...

TINGKAT PENERAPAN PRINSIP `ENAM TEPAT` DALAM

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

TINGKAT PENERAPAN PRINSIP `ENAM TEPAT` DALAM
Tingkat penerapan prinsip ’enam empat’ dalam pemberian obat oleh perawat di ruang rawat inap (Kuntarti)
19
PENELITIAN
TINGKAT PENERAPAN PRINSIP ‘ENAM TEPAT’
DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT DI RUANG
RAWAT INAP
Kuntarti *
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat penerapan prinsip enam tepat dalam pemberian obat di ruang rawat inap. Prinsip
enam tepat merupakan prinsip yang harus diperhatikan oleh perawat dalam pemberian obat untuk menghindari kesalahan pemberian
obat dan keberhasilan pengobatan. Disain yang digunakan adalah deskriptif-eksploratif. Responden pada penelitian ini adalah perawat
ruang rawat inap yang berperan dalam pemberian obat. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling berjumlah 81 orang dari
17 ruang rawat di RS Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuisioner untuk memperoleh
data deskriptif tentang tingkat pengetahuan perawat mengenai prinsip enam tepat, tingkat penerapannya, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penerapan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat penerapan prinsip enam tepat oleh perawat secara
umum baik. Urutan tingkat penerapan masing-masing komponen adalah (1) tepat pasien, (2) tepat waktu, (3) tepat obat, (4) tepat cara,
(5) tepat dokumentasi, dan (6) tepat dosis. Namun, tingkat penerapan prinsip umum yang berkaitan dengan aspek keamanan bagi
perawat masih rendah, yaitu sebagian besar perawat tingkat penerapannya rendah 51,9%. Faktor internal yang mempengaruhi tingkat
penerapan ini adalah karakteristik responden dan tingkat pengetahuan. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu ketersediaan fasilitas dan
Standar Operasional Prosedur (SOP), serta faktor supervisi dari atasan. Upaya mempertahankan dan meningkatkan tingkat penerapan
prinsip ini dapat dilakukan dengan memperbanyak pelaksanaan pendidikan keperawatan berkelanjutan dan meningkatkan supervisi.
Kata kunci: prinsip enam tepat, kesalahan pemberian obat, pendidikan keperawatan berkelanjutan, supervisi
Abstract
The purpose of this study was to identify level of application of six rights principles in medication at ward. Six rights principles were the
principles that must be attention by nurses in medication to avoid errors medication and to take a successful of medication. The design
of this study was desciptive-explorative with purposive sampling. Eighty one (81) nurses who give medication from 17 (seventeen) wards
were participated as respondens in this study. The study has been conducted in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta by distributed
a set of quisioner to get data about level of knowledge, level of application, and factors influencing in application of six rights principles
in medication. The result of this study revealed that the most of nurses generalized had level of application of six rights principles good
with the following were (1) right patient, (2) right time, (3) right drug, (4) right route, (5) right documentation, and (6) right dose. This
study also revealed that the most of nurses (51.9%) had the level of application of universal precaution were poor. The internal factors
that influencing in application of six rights principles were respondens’s characteristics and level of knowledge. The external factors
were facilities and Standard Operational Procedure (SOP) for medication, and also supervision by a ward manager. To maintain and
increase of the level of application should be done by extend the Continuing Nursing Education and increase supervision.
Key words: six rights principles, error in drug administration, continuing nursing education, supervision
LATAR BELAKANG
Pengobatan merupakan salah satu unsur penting
dalam upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan. Perawat turut bertanggung jawab dalam
memastikan bahwa pemberian obat tersebut aman
bagi pasien dan membantu mengawasi efek
pemberian obat tersebut. Untuk dapat menjalankan
peranan ini, perawat harus dibekali dengan ilmu
keperawatan (UU No.23 th. 1992 pasal 32 ayat (3)).
Dalam pemberian obat yang aman, perawat perlu
memperhatikan lima tepat (five rights). Selama ini
istilah five rights sering diterjemahkan sebagai lima
benar. Namun, berdasarkan kajian yang penulis
lakukan dan masukan dari seorang editor
20
penerjemahan yang juga spesialis farmakologi klinik,
five rights lebih tepat jika diterjemahkan menjadi lima
tepat. Lima tepat ini meliputi tepat pasien (right
client), tepat obat (right drug), tepat dosis (right
dose), tepat waktu (right time), dan tepat rute (right
route). Setiap ke”tepat”an memerlukan pengetahuan,
keterampilan, dan tindakan keperawatan khusus
(Abrams, 1995). Kee dan Hayes (2000)
mengemukakan bahwa pengalaman menunjukkan
ada five rights lainnya yang juga penting dalam
praktek keperawatan profesional, yaitu: right
assessment (tepat pengkajian), right documentation
(tepat pencatatan), client’s right to get education (hak
klien mendapatkan pendidikan), right evaluation
(tepat evaluasi), dan client’s right to refuse medication
(hak pasien untuk menolak). Kee dan Hayes
menyebut penambahan ini dengan istilah five plus
five rights.
Pada penelitian ini penulis memilih enam
ketepatan yang harus diperhatikan oleh perawat
dalam pemberian obat, yaitu lima tepat yang telah
dikenal oleh perawat ditambah dengan tepat
dokumentasi yang penting sebagai pertanggungjawaban secara legal tindakan yang telah dilakukan.
Penerapan prinsip enam tepat (six rights) oleh
perawat akan mempengaruhi keberhasilan
pengobatan. Hal ini terutama akan tampak pada
pasien yang dirawat di ruang rawat inap. Di ruang
rawat inap, seorang perawat harus memberikan
berbagai macam obat kepada beberapa pasien yang
berbeda yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk
menghindari kesalahan dalam pemberian obat,
perawat harus menerapkan prinsip “enam tepat”
tersebut.
Data tentang kesalahan pemberian obat
(medication error) di Indonesia belum dapat
ditemukan. Darmansjah, (Nainggolan, 2003), ahli
farmakologi dari FKUI menyatakan bahwa kasus
pemberian obat yang tidak benar maupun tindakan
medis yang berlebihan (tidak perlu dilakukan tetapi
dilakukan) sering terjadi di Indonesia, hanya saja
tidak terekspos media massa. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh peneliti dari Auburn University
di 36 rumah sakit dan nursing home di Colorado dan
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 9, No.1, Maret 2005; 19-25
Georgia, USA, pada tahun 2002, dari 3216 jenis
pemberian obat, 43% diberikan pada waktu yang
salah, 30% tidak diberikan, 17% diberikan dengan
dosis yang salah, dan 4% diberikan obat yang salah
(Joint Commission on Accreditation of Health
Organization (JCAHO), 2002). Peneliti pada
penelitian ini juga mengemukakan hasil penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Institute of Medicine
pada tahun 1999, yaitu kesalahan medis (medical
error) telah menyebabkan lebih dari 1 (satu) juta
cedera dan 98.000 kematian dalam setahun. Data yang
didapat JCAHO juga menunjukkan bahwa 44.000 dari
98.000 kematian yang terjadi di rumah sakit setiap
tahun disebabkan oleh kesalahan medis. (Kinninger
& Reeder, 2003).
Berdasarkan pengalaman praktik penelitian,
peneliti juga beberapa kali menemui kasus kesalahan
pemberian obat di suatu rumah sakit di Jakarta, antara
lain pemberian antibiotika yang tidak sesuai dengan
indikasi, obat diberikan pada waktu yang salah,
pemberian obat yang sudah kadaluwarsa, dan
pemberian obat yang tidak didokumentasikan.
METODOLOGI
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk
melihat tingkat penerapan prinsip “enam tepat” dalam
pemberian obat oleh perawat di 17 ruang rawat inap
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM),
Jakarta. Populasi pada penelitian ini adalah perawat
yang bertanggung jawab merawat pasien yang
mendapat pengobatan. Sampel merupakan populasi
setuju ikut dalam penelitian.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
purposive sampling, yaitu semua perawat yang
sedang bertugas pada shift pagi saat pengumpulan
data dan memenuhi krit eria dapat menjadi
responden. Jumlah sampel yang diambil adalah 81
orang. Jumlah ini diperoleh dari rumus estimasi
proporsi yang dikemukakan oleh Paul Leedy
(Arikunto, 1988) dengan Z=1,96, e =0,1, dan
P=30%. Pengumpulan data dilakukan dengan
menyebarkan kuisioner yang mencakup pengkajian
terhadap karakteristik perawat (umur, jenis kelamin,
Tingkat penerapan prinsip ’enam empat’ dalam pemberian obat oleh perawat di ruang rawat inap (Kuntarti)
pendidikan, dan lama kerja), tingkat pengetahuan,
dan tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’.
Data yang diperoleh diolah menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan analisis univariat
menggunakan komputer. Analisis univariat digunakan
untuk mendeskripsikan variabel yang diteliti dengan
mendapatkan besar proporsi, ukuran tengah (mean,
median, dan modus), dan variasi (standar deviasi,
interval, dan nilai minimal dan maksimal).
HASIL PENELITIAN
Pengambilan data dilakukan selama tiga bulan
dengan responden sebanyak 81 orang. Hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Karakteristik responden
Karakteristik responden yang diteliti adalah umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama kerja
sebagai perawat. Perawat yang ikut dalam penelitian
ini 95% diyakini berumur antara 35,88-40,07 tahun,
dengan rata-rata berumur 37,98 tahun. Diantaranya
yang termuda berusia 22 tahun dan tertua 54 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin, perawat pria yang ikut
dalam penelitian ini sebanyak 4 orang (4,9%) dan yang
wanita sebanyak 77 orang (95,1%). Sedangkan
berdasarkan tingkat pendidikan, perawat lulusan SPK/
SPR/DI Bidan sebanyak 27 orang (33,3%), lulusan
DIII sebanyak 52 orang (64,2%), dan lulusan S1
sebanyak 2 orang (2,5%). Berdasarkan lama kerja,
responden yang telah bekerja sebagai perawat kurang
dari 1 tahun sebanyak 8 orang (9,9%), 1-5 tahun
sebanyak 18 orang (22,2%), dan lebih dari 5 tahun
sebanyak 55 orang (67,9%).
B. Tingkat pengetahuan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 81
responden, 50 orang (61,7%) belum pernah
mengikuti seminar atau pelatihan tentang pemberian
obat. Hanya 31 orang (38,3%) yang sudah pernah
mengikuti kegiatan tersebut. Tentang yang berperan
dalam pemberian obat, 40 orang (49,4%) menyatakan
bahwa yang paling berperan dalam pemberian obat
kepada pasien adalah dokter, 34 orang (42,0%) adalah
perawat, 5 orang (6,2%) adalah keluarga pasien, dan
21
2 orang (2,5%) adalah apoteker . Sedangkan
mengenai pengenalan terhadap istilah ‘enam tepat’,
30 orang (37%) menyatakan mengenal istilah tersebut
dan dapat menyebutkan dengan benar, 46 orang
(56,8%) hanya mengenal lima tepat, enam tepat tanpa
tepat dokumentasi, dan 5 orang (6,2%) tidak tahu.
Dari kasus tentang pemberian obat yang diberikan
dalam kuisioner, hasil yang didapat responden adalah
sebagai berikut: 54 orang (66,7%) mendapat nilai 100,
21 orang (25,9%) mendapat nilai 80, 2 orang (2,5%)
mendapat nilai 60, dan 4 orang (4,9%) mendapat nilai
40. Sehingga, responden yang nilai pencapaiannya
kurang dari 60 sebanyak 4 orang (4,9%).
C. Tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’
Hasil penelitian ini, secara umum menunjukkan
tingkat penerapan sebagai berikut: dari 81 responden,
tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam
pemberian perawat oleh 35 orang (43,2%) tinggi, 44
orang (54,3%) sedang, dan 2 orang (2,5 %) rendah.
Sedangkan untuk setiap komponen ketepatan, tingkat
penerapannya tampak pada Tabel 1.
Tabel 1.
Tingkat penerapan komponen prinsip ‘enam tepat’ dalam
pemberian obat oleh perawat di Ruang Rawat Inap RSCM
(n-81)
Komponen
Tingkat Penerapan
Tinggi
Sedang
Rendah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Tepat Obat
Tepat Dosis
Tepat Waktu
Tepat Pasien
Tepat Cara/Rute
Tepat Dokumentasi
61
16
30
73
36
48
75,3
19,8
37,0
90,1
44,4
59,3
19
54
51
8
42
26
23,5
66,7
63,0
9,9
51,9
32,1
1
11
0
0
3
7
1,2
13,6
0
0
3,7
8,6
Tabel 2.
Tingkat penerapan universal precaution dalam pemberian
obat oleh perawat di Ruang Rawat Inap RSCM (n=81)
Tingkat penerapan
Jumlah
Prosentase
Rendah
Sedang
Tinggi
42
38
1
51,9
46,9
1,2
Total
81
100,0
22
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 9, No.1, Maret 2005; 19-25
Kelompok perilaku/ tindakan yang tercakup dalam setiap komponen prinsip-prinsip di atas, dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3.
Tindakan-tindakan dalam komponen prinsip ‘enam tepat’
Tepat Obat
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Menanyakan ada tidaknya alergi obat
 Menanyakan keluhan pasien sebelum dan setelah memberikan obat
 Mengecek label obat 3 kali (saat melihat kemasan, sebelum menuangkan, dan setelah menuangkan obat) sebelum
memberikan obat
 Mengetahui interaksi obat
 Mengetahui efek samping obat
 Hanya memberikan obat yang disiapkan diri sendiri
Tepat dosis
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Mengecek hasil hitungan dosis dengan perawat laian (double check)
 Mencampur/ mengoplos obat sesuai petunjuk pada label/ kemasan obat
Tepat waktu
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Mengecek tanggal kadaluarsa obat
 Memberikan obat dalam rentang 30 menit sebelum sampai 30 menit setelah waktu yang diprogramkan
Tepat pasien
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Memanggil nama pasien yang akan diberikan obat
 Mengecek identitas pasien pada papan/ kardeks di tempat tidur pasien yang akan diberikan obat
Tepat cara pemberian
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Mengecek cara pemberian pada label/ kemasan obat
 Pemberian per oral: mengecek kemampuan menelan, menunggui pasien sampai meminum obatnya
 Pemberian melalui intramuskular: tidak memberikan obat >5cc pada satu lokasi suntikan
Tepat dokumentasi
 Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
 Mencatat nama pasien, nama obat, dosis, cara, dan waktu pemberian obat
 Mencantumkan nama/ inisial dan paraf
 Mencatat keluhan pasien
 Mencatat penolakan pasien
 Mencatat jumlah cairan yang digunakan untuk melarutkan obat (pada pasien yang memerlukan pembatasan cairan)
 Mencatat SEGERA setelah memberikan obat
Universal precaution
 Mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan obat
 Menggunakan sarung tangan (handschoen) ketika memberikan obat secara parenteral
 Membuang jarum suntik bekas pada tempat khusus dalam keadaan terbuka
Dari berbagai sumber: Abrams (1995); Chernecky (2002); Kee & Hayes (2000); and Kozier, Erb, & Oliveri (1995)
Tingkat penerapan prinsip ’enam empat’ dalam pemberian obat oleh perawat di ruang rawat inap (Kuntarti)
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan
prinsip ‘enam tepat’
Faktor internal yang mempengaruhi tingkat
penerapan prinsip ‘enam tepat’, yaitu karakteristik perawat
dan tingkat pengetahuan telah disampaikan sebelumnya.
Untuk faktor eksternal, pada penelitian ini, dari 81
responden yang menilai ketersediaan fasilitas pemberian
obat baik sebesar 11,1% (9 orang). Sedangkan faktor
supervisi, yang dalam hal ini dilakukan oleh ketua tim
atau ketua grup dan kepala ruangan, yang menilai baik
sebesar 29,6% (24 orang). Sementara itu, faktor kebijakan
institusi dalam pemberian obat, yang dalam hal ini dilihat
dari ketersediaan dan penerapan Standar Operasional
Prosedur (SOP), dinilai baik oleh 32,1% responden (26
orang).
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa
tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam
pemberian obat oleh perawat di 17 ruang rawat inap
RSCM secara umum baik, yaitu 35 orang (43,2%)
tingkat penerapannya tinggi, 44 orang (54,3%) sedang,
dan 2 orang (2,5 %) rendah. Untuk setiap ketepatan
memiliki tingkat penerapan yang berbeda-beda.
Tepat pasien memiliki tingkat penerapan yang
paling tinggi, yaitu dari 81 responden yang tingkat
penerapannya tinggi mencapai 90,1%. Hal ini mungkin
dipengaruhi oleh karakteristik responden yang
sebagian besar wanita (95,1%), berpendidikan DIII
keperawatan (64,2%), dan lama kerja lebih dari 5 tahun
(67,9%). Dengan karakteristik responden seperti itu,
penerapan kemampuan komunikasi perawat lebih baik
karena salah satu tindakan yang perlu dilakukan untuk
menjamin ketepatan pasien ini adalah memanggil
nama pasien ketika akan memberikan obat (Abrams,
1995). Namun hal ini masih perlu dibuktikan dengan
penelitian yang menunjukkan hubungan antara faktorfaktor tersebut.
Komponen yang tingkat penerapannya terbaik
kedua adalah tepat waktu. Tindakan untuk meyakinkan
bahwa obat diberikan pada waktu yang tepat, perawat
sebaiknya memberikan obat dalam waktu 30 menit
sebelum dan sesudah waktu yang terjadwal jika
interval pemberian obat lebih dari 2 jam (Chernecky,
2002, dan Kee & Hayes, 2000). Perawat juga harus
23
mempertimbangkan efek yang akan terjadi setelah
pemberian obat dengan waktu pemberian. Tingkat
penerapan tepat waktu, yang tingkat penerapannya tinggi
sebesar 37,0% (30 orang), sedang 63,0% (51 orang).
Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh peneliti dari Auburn University di 36 rumah sakit
dan nursing home di Colorado dan Georgia, USA, pada
tahun 2002, bahwa dari 3216 jenis pemberian obat, 43%
diberikan pada waktu yang salah (JCAHO, 2002).
Tingkat penerapan yang cukup baik juga tampak
pada penerapan ketepatan obat dan cara atau rute
pemberian obat. Tindakan untuk meyakinkan bahwa
perawat memberikan obat yang tepat kepada pasien,
perawat harus mampu mengintepretasikan program
terapi pengobatan dokter secara tepat. Selain itu,
perawat juga dianjurkan membaca label obat paling
sedikit tiga kali sebelum memberikan obat, yaitu saat
melihat botol atau kemasan obat, sebelum menuangkan
obat, dan sesudah menuangkan obat (Kee & Hayes,
2000). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk
penerapan tepat obat, hanya 1 orang (1,2%) yang
rendah. Sebagian besar, yaitu sebanyak 61 orang
(75,3%) tingkat penerapannya tinggi dan yang sedang
sebanyak 19 orang (23,5%). Begitu juga dengan dalam
ketepatan cara pemberian obat, hanya 3 orang (3,7%)
yang tingkat penerapannya rendah. Sebagian besar
memiliki tingkat penerapan yang baik, yaitu yang
tingkat penerapannya sedang 42 orang (51,9%) dan
tinggi sebanyak 36 orang (44,4%). Tindakan untuk
menjamin bahwa cara atau rute yang digunakan untuk
memberikan obat adalah tepat, perawat harus yakin
bahwa bentuk obat sesuai dengan cara yang tertulis
dalam program terapi pengobatan (Chernecky, 2002).
Untuk pemberian obat secara oral (melalui mulut),
perawat harus mengkaji kemampuan klien dalam
menelan dan tidak meninggalkan pasien sebelum yakin
pasien benar-benar menelan obatnya. Perawat juga
harus menggunakan teknik aseptik ketika memberikan
obat. Untuk pemberian obat secara parenteral, perawat
harus menggunakan teknik steril, dan mengikuti cara
atau instruksi penyiapan dan pemberian dari
perusahaan pembuat obat (Kee & Hayes, 2000).
Namun, masih ada komponen dari prinsip
‘enam tepat’ yang tingkat penerapannya cukup
banyak yang rendah, yaitu penerapan tepat dosis dan
24
tepat dokumentasi. Untuk meyakinkan bahwa obat yang
diberikan kepada pasien tepat dosisnya, perawat harus
mampu menghitung dosis dengan tepat dan melakukan
koreksi ulang (double-checking) hasil hitungannya
dengan perawat lain atau dengan dokter yang
memberikan instruksi (Chernecky, 2002). Selain itu,
perawat harus mampu menginterpretasikan singkatan
atau kependekan (abbreviation) dan istilah-istilah yang
ada dalam instruksi secara akurat dan tepat (Abrams,
1995). Hal yang penting juga adalah perawat juga harus
mengambil sejumlah obat sesuai dengan hasil
perhitungan dengan tepat untuk memberikan obat dalam
dosis yang tepat kepada pasien. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa untuk komponen tepat dosis, yang
tingkat penerapannya tinggi hanya 16 orang (19,8%).
Hasil ini sejalan dengan yang ditemukan pada penelitian
yang dilakukan oleh peneliti dari Auburn University,
USA, pada tahun 2002, bahwa dari 3216 jenis
pemberian obat, 17% diberikan dengan dosis yang salah
(JCAHO, 2002). Sedangkan untuk ketepatan
dokumentasi pemberian obat, yang tingkat
penerapannya tinggi sebanyak 48 orang (59,3%), sedang
26 orang (32,1%), dan rendah 7 orang (8,6%).
Dokumentasi pemberian obat yang tepat mencakup
aspek lima tepat (pasien, obat, dosis, cara pemberian,
dan waktu pemberian) serta respons klien terhadap
pengobatan. Aspek legal dalam pendokumentasian yang
perlu diperhatikan antara lain nama atau inisial dan tanda
tangan atau paraf perawat yang memberikan. Prinsip
yang perlu diterapkan oleh perawat yaitu mencatat yang
dikerjakan diri sendiri dan tidak mencatat apa yang
dikerjakan oleh orang lain (Abrams, 1995).
Tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam
pemberian obat oleh perawat di 17 ruang rawat inap
RSCM yang telah dikemukakan di atas, mungkin
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada penelitian ini
faktor-faktor yang teridentifikasi adalah faktor internal,
yaitu karakteristik responden dan tingkat pengetahuan;
dan faktor eksternal, yaitu ketersediaan fasilitas dan
SOP, serta berjalannya supervisi dari atasan. Pada
tingkat pengetahuan, penelitian ini menunjukkan
bahwa kemampuan responden dalam menyelesaikan
kasus tentang pemberian obat pada kuisioner sebagian
besar baik. Hasil tersebut mungkin dipengaruhi oleh
sebagian besar responden yang merupakan perawat
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 9, No.1, Maret 2005; 19-25
berpendidikan D-III (64,2%). Hal ini juga dibuktikan
dengan pengenalan responden terhadap istilah ‘enam
tepat’. Padahal hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
dari 81 responden, hanya 31 orang (38,3%) yang sudah
pernah mengikuti kegiatan seminar atau pelatihan
tentang pemberian obat, dan sebagian besar (61,7%)
belum pernah mengikutinya. Tingkat penerapan prinsip
‘enam tepat’ yang baik, yang dicapai oleh sebagian
besar responden pada penelitian ini juga mungkin
disebabkan oleh pemahaman mereka terhadap
besarnya peranan perawat dalam pemberian obat.
Walaupun tingkat penerapan terhadap prinsip
‘enam tepat’ dalam pemberian obat oleh sebagian besar
perawat baik, namun ternyata tidak didukung dengan
tingkat penerapan prinsip ‘ universal precaution’ yang
sebagian besar perawat memiliki tingkat penerapan
rendah (51,9%). Padahal prinsip ini penting
diperhatikan dan diterapkan oleh perawat terutama
untuk keamanan (safety) bagi perawat.
Dari hasil penelitian ini tampak bahwa tingkat
penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam pemberian obat
yang sebagian besar cukup baik, lebih dipengaruhi oleh
faktor internal perawat, yaitu karakteristik responden
dan tingkat pengetahuan. Hal ini tampak dari pendapat
mereka tentang faktor-faktor eksternal yang
teridentifikasi saat penelitian, yaitu masih 42% (34
orang) yang menilai ketersediaan fasilitas pemberian
obat kurang. Dari faktor supervisi, yang dalam hal ini
dilakukan oleh ketua tim atau ketua grup dan kepala
ruangan, masih 25,9% (21 orang) yang menilai kurang.
Sedangkan faktor kebijakan institusi dalam pemberian
obat, yang dalam hal ini dilihat dari ketersediaan dan
penerapan SOP, yang menilai kurang sebanyak 23,5%
(19 orang).
KESIMPULAN
Prinsip dasar dalam pemberian obat yang aman dan
akurat dengan memperhatikan prinsip “enam tepat” (six
rights) penting untuk diterapkan dalam memberikan
asuhan keperawatan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa secara umum tingkat penerapan prinsip ‘enam
tepat’ dalam pemberian obat oleh perawat di ruang rawat
inap RSCM baik. Untuk setiap ketepatan memiliki
tingkat penerapan yang berbeda-beda. Urutan tingkat
Tingkat penerapan prinsip ’enam empat’ dalam pemberian obat oleh perawat di ruang rawat inap (Kuntarti)
penerapan setiap komponen adalah sebagai berikut:
(1) tepat pasien, (2) tepat waktu, (3) tepat obat, (4) tepat
cara, (5) tepat dokumentasi, dan terakhir (6) tepat dosis.
Namun, tingkat penerapan prinsip umum (universal
precaution) yang berkaitan dengan aspek keamanan
(safety) bagi perawat masih rendah.
Dari hasil penelitian ini juga tampak bahwa tingkat
penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam pemberian obat
yang sebagian besar cukup baik, lebih dipengaruhi oleh
faktor internal perawat, yaitu karakteristik responden
dan tingkat pengetahuan. Faktor eksternal yang
teridentifikasi mempengaruhi tingkat penerapan dalam
penelitian ini adalah ketersediaan fasilitas pemberian
obat, supervisi oleh ketua tim atau ketua grup dan
kepala ruangan masih kurang, dan kebijakan institusi
dalam pemberian obat yang dalam hal ini dilihat dari
ketersediaan dan penerapan SOP.
Tingkat penerapan prinsip ‘enam tepat’ dalam
pemberian obat oleh perawat yang sudah baik pada
penelitian ini perlu dipertahankan. Sedangkan tingkat
penerapan komponen yang masih kurang, yaitu tepat
dosis dan dokumentasi masih harus ditingkatkan.
Selain itu juga tingkat penerapan prinsip universal
precaution dalam pemberian obat sangat perlu
ditingkatkan baik untuk kepentingan pasien maupun
untuk kepentingan perawat sendiri dalam aspek
keamanan (safety). Usaha mempertahankan dan
meningkatkan penerapan prinsip ‘enam tepat’ ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, mengadakan
pendidikan keperawatan berkelanjutan (continuing
nursing education) yang memasukkan tindakantindakan yang penting dilakukan oleh perawat dalam
menerapkan prinsip ‘enam tepat’. Kedua, peningkatan
aspek pengawasan dan supervisi dari ketua tim dan
kepala ruangan kepada pelaksana dalam pemberian
obat. Ketiga, melengkapi fasilitas dasar yang penting
untuk pemberian obat, terutama untuk penerapan
‘universal precaution’, seperti: sarung tangan
(handschoen), tempat khusus pembuangan jarum
suntik, dan obat-obat untuk keadaan gawat darurat.
Serta yang keempat, menyusun SOP tentang
pemberian obat serta penanganan kesalahan pemberian
obat untuk diterapkan.
Untuk masa yang akan datang, perlu dilakukan
penelitian tentang hubungan antara tingkat penerapan
25
dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Akan
lebih baik jika melakukan observasi terhadap
penerapan perilaku pemberian obat untuk melihat
tingkat penerapan yang lebih objektif. (EN)
Penelitian dibiayai program Peneliti Muda III
FIK-UI tahun anggaran 2003-2004
*
Kunt arti, SKp: staf pengajar Kelompok
Keilmuan Dasar Keperawatan dan
Keperawatan Dasar Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia (DKKD FIK-UI)
KEPUSTAKAAN
Abrams, AC. (1995). Clinical drug therapy:
Ationales for nursing practice. 4 th ed.
Philadelphia: J.B. Lippincott Co.
Arikunto, Suharsini. (1998). Prosedur penelitian:
Suatu pendekatan praktek. Edisi revisi IV.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Blicharz, M.E. editor (1994). Pharmacology. New
York: Delmar Publishers inc.
Chernecky, C., et al. (2002). Real-world nursing
survival guide: Drug calculations and drug
administration. Philadelphia: WB Saunders Co.
Joint Commission on Accreditation of Health
Organization. (2002). Research shows
disturbing drug error rates. Diambil 29 Januari
2004, dari http://www.glencoe.com/ps/health/
article.php4?articleId=518
Kee, JL & Hayes, ER (2000). Pharmacology: a
Nursing process approach. 3rd ed. Philadelphia:
WB Sauders Co.
Kinninger, T & Reeder, L. (2003). Establishing ROI
for technology to reduce medication errors is
both a science and an art. Diambil 8 Desember
2003, dari http://www.bridgemedical.com/
media_cov_2_03.shtml.
Kozier, Erb, & Olivieri. (1995). Fundamentals of
nursing: Concepts, process, and practice.
California: Addison-Wesley.
Nainggolan, Nancy. (2003). Pemakaian antibiotik
dosis tinggi merusak ginjal Anne. Suara
Pembaruan, 9 Desember 2003.
Fly UP