...

hari ke 3

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

hari ke 3
Edisi 3
Indrasti Maria Agustiana, Board of
Trustee, Yayasan Satu Karsa Karya
Dari sisi
si proses, lokakarya ini cukup
partisipatif
partisipa dan bagus, karena bisa
menggerakkan
peserta dari berbagai daerah
mengger
dan latar belakang berbeda untuk bertukar
pikiran. Sementara
S
itu, dari sisi content, saya
bisa jadi mengenal hal-hal baru khususnya
theory of change. Selama ini kami
melakukannya dengan pendekatan logframe
melakuk
dalam merencanakan
m
sebuah program.
Manembu
Angel Ma
Koordinator Konsorsium Peduli Global
Koordina
& KOPEL
Grup Innovation
Fund dalam
KMS MAMPU
DISKUSI ANTARA mitra-mitra MAMPU yang
tergabung dalam Innovation Fund Workshop
tidak akan berakhir setelah workshop ini.
MAMPU telah membuat sebuah grup di dalam
Knowledge Management System (KMSMAMPU) yang dapat diakses di www.kms.
mampu.or.id
Gracia Respati
Project Officer Ontrack Media Indonesia
Silakan mendaftarkan diri Anda dan mengisi
formulir data diri, kemudian pilih organisasi
“Innovation Fund”. Di dalam grup ini anggota
dapat melakukan percakapan atau berdiskusi
secara terbuka. Melalui KMS-MAMPU,
kesembilan mitra Innovation Fund juga dapat
berinteraksi dengan sembilan mitra utama
MAMPU lainnya, seperti PEKKA, KOMNAS
Perempuan, BaKTI dan lainnya. Selain itu,
anggota dapat mengakses Pustaka Digital,
mengikuti Forum Diskusi Online, berbagi
informasi dan jadwal kegiatan.
Work
Workshop MAMPU memberikan
kesempatan
untuk mendapatkan feedback
kesemp
terkait kkonsep proposal yang kami buat.
Acara kunjungan
k
ke lapangan yang
diranca pihak penyelenggara yang sesuai
dirancang
dengan tema yang kami angkat, jelas
memba
membantu kami dalam menguji hipotesahipo
hipotesa sebelum memulai research di
da
daerah sasaran program yang akan
kkami implementasikan.
KMS-MAMPU juga dapat diakses melalui
telepon pintar dan jika diperlukan kami dapat
mengirimkan Buku Panduan Penggunaannya.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai KMSMAMPU, dapat menghubungi Communications
& Knowledge Management Officer kami, Dewi, di
[email protected] atau 0812 9798 5912. „ M
Banyak hal-hal menarik yang bisa dipetik
dari lokakarya.
lokaka
Salah satunya adalah
mendengar
mendenga pendapat dari peserta. Ada salah
seorang peserta
yang tidak mengerti dengan
p
proposal kami.
Jika mereka tidak mengerti,
k
apalagi dengan yang lainnya. Selain itu,
apalag
kesempatan
ini juga membuat peserta
kese
mengenal
para staf MAMPU secara
me
langsung. Sebagai saran, mungkin
materi simulasi bisa lebih
ditingkatkan.
Foto bersama di hari terakhir lokakarya MAMPU
Inovasi Hibah di Karawang, Jawa Barat.
PENGANTAR REDAKSI
TANPA TERASA tiga hari pelaksanaan lokakarya
telah selesai. Dalam edisi ketiga ini, berita utama denga
nartikel, “Perjalanan Belum Berakhir” menampilkan
pesan berikut penjelasan Team Leader MAMPU,
Elizabeth Elson, mengenai rencana kerja yang akan
dilaksanakan oleh para penerima hibah inovasi pascalokakarya.
Sementara itu dalam artikel “Dari Regulasi sampai
Teknologi” ditampilkan Yayasan Kopernik yang
mengajukan ide program bertajuk “Inovasi di Garis
Akhir”, diikuti dengan paparan Pusat Kajian Wanita
dan Gender UI (PKWJ-UI) yang menjelaskan mengenai
partisipasi perempuan dalam pembangunan desa
sebagai fokus program yang diusulkan. Selanjutnya
inovasi transparansi tata kelola pemerintahan desa
yang diusung oleh Infest Yogyakarta menutup artikel
ini.
Seperti di edisi-edisi sebelumnya, edisi ini juga
menampilkan pesan dan kesan tiga peserta lokakarya,
serta twit yang masuk ke #innovmampu mengenai
pelaksanaan lokakarya. Tak kalah menarik, edisi ini juga
membahas mengenai budaya lokal yang ditampilkan di
sela-sela acara lokakarya.
Di edisi terakhir ini, tak lupa tim redaksi mengucapkan
terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah
bersedia diwawancarai dan seluruh pihak yang telah
mendukung terbitnya newsletter ini. Semoga newsletter
ini dapat memberikan informasi dan pembelanjaran
yang diperoleh selama pelaksanaan lokakarya.
SUSUNAN REDAKSI
04
4 Oktober 2014
| Penanggung jawab: Elizabeth Elson | Pemimpin Redaksi: Enurlela Hasanah | Redaktur Pelaksana: Sri Dewi Susanty
Penulis/Reporter: KATA DATA | Tata Letak: KATA DATA | Fotografer: Toto Santiko Budi
Selamat membaca dan salam “Perempuan MAMPU”.
„
Perjalanan
Belum Berakhir
PENYELENGGARAAN LOKAKARYA MAMPU Inovasi Hibah di
Karawang, Jawa Barat, selama tiga hari berturut-turut akhirnya selesai
sudah. Banyak pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh
sembilan penerima inovasi hibah guna mendukung perbaikan konsep
program mereka.
“Namun perjalanan belum berakhir,” kata Elizabeth Elson, Team
Leader MAMPU dalam sambutannya, Jumat 3 Oktober 2014. Oleh
karena itu, kata Elizabeth, para peserta dan MAMPU masih akan terus
menjalin komunikasi.
Elizabeth mengharapkan para penerima hibah dapat mendesain
ulang program mereka dengan bekal pengetahuan yang telah
diperoleh selama lokakarya. Pada kesempatan itu Elizabeth juga
menyampaikan rencana kerja yang akan dilaksanakan para penerima
hibah.
Di akhir kata sambutannya, Elizabeth mengucapkan terima kasih
kepada Aditya Dev Sood dan Pranav Sarin dari Center for Knowledge
Study (CKS) yang telah memfasilitasi penajaman ide-ide yang
diusulkan sebelum mengembangkan desain program mereka.
Sebelum kembali ke daerah masing-masing, para peserta berfoto
bersama MAMPU. „ M
01
Dari Regulasi
Sampai Teknologi
Program inovasi yang menyasar
dari hulu sampai hilir.
Desa masih memiliki kelemahan,
yakni meniadakan peran partisipasi
perempuan dalam pembangunan desa.
Padahal, katanya, Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
yang akan digantikan dengan UU Desa
sejatinya sudah mengakomodasi peran
perempuan.
Salah satunya, kata Dewi, menetapkan
kehadiran perempuan sebanyak 40
persen pada setiap pertemuan desa.
Kemudian, masih dalam PNPM tersebut,
ada pula pertemuan-pertemuan
khusus perempuan. Dan satu lagi
mengakomodasi bahwa setiap program
harus ada usulan dari kelompok
perempuan.
Tampilkan Budaya
Lokal
Acara lokakarya diselingi acara hiburan yang khas. Ada makna di
balik hiburan itu.
Sedangkan dalam UU Desa, ujar Dewi,
meniadakan kesempatan perempuan
tersebut. Atas dasar pertimbangan
itulah, PKWJ-UI berupaya mengambil
praktek-praktek terbaik yang ada pada
PNPM agar dapat pula tercantum dalam
UU Desa. “Hasilnya akan berupa policy
brief kepada pemerintah,” katanya.
Peserta pelatihan sedang membuat diagram hasil
observasi di lapangan
JAUH PANGGANG dari api. Mungkin
pepatah ini tepat untuk menggambarkan
betapa sulitnya mendapatkan berbagai
kemudahan jika kita tinggal di suatu
daerah terpencil. Betapa tidak,
jangankan menonton siaran televisi,
untuk memperoleh penerangan dalam
rumah saja begitu susah karena tidak
ada atau belum adanya pasokan listrik.
Atas dasar salah satu pertimbangan
tersebut, Yayasan Kopernik mengajukan
program ke MAMPU lewat proposal
“Inovasi di Garis Akhir”. Program ini
bertujuan untuk meningkatkan status
sosial-ekonomi dari pengusaha kecil
perempuan di daerah terpencil melalui
pendistribusian teknologi tepat guna,
seperti teknologi untuk memperoleh
pasokan listrik.
“Ada beberapa teknologi tepat guna
yang akan distribusikan. Pada awalnya
02
kami akan mulai mendistribusikan lampu
tenaga surya, saringan air, dan kompor
bio-massa,” kata Putu Monica Christy,
Tech Kiosk Project Officer Kopernik.
Produk-produk teknologi tepat guna
tersebut akan disalurkan melalui kioskios di daerah terpencil di beberapa
provinsi di bagian timur Indonesia.
Menurut Monica, kelompok-kelompok
perempuan akan ditunjuk sebagai
agennya. Mereka akan mendapatkan
keuntungan dari setiap penjualan
dan modalnya akan dikembalikan ke
Kopernik untuk dapat diinvestasikan ke
program-program Kopernik yang lain.
Pada tahun pertama, kata Monica,
pihaknya akan menyalurkan sebanyak
9.000 unit teknologi tepat guna. Namun,
Kopernik tidak lantas begitu saja
mendistribusikan kepada pengusaha
kecil perempuan tersebut.
“Kami akan memberikan pelatihanpelatihan kepada mereka berupa
kewirausahaan, akuntansi, pengetahuan
produk, public speaking, sampai
financial literacy,” katanya. Dengan
harapan, pengusaha perempuan di
daerah tersebut memiliki akses terhadap
bisnis dan mampu menanggulangi
kemiskinan.
Lain halnya dengan proposal program
yang diajukan Pusat Kajian Wanita
dan jender UI (PKWJ-UI). Lembaga
yang berpusat di Salemba, Jakarta,
ini lebih fokus pada regulasi terutama
Undang-Undang Desa Nomor 06
Tahun 2014 yang akan diberlakukan.
Program ini disebut sebagai “Kampanye
Nasional Partisipasi Perempuan dalam
Pembangunan Desa”.
Menurut Dewi Novirianti, Koordinator
Divisi Hukum & HAM PKWJ-UI, UU
Namun seiring dengan itu, PKWJ-UI juga
akan melakukan perubahan perilaku
kepada kepala desa dan perempuan
untuk berpartisipasi aktif dalam
mendukung praktek-praktek terbaik
tersebut. Lokasi proyek akan fokus di
Kalimantan dan Maluku.
Target sasaran yang dibidik dalam
program PKWJ hampir sama dengan
program yang akan dijalankan oleh
Infest Yogyakarta, yakni UUD Desa.
Namun Infest fokus pada inovasi
transparansi tata kelola pemerintahan
desa. Aparat desa dan perempuan
menjadi sasaran program mereka.
“Kedua target sasaran akan ditingkatkan
kapasitasnya. Khusus kelompok
perempuan mereka akan dibekali
dengan pengetahuan analisa keuangan
dan perencanaan keuangan desa
serta mengawasi pembangunan di
desa,” kata Muhammad Irsyadul Ibad.
Rencananya, kata Ibad, program ini
akan diimplementasikan di tujuh provinsi
Peserta lokakarya diajak ikut berjoget pada Malam
Budaya Goyang Karawang.
DUA PENARI JAIPONG dari Sanggar
Malati Asih, Karawang, Jawa Barat,
bergoyang mengikuti irama gendang.
Keduanya lantas bergantian
mengajak peserta lokakarya MAMPU
Inovasi Hibah yang sedang santap
malam, Kamis 2 Oktober lalu,
berjoget. Pada makan malam sehari
sebelumnya, para peserta lokakarya
juga dihibur atraksi seni angklung dari
Mang Udjo.
Tampaknya jarang ada dalam sebuah
lokakarya digelar acara hiburan
seperti itu. Dan jika dilihat sekilas,
atraksi kesenian tersebut hanya
sebuah hiburan. Namun, “Ada makna
yang hendak kami sampaikan lewat
hiburan itu,” kata Inge Ong-Inkiriwang,
Human Resources and Administration
Manager MAMPU.
Inge mengungkapkan, hiburan
itu sengaja ditampilkan untuk
memperkenalkan budaya lokal
setempat kepada para peserta
lokakarya yang berasal dari daerah.
“Kami mencoba mengangkat budaya
lokal dan bisnis setempat,” katanya.
Sedangkan permainan angklung,
lanjut Inge, merupakan cara menjalin
persahabatan peserta. Tak hanya
hiburan, beberapa makanan yang
disajikan juga makanan khas Sunda,
seperti Colenak.
„M
03
Fly UP