...

Unduh file PDF ini - E Journal

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

Unduh file PDF ini - E Journal
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
ANAK OBES MEMPUNYAI DURASI TIDUR LEBIH PENDEK
DIBANDINGKAN ANAK TIDAK OBES
(OBESECHILDRENHAVESHORTERSLEEP DURATION
THANNOTOBESECHILDREN)
Dewi Marfuah
Prodi S1 Ilmu Gizi STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Kegemukan atau obesitas telah menjadi masalah kesehatan global di dunia. Prevalensi obesitas di
Negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya.
Banyak faktor yang menyebabkan obesitas, salah satunya adalah durasi tidur. Tujuan:
mengetahui perbedaan durasi tidur anak obes dan anak tidak obes di Kota Yogyakarta dan
Kabupaten Bantul. Metode: penelitian kasus kontrol pada anak SD obes dan tidak obes. Sejumlah
244 anak obes dipilih secara acak dan 244 anak tidak obes yang di machingkan, diperoleh dari
penelitian cross sextional sebelumnya di SD Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Durasi tidur
dikumpulkan menggunakan recall aktivitas fisik selama seminggu terakhir. Analisis data dilakukan
dengan uji Independent Paired T-test. Hasil: ada perbedaan bermakna durasi tidur anak obes
dengan anak tidak obes, dengan nilai p value (p=0,001). Rata-rata durasi tidur anak obes 16,1
menit/hari lebih pendek dibandingkan anak tidak obes. Perbedaan tersebut dapat ditemukan baik
di Kota Yogyakarta maupun di Kabupaten Bantul. Kesimpulan: anak obes mempunyai durasi tidur
lebih pendek dibandingkan anak tidak obes.
Kata Kunci: Durasi Tidur, Obesitas, Anak-Anak Sekolah Dasar.
Abstract
Overweight or obesity has becomea globalhealthprobleminthe world. The prevalence of obesity in
developingcountriessuch asIndonesia is expected to continue to increase each year. Many factors
contribute to obesity, one of which is the duration of sleep. Objective: to examine differences
ofsleep durationon obese childrenandnotobesechildrenin elementary school in Yogyakarta City and
Bantul Regency. Methods: A case control study at obese and non obese elementary school students.
A random sample of 244 obese and 244 grade-matched non obese elementary school students were
selected form a cross-sectional survey previously done in the city of Yogyakarta and Bantul
regency. Sleep duration was collected using recall of physical activity during the last week.
Analysis used Independent Paired T-test. Results: there are significant differencesin sleep duration
between obese childrenwithchildrenare notobese, with p value (p=0,001). The averageduration
ofobese childrenslept16.1minutes / dayis shorterthanthe child is notobese. That differencescan be
foundbothin the Yogyakarta City and Bantul Regency.Conclusion: obesechildrenhaveshortersleep
durationthanchildrennotobese.
Keywords: Sleep Duration, Obesity, Elementary School Children.
tubuh di atas persentil 95 atau > +2 Standar
Deviasi (SD) untuk anak dengan usia dan jenis
kelamin yang sama. Masalah kesehatan ini tidak
hanya terjadi di negara-negara maju tetapi juga di
PENDAHULUAN
Kegemukan atau obesitas telah menjadi
masalah kesehatan global di dunia. Kegemukan
pada anak didefinisikan dengan indeks massa
46
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
negara berkembang. Sepuluh persen dari anak
usia sekolah di dunia diperkirakan memiliki
kelebihan lemak tubuh, dengan peningkatan
risiko mengalami penyakit kronis (Lobstein, et al,
2004).
Prevalensi obesitas pada anak usia 6-17
tahun di Amerika Serikat dalam tiga dekade
terakhir meningkat dari 7,6-10,8% menjadi 1314%. Prevalensi overweight dan obesitas pada
anak usia 6-18 tahun di Rusia adalah 6% dan
10%, di Cina adalah 3,6% dan 3,4%, dan di
Inggris adalah 22-31% dan 10-17%. Pada anakanak usia sekolah di Singapura meningkat dari
9% menjadi 19% (Sjarif, 2002). Prevalensi
kegemukan (overweight dan obesitas) pada anak
Indonesia juga mengalami kenaikan dari waktu
kewaktu. Pada tahun 2007, prevalensi
kegemukan pada anak Indonesia umur 6-14 tahun
adalah 9,5% untuk laki-laki dan 6,4% untuk
perempuan dan angka ini naik menjadi 10,7%
untuk anak laki – laki dan 7,7% untuk anak
perempuan pada tahun 2010. Riskesdas tahun
2007, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
menunjukkan prevalensi berat badan lebih
berdasarkan kategori IMT/U pada anak usia 6-14
tahun yaitu 7,6% pada anak laki-laki dan 4,8%
pada anak perempuan. (Depkes, 2008; Kemenkes
2010).
Prevalensi
obesitas
di
Indonesia
diperkirakan akan terus meningkat terutama di
daerah perkotaan berkaitan dengan adanya
perubahan pola hidup dan kebiasaan makan
masyarakat Indonesia. Selain itu, masyarakat
Indonesia cenderung mempunyai aktivitas yang
kurang gerak (sedentary activities) oleh karena
adanya perubahan pola kerja dan kemajuan di
bidang transportasi(Hadi, 2004).Tidur, aktifitas
fisik, dan pola makan merupakan bagian
penting untuk pertumbuhan, maturasi, dan
kesehatan pada anak – anak dan remaja.
Berdasarkan data dari National Sleep
Foundation (2002), kurangnya durasi tidur
akan berdampak pada kurangnya aktivitas yang
diikuti dengan peningkatan pemasukan kalori
yang merupakan salah satu penunjang masalah
kegemukan. Makanan dan minuman tinggi
kafein menyebabkan anak-anak dan orang
dewasa sulit tidur. Orangtua seringkali tidak
menyadari jumlah kafein yang terkandung
dalam es teh, minuman bersoda, coklat, dan
berbagai makanan lain yang sering dikonsumsi
anak-anak, sehingga tidak mengejutkan jika
banyak anak-anak yang mengalami kesulitan
tidur pada malam hari.
Menurut analisis epidemiologis yang
dilakukan Johnny Hopkinson dari Fakultas
Kesehatan Bloomberg, tidur atau istirahat
ekstra dapat mengurangi risiko kelebihan berat
badan pada anak-anak sebanyak 9%. Saat ini
anak lebih dari 5 tahun harus memiliki waktu
tidur 10 jam perharinya.
Sampai dengan saat ini belum banyak
penelitian yang menjelaskan perbedaan durasi
tidur anak obes dan anak tidak obes di
Indonesia. Oleh karena itu peneliti merasa perlu
untuk meneliti perbedaan durasi tidur anak obes
dan anak tidak obes di sekolah dasar Kota
Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di SD Kota Yogyakarta
dan Kabupaten Bantul. Kasus dipilih secara
random dari daftar anak obes yang ditemukan
melalui survei yang dilakukan sebelumnya di
Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.
Sebanyak 224 kasus anak dengan IMT ≥ persentil
ke 95 kurva WHO 2007 dipilih secara acak dari
580 anak obes yang berasal dari survei tersebut.
Setiap kasus terpilih dicarikan kontrolnya yaitu
teman sekelas yang tidak mengalami obes. Tinggi
badan anak sekolah diukur oleh peneliti dibantu
enumerator menggunakan mikrotoa yang
mempunyai ketelitian 0,1 cm, sedangkan berat
badan anak sekolah diukur oleh peneliti dibantu
enumerator menggunakan timbangan injak
digital yang mempunyai ketelitian 0,1 kg.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
durasi tidur. Data durasi tidur dikumpulkan
menggunakan formulir recall aktivitas fisik
selama seminggu terakhir. Durasi tidur dihitung
dari jam anak mulai tidur sampai jam anak
bangun tidur, serta ditambah lamanya tidur siang.
Data tentang sosial ekonomi dikumpulkan
menggunakan kuesioner terstruktur. Uji statistik
dilakukan uji Independent Paired T-test.
47
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian Antara Kelompok Kasus dan Kontrol
Karakteristik
Ya
n=244
Kelompok usia
6-8 tahun
84
9-10 tahun
114
11-12 tahun
46
Jenis kelamin
Laki-laki
154
Perempuan
90
Tempat tinggal
Kota besar
13
Kota sedang
34
Kota kecil
174
Desa
23
Pendidikan ibu
Tinggi
200
Rendah
44
Pekerjaan ibu
Tidak bekerja
64
Bekerja
180
Pendidikan ayah
Tinggi
208
Rendah
36
Pekerjaan ayah
Petani/ /nelayan
2
Buruh/buruh tani
21
Karyawan swasta
70
PNS/TNI/POLRI
39
Wiraswasta
93
Tidak bekerja
1
Lainnya
16
Pengeluarankeluarga
≤ UMR
20
> UMR
224
Jumlah ART
> 4 orang
96
≤4 orang
148
Sumber: data primer diolah, 2013
Status Obesitas
Tidak
%
n=244
%
Total
2
n=488
%
p
34,4
46,7
18,9
83
119
42
34,0
48,8
17,2
167
233
88
34,2
47,8
18,0
0,29
0,863
63,1
36,9
122
122
50,0
50,0
276
212
56,6
43,4
8,54
0,003*
5,3
13,9
71,3
9,4
19
43
163
19
7,8
17,6
66,8
7,8
32
77
337
42
6,6
15,8
69,1
8,6
2,91
0,405
82,0
18,0
191
53
78,3
21,7
391
97
80,1
19,9
1,04
0,307
26,2
73,8
57
187
23,3
76,7
121
367
24,8
75,2
0,53
0,463
85,2
14,8
200
44
82,0
18,0
408
80
83,6
16,4
0,95
0,328
0,8
8,7
29,0
16,1
38,4
0,4
6,6
3
36
71
31
80
3
18
1,2
14,9
29,3
12,8
33,1
1,2
7,4
5
57
141
70
173
4
34
1,0
11,8
29,1
14,5
35,8
0,8
7,0
7,16
0,306
8,2
91,8
22
222
91,0
9,0
446
42
91,4
8,6
0,10
0,747
39,3
60,7
99
145
40,6
59,43
195
293
60,0
40,0
0,07
0,782
Secara keseluruhan karakteristik kasus
hampir sama dengan kontrol, kecuali anak lakilaki (±13%) lebih besar pada kasus disbandingkan pada kontrol (p<0.05) pada table 1 diatas.
Dalam analisis lebih lanjut ditemukan
bahwa anak laki-laki mempunyai durasi tidur
lebih pendek dibandingkan anak perempuan.
Rata-rata durasi tidur anak laki-laki 1,4
menit/hari lebih pendek dibandingkan anak
perempuan (Tabel 2).
48
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
Tabel 2. Perbedaan Rata-rata Durasi Tidur pada Siswa Laki-laki dan Perempuan
Variabel
Laki-laki (n=276)
mean±SD
Perempuan (n=212)
mean±SD
Durasi tidur
(menit/hari)
556,1±57,1
557,5±60,1
Mean diff.
(95%CI)
-1,4
(- 11,8-9,1)
p*
0,39
2. Perbedaan Durasi Tidur Anak Obes dan Tidak Obes
Tabel 3. Perbedaan Rata-rata Durasi Tidur
Obes (n=244)
mean±SD
Tdk obes (n=244)
mean±SD
Mean diff.
(95%CI)
Total
Durasi tidur (menit/hari)
548,6±56,7
564,7±59,0
- 16,1
- 26,4(-)-5,8
0,001
Yogyakarta
Durasi tidur (menit/hari)
544,8±54,0
555,8±58,4
- 11,1
(-23,2-1,1)
0,03
Bantul
Durasi tidur (menit/hari)
556,8±61,8
583,7±56,1
-26,9
-45,5(-) – 8,2
0,002
Variabel
Tabel 3 menunjukkan bahwa anak obes
mempunyai durasi tidur lebih pendek dibandingkan anak yang tidak obes. Rata-rata durasi tidur
anak obes 16,1 menit/hari lebih pendek dibandingkan anak tidak obes. Perbedaan tersebut
p*
dapat ditemukan baik di Kota Yogyakarta
maupun di Kabupaten Bantul. Anak- anak SD di
Kota Yogyakarta mempunyai rata – rata durasi
tidur lebih pendek dibandingkan anak-anak SD
di Kabupaten Bantul.
3. Perbedaan Durasi Tidur Anak Obes dan Tidak Obes pada Weekday dan Weekend
Tabel 4. Perbedaan Rata-Rata Durasi Tidur Weekday dan Weekend
Variabel
Durasi tidur (menit/hari)
Weekday
Weekend
Obes (n=244)
mean±SD
Tdk obes (n=244)
mean±SD
Mean diff.
(95%CI)
540,0±62,2
553,5±61,5
570,1±65,1
592,9±81,5
- 13,4
- 24,4(-)-2,4
-22,8
(- 35,9- 9,7)
Tabel 4 menunjukkan bahwa anak obes
mempunyai durasi tidur lebih pendek dibandingkan anak yang tidak obes baik weekday maupun
weekend.
Pada weekday rata-rata durasi tidur anak
obes 13,4 menit/hari lebih pendek dibandingkan
anak tidak obes. Pada weekend rata-rata durasi
tidur anak obes 22,8 menit/hari lebih pendek
dibandingkan anak tidak obes. Selain itu, anak
SD pada weekday mempunyaidurasi tidur lebih
pendek dibandingkan weekend.
p*
0,008
0,000
siswa obes dan tidak obes adalah variabel jenis
kelamin. Anak laki-laki lebih banyak yang
obesitas dibandingkan dengan anak perempuan.
Hal ini sejalan dengan penelitian pada anak
umur 5 – 12 tahun di Australia, yang menunjukkan bahwa pada kelompok obes lebih banyak
yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 8,9%
dibandingkan anak perempuan yaitu 6,6% (Shi
et al, 2010). Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa anak laki-laki mempunyai durasi tidur
lebih pendek dibandingkan anak perempuan,
durasi tidur pendek berisiko menyebabkan
obesitas (Shi et al, 2010).
Prevalensi obesitas pada anak laki-laki
yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan sama dengan hasil yang diperoleh dalam
Pembahasan
1. Karakteristik subyek penelitian
Berdasarkan hasil analisis variabel karakteristik, yang berbeda secara signifikan antara
49
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
Riskesdas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
tahun 2007. Riset tersebut menunjukkan prevalensi berat badan lebih berdasarkan kategori
IMT/U pada anak usia 6-14 tahun yaitu 7,6%
pada anak laki-laki dan 4,8% pada anak perempuan.
Dalam penelitian ini menunjukkan anak
laki-laki mempunyai durasi tidur lebih pendek
dibandingkan anak perempuan. Hal ini sejalan
dengan penelitian di Australia yang menunjukkan anak laki-laki lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan aktivitas sedentari seperti menonton televisi dan internet, main
game, atau playstation. Hal ini yang dapat
menyebabkan anak laki-laki mempunyai durasi
tidur lebih pendek dibandingkan anak perempuan (Shi et al, 2010).
Penelitian ini menunjukkan bahwa anak
sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul mempunyai rata-rata durasi tidur
lebih pendek dari anjuran National Sleep
Foundation, padahal tidak semua anak sekolah
dasar yang dijadikan sampel penelitian mengalami obesitas. Hal ini bisa disebabkan karena
faktor lain misalnya adanya ketersediaan makanan dirumah serta kurangnya aktivitas fisik
yang sedang dan berat. Durasi tidur pendek tidak
selalu diikuti dengan asupan energi yang tinggi,
karena ketersediaan pangan setiap rumah
berbeda-beda. Meskipun kesempatan untuk
makan tersedia dan nafsu makan meningkat, jika
tidak ada ketersediaan pangan dirumah maka
anak tidak akan mempunyai asupan energi yang
tinggi. Durasi tidur pendek dapat menyebabkan
obesitas dapat disebabkan karena kurangnya
aktivitas fisik yang sedang dan berat serta
adanya peningkatan perilaku sedentari seperti
menonton televisi dan bermain komputer, laptop, atau tablet.
Salah satumekanisme durasi tidur
pendekyang dapat mempengaruhikenaikan berat
badanadalahdengan meningkatnyaasupan energi.
Berdasarkan penelitian pada hewan menunjukkan bahwa durasi tidur pendek dapat menyebabkan hyperphagia (peningkatan rasa lapar),
dimanapada manusia juga menunjukkan efek
yang sama. Penelitian ini membandingkan 4 jam
dengan 10jam tidur untuk setiap malam selama
2 hari, menunjukkan bahwa subyek yang
tidurnya 4 jam setiap malam mempunyai rasa
lapar dannafsu makan yang lebih tinggi daripada
yang tidurnya 10 jam dalam semalam. Peningkatan asupan makan tersebut terutama makanan
tinggi lemak dan tinggi karbohidrat. Perubahan
ini berhubungan dengan peningkatan ghrelin
dalam serum dan penurunan leptin dalam serum,
ini membuktikan bahwa kurang tidur dapat
mempengaruhi regulator periferrasa lapar (Patel
& Hu, 2008).
Berdasarkan data dari National Sleep
Foundation (2002), kurangnya durasi tidur
akan berdampak pada kurangnya aktivitas
yang diikuti dengan peningkatan pemasukan
kalori yang merupakan salah satu penunjang
masalah kegemukan. Beberapa berpendapat
bahwadalam lingkungan dimanamakanansudah
tersedia, durasi tidur yang pendek dapat
memberikan peluang peningkatan untuk makan,
terutama jika sebagian besar waktu luang hanya
dihabiskan dalam kegiatan tidak aktif (sedentary
2. Durasi Tidur Anak Obes dan Anak Tidak
Obes.
Kurangnya tidur (2-4 jam sehari) dapat
mengakibatkan kehilangan 18% leptin dan meningkatkan 28% ghrelin yang dapat menyebabkan bertambahnya nafsu makan kira - kira
23 – 24%. Leptin adalah protein hormon yang
diproduksi jaringan lemak yang berfungsi mengendalikan cadangan lemak dan mempengaruhi nafsu makan, sedangkan ghrelin adalah
hormon yang dapat mempengaruhi rasa lapar
dan kenyang. Apabila leptin menurun dan
ghrelin meningkat, dapat meningkatkan rasa
lapar dan membuat metabolisme melambat
serta berkurangnya kemampuan membakar
lemak dalam tubuh(Patel et al, 2004).
Anak obes mempunyai durasi tidur pendek (82,38%) lebih banyak dibandingkan dengan anak tidak obes (72,95%). Hasil ini sesuai
dengan penelitian pada anak 5 – 12 tahun di
Australia yang dilakukan Shi et al., (2010) bahwa pada anak obes yang mempunyai durasi tidur
pendek sebesar 22,3% lebih besar dibandingkan
dengan anak obes yang durasi tidurnya panjang
yaitu 11,5%.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa
anak obes mempunyai durasi tidur lebih pendek
dibandingkan anak yang tidak obes. Rata-rata
durasi tidur anak obes 16,1 menit/hari lebih
pendek dibandingkan anak tidak obes. Perbedaan tersebut dapat ditemukan baik di Kota
Yogyakarta maupun di Kabupaten Bantul.
Anak- anak SD di Kota Yogyakarta mempunyai
rata-rata durasi tidur lebih pendek dibandingkan
anak-anak SD di Kabupaten Bantul.
50
PROFESI, Volume 12, Nomor 2, Maret 2015
lifestyle)seperti menonton televiseyang biasanya diikuti dengan ngemil atau makan snack.
Kurang tidur yang lama juga jelas mengarah
pada perasaan kelelahan. Kelelahan ini dapat
menyebabkan penurunan aktivitas fisik. Bahkan,
penelitian pada anak-anak telah menemukan
durasi tidur pendek berhubungan dengan peningkatan menonton televisi dan berkurangnya
partisipasi dalam olahraga yang terorganisir
(Patel & Hu, 2008). Menurut Huriyati, terdapat
dua mekanisme utama pada kegiatan menonton
televisi yang menjadi penyumbang terjadinya
obesitas, diantaranya adalah terjadinya penurunan energy expenditure akibat kurangnya
aktivitas fisik sedang dan berat. Kedua adalah
selama menonton televisi anak – anak akan
terpapar iklan – iklan makanan yang tidak sehat
(junk food) yang akan mempengaruhi pemilihan
makanan(Huriyati, 2007).
Anak obes mempunyai durasi tidur lebih
pendek dibandingkan anak yang tidak obes baik
weekday maupun weekend. Pada weekday ratarata durasi tidur anak obes 13,4 menit/hari lebih
pendek dibandingkan anak tidak obes. Pada
weekend rata-rata durasi tidur anak obes 22,8
menit/hari lebih pendek dibandingkan anak tidak
obes. Selain itu, anak SD pada weekday mempunyai durasi tidur lebih pendek dibandingkan
weekend. Anak SD pada weekday siang harinya
melakukan aktivitas fisik di sekolah dari pagi
sampai sore hari, sedangkan pada malam hari
belajar sehingga durasi tidurnya lebih pendek.
Pada weekend durasi tidurnya lebih panjang, hal
ini dikarenakan anak SD tidak masuk sekolah
sehingga bangun siang dan pada weekend anak
SD banyak yang mempunyai tidur siang.
REFERENSI
Depkes. (2008). Riset kesehatan dasar 2007.
Jakarta.
Faizah, Z. (2004). Faktor Risiko Obesitas Pada
Murid Sekolah Dasar Usia 6-7 Tahun Di
Semarang. Tesis. Progam Pendidikan Dokter Spesialis 1 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.
Hadi, H. (2004). Handout Seminar Nasional
Obesitas. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada
Huriyati, E. (2007). Aktivitas Fisik pada Remaja
SLTP Kota Yogyakarta dan Kabupaten
Bantul serta Hubungannya dengan Kejadian
Obesitas. Tesis. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
Kemenkes. (2010). Riset kesehatan dasar 2010.
Jakarta.
Lobstein, T., Baur, L., Uauy, R. Obesity in
children and young people: a crisis in public
health. Obesity Reviews. 2004; 5
(Suppl.1):4–85
National Sleep Foundation. (2002). Sleep in
America Poll. National Sleep Foundation,
Woshington.
Available
from:
URL:
http:/www.
sleepfoundation.
org/site/
.huIXKj
MOIxF/b.2417355/k.143E/2002
Sleep in America Poll.htm.
Patel, S.R., & Hu, F.R. (2008). Short Sleep
Duration and Weight Gain: A Systematic
Review. Obesity Journal. 16: 643-653.
Patel, S.R., Malhotra, A., White, D.P., Gottlieb, D.J., & Hu, F.B. (2004). A Prospective Study of Sleep Duration and Mortality Risk in Women. Pubmed. 27:440-444.
Sjarif D.R. (2003). Childhood Obesity: Evaluation and Management, Dalam Naskah
Lengkap National Obesity Symposium II
2003, Surabaya Editor: Adi S et al.,
Surabaya, hal 123-139.
Shi, Z., Taylor, A.W., Gill, T.K., Tuckerman, J.,
Adams, R., & Martin, J. (2010). Short
Sleep Duration and Obesity among
Australian Children. BMC Public Health.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa anak obes mempunyai durasi
tidur lebih pendek dibandingkan anak yang tidak
obes. Perbedaan tersebut dapat ditemukan baik
di Kota Yogyakarta maupun di Kabupaten
Bantul. Anak obes mempunyai durasi tidur lebih
pendek dibandingkan anak yang tidak obes baik
weekday maupun weekend. Anak laki-laki mempunyai durasi tidur lebih pendek dibandingkan
anak perempuan.
51
Fly UP