...

PELAYANAN KESEHATAN HEWAN PADA SAPI PUTIH DI DESA

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

PELAYANAN KESEHATAN HEWAN PADA SAPI PUTIH DI DESA
Udayana Mengabdi 9 (2): 104 - 107
ISSN : 1412-0925
PELAYANAN KESEHATAN HEWAN PADA SAPI PUTIH DI DESA TARO GIANYAR
N. S. Dharmawan1, K. Budaarsa2, I K. Mangku Budiasa2, N. N. Suryani2,
dan Gede Mahardika2
1Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana;
2Fakultas Peternakan Universitas Udayana Denpasar Bali
ABSTRACT
The activity of this community services was carried out on September 20, 2009 at Taro Village, Gianyar Regency.
The purpose of this community services is to share knowledge about the health management of livestocks to the
Taro cattle’s breeders. The other purposes are to avoid the economic lost caused by the death of animals, by giving
animal health service and epizootic septichemic vaccination to the taro cattle. Among this thirty nine taro cattles,
twenty five (64.10%) were vaccinated with epizootic septichemic vaccine and three of them were injected with B
complex vitamin. All the cattle were also sprayed with insecticide to control the insect attack. From the enormous
responses and enthusiasm of the Taro cattle’s breeders, it can be concluded that the activity came into satisfying
result. Since the taro cattles are an asset in Bali, in the future the similar activities should be done regularly. It is
suggested that the government should spend budget for taro cattle maintenances and their health services.
Key word: Knowledge-Share, Animal Health Service, Taro Bali Cattle
PENDAHULUAN
Sapi putih di Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, Bali,
selanjutnya disebut sapi putih Taro, diyakini sebagai
sapi keramat. Wiana (2010) dalam pembahasan
mengenai Pura Gunung Raung dan kisah perjalanan
Rsi Markandya ke Desa Taro, menyebutkan sapi putih
Taro adalah keturunan Lembu Nandini. Sapi yang
disucikan tersebut, dipelihara secara kolektif oleh Desa
Adat setempat. Bila di wilayah Desa Adat Taro ada sapi
milik warga melahirkan sapi putih, anak sapi tersebut
diserahkan ke Desa Adat. Selain disucikan, sapi putih
Taro juga dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap
upakara (upacara). Upacara yang dimaksud, adalah
Purwa Daksina, Ngasti dan upacara yang setingkat
(Darmayasa, 1993; Anonim, 2007).
Secara geografis Desa Taro adalah bagian dari
kawasan Munduk Gunung Lebah. Merupakan dataran
tinggi yang membujur dari utara ke selatan, diapit oleh
dua aliran sungai. Sungai tersebut adalah Sungai Oos
Ulu Luh di sebelah barat dan Sungai Oos Ulu Muani
di sebelah timur. Kedua aliran sungai ini kemudian
menyatu di tepi barat Desa Ubud yang dikenal dengan
nama Campuhan Ubud. Di bagian utara Desa Taro
berbatasan dengan Desa Apuan, Kintamani, di timur
dengan Desa Sebatu, Tegallalang, di selatan berbatasan
dengan Desa Kelusa, Tegallalang, di barat dengan Desa
Puhu, Payangan (Anonim, 2007).
Desa Taro yang memiliki luas 1562,20 Ha,
berada pada ketinggian 650 meter diatas laut. Jumlah
penduduknya sekitar 9889 jiwa, 1889 kepala keluarga.
Wilayah Desa Adat Taro terdiri atas 14 Desa Adat,
yakni: Sengkadoan, Alas Pujung, Tebuana, Let, Pisang
Kaja, Pisang Kelod, Patas, Belong, Puakan, Pakuseba,
Taro Kaja, Taro Kelod, Tatag, dan Desa Adat Ked. Sapi
putih Taro yang dikeramatkan, ditemukan di Desa Adat
Taro Kaja dan Taro Kelod (Anonim, 2007). Populasi
sapi putih Taro saat ini 39 ekor, 30 ekor di Desa Taro
Kaja dan 9 ekor di Desa Taro Kelod.
Mengingat posisi sapi putih Taro di Bali amat
strategis, keberadaannya harus dipertahankan dan
sedapat mungkin terhindar dari kepunahan. Telah umum
diketahui, salah satu kendala utama keberlangsungan
makhluk hidup adalah adanya ancaman penyakit. Oleh
karena itu, usaha-usaha untuk mencegah defisiensi
pakan dan menjaga kesehatan hewan menjadi suatu
keharusan. Usaha menjaga kesehatan hewan ternak
secara terpadu dapat dilakukan dengan menerapkan
manajemen kesehatan kelompok ternak (Subronto,
2007). Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan
dengan tujuan menghindari kerugian masyarakat Desa
Taro pada ksususnya dan Bali pada umumnya, akibat
terganggunya kesehatan sapi putih Taro.
Pelayanan Kesehatan Hewan Pada Sapi Putih Di Desa Taro Gianyar [N. S. Dharmawan, dkk.]
METODE PEMECAHAN MASALAH
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa
Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar ini
dilakukan pada tanggal 20 September 2009, dengan
sosialisasi manajemen kesehatan kelompok ternak
dan pelayanan kesehatan hewan berupa spraying,
pengobatan/pemberian vitamin, dan vaksinasi. Kegiatan
tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan petugas
Dinas Peternakan Kecamatan/Kabupaten Gianyar.
Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah Prajuru
Desa Adat dan para petani peternak/kerama yang
mendapat tugas memelihara sapi putih Taro.
Sebelum kegiatan dilakukan, diadakan permakluman
dengan matur piuning di Pura Dalem Pingit. Metode
pelaksanaan pengabdian adalah dengan megumpulkan
peternak/kerama pengarep yang bertugas memelihara
sapi putih Taro pada satu lokasi. Materi sosialisasi
disampaikan oleh Tim Pengabdian berupa informasi
tentang manajemen kesehatan kelompok ternak, teknis
pemberian hijauan makanan ternak, dilanjutkan dengan
diskusi. Pelayanan kesehatan hewan dilaksanakan di
kandang penampungan sapi. Sapi sehat divaksinasi
dengan vaksin Septichaemia Epizootoica (SE), sapi kurus
diberi vitamin. Untuk membunuh dan mencegah lalat
hinggap di tubuh sapi, semua sapi mendapat spraying
insektisida.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi kandang tempat pemeliharaan dan
pengembalaan sapi putih Taro bersebelahan dengan
Pura Dalem Desa Taro. Sosialisasi dan diskusi yang
dihadiri oleh Prajuru Desa Adat dan para peternak/
kerama yang memperoleh tugas memelihara sapi putih
Taro, diselenggarakan di Wantilan Pura Dalem Desa
Taro. Acara sosialisasi dan diskusi berjalan lancar,
komunikatif, dan interaktif.
Dari diskusi yang berkembang, dapat dibuat beberapa
catatan penting yang perlu mendapat perhatian.
Mengingat sapi putih Taro dimanfaatkan secara luas
oleh masyarakat Hindu di Bali, Bapak Nyoman Tunjung,
Bendesa Adat Taro, mengusulkan agar Pemerintah
Kabupaten Gianyar dan Pemerintah Provinsi Bali, ikut
membantu perawatan dan pemeliharaannya. Sapi putih
Taro tidak hanya menjadi milik dan tanggungjawab
masyarakat Taro saja, melainkan juga menjadi milik dan
tanggungjawab masyarakat Bali. Dalam bahasa setempat
dikenal dengan istilah ”duwen gumi” (milik masyarakat/
kerama Bali).
Saat diskusi juga terungkap bahwa masyarakat Taro
mulai kesulitan dalam upaya penyediaan pakan untuk
sapi putih Taro. Hal ini sejalan dengan kebutuhan dan
peningkatan harga-harga berbagai komoditi di pasar,
termasuk harga pakan ternak. Selama ini, pakan yang
diberikan pada sapi putih Taro berupa rumput gajah,
rumput alami atau rumput lapangan. Jenis pakan
lainnya berupa daun-daunan, seperti daun nangka,
daun gamal dan daun blalu. Kadang-kadang diberikan
batang pisang (gedebong), terutama pada saat musim
kemarau. Konsentrat seperti polard, hanya diberikan
sesekali saja, saat ada bantuan dari masyarakat atau
dari pihak-pihak yang peduli. Secara ringkas perkiraan
persentase jenis pakan yang diberikan pada sapi putih
Taro tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis Pakan/Hijauan yang Dikonsumsi Sapi Putih di Desa
Taro
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Jenis Pakan / Hijauan
Rumput Gajah
Rumput Alami
Daun-daunan
Batang Pisang
Polard
Perkiraan Pakan yang Diberikan
60-80%
10-20%
10-20%
5% (kadang-kadang)
5% (kadang-kadang)
Dengan pertimbangan lokasi dan kondisi yang ada di
lapangan, dari 39 ekor sapi putih Taro yang dilaporkan
ada saat pengabdian, sebanyak 25 ekor (64,10%)
memperoleh pelayanan kesehatan. Profil ke dua puluh
lima sapi putih Taro yang memperoleh pelayanan
kesehatan tersebut dapat di lihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Profil Sapi Putih Taro yang Memperoleh Pelayanan
Kesehatan
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Sapi
Induk
Pejantan
Jantan muda
Betina muda
Godel jantan
Jumlah
Gemuk
8
6
2
2
4
22
Kurus
2
1
3
Jumlah
10
6
3
2
4
25
Dari Tabel 2, diketahui ada tiga ekor sapi (dua
induk dan satu jantan muda) dikatagorikan kurus. Hal
ini mungkin akibat komposisi jenis pakan yang diberi,
seperti telah diungkap di atas, belum optimal. Selain
itu, tidak tertutup kemungkinan adanya gangguan metabolisme pada tubuh sapi. Namun, lewat pemeriksaan
fisik diyakini semua hewan dalam keadaan sehat. Oleh
karena itu, keduapuluh lima ekor sapi yang menjadi
target pelayanan telah diberi vaksin SE (Septivak®).
Vaksinasi SE pada sapi di Bali penting dilakukan
105
Udayana Mengabdi Volume 9 Nomor 2 Tahun 2010
secara rutin, mengingat salah satu ancaman pemeliharaan
sapi adalah kerentanan terhadap penyakit Septicemia
Epizootica (SE) atau dikenal dengan penyakit ngorok.
Penyakit ini sangat menular dan menimbulkan kerugian
tinggi sampai milyaran rupiah per tahun, sehingga
menjadi suatu penyakit yang diperhitungkan peternak
(Batan, 2003). Di Indonesia, kuman ngorok yang
umum menyebabkan wabah adalah Pasteurella multocida
tipe B6 dan tipe B2 dan ada dugaan sedikit peran tipe A.
Kuman tipe A ini begitu dominan diisolasi dari tonsil
sapi bali yang dipotong di Denpasar (Priadani dan
Natalia, 2000). Wabah penyakit SE umum terjadi pada
permulaan musim hujan, terutama pada ternak-ternak
yang tidak memperoleh program vaksinasi secara teratur
terhadap penyakit ini. Bila ternak sapi terserang suatu
penyakit, akan merupakan sumber penular bagi ternak
sapi lainnya (Subronto, 2003).
Dari kedua puluh lima ekor sapi yang telah
didata, semua mendapat pelayanan berupa spraying/
penyemprotan dengan insektisida. Insektisida yang
dipakai adalah Buttox ® dengan kandungan zat aktif
deltametrin. Konsentrasi yang digunakan adalah 1
permil, diperoleh dengan mengencerkan 1ml Buttox ®
dalam 1 liter air. Selain daerah kepala, spraying dilakukan
merata di seluruh tubuh. Fungsinya untuk membunuh
lalat yang mengerumuni tubuh sapi serta mencegah
lalat hinggap kembali. Seperti diketahui, lalat yang
mengerumuni tubuh sapi dapat berakibat buruk. Selain
sapi merasa terganggu aktivitasnya, salah satu penyakit
yang diakibatkan oleh jenis ektoparasit ini adalah miasis
atau belatungan. Miasis adalah infeksi larva lalat pada
jaringan tubuh hewan hidup (Kaufmann, 1996). Miasis
dapat disebabkan oleh beberapa jenis lalat terutama lalat
hijau dari familia Calliphoridae (Soulsby, 1982; Levine,
1990; Kaufmann, 1996).
Selain vaksinasi dan spraying pada semua sapi
putih Taro yang menjadi target, tiga ekor sapi yang
dikatagorikan kurus (Tabel 2) diberi vitamin B
komplek injeksi. Vitamin yang diberi lewat aplikasi
intra muscular tersebut adalah B-plex ®. Pemberian
vitamin ini dimaksudkan selain untuk memperbaiki
kekurangan vitamin pada sapi, juga untuk menambah
nafsu makan dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemberian vitamin B komplek juga berfungsi sebagai
koenzim dalam metabolisme. Dalam tiap ml B-plex ®
mengandung 2 mg Vit B1; 1,5 mg B2; 1,25 mg B6; 5 mcg
B12; 5 mg D-panthenol; dan 12,5 mg Nicotinamide.
106
Gambar 1. Induk sapi putih dengan anak yang dipelihara di luar
pastura
Gambar 2. Sapi putih dara yang sedang disemprot dengan obat
anti lalat
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di Desa
Taro berupa sosialisasi dan pelayanan kesehatan hewan
terhadap sapi putih Taro dinilai cukup berhasil. Hal ini
terlihat dari antusias khalayak sasaran untuk mengikuti
kedua acara dimaksud dari awal hingga akhir. Sebanyak
25 ekor sapi putih Taro telah diberi vaksinasi SE dan
mendapat spraying insektisida. Tiga ekor di antaranya
diberi pengobatan/pemberian vitamin B komplek. Dari
perkembangan diskusi dan pelayanan kesehatan hewan
yang dilakukan, diketahui bahwa sapi putih Taro belum
mendapat perawatan optimal.
Saran
Untuk mendapat perawatan optimal, program pela­
yanan kesehatan, pemberian obat/vitamin dan vaksinasi
pada sapi putih Taro perlu dilakukan secara berkala. Hal
tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya
wabah penyakit yang berakibat fatal dan kerugian bagi
masyarakat. Mengingat sapi putih Taro adalah aset Bali,
Pelayanan Kesehatan Hewan Pada Sapi Putih Di Desa Taro Gianyar [N. S. Dharmawan, dkk.]
disarankan agar Pemerintah Kabupaten Gianyar dan
Pemerintah Provinsi Bali menganggarkan dana untuk
biaya pemeliharaan dan pelayanan kesehatannya.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pengabdian kepada masyarakat ini tidak dapat
dijalankan sesuai rencana tanpa partisipasi masyarakat
Desa Adat Taro dan peran serta Petugas Dinas
Peternakan Kecamatan Tegallalang / Kabupaten
Gianyar. Terimakasih disampaikan kepada Prajuru Desa
Adat Taro yang telah memberi dukungan penuh sejak
persiapan awal hingga akhir kegiatan. Terimakasih juga
disampaikan kepada Rektor melalui Ketua Lembaga
Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana
atas dukungan dananya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2007. Kala Sapi Putih Desa Taro Tersaingi Gajah.
http://artikelbali.blogspot.com/ 2007/07/kala-sapi-putih-desa-taro-tersaingi.html. Tanggal akses: 24 September
2010
Batan, IW. 2003. Buku Ajar Sapi Bali dan Penyakitnya. Denpasar:
Penerbit Universitas Udayana.
Darmayasa. 1993. Keagungan Sapi Menurut Weda. Jakarta:
Pustaka Manikgeni.
Kaufmann, J. 1996. Parasitic Infectious of Domestic Animals.
Birkhäuser Verlag, Basel, Schweiz.
Levine, N.D 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Terjemahan dari Textbook of Veterinary Parasitology. Penerjemah Gatut Ashadi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Priadani, A. dan L. Natalia. 2000. Patogenesis SE pada Sapi Bali
dan Kerbau. Gejala Klinis, Perubahan Patologis, Reisolasi,
Deteksi P. multocida, dengan Median Kultur dan PCR.
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Vol 5 (1): 65 – 71
Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of
Domesticated Animals. London: Bailliere Tindall. .
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Subronto. 2007. Ilmu Penyakit Ternak II (Mammalia) Manajemen
Kesehatan Ternak, Prasitisme Gastrointestinal dan Penyakit
Metabolisme. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Wiana, K. 2010. Pura Gunung Raung Taro Bali. http://www.zimbio.com/member/pandezimb/ articles/Ztz56M8X0Pf/
Pura+Gunung+Raung+Taro+Bali. Tanggal akses tgl: 24
September 2010.
107
Fly UP