...

aplikasi kultur jaiqingan untuk perbanyakan klonal tanaman kencur

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

aplikasi kultur jaiqingan untuk perbanyakan klonal tanaman kencur
Volume 3 No. 2
Warta Tumbuhan Obat Indonesia
kombinasi satu baris kencur, satu baris kacang tanah d m dua baris
jagung. Dan h a i l yang tidak berbeda nyata diikuti pada pola satu
baris kencur, dua baris kacang tanah dan satu baris jagung. Pada
tahap ke dua (pada saat tanaman kencur bemmur 4 bulan) di antara
tanaman kencur disisipkan kacang tanah saja. Produksi per mmpun
dapat mencapai sekitar 150 g (9).
Waklu penyisipan Waktu tanam dalam pola sisipan tanaman kencur
dan tanaman lain terutama ditujukan pada upaya perbaikan lingkungan,
tanah dan ketersediaan air. Untuk pertumbuhan dan produksi rimpang
tanaman kencur diperlukan adanya ketersediaan air yang cukup,
karena dalam keadaan kekurangan air perkembangan rimpang
terganggu. Guna mencegah ha1 ini, pola sisipan antara jagung dan
kencur yang ditanam pada musim kemarau, pemberian air setiap hari
sebanyak 6 mmhari mampu menciptakan kondisi lingkungan yang
lebih baik bagi kencur dan jagung, dibanding perlakuan pemberian
air 2 dan 3 hari sekali. Pemberian air setiap hari sampai 2 hari sekali
dapat meningkatkan bobot produksi jagung (baby corn) dan rimpang
kencur (6).
Waktu penyisipan antara kencur dan jagung berpengaruh terhadap
nilai Efisiensi Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) (6). Namun nilai
NKL yang tinggi pada hasil pola tanam sisipan belum tentu
menunjukkan bahwa pola tersebut efisien (4).
II
dahulu dengan maksud agar keluar tunasnya dan pertumbuhan
tanaman di lapangan akan serentak dan seragam.
3. Penanaman Cara penanaman dapat dilakukan secara bedengan
maupun guludan (baris), kedalaman tanam 5 cm, jarak tanam 20
cm - 30 cm dalam barisan. Tunas jangan terbalik, karena dapat
menghambat pertumbuhan. Waktu tanamnya sebaiknya di rnusirn
hujan, atau kalau di luar musim hujan hams dilakukan penyinman.
Untuk pola tanam sisipan tanaman kencur dengan tanaman lain
dapat dilakukan menjadi dua tahap, yaitu pada 3 bulan tahap
pertama dan 3 bulan tahap ke dua dianjurkan tidak menyisipkan
tanaman dengan intensitas naungan yang tinggi.
4. Pemelihaman Penyiangan gulma harus mendapatkan perhatian.
demikian pula pengendalian' hama dan penyakit dengan
menggunakan pestisida yang sesuai.
KESIMPULAN
Pola sisipan tanaman kencur dengan tanaman lain dapat diterapkan
dalam pengembangan budidayanya. Kombinasi penyisipan tanaman
kencur pada budidaya palawija akan meningkatkan efisiensi sistem
pertanaman (ESP) dan nisbah kesetaraan lahan (NKL), sehingga
stabilitas hasil terjamin dan resiko kegagalan yang terjadi lebih kecil.
Produksi rimpang cukup tinggi asal kebutuhan lingkungan dapat
dipenuhi.
CARA BUDIDAYA
Agar tanaman kencur tumbuh dengan baik, maka perlu
diperhatikan penentuan lokasi pengernbangan hendaknya mempunyai
lingkungan yang sesuai, meliputi: 1) jenis tanah yang sesuai,
mempunyai sifat gembur, ketinggian tempat rendah sampai sedang
dan drainase tanah baik, dan 2) faktor ketersediaan air yang erat
hubungannya dengan faktor iklim: curah hujan, jumlah bulan basah
dan bulan kering, hari hujan, dan sinar matahari.
Dalam budidaya tanaman ini perlu dilaksanakan tindakan-tindakan
antara lain:
1. Penyediaan bahan tanaman Tanaman kencur ini umumnya
diper-banyak secara vegetatif dengan menggunakan setek rimpang.
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalam hal ini:
a. umur bibit: diambil dari tanaman sehat yang sudah kering
daunnya (sesecen) bemmur lebih dari 8 bulan.
b. ukuran bibit: potongan rimpang mempunyai sedikitnya 2
(dua) mata mas yang baik.
c. rimpang yang digunakan untuk bibit bebas hama dan penyakit.
2. Pembibilan Rimpang untuk bibit sebaiknya ditumbuhkan terlebih
DAFTAR PUSTAKA
1. Satroamidjojo. S. Obat Asli Indonesia. PT. Pustaka Rakyat. Jakarta , 1962. 2.
Purseglove. J. W., E. G. Brown;-C. L. Green, and S. R. J. Robbins. Spices.
Longman, London B New York, vol. II, 1981, 356 p. 3. Beets, W. C. Multiple cropping and tropical farming systems. ? Publ. Ltd. Hampsh~re,
England. 1982. 156 p.
4. Wiroatmodjo. J. E.. E. Turmudhi dan Dolirnun. Pendekatan kuantitatifbaru dalam
evaluasi pola tanam sisipan. Conmag. Fac. Agric. Bogor Agric. Univ. Vol.
3 (1). 1991. 33-29.
5. Silanggang. L M. Pengaruh pemupukan N, P: dan K terhadap intercropping
tanarnan sayuran di dataran tinggi. Bull. Penelitian Hortikultura (6). 1978.
5: 151-168
6. Hariyadi. Peranan perioda pemberian air dan waMu tanam terhadap pertumbuhan
dan produksi tanaman kencur Kaempferie galenga L. pada pola tanam
sisipan dengan jagung (Zea mays L.). Tas~s Fak. Pasca Sarjana IPB.
Bogor, 1993. Tidak dipublikasikan.
7. Lontoh, SA. F! Studi kompetisi antara kencur (Kaempferia galanga L.) dangan
jagung (Zea mays L.) pada pertanaman tumpangsarl. Tesis Fak. Pasca
Sarjana IPB. Bogor, 1991. Tidak dipublikasikan.
8. S w n d o . Studi pertumbuhan dan produksi jagung dan kunyit yang ditanam
secara tumpangsari. Tesis Fak. Pasca Sarjana IPB. Bogor, 1990. Tidak
dipublikasikan.
9. Balro. Penelitian perakitan teknologi tepat guna tanaman temu-temuan menunjang
intensifikasi tanaman obat. Laporan Penelitian.ARM. 1993. Litbang Deptan.
APLIKASI KULTUR JAIQINGAN UNTUK PERBANYAKAN KLONAL
TANAMAN KENCUR
(CLONAL PROPAGATION TO PRODUCE KAEMPFERZA GALANGA L. SEEDLING)
Abstract. To produce Kaempferia galangan L. seedl~ngin a
relatively s h o r t time, an in vitro clonal propagation was studied
in The C e n t r a l
Bogor.
PENDAHULUAN
ENCUR (Kaempferiag a h g a L.) mempakan salah satu tanaman
yang masuk ddam kelompok Zingiberaceae. t an am an ternbut
mempunyai potensi untuk dikernbangkan, karena nilai jual h a i l
rimpangnya per kilogram relatif tinggi (I). Dalam pengembangan
tanaman pada umumnya dan kencur khususnya, penyediaan bibit
yang baik mempakan salah satu faktor yang menentukan keberhaqilan
usaha intensifikasi maupun ekstensifikasi.
Secara konvensional tanaman kencur diperbanyak melalui rimpang
yang berasal dari pohon yang berumur 8-10 bulan. Tetapi cara
K
'Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Indusui. Bogor
Research
and Development f o r
Industrial C r o p s ,
12
I
I
II
I
I
1
I
!
I
Warta Tumbuhan Obat Indonesia
perbanyakan tersebut, di samping akan mengurangi pendapatan petani
(karena nilai ekonomi tanaman terletak pada rimpangnya), juga faktor
perbanyakan relatif rendah. Untuk memenuhi kebutuhan bibit yang
mendesak dalam jumlah yang banyak, maka kultur jaringan telah
memberikan harapan baru. Di negara maju seperti Amerika dan
Eropa aplikasi kultur jaringan untuk pengadaan bibit sudah dilakukan
dalam skala industri. Produksi bibit hasil kultur jaringan lebih cepat
masuk pasaran daripada bibit hasil perbanyakan biasa. Selain itu bibit
d J a m jumlah banyak dan seragam dapat dihasilkan hanya dari
sejumlah kecil bahan tanaman. Di negara maju temtama Amerika
teknik ini sudah digunakan sejak tahun 1970 pada banyak jenis
tanaman, terutama hortikultura, bahkan pada akhir-akhir ini pada
tanaman kehutanan. Sejak tahun 1980 teknik ini mulai dikembangkan
dengan pesat dan mulai diterapkan di negara maju lainnya, seperti
Australia, Belgia, Kanada, Perancis, Israel, Italia, Jepang, Belanda,
dan Inggris, sedangkan untuk Asia b m Malaysia dan India (2).
India lebih banyak melakukan mikropropagasi pada kelompok
Zingiberaceae (3).
Untuk meningkatkan faktor multiplikasi pada umumnya dalam
media tumbuh, diberikan zat pengatur tumbuh seperti BA dari golongan
sitokinin. Pada mikropropagasi tanaman jahe dan kunyit didapatkan,
bahwa penambahan BA 4 mg/L dalam media dasar MS memberikan
hasil yang terbaik untuk proliferasi tunas.
Dalam penempan teknologi b m kultur jaringan untuk skala
industri banyak faktor yang h m s dipecahkan, antara lain mendapatkan
metoda yang lebih efisien, dalam penggunaan bahan tenaga listrik
dan waktu (4). Telah dicoba menggunakan media cair stabil dengan
hasil yang sama baiknya dengan media padat maupun media cair
yang dikocok (5).
Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan komposisi media
yang terbaik untuk meningkatkan faktor multiplikasi tunas tanaman
kencur.
BAHANDANCARA
Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca
Bioteknologi Kultur Jaringan, Puslitbangtri, Bogor.
Eksplan yang digunakan adalah mata tunas yang berasal dari
rimpang yang berumur 6 bulan. Sebelum penanaman dilakukan
sterilisasi bahan tanaman dengan klorox 30% dan 20% selama 10
menit. Setelah sterilisasi dilakukan pembilasan dengan air steril
sebanyak tiga kali.
Media dasar yang digunakan dalam percobam ini adalah media
Murashige dan Skoog dengan komposisi dapat dilihat pada Tabel 1.
Ke dalam media dasar tersebut diberikan zat pengatur tumbuh sitokinin
(BA dan kinetin) dan auksin (NAA dan IAA) pada beberapa taraf
konsentrasi sebagai perlakuan.
Keasaman media diatur sampai pH 5.8 dengan penambahan
KOH atau HCI. Untuk percobaan media padat dibuat dengan
melamtkan agar Swallow sebanyak 8%. sedangkan media cair tanpa
penambahan agar. Sterilisasi media dilakukan dalam autoklaf pada
suhu 120°C. tekanan 17-18 psi. selama 15-20 menit.
Setelah penanaman eksplan mata tunas maka botol-botol kultur
diletakkan pada rak kultur serta disinari lampu neon dengan intensitas
cahaya sekitar 1000 lux selama 16 jam sehari.
multiplikasi tunas.
Perlakuan :yang diberilkan adalah kombinasi BA pada 3 taraf
konsentrasi (1, ;!,dan 3 mg/L) dengan NAA (0,l mg/L) atau IAA (1.0
m@).
. Percobaan III
Untuk mengetahui pengaruh kombinasi sitokinin (BA) dengan
auksin (NAA atau IAA) dalam media cair terhadap daya multiplikasi
tunas.
Perlakuan yang diberikan sama dengan Percobaan 11, hanya
media MS dan zat pengatur tumbuh diberikan dalam media cair stabil
(tanpa dikocok). Masing-masing perlakuan pada Percobam I, 11, dan
I11 terdiri dari 5 ulangan dengan rancangan percobaan Rancangan
Acak Lengkap (RAL).
Percobaan IV
Untuk mengetahui pengaruh media pertumbuhan tanah atau
tanah campur pupuk kandang terhadap persentase keberhasilan bibit
hasil kultur jaringan agar dapat tumbuh pada lingkungan yang b m .
Media tumbuh yang dipakai adalah tanah atau tanah + pupuk
kandang dengan perbandingan 1:1. media tumbuh tersebut dimasukkan
dalam polybag hitam dan selama 2 minggu pertama ditutup plastik
transparan.
Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas, jumlah bibit yang
dapat tumbuh dalam proses aklimatisasi dan keadaan biakan secara
visual.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan I
Dua bulan setelah penanaman rata-rata jumlah tunas tertinggi
didapatkan pada eksplan yang dikulturkan pada media MS + BA 1.0
m@ (Tabel 1). Pada media tersebut jumlah tunasnya sebanyak 4.2
nyata lebih tinggi dibandingkan penggunaan sitokinin konsentrasi
tinggi, yaitu BA (5 dan 7 mg/L serta kinetin 7 m a ) .
Tanpa d a n y a zat pengatur tumbuh dalarn media, eksplan tetap
dapat membentuk tunas tidak berbeda nyata dengan beberapa perlakuan
BA dan kinetin. Diduga organ mata tunas yang dikulturkan mempunyai
zat pengatur tumbuh alami yang mencukupi dengan keseimbangan
relatifnya antara zat pengatur tumbuh masih terpenuhi bagi
terbentuknya tunas-tunas b m .
Dengan konsentrasi yang sama antara BA dengan kinetin
1 mg/L, eksplan cendemng lebih responsif terhadap perlakuan BA.
Sejalan dengan pendapat Flick (6) yang menyatakan, bahwa pada
umumnya tanaman memiliki respons yang lebih baik terhadap BA
dibandingkan terhadap kinetin dan 2- iP, sehingga BA lebih efektif
untuk produksi tunas in vitro pada banyak tanaman.
Tabei 1. Rata-rata jumlah tunas pada beberapa taral konsentrasi BA dan kinetin.
umur 2 bulan
Perlakuan
(mfl)
Kontrol
0
Kinetin
0.5
1.0
3.0
5.0
7.0
Jumlah tunas
(rata-rata)
2,4 ab
Percobam terdiri dari 4 tahap percobaan yang b e ~ I - ~ t a yaitu:
n,
Percobaan I
Untuk mengetahui pengaruh beberapa taraf konsentrasi BA atau
kinetin dalam medium padat terhadap daya multiplikasi tunas.
Perlakuan yang diberikan adalah beberapa taraf konsentrasi BA atau
kinetin: 0 3 , 1.0, 3.0, 5.0, dan 7.0 mg/L.
Percobaan I1
Untuk mengetahui pengaruh kombinasi sitokinin (BA) dengan
auksin (NAA atau IAA) dalam media padat terhadap daya
Percabaan II
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dilakukan kombinasi
perlakuan antarn BA (1, 2, dan 3 m g L ) dengan NAA 0.1 mg/L atau
Volume 3 No. 2
IAA 1.0 mg/L. Data hasil kombinasi perlakuan tersebut disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata jumlah tunas pada media I
umur 2 bulan
Perlakuan
(m@)
BA 1 + NAA
2
3
0.1
'Jot
0,1
dengan IAA a!
lumlah tunas
(rata-rata)
3,O e
2.8 f
Percobaan I11
Percobaan terdahulu terhadap media cair stabil pada tanaman
jahe ternyata hasilnya lebih baik dibandingkan dengan media padat.
Untuk itu dicoba penggunaan media cair stabil pada tanaman kencur
dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata jumlah tunas pada media calr yang diberi kombinasi BA dengan
auksin (NAA atau IAA) umur 2 bulan
7
NAA tinggi, tetapi karena NAA mempunyai daya aktifitas yang lebih
kuat, maka kombinasi BA dengan IAA memberikan hasil yang lebih
baik.
Dari pengamatan secara visual terlihat, bahwa akar dapat terbentuk
pada media yang sama untuk pertunasan. Dari setiap percobaan yang
telah dilakukan akar yang terbentuk cukup banyak searah dengan
penambahan tunas. Dengan demikian pada perbanyakan mikro tanaman
kencur tidak perlu dilakukan pentahapan kultur yang berbeda untuk
pertunasan dan peralatan.
4.6 d
Kombinasi perlakuan BA 2.0 mg/L + IAA 1.0 mg/L mempunyai
jumlah yang paling tinggi yaitu 9.6, berbeda nyata dengan perlakuan
lainnya. Kombinasi perlakuan BA 1 mglL + N A A 0.1 mg/L
memberikan hasil jumlah tunas yang rendah, yaitu 2.8. Penambahan
IAA I mg/L pada media yang sudah mengandung BA pada umumnya
memberikan hasil yang lebih baik, dibandingkan kombinasi NAA 0.1
mg/L dengan BA. Keadaan ini disebabkan karena zat pengatur
tumbuh auksin NAA mempunyai daya aktifitas yang lebih kuat serta
persistensi yang lebih lama dibandingkan dengan auksin alami IAA
(7). sehingga walaupun kadar NAA nyata diberikan jauh lebih
rendah daripada IAA, tetapi pengaruh NAA nyata lebih kuat
menghambat pertumbuhan bakal tunas. Dengan demikian pengaruh
sinergis antara sitotoksin dengan auksin pada tanaman kencur terdapat
pada perlakuan BA 2 mg/L dengan IAA 1 mgL.
BA 1 + IAA
2
3
BA 1 + NAA
2
13
Warta Tumbuhan Obat Indonesia
1
1
1
0,l
0,l
0.1
Penggunaan media cair stabil sebagai sarana perbanyakan tanaman
kencur ternyata dapat mempercepat daya pertumbuhan dan
perkembangan eksplan membentuk tunas baru. Dua minggu setelah
tanam pada media cair yang diberi perlakuan BA 1 mg/L + IAA I
mg/L sudah dapat membentuk tunas sebanyak 10.2 yang berbeda
nyata dengan perlakuan Iainnya.
Media cair stabil lebih baik dari media padat (Tabel 2) karena
penyerapan hara dan zat pengatur tumbuh pada media cair lebih
mudah dan lebih cepat (4). Tanaman jahe menggunakan media MS
padat yang diperkaya dengan BA 3 m a , hanya mendapatkan 4.65
tunas setelah biakan bemmur 2 bulan.
Kombinasi BA dan IAA pada umumnya memberikan hasil yang
lebih baik dibandingkan dengan NAA. Walaupun nisbah BA terhadap
Percobaan IV
Pemindahan plantlet dari kultur in vitm ke lingkungan yang baru
dalam pot yang mengandung media pertumbuhan dilakukan setelah
kultur mempunyai tunas dengan akar serta mempunyai penampakannya
tegar.
Hasil proses aklimatisasi memperlihatkan persentase keberhasilan
yang cukup tinggi yaitu 70% hingga 80% (Tabel 4).
Tabel 4. Persentase keberhasilan b i b i yang hidupI pada prose!s aklimatisasi
umur 5 minggu
Media tumbuh dalam
polibag
%-ase keberhasil
Tanah
80%
70%
Tanah : pupuk kandang
Dalam proses adaptasi pada minggu pertama sampai dengan
kedua dilakukan penyungkupan dengan plastik pada setiap bibit yang
ditanam. Tujuan penyungkupan untuk mempertahankan kelembaban
lingkungan yang tinggi, sehingga dengan pemakaian pupuk kandang
yang dicampur dengan tanah akan menstimulasi pertumbuhan patogen
yang dapat rnematikan bibit. Untuk itu dalam proses aklimatisasi
pemilihan media yang memakai pupuk kandang harus dipersiapkan
sebaik mungkin.
KESIMPULAN
1. Penggunaan media cair stabil yang diberi BA 1 mg/L + IAA
1 mg/L menghasilkan faktor perbanyakan yang tinggi. Pada
perlakuan tersebut 2 minggu setelah eksplan dikulturkan dapat
terbentuk rata-rata jumlah tunas 10.2.
2. Dalam proses aklimatisasi pemakaian tanah atau tanah dan pupuk
kandang (1:l) memberikan persentase keherhasilan yang cukup
tinggi 70% hingga 80%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sudiarto. A. Ariiin R i i i e dan Riyanto. P e n g a ~ hkedalaman tanah dan macam
bib# terhadap hasil rimpang kencur. Buletin Liri. 2 (1991): 14-19.
2. Ifwin. YE. Chu. Perspecti of micropropagation industry. p.137-150 in: K.Kureta
and T. Kozai (Eds.). Transplant Production Systems. Kluwer Academic
Publishers Netherlands. 1992.
3. Gavinlertvatana. I? and I? Prutpong!se. Commemial micropropagation in Asia.
1991. p.181-189.
4. Pierlk. R.L.M. In vitro Culture of Hgtmr Plants. Matinus Nijhofl PI rblishers. 1987.
Lancaster.
.
.
..
5. Mariska. I. dan S.F. Syahid. Perbanyakan vegetatii melalul kultur jeringan pada
tanaman jahe. Buletin L'Mri. 1987, 4(1-5).
8. Flick. C.E.. D.A. Evans and W.R. Sharp. Organogenesis. p.13-18. in D.A. Evans.
W.R. Sharp. PV. Ammirato. Y. Yemada (Eds.) Handbook of Plant Cell
Culture. Collier Macmillan Publishers, 1983, London.
7. Davies. FJ. Plant Hormones and Their Role in Plant Growth and Development.
Martinus Nijhoff Publishers, 1987. Netherlands.
Fly UP