...

9 UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL AKAR, KULIT

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

9 UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL AKAR, KULIT
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL
AKAR, KULIT BATANG DAN DAUN TANAMAN SAMBILOTO
(Andrographis paniculata Ness.) DENGAN METODE
LINOLEAT – TIOSIANAT
Sri Wardatun
Program Studi Farmasi, FMIPA, Universitas Pakuan.
ABSTRAK
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat reaksi radikal bebas dalam
tubuh. Salah satu tumbuhan obat tradisional Indonesia yang memiliki aktivitas sebagai
antioksidan adalah sambiloto (Andrographis paniculata Ness.). Pengujian antioksidan dari
ekstrak etanol akar, kulit batang dan daun sambiloto dilakukan mengunakan metode
Linoleat-Tiosianat dengan vitamin E sebagai kontrol positif . Warna yang terbentuk diukur
secara spektrofotometri pada  479 nm. Tiga ekstrak dengan daya antioksidan terbesar
terdapat pada ekstrak akar dengan konsentrasi 0,25% sebesar 79,37%, ekstrak kulit batang
dengan konsentrasi 0,5% memiliki daya antioksidan 75,93%, dan ekstrak daun memiliki
daya antioksidan sebesar 76,63%, sedangkan vitamin E memiliki daya antioksidan 75,37%.
Kata kunci : Sambiloto, antioksidan, metode linoleat-tiosianat
dan sangat potensial untuk dikembangkan
sebagai bahan baku obat (Muliawati,
2002).
PENDAHULUAN
Obat
tradisional
digunakan
oleh
masyarakat secara luas sejak zaman dahulu
dan saat ini pemakaiannya semakin
digalakkan untuk tujuan pencegahan,
pengobatan
suatu
penyakit
dan
meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam
penggunaannya sehari-hari kebanyakan
masih berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan yang diperoleh secara turuntemurun (secara empirik).
Seiring dengan perkembangan zaman,
pemakaian obat tradisional di Indonesia
mengalami kemajuan yang pesat. Saat ini,
obat-obatan tradisional kembali dilirik
masyarakat sebagai salah satu alternatif
pengobatan, disamping obat-obat modern
yang sudah beredar di pasaran. Alasannya,
obat tradisional jauh lebih murah, selain itu
lebih aman digunakan, dan khasiat
beberapa jenis obat tradisional pun tidak
kalah dibandingkan obat-obat modern
(Prapanza dan Marianto, 2003)
Indonesia merupakan salah satu negara
penghasil tanaman obat, salah satunya
adalah sambiloto (Andrographis paniculata
Ness.). Sambiloto adalah salah satu jenis
tanaman yang mengandung senyawa aktif
Sambiloto memiliki khasiat antara lain
untuk
menyembuhkan
gatal-gatal,
keputihan, antipiretik, dan diuretik (Heyne,
1987) serta mengobati beberapa penyakit
degeneratif seperti diabetes, tekanan darah
tinggi dan reumatik (Harti dkk, 1991). Di
Indonesia, penyakit degeneratif cenderung
meningkat disebabkan karena adanya
perubahan gaya hidup masyarakat salah
satunya adalah menyukai makanan yang
berkadar lemak tinggi, hal tersebut dapat
menimbulkan
radikal
bebas
yang
berdampak pada kerusakan sel, sehingga
timbul penyakit tersebut (Limyati dan
Essay , 2003).
Radikal bebas merupakan suatu
molekul yang sangat reaktif karena
mempunyai satu atau lebih elektron yang
tidak berpasangan. Radikal bebas sangat
reaktif karena kehilangan satu atau lebih
elektron yang bermuatan listrik, dan untuk
mengembalikan keseimbangannya maka
radikal bebas berusaha mendapatkan
elektron dari molekul lain atau melepas
9
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
elektron yang tidak berpasangan tersebut
(Dalimartha dan Moeryati, 1998).
M, etanol 75%, besi(II) sulfat 0,02 M
dalam asam klorida 3,5%, asam klorida
pekat, asam klorida 1% (encer), metanol ,
serbuk magnesium, vitamin E (αtokoferol), cawan porselin, gelas piala,
pengayak no. 40, botol gelap, pipet
volumetri, desikator, grinder, kompor
listrik, tabung reaksi, timbangan listrik (OHaus), oven, spektrofotometer UV-Vis
Genesys.
Di dalam tubuh sendiri terdapat
mekanisme antioksidan atau antiradikal
bebas
(Dyatmiko dkk., 2000), yang
berfungsi melindungi tubuh terhadap
serangan radikal bebas, yang dibentuk oleh
beberapa enzim antioksidan dalam tubuh
seperti superoksida dismutase, katalase dan
glutasion peroksidase. Radikal bebas ini
bisa dipunahkan oleh enzim antioksidan
tubuh tetapi memerlukan bantuan mineral
Zn, Cu, dan Se. Antioksidan alami yang
berasal dari tumbuhan adalah senyawa
flavonoid, fenol, polifenol, kurkuminoid
dan tanin (Leswara dan Katrin, 1998).
Senyawa golongan polifenol dapat
menghambat reaksi peroksidasi dalam
tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya
berbagai penyakit kronis seperti diabetes,
kanker dan gangguan hati serta dapat
menghambat radikal bebas karena sifat
antioksidannya. Senyawa antioksidan ini
akan menyerahkan satu atau lebih
elektronnya kepada radikal bebas sehingga
dapat menghentikan kerusakan yang
disebabkan oleh radikal bebas, sebagai
penangkap radikal bebas dan mencegah
terjadinya reaksi berantai (Dyatmiko dkk.,
2000).
Agar obat tradisional dapat
dipertanggungjawabkan secara medik
maka perlu dilakukan pengujian ilmiah
tentang khasiat, keamanan, dan standar
kualitasnya (Ma’at, 2000). Oleh karena itu
perlu dilakukan penelitian uji aktivitas
antioksidan dalam ekstrak sambiloto.
Metode penentuan yang digunakan adalah
metode spektrofotometri. Hasil penentuan
diharapkan
dapat
menjadi
sumber
informasi dalam penggunaan sambiloto
sebagai antioksidan.
Pembuatan Ekstrak Sambiloto :
Ekstrak dibuat dengan cara maserasi
menggunakan 500 g simplisia kering
masing-masing akar, kulit batang dan daun
yang telah diayak (dihitung terhadap %
kadar air), dimaserasi dengan etanol
dengan perbandingan 1:5, menggunakan
bejana tertutup sambil diaduk secara
manual selama tiga jam, kemudian
diendapkan selama satu
malam dan
disaring dengan kertas saring
kasar
kemudian dikentalkan dengan rotavapor
pada suhu 30ºC (sampai kental) kurang
lebih selama delapan jam selanjutnya
dikeringkan dengan oven pada suhu 40ºC
sehingga diperoleh ekstrak kering.
Pembuatan Kontrol Positif dan Kontrol
Negatif
Kontrol positif digunakan vitamin E (αtokoferol) dengan konsentrasi 0,25%.
Sebanyak 0,25 g Vitamin E ditimbang dan
dilarutkan dalam labu ukur 100 mL dengan
etanol 75%, kemudian dipipet sebanyak 4
mL dan dimasukkan ke dalam botol gelap
dengan
volume 25 mL. Setelah itu
ditambahkan 4 mL asam linoleat dalam
etanol 75%, 8 mL dapar fosfat 0,05 M dan
3,9 mL akuades. Botol gelap ditutup dan
dimasukkan ke dalam oven dengan suhu
40°C, dan didiamkan selama 24 jam.
Kontrol negatif adalah 4 mL asam linoleat
dalam etanol 75%, 8 mL dapar fosfat 0,05
M dan 3,9 mL air suling tanpa penambahan
α-tokoferol.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan : akar, kulit batang dan
daun tanaman sambiloto (Andrographis
paniculata
Ness.),
amil
alkohol,
ammonium tiosianida 30%, asam linoleat,
akuades, besi(III) klorida, dapar fosfat 0,05
Pengujian Antioksidan
Ekstrak kering akar, kulit batang dan
daun sambiloto yang telah diperoleh,
10
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
dilarutkan dengan etanol 75%. Larutan
dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu 0,1;
0,25 dan 0,5% (dihitung terhadap % kadar
air ekstrak). Masing-masing larutan uji
diambil sebanyak 4 mL, dimasukkan ke
dalam botol gelap dan ditambahkan 4 mL
asam linoleat dalam etanol (75%), 8 mL
dapar fosfat 0,05 M dan 3,9 mL akuades.
Botol gelap ditutup rapat dan dimasukkan
ke dalam oven dengan suhu 40ºC lalu
didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam
larutan uji, kontrol positif dan kontrol
negatif diambil sebanyak 0,1 mL dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
selanjutnya ditambahkan 9,7 mL etanol
(75%), 0,1 mL ammonium tiosianat (30%),
kemudian
dikocok
homogen
dan
didiamkan selama 3 menit. Selanjutnya
ditambahkan 0,1 mL Fe(II) sulfat 0,02 M
dalam HCl (3,5%) dan dikocok kembali
sampai homogen. Warna merah yang
terjadi
diukur
menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 479 nm dengan dua kali
ulangan. Pengukuran tersebut dilakukan
setiap 24 jam selama 10 hari (Kikuzaki et
al, 1999).
hijau kehitaman, kulit batang tetap
berwarna hijau dan akar berwarna coklat
Dalam penelitian ini substrat yang
digunakan adalah asam linoleat. Asam
linoleat akan dioksidasi oleh oksigen yang
terdapat dalam botol gelap tersebut. Proses
oksidasi asam linoleat dikatalisis oleh
cahaya, suhu, pH, oksigen, ion logam dan
radikal lipid. Oleh karena itu, inkubasi
asam linoleat dikondisikan pada suhu 40oC
agar suhu tinggi dapat mengkatalisis
oksidasi asam linoleat.
Setelah diinkubasi selama 24 jam
dilakukan
pengukuran
kompleks
feritiosianat
yang
berwarna
merah
menggunakan spektrofotometer dengan
panjang gelombang maksimum yang dicari
pada kisaran 450-550 nm. Panjang
gelombang maksimum (maks) yang
diperoleh sebesar 479 nm.Adapun reaksi
yang terjadi adalah:
2Fe3+ + 6SCN- FeFe(SCN)6Kompleks merah
Pada uji potensi antioksidan, dibuat
beberapa larutan antara lain kontrol negatif,
kontrol positif dan larutan uji ekstrak akar,
kulit batang dan daun pada konsentrasi 0,1;
0,25 dan 0,5%. Kontrol positif dan larutan
uji
dengan
berbagai
konsentrasi
menghambat
laju
oksidasi
(hidroperoksida), tetapi kontrol negatif
sama sekali tidak dapat menghambat laju
oksidasi, oloeh sebab itu absorbansi (A)
pada kontrol negatif menentukan maksimal
terbentuknya hidroperoksida.
Daya antioksidan menggambarkan
besarnya potensi masing-masing ekstrak
untuk berperan sebagai antioksidan. Dapat
dikatakan, semakin besar konsentrasi,
semakin
besar
pula
aktivitas
antioksidannya terhadap proses oksidasi
asam linoleat.
Absorban kontrol positif dan larutan uji
dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan daya
antioksidan dapat dilihat pada Tabel 2.
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa
absorban kontrol positif dan larutan uji
setelah diinkubasi selama 10 hari semakin
Rancangan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh ekstrak
etanol akar, kulit batang dan daun sebagai
antioksidan alami terhadap radikal bebas
yang dibentuk oleh asam linoleat serta
menyimpulkan hasil percobaan, maka
digunakan
metode
eksperimental
rancangan acak lengkap (RAL), dengan 11
perlakuan dan dua ulangan. Pengujian data
dilakukan berdasarkan analisis ragam
untuk RAL. Apabila uji F menunjukkan
adanya pengaruh (F.05  Fh  F.01), uji
lanjut Duncant dilakukan untuk melihat
perbedaan antar perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ekstrak yang diperoleh baik daun,
kulit batang dan akar berwarna hijau
kehitaman- coklat dengan aroma yang khas
dan berasa pahit. Setelah dipekatkan
dengan rotavapor ekstrak daun menjadi
11
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
menurun yang berbanding terbalik dengan
daya antioksidan.
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat
bahwa daya antioksidan untuk kontrol
positif adalah sebesar 75,37% hampir
setara dengan ekstrak daun 0,5%, ekstrak
kulit batang 0,5% dan ekstrak akar 0,25%
Tabel 1. Serapan larutan selama 10 hari
Absorban
Kontrol
+
Kontrol
-
Hari ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Daun
(%)
Akar
(%)
Kulit Batang (%)
0,10
0,25
0,50
0,10
0,25
0,50
0,10
0,25
0,50
0,145
0,516
0,458
0,298
0,141
0,255
0,255
0,372
0,134
0,129
0,118
0,188
0,673
0,591
0,321
0,179
0,321
0,319
0,428
0,169
0,137
0,144
0,185
0,67
0,589
0,305
0,178
0,321
0,319
0,425
0,169
0,143
0,143
0,179
0,619
0,549
0,299
0,156
0,287
0,293
0,388
0,155
0,124
0,129
0,161
0,587
0,515
0,281
0,137
0,271
0,281
0,367
0,149
0,122
0,127
0,135
0,505
0,44
0,251
0,128
0,248
0,245
0,315
0,141
0,121
0,115
0,125
0,47
0,414
0,231
0,123
0,225
0,225
0,285
0,123
0,119
0,114
0,125
0,48
0,417
0,231
0,115
0,225
0,235
0,275
0,122
0,101
0,112
0,126
0,495
0,425
0,237
0,113
0,231
0,235
0,284
0,121
0,105
0,107
0,117
0,475
0,405
0,221
0,111
0,213
0,223
0,27
0,116
0,098
0,103
Tabel 2. Daya antioksidan selama 10 hari
Daya
antioksidan
Hari
Daun
(%)
Kontrol +
Akar
(%)
Kulit batang (%)
(%)
0,10
0,25
0,50
0,10
0,25
0,50
0,10
0,25
0,50
71,90
11,24
42,25
72,67
50,58
50,58
38,71
74,03
75,00
77,13
72,07
12,18
52,30
73,40
52,30
52,60
57,24
74,89
79,64
78,60
72,39
12,09
54,48
73,43
52,09
52,39
57,65
74,78
78,66
78,66
71,08
11,31
51,70
74,80
53,63
52,67
59,54
74,96
79,97
79,16
72,57
12,27
52,13
76,66
53,83
52,13
59,95
74,62
79,22
78,36
73,27
12,87
50,30
74,65
50,89
51,49
60,32
72,08
76,04
77,23
73,40
11,91
50,85
73,83
52,13
52,13
64,91
73,83
74,68
75,74
73,96
13,13
51,88
76,04
53,13
51,04
74,55
74,58
78,96
76,67
74,55
14,14
52,12
77,17
53,33
52,53
74,30
75,56
78,79
78,38
75,37
14,74
53,47
76,63
55,16
53,05
75,93
75,59
79,37
78,32
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
% daya antioksidan dihitung berdasarkan rumus sbb:
% Daya antioksidan = Absorban kontrol negatif – Absorban sampel x 100%
Absorban kontrol negatif
12
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
Dyatmiko, W,. MH Sentosa dan AF Hafid.
2000. Aktivitas Penangkapan Radikal
Bebas Dalam Sistem Molekuler dan
Seluler Sari Rimpang Tanaman Obat
Zingiberaceae. Lembaga Penelitian
Universitas Airlangga. Pusat Penelitian
Obat
Tradisional
Universitas
Airlangga. Surabaya.
Hasil analisis statistik dengan uji
Duncan (=0,01) diperoleh bahwa potensi
antioksidan dari ekstrak daun 0,5%, ekstrak
kulit batang 0,5% dan akar pada
konsentrasi (0,1; 0,25; dan 0,5%) tidak
berbeda nyata dengan kontrol positif.
Berdasarkan hasil tersebut ekstrak daun
pada konsentrasi 0,5%, ekstrak kulit batang
pada konsentrasi 0,5% dan ekstrak akar
pada konsentrasi 0,1; 0,25 dan 0,5%
memiliki aktivitas antioksidan yang lebih
besar dibanding vitamin E dan memiliki
kemampuan sebagai antioksidasi yang
lebih baik dibanding ekstrak daun dan kulit
batang sambiloto pada konsentrasi yang
lebih rendah
Harti, S., S.Zuraina dan E.Sukarti, 1991.
Survey Produsen Jamu Gendong di
Surabaya. Pusat Penelitian Obat
Tradisional Unika Widya Mandala.
Surabaya.
Heyne,
K. 1987 Tumbuhan Berguna
Indonesia.. Jilid 3. Yayasan Sarana
Wana jaya. Jakarta.
Limyati, A.D dan Y.S. Essay. 2003. Uji
Antioksidan, Antiradikal Bebas Dan
Penentuan
EC
50
Ekstrak
Diklorometana Serta Ekstrak Metanol
Herba
Sambiloto
(Andrographis
paniculata Burn.F.Ness.). Jurnal Obat
Bahan Alam.Vol.1. No.2. Surabaya.
KESIMPULAN
1. Daya antioksidan ekstrak etanol daun
pada konsentrasi 0,5%, memiliki daya
antioksidan sebesar 76,63%, ekstrak
kulit batang pada konsentrasi 0,5%
memiliki daya antioksidan 75,93%, dan
ekstrak akar pada konsentrasi 0,1; 0,25
dan 0,5% masing-masing memiliki
daya antioksidan 75,59; 79,37; dan
78,32%. Sedangkan daya antioksidan
vitamin E sebesar 75,37%.
2. Ekstrak etanol daun pada konsentrasi
0,5%, ekstrak kulit batang pada
konsentrasi 0,5% serta ekstrak akar
pada konsentrasi 0,1; 0,25 dan 0,5%
memiliki aktivitas antioksidan lebih
baik dibandingkan aktivitas antioksidan
vitamin E.
Leswara, D., dan N. Katrin. 1998.
Perbandingan
Daya
Antioksidan
Beberapa Jenis Benalu Menggunakan
Metode
Spektrofotometri.
Warta
Tumbuhan Obat. Jakarta. Vol 4. Hal
10-12.
Kikuzaki, H., S.Hara., K.Yayoi., dan N.
Nakatani.
1999.
Antioxidative
Phenylpropanoids From Berries Of
Pimenta
dioica.
Journal
Of
Phytochemistry. 52 : 1307-1312.
Maat. 2001 Manfaat Tanaman Obat Asli
Indonesia Bagi Kesehatan. Lokakarya
Pengembangan Agribisnis Berbasis
Biofarmaka. Jakarta
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
untuk mengetahui senyawa bioaktif yang
berperan
sebagai
antioksidan
dan
menentukan kadarnya.
Muliawati, E.S. 2002. Kajian Tingkat Serapan
Hara, Pertumbuhan dan Produksi
Sambiloto (Andrographis paniculata
Ness) pada Beberapa Komposisi Media
Tanam dan Tingkat Penyiraman.
Prosiding Simposium Nasional II
Tumbuhan Obat dan aromatik
APINMAP. Bogor. Hal 251-252
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, S dan S.Moeryati. 1998. Awet
Muda Dengan Tumbuhan Obat dan
Diet Suplemen. Trubus Agrawidya.
Jakarta.Hal: 120-125.
Prapanza, I dan L.A Marianto, SP. 2003.
Khasiat dan Manfaat Sambiloto: Raja
Pahit Penakluk Penyakit. Agromedia .
13
Fitofarmaka, Vol. 1 No.2 , Pebruari 2011: 9-13
31
Fly UP