...

Penutupan defek dasar tengkorak dengan pendekatan endoskopi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Penutupan defek dasar tengkorak dengan pendekatan endoskopi
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
Penutupan defek dasar tengkorak
Laporan Kasus
Penutupan defek dasar tengkorak dengan pendekatan endoskopi
menggunakan jabir Hadad-Bassagasteguy
Umar Said Dharmabakti, Hably Warganegara
Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta
ABSTRAK
Latar belakang: Defek pada dasar tengkorak dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal (CSS) ke
rongga hidung. Defek ini berisiko menyebabkan komplikasi yang berbahaya dan mungkin fatal, oleh karena itu
perlu penatalaksanaan segera berupa rekonstruksi penutupan. Penutupan defek dengan pendekatan endoskopi
dilaporkan memiliki angka keberhasilan yang tinggi. Jabir nasoseptal atau yang dikenal juga sebagai jabir
Hadad-Bassagasteguy (HB) merupakan jabir pilihan untuk menutup defek dasar tengkorak. Tujuan: Kasus ini
diajukan untuk menyampaikan pengetahuan adanya jabir dari mukoperikondrium dan mukoperiosteum septum
yang menjadi pilihan untuk menutup defek dasar tengkorak. Kasus: Dilaporkan pasien seorang wanita usia 42
tahun dengan diagnosis rinore CSS spontan. Defek teridentifikasi pada sisi lateral sinus sfenoid kanan.
Penatalaksanaan: Dilakukan penutupan defek per endoskopi menggunakan obliterasi tandur lemak dan jabir
HB. Pada follow up selama 1,5 tahun tidak didapatkan kebocoran CSS berulang. Kesimpulan: Jabir nasoseptal
merupakan pilihan dalam penutupan defek dasar tengkorak yang memiliki proses penyembuhan lebih cepat dan
menurunkan risiko terjadinya kebocoran CSS berulang pascapenutupan.
Kata kunci: Defek dasar tengkorak, jabir Hadad-Bassagasteguy, jabir nasoseptal.
ABSTRACT
Background: Defect on a skullbase can lead to a leakage of cerebrospinal fluid (CSF) through the nasal
cavity. The skullbase defect needs immediate management and repair because of the possibility of dangerous or
even fatal complications. The repair of CSF leakage with endoscopic method has a high success rate. Nasoseptal
flap (Hadad-Bassagasteguy flap) is the chosen method in skullbase defect reconstruction. Purpose: We present this
case to enlighten otorhinolaryngologist that mucoperichondrium and mucoperiosteal flap from the nasal septum
could be the method of choice for repairing the defect on a skullbase. Case: We reported a case of 42 years old
woman diagnosed with spontaneous CSF leak rhinorrea. The defect was identified at the lateral side of the right
sphenoid sinus. Management: The repair was performed using fat graft and Hadad-Bassagasteguy flap to close the
defect. In 18 months follow up, there was no recurrent CSF leak. Conclusion: Nasoseptal flap is the method of
choice in skullbase defect reconstruction because it has some advantages, it can heal faster and decrease the risk of
recurrent CSF leak.
Key words: Skull base defect, Hadad-Bassagasteguy flap, nasoseptal flap.
Alamat korespondensi: Umar Said Dharmabakti, e-mail: [email protected], Hably Warganegara, email: [email protected] Departemen THT FKUI-RSCM Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta Pusat,
10430.
PENDAHULUAN
(CSS) apabila ada fistula antara ruang sub-
Defek dasar tengkorak dapat terjadi
arakhnoid dan dasar tengkorak yang me-
akibat trauma kecelakaan, trauma operasi,
nyebabkan mengalirnya CSS melalui hidung.
tumor atau secara spontan. Defek ini dapat
Defek ini dapat terjadi pada lamina kribi-
menyebabkan rinore cairan serebrospinal
formis, sinus frontal, sinus etmoid atau
141
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
sinus sfenoid. Diagnosis kebocoran CSS me-
Anterior ethmoid
Posterior ethmoid
liputi anamnesis, pemeriksaan fisik, peme-
Sphenopalatine
Keisselbach’s
Plexus
riksaan nasoendoskopi serta pemeriksaan penunjang (pemeriksaan fluoresens, radiologi
dan β2 transferin).1-7
Rinore CSS memerlukan tatalaksana dan
rekonstruksi penutupan kebocoran segera
karena dapat menyebabkan komplikasi yang
berbahaya sampai fatal. Penatalaksanaan
awal adalah konservatif selama 1-2 minggu
yang bertujuan untuk mengurangi aliran kebocoran CSS dengan mengurangi tekanan
intra-kranial (TIK) sehingga defek dapat
menutup tanpa intervensi bedah. Bila tidak
terjadi perbaikan, dilakukan penatalaksanaan
operasi. Penutupan kebocoran CSS dengan
pendekatan endoskopi dilaporkan memiliki
angka keberhasilan 90-100% dan menjadi
pilihan pertama dalam penutupan kebocoran
CSS dalam 20 tahun terakhir.1,4-8
Saat ini penutupan defek dasar tengkorak
dengan pendekatan endoskopi menggunakan
jabir nasoseptal (dikenal juga sebagai jabir
Hadad-Bassagasteguy) menjadi pilihan. Jabir
HB adalah jabir pedikel bervaskular dari
mukoperiosteum
dan
muko-perikondrium
septum nasi yang diperdarahi oleh a. nasoseptal, cabang terminal dari a. maksilaris
interna. Arteri nasoseptal (gambar 1) memperdarahi seluruh septum yang beranastomosis dengan pembuluh darah lainnya.1,2,9-12
Pemakaian jabir nasoseptal dapat mengurangi kebocoran CSS pascaoperasi dari
>20% menjadi <5%. Hadad et al9 melaporkan
penutupan defek menggunakan jabir HB
memiliki angka keberhasilan 95,5% (42
dari 44 pasien).13
142
Superior
labial
Greater palatine
ARTERI DINDING
LATERAL NASAL
ARTERI DINDING SEPTUM
Gambar 1. Pendarahan jabir nasoseptal.14
* = arteri nasoseptal (pedikel jabir HB).
Pengambilan Jabir HB diawali dengan
infiltrasi lidokain 0,5-1% dengan epinephrine
1/100.000-1/200.000. Jabir didesain mengikuti ukuran dan bentuk dari defek yang akan
ditutup. Dua insisi horizontal dilakukan
mengikuti potongan sagital septum, insisi
pertama dibuat di atas krista maksilaris dan
insisi kedua dibuat 1-2 cm di bawah sisi
paling superior dari septum. Kedua insisi
kemudian disatukan di bagian anterior
dengan insisi vertikal. Elevasi dimulai dari
bagian anterior ke posterior dengan preservasi
saraf dan pembuluh darah pedikel pada bagian
posterior septum (ilustrasi pada gambar 2).
Seluruh mukoperiosteum dan mukoperikondrium diambil. Area defek ditutup oleh jabir
HB ini, selanjutnya diberikan perekat (fibrin
glue), kemudian dipasang tampon untuk
menahan tandur atau jabir tersebut.1,9,10
Kasus ini diajukan untuk memperkenalkan bahwa jabir HB merupakan pilihan untuk
penutupan defek dasar tengkorak dengan
angka kesuksesan yang cukup tinggi.
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
Penutupan defek dasar tengkorak
Gambar 2. Ilustrasi insisi yang mencakup perluasan jabir dan hubungan antara insisi pada rostrum sinus
sfenoid dengan a.nasoseptal pada gambaran endoskopi kavum nasi dekstra. Panah: ostium sfenoid; FP:
jabir nasoseptal; S: septum; IT: konka inferior.9,15
etmoid. Pada kavum nasi sinistra tidak di-
LAPORAN KASUS
Pasien perempuan usia 42 tahun datang
temukan
kelainan.
Pada
pemeriksaan
ke poli THT tanggal 30 Mei 2011, dengan
fluoresens topikal intranasal tidak didapatkan
keluhan keluar cairan bening dari hidung
adanya sekret kehijauan yang mengalir aktif.
kanan sejak 3 bulan. Cairan juga dirasakan
Pasien kemudian diposisikan duduk dan
mengalir di tenggorok, terasa asin, encer dan
kepala menunduk 300, setelah 5 menit
tidak berbau. Awalnya cairan keluar hanya
tampak cairan jernih menetes dari hidung
pada saat menunduk lama, makin lama
kanan yang terus-menerus. Pasien memiliki
keluar spontan saat aktivitas lainnya. Pasien
tinggi badan 155 cm, berat badan 85 kg
juga mengeluh gangguan penciuman pada
(BMI 35,4 kg/m2) dan tekanan darah dalam
hidung kanan. Pasien tidak mempunyai
batas normal (120/80 mmHg). Pasien
keluhan hidung tersumbat, rasa nyeri di
didiagnosis rinore kavum nasi dekstra
wajah, sakit kepala, bersin-bersin pagi hari,
suspek kebocoran CSS. Pasien disarankan
mimisan,
maupun
dirawat dan bed rest total, namun pasien
gangguan keseimbangan. Riwayat trauma,
menolak. Pasien direncanakan pemeriksaan
operasi sebelumnya, penyakit paru kronis
tomografi computer (TK) sinus paranasal
dan hipertensi disangkal.
(SPN) tanpa kontras dan diberikan antibiotik
Pada
telinga
berdenging
pemeriksaan
naso-endoskopi:
per oral.
kavum nasi dekstra lapang, konka inferior
Pada tanggal 6 Juni 2011 pasien kontrol
eutrofi, konka media eutrofi, meatus medius
dengan keluhan yang masih sama. Hasil
terbuka, tidak tampak sekret. Di nasofaring
TK SPN, tampak destruksi dinding lateral
tidak tampak sekret, septum tidak deviasi,
sinus sfenoid dekstra, dengan lebar defek ±
tampak cairan serous dari resesus sfeno-
8 mm (gambar 3). Perselubungan di sinus
143
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
sfenoid dan kavum nasi dekstra, konka bulosa
mg/dL, gula darah puasa 116 mg/dL dan
bilateral. Pasien kemudian setuju untuk
hasil laboratorium lain dalam batas normal.
dirawat, diberikan antibiotik Ceftriaxone 2 x
Hasil konsul Neurologi tidak ditemukan
2 gram IV, Ranitidine 2 x 50 mg IV,
tanda papil edema dan kelemahan saraf
Laxadine 3 x 15 ml per oral, Dextro-
kranialis. Hasil konsul Penyakit Dalam
methorpan 3 x 15 mg. Pasien diedukasi untuk
tidak terdapat hipertensi, paru dalam batas
tidak mengedan dan elevasi kepala 300.
normal, saran cek GDS serial (tiap 2-3 hari).
Hasil pemeriksaan laboratorium di-
Pasien didiagnosis rinore CSS spontan. Hasil
dapatkan hemoglobin 12,8 g/dl, hematokrit
konsul Bedah Saraf tidak ada tindakan cito
38,9 %, leukosit 11.230/μL, trombosit
di bidang Bedah Saraf. Pasien direncanakan
231.000/μL, gula darah sewaktu (GDS) 88
operasi penutupan defek.
Gambar 3. TK SPN potongan aksial dan koronal: defek pada dinding lateral sinus sfenoid dekstra ± 8 mm.
Pada tanggal 10 Juni 2011 dilakukan
lemak ±2x1,5 cm, dimasukkan pada defek
operasi penutupan defek sinus sfenoid per
di sinus sfenoid, kemudian ditutup dengan
endoskopi dalam anestesi umum. Tampon
jabir HB. Pengambilan jabir HB diawali
di kavum nasi dekstra dicabut, dilakukan
dengan infiltrasi lidokain dan adrenalin
evaluasi per endoskopi pada resesus sfeno-
1/200.000, dilanjutkan melakukan insisi
etmoid dekstra, tampak cairan jernih yang
horizontal di superior mukosa septum, ber-
keluar dari ostium sfenoid. Mukosa ostium
bentuk persegi panjang dengan membuat
dilebarkan dengan cutting forceps, kemudian
pedikel di bagian postero-inferior mukosa
dilakukan trimming mukosa di sekitar
septum, jabir berukuran ±2,5x1,5 cm. Jabir
dinding anterior sinus sfenoid agar terdapat
HB diletakkan di atas defek, disuntikkan
vaskularisasi. Evaluasi sinus sfenoid kanan,
fibrin glue di atas jabir, ditutup dengan
tampak defek pada dinding superolateral
spongostan, kemudian dipasang tampon
sinus sfenoid ± 6 mm. Diambil tandur
anterior (Net Cell®).
144
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
Penutupan defek dasar tengkorak
Pascaoperasi pasien diberikan terapi
Pasien kontrol tanggal 12 Desember
yang sama, ditambah dengan Tramadol 3 x
2012 (pascaoperasi 1,5 tahun). Tidak ada
50 mg IV, Acetazolamide 3 x 500 mg per
keluhan keluar cairan dari kedua hidung.
oral, Aspar K 1 x 300 mg tablet. Pasien harus
Pasien masih mengeluh ada gangguan pen-
0
bed rest, elevasi kepala 30 dan dilarang
ciuman pada hidung kanan, namun menurut
mengedan.
pasien ada perbaikan. Hasil pemeriksaan
Pada tanggal 15 Juni 2011 (pascaoperasi
nasoendoskopi pada hidung kanan kavum
hari ke-5) dilakukan pengangkatan tampon
nasi lapang, tampak sinekia pada bagian
®
anterior (Net Cell ). Evaluasi per nasoendos-
anterior konka media dengan septum, tidak
kopi, pada daerah resesus sfenoetmoid ter-
tampak sekret dari resesus sfenoetmoid, jabir
tutup spongostan, sekret mukoid, tidak ter-
dan mukosa septum tumbuh baik. Pasien
dapat cairan mengalir maupun perdarahan
dianjurkan kontrol 6 bulan kemudian.
aktif. Pasien mendapat terapi cuci hidung
NaCL 0,9%, Ambroxol 3 x 30 mg tablet.
DISKUSI
Pada tanggal 17 Juni 2011 (pascaoperasi hari ke-7) dilakukan evaluasi per
Diagnosis dan penatalaksanaan yang
endoskopi tampak jabir melekat baik, tidak
baik harus dilakukan pada pasien dengan
terdapat cairan mengalir. Pasien dipulang-
keluhan kebocoran CSS akibat defek dasar
kan dengan terapi Cefixime 2 x 200 mg,
tengkorak, karena potensial menyebabkan
Ambroxol 3 x 30 mg tablet, dekongestan 2
komplikasi yang mengancam jiwa seperti
x 1 tablet dan cuci hidung NaCl 0,9%.
meningitis, abses otak
atau kematian.
Pasien kontrol tanggal 30 Juni 2011
Anamnesis, pemeriksaaan fisik, identifikasi
(pascaoperasi hari ke-20) tidak terdapat
lokasi defek yang tepat, penting untuk ke-
keluhan cairan menetes dari hidung kanan
suksesan penutupan defek.1,2,7,8
maupun hidung tersumbat. Pada pemerik-
Pada pemeriksaan fisik dan pemerik-
saan nasoendoskopi di area bekas defek
saan nasoendoskopi pada pasien ini disim-
terdapat krusta, tidak ditemukan adanya
pulkan terdapat defek dasar tengkorak
sekret dan terapi dilanjutkan.
yang menyebabkan rinore CSS dari resesus
Pasien kontrol tanggal 21 Juli 2011
(pascaoperasi hari ke-41) tidak terdapat
keluhan cairan menetes dari hidung kanan
atau keluhan hidung tersumbat. Pada
pemeriksaan nasoendoskopi di area bekas
defek terdapat krusta dan tidak ditemukan
adanya sekret. Terapi diberikan cuci hidung
NaCl 0,9%.
sfenoetmoid. Mengetahui lokasi kebocoran
dengan tepat adalah hal utama untuk kesuksesan penutupan dari defek dasar tengkorak, kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan TK SPN. Pemeriksaan ini membantu
mengevaluasi lokasi defek, ukuran defek dan
perencanaan teknik operasi.1,6
145
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
Hasil evaluasi TK SPN, teridentifikasi
di antaranya teknik bath plug, gasket seal
defek pada sinus sfenoid dekstra. Hal ini
serta penggunaan tandur atau jabir bervas-
sesuai dengan kepustakaan, yaitu terdapat
kular. Defek pada resesus lateral sinus sfenoid
dua area paling tipis yang berisiko terjadinya
sulit ditutup dengan pemasangan tandur secara
defek sehingga menyebabkan kebocoran
inlay atau underlay, pada pasien ini dilakukan
CSS spontan, yaitu lamina kribiformis dan
obliterasi dengan tandur lemak dan dilapisi
sinus sfenoid. Peningkatan tekanan pulsatif
oleh jabir HB serta fibrin glue. Jabir ber-
pada intrakranial pada akhirnya mendesak
vaskular memiliki keunggulan yaitu, penyem-
5
daerah anterior dari dasar tengkorak.
Dilakukan penatalaksanaan konservatif
dengan bed rest, elevasi kepala, pasien
buhan yang lebih cepat, dan tidak mudah bergeser sehingga mengurangi risiko kebocoran
CSS pascaoperasi.1-3,9
dilarang batuk, bersin, membuang ingus,
Pada kasus pasien ini, follow up pasca-
mengejan dan mengangkat benda berat.
operasi 1,5 tahun, kondisi jabir masih baik,
Pasien juga diberi obat pencahar dan penekan
tidak tampak defek yang menyebabkan ke-
reflek batuk. Penatalaksanaan konservatif
bocoran kembali. Jabir HB lebih unggul di-
ini tidak menunggu sampai 1-2 minggu
banding jabir lainnya dari segi fleksibilitas,
karena defek sudah lama terjadi (3 bulan),
kelengkungan rotasi dan area yang ditutup
sehingga kemungkinan penutupan defek
karena pedikel pada jabir HB kaya akan
secara spontan sulit terjadi dan defeknya
pembuluh darah. Jabir HB dapat diatur
4,9,16
relatif cukup besar.
panjang dan lebarnya sesuai kebutuhan, se-
Pemilihan teknik operasi tergantung
hingga jabir ini baik digunakan pada defek
kemampuan operator. Pada pasien ini di-
yang kompleks atau besar. Kelebihan lain
pilih pendekatan operasi per endoskopi.
jabir ini dapat digunakan pada kasus kega-
Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa
penatalaksanaan kebocoran CSS dengan
pendekatan endoskopi aman dan efektif.
Angka kesuksesannya mencapai 90-100%.
Keuntungan pendekatan endoskopi adalah
mempertahankan fungsi penciuman, waktu
rawat yang lebih pendek, tidak ada luka
jaringan parut dan risiko rendah terjadinya
perdarahan, kejang serta infeksi.1-3
Terdapat beberapa macam teknik penutupan defek dengan pendekatan endoskopi,
146
nasan yang memerlukan radiasi pascaoperasi.1,8,9,17
Jabir HB merupakan pilihan pada pasien
dengan defek dasar tengkorak, baik yang
menimbukan keluhan rinore CSS atau pasca
pengangkatan tumor dasar tengkorak dengan
pendekatan endoskopi. Jabir ini menurunkan
risiko kebocoran CSS pascapenutupan defek
karena memiliki vaskularisasi yang baik
(berasal dari a. nasoseptal).
ORLI Vol. 43 No.2. Tahun 2013
Penutupan defek dasar tengkorak
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Eloy JA, Kalyoussef E, Choudhry OJ, Baredes
S, Gandhi CD, Govindaraj S, et al. Salvage
endoscopic nasoseptal flap repair of persistent
cerebrospinal fluid leak after open skull base
surgery. AM J Otolaryngol 2012; 33:735-40.
Kim SW, Park HW, Jeon SY, Kim DW.
Versatility of the pedicled nasoseptal flap in the
complicated basal skull fractures. Auris Nasus
Larynx 2012; 1695:1-4.
Saleh H, Al Bahkaly S. Image-guided
endoscopic repair of cerebrospinal fluid
rhinorrhea by the bath plug grafting technique.
Laryngoscope 2011; 121:909-13.
Bhalodiya NH, Joseph ST. Cerebrospinal fluid
rhinorrhea: endoscopic repair based on a
combined diagnostic approach. Indian J
Otolaryngol Head Neck Surg 2009; 61:120-6.
Seth R, Rajasekaran K, Luong A, Benninger
MS, Batra PS. Spontaneous CSF leaks: factors
predictive
of
additional
interventions.
Laryngoscope 2010; 120:2141-6.
Citardi MJ, Fakhri S. Cerebrospinal fluid
rhinorrhea. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ,
Niparko JK, Richardson MA, Robbins KT,
Thomas JR, editors. Cummings Otolaryngology
Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia:
Mosby; 2010. p. 785-96.
Hai-sheng L, Ye-tao C, Dong W, Hui L,
Yunpeng W,Shi-jie W, et al. The use of topical
intranasal fluorescein in endoscopic endonasal
repair of cerebrospinal fluid rhinorrhea. Surgical
Neurology 2009; 72:341-6.
Nyquist GG, Anand VK, Schwartz TH. Endoscopic
management of cerebrospinal fluid rhinorrhea. Oper
Techn Otolaryngol 2011; 22:229-31.
Hadad G, Bassagasteguy L, Caarau RL, Matazza
JC, Kassam A, Snyderman CH, Mintz A. A novel
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
reconstructive technique after endoscopic
expanded endonasal approaches: vascular pedicle
nasoseptal flap. Laryngoscope 2006; 116:1882-6.
McCoul ED, Schwartz TH, Anand VK.
Vascularized reconstruction of endoscopic skull
base defects. Oper Techn Otolaryngology 2011;
22:232-6.
Clamente MP. Surgical anatomy of the paranasal
sinus. In: Levine H, Clamente MP, editors. Sinus
surgery endoscopic and microscopic approaches.
New York: Thieme; 2005. p. 1-56.
Zanation AM, Carrau RL, Synderman CH,
McKinney KA, Wheless SA, Bhatki AM, et al.
Nasoseptal flap takedown and reuse in revision
endoscopic
skull
base
reconstruction.
Laryngoscope 2011; 121:42-6.
Rivera-Serrano CM, Synderman CH, Gardner P,
Prevedello D, Wheless S, Kassam AB, et al.
Nasoseptal “rescue” flap: a novel modification
of the nasoseptal flap technique for pituitary
surgery. Laryngoscope 2011; 121:990-3.
Orlandi RR. Epistaxis. 2010 [Cited January 7th
2013]. Available from: http://www.medscape.
org/viewarticle/723327_2.
El-sayed IH, Roedlger FC, Goldberg AN, Parsa
AT, Dermott MW. Endoscopic reconstruction
of skull base defects with the nasal septal flap.
[Cited January 7th 2013]. Available from:
https://www.thiemeconnect.de/media/sbs/200806/sb00050-1.jpg.
Gillat H, Rappaport Zvi, Yaniv E. Endoscopic
transnasal cerebrospinal fluid leak repair: a 10
year experience. IMAJ 2011; 13:597-600.
McCoul ED, Anand VK, Singh A, Nyquist GG,
Schaberg MR, Schwartz TH. Long-term effectiveness of a reconstructive protocol using the nasoseptal flap after endoscopic skull base surgery.
World Neurosurg 2012; S1878-8750(12):1-8.
147
Fly UP