...

perubahan pendapatan nasional

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

perubahan pendapatan nasional
PERUBAHAN PENDAPATAN NASIONAL
GNP bukan saja dapat berubah, bahkan harus diupayakan agar berubah (meningkat) dan
diupayakan juga agar jangan sampai menurun. Mengapa? Karena GNP menyatakan tingkat kemakmuran
suatu perekonomian dan laju pertumbuhannya menyatakan kemajuan ekonominya. Jika GNP meningkat
pendapatan per kapita juga akan meningkat dan hal ini menyatakan meningkatnya tingkat
kesejahteraan penduduknya. Dan meningkatnya GNP merupakan salah satu kebijakan utama ekonomi di
Negara manapun juga.
Apabila terjadi perubahan di dalam besar atau jumlah output yang dihasilkan dalam sesuatu
periode tertentu, pendapatan nasional pun tentu akan berubah pula, sebagaimana GNP sehingga NNP
juga akan berubah. Hal itu disebabkan karena GNP merupakan penjumlahan output, baik barang
maupun jasa. Akan tetapi, GNP juga dapat berubah besarnya, tidak karena perubahan jumlah output
yang dihasilkan seperti itu, namun disebabkan karena perubahan harga semata-mata. Hal tersebut
disebabkan karena semua output yang dihasilkan oleh sesuatu bangsa itu pertama sekali dinilai
menurut harga jualnya (atau nilai pasar).
Jika ada terjadi perubahan di dalam tingkat harga/nilai pasar barang-barang dan jasa-jasa, GNP
juga akan berubah besarnya. Dengan perkataan lain, karena GNP merupakan nilai pasar semua barang
dan jasa yang dihasilkan oleh sesuatu bangsa selama suatu periode tertentu, sehingga perubahan nilai
(atau harga) pasar itu tentulah akan mengubah GNP pula. Demikianlah, GNP dapat berubah baik karena
berubahnya jumlah output yang dihasilkan, atau karena perubahan harga-harga, maupun karena
perubahan kedua-duanya.
A. Kenaikan dan Penurunan Harga
Apabila harga-harga naik, kebanyakan orang akan merasa menjadi lebih miskin daripada keadaan
sebelumnya, sekalipun ternyata jumlah pendapatan yang mereka terima tetap sama. Misalkanlah gaji
yang diterima oleh si A meningkat dari Rp 300.000,00 menjadi Rp 330.000,00-sebulan. Itu berarti gaji si
A telah naik sebesar 10% selama bulan itu. Namun demikian, apabila pada bulan itu pula tingkat harga
umum telah naik dengan kenaikan sebesar 10% (sama dengan kenaikan pendapatan) apakah hal itu
berarti si A telah menjadi kaya sesudah kenaikan pendapatannya itu? Bahkan, jika pendapatan si B telah
mengalami kenaikan sebesar 25%, namun tingkat harga umum mengalami kenaikan sebesar 30%, si B
bukan saja tidak menjadi semakin kaya, tetapi lebih daripada itu, bahkan menjadi lebih miskin, sekalipun
pendapatannya dinaikkan.
Di dalam ‘Bahasa Ekonomi’, untuk si A tersebut dikatakan bahwa pendapatan uang (money income)nya bertambah, tetapi secara riil pendapatannya tidak mengalami perubahan, atau pendapatan riil (real
income)-nya tetap karena kenaikan pendapatannya itu telah diimbangi dengan tepat oleh kenaikan
tingkat harga sehingga apa yang sekarang dapat dibelinya sama saja dengan apa yang dahulu dapat
dibeli (sebelum pendapatannya naik). Dengan kata lain, daya beli si A tidak mengalami perubahan.
Hal yang parah adalah keadaan si B. pendapatan uangnya memang naik pesat dengan kenaikan
sebesar 25%, namun kenaikan pendapatannya ini telah diikuti dengan kenaikan tingkat harga umum
yang bahkan lebih tinggi dari presentase kenaikan pendapatannya. Akibatnya adalah real income si B,
sesudah kenaikan money income-nya itu, justru semakin turun. Akibatnya lebih lanjut adalah bahwa apa
yang sekarang dapat dibeli oleh si B ini justru menjadi lebih kecil atau lebih sedikit dari apa yang dahulu
dapat dibelinya dengan pendapatannya. Dengan kata lain, daya beli (purchasing power) si B mengalami
penurunan.
•
Rasio Harga dam Tahun Dasar
Di dalam ilmu statistika, kenaikan tingkat harga serta penurunannya dinyatakan melalui rasio harga.
Rasio harga menunjukkan perbandingan tingkat harga sesuatu produk tertentu antara tingkat harga
pada sesuatu periode tertentu dengan tingkat harga yang terjadi di periode lainnya. Rasio harga itu pun
berguna untuk menyatakan perubahan tingkat harga dari tahun ke tahun, dan bulan ke bulan, minggu
ke minggu, dan bahkan hari ke hari.
Apabila rasio harga menunjukkan kenaikan, itu berarti harga produk yang sedang dibicarakan itu
pun pasti juga naik. Adapun tahun yang dijadikan sebagai dasar pembanding itu disebut sebagai tahun
dasar (base year).
Adapun rasio harga (price ratio) dengan rumus :
R=
Pn
x100
P0
Di mana :
R = rasio harga
P0 = harga di tahun 0, yakni tahun dasar atau tahun awal perhitungan
Pn = harga di tahun yang sedang dihitung
Jika kita ingin mengetahui besarnya tingkat kenaikan harga, kita bisa memerhatikan rasio harga di
kedua tahun, tidak sekedar pengurangan, melainkan dengan membandingkannya. Singkatnya, kenaikan
harga (dalam persen) sebagai berikut :
∆P =
R2 − R1
x100
R1
Di mana :
ΔP = perubahan harga (dalam persen)
R = rasio harga
Dengan cara lain, presentase perubahan harga dari tahun pertama ke tahun ke-dua itu dapat dicari
tanpa memperhatikan rasio harga, melainkan langsung harganya saja di masing-masing tahun, dengan
rumus sebagai berikut :
∆P =
Di mana :
ΔP = perubahan harga (dalam persen)
P = harga (price)
P2 − P1
x100
P1
B. Menghitung Indeks Harga
Untuk keperluan perhitungan GNP, output yang membentuk GNP terdiri dari ratusan, ribuan, dan
bahakan jutaan jenis serta ragam output; dan tidak hanya itu saja, setiap output itu pun dihasilkan
dalam jumlah yang sangat besar.
Benarlah demikian sebab output yang membentuk GNP itu bisa saja berwujud tiket bioskop, mobil,
pisau silet, tas, jasa pendidikan, mercon, kue bolu dan sekian ribu jenis lainnya lagi,yang masing
masingnya dihasilkan dengan jumlah yang sangat banyak. Untuk semua jenis output (baik barang
maupun jasa) itu kita harus mampu menyatakan : ”Tingkat harga umum lenih naik atau turun,sekian
persen”. Yang artinya kita akan mengetahui perubahan tyingkat harga umum, yakni perubahan semua
barang dan jasa secara bersama sama.
Untuk itu dibuat besaran yang dapat menggambarkan tingkat perubahan harga harga secara umum.
Besaran harga ini dinyatakan dalam Indeks Harga. Tujuan pembuatan angka indeks harga itu sendiri
adalah untuk mengukur secara kuantitatif terjadinya perubahan dalam periode waktu yang berlainan.
• Jenis-Jenis Indeks Harga
1. Indeks Harga Konsumen (IHK)
Indeks harga konsumen mengukur perubahan harga sekelompok besar barang yang dibeli oleh
konsumen. IHK mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut :
a. Memungkinkan konsumen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan harga terhadap
tingkat daya beli mereka.
b. Merupakan salah satu indikator dalam mengetahui tingkat inflasi dan tingkat keberhasilan kegiatan
ekonomi.
c. Menentukan daya beli mata uang tertentu.
2. Indeks Harga Perdagangan Besar
3. Indeks harga perdagangan besar berguna untuk mengukur perubahan harga pada dua periode. Yang
diukur dalam indeks harga perdagangan besar adalah bahan mentah dan barang jadi yang
diperjualbelikan di pasar primer dan harga yang digunakan adalah harga produsen.
Indeks Harga yang Dibayar dan Diterima Petani
Indeks harga yang dibayar dan diterima petani adalah indeks harga barang-barang yang dibeli dan
dibayar oleh petani untuk melakukan proses produksi dan mencukupi kebutuhan hidup. Indeks harga
yang dibayar petani digunakan untuk mengukur perubahan harga dan dipengaruhi oleh perubahan
kualitas barang-barang yang disimpan oleh para pedagang.
Pada indeks harga ini disebutkan bahwa untuk menghitung semua output jenis barang dan jasa yang
ada di Indonesia namun tidak berarti semua jenis barang dan jasa yuang dihasilkan tersebut yang
diperhitungkan dan dijumlahkan, pemerintah telah menetapkan beberapa jenis barang dan jasa yang
hendak diperhitungkan didalam perhitungan indeks harga, yakni beberapa jenis barang dan jasa yang
paling banyak dibeli oleh konsumen / masyarakat. Contohnya saja : beras, gula, kain kasar, batik kasar,
minyak kelapa, minyak tanah, garam, ikan asin dan sabun cuci. Kemudian, dari situlah indeks harga
dihitung. Pada tahun 1967,kesembilan bahan pokok tersebut dirasa kurang sesuai, lalu direvisi menjadi
62 jenis barang konsumsi. Selanjutanya, 62 jenis barang konsumsi itu kini diperkuas lagi hingga sekarang
ini mencakup 400 jenis barang dan jasa di semua ibu kota provinsi.
•
Perhitungan Indeks Harga
Angka indek harga adalah angka indek yang menunjukkan perubahan harga dari suatu periode ke
periode lainnya. angka indek harga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pn =
Pn
x100%
P0
Keterangan :
Pn = Harga sekarang
P0 = Harga pada tahun dasar
Pada masalah tahun dasar (base year) pada hakikatnya, setiap orang boleh saja memilih tahun mana
pun yang ingin dijadikan sebagai tahun dasar. Namun demikian,yang biasa dipakai untuk pegangan
dalam pemilihan tahun dasar itu adalah :
1. Suatu tahun yang di tahun itu tidak terjadi suatu kegoncangan harga yang berarti;
2. Suatu tahun yang mana terjadi suatu peristiwa penting di bidang ekonomi; misalnya saja pada tahun
1969 (mulainya Pelita I) , tahun 1971 (sensus penduduk) dan pada tahun 1993 (Keppres).
Di Indonesia, tahun dasar ditetapkan berdasarkan sebuah Keputusan Presiden. Tahun yang dipakai
sebagai tahun dasar selalu berubah-ubah karena pola konsumsi serta jenis produk yang lazim dibeli
masyarakat juga selalu berubah. Jika tidak dilakukan perubahan dan penyesuaian terus-menerus,
perubahan GNP tidak akan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Telah ditetapkan bahwa tahun dasar Indonesia berubah tiap 10 tahun sekali. Saat ini, dalam Pidato
Kenegaraan Presiden di depan anggota DPR tanggal 16 Agustus 1995, ditetapkan bahwa tahun dasar
yang dipakai adalah tahun 1993.
Perubahan tahun dasar ini dilakukan bersamaan dengan perubahan jumlah sektor GDP Indonesia.
C. Tingkat Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terusmenerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu
konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang
(proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu). Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan
tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan
inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses
kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga
digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga.
• Jenis-jenis Inflasi
A. Inflasi dilihat dari asalnya, dibedakan menjadi :
1. Inflasi dari dalam negeri (domestic inflation) adalah inflasi yang disebabkan oleh terjadinya
peristiwa ekonomi di dalam negeri. Contoh : gagal panen secara menyeluruh.
2. Inflasi dari luar negeri (imported inflation) adalah inflasi yang disebabkan tingginya harga
barang-barang yang dibeli dari luar negeri. contoh : harga bahan baku untuk produksi dalam
negeri.
B. Inflasi dilihat dari tingkat keparahan
1. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun
2. Inflasi Sedang antara 10%—30% setahun
3. Inflasi berat antara 30%—100% setahun dan
4. Hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100%
setahun.
•
Penyebab Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat
tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi
(product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi) dan yang akan dijelaskan sebagai
berikut :
1. Tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar)
Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral),
sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang
dalam
hal
ini
dipegang
oleh
Pemerintah
(Government)
seperti
fiskal
(perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang
berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan
yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas
yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan
terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu
kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat.
2. Desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service)
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga
termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang
meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi
yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya
hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru
terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa
terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll),
bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi
(penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga
hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan
peranan yang sangat penting.
•
Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga.
Indeks harga tersebut di antaranya:
 Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga
rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
 Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
 Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang
dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan
tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang
kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
 Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
 Indeks harga barang-barang modal
 Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi
lokal, barang jadi, dan jasa.
•
Dampak Positif dan Negatif Inflasi
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila
inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian
lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja,
menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi
inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan
lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi
karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau
karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga
hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.




Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Sebaliknya, orang yang
mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan
dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji
mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun.
Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap
saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang.
Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan
masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat
pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam.
Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang
pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada
kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan
produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya
biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk
meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu.
Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut
(biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
• Cara menghitung inflasi dengan IHK
1. Untuk menghitung besarnya inflasi terlebih dahulu harus diketahui indek harga konsumen (IHK).
2. Dengan rumus :
IHK =
HARGASEKARANG
X 100%
HARGAPADATAHUNDASAR
Contoh menghitung IHK :
Harga jenis barang tertentu pada tahun 2003 Rp. 50.000 dan harga pada tahun dasar Rp. 40.000,
maka IHK tahun 2003 adalah...
IHK =
50.000
X 100% =125%
40.000
3. Rumus untuk menghitung Laju inflasi adalah :
Laju Inflasi = IHK periode n – IHK tahun sebelumnya
Contoh soal :
IHK bulan Agustus 2009 sebesar 115,34% dan IHK pada bulan september 2009 sebesar 125,30%,
maka laju inflasi bulan september adalah ....
Jawab :
Laju inflasi = 125,30% - 115,34% = 9.96%
D. Pengaruh Perubahan Tingkat Harga Terhadap GNP
Perubahan tingkat harga umum berpengaruh terhadap GNP yang ditunjukkan oleh angka indeks
harga.
Tahun
GNP menurut harga berlaku
(Rp miliar)
IHK
GNP menurut harga konstan
(Rp miliar)
(1)
(2)
(3)
(4)
2001
56494
100
36494
2002
58237
103
56541
2003
59945
105
57090
Tabel di atas menunjukkan perkembangan GNP sebuah Negara selama tahun 2001-2003. GNP terus
menerus menunjukkan kenaikan yang mengesankan, seperti yang terlihat pada kolom 2. Berikut ini
adalah keterangan dari tabel di atas.
1. Tahun dasarnya yaitu tahun 2001 yang memiliki indeks harga 100.
2. Menurut IHK, tingkat harga dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan yang ditunjukkan oleh
angka indeks harga konsumen yang selalu menunjukkan kenaikan.
3. GNP menurut harga berlaku yaitu besarnya nilai GNP menurut harga pasar yang terjadi di tahun
yang bersangkutan. Dalam tabel di atas ditunjukkan pada kolom 2, dimana besarnya GNP apabila
seluruh output yang tergabung didalamnya dinilai menurut harga pasar yang berlaku pada tahun
yang bersangkitan pada tahun itu juga.
4. GNP menurut harga konstan yaitu besarnya GNP apabila diukur dengan tingkat harga yang berlaku
pada tahun dasar. Dalam tabel di atas ditunjukkan oleh kolom 4, yang berarti diukur menurut hargaharga yang berlaku tahun 2001 yang merupakan tahun dasar.
Cara menemukan nilai GNP menurut harga konstan (GNP at constant price) adalah dengan membagi
GNP menurut harga berlaku (GNP at market prices) dengan indeks harga sendiri, kemudian mengalikan
hasilnya dengan 100.
GNP menurut harga konstan =
  ℎ 
− 
100
GNP at constant price atau GNP menurut harga konstan itu sering pula disebut sebagai deflated GNP
(to be deflated =
disedot, dikosongkan), yang maksudnya adalah jumlah yang tertera di situ
sudah di kosongkan, sudah dibersihkan dari pengaruh perubahan-perubahan harga-harga. Mengikuti
istilah deflate ini, maka angka IHK itu pun lalu disebut dengan sebutan GNP deflator.
Sebelum tahun dasar, GNP menurut harga berlaku akan selalu lebih rendah dibandingkan dengan
GNP harga konstan. Hal ini disebabkan oleh IHK yang yang sebelum tahun dasar, pasti lebih rendah dari
IHK tahun dasar. Sebaliknya, sesudah tahun dasar, nilai GNP menurut harga berlaku akan selalu lebih
rendah dibandingkan dengan GNP menurut harga konstan, IHK pasti lebih tinggi dibandingkan dengan
IHK tahun dasar.
Fly UP