...

this PDF file - E-Journal Universitas Pendidikan Ganesha

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - E-Journal Universitas Pendidikan Ganesha
PROSES PEWARNAAN ANTIK PADA PATUNG DI DESA TENGANAN DAUH TUKAD
Arry Komang Gede Bhaskara ,Gede Eka Harsana Koriawan,Agus Sudarmawan
Jurusan Pendidikan Seni Rupa
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
E-mail: { [email protected] , [email protected] , [email protected]
Abstrak
Berkembang pesatnya kepariwisataan di Bali sangat mempengaruhi berkesenian
masyarakatnya, salah satunya dalam seni pewarnaan patung. Sehingga patung yang dibuat
setelah pewarnaan nampak terlihat seperti patung antik. Pewarnaan Antik Pada Patung di
Desa Tenganan Dauh Tukad yang dibuat pengerajin Gede Suryanta sangat berbeda di
dalam proses pewarnaanya dibandingkan dengan patung biasanya. Oleh karena itu, patung
yang dibuat hampir menyerupai patung yang sudah berumur ratusan tahun.
Rumusan Masalah pada penelitian ini ialah (1) Bahan dan alat apa saja yang
digunakan dalam pewarnaan antik pada patung? (2) Bagaimana proses pewarnaan antik
pada patung? (3) Formula apa saja yang digunakan dalam pewarnaan antik pada patung?
(4) Jenis patung yang diwarna antik ?
Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Kualitatif. Subyeknya adalah I Gede
Suryanta dan obyeknya adalah Patung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
teknik observasi, wawancara, dokumentasian dan kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)Bahan dan alat yang digunakan dalam dalam
pewarnaan antik pada patung ialah Bahan : cat warna tembok Vinyl Acrylic Emulusion
Paint , cat prada emas, serbuk tanah, Uncaria gambir, aspal, kapur sirih Kalsium
Hidroksida Ca(OH)2. Alat: kuas, sikat, kompor kaleng, ember. (2) Proses pewarnan antik
pada patung ada 8 tahap , yang dimulai dari menyiapkan cat dasar , menyiapka patung yang
akan diwarna antik, pewarnaan dasar menggunakan warna putih, pewarnaan pada bagian
kamben dan rambut, membuat detail bagian patung dengan cara di kountur , pembakaran ,
membuat bercak dengan cara disikat (cok-cok), dan tahap terakhir yaitu finishing dengan
memoles cairan pamor(kapur sirih). (3) formula yang digunakan dalam pewarnaan antik
ialah dengan mencampurkan bahan cat dasar dengan bahan lainya seperti gambir dengan
perbandingan 10 cat : 1 Gambir, dan pencampuran cat dasar dengan bahan aspal,
perbandingannya 5 cat : 1 aspal. (4) jenis patung yang diwarna antik ialah patung arca
buddhaisme, patung arca ciwaisme, patung arca ganesha, patung arca durga, patung relief
arjuna bertapa, patung manusia.
Kata kunci: pewarnaan , antik, patung.
Abstract
The rapid growth of tourism in Bali greatly affects the artistic community. They strive
to make unique innovations to attract the visitors. One of them is the art of sculpture in which
the statue coloring that resemble sculptures of hundreds years old in age.
This study examines four research problems, they are: 1) what materials and tools
are used in the coloring of the statue; 2) How does the coloring process on the antique
sculpture; 3) What formula is used in coloring antic on the statue?; and 4) Which sculptures
are antic statue?
This research is a qualitative descriptive. One artist from the village of Tenganan is
taken as the research subject. Object of the research is the statue. Techniques of data
collection were done by observation, interviews, documentation, and literature. The collected
data were analyzed descriptively.
1
The results showed that 1) the materials used in antique stain on the statue is Vinyl
Acrylic paint wall color paint Emulusion. Paint on a gold prada, ground powder, Uncaria
gambirr, asphalt, whiting Calcium Hydroxide Ca (OH) 2, while the tool used are, brush,
stoves, cans and buckets; 2) The process of staining sculptures made through 8 stages,
namely a) prepare a primer, b) prepare the statue to be colored, c) perform basic coloring
with white paint, d) conduct on the part of cloth and coloring hair, e) make detailed parts of
the statue with contoured, f) burn, g) make spotting a way brushed , and h) polish with lime
betel liquid ; 3) The formula used in antique stain is a mixture of base paint with other
materials such as in the ratio 10: 1 and the mixture priming with asphalt material with a ratio
of 5: 1; and 4) the type of antique stained statue is buddhaisme statues, ciwaisme statue,
ganesha statue, durga statue sculpture, relief of imprisoned arjuna sculpture , and human
statues.
Key words: coloring, antic, sculpture
2
PENDAHULUAN
Sepanjang
perjalanan
hidup,
manusia tidak dapat melepaskan diri dari
keterlibatan terhadap seni. Sejarah pun
telah banyak membuktikan bahwa seni
selalu
seiring
dengan
perjalanan
peradaban manusia, apa lagi dalam
kehidupan modern seperti sekarang ini.
Fungsi seni sangat kuat dan berperan
sekali terhadap kehidupan manusia.
Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah
segala perbuatan manusia yang timbul
dan hidup perasaannya dan bersifat indah
hingga
dapat
menggerakkan
jiwa
perasaan manusia lainnya. Ada pula
definisi seni menurut Akhidiat K.Mihardja
yaitu seni adalah kegiatan manusia yang
mereflesikan kenyataan dalam sesuatu
karya, yang berkat dan isinya mempunyai
daya untuk membangkitkan pengalaman
tertentu
dalam
alam
rohani
sipenerimanya.
Seni memiliki peranan yang sangat
penting dalam kehidupan manusia, karena
pada hakikatnya fungsi kesenian juga
merupakan salah satunya sebagai alat
komunikasi. Benda-benda yang diciptakan
manusia sangat difungsikan sebagai
penunjang aktifitas dan sebagai alat
hiasan . Seperti halnya Lukis, Patung dan,
Keramik dalam penciptaan ada patung
yang pewarnaanya di buat sama seperti
patung sudah berumur ratusan tahun
yang di dalam tampilan warnanya sudah
kusam dengan tekstur warna yang sudah
retak dan berdebu, sehingga bisa disebut
patung antik. Berkembang pesatnya
kepariwisataan
di
Bali
sangat
mempengaruhi berkesenian masyarakat di
Bali, salah satunya dalam seni pewarnaan
patung. Sehingga patung yang dibuat
setelah pewarnaan nampak terlihat seperti
patung antik, Oleh karena itu, desain
patung yang dibuat sama persis seperti
patung yang sudah berumur ratusan tahun
sesuai dengan tuntutan konsumen.
Ada
beberapa
karya
seni
khususnya seni patung yang terdapat di
Desa Tenganan Dauh Tukad ,Kecamatan
Manggis Kabupaten Karangasem ,
memiliki perbedaan dalam penampilanya
kesanya sudah terbuat puluhan tahun, jika
kita ketahui proses pewarnaan patung
pada umumnya hanya diwarnai dengan
warna dasar saja, tanpa melalui proses
pencampuran bahan lain. Dan di dalam
proses finishingnya, pewarnaan patung
hanya menggunakan cat prada emas
ataupun prada perak yang bertujuan untuk
mempercantik atau memperindah patung
agar terlihat lebih mewah.
Pewarnaan Patung Antik di Desa
Tenganan Dauh Tukad yang dibuat
pengerajin Gede Suryanta sangat berbeda
di
dalam
proses
pewarnaanya
dibandingkan dengan patung biasanya.
Dalam proses pewarnaan antik pada
patung yang digarap pengerajin Gede
Suryanta, harus melawati beberapa
tahapan, sehingga di dalam proses
pewarnaan menghasilkan warna yang
berkesan
antik.
Karena
didalam
pencampuran warna ada beberapa
formula yang di campurkan di dalam
proses pewarnaanya. Alat dan bahan
yang di gunakan dalam pewarnaan antik
sangat berbeda dengan pewarnaan
patung pada umumnya. Selain itu Patung
yang diwarnai antik oleh Gede Suryanta
tidak hanya satu jenis patung saja,
melainkan ada beberapa jenis patung
lainya yang di warnai antik.
Sebagai pengrajin patung antik
Gede Suryanta akhirnya mendapatkan
inspirasi dari pekerjaannya sehari-hari.
Dia ingin karya yang dibuatnya bisa
diterima di masyarakat umum. Gede
Suryanta berkarya dan berkreasi dengan
inspirasinya sendiri, dia selalu kreatif
untuk menemukan bahan, formula ,dan
tatacara pengolahan warna hingga dapat
menyerupai warna warna antik. Ada
beberapa
masalah
yang
dapat
dirumuskan berdasarkan latar belakang di
atas sebagai berikut. (1) Bahan dan alat
apa saja yang digunakan dalam
pewarnaan antik pada patung ? (2)
Bagaimana proses pewarnaan antik pada
patung? (3) Formula apa saja yang
digunakan dalam pewarnaan antik pada
patung ? (4) Jenis patung apa saja yang
diwarnai antik ?
Berdasarkan rumusan masalah di
atas, adapun tujuan dari penelitian ini
adalah : (1) Mendeskripsikan bahan dan
alat yang digunakan dalam pewarnaan
antik pada patung. (2) Mendeskripsikan
proses pewarnaan antik pada patung. (3)
Mendeskripsikan formula yang digunakan
3
dalam pewarnaan antik pada patung. (4)
Mendeskripsikan jenis patung yang
diwarna antik.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik studi kasus ,yaitu
memusatkan perhatian pada satu kasus
secara insentif dan mendetail. Obyek yang
diselidiki terdiri dari satu kesatuan unit
pandang sebagai yang dijadikan sasaran
penelitian. Dilihat dari tujuan penelitian
dan sifat sajian data maka penelitian ini
bersifat deskriptif kualitatif.
Penelitian
Deskriptif
adalah
penelitian
yang
diarahkan
untuk
memberikan gejala-gejala, fakta-fakta,
atau kejadian-kejadian secara sistematis
dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi
atau idaerah tertentu (Zuariah, 2005: 47).
Penelitian
ini
dilakukan
untuk
mendapatkan gambaran mengenai proses
pewarnaan antik pada patung di desa
tenganan dauh tukad.
.
Subjek dalam penelitian ini adalah
Gede Suryanta . Objek penelitian adalah
Patung. Data dalam penelitian ini
dikumpulkan melalui metode dokumentasi,
wawancara dan kepustakaan. Teknik
dokumentasi dalam penelitian Proses
Pewarnaan Antik Pada Patung Di Desa
Tenganan Dauh Tukad diperoleh dengan
cara mengabadikan seetiap proses
pewarnaan yang dilakukan dengan alat
kamera digital. Metode kepustakaan ini
dipergunakan
sebagai
cara
untuk
mengumpulkan data dengan membaca
literatur, majalah, jurnal, koran, skripsi,
dan juga dari internet.
Dalam penelitian ini data yang diperoleh
dianalisis dengan menggunakan analisis
sebagai berikut :
a. Analisis Domain
Analisis domain biasanya dilakukan
untuk memperoleh gambaran atau
pengertian bersifat umum dan relative
menyeluruh tentang apa yang tercakup di
suatu fokus atau pokok permasalahan
yang telah diteliti. Dalam hal ini peneliti
mengolah data yang sudah ada, dan
membahas permasalahan yang terjadi
kemudian disusun sedemikian rupa yang
memerlukan gambaran umum atau
penjelasan yang bersifat umum tentang
proses pewarnaan antik pada patung di
Desa Tenganan Dauh Tukad.
b. Analisis Taksonomi
Analisis domain belum rinci dan
mendalam. Namun demikian, hasil
analisis domain tersebut dapat dijadikan
sandaran bertolak untuk penelaahan yang
lebih rinci dan mendalam, yang perlu lebih
difokuskan pada masalah atau domain
tertentu. Analisis lebih lanjut lebih rinci dan
mendalam bisa disebut analisis taksonomi
(Zuariah, 2005 : 221). Proses analisis
taksonomi ialah pengolahan data yang
sudah dianalisis secara umum dalam
analisis domain, dan dianalisis lebih
spesifik atau mendalam pada analisis
taksonomi. Masalah yang difokuskan pada
perumusan masalah pada penelitian ini
yaitu mengenai proses pewarnaan, alat
dan bahan,corak serta jenis-jenis patung
yang diwarnai antik di Desa Tenganan
Dauh Tukad.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari
hasil
wawancara
dengan
narasumber ( Bapak Gede Suryanta pada
tanggal 1-10 Oktober 2014 ) dan hasil
observasi, maka diperoleh data tentang
alat dan bahan yang digunakan oleh
bapak Gede Suryanta pada proses
Pewarnaan antik pada patung di Desa
Tenganan Dauh Tukad , Kecamatan
Manggis, Kabupaten Karangasem sebagai
berikut :
Alat yang digunakan dalam proses
pewarnaan antik pada patung.
1) Kuas adalah sebuah alat yang
digunakan untuk mengecat sebuah bidang
datar yang terbuat dari bulu dengan
pegangan yang terbuat dari kayu. Karena
cat memiliki bermacam – macam jenis
jenis , maka kuas juga dibuat sesuai
dengan dengan sifat dan jenis cat yang
bermacam macam juga. Anatomi kuas
terdiri dari dari tangkai kayu , temin/ kerah
pengikat dan bulu kuas. Bila ditinjau dari
cat /bahan yang dipakai terdiri dari dua
jenis yaitu kuas berbulu keras (biasanya
terbuat dari bulu babi atau sapi) dan
berbulu lembut (bulu musang atau tupai)
karena media yang akan di kuas berbagai
ukuran maka kuas pun di buat dengan
berbagai ukuran juga, dari kuas besar,
4
kuas sedang dan kuas kecil. Menurut
model antara lain bright ( kuas berbentuk
persegi dengan bentuk
temin yang
melebar dan digunakan untuk sapuan kuat
dan berefek tertentu), flat (kuas berbentuk
persegi pipih dengan panjang bulu lebih
dari kuas jenis bright) , round (kuas
berbentuk bulat dengan temin bulat dan
bulu meruncing keaatas , filbert (kuas
pipih dengan masing – masing ujungnya
berbentuk oval, fitch (kuas pipih dengan
bulu berbentuk persegi , biasanya lebih
tipis dari jenis kuas lainnya, dan fan
blander ( kuas yang berbentuk kipas,
digunakan untuk menetralisir cat minyak
yang masih basah dengan mencampurkan
satu sama lainnya. Kuas dapat dilihat
pada gambar 4.2.
Gambar 4.2 Kuas
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
2) Sikat yang digunakan adalah sikat
cucian dengan ukuran yang beragam
mulai dari sikat ukuran besar , sedang dan
kecil sesuai besar kecil media yang akan
disikat, dengan jenis bulu sikat yang
lebih keras . Sikat dapat dilihat pada
gambar 4.3.
Gambar 4.4 Kompor Kaleng
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara
Kompor Kaleng merupakan kompor yang
terbuat dari kaleng bekas, dan bahan
pembakarannya mengunakan arang yang
di isi dengan minyak tanah. Kompor
kaleng di gunakan untuk membakar di
dalam proses pewarnaan. Selain lebih
efesien, kompor kaleng juga lebih simpel
digunakan karna patung yang akan
dibakar lebih kecil. Tidak hanya kompor
kaleng, kompor biasa pun bisa digunakan
dalam proses pembakaran. Kompor
Kaleng dapat dilihat pada gambar 4.4.
4)Ember adalah wadah / tempat yang
terbuat dari bahan plastik digunakan
sebagai tempat serbuk tanah dalam
proses pewarnaan antik . Ember dapat
dilihat pada gambar 4.5.
Gambar 4.5 Ember
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Gambar 4.3 Sikat
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Bahan yang digunakan dalam
proses pewarnaan antik pada patung.
3) Kompor kaleng
1) Cat Warna
Cat
dapat
campuran bahan
5
diartikan
cair yang
sebagai
diproses
secara kimia dengan komposisi utama
yaitu, pelarut, binder, pigment, ekstender,
dan aditif . Jika diaplikasikan pada
permukaan solid/bidang tertentu, cat akan
mengering dan membentuk “lapisan kulit”
berwarna dan bersifat menyatu dengan
benda
tersebut.
Didalam
proses
pewarnaan antik, cat warna yang
digunakan ialah cat tembok yang daya
rekatnya kurang, sehinga saat di sikat cat
mudah hancur dan mengelupas. Cat
warna difungsikan sebagai pelapis dasar
patung atau pewarna patung. Cat warna
dapat dilihat pada gambar 4.6
bahan organik. Dan didalam proses
pewarnaan antik , tanah di gunakan
sebagi pengkeruh warna dan tanah yang
di pakai ialah serbuk tanah yang halus
dan di campur air. Dan tanah yang
digunakan tidak mesti khusus, tanah jenis
apapun bisa digunakan. Gambar serbuk
tanah dapat dilihat pada gambar 4.8
Gambar 4.8 Serbuk Tanah
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Gambar 4.6 Cat Warna
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
2) Cat Prada Emas
Cat prada Emas adalah cat yang terbuat
dari bahan serbuk emas yang digunakan
sebai pemanis warna yang memiliki kesan
mewah. Cat Prada Emas biasanya di
gunakan pada pada bagian hiasan
patung. Cat Prada Eamas dapat dilihat
pada gambar 4.7
4) Gambir (Uncaria Gambir)
Gambir adalah nama sejenis
tanaman tropis yang daun dan rantingnya
dapat di ekstrak untuk di ambil getahnya
dan diproses menjadi bahan olahan yang
disebut dengan nama yang sama yaitu
gambir. Gambir yang di ekstrak dari daun
dan ranting gambir ini mempunyai
manfaat dan khasiat yang sangat banyak.
Salah satunya adalah sebagai bahan baku
obat-obatan. Selain sebagai bahan baku
obat obatan , gambir juga bisa digunakan
sebagai bahan pewarna, karna gambir
mengandung Zat Tanin yang sering
digunakan dalam pewarnaan tekstil dan
produk industri. Gambir dapat dilihat pada
gambar 4.9
Gambar 4.7 Cat Prada Emas
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
3) Serbuk Tanah
Gambar 4.9 Gambir
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Tanah adalah bahagian permukaan
bumi yang terdiri dari pada mineral dan
6
5) Aspal
Aspal adalah material yang pada
temperatur ruang berbentuk padat sampai
agak padat, dan bersifat termoplastis.
Jadi, aspal akan mencair jika dipanaskan
sampai temperatur tertentu, dan kembali
membeku jika temperatur turun. Aspal
terbuat dari minyak mentah, melalui
proses penyulingan atau dapat ditemukan
dalam kandungan alam sebagai bagian
dari komponen alam yang ditemukan
bersama sama material lain. Aspal dalam
proses pewarnaan antik digunakan
sebagai campuran warna , karena ketika
warna dicampur dengan aspal yang sudah
di panaskan akan member kesan warna
yang keruh kehitam hitaman. Gambar
Aspal dapat dilihat pada gambar 4.10
Gambar 4.10 Aspal
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
6) Kapur
Ca(OH)2
Sirih
Kalsium
Foto 4.11 Kapur Sirih Kalsium Hidroksida
Ca(OH)2(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Proses Pewarnaan Antik Pada Patung
1) Menyiapkan Cat Dasar
Tahap pertama yang dilakukan
adalah menyiapkan cat dasar dalam
proses pewarnaan. Cat yang di gunakan
dalam proses pewarnaan antik adalah cat
warna primer, warna Primer yang
dimaksud adalah warna–warna yang tidak
dapat dihasilkan dari hasil campauran
warna-warna lainnya dan dapat digunakan
sebagai bahan pokok pencampuran untuk
memperoleh warna lain.Warna – warna
pokok yang dimaksud ialah warna Merah
warna kuning dan warna biru. Di dalam
proses pewarnaan antik yang di lakukan
bapak
Gede
Suryanta,
beliau
menggunakan empat warna umum pada
proses pewarnaan antik, diantaranya
warna merah, warna hitam, warna putih,
dan warna biru. Dan cat yang digunakan
di dalam pewarnaan antik ialah cat
tembok yang kekuatan catnya cepat
mengelupas. Menyiapkan cat dasar dapat
dilihat pada gambar 4.12
Hidroksida
Kapur Sirih Kalsium Hidroksida
Ca(OH)2 adalah bahan yang berwarna
putih yang terbuat dari kapur ataupun
karang laut. Pamor atau Kapur Sirih pada
umumnya digunakan sebagai penganti
semen yang memiliki daya rekat ,
walaupun kekuatan rekatnya tak sama
seperti semen. Pamor atau Kapur Sirih ini
digunakan sebagai pelapis di saat
finishing pewarnaan antik, selain sebagai
pelapis kapur sirih juga dapat memberi
efek warna lebih keruh, dan warna
keputih-putihan. Kapur Sirih
Kalsium
Hidroksida Ca(OH)2 dapat dilihat pada
gambar 4.11
Gambar 4.12 Menyiapkan Cat Dasar
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
2) Menyiapkan Patung
Tahapan kedua adalah menyiapkan
patung kayu yang akan di warna antik.
Dalam proses pewarnaan antik patung
7
kayu yang akan diwarnai antik harus
berwarna coklat atau kegelap gelapan.
Jika patung yang akan diwarna antik tidak
berwarna coklat atau berwarna gelap
maka proses pewarnaan antik tidak akan
sesuai, karena pada umumnya patung
antik adalah patung yang terbuat dan
berumur ratusan tahun, sehingga warna
kayu akan berwarna coklat kehitam
hitaman. Jika warna kayu pada patung
berwarna putih maupun kuning, maka
patung tersebut tidak tergolong patung
antik. Karena di saat proses pewarnaan
tidak semua bagian patung yang akan
terkena cat, karena ada bagian patung
yang akan mengelupas dan terlihat warna
kulit patung berwarna coklat kehitam
hitaman. Sehingga ada tehnik yang di
gunakan jika patung yang akan diwarna
antik tidak berwarna coklat atau gelap,
dengan cara pembakaran mengunakan
api, dengan lama proses pembakaran
sampai warna patung kayu tersebut
berubah menjadi warna coklat kegelapan.
Dan setelah patung sudah siap patung di
bersihkan dengan kuas terlebih dahulu
sebelum di lanjutkan pada proses
pewarnaan selanjutnya.. Menyiapkan
patung yang akan diwarna antik dapat
dilihat pada gambar 4.13
warna. Dan setelah selesai mewarnai
dasar putih , patung di keringkan
.Pewarnaan dasar menggunakan warna
putih dapat dilihat pada gambar 4.14
Gambar 4.14 Pewarnaan Dasar
Menggunakan Warna Putih
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
4. Pewarnaan Pada Bagian Kamben Dan
Rambut
Setelah tahapan pewarnan dasar
putih selesai, dilanjutkan dengan proses
pewarnaan pada bagian kamben, hiasan
patung dan pewarnaan pada rambut.
Warna tersebut di sesuaikan dengan
warna kamben yang di warna biru, warna
hiasan patung berwarna emas, dan warna
rambut yang diwarnai hitam. Pewarnaan
pada bagian Kamben dan Rambut dapat
dilihat pada gambar 4.15
Gambar 4.13 Menyiapkan Patung
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
3) Pewarnaan Dasar Mengunakan Warna
Putih
Setelah patung disiapkan dan sudah
siap untuk diwarna antik , tahapan
selanjutnya ialah mewarnai patung
dengan warna putih. Warnai seluruh
patung dengan warna putih, dan bedanya
pewarnaan antik ini proses pewarnaannya
tidak mesti rata dengan warna, walaupun
ada beberapa bagian patung tidak kena
Gambar 4.15 Pewarnaan Pada Bagian
Kamben Dan Rambut
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
5. Membuat detail bagian patung dengan
cara dikountur
Proses selanjutnya adalah proses
membuat detail bagian patung dengan
8
cara dikountur. Proses membuat detail
dengan cara dikountur dimulai dari wajah
patung seperti alis, mata , hidung, bibir,
motif hiasan pada patung. Dan setelah
proses pewarnaan dan pengkounturan
selesai, kemudian patung dijemur sampai
kering. Membuat detail bagian patung
dengan cara dikountur dapat dilihat pada
gambar 4.16
mengunakan kompor minyak tanah.
Patung tersebut di bakar atau di asap
dalam kondisi api menyala, dan lama
proses pembakaran dilakukan kurang
lebih 2-3 menit sampai patung sudah
berwarna kegelap gelapan dan dan
memiliki efek garing. Dan jika patung
sudah berwarna kegelapan, pembakaran
bisa diselesaikan, dan patung kembali di
jemur . Gambar pembakaran
dapat
dilihat pada gambar 4.17
7. Membuat bercak dengan cara di sikat
(cok – cok)
Gambar 4.16 Membuat detail bagian
Patung dengan cara dikountur
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
6. Pembakaran
Tahap selanjutnya ialah patung yang
sudah di bakar kemudian di sikat atau di
cok – cok mengunkan sikat yang bulu
sikatnya keras, proses menyikat patung
dilakukan sambil di basahi air, dengan
arah sikatan veryikal maupun horisontal.
Tujuan patung di sikat atau di cok – cok
ialah untuk mebuat bercak pada warna
patung secara singkat dengan cara di
sikat atau di cok-cok , sehingga warna
patung bertekstur dan mengelupas . Dan
proses penyikatan atau cok – cok
dilakukan sesuai dengan tekstur yang di
inginkan. Dan setelah menyikat patung di
jemur sampai kering.Membuat bercak
dengan cara di Sikat (cok – cok) dapat
dilihat pada gambar 4.18
Gambar 4.17 Pembakaran
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Setelah patung kering , kemudian
tahap selanjutnya yaitu pembakaran pada
patung. Tujuan pembakaran dilakukan
adlah dengan tujuan supaya patung yang
sudah diwarna tadi terkesan gelap dan
lebih memiliki efek garing. Proses
pembakaran
dilakukan
dengan
mengunakan kompor kaleng yang terbuat
dari kaleng dan isi kaleng tersebut ialah
arang yang di isi dengan minyak tanah.
Tetapi pembakaran pun bisa dilakukan
Gambar 4.18Membuat bercak dengan
cara di sikat (cok – cok)
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
8. Penceluban ke Serbuk Tanah
9
Proses
selanjutnya
yaitu
penceluban patung kedalam serbuk tanah
yang sudah di campur air. Tujuan dari
penceluban ini ialah supaya warna patung
kotor dan berdebu, sehingga kesan warna
patung sudah berumur ratusan tahun.
Penceluban dilakukan dalam keadaan
patung sudah kering dan sambil di kuas
sampai rata di seluruh permukaan patung.
Dan setelah penceluban di lakukan patung
di jemur sampai kering. Pencelupan
patung kedalam serbut tanah dapat dilihat
pada gambar 4.19
kesan antik juga lebih terlihat ,tahap
terakhir ialah pemolesan campuran pamor
dengan air. Tujuan dari pemolesan pamor
ialah, disaat finishing di bagian selah atau
lubang rongga pada patung masih
membekas warna putih. Setelah kering
debu yang melekat pada patung di
bersihkan, dan patung sudah selesai
diwarna antik. Patung sudah selesai di
warna antik dapat dilihat pada gambar
4.20
Formula Yang Di Gunakan Dalam
Pewarnaan Antik Pada Patung
Gambar 4.19 Penceluban ke Serbuk Tanah
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
9. Finising
Gambar 4.20 Patung Yang Sudah
diwarna Antik
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Dan proses akhir pewarnan ialah
Proses Pewarnaan Atik Pada
Patung di Desa Tenganan Dauh tukad ,
Kecamatan
Manggis,
Kabupaten
Karangasem milik bapak Gede Suranta
memiliki formula tertentu di dalam proses
pewarnaan antik pada patung. Seperti
yang sudah dijelaskan, di dalam proses
pewarnaan antik pada patung ada tiga
yaitu, menggunakan tenik penceluban
tanah dalam pewarnaan, ada tehnik
pencampuran gambir pada proses
pewarnaan dan ada pula dengan tehnik
pencampuran mengunakan aspal.
Dari
ketiga
tehnik
tersebut,
tahapan proses pewarnaan antik yang di
lakukan sama seperti tahapan proses
yang di jelaskan pada proses pewarnaan
antik. Yang membedakan hanyalah
pencampuran bahan pada warna yang
akan di gunakan pada pewarnaan antik,
seperti pencelupan pada serbuk tanah,
mencampur warna dengan bahan gambir
dan aspal. Tetapi di dalam pencapuran
bahan gambir dan aspal, ada beberapa
takaran supaya hasil pewarnaan antik
lebih maksimal.
Takaran
pencampuran
bahan
gambir, aspal ,dan tanah pada warna
adalah sebagai berikut :
1.Warna Dasar seperti warna merah,
hitam, putih, dan biru di campur dengan
bahan gambir, dengan perbandingan 10 :
1 gambir yang dimaksud sudah di tumbuk
halus seperti tepung dan sudah dicampur
dengan air sampai gambir mengental
seperti cat.
finising. Setelah patung kering dan supaya
10
2.Warna Dasar seperti warna merah,
hitam, putih dan biru di campur dengan
bahan aspal, dengan perbandingan 5 : 1
aspal yang dimaksud sudah di panaska
sehingga dia cair.
Sesudah bahan – bahan di atas di
campurkan pada cat warna dasar, proses
pewarnan sama seperti proses pewarnaan
yang sudah di jelaskan seperti :
1. Menyiapkan cat dasar yang sudah di
campur dengan bahan gambir atau aspal.
2. Menyiapkan patung yang akan diwarna
antik
3. Pewarnaan dasar mengunakan warna
putih yang sudah di campur dengan
bahan gambir atau aspal
4. Pewarnaan pada bagian kamben dan
rambut
5. Membuat detail bagian patung dengan
cara dikountur
6. Pembakaran
7. Membuat bercak dengan cara di Sikat (
cok – cok)
8. Finishing
Jenis Patung Yang Diwarnai Antik
1) Patung Arca Buddhaisme
dan lebar 9 cm. Didalam proses
pewarnaan
,
jenis
patung
arca
Buddhaisme ini diwarnai dengan tehnik
penceluban pada tanah, karena patung
arca budhaisme
mengambil bentuk
seorang buddha mengutamakan tampilan
warna
lebih
terang
yang
lebih
menonjolkan tampilan suci, maka dari itu
proses pewarnaanya menggunakan tehnik
penceluban pada serbuk tanah. Patung
arca Buddhaisme ini sedang mengambil
sikap bersila, yang memejamkan matanya
dan menapakkan tangan kananya. Dan
didalam patung arca buddhisme ini tidak
ada motif hias sedikitpun, karna di dalam
patung ini bersifat sederhana atau polos
sesuai perwujudan budha. Gambar
Patung Arca Buddhisme dapat dilihat
pada gambar 4.21
2) Patung Arca Ciwaisme
Patung Arca Ciwaisme ini terbuat
dari bahan kayu. Patung arca ciwaisme ini
di buat dengan ukuran tinggi 15 cm dan
lebar patung 10 cm. Di dalam Proses
Pewarnaanya , Patung Arca Ciwaisme
diwarnai dengan tehnik pencampuran
bahan menggunakan bahan aspal yang
sudah dipanasi. Karena pada Patung Arca
Ciwaisme mengutamakan tampilan warna
lebih berwarna gelap. Patung Arca
Ciwaisme ini mengambil sikap bersila,
dengan berbagai hiasan motif bali,
terutama pada bagian mahkota . Gambar
Patung Arca Ciwaisme dapat dilihat pada
gambar 4.22.
Gambar 4.21 Patung Arca Buddhisme
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Patung Arca Budhaisme dibuat
menggunakan bahan dari kayu. Pada
umumnya patung arca ini dibuat dengan
ukuran tinggi 15 cm dan lebar 10 cm.
karna patung ini bertujuan sebagai hiasan
, untuk ukuran di buat berbagai ukuran
sesuai tuntutan konsumen. Dari ukuran
paling besar dengan ukuran tinggi
mencapai 20 cm dan lebar 14 cm. ukuran
sedang dengan tinggi 15 cm dan lebar 10
cm , dan ukuran kecil dengan tinggi 12 cm
Gambar 4.22 Patung Arca Ciwaisme
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
11
3) Patung Arca Ganesha
Gambar 4.24 Patung Arca Durga
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Gambar 4.23 Patung Arca Ganesha
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Patung Arca Ganesha ini terbuat
dari bahan kayu, dan patung ganesha ini
di buat dengan ukuran tinggi 20 cm dan
lebar 9 cm. Patung Archa Ganesha
diwarnai dengan tehnik penceluban pada
serbuk tanah yang dicampur degan air.
Patung Archa Ganesha mengambil sikap
beridiri,sambil membawa kendi dan di
hiasi dengan motif ukiran bali. Gambar
Patung Arca Ganesha dapat dilihat pada
gambar 4.23
4) Patung Arca Durga
Patung Arca Durga, patung ini
mengambil wujud raksasa dengan fisik
wajah yang seram, mata melotot, memiliki
gigi taring yang panjang, lidah yang
menjulur keluar, di atas rambut ada api,
dengan payudara yang panjang, rambut
panjang, kuku tangan yang panjang.
Patung Arca Durga di warnai dengan
tehnik pencampuran warna pada bahan
gambir. dengan tujuan warna yang di
tampilkan ke merah merahan. Patung
Arca Durga mengambil sikap berdiri
dengan tanga sebelah kiri memegang
kepala, tangan sebelah kanan dibuka dan
menjulurkan lidahnya. Durga merupakan
symbol dari kekuatan magic. Dan patung
Arca Durga ini di buat dengan ukuran
tinggi 25 cm dan lebar 10 cm. Gambar
Patung Arca Durga dapat dilihat pada
gambar 4.24
5) Patung Relief Arjuna Bertapa
Patung Relief Arjuna bertapa
terbuat dari bahan dasar kayu. Patung
Relief Arjuna diwarnai dengan dua tehnik,
yaitu tehnik pencampuran warna pada
warna putih, yang digunakan pada
pewarnaan tubuh arjuna dan dewi.
Kemudian pencampuran aspal pada
warna emas dan hijau yang bertujuuan
warna lebih gelap. Patung relief ini
mengambil sebuah cerita pangeran arjuna
yang sedang melaksanakan pertapaan
dengan mengambil sikap bersila , sedang
di ganggu oleh dua bidadari cantik yang
berada di sebelah kanan dan kiri
pangeran arjuna dan pada Patung relief
tersebut di hiasi dengan dua ekor naga di
sebelah kanan dan kiri. Patung Relief
Arjuna Bertapa di buat dengan ukuran
panjang 50 cm dan lebar 25 cm. Gambar
Patung relief Arjuna Bertapa dapat dilihat
pada gambar 4.25
Ganbar 4.25 Patung Relief Arjuna Bertapa
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara
12
6) Patung Manusia
Gambar 4.26 Patung Manusia
perempuan dan laki-laki
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
bentuk dari sosok seorang tokoh dalam
pewayangan dimana di dalam bentuk
patung mengambil sikap berdiri dan
dilengkapi dengan hiasan dan mahkota
layaknya seorang panglima maupun
pangeran . Adapun perbedaan tehnik
yang digunakan pada pewarnaan patung
ini, seperti tehnik penceluban pada tanah
yang di gunakan untuk mewarnai patung
manusia
perempuan,
dan
tehnik
pencampuran warna dengan gambir yng
di gunakan dalm pewarnaan patung lakilaki. Gambar Patung Manusia perempuan
dapat dilihat pada gambar 4.26 Gambar
patung manusia laki - laki dapat dilihat
pada gambar 4.27 Gambar Patung Tokoh
Pewayangan dapat dilihat pada gambar
4.28
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari
uraian
tentang
Proses
Pewarnaan Antik Pada Patung Di Desa
Tenganan Dauh Tukad , Kecamatan
Manggis, Kabupaten Karangasem dapat
disimpulkan sebagai berikut.
Gambar 4.27 Patung Tokoh Pewayangan
(Foto : Arry Komang Gede Bhaskara)
Jenis Patung Manusia ini terbuat
dari bahan dasar kayu, patung manusia ini
tentu saja mengambil wujud sosok
manusia baik laki – laki maupun
perempuan. Pada dasarnya patung
manusia ini tidak mengutamakan postur
tubuh ideal secara anatomi. Namun
patung ini dibuat sesuai seni dan indah
menurut si pematung, bisa kepala lebih
besar, panjang kaki dan tangan tidak
sesuai bahkan hanya setengah bagian
dari tubuh. Dan sebagian besar patung
manusia ini mengambil sikap berdiri.
Patung manusia ini dibuat dengan ukuran
tinggi 100 cm dan lebar 20m- 23 cm.
Selain itu patung manusia yang dibuat
ialah patung manusia yang mengambil
1. Alat dan bahan yang digunakan dalam
Proses Pewarnaan Antik Pada Patung
ialah, dengan alat, Kuas berbagai ukuran,
Sikat
Cuci
yang
keras,
Kompor
Kaleng,dan Ember. Sedangkan Bahan
yang digunakan ialah Cat Tembok Warna
Merah, warna putih, warna biru , warna
kuning, warna hitam, cat Prada, Serbuk
Tanah, Gambir, Aspal , Pamor ( Kapur
Sirih).
2. Proses pewarnaan Antik Pada Patung
ialah Tahap pertama yang dilakukan
adalah menyiapkan cat dasar dalam
proses pewarnaan. Cat yang digunakan
ialah cat tembok warna merah, putih, biru,
kuning dan hitam. Setelah itu siapkan
patung yang akan diwarna antik . setelah
patung
siap,
dilanjutkan
dengan
pewarnaan
dasar
pada
patung
menggunakan warna putih , sesudah
patung diwarna putih dilanjutkan dengan
pewarnaan pada kamben dan rambut
menggunakan warna biru pada kamben
dan warna hitam pada rambut. Tahap
selanjutnya ialah membuat detail pada
bagian patung dengan cara di kountur
pada bagian wajah patung terutama mata,
alis
dan
bibir.
Setelah
proses
pengkounturan selesai di lanjutkan
13
dengan proses pembakaran at yang
bertujuan membuat warna kehitam
hitaman dan terkesan garing. Setelah itu
membuat bercak pada patung dengan
cara di sikat atau di cok-cok yang
bertujuan membuat tekstur retak dan
mengelupas pada warna patung secara
singkat. Setelah itu patung di celupkan
pada wadah yang sudah berisi serbuk
tanah yang basah, yang bertujuan
membuat warna patung terlihat kusam.
Setelah di celup, patung dijemur hingga
kering, dan proses selanjutnya ialah
finishing dengan memoles patung dengan
bahan kapur sirih Kalsium Hidroksida
Ca(OH)2 yang sudah di tumbuk halus dan
di campur air, setelah itu patung di jemur
hingga betul betul kering, dan patung di
bersihkan menggunakan kuas .
3. Formula Yang Di Gunakan Dalam
Pewarnaan Antik Pada Patung ialah
penceluban
pada
serbuk
tanah,
mengunakan campuran bahan Gambir
dan
Aspal,
dengan
perbandingan
campuran Warna Dasar seperti warna
merah, hitam, putih, dan biru di campur
dengan
bahan
gambir,
dengan
perbandingan 10 : 1
gambir yang
dimaksud sudah di tumbuk halus seperti
tepung dan sudah dicampur dengan air
sampai gambir mengental seperti cat. Dan
Warna Dasar seperti warna merah, hitam,
putih dan biru di campur dengan bahan
aspal, dengan perbandingan 5 : 1 aspal
yang dimaksud sudah di panaskan
sehingga dia cair.
4. Jenis Patung Yang di Warna Antik Ialah
jenis patung arca. Pada dasarnya
pengertian Patung arca adalah hasil dari
kerajinan seni patung yang dipergunakan
dalam upacara keagamaan dan telah
disucikan
melalui
proses
upacara
keagamaan. Jenis patung arca yang
dimaksud ialah jenis arca Buddhisme,
jenis arca ciwaisme dan jenis arca durga.
Selain itu ada juga jenis patung yang
diwarna antik yaitu jenis seni patung yang
di dalam proses pembuatanya tidak ada
ritual
proses
keagamaannya
yang
bertujuan hanya sebagai patung hiasan,
seperti patung relief. Relief merupakan
karya seni dua dimensi, namun pada
khususnya merupakan bagian dari seni
patung yang masuk dalam jenis lukisan
dinding yang timbul yang dibuat dengan
tehnik
pahat
mauupun
dengan
menempelkan bahan – bahanya dengan
alat khusus. Selain itu ada pula jenis seni
patung yang mengambil bentuk tokoh
pewayangan, dan jenis patung yang bisa
di pajang sebagai hiasan, seperti patung
manusia dan binatang.
Dari hasil penelitian ini penulis dapat
memberikan saran kepada berbagai
pihak, adapun saran tersebut sebagai
berikut:
1. Tetap bertahan dengan ciri khas yang
dimiliki mengingat perkembangan
teknologi sedang berkembang pesat.
Ciri khas tersebut sebagai identitas
budaya.
2. Kepada
pemerintah
daerah
Karangasem
agar
lebih
memperhatikan keberadaan pengrajin
seperti pengrajin pewarna antik pada
patung yang ada di Desa Tenganan
Dauh Tukad yang saat ini hanya ada 1
di Kabupaten Karangasem yaitu di
Desa Tenganan Dauh Tukad.
3. Untuk masyarakat umum jangan
pernah malu untuk mempelajari
Proses Pewarnaan Antik Pada Patung
di daerah sekitar, karena kerajinan
seperti ini mampu meningkatkan mutu
kelangsungan hidup dan juga bisa
sebagai ciri khas atau budaya suatu
daerah.
4. Untuk penelitian selanjutnya, banyak
hal yang belum didapatkan dalam
penelitian ini seperti bahan apa saja
yang bisa digunakan, dan tehnik
untuk mewarnai antik.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsini.
1993.
Prosedur
Penelitian . Jakarta :PT.Rineka
Basuki
,
Soekarno
Lanawati.
2004.
Panduan Membuat Desain Ilustrasi
Busana. Jakarta: PT Kawan
Pustaka
Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni ,
Wacana Apresiasi dan Kreasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
14
Ensiklopedia Nasional Indonesia jilid 7.
Cetakan Pertama, 1989. Jakarta:
PT Adi Pustaka.
Ensiklopedia Nasional Indonesia jilid 9.
Cetakan Pertama, 1990. Jakarta:
PT Adi Pustaka.
Ensiklopedia Nasional Indonesia jilid 8.
Cetakan Pertama, 1990. Jakarta:
PT Adi Pustaka.
Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa,
Edisi 3, Cetakan Ke-3. 2005.
Jakarta: Balai Pustaka.
Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa,
Edisi 4,.
2008. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Wendra ,2007. Penulisan Karya Ilmiah
(Modul). Singaraja : Undiksha
Widia, I Wayan dkk. 1990. Tinjauan
Patung Sederhana Bali. Bali:
Departemen
Pendidikan
dan
Kebudayaan Direktorat Jendral
Kebudayaan Proyek Pembinaan
Permusiuman Bali.
Zuriah,Nurul. 2005. Metodelogi Penelitian.
Malang : Bumi Aksara
Antikgue. 2012. Mengoleksi Barang Antik.
Tersedia
pada
http://barangantikku.blogdetik.com/
diakses tgl 22 oktober 2014
Https://Ufikmuckraker.wordpress.com/201
2/03/28/10-pengertian-senimenurut-pendapat-para-ahli/
Rasjoyo. 1994. Pendidikan Seni Rupa
,Kurikulum 1994 untuk siswa
SMa kelas I , Erlangga,PT Glora
Aksara
Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2010. Nirwana ,
Elemen
Desain,
–
elemen
Seni
Cetakan
Yogyakarta: Jalasutra
dan
Kedua.
Setyobudi, dkk.2007. Seni Budaya untuk
SMP Kelas IX. Erlangga :PT Glora
Aksara
Soedarso, dkk. 1992. Seni Patung
Indonesia. Yogyakarta: Badan
Penerbit
ISI
Yogyakarta
bekerjasama
dengan
Taman
Budaya Yogyakarta
Sugiyono.
2009.
Kuantitatif
Metode Penelitian
Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sukardi. 2003. Metolog Penelitian
Pendidikan : Kompetensi dan
Praktiknya , Cetakan Pertama.
Jakarta: PT Bumi Aksara
Susanto, Mikke. 2011. Diksi Rupa.
Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad
Art House.
15
Fly UP