...

KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA MELALUI TEKNIK BERMAIN

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA MELALUI TEKNIK BERMAIN
KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA MELALUI TEKNIK BERMAIN AIR PADA ANAK KELOMPOK B
TK SINAR JAYA KECAMATAN LIMBOTO
KABUPATEN GORONTALO
Meylan Saleh
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan
Abstrak
Corresponding author of the preliminary findings that the Sinar Jaya TK ability to interfere with a good
color as much as 5 people or 25%, whereas 15 children or 75% do not have the skills interfere with color.
Fit these data we need a way to enhance the ability of simple science to children. Many of the strategies,
methods and approaches that can be used to enhance the ability of a simple science to child during play,
but this use has not shown good results. Therefore in this study the authors sought to find a solution
through the method of problem solving techniques of water play. The purpose of this study to enhance
the ability of modest science through the engineering group of children playing in the water.
Based on the results of the study concluded that the use of color exploration game techniques to improve
the ability of science is the cycle I have 5 children, or 25% of children who have the capability of science
and in the second cycle there are 18 people or 90% of children who have the capability of science. Thus
the cycle I was increasing the number of children who have the capability of science that is of 5 people or
25% to be 18 people or 90% in cycle II. These results means the hypothesis that the action reads if the
method of administration tasks with color exploration game techniques applied effectively in the learning
of science will be able to enhance the ability of kindergarten children Sinar Jaya group B Limboto
Gorontalo district has been proven empirically.
Key words: science, water play
A. Pendahuluan
Perkembangan sains yang semakin kompleks dan pesat tidak memungkinkan guru
menginformasikan semua fakta dan konsep pada anak didik sehingga diperlukan suatu pembelajaran
yang dapat memotivasi anak untuk mempersiapkan diri belajar secara utuh dan tidak semata-mata
berorientasi pada penguasaan konsep tetapi juga kemampuan sains sederhana . Kegiatan pembelajaran
itu tidak hanya diarahkan untuk membuat anak mengusai sejumlah konsep pengetahuan melainkan juga
diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat belajar serta berbagai potensi dan kemampuan dasar
anak. Kemampuan sains sederhana perlu dimiliki anak agar dapat mengembangkan pengetahuannya.
Salah satu contoh pembelajaran sains di Taman Kanak-Kanak adalah melakukan eksplorasi warna.
Kegiatan ini termasuk aktivitas belajar sains karena memiliki produk dan proses. Sebagai produk sains
kegiatan eksplorasi warna dilakukan dengan bahan yang digunakan yaitu gelas aqua, air, pewarna
makanan merah, kuning, biru. Kegiatan eksplorasi warna mengikuti langkah-langkah tertentu seperti
mengsi 3 gelas aqua dengan air bening (tidak berwarna), meneteskan pewarna merah ke dalam gelas
pertama, kuning ke dalam gelas kedua dan biru ke dalam gelas ketiga. Sebagai produk kegiatan
eksplorasi warna menghasilkan warna tertentu.
Bermain dengan air merupakan salah satu kesenangan anak dan juga bagian dari pembelajaran
sains. Karena melalui bermain air anak dapat memiliki berbagai pengalaman tentang air. Air senantiasa
menyesuaikan bentuknya dengan bentuk wadahnya. Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat
yng lebih rendah atau dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Air juga
merupakan alat yang digunakan untuk mencampurkan zat lain sehingga berubah warna menjadi warna
yang lain.
Hal ini sejalan dengan pendapat Yudha dan Rudyanto (2005: 67), bermain air dapat
menghasilkan dampak pembelajaran yang lebih baik dibandingkan pembelajaran lainnya. Untuk lebih
memudahkan guru dalam menerapkan metode bermain air maka disajikan berbagai teknik bermain air .
Pernyataan di atas dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Endri dkk (2003:25)
bahwa pembelajaran teknik bermain air yang diterapkan di sekolah mulai TK sampai sekolah menengah
atas dapat menimbulkan respon positif dari guru dan anak didik, mampu mengubah aktivitas guru dari
banyak berceramah menjadi membimbing dan memotivasi anak didik.
B. Kajian Teori
1. Hakikat Sains Sederhana
Menurut Kresnadi (2001: 9) bahwa sains sederhana adalah kemampuan dasar untuk
memperoleh pengetahuan tentang produk dari IPA berupa konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum
dan teori-teori dari IPA. Setiap jenis kemampuan sains sederhana merupakan suatu keterampilan
intelektual yang khas digunakan oleh semua ilmuwan serta dapat diterapkan untuk memahami fenomena
apapun juga. Pendapat lain dikemukakan oleh Hadiat (2003: 10) yang menggambarkan pengertian
kemampuan sains sederhana sebagai keterampilan intelektual, sosial maupun fisik yang diperlukan
untuk mengembangkan lebih lanjut pengetahuan atau konsep yang telah dimiliki.
Sementara itu Semiawan (2007: 16) mendefinisikan kemampuan sains sederhana adalah
keterampilan proses adalah keterampilan anak untuk mengolah hasil (perolehan) yang didapat dalam
kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk
mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan
mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut.
Menurut Harlen (Kresnadi, 2001: 19) menegaskan bahwa kemampuan sains sederhana adalah
pemahaman tentang dunia disekitar kita tergantung pada perkembangan konsep-konsep tetapi
perkembangan konsep-konsep ini tergantung pada penggunaan keterampilan proses. Funk, J.H.et al.
(Jaelani, 2005:15) mengatakan bahwa kemampuan sains sederhana (Science Processes Skill) sebagai
hal-hal yang dilakukan ahli sains (saintis) dalam mereka belajar dan melakukan investigasi
(penyelidikan).
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan sains
sederhana adalah keterampilan ilmiah yang mencakup keterampilan kognitif atau intelektual,
keterampilan psikomotor dan keterampilan sosial.
2. Kemampuan sains sederhana Untuk Anak Usia Dini
Menurut Couglin (Kharningsih, 2009: 50) keterampilan proses ilmiah yang dapat dilakukan oleh
anak usia dini antara lain: mengamati, membandingkan, menjelaskan, memperkirakan,
mengkomunikasikan, mengklasifikasikan dan mengukur. Sementara menurut Nugraha (2008: 125-126)
hasil identifikasi para pengembang pembelajaran, khususnya pembelajaran sains terdapat beberapa
kemampuan yang dapat dan harus dilatihkan pada anak agar mereka memiliki keterampilan proses.
Menurut Yulianti (2007: 42) sains dan matematika sebenarnya dapat diperkenalkan kepada anak
sejak usia dini. Tentunya dengan memperhatikan cara dan bahasa penyampaiannya serta disesuaikan
dengan umur dan perkembangan anak. Masih dalam Yulianti (2007:42) keterampilan proses yang dapat
dilatihkan pada anak usia dini, yaitu mengamati, mengelompokkan atau mengklasifikasi, memperkirakan
atau prediksi dan menghitung.
Senada dengan pendapat di atas, Sujiono (2007: 12-13) mengungkapkan bahwa kemampuan
sains sederhana dalam permainan sains antara lain: observasi, klasifikasi, mengukur, perkiraan,
eksperimen dan komunikasi. Merujuk pada pendapat di atas maka dalam penelitian ini, kemampuan
sains sederhana anak TK yang akan ditingkatkan yaitu meliputi: mengamati (observasi), memperkirakan
(prediksi), mengelompokkan (klasifikasi) dan berkomunikasi.
3. Hakikat Teknik Bermain Air
Bermain air tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti hanya
makanan, cinta kasih. Hurlock (1996 :12) menyatakan bahwa bermain air adalah setiap kegiatan yang
dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir dengan
memanfaatkan air sebagai bahan untuk bermain.
Secara fisik, bak air dapat sangat sederhana, misalnya dengan mengambil ember berukuran
yang paling besar atau buatlah bak yang berukuran sama dengan bak air. Bak atau ember sebaiknya
ditempatkan di atas rumput di luar kelas atau didalam kelas ansl lantainya diberi alas plastik agar mudah
dibersihkan. Di kota dijual kolam renang kecil terbuat dari plastik yang dapat digunakan untuk
mengenalkan air dan kegiatan renang agar anak tidak takut dengan air peralatan yang dapat
digunakannya adalah gelas, mangkok, cangkir plastik berbagai bentuk dan ukuran botol dari aneka
bahan, corong, pipa air, berbagai benda-benda kecil yang dapat tenggelam/terapung, spons, buss,
sedotan, dan lain-lain.
Kegiatan bermain air merupakan kegiatan yang penting pada anak usia dini. Kedua kegiatan ini
menarik dan sangat digemari oleh anak. Bermain air juga memberikan kesibukan yang sangat
mengasyikkan. Ada sesuatu yang alami dan mendasar tentang bermain air dan bermain air. Motivasi
kesenangan dan rasa puas serta keberhasilan ada dalam kegiatan ini. Pengalaman merasakan air
melalui jari-jarinya sangat menyenangkan, bagi anak.
Menurut Dogde (dalam Montolalu: 2007:28) bahwa cara anak bermain dengan air tidak selalu
sama. Seorang anak mungkin lebih berpengalaman bermain air daripada anak lain dan anak lainnya
mungkin lebih berpengalaman dengan air. Perbedaan kemampuan ini dikarenakan pengalaman
sebelumnya dan kemajuan perkembangan tiap anak dalam bermain air dan air tidak selalu sama. Oleh
sebab itu guru hendaknya memberikan dorongan pada anak untuk mengeksplorasi keduanya.
4. Tahapan Bermain Air
Anak beraktivitas, melalui tahapan-tahapan yang sama dalam bermain air maupun bermain air
walaupun mereka tidak selalu berada datam tahap perkembangan yang sama. Menurut Monotolalu
(2007:27) bahwa terdapat 3 tahap perkembangan bermain air.
Tahap pertama, eksplorasi sensori-motor yang berhubungan dengan pancaindra. Pada tahap ini
anak mengenal sifat-sifat air, mereka menemukan bunyi titik-titik air hujan pada atap rumah dan bunyi
pancaran air. Mereka juga mengalami perasaan yang aneh ketika air atau air melalui sela-sela jarinya,
membasahi atau mengotori tangannya atau bahkan melihat air menghilang terisap oleh air /tanah.
Tahap kedua, anak mempergunakan pengalaman dan belajar mereka untuk suatu tujuan.
Bermain merupakan aktivitas anak dengan perencanaan, percobaan-percobaan, kegiatan-kegiatan
dengan air.
Tahap ketiga, anak menyempurnakan hasil dari tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini
pengalaman anak ditunjukkan dalam keruwetan kegiatan yang direncanakan sendiri.
5. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Bermain Air bagi Anak Usia Dini
Beberapa manfaat yang bisa diperoleh seorang anak melalui bermain air antara lain dikemuakan
oleh Zaviera (2008: 23-24) yaitu (a) Aspek fisik, dengan mendapat kesempatan untuk melakukan
kegiatan yang banyak melibatkan gerakan–gerakan tubuh, akan membuat tubuh anak menjadi sehat (b)
Aspek perkembangan motorik kasar dan halus, hal ini untuk meningkatkan keterampilan anak (c) Aspek
sosial, anak belajar berpisah dengan ibu dan pengasuh. Anak belajar menjalin hubungan dengan teman
sebaya, belajar berbagi hak, mempertahankan hubungan, perkembangan bahasa, dan bermain peran
sosial. (d) Aspek bahasa, anak akan memperoleh kesempatan yang luas untuk berani bicara. Hal ini
penting bagi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memperluas pergaulannya (e) Aspek emosi
dan kepribadian. Melalui bermain, anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya. Dengan
bermain berkelompok, anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan yang dimiliki
sehingga dapat membantu perbentukan konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga
diri (f) Aspek kognisi. Pengetahuan yang didapat akan serta mbah luas dan daya nalar juga serta mbah
luas, dengan mempunyai kreativitas, kemampuan berbahasa, dan peningkatan daya ingat anak. (g)
Aspek ketajaman panca indra. Dengan bermain, anak dapat lebih peka pada hal-hal yang berlangsung
dilingkungan sekitarnya (h) Aspek perkembangan kreativitas. kegiatan ini menyangkut kemampuan
melihat sebanyak mungkin alternatif jawaban. Kemampuan divergen ini yang mendasari kemampuan
kreativitas seseorang (i) Terapi. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengubah emosi negatif menjadi
positif dan lebih menyenangkan.
Menurut Setiningsih (2008:20 bahwa aktivitas bermain air tak hanya menyenangkan, permainan
sensori ini sangat penting bagi perkembangan anak. Bermain air memberi peluang bagi anak untuk
belajar konsep pengetahuan tentang basah dan kering serta isi. Bermain air membantu anak
mengembangkan tiga bidang perkembangan: (a) Fisik yaitu memperkuat otot kecil ketika anak
mencampurkan bahan dengan warna. Koordinasi mata–tangan, bekerja dengan alat dan menguatkan
otot besar saat ia mengambil air menggunakan ember kecil; (b) Kognitif yaitu anak melihat perbedaan
warna sebelum dicampurkan dan setelah dicampurkan dengan benda lain, menambah kosa kata tentang
air, campuran dan warna. Anak melihat jumlah air yang sama, punya bentuk berbeda bila dimasukkan ke
dalam tempat berbeda. Belajar sebab-akibat, apa yang terjadi bila sesuatu benda dicampurkan dengan
air atau benda lain dalam suatu wadah dan sebagainya. (c) Sosial-emosi yaitu bagi anak 4 tahun,
bermain air dan air memberi ide untuk bekerja bersama teman, bermain air dapat menenangkan hati
anak yang risau, bermain air dapat menjadi sarana mengekspresikan perasaan dan pikiran.
6. Eksperimen dengan Bermain Air
Kegiatan yang anak dalam mencampur warna menurut Altaf (2009:2) yaitu indikator (a) mengenal
berbagai jenis bahan warna yang digunakan, (b) mengenal alat yang digunakan untuk pencampuran
warna, (c) mengukur bahan yang digunakan dalam pencampuran, (d) mencampurkan warna ke dalam
air, (e) mengetahui perubahan warna hasil campuran.
Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan kegiatan eksperimen. (a)
Menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka (open ended), seperti "Menurutmu mengapa air dan
minyak ketika dicampur nampak belum terlarut, (b) Beri waktu pada anak untuk menjawab pertanyaan,
seperti "Apa yang akan teriadi bila kamu mencampurkan bahan dengan menggunakan air ?". (c) Jangan
mengharap reaksi atau jawaban standar dari anak, (d) Dorong anak melakukan pengamatan atau
eksperimen, (e) Pancinglah anak untuk bertanya dan dengarkan jawaban dan hasil pengamatan mereka,
(f) Usahakan agar tiap anak mendapat kesempatan terlibat dalam setiap eksperimen dengan tekanan
pada penggunaan indranya, (g) Bersabarlah dengan anak.
7. Teknik Bermain Air sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Sains
Melalui sains, anak dapat melakukan percobaan sederhana. Percobaan tersebut melatih anak
menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis. Di dalam
sains, anak juga berlatih menggunakan alat ukur untuk melakukan pengukuran. Alat ukur tersebut dimulai
dengan alat ukur non-standar, seperti jengkal, depa, atau kaki dan dilanjutkan dengan alat ukur standar,
seperti meteran dan timbangan. Anak secara bertahap berlatih menggunakan satuan yang akan
memudahkan anak untuk berpikir secara logis dan rasional. Dengan demikian sains akan melatih anak
untuk mengembangkan kemampuan sains sederhana , kemampuan berpikir logis, dan pengetahuan.
Bermain dengan air merupakan salah satu kesenangan anak. Guru dapat mengarahkan
permainan tersebut agar anak dapat memiliki berbagai pengalaman tentang air. Berbagai kegiatan
bermain dengan air mencampurkan warna yang satu dengan warna yang lain. Air memiliki karakteristik
yang unik seperti air dapat melarutkan berbagai larutan seperti dapat mencampurkan warna, meneteskan
air di koin, mencampur air dengan sabun, dan benda-benda lain yang larut dan tidak larut dalam air.
C. Pembahasan
Berdasarkan observasi yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini menunjukan bahwa
hanya terdapat 7 anak (35 %) dari 20 anak yang ada di TK Sinar Jaya yang dapat mengembangkan
kemampuan sains sederhana,Hal ini menunjukan sebagian besar anak belum mampu mengembangkan
kemampuan sains sederhana.
Pelaksanaan Siklus I
Presentase Aspek Yang Diobservasi
A
B
C
Mengukur
Eksperimen
Menarik
(observasi)
(Eksplorasi)
kesimpulan
(prediksi)
Dari
table
4.5
terlihat
bahwa
Penga
Rata - rata
pada aspek
mat
Mengukur
(observasi)
M
KM TM M
KM TM M
KM TM M
KM TM
diperoleh data
I
65
20
15
65
20
15
65
20
15
65
20
15
65%
(13
II
65
20
15
65
20
15
65
20
15
65
20
15
orang anak)
%
65
20
15
65
20
15
65
20
15
65
20
15
criteria
mampu ,20% (4 orang anak) criteria kurang mampu,dan 15% (3 orang anak) criteria tidak mampu.Aspek
Eksperimen (eksplorasi) diperoleh data 65% (13 orang anak) criteria mampu,20% (4 orang anak) criteria
kurang mampu,dan 15% (3 orang anak) criteria tidak mampu,selanjutnya pada aspek menarik
kesimpulan (prediksi) diperoleh data 65% (13 orang anak) criteria mampu,20% ( 4 orang anak) criteria
kurang mampu,dan 15% (3 orang anak) criteria tidak mampu. Untuk persentase rata-rata perkembangan
kemampuan sains sederhana anak diperoleh criteria mampu 65% (13 orang anak) criteria mampu,20%
(4 orang anak) criteria kuarang mampu dan 15% (3 orang anak) criteria tidak mampu.
Pelaksanaan Siklus II
Pen
Presentase Aspek Yang Diobservasi
gam
at
A
Mengukur
(observasi)
B
Eksperimen
(eksplorasi)
C
Menarik
kesimpulan
(prediksi)
Dari
tabel
4.7
Rata - rata
terlihat bahwa
pada
aspek
Mengukur
(observasi)
M
KM
TM M
KM
TM M
KM TM M
KM TM
diperoleh
data
I
90
10
90
10
90
10
90
10
90% (18 orang
II
90
10
90
10
90
10
90
10
anak) criteria
Pres
mampu, 10%
enta 90
10
90
10
90
10
90
10
(2 orang anak )
se
criteria kurang
mampu,dan 0% criteria tidak mampu.Aspek Eksperimen (ekplorasi) diperoleh data 90% ( 18 orang anak )
criteria mampu, 10% (2 orang anak) criteria kurang mampu,dan 0% criteria tidak mampu.selanjutnya
pada aspek menarik kesimpulan (prediksi) diperoleh data 90% ( 18 orang anak ) criteria mampu 10% (2
orang anak) criteria kurang mampu dan 0% criteria tidak mampu.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan teknik permainan
eksplorasi warna mampu meningkatkan kemampuan sains yaitu pada observasi awal terdapat 5 orang
anak atau 25% yang memiliki kemampuan sains anak, pada siklus I terdapat 13 orang anak atau 65%
yang memiliki kemampuan sains dan pada siklus II terdapat 18 orang atau 90% yang memiliki kemampun
sains. Hasil ini berarti hipotesis tindakan yang berbunyi jika teknik permainan eksplorasi warna
diterapkan secara efektif dalam pembelajaran maka akan dapat meningkatkan kemampuan sains pada
anak kelompok B TK Sinar Jaya Limboto Kabupaten Gorontalo secara empiris telah terbukti.
DAFTAR PUSTAKA
Alef Hamah. 2008. Metode Simulasi. Tersedia pada: (metode-simulasi.blogspot.com/kumpulan-metodepembelajaran-pendampingan. html) Tersedia pada: Diakses pada tanggal 13 November
2010
Hurlock B. Elizabeth. 1996. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Setiningsih, 2008. Bermain Air
Kembangkan 3 Kemampuan Sekaligus. Tersedia pada :
http://www/bermain air -kembangkan 3 kemampuan sekaligus /2/air /1.htm. Diakses pada
tanggal 13 September 2011
yudha, dkk. 2005. Teknik Bermain Air. http://www.teknik-bermain-air/blogspotcom.
Zaviera, 2008. Membantu Anak Saat Bermain Air. Tersedia pada: http://www/ membantu-anak-saatbermain-air-/zaviera//1.htm Diakses pada tanggal 12 November 2011.
Fly UP