...

Kekhasan Morfologi Spesies Mangrove di Gili Sulat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kekhasan Morfologi Spesies Mangrove di Gili Sulat
Kekhasan Morfologi Spesies Mangrove
di Gili Sulat
Oleh :
Agil Al Idrus, I Gde Mertha, Gito Hadiprayitno, dan M. Liwa Ilhamdi
Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram
Email: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kekhasan morfologi spesies mangrove di
Gili Sulat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode survey melalui
pengamatan langsung secara in situ terhadap morfologi populasi-populasi dalam spesies
mangrove di lapangan. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif
kemudian deskripsikan untuk menggambarkan kekhasan morfologi spesies mangrove di
Gili Sulat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh spesies mangrove komponen
mayor yang populasinya menunjukkan morfologi yang khas di Gili Sulat, yaitu Bruguiera
gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Ceriops
tagal, Sonneratia alba, dan Avicennia marina. Kekhasan morfologi spesies mangrove
tersebut mencakup karakter tinggi pohon, warna dan diameter batang, struktur akar dan
jumlah bunga.
Kata kunci: kekhasan, mangrove, morfologi
ABSTRACT
The aims of this reseach is to analyze specific morphology of species mangrove in
Gili Sulat. Data collected in this reseach is done by survey method through in situ
observation to populations morphology of mangrove species in the field. Data is analyzed
by qualitative and quantitative and then describing to explain specific morphology of
mangrove species in Gili sulat. The result show that there are seven major component of
mangrove species with specific population morphology in Gili sulat, namely Bruguiera
gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Ceriops
tagal, Sonneratia alba, and Avicennia marina, respectively. The specific morphology
character of these mangrove species are heigh of trees, colour and diameter of stem, root
structure and number of flower.
Key Words: specific, mangrove, morphology
M
PENDAHULUAN
angrove
memiliki
karakter
morfologi yang unik sebagai
bentuk adaptasi terhadap kondisi
lingkungan tempat tumbuhnya. Kondisi
substrat dan salinitas merupakan dua
faktor penting yang harus diatasi oleh
tumbuhan mangrove agar bisa tetap eksis.
Kedua faktor tersebut berkonstribusi dalam
memicu adaptasi tumbuhan mangrove
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
secara morfologi dan fisiologi. Respon
morfologi yang ditunjukkan tumbuhan
mangrove, antara lain dengan membentuk
sistem perakaran dan buah yang unik.
Respon
fisiologi
ditandai
dengan
terbentuknya struktur anatomi yang khas
pada daun, misalnya adanya kelenjar
garam dan mekanisme yang unik dalam
pengeluaran garam.
120
ISSN: 1411-9587
Bentuk morfologi akar, buah, dan
anatomi pada tumbuhan mangrove
merupakan karakter taksonomi yang
mantap. Hal ini berarti bahwa bentuk
morfologi ketiga karakter tersebut selalu
ada pada tumbuhan mangrove dan secara
genetik diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Dengan demikian
macam-macam tipe akar seperti akar
tunjang, akar pensil, akar papan, dan akar
lutut merupakan bentuk spesialisasi
morfologi yang cukup valid sebagai
penanda takson tertentu pada mangrove.
Demikian pula morfologi buah yang
membentuk berbagai variasi propagul
dapat digunakan sebagai karakter yang
berharga untuk membedakan kelompok
pada mangrove (Tomlinson, 1986). Sifat
morfologi mangove tersebut pada lokasi
yang berbeda-beda tidak mengalami
perubahan
sehingga
menjadi
ciri
taksonomi khas mangrove, khususnya
pada tingkatan famili, marga dan spesies.
Pada tingkatan spesies, tidak semua
anggota populasi yang membentuk spesies
taksonomi memiliki karakter homogen
(Hardjosuwarno, 1990). Ciri-ciri morfologi
dan kimia atau fisiologi yang ditampilkan
oleh kelompok-kelompok populasi spesies
dapat berbeda satu sama lain sebagai
respon terhadap keadaan ekologi tertentu
(Barbour et al., 1980). Hasil penelitian
Turesson (1922) dalam Hardjosuwarno
(1990) menunjukkan bahwa variasi pada
anggota populasi suatu spesies adalah
sebagai produk tanggapan genetik terhadap
habitat dalam kisaran jenis. Berdasarkan
hal tersebut, terdapat dua tipe populasi
tumbuhan sebagai bentuk respon terhadap
kondisi habitat tertentu, yaitu ekotipe
(ecotype) dan ekofen (echopene). Respon
morfologi dan fisiologi pada ekotipe
diturunkan kepada generasi berikutnya
(heritable), sehingga tipe populasi ini akan
mempertahankan keistimewaan asalnya
bila ditanam dalam habitat lain. Populasi
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
yang keunikannya di alam disebabkan
karena plastisitas nongenetis disebut
ekofen atau fenekotipe (phenecotype),
untuk membedakan dari ekotipe.
Pengamatan para pakar botani terhadap
keanekaragaman tumbuhan mangrove
umumnya terbatas pada spesies taksonomi,
jarang sekali yang memperhatikan spesies
ekologi (ras ekologis), seperti ekotipe dan
ekofen serta varian genetik individu atau
grup individu dalam ekotipe yang disebut
biotipe. Walaupun ras ekologi secara
taksonomi dianggap kurang berarti karena
karakteristik
habitat
sebagai
dasar
penentuan spesies tersebut belum atau
jarang dianggap penting sebagai kriteria
taksonomi, namun data ekotipe dan ekofen
sangat
penting
bagi
ekologiawan
tumbuhan sebagai alat deduktif untuk
dapat memahami ekosistem, misalnya
dalam menunjang dinamika populasi
spesies, analisis kondisi lingkungan serta
proses mikroevolusi (Hardjosuwarno,
1990). Selain itu, data tersebut merupakan
informasi yang sangat berharga dalam
menentukan kekhasan mangrove pada
suatu lokasi.
Gili Sulat merupakan pulau di sebelah
timur bagian utara Pulau Lombok dengan
luas 1200 hektar yang sebagian besar
arealnya terendam air sebagai habitat
mangrove. Hutan mangrove di Gili Sulat
dihuni banyak spesies mangrove. Jumlah
itu termasuk paling banyak di Indonesia.
Beberapa jenis mangrove komponen
mayor di Gili Sulat
menunjukkan
penampilan morfologi yang cukup menarik
untuk diamati, sehingga perlu dilakukan
kajian botani pada tingkat populasi untuk
mengungkap variasi morfologi mangrove
di kawasan tersebut (Agil, 2013).
Pengamatan terhadap kekhasan karakter
morfologi
spesies
mangrove
yang
berhubungan dengan ras ekologis di Gili
Sulat belum banyak diungkapkan.
121
ISSN: 1411-9587
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan pada kawasan
hutan mangrove Gili Sulat Kabupaten
Lombok Timur pada bulan April – Juni
2014. Kegiatan lapangan dalam penelitian
ini dilakukan sebanyak enam kali dalam
rentang waktu tersebut.
Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan metode survey melalui
pengamatan langsung secara in situ
terhadap kondisi morfologi mangrove di
lapangan. Pengambilan data dilakukan
pada saat kondisi perairan mengalami
surut maksimal, sehinggsa memudahkan
dalam perjalanan memasuki kawasan
hutan mangrove. Selain itu pada kondisi
demikian struktur morfologi akar akan
tampak lebih lengkap dan jelas.
Alat
yang
digunakan
dalam
pengambilan data penelitian, yaitu
meteran, gunting tanaman, teropong,
kamera digital, hagameter dan parang.
Alat-alat tersebut digunakan untuk
mengukur
keliling
batang
pohon,
mengambil spesimen, mengamati pohon
dalam jarak jauh, dokumentasi hasil
penelitian, mengukur tinggi pohon dan
membuka jalan pada hutan mangrove
untuk menemukan jenis yang akan
diamati.
Parameter yang diamati dalam
penelitian ini dan cara pengukurannya
adalah sebagai berikut: tinggi pohon
ditentukan
dengan
mengukur
menggunakan hagameter, warna kulit
batang dengan pengamatan langsung,
keliling batang (untuk menentukan
diameter) diukur menggunakan meteran,
morfologi akar (akar lutut, akar sangga,
pneumatofora)
dengan
pengamatan
langsung, ukuran akar ditentukan dengan
mengukur akar menggunakan meteran, dan
jumlah bunga setiap tandan dengan
pengamatan langsung di lapangan.
Data yang diperoleh dibandingkan
dengan morfologi spesies mangrove dalam
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
buku Handbook of Mangroves in
Indonesia – Bali & Lombok yang ditulis
Kitamura et al. (1997) dan selanjutnya
dilakukan analisis secara kualitatif dan
kuantitatif. Hasil analisis deskripsikan
untuk
menggambarkan
kekhasan
morfologi populasi spesies mangrove di
Gili Sulat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran umum morfologi mangrove
Hasil penelitian menunjukkan terdapat
7 spesies mangrove komponen mayor yang
menunjukkan variasi morfologi yang unik
di Gili Sulat (Tabel 1). Dari tujuh spesies
mangrove
tersebut,
enam
spesies
menunjukkan
perbedaan
karakter
morfologi dengan spesies pada Kitamura
et al. (1997) pada Tabel 2. Satu spesies
yang lain memiliki ciri morfologi yang
masih berada dalam kisaran deskripsi
Kitamura et al. (1997), namun membentuk
dua kelompok populasi yang cukup tegas
perbedaan morfologinya. Kekhasan lima
spesies mangrove di Gili Sulat tersebut
terdapat pada karakter tinggi pohon, warna
dan diameter batang, akar, dan bunga.
Kekhasan morfologi yang paling
menonjol pada mangrove di Gili Sulat
adalah tinggi pohon. Berdasarkan data
tinggi pohon tujuh spesieas mangrove di
Gili Sulat (Tabel 1), lima spesies (71,43%)
menunjukkan ciri yang berbeda dengan
spesies pada Kitamura et al. (1997).
Masing-masing spesies mangrove tersebut
adalah
Bruguiera
gymnorrgiza,
Rhizophora
mucronata,
Rhizophora
stylosa, Rhizophora apiculata, dan
Sonneratia alba.
Ciri batang spesies mangrove di Gili
Sulat hampir seluruhnya tidak berbeda
dengan ciri batang pada Kitamura et al.
(1997). Keunikan warna kulit batang
hanya ditemukan pada satu jenis, yaitu
pada Bruguiera gymnorrhiza yang
menunjukkan warna abu gelap. Ukuran
122
ISSN: 1411-9587
diameter batang yang mencapai 150 cm
pada Sonneratia alba dapat dijadikan
sebagai salah satu kekhasan mangrove di
Gili Sulat (Tabel 1), karena diameter
batang sebesar itu belum pernah
ditemukan
di
Pulau
Lombok.
Tabel 1. Data hasil pengamatan morfologi spesies mangrove di Gili Sulat, 2014.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Jenis
Bruguiera
gymnorrhiza
Rhizophora mucronata
Rhizophora stylosa
Rhizophora apiculata
Ceriops tagal
Ceriops tagal
Sonneratia alba
Avicennia marina
Avicennia marina
Sumber: Data primer, 2014.
Karakter Morfologi
Tinggi
Batang
Akar
Bunga
9-13 m
18 -27m
3-6.8 m
9-17 m
5-6 m
3-5 m
16-20 m
6-11 m
5-8 m
Abu gelap
Kelabu - hitam
Abu - hitam
Abu gelap
Abu-abu
Abu-coklat
Krem-coklat; 89-150 cm
Abu bercak hijau
Abu bercak hijau
Akar lutut, 7-12 m
Tunjang, 2,5 m
Tunjang
Tunjang
Tunjang
Tunjang
Pneumatofora
Pneumatofora
Pneumatofora
1/axillary
7-11/tandan
15-25/tandan
2/tandan
4-5/tandan
6-8/tandan
2-5/cabang
15-20/tandan
8-12/tandan
Tabel 2. Morfologi spesies tumbuhan mangrove di Pulau Bali dan Pulau Lombok
menurut Kitamura et al., 1997.
No.
Jenis
Karakter Morfologi
Tinggi
Batang
Akar
Bunga
Bruguiera gymnorrhiza
Sampai 12 m
Abu
Akar Lutut
1/axillary
2.
Rhizophora mucronata
Sampai 25 m
Kelabu - hitam
Tunjang
4-8/tandan
3.
Rhizophora stylosa
Sampai 6 m
Abu – hitam
Tunjang
8-16 atau lebih/tandan
4.
Rhizophora apiculata
Sampai 15 m
Abu - Abu gelap
Tunjang
2/tandan
5.
Ceriops tagal
Sampai 6 m
Abu-abu - coklat
Tunjang
5-10/tandan
6.
Sonneratia alba
Sampai 16 m
Krem,-coklat
Pneumatofora
1-beberapa/cabang
7.
Avicennia marina
Sampai 12 m
Abu bercak hijau
Pneumatofora
8-14/tandan
1.
Sumber: Handbook of Mangroves in Indonesia – Bali & Lombok, 1997.
Bentuk akar mangrove merupakan ciri
taksonomi yang mantap (Tomlinson,
1986). Semua ciri morfologi akar pada
populasi spesies mangrove yang terdapat
di Gili Sulat (Tabel 1) sama dengan ciri
yang terdapat dalam Kitamura et al.
(1997), kecuali pada ukuran akar. Ukuran
akar
mangrove
pada
Bruguiera
gymnorrhiza cukup menarik untuk diamati
karena memiliki panjang yang menyebar
sampai radius 12 meter dari tumbuhan
induk. Demikian pula morfologi akar
Rhizophora mucronata dan Sonneratia
alba yang berukuran cukup besar, tidak
dijumpai di tempat lain di Pulau Lombok.
Jumlah bunga pada setiap tandan
menunjukkan kesamaan yang besar antara
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
ciri yang terdapat dalam Kitamura et al.
(1997) dengan hasil penelitian di Gili Sulat
(Tabel 1). Spesies mangrove yang
menunjukkan ciri bunga yang sama seperti
pada
Tabel
2,
yaitu
Bruguiera
gymnorrhiza,
Rhizophora
stylosa,
Rhizophora apiculata, ceriops tagal, dan
satu populasi spesies pada Avicennia
marina. Sedangkan spesies yang jumlah
bunganya pada setiap tandan berbeda
dengan Tabel 2 adalah Rhizophora
mucronata dan satu populasi pada spesies
Avicennia marina.
Kekhasan morfologi jenis mangrove
Ciri khas morfologi jenis mangrove yang
terdapat di Gili Sulat sebagai berikut:
123
ISSN: 1411-9587
1. Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lam.
Bruguiera gymnorrhiza yang terdapat
di Gili Sulat berupa pohon yang cukup
besar dengan tinggi antara 9-3 m. Pohon
spesies ini yang mencapai tinggi 13 m
hanya ditemukan di Gili Sulat (Tabel 1).
Populasi spesies Bruguiera gymnorrhiza
yang terdapat di Pulau Lombok hanya
mencapai tinggi sampai 12 meter (Tabel
2). Berdasarkan data tersebut maka tinggi
pohon yang mencapai 13 m dalam
populasi Bruguiera gymnorrhiza adalah
khas untuk mangrove di Gili Sulat.
Akar Bruguiera gymnorrhiza melebar
ke samping pada radius 7-12 m dari bagian
pangkal pohon (Tabel 1). Sepanjang akar
tersebut muncul sejumlah akar lutut.
Panjang akar yang memanjang ke arah
samping mencapai 12 m belum pernah
dilaporkan keberadaanya pada ekosistem
mangrove lain di Pulau Lombok. Ukuran
akar Bruguiera gymnorrhiza
yang
diperoleh pada penelitian ini lebih panjang
dibanding akar populasi spesies tersebut
yang pernah diamati Agil (2013) di Gili
Sulat yang mencapai ukuran maksimal
sampai 9 meter.
Pohon Bruguiera gymnorrhiza yang
terdapat di Gili Sulat merupakan populasi
mangrove yang berumur cukup tua.
Berdasarkan informasi masyarakat, pohon
Bruguiera
gymnorrhiza
tersebut
diperkirakan telah berumur lebih dari 45
tahun. Pohon mangrove yang telah
berumur cukup tua ini dicirikan dengan
kulit batang yang berwarna abu gelap
(Tabel 1). Warna kulit batang mangrove
tersebut berbeda dengan kerabat dekatnya
yang terdapat pada tempat lain di Pulau
Lombok.
2. Rhizophora mucronata Lam.
Rhizophora mucronata merupakan
tumbuhan mangrove yang memiliki tajuk
paling tinggi di Gili Sulat. Kisaran tinggi
pohon mangrove ini antara 18 – 27 m.
Pohon mangrove yang mencapai tinggi 27
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
m tersebut adalah khas untuk Gili Sulat.
Tinggi maksimum pohon mangrove
Rhizophora mucronata di Pulau Lombok
yang pernah dilaporkan yaitu mencapai 25
m (Kitamura et al., 1997).
Akar tunjang Rhizophora mucronata
tampak sangat mencolok di Gili Sulat.
Tampilan morfologi akar tunjang populasi
spesies tersebut berbeda dengan populasi
yang terdapat di pesisir Pulau Lombok.
Ukuran akar tunjang pohon dewasa pada
populasi Rhizophora mucronata yang
terdapat di Gili Sulat dapat mencapai
tinggi 2,5 meter, sedangkan populasi yang
terdapat di pesisir Pulau Lombok memiliki
akar tunjang yang tingginya kurang dari
1,5 meter. Selain ciri akar tunjang yang
cukup tinggi, bagian akar yang terdapat
pada pangkal batang cukup unik karena
melebar seperti papan. Ciri morfologi akar
tersebut dapat digunakan sebagai penanda
khas Rhizophora mucronata di lapangan.
Kulit batang Rhizophora mucronata
berwarna kelabu sampai hitam. Pohon
yang masih muda berkulit kelabu,
sedangkan pohon yang telah tua kulitnya
berangsur-angsur menjadi hitam dengan
retakan-retakan
yang
sangat
jelas.
Perubahan warna kulit kayu tersebut
berhubungan dengan aktivitas anatomi.
Menurut Whitmore (1961), warna dan
tekstur kulit kayu dikendalikan oleh
periderm selama proses pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan.
Jumlah bunga dalam setiap tandan
pada Rhizophora mucronata berkisar
antara 7 -11. Bunga dalam tandan yang
mencapai jumlah sampai delapan, umum
ditemukan pada Rhizophora mucronata di
Gili Sulat dan pesisir Pulau Lombok
(Tabel 2). Populasi dengan jumlah bunga
lebih dari delapan dan beberapa mencapai
11 dalam setiap tandan tidak umum
ditemukan di Pulau Lombok, kecuali
terdapat di Gili Sulat (Tabel 1).
Pembentukan jumlah bunga yang tidak
124
ISSN: 1411-9587
umum tersebut ada hubungannya dengan
konsentrasi florigen (hormon perangsang
bunga) yang banyak terbentuk karena
kondisi lingkungan di Gili Sulat.
3. Rhizophora stylosa Griff.
Rhizophora
stylosa
merupakan
mangrove tepi (fringing mangrove) di Gili
Sulat. Populasi spesies ini membentuk
sabuk flora yang khas mengelilingi di Gili
Sulat. Menurut Agil (2013) kedudukan
tegakan Rhizophora stylosa yang berada
pada formasi paling depan dan berbatasan
langsung dengan laut sangat penting untuk
perlindungan komunitas mangrove yang
berada di belakangnya. Individu-individu
dalam kelompok populasi Rhizophora
stylosa tumbuh berdekatan dengan akar
tunjang yang cukup rapat. Kondisi akar
tersebut sangat penting fungsinya bagi
mangrove tepi
untuk memecah
gelombang.
Populasi spesies Rhizophora stylosa
menunjukkan keanekaragaman genetik
yang rendah di Gili Sulat. Ciri morfologi
tinggi pohon, batang, akar dan jumlah
bunga spesies Rhizophora stylosa yang
terdapat di Gili Sulat (Tabel 1) tidak
menunjukkan variasi yang khas dengan
ciri pada Tabel 2. Keanekaragaman
genetik yang rendah diduga karean aliran
gen yang cukup tinggi dalam populasi
Rhizophora stylosa. Aliran gen yang tinggi
diduga karena penyerbukan melalui angin.
Pertukaran genetik yang tinggi juga
disebabkan karena populasi Rhizophora
stylosa yang berada atau berbatasan
langsung dengan arus laut. Kondisi ini
memudahkan
terjadinya
pertukaran
propagul antar lokasi yang letaknya cukup
berjauhan, sehingga tidak terjadi isolasi
geografis antar populasi.
4. Rhizophora apiculata Bl.
Kekhasan
spesies
mangrove
Rhizophora apiculata di Gili Sulat tampak
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
pada tinggi pohon (Tabel 1). Populasi
pohon Rhizophora apiculata yang terdapat
di Gili Sulat ada yang mencapai tinggi
sampai 17 m. Tinggi pohon jenis tersebut
yang ditemukan
di Pulau Lombok
(termasuk Gili Sulat) adalah umumnya
mencapai tinggi maksimum 16 m (Tabel
2).
Rhizophora apiculata merupakan
spesies mangrove yang memiliki sebaran
cukup luas di Gili Sulat. Spesies mangrove
ini ditemukan membentuk populasi murni
dan populasi campuran pada beberapa
lokasi di Gili Sulat (Agil, 2013).
Keanekaragaman genetik populasi
Rhizophora apiculata di Gili Sulat
termasuk rendah. Ciri morfologi batang,
akar dan jumlah bunga pada semua sampel
populasi spesies yang diamati (Tabel 1)
tidak menunjukkan perbedaan dengan ciri
pada Tabel 2. Variasi morfologi yang tidak
berbeda nyata antar sampel dalam populasi
spesies tersebut diduga karena banyak
terjadi
penyerbukan
sendiri.
Hasil
penelitian Yahya et al. (2014) dengan
menggunakan bukti molekuler mikrosatelit
menunjukkan bahwa variasi genetik dalam
dan antar populasi Rhizophora apiculata
yang terdapat di Kepulauan Sunda Besar
tergolong rendah karena terbentuk
populasi inbreeding akibat penyerbukan
sendiri.
5. Ceriops tagal C. B. Rob.
Hasil pengamatan terhadap Ceriops
tagal, menunjukkan bahwa anggota
spesies tersebut memiliki dua populasi
yang menunjukkan perbedaan morfologi
yang cukup tegas (Tabel 1). Morfologi
pembeda antara kedua populasi tersebut
terdapat pada ciri tinggi pohon, batang,
dan jumlah bunga. Populasi 1 memiliki
tinggi 5-6 m, kulit batang berwarna abuabu, jumlah bunga pada setiap tandan 4-5.
Populasi 2 dengan tinggi pohon 3-5 m,
kulit batang berwarna abu sampai abu
125
ISSN: 1411-9587
coklat, jumlah bunga pada setiap tandan 68. Walaupun kisaran ciri morfologi kedua
populasi spesies Ceriops tagal tersebut
berada dalam rentang toleransi ciri pada
Tabel 2, namun ciri masing-masing
populasi merupakan kekhasan mangrove di
Gili Sulat. Perbedaan morgologi yang
tegas antara beberapa populasi Ceriops
tagal juga pernah dilaporkan oleh Liao et
al. (2011) untuk populasi spesies yang
terdapat di Laut Cina Selatan.
Ceriops tagal populasi 1 dan Ceriops
tagal populasi 2 ditemukan pada tempat
yang terpisah di Gili Sulat. Ceriops tagal
populasi 1 ditemukan pada habitat yang
tidak terlalu sering tergenang air laut di
sisi utara komunitaas mangrove Gili Sulat.
Ceriops tagal populasi 2 tumbuh pada
jeluk-jeluk yang banyak digenangi air laut
pada sisi timur komunitas mangrove Gili
Sulat, yaitu pada formasi paling belakang.
Jumlah populasi pada kedua lokasi
tersebut cukup terbatas.
6. Sonneratia alba J. Smith.
Ciri
khas
mangrove
anggota
Sonneratia alba di Gili Sulat yaitu pada
diameter
batang.
Hasil
penelitian
menunjukkan terdapat beberapa anggota
populasi spesies tersebut yang diameter
batangnya dapat mencapai 150 cm (Tabel
1). Ukuran tersebut merupakan diameter
paling besar yang ditemukan di kawasan
Pulau Lombok. Menurut informasi
masyarakat di Takalok, Lombok Timur,
pohon
Sonneratia
alba
tersebut
diperkirakan telah berusia lebih dari 100
tahun.
Pohon Sonneratia alba yang terdapat
di Gili Sulat memiliki batang paling tinggi.
Ukuran tinggi batang Sonneratia alba
yang umumnya terdapat di Pulau Lombok
dapat mencapai 16 meter (Tabel 2),
sedangkan hasil penelitian di Gili Sulat
menunjukkan bahwa beberapa individu
pohon jenis tersebut dapat mencapai tinggi
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
sampai 20 m (Tabel 1). Pohon-pohon
Sonneratia alba yang memiliki batang
yang tinggi tersebut merupakan habitat
yang khas sebagai tempat istirahat
populasi kelelawar. Dimasa lalu sampai
tahun 1983 pohon Sonneratia alba yang
terdapat di Teluk Sepi, Lombok Barat juga
menjadi tempat istirahat kelelawar. Namun
saat ini pohon Sonneratia alba di lokasi
tersebut sudah semakin jarang ditemukan
karena penebangan liar untuk arang dan
kayu bakar.
7. Avicennia marina (Forsk.) Vierh.
Spesies Avicennia marina yang
terdapat di Gili Sulat disusun oleh dua
populasi yang dapat dibedakan secara
morfologi (Tabel 1). Avicennia marina
populasi 1 memiliki ciri tinggi pohon 6-11
m, warna kulit batang abu bercak hijau,
akar berupa pneumatofora, dan jumlah
bunga pada setiap tandan 15-20. Ciri yang
membedakan Avicennia marina populasi 1
dengan Avicennia marina populasi 2,
bahwa pada populasi 2 tinggi pohon 5-8 m
dan jumlah bunga 8-12 pada setiap tandan.
Belum ada publikasi tentang temuan
populasi-populasi
anggota
spesies
Avicennia marina pada lokasi lain di Pulau
Lombok. Dengan demikian adanya 2
populasi spesies Avicennia marina tersebut
merupakan kekayaam variasi genetik yang
khas untuk mangrove di Gili Sulat.
Status taksonomi kedua populasi
spesies Avicennia marina yang terdapat di
Gili Sulat belum dapat ditentukan.
Penentuan status taksonomi kedua
populasi
tersebut
pada
tingkatan
infraspesifik masih membutuhkan kajian
taksonomi
yang
mendalam
secara
morfologi
dan
molekuler.
Kajian
taksonomi yang berbasis molekuler akan
lebih akurat dalam menentukan perbedaan
populasi-populasi pada spesies Avicennia
marina seperti yang telah dilakukan oleh
Said et al. (2010) terhadap empat
126
ISSN: 1411-9587
heteroform Avicennia marina di Mesir dan
oleh Hazarika et al. (2013) dalam analisis
variasi genetik tiga populasi Avicennia
marina menggunakan random amplified
polymorphic
DNA-polyerase
chain
reaction (RAPD-PCR) di India.
Kedua populasi Avicenia marina
marina tersebut ditemukan pada formasi
paling
belakang
dalam
komunitas
mangrove di Gili Sulat, namun pada jarak
yang cukup jauh satu sama lain dan habitat
yang berbeda. Avicennia marina populasi
1 ditemukan pada habitat yang tanahnya
mendatar, sehingga populasi tersebut
terbenam air laut pada saat pasang dan
tidak digenangi air laut pada saat surut.
Avicennia marina populasi 2 tumbuh pada
jeluk-jeluk yang menyebabkan populasi
tersebut selalu tergenang air laut baik
dalam kondisi pasang dan surut. Karena
kondisi tersebut, maka habitat tempat
tumbuh Avicennia marina populasi 2
memiliki salinitas yang tinggi dibanding
Avicennia marina populasi 1.
SIMPULAN
Spesies mangrove kelompok mayor
(dapat membentuk tegakan murni) yang
populasinya menunjukkan morfologi yang
khas di Gili Sulat, yaitu Bruguiera
gymnorrhiza, Rhizophora mucronata,
Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata,
Ceriops tagal, Sonneratia alba, dan
Avicennia
marina.
Kekhasan
ciri
morfologi spesies mangrove tersebut
mencakup karakter tinggi pohon, warna
dan diameter batang, struktur akar dan
jumlah bunga.
DAFTAR PUSTAKA
Agil, Al Idrus. 2013. Mangrove di Gili
Sulat . Argapuji Press, Mataram
Lombok.
Barbour, M.G., J.H. Burk, and W.D. Pitts.
1980. Terrestrial Plant Ecology. The
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
Benjamin/Cummings
Publishing
Company,
Inc.,
Menlo
Park,
California.
Hardjosuwarno,
S.
1990.
Ekologi
Tumbuhan. Fakultas Biologi, UGM,
Yogyakarta.
Kitamura, S., C. Anwar, A. Cganiago, and
S. Baba. Hanbook of Mangroves in
Indonesia – Bali & Lombok. The
Development
of
Sustainable
mangrove
Management
Project,
Ministry of Forestryb Indonesia and
Japan
International
Cooperation
Agency.
Liao, Pei-Chun, Sgih-Ying Hwang, S.
Huang, Yu-Chung Chiang and JennChe Wang. 2011. Contrasting
demographic of Ceriops tagal
(Rhizophoraceae) populations in the
South China Sea. Australian Journal
of Botany 59(6): 523-532.
Tomlinson, P.B. 1986. The Botany of
Mangrove. Cambridge University
Press, Cambridge, London, New
York, N. Rochelle, Melborne, Sydney
Whitmore, T.C. 1961. Studies in
Systematic Bark Morphology. I. Bark
Morphology in Dipterocarpaceae.
New Phytol: 191-207.
Yahya, AF., J.O. Hyun, YY. Kim, KM.
Lee, KN. Hong, and SC Kim. 2014.
Genetic variation and population
genetic structure of Rhizophora
apiculata (Rhizophoraceae) in the
Greater Sunda Islands, Indonesia
using microsatellite markers. J. Plant
Res. 127 (2) 297-289.
Said, W.M. anda N. O.M. Ehsan. 2010.
Morphological
and
Molecular
Evidences Among Four Heteroforms
of Avicennia marina (Forssk) Vierh.
127
ISSN: 1411-9587
Journal of American Science 6 (11):
843-856.
Hazarika, D. M. Thangaraj, SK. Sahu, and
K. Kathiresan. 2013. Genetic diversity
in three population of Avicennia
marina along the eastcost of India by
RAPD markers. J. Environ Biol.
34(3): 663-666.
Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14 No. 2 Juli 2014
128
ISSN: 1411-9587
Fly UP