...

Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang
Ilmu Pertanian Vol. 12 No.2, 2005 : 117 - 124
KEMUNGKINAN PENINGKATAN HASIL JAGUNG
DENGAN PEMENDEKAN BATANG
POSSIBILITY OF CORN SEED YIELD INCREASE BY STEM HEIGHT REDUCTION
Didik Indradewa1), Dody Kastono2), dan Yusman Soraya2)
ABSTRACT
High yielding varieties of corn usually taller than local varieties. A mechanical
simulation experiment to study the possibility of increasing corn seed yield through stem height
reduction has been done in Kulonprogo.
The experiment was done on Bisi 2 hybrid corn with stem height reduction as treatment
consisted of: 0 % (no stem height reduction as control), 10, 20, 30, 40, and 50 % stem height
reduction on every internode. Treatments was arranged in RCBD with three blocks as
replication. Measurements were done for plant height before and after treatments imposed,
cumulative leaves area indices on every leaf strata, light distribution in the canopy, dry weight
of cut stem, and dry matter distribution of cobs. From the data observed, the possibility of
increasing seed yield by stem height reduction was calculated.
Result of the experiment showed that: although stem internodes reduction did not affect
leaves area indices, the treatments increased light extinction due to stem height reduction.
Maximum calculated seed yield increased due to stem reduction was only 4.15 % under 50 %
of stem internode reduction treatment.
Key words :corn,height reduction, light distribution
INTISARI
Berbeda dengan beberapa jenis tanaman lain, jagung varietas unggul mempunyai batang
lebih tinggi dibanding dengan jagung varietas lokal, sehingga diduga boros asimilat. Suatu
penelitian simulasi secara mekanik telah dilakukan dengan tujuan memperhitungkan
kemungkinan peningkatan hasil biji jagung varietas unggul dengan memperpendek batang
tanaman.
Penelitian dilakukan menggunakan jagung hibrida Bisi 2 yang telah berbunga di daerah
Kulonprogo, dengan perlakuan persentase panjang batang tiap ruas yang dipotong terdiri dari 0 %
(tidak dipotong sebagai kontrol), tiap ruas dipotong sepanjang 10, 20, 30, 40, dan 50 %. Perlakuan
diatur dengan tata letak acak kelompok, tiap perlakuan diulang tiga kali. Pengamatan dilakukan
terhadap tinggi tanaman sebelum dan sesudah pemberian perlakuan, indeks luas daun kumulatif
tiap strata daun, distribusi cahaya dalam tajuk, bobot kering hasil potongan, dan distribusi bahan
kering pada tongkol. Dari data yang diperoleh diperhitungkan kemungkinan peningkatan hasil
biji pada tiap perlakuan.
1)
2)
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta.
Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta.
118
Ilmu Pertanian
Vol 12 No.2
Hasil penelitian menunjukkan meskipun pemotongan batang tidak mengubah indeks luas
daun, pemotongan yang membuat batang lebih pendek menyebabkan cahaya lebih cepat teredam,
sehingga dicapai titik kompensasi cahaya pada indeks luas daun kumulatif lebih kecil. Menurut
perhitungan, peningkatan hasil biji yang berasal dari pemendekan batang maksimal hanya
mencapai 4,15 %, terjadi pada tanaman yang dipendekkan tiap ruas batangnya sepanjang 50 %.
Kata kunci: jagung, pemendekan batang, dan distribusi cahaya.
PENDAHULUAN
Perkembangan Penelitian untuk menciptakan tanaman unggul dilakukan dengan
mempercepat waktu produksi dengan cara mengurangi umur dan tinggi tanaman dari
tetuanya. Tanaman kelapa hibrida batangnya lebih pendek, namun sudah berbuah dengan
buah yang lebih besar dan produktivitasnya lebih tinggi dari kelapa biasa. Penelitianpenelitian di IRRI menunjukkan bahwa varietas padi yang memiliki potensi hasil tinggi
mempunyai ciri-ciri batang tidak terlalu tinggi tetapi kokoh kuat, ruas batang relatif
pendek, sedangkan varietas dengan potensi hasil rendah mempunyai ciri berbatang tinggi,
dengan ruas-ruas yang panjang.
Perkembangan jagung hibrida agak berbeda dibanding tanaman lain. Jagung hibrida
mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun 1983 yaitu dengan pelepasan jagung hibrida C1. Pada umumnya jagung hibrida terbaik memberikan hasil lebih tinggi daripada jagung
varietas bersari bebas (Sudjana et al., 1991). Penelitian menunjukkan adanya korelasi
positif antara jagung yang berbatang tinggi dan hasil. Budiman dan Sujiprihati (2000)
dalam penelitiannya mendapatkan bahwa jagung hibrida H-10, H-4, dan H-1 dengan
tinggi tanaman berturut-turut 155,03 cm, 185,2 cm, 192,45 cm menghasilkan biji jagung
yang lebih banyak dari Arjuna dengan tinggi 174,62 cm, namun lebih rendah dari BISI-2
dengan tinggi 184,18 cm.
Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi proses fotosintesis. Serapan
cahaya matahari oleh tajuk tanaman merupakan faktor penting yang menentukan
fotosintesis untuk menghasilkan asimilat bagi pembentukan hasil akhir berupa biji.
Cahaya matahari yang diserap tajuk tanaman proporsional dengan total luas lahan yang
dinaungi oleh tajuk tanaman.(Rohrig et al., 1999). Reta-Sanchez dan Fowler (2002)
menyatakan bahwa pengurangan tinggi tanaman dan cabang yang pendek diperhitungkan
meningkatkan penetrasi cahaya di dalam tajuk. Ini terjadi karena susunan daun di dalam
tajuk lebih menentukan serapan cahaya dibanding indeks luas daun. Jumlah, sebaran dan
sudut daun pada suatu tajuk tanaman menentukan serapan dan sebaran cahaya matahari
sehingga mempengaruhi fotosintesis dan hasil tanaman. Faktor antara lain populasi, jarak
antar barisan dan bentuk tajuk akan mempengaruhi sebaran daun (Stewart et al., 2003).
Sebaran daun dalam tajuk mengakibatkan cahaya yang diterima setiap helai daun tidak
sama. Semakin dekat dengan permukaan tanah semakin sedikit cahaya yang diterima oleh
daun, ini adalah akibat pemadaman cahaya yang dilakukan oleh lapisan daun yang lebih
atas. Jika lapisan tajuk bagian bawah menerima cahaya di bawah titik kompensasi
cahayanya maka daun ini akan bersifat parasit terhadap tanaman itu sendiri, karena
karbohidrat yang dihasilkan lebih kecil dari yang digunakan untuk pemeliharaan daun
tersebut (Sitompul dan Guritno, 1995). Kompensasi cahaya dan kejenuhan cahaya dalam
Indradewa, et al: Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang
119
beberapa kelompok tanaman (Larcher, 1973 cit. Bannister, 1980) antara lain C-4 titik
kompensasi 1-3 k.lux dengan kejenuhan lerbih dari 80 k.lux, tipe C-3 titik kompensasi 12 k.lux dengan kejenuhan 30-80 k.lux, tipe sun plant titik kompensasi 1-2 k.lux dengan
kejenuhan 50-80 k.lux, tipe shade plant titik kompensasi 0,2-0,53 k.lux dengan kejenuhan
5-10 k.lux.
Peredaman cahaya dalam suatu populasi tanaman berdasarkan hukum LambertBeer, yaitu: I = Io.e-k.ILD dimana I = intensitas cahaya matahari pada lapisan atau daun
tertentu; Io = intensitas cahaya di atas tajuk tanaman; e = logaritma alami; k = koefisien
peredaman cahaya; ILD = indeks luas daun kumulatif (Gardner et al., 1985). Beberapa
percobaan dihubungkan dengan peredaman cahaya menunjukkan bahwa potensial
fotosintesis relatif daun-daun jagung pada sepertiga bagian atas dari tajuk dua kali lebih
tinggi dari daun-daun tengah, dan lima kali lebih tinggi dari daun-daun di sepertiga
bagian terbawah.
Persaingan antar tanaman menyebabkan masing-masing tanaman harus tumbuh
lebih tinggi agar memperoleh cahaya lebih banyak (Salisbury dan Ross, 1995).
Pemanjangan batang pada tanaman sering menguntungkan dalam persaingan
memperebutkan cahaya matahari, tetapi tidak demikian halnya pada pertanaman bebijian
yang seragam. Peningkatan hasil biji diperoleh pada kultivar kerdil atau semi-kerdil yang
mengalokasikan lebih banyak fotosintat ke biji daripada ke batang. Keuntungan lain ialah
kultivar ini tidak akan rebah dibandingkan kultivar yang jangkung terutama jika dipupuk
banyak nitrogen (Salisbury dan Ross, 1995).
Hasil biji yang rendah dari kebanyakan varietas jagung tropik disebabkan oleh
pembagian bahan kering total ke biji yang rendah (Goldsworthy dan Colegrove cit.
Fischer dan Palmer, 1995). Aliran relatif dan remobilisasi C dan N ke biji selama
pengisian biji tergantung pada nisbah sumber/lubuk tertentu pada tanaman. Nisbah
sumber/lubuk tergantung pada genotipe dan kombinasi lingkungan yang dapat diubah
oleh faktor manajemen tanaman seperti waktu tanam, kerapatan populasi, unsur hara, air,
dan lain-lain.
Indeks Panen kebanyakan varietas tanaman padi-padian modern lebih besar
daripada tetua-tetuanya dengan kata lain mereka menggunakan asimilatnya lebih banyak
dan mungkin juga lebih banyak waktunya, untuk produksi bijian dan seluruhnya lebih
sedikit untuk produksi batang. Dapat diharapkan bahwa usaha untuk memperpendek varietasvarietas jagung tropik yang tinggi dapat memperbaiki keseimbangan antara pertumbuhan
vegetatif dan pertumbuhan bakal tongkol, mengurangi penimbunan gula labil dalam batang
setelah antesis dan mengakibatkan lebih banyak biji (Goldsworthy, 1966).
Apakah pemendekan batang dapat meningkatkan hasil biji jagung masih perlu
dikaji lebih jauh. Pada tahap awal perlu dilakukan percobaan simulasi mekanik sebelum
dilakukan pada tahap pemuliaan.
BAHAN DAN METODE
Bahan penelitian yang digunakan adalah tanaman jagung hibrida varietas BISI-2 yang
telah mencapai fase pertumbuhan generatif atau sudah berbunga. Alat yang digunakan yaitu:
gunting potong, pipa pralon, light meter, timbangan, leaf areameter, dan oven.
120
Ilmu Pertanian
Vol 12 No.2
Penelitian dilakukan pada bulan September 2002 di daerah Kulon Progo Yogyakarta.
Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok yang terdiri atas 6 perlakuan dan 3 hari
pengamatan blok. Perlakuan adalah pengeratan batang tanaman jagung. Pengeratan dilakukan di
setiap ruas dengan panjang pengeratan berdasarkan persentase dari panjang ruas yang ada yaitu:
0, 10, 20, 30, 40, dan 50 %. Digunakan 12 tanaman yang dikenai perlakuan dan 2 sampel
tanaman yang diamati dalam tiap blok untuk satu perlakuan, sehingga total unit percobaan yang
diperlukan adalah 12 x 6 x 3 = 216 tanaman.
Pengamatan dilakukan terhadap: intensitas cahaya matahari di atas populasi tanaman
jagung, intensitas cahaya matahari pada ketinggian tertentu pada tanaman jagung yaitu di bawah
daun ke-1, luas daun untuk setiap daun ke-I dengan leaf areameter di laboratorium, berat kering
potongan ditimbang setelah dioven pada suhu 80 0C selama 2 x 24 jam setelah beratnya
konstan, berat kering daun ditimbang setelah dioven selama 2 x 24 jam setelah beratnya
konstan, berat kering batang ditimbang setelah dioven selama 2 x 24 jam setelah beratnya
konstan, dan persentase berat klobot, janggel, dan biji untuk jenis jagung hibrida tersebut. Data
yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, bila ada beda nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak
Berganda Duncan (DMRT), masing-masing uji statistik dilakukan pada aras 5 %.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keseragaman tanaman percobaan dapat diketahui dari tinggi tanaman sebelum dilakukan
pemotongan dan indeks luas daun (ILD). Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
tinggi tanaman sebelum pemotongan dan ILD, dengan demikian tanaman yang digunakan
relatif seragam. Indeks luas daun tanaman yang digunakan dalam penelitian bervariasi antara
3,3 sampai 3,6. Elings (2000) mendapatkan indeks luas daun 11 kultivar jagung tropika
bervariasi dari 1,50 sampai dengan 5,01.
Pemotongan batang menyebabkan perbedaan tinggi tanaman secara nyata (Tabel 1).
Semakin banyak persentase batang yang dipotong, menyebabkan tanaman semakin pendek.
Dengan pemotongan batang sepanjang 50 % ruas, tinggi tanaman setelah pemotongan hanya
mencapai 50 % tinggi tanaman normal.
Tabel 1. Tinggi tanaman (cm) dan Indeks Luas Daun (ILD).
Pemotongan
Ruas (% tinggi)
0
10
20
30
40
50
Tinggi Tanaman (cm)
Sebelum Pemotongan Setelah Pemotongan
196,9 a
194,8 a
200,6 a
177,2 b
195,5 a
159,3 c
195,9 a
138,8 d
198,7 a
119,2 e
196,9 a
97,7 f
ILD
3,468 a
3,612 a
3,512 a
3,339 a
3,489 a
3,402 a
Keterangan: Angka dalam kolom yang sama jika diikuti huruf yang sama, menunjukkan tidak ada beda
nyata dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf uji 5 %.
Rerata ILD pada penelitian ini yaitu 3,47. Mohajir (1988) menunjukkan bahwa ILD
jagung yang lebih besar dari 3,0 maka 95 % cahaya matahari diserap. Ditambahkan oleh
Indradewa, et al: Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang
121
Goldsworthy cit. Fischer dan Palmer (1995), bahwa indeks luas daun optimum untuk hasil biji
jauh lebih rendah daripada untuk laju pertumbuhan tanaman maksimum, bernilai antara 2,5
sampai 5,0. Jika indeks luas daun lebih besar daripada nilai tersebut, tambahan bahan kering
yang dihasilkan terutama tertimbun dalam batang.
Tabel 2 menunjukkan bahwa bobot kering batang tanaman yang digunakan dalam
percobaan relatif seragam, tidak ada beda nyata bobot kering batang sebelum dilakukan
pemotongan. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bobot kering potongan
batang dan bobot kering batang setelah dilakukan pemotongan. Semakin besar persentase
pemotongan batang, semakin berat bobot kering potongan dan sebaliknya semakin ringan bobot
kering sisa batang. Bobot kering potongan batang selanjutnya digunakan sebagai bahan
perhitungan kemungkinan peningkatan hasil biji.
Distribusi cahaya dalam tajuk digambarkan dengan hubungan antara indeks luas daun
kumulatif tiap lapisan nomor daun dengan intensitas cahaya yang diterima daun tersebut
dinyatakan dalam persen terhadap intensitas cahaya di bagian atas tajuk. Hubungan tersebut
menurut Monsi-Saeki cit. Gardner et al. (1985) mengikuti hukum Beer-Lambert yaitu dengan
pola eksponensial.
Persentase Intensitas Cahaya (Ii/Io)
100
Kontrol
90
Poly. (Kontrol)
80
Poly. (10%)
70
Poly. (20%)
60
Poly. (30%)
Poly. (40%)
50
Poly. (50%)
40
30
20
10
0
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
Indeks Luas Daun Kumulatif
Gambar 1. Peredaman cahaya dalam tajuk tanaman jagung pada tanaman berbeda
Hasil penelitian ini ternyata agak berbeda. Pada bagian atas tajuk, cahaya teredam
lambat saat menuruni tajuk, di bagian tengah tajuk menurun dengan tajam dan kembali
melambat pada bagian bawah tajuk (Gambar 1). Dengan demikian hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa peredaman cahaya tidak mengikuti fungsi eksponensial, tetapi
mengikuti pola fungsi pangkat tiga sampai ILD 3,0 yaitu: Ii/Io = a ILD3 + b ILD2 + c ILD + d.
Khusus untuk perlakuan pemotongan batang 40 dan 50 %, peredaman intensitas cahaya di
bagian atas tajuk dapat juga menggunakan fungsi eksponensial, namun fungsi pangkat tiga
tetap lebih sesuai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemendekan batang menyebabkan
daun tersusun rapat sehingga cahaya yang diteruskan lebih sedikit. Berbeda dengan itu RetaSanchez dan Fowler (2002) menyatakan bahwa kombinasi perubahan bentuk daun,
122
Ilmu Pertanian
Vol 12 No.2
pengurangan tinggi tanaman dan cabang yang pendek memberikan penerusan cahaya lebih
banyak di dalam tajuk tanaman kapas.
Dengan menggunakan data intensitas cahaya dalam satuan Lux seperti dalam Tabel 2
dapat diketahui bahwa pada perlakuan berbeda titik kompensasi cahaya dicapai pada lapisan
daun berbeda pula. Menurut Banister (1980) titik kompensasi cahaya tanaman C4 sekitar 1-3
k.lux. Bila digunakan angka 3 k.lux maka tanaman kontrol dan tanaman yang dipotong
batangnya sampai 30 % tidak ada daun yang mencapai titik kompensasi cahaya. Berbeda
dengan itu tanaman yang dipotong batangnya 40-50 %, daun paling bawah mendapat cahaya di
bawah titik kompensasi.
Tabel 2.
Daun
ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
PICT
PICK
Intensitas cahaya (lux) pada berbagai lapisan tajuk jagung dengan tinggi tanaman
berbeda.
Kontrol (0)
94.960 a
92.682 a
93.713 a
82.916 a
66.036 a
58..042 a
31.693 a
19.011 a
8.233 a
4.511 a
4.086 a
586,54
100,00
Tinggi pemotongan ruas (%)
10
20
30
91.626,7 a 100.203 a 94.273 a
88.062,9 a
92.808 a
96.082 a
91.029,4 a
95.114 b 84.426 c
85.289,1 a
85.559 a
81.143 a
65.143,4 a
63.636 ab 52.495 bc
45.109,1 b
48.711 b 42.152 b
28.801,2 a
32.379 a
14.568 b
16.448,4 a
15.679 a
6.560 b
6.996,1 a
6.279 a
6.460 a
5.682,6 a
5.955 a
4.756 a
4.120,4 a
4.442 a
3.313 ab
577,01
549,64
514,00
98,38
93,71
87,63
40
98.660 a
96.039 a
85.952 c
83.257 a
46.076 cd
28.959 c
9.647 c
7.178 b
5.576 a
3.903 a
2.781 bc
446,78
76,17
50
97.220 a
93.047 a
82.885 c
79.321 a
27.265 d
9.232 d
8.467 c
7.571 b
6.453 a
4.185 a
2.585 c
422,9
73,30
Keterangan: Angka dalam baris diikuti huruf sama, menunjukkan tidak ada beda nyata dengan Uji Jarak
Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %. Perhitungan intensitas cahaya total tidak
mengikutkan yang di bawah titik kompensasi cahaya. PICT: persen intensitas cahaya total.
PICK: persen intensitas cahaya terhadap kontrol.
Tabel 3. Bobot kering awal, potongan dan batang akhir (g).
Pemotongan
Ruas (% tinggi)
0
10
20
30
40
50
Berat batang
awal (g)
80,252 a
79,265 a
79,427 a
81,135 a
81,260 a
80,437 a
Berat potongan
batang (g)
0,000 a
8,860 b
15,170 c
22,857 d
31,543 e
39,307 f
Berat potongan/
berat awal (%)
0,00 a
11,80 b
19,10 c
28,18 d
38,81 e
48,81 f
Berat batang
akhir
80,252 a
70,405 b
64,257 c
58,278 d
49,717 e
41,130 f
Keterangan : Angka dalam satu kolom yang diikuti huruf yang sama, menunjukkan tidak ada beda nyata
dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf uji 5 %.
Indradewa, et al: Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang
123
Tabel 3 menunjukkan bobot batang awal, bobot potongan batang dan bobot batang
setelah pemotongan. Apabila dinyatakan dalam persentase bobot potongan batang yang hilang,
seperti dalam Tabel 3, dapat diketahui bahwa semakin besar persentase batang yang dipotong,
semakin besar persentase bobot batang yang hilang. Pada pemotongan batang paling banyak
yaitu 50 %, panjang tiap ruas, bobot batang yang hilang juga hampir mencapai 50 %.
Pada saat panen di lahan yang sama diambil sampel jagung sebanyak 20 tongkol secara
acak untuk dihitung persentase berat kering biji, klobot, dan janggel dari berat totalnya. Dari
hasil perhitungan menunjukkan bahwa berat kering pada biji sebesar 123.016 g/tongkol atau
68,86 %; klobot 31.288 g/tongkol atau 17,53 %; janggel 24.438 g/tongkol atau 13,62 % dari
total berat tongkol.
Apabila potongan batang dapat dikonversi langsung menjadi tongkol, maka yang dapat
dipakai untuk membentuk biji adalah 68,85 %. Namun diduga yang terjadi adalah asimilat
menyebar ke seluruh bagian tanaman termasuk kembali ke batang yang dapat menjadi lebih
besar. Sebagian yang langsung membentuk biji dapat diperhitungkan berdasarkan indeks panen.
Indeks panen jagung berada di sekitar angka 0,39, dengan demikian bobot tambahan biji adalah
bobot potongan batang dikalikan indeks panen. Tambahan bobot biji semakin besar dengan
semakin panjangnya bagian batang yang dipotong. Dengan perkataan lain semakin pendek
tanaman, semakin besar tambahan bobot biji. Dengan konversi langsung maka tambahan bobot
biji mencapai 10,33 g.
Pemotongan batang jagung seperti dalam Gambar 1 dan Tabel 2 menyebabkan
perubahan distribusi cahaya di dalam tajuk. Semakin panjang pemotongan batang, cahaya
semakin cepat habis karena letak daun yang lebih berdekatan. Seperti dalam Tabel 2
diperhitungkan persentase cahaya diserap daun total menjadi semakin rendah dengan makin
panjangnya pemotongan. Dengan demikian fotosintat yang dihasilkan akan semakin rendah dan
tidak seluruh fotosintat yang seharusnya untuk batang dapat diubah menjadi biji. Menurut
perhitungan bobot biji yang dapat dibentuk maksimal 11,05 g pada perlakuan pemotongan ruas
batang sepanjang 50 %.
Untuk membentuk 1 g biji jagung tidak dapat menggunakan 1 g batang, karena
komposisi yang berbeda. Menurut Anonim (2004) secara garis besar biji jagung terdiri
karbohidrat dan lain-lain sebesar 86,5 %, protein 9,1 %, dan minyak 4,4 %. Untuk membentuk 1
g protein diperlukan 2 g karbohidrat dan untuk membentuk 1 g minyak diperlukan 3 g
karbohidrat. Atas dasar tersebut, maka efisiensi perubahan adalah 92,5 %. Pada Tabel 4
disajikan hasil perhitungan bobot biji yang mungkin dicapai dengan mempertimbangkan
komposisinya. Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa maksimal tambahan bobot biji hanya
sebesar 10,22 %, sehingga bobot biji pada tanaman yang kuat jadi pendek meningkat dari
246,03 g pada tanaman kontrol hanya menjadi 256,2 g atau meningkat 4,15 %.
Hasil penelitian simulasi mekanik ini berbeda dengan hasil penelitian Fischer dan Palmer
(1996) yang mendapatkan bahwa pengurangan kebutuhan asimilat oleh batang dan malai bunga
jantan pada tanaman jagung yang lebih pendek telah meningkatkan bobot kering tongkol pada
saat pembungaan. Untuk peningkatan 1 kg/ha tongkol saat pembungaan diperoleh peningkatan
34 kg/ha hasil biji.
124
Ilmu Pertanian
Vol 12 No.2
Tabel 4. Tambahan bobot biji akibat pemendekan batang.
Tambahan bobot biji (g)
Pemotongan
batang
Langsung
Fotosintesis
Komposisi
0
10
20
30
40
50
0,00
3,46
5,92
8,92
12,30
15,33
0,00
3,40
5,55
7,82
9,23
11,05
0,00
3,15
5,13
7,23
8,54
10,22
Tambahan
Bobot Biji
(%)
0,00
1,28
2,09
2,94
3,47
4,15
Bobot biji
akhir (g)
246,03
249,18
251,16
253,26
254,57
256,25
Peningkatan hasil biji sebesar 4,15 % pada penelitian ini tampaknya terlalu kecil untuk
dicoba melalui pemuliaan tanaman yang memerlukan waktu dan beaya besar. Bila diingat hasil
tanaman jagung bukan hanya terletak pada bijinya tetapi juga batang dan daunnya yang dapat
digunakan sebagai pakan ternak. Tabel 3 menunjukkan bahwa kehilangan bobot batang pada
tanaman yang diperpendek sampai 50 % tingginya adalah sebesar 50 % bobot batangnya.
KESIMPULAN
Pemendekan batang jagung menyebabkan peredaman cahaya lebih cepat. Konversi
bahan kering dari pemendekan batang diperhitungkan maksimal dapat meningkatkan hasil
sebesar 4,15 % pada tanaman yang 50 % lebih pendek dari tanaman normal.
DAFTAR PUSTAKA
Bannister, P. 1980. Introduction to Physiological Plant Ecology. Black Well Scientific
Publications. Melbourne. 273 hal.
Budiman, L.F. dan S. Sujiprihati. 2000. Evaluasi Hasil dan Pendugaan Nilai Heterosis pada
Delapan Jagung Hibrida dalam: Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Bioteknologi
Pertanian Departemen Pertanian Jakarta. Hal. 320-327.
Fischer, K.S. dan A.F.E. Palmer. 1996. Jagung Tropik. Dalam: Fisiologi Tanaman Budidaya
Tropik Editor: P.R. Goldsworthy dan N.M. Fischer, terjemahan: Tohari. GMU Press. Hal.
281-319.
Gardner, F.P. Pearce, R.B. dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerjemah:
Herawati S. UI Press. 428 hal.
Goldsworthy, P.R. 1996. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman; Fase Reproduktif. Dalam:
Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik Editor: P.R. Goldsworthy dan N.M. Fischer,
terjemahan: Tohari. GMU Press. Hal 281-319.
Salisbury, F.B. dan Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan II. Ed. 4. Terjemahan: D.R. Lukman
dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung. 173 hal.
Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. GMU Press. 412 hal.
Sudjana, A., A. Rifin, dan M. Sudjadi. 1991. Jagung. Bul. Teknik no.4. Balai Penelitian
Tanaman Pangan. Bogor. 42 hal.
Indradewa, et al: Kemungkinan peningkatan hasil jagung dengan pemendekan batang
125
Reta-Sanchez, D. G. and J. L. Fowler. 2002. Canopy Light Environment and Yield or
Narrow-Row Cotton as Affected by Canopy Architecture. Agron J. 94:1317-1323.
Rohrig, M., H. Sutzel and C. Alt. 1999. A Three-Dimensional Approach to Modelling
Light Interception in Heterogenous Canopies. Agron. J. 91:1024-1032.
Stewart, D.W., C. Costa, L. M. Dwyer, D. L. Smith, R. I. Hamilton and B. L. Ma. 2003.
Canopy Structure, Light Interception, and Photosynthesis in Maize. Agron. J.
95:1465-1474.
Elings, A. 2000. Estimation of Leaf Area in Tropical Maize. Agron J. 92:436-444.
Fly UP