...

POLA PENGEMBANGAN PROGRAM SUASANA RELIGIUS

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

POLA PENGEMBANGAN PROGRAM SUASANA RELIGIUS
POLA PENGEMBANGAN
PROGRAM SUASANA RELIGIUS
MELALUI AKTUALISASI NILAI-AKTIVITAS
DAN SIMBOL-SIMBOL ISLAMI
DI MADRASAH
MOHAMAD IWAN FITRIANI
Alumnus Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam UIN Malang,
email: [email protected]
Abstrak
Pendidikan berbasis agama dalam perspektif pendidikan Islam adalah lembaga
pendidikan yang dibangun untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam
diwujudkan dalam kegiatan keagamaan dan simbol yang didukung oleh sistem
pendidikan Islam yang terdiri dari input-proses-output dan outcome. Penelitian ini
difokuskan pada: aktualisasi pendidikan berbasis agama dalam manajemen pendidikan
Islam melalui nilai-nilai ketaatan vertikal dan nilai-nilai ketaatan horisontal. Keduanilai
ini tumbuh dan menciptakan nilai-nilai lain (ilmiah, ekonomi, seni dan nilai-nilai
sosial). Kemudian, nilai-nilai inspirasi religius harian, mingguan, bulanan, tahunan dan
simbol keagamaan seperti masjid, dekorasi Islam bersumber dari Al-Qur'an, Hadits
dan al-Mahfuzhat. Nilai-nilai, kegiatan dan simbol merupakan elemen penting dari
budaya agama di lembaga pendidikan Islam. Studi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai
Islam perlu dielaborasipenerapannya di madrasah dengan sebaik mungkin untuk
memperkaya nilai-nilai Islam.
Kata kunci: Program religius, nilai, Aktivitas islami, Simbol islami, dan madrasah.
Abstract
Religious based education in Islamic education perspective is an educational institution which is built
to actualize Islamic values. Those Islamic values are manifested in religious activities and symbols
which are supported by Islamic educational system that consists of input-process-output and outcome.
This study is focused on: actualization of religious based education in islamic education management
through vertical obedience values (devine values: faith and piety, charity, sincere, resignation, grateful
and horizontal values obedience (human values: shilaturrahim, brotherhood, barakah, togetherness,
work hard, consistence and patience). Thoose both values grow and create other values (scientific,
economy, art and social values). Then, those values inspire religious daily, weekly, monthly, annually
and accidentally activities and religious symbols such as Mosque, Islamic decorations made from Al
Qur’an, Hadits and Islamic proverb. Islamic values, activities and symbols are essential elements of
religious culture at any islamic educational institution. This study shows that islamic values need to be
reelaborated to enrich islamic values implemented at madrasah run as well as possible.
Keywords: Religious programs, value, Islamic activities, Islamic symbols, madrasah
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 1
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Pendahuluan
Salah satu hal penting dalam manajemen pendidikan Islam baik di tingkat
dasar bahkan sampai perguruan tinggi adalah suasana Islami. Dalam kajian
manajemen pada umumnya, biasanya persoalan ini kurang mendapat perhatian.
Padahal, manajemen program pengembangan suasana Islami merupakan bagian
esensial bagi lembaga pendidikan Islam.
Bagi madrasah, nilai-nilai Islami, aktivitas-aktivitas Islami serta simbol-simbol
Islami harus menjadi karakteritik dalam sistem pembelajarannya untuk
membedakannya dengan lembaga berbasis religius lainnya. Misalnya, dalam konteks
pendidikan non-Islam, dikenal istilah pasraman yaitu satuan pendidikan keagamaan
Hindu pada jalur pendidikan formal dan nonformal. Pesantian yaitu satuan
pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan nonformal yang mengacu pada
sastra agama dan/atau kitab suci Weda. Pabbajja samanera yaitu satuan pendidikan
keagamaan Budha pada jalur pendidikan nonformal. Shuyuan yaitu satuan pendidikan
keagamaan Khonghucu yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang
pendidikan yang mengacu pada Si Shu Wu Jing.1 Untuk agama Kristen Protestan
terdapat SDTK (Sekolah Dasar Teologi Kristen), SMPTK (Sekolah Menengah
Pertama Teologi Kristen), SMAK (Sekolah Menengah Atas Kristen) dan SMTK
(Sekolah Menengah Teologi Kristen).
Jadi, madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis religius adalah lembaga
pendidikan Islam yang segala proses penyelenggaraannya didasari oleh ajaran Islam.
Hal ini untuk menafikan keberadaan lembaga pendidikan berbasis agama lainnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa basis adalah asas atau
dasar, berbasiskan berarti menjadikan sesuatu sebagai basis.2 Sedangkan religious
berarti bersifat religi/ bersifat keagamaan. Dari kata “religi” dan “religius”
selanjutnya muncul istilah religiusitas yang berarti pengabdian terhadap agama atau
kesalehan.3 Jika yang dimaksud basis religius itu adalah basis pendidikan yang
berkaitan dengan ketaatan atau kesalehan seseorang di mana religius dipahami bukan
sebatas having religion tetapi juga “being religious”, maka pendidikan berbasis religius
berarti pendidikan yang menjadikan agama sebagai basis (asas atau dasar) dari
penyelenggaraan pendidikan untuk mendidik siswa atau siswi yang memiliki ketaatan
atau kesalehan. Dalam hal ini, basis religius bukan hanya dalam hal nama lembaga
saja tetapi juga dalam hal muatan (content) pembelajarannya serta proses ataupun
tujuannya.
1PP
NO. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pasal 1 Ayat 5-8
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
(Jakarta, Balai Pustaka, 2007) hlm. 111
3Ibid, hlm. 944
2Pusat
2 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Dengan demikian, madrasah merupakan lembaga pendidikan berbasis Islam
yang memiliki karakteristik Islami (ciri khas) yang membedakannya dengan lembaga
pendidikan lainnya sekaligus menjadi kelebihannya di banding sub-sistem
pendidikan nasional lainnya di Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “ciri” adalah tanda khas yang
membedakan sesuatu dengan yang lain.4 Adapun kata “khas” berarti khusus atau
istimewa, sedangkan kata “kekhasan” berarti hal (sifat) khusus yang tidak dimiliki
oleh yang lain.5 Sehingga ciri khas Islam madrasah dapat dipahami pula sebagai
keunikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berbeda dengan lembaga
pendidikan lainnya di Indonesia. Dari sana dapat dipahami bahwa madrasah adalah
salah satu lembaga pendidikan berbasis Islam yang menjadikan ajaran Islam sebagai
karakteristiknya yang membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya, baik
lembaga pendidikan umum ataupun lembaga pendidikan non Islam.
Bila dikaji lebih jauh, pandangan tentang madrasah sebagai lembaga
pendidikan berbasis religius (berbasis agama Islam) ini, terdapat pemahaman yang
beragam sebagai konsekwensi dari pemahaman tentang arti pendidikan Islam yaitu:
(a) ada yang memandang pendidikan Islam sebagai materi PAI semata (aspek
kurikulum), sehingga basis religius pendidikan Islam di madrasah adalah materi PAI.
(b), adapula yang memahami pendidikan Islam dengan lembaga (institusi), sehingga
basis religius pendidikan Islam adalah lembaga pendidikan yang diselenggarakan di
lembaga-lembaga pendidikan Islam baik di sekolah Islam (SDI, SMPI ataupun
SMAI/SMKI). (c), adapula yang memahami pendidikan Islam dari segi
penyelenggaraannya atau yang menaunginya, misalnya, antara Kementrian agama
atau Kemendikbud sehingga basis religius pendidikan Islam lebih tertuju pada
lembaga pendidikan di bawah Kementrian Agama. Pemahaman yang lebih luas
adalah pendidikan Islam yang mengembangkan keilmuan yang dilandasi/dijiwai oleh
ajaran Islam baik ayat qauliyah dan kauniyah.
Konsep Suasana Religius
Kajian tentang suasana religius (agamis) tidak bisa dilepaskan dengan budaya
agamis. Bahkan jarak antara suasana agamis dengan budaya agamis sangat dekat
karena suasana ditentukan oleh budaya dan begitu sebaliknya. Oleh karena itu,
dalam mengkaji tentang suasana agamis, di sini akan digunakan teori tentang budaya
religius.
4Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga,
(Jakarta, Balai Pustaka, 2007) hlm. 215
5Ibid, hlm. 563
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 3
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Budaya (culture) merupakan pola kebiasaan yang berkembang dalam suatu
kelompok masyarakat. Schein mendefinisikan budaya seperti berikut : a pattern of
shared basic assumptions that the group learned as it solved its problem of external adaptation and
internal integration, that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be enough
to new members as the correct way to perceive, think, and feel in relation to these problems 6.
Berdasarkan kutipan tersebut, budaya diartikan sebagai suatu pola asumsi dasar yang
dipelajari kelompok untuk digunakan memecahkan berbagai permasalahan
penyesuaian ke luar kelompok dan berintegrasi ke dalam kelompok. Asumsi-asumsi
tersebut diyakini sebagai sesuatu yang sah dan disampaikan kepada anggota baru
sebagai sebuah cara untuk menerima, berpikir, dan merasakan hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah dalam kelompok.
Selanjutnya, kata religious berati: bersifat religi, bersifat keagamaan, atau
bersangkut paut dengan religi.7 Menurut Asmaun Sahlan, religious culture atau budaya
beragama merupakan cara berfikir dan cara bertindak yang didasarkan atas nilai-nilai
religius (keberagamaan)8. Dengan demikian, budaya religius adalah : (1), sekumpulan
nilai-nilai yang diyakini dan melandasi perilaku, kebiasaan seluruh komunitas
sekolah/madrasah, (2), perilaku-perilaku, pembiasaan-pembiasaan yang didasari oleh
nilai-nilai yang diyakini tersebut dan (3) simbol-simbol religius hasil kreasi, inisiasi
atau bahkan imaginasi positif warga madrasah.
Dalam sudut pandang lain, unsur-unsur budaya organisasi berkaitan dengan:
(1), pola asumsi-asumsi dasar, (2), nilai-nilai, (3), norma, dan (4), simbol-simbol yang
diyakini bersama oleh anggota organisasi. Simbol-simbol budaya dapat berupa
lambang-lambang yang dimiliki oleh suatu komunitas masyarakat. Lambanglambang tersebut memiliki nilai filosofi yang dianut suatu komunitas atau kelompok
masyarakat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Schein sebagaimana dikutip oleh
Mulyadi, keempat aspek budaya tersebut digambarkan sebagai berikut:
Schein, E.H. Organizational Culture and Leadership, Sanpransisco: Jossey bass, 2012, hal: 12
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta, hal. 944
8 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori
Ke Aksi), UIN Maliki Press, 2010. hal. 75
6
7
4 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Artifak
Struktur & Proses Dalam
Organisasi
Norma
Peraturan-Peraturan Dalam
Organisasi
Nilai-Nilai
Profil, Tujuan & Strategi
Organisasi
Keyakinan & Asumsi
Keyakinan, Persepsi, fikiran &
Perasaan
Gambar 7.1 : Tingkatan Budaya Organisasi9
Adapun menurut Koentjaraningrat, setiap unsur budaya, terdiri dari tiga hal
yaitu: (1), norma, nilai, keyakinan yang ada dalam fikiran, hati dan perasaan
pemiliknya, (2), pola tingkah laku yang dapat diamati dalam kehidupan nyata, (3),
hasil material dari kreasi, fikiran dan perasaan manusia. 10 Bila dikaitkan dengan
pendidikan di madrasah, maka pengembangan suasana religius berkaitan pula
dengan penguatan nilai-nilai, simbol-simbol religius serta perwujudan nilai-nilai dan
simbol tersebut dalam perilaku. Hal ini berarti bahwa bahwa suasana religius
madrasah harus didasari oleh basic assumption yang Islami yang selanjutnya
melahirkan nilai-nilai Islami. Kemudian nilai-nilai Islami itu diupayakan menjadi
tradisi yang hidup (living tradition) dalam perilaku siswa, sehingga harapan untuk
mendidik generasi yang berkarakter dapat tercapai.
Implementasi Pola Pengembangan Suasana Religius
Manajemen pengembangan suasana religius adalah pengelolaan yang terdiri
dari penentuan, perencanaan, pengorganisasian bahkan evaluasi yang dilakukan di
madrasah ataupun sekolah yang terdiri dari nilai-nilai Islami, aktivitas-aktivitas Islami
ataupun simbol-simbol Islami di madrasah. Adapun gambaran tentang bagaimana
manajemen pengembangan suasana religius di madrasah dapat dilihat dalam gambar
di bawa ini yaitu:
9 Schein dalam Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Mengembangkan Budaya Mutu
(Studi Multikasus di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, MAN Malang I dan MA Hidayatul
Mubtadi‟in Kota Malang), 2009, hal.45
10 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Bina Cipta, 2000, hal: 179-202
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 5
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Aktivitas Harian
Ilahiyah
Aktivitas Migguan
Nilai Islami
Aktivitas Bulanan
SUASANA
RELIGIUS
insaniyah
Aktivitas Tahunan
Simbol-simbol
religius
Gambar 1: Pola Dasar Manajemen Pengembangan Suasana Religius
Dari gambaran tentang manajemen pengembangan suasana religius di atas,
terdapat dua hal penting yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Manajemen pengembangan suasana religius berangkat dari identifikasi nilainilai islami yang akan dikembangkan
2. Nilai-nilai Islami tersebut selanjutnya diarahkan pada pengembangan
aktivitas-aktivitas religius di madrasah. Hal ini didasari oleh pandangan
bahwa setiap aktivitas yang ada di madrasah ditentukan oleh nilai-nilai yang
diyakini bersama
3. Aktivitas-aktivitas religius dalam tahap tertentu merupakan kegiatan yang
merupakan kreasi fikiran, perasaan warga madrasah yang terwujud dalam
simbol-simbol religius di madrasah
4. Point pertama, kedua dan ketiga di atas menjadikan madrasah mampu
membentuk suasana religius di madrasah yaitu suasana yang kondusif bagi
upaya mewujudkan tujuan madrasah yang bukan hanya berilmu tetapi juga
beramal shaleh.
Di balik ketiga point di atas, terdapat sumber daya penggerak yaitu Kepala
Madrasah,Kyai (jika madrasah di bawah pesantren), dewan guru serta para siswa.
Adapun penjelasan dari ketiga hal pencipta suasana religius (nilai-aktivitas dan
simbol) tersebut akan di jelaskan secara rinci di bawah ini.
6 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Implementasi Pengembangan Suasana Religius Melalui Aktualisasi Nilai-Nilai Islami di
Madrasah
Aktualisasi nilai-nilai Islami di madrasah dapat dipahami sebagai potret
ketaatan baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam surat An-Nisa‟ ayat 59
disebutkan:
         
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri
di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
11
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Kemudian, pemaknaan nilai (value) cukup variatif, ada yang menggunakan
bahasa yang sulit dan abstrak dan ada yang menggunakan bahasa yang biasa-biasa
saja sehingga mudah dimengerti. Misalnya: (a), nilai adalah sesuatu yang bersifat ideal
dan abstrak, nilai tidak dapat dilihat karena nilai adalah sebuah ketetapan hati atau
keyakinan, nilai pula dipahami sebagai acuan/patokan dalam berperilaku.
Patokan/acuan tersebut tidak terlihat yang terlihat adalah manifestasi dari nilai
tersebut dalam perilaku kongkrit. (b), Nilai merupakan kaidah hidup sebagai internal
driver dalam menuntun atau mengarahkan perilaku orang yang meyakininya. (c), nilai
juga sering disebut dengan nilai profan yang lawannya adalah nilai transenden. Biasanya
nilai profan (duniawi) ini dialamatkan kepada kaum sekuler yang hanya mengenal dan
mengakui nilai duniawi semata, sementara nilai transenden (ukhrawi) adalah nilai yang
dialamatkan kepada orang yang memiliki agama (having religion) sekaligus agamis
(religious) seperti dalam ajaran Islam. (d), nilai dipandang sebagai konsep dalam arti
memberi nilai atau timbangan (to value), nilai juga dipandang sebagai sebagai proses
penetapan hukum atau penilaian (to evaluate)12 dan (e), nilai adalah harga. Sesuatu
barang bernilai tinggi karena hargannya tinggi. Bernilai artinya berharga. Jelas, segala
sesuatu tentu bernilai, karena segala sesuatu berharga, hanya saja ada yang harganya
rendah ada yang tinggi. Sebetulnya, tidak ada sesuatu yang tidak berharga, tak kala
kita mengatakan “ini tidak berharga sama sekali” sebenarnya yang kita maksud
adalah harganya amat rendah.13
Nilai-nilai (values) merupakan sesuatu yang abstrak yang merupakan prinsip dan
daya pendorong dalam hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, persoalan
nilai menduduki posisi yang penting dalam kehidupan seseorang, sampai suatu
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an & Terjemahannya, Q.S Al-Nisa‟ (4): 59
Nur Aly & Munzir, Watak Pendidikan Islam, ( Riska Agung Insani, 2000) hlm.137
13Ahmad Tafsir, Pilsafat Pendidikan Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) hlm. 50
11
12Hery
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 7
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
tingkat di mana orang lebih siap untuk mengorbankan hidup mereka daripada
mengorbankan nilai. Jadi, walaupun nilai itu abstrak, tetapi akan terwujud secara
kongkrit dalam pola pikir, sikap ataupun prilaku individu, kelompok berdasarkan
nilai-nilai yang diyakininya. Karena nilai merupakan kaidah hidup sebagai internal
driver dalam menuntun atau mengarahkan perilaku yang meyakininya. Nilai-nilai
tersebut misalnya adalah nilai keimanan, keikhlasan, keistiqomahan dan keteladanan.
Dalam konteks pesantren, terdapat nilai barakah yang berupaya diperoleh melalui
perilaku birrul ustadz (berbakti kepada guru), takrimul ustadz (memuliakan guru)
bahkan takrimul muallif (memuliakan pengarang) dan takrimul muallaf (memuliakan isi
kitab).
Menurut Nurcholis Madjid14, dalam ajaran Islam, ada nilai rabbaniyah dan
insaniyah. Nilai rabbaniyah di antaranya adalah: iman, Islam, ihsan, taqwa, ikhlas,
tawakkal, syukur dan sabar. Sedangkan nilai insaniyyah adalah shilaturrahim
(shilaturrahmi), persaudaraan (ukhuwwah) persamaan (al musaawat), adil (‘adl), baik
sangka (husnu dhonni), rendah hati (tawadlu’), tepat janji (wafa’), lapang dada (insyirah),
perwira (‘iffah, ta’affuf), hemat (qawamiyyah), dermawan (munfiquun).15
Nilai-nilai tersebut merupakan inti (core) yang perlu diinternalisasikan dalam
lembaga pendidikan Islam untuk menunjang perilaku yang Islami. Hal senada juga
ditegaskan oleh Noeng Mohadjir bahwa di antara fungsi pendidikan adalah menjaga
lestarinya nilai-nilai insani dan nilai-nilai ilahi. Nilai-nilai insani adalah nilai-nilai yang
tumbuh atas kesepakatan manusia dan nilai-nilai ilahi adalah nilai yang dititahkan
Tuhan melalui para rasul yang diwahyukan lewat kitab-kitab suci.16
Berkaitan nilai-nilai Islami yang bersifat insani dan ilahi, Ridwan Natsir
menyatakan bahwa nilai ilahi mempunyai dua jalur yaitu: (a), nilai yang bersumber
dari sifat-sifat Allah sebanyak 99 yang tertuang dalam al-asma‟ul husna yakni namanama yang indah. Nama-nama itu pada hakikatnya telah menyatu pada potensi dasar
manusia yang disebut fitrah. (b), nilai yang bersumber dari hukum-hukum Allah baik
yang berupa qur’aniyah maupun kauniyah. Sebaliknya, nilai-nilai insani merupakan
nilai yang terpencar dari cipta-rasa dan karsa manusia yang tumbuh untuk memenuhi
kebutuhan peradaban manusia.17 Selanjutnya, E. Spranger juga merinci nilai-nilai
menjadi enam yaitu nilai ilmiyah (manusia teori), nilai ekonomi (manusia bekerja),
14Nurcholis
Madjid dalam Ridwan, Pengembangan Nilai-Nilai Islami Dalam Pembelajaran PAI di
SMA, (El-Hikam Press, 2013) hlm. 23
15Disarikan dari Nurkholis Madjid, Pengantar dalam Buku Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat
Belajar, Menggagas Paradigma baru pendidikan, (Jakarta, Paramadina, 2001) hal xv-xxi.
16Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Suatu Teori Pendidikan, (Yogyakarta,
Rake Sarasin, 1987) hlm. 26
17Ridwan Nasir, Mencari Format Pendidikan Islam ideal, Pondok Pesantren di Tengah Arus
Perubahan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 58
8 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
nilai seni (manusia yang menyukai keindahan), manusia agama (manusia yang
memuja/beribadah), nilai sosial (manusia yang berkorban) dan nilai politik (manusia
yang ingin memerintah.18 Penjelasan keenam tipe kepribadian manusia menurut
Spranger di atas adalah:
a. Manusia Teori
Tipe manusia ini menunjukkan manusia sebagai makhluk berfikir atau manusia
ilmu. Manusia tipe ini menempatkan peranan dominan dari kegiatan berpikir sebagai
dasar dalam melakukan aktivitasnya. Dalam ajaran Islam, berfikir merupakan salah
satu hal yang sangat dianjurkan, bahkan ayat yang pertama kali turun menyuruh
untuk berfikir (iqra’) sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-„Alaq:
‫ك الَّ ِذي َخلَ َق‬
َ ِّ‫اس ِم َرب‬
ْ ِ‫اقْ َرأْ ب‬
Artinya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.19
Kata iqro’ dalam ayat tersebut adalah fi’il amr (perintah) yang berarti perintah
membaca, menelaah, menyelidiki atau mengeksplorasi. Selanjutnya kata iqra’ juga
termasuk dalam kategori kata kerja (verb) yang memerlukan objek (transitive +
objek). Tetapi dalam ayat tersebut tidak langsung disebut objeknya (maf’ul bih). Hal
ini mengindikasikan bahwa yang harus dibaca atau dikaji manusia untuk
memperoleh pengetahuan adalah ayat ayat Tuhan baik yang bersifat qauliyah (alqur’an) maupun kauniyah (alam semesta).
b. Manusia Ekonomi
Manusia tipe ini mempunyai perhatian yang mengarah pada semangat untuk
bekerja keras. Kerja keras mendapat perhatian tinggi dalam ajaran Islam. Nilai
ekonomi atau nilai bekerja ini dipahami dari sabda rasulullah SAW sebagai berikut:
ِ َ َ‫ ق‬،‫ب‬
ٍ ‫ َع ِن الْ ِم ْق َد ِام بن م ْع ِدي َك ِر‬،‫ َعن َخالِ ِد بن م ْع َدا َن‬،‫يد‬
‫ت‬
ُ ‫ ََس ْع‬:‫ال‬
َ
َ
ْ َ ‫َع ْن ثَ ْوِر بن يَِز‬
ِ ‫ما أَ َكل أ‬:‫ول‬
ِ
ِ َ ‫رس‬
َ ‫َح ٌد م ْن بين‬
ُ‫آد َم طَ َع ًاما ُى َو َخْي ٌر لَو‬
َ ‫ول اللَّو‬
َ َ َ ُ ‫ يَ ُق‬،‫صلَّى اللَّوُ َعلَْيو َو َسلَّ َم‬
َُ
‫الم يَأْ ُك ُل ِم ْن َع ِم ِل‬
َ َ‫ ق‬،‫ِم ْن أَ ْن يَأْ ُك َل ِم ْن َع ِم ِل يَ َديِْو‬
َّ ‫ِب اللَّ ِو َد ُاوُد َعلَْي ِو‬
ُّ َِ‫ال َوَكا َن ن‬
ُ ‫الس‬
‫يَ َديِْو‬
Artinya: “ Dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma‟dan, dari Al-Miqdam bin Ma‟di berkata:
saya dengar Rasulullah SAW bersabda, tiada seorang pun yang makan makanan yang lebih
18 Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian ( Jakarta : Rajawali Press, 1990). hlm.105 dan dapat
pula dilihat dalam Abu Ahmadi & Munawar Soleh, Psikologi Perkembangan, hlm. 161-164
19 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an & Terjemahannya, Q.S. Al-„Alaq Ayat I
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 9
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
baik dari pada makan yang diperoleh dari hasil dari keringatnya sendiri. Sesungguhnya Nabi
Allah Daud AS itu pun makan dari hasil karyanya sendiri” (HR. Bukhary). 20
Hadits di atas memotivasi manusia untuk mengaktualisasikan nilai
ekonomi/nilai bekerja karena hasil kreasi sendiri adalah yang terbaik untuk
menghindari ketergantungan pada orang lain (life skill).
c. Manusia Estetik
Manusia estetik adalah manusia yang mencintai keindahan (estetika). Nilai estetis
ini akan memotivasi manusia untuk berkreasi dalam berbagai hal untuk menciptakan
karya seni. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW bersabda:
‫اْلَ ِّق‬
ْ ‫عن عبد اهلل ابن مسعود قال قال رسول اهلل صلى اهلل عليو وسلم اَلْ ِكْب ُر بَطَُر‬
ِ ‫ط الن‬
) ‫َّاس إن اهلل مجيل حيب اجلمال (رواه مسلم‬
ُ ‫َو َغ ْم‬
Artinya: dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: kesombongan adalah
menolak kebenaran dan meremehkan manusia. sesungguhnya Allah itu Maha indah dan
mencintai keindahan (yang indah). (HR. Muslim).21
Dalam konteks Islam, seni (estetika) juga dibarengi dengan etika, sehingga nilai
keindahan tidak boleh dilepaskan dari etika. Selain itu, nilai estetika juga berkaitan
dengan nilai bekerja/nilai ekonomi, sebab nilai seni akan bisa diaktualisasikan
apabila manusia mengunakan fikiran, perasaannya dalam wujud karya seni.
d. Manusia Sosial
Nilai sosial merefleksikan manusia sebagai makhluk yang berbakti/berkorban.
Hal ini karena manusia memang diciptakan memiliki serba ketergantungan terhadap
sesama. Dalam Al-Qur‟an, manusia disebut sebagai insan (individu) sekaligus sebagai
an-naas yang menunjukkan identitasnya sebagai makhluk sosial yang tidak bisa
dilepaskan dari nilai-nilain sosial. Karena itulah manusia harus saling menyayangi
antar sesama, sebagaimana dalam Hadits disebutkan:
ِ
ِ ٍ َ‫عن أَن‬
‫َح ُد ُك ْم َح ََّّت‬
َ َ‫صلَّى اهللُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم ق‬
ِّ ِ‫س َرض َي اهللُ َعْنوُ َع ِن الن‬
َ ‫َِّب‬
َ ‫ الَيُ ْؤم ُن أ‬:‫ال‬
َْ
ُِ ‫َخي ِو م‬
ِ َّ ‫ُِحي‬
)‫ (رواه البخارى ومسلم وأمحد والنسائى‬.‫ب لِنَ ْف ِس ِو‬
ُّ ‫احي‬
َ ْ ‫بِ أل‬
Artinya: Anas ra. berkata, bahwa Nabi saw. Bersabda: tidaklah termasuk beriman seseorang
di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.
(H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa‟i).22
Hadits Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asysyamilah.
Hadits Shahih Muslim, Al-Maktabah Asysyamilah
22 Hadits Imam Bukhari, Muslim dan Anasaa‟I dalam Al-Maktabah Asysyamilah
20
21
10 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Dalam Hadits lain disebutkan:
ِ
‫صلَّى اهللُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم اَلْ ُم ْؤِم ُن‬
َ َ‫ ق‬:‫ال‬
َ َ‫َِب ُم ْو َسى َر ِض َي اهللُ َعْنوُ ق‬
َ ‫ال َر ُس ْو ُل اهلل‬
ْ ِ‫َع ْن أ‬
ِ ‫لِْلم ْؤِم ِن َكالْب ْن ي‬
)‫ (أخرجو البخارى‬.‫ضا‬
ً ‫ضوُ بَ ْع‬
ُ ‫ان يَ ُش ُّد بَ ْع‬
َُ
ُ
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Musa ra. di berkata, "Rasulullah SAW. pernah bersabda,
orang mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling
mengokohkan. (HR. Bukhari). 23
Kedua Hadits tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai sosial harus
dikembangkan dalam pendidikan Islam, nilai-nilai sosial yang dimaksud bukan hanya
yang bersifat lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional. Karena ajaran Islam
adalah ajaran yang universal (rahmatan lil’alamin).
e. Manusia Politik
Manusia politik biasanya diidentikkan dengan kekuasaan, jadi manusia politik
adalah manusia yang ingin berkuasa. Dalam ajaran Islam, nilai politik ini dapat
dipahami sebagai kegiatan mengelola, mengatur yang disertai pertanggung jawaban
baik terhadap diri, keluarga ataupun msyarakat luas. Sebagaimana dijelaskan dalam
Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar sebagai berikut:
ِ
ِ ِ
ِ
‫ ُكلُّ ُك ْم‬:‫ال‬
َ َ‫صلَّى اهللُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم ق‬
َ ‫َع ْن َعْبداهلل ابْ ِن ُع َمَر َرض َي اهللُ َعْن ُهما اَ َّن َر ُس ْو ُل اهلل‬
ِ ‫ر ٍاع وُكلُّ ُكم مسئ وٍل عن ر‬
ِ ‫اعيَّتِ ِو فَ ْاأل َِمْي ُر الَّ ِذ ْي َعلَى الن‬
‫َّاس َر ٍاع َوُى َو َم ْسئُ ْوٌل َعْن ُه ْم‬
َ ْ َ ُْْ َ ْ َ َ
ِ
ِِ
ِ ‫اعي ٍة علَى ب ي‬
‫ت َزْوِج َها َوَولِ ِد َىا‬
َّ ‫َو‬
َْ َ َ ‫الر ُج ُل َر ٍاع َعلَى اَ ْى ِل بَْيتو َوُى َو َم ْسئُ ْوٌل َعنْ ُه ْم َوالْ َم ْرأَةُ َر‬
‫َوِى َي َم ْسئُ ْوٌل َعْن ُه ْم َوالْ َعْب ُد َر ٍاع َعلَى َم ِال َسيِّ ِدهِ َوُى َو َم ْسئُ ْوٌل َعْنوُ أََال فَ ُكلُّ ُك ْم َر ٍاع‬
ِِ ِ
)‫(متَ َف ٌق َعلَْي ِو‬
ُ ‫َوُكلُّ ُك ْم َو َم ْسئُ ْوٌل َع ْن َراعيَّتو‬
Artinya: Dari Abdillah bin Umar ra. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu
adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kepala
negara yang memimpin manusia (masyarakatnya), akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap yang dipimpin. Suami itu pemimpin terhadap keluarganya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban terhadap mereka. Istri adalah pemimpin atas rumah tangga, suami dan
anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Hamba
sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap harta tuannya itu. Ketahuilah, setiap kamu itu pemimpin dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (Muttafaqun „Alaih).24
23
Hadits Imam Bukhari, dalam Al-Maktabah Asysyamilah
Shahih Imam Bukhari, Al Maktabah Asysyamilah no. 844 dan Muslim no. 1829
24Hadits
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 11
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Jadi, politik tidak selamanya berarti negatif, sebab politik pada dasarnya adalah
bagaimana mengelola atau mengatur disertai oleh pertanggung jawaban masingmasing. Hal ini didasari oleh Hadits yang mengatakan bahwa relasi antara penguasa
dan rakyat harus didasari oleh saling mencintai sebagaimana dalam disebutkan dalam
Hadits sebagai berikut:
‫ي َحدَّثَنَا ُُمَ َّم ُد بْ ُن أَِِب ُمحَْي ٍد َع ْن َزيْ ِد بْ ِن‬
ُّ ‫َحدَّثَنَا ُُمَ َّم ُد بْ ُن بَشَّا ٍر َحدَّثَنَا أَبُو َع ِام ٍر الْ َع َق ِد‬
ِ َّ‫َسلَم َعن أَبِ ِيو َعن ُعمر بْ ِن اخلَط‬
‫ُخِِبُُك ْم‬
َ َ‫صلَّى اللَّوُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم ق‬
ْ ‫ال أََال أ‬
ِّ ِ‫اب َع ْن الن‬
َ ‫َِّب‬
ْ َ ْ‫أ‬
ََ ْ
ِ َّ
ِ ِِ ِ
ِ ِ ِِ
‫ين ُُِتبُّونَ ُه ْم َوُِحيبُّونَ ُك ْم َوتَ ْد ُعو َن ََلُ ْم َويَ ْد ُعو َن لَ ُك ْم‬
َ ‫ِبيَار أ َُمَرائ ُك ْم َوشَرارى ْم خيَ ُارُى ْم الذ‬
ِ
ِ ‫و ِشرار أُمرائِ ُكم الَّ ِذ‬
‫ضونَ ُك ْم َوتَلْ َعنُونَ ُه ْم َويَلْ َعنُونَ ُك ْم‬
ُ ‫ضونَ ُه ْم َويُْبغ‬
ُ ‫ين تُْبغ‬
َ ْ ََ ُ َ َ
Artinya: Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abu Amir Al- Aqadi
menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abu Humaid menceritakan kepada kami, dari
Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Umar bin Khaththab, dari Rasulullah, beliau bersabda.
'Maukah aku beritahukan pemimpin kalian yang terbaik dan pemimpin yang terburuk?
Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang kalian mencintai mereka dan mereka pun
mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Sedangkan,
pemimpin kalian yang terburuk adalah yang kalian benci dan yang membenci kalian, kalian
melaknat mereka dan merekapun melaknat kalian". Shahih'. Ash-Shahihah.25
f. Manusia Religius
Nilai yang paling tinggi pada manusia tipe ini adalah dedikasi tertinggi terhadap
kekuatan supra di luar dirinya. Pandangan mereka bahwa dirinya hanyalah bagian
kecil dari suatu totalitas yang lebih besar. Nilai religius pada dasarnya dimiliki oleh
manusia karena manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan pada
kebaikan serta memiliki perjanjian primordial dengan yang Maha pencipta.
Tabel: 7.1: Contoh pengembangan Nilai-nilai Religius di madrasah
Nilai-nilai religius Cara Mengembangkannya
yangdikembangkan
Nilai barokah
Menuntut ilmu dengan tata cara islami
Nilai ibadah,
Menuntut ilmu dengan niat lillahi ta‟ala
Nilai ketaatan
Menuntut ilmu dengan tetap menjalankan perintah Allah
Keteladanan
Guru/asatids memberikan contoh positif kepada para
santriwati
Ijtihad & tawakkal Bersungguh-sungguh Dalam menuntut ilmu dan
menyerahkan hasilnya pada kehendak Allah
25Hadits Shahih Sunan Tirmizi, Al-Maktabah Asysyamilah No. 2264. Hadits tersebut termuat
juga dalam Kitab Riyadusshaalihin.
12 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Syukur
Mas‟uliyyah
Baik
Benar
Bagus
Istiqamah
Taqwa
Tawadhu
Menggunakan potensi yang Allah berikan dengan
belajar/beribadah
Selalu mempertanggung jawabkan satusnya sebagai pelajar
Berfikir dan Bertindak sesuai dengan ajaran agama
Berfikir dan bertindak menurut akal sehat
Berprilaku sesuai dengan estetika islami
Rutin dalam belajar dan beribadah
Senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangannya
Selalu merendah diri dalam cara menuntut ilmu ataupun
setelah berilmu
Implementasi Pengembangan Suasana Religius Melalui Aktivitas-Aktivitas
dan Simbol Religius
Aktivitas-aktivitas religius yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan di madrasah
yang diitujukan untuk mentradisikan perilaku positif (al-akhlakul karimah) siswa yang
didasari oleh ajaran Islam.Aktivitas-aktivitas religius di madrasah adalah perwujudan
dari keyakinan atau nilai-nilai yang diyakini di madrasah atau meminjam istilah
Koentjaraningrat sebagai pola tingkah laku yang dapat diamati dalam kehidupan
nyata.26
Dengan kata lain, aktivitas religius adalah upaya untuk menerjemahkan serta
mewujudkan nilai-nilai religius ke dalam perilaku. Hal ini dapat dilakukan melalui
berbagai program kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah kegiatan harian,
kegiatan mingguan, kegiatan bulanan, kegiatan tahunan dan kegiatan aksidentil.
Ketika madrasah tersebut berada di bawah pesantren, maka sering terjadi kombinasi
optimalisasi kegiatan-kegiatan religius tersebut dengan kegiatan pesantren.
Selanjutnya unsur lain selain nilai-nilai dan aktivitas tersebut adalah simbolsimbol Islami berupa aspek-aspek fisik yang ada di madrasah. Menurut Mulyadi,
simbol madrasah merupakan gambaran nilai-nilai organisasi yang dilestarikan dan
dipertahankan dari generasi ke generasi dan simbol madrasah mencerminkan
keunikan nilai-nilai yang dihargai di madrasah27. Simbol-simbol religius merupakan
hasil material dari kreasi, fikiran dan perasaan manusia yang merepresentasikan
dasar, proses ataupun sesuatu yang ingin dicapai. Karena itu, aspek fisik atau simbolsimbol religius di lingkungan madrasah didesain bernuansa Islami seperti dalam
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,(Jakarta: Bina Cipta, 2000) hlm. 179-202
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah Mengembangkan Budaya Mutu, Disertasi Program
Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009, hlm. Vii-viii.
26
27
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 13
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
bentuk mushalla atau masjid di sekitar madrasah, asrama buat siswa atau santri
disertai pengasuhnya.
Menurut Mujamil Qomar, keberadaan masjid atau setidaknya mushalla di
Madrasah bukan sekadar simbol lembaga pendidikan Islam, tetapi memang
merupakan kebutuhan riil untuk beribadah ketika pegawai dan peserta didik berada
di sekolah. Masjid atau mushalla juga bisa dimanfaatkan sebagai laboratorium
ibadah. Lebih dari itu, masjid atau mushalla diupayakan ikut mewarnai perilaku
islami warga sekolah sehari-harinya yaitu dengan mengoptimalkan kegiatan
keagamaan maupun kegiatan ilmiyah yang ditempatkan di masjid atau mushalla.
Pada dasarnya, yang terpenting bagi bangunan fisik bukanlah kemegahannya, tetapi
optimalisasi fungsinya.28
Jadi, perwujudan nilai bukan hanya aktivitas tetapi juga simbol, karena itulah
pengembangan suasana religius berkaitan pula dengan simbol-simbol religius serta
perwujudan nilai-nilai dan simbol tersebut dalam perilaku. Hal ini berarti bahwa
bahwa suasana religius madrasah harus didasari oleh basic assumption yang Islami yang
selanjutnya melahirkan nilai-nilai Islami. Kemudian nilai-nilai Islami itu diupayakan
menjadi tradisi yang hidup (living tradition) dalam perilaku siswa, ditambah dengan
simbol-simbol yang merepresentasikan identitas madrasah sehingga harapan untuk
mendidik generasi yang sesuai dengan ajaran Islam dapat tercapai.
Kemudian, merujuk pada pemikiran Fred Luthan dan Edgar Schein, di bawah
ini akan diuraikan tentang karakteristik budaya organisasi di sekolah yang disebut
dengan observed behavioral regularities. Yang dimaksud dengan observed behavioral
regularities adalah budaya organisasi di sekolah yang ditandai dengan adanya
keberaturan cara bertindak dari seluruh anggota sekolah yang dapat diamati.
Keberaturan berperilaku ini dapat berbentuk acara-acara ritual tertentu, bahasa
umum yang digunakan atau simbol-simbol tertentu, yang mencerminkan nilai-nilai
yang dianut oleh anggota sekolah. Berkaitan dengan pembudayaan nilai-nilai religius.
Muhaimin (2009) menyebutkan bahwa ada langkah-langkah yang harus terjadi secara
berurutan sebagai berikut: (1) pengenalan nilai-nilai agama secara kognitif, (2)
memahami dan menghayati nilai-nilai agama secara afektif, dan (3) membentuk
tekad secara konatif.29
Dari urutan langkah-langkah tersebut dapat dipahami bahwa supaya tercipta
pembudayaan nilai-nilai agama di sekolah, maka warga sekolah terutama siswa harus
mengetahui nilai-nilai agama yang bisa didapatkan melalui PBM di dalam kelas. Pada
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya, Erlangga, 2007), hlm. 173
dalam Modul Materi Peningkatan Kualitas Guru PAI Tingkat SD, SMP, SMA/SMK,
(Jakarta, Dirjen Pendis Kemenag RI, 2011) hlm. 46-47
28
29Muhaimin
14 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
tingkatan selanjutnya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dapat
menumbuhkan semangat atau sikap untuk menerapkan pengetahuan keagamaannya.
Pada langkah yang terakhir, siswa dapat melaksanakan pengetahuan agamanya
dengan tekad yang kuat sehingga menjadi budaya yang tidak terpisah dari
kepribadiannya.
Berdasarkan paparan tentang aktualisasi basis religius madrasah di atas, tampak
bahwa nilai memiliki peran penting dalam menciptakan budaya atau suasana religius.
Sementara suasana religius adalah salah satu karakteristik dari madrasah sebagai
lembaga pendidikan berbasis Islam. Hal ini dipetik dari ungkapan Muhaimin yang
menegaskan bahwa terdapat konsekuensi yang harus dijalani oleh madrasah sebagai
lembaga yang berbasis Islam, salah satunya suasana kehidupan madrasah yang
Islami, adanya sarana ibadah, penggunaan metode atau pendekatan religius dalam
penyajian bahan pelajaran bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan dan
kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, di samping
memenuhi kualifikasi sebagai guru/pendidik berdasar ketentuan yang berlaku.
Dalam kutipan di atas, terdapat istilah suasana religius yang menunjukkan
bahwa aktualisasi pendidikan berbasis religius tidak bisa dilepaskan dengan budaya
agamis. Selanjutnya, kata religiuus berarti bersifat religi, bersifat keagamaan, atau
bersangkut paut dengan religi.30 Menurut Asmaun Sahlan, religious culture merupakan
cara berfikir dan cara bertindak yang didasarkan atas nilai-nilai religius
(keberagamaan).31 Dengan demikian, budaya religius adalah: (1), sekumpulan nilainilai agama yang diterapkan di sekolah, yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan,
keseharian dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah, (2),
perilaku-perilaku atau pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan dalam lingkungan
sebagai salah satu usaha untuk menanamkan akhlak mulia pada diri anak.
Tabel: 7.2. Contoh Pengembangan Aktivitas-Aktivitas Religius (Harian,
Mingguan, Bulanan, Tahunan dan aksidentil) di Madrasah plus Pesantren
Jenis Aktivitas Wujud Aktivitas
Harian
1. Shalat berjamaah (subuh, ashar, magrib dan Isya, baca Alqur`an ba`da asar dan ba`da magrib
2. Santriwati diharuskan bangun setiap pukul 4 pagi untuk
membaca Al-Qur‟an dan do‟a-do‟a religius lainnya.
3. Santriwati madrasah diwajibkan berjama‟ah (kecuali yang
berhalangan),
30Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 944
Sahlan, Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori Ke Aksi),
(Malang: UIN Maliki Press, 2010) hlm. 75
31Asmaun
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 15
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Mingguan
Bulanan
Tahunan
Aksidentil
4. Santriwati mengikuti ceramah agama pesantren dari para
asatidz secara bergiliran,
5. Santriwati membaca do‟a sebelum dan sesudah belajar
(sholawat nahdlatain), mengucapkan “ihtiraam hayyu”
kepada setiap guru yang masuk di kelasnya.
1. jum`at bersih
2. latihan pidato bahasa Arab, Inggris, Indonesia dan
pengajian oleh pinpinan/pendiri pondok tiap senin pagi,
3. Menghafal surat-surat pendek beserta arti dan maknanya
secara bertahap
4. Menghafal mahfudzat beserta arti dan maknanya secara
bertahap.
5. Pengayaan materi kepondokan seperti nahwu, shoref,
durusul lughoh, faraid yang materinya disesuaikan dengan
materi yang belum dipahami santri.
1. Bahtsul masa’il (dari kitab-kitab yang dianjurkan di
pesantren khususnya di bidang fiqh)
2. diskusi keislaman antar pelajar, bedah buku
(mengundang pembicara dari luar pondok/madrasah
3. penerbitan majalah dinding.
4. Kegiatan bulanan dalam bentuk pengajian, bedah buku
ataupun bahtsul masa‟il ini dilakukan dengan melibatkan
nara sumber internal yang ahli di bidang yang akan dikaji
serta mendatangkan nara sumber dari luar.
1. Kegiatan Irama (ibadah bulan ramadhan),
2. PHBI,
3. Rapat OSIS sebagai kaderisasi pemimpin, mereka secara
independen
menyusun
rencana
kerja
dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya di depan
semua guru dan wali murid di akhir masa jabatannya.
1. rihlah iqtishodiyyah
2. rihlah ruhaniyyah
3. rihlah „ilmiyyah
Di samping aktivitas-aktivitas di atas, terdapat pula simbol-simbol religius
Islami. Simbol-simbol religius bukanlah sesuatu yang sederhana bagi madrasah.
Simbol dijadikan sebagai identitas sekaligius sebagai inspirasi dalam melaksanakan
makna yang terdapat dalam simbol tersebut. Sama halnya dengan aktivitas-aktivitas
religius, simbol religius bersumber pada Al-Qur‟an dan Hadits, lalu diterjemahkan
dalam wujud kongkret sebagai identitas sekaligus sebagai motivasi dan inspirasi bagi
warga madrasah.
16 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Bahkan menurut Mujamil Qomar, keberadaan masjid atau setidaknya mushalla
di Madrasah bukan sekadar simbol lembaga pendidikan Islam, tetapi memang
merupakan kebutuhan riil untuk beribadah ketika pegawai dan peserta didik berada
di sekolah. Masjid atau mushalla juga bisa dimanfaatkan sebagai laboratorium
ibadah. Lebih dari itu, masjid atau mushalla diupayakan ikut mewarnai perilaku
islami warga sekolah sehari-harinya yaitu dengan mengoptimalkan kegiatan
keagamaan maupun kegiatan ilmiyah yang ditempatkan di masjid atau mushalla.
Pada dasarnya, yang terpenting bagi bangunan fisik bukanlah kemegahannya, tetapi
optimalisasi fungsinya.32
Simbol-simbol religius di madrasah diharapkan berkembang menjadi simbolsimbol yang bukan hanya berkaitan dengan identitas organisasi atau lingkungan
semata tetapi juga dalam wujud hasil kreasi atau fikiran warga madrasah. Hal
tersebut tentu didasari oleh nilai-nilai yang dipahami yaitu nilai ajaran Islam secara
luas bukan hanya nilai vertikal dan sosial secara sempit. Simbol juga merupakan
bagian dari pengejewantahan nilai, karena simbol madrasah merupakan gambaran
nilai-nilai organisasi yang dilestarikan dan dipertahankan dari generasi ke generasi
dan simbol madrasah mencerminkan keunikan nilai-nilai yang dihargai di
madrasah.33 Adapun contoh simbol religius yang dikembangkan adalah seperti
terlihat dalam tabel di bawah ini yaitu:
Tabel 7.3. Contoh Pengembangan Simbol-Simbol Religius
Simbol Religius
Madrasah dan mushalla
Dekorasi Islami
Maknanya
Madrasah dan mushalla sebagai induk kegiatan
ibadah sekaligus tempat belajar para santri.
Madrasah yang dihiasi ala islam, ada ayat-ayat alQur‟an, hadits, mahfuzat serta kata bijak lainnya
yang sesuai dengan ajaran islam.
Gambaran teori dan aplikasi di atas menunjukkan bahwa aktualisasi
manajemen pengembangan pendidikan program religius melalui nilai-nilai Islami di
madrasah ini mengembangkan teori nilai-nilai Islami yang diklasifikasi menjadi nilai
rabbaniyyah dan insaniyyah oleh Nurcholis Madjid. Karena nilai rabbaniyyah dan
insaniyyah yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid didominasi oleh nilai-nilai
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya, Erlangga, 2007), hlm. 173
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah Mengembangkan Budaya Mutu, Disertasi Program
Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009, hlm. Vii-viii.
32
33
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 17
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
ketaatan34. Sehingga nilai-nilai Islami tersebut perlu dielaborasi lagi menjadi nilainilai seperti yang dikemukakan oleh Edward Spranger35 yaitu nilai ekonomi, nilai
ilmiah, nilai sosial bahkan nilai politik dengan didasari oleh nilai ajaran Islam. Selama
nilai-nilai yang disebutkan oleh E. Spranger di atas dilandasi oleh ajaran Islam maka
maka nilai-nilai tertsebut bisa disebut Islami yaitu: nilai ekonomi yang islami, nilai
ilmiyah yang islami, nilai sosial yang islami, nilai seni yang islami dan nilai politik
yang islami. Nilai-nilai Islami tersebut mendorong warga madrasah untuk
berperilaku (aktivitas) atau berkreasi (terwujud dalam simbol) sehingga tercipta
suasana religius di madrasah.
Catatan Akhir
Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah aktualisasi nilai-nilai Islami dalam
sistem pendidikan Islam. Nilai-nilai yang abstrak tidak akan optimal tanpa
aktualisasi. Dalam perspektif manajemen, aktualisasi nilai-nilai tersebut harus
termanifestasi dalam pengelolaan yang Islami. Kombinasi nilai, aktivitas dan simbol
akan melahirkan suasana religius. Suasana religius adalah modal dasar pembinaan
manusia utuh yang tidak mengalami split personality yaitu manusia yang tidak kabura
maqtan ‘indallaahi an taquulu ma laa taf’alun.
Bagi lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah, program pengembangan
suasana religius memiliki manfaat tersendiri yaitu:
1. Nilai-nilai Islami merupakan upaya untuk mewujudkan karakterstik madrasah
2. Nilai-nilai Islami yang perlu diaktualisasikan bukan sebatas nilai tawadlu‟,
qana‟ah, sabar, istiqamah tetapi juga nilai islami lainnya seperti nilai ekonomi,
sosial, ilmiyah (seperti riset), seni yang islami sehingga madrasah mampu menjadi
wadah berkembangnya logika, etika dan estetika yang islami secara seimbang.
3. Memberikan gambaran tentang program-program yang dikembangkan di
madrasah baik bagi warga madrasah ataupun stakeholders yang pada ujungnya
memberikan daya tarik bagi madrasah untuk para stakeholders sehingga minat
masuk ke adrasah semakin meningkat yang pada ujungnya dapat meningkatkan
reputasi madrasah
Daftar Pustaka
PP NO. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pasal 1 Ayat
5-8
34Lebih lanjut, lihat Nurcholis Madjid, Pengantar dalam Buku Indra Djati Sidi, Menuju
Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma baru pendidikan, (Jakarta, Paramadina, 2001) hal xv-xxi.
35 Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian ( Jakarta : Rajawali Press, 1990). hlm.105 dan dapat
pula dilihat dalam Abu Ahmadi & Munawar Soleh, Psikologi Perkembangan, hlm. 161-164
18 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), (Jakarta, Balai Pustaka, 2007) hlm. 111
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi
Ketiga, (Jakarta, Balai Pustaka, 2007) hlm. 215
Schein, E.H. Organizational Culture and Leadership, Sanpransisco: Jossey bass, 2012, hal:
12
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta, hal. 944
Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari
Teori Ke Aksi), UIN Maliki Press, 2010. hal. 75
Schein dalam Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Mengembangkan Budaya
Mutu (Studi Multikasus di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, MAN Malang
I dan MA Hidayatul Mubtadi‟in Kota Malang), 2009, hal.45
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Bina Cipta, 2000, hal: 179-202
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an & Terjemahannya, Q.S Al-Nisa‟ (4): 59
Hery Nur Aly & Munzir, Watak Pendidikan Islam, ( Riska Agung Insani, 2000) hlm.137
Ahmad Tafsir, Pilsafat Pendidikan Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) hlm. 50
Nurcholis Madjid dalam Ridwan, Pengembangan Nilai-Nilai Islami Dalam Pembelajaran
PAI di SMA, (El-Hikam Press, 2013) hlm. 23
Disarikan dari Nurkholis Madjid, Pengantar dalam Buku Indra Djati Sidi, Menuju
Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma baru pendidikan, (Jakarta, Paramadina,
2001) hal xv-xxi.
Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Suatu Teori Pendidikan,
(Yogyakarta, Rake Sarasin, 1987) hlm. 26
Ridwan Nasir, Mencari Format Pendidikan Islam ideal, Pondok Pesantren di Tengah Arus
Perubahan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 58
Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian ( Jakarta : Rajawali Press, 1990). hlm.105 dan
dapat pula dilihat dalam Abu Ahmadi & Munawar Soleh, Psikologi
Perkembangan, hlm. 161-164
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an & Terjemahannya, Q.S. Al-„Alaq Ayat I
Hadits Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asysyamilah.
Hadits Shahih Muslim, Al-Maktabah Asysyamilah
Hadits Imam Bukhari, Muslim dan Anasaa‟I dalam Al-Maktabah Asysyamilah
Hadits Imam Bukhari, dalam Al-Maktabah Asysyamilah
Hadits Shahih Imam Bukhari, Al Maktabah Asysyamilah no. 844 dan Muslim no.
1829
Hadits Shahih Sunan Tirmizi, Al-Maktabah Asysyamilah No. 2264. Hadits tersebut
termuat juga dalam Kitab Riyadusshaalihin.
Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015 | 19
Mohammad Iwan Fitriani, Pola Pengembangan Program…
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,(Jakarta: Bina Cipta, 2000) hlm. 179-202
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah Mengembangkan Budaya Mutu, Disertasi
Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009, hlm. Vii-viii.
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya, Erlangga, 2007), hlm. 173
Muhaimin dalam Modul Materi Peningkatan Kualitas Guru PAI Tingkat SD, SMP,
SMA/SMK, (Jakarta, Dirjen Pendis Kemenag RI, 2011) hlm. 46-47
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 944
Asmaun Sahlan, Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori Ke
Aksi), (Malang: UIN Maliki Press, 2010) hlm. 75
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya, Erlangga, 2007), hlm. 173
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah Mengembangkan Budaya Mutu, Disertasi
Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009, hlm. Vii-viii.
lihat Nurcholis Madjid, Pengantar dalam Buku Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat
Belajar, Menggagas Paradigma baru pendidikan, (Jakarta, Paramadina, 2001) hal
xv-xxi.
Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian ( Jakarta : Rajawali Press, 1990). hlm.105 dan
dapat pula dilihat dalam Abu Ahmadi & Munawar Soleh, Psikologi
Perkembangan, hlm. 161-164
20 | Schemata, Volume 4, Nomor 1, Juni 2015
Fly UP