...

fulltext PDF - Universitas Pattimura

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

fulltext PDF - Universitas Pattimura
ISSN 2301-7287
Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman Volume 3, Nomor 2, Oktober 2014
POPULASI BAKTERI DAN JAMUR PADA RIZOSFER CAISIM
(Brassica juncea L.) YANG DITANAM DI TANAH DIKONTAMINASI
INSEKTISIDA ORGANOKLORIN SETELAH APLIKASI KONSORSIA
MIKROBA DAN KOMPOS
Hindersah, R., Rachman, W., Fitriatin, B.N., dan D. Nursyamsi
ANALISIS PELUANG KEJADIAN DERET HARI KERING SELAMA
MUSIM TANAM DI KOTA AMBON
Laimeheriwa, S.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS TEGAK
(Phaseolus vulgaris L.) AKIBAT PEMBERIAN PUPUK KOTORAN HEWAN
DAN BEBERAPA PUPUK ORGANIK CAIR
Nurmayulis, Fatmawaty, A.A., dan D. Andini
EFIKASI EKSTRAK DAUN PEPAYA TERHADAP Nezara viridula L.
{HEMIPTERA : PENTATOMIDAE) PADA POLONG KACANG PANJANG
Hasinu, J.V., Rumthe, R..,Y dan R. Laisow
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI JAZIRAH
LEITIMUR PULAU AMBON
Haumahu, J.P.
UJI EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya) TERHADAP LARVA
Plutella xylostella (Lepidoptera: Plutellidae)
Siahaya, V.G., dan R.Y. Rumthe
PENGARUH SISTEM INTERCROP PADI GOGO DAN RUMPUT
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI GOGO
Ahadiyat, Y.R., Harjoso, T., dan Ismangil
TINGKAT KESESUAIAN LAHAN BAGI TANAMAN PADI
BERDASARKAN FAKTOR IKLIM DAN TOPOGRAFI DI KABUPATEN
MERAUKE
Mahubessy, R.C.
Agrologia
Vol. 3
No. 2
Halaman
75 – 131
Ambon,
Oktober 2014
ISSN
2301-7287
Agrologia, Vol.3, No.2, Oktober 2014, Hal. 83-90
ANALISIS PELUANG KEJADIAN DERET HARI KERING SELAMA MUSIM TANAM
DI KOTA AMBON
S. Laimeheriwa
Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura
Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka Ambon
Email: [email protected]
ABSTRAK
Kekeringan merupakan salah satu bentuk bencana yang sulit dicegah dan merupakan persoalan serius dalam
kegiatan produksi tanaman di Indonesia. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk menentukan peluang deret hari
kering selama beberapa hari dan penggunaannya untuk penentuan musim tanam yang aman di Kota Ambon.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) penentuan musim tanam dengan metode FAO (1978), (2)
analisis peluang kejadian deret hari kering, dan (3) penentuan musim tanam yang aman. Hasil analisis
menunjukkan bahwa Periode musim tanam di Kota Ambon berlangsung selama 10 bulan (Desember – September).
Selama periode musim tanam tersebut, peluang terjadinya deret hari kering yang panjang (≥ 10, ≥ 15, dan ≥ 20
hari) relatif kecil, yaitu kurang dari 45%. Peluang terjadinya deret hari kering ≥ 10 hari sebesar 13% (Juli) hingga
42% (September); ≥ 15 hari sebesar 3% (April, Mei) hingga 19% (September), dan ≥ 20 hari sebesar 0% (April,
Mei) – 13% (September). Peluang deret hari kering umumnya tinggi pada akhir musim tanam di bulan September,
sedangkan peluang deret hari kering terendah atau hampir tidak terjadi deret hari kering yang panjang dijumpai
dalam bulan April dan Mei.
Kata kunci: Peluang Kejadian, Deret Hari Kering, Musim Tanam, Kota Ambon
ANALYSE OF DRY SPELL PROBABILITY DURING THE GROWING SEASON IN
AMBON CITY
ABSTRACT
Drought is one of natural disaster that is commonly difficult to avoid and become a serious problem in crop
production in Indonesia. Therefore, this study was conducted to determine the probability of dry spell during
several days and its used to determine safety growing season in Ambon City. Data analyse was conducted in three
steps, that is (1) determination of growing season by FAO (1978); ( 2) analysis of dry spell probability; and (3)
determination safety growing season. Result of analysis indicated that the growing season in Ambon City took place
during 10 months from December to September next year. During the growing season, the probability occuring of
long dry spell (as much as 10, 15, and 20 days) was relatively smaller, less than 45%. The Probability of the dry
spell as much as 10 days was equal to 13% on Juli and up to 42% on September; more than as much as 15 days was
equal to 3% on April and May; and up to 19% on September, and as much as 20 days was equal to 0% on April
and May; and up to 13% on September. High dry spell probability was generally occurred by the end of the growing
season in September, whereas the lowest probability of dry spell occured in April and May when almost has no long
dry spell.
Key words: Probability, Dry Spell, Growing Season, Ambon City
PENDAHULUAN
Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok penduduk, terutama di
Indonesia. Dengan demikian, ketersediaannya dan ketercukupan pangan bagi masya-
rakat menempati posisi sentral dalam peningkatan produktivitas nasional, perbaikan
kualitas hidup warga negara dan keberlanjutan pembangunan. Dalam pengembangannya, pertanian sebagai sektor penyedia
pangan selalu diperhadapkan dengan berbagai
83 Laimeheriwa, S. 2014. Analisis Peluang Kejadian Deret … permasalahan, diantaranya kejadian kekeringan. Salah satu penyebab terjadinya gagal
panen di hampir setiap wilayah baik di
wilayah serntra produksi pangan maupun
wilayah lainnya di Indonesia dalam beberapa
dekade belakangan ini adalah kekeringan.
Kekeringan merupakan salah satu
bentuk bencana yang sulit dicegah dan
merupakan persoalan serius dalam kegiatan
produksi tanaman di Indonesia. Kondisi
kekeringan ini berbeda antar lokasi/wilayah
maupun antar musim penghujan maupun
musim kemarau. Oleh sebab itu, informasi
tertang karakteristik sumberdaya iklim di tiap
wilayah dan tiap musim sangat penting untuk
menentukan strategi penanaman atau
penentuan waktu tanam dan pemilihan
varietas yang tepat.
Kota Ambon merupakan salah satu
wilayah di Provinsi Maluku memiliki curah
hujan yang cukup tinggi atau tergolong
daerah basah dengan curah hujan rataan
tahunan > 3000 mm. Kondisi curuh hujan ini
memungkinkan untuk dilakukan penamanam
sepanjang tahun (Patty, 1988; Laimeheriwa
dkk., 1992; Laimeheriwa dkk., 2002).
Namun, berdasarkan realitas kejadian iklim
yang terjadi di tiap wilayah dapat dipastikan
bahwa dalam periode musim kemarau selalu
mengalami kekeringan yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan dan
produksi tanaman. Kondisi ini juga bukan
berarti bahwa selama periode musim hujan
berlangsung tidak akan mengalami kekeringan; hal tersebut bisa saja menjadi
permasalahan apabila terdapat deret hari
kering yang panjang selama musim tanam.
Terdapat berbagai metode yang
umumnya digunakan dalam penentuan musim
tanam di suatu wilayah, diantaranya oleh
Oldeman (1975) dan FAO (1978).
Penggunaan data iklim dalam penentuan
musim tanam tersebut adalah berupa nilai
bulanan tanpa mempertimbangkan kemungkinan terjadinya deret hari kering tiap
bulannya yang dapat mengganggu kehidupan
tanaman selama musim tanam tersebut.
Disamping itu, agihan curah hujan dalam
bulan tertentu tidak merata; artinya pada hari
84 tertentu curah hujan relatif tinggi sedangkan
pada hari lainnya curah hujan relatif rendah
bahkan tidak terjadi hujan sama sekali selama
beberapa hari.
Deret hari kering merupakan indikator
yang dapat diandalkan untuk mengukur
tingkat kerawanan wilayah terhadap kekeringan. Di daerah tropis, terjadinya deret
hari kering selama 7 hari atau lebih mempunyai dampak yang serius terhadap hasil
tanaman (McCaskill dan Kariada, 1992;
Nieewolt, 1989). Dengan demikian, informasi
tentang peluang terjadinya deret hari kering
selama beberapa hari sangat diperlukan dalam
menentukan musim tanam yang aman; artinya
kita dapat mengetahui tingkat kerawanan
kekeringan bagi tanaman selama musim
tanam berlangsung serta dapat menentukan
resiko terjadinya kekeringan yang paling
rendah sehingga tanaman dalam pertumbuhan
dan perkembangannya akan terhindar dari
kekurangan air.
Boer dan Las (1997) mengemukakan
bahwa untuk keperluan analisis deret hari
kering diperlukan data hujan harian yang
panjang. Permasalahan yang dihadapi adalah
data ini jarang tersedia di tiap daerah kecuali
untuk periode bulanan. Terkait dengan pernyataan tersebut maka untuk keperluan
analisis data iklim, Kota Ambon dipilih
sebagai lokasi studi karena tersedia data iklim
(curah hujan harian) jangka panjang. Tulisan
ini menguraikan secara ringkas tentang
analisis peluang deret hari kering selama
beberapa hari dan penggunaannya untuk
penentuan musim tanam yang aman di Kota
Ambon.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan di Kota
Ambon dengan menggunakan data time series
curah harian selama 30 tahun pengamatan
(periode 1984 – 2013) dan data unsur iklim
lainnya dalam bentuk nilai bulanan (periode
pengamatan 10 tahun terakhir; 2004 – 2013)
yang bersumber dari Stasiun Meteorologi
Pattimura Ambon. Data curah hujan harian
digunakan untuk menghitung peluang deret
Agrologia, Vol.3, No.2, Oktober 2014, Hal. 83-90
hari kering dan nilai bulanannya digunakan
untuk
menentukan
musim
tanam.
Selanjutnya data unsur iklim lainnya
digunakan untuk menghitung evapotranspirasi potensial (ETp). Data ETp kemudian
digunakan sebagai kriteria penentuan hari
kering dan untuk menentukan musim tanam.
Analisis data dilakukan melalui
beberapa tahapan :
(1) Penentuan musim tanam
Penentuan musim tanam di wilayah
penelitian menggunakan Metode FAO
(1978). Menurut metode ini, musim tanam
adalah selang waktu dalam setahun dengan
curah hujan > 0,5 ETp ditambah waktu pada
akhir musim hujan (awal musim kemarau)
untuk mengevapotranspirasikan air setinggi
100 mm dari air tanah yang masih tersimpan.
Dengan demikian untuk menentukan musim
tanam diperlukan data bulanan curah hujan
dan ETp.
Data curah hujan yang digunakan
dalam penentuan musim tanam berupa nilai
curah hujan berpeluang 75 %
untuk
dilampaui menggunakan Persamaan Oldeman
(1977) :
P75 = 0.82 P – 30
dimana :
P75 = Curah hujan bulanan peluang 75%
P
= Curah hujan rataan bulanan
Penggunaan nilai peluang curah hujan
berdasarkan pertimbangan bahwa (Bey dan
Las, 1991) selain berkeragaman tinggi, curah
hujan ini sifatnya eratik dan sporadis. Oleh
sebab itu, penggunaan nilai peluang dalam
menduga curah hujan sangat diperlukan.
Data ETp bulanan di wilayah ini tidak
tersedia, sehingga perlu diduga menggunakan
metode Modified Penman, dengan persamaan
sebagai berikut (Pruitt dan Doorenbos, 1977):
ETp = c [(W. Rn + (1 – W). f(U). (ea-ed),
dimana: ETp=evapotranspirasi potensial
(mm); c= faktor koreksi Penman (bergantung
rasio kecepatan angin siang dan malam,
kelembaban relatif maksimum, dan radiasi
gelombang pendek, nilainya berkisar antara
0,27–1,0; W=faktor pembobot (bergantung
pada suhu dan ketinggian tempat), nilainya
berkisar antara 0,43–0,89; Rn=total radiasi
neto (Rn=0,75RS–Rnl); Rs=radiasi
gelombang pendek yang datang
(Rs=0,25+0,50 n/N); n=lama penyinaran
yang terukur; N=lama penynaran maksimum
yang mungkin; Rnl=radiasi neto gelombang
panjang; f(U)=fungsi angin :
f(U)=0,27(1+U/100);
U=kecepatan angin pada ketinggian 2 meter;
dan f(ea-ed)=defisit tekanan uap.
Nilai ETp hasil perhitungan adalah
nilai harian (mm/hari) sehingga untuk
mendapatkan nilai ETp bulanan maka ETp
harian dikalikan dengan jumlah hari dari
setiap bulannya.
(2) Analisis peluang deret hari kering
Pada bulan tertentu deret hari kering
selama m hari (D = m) dibatasi sebagai hari
kering berturut-turut selama m hari, yaitu ≥ 5,
≥ 10, ≥ 15, dan ≥ 20 hari. Satu hari kering
adalah hari dengan curah hujan ≤ 0,5 ETp.
Untuk keperluan analisis maka digunakan
nilai ETp harian rataan untuk Kota Ambon
4,5 mm sehingga 0,5 ETp = 2,25 mm/hari.
Dengan demikian hari-hari dengan curah
hujan ≤ 2,25 mm dianggap hari kering.
Peluang deret hari kering (D ≥ m)
pada masing-masing bulan dihitung dengan
menggunakan formula (Handoko dan Las,
1994):
Pi (D ≥ m) = (∑ Xij) / (n + 1) x 100%
dimana :
Pi (D ≥ m) = Peluang
periode
kering
selama ≥ hari pada bulan ke-i
Xij
= Deret hari kering yang terjadi
pada bulan ke-i tahun ke-j
Xij = 1, bila pada bulan ke-i
tahun ke-j terjadi deret hari
kering selama m hari
Xij
= 0, bila pada bulan ke-i tahun
ke-j tidaj terjadi deret hari
kering selama m hari
N
= Jumlah tahun pengamatan
(3) Penentuan musim tanam yang aman
Hasil penentuan musim tanam pada
tahap (1) di atas perlu dikaji lagi apakah
selama periode musim tanam tersebut terjadi
85 Laimeheriwa, S. 2014. Analisis Peluang Kejadian Deret … deret hari kering selama m hari yang dapat
menimbulkan cekaman kekeringan yang berat
terhadap kehidupan tanaman; khususnya
tanaman pangan semusim. Untuk menentukan periode musim tanam yang aman setiap
bulannya maka digunakan batasan sebagai
berikut:
• tidak terjadi deret hari kering ≥ 5 hari
dengan peluang kejadian > 90%
• tidak terjadi deret hari kering ≥ 10 hari
dengan peluang kejadian > 45%
• tidak terjadi deret hari kering ≥ 15 hari
dengan peluang kejadian > 22,5%
• tidak terjadi deret hari kering ≥ 20 hari
dengan peluang kejadian > 11,25%
HASIL DAN PEMBAHASAN
Curah Hujan dan Evapotranspirasi
Potensial
Data pada Tabel 1 menunjukkan
bahwa jumlah curah hujan tahunan di Kota
Ambon rataan 3323 mm, sedangkan nilai
curah hujan pada tingkat peluang 75% untuk
dilampaui sebesar 2365 mm/tahun. Selama
periode Mei s/d Agustus curah hujan sangat
tinggi,
sedangkan
bulan
November
merupakan bulan terkering dalam setahun.
Nilai evapo-transpirasi potensial bulanan
yang dihitung dengan metode Modified
Penman berkisar antara yang paling rendah
dalam bulan Juli (110 mm) hingga tertinggi
sebesar 156 mm pada bulan Oktober dengan
nilai tahunan 1629 mm.
Tabel 1. Curah hujan rataan dan peluang 75% serta nilai evapotranspirasi potensial di Kota
Ambon
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Setahun
Curah Hujan (mm)
Rataan
Peluang 75%
155
97
131
77
136
82
200
134
482
365
652
505
598
460
402
300
220
150
124
72
77
33
146
90
3323
2365
Musim Tanam
Penentuan musim tanam di Kota
Ambon dilakukan berdasarkan metode yang
dikemukakan oleh FAO (1978) dengan
menggunakan nilai curah hujan pada tingkat
peluang 75% untuk dilampaui (P75) yang
dihitung dengan Persamaan Oldeman (1977)
dan nilai setengah evapotranspirasi potensil
(0,5 ETp) yang dihitung dengan metode
Modified Penman.
86 Evapotranspirasi Potensial (mm)
148
137
148
138
131
117
110
120
127
156
148
149
1629
Hasil analisis menunjukkan bahwa musim
tanam di Kota Ambon (Tabel 2) berlangsung
selama 10 bulan 20 hari (324 hari) dimulai 01
Desember hingga 20 Oktober. Sejak 21
Oktober hingga 30 November tidak
dianjurkan untuk melakukan aktivitas
penanaman, kecuali ada sumber air lain selain
hujan.
Agrologia, Vol.3, No.2, Oktober 2014, Hal. 83-90
Tabel 2. Penentuan musim tanam di Kota Ambon
Komponen
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
P75 (mm)
97
77
82 134 365 505 460 300 150
72
33
90
0,5 ETp
(mm)
74.0 68.5 74.0 69.0 65.5 58.5 55.0 60.0 63.5 78.0 74.0 74.5
Musim
♣
♣
♣
♣
♣
♣
♣
♣
♣ ♣ x
x
♣
Tanam
Keterangan:
♣
: Periode musim tanam (P75 > 0,5 ETp)
: Periode bera
X
Peluang Deret Hari Kering
Hasil penentuan peluang kejadian
deret hari kering (≥ 5, ≥ 10, ≥ 15, dan ≥ 20
hari) di Kota Ambon seperti yang disajikan
pada Tabel 3:
Tabel 3. Peluang kejadian deret hari kering di Kota Ambon
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
≥ 5 hari
90
90
87
90
65
45
52
58
77
94
94
94
Peluang Deret Hari Kering (%)
≥ 10 hari
≥ 15 hari
35
16
32
6
29
6
16
3
19
3
16
6
13
10
35
16
42
19
61
48
71
42
26
10
Terlihat pada Tabel 3 bahwa peluang
terjadinya deret hari kering ≥ 5 hari di Kota
Ambon berkisar antara 45 - 94%; ≥ 10 hari:
13 – 71%; ≥ 15 hari: 3 – 48%; dan ≥ 20 hari:
0 – 23%. Selama periode musim hujan
(April-September) peluang terjadinya hari
kering berturut-turut ≥ 5 hari kurang dari
91%; ≥ 10 hari: kurang dari 43%; ≥ 15 hari:
kurang dari 20%; dan ≥ 20 hari kurang dari
14%. Sebaliknya selama periode musim
kemarau (Oktober-Maret) peluang terjadinya
hari kering berturut-turut ≥ 5 hari: 87 - 94%;
≥ 10 hari: 26 - 71%; ≥ 15 hari: 6 - 48%; dan
≥ 20 hari: 3 - 23%. Sebagai contoh, dalam
bulan Januari peluang deret hari kering ≥ 5
≥ 20 hari
3
6
6
0
0
3
3
10
13
19
23
6
hari adalah 90%; artinya dalam 10 tahun
kejadian hujan dalam bulan Januari minimal
terjadi hari kering 5-9 hari berturut-turut
sebanyak 9 kali. Secara grafis, peluang
terjadinya deret hari kering di Kota Ambon,
seperti yang disajikan pada Gambar 1.
Penentuan Musim Tanam yang Aman
Pada sub bagian sebelumnya telah
ditentukan musim tanam di Kota Ambon
yang berlangsung selama 324 hari mulai dari
01 Desember dan berakhir 20 Oktober.
Walaupun penentuan musim tanam tersebut
menggunakan nilai curah hujan dengan
tingkat peluang kejadian 75%, namun tidak
87 Laimeheriwa, S. 2014. Analisis Peluuang Kejadian Deret … menutup kemungkin
nan selama periode
p
misim
m
tanam teersebut bisaa saja terjaddi deret haari
kering yaang panjang yang dapat menggangggu
pertumbuuhan dan perkembang
gan tanamaan
yang diusahakan.
d
Dengann demikiaan
diperlukaan kajian un
ntuk menen
ntukan musim
m
tanam yaang aman berdasarkan
b
panjang haari
kering beerturut-turut..
Berdasarkaan batasan musim taanam
yang aman sepertti yang sudaah dikemukkakan
m bagian pembahasaan metodoologi
dalam
sebeluumnya, makka dapat diitentukan buulanbulan mana saja selama musim tanam yang
y
k aman akkibat
diangggap aman dan tidak
kejadiian hari kerinng berturut-tturut (Tabel 4).
100
90
≥ 5 harri
80
Peluang (%)
70
60
≥ 10 haari
50
40
≥ 15 haari
30
20
10
≥ 20 haari
0
J
Jan
Feb Mar Apr Mei Jun
n Jul Ags Seep Okt Nov Des
Gambbar 1. Peluaang deret harri kering setiiap bulan di Kota Ambonn
Tabel 4. Penentuan
n bulan-bulaan yang amaan terhadap deret hari karing
k
yang panjang selama
periode musim
m
tanam
m di Kota Am
mbon
Batasan Peluang
Derett Hari
Jan Feb Mar Apr Mei
Kerring
≥ 5 hari; > 90%
A
A
A
A
A
≥ 10 harii > 45%
A
A
A
A
A
≥ 15 harii > 22,5% A
A
A
A
A
≥ 20 harii > 11.25% A
A
A
A
A
Keteranggan: A = am
man; TA = tiddak aman
T
Terlihat
padaa Tabel 4, bulan
b
Januaari
hingga Agustus
A
meruupakan bulaan-bulan yanng
dianggapp aman terhhadap derett hari kerinng
yang pannjang, sedanngkan bulan Oktober daan
Novembeer merupakaan bulan-bulan yang tidaak
aman atau
a
memppunyai resiko kejadiaan
deretan hari
h kering yang
y
panjangg. Sementarra
88 Jun
Jul
A
A
A
A
A
A
A
A
Agss Sep
A
A
A
A
A
A
A
TA
Okkt Nov Des
D
TA
A
TA
A
TA
A
TA
A
TA
TA
TA
TA
TA
T
A
A
A
itu, buulan Desem
mber dan Sepptember massingmasinng hanya terrdapat satu komponen dderet
hari kering
k
yang tidak
t
aman. Bulan Desem
mber
dapat dipertimbanngkan sebaggai awal muusim
m dan bulan September dapat diperrtimtanam
bangkkan sebagaai akhir musim tannam.
Pertim
mbangan teersebut berddasarkan allasan
Agrologia, Vol.3, No.2, Oktober 2014, Hal. 83-90
bahwa pada awal dan akhir tanam, kebutuhan
air untuk tanaman umumnya lebih sedikit
dibandingkan dengan tahap perkembangan
lainnya. Dengan demikian periode Desember
hingga September dapat dianggap sebagai
periode musim tanam yang aman di Kota
Ambon.
KESIMPULAN
Periode musim tanam yang aman di
Kota Ambon berlangsung selama 10 bulan
(Desember – September). Selama periode ini,
peluang terjadinya deret hari kering yang
panjang (≥ 10, ≥ 15, dan ≥ 20 hari) relatif
kecil, yaitu kurang dari 45%.
Peluang
terjadinya deret hari kering ≥ 10 hari sebesar
13% (Juli) hingga 42% (September); ≥ 15
hari sebesar 3% (April, Mei) hingga 19%
(September), dan ≥ 20 hari sebesar 0% (April,
Mei) – 13% (September). Peluang deret hari
kering umumnya tinggi pada akhir musim
tanam di bulan September, sedangkan
peluang deret hari kering terendah atau
hampir tidak terjadi deret hari kering yang
panjang dijumpai dalam bulan April dan Mei.
Masa persiapan lahan awal dapat
dilakukan pada bulan November dan
penanaman pertama sudah harus dilakukan
dalam bulan Desember. Penanaman jenis
tanaman semusim: jagung, kacang-kacangan,
ubi jalar dan sayuran seperti tomat, terong,
cabe dan ketimun dapat dilakukan sebanyak
2 – 3 kali dalam setahun bergantung varietas
yang digunakan. Jika dinginkan penanaman
sepanjang tahun maka dalam bulan Oktober
dan November harus disediakan sumber air
lain selain hujan.
kekeringan: Kasus untuk daerah
pertanaman padi sawah tadah hujan di
Jawa Barat. Jurnal Agromet XII (1
dan 2): 1-9.
Food Agriculture Organization (FAO). 1978.
Methodology and results from Africa.
Report on the agro-ecological zones
project. Report No.48/I. FAO, Rome.
Handoko dan I. Las. 1994. Metode sederhana
untuk menduga peluang periode
kering serta awal musim kemarau dan
hujan dalam hubungannya dengan
kebutuhan air tanaman. Buletin
Agrometeorologi 1(2): 109-118.
Laimeheriwa, S., Patty, J.R., Hitijahubessy, D
dan P.M. Sitaniapessy.
1992.
Penentuan musim tanam daerah
Maluku. Dalam: Buku II Prosiding
Simposium Meteorologi Pertanian III.
Malang, Hal.444-448
Laimeheriwa, S., Ufie, C dan Ch.
Leiwakabessy. 2002. Pengembangan
komoditas
pertanian
kepulauan
Maluku
berdasarkan
pendekatan
iklim; Suatu kajian terhadap kawasankawasan sentra produksi tanaman di
Provinsi Maluku. Jurnal Pertanian
Kepulauan 1(2): 96-106.
McCaskill, M and I.K. Kariada.
1992.
Comparison of five water stress
predictors for the tropics. Agricultural
and Forest Meteorology 58:35-42.
DAFTAR PUSTAKA
Niewolt, S. 1989. Estimating of agricultural
risks of tropical rainfall. Agricultural
and Forest Meteorology 45:251-263
Bey, A dan I. Las. 1991. Strategi pendekatan
iklim dalam usahatani. Dalam Kapita
selekta dalam agrometeorologi Bab
III:18-47. Dirjen Dikti Sepdikbud,
Jakarta.
Oldeman, L.R, 1975. An agroclimatic map of
Java. Contr. Centr. Res. Inst. Agric.,
17, Bogor. 22p.
Boer, R dan I. Las. 1997. Motede
penentuan
tingkat
kerawanan
Oldeman, L.R. 1977. Climate of Indonesia.
In Proc. of 6th Asian Pacific Weed
Sci.Soc.Conf., Jakarta. p:14-30.
89 Laimeheriwa, S. 2014. Analisis Peluang Kejadian Deret … Patty, J.R. 1988. Beberapa aspek agroklimat
Pulau Ambon. [Skripsi]. Fakultas
Pertanian
Universitas
Pattimura,
Ambon.
90 Pruitt, W.O and J. Doorenbos.
1977.
Guidelines for predicting crop water
requerement. FAO of Uneted States.
Rome.
Fly UP