...

LAPORAN AKHIR KAJIAN POTENSI BEBERAPA SPESIES

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

LAPORAN AKHIR KAJIAN POTENSI BEBERAPA SPESIES
KODE JUDUL : I. 39
LAPORAN AKHIR
INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA
KAJIAN POTENSI BEBERAPA SPESIES TANAMAN DI
KEBUN RAYA PURWODADI TERHADAP KETERSEDIAAN
AIR TANAH
KEMENTERIAN/LEMBAGA:
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
Peneliti/Perekayasa:
1. Agung Sri Darmayanti, S.Tp
2. Ir. Solikin , M.P
3. Esti Endah Ariyanti, M.Sc.
4. Deden Mudiana S. Hut
5. Ridesti Rindyastuti, S.Si
1
INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI
2012
LEMBAR PENGESAHAN
1.
Judul Penelitian
:
KAJIAN POTENSI BEBERAPA SPESIES TANAMAN DI KEBUN
RAYA PURWODADI TERHADAP KETERSEDIAAN AIR TANAH
2.
Kode
:
I.39
3.
Koridor
:
2 (Jawa)
4.
Fokus
:
Bidang Pendukung
5.
Lokus
:
Jawa Timur
6.
Biaya Penelitian
:
Rp 250.000,- (Dua ratus lima puluh juta rupiah)
7.
Peneliti Pengusul
:
Agung Sri Darmayanti, S.Tp
8.
Peneliti Anggota
:
1.Ir. Solikin , M.P
2.Esti Endah Ariyanti, M.Sc.
3.Deden Mudiana S. Hut
4.Ridesti Rindyastuti, S.Si.
Malang, 20 September 2012
Kepala UPT Balai Konservasi Tumbuhan
Kebun Raya Purwodadi - LIPI
Dr. R. Hendrian, M.Sc.
NIP. 19661121.199403.1.001
2
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pokok Permasalahan
C. Maksud dan Tujuan Kegiatan
D. Metodologi Pelaksanaan
1. Lokus Kegiatan
2. Fokus Kegiatan
3. Ruang Lingkup
4. Bentuk Kegiatan
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
1. Perkembangan Kegiatan
2. Kendala dan Hambatan Pelaksanaan Kegiatan
B. Pengelolaan Administrasi Manajerial
1. Perencanaan Anggaran
2. Mekanisme Pengelolaan Anggaran
3. Rancangan dan Perkembangan Pengelolaan Aset
4. Kendala dan Hambatan Pengelolaan Administrasi Manajerial
BAB III
METODE PENCAPAIAN TARGET KINERJA
A. Metode Pencapaian Target Kinerja
1. Kerangka-Rancangan Metode Penelitian
2. Indikator Keberhasilan Pencapaian
3. Perkembangan dan Hasil Pelaksanaan Penelitian
B. Potensi Pengembangan Ke Depan
1. Kerangka Pengembangan Ke Depan
2. Strategi Pengembangan Ke Depan
3
BAB IV
SINERGI PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Sinergi Koordinasi Kelembagaan-Program
1. Kerangka Sinergi Koordinasi
2. Indikator Keberhasilan Sinergi Koordinasi
3. Perkembangan Sinergi Koordinasi
B. Kerangka Pemanfaatan Hasil Litbangyasa
1. Kerangka dan Strategi Pemanfaatan
2. Indikator Keberhasilan Pemanfaatan
3. Perkembangan Pemanfaatan
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran
2. Metode Pencapaian Target Kinerja
3. Potensi Pengembangan Ke Depan
4. Sinergi Koordinasi Kelembagaan-Program
5. Kerangka Pemanfaatan Hasil Litbangyasa
B. Saran
1. Keberlanjutan Pemanfaatan Hasil Kegiatan
2. Keberlanjutan Dukungan Program Ristek
4
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kebun Raya Purwodadi merupakan salah satu dari empat cabang pusat
konservasi tumbuhan setelah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas dan Kebun
Raya Bali. Didirikan atas prakarsa Baas Becking pada 30 Januari 1941. Luas areal
kebun raya ini adalah 85 hektar. Semula kebun raya ini diperuntukan bagi penelitian
tanaman perkebunan. Namun, seiring dengan perkembangannya kebun ini memiliki
tugas untuk melaksanakan inventarisasi, eksplorasi, koleksi, penanaman dan
pemeliharaan tumbuhan dataran rendah kering khususnya kawasan Indonesia Timur
yang memiliki nilai ilmu pengetahuan dan potensi ekonomi. Kebun raya ini memiliki
koleksi sebanyak 10.605 spesies tanaman yang terdiri atas 3.621 nomor, 171 familia
dan 894 genera. Terdiri dari 2.344 spesimen anggrek terdiri dari 319 spesies, 30
spesies bambu, 157 spesies polong-polongan yang termasuk kedalam 70 genera,
117 spesies palem-paleman, 60 spesies paku-pakuan, koleksi pisang sekitar 316
spesimen, 114 kultivar dari 4 spesies induk silangan dan berbagai jenis tanaman
obat-obatan (Kebun Raya Purwodadi, 2006). Kebun Raya Purwodadi memiliki curah
hujan rata-rata/tahun 2.372 mm dengan bulan basah antara November-Maret dan
bersuhu 22-320C. Bulan-bulan kering tanpa hujan sama sekali pada musim kemarau
dapat berlangsung selama 4-5 bulan, yaitu pada bulan Juni-Oktober yang
ditunjukkan fenomena daun-daun kering dan banyak yang gugur (Kebun Raya
Purwodadi, 2006).
Dalam jumlah koleksi Kebun Raya Purwodadi terdapat 85 spesies pohon
tahan kering yang dapat beregenerasi secara generatif dan sebanyak 27 spesies
yang memiliki karakter menggugurkan daun
secara serentak maupun perlahan-
lahan (Soejono, 2006). Serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi
permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan (Hairiah et al.,
2000). Ketebalan lapisan serasah pada permukaan tanah mempengaruhi laju
dekomposisinya.
Semakin
lambat
terdekomposisi
maka
keberadaannya
dipermukaan tanah menjadi lebih lama. (Hairiah et al., 2004). Pada skala bentang
5
lahan
maupun
secara
global,
salah
satu
peran
penting
hutan
adalah
mempertahankan fungsi hidrologi terutama berkenaan dengan penyediaan air tanah
yang kualitasnya memenuhi standar kesehatan. Pada lahan berlereng, waktu tinggal
serasah (litter residence time) sangat penting dalam mengurangi laju aliran
permukaan dan erosi dengan meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah (Hairiah et al.,
2000).
Kebun Raya Purwodadi sebagai hutan kota memiliki peran seperti hutan
dalam menjaga ketersedian unsur hara, mempertahankan ketersedian air tanah, dan
mempertahankan iklim mikro. Keragaman karakteristik tanaman di Kebun Raya
Purwodadi dalam bentuk arsitektur tajuk dan akar akan membawa keragaman pula
dalam hal peran hidrologi pada lingkungannya. Pentingnya peranan vegetasi dalam
peran hidrologinya melalui proses pendisribusian jatuhan air hujan. Distribusi jatuhan
air hujan akan terbagi dalam dua bagian, yaitu bagian yang jatuh mengenai dan
ditahan tajuk dan batang vegetasi, dinamakan air intersepsi, dan sebagian lagi jatuh
sampai ke permukaan tanah, disebut lolosan tajuk. Lolosan tajuk ini yang kemudian
akan terdistribusi lagi menjadi air infiltrasi dan air limpasan. Air limpasan yang
berlebihan tentunya akan menyebabkan terjadinya erosi. Sedangkan air infiltrasi
adalah sebaliknya, masuk dan mengisi pori-pori tanah dan akan menjadi simpanan
air di masa mendatang. Keberadaan akar yang menyebar di berbagai lapisan dalam
profil tanah, meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan menggemburkan
tanah sehingga juga akan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah.
Pentingnya keberadaan serasah dalam siklus hidrologi dapat dijelaskan
sebagai berikut. Lapisan serasah pada lantai hutan mampu mencegah jatuhnya air
hujan langsung sebelum mencapai permukaan tanah. Kemampuan serasah dalam
menyimpan air berbeda-beda bergantung pada pada tipe hutan dan jenis serasah
yang dihasilkan. Penutupan lantai hutan dengan serasah dan vegetasi sebesar 6075% hanya menghasilkan 2% air limpasan (Sedell et al., 2000). Penutupan lantai
hutan dengan serasah memiliki permeabilitas tanah yang cukup tinggi. Serasah
mampu menahan presipitasi dan aliran permukaan. Hutan dengan serasahnya juga
mampu melestarikan air tanah dan pada waktu yang sama mengurangi banjir dan
erosi tanah (Boczon, 2006).
Banyak lahan kritis yang masih tersebar di Indonesia, pada umumnya, dan di
Jawa Timur pada khususnya. Lahan kritis dapat berupa lahan yang sudah
6
terdegradasi ataupun lahan yang sedang ditanami masyarakat namun kurang
memperhatikan aspek ekologi lahan. Sistem agroforestri dahulu muncul sebagai
salah satu pemecahan kondisi tersebut dan sebenarnya sudah berkembang cukup
lama. Salah satu definisi agroforestri berdasarkan Hariah, dkk (2003) bahwa
agroforestri adalah sotem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman
berkayu dengan tanaman tidak berkayu (kadang-kadang dengan hewan) yang
tumbuh bersamaan dan bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai
produk dan jasa sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar
komponen tanaman.
Keuntungan-keuntungan sistem agroforestri dapat dilihat dari aspek ekologis
yaitu menjaga kestabilan ekosistem, kestabilan tanah, unsur hara, dan air, dan dari
aspek ekonomis adalah terciptanya jumlah produksi yang lebih tinggi, serta aspek
sosial yaitu kesempatan kerja sepanjang tahun di saat tanaman semusim tidak
sedang panen (Wiersum, 1981). Namun pada kenyataannnya, sistem agroforestri
tidak dijalankan secara tepat oleh para petani karena kekurangan-kekurangan
sebagai berikut : pengurangan hasil tanaman pokok karena pohon-pohon bersaing
dalam penggunaan lahan, ketidak sesuaian pepohonan dengan kegiatan pertanian,
dan periode produksi pohon yang relatif panjang sehingga menunda pendapatan
petani.
Namun sebenarnya kekurangan bisa disiasati dan diatasi dengan berbagai
cara, sehingga keseimbangan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial tetap sejalan. Hal
tersebut yang mendorong berbagai penelitian mengenai konsep agroforestri tidak
berhenti hingga sekarang dan berbagai kegiatan sosialisasi serta pemahaman
terhadap masyarakat sangat penting untuk dilakukan.
Penelitian tentang peran serasah vegetasi pada lantai hutan sebagai penahan
air hujan masih belum banyak dikerjakan.Begitu pula di Kebun Raya Purwodadi
belum pernah dilakukan penelitian tentang peresapan air hujan ke dalam tanah pada
plot dengan jenis tanaman yang dominan. Informasi mengenai peresapan air hujan
ke dalam tanah efektif dalam memberikan informasi dan gambaran mengenai
seberapa peranan tanaman tersebut dalam bentuk karakteristik dan sumbangan
seresahnya terhadap besarnya air yang masuk ke poripori tanah akan menjadi air
tanah yang penting bagi persediaan air di masa depan.
7
Model tanaman yang didapat diharapkan mampu meningkatkan laju infiltrasi
dan permeabilitas tanah dengan memperbaiki sifat-sifat tanah. Dengan kajian laju
infiltrasi pada beberapa tanaman diharapkan mampu untuk meningkatkan upaya
perbaikan sifat-sifat tanah. Sehingga nantinya akan mampu meningkatkan infiltrasi
dan mengurangi aliran permukaan tanah (run off) yang dapat menyebabkan erosi.
I.2 PERMASALAHAN UTAMA
Banyak lahan kritis yang masih tersebar di Indonesia, pada umumnya, dan
di Jawa Timur pada khususnya. Sistem agroforestri dahulu muncul sebagai salah satu
pemecahan kondisi tersebut dan sebenarnya sudah berkembang cukup lama. Namun
pada kenyataannnya, sistem agroforestri tidak dijalankan secara tepat oleh para petani
karena berbagai kekurangan sehingga menimbulkan banyak permasalahan hidrologi
seperti penyerapan air (infiltrasi) yang kurang baik dan aliran permukaan yang besar
sehingga dapat menimbulkan erosi. Kekurangan-kekurangan tersebut bisa diatasi
dengan berbagai cara, sehingga keseimbangan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial
tetap sejalan. Hal tersebut yang mendorong berbagai penelitian mengenai konsep
agroforestri, dilanjutkan dengan berbagai kegiatan sosialisasi serta pemahaman
terhadap masyarakat sangat penting untuk dilakukan. Salah satunya konsep yang perlu
diperhatikan
adalah
konsep
keselarasan
vegetasi
yang
ada
di
dalamnya.
Bagaimanapun vegetasi ikut mempengaruhi kondisi hidrologi agroforestri yang
dinaunginya. Model tanaman (tajuk, akar, dan kualitas seresahnya) yang didapat
diharapkan mampu meningkatkan laju infiltrasi dan permeabilitas tanah dengan
memperbaiki sifat-sifat tanah. Dengan kajian laju infiltrasi pada beberapa tanaman
diharapkan mampu untuk meningkatkan upaya perbaikan sifat-sifat tanah. Sehingga
nantinya akan mampu meningkatkan infiltrasi dan mengurangi aliran permukaan tanah
(run off) yang dapat menyebabkan erosi.
I.3 Tujuan Kegiatan
Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut :
-Mengetahui kondisi hidrologi beberapa plot yang dijadikan sampel di Kebun
Raya Purwodadi dan tanaman berpenghasil seresah apa saja yang
mendominan
8
-Mendapatkan informasi tentang pengaruh seresah, tajuk, dan perakaran
terhadap infiltrasi air hujan ke dalam tanah dan limpasan permukaan
-Mendapatkan informasi tentang tanaman yang potensial dalam memperbaiki
kondisi hidrologi tanah pada agroforestri yang kurang baik
-Membentuk usaha sosialisasi untuk meningkatan kesadaran dan
pemahaman petani dan masyarakat setempat terhadap sistem agroforestri
yang sehat
-Membentuk suatu kebun bibit percontohan dan lahan agroforestri yang
memiliki kondisi hidrologi baik sebagai percontohan
I.4
METODOLOGI PELAKSANAAN
I.4.1 Lokus Kegiatan
Penelitian dilakukan tahun 2012 pada beberapa wilayah terseleksi di Kebun
Raya Purwodadi. Penentuan wilayah ini dilakukan berdasarkan penelitian terdahulu
yang sudah memberikan informasi tentang jenis tanaman yang memiliki jumlah
seresah tinggi dan berpotensi. Wilayah yang dipilih adalah wilayah yang didominasi
oleh tanaman-tanaman tersebut dan dipilih juga yang memiliki kondisi hidrologi yang
bervariasi dari yang terganggu sampai yang ideal. Terhadap individu pohon, analisis
kualitas seresah juga telah dilakukan pada penelitian terdahulu, sehingga penelitian
sekarang hanya melanjutkan dengan mengukur massa dan ketebalan seresah.
Terhadap individu pohon juga ditentukan jenis arsitektur tajuk yang tentunya sangat
mempengaruhi seberapa besar air hujan yang lolos dan tidak terhalang tajuk. Air
yang terhalang tajuk diistilahkan sebagai air intersepsi, sehingga perlu dihitung dan
dianalisa terlebih dahulu dengan menggunakan metode ombrometer. Terhadap
individu pohon juga ditentukan jenis perakarannya dengan metode IRV dan LRV.
Sedangkan terhadap plot wilayah yang dijadikan sampel, yang dilakukan adalah
penentuan laju dan kapasitas laju infiltrasi dengan menggunakan metode Ring
Infiltrometer. Garis tengah cincin (stainless steel) bagian dalam 80 cm, sedangkan
tinggi 30 cm. Untuk pengujian ini ditambah dengan alat-alat seperti penera
penurunan air berpelampung dan berskala, stopwatch, drum aspal dan ember plastik
besar sebagai tandon air, meteran, peta, godam (palu besar), plat besi untuk
mendorong infiltrometer masuk ke dalam tanah, lembaran plastik, dan alat-alat tulis.
9
Cara kerja pengamataan dapat dilihat dalam Landon (1980). Limpasan permukaan
diukur dari daerah tangkapan seluas 4 m x 6 m diukur setiap kejadian hujan.
Hasil penelitian tersebut dipadukan dengan hasil penelitian terdahulu tentang
pohon yang memiliki potensi hidrologi yang tinggi dijadikan rekomendasi untuk
penyusunan daftar tanaman yang akan ditanam pada program pengkayaan
agroforestri di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang dan Mojokerto.
I.4.2 Fokus Kegiatan
Penentuan lahan agroforestri yang kurang sehat diperoleh dari hasil survey ke
lapangan. Lahan yang dipilih adalah lahan agroforestri DI Jawa Timur dengan
kemiringan yang cukup dan tanaman sela/ tahunan yang masih sedikit. Lahan yang
dipilih adalah lahan agroforestri di sekitar, kabupaten Malang dan Mojokerto. Survey
dilakukan dengan mencatat lokasi, jenis tanah, kondisi hidrologi lahan, jenis komuditas
pertanian utama, dan sifat tanaman pertanian. Dari data itu dapat direkomendasikan
jenis tanaman tahunan yang sudah diteliti dan cocok ditanam bersama tanaman
komuditas. Diharapkan penanaman tanaman tahunan dapat memperbaiki kondisi
hidrologi lahan tersebut. Petani dan masyarakat setempat diberikan pemahaman
mengenai sistem hidrologi lahan, sistem agroforestri yang sehat dan bagaimana cara
mewujudkannya. Dari pemahaman tersebut dilanjutkan dengan pelatihan cara
pembibitan yang baik dan teknis cara penanaman tanaman sela yang benar sehingga
menghasilkan sistem agroforestri yang mendekati ideal. Kegiatan sosialisasi dan
penanaman disertai dengan pembuatan suatu paket Educational Sustainable
Development (ESD) dalam bentuk penyusunan buku panduan dan booklet.
I.4.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan berupa penelitian lanjutan di kebun raya Purwodadi,
Koordinasi dengan Departemen yang menjadi mitra, yaitu Departemen Kehutanan,
Survey ke daerah lahan agroforestri, dan koordinasi dengan kelompok petani setempat
10
I.4.4 Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan dari penelitian kami adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran kualitas dan kuantitas potensi tanaman sampel di kebun raya
purwodadi
( kuantitas seresah, kualitas tajuk dan akar)
2. Pengukuran kualitas hidrologi areal sampel tanaman di Kebun Raya Purwodadi
3. Pengukuran kualitas hidrologi areal agroforestri sasaran penghijauan
4. Perbanyakan tanaman/ bibit untuk ditanam di areal agroforestri
5. Pengembangan paket Education for Sustainable Development
6. Pelatihan kegiatan pembibitan dan pembentukan kebun bibit percontohan
7. Kegiatan penanaman,serta pembentukan lahan agroforestri dan bibit percontohan
11
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
II.1
Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Tahapan penelitian ini terdiri dari 8 tahapan yaitu :
1.
Penentuan spesies tumbuhan dan lokasi penelitian di Kebun Raya Purwodadi.
Metode yang dilakukan berdasarkan penelitian terdahulu yang pernah
dilakukan terhadap beberapa tumbuhan berpotensi sebagai penghasil seresah
yang tinggi di kebun raya, yaitu diantaranya adalah : Swietenia macrophylla/
Mahoni, Samanea saman/ trembesi, Antocephalus cadamba/jabon, Terminalia
microcarpa/ clumprit, dan Dillenia philipinensis/ Sempur
2.
Pendeskripsian sifat seresah, bentuk arsitektur tajuk tanaman dan akar yang
mendukung kemampuan penyerapan air infiltrasi
3.
Analisa laboratorium tanah, meliputi : Berat Isi Tanah (BI), Berat Jenis Tanah
(BJ), mikroorganisme tanah, dan porositas tanah
4.
Pengamatan laju infiltrasi dilakukan dengan menggunakaan metode infiltrasi
cincin (ring infiltrometer).
5.
Survey lokasi argoforestri yang memiliki kondisi hidrologi kurang ideal dan
tinjauan kesesuaian tanaman terpilih yang diteliti untuk ditanam di daerah
tersebut (analisa infiltrasi dan kondisi fisika tanahnya)
6.
Pelatihan dan penguatan pemahaman tentang agroforestri yang sehat dan
panduan teknis mengenai penanaman tanaman agroforestri pada petani-petani
di
daerah
terpilih,
lewat
pembuatan
paket
Educational
Sustainable
Development (ESD) dalam bentuk penyusunan buku panduan dan booklet ;
serta pengadaan acara sosialisasi
7.
Pelatihan pembibitan tanaman terpilih pada petak di lahan penduduk sehingga
dapat membentuk suatu kebun pembibitan percontohan
8.
Pelatihan teknis penanaman (bagi bibit yag telah tersedia) sehingga dapat
membentuk suatu lahan agroforestri percontohan yang memiliki sistem
hidrologi yang baik
12
II.1.1 Perkembangan Kegiatan
Sampai bulan September (Tahap II tahapan Proyek) kegiatan yang sudah
dilaksanakan adalah sampai pada tahapan 6, yaitu penguatan pemahaman
kelompok tani lewat pembuatan paket Educational Sustainable Development (ESD)
dalam bentuk penyusunan buku panduan dan booklet. Sedangkan acara sosialisasi
langsung pada kelompok tani akan dilaksanakan pada awal Bulan Oktober 2012.
II.2.2 Kendala Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan pengukuran air limpasan permukaan pada areal agroforestri
sasaran belum dapat terlasana seluruhnya karena terkendala hujan yang telah
habis.
II.2 Pengelolaan Administrasi manajerial
II.2.1 Perencanaan Anggaran
No
1
2
3
4
Uraian
Jumlah (Rp)
Gaji dan Upah
151,400,000
Bahan Habis Pakai
11,915,000
Perjalanan
17,085,000
Lain-Lain
69,600,000
Total
250,000,000
A. BIAYA PERSONIL (Gaji dan Upah)
Pelaksana
No Kegiatan
pengusul
(penanggung
1 jawab)
Jumlah
Jumlah
Bln
Satuan
Prosentase
60,56
4,766
6,834
27,84
100
Honor
Biaya
1
10 OB
2,100,000 21,000,000
2 peneliti madya
2
10 OB
1,600,000 32,000,000
3 peneliti muda
1
10 OB
1,400,000 14,000,000
4 peneliti pertama
1
10 OB
1,200,000 12,000,000
5 pembantu peneliti
1
10 0B
1,000,000 10,000,000
6 Pembantu peneliti
3
10 0B
700,000
21,000,000
7 pembantu lapangan
2
75 OH
100,000
15,000,000
8 pembantu lapangan
2
60 OH
80,000
9,600,000
9 pengolah data
1
60 OH
80,000
4,800,000
13
Pelaksana
No Kegiatan
Jumlah
Jumlah
Bln
10 sekretariat
3
10 OB
300,000
9,000,000
11 Koordinator peneliti
1
10 OB
TOTAL
300,000
3,000,000
151.400.000
Satuan
Honor
Biaya
B. BIAYA NON PERSONIL
1) Bahan Habis Pakai
No
Volume
Biaya Satuan
(Rp)
Bahan
Bahan aus dan alat kebun
1 (alat kebun, bahan kimia, pupuk, dll.)
1 paket
7,855,000
9,915,000
2
1 paket
2,000,000
2,000,000
11,915,000
ATK
Biaya (Rp)
TOTAL
2) Perjalanan
No
Tujuan
perjalanan ke Bogor
Volume
Biaya Satuan
(Rp)
1 OK
1,600,000
1 OH
415,000
2 Paket
1,900,000
10 OH
395,000
2 OK
1,600,000
4 OH
515,000
tiket pp 1 org, 1 kali
Biaya (Rp)
1,600,000
uang harian 1 org, 1 hr, 1 kali
415,000
1
perjalanan ke Malang/Pasuruan
transport lokal
3,800,000
uang harian 5 org, 1 hr, 2 kali
2
3,950,000
perjalanan ke Jakarta
tiket pp 1 org, 2 kali
3,200,000
uang harian 1 org, 2 hr, 2 kali
3
2,060,000
Sewa Kendaraan
4
1 paket
TOTAL
14
2,060,000
17,085,000
3) Lain-Lain
No
Kegiatan
Volume
Biaya Satuan (Rp)
Biaya (Rp)
6,000,000
500,000
2,500,000
25,000,000
5,000,000
15,300,000
6,000,000
1,000,000
2,500,000
1,000,000
5,000,000
30,600,000
publikasi (seminar, jurnal, dll.)
1
2
3
4
5
6
laporan
biaya monev BKPI (1%)
PPN 10%
PPH 2 %
sosialisasi, penyuluhan
1 paket
1 paket
1 paket
1 paket
1 paket
2 paket
TOTAL
69,600,000
II.2.2 Mekanisme Pengelolaan Anggaran
Mekanisme pengelolaan anggaran adalah sebagai berikut:
Dana atau anggaran dimasukkan ke dalam rekening satker. Koordinator menyusun
rencana penggunaan anggaran dibagi dalam beberapa termin sesuai dengan
Proposal, kemudian diajukan ke bagian Keuangan satker untuk pencairan dana.
Bagian Keuangan akan merencanakan pencairan dana sesuai dengan rencana
penggunaan anggaran tersebut per terminnya. Rencana penggunaan anggaran
terdiri dari belanja barang atau bahan, perjalanan, jasa dan lain-lain (sosialisasi dan
publikasi). Untuk belanja keperluan yang tercantum dalam rencana penggunaan
anggaran tiap termin diserahkan juga di bagian Umum (Pembelanjaan) untuk
dibelanjakan sesuai rencana serta sekaligus pengurusan administrasinya. Dokumendokumen administrasi selanjutnya diserahkan ke bagian Keuangan. Bagian
Keuangan akan membayarkan pajak dari pembelanjaan tersebut. Sedangkan untuk
anggaran perjalanan, jasa dan lain-lain (sosialisasi dan publikasi) langsung
diserahkan ke Bagian Keuangan untuk dicairkan, selanjutnya dana diserahkan ke
Koordinator. Setelah kegiatan berlangsung (perjalanan, jasa, sosialisasi dan
publikasi), bukti-bukti atau dokumen-dokumen seperti tiket, kuitansi dan SPPD
segera diserahkan ke Bagian Keuangan. Pembayaran pajak-pajak dilakukan oleh
Bagian Keuangan. Laporan penggunaan anggaran disusun secara bersama oleh
Koordinator, Bagian Umum dan Bagian Keuangan.
15
II.2.3 Rancangan dan Perkembangan Pengelolaan Aset
Tidak ada aset yang diadakan dari penelitian ini karena semua barang yang
dibeli adalah bahan habis pakai (aus). Output penelitian yang bisa dianggap sebagai
aset seperti buku-buku panduan dan booklet pengengembangannya untuk nantinya
digunakan sebagai bahan sosialisasi selanjutnya pada program pengkayaan
tanaman pada agroforestri atau lahan terdegradasi lainnya. Output berupa tanaman
hasil pembibitan untuk disumbangkan pada lahan agroforestri sasaran dalam
program pengkayaan tanaman untuk menghindari peristiwa limpasan permukaan /
sedimentasi dan bencana erosi
II.2.4 Kendala Pengelolaan Administrasi Manajerial
Pengelolaaan administrasi manajerial tidak menemui adanya kendala apapun.
Kerjasama dari bagian-bagian yang bersangkutan sangat baik sehingga pengelolaan
administrasi manajerial dapat berjalan dengan baik dan lancar.
16
BAB III
METODE PENCAPAIAN TARGET KINERJA
III.1 Metode Pencapaian Target Kinerja
III.1.1 Kerangka Rancangan Metode Penelitian
PENGINDERAAN LINGKUNGAN
DIKEBUN RAYA PURWODADI YANG DIDOMINASI OLEH SPESIES TANAMAN
BERPENGHASIL SERESAH TINGGI DAN MEMILIKI MORFOLOGI PENDUKUNG UNTUK
MENINGKATKAN INFILTRASI AIR HUJAN
Plot Penelitian
Pengukuran kuantitas seresah, air infiltrasi yang jatuh, pengamatan tajuk dan
akar, serta kapasitas infiltrasi dan limpasan permukaan
Hubungan keterkaitan seresah, tajuk, dan akar terhadap infiltrasi
dan limpasan permukaan
Rekomendasi spesies tanaman yang baik untuk peningkatan kemampuan
infiltrasi dan pengurangan jumlah aliran permukaan
Pengembangan paket Education for Sustainable Development terhadap petani dan penduduk
setempat pada lahan agroforestri dengan kondisi hidrologi yang kurang baik
Pelatihan kegiatan pembibitan tanaman dan pembentukan
kebun pembibitan percontohan
Pelatihan dan Penanaman bibit pada lahan agroforestri dan pembentukan areal
agroforestri percontohan
17
III.1.2 Indikator Keberhasilan Pencapaian dan Perkembangan dan Hasil
Pelaksanaan Penelitian
No
Kegiatan
Alokasi
Waktu
Indikator Capaian
Hasil Kegiatan
1
Pengukuran
kapasitas
infiltrasi dan
limpasan
permukaan
Mei- Juni
1.Diperolehnya hasil
berupa nilai kecepatan
resapan air
1. Nilai infiltrasi
pada setiap
agroforestri telah
diperoleh
2, Diperolehnya
besaran air limpasan
permukaan
Pada daerah
sasaran
agroforestri
2
Survey
Pendahuluan
Juli
1. Diperolehnya data
topografi lahan dan
fisika tanah
2. Diperolehnya
informasi komuditas
unggulan yang telah
lama dikembangkan
3. Diperolehnya data
potensi tanaman lain
yang mampu tumbuh
3
Pengumpulan
Bahan untuk
pembuatan
panduan
agroforestri
sehat
JuliAgustus
1.Terkumpulnya
macam-macam
informasi tentang
komuditas unggulan
tanaman keras pada
sistem agroforestri
18
2. Nilai besaran air
limpasan
permukaan tidak
dapat diperoleh
sepenuhnya karena
pengukurannya
terkendala air hujan
yang sudah tidak
turun lagi
1.Data topografi
lahan dan fisika
tanah pada 3
daerah agroforestri
sasaran telah
diperoleh
2. Ada beberapa
perbedaan
komuditas
unggulan pada 3
daerah agroforestri
3. Tanaman
tahunan yang
mampu tumbuh
pada ketiga lahan
umumnya sejenis
1.Ada beberapa
komuditas tanaman
tahunan unggulan
yang cocok
ditanam pada
ketiga lahan
agroforestri,yaitu
Mahoni, kemiri,
kenanga, cempaka,
clumprit, salam,dll
2. Tersusunnya
informasi-informasi
tersebut dalam
beberapa jilid buku
3. Tersusunnya booklet
tentang agroforestri
sehat
4
Perbanyakan
Bibit Tanaman
MeiOktober
Adanya beberapa bibit
tanaman siap tanam
dan beberapa berupa
benih
III.2 Potensi Pengembangan Ke Depan
III.2.1 Kerangka pengembangan Ke Depan
19
2. Terbentuknya 2
jilid buku kumpulan
informasi
komuditas
uanggulan
agroforestri
3. Tersusunnya
booklet agroforestri
sehat dan
pentingnya
konservasi tanah
dan air
Proses sedang
dilaksakan di
lapangan dan
sudah diperoleh
beberapa bibit siap
tanam yaitu Firmiana malayana,
Calophyllum
inophyllum,
Dalbergia latifolia,
Syzygium
polyanthum,
Aleurites
moluccana
Terbentuknya lahan agroforestri dan areal
agroforestri percontohan
Terkonservasinya Air dan Tanah
Perekonomian petani meningkat dan Kondisi Ekologi
Lahan Bertambah baik
Jenis-Jenis Tumbuhan yang Berpotensi dan Langka
dapat Terkonservasi dengan Baik
III.2.2 Strategi Pengembangan ke Depan
Pengembangan terbentuknya sistem perekonomian yang baik pada
petani dapat dilakukan dengan strategi pembinaan hubungan baik antara pihak
ketiga yaitu pada pembuatan kebijakan seperti Dinas Kehutanan dan para pengepul
hasil komuditas pertanian terhadap hasil pertanian para petani
Pengembangan sistem ekologi yang terpelihara dapat dilakukan
dengan strategi monitoring yang efektif dan berkelanjutan terhadap komposisi dan
daya hidup serta pertumbuhan tanaman-tanaman sela dan tanaman tahunan yang
berinteraksi pada suatu lahan
Terbentuknya suatu keberlanjutan dari kehidupan tanaman-tanaman
berpotensi dan langka dapat dilakukan dengan strategi monitoring pertumbuhan dan
kerjasama dengan penduduk untuk selalu menyebarluaskan pemanfaatan tanaman
tersebut sehingga semakin banyak yang menanam sehingga jenis tanamannya
semakin terkonservasi
20
BAB IV
SINERGI PELAKSANAAN KEGIATAN
IV.1 Sinergi Koordinasi Kelembagaan- Program
IV.1.1 Kerangka Sinergi Koordinasi
Adanya masalah dalam lingkungan terkait dengan keberadaan vegetasi dan
ekologi membuat kebun raya melakukanya penelitian dan tindak lanjut berdasarkan
penelitian dan acuan yang tepat, seperti yang dilakukan dalam proyek penelitian ini
dimana peneliti memandang ada sebagian besar kondisi lahan yang tidak sesuai dalam
pemeliharaan kondisi hidrologi yang baik. Hal ini tercermin dari beberapa areal
agroforestri di Jawa Timur yang kurang dalam keberadaan jumlah tumbuhan, sehingga
peneliti menganggap harus melakukan pengkayaan tanaman. Tanaman pada lahan
agroforestri kebanyakan
masih kurang memperhatikan aspek ekologi dan hanya
memperhatikan aspek ekonomi semata. Kemampuan peneliti dalam menggali beberapa
vegetasi lain yang berpotensi pada daerah-daerah tersebut dianggap perlu, seperti
tanaman langka yang sudah keberadaannya sudah sangat jarang karena tingkat
pemanfaatan ekonomi yang kecil dari masyarakat.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, lembaga kebun raya bekerja sama
dengan dinas terkait (dalam hal ini Dinas Kehutanan ) bersinergi membangun suatu
masyarakat yang berekonomi cukup dengan terpeliharanya kondisi hidrologi lahan yang
baik dan terkonservasinya tanaman-tanaman yang telah dianggap langka dan jarang
keberadaannya di masyarakat
IV.1.2 Indikator Keberhasilan Sinergi Koordinasi
Kegiatan survey lahan agroforestri yang kondisi ekologi dan hidrologinya
dianggap kurang ideal meriupakan tahapan penelitian yang dikoordinasikan
bersama dengan Dinas Kehutanan sebagai pengayom masyarakat kelompok tani di
pedesaan. Survey lahan yang tepat dan tidak salah sasaran diperlukan dalam
keputusan rencana kegiatan selanjutnya. Indikator keberhasilan pertama dari
tahapan ini adalah ditemukannya beberapa lahan agroforestri yang tepat, baik
topografi dan kondisinya . Indikator keberhasilan yang kedua adalah tercapainya
21
pendekatan kelompok tani untuk terbuka dan mau menerima saran dan masukan
lewat sosialisasi serta pengkayaan bibit dari penelitian ini.
IV.1.3 Perkembangan Sinergi Koordinasi
Perkembangan dari tahapan ini adalah ditemukannya beberapa lahan
agroforestri yang tepat, baik topografi dan kondisinya, yaitu dua di Kabupaten
Malang dan 1 di kabupaten Mojokerto. Daerah tersebut adalah di desa Babatan,
Kecamatan Ngajum Kab. Malang; Desa Jeru dan Benjor, Kecamatan Tumpang,
Kab. Malang ;
. Desa Padi Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto.
Keberhasilan pendekatan kelompok tani sudah cukup baik, beberapa kelompok tani
terbuka dan mau menerima saran dan masukan lewat sosialisasi serta pengkayaan
bibit dari penelitian ini. Sosialisasi yang direncanakan akan dilakukan pada bulan
Oktober.
IV.2 Kerangka Pemanfaatan Hasil Litbangyasa
IV.2.1 Kerangka dan Strategi Pemanfaatan
Hasil litbangyasa berupa data kondisi hidrologi tumbuhan dan hidrologi lahan,
bentuk pemanfaatannya, sebagai berikut :
a. Data digunakan untuk mengetahui seberapa besar air hujan yang dapat
diteruskan tanaman jenis tertentu ke bawah tanah sebagai modal
penyimpanan air tanah masa mendatang
b. Data digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan pada areal
agroforestri akan terjadi limpasan permukaan bahkan erosi dan seberapa
besar kemampuan lahan dalam menyimpan air untuk keperluan di musim
kering
Hasil litbangyasa berupa Potensi tajuk akar dan seresah tanaman, bentuk
pemanfaatannya sebagai berikut : Memperoleh data bentuk tajuk sebaran akar dan
kualitas seresah setiap jenis pohon dan mendapatkan kesimpulan jenis yang mana
yang paling memberikan konstribusi paling efektif dalam pemeliharaan konservasi
lahan dan peningkatan kadar air dalam tanah
22
Hasil
Litbangyasa
berupa
buku
panduan
dan
booklet
,
bentuk
pemanfaatannya adalah sebagai bahan sosialisasi pada kelompok tani terhadap
kesadaran konservasi air, tanah, dan tumbuhan sehingga yang terbentuk bukan saja
kemajuan di bidang ekonomi masyarakat juga kondisi ekologi lahan yang sehat.
Hasil Litbangyasa berupa hasil perbanyakan bibit dan benih dimanfaatkan
sebagai bahan untuk penghijauan ataupun pengkayaan tanaman di lahan
agroforestri
IV.2.2 Indikator Keberhasilan Pemanfaatan
Indikator keberhasilan pemanfaatan pertama adalah tercetaknya beberapa
modul ESD berupa buku –buku dan booklet yang berisi informasi tentang komuditas
unggulan
agroforestri
yang
mendukung
konservasi.
Indikator
keberhasilan
pemanfaatan kedua adalah terbentuknya suatu koordinasi yang baik dengan dinas
dan kelompok tani terhadap lahan yang ditunjuk sebagai lahan percontohan
nantinya sebagai agroforestri sehat dan kebun bibit.
IV.2.3 Perkembangan Pemanfaatan
Pemilihan tanaman yang sesuai dengan lokasi berdasarkan kondisi fisik lokasi
dan kondisi sosial ekonomi penduduk/ petani sejauh ini perkembangannya sudah
dilakukan. Pengumpulan data dan konsep untuk penyusunan modul ESD sudah
dilaksanakan
dan
sudah
dicetak
dan
beberapa
dalam
proses
pencetakan.
Pendistribusian tugas dan wewenang yang cocok dalam melakukan sosialisasi,
penanaman, dan monitoring proses penghijauan
sudah dilakukan,sedangkan
sosialisasi akan dilakukan 1 bulan ke depan dan penanaman pohon akan dilakukan 2
bulan kedepan menunggu musim hujan tiba.
23
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
V.1.1 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dan Anggaran
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan termin dana yang
masuk pada tiap tahapnya. Kegiatan yang paling banyak memerlukan modal adalah
pada tahap kedua dimana pada tahap kedua ini kegiatanyang dilakukan adalah
survei lanjutan pada lahan agroforestri, pembuatan bahan modul berupa buku dan
booklet, perbanyakan tanaman berupa bibit dan benih. Pada tahapan ketiga
nantinya akan dilaksanakan sosialisasi pada penduduk kelompok tani dan
pengkayaan tanaman pada lahan agroforestri berupa sumbangan tanaman dan
pelatihan tanam dan pembibitan.
V.1.2 Metode Pencapaian Target Kinerja
Metode pencapaian target kinerja dilakukan dalam berbagai cara yaitu
penelitian, survey, studi literatur, dan koordinasi dengan lembaga terkait, yaitu Dinas
Kehutanan Kabupaten Malang dan Dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten
Mojokerto.
V.1.3 Potensi Pengembangan Ke Depan
Hasil penelitian ini berpotensi untuk dikembangkan ke depan dalam hal
pencapaian kemajuan tingkat ekonomi penduduk dan terbentuknya kondisi ekologi
lahan yang semakin baik. Kondisi ini tentunya penting bagi pengembangan
penelitian dalan hal ekologi dan konservasi tanaman itu sendiri.
V.1.4 Sinergi Koordinasi Kelembagaan- Program
Koordinasi kelembagaan- program membentuk suatu pendekatan pada lahan
agroforestri dan kelompok tani yang dijadikan sasaran untuk melakukan pengkayaan
tanaman.
24
V.1.5 Kerangka Pemanfaatan Hasil Litbangyasa
Pemanfaatan Hasil Libangyasa terbagi dalam 3 bagian yaitu pemanfaatan
hasil penelitian pendahuluan, pemanfaatan modul ESD berupa buku dan booklet,
dan pemanfaatan hasil perbanyakan tanaman dan benih.
V.2 Saran
V.2.1 Keberlanjutan Pemanfaatan Hasil Kegiatan
Pemanfaatan hasil kegiatan dapat berlanjut terus apabila secara efektif
dilakukan monitoring pada lahan binaan. Selain itu pihak peneliti juga harus secara
kontinyu berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan untuk pembinaan masyarakat
petani secara berkelanjutan dalam informasi mengenai komuditas tanaman pokok,
dan pemasarannya juga mengenai komuditas tanaman tahunan (hasil pengkayaan)
dan sistem pemanenan dan pemasarannya sehingga tingkat perekonomian
masyarakat petani tetap terjaga bahkan meningkat seirirng dengan lahan dan air
yang semakin terkonservasi.
V.2.1 Keberlanjutan Dukungan Program Ristek
Untuk lebih baiknya keberlanjutan progam ini , tim penyandang dana (Ristek)
semoga semakin dapat membaca fenomena dan masalah yang semakin banyak
terjadi di masyarakat bukan sekedar terhadap ketahanan pangan, obat, bahan
pewarna, ketahanan laut dan bidang teknik lainnya, namun juga dapat menyoroti
fenomena bencana di muka bumi seperti erosi dan tanah longsor sebagai akibat dari
keberadaan efek rumah kaca yang disebabkan jumlah vegetasi dan plasma nutfah
yang semakin berkurang di dunia.
25
Fly UP