...

Akurasi Pulse Oksimetri Fingertip Dibandingkan Pulse Oksimetri

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Akurasi Pulse Oksimetri Fingertip Dibandingkan Pulse Oksimetri
Akurasi Pulse Oksimetri Fingertip Dibandingkan Pulse Oksimetri Generasi
Baru dalam Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Kritis pada Bayi baru
Lahir: Penelitian Pendahuluan
Ina Rochayati, Sukman Tulus Putra, Bambang Supriyatno
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Latar belakang. Peningkatan morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir dengan penyakit jantung bawaan kritis berkaitan dengan
diagnosis yang terlambat.
Tujuan. Mengetahui nilai diagnostik pulse oksimetri fingertip dibandingkan generasi baru untuk deteksi dini PJB kritis pada bayi
baru lahir.
Metode. Penelitian dilakukan di Ruang Rawat Gabung RSCM pada bayi bugar, usia gestasi t37 minggu, dan berusia 24-72 jam.
Oksimetri dilakukan di tangan kanan (preduktal) dan kaki (postduktal). Subjek dengan SpO2 <95% /beda >3% antara tangan kanan
dan kaki diperiksa lebih lanjut.
Hasil. Pada 442 bayi, SpO2 preduktal kedua jenis pulse oksimetri bervariasi secara statistik namun tidak bermakna klinis. Tidak ada
subjek dengan hasil deteksi positif dan didiagnosis PJB kritis melalui pemeriksaan oksimetri.
Kesimpulan. Uji diagnostik pulse oksimetri fingertip dibandingkan generasi baru untuk deteksi dini PJB kritis pada bayi baru lahir
pada penelitian ini belum dapat dinilai. Sari Pediatri 2015;17(2):113-8.
Kata kunci: PJB kritis, pulse oksimetri, uji diagnostik
Comparison between Fingertip and New Generation Pulse Oximetry
Accuracy in Early Detection of Critical Congenital Heart Disease in The
Newborn: Preliminary Study
Ina Rochayati, Sukman Tulus Putra, Bambang Supriyatno
Background. Late diagnosis in the newborn with critical congenital heart disease (CCHD) is associated with increased morbidity
and mortality.
Objective. To estimate diagnostic study results of fingertip pulse oximetry screening compared to a new generation to detect CCHD
in the newborn before hospital discharge.
Methods. This was a diagnostic study held in newborn nursery of Cipto Mangunkusumo Hospital involving asymptomatic newborns
aged 24-72 hours and gestational age t37weeks. Examination of fingertip and new generation pulse oximetry was done in right hand
(preductal) and foot (postductal). Subject had oxygen saturation <95% or difference of oxygen saturation between right hand and
foot >3% requires further investigation.
Results. In 442 asymtomatic newborns, obtaining preductal oxygen saturation using two types pulse oximetry varied statistically but
not clinically significant. No subject had positive detection result and was diagnosed CCHD through screening oximetry.
Conclusion. Diagnostic test of fingertip compared with new generation pulse oximetry in early detection of CCHD in this study
can not be assessed. Sari Pediatri 2015;17(2):113-8.
Keywords: critical congenital heart disease, pulse oximetry, diagnostic study
Alamat korespondensi: Dr. Ina Rochayati, Sp.A. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jl. Diponegoro No.
71, Senen, Jakarta Pusat. Telp +62 21 391830111. E-mail: [email protected]
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
113
Ina Rochayati dkk: Akurasi pulse oksimetri fingertip dibandingkan pulse oksimetri generasi baru dalam deteksi PJB kritis
P
enyakit jantung bawaan (PJB) kritis merupakan kelompok kelainan jantung bergantung
duktus atau PJB yang membutuhkan operasi atau intervensi dalam bulan pertama
kehidupan.1 Peningkatan mortalitas akibat PJB kritis
berkaitan dengan diagnosis yang terlambat.1-5 Diagnosis
PJB kritis yang terlambat dapat menyebabkan bayi
mengalami kardiak katastropik serta kegagalan
multi-sistem setelah duktus menutup.2,3 Sekitar 30
(13-48)% bayi baru lahir dengan PJB kritis tidak
terdiagnosis hingga pulang dari rumah sakit.2 Di
Indonesia, rendahnya angka kelahiran di rumah
sakit mungkin menyebabkan lebih banyak bayi baru
lahir dengan PJB kritis tidak terdiagnosis dini. Data
nasional menunjukkan 84,72% kelahiran bukan di
rumah sakit.6
Pemeriksaan pulse oksimetri pada bayi baru lahir
sebelum pulang dari rumah sakit dapat membantu
mendeteksi dini PJB kritis.2,3,7-10 de-Wahl Granelli
dkk7 melaporkan peningkatan angka deteksi hingga
92% defek bergantung duktus. Peran pulse oksimetri
untuk deteksi dini PJB kritis didasarkan pada
kemampuan mengenali penurunan saturasi oksigen
(SpO2) sebelum timbulnya manifestasi klinis nyata
seperti sianosis.11,12
Pada praktiknya, pulse oksimetri untuk skrining
PJB kritis belum digunakan secara universal. Terdapat
anggapan bahwa diagnosis kelainan jantung cukup
dilakukan melalui pemeriksaan fisis saja, pulse oksimetri
tidak dapat diandalkan, dan keberatan dengan biaya.2
Faktor biaya tersebut antara lain biaya staf pelaksana
dan alat untuk skrining dan diagnostik. Untuk faktor
alat, terdapat pulse oksimeter fingertip dengan kelebihan
ukuran kecil, mudah dibawa dan digunakan, serta
harganya terjangkau.14,15 Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui angka kejadian dan jenis PJB kritis hasil
skrining pulse oksimetri, dan sebagai uji diagnostik
pulse oksimetri fingertip dalam deteksi dini PJB kritis
pada bayi baru lahir.
Metode
Uji diagnostik dilakukan secara potong lintang (Juli
2013-Januari 2014) menggunakan pulse oksimetri
fingertip yaitu Onyx II® dibandingkan dengan baku
emas pulse oksimetri generasi baru yaitu Masimo SET
Radical 7®. Penelitian dilakukan di Ruang Rawat
Gabung Gedung A RSCM. Kriteria inklusi adalah
114
bayi baru lahir bugar, usia gestasi t37 minggu dan
berusia 24-72 jam. Kriteria eksklusi adalah orang tua
menolak berpartisipasi.
Jumlah sampel yang diperlukan minimum 860
subjek. Subjek penelitian dipilih secara konsekutif
hingga besar sampel minimal terpenuhi atau penelitian
telah berlangsung 6 bulan. Pada tahap pra-penelitian,
30 bayi dilakukan oksimetri sesuai kriteria dan alur
penelitian untuk mengetahui peluang penggunaan
Onyx II® pada bayi baru lahir, hambatan pemeriksaan,
dan efek yang tidak diharapkan. Peneliti dan/atau asisten peneliti (asisten peneliti adalah perawat yang telah
mendapatkan pelatihan tentang prosedur penelitian
ini), sebanyak 2 orang, melakukan pemeriksaan saat
subjek tenang. Kedua jenis oksimetri dilakukan secara
bersamaan di tangan kanan, selanjutnya di kaki kanan
memakai Masimo SET® dan kaki kiri dengan Onyx
II ®. Sensor Masimo SET ® direkatkan di telapak
tangan kanan/kaki sehingga dioda dan fotodetektor
saling berhadapan selanjutnya sensor dipasang pada
kabel oksimeter. Onyx II® direkatkan pada jari hingga
telapak tangan kanan/kaki bayi dan dipastikan tangan/
kaki berada di antara dioda dan fotodetektor. Setiap
pemeriksa meneliti satu jenis oksimetri, mencatat
waktu yang diperlukan saat SpO 2 maksimal dan
frekuensi nadi stabil. Pemeriksaan dilanjutkan hingga
oksimetri telah berlangsung 1 sampai 2 menit.
Hasil pemeriksaan SpO2 dibagi menjadi 3 kriteria,
yaitu (1) SpO2 t95% di tangan kanan dan kaki, atau
perbedaan d3% antara tangan kanan dan kaki, disebut
hasil deteksi negatif maka pemeriksaan dihentikan;
(2) SpO2 <90% di tangan kanan atau kaki, disebut
hasil deteksi positif; (3) SpO2 90-<95% di tangan
kanan dan kaki, atau perbedaan >3% antara tangan
kanan dan kaki. Jika hasilnya memenuhi kriteria 3
maka oksimetri dilanjutkan 1 jam kemudian. Apabila
hasil pemeriksaan memenuhi kriteria 3 kembali
disebut hasil deteksi positif, dan apabila berbeda maka
merujuk kriteria lain yang terpenuhi. Pemeriksaan
ekokardiografi dilakukan pada hasil deteksi positif
dengan Masimo SET®.
Perolehan hasil deteksi digunakan untuk menghitung sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif
dan negatif, rasio kemungkinan positif dan negatif,
pretest- dan posttest-probability. Perbedaan perolehan
SpO2 antara pulse oksimetri fingertip dan generasi baru
dinilai dengan Uji Bland Altman, perbedaan waktu
yang diperlukan untuk mencapai hasil maksimal
dinilai dengan Wilcoxon signed rank test. Interval
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
Ina Rochayati dkk: Akurasi pulse oksimetri fingertip dibandingkan pulse oksimetri generasi baru dalam deteksi PJB kritis
kepercayaan adalah 95%. Nilai p<0,05 dianggap
statistik bermakna.
Hasil
Selama 6 bulan penelitian, terdapat 715 bayi baru
lahir di Ruang Rawat Gabung. Dua ratus tujuh puluh
tiga (38%) bayi tidak memenuhi kriteria penelitian
karena prematuritas, lepas pemantauan, diperbolehkan
pulang, pulang atas permintaan keluarga, sakit, dan
orangtua menolak ikut serta dalam penelitian. Terdapat
540 (75,5%) bayi dengan usia gestasi t37 minggu.
Empat ratus empat puluh dua (82%) bayi berhasil
diikutsertakan dalam penelitian.
Enam bayi mempunyai kelainan kongenital lain,
seperti bibir sumbing, talipes maupun tersangka
sindrom. Tidak ada bayi yang lahir dengan riwayat
keluarga PJB, terdiagnosis PJB saat antenatal maupun
melalui pemeriksaan fisis. Karakteristik subjek
penelitian tertera pada Tabel 1.
Pada bayi berusia 24-72 jam, median SpO 2
preduktal dengan dua jenis pulse oksimetri 98 (95100)%, median SpO2 postduktal 98 (95-100)% untuk
oksimetri fingertip (Onyx II®) dan 99 (95-100)%
untuk oksimetri generasi baru (Masimo SET®). Pada
oksimetri preduktal, frekuensi nadi berada pada kisaran
normal yaitu 131 (97-164) kali/menit menggunakan
Onyx II® dan 133 (95-163) kali/menit dengan Masimo
SET®. Pemeriksaan postduktal menghasilkan frekuensi
nadi 130 (97-164) kali/menit dan 133 (97-163) kali/
menit dengan Onyx II® dan Masimo SET®.
Perbedaan variasi hasil pengukuran SpO2 antara
pulse oksimetri fingertip dan generasi baru diperlihatkan dengan uji Bland-Altman, Gambar 1 dan
2. Pada pemeriksaan preduktal, perbedaan SpO2
Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik
Jenis kelamin
Usia (jam)
Jenis persalinan
Usia gestasi (minggu)
Berat lahir (gram)
Panjang lahir (cm)
Nilai Apgar menit pertama
Riwayat keluarga dengan PJB
Terdiagnosis PJB secara antenatal
Kelainan kongenital lain
Bising jantung
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
Lelaki
Perempuan
24-48
>48-72
Spontan
Bedah kaisar
Ekstraksi vakum
Forsep
37-41
t42
<2000
2000-<2500
t2500
<44
t44
d6
t7
Ada
Tidak ada
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ada
Tidak ada
Jumlah
(n=442)
233
209
261
181
190
227
19
6
436
6
0
47
395
11
431
19
423
0
442
0
442
6
436
0
442
Persentase (%)
52,7
47,3
59
41
43
51,4
4,3
1,4
98,6
1,4
0
10,6
89,4
2,5
97,5
4,3
95,7
0
100
0
100
1,4
98,6
0
100
115
Ina Rochayati dkk: Akurasi pulse oksimetri fingertip dibandingkan pulse oksimetri generasi baru dalam deteksi PJB kritis
Selisih SpO2
Perbedaan rerata dan IK
4
3,
-2,2
-3
95
100
SpO
Gambar 1. Kurva Bland-Altman Perbedaan SpO2 Preduktal
antara Masimo SET® dan Onyx II®
4
Selisih SpO2
Perbedaan rerata dan IK
3,
-2,2
-3
SpO
95
100
Gambar 2. Kurva Bland-Altman Perbedaan SpO2 Postduktal
antara Masimo SET® dan Onyx II®
SET ® dan Onyx II ® dalam kurva Bland-Altman
memperlihatkan hasil tidak bervariasi, p=0,165
(>0,005). Perbedaan rerata 0,81 (IK95%:0,67–0,95)%
dengan batas kesesuaian -2,20%–3,82%.
Pada penelitian ini tidak ditemukan subjek dengan
hasil deteksi positif dan tidak dijumpai bayi baru lahir
dengan PJB kritis. Dengan demikian nilai diagnostik
pulse oksimetri fingertip (Onyx II®) dibandingkan
generasi baru (Masimo SET®) tidak dapat dinilai.
Pulse oksimetri fingertip (Onyx II®) memerlukan
waktu yang lebih lama untuk mencapai hasil
maksimum dibandingkan dengan oksimetri generasi
baru (Masimo SET®) (Tabel 2).
Hambatan pemeriksaan sehingga oksimetri harus
diulang untuk memperoleh hasil maksimal dijumpai
pada 250 subjek (56,6%). Hambatan tersebut terkait
faktor bayi dan alat. Proporsi hambatan lebih banyak
dijumpai saat pemeriksaan oksimetri fingertip (pengaruh gerakan bayi pada oksimetri fingertip dan generasi
baru yaitu 67,6% dan 2,4%, sinyal tidak terbaca 12%
dan 3,2%, hasil tidak stabil 12,8% dan 2%).
Pembahasan
Banyak rumah sakit di negara maju telah menerapkan
skrining oksimetri secara rutin untuk mendeteksi
PJB kritis pada bayi baru lahir sebelum pulang dari
rumah sakit. Di Indonesia, hal tersebut belum menjadi
kebijakan rumah sakit maupun lembaga terkait. Jenis
pulse oksimetri yang direkomendasikan untuk skrining
Tabel 2. Perbedaan distribusi waktu pemeriksaan pulse oksimetri fingertip (Onyx II®) dan generasi baru (Masimo SET®)
Waktu Pemeriksaan Oksimetri (menit)
Onyx II®
Masimo SET®
p1
(median, min-maks)
(median, min-maks)
Preduktal (n=442)
0,44 (0,13-2,17)
0,25 (0,10-1,03)
<0,001
Postduktal (n=442)
0,30 (0,13-2,1)
0,23 (0,13-1,09)
<0,001
1
Uji Wilcoxon
antara Masimo SET® dengan Onyx II® pada setiap
pengukuran memperlihatkan hasil yang bervariasi,
p=0,029 (<0,005), perbedaan rerata 0,70 (IK95%:
0,56–0,84)% serta batas kesesuaian -2,21%–3,61%.
Pada penelitian ini, hasil tersebut tidak bermakna klinis
karena pemeriksaan dengan kedua jenis pulse oksimetri
memberikan hasil deteksi yang sama.
Pada pengukuran postduktal, perbedaan SpO2
disetiap pengukuran antara oksimetri Masimo
116
relatif tidak terjangkau4 sehingga pulse oksimetri
fingertip diharapkan dapat menjadi upaya terobosan
agar skrining oksimetri dapat diterapkan secara luas
pada fasilitas terbatas.
Penggunaan pulse oksimetri generasi baru (Masimo
SET®) sebagai baku emas didasarkan atas fisibilitas
penelitian karena keterbatasan alat, sumber daya dan
pendanaan. Masimo SET® terbukti tahan terhadap
gerakan, stabil, andal, mempunyai positif palsu sangat
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
Ina Rochayati dkk: Akurasi pulse oksimetri fingertip dibandingkan pulse oksimetri generasi baru dalam deteksi PJB kritis
rendah, serta telah banyak digunakan sebagai alat
skrining PJB kritis pada penelitian sebelumnya.7-9,16,17
Tidak didapatkan bayi dengan PJB kritis pada
penelitian ini kemungkinan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain jumlah subjek relatif
kecil, metode pengambilan subjek, dan insiden
PJB kritis yang kecil. Penelitian Sendelbach dkk18
juga tidak mendapatkan bayi dengan PJB kritis
melalui skrining pulse oksimetri. Dua kasus stenosis
pulmonal dan 1 kasus sindrom hipoplasia jantung
kiri terdiagnosis melalui pemeriksaan fisis. Penelitian
tersebut mengikutsertakan subjek dalam jumlah besar,
sensor direkatkan di kaki, usia subjek 4 jam, batasan
SpO2 abnormal <96%, dan skrining diulang saat
subjek hendak pulang dari rumah sakit. Koppel dkk11
menunjukkan prevalens PJB kritis pada populasi total 1
per 564, populasi asimtomatik yang menjalani skrining
1 per 2256, sedangkan jumlah PJB kritis yang berhasil
dideteksi dengan oksimetri 3/11.281 atau 1 per 3760
yaitu 2 kasus anomali total drainase vena pulmonalis
dan 1 kasus trunkus arteriosus. Ewer dkk8 memperoleh
prevalensi 2,6 per 1000 kelainan hidup (53/20.055)
kasus kelainan jantung mayor.
Hasil uji oksimetri dengan pulse oksimeter fingertip (Onyx II®) dibandingkan generasi baru (Masimo
SET®) untuk deteksi PJB kritis pada penelitian ini
tidak dapat dinilai. Tidak terdapat kelompok uji/
baku emas dengan hasil deteksi positif. Penelitian
lain tentang uji oksimetri serupa belum pernah
dipublikasikan. Kebanyakan penelitian menilai uji
diagnostik pulse oksimetri generasi baru dibandingkan
dengan studi populasi atau ekokardiografi. Sensitivitas
bervariasi dari tidak dapat dinilai hingga 100%
ditunjukkan oleh review sistematik Mahle dkk 3.
Perbedaaan metodologi tampaknya memengaruhi
hasil tersebut. Selain itu, review tersebut juga
mendapatkan spesifisitas tinggi 95,5 hingga 100%.
Review sistematik lain oleh Thangaratinam dkk10 pada
13 penelitian mendapatkan sensitivitas sedang (76,5
(IK95%: 67,7-83,5)%) dan spesifisitas tinggi (99,9
(IK95%: 99,7-99,9)%).
Pemeriksaan oksimetri dilakukan saat bayi tenang,
tidak ada gerakan berlebihan, melawan, maupun
menangis. Penelitian ini mendapatkan pemeriksaan
pulse oksimetri fingertip memerlukan waktu yang lebih
lama untuk mencapai hasil maksimal dengan median
0,45 (0,13-2,17) menit dan 0,25 (0,13-1,03) menit
(p<0,001). Penelitian O’Donnell dkk19 menggunakan
Masimo SET® pada bayi baru lahir menunjukkan
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
rerata total waktu yang diperlukan untuk mencapai
data yang akurat yaitu 25 (±7) detik. Beberapa faktor
yang dapat memengaruhi waktu pencapaian hasil yaitu
faktor alat, bayi, pemeriksa, dan orangtua.20
Pelaksanaan oksimetri pada penelitian ini dipengaruhi oleh faktor alat dan bayi. Hambatan terbesar
tampak pada penggunaan pulse oksimeter fingertip
(92,4%). Pengaruh gerakan bayi 67,6% dan faktor
alat (sinyal tidak terbaca dan hasil tidak stabil) 24,8%.
Oksimeter generasi baru mempunyai algoritme yang
diperbaiki sehingga dapat menyaring sinyal yang
tidak diperlukan. Beberapa penelitian melaporkan
keandalan oksimeter generasi baru (Masimo SET®)
dalam mengatasi pengaruh gerakan.16,17
Kesimpulan
Pemeriksaan oksimetri pada bayi baru lahir sebelum
pulang dari rumah sakit belum mendeteksi bayi dengan
PJB kritis. Tidak didapatkannya hasil deteksi positif
menyebabkan uji diagnostik tidak dapat dinilai. Hasil
pemeriksaan SpO2 pulse oksimetri fingertip dan generasi
baru bervariasi secara statistic, tetapi secara klinis
untuk skrining PJB kritis tidak bermakna. Meskipun
masih memerlukan penelitian lebih lanjut, pulse
oksimetri fingertip dapat menjadi alternatif oksimetri
untuk skrining PJB kritis pada bayi baru lahir dengan
mempertimbangkan beberapa keterbatasan terutama
pengaruh gerakan bayi dan faktor alat (sinyal tidak
terbaca dan hasil tidak stabil).
Daftar pustaka
1.
2.
3.
4.
Liske MR, Greeley CS, Law DJ, Walsh WF, dkk.
Report of the tennessee task force on screening newborn
infants for critical congenital hear disease. Pediatrics
2006;118:1250-7.
Hoffman JIE. It is time for routine neonatal screening
by pulse oximetry. Neonatol 2011;99:1–9.
Mahle WT, Newburger JW, Matherne GP, Grosse SD,
dkk. Role of pulse oximetry in examining newborns for
congenital heart disease: a scientific statement from the
AHA and AAP. Pediatrics 2009;124:823-36.
Wren C, Reinhardt Z, Khawaja K. Twenty-year trends
in diagnosis of life-threatening neonatal cardiovascular
malformations. Arch Dis Child Fetal Neonatal
2008;93:33–5.
117
Ina Rochayati dkk: Akurasi pulse oksimetri fingertip dibandingkan pulse oksimetri generasi baru dalam deteksi PJB kritis
5.
Abu-Harb M, Hey E, Wren C. Death in infancy from
unrecognised congenital heart disease. Arch Dis Child
1994;71:3–7.
6. Badan Pusat Statistik. Perkembangan beberapa indikator
utama sosial-ekonomi Indonesia November 2010.
Jakarta: Badan Pusat Statistik;2010.h.9-45.
7. de-Wahl Granelli A, Wennergren M, Sandberg K,
Östman-Smith I, dkk. Impact of pulse oximetry
screening on the detection of duct dependent congenital
heart disease: a Swedish prospective screening study in
39,821 newborns. BMJ 2009;338:1-12.
8. Ewer AK, Middleton LJ, Furmston AT, Khan KS, dkk.
Pulse oximetry screening for congenital heart defects in
newborn infants (PulseOx): a test accuracy study. Lancet
2011;378:785–94.
9. Meberg A, Brügmann-Pieper S, Due R Jr, Sielberg IE,
dkk. First day of life pulse oximetry screening to detect
congenital heart defects. J Pediatr 2008;152:761–5.
10. Thangaratinam S, Brown K, Zamora J, Khan KS, Ewer
AK. Pulse oximetry screening for critical congenital heart
defects in asymptomatic newborn babies: a systematic
review and meta-analysis. The Lancet 2012;379:245964.
11. Koppel RI, Druschel CM, Carter T, Bierman FZ, dkk.
Effectiveness of pulse oximetry screening for congenital
heart disease in asymptomatic newborns. Pediatrics
2003;111:451-5.
12. Hoke TR, Donohue PK, Bawa PK, Byrne BJ, dkk.
Oxygen saturation as a screening test for critical
118
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
congenital heart disease: a preliminary study. Pediatr
Cardiol 2002;23:403-9.
Ortega R, Hansen CJ, Elterman K, Woo K. Pulse
oximetry. N Engl J Med 2011;364:33-7.
Knowles R, Griebsch I, Dezateux C, Brown J, Bull C,
Wren C. Newborn screening for congenital heart defects:
a systematic review and cost-effectiveness analysis. Health
Technol Assess 2005;9:1–152.
Nonin. Fingertip pulse oximetry. Diakses pada tanggal 12
Mei 2013. Diunduh dari: http://www.nonin.com/Oximetry/
Fingertip.
Hay WW, Rodden DJ, Collins SM, Melara DL, Hale KA,
Fashaw LM. Reliability of conventional and new pulse
oximetry in neonatal patients. J Perinatol 2002;22:360-6.
Sahni R, Gupta A, Rosen TS. Motion-resistant pulse oximetry
during circumcision in neonates. Arch Dis Child Fetal
Neonatal 2003;88:505-8.
Sendelbach DM, Jackson GL, Lai SS, Fixler DE, Stehel
EK, Engle WD. Pulse oximetry screening at 4 hours of
age to detect critical congenital heart defects. Pediatrics
2008;122:1-6.
O’Donnell CPF, Kamlin COF, Davis PG, Morley CJ.
Obtaining pulse oximetry data in neonates: a randomised
crossover study of sensor application techniques. Arch
Dis Child Fetal Neonatal 2005;90:84-5.
Bradshaw EA, Cuzzi S, Kiernan SC, Nagel N, Becker JA,
Martin GR. Feasibility of implementing pulse oximetry
screening for congenital heart disease in a community
hospital. J Perinatol 2012;32:710-5.
Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015
Fly UP