...

Berpikir Tepat, maka Sukses

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Berpikir Tepat, maka Sukses
Refleksi
KONTAN 18 November - 24 November 2013
25
Berpikir Tepat, maka Sukses
Jennie S. Bev
Penulis, pengajar, dan pengusaha
yang bermukim di Santa Clara,
Amerika Serikat
J
ohn C. Maxwell telah mempelajari orang-orang sukses
selama 40 tahun. Hasilnya
identik dengan hasil pembelajaran saya di berbagai belahan
dunia selama sekitar 16 tahun.
Perbedaan utama dari para
pemenang dan “pecundang”
adalah pola pikir alias mindset.
“Pecundang”, yang ditulis dalam tanda kutip karena sesungguhnya tidak ada pecundang di
dunia ini. Mereka hanya belum
mengerti bagaimana memenangkan pertandingan hidup.
Pendidikan dan pelatihan
yang baik mengubah pola pikir.
Ini yang membuat suatu program pendidikan dan pelatihan
sangat berharga. Bisa diperhatikan bahwa harga yang tinggi
dari suatu program biasanya
mempunyai korelasi positif de-
ngan kualitas. Walaupun terjadi
pada umumnya, hal tersebut
bukan sesuatu yang absolut.
Biaya pendidikan di Universitas Harvard dan Universitas
Stanford mencapai US$ 100.000,
termasuk uang kuliah dan biaya
hidup per tahun. Dengan biaya
sebesar itu, institusi tersebut
menawarkan paket produk berupa kualitas pengajaran yang
dikenal luar biasa bagus, intelektual para mahasiswanya, dan
kualitas jejaring yang dibangun
melalui hubungan fraternitas
antara mahasiswa dengan para
pengajar, institusi dan para individu pembelajarnya. Korelasi
antara harga mahal dengan output hasil pendidikan yang bagus
kelihatan paralel di sini.
Korelasi positif juga bisa dijumpai antara pola pikir tertentu dengan tingkat kesuksesan.
Dalam era global dengan kemampuan Internet ala Star Trek
yang serba instan, kesuksesan
bisa dicapai dengan lebih cepat
ketika daya pikir dan hard skills
serta soft skills mencapai titik
kulminasi tertentu.
Dengan pola pikir yang tepat,
kemampuan leverage semakin
besar untuk memutar motor
kesuksesan. Jadi, di era yang
serba ekstrem ini, yang sukses
akan sangat luar biasa melejit
sedangkan yang tidak sukses
akan semakin terpuruk.
Pola pikir perlu dilatih terus-
menerus karena perubahan tidak terjadi secara otomatis.
Cara termudah tentu dengan
bergabung dengan para pemikir
yang baik. Masukan informasi
alias apa yang Anda baca, dengar, dan tonton perlu yang
terbaik. “Terbaik” di sini artinya
kredibel dan kebenarannya tidak diragukan lagi. Selain itu,
jadwalkan pikiran-pikiran Anda
agar berpusat kepada hal yang
positif.
Selama perjalanan di luar negeri dan tanah air, saya punya
beberapa lokasi favorit yang
bisa “menghapus” residu dari
input-input “sampah” ke dalam
indra dan pikiran. Lokasi-lokasi
ini merupakan tempat retret
alias semedi yang selalu saya
rindukan. Itulah rumah saya di
dunia ini.
Pengaruh lingkungan
makro
Dengan pola pikir yang positif terhadap kemampuan diri
sendiri, maka yang perlu dikhawatirkan hanyalah lingkungan
makro ekonomi, sosial, dan politik. Misalnya, Anda mempunyai target (goal) untuk menghasilkan omzet sebesar US$ 10
juta dalam waktu tiga tahun.
Untuk mencapai itu, Anda memerlukan lebih dari sekadar
pola pikir pemenang namun
juga tim yang solid, serta ling-
kungan makro yang mendukung. Di negara yang penuh
dengan isu-isu sosial serta politik yang tidak stabil dan ekonomi makro yang tidak menjanjikan, maka pencapaian goal
akan tersendat.
Lingkungan makro sangat
menentukan keberhasilan finansial Anda. Ingatlah: Tidak
mungkin seseorang yang dicucuk dengan ideologi yang menyeragamkan setiap orang dan
mengkuotakan berapa sendok
nasi yang bisa dimakan setiap
hari akan mencapai kesuksesan
luar biasa. Hanya sistem makro
yang baik dan adil yang memungkinkan seseorang bisa
mencapai kesuksesan finansial
dan berprestasi kreatif dalam
kerangka inovasi global.
Jadi, para motivator yang selalu berapi-api bilang: “Anda
bisa mencapai apa saja”, itu
(maaf) tidak mempertimbangkan faktor makro tersebut. Jadi,
kalau Anda dengan keras kepala bagaikan tapir yakin akan
slogan tersebut, maka itu hanyalah kekerasan tengkorak
saja, bukan didasari oleh daya
analisis yang solid.
Selain mengenal pola pikir
apa yang membentuk kesuksesan, repetisi sangat menentukan
kualitas internalisasinya. Charles Duhigg dalam bukunya The
Power of Habit memberikan
banyak masukan mengenai
pentingnya membuat sesuatu
menjadi kebiasaan. “Make it
second nature”. Kalau para sekretaris bisa mengetik 100 kata
per menit dengan sepuluh jari,
maka kita pun bisa “mensepuluhjarikan” pola pikir.
Repetisi juga perlu dilakukan
bersamaan dengan audisi alias
“mempertontonkan kelebihan
Anda kepada khalayak ramai”.
Tujuannya agar terjadi dentuman di dalam pikiran terhadap
urgensi mematangkannya.
Lantas, pola pikir seperti apa
saja yang dimiliki para pemenang? Baik Maxwell maupun
saya sama-sama mempunyai
daftar yang sama dan panjang.
Daftarnya adalah berpikir jangka panjang, fokus tidak bercabang, kenali prioritas, berpikir
kreatif dan inovatif, realistis
sambil menanamkan keyakinan
positif, strategik, dan menggali
berbagai kemungkinan.
Lalu, merefleksikan berbagai
fenomena dan kejadian dan
mempertanyakan hal-hal yang
populer karena banyak sekali
yang ternyata hanya mitos dan
opini tanpa dasar. Selain itu,
memberanikan diri untuk bersinergi secara fair, menggunakan
standar kemanusiaan universal
dan bukan hanya standar diri
sendiri yang seringkali terlalu
subjektif. Terakhir, perhatikan
bottom line sebagai cermin untuk memperjelas.
o
Fly UP