...

Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita
Topik
Khusus
Sari
Pediatri,
Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001: 175 - 188
Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita
Soedjatmiko
Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita dapat dilakukan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisis rutin, skrining perkembangan dan pemeriksaan lanjutan. Keluhan
orangtua mengenai penyimpangan perkembangan anaknya perlu ditindaklanjuti karena
sebagian terbukti benar. Penting pula menanyakan faktor-faktor risiko di lingkungan
mikro (ibu), mini (lingkungan keluarga dan tempat tinggal), meso (lingkungan tetangga,
polusi, budaya, pelayanan kesehatan dan pendidikan) dan makro (kebijakan program)
yang dapat mengganggu tumbuh kembang balita atau dapat dioptimalkan untuk
mengatasi gangguan tersebut. Pemeriksaan fisis rutin meliputi pengukuran tinggi dan
berat badan, bentuk dan ukuran lingkar kepala, kelainan organ-organ lain dan
pemeriksaan neurologis dasar. Skrining perkembangan dapat menggunakan kuesioner
atau melakukan pengamatan langsung pada balita. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP) berisi 10 pertanyaan untuk setiap kelompok umur, yang ditanyakan kepada
orangtua oleh paramedis atau dokter. Buku Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga
(Depkes RI) menilai 4 keterampilan balita untuk setiap kelompok umur, yang dapat
dilakukan oleh paramedis atau kader kesehatan. Pediatric Symptom Checklist (PSC) berisi
35 perilaku anak yang dapat ditanyakan oleh paramedis atau dokter kepada orangtua.
Kuesioner Skrining Perilaku Anak Prasekolah menyerupai PSC tetapi hanya berisi 30
pertanyaan. Skrining Perkembangan Denver II mempunyai kepekaan yang cukup baik
untuk deteksi gangguan gerak kasar, gerak halus, berbahasa dan personal sosial. Selain
itu secara tidak langsung dapat mendeteksi gangguan penglihatan, koordinasi matatangan, pendengaran, pemahaman, komunikasi verbal - non verbal, pemecahan masalah
dan kemandirian, namun kurang peka untuk gangguan emosional. Checklist for Autism
in Toddlers (CHAT) adalah salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum
autistik (austistic spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun. Pemeriksaan
lanjutan yang komprehensif sebaiknya melibatkan berbagai profesi dan disiplin keilmuan
untuk memastikan jenis, derajat dan penyebab gangguan, serta merencanakan tindak
lanjut yang komprehensif dan terintegrasi agar anak dapat tumbuh kembang optimal.
Kata kunci: deteksi dini, gangguan tumbuh kembang, balita.
B
atasan anak menurut Konvensi Hak-hak
Anak tahun 1990 adalah manusia yang
Alamat korespondensi:
Dr. Soedjatmiko, Sp.A.
Kepala Subbagian Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Jl. Salemba No. 6, Jakarta 10430.
Telepon 021-3160622. Fax. 021-3913982.
Disajikan pada Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran FKUI,
29 Maret - 1 April 2001.
berumur di bawah 18 tahun, 1 sedangkan profesi
kedokteran memperhatikan tumbuh kembang anak
sejak masa konsepsi sampai masa remaja.2,3 Selama
kurun waktu tersebut tumbuh kembang anak terdiri
dari banyak tahap (janin, bayi baru lahir, bayi, balita,
usia sekolah, remaja awal, tengah dan akhir) yang
masing-masing mempunyai masalah yang berbeda
sehingga cara deteksi dini gangguan tumbuh
kembangnya juga berbeda.2,3
Makalah ini hanya terbatas pada tumbuh
175
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
kembang balita, oleh karena peran orangtua dan
dokter keluarga cukup besar untuk mendeteksi
gangguan tumbuh kembang sejak balita dan banyak
gangguan pada usia selanjutnya yang dapat dideteksi
sejak balita.
Tumbuh Kembang Anak dan FaktorFaktor yang Mempengaruhinya
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran-ukuran
fisik anak, terutama tinggi (panjang) badan. Berat
badan lebih erat kaitannya dengan status gizi dan
keseimbangan cairan (dehidrasi, retensi cairan), namun
dapat digunakan sebagai data tambahan untuk menilai
pertumbuhan anak. Pertambahan lingkar kepala juga
perlu dipantau, karena dapat berkaitan dengan
perkembangan anak.2-4 Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan fungsi-fungsi individu antara
lain: kemampuan gerak kasar dan halus, pendengaran,
penglihatan, komunikasi, bicara, emosi- sosial,
kemandirian, intelegensia2-8 bahkan perkembangan
moral.9,10
Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak
adalah potensi genetik-heredo konstituinal
(intrinsik) dan peran lingkungan (ekstrinsik).2,3,10,11
Gangguan tumbuh kembang terjadi bila ada faktor
genetik dan atau karena faktor lingkungan yang
tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar tumbuh
kembang anak. 10,11 Peran lingkungan sangat penting
untuk mencukupi kebutuhan dasar tumbuh
kembang anak yaitu kebutuhan bio-psikosial terdiri
dari kebutuhan biomedis/’asuh’ (nutrisi, imunisasi,
higiene, pengobatan, pakaian, tempat tinggal,
sanitasi lingkungan dan lain-lain) dan kebutuhan
psikososial/asih dan asah (kasih sayang, penghargaan, komunikasi, stimulasi bicara, gerak, sosial,
moral, intelegensi dan lain-lain) sejak masa
konsepsi sampai akhir remaja. 10,11 Ibu (atau
pengganti ibu) merupakan lingkungan pertama dan
paling erat sejak janin di dalam kandungan (bahkan
sampai remaja) oleh karena itu disebut lingkungan
mikro, 10-12 Ayah, kakak, adik, nenek-kakek,
pengasuh, status sosial ekonomi berupa sarana di
dalam rumah, sanitasi, sarana bermain, nilai-nilai,
aturan-aturan, dan lain-lain merupakan lingkungan
berikutnya dan dinamakan lingkungan mini.10-12
Hal-hal di luar rumah, sanitasi lingkungan, polusi,
tetangga, teman bermain, sarana pelayanan kesehatan,
176
sarana pendidikan formal dan non formal, sarana
bermain, adat-budaya, dan lain-lain merupakan
lingkungan meso yang secara langsung atau tak
langsung dapat berpengaruh terhadap tumbuh
kembang anak.10-12 Program pemerintah, organisasi
profesi, perguruan tinggi, LSM, kebijakan internasional
WHO, Unicef dan lain-lain merupakan lingkungan
makro yang secara tidak langsung dapat berperan pada
tumbuh kembang anak.10-12 Bayi dan balita terutama
sangat dipengaruhi oleh lingkungan mikro (ibu) dan
mini (keluarga), walaupun lingkungan meso dan
makro juga berpengaruh. Semakin tua umur anak
maka semakin luas dan semakin kompleks pengaruh
bio-psikososial dari lingkungan terhadap tumbuh
kembangnya.
Deteksi Dini Gangguan Tumbuh
Kembang Balita
Ketika mengamati balita memasuki ruang pemeriksaan
bersama orang tuanya, sebenarnya kita sudah mulai
‘mendeteksi’ tumbuh kembangnya. Dengan memperhatikan penampilan wajah, bentuk kepala, tinggi
badan, proporsi tubuh, pandangan matanya, suara, cara
bicara, berjalan, perilaku, aktivitas dan interaksi dengan
lingkungannya bisa didapatkan beberapa informasi
penting berkaitan dengan tumbuh kembangnya.4 Tetapi
deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita sebaiknya
dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisis dan
skrining perkembangan yang sistematis agar lebih
obyektif. 2,3,5,7,8,13
Anamnesis
Keluhan utama dari orangtua berupa kekhawatiran
terhadap tumbuh kembang anak dapat mengarah
kepada kecurigaan adanya gangguan tumbuh
kembang,8 misalnya anaknya lebih pendek dari teman
sebayanya, kepala kelihatan besar, umur 6 bulan
belum bisa tengkurap, umur 8 bulan belum bisa
duduk, umur 15 bulan belum bisa berdiri, 2 tahun
belum bisa bicara dan lain lain. Glascoe (1996)
melaporkan bahwa kecurigaan orangtua terhadap
perkembangan anaknya (dengan membandingkan
terhadap anak-anak lain) mempunyai korelasi yang
cukup tinggi dengan gangguan perkembangan
tertentu (walaupun mereka berpendidikan rendah
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
dan belum berpengalaman mengasuh anak). 5 lihat
tabel
pendidikan, kesehatan ibu selama hamil dan persalinan
(kadar Hb, status gizi, penyakit, pengobatan), jumlah
Positive predictive value
(Hubungan kecurigaan orang tua dengan gangguan perkembangan anaknya)
Kecurigaan orang tua pada perkembangan anak
Umum (“…anak saya ‘tertinggal’ dari anak lain…”)
Keterampilan gerak halus
Berbicara
Perilaku-emosi
Keterampilan sekolah (umur >4 tahun)
Keterampilan gerak kasar
Keterampilan social
Kemandirian
Probabilitas gangguan
80%
75%
55%
41%
40%
tidak bermakna
tidak bermakna
tidak bermakna
(Glascoe, 1996)5
Coplan dkk,.8 melaporkan bahwa penilaian
orangtua pada perkembangan bicara anaknya
mempunyai korelasi yang kuat dengan hasil kemampuan kognitif mereka. Namun orang tua tidak selalu
benar, karena 20-25% orang tua tidak mengetahui
bahwa anaknya terganggu perkembangannya, dan
banyak orang tua yang khawatir pada perkembangan
anaknya padahal tidak terganggu.6 Oleh karena itu kita
harus melakukan pemeriksaan fisis dan skrining
perkembangan untuk membuktikan apakah kecurigaan orang tua itu benar. Selanjutnya anamnesis dapat
diarahkan untuk mencari faktor-faktor risiko atau
etiologi gangguan tumbuh kembang yang disebabkan
oleh faktor intrinsik pada balita dan atau faktor
lingkungan.2,8,14
Faktor risiko pada balita (intrinsik, genetikheredokonstitusional)
Faktor risiko yang harus ditanyakan antara lain
retardasi pertumbuhan intra uterin, berat lahir
rendah, prematuritas, infeksi intra uterin, gawat janin,
asfiksia, perdarahan intrakranial, kejang neonatal,
hiperbilirubinemia, hipoglikemia, infeksi, kelainan
kongenital, temperamen, dan lain-lain. 13-15
Faktor risiko di lingkungan mikro
Faktor risiko pada ibu antara lain umur, tinggi badan,
anak dan jarak kehamilan, pengetahuan, sikap dan
ketrampilan ibu dalam mencukupi kebutuhan biopsikososial (‘asuh’, ‘asih’, ‘asah’) untuk tumbuh
kembang balitanya, penyakit keturunan, penyakit
menular, riwayat pernikahan (terpaksa, tidak direstui,
single parent, perceraian dan lain-lain), merokok,
alkoholism, narkoba, pekerjaan/penghasilan, dan lainlain.2,3,7,10-12,15
Faktor risiko di lingkungan mini
• Ayah: umur, tinggi badan, pendidikan, pekerjaan/
penghasilan, pengetahuan, sikap dan ketrampilan
ayah dalam mencukupi kebutuhan bio-psikososial
(‘asuh’, ‘asih’, ‘asah’) untuk tumbuh kembang
balitanya, penyakit, riwayat pernikahan (terpaksa,
tidak direstui, perceraian dan lain-lain), komitmen
perencanaan kehamilan, hubungan ayah-ibu dan
anak dan lain-lain.10-12
• Saudara kandung/tiri yang tinggal serumah:
jumlah, jarak umur, kesehatan (status gizi,
imunisasi, kelainan bawaan, gangguan tumbuh
kembang, penyimpangan perilaku), pendidikan,
hubungan dengan ayah-ibu dan lain-lain. 10-12
• Anggota keluarga lain serumah (nenek, kakek,
paman, bibi, pengasuh anak, pembantu): pengetahuan, sikap dan ketrampilan mencukupi
kebutuhan tumbuh kembang balita. Sarana
bermain, mainan (kubus, puzzle, kertas, pensil,
boneka, bola dan lain-lain). Contoh nilai-nilai,
177
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
•
aturan-aturan, penghargaan, hukuman dan lainlain.10-12
Sanitasi: cahaya, aliran udara, kebersihan lantai,
kamar tidur, ruang bermain, sumber air, kakus,
septic tank, selokan, pembuangan sampah dan lainlain.10-12
Faktor risiko di lingkungan meso
Tetangga (tingkat ekonomi, sikap dan perilaku
tetangga), teman bermain, sarana bermain, polusi,
pelayanan kesehatan (kualitas pelayanan Posyandu),
pendidikan (pendidikan usia dini, program bina
keluarga dan balita dan lain-lain), sanitasi lingkungan,
adat-budaya dan lain-lain dapat mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan bio-psikososial untuk tumbuh
kembang balita.10-12
Faktor risiko di lingkungan makro
Program-program untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan keluarga dalam mencukupi kebutuhan biopsikososial untuk tumbuh
kembang anaknya belum menjangkau semua
keluarga (terutama keluarga berpenghasilan
rendah), walaupun secara konseptual pemerintah,
organisasi profesi, perguruan tinggi (iptek), LSM,
WHO, Unicef dan lain-lain sejak lama peduli pada
masalah ini. 10-12 Demikian juga upaya deteksi dini
belum mendapat prioritas penting di dalam
program r utin dan belum didukung sarana
intervensi, serta belum mampu menjangkau semua
balita berisiko tinggi.
Pemeriksaan Fisis Rutin
Tinggi badan
Tinggi badan dapat digunakan untuk mendeteksi
gangguan pertumbuhan, yaitu dengan mengukur
panjang (tinggi) badan secara periodik, kemudian
dihubungkan menjadi sebuah garis pada kurva
pertumbuhan tertentu. Pada umumnya digunakan
kurva pertumbuhan yang dipublikasi oleh United
Stated National Center for Health Statitistic (NCHS)
pada tahun 1979 berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 1963-1975. 2 Sejak tahun
1983 oleh WHO kur va tersebut dianjurkan
digunakan untuk menilai status gizi dan pertumbuhan anak.
Walaupun sejak tahun 2000 oleh US Centre for
Disease Control (CDC) telah dipublikasikan kurva
pertumbuhan baru berdasarkan data National Health
and Nutrition Examination Survey tahun 1988-1994,
namun di Indonesia umumnya masih menggunakan
kurva tinggi badan NCHS 1979. Ada juga yang
menggunakan kurva Jumadias atau Yayah-Husaini.16
Seorang anak dicurigai mengalami gangguan pertumbuhan jika panjang (tinggi badan) selama
beberapa periode selalu di bawah persentil 3 (- 2 SD)
kurva pertumbuhan tinggi badan rata-rata anak pada
usia tersebut sesuai dengan jenis kelaminnya. 2,3,16,17
Namun keadaan tersebut belum tentu patologis,
karena dapat disebabkan oleh faktor genetik/familial,
atau lambat tumbuh konstistusional akibat keterlambatan maturasi (usia) tulang lebih dari 2 tahun
yang pada akhir masa remaja dapat mencapai
pertumbuhan normal.2,3,16,17 Oleh karena itu dengan
satu atau dua kali pengukuran, kita hanya dapat
menyebutkan bahwa ia berperawakan pendek atau
normal, namun belum dapat menyimpulkan status
pertumbuhannya. Untuk menyimpulkan status
pertumbuhan seorang anak harus dibandingkan
prakiraan tinggi akhir anak tersebut dengan potensi
tinggi akhir genetiknya.16,18
Prakiraan tinggi akhir anak dilakukan dengan
melanjutkan kurva pertumbuhan anak tersebut dengan
menarik garis lengkung sampai memotong garis umur
19-20 tahun sejajar dengan kurva terdekat.16 Potensi
tinggi akhir genetiknya dihitung dari rata-rata tinggi
badan kedua orangtuanya dengan rumus di bawah ini:
Potensi tinggi genetik pada masa remaja akhir16,18
Anak perempuan
Anak laki-laki
(tinggi ayah-13 cm)+tinggi ibu + 8,5cm (tinggi ibu+13 cm) + tinggi ayah + 8,5cm
2
178
2
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Dengan perhitungan di atas maka dapat ditentukan rentang potensi tinggi genetik pada akhir masa
remaja/dewasa muda. Kalau prakiraan tinggi akhir
ternyata masih masuk di dalam batas potensi genetik,
maka pertumbuhan anak umumnya dalam batas
normal. Jika prakiraan tinggi akhir di luar batas
potensi tinggi genetik, maka perlu dilakukan
pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor penyebabnya.16,18
Penyebab gangguan pertumbuhan tinggi
badan
Gangguan pertumbuhan dapat diakibatkan oleh
penyebab primer dan sekunder. Penyebab primer
antara lain kelainan pertumbuhan tulang (osteokondroplasia, osteogenesis imperfekta), kelainan
kromosom (sindrom Turner, Down, dan lain-lain),
kelainan metabolik (mukopolisakaridosis, mukolipidosis), dan faktor keturunan (genetik, familial).
Gangguan pertumbuhan akibat penyebab primer
umumnya sulit diperbaiki. 16-18
Penyebab sekunder antara lain retardasi pertumbuhan intra uterin, malnutrisi kr onik,
penyakit-penyakit kronik (infeksi, kelainan
jantung, paru, saluran cerna, hati, ginjal, darah dan
lain-lain), kelainan endokrin (defisiensi GH, IGF1, hipotiroidisme, kelebihan glukokortikoid,
diabetes melitus, diabetes insipidus, rickets hipopostamemia) dan kelainan psikososial (sindrom
deprivasi emosional). Ada perawakan pendek pada
anak yang akhirnya pada masa dewasa dapat
mencapai tinggi normal (dalam rentang midparental height), disebut lambat tumbuh konstistusional akibat keterlambatan maturasi (usia)
tulang lebih dari 2 tahun. 16-18
Gangguan pertumbuhan dapat berupa perawakan
jangkung, antara lain disebabkan oleh kelainan
endokrin (pituitary gigantism, sexual precocity,
tirotoksikosis, sindrom Beckwith-Wiedeman), kelainan
kromosom, dan variasi normal (genetik, konstitusional).16-18
Berat badan
Berat badan dapat membantu mendeteksi gangguan
pertumbuhan, yaitu dengan menimbang berat badan
secara periodik, kemudian dihubungkan menjadi
sebuah garis pada kur va berat badan yang
dipublikasi oleh United Stated National Center for
Health Statitistic (NCHS) pada tahun 1979.
Umumnya balita normal berat badannya selalu di
atas persentil 5 kurva NCHS, namun bisa naik atau
turun memotong 1-2 kurva persentil berat badan. 2
Jika kurva berat badan anak mendatar atau menurun
hingga memotong lebih dari 2 kurva persentil,
disebut failure to thrive (gagal tumbuh), bisa
disebabkan oleh faktor medik (organik, penyakit)
atau non medik (psikososial). Berat badan berkaitan
erat dengan masalah nutrisi (termasuk cairan,
dehidrasi, retensi cairan).2 Obesitas dapat dijumpai
dengan retardasi mental (sindroma Prader-Willi dan
Beckwith-Wiedeman). 8
.
Kepala
Perhatikan ukuran, bentuk dan simetri kepala.
Mikrosefali (lingkar kepala lebih kecil dari persentil
3) mempunyai korelasi kuat dengan gangguan perkembangan kognitif, sedangkan mikrosefali
progresif berkaitan dengan degenerasi SSP.
Makrosefali (lingkar kepala lebih besar dari
persentil 97) dapat disebabkan oleh hidrosefalus,
neurofibromatosis dan lain-lain. 4,8 Bentuk kepala
yang ‘aneh’ sering berkaitan dengan sindrom
dengan gangguan tumbuh kembang. Ubun-ubun
besar biasanya menutup sebelum 18 bulan
(selambat-lambatnya 29 bulan). 4,8,14 Keterlambatan
menutup dapat disebabkan oleh hipotiroidi dan
peninggian tekanan intrakranial (hidresefalus,
perdarahan subdural atau pseudotumor serebri). 4
Kelainan bagian dan organ tubuh lainnya
Kelainan yang dijumpai pada bagian-bagian tubuh dan
atau organ tubuh (terutama kelainan mayor) harus
diwaspadai kemungkinannya disertai sindrom yang
berkaitan dengan gangguan tumbuh kembang anak
(lihat lampiran).8,14
Pemeriksaan neurologis dasar
Pemeriksaan beberapa fungsi syaraf kranial, sistem
motorik (kekuatan otot, tonus otot, refleks-refleks),
sistem sensorik, cara berjalan dan lain-lain dapat
mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang
anak.4,19
179
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Skrining Perkembangan
Menurut batasan WHO, skrining adalah prosedur
yang relatif cepat, sederhana dan murah untuk
populasi yang asimtomatik tetapi mempunyai
risiko tinggi atau dicurigai mempunyai masalah. 13,20
Blackman (1992) menganjurkan agar bayi atau
anak dengan risiko tinggi (berdasarkan anamnesis
atau pemeriksaan fisik rutin) harus dilakukan
skrining perkembangan secara periodik. Sedangkan
bayi atau anak dengan risiko rendah dimulai
dengan kuesioner praskrining yang diisi atau
dijawab oleh orangtua. Bila dari kuesioner dicurigai
ada gangguan tumbuh kembang dilanjutkan
dengan skrining. 13
semua kemampuan (atau berdasarkan laporan
orangtuanya) pada semua persentil yang masuk dalam
garis umurnya. Walaupun ada 1 ketidakmampuan atau
menolak melakukan pada persentil 75-90 masih
dianggap normal. Dicurigai ada gangguan tumbuh
kembang jika ada 1 atau lebih ketidakmampuan pada
persentil > 90, atau 2 (atau lebih) ketidakmampuan/
menolak pada persentil 75-90 yang masuk garis
umurnya.21 Selain itu di dalam Denver II ada bagian
terpisah untuk menilai perilaku anak secara sekilas. 21
Tetapi Denver II tidak mampu mendeteksi gangguan
emosional,21 atau gangguan-gangguan ringan.2 Tidak
ada metoda skrining yang sempurna.13
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP)
Skrining perkembangan DENVER II
Skrining perkembangan yang banyak digunakan oleh
profesi kesehatan adalah Denver II,2,13,14 antara lain
karena mempunyai rentang usia yang cukup lebar (mulai
bayi baru lahir sampai umur 6 tahun), mencakup semua
aspek perkembangan dengan realiability cukup tinggi
(interrates reability = 0.99, test-retest reability = 0.90).13,20
Sampai tahun 1990 metode ini telah digunakan lebih
dari 54 negara dan telah dimodifikasi lebih dari 15 negara
(Frankenburgh dkk, 1990).20
Walaupun secara eksplisit metode ini untuk
mendeteksi 4 aspek perkembangan, tetapi di
dalamnya sebenarnya terdapat aspek-aspek lain
sebagai berikut:21
•
•
•
•
Gerak kasar
Gerak halus (di dalamnya terdapat aspek koordinasi mata dan tangan, manipulasi benda-benda
kecil, pemecahan masalah ),
Berbahasa (di dalamnya terdapat juga aspek
pendengaran, penglihatan dan pemahaman,
komunikasi verbal),
Personal sosial (di dalamnya terdapat juga aspek
penglihatan, pendengaran, komunikasi, gerak
halus dan kemandirian).
Uji Denver membutuhkan waktu cukup lama
sekitar 30-45 menit. Kesimpulan hasil skrining Denver
II hanya menyatakan bahwa balita tersebut: normal
atau dicurigai ada gangguan tumbuh kembang pada
aspek tertentu.21 Normal, jika ia dapat melakukan
180
Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari
Denver Prescreening Developmental Questionnaire
(PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapa
dokter spesialis anak, psikiater anak, neurolog, THT,
mata dan lain-lain pada tahun 1986. 22 Kuesioner ini
untuk skrining pendahuluan bayi umur 3 bulan
sampai anak umur 6 tahun yang dilakukan oleh
orangtua. Setiap umur tertentu ada 10 pertanyaan
tentang kemampuan perkembangan anak, yang harus
diisi (atau dijawab) oleh orangtua dengan ya atau
tidak, sehingga hanya membutuhkan waktu 10-15
menit (lihat lampiran).22 Jika jawaban ya sebanyak 6
atau kurang maka anak dicurigai ada gangguan
perkembangan dan perlu dirujuk, atau dilakukan
skrining dengan Denver II. Jika jawaban ya sebanyak
7-8, perlu diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Jika
jawaban ya 9-10, anak dianggap tidak ada gangguan,
tetapi pada umur berikutnya sebaiknya dilakukan
KPSP lagi.22
Untuk memperluas jangkauan skrining perkembangan Frankenburg dkk,. (1990) menganjurkan agar
lebih banyak menggunakan PDQ, karena mudah,
cepat, murah dan dapat dikerjakan sendiri oleh
orangtua atau dibacakan oleh orang lain (misalnya
paramedis atau kader kesehatan).20 Jika dengan PDQ
dicurigai ada gangguan perkembangan, anak tersebut
dirujuk untuk dilakukan skrining dengan Denver II
yang lebih rumit, lama dan harus dilakukan oleh tenaga
terlatih. 20 Kuesioner ini sampai sekarang masih
dianjurkan oleh Depkes untuk digunakan di tingkat
pelayanan kesehatan primer (dokter keluarga,
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Puskesmas) sering disebut sebagai ‘buku hijau’ berjudul
Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita
Depkes RI 1994 yang telah diuji coba di beberapa
propinsi, tetapi tampaknya jarang dimanfaatkan.
Bahkan beberapa dokter Puskemas tidak tahu adanya
buku tersebut, atau tidak tahu cara penggunaannya
karena tidak pernah diajarkan.
Buku Pedoman Pembinaan Perkembangan
Anak di Keluarga
Buku ini disusun oleh tim dari Fakultas Kedokteran
UI (terdiri dari dokter spesialis anak, psikiater anak,
neurologi, mata, THT), Fakultas Psikologi UI,
Depkes dan UNICEF pada tahun 1987-1988, untuk
digunakan oleh keluarga dan kader kesehatan dalam
memantau perkembangan anak umur 0 - 6 tahun. 23
Di dalam buku ini pada setiap rentang umur tertentu
dipilih 4 milestone perkembangan untuk umur
tersebut (masing-masing mewakili aspek gerak kasar,
gerak halus, bicara-bahasa kecerdasan, kemampuan
bergaul dan mandiri dari skala perkembangan
Denver) yang mudah dikenali atau dilakukan oleh
orangtua atau kader karena dilengkapi dengan
gambar-gambar yang mudah dimengerti (lihat
lampiran).23 Dengan buku berwarna merah muda ini
(buku pink) keluarga atau kader bisa menemukan
keterlambatan perkembangan balita untuk dirujuk
ke dokter keluarga atau Puskesmas terdekat. Oleh
karena itu buku ini sebenarnya merupakan instrumen
praskrining. Bahkan di dalam buku ini juga dijelaskan
cara melakukan stimulasi/intervensi dini oleh
keluarga atau kader kesehatan jika ditemukan
gangguan tumbuh kembang sebelum dirujuk.23 Ikatan
Dokter Anak Indonesia melalui Satgas Instrumen
Komite Tumbuh Kembang Anak Indonesia pada
tahun 1996 bersama BKKBN dan Depkes telah
membuat konsep buku Pedoman Deteksi Dini
Penyimpangan Tumbuh Kembang Balita dan
Kalender Tumbuh Kembang Balita bagi keluarga,
yang telah di uji coba di Bali, Jawa Timur dan Jawa
Tengah dengan milestone yang lebih sedikit. Tetapi
karena keterbatasan biaya belum disebarluaskan di
masyarakat.24
Kuesioner Skrining Perilaku Anak
Prasekolah (KSPAP)
Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari
Home Screening Questionnaire (Frankenburg, 1986)
oleh tim Departemen Kesehatan RI yang terdiri dari
beberapa dokter spesialis anak, psikiater anak,
neurolog, THT, mata dan lain-lain pada tahun
1986.22 Kuesioner terdapat di dalam ‘buku hijau’
berjudul Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang
Balita Depkes RI 1994, tetapi tampaknya jarang
dimanfaatkan. Bahkan beberapa dokter Puskemas
tidak tahu cara penggunaannya karena tidak pernah
diajarkan. Kuesionir ini berisi 30 perilaku anak (lihat
lampiran) yang ditanyakan kepada orangtua (oleh
kader kesehatan, guru atau diisi sendiri oleh
orangtua) untuk mendeteksi dini kelainan perilaku
anak prasekolah (3-6 tahun). Orangtua dapat
menjawab: tidak pernah (nilai 0), kadang-kadang
(nilai 1), atau sering (nilai 2), sesuai dengan perilaku
anaknya sehari-hari. Jika jumlah nilai seluruhnya
lebih dari 11, maka anak perlu dirujuk. Jika kurang
dari 11 tidak perlu dirujuk.22
Pediatric Symptom Checklist (PSC)
Kuesioner ini dipublikasikan oleh Jelllinek dkk (1988)
untuk skrining perilaku anak umur 4-16 tahun
berupa 35 perilaku anak yang harus dinilai oleh
orangtua (lihat lampiran). Orangtua dapat menjawab
tidak pernah (nilai 0), kadang-kadang (nilai 1), atau
sering (nilai 2), sesuai dengan perilaku anaknya seharihari. Jika jumlah nilai seluruhnya lebih dari 28, maka
anak perlu dirujuk. Jika kurang dari 28 tidak perlu
dirujuk.
Checklist for Autism in Toddlers (CHAT)
American Academic of Pediatrics (AAP) sejak 2001
merekomendasikan CHAT sebagai salah satu alat
skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum
autistik (autistic spectrum disorder) anak umur 18
bulan sampai 3 tahun, di samping PDDST
(pervasive developmental disorder screening test) yang
diisi oleh orangtua. 25 CHAT dikembangkan di
Inggris dan telah dipublikasikan oleh Cohen dkk,.
sejak tahun 1992 serta telah digunakan untuk
skrining lebih dari 16.000 balita. Walaupun
sensitivitasnya kurang, AAP menganjurkan dokter
menggunakan salah satu alat skrining tersebut. Bila
dicurigai ada risiko autis atau gangguan perkembangan lain maka dapat dir ujuk untuk
penilaian komprehensif dan diagnostik. 25
181
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Pemeriksaan Lanjutan
9.
Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan diagnosis dan
etiologinya tergantung kepada jenis gangguan tumbuh
kembangnya, misalnya pemeriksaan neurologis (klinis,
EEG, BERA dan lain-lain), radiologis, mata, THT,
psikiatris, psikologis, genetis (kromosom), endokrin
dan lain-lain.2,5,7,8,13-15,19
Intervensi
Intervensi selanjutnya tergantung jenis gangguan
tumbuh kembang dan faktor penyebabnya. Semakin
kompleks gangguan tumbuh kembangnya dan
etiologinya maka membutuhkan suatu tim yang lebih
lengkap dan terkoordinir, antara lain dapat melibatkan
spesialis anak, THT, mata, psikiter, rehabilitasi medik,
ortopedi, psikolog, terapis wicara, fisioterapis, pendidik
dan lain-lain.2,5,7,8,13-15
10.
11.
12.
13.
14.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
182
Unicef. Konvensi hak-hak anak. Dalam: Grant JP,
penyunting. Situasi anak-anak di dunia 1991. Jakarta:
Unicef 1991. h. 79-99.
Needlman RD. Growth and development. Dalam:
Behrman dkk, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics; edisi-16. Tokyo: Saunders, 2000. h. 23-65.
Hagerman RJ. Growth & development. Dalam: Hay
WW dkk, penyunting. Current pediatric diagnosis &
treatment; edisi-12. Connecticut: Prentice-Hall, 1995.
h. 65-84.
Ismael S. Ciri-ciri kelainan neurologis yang mudah
dikenal. Dalam: Pusponegoro HD dkk., penyunting.
Kelainan neurologis dalam praktek sehari-hari. Naskah
lengkap PKB IKA FKUI XXXIV; 21-22 April 1995.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1995.
Glascoe FP. Developmental screening. Dalam: Wolraich
ML, penyunting. Disorders of development learning;
edisi-2. St. Louis: Mosby, 1996. h. 89-128.
Glascoe FP. Developmental screening. Dalam: Parker S,
Zuckerman B, penyunting, Behavioral and developmental pediatrics. London: Litlle Brown, 1995. h. 25-9.
Pollak M. Textbook of developmental pediatrics. Tokyo: Churchil Livingstone, 1993:81-144.
Levy SE, Hyman SL. Pediatric assesment of the child
with developmental delay. Dalam: Batshaw ML,
penyunting. The Child with developmental disabilities.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
Pediat Clin North Am 1993; 40:465-77.
Berk LE. Child development; edisi-5. Singapore: Allyn
and Bacon, 2000. h. 479-519.
Sularyo TS. Periode kritis pada tumbuh kembang balita.
Dalam: Sularyo TS dkk, penyunting. Deteksi dan
intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang anak
dalam upaya optimalisasi kualitas sumber daya manusia.
Naskah lengkap PKB IKA FKUI; 21-23 November
1996. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1996.
Ismael S. Tumbuh kembang anak dalam pencapaian
potensi sumber daya manusia yang tangguh. Pidato
pengukuhan guru besar FKUI. Jakarta: FKUI, 1991.
Kobayashi N. Biological basis of social pediatrics, a view
of system theory and ecology. Bull Int Pediat Ass 1985;
3:197-201.
Blackman JA. Developmental screening: infants, toddlers, and preschoolers. Dalam: Levine dkk, penyunting.
Developmental behavioral pediatrics; edisi-2. Tokyo:
Saunders, 1992. h. 617-23.
Sulkes SB. Developmental and behavioral pediatrics.
Dalam: Behrman RE, Kliegman, RM, penyunting.
Nelson essentials of pediatrics; edisi-3. Tokyo: Saunders,
1998. h. 1-55.
Allen MC. The high risk infant. Dalam: Batshaw ML,
penyunting. The child with developmental disabilities.
Pediat Clin North Am 1993:479-90.
Rukman Y. Perawakan pendek. Dalam: Rukman Y dkk,
penyunting. Masalah penyimpangan pertumbuhan
somatik dan perkembangan seksual pada anak. Naskah
lengkap PKB-IKA FKUI XIII; 21-22 Februari 1986.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1986.
Styne DM, Glaser NS. Endocrine disorders. Dalam:
Behrman RE dan Kliegman RM, penyunting. Nelson
essentials of pediatrics; edisi-3. Tokyo: Saunders, 1998.
h. 647-93.
Assin SM. Peran hormon dalam proses tumbuh kembang
anak dan remaja. Pidato pengukuhan gurubesar. Jakarta:
FKUI, 1992.
Haslam RHA. Neurologic evaluation. Dalam: Behrman
dkk, penyunting. Nelson textbook of pediatrics; edisi16. Tokyo: Saunders, 2000. h. 1793-9.
Frankenburg WK dkk. Denver II technical manual.
Denver: Denver developmental materials, 1990.h.1-20.
Frankenburg WK, Dodds J, Archer P. Denver II training manual. Denver: Denver developmental materials,
1990. h. 1-16.
Gunawan N. Pedoman deteksi dini tumbuh kembang
balita. Jakarta: Depkes RI, 1994. h. 1-120.
Gunawan N. Pedoman pembinaan perkembangan
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
anak di keluarga. Jakarta: Depkes RI, 1993. h. 774.
24. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman deteksi dini
penyimpangan tumbuh kembang balita bagi keluarga.
Denpasar: IDAI, 1996.
25. Committee on Children with Disabilities American
Academy of Pediatrics. Technical report: The
Pediatrician’s role in the diagnosis and management
of austistic spectrum disorder in children. Pediatrics
107; 5:1-18.
183
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
CHAT
(Checklist for Autism in Toddlers)
Untuk anak 18 bulan atau lebih
Sumber: American Academy of Pediatrics, Committee on Children with Disabilities.
Technical Report: The Pediatrician’s Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder in Children Pediatrics
107: 5 May 2001
Interpretasi
ß
ß
ß
Risiko tinggi menderita autis: bila tidak bisa melakukan A5, A7, B2, B3 dan B4
Risiko kecil menderita autis: tidak bisa melakukan A7 dan B4
Kemungkinan gangguan perkembangan lain: tidak bisa melakukan > 3
ß Dalam batas normal: tidak bisa melakukan < 3
Bagian A. Alo – anamnesis
Apakah anak anda
1. Senang diayun-ayun atau diguncang-guncang naik-turun (bounced) di lutut ?
2. Tertarik (memperhatikan) anak lain ?
3. Suka memanjat benda-benda, seperti memanjat tangga ?
4. Bisa bermain cilukba, petak umpet ?
5. Pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau
permainan lain ?
6. Pernah menunjuk atau meminta sesuatu dengan menunjukkan jari ?
7. Pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana ?
8. Dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil mainan atau balok-balok) ?
9. Pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu ?
Bagian B. Pengamatan
1.
Selama pemeriksaan apakah anak menatap (kontak mata dengan) pemeriksa ?
2.
Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil
mengatakan : “Lihat, itu. Ada bola (atau mainan lain)” Perhatikan mata anak, apakah anak melihat ke benda
yang ditunjuk. Bukan melihat tangan pemeriksa
3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas / cangkir dan teko. Katakan pada
anak anda : ‘ Apakah kamu bisa membuatkan secangkir susu untuk mama ?”
Diharapkan anak seolah-olah membuat minuman, mengaduk, menuang, meminum.
Atau anak mampu bermain seolah-olah menghidangkan makanan, minuman, bercocok
tanam, menyapu, mengepel dll
4. Tanyakan pada anak : “ Coba tunjukkan mana ‘anu’ (nama benda yang dikenal anak dan ada
di sekitar kita). Apakah anak menunjukkan dengan jarinya ? Atau sambil menatap wajah
anda ketika menunjuk ke suatu benda ?
5. Dapatkah anak anda menyusun kubus / balok menjadi suatu menara ?
184
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Keterangan :
CHAT dikembangkan di Inggris dan telah digunakan untuk penjaringan lebih dari 16.000
balita. Pertanyaan berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint
attention.
Pertanyaan A5, 7 dan B2, 3, 4 paling penting. Anak yang tidak bisa melakukan hal-hal
tersebut ketika di uji 2 kali (jarak 1 bulan) semua kemudian terdiagnosis sebagai autis ketika
berumur 20-42 bulan. Tetapi anak dengan keterlambatan perkembangan yang menyeluruh
juga tidak bisa melakukannya. Oleh karena itu perlu menyingkirkan kemungkinan retardasi
mental.
185
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Lampiran 1
Beberapa kemampuan gerak kasar, halus, komunikasi, dan sosial-kemandirian yang dapat dilakukan oleh 75% dan 90%
bayi dan anak pada umur 0-3 tahun5
Mulai umur
(bulan)
0-1
1-2
2-3
3-4
4-5
5-6
6-7
7-8
9-12
12-15
15-18
186
Kemampuan perkembangan
75% Denver II
(bulan)
Bereaksi terhadap suara bel
-
90% Denver II
(bulan)
Sejak lahir
Membalas senyuman
1,2
1,5
Tersenyum spontan
1,4
2,1
Mengoceh
1,6
2,7
Mengangkat kepala 45o ketika tengkurap
1,8
2,7
Mata mengikuti benda yang digerakkan
1,9
2,8
3,1
Tertawa
2,5
Berteriak
2,8
4,3
Tangan saling berpegangan
2,9
4,0
Mengangkat kepala 90o ketika tengkurap
2,9
3,6
Kepala tegak ketika didudukkan
3,0
3,7
Memandang tangannya sendiri
3,1
4,0
Memegang mainan
3,7
3,9
Menoleh ke kanan dan ke kiri
3,8
4,5
Mengangkat dada ketika tengkurap
4,0
4,6
Tengkurap sendiri, telentang sendiri
4,3
5,4
Mengamati benda-benda kecil, gambar
4,4
5,2
Menoleh ke suara kerincingan
4,7
5,6
Berusaha meraih mainan
5,3
5,9
Menoleh ketika dipanggil namanya
5,6
6,6
Memasukkan tangan/biskuit ke mulut
5,9
6,5
Duduk tanpa dipegang
6,3
6,8
Mencari benda jatuh/disembunyikan
6,5
7,2
Mengucapkan satu suku kata: ba, pa, ma
6,6
7,7
Memegang 2 mainan dengan tangan kanan-kiri
7,1
9,1
Mengucapkan suku kata bersambung: babababa
7,4
10,1
Berdiri dipegang
7,8
8,5
Berdiri sendiri tanpa dibantu
9,1
9,7
Melambaikan tangan (bye-bye)
9,2
14,0
Menunjuk untuk minta sesuatu
11
12,9
Memanggil mama-papa
11
13,3
Menirukan kegiatan: menyapu, mengepel
12,5
16
Memasukkan kubus ke gelas
12,4
13,8
Berbicara 1 kata
13,3
15
Berjalan
13,6
14,9
Berbicara 2 kata
14,6
16,5
Mencoret-coret
14,8
16,3
Minum dari cangkir
15,8
17,1
Berbicara 3 kata
15,8
18,0
Menumpuk 2 kubus
17,1
20,6
Berlari
17,8
19,9
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
18-24
24-30
30-36
Berbicara 6 kata
18,8
21,4
Menunjukkan 2 benda/gambar sesuai namanya
20,9
23,6
Menggabungkan beberapa kata
22,4
26
Menunjukkan 6 bagian tubuh yang ditanyakan
22,6
29
Menyebutkan nama 1 benda/gambar
23,9
28
Menumpuk 4-6 kubus
24
37
Menunjukkan 4 benda/gambar sesuai namanya
26
30
Berbicara 50% dimengerti
26
35
Memakai pakaian
27
30
Menyikat gigi dengan bantuan
27
33
Mencuci tangan kemudian di lap sendiri
28
38
Melompat
27
29
Menyebutkan nama 4 benda/gambar
31
35
Menunjukkan gambar 2 kegiatan yang disebutkan
34
41
Mengerti arti 2 kata sifat (dingin, panas, enak, sakit)
36
43
Memakai baju kaus sendiri
36
41
Mencoret garis tegak (menirukan)
34
39
Menumpuk 8 kubus
33
40
187
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001
Lampiran 2
Pediatric Symptom Checklist
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
188
Sering mengeluh nyeri (lokasi berpindah, tanpa sebab yang jelas)
Lebih sering menyendiri
Cepat merasa lelah, tidak bertenaga
Gelisah, tidak bisa duduk tenang
Sering bermasalah dengan guru
Kurang minat (kurang terlibat dalam kegiatan) di sekolah
Berperilaku seperti dikendalikan oleh motor (selalu bergerak kesana kemari)
Banyak melamun
Mudah beralih perhatian, bingung
Takut pada suasana baru
Sering terlihat sedih, tidak gembira
Mudah marah
Mudah putus asa
Sukar berkonsentrasi
Tidak suka berteman
Sering berkelahi dengan anak lain
Sering tidak masuk sekolah atau membolos
Tidak naik kelas
Merendahkan atau menyalahkan diri sendiri
Sering ke dokter tetapi tidak ditemukan kelainan
Sukar tidur
Sering merasa khawatir yang tidak beralasan
Lebih sering ingin selalu di dekat orang tua
Merasa dirinya jelek
Nekat, mengambil risiko yang tidak ada manfaatnya
Sering terluka
Merasa kurang bahagia
Bertingkah seperti anak yang lebih muda usianya
Tidak mempedulikan aturan
Tidak menunjukkan perasaan
Tidak dapat merasakan perasaan orang lain
Sering mengganggu orang lain
Sering menyalahkan orang lain, pada kesalahan yang dibuatnya
Mengambil barang orang lain
Menolak untuk berbagi dengan orang lain
Fly UP