...

TINGKAT KESULITAN OPERASI IMPAKSI MOLAR III BAWAH

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

TINGKAT KESULITAN OPERASI IMPAKSI MOLAR III BAWAH
TINGKAT KESULITAN OPERASI IMPAKSI MOLAR III BAWAH ANTARA POSISI VERTIKAL DIBANDINGKAN
POSISI MESIOANGULER
Abdul Rochim
Bagian Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Abstract
Lower third molar present potential problems when they are misaligned. The angulation of lower third
molar impacted in relation to axis of the second molar (vertical, distangular, mesioangular and horizontal etc
Winter’s classification) themselves. Aim of study is to compare the difficulty of removal impacted lower third molar
vertical angulation vs mesioangular angulation Winter’s classification.
Material and Methods: 100 patients with impacted lower third molar were divided into two groups,
consisting of 74 patients mesioangular position, and 26 vertical position. Classification all patients were class IIA Pell
and Gregory classification, catagory 1 (straight root) Thoma classification, catagory 1 (erupted root) Killey and Kay
classification, category 1 (removal of tooth with partial bony impaction) AAOMS classification and mouth opening
interincisal (MOI) higher than 35 mm They were removed impacted lower third molar by author with dental nursing
and OR nursing. The duration of removal impacted third molar was determined from make flap until the tooth out
from socket.
Result: Mean of duration of removal impacted lower third molar vertical position was 17.68 minutes, and
that mesioangular position was 17.14 minutes. There was not significant difference duration of removal impacted
third molar between vertical position and mesioangular position (p> 0.05).
Keywords: Lower third molar, surgical difficulty, duration, vertical and mesioangular.
Korespondensi (Correspondence): Abdul Rochim. Bagian Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Jl. Kalmantan 37 Jember. 68121. Indonesia. Email : [email protected]
Gigi molar III sering tumbuh tidak
sempurna (impacted) , dan gigi impacted
sendiri sering menyebabkan problem dari
yang ringan sampai dengan yang berat 1,2,3,4.
Problem yang timbul biasanya haruslah
dihilangkan dengan berbagai cara salah
satunya dengan pengambilan gigi yang
impacted tersebut dengan odontectomy1,2,4,5.
Saat pelaksanaan odontectomy ini juga ada
penyulit yang bisa timbul seperti ruang yang
tersedia untuk tumbuhnya gigi molar III
bawah, kedalaman dari gigi molar III bawah
impcted, kemiringan dari gigi molar III bawah
impacted, lebar buka mulut
dan yang
lain1,3,4,6.
Tingkat
kesulitan
berdasarkan
angulasi atau kemiringan yang di buat oleh
Pederson7 posisi vertical paling sulit disusul
dengan posisi horizontal dan yang paling
mudah posisi mesio anguler , sedangkan
berdasar pengalaman penulis mengerjakan
operasi odontectomy tidak seperti ini.
Berdasar pengalaman penulis dan
pendapat dari Pederson7 yang berbeda
tentang tingkat kesulitan odontectomy
berdasar kemiringan ini maka penulis
memberanikan diri untuk meneliti. Penyulit
penyulit lain yang mungkin menambah
tingkat kesulitan diabaikan dengan cara
pemilihan sample yang dikendalikan. Tingkat
kesulitan ini diasumsikan dengan lamanya
waktu
yang
dibutuhkan
melakukan
odontectomy,
semakin
lama
maka
diasumsikan tingkat kesulitan semakin tinggi.
Tujuan
penelitian
ini
adalah
untuk
membandingkan tingkat kesulitan operasi
pengambilan gigi impacted posisi vertikal
dibandingkan
posisi
mesioanguler
berdasarkan waktu yang diperlukan untuk
odontectomy.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Alat
dasar
yang
digunakan
pemeriksaan pinset, sonde, escavator, dan
kaca mulut. Tensimeter, stetoskop, dan
pencatat
waktu
digunakan
untuk
pemeriksaan vital sign. Alat yang digunakan
operasi jarum suntik terumo 2,5 ml, pisau
operasi, raspatorium, high speed, mata bor
tulang dan mata bor gigi, suction, bein
(elevator), tang cabut gigi, jarum jahit
jaringan. Bahan yang digunakan yaitu
anestetik Phcain 2% cum epineprin 1:80.000,
betadin, adrenlin, aquadest steril, tampon
steril, benang operasi.
Penelitian dilakukan secara selektif
pada pasien yang mempunyai gigi molar III
bawah yang impacted. Untuk keseragaman
penelitian ini pasien yang dijadikan sampel
yang memiliki klasifikasi klas IIA (menurut Pell &
Gregory)1, akarnya lurus (katagori 1 menurut
Thoma1). Akar gigi telah terbentuk sempurna
(katagori 1 Killey and Kay1) dan odontectomy
dengan sedikit tertahan dalam tulang
(katagory 1 AAOM1 ), dan pasien mempunyai
lebar buka mulut (MOI) diatas 35 mm,
sedangkan yang dibandingkan yang posisi
vertikal dan mesio angular. Kriteria pasien ini
semuanya bisa dilihat dengan hasil foto OPG,
kecuali MOI diukur dengan jangka sorong.
Penelitian merupakan uji coba klinik pada
100 sukarelawan berumur 19 tahun-45 tahun,
51 pria dan 49 wanita, sehat berdasarkan
anamnesis dan keadaan umum yang
dilakukan pada tahun 2008-2010 di Rumah
Stomatognatic (J.K.G Unej) Vol. 7 No. 2 2010: 101-3
Sakit Bina Sehat Jember. Sampel bersedia
mengikuti prosedur percobaan ini dan
bersedia juga menandatangani informed
consent. Sejumlah 26 orang Sukarelawan
memiliki impacted posisi vertikal,
dan 74
orang memiliki impacted pasisi mesio angular.
Untuk
membandingkan
tingkat
kesulitan
odontectomy
(operasi
pengambilan) gigi impacted posisi vertikal
dibandingkan
posisi
mesioanguler
berdasarkan durasi operasi. Durasi operasi
pengambilan gigi impacted adalah waktu
yang diperlukan dari mulai membuat flap
sampai keluarnya gigi impacted.
Sebelum
operasi
dilakukan
pemeriksaan anamnesis tentang penyakit
dan pengukuran tanda-tanda vital. Apabila
pada pemeriksaan didapatkan semuanya
dalam batas normal, dan terindikasi dilakukan
operasi gigi impacted, baru kemudian
dilakukan operasi gigi impacted6,8. Operasi
dilakukan secara baku yaitu dimulai dengan
motivasi kepada pasien dan asepsis daerah
operasi, kemudian dilakukan anestesi lokal1.
Apabila
telah
teranestesi
selanjutnya
pembuatan
flap
mucoperiosteal,
penghilangan
jaringan
penghambat,
pengeluaran gigi, pembersihan daerah
operasi dan penjahitan. Operator yang
melakukan operasi penulis sendiri dengan
dibanti oleh perawat gigi dan perawat kamar
operasi.
Waktu dicatat saat pembuatan flap
dilakukan sampai gigi keluar dari soket. Selisih
waktu antara saat gigi keluar dengan saat
pembuatan flap dilakukan itu adalah durasi
operasi.
Analisis statistik yang digunakan
untuk membandingkan tingkat kesulitan
operasi pengambilan gigi impacted posisi
vertikal dengan mesioanguler berdasarkan
durasi operasi adalah student t-test dengan
taraf kepercayaan 95%.
HASIL
Penelitian tentang perbandingan
waktu operasi impaksi molar III bawah antara
posisi
vertikal
dibandingkan
posisi
mesioangular dilakukan dalam rentang waktu
2 tahun, yaitu dari tahun 2008 sampai dengan
2010. Diskripsi tentang sukarelawan ini dapat
dilihat pada tabel 1, dengan jumlah 100
orang, yaitu 51 orang laki – laki dan 49 orang
perempuan.
Tabel 1. Diskripsi Pasien
Wanita Pria
Total
Vertikal
14
12
26
Mesio
Angular
Total
35
39
74
49
51
100
Umur/th
± SD
25,54
±
4,99tb
26,05
±
6,16tb
Keterangan:
Tb
: tidak ada perbedaan yang bermakna.
SD
: simpangan baku
Penelitian ini dilakukan terhadap 100
pasien yang dilakukan operasi gigi molar III
bawah yang impacted poli gigi Rumah Sakit
Bina Sehat. Sejumlah 74 orang kelompok
mesioangular dan 26 kelompok vertikal.
Seorang dari golongan vertikal dikeluarkan
dari penelitian ini karena data yang direkam
tidak valid. Sejumlah 14 wanita dan 12 pria
dari kelompok vertikal, 35 wanita dan 39 pria
masuk dalam golongan mesioangular (tabel
1). Untuk umur termuda 19 tahun dan tertua
45 tahun dari kedua kelompok ini tidak ada
perbedaan yang bermakna.
Tabel 2. Rerata Durasi odontectomy antara
Vertikal Mesioangular
Posisi
N
Rerata SD
Vertikal
25 17,68
1,612
Durasi
Mesio
1,304
angular 74 17,14
Dari tabel 2 diatas dapat diketahui
bahwa rerata durasi yang diperlukan untuk
odontectomy kelompok posisi vertical 17,68
menit dan kelompok mesioangular 17,14
menit. Selisih rerata waktu yang diperlukan
untuk odontectomy
adalah 0,54 menit
(sekitar 32 detik) dan ini secara klinik tidaklah
berarti.
Tabel 3. Hasil analisis student t-tes Durasi
Odontectomy
Impacted
Vertikal
dan
Mesioangular
Levene's
t-test
Test
F
Durasi
odontec
tomy
Sig.
t
Df
Equal
variances 1,165 ,286 ,169 97
assumed
P
,866
Tabel
3
merupakan
hasil
perhitungan statistik student t-test tentang
waktu yang diperlukan untuk odontectomy
antara posisi vertical dan mesioangular.. Hasil
yang didapatkan
p>0,05 dengan taraf
kepercayaan 95%, artinya secara statistik
waktu yang diperlukan untuk odontectomy
kedua posisi ini tidak ada perbedaan yang
bermakna.
DISKUSI
Odontectomy dilakukan bila ada
suatu indikasi yang mengikuti, biasanya
dilakukan
untuk
menghilangkan
atau
mengurangi masalah yang timbul1,2,3,4,5,6 oleh
karena adanya gigi yang impacted. Paska
odontectomy gigi molar III impacted sering
terjadi
komplikasi2,3,6,7,
biasanya
berat
ringannya komplikasi seiring dengan tingkat
kesulitan yang ada saat odontectomy6,7.
Tingkat kesulitan odontectomy sudah pernah
dituliskan
oleh
beberapa
penulis6,7,8,9,10.
Berdasarkan kemiringan impacted molar III
ada 4 skor semakin tinggi skor semakin sulit,
102
Tingkat kesulitan operasi impaksi…(Abdul R)
posisi disto angular skor 4, vertikal skor 3,
horizontal skor 2, dan mesioangulal skor 17.
Penilitian ini hanya membandingkan yang
vertikal
dibandingkan
dengan
yang
mesioangular sebab kelompok ini terbanyak
seperti juga apa yang terjadi di Malasia2, hal
ini dilakukan sebab pada kasus yang
distoangular dan horizontal yang memenui
kriteria penelitian jumlah hanya 5 horizontal
dan 1 distoangular. Hasil yang didapatkan
seperti ada pada tabel 1,2 dan 3, hal ini
tidaklah sama dengan apa yang dituliskan
oleh Pederson yang mengatakan bahwa
posisi vertikal lebih sulit 2 tingkat dibandingkan
dengan mesioangular7. Hal ini bisa terjadi
mungkin pada penilitian ini syarat sampel
amat dikendalikan tabel 1 tentang diskripsi
pasien semuanya secara statistik tidak ada
beda. Merupakan hal yang penting juga
odontectomy ini dikerjakan oleh hanya
seorang jadi variasinya lebih sedikit dan lebih
valid.
Hasil penelitian tentang rerata durasi
odontectomy yang vertikal 17,68 menit
sedangkan yang mesioangular 17, 14 menit
tabel 2. Perbedaan waktu dari kedua posisi ini
hanyalah sekitar 32 detik, secara klinik waktu
yang kecil ini tadak berarti. Jadi secara klinis
durasi odontectomy posisi vertikal dan
mesioangular tidak ada perbedaan. Tabel 3
merupakan hasil perhitungan statistik dengan
menggunakan uji student t didapatkan nilai
p=0,866 (p>0,05). Uji ini menggunakan tingkat
kepercayaan 95%, dengan p>0,05 ini
memberikan arti bahwa kedua variabel tidak
ada perbedaan yang bermakna secara
statistik. Beberapa penulis terdahulu juga
kurang
sependapat
dengan
Pederson
tentang tingkat kesulitan yang ada sebab
menurut mereka tidaklah sesederhana seperti
ungkapan Pederson 6,8,9,10,11. Pada penelitian
ini
semua
kemungkinan
faktor
yang
berhubungan penyulit dikendalikan dengan
cara dibuat sama sehingga lebih obyektif,
hanya ada 2 varibel yang dibandingkan.
Pada beberapa penelitian tentang
tingkat kesulitan durasi ini sebanding dengan
tingkat kusulitan, semakin lama semakin sulit
tingkaatannya6. Penelitian ini tidak ada
perbedaan durasi odontectomy secara klinis
dan statistik berarti sebandinglah pula tingkat
kesulitan dari kedua variabel baik secara klinis
maupun statistik.
attending
Hospital
Universiti
Sains
Malaysia Archives of Orofacial Sciences.
2009; 4(1): 7-12
3.
Bataineh AB, Albashaireh ZS, Hazza’a AM.
The surgical removal of mandibular third
molars: a study in decision making.
Quintessence Int. 2002; 33(8): 613-17.
4.
Beeman CS. Third molar management: a
case for routine removal in adolescent
and young adult orthodontic patients. J
Oral Maxillofac Surg. 1999; 57(7): 824-30.
5.
Blondeau F, Daniel NG. Extraction of
impacted mandibular third molars:
postoperative complications and their risk
factors. J Can Dent Assoc. 2007; 73(4):
325
6.
Torres JB, Freitas MD, Ménde LL,
Sampedro, FG, Rey JM, García AG.
Evaluation of the surgical difficulty in
lower third molar extraction: Med Oral
Patol Oral Cir Bucal. 2010; 15 (6): 869-74.
7.
Pedersen GW. Buku Ajar Praktis Bedah
Mulut (Oral Surgery). Aleh bahasa
Purwanto. Basoeseno. Jakarta: EGC.
1998.
8.
Diniz FM, Lago ML, Gude SF, Somoza
MJM, Gándara RJM, García GA.
Pederson scale fails to predict how
difficult it will be to extract lower third
molars. Br J Oral Maxillofac Surg. 2007; 45:
23-6.
9.
García GA, Sampedro FG, Rey JG, Vila
PG, Martin MS. Pell-Gregory classification
is unreliable as a predictor of difficulty in
extracting impacted lower third molars. Br
J Oral Maxillofac Surg. 2000; 38: 585-87.
10. Akadiri OA, Obiechina AE. Assessment of
difficulty
in
third
molar
surgery-a
systematic review. J Oral Maxillofac Surg.
2009; 67: 771-4
11. Gbotolorun OM, Arotiba GT, Ladeinde AL.
Assessment of factors associated with
surgical difficulty in impacted mandibular
third molar extraction. J Oral Maxillofac
Surg. 2007; 65: 1977-83.
KESIMPULAN
Tingkat kesulitan odontectomy posisi
vertikal dan mesioangular tidak ada beda
baik secara klinis mau secara statistik.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Obimakinde, OS. Impacted Mandibular
Third Molar Surgery: An overview.
Dentiscope Surgery Edition. 2009; 16.
2.
Jaffar, RO, Tin-O, MM.
Impacted
mandibular third molars among patients
103
Fly UP