...

20 hal untuk diketahui tentang dampak air laut pada lahan pertanian

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

20 hal untuk diketahui tentang dampak air laut pada lahan pertanian
!
Draft manuskrip ini – dikeluarkan oleh FAO - bertujuan untuk menyediakan panduan
singkat tentang tanah terkontaminasi garam sebagai dampak dari tsunami yang
menyebabkan genangan di lahan pertanian di daerah pesisir Propinsi Aceh (Nanggroe
Aceh Darrusalam). Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara mendalam
mengenai topik tersebut, tetapi hanya merupakan awal untuk diskusi lebih lanjut.
UN-FAO telah melakukan uji tanah dan klasifikasi kerusakan lahan di Aceh selama
bulan Januari-Februari, dan telah mempersiapkan hasil-hasil awal serta saran-saran
secara informal. FAO, bersama dengan UNOCHA menawarkan pelayanan-pelayanan,
baik sebagai sumber informasi teknis maupun sebagai mediator sebuah forum
menyangkut topik ini. Tujuan umumnya adalah untuk membantu pemulihan
bidang-bidang kehidupan di daerah-daerah pertanian yang terkena tsunami. Survei
lapangan mengenai salinitas tanah yang komprehensif sedang dilaksanakan oleh 12 tim
lapangan di Propinsi Aceh, dan hasil awalnya diharapkan dapat disampaikan pada
akhir Maret 2005.
Copy draft ini ditujukan untuk pendistribusian secara luas kepada
semua pihak yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan rehabilitasi
dan rekonstruksi di Propinsi Aceh, Indonesia. Penggandaan dan
pendistribusian dalam format yang tidak diedit diperbolehkan dan
didorong, dengan tetap mencantumkan FAO sebagai sumber.
© FAO, Maret 2005
Apa yang dimaksud dengan kontaminasi garam?
Air diserap oleh akar tanaman melalui suatu proses yang disebut osmosis, yang
melibatkan pergerakan air dari tempat dengan konsentrasi garam1 rendah (contohnya
tanah) ke tempat yang memiliki konsentrasi garam tinggi (contohnya bagian dalam dari
sel-sel akar). Jika konsentrasi garam di dalam tanah tinggi, pergerakan air dari tanah ke
akar melambat. Jika konsentrasi garam pada tanah lebih tinggi dibandingkan dengan di
dalam sel-sel akar, tanah akan menyerap air dari akar, dan tanaman akan layu dan mati.
Ini merupakan prinsip dasar bagaimana salinisasi mempengaruhi produksi tanaman.
Pengaruh yang merusak dari garam pada tanaman tidak hanya disebabkan oleh daya
osmosis, tetapi juga oleh sodium (Na+) and klor (Cl-) pada konsentrasi yang meracun
tanaman. Khususnya tanaman buah-buahan dan tanaman hias dari jenis kayu-kayuan
(bougenvil, kembang sepatu, dll) sangat sensitif terhadap kadar yang tinggi dari
unsur-unsur tersebut. Demikian juga, tingginya nilai pH (ukuran untuk keseimbangan
asam/basa) yang disebabkan oleh konsentrasi sodium yang tinggi akan berakibat pada
kekurangan unsur mikro.
Tingkat sensitivitas tanaman terhadap kadar garam bervariasi. Jenis tanaman dengan
toleransi terhadap garam yang paling rendah adalah tomat, bawang bombai terhadap
garam dan selada. Pada tingkat ekstrim yang lain adalah halophytes, yang paling sering
dijumpai di rawa-rawa bergaram, daerah pantai, dan lingkungan bergaram lainnya.
Salinisasi tanah adalah masalah yang umum dijumpai di daerah-daerah dengan curah
hujan rendah. Jika dikombinasikan dengan irigasi dan kondisi drainase yang buruk,
dapat mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen. Tipe salinitas seperti
ini merupakan faktor penyebab krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kekeringan.
Sementara salinisasi tanah yang muncul sebagai akibat dari bencana alam yang terjadi
dalam waktu singkat, sampai saat ini terbatas hanya disebabkan oleh tsunami. Karena
alasan tersebut, FAO menyadari bahwa banyak organisasi kemanusiaan yang bekerja di
Aceh mungkin belum pernah sebelumnya menemukan fenomena seperti ini, dan
mungkin menjumpai keterbatasan dalam mengakses informasi tentang bagaimana
mengidentifikasi dan menghadapi persoalan yang berkaitan dengan tanah yang telah
terkontaminasi garam.
Hal yang menguntungkan adalah bahwa Aceh dianugerahi curah hujan yang tinggi,
yang tidak biasa dijumpai di sebahagian besar daerah yang tanahnya bergaram.
Disamping usaha-usaha rehabilitasi lahan mendapatkan banyak manfaat dari tingginya
curah hujan terhadap garam ini, perlakuan-perlakuan konvensional lainnya, seperti
drainase yang baik, tanaman-tanaman berakar dalam, gypsums, dapat diperkenalkan
pada waktu dan tempat yang sesuai.
1
Garam terlarut umumnya tersusun oleh sodium (Na+), kalsium (Ca2+), magnesium
(Mg2+), klor (Cl-) dan sulfat (SO42-).
Magnesium sulfat (MgSO4) dan sodium kloride
(NaCl) merupakan garam terlarut yang sering dijumpai.
20 hal yang perlu diketahui tentang salinitas tanah untuk rehabilitasi lahan di
Propinsi NAD
Bagian I: PERMASALAHAN
1. Bagaimana garam mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan apa saja
gejalanya?
Garam mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui: (a) keracunan yang
diakibatkan penyerapan unsur penyusun garam secara berlebihan, seperti sodium,
(b) penurunan penyerapan air, dikenal sebagai cekaman air dan (c) penurunan dalam
penyerapan unsur-unsur penting bagi tanaman khususnya potasium. Gejala awal
munculnya kerusakan tanaman oleh salinitas adalah (a) warna daun yang menjadi
lebih gelap daripada warna normal yang hijau-kebiruan, (b) ukuran daun yang
lebih kecil dan (c) batang dengan jarak tangkai daun yang lebih pendek. Jika
permasalahannya menjadi lebih parah, daun akan (a) menjadi kuning (klorosis) dan
(b) tepi daun mati mengering terkena “burning” (terbakar, menjadi kecoklatan).
2. Eendapan liat dan debu adalah masalah yang sesungguhnya, dan bukan air
laut itu sendiri
Benar bahwa selama terjadinya tsunami air laut membawa garam ke permukaan
tanah, akan tetapi sebagian besar lahan tergenang dalam waktu yang relatif singkat,
dan sebagian besar garam akan –atau telah- tercuci oleh hujan yang sering terjadi.
Dari survei yang baru-baru ini dilakukan oleh FAO ditemukan bahwa
lapisan-lapisan liat atau debu hasil darin gelombang tsunami justru mengandung
residu garam yang tinggi. Lapisan liat atau debu tersebut sangat mudah
diidentifikasi dari retakan-retakan yang menyebar di seluruh permukaan tanah. Di
sebagian besar tempat, setelah digali sampai kurang lebih sedalam 20 cm dijumpai
lapisan keabuan yang masih jelas.
3. Kesulitan berkaitan dengan lapisan liat/debu
Garam di dalam tanah dapat dicuci dengan baik menggunakan air tawar, tetapi
karena lapisan liat/debu ini relatif sulit ditembus air, maka proses infiltrasi yang
kemudian disebut pencucian menjadi lambat. Ketika retakan terjadi, dan air hujan
mengalir ke dalam retakan-retakan ini, desalinisasi masih tetap lambat. Di beberapa
daerah yang relatif kering, garam telah terakumulasi dan mengkristal di permukaan
tanah. Sebagai akibatnya, masalah salinitas ini dapat bertahan lebih lama, kecuali
diambil tindakan untuk membuang garam tersebut dengan cara penggelontoran
dan/atau pencucian.
BAGIAN II: ANALISA
4. Observasi
Dengan memperhatikan tanah secara teliti akan dijumpai tanda-tanda yang berkaitan
dengan salinitas tanah. Keretakan adalah tanda yang jelas adanya endapan liat/debu.
Akumulasi garam yang terlihat jelas pada permukaan mengindikasikan kurangnya
hujan, dan kondisi ini menghambat reklamasi tanah. Vegetasi merupakan tanda yang
jelas yang menunjukkan adanya perbaikan. Apabila tidak ada endapan liat/debu
"
maupun vegetasi, hal ini dapat berarti bahwa air bergaram kemungkinan
terperangkap di bawah permukaan tanah dan menghambat pertanaman (disebut
waterlogging).
5. EC meter
Daya hantar listrik meter (DHL meter) atau electrical conductivity meter (EC meter)
memberikan informasi yang lebih akurat tentang salinitas tanah. Nilai yang terbaca
(dalam mS/cm: mili-Siemens per sentimeter) memberikan indikasi tentang jumlah
elektrolit dalam larutan tanah, artinya semakin tinggi nilainya, semakin banyak pula
garam yang terkandung dalam larutan tersebut. Harga EC meter bervariasi antara
US$ 50 sampai US$ 500 per unit. Yang penting adalah bahwa alat tersebut dapat
mengukur dari nol sampai paling tidak 20 mS/cm (atau 19.99 mS/cm seperti yang
terlihat pada banyak katalog). Satu hal penting lainnya adalah elektrodanya harus
dikalibrasi sebelum digunakan, silahkan membaca dengan teliti petunjuk
pengukuran.
6. Prosedur pengukuran
Ada suatu prosedur ilmiah untuk mengukur daya hantar listrik (DHL) dalam tanah,
tapi prosedur berikut ini dapat digunakan secara praktis untuk mengestimasi garam
di lapangan. Campurkan 1 porsi (berat) tanah dan 5 porsi air destilasi (sebagai
gantinya dapat digunakan air mineral, tapi bukan air sumur). Kocok selama 1 menit
dan diamkan campuran tersebut selama beberapa menit (biasanya selama 30 menit,
tetapi sesungguhnya tidak menyebabkan perbedaan yang signifikan) sebelum
mencelupkan sebuah electrode yang telah dikalibrasi ke dalam larutan tanah tersebut
dan baca nilainya.
7. Bagaimana mendapatkan nilai salinitas tanah sawah
Sebagaimana diketahui bawha akar padi umumnya mencapai kedalaman sekitar 20
cm di bawah permukaan tanah, ambil contoh tanah dari zona tersebut. Sebagai
alternatif lain, ambil contoh tanah dari lapisan-lapisan yang berbeda (misalnya
liat/debu, pasir dan tanah asli) lalu dicampur. Dalam hal ini, perhatikan bahwa rasio
tiap contoh tanah sesuai dengan kedalaman tiap lapisan. Salinitas lapisan liat/debu
juga harus diukur. Ukur sesuai dengan prosedur di atas, lalu kalikan dengan 8 untuk
mendapatkan EC dalam ekstrak jenuh atau EC(e). Perkalian ini akan valid untuk
tipikal lahan padi di Propinsi Aceh dan nilai yang lebih tinggi (10-14) harus
digunakan untuk tanah yang lebih berpasir. Jika anda tidak begitu yakin tentang
tekstur tanahnya, anda dapat mengaplikasikan keduanya dalam pengukuran.
8. Apa arti nilai tersebut?
Untuk padi:
- Jika EC(e) kurang dari 4, maka perkiraan kehilangan hasil tanaman kurang dari
10%
- Jika EC(e) lebih dari 4, maka perkiraan kehilangan hasil tanaman 10-20%
- Jika EC(e) lebih dari 6, maka perkiraan kehilangan hasil tanaman 20-50%
- Jika EC(e) lebih dari 10, maka perkiraan kehilangan hasil tanaman lebih dari
50%
#
Untuk tanaman lain: tanaman yang sensitif (seperti pepaya, mangga dan pisang)
akan terpengaruh pada nilai EC(e) sekitar 2, dan tanaman yang toleran (misalnya
kelapa, asam) hanya akan terpengaruh pada nilai 8-10 atau lebih.
9. Berapa level idealnya?
Untuk tanaman padi, nilai EC(e) kurang dari 4 pada saat tanam adalah yang paling
baik untuk pembentukan akar. Jika ini bisa dicapai dan jika pengelolaan air dapat
dilaksanakan dengan baik, maka tidak akan ada masalah salinitas selama musim
tanam.
BAGIAN III: SOLUSI
10. Air bersih adalah solusiNYA
Air bersih adalah satu-satunya unsur penting untuk desalinisasi. Tabel berikut ini
memperlihatkan jumlah air infiltrasi yang dibutuhkan untuk pencucian (catatan:
BUKAN HUJAN, karena sebagian di antaranya hilang melalui evaporasi, yang
dapat mencapai 1.500 mm per tahun di wilayah ini, dan/atau aliran permukaan)
yang dibutuhkan untuk dapat mencapai EC(e) di bawah 4 dari nilai-nilai EC(e)
sebelumnya. Dengan curah hujan yang tinggi di Propinsi Aceh (1.600 mm per tahun
di Banda Aceh, 2.000 mm di Aceh Timur dan 3.500 mm di Aceh Barat), hasilnya
cukup positif. Bagaimanapun juga, pastikan bahwa air tersebut benar-benar
melewati zona perakaran untuk melaksanakan fungsinya. Sebagai tambahan,
beberapa wilayah di pantai timur pada kenyataannya cukup kering, sehingga
dibutuhkan pendekatan yang lebih teliti.
Tabel. Air yang dibutuhkan untuk mencapai EC(e)=4 pada zona perakaran
(kedalaman 20 cm)
Nilai awal EC(e)
Air yang dibutuhkan
(mS/cm)
(mm)
10
315
15
430
20
540
25
650
30
765
11. Infrastruktur drainase yang baik adalah sama pentingnya
Drainase yang baik sama pentingnya dengan air bersih untuk mencuci secara efektif
garam dari suatu lahan. Kecuali jika daya serap alami tanah dan kondisi drainase
yang baik memungkinkan terjadinya perkolasi air dan drainase dari lahan, pencucian
mungkin merupakan satu-satunya cara yang berhasil walaupun tidak seluruhnya,
sekalipun dengan menggunakan air berkualitas baik. Secara ideal, membersihkan
endapan lumpur debu pada saluran drainase merupakan factor penting lainnya dari
proses rehabilitasi. Memperbaiki kondisi drainase permukaan dengan cara menggali
saluran di lahan sawah adalah alternatif yang efektif. Penggelontoran secara cepat,
dengan atau tanpa pencampuran juga dapat dipertimbangkan untuk kondisi-kondisi
tertentu. Untuk tanaman-tanaman lahan kering bernilai ekonomi yang ditanaman
$
dalam kondisi basah, pembuatan bedengan sangat direkomendasikan untuk
menjamin kodisi yang paling cocok bagi akar tanaman.
12. Sumber-sumber air bersih
Dalam konteks kualitas, ‘air bersih’ diartikan sebagai air dengan daya hantar listrik
rendah, dan memiliki nilai EC yang kurang dari 0,5 mS/cm. Air yang memiliki nilai
sampai 2,0 mS/cm juga masih dapat digunakan, tetapi pengaruh pencucian-nya akan
lebih rendah. Untuk mengujinya, celupkan elektroda (EC meter) ke dalam air tanpa
tanah. Air hujan adalah yang ideal, karena nilai EC-nya hampir 0. Beberapa pola
pemanenan air sederhana juga akan meningkatkan penggunaan air hujan secara
efisien. Banyak saluran irigasi di pantai timur, apabila berfungsi, memiliki air
dengan kualitas yang baik, tetapi yang terbaik terlebih dulu adalah mengecek nilai
EC-nya. Hati-hati menggunakan air dari sumur dangkal, karena air tanah mungkin
telah menjadi asin, baik karena genangan akibat tsunami maupun bocoran di bawah
permukaan tanah dari tambak-tambak yang terletak di dekatnya: nilai EC-nya
mungkin sampai 10 mS/cm atau lebih. Air dari sumur bor mungkin lebih dapat
digunakan, tetapi air tersebut lebih dibutuhkan untuk konsumsi manusia (air minum)
selain juga biaya pemompaannya yang lebih mahal.
13. Menghancurkan lapisan liat/debu atau dengan pencampuran
Satu pilihan yang efektif untuk mempercepat pencucian garam adalah
menghancurkan lapisan permukaan dengan pengolahan tanah, baik dengan atau
tanpa mencampur bagian permukaan tersebut dengan tanah di bawahnya. Untuk
lahan kering, hal ini akan meningkatkan perkolasi. Untuk lahan sawah,
pencampuran akan secara aktif melepaskan garam ke dalam air, yang kemudian
harus dibuang dengan cara penggelontoran permukaan. Pada kawasan sawah
tadah-hujan, ini dapat dilakukan selama musim kemarau ketika tanah lebih keras
dan pekerjaannya menjadi lebih mudah, antara lain untuk membantu proses
pencucian pada saat musim hujan berikutnya mulai.
14. Mengeruk lapisan permukaan (endapan) adalah tidak praktis dan mahal
Untuk mengeruk lapisan liat/debu di permukaan adadalah sesuatu yang menarik
sebagai cara tercepat untuk membuang garam. Bagaimana pun juga perlu dipikirkan,
bahwa hanya 1 cm endapan per hektar sama dengan 100 meter kubik. Satu meter
kubik kurang lebih sekitar 15 gerobak dorong (wheel barrows) penuh, dan standar
muatan truk besar adalah 8 sampai 10 ton. Pilihan ini hanya dapat dibenarkan dalam
keadaan pengecualian, seperti pembersihan untuk tanaman yang menghasilkan uang
dalam jumlah besar. Dalam hal ini, keuntungan secara ekonomis sudah harus
dikalkulasikan terlebih dahulu. Sebagai tambahan, lahan harus disiapkan dengan
hati-hati agar tidak terjadi intrusi air garam dari lahan di sekitarnya. Pengerukan
tanah yang bergaram secara layak juga merupakan masalah; penimbunan kawasan
pantai mungkin efektif dilihat dari segi salinitas, tetapi membawa resiko lain bagi
lingkungan.
15. Gypsum
Gypsum menggantikan ion sodium dalam tanah dengan kalsium, dan sebagai
akibatnya secara aktif membuang sodium dan meningkatkan perkolasi tanah. Pilihan
%
ini dapat diaplikasikan hanya ketika pH tanah lebih tinggi dari 8,5 (misalnya tanah
sodik) dan jika cara mekanis sederhana tidak efektif menghancurkan lapisan padat
liat/debu. Gypsum tersedia di Aceh dan harganya bervariasi antara $ 100 sampai
$ 200 (sekitar Rp 1000.000 – Rp 2000.000) untuk kebutuhan per hektar.
16. Pupuk kimia BUKAN solusinya
Pupuk tidak menyelesaikan masalah salinitas tanah. Pupuk hanya sebagi sumber
nutrisi tanaman dan tidak dapat membuang garam dari tanah. Akan tetapi pupuk
organik dan pemulsaan dapat membantu menurunkan salinitas tanah dengan
memperbaiki struktur tanah dan dengan demikian juga perkolasi-nya.
17. Upaya-upaya tambahan
Beberapa teknik seperti sistem tanam, pupuk dan pengelolaan air yang tepat dapat
mambantu menurunkan salinitas tanah, tetapi tidak satu pun di antaranya yang bisa
menggantikan cara pencucian dengan menggunakan air bersih.
18. Tanaman alternatif
Tanaman yang toleran terhadap garam mungkin dapat menjadi pilihan praktis
selama proses rehabilitasi. Berikut ini adalah daftar singkat dari tanaman-tanaman
yang toleran terhadap garam. Namun demikian, perlu dipertimbangkan bahwa
memperkenalkan tanaman baru tidaklah mudah. Evaluasi secara teliti menyangkut
kemampuan adaptasi, pasar dan hambatan-hambatan teknis harus dihindarkan, dan
saran dari para ahli sangat dibutuhkan.
Daftar tanaman yang memiliki toleransi tinggi/sedang terhadap garam
Field crops
Toleransi Tinggi
Barley, Kapas
Buah-buahan
Kurma
Sayuran
Asparagus, Bayam
Tanaman pakan ternak
Rumput Rhodes, Kikuyu,
Almum,
Pangola,
Wimmera
ryeglass, Lucerne, Phasey
bean, Siratro, Buffel, Sabi,
Guinea
Carnation, Clematis
Bougenvil, Krisant ,
Kembang sepatu,
Tanaman hias
Toleransi Sedang
Gandum,
Kedelai,
Sorghum, Padi, Kacang
tanah
Pomegranate, Ara, Zaitun,
Anggur,
Rockmelon,
Mulberry
Tomat,
Brokoli,
Kol,
Bunga kol, Jagung manis,
Mentimun
Berseem clover, Snail
medic, Barrel
medic, Blycine, Perennial
Strawberry
clover,
Paspalum, Rumput Sudan,
&
19. Melakukan monitoring secara teliti adalah penting
Walaupun butir-butir di atas memberikan petunjuk prinsip-prinsip reklamasi tanah,
monitoring lahan pertanian sangat penting dilakukan baik melalui pengamatan
maupun pengecekan salinitas.
PERLU BANTUAN LEBIH LANJUT, PUNYA PERTANYAAN LAIN?
20. Informasi Kontak
FAO dapat menyediakan pelatihan dan informasi lebih lanjut tentang salinitas tanah.
Silahkan menghubungi kantor-kantor FAO berikut ini, baik di Propinsi Aceh
maupun di Jakarta untuk informasi lebih rinci:
Kantor Cabang FAO di Banda Aceh
Tel: 0651-635636, e-mail: [email protected]
Kantor Cabang FAO di Meulaboh:
Tel: (Satelit) +881 621 463 207, e-mail: [email protected]
Kantor Perwakilan FAO di Jakarta
Tel: 021-314-1308, e-mail: [email protected]
Bahan Bacaan:
- Dubbin, W. (2001) “Soils” Natural History Museum Press, London.
- Ellis, S. and Mellor, (1995) “Soils and environment”, Routledge Press, London.
- FAO Land and Water Development Division, “Irrigation Methods”, Irrigation Water
Management Training Manual No.5.
- Hoshikawa, K. (1989) “The Growing Rice Plant”, Noubunkyo, Tokyo.
- IRRI web page, “How Do You Measure Soil Salinity?”,
http://www.knowledgebank.irri.org/TsunamisAndRice/How_Do_You_Measure_Soil_
Salinity_.htm
- RRI Rice Doctor web page, “Salinity”, http://www.knowledgebank.irri.org/rice
Doctor_MX/ Fact_Sheets/DeficienciesToxicities/Salinity.htm
- Sparks, D.L. (1995) “Environmental Soil Chemistry”, Academic Press, London.
- Kumazawa, K (1974) “Shokubutsu Eiyo-gaku Taiyo (Plant Nutrition Compendium)”,
Yokendo, Tokyo.
- Kurihara, J and Koshino, M (1986) “Hiryo Seizo-gaku (Fertilizer Production),
Yokento, Tokyo.
'
Fly UP