...

Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan di Indonesia

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan di Indonesia
Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan
di Indonesia
Fokus Utama: Dampak El Niño
Volume 2
Januari 2016
Pesan Kunci
1.
Hujan sudah mulai turun di sebagian besar Indonesia, setelah mengalami keterlambatan awal musim hujan. Namun demikian,
beberapa wilayah di Indonesia Timur masih mengalami kekeringan yang cukup parah. Diperkirakan dari sekitar 3 juta
penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan, yang tinggal di kabupaten yang terkena dampak kekeringan
tersebut, diantaranya 1,2 juta bergantung pada curah hujan untuk produksi pertanian sebagai mata pencaharian.
2.
Musim hujan yang datang terlambat mengakibatkan tertundanya awal tanam, sehingga memiliki dampak lanjutan antara lain
musim paceklik menjadi lebih panjang dan musim tanam padi kedua kemungkinan jatuh pada puncak musim kemarau,
sehingga meningkatkan kemungkinan kegagalan panen.
3.
Keterlambatan musim hujan telah menyebabkan tertundanya musim tanam padi pertama di tahun 2016, dimana hal ini secara
signifikan terjadi di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang merupakan sentra utama penghasil beras. Diperkirakan 10
persen sawah di Jawa Timur dan 7 persen sawah di Jawa Tengah mengalami penundaan waktu tanam dan kehilangan masa
optimal untuk memulai tanam, sehingga mengancam keberhasilan produksi pertanian.
4.
Keterlambatan musim tanam padi pertama akan memperpanjang musim gadu dan berdampak negatif terhadap rumah tangga
rentan. Penurunan produksi di beberapa wilayah akan meningkatkan kekhawatiran pada sebagian besar petani subsisten
(petani yang memproduksi hasil pertaniannya untuk konsumsi pribadi) di daerah terdampak kekeringan.
5.
Panjangnya musim gadu menyebabkan rumah tangga miskin dengan pendapatan terbatas yang sebagian besar
pendapatannya digunakan untuk membeli bahan pangan, harus lebih berhemat lagi karena harga bahan pangan naik dan
keterlambatan panen berikutnya. Jika tidak dilakukan upaya percepatan tanam, maka pendapatan buruh tani dan petani
gurem akan terus berkurang.
6.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah tingginya harga beras diperkirakan akan menyebabkan sulitnya akses pangan dan
meningkatkan goncangan situasi ketahanan pangan dan penghidupan pada penduduk yang paling rentan.
7.
Meningkatnya potensi banjir pada musim hujan akan mempengaruhi akses pangan dengan terganggunya jaringan transportasi
dan menyebabkan bencana tanah longsor di daerah yang secara sosial ekonomi juga rendah.
Pengantar
Daftar peta dan analisis
Buletin ini adalah buletin seri kedua untuk pemantauan
dampak kekeringan pada ketahanan pangan di Indonesia.
Buletin edisi pertama tersedia online pada:
http://www.wfp.org/content/indonesia-food-securitymonitoring-2015
Buletin ini memuat peta dan analisis sebagai berikut:
Peta dan analisis pada bagian pertama buletin edisi kedua ini
masih berfokus pada pemantauan kekeringan di Indonesia
dari bulan September hingga Desember 2015. Analisa ini
berdasarkan data satelit curah hujan, temperatur permukaan
tanah dan pertumbuhan vegetasi.
Pada bagian berikutnya, analisa difokuskan pada dampak
kekeringan terhadap awal musim tanam di Jawa. Dengan
menggunakan teknik penginderaan jarak jauh, dapat
diperkirakan wilayah yang telah memulai musim tanam dan
membandingkan dengan tahun-tahun El Niño sebelumnya
serta tahun normal.
Bagian ketiga pada buletin ini mempelajari potensi dampak
sosial ekonomi dari kekeringan. Analisa dalam bagian ini
dilakukan berdasarkan pada kemungkinan-kemungkinan yang
berubah selaras dengan berlanjutnya kekeringan. Bagian
terakhir bulletin ini berisi kesimpulan.
1.
Jumlah hari sejak curah hujan terakhir
2.
Anomali curah hujan bulan Oktober – Desember
3.
Sejarah dampak El Niño pada tanaman pangan
4.
Kekeringan pertanian yang diukur melalui Indeks
Kesehatan Vegetasi
5.
Populasi yang terdampak akibat kekeringan pertanian
6.
Keterlambatan musim tanam padi
7.
Kenaikan harga beras
8.
Prakiraan cuaca
Kondisi kekeringan sejauh ini
Hari sejak hujan terakhir
Pada bulan November and Desember, hujan mulai turun di sebagian besar wilayah
Indonesia, hal ini mengurangi kebakaran hutan yang terjadi sejumlah wilayah di Kalimantan
dan Sumatra. Peta diatas menunjukkan titik-titik wilayah yang tidak mengalami hujan sama
sekali lebih dari satu bulan terakhir, dimana tersebar di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan
Maluku. Namun demikian, jumlah hari sejak hujan terakhir tidak terkait langsung dengan
jumlah curah hujan yang diterima, hal ini hanya menggambarkan wilayah mana saja yang
dalam 90 hari terakhir menerima curah hujan tidak lebih dari 0,5 mm dalam sehari.
Sebagian besar model prediksi menunjukkan pelemahan ENSO pada akhir kuartal kedua
tahun 2016 dan transisi menuju kondisi netral pada Juni/Juli 2016.
Sumber: IRI for Climate and Society
Perbandingan kejadian
El Niño tahun
1997/1998 dengan
kekeringan Okt-Des
Anomali curah hujan
menunjukkan jumlah hujan yang
turun di periode tertentu
dibandingkan dengan rata-rata
jangka panjang periode tersebut.
Peta ini mengilustrasikan anomali
curah hujan 3 bulanan (OktoberDesember) dibandingkan dengan
rata-rata 30 tahun untuk periode
yang sama.
Peta ini menunjukkan pada tahun
2015 sebagian besar Indonesia
menerima curah hujan dibawah
normal. Daerah yang mengalami
simpangan ekstrim ditunjukkan
dengan warna merah tua di peta.
Meskipun demikian, kejadian
kekeringan saat ini tidak separah
pada El Niño 1997 (lihat peta
disamping).
Dampak kekeringan pada sektor pertanian
El Niño dan dampak terhadap tanaman di Indonesia
Persentase lahan pertanian tanaman pangan
terdampak kekeringan
30
25
20
15
10
70
Season 1
Season 2
2009
65
60
1997
2006
2002 2004
1994
50
1997
1995
1999
2003
2007
2011
13
12.5
12
11
10.5
Production Paddy (ton)
2015
13.5
11.5
1994
40
2009
1991
2002
45
5
1987
2004 2006
55
Tahun El Niño:
1987
0
1983
14
Luas panen dalam ha, juta
35
2015
1991
Produktivitas dalam ton, juta
40
14.5
75
% dari lahan pertaniandengan VHI < 35
45
Total produksi padi tahunan
dan luas panen
80
Harvested Area Rice (ha)
35
1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015
10
Sejarah hubungan El Niño dan produksi tanaman pangan di Indonesia
Kekeringan yang terkait El Niño biasanya memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan kekeringan pada tahun-tahun normal, dan memiliki dampak negatif lebih besar
terhadap areal pertanaman dan siklus tanaman. Analisis kekeringan menggunakan Indeks Kesehatan Vegetasi (VHI), gambar kiri atas menggambarkan persentase areal
pertanaman yang mengalami kekeringan (VHI<35) per musim selama 30 tahun.
Meskipun demikian, El Niño yang kuat tidak selalu memiliki dampak terhadap produksi beras. Hal ini tergantung awal mulai dan laju perkembangan El Niño tersebut
yang kemudian dapat mempengaruhi curah hujan dan siklus tanaman. Ketika El Niño datang di awal musim dan berkembang sangat cepat, seperti kejadian tahun
1997/1998, maka dampak terhadap produksi tanaman pangan lebih rendah daripada El Niño yang mulai dan berkembangnya lebih lambat seperti yang terjadi pada
2002/2003. Dengan lambatnya perkembangan El Niño, dimana banyak daerah masih mengalami hujan dan petani tidak memiliki ada tanda-tanda kapan hujan terjadi
pada musim kemarau. Pada umumnya, sumber air tanaman pangan pada musim kemarau hampir 70 persen menggunakan air irigasi dan hanya 30 persen berasal dari
curah hujan.
Curah hujan dibawah normal dan keterlambatan awal musim hujan di Indonesia biasanya akan menyebabkan mundurnya siklus tanam padi hingga sekitar 8 minggu
agar kebutuhan air secara akumulatif terpenuhi (mulai tanam hingga panen). Hal ini menyebabkan musim gadu menjadi lebih panjang, memundurkan musim tanam
dan panen pada musim tanam kedua. Selanjutnya mundurnya musim tanam kedua akan berpeluang besar mengalami kekeringan.
Dampak kekeringan pada pertanian
Indeks kesehatan vegetasi (VHI) mengkombinasikan dua komponen: deviasi temperatur permukaan tanah dan keragaman kerapatan vegetasi dari pola
normalnya. Peta diatas menunjukkan cekaman pada vegetasi di lahan pertanian tanaman pangan dan dapat digunakan untuk menghitung potensi
kerugian.
Dibandingkan dengan buletin sebelumnya, yang memuat VHI pada bulan Agustus, secara geografis kondisi kekeringan pertanian menurun pada bulan
Desember. Namun demikian, kekeringan ekstrim masih terjadi, yang terkonsentrasi di wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur,
Sulawesi dan Maluku.
Penduduk yang terkena dampak kekeringan
Provinsi
Aceh
Daerah Istimewa Yogyakart
Daerah Istimewa Yogyakart
Gorontalo
Gorontalo
Gorontalo
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Timur
Maluku
Maluku
Maluku
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
Papua
Papua
Papua
Papua Barat
Papua Barat
Papua Barat
Sulawesi Tengah
Total
Kabupaten
Kota Subulussalam
Gunung Kidul
Kulon Progo
Boalemo
Gorontalo
Pohuwato
Brebes
Kebumen
Purbalingga
Rembang
Wonosobo
Bangkalan
Probolinggo
Sampang
Sumenep
Maluku Tengah
Seram Bagian Barat
Seram Bagian Timur
Ende
Kupang
Lembata
Manggarai
Manggarai Timur
Rote Ndao
Sabu Raijua
Sumba Barat
Sumba Barat Daya
Sumba Tengah
Sumba Timur
Timor Tengah Selatan
Timor Tengah Utara
Jayawijaya
Mappi
Mimika
Manokwari
Raja Ampat
Teluk Bintuni
Tojo Una-Una
Jumlah populasi total
73.860
707.158
407.330
146.391
367.951
143.030
1.772.737
1.180.593
888.396
614.170
773.058
945.285
1.131.898
932.163
1.066.703
368.278
168.773
106.775
268.969
337.604
129.309
314.083
268.131
141.897
83.633
120.027
312.597
67.302
242.796
458.225
241.867
204.032
90.448
199.069
204.415
45.248
58.439
146.299
15.728.936
Jumlah populasi dengan
resiko kekeringan
23.623
107.003
98.791
34.381
90.901
21.254
223.610
149.426
163.480
74.312
101.433
211.933
268.120
209.177
196.951
51.717
64.812
15.455
21.211
58.594
42.107
53.585
116.567
30.877
25.874
33.781
121.626
24.229
10.628
124.795
61.892
40.077
56.038
13.480
32.078
13.866
5.403
9.664
3.002.751
Jumlah populasi yang
membutuhkan
bantuan
1.530
49.581
33.819
18.979
41.237
5.089
52.853
43.312
45.368
21.757
28.423
107.433
56.011
69.651
75.335
6.688
17.553
1.398
2.227
38.022
23.211
25.810
63.274
13.406
13.244
26.667
103.660
20.316
8.270
107.640
44.495
40.077
3.334
13.478
1.635
357
1.525
1.226.665
Kerentanan ekonomi dan
dampak kekeringan
Mengacu pada VHI sebagai prakiraan
dampak kekeringan, dapat diklasifikasikan
kabupaten yang 50 persen wilayahnya
merupakan lahan pertaniannya tanaman
pangan yang mengalami kekeringan parah
dalam periode tiga bulan terakhir (Okt –
Des). Diantara kabupaten-kabupaten
tersebut, kabupaten yang secara ekonomi
sangat rentan (lebih dari 20 % dari
penduduknya hidup dibawah garis
kemiskinan) dianggap sebagai daerah
prioritas utama untuk diberikan intervensi.
Di kabupaten yang dibahas diatas – secara
ekonomi sangat rentan dan secara geografis
terdampak kekeringan parah, kelompok
yang menghadapi resiko tertinggi dan butuh
bantuan adalah rumah tangga miskin
dengan mata pencaharian utama bertani.
Total sebanyak 3 juta penduduk Indonesia
di 38 kabupaten ini akan menghadapi
tantangan berat, bahkan untuk memenuhi
kebutuhan dasar karena mereka sudah
hidup dibawah garis kemiskinan. Dari jumlah
tersebut sebanyak 1,2 juta membutuhkan
bantuan segera karena merupakan petani
yang tergantung pada curah hujan untuk
kegiatan pertaniannya, dan tinggal didaerah
yang mengalami dampak kekeringan parah.
Siklus tanaman padi dan perubahan musim
Januari
Februari
Siklus normal musim hujan
Maret
April
Mei
Hujan
Panen
Tumbuh
Juni
Juli
Kemarau
Agustus September O ktober November Desember
Kemarau Kemarau
Hujan
Tanam
K eterlambatan--->>
Siklus musim hujan yang
mengalami keterlambatan
Tanam
Januari
Tumbuh
Hujan
Februari
Siklus normal musim kemarau
Maret
Panen
Kemarau
April
Hujan
Tanam
Mei
Juni
Kemarau
Juli
Tanam
Hujan
Kemarau
Agustus September O ktober November Desember
Kemarau
Tumbuh
Kemarau Kemarau
Panen
Tanam
Kemarau
Tumbuh
Kemarau
Hujan
K eterlambatan---->>
Siklus musim kemarau yang
mengalami keterlambatan
Hujan
Panen
Kemarau
Hujan
Tanaman yang
beresiko
Resiko pergeseran musim tanam
Keterlambatan tanam akan memundurkan waktu panen 4 - 8 minggu, kecuali dilakukan percepatan tanam pada musim ini. Analisis selanjutnya
menunjukkan perlunya perhatian, terutama untuk Provinsi Jawa Timur. Keterlambatan ini memundurkan musim tanam kedua dan meningkatkan
kemungkinan musim tanam kedua di daerah tadah hujan lahan tidak cukup air (lengas).
Terdapat dua potensi resiko berkaitan dengan bergesernya musim tanam padi di sebagian besar wilayah Indonesia: 1) Musim gadu makin panjang dan 2)
Meningkatnya resiko kekeringan musim tanam kedua sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya. Panjangnya musim gadu menyebabkan rumah
tangga miskin dengan pendapatan terbatas yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli bahan pangan, harus lebih berhemat lagi
karena harga bahan pangan naik dan keterlambatan panen berikutnya. Jika tidak dilakukan upaya percepatan tanam, maka pendapatan buruh tani dan
petani gurem akan terus berkurang. Hasil awal survei rumah tangga yang dilakukan WFP baru-baru ini menunjukkan bahwa buruh tani terkena dampak
kekeringan paling parah dengan menurunnya pendapatan, diikuti dengan perilaku bertahan hidup (coping) yang negatif seperti menurunkan pengeluaran
untuk pangan.
Keterlambatan waktu tanam
Cuaca yang lebih kering dari kondisi normal dapat menunda waktu tanam, terutama di daerah tadah hujan. Musim berjalan, yang merupakan musim
tanam utama, akan menentukan setengah dari produksi jagung tahunan dan sekitar 45% produksi beras tahunan. Hujan yang terlambat menunda waktu
tanam di sebagian besar wilayah Indonesia. Keterlambatan tanam di Jawa pada peta diatas ditunjukkan dengan warna abu-abu.
Hasil dari tanam culik (ditanam lebih awal) pun diperkirakan negatif, terutama di daerah tadah hujan. Provinsi yang terkena dampak yang paling parah
termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Lampung, biasanya menyumbang dua per tiga dari produksi beras
nasional tahunan. Hasil akhir panen padi 2016 akan sangat tergantung pada ketersediaan air irigasi karena 85% dari total sawah tercatat beririgasi. 1
1 http://www.fao.org/giews/countrybrief/country.jsp?code=IDN
Perkiraan keterlambatan dalam penanaman padi
Total hektar yang ditanam di Jawa
(1 Sep - 19 Des)
Nasional
70
Lahan yang sudah ditanami (%)
60
293,366
50
40
377,770
292,766
217,129
30
1,443,913
20
1,355,765
1,344,691
2013
2015
1,037,418
10
0
29-Aug
14-Sep
30-Sep
16-Oct
1-Nov
17-Nov
3-Dec
19-Dec
2006
2009
Irigasi
Irrigated
Tadah hujan
Rainfed
Menggunakan citra satelit untuk memperkirakan status penanaman
Dengan menganalisa citra satelit sepanjang musim tanam, perkiraan dibuat per-piksel yang ditangkap satelit. Perkiraan apakah tanam sudah dimulai
dilihat dari spektrum warnanya. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisa seluruh wilayah tanaman pangan di Indonesia kemudian dibandingkan
dengan referensi historis untuk periode yang sama (1 September – 19 Desember), termasuk tahun El Niño sedang (2006) dan tahun normal (2013).
Secara agregat di tingkat nasional, tanam padi tahun ini lebih baik dengan total 3,9 juta hektar dibanding periode yang sama pada tahun 2013 yang hanya
3,4 juta hektar.
Namun demikian, penggunaan pendekatan ini dikombinasikan dengan klasifikasi tadah hujan dengan lahan irigasi di Jawa, awal tanam memang mundur.
Sebagaimana sudah diperkirakan, lahan beririgasi memang memundurkan waktu tanamnya tetapi sawah tadah hujan jauh lebih tertinggal untuk mulai
tanam (sekitar 85.000 hektar mundur dari jadwal).
Perkiraan keterlambatan dalam penanaman padi
Jawa Timur
700,000
600,000
77,738
70
60
Planted Area (%)
Luas sawah yang telah dan belum ditanami pada
musim berjalan dibandingkan dengan periode
yang sama pada tahun 2013/14
40
30
20
10
109,876
500,000
50
0
29-Aug
400,000
12,802
200,000
451,707
347,684
1-Nov
17-Nov
3-Dec
19-Dec
16-Oct
1-Nov
17-Nov
3-Dec
19-Dec
60
296,433
100,000
-
Telah ditanami
Currently
planted
16-Oct
70
489,682
Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Barat
30-Sep
Jawa Tengah
574,403
Sulawesi
Selatan
Belum ditanami
Delayed
Sumatera
Selatan
Planted Area (%)
300,000
14-Sep
50
40
30
20
10
0
29-Aug
14-Sep
30-Sep
Provinisi Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami keterlambatan tanam
Grafik sebelah kiri menunjukkan luas tanam musim berjalan di provinsi-provinsi dengan lahan sawah > 500.000 hektar dan apakah ada keterlambatan dibandingkan
dengan periode yang sama (1 Sep – 19 Des) tahun 2013. Keterlambatan musim tanam yang signifikan terjadi di Jawa Tengah dan Timur. Grafik sebelah kanan
menunjukkan luas tanam saat ini dibandingkan dengan musim yang sama pada tahun 2013/2014. Pada tahapan musim tanam yang sama di tahun 2013, seluas 51%
sawah di Jawa Timur dan 61% sawah di Jawa Tengah ditanami. Sementara sampai Desember 2015, hanya 39% di Jawa Timur dan 53% di Jawa Tengah yang telah
ditanami. Hingga bulan November, luas tanam di Jawa Tengah berbeda jauh dibanding 2013/2014 tetapi secara signifikan terjadi banyak peningkatan di akhir
November sehingga pada awal Desember hampir tidak banyak selisih dibanding 2013/2014. Luas tanam di Jawa Timur masih jauh lebih sedikit, dimana hampir 110.000
hektar mengalami keterlambatan hingga saat ini. Meskipun Provinsi Nusa Tenggara Timur bukan daerah penghasil utama beras, 15.000 hektar sawahnya diperkirakan
terlambat ditanami. Angka tersebut mewakili 33% penurunan dari rata-rata luas tanamnya.
Perkiraan keterlambatan dalam penanaman padi
Provinsi
Kabupaten
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Tengah
Papua
Jawa Timur
Jawa Timur
Daerah Istimewa Yogyakarta
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Timur
Nasional
Blora
Bojonegoro
Pati
Lamongan
Wonogiri
Grobogan
Bangkalan
Sampang
Probolinggo
Rembang
Merauke
Bondowoso
Tuban
Gunung Kidul
Sragen
Gresik
Pinrang
Garut
Situbondo
Pacitan
Pamekasan
Total luas sawah (Ha)
Luas tanam MT-I
2013 (Ha)
70.794
77.272
69.114
84.648
51.273
90.863
42.771
45.643
48.855
40.349
16.219
42.801
52.395
27.970
48.243
36.454
48.720
45.893
37.003
19.378
25.872
7.777.529
41.709
42.371
37.628
51.703
33.642
74.566
31.030
34.637
27.439
15.976
12.140
22.763
31.980
15.597
36.736
21.589
34.501
32.948
15.444
8.026
15.953
3.359.233
Luas tanam MT-I
2015 (Ha)
15.239
23.594
22.852
37.673
20.690
63.050
19.556
23.596
16.742
6.667
2.897
13.812
24.068
7.810
29.667
16.739
29.826
28.640
11.154
3.833
11.932
3.907.944
Total luas
keterlambatan
tanam (Ha)
Persentase
keterlambatan tanam
26.470
18.777
14.776
14.030
12.952
11.516
11.474
11.041
10.697
9.309
9.243
8.951
7.912
7.787
7.069
4.850
4.675
4.308
4.290
4.193
4.021
N/A
Kabupaten dengan keterlambatan tanam yang luas
Tabel diatas menunjukkan kabupaten dengan lebih dari 4,000 hektar sawahnya mengalami keterlambatan tanam dibandingkan periode yang sama (1 Sep – 17 Des)
tahun 2013. Kabupaten-kabupaten ini tersebar di sentra utama produksi beras, dibutuhkan perhatian untuk memastikan tidak terjadi keterlambatan musim tanam
lebih jauh.
Pada tingkat provinsi, Jawa Timur dan Tengah merupakan provinsi yang perlu mendapat perhatian, selanjutnya Kabupaten Merauke di Papua, Gunung Kidul di
Yogyakarta, dan Pinrang di Sulawesi Selatan.
63%
44%
39%
27%
38%
15%
37%
32%
39%
58%
76%
39%
25%
50%
19%
22%
14%
13%
28%
52%
25%
N/A
Kenaikan harga bahan pangan
Kenaikan harga beras
Harga beras nasional (aktual dan perkiraan)
Harga beras domestik dibandingan dengan harga
rata-rata global
11,500
12,000
11,000
rupiah / kg
Rupiah per kg
10,000
8,000
10,500
10,000
6,000
9,500
4,000
9,000
Jul
Domestic
World
Nov-15
Jul-15
Sep-15
May-15
Jan-15
Mar-15
Nov-14
Jul-14
Sep-14
Mar-14
May-14
Jan-14
Nov-13
Jul-13
Sep-13
May-13
Jan-13
Mar-13
Sep-12
Nov-12
Jul-12
May-12
Jan-12
Mar-12
2,000
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Actual
Normal
Predicted (low)
Predicted (medium)
Feb
Mar
Predicted (high)
Harga beras yang terus naik
Harga rata-rata eceran di tingkat nasional untuk kualitas beras menengah terus mengalami kenaikan. Harga tertinggi yang tercatat sebesar Rp. 10.673 per kg di
bulan Desember. Ini merupakan kenaikan harga bulanan berturut-turut selama tujuh bulan terakhir. Kenaikan harga beras sudah mencapai 5,2% sejak bulan
Agustus. Normalnya (berdasarkan inflasi saat ini dan faktor-faktor musiman), kenaikan dari Agustus sampai Desember diperkirakan hanya 1,3%. Kenaikan harga
yang signifikan menunjukkan kurangnya persediaan beras akibat kekeringan. Namun demikian, kenaikan harga dua bulan terakhir sejalan dengan ekspektasi
yang menyebutkan impor ditambah akibat tingginya harga beras.
Disamping kecenderungan kenaikan harga tersebut, harga saat ini juga tergolong relatif tinggi, meskipun telah memperhitungkan nilai inflasi. Dengan
memperhitungkan inflasi dan faktor musiman, harga bulan November lebih tinggi sebesar 9,2% dari harga rata-rata empat tahun terakhir. Lebih jauh lagi, harga
domestik jauh lebih tinggi diatas harga dunia yaitu sekitar 80% (setelah memasukkan faktor kualitas, pemasaran dan biaya transportasi).
Hingga beberapa bulan mendatang, jika harga mengikuti kecenderungan normal dan inflasi tetap pada laju tahunan rata-ratanya sekarang yaitu 3,4%, harga
eceran rata-rata nasional diperkirakan mencapai puncaknya pada RP. 11.144 per kg di bulan Februari diikuti penurunan di bulan Maret. Namun demikian, jika
keterlambatan tanam yang diikuti dengan keterlambatan panen tidak ditanggulangi, maka kenaikan harga diperkirakan berlanjut hingga bulan Maret.
Prediksi cuaca
Prediksi anomali curah hujan bulan Januari-Maret
2016
Peta-peta ini dibuat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
(BMKG). Peta-peta ini menunjukkan prediksi anomali curah hujan,
dimana warna kuning menunjukkan curah hujan normal dan oranye
sampai merah tua menunjukkan curah hujan dibawah normal.
Kondisi bawah normal diprediksi akan bertahan untuk sebagian besar
Indonesia, terkecuali Kalimantan, Sulawesi dan sebagian Jawa, Bali,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Pada bulan
Februari, curah hujan atas normal diprediksi akan terjadi di sebagian
besar Indonesia. Setelah periode kering yang signifikan ini, resiko
banjir terindikasi meningkat sehingga pemantauan diperlukan.
Peluang curah hujan > 200 mm pada bulan JanuariMaret 2016
Peta-peta ini juga dibuat oleh BMKG dan menampilkan peluang hujan
bulanan > 200 mm. Warna merah tua menunjukkan peluang sangat
tinggi, sementara biru tua peluangnya rendah sedangkan putih
menunjukkan tidak ada peluang terjadi hujan > 200 mm. Dalam
buletin sebelumnya, peta BMKG menyajikan prakiraan peluang hujan >
100 mm. Namun pada musim hujan angka tersebut kurang mewakili.
Pada bulan Januari, curah hujan yang rendah diprediksi terjadi di
Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur dan sebagian
besar dari Maluku. Pada bulan Februari, BMKG memperkirakan NTT
sangat berpeluang mendapat hujan > 200 mm. Akan tetapi, pada bulan
Maret, tingkat curah hujan akan menurun di sebagian besar Bali, NTB,
NTT dan sebagian dari Maluku yang menunjukkan singkatnya dan
adanya keterlambatan musim hujan di daerah-daerah tersebut.
Metodologi
Peta dalam buletin ini sebagian besar dibuat berdasarkan data
satelit, yang diproses dan digunakan untuk mendapatkan berbagai
indikator terkait kekeringan.Anomali curah hujan adalah ukuran
simpangan curah hujan dalam suatu periode dibandingkan dengan
rata-rata. Data hujan diperoleh dari University of California, Santa
Barbara dan dari data tersebut dihitung anomalinya. Penentuan
ambang batas (thresholds) anomali mengikuti protokol standar yang
ada.
Perkiraan waktu tanam ditentukan dengan menggunakan data
MODIS yang diolah menggunakan software TIMESAT – suatu program
untuk menganalisa data seri waktu dari sensor satelit. TIMESAT
melakukan klasifikasi per piksel dari citra satelit untuk menentukan
apakah sudah dimulai penanaman atau tidak. Proses ini dilakukan di
seluruh Indonesia selama beberapa tahun untuk mengevaluasi
penanaman saat ini terhadap tahun tahun sebelumnya, termasuk
2013/2014 sebagai tolak ukur untuk tahun normal saat ini.
TRMM adalah data hujan global dengan resolusi spasial dan
temporal tinggi yang diperoleh secara periodik untuk seluruh wilayah
Indonesia dari US National Aeronautic and Space Administration
(NASA). Data ini kemudian diproses untuk menentukan hari sejak
turun hujan terakhir (hari dimana tercatat hujan turun sebesar 0,5
mm). Setiap pixel (27,5 km x 27,5 km) diberi nilai jumlah hari sejak
turun hujan terakhir. Tingkat kekeringan ditentukan dengan
menggunakan klasifikasi standar, yang juga digunakan oleh BMKG.
Identifikasi kabupaten dengan resiko kekeringan yang tinggi
dihasilkan dari fungsi paparan kekeringan dengan menggunakan VHI
dan kerentanan dengan menggunakan data kemiskinan. Perkiraan
populasi yang terkena dampak dan membutuhkan bantuan dihitung
dengan perkiraan kemiskinan pada daerah terdampak dan dari
rumah tangga miskin yang tergantung pada produksi tanaman
pangan dengan menggunakan data SUSENAS dari tahun 2014.
Indeks Kesehatan Vegetasi, juga dikenal dengan VegetationCondition-Temperature Index, berdasarkan kombinasi Vegetation
Condition Index (VCI) dan Temperature Condition Index (TCI). Di
Indonesia, VCI disusun dari Enhanced Vegetation Index (EVI). EVI
lebih dipilih dibanding NDVI karena dianggap lebih sensitif terhadap
perubahan di wilayah dengan biomasa tinggi, sehingga mengurangi
pengaruh atmosfir dan mengkoreksi tutupan sinyal akibat kanopi
vegetasi. VHI cukup baik untuk digunakan sebagai proksi data untuk
pemantauan kesehatan vegetasi, kekeringan, kondisi temperatur, dll.
Data lahan pertanian tadah hujan diperoleh dari citra satelit dan
kemudian diverifikasi oleh staff Kementerian Pertanian pada tingkat
kabupaten di Indonesia. Plot lahan sawah juga diperoleh melalui
citra satelit – dari satelit IKONOS yang sekarang sudah tidak
beroperasi.
Kontributor
Buletin ini dihasilkan oleh Kelompok Kerja Teknis yang terdiri dari
Badan Ketahanan Pangan (BKP), Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (LAPAN), dan beberapa kementerian/lembaga lainnya.
Buletin ini mendapat arahan dari Professor Rizaldi Boer dari Institut
Pertanian Bogor (IPB). World Food Programme (WFP) dan Food
Agriculture Organization (FAO) memberikan dukungan teknis
termasuk analisa data dan peta.
Seluruh isi buletin ini berdasarkan ketersediaan data pada saat ini.
Mengingat kekeringan merupakan proses yang dinamis, kondisi saat
ini mungkin berbeda dari apa yang digambarkan di dalam bulletin ini.
Respons
Rekomendasi
1. Kementerian sosial telah menambah alokasi bantuan program
Beras untuk Kesejahteraan Keluarga (Rastra) sebanyak dua kali
untuk penyaluran bulan Oktober dan November. Selain itu
pemerintah juga mengalokasikan cadangan beras sebesar 100
ton beras per kabupaten/kota dan 200 ton di tiap provinsi
yang dapat digunakan pada kejadian tanggap darurat.
1. Untuk membantu rumah tangga rentan dalam menghadapi
situasi menurunnya pendapatan bersamaan dengan naiknya
harga pangan, pemerintah Indonesia memberikan bantuan
tunai kepada rumah tangga miskin yang mata pencahariannya
tergantung pada produksi tanaman pangan kepada 1,2 juta
penduduk yang tersebar di 38 kabupaten rentan. Koordinasi
antar kementerian/lembaga pemerintah termasuk
Kementerian Pertanian, Kementerian Sosial, TNP2K sangat
dibutuhkan untuk memperbaiki data sasaran dan
mengidentifikasi rumah tangga sasaran.
2. Pemerintah telah mengalokasikan Rp. 3,5 trilyun (US$ 258
juta) untuk cadangan beras dan stabilisasi harga bahan pokok.
Untuk menambah cadangan beras, pemerintah telah
mengimpor sebanyak 1,5 juta ton secara bertahap hingga
Maret 2016, dimana 1 juta ton dari Vietnam dan 500,000 ton
dari Thailand
3. Pemerintah juga mengalokasikan Rp. 385 milyar (US$ 28,3
juta) untuk pencegahan dan pengelolaan kebakaran hutan.
Badan Restorasi Ekosistem Gambut (BREG) telah dibentuk
untuk mengkaji ijin konsesi baik yang sudah dikeluarkan, dan
menghentikan sementara ijin pembukaan lahan gambut baru,
serta merestorasi 2 juta hektar lahan gambut dalam 5 tahun
mendatang.
4. Kementerian Kesehatan telah melakukan Survei Gizi Nasional
pada balita. Hasil survei sementara menunjukkan bahwa
pemberian makanan tambahan sangat dibutuhkan untuk
kabupaten-kabupaten memiliki angka kurang gizi akut
(wasting) lebih dari 15 persen (kategori sangat buruk). Hasil
awal survei tersebut akan dipublikasikan pada bulan Februari.
2. Keterlambatan tanam memilki dampak yang signifikan pada
tingkat nasional maupun rumah tangga, diantaranya
mempengaruhi total produksi serta pendapatan petani. Untuk
mengatasi keterlambatan signifikan di sentra utama produksi
seperti di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, Kementerian
Pertanian perlu bekerja langsung dengan petani dalam
distribusi benih, pupuk, dan perbaikan irigasi. Peningkatkan
pelaksanaan program Upaya Khusus (UPSUS) untuk
peningkatan produksi Padi, Jagung dan Kedelai merupakan
salah satu upaya untuk mempercepat musim tanam.
Kementerian Pertanian perlu melakukan pemantauan
perkembangan kondisi tanaman saat ini dan mempersiapkan
diri apabila ada penundaan panen. Perencanaan untuk
mundurnya musim tanam kedua harus dilakukan untuk
menjaga tanaman agar tidak tumbuh pada saat puncak musim
kemarau.
3. Dengan kondisi lahan kering dan perkiraan tingginya curah
hujan pada beberapa bulan mendatang, Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) diharapkan meningkatkan
kesiapsiagaan dalam pemantauan resiko banjir.
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan
Badan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian | Jl. RM Harsono No. 3 Ragunan | Jakarta 12550
T. 62-21 7816652 | F. 62-21 7806938
Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Jl. Kalisari No. 8, Pekayon, Pasar Rebo | Jakarta 13710
T. 62-21 8710065 | Fax. 62-21 8722733
United Nations World Food Programme
Wisma Keiai 9th floor
Jl. Jend Sudirman Kav. 3 | Jakarta 10220
T. 62-21 5709004 | F. 62-21 5709001 | E. [email protected]
Food and Agriculture Organization of the United Nations
Menara Thamrin Building 7th floor
Jl. MH. Thamrin Kav. 3 | 10250 Jakarta
T. 62-29802300 | F. 62-3900282 | E. [email protected]
Fly UP