang sudah didapatkan peneliti mengelompokkan
kata kunci yang memiliki landasan dan dasar yang serupa. Penentuan jenis kategori tidak
ditentukan diawal namun ditentukan setelah kata kunci ditemukan sehingga proses kategorisasi murni didasari hasil kajian terhadap tafsir dan bukan asumsi awal.
5. Pemodelan: Pada tahap ini, peneliti mengkaji tiap kategori dan melihat kaitan antar kategori sehingga ditemukan model untuk menjelaskan konsep sabar berdasarkan kajian
tafsir dan peran tiap kata kunci dalam model.
Tahap kedua adalah pelaksanaan penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang tecakup sebagai
berikut:
1. Penyebaran kuisioner yang berisi skala sabar, tes kesabaran, kesabaran penilaian diri,
skala optimis, skala kebahagiaan, skala kepuasan hidup, dan skala hardiness.
2. Tes dan skala yang sudah dibuat ini kemudian dianalisa untuk melihat hubungan
keduanya sehingga dapat ditentukan validitas eksternal dari kedua alat ukur tersebut dan
hubungan masing-masing variabel dengan variabel lainnya.
3.7. Teknik Analisis Data
Data kuantitatif analisa data dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation
sedangkan pada penelitian kualitatif, teknik analisa yang dilakukan adalah content analysis
berdasarkan data mentah yang didapat dari kajian tafsir tentang sabar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1.
Diskusi
4.1.1. Diskusi Skala Kesabaran
Berdasarkan penyebaran kuisioner dan skala penelitian, didapatkan responden penelitian
sejumlah 86 orang yang berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan UHAMKA. Semua responden
berasal dari semester awal, semester 1, dan pengambilan data penelitian dilakukan pada minggu
pertama Oktober 2012.
Dalam rangka menghargai peran serta responden dalam penelitian, responden
mendapatkan souvenir berupa ballpoint. Pemberian kuisioner dilakukan dalam masa perkuliahan
dengan meminta izin pada dosen pengampu mata kuliah dalam menggunakan sekitar 10 menit
waktu perkuliahannya untuk melakukan penelitian ini. Berdasarkan izin dari dosen tersebut,
penelitian ini dilakukan.
Hasil penelitian yang dilakukan untuk melihat peran kesabaran terhadap kebahagiaan
pada masa lalu, masa kini, dan masa depan membuktikan bahwa kesabaran memiliki korelasi
dengan dua dari tiga emosi positif tersebut. Hubungan kesabaran dengan emosi positif masa
depan, yaitu optimisme terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan koefisien korelasi
sebesar 0,35 (α = 0,01). Sedangkan hubungan kesabaran dengan emosi positif masa kini, yaitu
kebahagiaan memiliki hubungan yang signifikan dengan koefisien korelasi 0,346 (α = 0,01).
Kepuasaan yang mewakili emosi positif masa lalu ternyata menunjukkan tidak ada
hubungan yang sigifikan. Hal ini berarti, kesabaran tidak cukup mempengaruhi perasaan
seseorang terhadap masa lalunya. Walaupun demikian kepuasan tetap saling mempengaruhi dan
saling berhubungan dengan emosi positif masa kini berupa kebahagiaan.
Menariknya, berdasarkan hasil analisa terhadap data korelasi antar variabel, emosi positif
masa kini (bahagia) berkorelasi signifikan pada emosi positif masa lalu (kepuasan) dan masa
depan (optimis). Namun jika dikorelasikan antara kepuasan dan optimisme, dua variabel ini tidak
memiliki hubungan yang berarti. Salah satu penjelasan yang dapat diberikan terhadap hasil ini
adalah kepuasan dan optimisme merupakan dua hal yang berbeda dimana emosi masa lalu
(kepuasan) dan emosi masa depan (optimisme) tidak berhubungan kecuali melalui emosi masa
kini (kebahagiaan).
Jika dibandingkan indeks korelasi kesabaran dengan kebahagiaan dan optimisme terlihat
bahwa kesabaran lebih berhubungan dengan optimisme dibanding kebahagiaan. Perbedaan
indeks korelasi antara kesabaran dengan optimisme serta kesabaran dengan kebahagiaan adalah
sebesar 0,04. Fakta ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki peran yang lebih besar pada
optimisme seseorang dibanding kebahagiaannya.
Jika dilihat peran kesabaran terhadap optimisme maka secara statistik dapat dilihat bahwa
kesabaran memberi pengaruh sebanyak 12,3% pada rasa optimisme seseorang. Bahkan
kesabaran dapat dijadikan variabel prediksi optimisme. Cara untuk memprediksi skor optimisme
seseorang dapat menggunakan persamaan, Skor Optimisme (y) = 8.438 + [0,75 X Skor
Kesabaran (x)].
Jika peran kesabaran, sebagaimana hasil di atas memberi sumbangan pada rasa optimis
sebanyak 12,3% maka kesabaran hanya memberi sumbangan sebanyak 12% pada kebahagiaan.
Sebagaimana konsep kesabaran dalam penelitian ini bersifat aktif dan memiliki tujuan maka
dapat diterima jika peran kesabaran lebih besar pada optimisme dibandingkan kebahagiaan.
Untuk memprediksi skor kebahagiaan seseorang menggunakan skor kesabaran dapat dilakukan
dengan menghitung Skor Kebahagiaan (y) = 1,862 + [(0,046) X Skor Kesabaran (x)].
Selain itu, jika kita melihat dari sifat kesabaran yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat
dipahami bagaimana peran kesabaran terhadap optimisme yaitu salah satu sifat dari kesabaran
adalah optimisme. Dengan demikian, korelasi antara kesabaran dan optimisme ini juga
memperlihatkan tingkat validitas dari skala kesabaran itu sendiri yang teruji dengan sendirinya.
Hal ini berarti skala kesabaran sudah dapat digunakan untuk mengukur psikologi kesabaran
seseorang.
Tidak adanya korelasi dengan kepuasan hidup juga sudah diharapkan dalam penelitian
ini, yaitu dalam penelitian tentang kesabaran harapan yang ingin dipenuhi adalah kesabaran
berkorelasi sangat kuat dengan optimisme, berkorelasi kuat dengan kebahagiaan, dan berkorelasi
lemah dengan kepuasan. Korelasi yang kuat dengan optimisme karena kesabaran harus memiliki
tujuan ke depan yang menjadi dasar optimisme seseorang, sedangkan korelasi dengan
kebahagiaan dapat dipahami dari unsur aktif serta sifat tidak mengeluh yang menjadi dasar untuk
menerima kondisi saat ini dan merupakan konsep kebahagiaan.
Sabar memiliki korelasi yang lemah dengan kepuasan hidup masa lalu diharapkan dalam
konsep sabar dimana aktifitas sabar berorientasi masa depan yang berpijak pada kondisi masa
kini. Dengan demikian, sabar tidak banyak berkontribusi pada penerimaan kondisi masa lalu
seseorang. Kepuasan hidup, sebagaiman yang diteliti dalam penelitian ini, justru mendorong agar
individu lebih dapat menerima masa lalunya sehingga secara konseptualpun tidak cukup
berkorelasi dengan sabar.
Mengacu pada hasil analisa diatas, korelasi sabar dengan optimisme sebagaimana
diharapkan terjadi pada responden, begitu juga dengan kebahagiaan, namun tidak ada korelasi
signifikan dengan kepuasan hidup. Penjelasan mengenai tidak berkorelasinya sabar dengan
kepuasan hidup, sebagaimana konsep yang diajukan oleh Seligman (2002) bahwa kepuasan
hidup lebih mengacu pada penilaian masa lalu sedangkan sabar lebih berorientasi pada masa
depan. Dua konsep yang terpisah berdasarkan dimensi waktu ini dapat menjelaskan mengapa
kesabaran tidak banyak mempengaruhi kepuasan hidup.
Namun dalam korelasi antara variable lain, yaitu kepuasan hidup, kebahagiaan, dan
optimisme, terlihat hanya kebahagiaan yang berkorelasi dengan semua variabel lain, namun
optimisme dan kepuasan hidup tidak saling berkorelasi. Penjelasan yang sama mengenai hal ini
juga dapat dijelaskan dari konsep Seligman (2002) yang menempatkan optimisme sebagai
orientasi masa depan dan kepuasan hidup berorientasi masa lalu. Akibat dua dimensi waktu yang
terpisah ini menyebabkan rendahnya korelasi antar variable.
4.1.2. Diskusi Tes Kesabaran
Penelitian yang menguji korelasi tes kesabaran dengan variable lainnya dilakukan pada
140 responden, dengan rincian 39 laki-laki dan 99 perempuan. Penelitian ini dilakukan pada
mahasiswa Psikologi UHAMKA pada bulan November 2012. Hasil penelitian menunjukkan
beberapa temuan menarik terkait dengan hubungan antar variable.
Dalam analisa tes kesabaran antara laki-laki dan perempuan, ditemukan bahwa tidak ada
beda yang signifikan tingkat kesabaran laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa
asumsi yang berkembang bahwa laki-laki lebih sabar (atau sebaliknya) tidak dapat dibuktikan
dalam penelitian ini. Dengan demikian, baik laki-laki maupun perempuan dapat memiliki
kesabaran dalam semua tingkatannya.
Mengacu pada hipotesa pertama, yaitu hubungan antara kesabaran dengan optimisme
yang tidak terbukti dapat terjadi karena kurang baiknya penyesuaian skala optimisme pada
partisipan. Reliabilitas Revised Life Orientation Test (LOT-R) sangat rendah, bahkan mencapai
nilai negative, yaitu -0,040. Rendahnya reliabilitas ini kemungkinan karena responden tidak
cukup responsive terhadap pernyataan yang ada.
Hal ini juga ditunjukkan dengan ditolaknya hipotesa 4, 5, dan 6 yang ketiganya mencoba
melihat hubungan berbagai variabel yang dikaitkan dengan optimisme. Rendahnya reliabilitas
optimisme yang ditunjukkan oleh reliabilitas LOT-R menyebabkan ketiga hipotesa ini tidak
dapat dibuktikan dan menunjukkan tidak ada korelasi yang signifikan. Hal ini masih perlu dikaji
lebih jauh untuk melihat kesalahan dalam pengukuran.
Begitu juga dengan kebahagiaan, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara hasil tes kesabaran dengan kebahagiaan. Hal ini berbeda dengan penelitian yang
dilakukan pada mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan menggunakan skala kesabaran yang
menunjukkan hubungan kedua variable. Sekali lagi hal ini kemungkinan terjadi karena
kelemahan instrument pengukuran yang digunakan.
Berbeda dengan penelitian yang menggunakan skala sabar pada responden di Fakultas
Ilmu Kesehatan, dalam penelitian ini justru hipotesa kedua terbukti, yaitu ada hubungan positif
dan signifikan antara kesabaran dengan kepuasan hidup. Pada penelitian sebelumnya, kedua
variabel ini tidak ditemukan hubungan dan salah satu penjelasan yang dapat diberikan adalah
kedua hal tersebut terpisah oleh dimensi waktu yang cukup jauh, yaitu masa lalu dan masa
depan. Namun agaknya hasil itu tidak berlaku pada responden di Fakultas Psikologi.
Selain masalah dalam instrument pengukuran, masalah lain yang dapat menyebabkan
ditolaknya hipotesa yang diajukan adalah perbedaan konsep yang cukup mendasar antara kedua
kelompok ini. Kemampuan dalam merespon perlu diperhatikan untuk melihat problem penelitian
ini.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.
Berdasarkan kajian terhadap tafsir Quraish Shihab terhadap ayat dan hadits yang
mengandung istilah dan kata sabar, dapat didefinisikan bahwa psikologi kesabaran adalah
respon awal yang aktif dalam menahan emosi, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang
taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah,
semangat mencari informasi/ ilmu, memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi,
konsisten, dan tidak mudah mengeluh.
2. Skala sabar dan tes kesabaran memiliki konsistensi internal (reliabelitas) yang cukup
tinggi sehingga dapat digunakan sebagai instrument pengukuran. Adapun nilai reliabilitas
dari skala kesabaran adalah 0,830 dan tes kesabaran 0,708. Selain itu, tes kesabaran
mampu membedakan individu yang tidak sabar dengan individu yang sabar.
3. Skala kesabaran berkorelasi dengan kebahagiaan dan optimisme namun tidak berkorelasi
dengan kepuasan hidup. Sebaliknya, tes kesabaran berkorelasi dengan kepuasan hidup
namun tidak dengan kebahagiaan dan optimisme.
4. Pada skala kesabaran, korelasi dengan optimisme lebih tinggi dibanding dengan korelasi
dengan kebahagiaan namun hal ini tidak dapat dibuktikan pada tes kesabaran.
5. Penelitian yang dilakukan pada responden dari Fakultas Ilmu Kesehatan menunjukkan
adanya saling korelasi antara kebahagiaan, kepuasan hidup, dan optimisme. Pada penelitian yang dilakukan pada responde dari Fakultas Psikologi hanya ada korelasi antara kepuasan hidup dan kebahagiaan namun tidak ada korelasi dengan optimisme.
5.2.
Saran
5.2.1. Bagi Penelitian Selanjutnya
Beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam penelitian ini adalah:
1. Pengujian skala dan tes kesabaran pada kelompok lintas agama untuk melihat apakah
konstruk sabar yang dibuat berdasarkan konsep Islam, al Quran dan Hadits, dapat diterima oleh berbagai golongan termasuk bagi individu dari kelompok agama lain.
2. Begitu juga pengujian skala dan tes kesabaran pada kelompok lintas budaya dan tidak sebatas sub-budaya perlu dilakukan untuk melihat apakah konstruk kesabaran ini, beserta
instrumennya, berlaku untuk budaya lain dan negara lain.
3. Kajian lebih komprehensif dalam menguji validitas skala dan tes karena dalam penelitian
ini belum didapatkan hasil yang konsisten jika instrumen diujikan pada komunitas yang
berbeda.
4. Penelitian selanjutnya juga perlu mengkaji variable-variabel yang mempengaruhi
kesabaran, seperti religiusitas, self efficacy, dan sebagainya untuk memahami konstruk
ini dengan lebih baik.
5. Perlu juga dikaji ada tidaknya perbedaan konsep sabar pada masyarakat dengan konstruk
sabar yang dihasilkan dalam penelitian ini.
6. Berdasarkan metode penyusunan konstruk kesabaran, perlu dikembangkan juga metode
yang sama untuk konsep Islam yang lain, seperti Ikhlan, Syukur, dan sebagainya sehingga dapat menjadi teori psikologi yang berdasar pada epistemology budaya dan nilai
Islam.
5.2.2. Bagi Masyarakat
1. Kesabaran adalah kompetensi yang dapat dikembangkan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruk ini berkorelasi dengan beberapa emosi positif individu yang mendasari kebahagiaan seseorang. Dengan demikian, perlu dibuat upaya untuk meningkatkan
kompetensi kesabaran dalam rangka meningkatkan kebahagiaan individu.
2. Dalam dunia pendidikan, perlu dibentuk sistem pendidikan yang dapat melatih kompetensi kesabaran karena kompetensi ini memiliki manfaat yang cukup besar bagi individu.
3. Bagi individu, adanya kompetensi kesabaran dapat menjadi dasar untuk melakukan
upaya-upaya yang dapat meningkatkan kompetensi kesabaran sesuai dengan konstruk
kesabaran yang sudah dijelaskan dalam penelitian ini.
4. Bagi praktisi, perlu dikaji upaya menjadikan kompetensi kesabaran sebagai upaya untuk
mengubah perilaku individu dalam terapi-terapi psikologi. Dengan demikian, terapi
psikologi akan lebih mengarah pada nilai-nilai Islam yang universal.
DAFTAR PUSTAKA
Diener, Ed., R. A. Emmesons, R. J. Larsen, S. Griffin. (1985). The Satisfaction with Life Scale.
Journal of Personality Assesment, 49, 1, h. 71-71.
Karim. (2006). Metode Dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung : Alfabeta.
Khalek, A., Ahmed M. (2006). Measuring Happiness With A Single-Item Scale, Social Behavior
and Personality: an International Journal. Vol. 34, No. 2, h. 139-150.
http://dx.doi.org/10.2224/sbp.2006.34.2.139
Munawir, A.W. (1997). Al-Munawir: Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.
Peterson, Christopher & Seligman, M.E.P. (2004). Character Strengths and Virtues A Handbook
and Classification. Washington, D.C.: APA Press and Oxford University Press.
Carver, C.S., M.F. Scheier, & M.W. Bridges. (1994). Distinguishing Optimism From
Neuroticism (and Trait Anxiety, Self Mastery, and Self Esteem): A Reevaluation of The
Life Orientation Test. Journal of Personality and Social Psychology , Vol .67, No. 6,
h.1063-1078.
Seligman, M. E.P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize
Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press.
Shihab, M. Q. dkk. (2007), Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosakata. Jakarta: Lentera Hati
Pusat Studi Al-Qur’an dan Yayasan paguyuban Ikhlas.
Shihab., M.Q. (2007a). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 1.
Jakarta: Lentera Hati.
Veenhoven, R. (2006). How Do We Asses How Happy We Are? Tenets, Implication and
Tenability of Three Theories. Paper Presented at Conference: New Direction in Study of
Happiness: United States and International Perspectives. University of Notre Dame,
USA, October 22-24, 2006.
Fly UP