...

this PDF file - E-Journal Universitas Muhammadiyah

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - E-Journal Universitas Muhammadiyah
Efektifitas Penyuluhan Tentang Hipertensi pada Masyarakat Rentang Usia
45-60 Tahun Dibandingkan dengan Masyarakat Rentang Usia 61-75 Tahun
Rifka Widianingrum1, Hema Dewi A2
1
Mahasiswa Program Pendidikan S-1, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang
Staf Pengajar, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah, Semarang.
2
ABSTRAK
Pendahuluan: Pengetahuan kesehatan memiliki pengaruh terhadap perilaku sebagai hasil jangka menengah dari pendidikan kesehatan. Salah
satu contoh penting adalah pengetahuan tentang hipertensi karena hipertensi di dunia merupakan faktor resiko utama penyebab kematian.
Dari 10 orang warga RW III Kelurahan Wonodri Semarang 9 orang (90%) memiliki pengetahuan kurang tentang hipertensi. Oleh karena itu
penting dilaksanakannya penyuluhan tentang hipertensi untuk meningkatkan pengetahuan warga.
Metode: Jenis penelitian adalah eksperimen semu dengan rancangan “Pre test dan post test”. Populasi yaitu seluruh warga RW III
Kelurahan Wonodri yang berusia 45-75 tahun sebanyak 70 orang, besar sampel adalah 30 orang usia 45-60 tahun, 30 orang usia 61-75 tahun.
Teknik sampling menggunakan total sampling. Variabel bebas adalah penyuluhan tentang hipertensi. Variabel terikat adalah pengetahuan
tentang hipertensi. Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney.
Hasil: Pada kelompok usia 45-60 tahun sebelum penyuluhan mayoritas responden memiliki kategori pengetahuan kurang (80%) , setelah
penyuluhan memiliki pengetahuan baik sebesar 100% dan pada kelompok usia 61-75 tahun sebelum penyuluhan mayoritas responden
memiliki kategori pengetahuan kurang (90%), setelah penyuluhan seluruh responden memiliki pengetahuan baik (100%). Berdasarkan uji
Wilcoxon pada usia 45-60 tahun diperoleh p-value 0,000 (<0,05), sehingga ada perbedaan yang bermakna pengetahuan tentang hipertensi
sebelum dan sesudah penyuluhan dan pada usia 61-75 tahun diperoleh p-value 0,000 (<0,05), sehingga ada perbedaan yang bermakna
pengetahuan tentang hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan. Berdasarkan uji Mann Whitney, diperoleh nilai p-value 0,047 (<0,05),
sehingga ada perbedaan yang bermakna perubahan pengetahuan tentang hipertensi pada kelompok masyarakat usia 45-60 tahun dengan usia
61-75 tahun.
Kesimpulan: Penyuluhan tentang hipertensi lebih efektif pada masyarakat usia 45-60 tahun dibandingkan masyarakat usia 61-75 tahun.
Kata kunci : Pengetahuan, hipertensi
The Effectiveness of Counceling of Hypertension In The Age Range Of 45-60
Year Compared With 61-75 Year Age Range
ABSTRACT
Introduction: Knowledge of health has an influence on behavior as a result of the medium-term (intermediate impact) of health education.
One important example is the knowledge about the world of hypertension because hypertension is a major risk factor for the cause of death.
Of the 10 residents of Village III RW Wonodri Semarang 9 people (90%) have less knowledge about hypertension. It is therefore essential for
the implementation of counseling on increasing the knowledge citizen hypertension.
Method: Quasi experiment with design “Pre test and post test”. Resident population of the entire Village Wonodri RW III aged 45-75 years
were 70 people, the sample size is 30 people with an age range 45-60 years and 30 people with an age range 61-75 years. Sampling
technique using total sampling. The independent variable is education about hypertension. Dependent variable is knowledge about
hypertension. Bivariate analysis using Wilcoxon test and Mann Whitney test.
Result : In the age range 45-60 years before counseling the majority of respondents had less knowledge of the category by 80% and after
counseling all respondents have a good knowledge of 100% and in the age group 61-75 years before counseling the majority of respondents
had less knowledge of the category as much as 90% and after extension all respondents have a good knowledge of 100%. Based on the
Wilcoxon test at the age of 45-60 years obtained p-value 0.000 (<0.05), so that there were significant differences of knowledge about
hypertension before and after counseling. Based on the Wilcoxon test at the age of 61-75 years obtained p-value 0.000 (<0.05), so that there
were significant differences of knowledge about hypertension before and after counseling. Based on the Mann Whitney test, p-values
obtained p-value 0.047 (<0.05), so that there were significant differences of the changing knowledge about hypertension in the age group
45-60 years to 61-75 years of age.
Conclusion : There are significant change of knowledge, between knowledge of the age range 45-60 years and 61-75 years age range
Keywords : Knowledge, Hypertension
Korespondensi: Rifka Widianingrum, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang, Jl. Wonodri No. 2A. Semarang,
Jawa Tengah, Indonesia, telepon/faks (024) 8415764. Email: [email protected]
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
86
PENDAHULUAN
Pada dasarnya penyuluhan kesehatan identik
dengan pendidikan kesehatan, karena keduanya
berorientasi terhadap perubahan perilaku yang
diharapkan, yaitu perilaku sehat, sehingga
mempunyai kemampuan mengenal masalah
kesehatan dirinya, keluarga dan kelompoknya
dalam meningkatkan kesehatannya.1
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (overt behaviour). Dari penelitian
ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan kesehatan
memiliki pengaruh terhadap perilaku sebagai hasil
jangka menengah (intermediate impact) dari
pendidikan
kesehatan.
Kemudian
perilaku
kesehatan akan memiliki pengaruh terhadap
meningkatnya indikator kesehatan masyarakat
sebagai
keluaran
(outcome)
pendidikan
kesehatan.1Salah satu contoh pengetahuan tentang
kesehatan yaitu tentang hipertensi.
Hipertensi merupakan suatu gangguan system
peredaran darah yaitu meningkatnya tekanan darah.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyebab
kematian di dunia yaitu sebanyak 12.8%,
berdasarkan data Global Health Risk tahun 2004.
The National Health and Nutrition Examination
Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari
tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang
dewasa yaitu sekitar 29-31%, yang berarti terdapat
58-65 juta penderita hipertensi di Amerika, dan
terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES III
tahun 1988-1991. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas)
tahun
2007
yang
diselenggarakan Kementerian Kesehatan
menunjukkan, prevalensi hipertensi di
Indonesia
(berdasarkan
pengukuran
tekanan darah) sangat tinggi, yaitu 31,7
persen dari total penduduk dewasa.
Prevalensi
ini
jauh
lebih
tinggi
dibandingkan dengan Singapura (27,3
persen), Thailand (22,7 persen), dan
Malaysia (20 persen).2,3,4Jumlah penduduk
di Indonesia yang berusia lebih dari 60 tahun
meningkat sekitar 400% pada tahun 2010, dimana
dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia
meningkat pula mortalitas berbagai macam
penyakit yang mengiringinya terutama penyakit
kardiovaskuler.5,6
Pada tahun 2007 jumlah penderita hipertensi
essensial di Kota Semarang pada golongan usia 4564 tahun berjumlah 33.168 penderita, sedangkan
hipertensi tipe lain berjumlah 37.491 penderita dan
rentang usia lebih dari sama dengan 65 tahun yang
menderita hipertensi essensial berjumlah 16.976
penderita sedangkan yang menderita hipertensi lain
berjumlah 18.797 penderita. Tahun 2010 ternyata
angka penderita mengalami peningkatan untuk
hipertensi essensial yaitu sebesar 36.015 untuk
rentang usia 45-64 tahun dan 18.727 untuk rentang
usia lebih dari sama dengan 65 tahun, sedangkan
untuk hipertensi jenis lain sebesar 5.675 untuk
rentang usia 45-64 tahun dan 3.250 untuk rentang
usia lebih dari sama dengan 65 tahun. Dari sumber
Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan
bahwa
peningkatan
penderita
hipertensi
dikarenakan kurang sadarnya masyarakat untuk
merubah pola hidupnya.7
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan
dengan wawancara dengan memberikan 10
pertanyaan tentang hipertensi kepada warga RW III
Kelurahan Wonodri, diperoleh data 9 dari 10
responden kurang mengerti. Pada RW III kelurahan
Wonodri ini mempunyai Posyandu Lansia, setiap
bulan secara teratur pada awal minggu ke-empat
diadakan pengukuran berat badan dan pemeriksaan
vital sign oleh petugas Puskesmas Pandanaran
Semarang. Selama ini mereka belum pernah
mendapatkan penyuluhan tentang hipertensi di
Posyandu Lansia RW III Kelurahan Wonodri.
Berdasarkan hal di atas maka perlu dilakukan
penelitian
untuk
peningkatan
pengetahuan
masyarakat tentang hipertensi pada RW III
Kelurahan Wonodri Semarang.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
tingkat pengetahuan tentang hipertensi masyarakat
usia 45-60 tahun sebelum dan sesudah penyuluhan,
mendeskripsikan tingkat pengetahuan tentang
hipertensi masyarakat usia 61-75 tahun sebelum
dan sesudah penyuluhan, menganalisis perbedaan
tingkat pengetahuan tentang hipertensi masyarakat
usia 45-60 tahun sebelum dan sesudah penyuluhan,
menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan
tentang hipertensi masyarakat usia 45-60 tahun
sebelum dan sesudah penyuluhan, menganalisis
perbedaan
perubahan
pengetahuan
tentang
hipertensi masyarakat usia 45-60 tahun dengan
masyarakat usia 61-75 tahun.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada
perbedaan tingkat pengetahuan masyarakat usia 4560 tahun tentang hipertensi sebelum dan sesudah
penyululuhan, ada perbedaan tingkat pengetahuan
masyarakat usia 61-75 tahun tentang hipertensi
sebelum dan sesudah penyululuhan, ada perbedaan
perubahan
pengetahuan
tentang
hipertensi
masyarakat usia 45-60 tahun dengan masyarakat
usia 61-75 tahun.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan kuasi eksperimental
analitik yang bersifat crossectional. Rancangan
yang digunakan adalah “Pre Test Post Test
Design”. Pengetahuan diukur sebelum dan sesudah
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
87
penyuluhan. Sampel
penelitian adalah warga
RW.III Kelurahan Wonodri yang berusia antara 4575 tahun sesuai dengan kriteria inklusi yaitu
masyarakat yang hadir dalam penelitian dan yang
bersedia menjadi responden. Besar sampel yaitu 30
orang pada rentang usia 45-60 tahun dan 30 orang
pada rentang usia 61-75 tahun, diperoleh dengan
cara total sampling. Data pengetahuan masyarakat
yang dikumpulkan dengan mengadakan pretest dan
post test untuk mengukur pengetahuan masyarakat
dalam pelaksanaan penyuluhan tentang hipertensi
menggunakan kuesioner.
Data yang diperoleh dari hasil penelitian
diolah dan dianalisis untuk mengetahui perbedaan
pengetahuan tentang hipertensi sebelum dan
sesudah penyuluhan. Analisis bivariat yaitu
menggunakan uji Wilcoxon, untuk membandingkan
dua kelompok menggunakan Mann Whitney, uji
normalitas dengan Kolmogoro-Smirnov8
Uji Validitas terdiri dari dua macam validitas
sesuai dengan cara pengujiannya, yaitu validitas
eksternal dan validitas internal. Kemudian untuk
validitas internalnya akan digunakan analisis butir,
dimana analisis ini digunakan untuk menguji
validitas setiap butir soal. Pada validitas eksternal,
rumus yang akan digunakan adalah rumus Korelasi
Product Moment Kuesioner dikatakan reliabel jika
memenuhi nilai alpha minimal 0,7. Uji reliabilitas
yang akan digunakan adalah analisis Alfa
Cronbach.
Kelemahan dan keterbatasan dalam penelitian
ini adalah hanya warga yang datang dalam
penyuluhan saja yang diukur, jadi kurang mewakili
dari kelompok populasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan mayarakat usia 45-60 tahun
tentang hipertensi sebelum penyuluhan jumlah
jawan benar berkisar antara 4 sampai dengan 16
dengan rata-rata 9,53 dan standar deviasi 3,093.
Distribusi frekuensi pengetahuan tentang hipertensi
sebelum penyuluhan dikategorigan menjadi tiga
kategori berdasrakan presentase jumlah jawaban
benar sebagai berikut:
Tabel 1 Frekuensi Pengetahuan
Penyuluhan Usia 45-60 tahun
Variabel
Pengetahuan
penyuluhan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
Sebelum
Frekuensi
Presentase (%)
3
3
24
30
10
10
80
100
sebelum
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat dari kategori
pengetahuan sebelum penyuluhan mayoritas
responden memiliki kategori pengetahuan kurang
sebanyak 80%, kategori cukup dan baik masingmasing 10%.
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat hasilnya
bahwa mayoritas jawaban yang masih banyak salah
pada pertanyaan minuman keras merupakan faktor
resiko darah tinggi yaitu sebesar 27 orang (90%)
dan responden menjawab pertanyaan dengan
jawaban yang salah paling sedikit pada pertanyaan
hipertensi mengakibatkan naiknya tekanan darah
sebanyak 6 orang (20%).
Tabel 2 Distribusi Jawaban Salah Responden Usia 45-60 tahun
No
Pertanyaan
Presentase (%)
1
Hipertensi mengakibatkan naiknya tekanan darah
20
2
Tekanan darah normal
53,3
3
Tekanan darah naik 140/90
36,7
4
Darah tinggi karena keturunan
76,7
5
>60 tahun tekanan darah naik secara alami
80
6
Stress penyebab darah tinggi
60
7
Kegemukan faktor resiko darah tinggi
50
8
Merokok faktor resiko darah tinggi
80
9
Minuman keras faktor resiko darah tinggi
90
10
Konsumsi garam tinggi penyebab darah tinggi
56,7
11
Sakit kepala keluhan darah tinggi
63,3
12
Penglihatan kabur akibat darah tinggi
50
13
BAK pada malam hari komplikasi darah tinggi
66,7
14
Penyakit stroke, jantung komplikasi darah tinggi
46,7
15
Gagal ginjal komplikasi darah tinggi
26,7
16
Orang hamil mengalami darah tinggi
56,7
17
Mengurangi konsumsi garam menurunkan darah tinggi
53,3
18
Tidak merokok dan tidak minum alkohol menurunkan darah tinggi
73,3
19
Menghilangkan perasaan iri dan dengki pencegahan darah tinggi
56,7
20
Obat hipertensi satu-satunya cara untuk menurunkan darah tinggi
43,3
21
Istirahat yang cukup mencegah darah tinggi
46,7
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
88
Pengukuran pengetahuan sesudah penyuluhan
masyarakat usia 45-60 dengan metode ceramah dan
pembagian leflet. Jumlah jawaban benar setelah
penyuluhan berkisar 16 sampai dengan 21 dengan
rata-rata 19,50 dan standar deviasi 1,225. Skor
pengetahuan dikategorikan bedasarkan jumlah
jawaban yang benar, distribusi frekuensi
pengetahuan:
Tabel 3 Frekuensi
Penyuluhan
Pengetahuan
Sesudah
Variabel
Frekuensi
Presentase
(%)
Pengetahuan setelah penyuluhan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
30
0
0
30
100
0
0
100
Berdasarkan tabel 3 distribusi tingkat
pengetahuan tentang hipertensi setelah penyuluhan
seluruh responden masuk dalam kategori
pengetahuan baik 100%. Hal ini menunjukkan
bahwa responden yang dapat menjawab pertanyaan
tentang hipertensi dengan jawaban benar meningkat
setelah mengikuti penyuluhan.
Berdasarkan hasil yang didapatkan adanya
peningkatan pengetahuan sebelum dengan sesudah
penyuluhan tentang hipertensi
berdasarkan
berkurangnya jumlah jawaban yang salah.
Pertanyaan
hipertensi
mengakibatkan
meningkatnya tekanan darah sebanyak 6 orang
(20%) menjadi semua orang menjawab dengan
benar pertanyaan tersebut (0%), tekanan darah
normal dari 16 orang (53,3%) menjadi 2 orang
(6,7%), tekanan darah meningkat 140/90 dari 11
orang (36,7%) menjadi 2 orang (6,7%), darah tinggi
karena keturunan dari 23 orang (76,7%) menjadi 2
orang (6,7%), >60 tahun tekanan darah meningkat
secara alami dari 24 orang (80%) menjadi 1 orang
(3,3%), stress menyebabkan darah tinggi dari 18
orang (60%) menjadi 2 orang (6,7%), kegemukan
faktor resiko darah tinggi dari 15 orang (50%)
menjadi 3 orang (10%), merokok faktor resiko
darah tinggi dari 24 orang (80%) menjadi 1 orang
(3,3%), minuman keras fator resiko darah tinggi
dari 27 orang (90%) menjadi 3 orang (10%),
konsumsi garam tinggi penyebab darah tinggi 17
orang (56,7%) menjadi 3 orang (10%), sakit kepala
keluhan darah tinggi dari 19 orang (63,3%) menjadi
7 orang (16,7%), penglihatan kabur akibat darah
tinggi dari 15 orang (50%) menjadi 7 orang
(16,7%), BAK pada malam hari komplikasi darah
tinggi dari 20 orang (66,7%) menjadi 1 orang
(3,3%), penyakit stroke, jantung komplikasi darah
tinggi dari 14 orang (46,7%) menjadi 1 orang
(3,3%), gagal ginjal komplikasi darah tinggi dari 9
orang (26,7%) menjadi 1 orang (3,3%), orang hamil
mengalami darah tinggi dari 17 orang (56,7%)
menjadi 2 orang (6,7%), mengurangi konsumsi
garam menurunkan darah tingg dari 16 orang
(53,3%) menjadi 3 orang (10%), tidak merokok dan
tidak minum alkohol menurunkan darah tinggi dari
22 orang (73,3%) menjadi tidak ada jawaban salah
(0%), menghilangkan perasaan iri dan dengki
pencegahan daranh tinggi dari 14 orang (56,7%)
menjadi 4 orang (13,3%), obat hipertensi satusatunya cara untuk menurunkan darah tinggi dari 13
orang (43,3%) menjadi tidak ada jawaban salah (0
%), dan istirahat yang cukup mencegah darah tinggi
dari 14 orang (46,7%) menjadi 4 orang (13,3%).
Pengetahuan sebelum penyuluhan masyarakat
usia 61-75 tahun, jumlah jawaban benar sebelum
penyuluhan berkisar antara 4 sampai dengan 13
dengan rata-rata 7,13 dan standara deviasi 2,360.
Distribusi frekuensi pengetahuan tentang hipertensi
sebelum penyuluhan dikategorigan menjadi tiga
kategori berdasrakan presentase jumlah jawaban
benar (nursalam) sebagai berikut:
Tabel 5 Frekuensi Pengetahuan
Penyuluhan Usia 61-75 tahun
Variabel
Pengetahuan
penyuluhan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
Sebelum
Frekuensi
Presentase (%)
0
3
27
30
0
10
90
100
sebelum
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat dari kategori
pengetahuan sebelum penyuluhan mayoritas
responden memiliki kategori pengetahuan kurang
sebanyak 90%, kategori cukup 10%.
Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat hasilnya
bahwa mayoritas jawaban yang masih banyak salah
pada pertanyaan minuman keras merupakan faktor
resiko darah tinggi yaitu sebesar 27 orang (90%)
dan responden menjawab pertanyaan dengan
jawaban yang salah paling sedikit pada pertanyaan
hipertensi mengakibatkan naiknya tekanan darah
sebanyak 6 orang (20%).
Pengukuran pengetahuan sesudah penyuluhan
mayarakat usia 61-75 tahun dengan metode
ceramah dan pembagian liflet. Jumlah jawaban
benar setelah penyuluhan berkisar 16 sampai
dengan 21 dengan rata-rata 18,30 dan standar
deviasi 1,291. Skor pengetahuan dikategorikan
bedasarkan jumlah jawaban yang benar, distribusi
frekuensi pengetahuan tentang hipertensi sebagai
berikut:
Tabel 7 Frekuensi Pengetahuan
Penyuluhan Usia 61-75 tahun
Variabel
Pengetahuan
penyuluhan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
Sesudah
Frekuensi
Presentase (%)
30
0
0
30
100
0
0
100
setelah
89
Tabel 6 Distribusi Jawaban Salah Responden Usia
61-75 tahun
No
Pertanyaan
1
Hipertensi mengakibatkan naiknya
tekanan darah
Tekanan darah normal
Tekanan darah naik 140/90
Darah tinggi karena keturunan
>60 tahun tekanan darah naik secara
alami
Stress penyebab darah tinggi
Kegemukan faktor resiko darah tinggi
Merokok faktor resiko darah tinggi
Minuman keras faktor resiko darah
tinggi
Konsumsi garam tinggi penyebab darah
tinggi
Sakit kepala keluhan darah tinggi
Penglihatan kabur akibat darah tinggi
BAK pada malam hari komplikasi
darah tinggi
Penyakit stroke, jantung komplikasi
darah tinggi
Gagal ginjal komplikasi darah tinggi
Orang hamil mengalami darah tinggi
Mengurangi
konsumsi
garam
menurunkan darah tinggi
Tidak merokok dan tidak minum
alkohol menurunkan darah tinggi
Menghilangkan perasaan iri dan dengki
pencegahan darah tinggi
Obat hipertensi satu-satunya cara untuk
menurunkan darah tinggi
Istirahat yang cukup mencegah darah
tinggi
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Presentase
(%)
46,7
46,7
53,3
86,7
70
76,7
50
70
73,3
90
83,3
46,7
83,3
70
30
83,3
80
83,3
53,3
66,7
43,3
Berdasarkan tabel 7 distribusi tingkat
pengetahuan tentang hipertensi setelah penyuluhan
seluruh responden masuk dalam kategori
pengethauan baik 100%. Hal ini menunjukkan
bahwa responden yang dapat menjawab pertanyaan
tentang hipertensi dengan jawaban benar meningkat
setelah mengikuti penyuluhan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
adanya peningkatan pengetahuan sebelum dengan
sesudah penyuluhan tentang hipertensi berdasarkan
berkurangnya jumlah jawaban yang salah.
Pertanyaan
hipertensi
mengakibatkan
meningkatnya tekanan darah sebanyak 14 orang
(46,7%) menjadi semua orang menjawab dengan
benar pertanyaan tersebut (0%), tekanan darah
normal dari 14 orang (46,7%) menjadi 4 orang
(13,3%), tekanan darah meningkat 140/90 dari 16
orang (53,3%) menjadi 4 orang (13,3%), darah
tinggi karena keturunan dari 26 orang (86,7%)
menjadi 6 orang (20%), >60 tahun tekanan darah
meningkat secara alami dari 22 orang (70%)
menjadi 10 orang (30%), stress menyebabkan darah
tinggi dari 24 orang (76,7%) menjadi 2 orang
(6,7%), kegemukan faktor resiko darah tinggi dari
15 orang (50%) menjadi 2 orang (6,7%), merokok
faktor resiko darah tinggi dari 22 orang (70%)
menjadi 6 orang (20%), minuman keras fator resiko
darah tinggi dari 23 orang (73,3%) menjadi 7 orang
(23,3%), konsumsi garam tinggi penyebab darah
tinggi 27 orang (90%) menjadi 6 orang (20%), sakit
kepala keluhan darah tinggi dari 25 orang (83,3%)
menjadi 7 orang (23,3%), penglihatan kabur akibat
darah tinggi dari 14 orang (46,7%) menjadi 4 orang
(13,3%), BAK pada malam hari komplikasi darah
tinggi dari 25 orang (83,3%) menjadi 4 orang
(16,7%), penyakit stroke, jantung komplikasi darah
tinggi dari 22 orang (70%) menjadi 2 orang (6,7%),
gagal ginjal komplikasi darah tinggi dari 10 orang
(30%) menjadi 3 orang (10%), orang hamil
mengalami darah tinggi dari 25 orang (83,3%)
menjadi 4 orang (13,3%), mengurangi konsumsi
garam menurunkan darah tingg dari 25 orang (80%)
menjadi 1 orang (3,3%), tidak merokok dan tidak
minum alkohol menurunkan darah tinggi dari 26
orang (83,3%) menjadi 2 orang (6,7%),
menghilangkan perasaan iri dan dengki pencegahan
daranh tinggi dari 13 orang (53,3%) menjadi 4
orang (13,3%), obat hipertensi satu-satunya cara
untuk menurunkan darah tinggi dari 21 orang
(66,7%) menjadi 3 orang (10%), dan istirahat yang
cukup mencegah darah tinggi dari 13 orang (43,3%)
menjadi tidak ada jawaban salah (0%).
Keluaran utama penelitian ini adalah ada
perbedaan yang bermakna rata-rata pengetahuan
tentang hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan
pada masyarakat usia 45-60 tahun dengan uji
Wilcoxon didapatkan bahwa nilai mean rank 15,50
dan nilai p-value 0,000 atau kurang dari 0,05. Dan
pada kelompok usia 60-75 tahun juga ada
perbedaan yang bermakna rata-rata pengetahuan
tentang hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan
dengan p-value 0,000 atau kurang dari 0,05.
Perubahan tingkat pengetahuan masyarakat
rentang usia 45-60 tahun memiliki rata-rata 9,97
sedangkan selisih jawaban benar masyarakat usia
61-75 tahun yaitu 11,30. Berdasarkan hasil uji
Mann Whitney didapatkan bahwa nilai mean rank
26,05 masyarakat rentang usia 45-60 tahun
sedangkan nilai mean rank 34,95 pada masyarakat
rentang usia 61-75 tahun. Dari uji tersebut
didapatkan nilai p-value 0,047 atau kurang dari
0,05. Dari hasl uji tersebut disimpulkan bahwa ada
perbedaan yang bermakna antara rata-rata
pengetahuan pada kelompok usia 45-60 tahun
dengan kelompok usia 61-75 tahun.
PEMBAHASAN
Perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah
penyuluhan masyarakat usia 45-60 tahun
berdasarkan hasil uji Wilcoxon didapatkan bahwa
nilai mean rank 15,50 dan nilai p-value 0,000 atau
kurang dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan yang bermakna rata-rata pengetahuan
tentang hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan
pada masyarakat usia 45-60 tahun. Berdasarkan
dari data hasil uji di atas menunjukkan bahwa
hipotesis dapat diterima karena telah terbukti bahwa
adanya analisis yang menunjukkan perbedaan yang
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
90
bermakna dari masing-masing variabel yang diuji.
Perbedaan
tersebut
dikarenakan
adanya
penyuluhan. Informasi yang didapatkan dari
penyuluhan dapat memberikan pengaruh jangka
pendek (immediate impact) sehingga dapat
menghasilkan
perubahan
atau
peningkatan
pengetahuan. Dengan adanya perbedaan sebelum
dan setelah penyuluhan pada penelitian ini diartikan
bahwa terjadi perubahan pengetahuan pada
masyarakat tentang hipertensi yang disebabkan
karena efektifitas penyuluhan tersebut yang dapat
mempengaruhi perhatian masyarakat. Selain
peningkatan pengetahuan diharapkan dapat
merubah perilaku kesehatan masyarakat yang
nantinya akan meningkatkan atau memelihara
kesehatan.9
Penyuluhan tentang hipertensi di respon baik
oleh masyarakat usia 45-60 tahun RW III
Kelurahan Wonodri, hal tersebut dibuktikan
adanya peningkatan hasil post-test dari pre-test
yang dilaksanakan. Pada saat penyuluhan
masyarakat mengajukan beberapa pertanyaan yaitu:
a. Bagaimana olah raga yang cocok untuk
penderita darah tinggi dengan riwayat penyakit
astma.
b. Bagaimana menjaga tekanan darah tetap normal
Perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah
penyuluhan masyarakat usia 61-75 tahun,
berdasarkan hasil uji Wilcoxon didapatkan bahwa
nilai mean rank 15,50 dan nilai p-value 0,000 atau
kurang dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan yang bermakna rata-rata pengetahuan
tentang hipertensi sebelum dan sesudah penyuluhan
pada masyarakat usia 60-75 tahun. Berdasarkan
dari data hasil uji di atas menunjukkan bahwa
hipotesis dapat diterima karena telah terbukti bahwa
adanya analisis yang menunjukkan perbedaan yang
bermakna dari masing-masing variabel yang diuji.
Perbedaan
tersebut
dikarenakan
adanya
penyuluhan. Informasi yang didapatkan dari
penyuluhan dapat memberikan pengaruh jangka
pendek (immediate impact) sehingga dapat
menghasilkan
perubahan
atau
peningkatan
pengetahuan. Dengan adanya perbedaan sebelum
dan setelah penyuluhan pada penelitian ini diartikan
bahwa terjadi perubahan pengetahuan pada
masyarakat tentang hipertensi yang disebabkan
karena efektifitas penyuluhan tersebut yang dapat
mempengaruhi perhatian masyarakat. Selain
peningkatan pengetahuan diharapkan dapat
merubah perilaku kesehatan masyarakat yang
nantinya akan meningkatkan atau memelihara
kesehatan. Penyuluhan tentang hipertensi di respon
baik oleh masyarakat usia 61-75 tahun RW III
Kelurahan Wonodri, hal tersebut dibuktikan
adanya peningkatan hasil post-test dari pre-test
yang dilaksanakan. 9
Perbedaan perubahan pengetahuan masyarakat
usia 45-60 tahun dengan masyarakat usia 61-75
tahun memiliki rata-rata 9,97 sedangkan selisih
jawaban benar masyarakat usia 61-75 tahun yaitu
11,30. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney
didapatkan bahwa nilai mean rank 26,05
masyarakat rentang usia 45-60 tahun sedangkan
nilai mean rank 34,95 pada masyarakat rentang usia
61-75 tahun. Dari uji tersebut didapatkan nilai pvalue 0,047 atau kurang dari 0,05. Dari hasl uji
tersebut disimpulkan bahwa ada perbedaan yang
bermakna antara rata-rata pengetahuan pada
kelompok usia 45-60 tahun dengan kelompok usia
61-75 tahun.
Tujuan
pendidikan
kesehatan
yaitu
menjadikan kesehatan sebagai suatu hal yang
bernilai di masyarakat, mendorong individu supaya
mampu secara mandiri taupun kelompok
mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup
yang sehat, mendorong penggunaan dan
pengembangan secara tepat sarana pelayanan
kesehatan yang ada.
Bagi peneliti berikutnya diharapkan materi
yang diberikan lebih mendalam sehingga pada
pertanyaan yang masih di jawab salah oleh
responden dapat di jawab dengan benar. Untuk
penilaian pengetahuan setelah penyuluhan agar di
ukur pada waktu yang berbeda dan di beri jarak
waktu tertentu setelah penyuluhan agar mengetahui
tindak lanjut dari hasil pengetahuan yang telah
didapatkan dari masing-masing individu.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilaksanakan, maka dapat disimpulkan sebagai
yaitu: Pengetahuan tentang hipertensi sebelum
penyuluhan masyarakat usia 45-60 tahun mayoritas
responden memiliki kategori pengetahuan kurang
sebanyak 80% dan kategori baik 10%. Pengetahuan
tentang hipertensi setelah penyuluhan masyarakat
usia 45-60 tahun seluruh responden masuk dalam
kategori
pengethauan
baik
yaitu
100%.
Pengetahuan
tentang
hipertensi
sebelum
penyuluhan masyarakat usia 61-75 tahun mayoritas
responden memiliki kategori pengetahuan kurang
sebanyak 90% dan kategori baik 0%. Pengetahuan
tentang hipertensi setelah penyuluhan masyarakat
usia 61-75 tahun seluruh responden masuk dalam
kategori pengetahuan baik yaitu 100%. Ada
perbedaan yang bermakna pengetahuan tentang
hipertensi masyarakat usia 45-60 tahun sebelum
dan sesudah penyuluhan (p-value 0,000). Ada
perbedaan yang bermakna pengetahuan tentang
hipertensi masyarakat usia 61-75 tahun sebelum
dan sesudah penyuluhan (p-value 0,000). Ada
perbedaan yang bermakna perubahan pengetahuan
tentang hipertensi pada masyarakat usia 45-60
tahun dengan masyarakat usia 61-75 tahun (p-value
0,047).
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
91
UCAPAN TERIMA KASIH
Warga RW III dan RW V Kelurahan Wonodri
Semarang , Kader Posyandu Lansia RW III dan V
Kelurahan Wonodri Semarang
DAFTAR PUSTAKA
1. Sukmadianata. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Pusdakarya;
2009.
2. WHO. Global Health Risk: Mortality and
Burden of Disease attributable to selected Major
Risk. 2007. pp 10-15
3. Profil kesehatan Jawa tengah 2008. Available
from
URL:
HIPERLINK
http://www.dinkesjateng.com
4. Yogiantoro, Muhammad. Hipertensi Essensial:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FK
UI; 2010, pp:1079
5. Siti S, Kuntjoro H, Arya GR. Proses menua dan
implikasi klinis. Dalam: Staf Pengajar FK UI.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FK UI; 2006.p.1335-1340.
6. Mohamad Y. Hipertensi Essensial. Dalam: Staf
Pengajar FK UI. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 3. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI;
2006.p.1335-1340.
7. Suhardjono. Hipertensi pada usia lanjut. Dalam:
Staf Pengajar FK UI. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 3. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI;
2006.p.1451-1454.
8. Profil kesehatan Kota Semarang 2009.
Available
from
URL:
HIPERLINK
http://www.dinkeskotasemarang.com
9. Riwidikdo H. Statistik Kesehatan. Yogyakarta:
Mitra Cendiakia Press; 2007.
10. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku. Jakarta: PT Rineka Cipta; 2007
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Volume 1 Nomor 2 Tahun 2013
92
Fly UP