...

Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) Terhadap Minat Beli

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) Terhadap Minat Beli
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Pengaruh Suasana Toko (Store Atmosphere) Terhadap Minat Beli
Konsumen Pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa Penida
Tahun 2014
Ni Luh Julianti1, Made Nuridja1, Made Ary Meitriana2
Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
[email protected][email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh (1) exterior, general interior, store layout, dan
interior display secara parsial terhadap minat beli konsumen pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan
Nusa Penida Tahun 2014, dan (2) suasana toko secara simultan terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014. Penelitian ini termasuk dalam jenis
penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Subjek penelitian ini
adalah konsumen Toserba Nusa Permai sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah
suasana toko dan minat beli konsumen. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner,
yang selanjutnya dianalisis dengan analisis regresi berganda dengan SPSS 16.0 for windows. Hasil
penelitian menunjukan bahwa (1) secar parsial exterior, general interior, store layout, dan interior display
berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014, dan (2) secara simultan suasana toko berpengaruh signifikan terhadap minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014, hal tersebut ditunjukan
dari nilai Fhitung = 39,766 > Ftabel = 2,47 atau p-value = 0.000 < α = 0,05.
Kata kunci: minat beli konsumen, suasana toko
Abstract
This research aimed at identifying the effect of (1) exterior, general interior, store layout, and interior
display as partial toward interest consumer buy postgraduate Toserba Nusa Permai at Nusa Penida
District in 2014, and (2) store atmosphere toward simulate toward interest consumer buy postgraduate
Toserba Nusa Permai at Nusa Penida District in 2014. This research was a descriptive quantitative
research with 100 person respondent. The subject of this research the consumer of Toserba Nusa
Permai and the store atmosphere interest consumer buy. The method of data collection was
questionnaire and was analyzed by fold regression analyzed SPSS 16.0 for windows. The result of this
research showed that (1) according to partial exterior, general interior, store layout, and interior display
has significant influence toward interest of consumer buy at Toserba Nusa Permai in Nusa Penida
District in 2014, and (2) in a manner of simulate the store atmosphere has significant influence toward
interest of consumer buy at Toserba Nusa Permai District in 2014. It can be seen from the value of
Faccount = 39,766 > Ftable = 2,47 or p-value 0,000 < α = 0,05.
Keywords: interest consumer buy, store atmosphere
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
PENDAHULUAN
Minat beli merupakan suatu keinginan
untuk membeli suatu produk atau jasa
akibat pengaruh baik eksternal maupun
internal dimana sebelumnya dilakukan
evaluasi terhadap produk atau jasa yang
akan dibeli. Minat adalah sesuatu yang
pribadi dan berhubungan dengan sikap,
individu yang berminat terhadap suatu
obyek akan mempunyai kekuatan atau
dorongan untuk melakukan serangkaian
tingkah laku untuk mendekati atau
mendapatkan objek tersebut, Simamora
(dalam Resti Meldarianda, 2010:99).
Menurut Kotler (2003:568) “minat beli
adalah tahapan yang dilakukan oleh
konsumen sebelum merencanakan untuk
membeli suatu produk”, sedangkan Sutisna
dan Pawitra (2001:201), mengemukakan
bahwa “minat beli merupakan sesuatu yang
berhubungan dengan rencana konsumen
untuk membeli produk tertentu serta berapa
banyak unit produk yang dibutuhkan pada
periode tertentu”.
Minat beli diperoleh dari proses
belajar dan proses pemikiran yang
membentuk persepsi. Persepsi yang dimiliki
seorang konsumen belum tentu akan
mendorong konsumen yang bersangkutan
untuk melakukan pembelian (Assael,
2002:53). Persepsi tersebut harus mampu
distimulir sehingga timbulnya tekanan untuk
segera mewujudkannya dalam bentuk
tindakan pembelian. Minat yang muncul
dalam melakukan pembelian menciptakan
suatu motivasi yang terus terekam dalam
benaknya dan menjadi suatu kegiatan yang
sangat kuat yang pada akhirnya ketika
seorang konsumen harus memenuhi
kebutuhanya akan mengaktualisasikan apa
yang ada didalam benaknya itu. Timbulnya
minat
konsumen
dalam
melakukan
pembelian, juga dipengaruhi oleh strategi
yang diterapkan usaha pertokoan seperti
retail yaitu produk yang bagus dan menarik,
lokasi
yang
strategis,
harga
yang
terjangkau, promosi yang menarik suasana
toko yang nyaman serta pelayanan yang
memuaskan.
Salah
satu
strategi
pemasaran yang dapat dilakukan retailer
adalah
dengan
menciptakan
store
atmosphere yang aman dan nyaman agar
dapat memberi kesan menarik kepada
konsumen sehingga menimbulkan minat
beli
yang
pada
akhirnya
dapat
mempengaruhi konsumen untuk melakukan
pembelian (Kotler, 2007:177). Dengan kata
lain, store atmosphere bisa mempengaruhi
perasaan atau mood dari para konsumen
yang berkunjung ke toko sehingga
mempengaruhi minat untuk membeli.
Store atmosphere adalah suatu
karakteristik fisik yang sangat penting bagi
setiap bisnis ritel, hal ini berperan sebagai
penciptaan suasana yang nyaman sesuai
dengan keinginan konsumen dan membuat
konsumen ingin berlama-lama berada di
dalam toko dan secara tidak langsung
merangsang konsumen untuk melakukan
pembelian
(Purwaningsih,
2011),
sedangkan
menurut
Meldarianda
(2010:103)
“suasana
toko
(store
atmosphere) merupakan kombinasi dari
karateristik fisik toko seperti arsitektur, tata
letak, pencahayaan, pemajangan, warna,
temperatur, musik, aroma yang secara
menyeluruh akan menciptakan citra dalam
benak konsumen”. Berman dan Evan
(dalam Erlangga dan Achmad, 2012:60)
membagi elemen-elemen store atmosphere
ke dalam empat elemen, yaitu: exterior,
general interior, store layout, dan interior
display.
Buchari
Alma
(2005:60)
menyatakan bahwa “Store Atmosfer adalah
suasana toko yang meliputi interior,
exterior, tata letak, lalu lintas toko, dan
tampilan interior yang dapat menimbulkan
daya
tarik
bagi
konsumen
dan
membangkitkan minat untuk membeli”.
Bagian depan sebuah toko merupakan
keseluruhan phsycal exterior sebuah toko,
dan kontransaksisi material lainnya. Gaya
penataan eksterior adalah elemen yang
paling vital dalam faktor atmosfer toko
karena elemen ini merupakan kesan
pertama yang dilihat dan dirasakan oleh
konsumen (Ma’ruf, 2005:195). Konsumen
harus dapat merasa nyaman dengan
penglihatan pertamanya pada toko yang
akan dilihatnya. Kesan nyaman akan
mengundang minat konsumen untuk
memasuki toko dan memungkinkan untuk
melakukan pembelian. Maka dari itu
seseorang pengusaha retail harus dapat
menata tampilan eksteriornya dengan
baik,enak dilihat dan nyaman dihati
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
konsumen. Desain interior sangat berarti
dalam menarik minat beli konsumen,
karena itu suatu toko harus mampu
menimbulkan persepsi yang bagus pada
konsumen, dalam arti “The interior design
was meant to attract consumer buying
interest, therefore a store must be able to
establish a good perception in consumers
mind” (Zimmer, 2001:279). Penataan yang
baik yaitu yang dapat menarik perhatian
pengunjung dan membantu meraka agar
mudah mengamati, memeriksa, dan
memilih barang dan akhirnya melakukan
pembelian. Store layout adalah tata letak
produk, kasir dan arus lalu lalang
konsumen dalam toko. Pengelola toko
harus
mempunyai
rencana
dalam
penentuan lokasi dan fasilitas toko dan
memanfaatkan ruangan toko yang ada
seefektif mungkin. Store Layout yang baik
akan membantu retailer agar bisa
menampilkan produknya dengan baik,
memudahkan konsumen berbelanja dan
meningkatkan efesiensi kerja petugas,
menarik minat beli dan meningkatkan
keuntungan bagi pemilik toko (Setiadi,
2010:280). Display merupakan salah satu
dari
alat
promosi
penjualan
yang
mempunyai fungsi untuk menarik perhatian
pelanggan
agar
dapat
melakukan
pembelian. Tujuan utama interior display
ialah untuk meningkatkan penjualan dan
laba suatu toko, jika tampilan interior suatu
toko menarik maka akan mempengaruhi
minat
konsumen
untuk
melakukan
pembelian ke toko tersebut (Ma’Ruf,
2005:205).
Ketika seorang konsumen masuk ke
suatu toko mereka tidak hanya memberikan
penilaian
produk
dan
harga
yang
ditawarkan oleh retailer, tetapi juga
memberikan respon terhadap lingkungan
yang diciptakan oleh retailer melalui store
layout, display (penataan barang) yang
kreatif, desain bangunan yang menarik,
pengaturan jarak antar rak, simbol,
temperature, dan musik yang dilantunkan
(Kotler dan Amstrong, 2003). Store
atmosphere (suasana toko) sebagai alat
komunikasi pemasaran yang didesain
sedemikian rupa agar dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen serta
sebagai upaya pemahaman perilaku
konsumen pada toko ritel modern dalam
rangka merangsang minat berbelanja.
Perubahan
terhadap
store
atmosphere (suasana toko) harus selalu
dirancang agar tidak membosankan,
pelanggan tetap setia, dan dapat mengatasi
para pesaing. Jika konsumen bosan
dengan suasana toko yang mereka
kunjungi, kemungkinan besar mereka akan
beralih ke toko lain, sehingga para pelaku
bisnis menerapkan berbagai cara yang
efektif dalam menciptakan suasana toko
yang menarik dengan tujuan untuk menang
dalam persaingan. Hal tersebut yang
membuat persaingan bisnis retail semakin
ketat khususnya di Kecamatan Nusa
Penida. Salah satu bisnis retail yang berada
di Kecamatan Nusa Penida adalah Toserba
Nusa Permai. Toserba Nusa Permai
merupakan salah satu pelaku bisnis di
Kecamatan Nusa Penida yang berdiri relatif
lama. Selain Toserba Nusa Permai banyak
pelaku bisnis retail yang berkembang
dengan menawarkan produk yang tidak
kalah menarik tetapi tetap saja banyak
konsumen yang memilih berkunjung ke
Toserba Nusa Permai. Hal ini karena
Toserba Nusa Permai melakukan perbaikan
demi perbaikan dalam menciptakan store
atmosphere, sehingga lebih menarik dan
menggugah minat konsumen untuk masuk
ke dalam toko. Apabila suasana toko (store
atmosphere) dikelola dengan baik dan
dapat membuat konsumen merasa nyaman
ketika berada di dalam toko merupakan
salah satu cara agar bisa membuat
konsumen ingin berlama-lama berada di
dalam toko sehingga secara tidak langsung
merangsang minat beli konsumen. Store
atmosphere
yang
dibuat
semenarik
mungkin dapat berakibat positif dan akan
memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Latar belakang yang telah terpaparkan di
atas, membuat penulis tertarik untuk
melakukan
penelitian
yang
berjudul
“Pengaruh
Suasana
Toko
(Store
Atmosphere)
Terhadap
Minat
Beli
Konsumen Pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014”.
Menurut Buchari Alma (2005:60) “Store
Atmosfer adalah suasana toko yang
meliputi interior, exterior , tata letak, dan
tampilan interior yang dapat menimbulkan
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
daya
tarik
bagi
konsumen
dan
membangkitkan minat untuk membeli”.
Apabila suasana toko (store atmosphere)
dikelola dengan baik dan dapat membuat
konsumen merasa nyaman ketika berada di
dalam toko merupakan salah satu cara agar
bisa membuat konsumen ingin berlamalama berada didalam toko sehingga secara
tidak langsung merangsang minat beli
konsumen. Suasa yang nyaman akan
membuat konsumen merasa nyaman dan
berlama-lama
berada
didalam
toko
sehingga menarik minat beli konsumen.
Latar belakang yang telah terpaparkan di
atas, membuat penulis tertarik untuk
melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
Suasana Toko (Store Atmosphere) dan
minat beli. Untuk itu peneliti mengambil
judul “Pengaruh Suasana Toko (Store
Atmosphere)
Terhadap
Minat
Beli
Konsumen Pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014”.
METODE
Penelitian ini termasuk jenis penelitian
deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Variabel bebas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah exterior (X1), general
interior (X2), store layout (X3), interior
display (X4), dan minat beli konsumen (Y)
sebagai variabel terikat Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjelaskan mengenai
pengaruh exterior (X1), general interior
(X2), store layout (X3), interior display (X4),
terhadap minat beli konsumen (Y) pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida tahun 2014. Penelitian ini dilakukan
di Toserba Nusa Permai yang beralamat di
jalan Nusa Indah, Br. Mentigi, Ds.
Batununggul. Subjek dalam penelitian ini
adalah pengunjung Toserba Nusa Permai
di Nusa Penida, sedangkan yang menjadi
objek dalam penelitian ini adalah elemen
store atmosphe (exterior,general interior,
store layout dan interior display) dan minat
beli konsumen Toserba Nusa Permai.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh pengunjung Toserba Nusa Permai
yang ada di Kecamatan Nusa Penida.
Karena jumlah populasi tidak bisa dihitung
dalam jumlah yang pasti, maka dari sekian
banyak jumlah populasi akan diambil
sebagian untuk dijadikan sampel. Dalam
penelitian ini jumlah sampel yang
digunakan sebanyak 100 orang yang
dilakukan dengan teknik non probability
sampling yaitu dengan sampling insidental.
Menurut Sugiyono (2009:66) non probability
sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang atau
kesempatan sama bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Selanjutnya Sugiyono (2009:67)
menyatakan bahwa sampling insidental
merupakan teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang secara kebetulan atau insidental
bertemu dengan peneliti dapat digunakan
sebagai sampel, bila dipandang orang yang
kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber
data.Jenis data dalam penelitian ini adalah
data kuantitatif.
Data kuantitatif dalam penelitian ini
adalah skor jawaban responden mengenai
store atmosphere yang terdiri dari exterior,
general interior, store layout, dan interior
display serta minat beli konsumen
padaToserba Nusa Permai di Kecamatan
Nusa Penida. Dalam penelitian ini, sumber
data yang digunakan adalah data primer.
Data primer diperoleh dari hasil jawaban
responden melalui penyebaran kuisioner
kepada para konsumen yang menjadi
responden terpilih. Metode pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut (1) Observasi,
dipergunakan untuk memperoleh data
mengenai situasi dan kondisi pada Toserba
Nusa Permai. (2) Kuesioner, dipergunakan
untuk memperoleh data ordinal yang
merupakan penjabaran dari indikator
variabel.
Kuesioner,
dipergunakan
untuk
memperoleh data ordinal yang merupakan
penjabaran
dari
indikator
variabel.
Kuesioner
yang
digunakan
akan
menggunakan
skala
likert
sebelum
digunakan untuk mengumpulkan data di
lapangan terlebih dahulu harus diuji tingkat
validitas
dan
reabilitasnya.
Menurut
Sugiyono (2010) pengujian validitas tiap
butir pertanyaan dalam kuesioner tersebut
menggunakan
analisis
item
yang
mengkorelasikan skor tiap butir dengan
skor total yang merupakan jumlah tiap butir
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
soal,
kemudian
hasil
korelasinya
dibandingkan dengan nilai kritis pada
signifikan 0,05. Syarat minimum instrumen
penelitian dikatakan valid apabila nilai rhitung
> rtabel. Sedangkan suatu instrument
dikatakan reliabel atau andal jika jawaban
responden
atas
pertanyaan
adalah
konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Pengujian reliabilitas dapat menggunakan
rumus
Cronbach
Alpha.
Instrumen
dikatakan reliabel untuk mengukur variabel
bila memiliki nilai alpha lebih besar dari 0,7.
Sesuai dengan perumusan masalah,
tujuan penelitian, dan jenis data yang
dikumpulkan maka analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis regresi
linier berganda. Analisis regresi linier
berganda digunakan untuk mengetahui
pengaruh suasana toko (store atmosphere)
terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida tahun 2014 baik secara parsia
maupun simultan. Analisis regresi linier
berganda terdapat dua jenis pengujian yaitu
uji t dan uji F. Uji t digunakan untuk
mengetahui besarnya pengaruh satu
variabel bebas yang terdiri dari exterior,
general interior, store layout, dan interior
display secara invidual dalam menerangkan
variabel terikat yaitu minat beli konsumen.
Uji F difungsikan untuk mengetahui
kemampuan variabel bebas yang terdiri dari
exterior, general interior, store layout, dan
interior display secara secara bersamasama dalam menjelaskan minat beli
konsumen. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan bantuan program SPSS 16.0
for windows.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pengaruh exterior terhadap minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida tahun 2014
dianalisis dengan menggunakan uji statistik
ttes dengan program SPSS 16,0 for
windows.
Hasil
analisis
tersebut
menunjukan besarnya pengaruh exterior
terhadap minat beli konsumen dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1 Hasil uji statistik ttes untuk variabel exterior terhadap minat beli konsumen
Model
1
(Constant)
Exterior
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-4.064
1.522
.260
.076
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
1 menunjukkan bahwa nilai thitung= 3,425
lebih besar dari nilai ttabel = 1,98525 atau pvalue = 0.001 lebih kecil dari nilai α = 0.05
berarti menolak Ho dan menerima Ha.
Dapat disimpulkan bahwa variabel exterior
berpengaruh secara signifikan terhadap
minat beli konsumen pada Toserba Nusa
Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun
2014.
Standardized
Coefficients
Beta
.248
t
Sig.
-2.671
3.425
.009
.001
Pengaruh general interior terhadap
minat beli konsumen pada Toserba Nusa
Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun
2014 secara parsial, dapat diketahui dari
hasil analisis uji statistik ttes dengan
program SPSS for windows 16.0. Hasil
analisis tersebut menunjukan besarnya
pengaruh general interior terhadap minat
beli konsumen secara parsial dapat dilihat
pada tabel 2.
Tabel 2 Hasil uji statistik ttes untuk variabel general interior terhadap minat beli konsumen
Model
1
(Constant)
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-4.064
1.522
Standardized
Coefficients
Beta
t
Sig.
-2.671
.009
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
G.Interior
.210
.054
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
2 menunjukan nilai thitung= 3,882 > ttabel =
1,98525 atau p-value = 0.000 < α = 0.05
berarti Ho ditolak. Dapat disimpulkan
bahwa
variabel
general
interior
berpengaruh secara signifikan terhadap
minat beli konsumen Toserba Nusa Permai
di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014.
.329
3.882
.000
Pengaruh store layout terhadap minat
beli konsumen pada Toserba Nusa Permai
di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014
secara parsial, dapat diketahui dari hasil
analisis uji statistik ttes dengan program
SPSS for windows 16.0. Hasil analisis
tersebut dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Hasil uji statistik ttes untuk variabel store layout terhadap minat beli konsumen
Model
1
(Constant)
S.Layout
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-4.064
1.522
.202
.071
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
3 menunjukan nilai thitung= 2,865 > ttabel =
1,98525 atau p-value = 0.005<α = 0.05
berarti Ho ditolak. Dapat disimpulkan
bahwa variabel store layout berpengaruh
secara signifikan terhadap minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014.
Standardized
Coefficients
Beta
.186
t
Sig.
-2.671
2.865
.009
.005
Pengaruh interior display terhadap
minat beli konsumen pada Toserba Nusa
Permai di Kecamatan Nusa Penida Tahun
2014 secara parsial, dapat diketahui dari
hasil analisis uji statistik ttes dengan
program SPSS for windows 16.0. Hasil
analisis tersebut dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4 Hasil uji statistik ttes untuk variabel interior display terhadap minat beli konsumen
Model
1
(Constant)
I.Display
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-4.064
1.522
.284
.082
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
4 menunjukan nilai thitung= 3,469 > ttabel =
1,98525 atau p-value = 0.001<α = 0.05
maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahwa
variabel interior display berpengaruh secara
signifikan terhadap minat beli konsumen
pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan
Nusa Penida Tahun 2014.
Pengaruh secara simultan dari
variabel exterior, general interior, store
layout, dan interior display terhadap minat
beli konsumen pada Toserba Nusa Permai
di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014
dilakukan dengan menggunakan uji F
Standardized
Coefficients
Beta
.307
t
Sig.
-2.671
3.469
.009
.001
dengan program SPSS for windows 16.0.
Uji F ini menunjukan analisis regresi linier
berganda variabel bebas yaitu exterior (X1),
general interior (X2), store layout (X3), dan
interior display (X4) memiliki pengaruh
secara simultan terhadap variabel terikat
yaitu dan minat beli (Y). Hasil analisis yang
menunjukkan bahwa pengaruh exterior
(X1), general interior (X2), store layout (X3),
dan interior display (X4) terhadap minat beli
(Y) secara simultan, dapat dilihat pada tabel
5.
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Tabel 5 Hasil uji statistik F suasana toko (store atmosphere) terhadap minat beli konsumen
Model
1 Regression
Residual
Total
Sum of Squares
431.278
257.578
688.856
df
4
95
99
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
5 menunjukan bahwa nilai Fhitung sebesar
39,766 dengan tingkat signifikan sebesar
0,000 sedangkan nilai Ftabel sebesar 2,47.
Nilai Fhitung dibandingkan dengan nilai Ftabel
menunjukkan bahwa Fhitung> Ftabel atau
39,766 > 2,47 dan p-value < α atau 0,000 <
0,05 sehingga menolak H0 dan menerima
Ha. Dengan demikian dapat disimpulkan
suasana
toko
(store
atmosphere)
berpengaruh signifikan secara simultan
Mean Square
107.820
2.711
F
39.766
Sig.
.000a
terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014.
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
suasana toko (store atmosphere) terhadap
minat beli konsumen, maka dapat
digunakan analisis koefisien determinasi
(Adjusted R Square). Besarnya koefisien
determinasi (Adjusted R Square) dapat
dilihat pada tabel 6.
Tabel 6 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)
Model
R
R Square
1
.791a
.626
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
6 dengan menggunakan program SPSS
16.0 for windows menunjukkan bahwa
besar pengaruh variabel suasana toko
(store atmosphere) terhadap variabel minat
beli konsumen secara simultan sebesar
0,610 sehingga sumbangan pengaruh
untuk variabel exterior (X1), general interior
(X2), store layout (X3), dan interior display
(X4) terhadap minat beli konsumen (Y)
secara simultan adalah sebesar 61%. Hal
ini berarti minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014 sebesar 61%
Adjusted R
Square
.610
Std. Error of the
Estimate
1.646617
ditentukan oleh variabel exterior, general
interior, store layout, dan interior display,
sedangkan
sisanya
sebesar
39%
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak
termasuk dalam penelitian ini.
Berdasarkan pengolahan data yang
digunakan untuk mengetahui persamaan
garis regresi, pengaruh exterior, general
interior, store layout, dan interior display
terhadap terhadap minat beli konsumen
pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan
Nusa Penida Tahun 2014 digunakan
analisis koefisien beta. Besarnya koefisien
beta dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7 Hasil Perhitungan Koefisien Beta
Model
1 (Constant)
Exterior
G.Interior
S.Layout
I.Display
Unstandardized Coefficients
B
-4.064
.260
.210
.202
.284
Std. Error
1.522
.076
.054
.071
.082
Standardized
Coefficients
Beta
.248
.329
.186
.307
t
Sig.
-2.671
3.425
3.882
2.865
3.469
.009
.001
.000
.005
.001
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
7 dengan mengunakan program SPSS 16.0
for windows dapat dibuat persamaan garis
regresi Persamaan garis regresi yang dapat
dibuat untuk menggambarkan pengaruh
exterior, general interior, store layout dan
interior display terhadap minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida adalah sebagai
berikut.
Ŷ = -4,064 + 0,260X1 + 0,210X2 + 0,202X3+
0,284X4
Keterangan:
Ŷ = minat beli konsumen,
X1 = exterior,
X2 = general interior,
X3 = store layout,
X4 = interior display
Persamaan garis regresi tersebut
mengartikan bahwa pada saat nilai X1
(exterior), X2 (general interior), X3 (store
layout), dan X4 (interior display), bernilai 0
atau konstan, maka nilai Y (minat beli
konsumen) sebesar -4,064. Setiap ada
kenaikan variabel bebas baik X1 (exterior),
X2 (general interior), X3 (store layout), dan
X4 (interior display), sebesar satu satuan
maka akan meningkatkan Y (minat beli
konsumen) sebesar nilai koefisien beta
masing-masing variabel bebas dikalikan
dengan besarnya kenaikan yang terjadi.
Misalnya, setiap terjadi kenaikan X1
(exterior) sebesar satu satuan, maka akan
meningkatkan Y (minat beli konsumen)
sebesar 0,260, kenaikan X2 (general
interior) sebesar satu satuan, maka akan
meningkatkan Y (minat beli konsumen)
sebesar 0,210, kenaikan X3 (store layout)
sebesar
satu
satuan,
maka
akan
meningkatkan Y (minat beli konsumen)
sebesar 0,202, dan kenaikan X4 (interior
display) sebesar satu satuan, maka akan
meningkatkan Y (minat beli konsumen)
sebesar 0,284. Hal ini berarti pemenuhan
suasana toko (store atmosphere) yang
terdiri dari pemberian exterior, general
interior, store layout, dan interior display
secara tepat, akan semakin mampu
mempengaruhi minat konsumen terhadap
Toserba Nusa Permai, sebaliknya semakin
rendah suasana toko (store atmosphere)
tersebut maka semakin rendah pula minat
beli konsumen pada Toserba Nusa Permai
di Kecamatan Nusa Penida.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan mengenai pengaruh suasana
toko (store atmosphere) terhadap minat
konsumen pada Toserba Nusa Permai
Tahun 2014, diketahui bahwa secara
parsial suasana toko (store atmosphere)
yang terdiri dari exterior, general interior,
store
layout
dan
interior
display
berpengaruh signifikan terhadap minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai
Tahun 2014, hal ini menjelaskan bahwa
exterior yang diciptakan Toserba Nusa
Permai unik dan menarik dengan hiasan
yang buat didepan toko. General interior
Toserba Nusa Permai nyaman, store layout
yang rapi dengan menempatkan produk
sesuai jenisnya, arus lalu lintas yang luas
dibagian dalam toko, dan terdapat ruangan
khusus seperti ruang karyawan dan ruang
tempat barang-barang yang sudah tidak
dijual. Toserba Nusa Permai juga
mempunyai interior display yang menarik
dengan mendekosrasi toko sesuai nuansa
lebaran, rak disusun dengan rapi, terdapat
kotak yang digunakan untuk membawa
barang-barang berukuran kecil. Hal-hal
tersebut
akan
mempengaruhi
minat
konsumen untuk berkunjung ke Toserba
Nusa Permai. Variabel interior display yang
memiliki nilai paling tinggi yaitu sebesar
0,465 atau sebesar 46,5% dibandingkan
exterior sebesar 0,288 atau 28,8%, general
interior sebesar 0,451 atau sebesar 45,1%
dan store layout sebesar 0,114 atau
sebesar 11,4%. Hal ini mengindikasikan
bahwa
interior
display
lebih
dipertimbangkan
oleh
konsumen
dibandingkan exterior, general interior, dan
store layout dalam menciptakan minat beli
pada Toserba Nusa Permai di Kecamatan
Nusa Penida.
Hasil penelitian mengenai pengaruh
suasana toko (store atmosphere) secara
simultan terhadap minat konsumen pada
Toserba Nusa Permai Tahun 2014,
menunjukan bahwa suasana toko (store
atmosphere) berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap minat konsumen pada
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Toserba Nusa Permai Tahun 2014.
Besarnya
pengaruh
simultan
(store
atmosphere) terhadap minat konsumen
pada Toserba Nusa Permai Tahun 2014
sebesar 0,610 atau 61%. Hal ini baik
secara parsial maupun simultan sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh
Buchari Alma (2005:60) “Store Atmosfer
adalah suasana toko yang meliputi interior,
exterior , tata letak, lalu lintas toko, dan
tampilan interior yang dapat menimbulkan
daya
tarik
bagi
konsumen
dan
membangkitkan minat untuk membeli”.
Hendri Ma’ruf (2005:201) juga menjelaskan
bahwa “Store atmosphere adalah salah
satu marketing mix dalam gerai yang
berperan penting dalam menarik minat
pembeli, membuat mereka nyaman dalam
memilih
barang
belanjaan,
dan
mengingatkan produk apa yang ingin
dimiliki baik untuk keperluan pribadi,
maupun untuk keperluan rumah tangga”.
Selain itu menurut Kotler dan Kevin
(2009:146) menjelaskan bahwa ”suasana
toko adalah suasana terencana yang
sesuai dengan pasar sasarannya dan dapat
menarik minat pelanggan untuk membeli”.
Pihak manajemen toko dapat mendesain
suasana toko sedemikian rupa sehingga
menimbulkan rasa nyaman dan aman di
dalam
diri
konsumen
yang
dapat
menimbulkan minat untuk membeli.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan
pembahasan hasil penelitian maka dapat
ditarik simpulan sebagai berikut. Exterior
berpengaruh signifikan secara parsial
terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014. Hal ini ditunjukan
dengan nilai thitung= 3,425 > ttabel = 1,98525
atau p-value = 0.001<α = 0.05. General
interior berpengaruh signifikan secara
parsial terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014. Hal ini ditunjukan
dengan nilai thitung = 3,882 > ttabel = 1,98525
atau p-value = 0.000< α = 0.05. Store
layout berpengaruh signifikan secara
parsial terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014. Hal ini ditunjukan
dengan nilai thitung= 2,865 > ttabel = 1,98525
atau p-value = 0.005<α = 0.05. Interior
display berpengaruh signifikan secara
parsial terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai di Kecamatan Nusa
Penida Tahun 2014. Hal ini ditunjukan
dengan nilai thitung= 3,469 > ttabel = 1,98525
atau p-value = 0.001<α = 0.05. Suasana
toko (store atmosphere) berpengaruh
signifikan secara simultan terhadap minat
beli konsumen pada Toserba Nusa Permai
di Kecamatan Nusa Penida Tahun 2014.
Hal tersebut ditunjukan dari hasil analisis
Ftes yang menunjukkan bahwa nilai Fhitung =
39,766> Ftabel = 2,47 atau p-value = 0.000 <
α = 0,05. Persamaan garis regresi untuk
menggambarkan pengaruh exterior, general
interior, store layout dan interior display,
terhadap minat beli konsumen pada
Toserba Nusa Permai Tahun 2014 adalah
Ŷ = -4,064 + 0,260X1 + 0,210X2 + 0,202X3 +
0,284X4.
Berdasarkan simpulan diatas, maka
dapat dikemukakan beberapa saran
sebagai berikut. (1) Bagi pihak pengelola
Toserba Nusa Permai agar selalu
menciptakan
suasana
toko
(store
atmosphere) yang nyaman dan menarik
dalam upaya meningkatkan minat beli
konsumen pada Toserba Nusa Permai di
Kecamatan Nusa Penida dengan cara
memperluas lahan pakir yang ada di
Toserba Nusa Permai, dan pemberian
harga pada kemasan produk, pada rak
tempat produk dipajang atau kombinasi dari
keduanya
agar
konsumen
dapat
mengetahui harga dari produk yang ingin di
beli. General interior merupakan hal yang
paling dipertimbangkan oleh konsumen,
sehingga pihak Toserba Nusa Permai harus
mendesain bagian general interior agar
dapat menarik perhatian pengunjung dan
membantu meraka agar mudah mengamati,
memeriksa, dan memilih barang yang
akhirnya akan melakukan pembelian. Suhu
udara harus diatur, agara udara dalam
ruangan jangan terlalu panas atau dingin.
Pencahayaan
yang
cukup
untuk
mengarahkan atau menarik perhatian
konsumen ke daerah tertentu dari toko.
Konsumen yang berkunjung akan tertarik
pada sesuatu yang paling terang yang
berada
dalam
pandangan
mereka.
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Pengelola toko harus mempunyai rencana
yang baik dalam pemeliharaan kebersihan
toko walaupun eksterior dan interior baik
apabila tidak dirawat kebersihannya, akan
menimbulkan
penilaian
negatif
dari
konsumen. Layanan sistem pembayaran
diusahakan tidak lagi menggunakan
permen seharusnya Toserba Nusa Permai
mempersiapkan uang receh pada saat
bertransaksi. Store layout merupakan hal
yang menjadi pertimbangan paling rendah
bagi konsumen, store layout harus lebih
ditingkatkan
melalui
rencana
dalam
penentuan lokasi, fasilitas toko dan
memanfaatkan ruangan toko yang ada
seefektif mungkin. (2) Bagi peneliti
berikutnya yang ingin meneliti mengenai
suasana toko (store atmosphere) sebaiknya
menambah variabel bebas lainnya selain
exterior, general interior, store layout dan
interior display, karena masih ada
kemungkinan variabel bebas lain yang
mempengaruhi minat beli konsumen, dan
sebaiknya penelitian dilakukan pada lingkup
yang lebih besar, yaitu tidak hanya
dilakukan di Toserba saja, agar dapat lebih
meningkatkan generalisasi penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Alma,
Buchari.
2007.
Manajemen
Pemasaran dan Manajemen Jasa,
Bandung: CV. Alfabeta
Andi, Erlangga & Achmad Fauzi. 2012.
Suasana toko dalam menciptakan
emosi dan pengaruhnya terhadap
keputusan pembelian. Jurnal Bisnis
dan Ekonomi.Vol. 6, No. 1, hal.60-87,
dalam Universitas Gajayana Malang.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen
Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Assael. 2002. Consumer Behavior. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Hadi, Dewi Rubiyanti. 2005. Pengaruh
Store
Atmosphere
Terhadap
keputusan pembelian konsumen pada
China Emporium Factory Outlet
Bandung.Sripsi (tidak diterbitkan).
Jurusan
Manajemen,
Fakultas
Ekonomi, Universitas Widyatama.
Kotler,
Philip.
2001.
Manajemen
pemasaran;
perencanaan,
implementasi, dan pengendalian. Jilid
2. Edisi pertama. Jakarta: Salemba
Empat.
Kotler, Philip & Gary Amstrong. 2003.
Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jakarta:
Erlangga.
Kotler, Philip & Kevin Lane Keller. 2009.
Manajemen Pemasaran Edisi 12 Jilid
II, Jakarta: PT. Macanan Jaya
Cemerlang.
Ma’ruf, Hendri. 2005. Pemasaran Ritel.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Meldarianda, Resti. 2010. Pengaruh Store
Atmosphere Terhadap Minat Beli
Konsumen
Pada
Resort
cafe
Atmosphere Bandung.Jurnal Bisnis
dan Ekonomi (JBE), Vol. 17, No. 2,
hal. 97 – 108, dalam Universitas
Kristen Maranatha.
Purwaningsih. 2011. Pengertian store
atmosphere
tersedia
dalam
http://www.retailmanajemen.com/2011
/06/pengertian-store atmosphere.html.
(diakses tanggal 08 Desember 2013).
Riduwan, dkk. 2011. Cara Mudah Belajar
SPSS 17.0 dan Aplikasi Statistik
Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.
Setiadi,
Nugroho.
2010.
Perilaku
konsumen. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Sutisna
dan
Pawitra.2001.
Perilaku
Konsumen
dan
Komunikasi
Pemasaran.Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono.
2010.
Metode
Penelitian
Kuantitatif
Kualitatif
dan
R&D.
Bandung: CV. Alvabeta.
-------, 2009.Statistika Untuk Penelitian.
Bandung: CV. Alvabeta.
Umar, Husein. 2003. Metode Penelitian
Untuk Skripsi danTesis Bisnis.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Universitas Pendidikan Ganesha. 2011.
Pedoman Penulisan Skripsi dan
Tugas Akhir. Singaraja: Penerbitan
Undiksha.
Utami, Christina Whdiya. 2006. Manajemen
Ritel: Strategi dan Implementasi Ritel
Modern. Jakarta: Salemba Empat.
Widiyanto, Ibnu. 2008. Pointers: Metodelogi
Penelitian. Semarang: BP Undip.
Isnadi, Didik.
Vol: 4 No: 1 Tahun: 2014
Zimmer, Marry R. 2001. Impression of store
atmosphere.Journal of retailing. Vol.
9, No 3, hal 568-569
Fly UP