...

Perancangan Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendeteksi Jenis

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Perancangan Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendeteksi Jenis
ISSN : 1978-6603
Perancangan Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendeteksi Jenis Racun dan Spesies
Ular pada Pasien yang Terkena Racun Bisa Ular Menggunakan Metode Certainty
Factor
Dicky Nofriansyah #1, Puji Sari Ramadhan #2, Beni Andika#3
#1,2,3
Program Studi Sistem Informasi, STMIK Triguna Dharma
Jl. A.H. Nasution No. 73 F-Medan
E-mail : [email protected]
Blog:www.dickynofriansyah.wordpress.com
Abstrak
Kurangnya pengetahuan masyarakat serta tidak tercukupinya para ahli yang tersebar di
daerah dalam penanganan pada pasien yang terkena racun bisa ular, hal ini dapat menyebabkan
terhambatnya penanganan pada pasien yang terkena gigitan ular sehingga dapat berakibat
kematian pada pasien.Melihat fenomena yang terjadi maka perlu dirancang sebuah aplikasi
sistem pakar dengan menggunakan metode certainty factor yang berguna untuk mengidentifikasi
jenis racun dan species ular yang menggigitnya berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien
tersebut dengan menggunakan hasil dari kepakaran.Dengan adanya aplikasi sistem pakar dalam
pendeteksian jenis racun dan species ular ini dapat membantu para tenaga medis dalam
melakukan pendiagnosaan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat sehingga dapat
dilakukan penanganan lebih lanjut dan pada akhirnya dapat mengurangi resiko kematian pada
pasien yang terkena racun bisa ular.
Kata Kunci : Jenis racun, species ular, metode certainty factor.
Abstract
Lack of knowledge society and insufficiency of experts spread across the region in the
treatment of patients affected by snake venom toxins, it can cause delays in treatment in patients
bitten by a snake that can be fatal in pasien.Melihat phenomenon occurs it is necessary to design
an application expert system using the certainty factor that is useful to identify the types of toxins
and species of snake that bit based on the symptoms experienced by the patient using the results
of kepakaran.Dengan the application of expert systems in the detection of poisons and snake
species can help medical workers in do diagnosing to produce fast and accurate information so
that it can be further treatment and may ultimately reduce the risk of death in patients exposed to
toxic venom.
Keywords: Type of poison, snake species, methods certainty factor.
93
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
A. PENDAHULUAN
Ular adalah salah satu binatang
reptil yang banyak terdapat di Indonesia.
Ular merupakan hewan yang memiliki
racun bisa yang sangat berbahaya tetapi
tidak semua ular memiliki racun bisa ular.
Di Indonesia terdapat kurang lebih 250
spesies dan diantara jenis tersebut hanya 5
spesies
yang
berbisa
diantaranya
spesiesEliperdae,
Colubridae,
Vine,
Viperdae, dan Crotolidae yang tersebar di
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan
Papua.
Racun bisa ular akan diinjeksikan
pada tubuh mangsanya melalui gigitan bila
merasa terancam, ketakutan, merasa
terusik atau jika ular ingin melumpuhkan
mangsanya dan sebagai alat untuk
mempertahankan diri.
Bisa ular merupakan hasil sekresi
kelenjar mulut khusus yang menyerupai
kelenjar saliva pada hewan vertebrata,
Setiap
spesies
ular
menghasilkan
kandungan bahan toksin yang dapat
menyebabkan
gangguan
kesehatan,
penyakit, bahkan kematian. Gigitan ular
berbisa sering terjadi di daerah tropis dan
subtropis.
Kurangnya pengetahuan masyarakat
serta tidak tercukupinya para ahli yang
tersebar di daerah, hal ini dapat menyebabkan terhambatnya penanganan
pada pasien yang terkena gigitan ular
sehingga dapat berakibat kematian pada
pasien.
Melihat fenomena yang terjadi maka
sangat dibutuhkan informasi yang tepat
dan mudah terhadap pasien yang terkena
racun bisa ular agar dapat mengurangi
resiko
kematian,
maka
perlu
mengembangkan suatu teknologi yang
mampu mengadopsi proses dan cara
berfikir manusia yaitu dengan teknologi
Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan
atau Artificial Intelligence merupakan salah
satu bagian dari ilmu komputer yang
94
mempelajari bagaimana mesin komputer
dapat melakukan pekerjaan seperti dan
sebaik yang dilakukan oleh manusia. Sistem
pakar merupakan salah satu teknik
kecerdasan buatan yang dirancang untuk
menganalisa dan mendiagnosa suatu
permasalahan
yang
terjadi
untuk
mendapatkan solusi dengan kualitas pakar.
Implementasi sistem pakar banyak
digunakan untuk kepentingan berbagai
bidang karena sistem pakar dipandang
sebagai cara penyimpanan pengetahuan
pakar dalam bidang tertentu ke dalam
suatu program komputerisasi, sehingga
dapat memberikan keputusan dan
melakukan
penalaran
secara
cerdas,dengan adanya teknologi seperti
sekarang
ini,
maka
penyajian
informasiakan lebih cepat dan mudah.
Perkembangan sistem pakar telah
merambah didunia medis, termasuk diantaranya adalah penerapan metode
certainty factor untuk mengukur tingkat
kepastian dalam mendiagnosa gejala-gejala
yang terjadi untuk mendapat sebuah
informasi tentang penyakit yang diderita,
dengan adannya metode certainty factor
maka dapat dipergunakan sebagai media
aplikasi dalam pengidentifikasian gejalagejala yang terjadi pada pasien yang
terkena racun bisa ular agar dapat
diketahui jenis racun dan spesies ular
tersebut sehingga sesegera mungkin
dilakukan penanganan terhadap pasien
yang
terkena
gigitan
ular.Tujuan
pengembangan
sistem
pakar
ini
sebenarnya bukan untuk meng-gantikan
peran dokter tetapi untuk mensubsitusikan pengetahuan pakar ke dalam
sebuah bentuk sistem.
Dengan adanya aplikasi sistem pakar ini
nantinya dapat membantu dalam mendiagnosa gejala-gejala yang terjadi pada
pasien yang terkena racun bisa ularuntuk
dapat mengetahui jenis racun dan spesies
ular pada pasien yang terkena gigitan ular,
sehingga dapat digunakan oleh dokter dan
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika,Sistem Pakar Untuk Mendeteksi ………………
petugas kesehatan klinik dalam mengambil
kesimpulan serta tidak merasa kesulitan
untuk mencari solusi dan dapat dijadikan
sebagai diagnosa awal sebelum melakukan
pemeriksaan secara klinis dan intensif ke
depan.
B. LANDASAN TEORI
1. Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan berasal dari
bahasa Inggris yaitu Artificial Intelligence
atau disingkat AI adalah suatu teknologi
yang mampu mengadopsi proses dan cara
berpikir manusia kedalam komputer.
Cerdas adalah memiliki pengetahuan,
pengalaman, dan penalaran untuk
membuat keputusan dan mengambil
tindakan. Agar mesin bisa menjadi cerdas
(bertindak seperti manusia) maka harus
diberi bekal pengetahuan dan kemampuan
untuk menalar. John McCarthy dari
Stanford
mendefinisikan
kecerdasan
sebagai kemampuan.
Menurut Simon (dalam T.Sutojo dkk,
2011:02) ‘Kecerdasan buatan merupakan
kawasan penelitian, aplikasi, dan intruksi
yang terkait dengan pemrograman
komputer untuk melakukan sesuatu hal
yang dalam pandangan manusia adalah
cerdas’.
Berdasarkan definisi tersebut, maka
kecerdasan buatan menawarkan media
maupun uji teori tentang kecerdasan.
Teori-teori nantinya dapat dinyatakan
dalam bahasa pemograman dan dapat
dibuktikan pada komputer nyata.
Menurut Winston dan Predergast
(dalam T.Sutojo dkk, 2011:03), tujuan
kecerdasan buatan adalah:
1. Membuat mesin menjadi lebih pintar
(tujuan utama)
2. Memahami apa itu kecerdasan (tujuan
ilmiah)
3. Membuat mesin lebih bermanfaat
(tujuan enterpreneurial)
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Kecerdasan
buatan
dapat
mengerjakan pekerjaan lebih cepat
dibanding kecerdasan alami. Tentu saja
karena kecepatan berfikir dari sebuah
prosesor jauh lebih cepat di-banding
kecepatan berfikir dari otak manusia.
Pada
umumnya
pemograman
konvesional hanya diperuntukan sebagai
alat hitung, sedangkan kecerdasan buatan
di-gunakan untuk menyelesaikan suatu
per-masalahan. Oleh karena itu, ada
beberapa perbedaan yang mendasar
antara kecer-dasan buatan dengan
pemrograman
konve-sional.
Berikut
perbedaan komputasi kecer-dasan buatan
dengan
komputasi
pemro-graman
konvesional.
Suatu sistem dapat didefinisikan
sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari
dua atau lebih komponen atau subsistem
yang berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan. Suatu sistem dapat terdiri dari
sistem-sistem bagian. Misalnya sistem
komputer yang terdiri dari perangkat keras
dan subsistem perangkat lunak. Subsistemsubsistem saling berinteraksi dan saling
berhubungan membentuk satu kesatuan
sehingga tujuan atau sasaran sistem
tersebut dapat tercapai.
Sistem dapat dikelompokkan menjadi dua pendekatan; kelompok pertama
akan lebih menekankan sistem itu sebagai
prosedur yaitu: Sistem adalah suatu
jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang
saling berhubungan, berkumpul bersamasama untuk melakukan suatu kegiatan atau
untuk menyelesaikan suatu sasaran
tertentu. Sedangkan kelompok kedua
menekankan sistem sebagai kompenen
atau elemen yaitu: Sistem adalah
kumpulan dari elemen-elemen yang
berinteraksi untuk mencapai tujuan
tertentu.
Sistem merupakan suatu bentuk
integrasi antara satu komponen dengan
komponen lain karena sistem memiliki
sasaran yang berbeda untuk setiap kasus
95
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
yang terjadi di dalam sistem tersebut.
(Sutabri,2012:15).
Menurut Enger (dalam Sutabri,
2012:7)’Menyatakan bahwa suatu sistem
dapat terdiri atas kegiatan-kegiatan yang
berhubungan guna mencapai tujuan-tujuan
perusahaan
seperti
pengendalian
inventaris atau penjadwalan produksi’.
Bahwa sistem terdiri dari atas
objek-objek atau unsur-unsur atau
komponen-komponen yang berkaitan dan
berhubungan
satu
sama
lainnya
sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
tersebut merupakan suatu kesatuan
pemrosesan atau pengolahan yang
tertentu.
Sistem pakar merupakan cabang
disiplin ilmu dari Artificial Intelligence (AI)
yang cukup tua karena sistem ini mulai
dikembangkan pada pertengahan 1960.
Sistem pakar yang muncul pertama kali
adalah General-purpose Problem Solver
(GPS) yang dikembangkan oleh Newel dan
Simon. Sampai saat ini sudah banyak
sistem pakar yang dibuat, seperti MYCIN
untuk diagnosis penyakit, DENDRAL untuk
mengindentifikasi
struktur
molekul
campuran yang tak dikenal, XCON & XSEL
untuk membantu konfigurasi sistem
komputer besar, SOPHIE untuk analisis
sirkuit elektronik, Prospector digunakan di
bidang geologi untuk membantu mencari
dan menemukan deposit, FOLIO digunakan
untuk membantu memberikan keputusan
bagi seorang manager dalam stok dan
investasi. DELTA dipakai untuk pemeliharan
lokomotif listrik diesel, dan sebagainya.
Sistem pakar adalah suatu sistem
yang dirancang untuk dapat menirukan
keahlian seorang pakar dalam menjawab
pertanyaan dan memecahkan suatu
masalah (T.Sutojo dkk, 2011:13).
Sistem pakar akan memberikan
pemecahan suatu masalah yang didapat
dari dialog dengan pengguna. Dengan
bantuan sistem pakar seseorang yang
bukan pakar/ahli dapat menjawab
96
pertanyaan, menyelesaikan masalah serta
mengambil keputusan yang biasanya
dilakukan oleh seorang pakar.
Seorang pakar adalah orang yang
mempunyai keahlian dalam bidang
tertentu, yaitu pakar yang mempunyai
knowledge atau kemampuan khusus yang
orang lain tidak mengetahui atau mampu
dalam bidang yang dimilikinya.
Istilah sistem pakar berasal dari
istilah knowledge-based expert system.
Istilah
ini
muncul
karena
untuk
memecahkan masalah, sistem pakar
menggunkan pengetahuan seorang pakar
yang dimasukkan ke dalam komputer.
Seseorang yang bukan pakar menggunkan
sistem
pakar
untuk
meningkatkan
kemampuan
pemecahan
masalah,
sedangkan seorang pakar menggunakan
sistem pakar untuk knowledge assistant.
2. Pakar
Pakar adalah seseorang yang
mempunyai pengetahuan, pengalaman,
dan metode khusus, serta mampu
menerapkanya
untuk
memecahkan
masalah atau memberi nasihat. Seorang
pakar harus mampu menjelaskan dan
mempelajari hal-hal baru yang berkaitan
dengan topik permasalahan, jika perlu
harus
mampu
menyusun
kembali
pengetahuan-pengetahuan
yang
didapatkan, dan dapat memecahkan
aturan-aturan serta menentukan relevansi
kepakarannya. Jadi, seorang pakar harus
mampu melakukan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a. Mengenali dan memformulasikan
permasalahan.
b. Memecahkan masalah permasalahan
secara tepat dan cepat.
c. Menerangkan pemecahannya.
d. Merestrukturisasi pengetahuan
e. Memecahkan aturan-aturan.
f. Menentukan relevansi.
g. Belajar dari pengalaman.
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika,Sistem Pakar Untuk Mendeteksi ………………
Tujuan dari sebuah sistem pakar
adalah memindahkan kepakaran dari
seorang pakar ke dalam komputer,
kemudian ditransfer kepada orang lain
yang bukan pakar (nonexpert). Proses ini
melibatkan empat kegiatan, yaitu:
a.
Akuisisi pengetahuan (dari pakar atau
sumber lainnya)
b. Representasi pengetahuan (kedalam
komputer)
c. Inferensi pengetahuan
d. Pemindahan
pengetahuan
ke
pengguna.
Inferensi adalah sebuah prosedur
(program) yang mempunyai kemampuan
dalam melakukan penalaran. Inferensi
ditampilkan pada suatu komponen yang
disebut mesin inferensi yang mencakup
prosedur-prosedur mengenai pemecahan
masalah. Semua pengetahuan yang dimiliki
oleh seorang pakar disimpan pada basis
pengetahuan oleh sistem pakar. Tugas
mesin inferensi adalah mengambil
kesimpulan
berdasarkan
basis
pengetahuan yang dimilikinya.
pertanyaan yang diajukan oleh sistem.
Kasus ini sangat mudah dilihat pada sistem
diagnosis penyakit, dimana pakar tidak
dapat mendefinisikan tentang hubungan
antara gejala dengan penyebabnya secara
pasti yang pada akhirnya ditemukan
banyak kemungkinan diagnosis.
Certainty factor (CF) merupakan nilai
parameter klinis yang diberikan pertama
kali oleh MYCIN penemunya untuk
menunjukkan besarnya kepercayaan. Ia
menggunakan metode ini saat melakukan
diagnosis dan terapi terhadap penyakit
meningitis dan infeksi darah.
Team pengembang MYCIN mencatat
bahwa dokter sering kali menganalisa
informasi yang ada dengan ungkapan
seperti misalnya: mungkin, kemungkinan
besar, hampir pasti. Ada dua cara dalam
mendapatkan tingkat keyakinan (CF) dari
sebuah rule, yaitu:
4. Ular
Teori Certainty factor(CF) diusulkan
oleh Shortliffe dan Buchanan pada 1975
untuk mengakomodasi ketidakpastian
pemikian (inexact reasioning) seorang
pakar. Metode Certainty factor (CF) ini
dipilih ketika dalam menghadapi suatu
masalah, sering ditemukan jawaban yang
tidak memiliki kepastian penuh. Untuk
mengakomodasi hal ini maka digunakan
Certainty factor (CF) guna menggambarkan
tingkat keyakinan pakar terhadap masalah
yang sedang dihadapi. Ketidakpastian ini
bisa berupa probabilitas yang tergantung
dari hasil suatu kejadian. Hasil yang tidak
pasti disebabkan oleh dua faktor yaitu:
Aturan yang tidak pasti dan jawaban
pengguna yang tidak pasti atas suatu
Ular merupakan salah satu reptil
yang paling sukses berkembang di dunia. Di
gunung, hutan, gurun, dataran rendah,
lahan pertanian, lingkunganpemukiman,
sampai ke lautan, dapat ditemukan ular.
Hanya saja, sebagaimana umumnya hewan
berdarah dingin, ular semakin jarang
ditemui di tempat-tempat yang dingin,
seperti di puncak-puncak gunung, di
daerah Irlandia dan Selandia baru dan
daerah-daerah padang salju atau kutub.
Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang
hidupnya berkelana di pepohonan dan
hampir tak pernah menginjak tanah.
Banyak jenis yang lain hidup melata
di atas permukaan tanah atau menyusupnyusup di bawah serasah atau tumpukan
bebatuan. Sementara sebagian yang lain
hidup akuatik atau semi-akuatik di sungaisungai, rawa, danau dan laut.Ular
memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil
dari
tubuhnya.
Ular-ular
perairan
memangsa ikan, kodok, berudu, dan
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
97
3. Certainty Factor
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
bahkan telur ikan. Ular pohon dan ular
darat memangsa burung, mamalia, kodok,
jenis-jenis reptil yang lain, termasuk telurtelurnya. Ular-ular besar seperti ular sanca
kembangdapat memangsa kambing, kijang,
rusa dan bahkan manusia.
Ular adalah reptil yang tidak berkaki
dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik
seperti kadal dan sama-sama digolongkan
ke dalam reptil bersisik (squamata).
Perbedaannya
adalah
kadal
pada
umumnya berkaki, memiliki lubang telinga,
dan kelopak mata yang dapat dibuka tutup.
Ular adalah salah satu binatang reptil
yang banyak terdapat di Indonesia.
Racunbisa ular akan diinjeksikan pada
tubuh mangsanya melalui gigitan bila
merasa terancam, ketakutan atau merasa
terusik atau jika ular ingin melumpuhkan
mangsanya dan sebagai alat untuk
mempertahankan diri.
Ular adalah hewan yang mengagumkan, sukses berkembang hidup di
darat, laut, hutan, padang rumput, danau,
maupun di padang pasir. Kecuali reputasi
buruk mereka, sebenarnya ular hampir
selalu lebih takut pada manusia daripada
manusia pada ular. Semua ular merupakan
karnivora. Mereka menangkap serangga,
burung, mamalia kecil, dan reptil lain,
kadang termasuk ular lain. Hanya sekitar
400 dari 3000 ular di seluruh dunia yang
menyuntikkan bisa.
Di Indonesia terdapat kurang lebih
250 spesies dan diantara jenis tersebut
hanya 5 spesies yang berbisa dan tersebar
di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi
dan Papua (Madawirna, 2012:1).
Jenis racun bisa ular secara umum
dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis,
diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
98
Neurotoksin
Racun bisa ular ini merupakan racun
bisa yang memiliki tingkat enzim
sangat tinggi yang dapat membunuh
mangsanya dengan durasi waktu yang
sangat cepat, untuk manusia yang
terkena racun Neurotoksin dapat
bertahan 5 menit dengan tingkat
kekebalan maksimal manusia, sampai
saat ini sangat sulit menolong pasien
yang terkena racun bisa ular ini bahkan
serum anti venom tidak dapat menjadi
jaminan
bahwa
pasien
dapat
tertolong. Pasien yang terkena racun
bisa ular Neurotoksin dapat dikenali
dengan gejala-gejala yang tampak
secara fisik maupun klinis. Gejalagejala yang sering timbul pada
umumnya adalah gigitan tidak
menyakitkan, susah menelan, kesulitan
bernafas, cairan ludah banyak keluar,
lemas, dan tidak bisa bergerak.
b. Hemotoksin
Jenis
racun
bisa
Hemotoksin
merupakan racun bisa ular yang
tingkat enzimnya rendah, jika racun ini
terserang oleh manusia maka akan
maka korban akan mengalami gejala
seperti pendarahan dari luka dalam
waktu 1 jam, sakit kepala atau vertigo,
mual disertai sakit perut, muntah
darah, pandangan kabur, bengkak,
memar, dapat menyebabkan pasien
pingsan,
necrosis,
hipotensi,
kelumpuhan otot, bahkan anemia.
Penanganan pasien yang terkena
racun bisa ular Hemotoksin dapat
diberi serum anti bisa ular dan jika
dibiarkan terus menerus pasien akan
bertahan 7 sampai 10 hari kedepan.
c.
Sitotoksin
Sitotoksin mengandung zat yang
menyerang fungsi sel dan dapat
menyebabkan kelumpuhan, selain itu
orang yang terkena racun bisa
Sitotoksin dapat dikenali dengan
gejala-gejala yang timbul seperti
bengkak, memar, kelumpuhan otot,
gigitan terasa sangat sakit, batuk
berat, dan lemas disertai kaku otot.
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika,Sistem Pakar Untuk Mendeteksi ………………
Pasien yang terkena racun bisa ular
Sitotoksin
dianjurkan
sesegera
mungkin diberikan serum anti bisa ular
dan
dianjurkan
melakukan
penghambatan dengan cara mengikat
pada bagian yang terkena gigitan agar
tidak menyebar ke fungsi sel lainnya.
Dibalik racun bisa ular Sitotoksin yang
dapat memberi penyakit pada korban
gigitannya, racun Sitotoksin juga dapat
digunakan sebagai obat untuk kanker
dan penekanan kekebalan yang banyak
digunakan dalam dunia medis racun
tersebut telah diramu dalam bentuk
tablet dan cairan suntikan.
Berikut spesies ular yang berbisa
yang masih hidup di habitat kawasan
Indonesia
termasuk
diperkebunan,
diperairan serta hidup liar dihutan:
b. Colubridae
Ular
yang
termasuk
golongan
Colubridae diantaranya adalah ular
siput
(Pareascarinatus),
ular-air
pelangi (Enhydrisenhydris), ular kadut
belang (Homalopsis buccata), ular
cecak (Lycodon aulicus), ular terbang
(Chrysopeleaparadisi) dan lain lain.
Colubridae adalah spesies ular yang
memiliki jenis racun Hemotoksin. Pada
umumnya jenis ular ini hidup di daerah
yang lembab namun tidak terdapat di
daerah yang beriklim dingin.
a.
c.
Elapidae
Jenis ular ini merupakan jenis ular yang
sangat berbahaya karena memiliki
racun bisa yang dapat mematikan
mangsa jika terkena gigitannya. Jenis
ular yang termasuk spesies Elapidae
adalah ular welang, ular weling, ular
kingkobra, dan ular cabai. Pada
umumnya spesies ini hidup di habitat
yang meliputi wilayah-wilayah dekat
pantai hingga daerah bergununggunung
sekurangnya
sampai
ketinggian sekitar 2.300 m dpl, namun
umumnya lebih kerap dijumpai di
dataran rendah dan menghuni
wilayah-wilayah
perbatasan
antarahutan-hutan dataran rendah
yang lembap dengan yang lebih kering,
hutan-hutan pegunungan, semak
belukar, rawa-rawa, daerah pertanian,
perkebunan dan persawahan. Tidak
jarang
pula
dijumpai
dekat
permukiman,
jalan
raya
atau
sungai. Dilaporkan bahwa ular ini
umumnya jinak dan tak mau menggigit
orang di siang hari, namun agresif di
malam hari. Mengingat reputasinya
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
sebagai salah satu ular yang paling
ditakuti oleh ular lain, salah satu jenis
ular Elapidae yaitu ular welang
diabadikan sebagai salah satu kapal
perang TNI-AL, yakni KRI Welang.
Vine
Ular yang termasuk golongan Vine
diantaranya adalah ular kawat dan ular
pucuk. Jenis ular ini memiliki jenis
racun Hemotoksin, ular ini dapat
ditemukan di daerah perkebunan,
hutan
dan
tidak
menutup
kemungkinan di semak belukar.
d. Viperdae
Viperdae merupakan jenis ular yang
memiliki racun bisa Sitotoksin diantaranya adalah ular bandotan puspo
(Viperarusselli),ular tanah (Calloselasmarhodostoma), dan ular bangkai
laut (Trimeresurusalbolabris).
e.
Crotolidae
Ular
yang
termasuk
golongan
Crotolidae diantaranya adalah ular
adders, ular hijau dan ular kisik. Jenis
ular ini memiliki jenis racun Sitotoksin.
99
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
C. KONSEP PENYELESAIAN KASUS
Melihat fenomena yang terjadi maka
sangat dibutuhkan informasi yang tepat
dan cepat terhadap pasien yang terkena
racun bisa ular agar dapat mengurangi
resiko kematian, dengan adanya aplikasi
sistem pakar ini nantinya akan digunakan
sebagai media konsultasi yang bermanfaat
bagi masyarakat terutama para korban
gigitan ular dan sekaligus dapat membantu
dalam mendiagnosa gejala-gejala yang
terjadi pada pasien yang terkena racun bisa
ularuntuk dapat mengetahui jenis racun
dan spesies ular pada pasien yang terkena
gigitan ular, sehingga dapat digunakan oleh
dokter dan petugas kesehatan klinikdalam
mengambil kesimpulanserta tidak merasa
kesulitan untuk mencari solusi untukdapat
dijadikan sebagai diagnosa awal sebelum
melakukan pemeriksaan secara klinis dan
intensif ke depan.
Untuk
menyelesaikan
permasalahan yang terjadi maka digunakan
metode certainty factor untuk dapat
mengetahui jenis racun dan spesies ular
pada pasien
yang terkena gigitan ular berdasarkan
gejala-gejala yang dialami pasien. Berikut
merupakan jenis racun dan spesies ular
berdasarkan gejala-gejala yang pada
umumnya dialami oleh pasien, data-data di
bawah ini hasil dari kepakaran seorang
dokter yang pernah menangani pasien
yang terkena gigitan ular yaitu dr.
Rusdianto:
yang terkena gigitan ular berdasarkan
gejala-gejala yang dialami pasien. Berikut
merupakan jenis racun dan spesies ular
berdasarkan gejala-gejala yang pada
umumnya dialami oleh pasien, data-data di
bawah ini merupakan hasil dari kepakaran
seorang dokter yang pernah menangani
pasien yang terkena gigitan ular yaitu dr.
Rusdianto:
100
Tabel 1: Data Kepakaran Jenis Bisa Ular
Tabel 2: Data Species Ular Berdasarkan
Jenis Racun
1. Algoritma Sistem
Penerapan metode certainty factor
digunakan untuk mengukur tingkat
kepastian dalam mendiagnosa gejalagejala yang terjadi pada pasien yang
terkena racun bisa ular yang disesuaikan
dengan kepakaran dari seorang dokter
yang
menangani
kasus
tersebut.
Perhitungan metode certainty factoryang
digunakan untuk
mengukur tingkat
kepastian dalam mendiagnosa gejalagejala yang terjadi pada pasien yang
terkena
racun
bisa
ular
dapat
menggunakan rumus kombinasi dua buah
rule dengan evidence berbeda (E1 dan E2),
tetapi hipotesisnya sama.
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika,Sistem Pakar Untuk Mendeteksi ………………
Untuk merancang aplikasi sistem
pakar untuk mendeteksi jenisa racun dan
species ular pada pasien yang terkena
racun bisa ular berdasarkan gejala-gejala
yang terjadi pada pasien tersebut dengan
menggunakan metode certainty factor
dapat teruji kebenarannya, maka dapat
diperoleh data-data pemeriksaan pasien
yang pernah ditangani oleh dr. Rusdianto
sebagai seorang pakar yang pernah
menangani pasien yang terkena racun bisa
ular. Adapun daftar kasus pasien yang
terkena racun bisa ular yang pernah
ditangani oleh dr. Rusdianto adalah sebagai
berikut:
Tabel 3: Daftar Kasus Penderita Gigitan
Ular
species ular yang mungkin menggigit
pasien tersebut berdasarkan tingkat
kepakaran seorang pakar yang menangani
kasus tersebut, dengan melakukan
perhitungan untuk mendapat nilai Cf jenis
racun bisa ular berdasarkan gejala-gejala
yang dialami oleh pasien tersebut. Berikur
ini merupakan perhitungan nilai CF dari
salah satu kasus yang terdapat pada tabel
tabel hasil diagnosa dokter pada pasien
yang terkena racun bisa ular dengan nomor
pasien P003 atas nama Jauhari yang
mengalami gejala kelumpuhan otot, batuk,
lemas/kaku:
Jenis racun Hemotoksin
Kelumpuhan otot ANDBatuk
=0+0*(1-0) = 0
Kelumpuhan otot ANDBatuk AND Lemas
=0+0 *(1-0)=0
Jenis racun Neurotoksin
Kelumpuhan otot ANDBatuk
=0+0*(1-0)=0
Kelumpuhan otot ANDBatuk AND Lemas
=0+0.2 *(1-0)=0.2
Jenis racun Sitotoksin
Kelumpuhan otot ANDBatuk
=0.8+0.8*(1-0.8)=0.96
Kelumpuhan otot ANDBatuk AND Lemas
=0.96+0.6 *(1-0.96)=0.98
Nilai CF yang Terbesar
Max(CF Hemotoksin, CF Neurotoksin, CF
Sitotoksin) = (0 , 0.2 , 0.98)
CF Sitotoksin = 0.98
Dari tabel kasus penderita gigitan
ular dapat terlihat bahwa dalam
penanganan para pasien yang terkena
racun bisa ular memiliki 8 kasus dengan
gejela-gejala yang berbeda, dari data
tersebut maka dapat diketahui jenis racun
bisa ular yang mengidap para pasien dan
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Jadi, berdasarkan hasil diagnosa yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahawa pasien terkena jenis racun bisa
ular Sitotoksin dengan tingkat kepakaran
0.98 atau dengan persentase 98 % dan
dianalisa bahwa kemungkinan species ular
yang menggigitnya adalah jenis Viperdae
dan Crotolidae.
101
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
Berdasarkan hasil dari salah satu
perhitungan kasus yang telah dihitung
maka dapat terlihat nilai CF dari 8 kasus
yang pernah ditangani oleh dr. Rusdianto
selaku seorang pakar. Berikut merupakan
hasil pemeriksaan dokter terhadap pasien
yang terkena racun bisa ular berdasarkan
gejala-gejala yang dialami oleh pasien
tersebut:
Gambar 1: Tampilan Halaman Login
-
Halaman Utama
Adapun tampilan dari halaman
utama adalah sebagai berikut:
Gambar 2: Tampilan Halaman Utama
Tabel 4: Hasil Diagnosa pada Pasien yang
Terkena Racun Bisa Ular
2. Implementasi Sistem
-
Halaman Submenu Data Pasien
Berikut merupakan
submenu data pasien
tampilan
dari
Implementasi dari perancangan
aplikasi sistem pakar untuk mendeteksi
jenis racun dan species ular pada pasien
yang terkena racun bisa ular dengan
menggunakan metode certainty factor
dapat terlihat dari hasil tampilan
diantaranya menu master data, kepakaran,
dan laporan.
-
102
Halaman Login
Adapun tampilan dari halaman login
adalah sebagai berikut:
Gambar 3: Tampilan Halaman Submenu
Data Pasien
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika,Sistem Pakar Untuk Mendeteksi ………………
-
Halaman Submenu Data Gejala
Berikut merupakan tampilan dari
submenu data gejala.
Gambar 6: Tampilan Halaman Submenu
Diagnosa Pakar
Gambar 4: Tampilan Halaman Submenu
Data Gejala
-Halaman Submenu Data Species
Halaman Cetak Hasil Diagnosa
Adapun tampilan dari halaman
submenu cetak hasil diagnosa adalah
sebagai berikut:
Berikut merupakan tampilan dari
submenu data species.
Gambar 5: Tampilan Halaman Submenu
Data Species
Gambar 7: Tampilan Halaman Cetak Hasil
Diagnosa
-
-
Halaman Submenu Diagnosa Pakar
Adapun tampilan dari halaman
submenu diagnosa pakar adalah sebagai
berikut:
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Halaman Submenu Info Ular
Adapun tampilan dari halaman
submenu info ular adalah sebagai berikut:
103
Dicky Nofriansyah, Puji Sari Ramadhan, Beni Andika, Sistem Pakar Untuk Mendeteksi………………
1. Aplikasi
sistem
pakar
yang
dirancang
digunakan
untuk
menganalisa dan mendeteksi jenis
racun bisa ular jenis racun dan
spesies ular berdasarkan gejalagejala yang diderita oleh pasien
yang terkena gigitan ulardengan
menggunakan metode certainty
factor.
Gambar 8: Tampilan Halaman Submenu
Info Ular
- Halaman Submenu Tentang Pakar
Adapun tampilan dari halaman
submenu diagnosa tentang pakar adalah
sebagai berikut:
2. Sistem pakar ini dirancang untuk
dapat menentukan jenis racun dan
spesies ular berdasarkan gejalagejala yang diderita oleh pasien
yang terkena gigitan ular melalui
perhitungan kepakaran.
3.
Aplikasi sistem pakar dapat
diimplementasikan dalam dunia
medis sehingga dapat membantu
dokter dan petugas kesehatan klinik
di dalam mendiagnosa pasien
berdasarkan gejala-gejala yang
diderita oleh pasien.
E. DAFTAR PUSTAKA
Kusumadewi,Sri.
2003.
Artificial
Inttelligence: Teknik dan Aplikasinya.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Gambar 9: Tampilan Halaman Submenu
Tentang Pakar
Kusumadewi,Sri, Purnomo, Hari. 2004.
Logika Fuzzy untuk Pendukung
Keputusan .Yogyakarta: Graha Ilmu
D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil dari perancangan
aplikasi sistem pakar untuk mendeteksi
jenis racun dan species ular pada pasien
yang terkena racun bisa ular dengan
menggunakan metode certainty factor
maka
dapat
diperoleh
beberapa
kesimpulan, adapun kesimpulan tersebut
adalah sebagai berikut:
104
Suryadi, HS.1994. Pengantar Sistem Pakar.
Jakarta: Gunadarma
Rolston, David. 1988. Principles of Artificial
Intelligence and Expert System
Development. New York: McGrawHill,Inc.
Turban, Efraim. 1992. Expert Systems and
Applied Artificial Intelligence. New
York: Macmillan Publishing Company
Jurnal SAINTIKOM Vol.14, No. 2, Mei 2015
Fly UP