...

Panji Tengkorak Darah (Ko-lo-hiat-ki).

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Panji Tengkorak Darah (Ko-lo-hiat-ki).
Panji Tengkorak Darah
(Ko-lo-hiat-ki)
karya SD Liong
Jilid 1. Panji Tengkorak Darah (Ko-lo-hiat-ki)
Di bawah sinar rembulan yang menyinari lembah gunung Hun-tiong-san, sesosok
tubuh terhuyung-huyung mendaki tebing jurang. Ia sudah kehabisan tenaga, tetapi
tetap paksakan diri merayap ke puncak gunung. Mukanya berlumuran debu,
pakaian compang-camping terkait karang tajam. Kaki dan tangannyapun penuh
gurat-gurat darah dari duri semak-semak yang jahil.
Namun pemuda yang usianya ditaksir baru 17 tahun itu rupanya seorang yang
berhati keras. Dan agaknya ia tengah melaksanakan suatu tugas penting
sehingga mengharuskannya berkejar-kejaran dengan waktu.
Sekalipun dalam keadaan yang tak keruan, kepribadian pemuda itu tetap
menonjol. Wajahnya cakap berseri, lengkung alis lebat yang menaungi sepasang
bola matanya menambah kesemarakan yang sedap dipandang. Sinar matanya
tajam jernih, mencerminkan perangai hatinya yang polos jujur.
Entah apa yang tengah dikerjakannya itu!
Jerih payah pemuda itu akhirnya berhasil membuatnya tiba di hutan kuburan tak
berapa jauh dari puncak gunung. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika tertumbuk
pada sehelai panji merah yang berkibar-kibar di atas puncak gunung Hun-tiongsan itu. Mata pemuda itu berkilat-kilat memancarkan api. Musuh besarnya sudah di
depan mata.
Menuntut balas!
Serasa bergolaklah darah pemuda itu, semangatnya menyala kembali. Dengan
membusungkan dada segera ia memaksakan diri menerobos ke dalam hutan.
Tiba-tiba ia berhenti, termangu-mangu….
Di muka hutan itu tampak cahaya lampu berkilauan. Semula merupakan berpuluhpuluh sinar lentera sebesar tinju. Tetapi lama kelamaan berubah merupakan
sebuah pintu gerbang berbentuk tengkorak. Di atas pintu gerbang itu memancar
sederet lampu merah yang merupakan huruf Kui-bun-kwan atau pintu akhirat !
Pemuda itu menenangkan kegoncangan hatinya. Geramnya disertai tertawa
hambar, "Setiap orang berkunjung ke pintu akhirat, di akhirat tentu tambah
penghuni baru ! "
“ Hm, “ ia mendengus seraya mencabut pedang yang terselip di belakang
punggung, lalu melangkah lebar ke pintu gerbang itu.
Pintu gerbang lentera itu ternyata berisi dua baris lentera hijau yang memanjnag
ke dalam hutan. Rupanya diperuntukkan sebagai petunjuk jalan bagi para tamu.
Dari gundukan kuburan yang menghias seluruh hutan tiu, samar-samar seperti
tertutup kabut tebal sehingga makin menambah kerawanan hutan. Hanya bayangbayang pohon yang tampak dan makin ke dalam makin suram tampaknya deretan
lentera hijau itu.
Pemuda itu sudah membulatkan tekad. Dengan membusungkan dada ia
melangkah maju. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara jeritan ngeri dari seorang yang
tertusuk dadanya….. Betapapun ia tabahkan nyali, namun pada saat dan suasana
seperti itu, mau tak mau berdirilah seluruh bulu kuduknya.
Sesaat suara ngeri itu sirap, maka terdengarlah pula suara merintih seperti
suasana penyiksaan dalam neraka.
Dikobarkan lagi semangatnya. Sambil memanggul pedang, pemuda itu
melangkah maju. Tetapi langkah kakinya sudah terhuyung-huyung, darah
bergolak-golak dan pikirannyapun makin kusut. Pada saat ia tak kuat lagi
mempertahankan diri, tiba-tiba ia mendengar suara nyanyian ayat suci
menggema. Nyanyian yang seola-olah berkumandang segar dalam telinganya.
Semangatnya kembali segar pula. Beberapa saat kemudian suara rintihan iblis
itupun sirap….
Ia mendongak memandang ke muka. Di antara selimut kabut, tampak 9 orang
paderi berjubah merah tengah berdiri berjajar kira-kira bebrapa tombak jaraknya.
Paderi tua yang memimpin rombongan tampak melantangkan komando untuk
menghentikan nyanyian rombongannya.
“O, kiranya sudah ada orang yang mendahului aku. Entah siapakah mereka itu?”
pikir si pemuda.
Tiba-tiba terdengar suara retak yang dahsyat dan sebuah makam besar tiba-tiba
terbuka. Segulung asap memyembur keluar, menyusul muncullah sesosok rangka
manusia yang menyerupai mayat hidup. Rambutnya terurai ke bahu, wajahnya
seram, mengenakan pakaian longgar warna putih. Ia tertawa meringkik seperti
burung hantu berbunyi di tengah malam, kemudian berseru dalam nada tinggi, “
Ah, tak kecewalah lo-siansu menjadi paderi suci dari kuil Siau-lim-si sehingga
dapat bertahan menerima ilmu Mo-in-kiu-coan ( Sembilan suara iblis )!”
Ia mengangkat kedua tangan memberi hormat, katanya lebih lanjut, “Kami
memang siap menanti kedatangan para tetamu. Silakan ikut!”
Pemuda tadi terkejut. Benarkah di dalam rombongan paderi itu terdapat ketua
Siau-lim-si? Kalau benar, iblis pemilik panji tengkorak darah yang tersohor dengan
julukan Hun-tiong-sin-mo ( Iblis sakti dari Hun-tiong-san) itu pasti hancur lebur!
Tak ragu lagi, iapun segera mengikuti rombongan paderi itu melangkah masuk.
Kira-kira sepuluhan tombak jauhnya, mereka tiba di sebuah lapangan kosong
yang luas. Lapangan ini tertutup oleh rumput halus dan diterangi oleh lampu yang
terang-benderang. Jauh sekali bedanya dengan suasana makam di hutan tadi,
apa yang merka hadapi ialah sebuah lapangan perayaan pesta!
Sekalipun begitu, tempat ini yang sekeliling empat penjuru ditumbuhi pohonpohon tinggi itu tetap memberi kesan yang seram, karena seolah-olah seperti
berada di sebuah daerah iblis dan hantu.
Di sudut lapangan muncullah dua rombongan orang yang wujudnya seperti orang
yang menjadi penunuk jalan tadi. Rambutnya terurai ke bahu, berpakaian serba
putih dan berwajah seram.
Di belakang rombongan manusia-manusia seram itu muncullah seoprang dalam
pakaian warna hitam, mengenakan kerudung muka warna biru. Perawakannya
langsing kecil. Perlahan-lahan ia ayunkan langkah dan berhenti di tengah
lapangan. Di luar dugaan, di belakang orang berbaju hitam itu ikut seorang dara
berbaju merah darah. Sikapnya lincah, parasnya secantik bidadari, wajah berseri
sesegar bunga mekar di pagi hari…
Namun pemuda tadi tidak terpengaruh oleh paras si dara. Darahnya tetap
mendidih oleh api dendam kesumat. Diam-diam ia memaki, “Hun-tiong-sin-mo,
malam ini adalah hari terakhirmu!”
Sekalipun begitu tak urung timbul juga rasa herannya. Konon kabarnya Hun-tiongsin-mo itu seorang iblis ganas, seorang tua yang tiada sanak saudara. Mengapa ia
membawa seorang dara? Siapakah dara itu?
Sesaat kemudian terdengar paderi tua yang rupanya menjdai pemimpin
rombongannya mengucap salam keagamaan, ujarnya,”Aku paderi Bu Ceng,
bersama 8 tianglo (paderi tua) dari kuil Siau-lim-si mohon bertemu dengan Jun Ih
sicu!”
Orang berbaju hitam itu tertawa kecil, serunya, “Sungguh besar sekali
peruntungan hari ini dapat menerima kunjungan para paderi suci dari Siau-limsi!”
“Apakah sicu ini Jun Ih-hui yang bergelar Hun-tiong-sin-mo?” penuh keheranan
paderi Bu Ceng bertanya.
“Begitulah, “ orang berbaju hitam tertawa.
Pemuda tadipun terbeliak heran. Mengapa yang begitu kondang sebagai momok
ganas, ternyata bertubuh demikian kecil dan mempunyai nada suara seperti
wanita?
Hun-tiong-sin-mo tertawa berderai-derai, ujarnya, “Berbahagialah aku malam ini
karena bakal dapat menerima pelajaran dari ajaran guru agung Tat Mo yang
mendirikan Siau-limsi. taysu adalah tetamuku, maka kupersilakan taysu
mengatakan cara pertandingan yang taysu kehendaki!”
Bu Ceng merangkapkan kedua tangan, berseru nyaring, “Kedatangan kami kemari
bukan bermaksud hendak mebgikat permusuhan dengan sicu. Melainkan hanya
sekedar hendak memberi nasehat agar sicu kembali ke jalan yang suci, jangan
tersesat dalam penghidupan yang berlumur darah. Ketahuilah bahwa hukum
karma itu selalu menuntut….”
Hun-tiong-sin-mo menukas dengan tertawa-tawa, “Kata-kata emas dari taysu akan
kuukir dalam hati sanubari…” tiba-tiba ia merubah nadanya menjadi garang,
“Tetapi sudah menjadi tradisi berpuluh tahun bahwa barang siapa yang masuk ke
Gerbang Neraka sini tentu takkan keluar lagi. Karena taysu segan bertempur,
maka silakan saja segera bunuh diri. Tentang jenazah taysu sekalian, nanti akan
kusuruh orangku mengantarkan ke kuil Siau-lim-si!”
Selesai berkata, ia perlahan-lahan mengacungkan tangan ke atas. Dari lapisan
kabut, muncullah rombongan orang berpakaian putih. Setiap dua orang
memanggul sebuah peti mati. Semua berjumlah 9 buah peti mati. Peti-peti itu
ditaruh di tengah lapangan.
Berubahlah seketika wajah paderi Bu Ceng dan rombongannya. Hampir tak dapat
Bu Ceng mengusai amarahnya, seketika ia berseru, “Jangan sicu terlalu
mendesak padaku. Camkanlah, aku datang dengan itikad baik.!”
Hun-tiong-sin-mo melangkah maju tiga tindak, bentaknya,” Taysu segan turun
tangan, enggan pula membunuh diri. Terpaksa aku harus bertindak!”
Diangkatnya tinju perlahan-lahan, siap hendak dipukulkan.
Bu Ceng mengucap doa, kemudian menghela napas, “Karena sicu tetap tidak mau
sadar, terpaksa aku hendak minta pengajaran barang 8 jurus.”
Sin-mo menurunkan tinjunya dan tertawa, “Dalam 3 jurus jika tak dapat mengambil
jiwamu, aku akan bunuh diri.!”
Bu Ceng terkesiap. Di dunia persilatan, yang mampu bertahan 9 jurus
serangannya hanya berjumlah sedikit. Tetapi kini Sin-mo telah membuka mulut
akan mengammbil jiwanya dalam 3 jurus. Benar-benar ia tak habis mengerti…
Ketua Siau-lim-si itu tersenyum lalu gerakkan tangan mendorong perlahan-lahan.
Memang tampaknya tak bertenaga pukulan itu dilancarkan, tetapi hebatnya tiada
tara.
Itulah jurus Ngo-lui gui-san ( 5 petir membelah gunung) dari ilmu pukulan Tat-mociang yang sakti. Angin bergemuruh laksana petir menyambar. Segulung tenaga
dahsyat melanda .
Iblis sakti itu tetap tegak berdiri di tempat, menyambut badai serangan. Heran,
jangankan tubuhnya, bahkan pakaiannyapun tak berkibar oleh badai pukulan
lawan. Seolah-olah gelombang tenaga lawan terbelah dua dan lalu di
sampingnya…
Serasa terbanglah semangat Bu Ceng menyaksikan keanehan itu. Tubuhnyapun
menggigil. Hun-tiong-sin-mo tertawa mengejek. Tiba-tiba ia ulurkan tangan meutuk
dengan sebuah jari. Cepat dan tepat sekali tutukan jari mengenai dada si paderi.
Dan tergempurlah kuda-kuda Bu Ceng sehingga ia menyurut selangkah mundur.
Segumpal darah segar menyembur dari mulutnya….
Kedelapan paderi tianglo tak keburu memberi pertolongan lagi. Tiba-tiba Bu Ceng
apungkan tubuhnya, ia merentangkan kelima jari dan mencengkeram dada lawan.
Itulah yang disebut Tat-mo-ci atau Jari Tat-mo. Kelima jari itu dapat menembus
batu yang bagaimanapun kerasnya.
Karena dalam gebrakan pertama menderita luka dalam yang berat, maka Bu Ceng
segera mengeluarkan ilmu simpanan, ia berusaha menebus kekalahannya.
Tetapi momok dari gunung Hun-tiong itu memang luar biasa. Hanya dengan
mengebutkan lengan bajunya saja, maka tekanan jari Bu Ceng dapat ditahan.
Serempak dengan itu, suatu tenaga membal melontar keras dan terpentallah Bu
Ceng sampai dua tombak jauhnya!
Ketua Siau-lim-si itu merasakan bumi di sekelilingnya menjadi gelap gulita dan
sesaat kemudian ia tak dapat berkutik lagi….
Melihat ketuanya menderita luka parah, serempak ke delapan tianglo dari Siaulim-si segera loncat menerjang Sin-mo.
“Berhenti! Aku paling benci main keroyokan. Kalian tentu takkan terkubur tanah
lagi!” bentak Hun-tiong-sin-mo seraya mendorongkan kedua tangannya. Sinar
merah berkilat dari kedua telapak tangannya. Jangan memandang dia bertubuh
kecil, tetapi tenaga pukulannya amatlah hebat laksana petir menyambar.
Sebelum kedelapan tianglo itu sempat membuka serangan, mereka serasa
tersambar petir sehingga kocar-kacir terkapar malang-melintang di tanah.
Sungguh mengerikan sekali, tubuh kedelapan tianglo itu hancur lebur di bawah
pukulan Cek-kui-sin-ciang atau Pukulan sakti membunuh hantu.
Hun-tiong-sin-mo menghampiri perlahan-lahan ke tempat Bu Ceng tergeletak,
ujarnya, “ Telah kukatakan bahwa dalam tiga jurus tentu akan kucabut jiwamu.
Nah, terimalah pukulan pengantar ke akhirat ini! “ Tangannya pun segera diulur
untuk menutuk.
Bu Ceng tak berdaya lagi, ia memeramkan matanya menunggu ajal. Sekonyongkonyong si pemuda baju biru tadi lompat menerjang Sin-mo. “ Jangan mengganas,
setan tua ! “
Hun-tiong-sin-mo menarik tubuhnya dan mendengus,”Hm, kaupun hendak
menantang aku?”
Karena tidak ditangkis, pemuda itu lipat gandakan tenaga tusukan pedangnya.
Tetapi ketika hampir menyentuh tubuh Sin-mo, tiba-tiba pedangnya terpental balik.
Sedemikian keras tenaga membalik yang keluar dari tubuh Sin-mo sehingga si
pemuda terpental sampai setombak jauhnya, pedangnyapun melayang terlepas
dari tangannya.
Namun pemuda itu tetap ngotot, ia melompat bangun dan menyerang lagi.
“Jawab dulu pertanyaanku tadi!” bentak Hun-tiong-sin-mo.
“Membalas sakit hati!” teriak si pemuda.
“Apa aku bermusuhan denganmu?” tegur Hun-tiong-sin-mo.
“Musuh besar!” si pemuda menggeram penuh dendam.” Tiga turunan keluarga
yang terdiri dari 40 orang lebih telah kau binasakan sampai ludas….” ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena tersekat oleh isakan harunya.
Di luar dugaan, Hun-tiong-sin-mo bukannya marah, malah tertarik, tanyanya,
“Kapan?”
“70 tahun yang lalu!”
Hun-tiong-sin-mo terkesiap,serunya,” 70 tahun yang lalu…… Ah, aku tak ingat
lagi!”
“Kau yang biasa membunuh jiwa manusia mungkin sudah lupa. Tetapi hanya 3
hari yang lalu kau bunuh ibuku lagi!”
“Ngaco!” bentak Sin-mo, “sudah 3 bulan tak keluar gunung, bagaimana aku dapat
membunuh ibumu?”
Si pemuda tertawa menghina, “Setan tua, begitu saja kau tak berani mengakui ? “
Marah sekali iblis itu, “Berpuluh tahun ini, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh
silat yang binasa di tanganku. Mengapa aku tak berani mengakui pembunuhan
ibumu?”
Ia berhenti sejenak, serunya pula,”Hai, siapakah namamu?”
“Kang Thian-leng!” sahut si pemuda seraya mengeluarkan sehelai bendera kecil
terus dilontarkan ke muka Sin-mo,” Itu milikmu bukan?”
Bendera itu berbentuk segi tiga, bentuknya seperti bendera besar yang berkibar di
puncak gunung. Itulah bendera lencana yang ditinggalkan Hun-tiong-sin-mo
sebelum atau sesudah membunuh orang.
“Dari mana kau peroleh bendera itu?” Hun-tiong-sin-mo keheranan.
“Pada tiga hari yang lalu, berada di samping jenazah ibuku!” geram pemuda itu.
“Aneh! Aneh sekali! Harus kuselidiki… “ Sin-mo berhenti sejenak, lalu ia berseru
tajam, “Kali ini akan kubuat pengecualian. Mengingat kau masih begini muda,
kurang pengertian, maka akan kuberi engkau kedudukan sebagai salah seorang
penjagaku!”
“Aku Kang Thian-leng ingin sekali mengunyah dagingmu, membeset kulitmu.
Siapa sudi menjadi hambamu!” teriak Kang Thian-leng kalap.
“Budak , apakah kau ingin mati?” Sin-mo murka sekali.
Kang Thian-leng tertawa geram, “Kang Thian-leng sudah sedia mati, tetapi kaupun
jangan harap hidup sampai besok pagi!”
“Hun-tiong-sin-mo terkesiap. Sambil menuding mayat-mayat paderi Siau-limsi
yang bergelimpangan di tanah, ia berseru,”Apakah kau lebih lihay daripada
mereka?”
Kang Thian-leng melangkahkan kaki ke muka, serunya, “Dalam ilmu kepandaian,
mungkin aku bukan tandinganmu. Tetapi saat ini aku membawa hadiah yang akan
membuat kita berdua mati bersama!”
Kata-kata itu ditutup dengan sebuah gerakan mengebut lengan bajunya yang kiri.
Seketika berhamburanlah asap hitam memenuhi lapangan.
“Kutu beracun..!” Hun-tiong-sin-mo menjerit kaget. Cepat ia menampar dengan
tangan kiri, “Bangasat, kau berani membokong aku?”
Memang Thian-leng diam-diam telah membekal sebotol Pek-tok-jong ( kutu
beracun). Ia sudah siap mati bersama musuhnya. Ia lontarkan botol itu kepada
musuhnya, tapi iapun tak mau menghindar dari tamparan Sin-mo. Mulutnya terasa
manis-manis amis, hidungnya menghisap suatu hawa apek yang menyerang ke
ulu hati.
Betapa girangnya tadi ketika melihat timpukan botolnya telah mengenai
sasarannya. Baru ia hendak tertawa merayakan kemenangannya, tiba-tiba
tamparan Sin-mo telah membuatnya terlempar ke udara….
Begitu marahnya Sin-mo saat itu, sehingga ia loncat hendak menyongsong
jatuhnya tubuh anak muda itu dengan pukulan maut yang akan mencerai-beraikan
tubuh si anak muda.
Sekonyong-konyong darah Sin-mo tersirap kaget. Tangan yang sudah siap
diluncurkan itu tidak dilanjutkan, melainkan dibuat menyambuti tubuh Thian-leng,
terus dipondong dan dibawa lari… Aneh....aneh.!.
Ternyata iblis itu melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Ketika mendongak
hendak menghancurkan Thian-leng, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah tahi
lalat merah sebesar kedele. Itulah yang membuat dada Sin-mo berdebar keras,
hatinya memukul sehingga ia merobah rencananya.
Pada saat Hun-tiong-sin-mo sedang menghancurkan Bu Ceng dan rombongan
paderi Siau-lim-si tadi, dara berbaju merah tertawa mengikik dan beberapa kali
bicara bisik-bisik dengan bujang wanitanya yang berbaju kuning. Apa yang terjadi
di tengah lapangan itu baginya merupakan sebuah pertunjukan yang
menggembirakan. Barulah ia terkejut ketika Kang Thian-leng menimpuk botol kutu
beracun dan Hun-tiong-sin-mo menghantam pemuda itu, tetapi tiba-tiba
membawanya lari. Buru-buru dara itu bergegas mengikuti langkah Hun-tiong-sinmo…
Hun-tiong-sin-mo membawa Thian-leng ke dalam sebuah ruangan batu yang
terletak di bawah tanah istananya. Thian-leng diletakkan di sebuah ranjang yang
beralaskan kasur empuk. Kemudian ia menyuruh si dara baju merah dan bujang
baju kuning mengambil obat Tay-hoan-tan.
Dara baju merah terkejut melihat tubuh Thian-leng berlumuran dara, namun ia tak
berani banyak mulut. Dari dinding tembok ia mengeluarkan sebuah botol kecil
terbuat dari batu kumala hijau. Hati-hati sekali ia berikan botol itu kepada Sin-mo.
Botol kumala itu berisi hanya 5 butir pil warna merah. Hun-tiong-sin-mo mengambil
sebutir lalu disisipkan ke mulut Thian-leng, setelah itu iapun menelan sebutir.
Kedengaran ia menghela napas, “Jika tak ada pil Tay-hoan-tan ini, entah
bagaimana jadinya diriku malam ini. Pek-tok-jong merupakan benda mukjijat di
dunia persilatan. Eh, entah mengapa budak ini bisa memperolehnya…?”
Dar baju merah menyeletuk, “Dia jahat sekali, lebih baik dilenyapkan saja.
Mengapa kau malah memberinya pil mukjijat itu?”
Hun-tiong-sin-mo menggelengkan kepalanya, “Nak, kau tak mengerti… aku
hendak menyelidiki dirinya..” kembali ia menghela napas seolah-olah ada sesuatu
yang mengganjal di benaknya. Suatu hal yang baru pertama kali keluar dari mulut
iblis ganas yang telah merajai dunia persilatan selama 60 tahun.
Setelah minum pil Tay-hoan-tan, tak berapa lama kemudian Thian-leng pun sadar.
Cepat-cepat ia meloncat bangun. Apa yang disaksikannya saat itu membuatnya
terlongong-longong terkesima.
“Kau…kau mengapa menolong aku?” serunya setelah teringat apa yang telah
terjadi tadi.
Hun-tiong-sin-mo tak menyahut. Diambilnya sebutir pil lagi, ujarnya ”Pek-tok-jong
yang kau bawa itu ganas sekali. Kalau masih merasa sakit, minumlah pil ini lagi
tentu selamat.!”
Nada ucapannya mengandung pengaruh yang besar, sehingga Thian-leng tak
kuasa menolak. Benaknya penuh diliputi oleh berbagai pertanyaan yang tak dapat
dijawabnya. Siapakah sebenarnya Hun-tiong-sin-mo ini?
“Kau hendak melepaskan aku atau akan menjadikanku penjaga kuburan?”
tanyanya.
Sahut Hun-tiong-sin-mo dengan nada tegas,”Kali ini hendak kubuat pengecualian
pada peraturan yang telah kujalankan selama 60 tahun. Ya, kau boleh tinggalkan
gunung ini!”
Thian-leng, bahkan si dara baju merah terbeliak kaget. Malah si bujang baju
kuning merintih perlahan. Mereka menatap ke arah wajah Sin-mo yang tertutup
kerudung sutera hijau.
Entah girang, entah sedih, tak tahulah Thian-leng perasaan yang berkecamuk
dalam hatinya saat itu. Meluncurlah pertanyaan heran dari mulutnya, “Kau tak
kuatir aku akan melakukan pembalasan lagi?”
Hun-tiong-sin-mo ganda tertawa, “Silakan saja kalau kau mempunyai
kepandaian!”
Thian-leng membanting kakinya, “Kang Thian-leng seorang manusia yang dapat
membedakan budi dengan dendam. Pertama kali, tentu akankubalas budimu
memberi obat padaku ini. Kemudian barulah kulaksanakan tujuanku melakukan
pembalasan padamu, demi untuk melampiaskan sakit hati keluarga Kang.”
Tiba-tiba Hun-tiong-sin-mo melambaikan tangan, “Bwe Hiang, antar dia keluar!”
Si bujang baju kuning mengiyakan, lalu mengajak Thian-leng pergi. Belum lama
berjalan, tiba-tiba Hun-tiong-sin-mo berseru,” Berhenti!”
“Setan tua, kau menyesal?” Thian-leng tertawa mengejek.
“Tak pernah kusesali apa yang telah kulakukan,” agak kurang senang Sin-mo
menyahut, “Aku tak mengharap balas atas pertolonganku tadi. Yang kuminta
hanyalah, janganlah kau katakan sepatahpun juga apa yang kau lihat di sini
kepada orang lain!”
“Baik, kuberikan janjiku,” sahut Thian-leng.
“Pergilah!” seru Hun-tiong-sin-mo dengan nada garang kerontang, lalu ditutup
dengan sebuah helaan napas panjang. Lama nian ia tegak mematung di ruangan
itu. Sekalipun tidak dapat melihat perobahan kerut wajahnya yang terbungkus kain
kerudung, namun dapat dipastikan bahwa iblis itu sedang dilanda oleh renungan
hatinya….
Si dara baju merah memberanikan diri menghampiri dan menempelkan diri ke
bahu Sin-mo, ujarnya,”Mengapa hari ini aneh sekali sikapmu?”
Sin-mo menghela napas perlahan. Tiba-tiba ia berbisik-bisik ke dekat telinga si
dara. Tampak wajah dara itu membesit kerut kemarahan, keheranan dan
kegelisahan. Akhirnya ia mengangguk-anggukkan kepala, mulut menyungging
senyuman…
Sementara itu Thian-leng yang mengikuti si bujang baju kuningpun keluar dari
sebuah kuburan besar. Ternyata ia berada di lapangan tadi pula. Lapangan itu
sunyi senyap, melainkan hanya terdapat 9 buah peti mati tadi yang berjajar di
tengah-tengah lapangan. Ketika lewat di hadapan peti-peti mati itu, timbullah rasa
duka di hati thian-leng.
Peti-peti itu belum ditutup. Dalam setiap peti membujur sesosok mayat.
Sekonyong-konyong mayat yang berada pada peti mati terakhir menggeliat-geliat
berusaha duduk. Serasa terbanglah semangat Thian-leng melihat kejadian itu.
Tapi demi dilihatnya mayat hidup itu ialah Bu Ceng Taysu, tenanglah hatinya.
Bu Ceng memang menggeliat duduk. Wajahnya menghitam, sepasang matanya
redup. Ia berusaha mengeluarkan sebelah tangannya, “Tolong…sicu sampaikan…
berita …pada ……..Siau-…...lim-si….”
Melihat tangan paderi itu seperti menggenggam sebuah benda yang seperti
hendak diberikan kepadanya, tergeraklah hati Thian-leng. Buru-buru ia
menyambuti terus dimasukkan ke dalam baju.
Bluk, rupanya setelah menyampaikan pesan terakhir Bu Ceng jatuh ke dalam peti
mati lagi.
Tiba-tiba Thian-leng tercekam oleh suatu perasaan ngeri. Nyata kematian paderi
Siau-lim-si itu bukan dikarenakan pukulan Hun-tiong-sin-mo, tetapi oleh karena
taburan Pek-tok-jong.
“Tolol, mengapa tak lekas jalan!” melihat Thian-leng berhenti, si bujang baju
kuning
segera menariknya.
Thian-leng seperti ditarik oleh suatu tenaga yang kuat, sehingga di luar
kehendaknya ia terseret ke muka…
Saat itu terdengar kentongan malam sayup-sayup bertalu 4 kali. Malam kelam,
bintang-bintang bersembunyi, rembulan malu-malu mengintip di balik awan. Tiba
di gerbang tengkorak, bujang baju kuning itu segera kibaskan tangannya, “Silakan
pergi sendiri, aku akan kembali!”
Bujang itu segera berputar tubuh dan lari . Thian-leng terlongong-longong.
Sebenarnya ia hendak mengorek ketrangan dari mulut bujang itu, tapi kecele. Ia
hanya dapat menghela napas dan ayunkan langkah.
Sekalipun terkena Pek-tok-jong dan pukulan Hun-tiong-sin-mo, tapi karena sudah
minum pil Tay-hoan-tan yang mukjijat, bukan saja tak merasa sakit, iapun merasa
bertambah segar dan bersemangat. Gerak langkah kakinya tak dihiraukan karena
pikirannya tengah melayang kembali pada peristiwa di dalam sarang Hun-tiongsin-mo tadi. Bu Ceng adalah ketua kuil Siau-lim-si yang memiliki kesaktian tkuil
termasyur. Namun hanya dalam 3 jurus saja sudah binasa di bawah pukulan Huntiong-sin-mo. Ah, apalagi dirinya… dan bukankah ia berhutang budi pada iblis itu?
Tiba-tiba ia ingat akan benda pemberian Bu Ceng. Segera dikeluarkannya benda
itu, ah, sebuah giok-pay (lencana kumala) sedikit lebih kecil dari kepalan tinju.
Permukaan lencana berukirkan sebuah gambar Buddha yang indah. Kumala itu
bersih dan berkilauan.
“Jika pihak Siau-lim-si menerima giok-pay ini, mereka tentu akan menyerang Sinmo. Ya, hanya dengan mengharapkan turun tangannya pihak Siau-lim-si, dapatlah
Hun-tiong-sin-mo tertumpas. Kalau hanya mengandalkan kepandaianku, mungkin
seumur hidup tak nanti dapat kulampiaskan sakit hatiku, “ pikir Thian-leng.
Setelah menetapkan rencana, Thian-lengpun segera melanjutkan perjalanan
menuju ke gunung Ko-san. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara orang batuk-batuk,
buru-buru ia berpaling.
Kira-kira 2 – 3 meter jauhnya, tegak seorang tua berjubah biru. Rambut dan
jenggotnya sudah putih semua, tubuhnya tinggi besar. Dia tengah memandang
lekat-lekat pada Thian-leng dengan tersenyum. Teringat bahwa kedatangan orang
tua itu sama sekali tidak menimbulkan suara, tergetarlah nyali Thian-leng. Keringat
dingin membasahi sekujur tubuh. Namun karena sudah terlanjur beradu pandang,
terpaksa Thian-lengpun mengamat-amati orang tua itu dengan tajam.
Sepasang mata orang tua itu berkilat-kilat tajam. Kedua pelipisnya menonjol
keluar, pertanda dari seorang ahli yang memiliki lwekang tinggi.
Segera Thian-leng memberi hormat dan berseru, “Lo-cianpwe…”
“Eh, siapakah namamu anak muda?” orang tua itu tertawa sinis.
Thian-leng tertegun, sahutnya, “Aku Kang Thian-leng,
mohon tanya lo-cianpwe…?”
Orang tua itu mengerutkan dahi, mengulang,” Kang …..Thian…..-….leng…!”
kemudian ia tertawa sinis, ujarnya,” Belum pernah terdengar nama semacam ini di
dunia persilatan.!”
“Memang aku seorang kerucuk yang tiada ternama,” Thian-leng merendah.
Tiba-tiba kedua mata orang tua itu memancarkan sinar ganas. Ditatapnya wajah
Thian-leng dengan seram, serunya bengis,”Di hadapan seorang tua jangan suka
berbohong! Mengapa kau tak brani menyebutkan namamu yang asli?”
Serentak timbullah reaksi pada Kang Thian-leng, sahutnya dengan garang,
”Seorang lelaki jalan dengan menengadah, duduk dengan tegak. Putih kukatakan
putih, hitam kubilang hitam. Aku memang Kang Thian-leng!”
“Mengapa kau keluar dari sarang Hun-tiong-sin-mo!?” bentak si orang tua dengan
marah.
Thian-leng terkesiap, ia balas bertanya, “Mengapa lo-cianpwe tahu?”
Orang tua itu tertawa hina, “Sudah sehari semalam aku menunggu di sini!”
“Siapakah yang menyuruh lo-cianpwe ? “ kembali Thian-leng terbeliak.
Wajah si orang tua mengerut gelap, “Ini…. aku tak bisa menerangkan !“, setelah
berhenti sejenak ia berkata pula, “ Kau tentu kaki tangan Hun-tiong-sin-mo!”
Thian-leng tertawa kecut, “Kau salah paham. Benar aku dapat keluar dari sarang
iblis itu, tetapi aku tak mempunyai kepandaian apa-apa dan sama sekali bukan
kaki tangan iblis itu!”
Tiba-tiba Thian-leng teringat akan janjinya kepada Hun-tiong-sin-mo, cepat-cepat
dia diam.
“Ceritakan pengalamanmu masuk ke sarang Hun-tiong-sin-mo!” kembali orang tua
itu mendesak.
Thian-leng menggelengkan kepala, “Maaf, aku tak dapat menceritakan hal itu.”
Mata orang tua itu memancarkan api keganasan, serunya dengan nada bengis,
“Tahukah kau siapa aku ini?”
Thian-leng sudah mempunyai kesan buruk terhadap orang tua liar itu, maka
menyahutlah ia dengan tawar, “Pengalamanku kurang, tidak…..”
“Pernahkah kau mendengar tentang istana Sin-bu-kiong dan raja Sin-bu-te-kun
yang termasyur itu?” tukas si orang tua.
“Belum!”
Marah sekali orang tua itu. Tangan kanan diangkat ke atas dengan kelima jarinya
terpentang. Lalu dicengkeramkan ke dada Thian-leng.
Pucat wajah Thian-leng seketika. Pada saat ia masih terlongong-longong
menghadapi ancaman maut, tiba-tiba terdengar derap langkah mendatangi. Dari
balik gerombol pohon, muncullah beberapa sosok bayangan.
Orang tua tadi terkejut dan menarik pulang pukulannya. Cepat sekali orang-orang
itu muncul. Semuanya berjumlah 5 orang, dipimpin oleh seorang dara berbaju
ungu. Usianya sekitar 20 tahun. Seorang dara jelita yang memikat hati.
Pengiringnya terdiri dari 4 orang tua yang dandanannya serupa dengan orang tua
yang menghadang Thian-leng itu.
Orang tua yang pertama tadi segera maju memberi hormat kepada si dara jelita,
serunya, “Memberitahukan kepada ji-kongcu (tuan puteri kedua), orang ini
menyebut dirinya kang Thian-leng. Sepatah katapun ia tak mau bicara
sejujurnya…. hanya mengaku memang telah keluar dari sarang Hun-tiong-sinmo….”
“Aku sudah tahu!” si dara tertawa, lalu kisarkan pandangannya ke arah Kang
Thian-leng, serunya dengan ramah,” Kang tayhiap, berapakah usiamu sekarang?”
“Delapan belas,” sahut Thian-leng tawar.
Dara itu kedipkan mata kepada Thian-leng dan tertawa, “O, terpaut 2 tahun
dengan aku. Panggillah taci padaku!”
“Mana aku berani,” dengus Thian-leng.
“Jangan sungkan..aku…. “ si dara maju dua langkah, “Namaku Ki Seng-wan,
panggil saja namaku begitu.”
Thian-leng tertawa dingin dan menyurut mundur dua langkah,” Aku masih
mempunyai urusan penting, maaf!”
Thian-leng terus hendak berlalu, tapi tiba-tiba dara itu menghadangnya. Wajahnya
berobah masam, “Kau mau pergi?”
“Aku masih ada lain urusan, harap nona suka memaafkan!”
“Mau ke mana? Urusan apa itu!”
“Ini… tak dapat kuterangkan,” sahut Thian-leng seraya berputar tubuh.
“Orang she Kang, apakah kau sungguh tak memandang muka padaku?” Ki Sengwan melengking marah dan kemarahannya itu ditumpahkan dengan sebuah
cengkeraman ke dada Thian-leng. Pemuda itu terkejut sekali, cengkeraman itu
luar biasa cepat dan hebatnya, sehingga sebelum ia sempat menghindar,
dadanya sudah kena. Thian-leng rasakan dadanya seperti dihantam palu godam.
Dadanya bergolak seketika, kakinya goyah dan tubuhpun terhuyung-huyung
mundur 3 langkah…
Tetapi di luar dugaan, Ki Seng-wan pun kaget dan tersurut mundur sampai 3 – 4
langkah. Ia berseru tertahan, “Kim-wi-sin-kang!”
Mendengar disebutnya Kim-wi-sin-kang atau ilmu lwekang sakti perut emas itu,
kelima orang tua pengawal Ki Seng-wan pun mundur selangkah.
Orang tua yang pertama kali mencegat Thian-leng segera berkata kepada Ki
Seng-wan, “Memang sejak tadi hamba sudah menduga dia tentu memiliki ilmu Busiang-sin-kang!”
Bu-siang-sin-kang ialah ilmu lwekang tanpa bayangan. Wajah Ki Seng-wan
berobah dan serunya, “Lekas pulang ke istana melapor kepada ayah baginda,
bahwa Hun-tiong-sin-mo telah mengirim anak buahnya …..” kata-kata selanjutnya
diucapkan begitu perlahan sehingga Thian-leng tak dapat menangkapnya.
Pengawal tua itupun segera memberi hormat dan melesat pergi.
Thian-leng termangu-mangu. Tak tahu ia apa yang disebut istana Sin-bu-kiong itu.
Dan siapakah orang yang menamakan dirinya baginda Sin-bu-te-kun. Namun
melihat si dara Ki Seng-wan dan para pengawalnya itu memiliki kepandaian sakti,
Sin-bu-te-kun tentulah seorang tokoh lihay. Mungkin tak di bawah kepandaian
Hun-tiong-sin-mo.
Suatu titik harapan melintas dalam hati Thian-leng tetapi secepat itupun lenyaplah.
Gerak-gerik Ki Seng-wan yang genit dan sikap para pengawalnya yang bengis,
memberi kesan buruk pada Thian-leng. Ia duga Ki Seng-wan dan pengawalnya itu
tentu sebangsa gerombolan liar.
Habis membuat penilaian, diam-diam Thian-leng geli sendiri. Cengkeraman Ki
Seng-wan tadi tepat mengenai giok-pay yang ditaruh di dada. Tak heran kalau si
gadis menjadi kelabakan setengah mati. Namun Thian-leng tak mau memecahkan
rahasianya, tanpa berkata apa-apa segera ia berputar dan angkat kaki.
“Kecuali kau kembali ke dalam sarangmu Hun-tiong-san, jangan harap kau dapat
melarikan diri malam ini!” terdengar Ki Seng-wan berseru memberi ancaman.
Thian-leng berpaling, dilihatnya Ki Seng-wan bersama keempat pengawalnya
tengah mengejar. Mau tak mau gelisah juga Thian-leng. Sebenarnya ia tak
mempunyai kepandaian yang berarti. Dalam ginkang ia kalah jauh dari mereka,
ilmu silatpun sama saja. Adalah berkat giok-pay di dadanya itu maka ia beruntung
dapat menyelamatkan diri dari cengkeraman si nona. Tetapi hal kebetulan ini tak
mungkin terjadi lagi. Manakala Ki Seng-wan menyerangnya pula, ia pasti
tertangkap.
Tambahan pula pengawal tua yang disuruh melapor pada pemimpin mereka, tentu
akan segera membawa bala bantuan. Apabila mereka datang, tak mungkin lagi ia
dapat meloloskan diri!
Sekilas ia mempunyai rencana. Sebelum bala bantuan datang, si nona dan ke
empat pengawalnya itu tak berani turun tangan, karena mereka mengira ia
memiliki ilmu sakti Kim-wi-sin-kang dan Bu-siang-sin-kang. Ah, mengapa ia tak
mau mempercepat larinya saja? Mungkin ia masih mempunyai harapan untuk
lolos dari kejaran mereka.
Keputusan itu segera dilaksanakan. Ia mengerahkan seluruh tenaga, berlari
seperti orang diburu setan. Tetapi bagaimanapun juga, si nona dan keempat
pengawalnya itu tetap membuntuti dalam jarak tertentu. Mereka tetap berada
sekitar dua tombak di belakangnya.
Mungkin sudah setengah jam lebih ia berlari mati-matian, sampai tulangnya
seperti copot dari persendian. Paling sedikit ia sudah menempuh jarak dua –tiga
puluh li. Namun hatinya tetap kesal karena KiSeng-wan dan pengawalnya tetap
mengikuti seperti bayangan.
Saking jengkelnya, ia segera berlari menyusur sepanjang karang curam. Kala itu
hampir menjelang fajar, namun kabut masih mengembang tebal. Thian-leng
seperti orang kalap, ia berlari asal berlari. Tak dihiraukan pula arah tujuannya, tak
dikenalnya lagi jalan-jalan yang harus ditempuh. Setelah berputar-putar beberapa
kali di lereng gunung, akhirnya ia limbung. Tak dapat diketahuinya lagi mana timur
barat, mana selatan utara. Matanya semakin remang memandang kabut tebal.
Terpaksa ia kendorkan larinya dan dengan begitu jarak Ki Seng-wan serta
pengawalnya makin mendekat. Dari dua tombak kini hanya tinggal terpisah satu
tombak saja.
Thian-leng sudah mandi keringat. Napasnyapun sudah senin kemis. Hanya
karena kekerasan hatinya maka ia masih nekad terus berlari…
Karena jaraknya semakin dekat dan kabutpun makin menipis, akhirnya rahasia diri
anak muda itupun ketahuan oleh para pengejarnya.
“Hah, lihatlah dia! Apakah orang semacam ini sesuai dikatakan mempunyai ilmu
Bu-siang-sin-kang?” dengus Ki Seng-wan.
“Hambapun berpendapat demikian,” sahut keempat pengawalnya.
Ki Seng-wan tertawa mengikik, “Hi,hi,hi , kita telah mempermainkannya. Lekas
ringkus!”
Keempat pengawal itupun segera menyerbu. Thian-leng kaget sekali , perasaan
ingin menyelamatkan diri telah membuat darahnya bergolak keras. Serasa timbul
suatu tenaga yang luar biasa… dan loncatlah ia ke samping…
Loncatan itu berhasil meloloskan dirinya dari sergapan keempat orang tua itu, tapi
saat itu ia rasakan tubuhnya seperti terapung di udara dan makin lama makin
meluncur ke bawah…..
Ternyata ia telah terjerumus jatuh ke suatu jurang yang beratus-ratus meter
dalamnya.
“Habislah riwayatku…….!” keluhnya. Namun sebelum ajal berpantang maut, ia
meronta-ronta dan bergeliat-geliat.
Tiba-tiba usahanya itu berhasil. Ia seperti mencengkeram sebuah karang
menonjol dan dengan mengerahkan seluruh tenaganya ia menekan tonjolan
karang itu dan mengayunkan tubuhnya ke atas. Itulah satu-satunya harapan
baginya.
Di atas batu menonjol itu ternyata merupakan sebuah pintu goa. Ayunan tubuh
Thian-leng itu tepat jatuh ke dalam mulut goa. ‘Blek ..’ kembali ia tersirap kaget. Ia
merasa tidak jatuh pada karang keras, tetapi menjatuhi segumpal daging manusia
yang lunak.
Rasa terkejutnya meledak ketika matanya tertumbuk pada sesosok tubuh manusia
yang berdiri dengan berjungkir balik, kepala di bawah , kaki di atas.
Ternyata di dalam doa itu terdapat seorang manusia aneh yang tengah ebrtapa.
Rambut terurai kusut masai, muka penuh ditumbuhi brewok lebat dan pakaian
compang-camping tak keruan.
Benturan tadi membuat Thian-leng terkapar jatuh, sedang orang tua aneh itupun
terjungkir balik. Sepasang mata orang aneh itu berapi-api penuh dendam
kebencian, seolah-olah hendak menelan Thian-leng.
Thian-leng merasa bersalah, buru-buru ia bangkit hendak memberi penjelasan.
Tiba-tiba orang aneh itu bergeliat loncat berdiri dan menghantamnya. Sudah tentu
Thian-leng tak kepalang terkejutnya, buru-buru ia menggelinding menyingkir
beberapa langkah.
‘Buum…’ hantaman orang aneh itu menghancurkan dinding goa, sehingga
menimbulkan suara gemuruh dan hamburan keping-keping karang. Goa terasa
bergoncang keras. Dan yang lebih mengejutkan lagi, terasa suatu hawa panas
yang meranggas memenuhi ruang goa….
Sebelum Thian-leng sempat bangun, orang aneh itu sudah menyusuli lagi pukulan
kedua. Tetapi ketika tinjunya hendak dilayangkan, sekonyong-konyong tubuhnya
tergetar dan mulutnya menyemburkan darah segar dan ‘bluk..’ iapun jatuh
terduduk.!
Thian-leng makin terkejut,” Lo-cianpwe….. apa…kah kau terluka olehku?”
Kini barulah ia melihat jelas wajah orang aneh itu. Mukanya penuh tertutup rambut
dan jenggot, tubuhnya kate, tetapi kedua lengannya amat panjang hingga dapat
menyentuh tanah. Ia hanya mengenakan cawat, sehingga mirip orang hutan.
Dengan napas terengah-engah, orang aneh itu memaki, “ Binatang, kau telah
mencelakai aku. Sayang tak dapat kuganyang dagingmu!” Suaranya gemerontang
bagai geledek.
“Aku tergelincir jatuh ke dalam jurang ini dan sekali-kali tak sengaja…”
“Jerih payahku selama 30 tahun meyakinkan ilmu sakti yang hampir selesai itu,
telah kau rusak berantakan. Organ dalam tubuhkupun morat marit, bahkan jiwaku
turut kaurenggut!”
Orang kate itu terengah-engah hendak bangun dan memukul lagi. Melihat itu,
Thian-leng buru-buru mencegah, “Jangan bergerak lo-cianpwe, kau sudah ‘Cauhwe-jip-mo’…”
‘Cau-hwe-jip-mo’ ialah istilah dalam ilmu silat yang berarti sesat napas dan salah
jalan. Seorang yang meyakinkan ilmu lwekang sakti, apabila sampai terganggu
atau keliru, akan terjerumus dalam keadaan begitu. Organ tubuh bagian dalamnya
akan terguncang tak keruan, aliran darahnya akan simpang siur dan dapat
menyebabkan kelumpuhan.
“Aku hendak mengadu jiwa denganmu….huak!” si orang kate berseru, tetapi
mulutnya kembali menyemburkan darah dan jatuhlah ia ke tanah pula.
Thian-leng cemas sekali, tiba-tiba ia teringat akan sebutir pil Tay-hoan-tan
pemberian Hun-tiong-sin-mo. Tanpa sangsi lagi segera ia mengambil pil mukjijat
itu dan diberikan kepada si orang kate, “Harap lo-cianpwe minum pil Tay-hoan-tan
ini !”
Orang aneh itu terbelalak kaget. ‘ Wut’, cepat ia menyambar pil itu dari tangan si
anak muda,”Tay-…hoan….-tan..” Sejenak ia mengamat-amati pil itu, lalu berpaling
menatap Thian-leng pula, “Kau berikan pil ini padaku?”
“Ya, harap lo-cianpwe lekas minum. Pil ini luar biasa khasiatnya!” sahut Thianleng.
Orang kate itu tertawa mengikik, “Hi,hi,hi, …tapi setelah sembuh ..kau tentu
kubunuh!”
Thian-leng tertawa hambar, “Aku telah mencelakai
Hal 33 – 36 sobek kata yang scan ( [email protected] ) kalau ada yang
punya tolong diinformasikan atau ke [email protected] atau ke
webmaster Tungning
gunung Hun-tiong-san ini. Bangsat Song-hun Kui-mo itu jeri terhadap Hun-tiongsin-mo, dia tentu tak berani datang kemari. Dengan begitu dapatlah aku
meyakinkan ilmu sakti Lui-hwe-ciang dengan aman….” tiba-tiba ia berhenti dan
menghela napas.
Sekalipun tak dinyatakan, tetapi Thian-leng sudah dapat menangkap ke mana
arah tujuan kata-kata Oh-se Gong-mo itu. Tentulah tak lain dari suatu penyesalan
tentang gagalnya meyakinkan ilmu Lui-hwe-ciang yang dijalankan selama 30
tahun ini. Thian-lengpun menyesal sekali.
“Sayang kepandaianku tak berguna, kalau tidak aku tentu dapat mewakili lo-
cianpwe membasmi durjana itu dan merebut kembali kitab pusaka lo-cianpwe!” ia
menghela napas.
Tercengang Gong-mo mendengar pernyataan anak muda itu. Dipandangnya anak
muda itu sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia bertepuk tangan dan tertawa
tergelak-gelak.
Thian-leng kaget!
“Ah, mengapa aku tak memikir sampai di sini…. Buyung, jika kau sungguhsungguh mau membalaskan sakit hatiku, tentu akan kugembleng kau menjadi
manusia sakti!”
“Aku bukan seorang kerdil, asal aku memperoleh kesaktian, tentu akan
kulaksanakan pesan lo-cianpwe!” sahut Thian-leng dengan tegas.
Sekali lagi Gong-mo memandang Thian-leng dengan seksama, katanya dengan
nada puas, “Sebuah bahan yang bagus, sukar ditemukan. Ilmu pukulan Lui-hweciang yang kuyakinkan selama 30 tahun ini hendak kuberikan padamu dalam
sehari….”
Thian-leng girang-girang kaget, ia menyangsikan pernyataan Oh-se Gong-mo,
tetapi tak mau ia banyak memikir lagi, segera ia berlutut menghaturkan sembah
hormatnya, “ Guru…!”
Buru-buru Gong-mo menariknya bangun, “Tak usah., sekalipun kuajarkan ilmu
kepandaian padamu, tetapi tak dapat kuterima engkau sebagai murid. Karena….
meskipun kau sudah mendapat ilmu pukulan Lui-hwe-ciang tetapi belum tentu kau
dapat mengalahkan Song-bun Kui-mo. Selama 30 tahun ini, diapun tentu
meyakinkan isi pelajaran dalam kitab pusaka itu. Maka hendak kupersiapkan kau
dengan cara lain lagi… ”
Ia berhenti sejenak, katanya pula, “Ilmu pukulan Lui-hwe-ciang kuterima dari
seorang tokoh aneh. Tiga puluh tahun yang lalu, beliau tinggal di dalam lembah
Sing-sim-kiap di gunung Thay-heng-san. Beliau berpesan jika aku sudah
menyelesaikan pelajaran Lui-hwe-caing supaya datang ke Thay-heng-san lagi.
Bila dapat memperoleh pemberiannya sebutir pil mKong-yang-sin-tan, barulah
ilmu pukulan Lui-hwe-ciang itu menjadi sebuah ilmu sakti yang tiada tandingannya
di dunia!”
Agak kecewa Thian-leng, “Entah siapa nama tokoh sakti itu. Aku belum
mengenalnya….”
Oh-se Gong-mo tertawa, “Beliau she Sip bernama Uh-jong. Jarang muncul di
dunia persilatan, maka namanyapun tak terkenal. Asal kau katakan tentang
pertemuanmu denganku, serta memohon supaya kau diterima menjadi murid,
berkat bahan tulangmu yang bagus, tentulah besar harapan akan diterima!”
Begitu yakin Oh-se Gong-mo dengan ucapannya sehingga asal Thian-leng dapat
menjumpaitokoh Sip Uh-jong, tentu akan memperoleh ilmu kesaktian yang dapat
melaksanakan cita-cita untuk melakukan pembalasan kepada Song-bun Kui-mo.
“Bagaimana kepandaian Sip lo-cianpwe itu jika dibandingkan dengan Hun-tiong-
sin-mo….” rupanya Thian-leng masih meragu.
“Bahkan sakit hatimu tentu dapat terbalas juga…” tukas Oh-se Gong-mo,”tetapi aku
hendak meminta kesanggupanmu. Setelah kau memahami ilmu sakti itu, pertama
kau harus melakukan pembalasan untuku, kemudian barulah kau melakukan
urusanmu yang lain-lain.!”
“Baik locinpwe. Akan kubunuh Song-bun Kui-mo dulu, baru nanti Hun-tiong-sinmo!” cepat Thian-leng memberi pernyataan. Tiba-tiba terkilas sesuatu dalam
pikirannya, tanyanya,” Tentulah lo-cianpwe pernah bertemu muka dengan Huntiong-sin-mo?”
“Ya…”
“Bagaimanakah orang itu?”
“Seorang tinggi besar yang mempunyai suara seperti geledek..”
“Ah, salah…..” di luar kesadaran Thian-leng berseru. Tetapi tiba-tiba ia teringat
akan janjinya kepada Hun-tiongSin-mo. Maka tak mau ia melanjutkan katakatanya lagi.
“Mengapa salah?” tegur Oh-se Gong-mo.
“Ah, tak apa-apa..” Thian-leng tergugu.
Untung Oh-se Gong-mo tak mau mendesak. Ia merogoh ke sebuah lubang pada
dinding goa dan mengeluarkan secarik kain warna kuning. Hati-hati sekali ia
menyerahkannya pada Thian-leng, “Inilah peta letak lembah Sing-sip-kiap. Tempat
tinggal tokoh aneh itu adalah yang kutandai dengan lingkaran merah.!”
Buru-buru Thian-leng menyimpannya dalam baju.
“Buyung, sekarang aku hendak mulai mengajarkan ilmu pukulan Lui-hwe-ciang
secara lisan. Dengarkanlah baik-baik!”
Oh-se Gong-mo , si kate yang pernah menggemparkan dunia persilatan saat itu
mulai menerangkan tentanag gerakan ilmu pukulan Lui-hwe-ciang. Thian-leng
mendengarkan dengan penuh perhatian. Diam-diam ia membatin,” Sekalipun aku
sudah dapat mengerti jelas ilmu itu, tetapi tanpa peryakinan berpuluh tahun, tentu
takkan berarti apa-apa!”
‘Apakah juga harus mengasingkan diri selama 30 tahun seperti Oh-se Gong-mo ?
Demikian pertanyaan yang meresahkan pikiran Thian-leng.
Karena kuatir Thian-leng tak dapat menerima jelas, maka Oh-se Gong-mo
mengulang sekali lagi keterangannya. Sebenarnya Thian-leng yang berotak
cerdas sudah dapat menerima seluruhnya. Begitulah kira-kira tiga jam lamanya,
barulah Oh-se Gong-mo hentikan uraiannya.
“Untuk menyempurnakan latihan Lui-hwe-ciang tentu akan menggunakan waktu
tahunan…”
“Tak perlu, dalam sekejap mata akan kujadikan kau seperti tingkatanku!” tukas Ohse Gong-mo. Tiba-tiba ia membentak, “Lekas pusatkan napasmu, hendak
kuturunkan lwekangku selama 80 tahun..!”
Thian-leng terkejut, “Tidak lo-cianpwe, jangan kau….!”
Tapi Gong-mo tak menghiraukan lagi. Segera ia mencengkeram jalan darah Khihay-hiat di perut Thian-leng yang tak dapat berkutik lagi.! Serangkum arus tenaga
dalam segera mengalir ke tubuh Thian-leng dengan derasnya. Terpaksa Thianlengpun pusatkan tenaganya untuk menyambut. Ia harus mengerutkan giginya
kencang-kencang untuk menahan rasa nyeri dari rasa panas yang merangsang
hebat di tubuhnya. Ia seperti digodog dalam kuali, seluruh ruas-ruas tulang
persendiannya seperti berantakan dan akhirnya seperti terjadi ledakan hawa
panas yang hebat sehingga membuatnya pingsan.
Entah berselang berapa lama, barulah ia tersadar kembali. Ketika teringat apa
yang telah terjadi tadi, serentak ia meloncat bangun. Ah, betapa hancur hatinya
manakala tampak Oh-se Gong-mo meringkuk di tanah dalam keadaan tak
bernyawa lagi. Dia telah kehabisan tenaga dalam. Di sampingnya terdapat
beberapa guratan huruf, “Jangan bersedih, lekas pergi ke Thay-heng-san…”
Rupanya karena kehabisan tenaga, tak dapat lagi Oh-se Gong-mo melanjutkan
tulisannya. Menangislah Thian-leng tersedu-sedan….. Setelah puas mengalirkan
air mata, ia berlutut di hadapan jenazah jago tua itu dan bersumpah, “Setelah
selesai menuntut ilmu kesaktian dan membalaskan dendam, tentulah aku datang
lagi kemari untuk menguburkan jenazah lo-cianpwe.!”
Melongok keluar, kira-kira beberapa tombak dari goa itu terdapat sebuah batu
yang menonjol. Terkilas suatu rencana untuk melompat ke arah batu itu, kemudian
baru mengenjot tubuhnya melambung ke atas. Tetapi ia lupa bahwa setelah
menerima saluran lwekang dari Oh-se Gong-mo, kini dirinya sudah jauh berlainan
dari yang tadi. Maka lompatannya itu bukan saja dapat mencapai, bahkan
melampaui batu itu beberapa meter jauhnya, sehingga tubuhnya meluncur turun
ke bawah jurang. Ia menjerit, tapi secepat itu pula ia tenangkan dirinya. Ada
sesuatu yang dirasanya aneh, tubuhnya terasa ringan sekali. Ia coba menjejakkan
ujung kakinya ke dinding karang dan serentak menggeliatkan tubuh, ah…. ia
berhasil melambung ke atas tepi jurang. Bukan main lega hatinya.
Saat itu matahari sudah terbenam, bergegas ia turun gunung. Thay-heng-san
terpisah beberapa ratus li dari Hun-tiong-san, tapi dengan kepandaian yang
dimiliki sekarang, dapatlah ia mencapai tempat itu dalam dua hari.
Hari makin malam, tak tahu sudah berapa jauh ia berjalan, saat itu ia tiba di
sebuah hutan lebat.
Sekonyong-konyong ia mencium angin berbau amis. Ia berhenti dan menghampiri
arah bau amis itu. Di ujung hutan ia menyaksikan suatu pemandangan yang
mengerikan. DI atas sebuah jalan kecil yang berada di luar hutan, terkapar
malang-melintang belasan mayat. Tubuh mereka hancur, tulang berserakan.
Sebuah bendera kecil berbentuk segi tiga menancap di batang pohon di dekatnya.
Astaga……. itulah Panji tengkorak darah, lambang kebesaran Hun-tiong-sin-mo.!
Melihat dandanan mayat-mayat yang mengenakan pakaian ringkas dan
membawa pedang, mereka tentu kaum persilatan. Dan dari mayat mereka yang
masih segar, mungkin mereka baru saja dibunuh setengah jam yang lalu.
Meluap darah Thian-leng menyaksikan kebuasan Hun-tiong-sin-mo, segera ia
menerobos ke dalam hutan.Jika iblis itu masih berada di dalam hutan ia bertekad
hendak mengadu jiwa. Tetapi hutan sepi senyap, betapapun ia menjelajahi
seluruh pelosok, tetap tidak menemukan seeorang.
Untuk melampiaskan kemarahan, berserulah ia sekuat-kuatnya, “Setan tua Huntiong, ganas sekali kau! Pada suatu hari kaupun bakal menjadi seperti korbankorbanmu ini. Mayatmu akan hancur berkeping-keping!”
Ia terkejut sekali ketika mendapatkan suara jeritannya itu sekeras geledek,
sehingga pohon-pohon tergetar dan burung-burung terbang berhamburan.
Benarkah sekarang ia mempunyai lwekang yang hebat? Dicobanya sekali lagi
untuk menghantam sebatang pohon sebesar lengan. ‘Brak..’.. pohon itupun
berderak-derak tumbang dan bekas kutungannya hangus seperti habis dibakar!
Suatu hal yang benar-beanr membuatnya terkejut dan girang.!
Tetapi kegirangannya itu berobah menjadi kesedihan lagi manakala ia kembali ke
tempat mayat-mayat tadi. Betapa sedih hati keluarga mereka. Ah, teringat akan
keluarga, iapun terkenang akan seluruh keluarganya yang dibasmi oleh Huntiong-sin-mo. Kematian ibunya pada 3 hari yang lalu hampir membuatnya
menangis lagi…
Karena tak tahan, cepat ia hendak berlalu. Tetapi sekonyong-konyong ia kasihan
akan mayat-mayat itu. Segera ia kembali untuk membuat liang. Pada saat hendak
mengubur mayat-mayat itu, tiba-tiba terdengar derap langkah orang mendatangi.
Berpaling ke arah datangnya suara, ia terkejut bukan kepalang. Belasan orang
muncul dari balik hutan. Thian-leng batalkan penguburan dan bersiap sedia.
Ternyata yang datang itu ialah si nona baju ungu Ki Seng-wan dan seorang baju
hijau. Mereka membawa pengiring 8 orang tua berjubah biru.
“O, Kang Tayhiap, sungguh tak nyana kita berjumpa pula!” Ki Seng-wan tertawa
genit.
Thian-leng hanya mendengus dingin.
“Apakah ini orangnya yang kaukatakan itu?” tanya si nona baju biru.
“Ya,” Ki Seng-wan mengiyakan, “dia luar biasa anehnya. Sebentar bisa ilmu Kimwi-sin-kang, sebentar bisa ilmu Bu-siang-sin-kang dan sebentar berobah seperti
seekor kerbau gila. Pendek kata segala apa dia bisa.Semalam dia jatuh ke dalam
jurang, tetapi tak meninggal dan sekarang hendak menghilangkan jejak
perbuatannya membunuh sekian banyak jiwa manusia!”
“Jangan menghambur fitnah! Siapa yang membunuh korban-korban itu?” bentak
Thian-leng.
“Siapa lagi kalau bukan kau!” Ki Seng-wan tertawa mengikik.
“Bagaimana kau tahu kalau aku yang membunuh?” tanya Thian-leng.
“Kalau bukan kau yang membunuh, mengapa kau hendak menguburnya?”
“Aku tak kenal padamu, jangan terus menerus mengganggu! Urusan semalampun
takkan kutarik panjang lagi!”
Makin Thian-leng marah, makin keras Ki Seng-wan tertawa, “Enak saja kau
omong. Kemarin malam kau sudah mendapat kemurahan, tetapi jangan harap
sekarang kau bisa lolos lagi!”
“Ji-moay, perlu apa berbantah dengan dia? Ringkus saja nanti kita periksa!” nona
baju hijau berseru. Ia mengangkat tangan dan 8 pengawal segera mengurung
Thian-leng.
Dua orang pengawal membuka serangan dari kanan-kiri. Thian-leng marah dan
balas memukul. Kedua orang itu terpental beberapa langkah ke belakang. Yang
seorang menjerit ngeri karena sebelah lengannya putus. Pakaian keduanya
berlubang seperti terbakar.
“Hai, dia bisa ilmu pukulan Lui-hwe-ciang, awas ….!” Ki Seng-wan berseru kaget.
tetapi Thian-leng tak mau menyerang lagi karena ia tak bermaksud melukai orang.
“Kau benar-benar bukan orang sembarangan, tetapi tetap jangan harap bisa
lolos!” seru Ki Seng-wan seraya maju menutuk.
Thian-leng jengkel dan balas menghantam. Tetapi tutukan Ki Seng-wan itu hanya
sebuah siasat, sambil menyelinap ke samping ia melepaskan sebuah pukulan.
Tetapi Thian-leng juga tak mau kalah, begitu pukulannya luput, ia segera berkisar
dan menangkis. Kali ini adu pukulan tak dapat dihindari lagi. Aneh, tiada terdengar
suara apa-apa, tetapi kedua-duanya sama-sama tersurut mundur selangkah.
Ki Seng-wan mendengus, “ Hm, sifat lunak menundukkan sifat keras.Lwekang
lunakku ternyata dapat menindas lwekang kerasmu!”
Thian-leng tersirap kaget. Ia menggunakan 8 bagian tenaganya dlam pukulan tadi,
tetapi dapat ditindas lawan, bahkan lwekang si nona dapat juga mebuatnya
terpental. Thian-leng merasakan darahnya mendebur keras.
“Sifat keras yang sempurna tentu dapat menundukkan sifat lunak. Betapapun kau
gunakan lwekang lunak, tetap akan hancur ! “ dengusnya.
“Sifat lunak yang sempurna tentu dapat mengatasi sifat keras. Betapa hebat
lwekang kerasmu, aku tetap dapat menundukkan. Apalagi ….” Ki Seng-wan
berkata dengan tekanan nada keras, “Kau tak sempat mempelajari lwekang keas
yang sempurna!”
Ki Seng-wan menutup kata-katanya dengan sebuah serangan. Si nona baju hijau
tak sabar lagi, bersama ke 8 pengawalnya ia segera menyerbu Thian-leng.
Pertempuran berlangsung seru. Ki Seng-wan dan si nona baju hijau melancarkan
ilmu lwekang Im-ji-kang yang bersifat lunak. Pukulannya tak mengeluarkan suara
tetapi mengandung tekanan hebat. Mereka berdua menyerang dengan kompak,
sebentar dari kanan kiri, lain saat dari muka belakang.
Thian-leng benar-benar tak berdaya. Kedua nona itu menyerang secara rapat,
sehingga ia tak dapat mengembangkan kedahsyatan ilmu pukulan Lui-hweciangnya.
Kedelapan pengawal membentuk lingkaran untuk mengepung rapat. Mereka
bersorak-sorak memberi semangat kepada kedua nona, bahkan sekali dua kali
mereka ikut menyerang. Thian-leng makin terdesak, permainannya mulai kacau.
Beberapa kali hampir saja ia terancam bahaya.
“Orang she Kang, sebaiknya kau menyerah saja. Jika kau suka menyerah, maka
aku dan taciku takkan membunuhmu!” tiba-tiba Ki Seng-wan berseru.
“Hm, karena tak mempunyai dendam apa-apa, maka aku tak mau menyerang
kalian sungguh-sungguh…”sambil menjawab Thian-leng dorongkan kedua
tangannya. Ki Seng-wan terdesak mundur beberapa langkah karena tertekan
hawa panas dari pukulan Thian-leng.
Melihat itu si nona baju hijau segera memberi perintah, “Selesaikan dia hidup atau
mati.” Ia sendiri segera menyerang dengan gencar. Amukan si nona itu dapat
menggagalkan kedudukan Thian-leng yang hampir saja di atas angin. Pada saat
ke 8 pengawal itu ikut maju menyerang, kembali Thian-leng di pihak yang terdesak
lagi.
Pada detik-detik berbahaya, sesosok bayangan biru menerobos ke dalam
lingkaran pertempuran. Dengan pedang pendek semacam badik, orang itu
menyerang Ki Seng-wan dan si nona baju hijau.
Thian-leng terkesiap heran. Gerakan pendatang itu luar biasa cepatnya, sesaat
kemudian terdengar Ki Seng-wan menjerit tajam. Orang itupun menghentikan
serangannya dan berdiri tegak.
Tampak wajah kedua nona itu berobah. Ki Seng-wan mendekap lengan kanan,
darah bercucuran dari lengan itu. Ternyata lengannya kena dilukai. Sedangkan si
nona baju hijaupun mengalami malu yang hebat, baju di bagian dadanya kena
tergurat robek, sehingga para pengawalnya melongo.
Thian-leng saat itu baru melihat jelas. Pendatang tak dikenal itu berumur kurang
lebih 20 tahun, memakai kain ikat kepala dan jubah warna biru muda. Tubuhnya
langsing, wajahnya kuning pucat macam orang sakit. Hanya sepasang matanya
yang berkilat-kilat memancarkan sinar tajam.
Orang itu sejenak berpaling ke arah Thian-leng dan memberi senyuman tawar.
Setelah itu berpaling lagi ke muka. Tersirap darah Thian-leng ketika beradu
pandang, Ah, ia ingat-ingat lupa , seperti pernah mengenalnya. Ia memandang
pula dengan seksama. Ah, rasanya ia belum pernah kenal. Akhirnya ia memberi
hormat menghaturkan terima kasih, “Banyak terima kasih atas bantuan saudara.
Aku….”
“Nanti kita bicara lagi setelah kuhalau mereka!“ orang itu cepat menukas.
Si nona baju hijau sambil mendekap dadanya, berseru,”Mengapa kau
menyerang ? Apakah hendak memusuhi kami berdua ? “
“Aku paling benci pada orang yang main keroyokan. Setiap melihat perbuatan
yang tak adil, aku tentu campur tangan, “ sahut pemuda itu.
“Siapakah namamu?” tanya si nona.
Pemuda itu sejenak meragu, lalu menyahut, “Cu Siau-bun, setiap saat kalian boleh
mencari balas padaku ! “
“Cu Siau-bun…. ah seorang tak ternama! “ si nona baju hijau mendengus hina.
Cu Siau-bun tertawa keras, “Memang aku tak ternama. Sebenarnya mudah untuk
mengangkat nama. Asal kubunuhi tokoh-tokoh persilatan, tentu namaku cepat
termasyhur….” sekonyong-konyong ia mengebutkan lengan bajunya. Serangkum
sinar kemilau meluncur ke arah 4 orang pengawal. Mereka mengerang dan rubuh!
Tenang sekali si nona baju hijau memandang keempat pengawalnya yang rubuh
itu, ujarnya,” Ah, selain ilmu pedang, Cu tayhiap juga mahir menimpukkan senjata
rahasia!”
Kembali Cu Siau-bun tertawa, “Jangan kuatir, senjata rahasia Tui-hong-kiong
(passer pengejar angin) itu tak beracun. Tetapi dapat menembus jantung orang.
Jauh lebih ganas dari segala racun. ! “
Habis berkata kembali Cu Siau-hun mengangkat tangan hendak menabur lagi,
tetapi cepat-cepat dicegah oleh Thian-leng, “Saudar Cu, jangan !"
Tetapi sudah terlambat. Salah seorang pengawal menjerit rubuh.! Dan Cu Siaubun tertawa kepada Thian-leng. Rupanya pemuda itu menganggap membunuh
jiwa orang seperti suatu permainan yang menggembirakan.
“Agaknya Cu tayhiap juga tak mau melepaskan kami berdua kakak beradik?” tegur
nona baju hijau.
Cu Siau-bun tertawa, “Kebalikannya, silakan nona pergi agar aku tak merobah
keputusanku!”
Kata nona baju hijau itu lagi, “Sekalipun kami bukan tandinganmu, tetapi pihakku
tentu akan membuat perhitungan padamu!” ia terus ajak Ki Seng-wan angkat kaki.
Thian-leng menanyakan apakah pemuda Cu itu juga mempunyai dendam
permusuhan dengan kedua nona.
“Aneh,” Cu Siau-bun tertawa dingin, “aku tak kenal siapa mereka dan hanya
semata-mata membantumu saja!”
“Terima kasih atas bantuan saudara, “Thian-leng menghela napas, “tetapi caramu
melakukan pembunuhan itu sungguh keterlaluan sekali!”
Sambil memungut kayu, kembali ia teruskan membuat liang kuburan lagi.
“Hei, mau bikin apa kau?” tegur Cu Siau-bun.
Ketika Thian-leng menyatakan hendak mengubur mayat-mayat itu, Cu Siau-bun
menertawakannya, “Ah, sifat seorang wanita…………. bukan seperti orang jago
persilatan ! “
Thian-leng tidak menghiraukan dan tetap meneruskan galiannya. Selesai
mengubur semua mayat, ia segera melangkah pergi. Tiba-tiba dilihatnya Cu Siau-
bun masih enak-enak duduk di bawah pohon. Ia menghampiri anak muda itu, “Cuheng, mengapa kau tak pergi?”
“Menunggumu!” Cu Siau-bun tertawa tawar.
“Aku…….” Thian-leng tergugu. Ia tak senang dengan keganasan pemuda itu dan
juga ia tak mau mengajak kawan dalam perjalanan ke gunung Thay-heng-san.
“Eh, apakah kau tak suka bersahabat dengan aku?” teriak Cu Siau-bun.
“Aku hendak berkelana tanpa tujuan, bagaimana saudara hendak ikut?”
“Itu bagus, memang akupun sedang mengembara. Senang sekali aku dapat
mengawanimu kemana saja ! “
Thian-leng mati kutu. Tak dapat ia menolak. Cu Siau-bun segan-seganan bangkit.
Tiba-tiba ia mencabut panji tengkorak darah yang tertancap di pohon.
“Hm, pintar sekali orang yang membuat ini sehingga menyerupai yang tulen ! “
dengusnya.
“Tetapi itu terang panji dari Hun-tiong-sin-mo…. ! teriak Thian-leng.
“Palsu!” bentak Cu Siau-hun.
Thian-leng tersentak mundur, serunya,”Bagaimana kau tahu kalau palsu?”
Cu Siau-hun terkesiap, serunya,”Sudah beberapa hari aku mondar mandir di kaki
gunung Hun-tiong-san. Selama itu tak kupergoki dia pergi kemana-mana. Terang
ada orang yang memalsunya!”
“Iblis itu sakti sekali, gerak-geriknya sukar diduga. Dia pergi atau tidak, bagaimana
kau tahu? Hanya…..akupun mempunyai dugaan, bahkan Hun-tiong-sin-mo itu
sendiri juga palsu…..! tiba-tiba Thian-leng menghentikan kata-katanya, karena
teringat akan janjinya kepada Hun-tiong-sin-mo.
“Bagaimana kau tahu kalau iblis Hun-tiong-sin-mo itu palsu?” sekarang giliran Cu
Siau-bun yang menegur tajam.
Thian-leng tersentak mundur dan berkata dengan tergagap, “Aku…aku hanya
menduga saja…” Dengan cepat iapun mengalihkan pembicaraan, “Aku masih
mempunyai urusan penting, maaf saudara Cu… silakan kau pergi sendiri!” Ia
memberi hormat lalu melangkah pergi.
Tetapi Cu Siau-bun tertawa dingin dan membuntutinya! Terpaksa Thian-leng
berhenti.
“Aku hendak pulang ke pondokku dulu. Sayang karena pondokku itu kecil tak
dapat menerima tetamu, Cu-heng…”
“Tak usah kau usir aku, karena sebenarnya akupun tak berniat mengikutimu,
melainkan….,”Cu Siau-bun sejenak memandang Thian-leng, ujarnya
pula,”Akupun tiada jalan lain!”
“Maksud saudara?” Thian-leng heran.
“Aku berasal dari Lamciang, asing dengan daerah ini. Kulihat Kang-heng seorang
yang baik hati dan juga sendirian, maka ingin kumengikat persahabatan. Tapi ah,
mengapa Kang-heng begitu getas menolak diriku!”
Thian-leng kehabisan alasan, terpaksa ia menerima. Apalagi jika pemuda itu tak
membantunya, mungkin ia sudah tertangkap rombongan Ki Seng-wan.
“Siapa lagi yang berada di rumah Kang-heng?” tanya Cu Siau-bun setelah
mengetahui orang tak menolak.
Thian-leng menghela napas, “Sejak kecil aku bernasib malang. Hidup bersama
sorang ibu di lembah Pek-hun-koh yang terpencil di gunung Lu-liang-san…”
“Apakah ibu Kang-heng sudah menutup mata?”
“Ya, baru tiga hari yang lalu, dibunuh Hun-tiong-sin-mo!” Thian-leng menggeram.
“O, kiranya Kang-heng hendak melakukan pembalasan !? “
“Bagaimana saudara mengetahui ? “ Thian-leng heran.
“Bukankah beberapa hari yang lalu Hun-tiong-sin-mo membuka pertandingan
terbuka untuk kaum persilatan? Jika tak berniat melakukan pembalasan,
bagaimana kau menuju ke sana?” sahut Cu Siau-bun.Tanpa menanyakan
pengalaman Thian-leng selama hadir di pertandingan itu, Cu Siau-bun
melanjutkan pertanyaannya, “Sudah terlanjur mengembara jauh, mengapa
sekarang Kang-heng terburu-buru pulag?”
“Mendiang ibuku telah meninggal dengan dada tertusuk pedang. Sebelum
menutup mata, beliau pesan supaya jenazahnya jangan dikubur, tetapi ditaruh
dalam sebuah goa tertutup!”
“Aneh!” Cu Siau-bun menggerutu heran.
“Tetapi kurasa lebih aman kalau kutanam saja. Setelah itu baru kuberdaya
melakukan pembalasan pada Hun-tiong-sin-mo!”
Cu Siau-bun menyetujui dan memuji Thian-leng seorang anak berbakti.
Demikianlah keduanya segera melanjutkan perjalanan.
Dua hari kemudian, tibalah mereka di muka lembah Pek-hun-koh yang terletak di
daerah pedalaman gunung Lu-liang-san. Mulut lembah ditimbuni batu oleh Thianleng. Sudah hampir 10 tahun lamanya Thian-leng dan ibunya tinggal di situ.
Ketika memasuki lembah, pemandangan yang pertama menumbuk mata Cu Siaubun adalah sebuah lapangan kuburan yang dihuni oleh empat puluhan makam.
Wajah Thian-leng berobah pucat, matanya berkaca-kaca. Ia cepat berlari menuju
ke sebuah gubug yang berada di tengah kuburan itu. Gubug itu pendek sekali,
pintunya ditutup dengan rantai.
Senja di kuburan dalam lembah yang sunyi, menimbulkan suatu pemandangan
yang menyeramkan. Tenggoret mulai berbunyi nyaring, angin menghembus
dingin, mau tak mau Cu Siau-bun merasa seram juga.
Setelah membuka kunci, Thian-leng segera menerobos masuk. Tetapi seketika itu
dia lantas tegak seperti patung, darahnya serasa berhenti. Sampai sekian lama
barulah mulutnya berseru terputus-putus, “Jenazah ….. ibuku…. lenyap…. !”
Matanya berkunang-kunang, bumi yang dipijaknya serasa berputar dan robohlah
pemuda itu. Untung Cu Siau-bun cepat menyambutnya, ia mengulum senyum
sinis.
Setelah ketenangannya pulih, Thian-leng membanting-banting kaki, mengeluh,
“Sudah belasan tahun tempat ini tak pernah kedatangan tamu. Mulut lembah
kututup dan gubug kukunci, mengapa jenazah ibuku….” ia tak dapat melanjutkan
kata-katanya karena tersekat isak tangis.
Cu Siau-bun mondar-mandir dalam gubug untuk memeriksa. Wajahnya tetap
memancarkan senyuman tawar. Beberapa saat kemudian baru ia menghampiri
Thian-leng.
“Semasa hidupnya, ibumu itu tentu berwatak aneh, keras dan ganas. Tentu tak
mempunyai kasih sayang sebagai ibu kepadamu…”
Pada saat itu Thian-leng duduk di atas sebuah kursi bambu. Hatinya sudah agak
tenang, tetapi demi mendengar ucapan Cu Siau-bun, bangkitlah ia serentak,
bentaknya,”Kau… kau tak layak menghina ibuku!”
Cu Siau-bun tersurut mundur selangkah, ia tertawa dingin, “Yang menjalani
memang bingung, tetapi yang melihat akan lebih jelas. Aku kan hanya bermaksud
membantumu mencari kebenaran, mengapa sedemikian bengis sikapmu? “ tibatiba ia berhenti sejenak, katanya pula,” Aku hanya ingin tahu, apakah keadaanmu
benar seperti yang kutanyakan itu?”
Pemuda itu memandang wajah Thian-leng dengan ramah. Seri wajahnya seolaholah mengunjukkan rasa mesra dan simpati kepada Thian-leng.
Thian-leng menghela napas,” Tujuh belas tahun yang lampau, tak lama setelah
aku dilahirkan, Hun-tiong-sin-mo mengganas di keluargaku. Empat puluh orang
keluargaku dibunuh semua. Mungkin penderitaan batin itu merobah perangai
ibuku…”
“Apakah gundukan tanah di luar itu kuburan dari keluargamu?” tanya Cu Siau-bun.
Thian-leng mengangguk dengan mata berllinang. Tiba-tiba Siau-bun tertawa
terkekeh, serunya,”Ah, saudara Kang, kau telah masuk dalam perangkap yang
lihay. Kasihan kau tak mengetahui. Jika tak berjumpa denganku, mungkin sampai
matipun kau tak sadar….” Kemudian ia berkata seorang diri, “Hebat betul tipu
siasat orang ini. Sedemikian halus dan licin, sehingga orang tak menyadari…”
“Aku tak mengerti maksudmu….”
“Memang kau tak mengerti,” tukas Cu Siau-bun, “hatimu polos dan jujur, maka
mudah ditipu orang. Ya, aku berani mengatakan, bahwa selama ini kau tentu tak
pernah mencurigai ibumu itu….. “
Thian-leng serentak bangun dan menjerit geram, “Cu-heng…”
Cu Siau-bun memandangnya dengan rasa simpati dan ditepuknya bahu pemuda
itu, ujarnya,”Memang soal ini berbelit-belit, tetapi apakah sedikitpun kau tak
menaruh kecurigaan? Misalnya kematian ibumu yang begitu aneh dan pesannya
yang tak wajar. Apakah kau terima begitu saja?”
Tergerak pikiran Thian-leng. Ya, memang kata-kata Cu Siau-bun itu masuk akal.
Tetapi ia tak tahu bahwa di balik diri ibunya itu tersembunyi sesuatu rahasia.
“Kau mengatakan bahwa seluruh keluargamu telah dibasmi oleh Hun-tiong-sinmo. Tetapi mengapa hanya ibumu dan kau yang selamat?”
“Karena dengan memondong aku, beliau bersembunyi dalam sebuah sumur mati!”
“Kau masih bayi, tentunya ibumu yang menceritakan hal itu bukan?”
“Beliau bukan seorang ibu yang suka berbohong!” Thian-leng berseru geram.
Cu Siau-bun tertawa sinis,”Baik, taruh kata hal itu benar, tetapi masih ada lagi hal
yang menyangsikan. Kau mengatakan ibumu dibunuh oleh Hun-tiong-sin-mo,
tetapi mengapa dia tak membunuhmu sekalian…?”
“Karena waktu itu aku tidur di rumah belakang, mungkin iblis itu tak mengetahui.”
“Tujuan Hun-tiong-sin-mo ke lembah terpencil ini, adalah semata-mata hendak
membunuh kalian ibu dan anak. Masakan dia tak mencarimu ke rumah
belakang….!”
Kali ini Thian-leng tergagap tak dapat menjawab.
“Apabila penilaianku tak salah, pembunuhan itu tentu dilakukan pada malam hari.
Jeritan ngeri dari ibumu telah membangunkan kau. Kau segera bergegas lari
menghampiri dan mendapatkan ibumu rebah dengan dada tertancap pedang, di
samping tempat tidurnya terdapat panji tengkorak. Saat itu ibumu masih dapat
berkata-kata memberi pesan terakhir, setelah itu baru menutup mata…. “
Thian-leng terlongong memandang pemuda itu. Ia heran mengapa Cu Siau-bun
dapat menceritakan peristiwa itu dengan tepat, seperti menyaksikan sendiri. Cu
Siau-bun tersenyum ewa.
“Tetapi dia tidak mati, dia pergi!” tiba-tiba pemuda itu berseru nyaring.
Seketika mengigillah tubuh Thian-leng mendengar ucapan yang seperti halilintar
pecah di tengah hari itu. Wajahnya berobah pucat, mulutnya tergugu, “Bagaimana
mungkin, itu….”
“Di atas tempat tidur maupun di bawahnya tentu tak terdapat bekas-bekas darah.
Dia menggunakan ilmu menutuk tubuh dengan senjata. Orang lain mungkin kena
dikelabui, tetapi prmainan anak kecil semacam itu mana dapat menipu aku… “
Cu Siau-bun berhenti sejenak, katanya pula, “Dia telah mengatur siasat
sedemikian indah Dipilihnya 3 hari sebelum Hun-tiong-sin-mo menerima
tantangan kaum persilatan. Tempo 3 hari itu cukup untuk menyuruhmu ke Huntiong-san…..”
“Tetapi beliau pesan agar aku menyingkir pergi sejauh mungkin, jangan
melakukan pembalasan. Beliau tahu bahwa aku bukan tandingan iblis itu…”
bantah Thian-leng.
Kembali Cu Siau-bun tertawa sinis,”Tiada seorangpun yang lebih mengenal
puteranya daripada seorang ibu. Entah apakah dia itu sungguh ibumu atau bukan,
tetapi dia sudah tinggal bersamamu selama belasan tahun. Masakah dia tak kenal
tabiatmu. Melarang kau melakukan pembalasan, berarti mendesak batinmu
supaya melakukan pembalasan. Waktu 3 hari dari pertempuran di Hun-tiong-san
itu tak memberimu kesempatan untuk berpikir lagi. Kau tentu nekad akan
melakukan pembalasan.”
Menunjuk pada sebuah peti kayu yang terbuka di atas meja, berkatalah Cu Siaubun, “Diam-diam ia menyembunyikan sebotol Pek-tok-jong, tetapi sengaja ia
perlihatkan. Di dalam peti itu terdapat keterangan tentang penggunaan racun yang
luar biasa ganasnya itu. Telah diperhitungkannya bahwa kau tentu membawanya
untuk menempur Hun-tiong-sin-mo. Syukur Hun-tiong-sin-mo dapat dibinasakan
dengan racun itu. Apabila dia tidak mati, sekurang-kurangnya kaulah yang akan
dibunuh iblis itu. Karena selama 60 tahun ini, tak pernah ada orang yang keluar
dari Hun-tiong-san dengan hidup!”
Cu Siau-bun tertawa geli, “Ha, ha, hebat sekali dia mengatur rencananya, tetapi
masih ada kelemahannya. Ia tak menyangka akan timbul hal-hal di luar
perhitungannya!”
Saat itu Thian-leng seperti jago yang sudah keok. Ia menundukkan kepala dan
mengeluh sedih, “Tetapi mengapa ibuku berbuat begitu, apakah alasannya…”
“Ho, kau tetap belum menyadari bahwa dia itu bukan ibumu!” teriak Cu Siau-bun.
Merahlah sepasang mata Thian-leng. Ia memandang Cu Siau-bun dengan
terlongong-longong. Kasihan juga Cu Siau-bun melihat diri anak muda itu, katanya
dengan berbisik, “Mungkin kau masih belum yakin. Baiklah, hendak kuberikan lagi
sebuah bukti yang kuat!” Ia melangkah keluar pondok. Thian-leng segera
mengikutinya.
“Apabila kuburan-kuburan itu sungguh berisi jenazah keluargamu,” Cu Siau-bun
menunjuk ke arah gundukan kuburan, “anggaplah bahwa keteranganku semua
tadi bogong belaka. Silakan gali kuburan itu!”
Kembali Thian-leng terbelalak. Namun hal itu penting sekali baginya. Segera ia
mencari cangkul dan mulai menggali sebuah kuburan. Menurut batu nisan yang
terpancang di muka kuburan, yang digali itu adalah kuburan pamannya. Cepat
sekali ia sudah menggali sampai 2 meter lebih dalamnya. Darahnya serasa
berhenti ketika tak didapatinya barang satu peti mati dalam liang kubur itu. Masih
dia penasaran, digalinya 5 buah kuburan lagi… ah… kosong melompong semua !
Thian-leng terhuyung-huyung jatuh terduduk akibat pukulan yang mendera
batinnya. Apa yang dikatakan Cu Siau-bun itu nyata semua. Wanita itu bukan
ibunya dan ternyata tidak mati.Tetapi siapakah gerangan dia itu? Dan siapakah
ibunya yang sejati? Mati atau masih hidupkah ? Mengapa sejak kecil ia dipelihara
wanita itu?
Hanya dalam beberapa detik saja, Thian-leng merasa dirinya tercebur ke dalam
lembah teka-teki yang penuh rahasia. Apa yang dirasa benar selama ini ternyata
salah semua. Ia kehilangan paham paham akan keadaan dirinya sendiri. Ah, kalau
begitu Hun-tiong-sin-mo itu bukanlah musuhnya! Kemungkinan wanita yang
mengaku jadi ibunya selama 17 tahun itulah yang menjadi musuh sebenarnya.
Tetapi mustahil, aneh, tak masuk akal…. demikian benak thian-leng berbantah
sendiri. Perlu apa wanita itu memeliharanya sampai besar? Bukankah kalau mau,
dapat membunuhnya dengan mudah? Tetapi mengapa tidak? Kalau wanita itu
mempunyai dendam pada Hun-tiong-sin-mo, bukankah dapat mencari rencana
lain dan tak perlu memelihara dirinya sampai 17 tahun lamanya! Mengapa , ya ,
mengapa….?
Tiba-tiba thian-leng teringat pada Hun-tiong-sin-mo. Iblis itu jelas tak sesuai seperti
yang dikatakan Oh-se Gong-mo. Kalau begitu Hun-tiong-sin-mo yang menguasai
gunung Hun-tiong-san itu bukanlah iblis Hun-tiong-sin-mo yang asli. Benar suatu
teka-teki yang luar biasa…. Nyata bahwa dunia persilatan itu merupakan
panggung sandiwara yang besar. Dan nasib telah menbuat Thian-leng dilahirkan
dalam kancah pergolakan dunia persilatan yang penuh keanehan!
“Mengapa? Mengapa? Mengapa….? karena terhimpit oleh rasa sesak, mulut
Thian-leng menjerit-jerit kalap.
Tiba-tiba sebuah tangan yang halus telah menjamah bahunya dan terdengarlah
suara yang lemah lembut di telinganya, “Mengapa? Itulah yang harus kita
pecahkan…..”
Thian-leng mengangkat kepala. Matanyapun segera tertumbuk pada sepasang
mata halus dari wajah Cu Siau-bun yang mengandung rasa simpati.
Tiba-tiba Thian-leng mendekap sepasang tangan Cu Siau-bun, serunya, ”Terima
kasih saudara Cu! Jika bukan kau yang membuka rahasia ini, aku tentu masih
terbenam dalam kegelapan!”
Wajah Cu Siau-bun yang pucat kekuning-kuningan tampak memerah. Tersipu-sipu
ia menarik tangannya, “Aku tak suka campur tangan urusan orang lain. Tetapi
sekali sudah campur tangan, tentu akan kubantu engkau menyelesaikan urusan
ini sampai jelas !”
Thian-leng berterima kasih dan mengagumi kecerdikan Cu Siau-bun. Sayang ia
tak pandai bicara, sehingga sukar untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.
“Ah, sudah lewat tengah malam, marilah kita beristirahat, “kata Cu Siau-bun,
“Besok pagi kita lanjutkan lagi penyelidikan kita.”
Thian-leng tidur di rumah belakang. Karena lelah, cepat ia tertidur pulas. Tetapi Cu
Siau-bun tak dapat tidur, ia mondar-mandir dalam gubug itu, pikirannya melayanglayang. Ia merasa aneh kepada dirinya sendiri/ Mengapa ia paksakan diri untuk
membantu urusan Thian-leng? Mengapa ia rela memomong pemuda itu? Thianleng seorang yang polos hatinya sehingga tampaknya seperti ketolol-toloan.
Semula ia tak ambil pusing tetapi, lama kelamaan timbullah rasa sukanya kepada
pemuda itu. Aneh, aneh…..
Setelah letih dalam lamunan, akhirnya dapat juga ia tertidur beberapa jam. Tetapi
tiba-tiba ia tersentak bangun. Lapat-lapat di luar jendela terdengar suara angin
berhembus perlahan. Sekalipun hampir tak kedengaran, namun telinganya yang
tajam dapat juga menangkap suar yang mencurigakan itu. Diam-diam ia siapkan
tiga batang jarum Tui-hong-jiong di tangan. Setelah memperhatikan arahnya,
segera ia taburkan keluar jendela….
Jarum Tui-hong-kiong (pengejar angin) itu sehalus siong-ciam (jarum daun
cemara). Sedikitpun tidak mengeluarkan suara, kecuali warnanya yang mengkilap
di dalam kegelapan malam!
Tring, tring, tring….. terdengar kerincing halus dari 3 batang jarum yang
berhamburan jatuh. Menyusul sebuah ketawa mengejek berkumandang perlahan.
Cu Siau-bun terkejut, pikirnya, “ Ah, wanita yang mengaku ibu Thian-leng itu
ternyata lihay sekali, taburan jarumku dapat dikebutnya!”
Sekali bergerak ia melesat keluar jendela. Rembulan bersinar, langit berhias
bintang-bintang. Di antara gundukan kuburan itu, tampak tegak seorang wanita
pertengahan umur, mukanya ditutupi selubung kain sutera tipis.
Dengan gusar Cu Siau-bun segera lompat menyerangnya. Tetapi wanita
berkerudung itu memutar tubuh dan loncat lari ke mulut lembah. Cu Siau-bun
mengejarnya. Kira-kira berlari dua puluhan tombak, tiba-tiba wanita itu tertawa
terus berputar dan menghantamnya.
Cu Siau-bun berhenti tegak. Dia tak menghindar maupun menangkis. Tetapi
anehnya pukulan wanita itu terbelah menghambur di kedua samping tubuhnya.
Tanah muncrat berhamburan, namun kecuali pakaiannya yang berkibar-kibar,
sama sekali Cu Siau-bun tak terluka apa-apa. Ia tertawa menghina !
Wanita berkerudung itu terkesiap kaget, serunya, “Kau bisa ilmu melicinkan
tubuh?”
“Matamu tajam juga!” Cu Siau-bun tertawa mengejek. Tiba-tiba ia mencabut
sebilah pedang pendek yang panjangnya hanya setengah meter. Begitu
dikibatkan segera ia menyerang. Pedang yang begitu pendek ternyata dapat
berobah menjadi lingkaran cahaya pedang sepanjang dua meter. Tubuh wanita itu
seolah-olah terbungkus oleh sinar pedang.
Wanita itu semakin kaget, namun iapun dapat mengelak dengan gesit sekali. Tiga
buah serangan Cu Siau-bun tak mampu mengenainya. Pemuda itupun terkejut. Ia
tarik pedangnya dan tegak berdiri di muka wanita itu.
Sepasang mata si wanita berkilat-kilat tajam memandang wajah Cu Siau-bun, tibatiba ia berseru dengan nada agak bergetar,
“Ilmu pedang Hui-hun-kiam! Apakah kau….?”
Jilid 2. Panji Tengkorak Darah
“Kau tahu riwayatku?” Cu Siau-bun tertawa dingin.
“Telah kuduga semula, sekarang hanya untuk membuktikan saja!” sahut si wanita
berkerudung.
Cu Siau-bun tertegun sesaat, kembali ia tertawa dingin,”Hun-tiong-sin-mo masih
tidak mati, ‘puteramu’pun tak binasa! Hm, sia-sia saja jerih payahmu! Apakah
maksudmu yang sebenarnya?”
“Aku hanya lengah sedikit, tak mengira kalau Hun-tiong-sin-mo masih mempunyai
pil Tay-hoan-tan. kalau tidak, saat ini dia tentu sudah mampus!” sahut si wanita.
“Bagaimana kau tahu.....?” Cu Siau-bun terbeliak.
Wanita berkerudung itu tertawa hambar, “Sudah tentu tahu. Tiada yang tahu lebih
jelas asal-usul Hun-tiong-sin-mo kecuali aku. Dari mana pil Tay-hoan-tan itupun
aku juga tahu. Hm, aku lupa bahwa pil itulah satu-satunya obat yang dpat menolak
segala macam racun.....”
“Sebuah langkah kecil yang salah, menghancurkan seluruh rencanamu.
‘Puteramu’ yang kau asuh selama tujuh belas tahun itupun telah mengetahui
siasatmu. Dia membenci dan hendak menbunuh. Tak mau dia mengakuimu
sebagai ibu lagi!” dengus Cu Siau-bun.
“Kalau bukan gara-garamu, tentu dia masih belum tahu. kau seharusnya
dilenyapkan....... !’ tiba-tiba wanita berkerudung itu menghentikan kata-katanya
sejenak, lalu berkata lagi dengan bengis, “Tetapi tak nanti dia bisa lolos dari
cengkeramanku. Setiap saat aku dapat membunuhnya. Hanya saja untuk
sementara waktu ini aku masih belum berniat membunuhnya. Hendak kugunakan
tenaganya untuk membunuh Hun-tiong-sin-mo!”
Cu Siau-bun tegakkan pedangnya, ia berseru,” Betapapun kau hendak memasang
perangkap apa saja, akhirnya tetap akan gagal. Mari kita putuskan siapa yang
berhak hidup malam ini!”
Wanita berkerudung tertawa menghina, “ Baiklah tetapi lebih dulu aku hendak
mengetahui dengan jelas mengenai suatu hal!”
“Kau ingin mengetahui bagaimana dapat kubuka kedokmu kepada puteramu itu?”
“Bukan! Aku ingin tahu kau ini pria atau wanita?” seru wanita berkerudung.
Pertanyaannya itu dibarengi dengan loncatan ke muka.
Cu Siau-bun kibatkan pedangnya dalam jurus Hun-hay-thun-gwat atau Awan laut
menelan bulan, untuk menghalangi serangan orang. Tetapi wanita itu luar biasa
cepatnya. Ia menerobos ke dalam lingkaran sinar pedang dan menjambret kain
ikat kepala Cu Siau-bun. Seuntai rambut hitam legam berhamburan menjurai ke
atas bahu Cu Siau-bun. Wahai....kiranya dia seorang nona!
Wanita berkerudung mengerang kaget dan menyurut mundur, “Kau ...memang.....
benar ....”
Sebelum dapat melanjutkan kata-katanya, Cu Siau-bun sudah menghantamnya. ia
menyalurkan kemarahannya ke arah telapak tangan, sehingga berobah merah
warnanya.
Namun wanita itu menggelengkan kepala, “Kau bukan tandinganku. Jika mau
membunuhmu, itulah semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi , aku.... tak
dapat membunuhmu....!”
Nada suara wanita itu berobah rawan, sehingga Cu Siau-bun terkesiap.
Pukulannya berhenti setengah jalan! Mengapa wanita itu mengucapkan kata-kata
begitu?”
Sekonyong-konyongwanita itu tutukkan sebuah jarinya ke arah sebuah batu besar.
Tampaknya batu besar itu tak retak atau berlubang. Tetapi ketika sesudah
menutuk itu ia mengebutkan lengan bajunya, maka berhamburanlah batu itu
menjadi debu yang beterbangan ke empat penjuru.....
Cu Siau-bun tercengang melihatnya. Itulah ilmu tutukan Hian-im-ci ( Jari hawa
negatip) yang telah mencapai tingkat kesempurnaan! Apa yang diucapkan wanita
itu memang bukan obrolan kosong. Jika mau, wanita itu mudah sekali
membunuhnya, tetapi mengapa tidak mau? Ya, mengapa?
Berbagai kenangan melintas dalam benak Cu Siau-bun, tetapi kesemuanya itu tak
ada yang merupakan jawaban dari pertanyaannya. Untuk pertama kali, baru saat
inilah Cu Siau-bun merasa seperti orang dungu yang tak mengerti apa-apa!
Namun perangainya yang keras dan suka membawa kemauannya sendiri
menuruhnya berlaku garang, “Perempuan siluman, betapa licinpun dirimu tetap
akan kubeset kulit rasemu. Akan kuselidiki sampai jelas baru nanti kuhancurkan
tubuhmu untuk membalas hinaan yang kuterima malam ini!”
“Tak mungkin kau dapat menyelidiki. Kau tak tahu siapa diriku dan kelak kitapun
takkan berjumpa lagi!” sahut wanita itu.
“Hm, kau terlalu memandang rendah padaku, “ Cu Siau-bun tertawa mengejek, “
Sekarangpun sedikit-sedikit telah kuketahui siapa dirimu ini. Bukankah kau ini Teit-ong-hui ( permaisuri pertama ) dalam istana Sin-bu-kiong !”
Gemetarlah tubuh wanita berkerudung itu demi mendengar ucapan Cu Siau-bun,
sehingga sampai mundur selangkah.
“Kau sungguh cerdik,” serunya dengan nada keras. “Tetapi kunasehatkan
padamu, lebih baik jangan campur tangan dan jangan menyebut-nyebut hal itu....
ini demi untuk kebaikanmu sendiri, karena....”
“Tidak! Aku mesti campur tangan !” bentak Cu Siau-bun, “Pertama-tama hendak
kuselidiki diri ‘puteramu’ itu. Kemudian akan kubeberkan rahasia ini kepada
seluruh kaum persilatan!”
Wanita berkerudung itu menghela napas, ujarnya “Ah, pintarmu keblinger! Sekali
lagi kunasehati, jangan ikut campur urusan ini demi untuk kebaikanmu sendiri.
Jika tidak, kau tentu akan menyesal di kemudian hari....”
Habis berkata, wanita itu berputar diri dan melesat pergi. Gerakannya tak ubahnya
seperti bayangan melintas, sekejap saja sudah menghilang…
“Hm, aku harus ikut campur tangan . Apapun yang akan terjadi aku tak akan
menyesal.” Cu Siau-bun berteriak mengantar kepergian wanita itu. namun
orangnya sudah lenyap dari pandangan.
Cu Siau-bun memungut kain kepalanya dan dipakainya lagi. Kemudian ia
bergegas kembali ke dalam gubug. Saat itu sudah menjelang fajar. perlahanlahan ia menghampiri pintu rumah belakang dan berseru memanggil, “Kang-heng!
Kang-heng!....”
Eh, tiada sahutan. Buru-buru ia menerobos masuk dan astaga....... kamar belakang
itu ternyata kosong melompong. Yang tampak hanya seonggok rumput kering.
Thian-leng sudah lenyap. Tak ada bekas-bekas perkelahian, seolah-olah seperti
Thian-leng sendiri yang keluar dari kamar itu.
Cu Siau-bun melesat ke ruang tengah, juaga tak menjumpai suatu apapun,
akhirnya ia menghela napas.
“Ah, kembali aku harus menerima kekalahan yang menusuk hati..... Cu Siau-bun ,
Cu Siau-bun ... bagaimanakah keteranganmu pada ibu nanti?” keluhnya.
Sunyi senyap di lembah Pek-hun-koh. Lapat-lapat terdengar isak tangis penuh
dendam kecewa....
oo0oo
Di tengah-tengah sungai Huang-ho tampak meluncur sebuah perahu. Tukang
perahunya seorang lelaki brewok yang mengenakan pakaian ringkas warna biru.
Ia mendayung dengan sebelah tangan, namun karena kemahirannya mendayung
dan menurut aliran sungai, maka perahunya meluncur amat laju.
Juragan perahu terdapat seorang dara cantik berbaju ungu yang tengah
melepaskan pandangannya ke permukaan sungai yang luas. Tiba-tiba ia berseru,
“Ah, dalam sehari saja sudah mencapai lima ratusan li. Mungkin tak sampai
seminggu saja kita sudah dapat mencapai lembah Tiang-ceng-koh...”
Ternyata ia bukan seorang diri, melainkan masih mempunyai seorang kawan,
seorang nona berbaju hijau yang usianya lebih tua sedikit.
“Eh, mengapa kau menghela napas?” tegur nona baju hijau itu.
“Tak apa-apa. “ sahut si dara baju ungu, “Aku hanya merasa bahwa jagad kita ini
sungguh luas sekali. Coba lihatlah, betapa kecil kita apabila dibandingkan dengan
gunung-gunung yang menjulang ke langit dan sungai yang begini dahsyat…. “
“Budak tolol, jangan mengoceh yang tidak-tidak, “ nona baju hijau membentak
dengan tertawa.
Kabut malam makin menebal. Permukaan sungai makin suram. Seorang budak
perempuan muncul membawa lilin, sehingga ruang perahu itu terang. Tiba-tiba
terdengar suara orang mengrang . Si nona baju hijau serentak bangkit
menghampiri ke sudut ruang perahu dan menyingkap sehelai kain tenda. Seorang
pemuda cakap tengah berbaring di atas tempat tidur. Dialah yang mengrang itu.
“Hm, obatnya sudah hampir hilang dayanya…..” dengus nona itu. Ia mengangkat
tangan kanannya ke atas.
“Cici, kau hendak…..” si dara baju ungu terkejut mencegahnya., “Onghui pesan
supaya jangan dibunuh. Kau… .. “
Nona baju hijau meliriknya dengan heran, “Siapa bilang aku hendak
membunuhnya! Bukankah aku akan dimintai pertanggung jawab oleh Onghui? Uh,
mengapa kau begitu tegang..?”
Dara baju ungu terkesiap. Pipinya merah. Diam-diam ia malu dalam hati.
Betapapun besar nyali tacinya, tetapi mana bernai melanggar perintah Onghui.
“Benar Onghui tak memperbolehkan membunuhnya, tetapi tak melarang
membuatnya cacat. hendak kuputuskan urat nadi kedua kakinya agar
kepandaiannya punah, menjadi cacad seumur hidup!” tiba-tiba nona baju hijau
berkata seraya mengangkat tangannya pula.
Dan lagi-lagi si dara baju ungu tersentak dan cepat menarik tangan
tacinya,”Mengapa kau hendak mencelakainya? Apakah kau mempunyai
permusuhan padanya ? “
Si nona baju hijau tertawa dingin, “Kau lupa atas hinaan di gunung Hun-tiong-san
itu? Seumur hidup aku tak dapat melupakannya!”
“Tetapi itu perbuatan orang she Cu, tak ada sangkut pautnya dengan dengan dia!”
bantah si dara.
“Tetapi dialah yang menjadi gara-garanya. Masih murah kalau hanya dipotong
urat kakinya saja ! “
Si dara makin gelisah dan dipeluknya tangan sang kakak kencang-kencang,
ratapnya,” Cici, jangan…”
Dengus si nona baju hijau, “Kalau tiada berada-ada, masakah burung tempua
terbang rendah ? Apakah kau mencintainya?”
Pipi si dara makin merah, bantahnya, “Dia memang orang yang tak kenal budi,
hanya saja aku tak sampai hati. Jebloskan saja ke penjara Tiang-ceng-koh,
kiranya sudah cukup menyiksanya. Perlu apa kita sendiri turun tangan.?”
“Ih, tak nyana kau berobah menjadi manusia yang begitu baik hati!” si nona baju
hijau tertawa menyingkir.
Tiba-tiba si pemuda mulai mengigau, “Cu-heng…. Cu-heng… “
“Ho, di sini tak ada Cu-heng atau Gu-heng, yang ada hanya kedua taci beradik
Ki…..!” nona hijau menertawakan. Kemudian berkata kepada adiknya, “Rupanya
pengaruh obat sudah hampir hilang. Dia memiliki ilmu pukulan Lui-hwe-ciang
yang berbahaya. Bagaimana tindakan kita? APakah kita tunggu sampai dia sudah
sadar baru kita ajak bertempur?”
“Terserah padamu !” sahut si dara.
Secepat kilat jari si nona baju hijau menutuk tangan dan kaki si pemuda. Pemuda
itu tersadar. Begitu membuka mata, mulutnya segera berseru memanggil Cu Siaubun, kemudian bangkit, tetapi…ah…kaki tangannya terasa kaku sekali tak dapat
digerakkan. Dan sesaat itu terdengarlah suara tertawa mengikik. Kini pemuda itu
yang bukan lain adalah Thian-leng, sadar apa yang dihadapinya. Tetapi ia tak
gentar melainkan cemas memikirkan nasib Cu Siau-bun, sang kawan yang
berwajah pucat itu.
Tiba-tiba tempat tidurnya bergoncang dan berobahlah wajah kedua kakak beradik
Ki seketika. Si nona baju hijau yang ternyata bernama Ki Gwat-wan buru-buru
padamkan lilin, terus ajak Ki Seng-wan keluar ke geladak, Kembali terasa
goncangan hebat. Lebih mengejutkan hati kedua nona itu ialah kenyataan bahwa
perahu itu tengah menuju ke pantai. Si tukang perahu tak berdaya sama sekali.
Betapapun ia mendayung sekuat tenaganya, namun perahu tetap berputar menuju
ke pantai.
Pucat seketika wajah kedua nona itu. Belum pernah mereka mengalami peristiwa
yang mengherankan seperti itu.
Tiba-tiba terdengar lengking suara kecil yang menyusup ke telingan kedua nona
itu, “Turunkan anak muda she Kang itu dari perahumu, baru kalian tak kuganggu.!”
Kedua nona itu saling berpandangan, mereka sadar berhadapan dengan seorang
sakti. Adalah demi menjaga gangguan dari musuh, maka Onghui memerintahkan
supaya Thian-leng ‘disimpan’ dalam penjara rahasia di Tiang-ceng-pia-kiong.
Siapa tahu kini di tengah perjalanan dicegat orang.
Saat itu kedua nona itupun melihat sesosok bayangan hitam tengah duduk di
gerombol semak yang tumbuh di tepi pantai. Kedua tangannya dicakar-cakarkan
ke atas seperti orang menarik. Adalah karena gerakan itu maka perahu macet dan
menghampiri ke arahnya.
Ki Gwat-wan tertawa rawan, bisiknya kepada sang adik.”Tugas gagal, Onghui
tentu memberi hukuman mati. Orang itu hendak menolong budak Kang ini, tentu
tak ingin melihatnya mati. Jiwa anak muda ini berada di tangan kita. Kecuali
menggunakan siasat tekanan, kemungkinan kita bisa selamat. Kalau tidak ,
celakalah kita!”
Ki Seng-wan mengangguk, ia memberi isyarat mata ke pada si tukang perahu.
Dengan sekuat tenaga, kakak beradik she Ki itu mendorongkan kedua tangannya
ke pesisir. Dan serempak dengan itu si tukang perahu mendayung sekuatnya,
Seketika perahu meluncur ke tengah sungai lagi!
Rupanya orang di tepi pesisir itu marah. Ia menggerakkan sebuah tangannya
memukul ke tengai sungai. ‘Krak..’ trdengar ledakan dan perahupun pecah
berantakan!
Orang berbaju hitam itu mendengus. Kembali ia mencakar-cakar dengan kedua
tangannya. Seperti tersedot tenaga yang kuat, tubuh penumpang-penumpang
perahu mencelat ke pesisir. Thian-leng tepat jatuh di muka si orang aneh.. Kedua
nona Ki, tukang perahu dan bujang perempuan berhamburan tumpang tindih.
Tubuh mereka menggigil kedinginan, tetapi aneh, tak ada yang terluka.
Orang berbaju hitam itu tetap duduk di muka semak. Tubuhnya kecil, rambut putih
dan muka penuh keriput. Selintas pandang seperti seorang nenek tua. Tetapi
kedua saudara Ki segera mengetahui bahwa wajah si nenek itu bukan wajah yang
sebenarnya, melainkan memakai topeng.
“Silakan kalian pergi, jangan sampai aku berobah pikiran!” dengus nenek tua itu.
Setelah terengah-engah beberapa saat, barulah Ki Gwat-wan dapat berkata, “Toh
serupa bakal mati, silakan lo-cianpwe membunuh kami saja!”
“Kalian sudah jemu hidup dan ingin mati?” nenek itu menjengek.
“Sekalipun tidak ingin mati, tetapi majikan kamipun tentu takkan mengampuni
kami. Dicincang pisau atau disiksa sampai mati!”
“Bukalah jalan hidup, lepaskan dirimu dari cengkeraman maut. Masakan kalian tak
dapat melarikan diri jauh-jauh dan hanya mandah menjadi budak seumur hidup ! “
nenek aneh itu tertawa.
Ki Gwat-wan menggelengkan kepala tertawa rawan,” Percuma, ke liang semutpun
kita tentu akan tertangkap lagi olehnya!”
“Benarkah Sin-bu-kiong mempunyai pengaruh sedemikian hebatnya?” nenek tua
itu terkesiap.
“Masakah kami berani membohongi lo-cianpwe!” kedua nona itu berseru
serempak.
Nenek itu tertawa dingin. Ia mengeluarkan sebuah benda lalu dilemparkan ke
muka kedua nona, “Pulang dan tunjukkan benda itu kepada majikanmu. Tak nanti
dia berani menghukummu!”
Ketika Ki Seng-wan mengambil benda itu, pucatlah seketika wajahnya,
“Kiranya….lo-cianpwe ….. ini….”
“Lekas enyah!” bentak nenek baju hitam. Sekali kebutkan lengan bajunya, Ki
Gwat-wan, Ki Seng-wan, tukang perahu dan si bujang terpental sampai dua
tombak jauhnya. Hebat benar tenaga yang dipancarkan si nenek. Tetapi yang
lebih mengagumkan bahwa keempat orang itu sama sekali tak ada yang terluka.
Saat itu Thian-leng masih menggeletak di hadapan si nenek. Kedua kaki
tangannya tertutuk tak dapat berkutik. Ia mendengar pembicaraan tetapi tak dapat
melihat apa yang terjadi. Ia juga tak tahu benda apa yang dilemparkan oleh si
nenek tadi. Satu-satunya yang diketahui bahwa kepandaian nenek itu sungguh
hebat sekali. Mungkin di dunia persilatan tiada yang menandinginya lagi.
‘Wut’ ,tiba-tiba nenek itu kebutkan tangannya. Seketika itu Thian-leng merasakan
darahnya lancar kembali. Buru-buru ia bangun. Ternyata kebutan tangan si nenek
itu dapat membuka jalan darah thian-leng yang tertutuk.
“ Terima kasih atas pertolongan lo-cianpwe. Entah lo-cianpwe…”
“Kebetulan aku lewat di sini dan melihat dari jendela kau hendak dicelakai kedua
budak peremputuan tadi. Maka terpaksa aku turun tangan,” tukas si nenek.
Masih tak mengerti THian-leng mengapa si nenek begitu baik hati menolongnya.
Hendak menanyakan lebih jauh, ia merasa jeri terhadap sikap si nenek yang
begitu angker.
“Siapa namamu?” tiba-tiba nenek itu bertanya.
“Wan-pwe bernama Kang…..” baru berkata sampai di situ, tiba-tiba Thian-leng
berhenti dan berganti nada, “Sebenarnya aku bukan orang she Kang.”
“Aneh, setiap orang tentu mempunyai she, siapakah she keturunanmu? Siapa
namamu?” nenek itu bertanya heran.
“Mestinya akupun mempunyai nama, tetapi nama itu ternyata nama palsu. Aku
benci pada nama itu ! Tak tahu aku ini orang she apa dan namaku…. “ Thian-leng
tertegun sejenak, lalu berkata pula, “ Karena sekarang aku tak mempunyai she
dan nama, baiklah lo-cianpwe panggil diriku Bu-beng-jin sajalah!”
Bu-beng-jin artinya orang yang tak bernama.
“Baiklah, “ nenek itu tersenyum, “rupanya kau tentu mempunyai riwayat yang
menyedihkan, mengapa tak mau menceritakan padaku?”
Thian-leng mempunyai kesan baik terhadap nenek itu. Maka iapun segera
menceritakan riwayat dirinya. Hanya pengalamannya bertemu dengan Hun-tiongsin-mo tak dituturkan.
Si nenek mengerutkan dahi, rupanya ia menaruh perhatian sekali. Selesai
penuturan, berkatalah ia,”Apakah ceritamu sudah benar semua?”
“Apa yang wan-pwe ketahui hanya begitu. Selanjutnya sejak saqat ini wan-pwe
hendak berusaha untuk menyelidiki rahasia diri wan-pwe,” sahut Thian-leng.
“Ingatkah kau waktu kecilmu mempunyai seorang ayah?” tanya nenek itu.
Thian-leng gelengkan kepala, “Tidak. Yang kuingat hanya sejak kecil aku hidup
bersama seorang ‘ibu’ yang mengaku bernama Liok Po-bwe dan tinggal di lembah
Pek-hun-koh. Menurut keterangannya, ayahku bernama Kang Siang-liong. Sudah
mati sejak 17 tahun yang lalu. tetapi aku percaya keterangannya itu tentu bohong!”
Sejenak Thian-leng memandang si nenek dengan tegang, serunya;”Apakah locianpwe tahu sedikit tentang keadaan diriku….?”
“Ceritamu itu mengingatkan aku pada seorang sahabat lama. tetapi dengan yang
kau ceritakan orang itu tidak sesuai….” si nenek sejenak menatap wajah Thianleng, lalu melanjutkan kata-katanya. “Kalau benar seperti yang kuduga, ‘ibumu’ itu
tentulah orang she Ma dan kau masih mempunyai seorang ayah she Nyo. Kau
memang benar anak mereka!”
Thian-leng menggeleng kecewa, “Sama sekali tidak cocok!”
Si nenekpun tertawa hambar, “Mungkin kau bukan orang yang kubayangkan
itu….” tiba-tiba ia berganti nada, “Tetapi bagaimanapun juga kau berjodoh
denganku. Hendak kuberikan kau sebuah bingkisan…”
“Budi pertolongan lo-cianpwe masih belum dapat kubalas, mana aku berani
menerima hadiah lo-cianpwe lagi?” buru-buru Thian-leng menolak.
Si nenek tersenyum, “Liku-liku kehidupan dunia persilatan itu penuh bahaya. Jika
tak mempunyai kepandaian apa-apa, setiap saat tentu terancam bahaya. Kupikir
hendak memberimu tiga jurus ilmu pedang……”
Bukan main girangnya Thian-leng, serunya,” Jika lo-cianpwe tak menampik, wanpwe mohon supaya diterima menjadi murid….!” Habis berkata Thian-leng terus
hendak berlutut memberi hormat.
“Jangan!” nenek itu tertawa, “telah menjadi peraturan kaumku, selain ahli waris, tak
boleh menerima murid lagi. Tak usah kita terikat sebagai murid dan guru!”
Heran Thian-leng dibuatnya. Jelas nenek itu tak mengadakan gerakan apa-apa,
tetapi maksudnya hendak berlutut itu kandas karena dirinya seperti tertarik oleh
tenaga yang tak terlihat.
“Apakah lo-cianpwe sudah mempunyai pewaris?” tanyanya putus asa.
Nenek itu mengangguk, “Masing-masing orang mempunyai rejeki sendiri, tak
boleh mengiri. Mungkin kelak kau akan bertemu orang yang lebih sakti dari diriku!”
“Tidak mungkin, “Thian-leng tertawa tawar, “Di kolong langit mana ada orang yang
mampu menandingi kesaktian lo-cianpwe lagi?”
“Di atas gunung masih ada langit, di atas langit masih ada langit lagi. Dalam jagad
yang begini luasnya, masih banyak orang yang lebih sakti dari diriku. Soalnya
mereka itu tak mau diketahui orang !”
Tergerak hati Thian-leng atas ucapan nenek itu. Terlintas suatu pertanyaan dalam
hati, serunya, “Entah siapa yang lebih sakti antara lo-cianpwe dengan Hun-tiongsin-mo?”
Nenek itu tertegun, tertawa, “ Sukar dikatakan karena selama ini aku belum pernah
bertempur dengannya. Hanya saja….” ia berhenti sejenak baru melanjutkan
berkata pula, “Hun-tiong-sin-mo juga bukan jago nomor satu di dunia. Di dunia ini
masih ada tokoh yang lebih sakti. Masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan sendiri-sendiri. Memang selama 60 tahun ini Hun-tiong-sin-mo tak
pernah dikalahkan orang. Tetapi penantang-penantangnya itu bukanlah tokohtokoh yang benar-benar sakti.!”
Thian-leng heran. Kalau memang ada orang yang lebih sakti, mengapa selama 60
tahun Hun-tiong-sin-mo dapat sewenang-wenang merajai dunia persilatan?
Nenek itu berkata pula dengan agak rawan, “Ah, pertumpahan darah besarbesaran memang sukar dihindari. Tak lama tentu bakal terjadi suatu peristiwa luar
biasa. Dunia persilatan akan mengalami banjir darah besar, tetapi setelah itu akan
berganti suasana yang lain… ”
Tiba-tiba ia menghentikan ucapannya. Dari lengan bajunya dikeluarkan sebatang
pendang pendek yang amat tajam. Begitu dikibatkan, pedang itu menghamburkan
sinar dingin yang meliputi setombak lebih luasnya.
Pada lain saat terdengar bunyi berderak dahsyat disusul oleh tumbangnya
sebatang pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa.
Thian-leng terbeliak kaget. Hampir ia tak percaya apa yang disaksikan saat itu. Ia
Yakin, nenek itu tentu tokoh nomor satu di dunia. Ya, siapa lagi yang mampu
menandingi kesaktian sedahsyat itu. Tetapi aneh, mengapa si nenek mengatkan
bahwa di dunia masih banyak orang yang lebih sakti daripada dirinya ?
Rupanya si nenek agak riang hatinya, ia bangkit dan berkata, “Tiga jurus ilmu
pedang ini penuh dengan perobahan ayng sukar diduga. Terserah pada
kecerdasan otakmu, sampai di mana kau mampu menyelaminya ! “
Ia maju ke sebidang tanah lapang di tepi sungai dan mulai mengajarkan ilmu
pedang pada Thian-leng.
Di bawah sinar rembulan, pedang itu berobah menjadi hamparan sinar perak yang
berhawa dingin. Sepintas mirip dengan ribuan bintang yang berhamburan jatuh
dari langit….
Kemudian ia menyuruh Thian-leng menirukan. Thian-lengpun segera memainkan
ajaran si nenek.
“Bagus, bagus!” si nenek bertepuk tangan memuji, “bakatmu tak jelek! Meskipun
belum sepenuhnya kau selami ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam (Tiga pedang
perenggut nyawa), tapi cukuplah memadai!”
Thian-leng hentikan permainan pedangnya, tersipu-sipu ia berlutut menghaturkan
terima kasih di hadapan nenek ini, “Entah bagaimana aku dapat membalas budi
lo-cianpwe yang sedemikian besarnya?”
Si nenek merenung sejenak, ujarnya ,”Baiklah, aku hendak minta tolong sebuah
hal!”
“Silakan lo-cianpwe mengatakan, sekalipun masuk kedalam lautan api, wanpwe
tentu akan melaksanakan!”
Agak lama nenek itu berdiam diri, baru setelah itu ia berkata pula, “Aku
mempunyai seorang sahabat lama. Karena belasan tahun yang lalu pernah
bentrok mengenai suatu hal yang tak menyenangkan hati, maka ia menganggap
aku sebagai musuhnya. Sejak saat itu ia memutuskan hubungan…..” ia behenti
sejenak untuk menghela napas panjang, lalu ujarnya lebih lanjut, “Tetapi setelah
mengasingkan diri selama belasan tahun, aku merasa menyesal dengan peristiwa
itu. Tetapi selama ini aku tak mendengar beritanya lagi….”
“Apakah lo-cianpwe hendak suruh wanpwe mencarinya?” Thian-leng
menanggapi.
Nenek tua itu tertawa getir, “ Di dunia yang begini luasnya, mana dapat kau
mencarinya? Tetapi cobalah kau mencari beritanya di kalangan kaum persilatan.
Kalau sifatnya belum berubah, dia memang gemar menimbulkan kegemparan!”
“Siapakah nama orang itu? Tentu seorang tokoh yang ternama bukan?” tanya
Thian-leng.
Di luar dugaan nenek itu menggeleng, “Sukar kukatakan padamu. Yang jelas dia
sudah menghilang selama 16 tahun lebih. Taruh kata pada masa itu dia seorang
tokoh ternama, tetapi lewat waktu yang sedemikian lama, mungkin sudah
dilupakan orang… hm,,.., dia bernama Thiat Beng bergelar Pendekar Pedang
bebas. Sekarang dia berumur 37 tahun!”
Thian-leng melongo. Menilik pembicaraan si nenek, jelas kalau orang ini
mempunyai hubungan baik kepadanya. Thian-leng mengira orang itu tentulah
seorang tua yang sebaya umurnya dengan si nenek. Ai, mengapa hanya berumur
37 an tahun? Namun Thian-leng sungkan untuk menanyakan hal itu. Ujarnya, “
Baik, wanpwe akan mengingatnya….Tetapi andaikata dapat menjumpainya,
bagaimana harus kukatakan….”
Wajah si nenek agak menegang sesaat, katanya dengan nada agak gemetar, “Kau
dapat menjumpainya? …Apaka dia dapat kembali…?”
Cepat si nenek itu menyadari keterlepasan bicara, tertawalah ia dengan
rawan,”Bila kau dapat berjumpa dengannya, katakanlah bahwa aku
mengundangnya datang ke puncak Giok-lo-hong gunung heng-san….Asal dia
mau mebuang sifatnya yang lama, tentu akan datang. Namun, tidakpun tak
apalah…!”
Masih Thian-leng menegas, “Sebaiknya ditetapkan waktu pertemuan itu. Dan…. di
manakah tempat tinggal lo-cianpwe? Mengapa tak mengundang ke rumah locianpwe saja?”
Si nenek tertawa hambar, “Asal kau menurut apa yang kukatakan tadi, dia tentu
sudah mengerti sendiri. Aku suka berkelana, tak punya tempat tinggal tertentu. !“
“Sudikah lo-cianpwe memberitahukan nama lo-cianpwe yang mulia?” Thian-leng
makin mendesak.
Kembali keriput di wajah nenek itu menegang, jawabnya,” Namaku sudah lama tak
disebut orang. Dan lebih baik begitulah…. .” Tiba-tiba dengan nada rendah
setengah berbisik, si nenek berdendang, “Di kala dikau pulang, di saat itulah
istreimu patah hati…. Ya, namaku Toan-jong-jin sajalah!”
“Toan…jong….jin,” Thian-leng tersekat-sekat mengulang. Toan-jong-jin artinya
Orang yang patah hati.
Thian-leng makin terbenam dalam kabut rahasia. Jelas bahwa pendekar Pedang
bebas Thiat Beng itu tentulah kekasih dari si nenek. Tetapi ah, hal itu tak masuk
akal. Masakah seorang nenek berumur tujuh delapan puluh tahun mempunyai
kekasih seorang pria umur 37 tahun. Apalagi peristiwa asmara itu terjalin pada 17
tahun yang lampau, yaitu waktu Thiat Beng masih berumur 20 tahun dan si nenek
sudah 5-6 puluh tahun usianya….
“Bu-beng-jin!” tiba-tiba nenek itu berseru, “Pergilah sekarang. Pedang itu
kuberikan padamu!”
Thian-leng seperti orang mimpi. Serta-merta ia berlutut,” Bagaimana wanpwe
berani menerima budi lo-cianpwe yang demikian besarnya?”
Ternyata pedang pendek itu sebuah pedang pusaka yang luar biasa tajamnya.
Dapat dipakai membelah segala macam logam. Sehabis melakukan ajaran ilmu
pedang Toh-beng-sam-kiam, Thian-leng lupa mengembalikan pedang ini kepada
si nenek.
Habis berkata nenek aneh itupun sudah lantas pergi. Ketika tak mendapat
jawaban, Thian-leng mengangkat muka, ah… ternyata si nenek sudah lenyap dari
hadapannya.
Jadi tadi ia hanya berlutut memberi hormat pada angin saja.
Terlongong-longong Thian-leng memikirkan kesaktian yang dimiliki nenek itu.
Muncul perginya seperti angin saja.
Sampai beberapa saat barulah ia tersadar. Telah beberapa hari ini, ia selalu
mengalami beberapa peristiwa yang mengherankan. Hampir tak masuk akal
namun merupakan kenyataan.
Angin behembus dingin, hari menjelang fajar. Setelah menyelipkan pedang,
Thian-leng segera berjalan menyusur tepi sungai. Dia telah menetapkan
tujuannya, hendak menyelidiki rahasia asal usul dirinya, mencari kedua ayah
bundanya dan menuju ke gunung Thay-heng-san mencari guru. Setelah dapat
menguasai ilmu pukulan Lui-hwe-ciang baru membuat perhitungan dengan Songbun-kui-mo. Dan yang terakhir ia akan melaksanakan pesan si nenek Toan-jongjin untuk mencari pendekar Pedang bebas Thiat Beng dan tak lupa iapun hendak
mencari Liok Po-bwe, wanita yang telah mengaku dan memalsu sebagai ibunya.
Eh, iapun akan mencari Cu Siau-bun!
Banyak nian tugas dan pekerjaan yang membebani benaknya. Sedemikian
banyaknya, hingga tak tahu ia bagaimana harus memulainya!
Mengenai asal-usulnya yang begitu misterius, ternyata sukar untuk diusut.
Langkah pertama ialah harus mencari si ibu palsu Liok Po-bwe. Tetapi kemanakah
perginya wanita itu ? Dan seandainya dapat menemukan wanita itu, belum berarti
bahwa ia tentu berhasil mendapat keterangan siapakah ayah bundanya yang asli !
Terbayang pula akan tugas yang diminta oleh si nenek Toan-jong-jin. Ia harus
melaksanakan pesan wanita yang telah banyak memberi budi kepadanya itu.
Tetapi ke manakah ia harus mencari Pendekar Pedang bebas Thiat Beng?
Satu-satunya cara yang akan ditempuh ialah, dalam perjalanan ke gunung Thayheng-san itu, ia akan mencoba untuk mencari berita mengenai tokoh itu serta Liok
Po-bwe wanita yang memalsu sebagai ibunya.
Tak tahu saat itu ia berada di mana, iapun tak kenal jalan. Yang diketahuinya ialah
gunung Thay-heng-san terletak di sebelah timur.
Karena baru pertama kali keluar mengembara di dunia persilatan, maka thian-leng
selalu tertarik dan memperhatikan segala yang ditemuinya dalam perjalanan. Tak
mau ia berjalan cepat-cepat. Ia selalu mempelajari sesuatu dan mencari berita
ketiga orang yang hendak dicarinya itu, yakniThiat Beng, Liok Po-bwe dan Cu
Siau-bun.
Hari itu adalah hari yang ke 12 ketika menjelang magrib ia tiba di tepi sebuah
sungai Tan Ho. Sebenarnya ia hendak mencari penginapan, tetapi saat itu ia
berada di tengah sebuah hutan belantara jauh dari pedesaan. Namun ia tak
bingung, paling-paling tidur di udara terbuka, demikian pikirnya sambil
mengayunkan langkahnya.
Tiba-tiba angin malam membawa suara gemerincing senjata beradu. Itulah jelas
suatu pertempuran. Tapi pertempuran itu berlangsung singkat sekali. Pada lain
saat terdengarlah jerit yang menyeramkan. Tak ayal lagi Thian-leng segera
mengenjot tubuhnya menerobos ke arah datangnya suara itu. Cepat sekali ia
bergerak, namun masih terlambat juga. Melintasi sebuah puncak yang tandus,
segera ia menyaksikan sebuah pemandangan yang mengerikan….
Tujuh sosok manusia bergelimpangan menjadi mayat di atas rumput. Dua orang
paderi, lima imam. Tubuh mereka hancur lebur akibat hantaman tenaga berat atau
Ciong-chiu-hwat!
Pada dahi salah seorang imam yang rebah terlentang, tertancap sebatang panji
kecil Tengkorak darah, lambang keganasan Hun-tiong-sin-mo…
Thian-leng cepat menerobos ke seluruh pelosok. Pikirnya, karena peristiwa itu
baru saja terjadi tentu ia dapat mengejar iblis ganas itu. Tetapi nyatanya ia tak
melihat sesuatupun. Algojo ganas itu sudah lenyap! Terpaksa ia kembali.
Dicabutnya panji kecil itu dan diperiksanya dengan teliti.
Teringat ia akan pembicaraan dengan Cu Siau-bun tempo hari. Pemuda Cu itu
pernah mengatkan dengan yakin bahwa ada orang yang memalsu menjadi Huntiong-sin-mo untuk melakukan pembunuhan ganas dan memakai juga Panji
tengkorak darah palsu. Tetapi Thian-leng tak dapat membedakan palsu tidaknya
panji yang tengah diperiksa itu.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh derap kaki yang begemuruh. Dan pada lain saat
muncullah berpuluh-puluh orang yang mengepungnya. Mereka berjumlah 20
orang lebih, dan terdiri dari bermacam golongan; paderi, imam dan orang biasa.
Melihat langkah kaki yang berat dan mata mereka yang berkilat-kilat tajam, terang
mereka itu tentu jago-jago silat yang berilmu tinggi. Dan yang lebih mengejutkan
lagi, mereka bersikap bengis dan bermusuhan kepada Thian-leng..!
Dengan masih mencekal panji kecil, Thian-leng menyapa heran, “Apakah cuwi….”
“Benda apakah yang kau cekal itu?” bentak seorang tua yang tampil ke muka.
“Panji Tengkorak Darah…” belum habis Thian-leng menyahut, seorang berjenggot
panjang sudah menukasnya, “Omitohud! Hun-tiong-sin-mo pembunuh ganas
tanpa bayangan itu ternyata tak mempunyai 3 kepala 6 lengan…”
Ia behenti sejenak mengerlingkan mata, lalu berkata pula, “Apa kedudukanmu
dalam kawanan anak buah Hun-tiong-sin-mo?”
Thian-leng mengkerutkan dahi, sahutnya,” Cuwi (tuan-tuan) salah paham. Aku
hanya kebetulan lewat di sini…”
“Bukti sudah jelas, mengapa masih menyangkal!” bentak si orang tua tadi, ”Darah
para korban masih belum kering. Kami cepat datang kemari tiada orang lain
kecuali engkau. Siapa lagi pembunuhnya kalau bukan kau?”
Sementara beberapa paderi dan imam segera mengerumuni mayat-mayat itu
untuk mengenali. Kemudian mereka membaca ayat-ayat doa dan bersembahyang.
Terang beberapa korban itu kawan mereka. Mungkin mereka berjalan berpencar
sehingga terlambat untuk memberi pertolongan.
Thian-leng heran melihat rombongan orang yang begini banyak. Terang mereka
adalah rombongan partai besar. Namun karena sikap mereka yang tak memberi
kesempatan membantah, telah menimbulkan reaksi Thian-leng. Katanya, “Jika
cuwi tetap tidak percaya, akupun tak dapat berbuat apa-apa…” Tiba-tiba ia
mendapat pikiran. Buru-buru ia bergeser ke arah seorang paderi tua, serunya,”
Dapatkah lo-siansu memberitahu partai lo-siansu yang terhormat?”
“Lo-hu dari kuil Siau-lim-si,” rupanya paderi itu agak sabar dari kawan-kawannya.
Girang Thian-leng bukan kepalang. Buru-buru ia mengeluarkan Giok-pay dan
diserahkan kepada paderi tua itu,” Inilah benda dari Bu Ceng taysu yang diberikan
padaku agar diserahkan pada kuil Siau-lim-…..”
Thian-leng yang berhati polos sedikitpun tidak menduga bahwa penyerahan giokpay itu bahkan akan makin menimbulkan salah paham. Sejak 60 tahun lamanya,
tak pernah ada orang yang keluar dari markas Hun-tiong-sin-mo dengan masih
hidup. Jelas sudah bahwa Thian-leng tentu anak buah Hun-tiong-sin-mo, apalagi
dia dapat membawa giok-pay yang dibawa Bu Ceng.
Dengan gemetar paderi tua itu menyambuti giok-pay , ujarnya, “Ketua dan
kedelapan Tiang-lo kami…”
Thian-leng menanggapi dengan helaan napas, “Mereka tak beruntung telah
binasa di tangan Hun-tiong-sin-mo!”
Paderi tua itu segera berdoa beberapa kali , lalu berkata, “Memang hal itu telah
kami duga. Karena berselang 10 hari ketua dan kedelapan tiang-lo kami tak
pulang, maka kami duga tentu binasa di sarang Hun-tiong-sin-mo….. terima kasih
atas kebaikanmu mengantar tanda pusaka dari kuil kami ini!”
Thian-leng tertegun, ujarnya, “Secara kebetulan saja aku dapat melarikan diri dari
sarang Hun-tiong-sin-mo. Aku menerima permintaan dari lo-siansu…., “ ia tak
dapat melanjutkan perkataannya. Ia merasa urusan itu makin dijelaskan makin tak
dipercaya. Tak tahu ia bagaimana baiknya.
Paderi itu tertawa dingin, “Tak perlu sicu banyak-banyak memberi penjelasan.
Kalau ketua dan ke 8 tiang-lo saja tetap kalah dengan Hun-tiong-sin-mo, apalagi
sicu yang masih begitu muda…”
“Tak perlu kiranya taysu membuang waktu dengannya, “ tiba-tiba imam tua yang
tampil ke depan tadi menukas. “Terang dia itu kaki tangan Sin-mo. Dapat
membunuh kelima sute kami dan dua orang paderi Siau-lim-si, jelas kalau dia
mempunyai kepandaian sakti. Baiklah kita tak usah menurutkan segala macam
peraturan dunia persilatan untuk menghadapi manusia yang seganas ini. Marilah
kita beramai-ramai meringkusnya….”
“Benar,” sahut seorang paderi muda, “Andaikata kita mati ditangannya, pun tetap
ada saudara kita yang akan membalasnya. Ketiga Cun-cia ( paderi yang
berkedudukan tinggi) telah mengirimkan undangan ke berbagai tempat. Tak lama
lagi partai-partai persilatan akan mengerahkan orangnya untuk meluruk ke Huntiong-san. Betapapun saktinya Sin-mo, jangan harap dapat lolos lagi. Dan kau
boleh menerima kematianmu dulu!”, ucapan itu ditutup dengan sebuah serangan
kepada Thian-leng. Serempak ke duapuluh orangpun segera turut menyerang.
Thian-leng benar-benar marah sekali. Sia-sia saja semua penjelasannya, toh
mereka tetap menuduhnya sebagai kaki tangan Hun-tiong-sin-mo. Ia dengan
lincah menghindar, namun serangan pedang dan pukulan yang segencar hujan
itu benar-benar membuatnya tak berdaya. Akhirnya karena terpepet, Thianlengpun terpaksa menyerang sampai tiga kali. Hawa panas meranggas dan
terdengar jeritan kaget di sana sini. Seranganpun agak reda.
“Cek-kui-sin-ciang, itulah ilmu keistimewaan Hun-tiong-sin-mo!” teriak beberapa
orang.
Thian-leng tersenyum mengkal. Sekalipun ilmu pukulan Lui-hwe-ciangnya itu
sejenis dengan ilmu pukulan Cek-kui-sin-ciang (pukulan merah sakti ), namun
kedua ilmu pukulan itu berlainan jurusnya. Tetapi celakanya, salah terka itu makin
menambah salah paham mereka!.
Kemampuan Lui-hwe-ciang Thian-leng masih belum sempurna, maka tenaga
pukulannyapun belum seberapa dahsyat. Apalagi ia sibuk harus menghindari
serangan mereka.
Sejenak kemudian para penyerangnya itupun mulai menyerang lagi. Rupanya
mereka mengetahui tingkat kepandaian Thian-leng. Asal bersatu, tentu dapat
meringkus anak muda itu.
Thian-leng makin terjepit. Keadaannya benar-benar dalam bahaya. Dia sungguh
penasaran sekali. Mati dibunuh Hun-tiong-sin-mo ataupun musuh lainnya, ia akan
puas. Tetapi mati karena diduga sebagai anak buah Sin-mo sungguh membuatnya
penasaran sekali. Tiba-tiba bahu kirinya terasa sakit. Sebuah sambaran pukulan
musuh mengenainya.
Dia terkejut dan serentak menyalalah kemarahannya. Selintas teringatlah ia akan
pedang pusaka pemberian nenek Toan-jong-jin. Sekali cabut, segera ia mainkan
salah satu jurus dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam yang disebut Nok-haykeng-liong atau Gelombang dahsyat mengejutkan naga.
Seketika berhamburanlah percikan cahaya perak yang menyilaukan mata…..
Sesaat kemudian terdengar jeritan ngeri dan teriakan terkejut. Para
pengeroyoknyapun berhamburan menyurut mundur!
Thian-leng menghentikan pedangnya. Iapun tersirap kaget. Enam sosok mayat
tampak bergelimpangan di tanah. Tiga orang imam dan dua paderi tewas, serta
seorang jago biasa. Kepala mereka pecah berhamburan, perut robek dan darah
menggenangi tanah. Hampir Thian-leng tak percaya, namun benar-benar ke enam
mayat itu adalah korban dari pedang pusakanya. Ia tahu bahwa ilmu pedang Tohbeng-sam-kiam memang sakti, tapi tidak menduga sama sekali bahwa hanya
dengan sebuah jurus saja, ternyata hasilnya sedemikian dahsyatnya!.
Thian-leng menyesal sekali. Ia tegak termangu seperti patung.
“Sicu terlalu ganas sekali!” terdengar paderi tua dari Siau-lim-si tadi
mendampratnya.
Thian-leng tak dapat menyahut kecuali hanya menghela napas.
Salah seorang imam berseru, “Mengapa sicu tak melanjutkan keganasan lagi?
Ayo , masakah sicu mau memberi ampun kepada kami sekalian!”
Kembali Thian-leng menarik napas. Ia menyelipkan pedang ke pinggang lalu
melangkah pergi. Sekalian orang terbeliak heran.
Ya, memang Thian-leng terpaksa berbuat begitu. Ia tak dapat memberi penjelasan,
maka dibiarkan saja mereka menyangka begitu. Adalah karena tak tega
menyaksikan korban-korban tadi, maka ia segera angkat kaki.
Tiada seorangpun yang berani menghadang. Tiba-tiba salah seorang paderi
muda berseru, “Harap sicu tinggalkan nama dulu sebelum pergi!”
Thian-leng hentikan langkah, sahutnya, “Aku bernama….. Bu-beng-jin!”
“Bu….beng …. jin…” terdengar beberapa suara mengulang terputus-putus nama
aneh itu.
“Baik, Bu-beng-jin! Ingatlah hutang darah hari ini.Tak lama kau harus
membayarnya!” seru paderi muda itu.
Thian-leng tak menyahut. Cepat ia ayunkan langkah lagi. Tak berapa lama
kembali ia berada seorang diri di tengah kepekatan kabut malam yang
menyelubungi tepi sungai.
Sepuluh hari kemudian tibalah ia di lembah Sing-sim-kiap di wilayah gunung
Thay-heng-san. Sebuah lembah yang mamat berbahaya. Karang dan tebing
curam menjulang ke langit. Dengan menurutkan peta pemberian Oh-se-gong-mo,
ia menyusup ke dalam lembah itu.
Teringat ia akan kata-kata paderi muda yang turut dalam pengeroyokan tempo
hari, bahwa para Cun-cia dari kuil Siau-lim-si telah mengirimkan undangan
kepada seluruh partai persilatan agar datang dalam pertemuan di gunung Thayheng-san. Kalau tujuan pertama itu ialah diperuntukkan menyatukan langkah
menghadapi Hun-tiong-sin-mo, itu sih tak mengapa. Tapi anehnya mengapa
tempat pertemuan di pilih di gunung Thay-heng-san? Dan di daerah pegunungan
Thay-heng-san yang beratus-ratus li luasnya itu, tak tahu ia dimana pertemuan
kaum persilatan itu diadakan….
Ada sebuah hal yang menggelorakan perasaannya. Yakni selama dalam
perjalanan itu, ia tak menemui rintangan apa-apa. Namun hatinya tetap
memikirkan pada dirinya yang belum ketahuan asal-usulnya serta bermacam-
macam peristiwa aneh yang dialami selama ini.
Setelah menyusur tikunan dan kelokan yang berliku-liku, akhirnya tibalah ia di
muka sebuah sungai yang deras airnya. Menurut peta, sungai itu disebut Peklong-ho (sungai arus putih ). Terjadi dari kumpulan aliran-aliran air yang terdapat
di atas gunung. Karena saat itu sedang musim hujan, maka arus sungaipun
kencang sekali.
Setelah melintasi sungai itu dan menikung di sebuah barisan karang curam,
hatinyapun berdebar keras. Ya, menurut keterangan peta, tempat yang ditandai
dengan lingkaran merah itu merupakan tempat tinggal dari si orang sakti Sip-Uhjong, tokoh yang hendak dicarinya itu. Apakah tokoh itu masih berada di situ?
Demikian pertanyaan yang timbul di hati Thian-leng.
Oh-se-gong-mo mengadakan perjanjian dengan tokoh itu pada 30 tahun
berselang. Ya, 30 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apakah dalam waktu yang
sedemikian lama tokoh itu masih hidup?
Masih ada sebuah pertanyaan lagi. Apakah tokoh itu mau menerimanya sebagai
wakil dari Oh-se-gong-mo, kemudian mau memberikan pil Kong-yang-sin-tan
kepadanya? Thian-leng berjalan dengan seribu satu kegelisahan.
Tak berapa lama tampaklah sebuah goa dari batu karang yang menjulang tinggi.
Timbullah kegirangan pada Thian-leng karena goa itu mungkin goa kediaman SipUh-jong. Tetapi dalam sekejap api kegirangan itupun padam kembali. Karena di
muka goa itu penuh ditumbuhi rumput liar setinggi dada orang. Suatu tanda bahwa
goa itu tentu sudah lama tak dihuni orang.
Melangkah ke dalam goa, didapatinya goa itu penuh dengan sarang laba-laba.
Suatu hal yang membuatnya kecewa. Ia menghibur hatinya sendiri, sekalipun tak
berhasil memperdalam ilmu Lui-hwe-ciang, namun ia masih mempunyai ilmu
pedang Toh-beng-sam-kiam yang sakti. Kiranya ilmu pedang itu cukup untuk
menghadapi Song-bun-kui-mo nanti.
Ketika ia memutar tubuh hendak meninggalkan goa itu, tiba-tiba matanya
tertumbuk akan segunduk benda yang mirip dengan tubuh manusia melingkar di
sudut ruang. Ia tertegun, pikirnya,”Hm, Sip lo-cianpwe itu memang seorang
manusia luar biasa yang berwatak aneh. Mungkin dia masih tinggal di goa yang
tak pernah dibersihkan ini!”
Makin diperhatikan, makin jelaslah bahwa benda itu memang seorang manusia
yang tengah melingkar tidur di sebuah bale-bale batu. Karena mukanya ditutupi
dengan kedua lengan baju, maka tak jelaslah bagaimana wajahnya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Sip-Uh-jong. Dengan pemikiran itu, segera Thian-leng
melangkah maju kemudian berlutut di depan bale-bale batu, ujarnya, “Sip locianpwe…...”
Orang itu menggeliat balikkan tubuh dan…………Thian-leng melonjak kaget
seperti dipagut ular demi melihat siapa yang tidur di tempat yang sejorok itu, “Cuheng…… kau….!”
Ya, memang yang tidur melingkar itu bukan tokoh sakti Sip Uh-jong, tetapi Cu
Siau-bun si pemuda berwajah pucat.
Cu Siau-bun tertawa hambar, “Menantikan kau….”
“Menantikan aku ?” kembali Thian-leng tercengang, “Bagaimana kau tahu aku
akan datang ke sini?”
Cu Siau-bun hendak membuka mulut tetapi tiba-tiba ia mengerutkan dahi dan
batuk-batuk. Napasnya memburu keras, tangan dan kakinya dingin, keringat
dinginpun mengucur membasahi mukanya. Diam-diam Thian-leng kasihan
padanya. Masih semuda itu, mengapa Cu Siau-bun sudah menderita penyakit
paru-paru yang berat.
Masih Cu Siau-bun batuk-batuk dan beberapa kali mengeluarkan darah,
tubuhnyapun menggigil. Buru-buru Thian-leng mencekalnya, “Cu-heng, sakitmu
cukup berat, tak seharusnya kau tinggal di goa sekotor ini… ! “
Cu Siau-bun menyandarkan kepalanya ke bahu Thian-leng, sahutnya “Penyakitku
ini boleh dikata suatu penyakit, boleh dikata bukan!”
Thian-leng terharu sehingga hidungnya mulai lembab menahan air mata. “Apa
yang kau derita Cu-heng?” katanya dengan terharu.
Cu Siau-bun menghela napas: “Sudah setengah bulan aku tinggal di goa ini.
Bermula kurasakan badanku kurang enak, kemudian baru kuketahui kalau aku
terkena kabut beracun …”
“Kalau begitu seharusnya Cu-heng lekas-lekas tinggalkan goa ini mencari obat!”
Cu Siau-bun makin rapatkan kepalanya ke dada Thian-leng. Ia tertawa tawar:
“Karena kuperhitungkan kau segera akan datang, maka kutangguhkan sehari lagi
di sini …”
Sejenak dipandangnya redup-redup Thian-leng, ujarnya: “Tak usah heran.
Sewaktu berada di lembah Pek-hun-koh, kulihat kau menyembunyikan sebuah
peta. Tetapi malang, aku kena dipancing keluar oleh musuh sehingga kau kena
diculik …”
Diam-diam Thian-leng mengagumi kecerdasan pemuda itu. Hanya dalam waktu
yang singkat saja Cu Siau-bun sudah dapat mengingat di luar kepala isi peta itu.
Setelah sesaat menghela napas, kembali Cu Siau-bun berkata: “Karena kemanamana tak dapat kutemukan kau, maka kuduga kau tentu datang kemari. Lalu aku
bergegas2 menunggumu di sini!”
Ketika baru berjumpa, Thian-leng mengira Cu Siau-bun itu seorang penjahat,
maka ia tak mau berkawan dengannya. Ternyata dia seorang sahabat yang setia.
Adalah karena hendak menunggu kedatangannya, Cu Siau-bun tinggal di goa itu
sampai setengah bulan sehingga akibatnya terkena hawa beracun.
Dijabatnya kedua tangan pemuda itu dengan rasa syukur yang tak terhingga:
“Cuheng, entah bagaimana aku harus menghaturkan terima kasih kepadamu …”
Cu Siau-bun menarik tangannya dari dekapan Thian-leng. Tapi pada lain saat
tiba-tiba ia merangkul leher Thian-leng, ujarnya: “Apakah kau mau meluluskan
sebuah permintaanku?”
“Silahkan, aku tentu melaksanakan perintahmu!”
“Kelak apabila segala urusan sudah selesai, kita mencari tempat yang sepi dan
jauh dari masyarakat ramai. Kita dirikan gubuk, menanam ladang. Tiap sore kita
duduk minum arak, malam kita ngobrol di dekat perapian. Kita nikmati kehidupan
yang tenteram bahagia, jangan campur urusan dunia persilatan yang kotor lagi.
Maukah kau?”
Thian-leng terpesona, ujarnya: “Itulah kehidupan yang kuidam-idamkan, tetapi
entah bilakah hari itu akan tiba?”
Cu Siau-bun tertawa sedap: “Asal kau mau, hari itu pasti akan tiba. Harap kau
jangan ingkar janji!”
“Asal Cu-heng tak menampik, tentu aku takkan berkhianat.”
Cu Siau-bun tertawa riang: “Baik, tempat ini tiada orang saktinya, pun peta itu tak
ada gunanya. Mari kita tinggalkan tempat ini. Makin lekas kita menyingkap tabir
rahasia riwayatmu dan menuntaskan dendam sakit hati, makin lekas kita
melaksanakan cita-cita kehidupan bahagia yang kita ikrarkan tadi!”
“Benar, lebih dulu kita pergi ke kota yang terdekat dari sini untuk mengobati
lukamu!” sahut Thian-leng.
“Itu tak penting,” sahut Cu Siau-bun, “asal aku nanti beristirahat dua hari saja,
penyakitku itu tentu sembuh sendiri.”
Thian-leng segera memapahnya keluar dari goa. Tetapi ia terkejut karena Cu
Siau-bun berjalan dengan sempoyongan seperti mau jatuh. Ah, tak kira hawa
dalam goa itu sedemikian jahatnya. Terpaksa ia panggul pemuda itu. Cu Siau-bun
tak menolak, bahkan semesra anak domba, ia susupkan kepalanya ke dada
Thian-leng. Tak lama tibalah mereka di tepi sungai Pek-long-ho. Sekonyongkonyong Thian-leng tersirap kaget dan menghentikan langkah. Dari balik jajaran
batu-batu besar yang berserakan di tepi sungai, bermunculan belasan orang.
Paderi, imam dan orang-orang biasa.
“Bu-beng-jin, apa katamu sekarang?” seru salah seorang paderi muda.
Thian-leng gelisah. Tak mau ia bentrok lebih lanjut dengan partai-partai persilatan
dan memperdalam jurang kesalah pahaman. Apalagi Cu Siau-bun sedang sakit.
Kalau sampai terjadi pertempuran dan mengakibatkan Cu Siau-bun menderita
lebih parah, Thian-leng benar-benar penasaran sekali.
Rombongan penghadang yang muncul itu bukan saja terdiri dari orang-orang
yang pernah bertempur dengannya di hutan tempo hari, bahkan bertambah lagi
dengan belasan paderi dan imam. Terang mereka itu masih penasaran dengan
kekalahannya dulu dan mengundang bala-bantuan untuk mencari Thian-leng.
Situasi itu menyadarkan Thian-leng bahwa suatu kesulitan sukar dihindarkan lagi.
Segera ia letakkan Cu Siau-bun di atas tanah: “Biar kuhadapi mereka dulu!”
katanya dengan tenang sekalipun hatinya berdebar keras.
Cu-Siau-bun hendak bicara tetapi tiba-tiba ia muntah darah lagi. Ia sandarkan
kepalanya ke batu. Dengan geram Thian-leng bangkit menghadapi rombongan
penghadangnya itu.
Yang melangkah maju lebih dulu ialah 3 orang paderi tubuh kurus. Mata mereka
berkilat-kilat tajam, langkah berat dan kuat.
“Tentulah cuwi bertiga ini ko-jin dari partai persilatan ternama. Apakah cuwi ijinkan
aku berbicara?” seru Thian-leng.
Salah seorang paderi itu menyahut dengan suara nyaring: “Lohu tak ingin
mendengar bantahan dari orang yang tangannya berlumuran darah manusia!”
“Lalu maksudmu?” seru Thian-leng.
“Menyempurnakan dirimu?” sahut paderi itu dalam nada berat.
“Simpan golok pembantai dan segera bersujud di hadapan Buddha? Andaikata
aku benar seperti yang kau tuduh menjadi anak buah Hun-tiong Sin-mo, bukankah
pintu sudah tertutup bagi aku untuk kembali ke jalan terang?” seru Thian-leng
dengan sinis.
“Lain orang diperbolehkan, kecuali kau!” bentak paderi itu, “keputusan dari rapat
para kaum persilatan memutuskan untuk melenyapkan Hun-tiong Sin-mo dan
antek-anteknya. Di dunia tak boleh terdapat kutu busuk yang merusak
ketenteraman rakyat!”
Ucapan itu ditutup dengan sebuah pukulan. Thian-leng terpaksa menangkis.
Benturan itu membuat keduanya sama-sama tersurut mundur selangkah.
Pada lain saat kedua paderi dan keempat imam bertubuh kurus itu berseru dan
serempak menyerang berbareng.
Thian-leng cukup menyadari kesaktian ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Maka ia
enggan untuk mengeluarkan permainan itu, apalagi ia tak mempunyai
kesempatan mencabut pedangnya. Serangan ketiga paderi dan empat imam itu
segencar badai, sehingga dalam 10 jurus kemudian Thian-leng rubuh ke tanah
muntah darah!
Melihat itu Cu Siau-bun, paksakan diri berseru: “Mohon kalian …ja … ngan …
membunuhnya …”
Tetapi tak seorangpun yang menghiraukannya. Seorang paderi tua tampil dengan
sebuah hantaman, Thian-leng mencelat sampai dua tombak jauhnya, tubuhnya
mandi darah! Seorang imam menyusuli lagi dengan sebuah hantaman sehingga
untuk yang kedua kalinya tubuh Thian-leng mencelat ke udara dan blung … ia
tercebur ke dalam sungai. Pada lain kejap, tubuhnyapun hilang ditelan arus yang
deras …
Cu Siau-bun pingsan seketika!
Entah berapa lamanya, ketika ia tersadar di hadapannja tampak seorang paderi
tua. Kata paderi tua: “Kaupun tentu anak buah Hun-tiong Sin-mo. Sekali-kali bukan
karena kau sedang menderita sakit lantas dibebaskan dari kematian. Tetapi
karena kami hendak menyuruhmu menyampaikan berita pada Hun-tiong Sin-mo.
Katakan padanya bahwa sembilan partai besar mengundangnya supaya datang
ke puncak Sin-li-hong gunung Bu-san pada bulan satu tanggal 15. Diminta dia
datang memenuhi undangan kami itu. Kalau tidak ia akan dihina oleh kaum
persilatan sebagai manusia pengecut!”
Hati Cu Siau-bun seperti disayat sembilu, namun ia masih paksakan diri berseru
keras: “Tak perlu tunggu sampai bulan satu tanggal 15, sekarang juga aku hendak
membalas dendam pada kalian. Semua orang dari sembilan partai besar itu akan
kuhancurkan … aku hendak … membalaskan dendam … untuknya …”
Lengking jeritan itu penuh dengan bara dendam yang merintih-rintih. Namun
hanya gemuruh arus sungai yang menyambutnya, karena sekalian jago-jago
itupun sudah angkat kaki. Mereka tak mempedulikan lagi kepada pemuda yang
tengah memaki-maki dengan suara yang makin lemah …
Suasana di tepi sungai Pek-long-ho tenang kembali. Arusnyapun kembali
bersuka-ria berkejar-kejaran di tengah sungai.
Cu Siau-bun tersadar dari pingsannya. Dengan langkah terhuyung-huyung ia
menyusur tepi sungai menuju ke hulu. Ternyata hawa beracun dalam goha, telah
meracuni tubuhnya sedemikian rupa hingga tenaganya hampir lenyap. Peristiwa
pengeroyokan terhadap Thian-leng yang begitu ngeri sehingga anak muda itu
tercebur ke dalam sungai, makin menggoncangkan batinnya. Andaikata bukan
seorang yang keras hati, tentu seketika itu juga Cu Siau-bun sudah buang diri
mencebur ke sungai!
Mungkin kalau tidak seperti saat itu, tentu ia dapat melompati sungai yang
lebarnya hanya setombak lebih. Tetapi dalam keadaan separah itu, ia hanja dapat
menghela napas saja.
Duduklah ia bersandar pada sebuah batu besar. Sambil beristirahat, ia
merenungkan apa yang telah dialami selama beberapa hari ini. Sebenarnya ia
seorang yang berhati tinggi. Biasanya ia suka tak memandang mata pada orang
lain. Tapi kali ini benar-benar ia mendapat pelajaran yang pahit!
Suatu perasaan aneh mengetuk hatinya. Mengapa, ya mengapa ia begitu mudah
mencurahkan kasihnya kepada seorang pemuda macam Kang Thian-leng? Di
manakah letak kelebihan Thian-leng? Ah, tak tahulah ia. Ia hanya merasa, Kang
Thian-leng ialah Kang Thian-leng. Kasihnya terhadap pemuda itu adalah suatu
perasaan kasih yang timbul dari nuraninya …
Dipandangnya arus air yang berkecamuk di tengah sungai. Tak terasa mengalirlah
air matanja … Ah, Thian-leng sudah mati, mati tanpa meninggalkan bekas. Bahkan
mayat pemuda itupun tak tertinggal lagi untuk dikenangkan!
Serentak timbullah suatu pertanyaan dalam sanubarinya. Dapatkah ia melupakan
pemuda Thian-leng itu? Dapatkah kelak ia mencurahkan kasihnya kepada
pemuda lain?
Sang batin menyahut serentak: tidak!
Thian-leng telah mencuri segenap isi hatinya. Pemuda itu mati dengan membawa
kasih hatinya juga. Tidak, ia tak dapat hidup lagi. Seluruh impiannya, cita-citanya
dan kebahagiaan hidupnya telah terbawa hanyut oleh Thian-leng.
Lalu-lalang kenangan itu bertemu dalam suatu titik, kemudian meletus menjadi
suatu tekad yang bulat: “Balaslah! Ya, ia harus membalaskan sakit hati Kang
Thian-leng!”
Diam-diam ia bersumpah dalam hati. Selama hayat masih dikandung badan, ia
bersumpah hendak membunuh semua jago-jago dari sembilan partai. Setelah hal
itu terlaksana, ia lalu hendak bunuh diri menyusul arwah Thian-leng!
Sekonyong-konyong sesosok tubuh melesat tiba di hadapannya. Seorang wanita
tua yang berambut putih mengenakan pakaian warna biru tiba-tiba muncul tanpa
mengeluarkan suara sedikitpun jua.
“Mah …!” serentak menjeritlah Cu Siau-bun dengan girang-girang rawan. Ia
merangkak lalu menubruk ke dada wanita itu.
Wanita tua perlahan-lahan membelai kepala Cu Siau-bun, sepasang alisnya
mengerut: “Nak, mengapa kau berobah begini rupa?”
Cu Siau-bun paksakan diri mengangkat kepala. Air matanya membasahi muka.
“Berobah? Berobah bagaimana, mah?”
Wanita itu tertawa mesra: “Nak, sering kukatakan bahwa kau ini adalah orang yang
paling keras kepala dan tinggi hati. Tetapi apa sebab sekarang kau menangis
begitu sedih …?”
Cu Siau-bun terkesiap. Mengusap air mata, ia menjerit: “Mah, dia … dia sudah
mati!”
Si wanita tuapun terkejut, serunya: “Dia mati?”
Cu Siau-bun mengerutkan gigi, sahutnya: “Mah, kau harus membantu aku untuk
membalaskan sakit hatinya!”
Sejenak wanita tua itu mengerutkan kening, kemudian tertawa hambar: “Ceritakan
dulu bagaimana ia sampai mati itu!”
“Rombongan sembilan partai telah membunuhnya. Mayatnya terlempar ke dalam
sungai. Yang paling menjengkelkan adalah ketiga Cuncia dari Siau-lim-si …”
"Mengapa sembilan partai membunuhnya?" tanya si wanita.
“Mereka salah duga, menyangka dia itu anak buah Hun-tiong Sin-mo!”
Wanita tua itu mengeluh ujarnya: “O, akulah yang mencelakainya …!”
Kemudian ia menggumam seakan-akan bicara pada dirinya sendiri: “Ah, kalau
anak itu sampai meninggal, persoalan yang menjadi kecurigaanku itu tentu tak
dapat kuselidiki lagi … Mengapa ditengkuk anak itu terdapat sebuah tahi lalat?
Mengapa hatiku tak sampai hati membunuhnya …?”
Dikala ia terbenam dalam renungan itu tiba-tiba angin berhembus dan leher
bajunyapun tersikap sedikit. Ah, walaupun wajahnya tampak seperti seorang
nenek yang sudah berumur 80-an tahun tapi kulit lehernya putih segar seperti
yang dimiliki oleh wanita di antara 30 tahun lebih umurnya. Dan yang paling
mengesankan adalah terdapatnya sebuah tahi lalat merah pada lehernya itu.
“Mah, apa yang kau katakan?” tiba-tiba Cu Siau-bun menyela.
Wanita itu tersirap, tertawa: “Tidak apa-apa, mari kita pergi!” – ia mengeluarkan
sebutir pil diberikan pada Cu Siau-bun: “Makanlah, hawa racun dalam tubuhmu
tentu hilang …”
Setelah menelan pil itu, Cu Siau-bun tetap enggan pergi: “Aku tak ikut!”
“Mengapa?” wanita tua terbeliak heran.
“Selesaikan dulu pembicaraan baru kita pergi.”
“Anak itu sudah mati, apa boleh buat. Apalagi yang harus dibicarakan?”
“Tidak! Aku tetap hendak membalaskan sakit hatinya!” seru Cu Siau-bun.
Wanita itu tersirap kaget: “Eh, apakah kau … jatuh cinta padanya? … Bukan begitu
maksudku menyuruhmu rnengikuti jejaknya!”
Wajah Cu Siau-bun yang kepucat-pucatan tampak merah, bibirnya mencibir: “Mah,
kaulah yang bertanggung-jawab! Jika kau tak suruh aku mengikutinya tentu takkan
terjadi peristiwa ini. Sekarang sesal tiada gunanya …”
“Kau … apakah sudah …!” makin getas suara wanita itu.
“Tidak! Sampai matinya dia belum mengetahui aku ini seorang perempuan!” Cu
Siau-bun tersipu merah.
Wanita itu menghembus napas longgar, ujarnya: “Jangan kau resahkan hal itu.
Lewat beberapa waktu, kau tentu melupakannya.”
Cu Siau-bun membelalakkan matanya: “Tidak mungkin! Seumur hidup tak nanti
aku dapat melupakannya. Dalam hidupku aku hanya dapat mencintai dia seorang.
Kematiannya telah membuatku sengsara. Aku hendak melakukan pembalasan,
baru nanti menyusulnya ke alam baka!”
Mata wanita itu berkaca-kacaa. “Ah, Siau-bun,” ia menghela napas. “Mengapa kau
begitu tolol. Sedangkan dia belum tahu kau ini seorang gadis, mengapa kau
hendak bela-mati untuknya?”
“Kuminta kau membantuku menghancurkan orang-orang dari 9 partai itu!” Cu
Siau-bun tetap kukuh. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, serunya: “Mereka minta aku
menyampaikan undangan padamu, supaya hadir menerima tantangan mereka di
gunung Bu-san pada nanti bulan 1 tanggal 15!”
Wanita itu menggeleng: “Aku masih mempunyai urusan yang lebih penting lagi.
Tak usah hiraukan ocehan mereka!”
“Aku telah bersumpah dalam hati, sebelum tanggal itu akan menghancurkan
mereka.”
Wanita itu mengerutkan dahi, ujarnya: “Dewasa ini di dunia persilatan timbul
kekacauan. Tiap hari terjadi pembunuhan keji. Dan setiap pembunuhan tentu
meninggalkan tanda Panji Tengkorak Darah palsu. Sedangkan peristiwa ini belum
dibikin terang, lalu sekarang akan membasmi 9 partai lagi. Bukankah hal itu akan
menambah berat beban penderitaanku? Selama yang tulen dan yang palsu itu
belum dibikin terang, bukankah mamahmu ini tetap akan dihina oleh kaum
persilatan sebagai manusia berdosa?”
“Telah kuselidiki hal itu,” buru-buru Cu Siau-bun berkata, “hasilnya telah
kuketemukan. Yang memalsukan Panji Tengkorak Darah bukan lain ialah orang
Sin-bu-kiong …”
“Sin-bu-kiong …?” wanita itu merenung beberapa jenak, katanya heran, “tetapi aku
merasa tak mengikat permusuhan dengan pihak Sin-bu-kiong!”
“Bukan sadja telah kuperoleh bukti bahwa pembunuh ganas dan pemalsu Panji
Tengkorak Darah itu orang Sin-bu-kiong, pun telah kuketahui juga bahwa yang
memalsu jadi ibunya Kang Thian-leng itu ialah Te-it Ong-hui dari Sin-bu-kiong …!”
“Ai …!”
“Ibu dari Thian-leng itu bukan saja tidak meninggal, pun ternyata bukan ibunya
yang sejati!” Cu Siau-bun lanjutkan keterangannya.
“Bukan ibunya?” si wanita menegas.
“Benar!”
Makin dalam kerut dahi ibu Cu Siau-bun, sengaunya: “Ini makin aneh …!” tiba-tiba
ia tertegun lalu gunakan ilmu menyusup suara Coan-im-jip-bi membisiki Cu Siaubun: “Jangan bicara, ada orang!”
“Berapa jauhnya dari sini?” Cu Siau-bun gunakan Coan-im jip-bi.
“Paling tidak 3 li jauhnya. Jumlahnya lebih dari 20 orang, di antaranya …” – ia tak
melanjutkan kata-katanya.
“Bagaimana?” desak Cu Siau-bun.
“Di antaranya terdapat seorang yang berilmu tinggi,” kata ibunya.
“Masakan dia mampu menandingimu, mah!”
Ibunya menggeleng. “Sekalipun begitu, tetapi kita harus ingat bahwa di atas langit
masih ada langit. Orang yang sakti masih ada yang lebih sakti lagi. Mamahmu ini
bukanlah tokoh nomor satu di dunia!” cepat ia tarik puterinya dibawa melesat
pergi. Mereka lenyap di antara gundukan batu yang menyela di semak
pepohonan.
Tak lama rombongan yang dikatakan wanita itupun tiba. Mereka bukan lain ialah
rombongan 9 partai tadi. Entah apa sebabnya mereka kembali lagi. Malah
sekarang ditambah dengan seorang tua berjenggot putih, berjubah ungu.
Tubuhnya tinggi besar, sepasang matanya berkilat-kilat tajam. Sikapnya congkak.
Ia berjalan dengan langkah lebar, mengikuti ketiga Cuncia dari Siau-lim-si yang
menjadi penunjuk jalan.
Tampaknya biasa saja ia berjalan dengan rombongan jago-jago 9 partai. Tetapi
apabila orang memperhatikan, tentu akan terbelalak kaget. Rumput-rumput yang
bekas dilaluinya, tak ada sebatangpun yang rebah terpijak. Jadi orang itu seolaholah berjalan melayang di atas tanah rumput.
Tiba di tepi sungai rombonganpun berhenti. Salah seorang cuncia yang bergelar
Hang Liong cuncia berseru nyaring: “Melintasi sungai itu kita mencapai ujung
terakhir dari lembah ini. Tetapi tak menemukan apa-apa. Kemungkinan si orangtua
Sip Lojin itu tentu sudah meninggal dunia …”
Tertawalah orang tua bertubuh tinggi besar. Nadanya gemerontang macam
lonceng bertalu: “Aku si orang tua ini telah memahami ilmu pengobatan dan
menguasai ilmu meramal. Aneh, mengapa dia sudah mati lebih dulu? Tentulah
karena memperhitungkan kita sekalian bakal datang kemari maka diam-diam ia
tentu lari bersembunyi …”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula: “Tetapi hal itu tak berapa penting. Memang
aku telah mendapat tugas dari Te-kun untuk mencari jejak Sip Lojin itu. Tetapi
yang lebih penting lagi ialah untuk mengajak saudara-saudara sekalian
merundingkan rencana menghancurkan Hun-tiong Sin-mo!”
Hang Liong bukan saja menjadi tetua dari ketiga Cuncia kuil Siau-lim-si, pun dia
juga merupakan pemimpin dari rombongan jago-jago 9 partai. Ia memberi
sambutan atas pernyataan orang tua gagah itu: “Sungguh suatu rejeki besar bisa
memperoleh bantuan dari pihak Sin-bu-kiong. Harap Ni Cong-hou-hoat suka
bantu membicarakan perserikatan ini di hadapan Te-kun.”
Kiranya orang tua bertubuh tinggi besar itu menjabat sebagai cong-hou-hoat
(kepala pengawal) dari istana Sin-bu-kiong. Namanya Ni Jin-hiong bergelar Cichiu-hoan-thian (tangan mengaduk langit).
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Hun-tiong Sin-mo sudah 60 tahun merajai duna
persilatan. Dia mempunyai banyak anak buah yang sakti. Tak dapat diremehkan.
Dengan memberi bantuan pada ke 9 partai ini, sudah tentu pihak kami akan
memberi pengorbanan yang tak sedikit. Bahkan mungkin juga pihak Sin-bu-kiong
akan mengalami kekalahan dan kehancuran. Tetapi andaikata bisa berhasil, entah
bagaimanakah saudara-saudara sekalian hendak menghaturkan terima kasih
kepada pihak Sin-bu-kiong?”
Sejenak mata Hang Liong Cuncia menyapu ke arah rombongannya, katanya
kemudian: “Jika Hun-tiong Sin-mo dapat dihancurkan dan dunia persilatan
terbebas dari cengkeraman momok ganas, 9 partai akan menggerakkan seluruh
orang gagah di kolong dunia untuk menobatkan Sin-bu-kiong sebagai partai
pemimpin dunia persilatan dan Sin-bu Te-kun sebagai kepala tokoh persilatan!”
Sekalian orang tak ada yang menyanggah dan mengangguk setuju, Ni Jin-hiong
tertawa puas, serunya: “Kalau demikian dapatlah kulaporkan pada Te-kun, hanya
saja …”
“Lohu telah menurutkan rencana Ni Cong-hou-hoat, mengundang Hun-tiong Sinmo supaya datang kepuncak Sin-li-hong besok pertengahan bulan satu tahun
depan!” tukas Hang Liong Cuncia.
Ni Jin-hiong mengelus-elus jenggot tertawa: “Bagus, selekas aku pulang tentu
akan segera kukirim orang, untuk mengadakan persiapan. Kalau Hun-tiong Sinmo berani datang dapat dipastikan dia bakal hancur …” sejenak ia kerlingkan
mata, katanya pula: “Tetapi ingat, kecuali tokoh-tokoh penting di kalangan kalian 9
partai, jangan sampai rahasia Sin-bu-kiong akan ikut hadir dalam pertemuan di
Bu-san itu bocor keluar! Atau … kemungkinan Hun-tioug Sin-mo takkan datang!”
Hang Liong Cuncia mengiyakan. Kembali orang she Ni utusan Sin-bu-kiong itu
tertawa congkak kemudian ia minta diri.
“Bagaimana pendapat saudara-saudara tentang tindakanku tadi?” tanya Hang
Liong Cuncia kepada rombongan 9 partai.
Tak seorangpun yang menyahut kecuali seorang setengah tua yang mengenakan
dandanan sebagai pelajar.
Ia menyelinap ke muka, serunya: “Menurut hematku, tindakan siansu tadi kurang
bijaksana!”
Hang Liong Cuncia terkesiap. Ketika mengetahui bahwa yang bicara itu Poh-ihsiu-su (pelajar baju katun) Li Cu-liong, ketua partai Tiam-jong-pay, Hang Liong
Cuncia mengerutkan alis.
“Bagaimana menurut pendapat Li Ciangbun?” tanyanya.
Kiranya di dalam persekutuan 9 partai itu, partai Tiam-jong-pay termasuk partai
yang paling lemah sendiri. Sekalipun namanya sejajar dengan 8 partai besar,
namun pada hakekatnya kekuatan partai Tiam-jong-pay itu kalah dengan sebuah
Pang (cabang) saja. Bahkan dengan Kau (perkumpulan agama) saja tak menang.
Ketiga cuncia itu adalah golongan paderi yang paling tinggi kedudukannya dalam
partai Siau-lim-si, maka di dunia persilatan mereka mendapat penghormatan yang
tinggi. Sudah tentu mereka tak memandang mata kepada Li Cu-liong. Itulah
sebabnya maka Hang Liong Cuncia mengunjuk sikap kurang senang kepada
ketua Tiam-jong-pay.
Poh-ih-siu-su Li Cu-liong tertawa tawar: “Meskipun Hun-tiong Sin-mo itu seorang
algojo buas, tetapi kaum Sin-bu-kiong itu juga bukan golongan baik. Tindakan
losiansu tadi berarti ‘lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya’. Sekali Sinbun Te-kun menjadi kepala dunia persilatan …” ia menghela napas tak
melanjutkan kata-katanya pula.
Semula memang Hang Liong Cuncia tak senang, tetapi dia seorang paderi yang
telah berpuluh-puluh tahun menghisap sari pelajaran agama. Peribadinya kuat,
toleransinya penuh. Ia mengangguk perlahan. “Lohu-pun sudah tahu. Adalah
karena tak tega mendengar tiap hari Hun-tiong Sin-mo melakukan pembunuhan
ganas, maka kecuali dengan jalan itu rasanya tiada lain daya lagi …” ia berhenti
sejenak, katanya pula: “Supaya cuwi sekalian mengetahui bahwa tindakan lohu
sekali-kali bukan karena hendak menuntut balas atas kematian ketua dan
kedelapan tianglo kami. Tetapi yang penting ialah demi memikirkan keselamatan
dunia persilatan!”
Li Cu-liong menjura, serunya:”Sungguh mulia cita-cita losiansu itu, tetapi …” ia
berganti nada setengah berbisik: “Maafkan, Tiam-jong-pay hendak mengundurkan
diri dari persekutuan ini!”
Sekalian tokoh terkejut mendengar keputusan ketua Tiam-jong-pay itu. Hang
Liong Cuncia menatap tajam-tajam pada diri ketua Tiam-jong-pay itu, kemudian
tertawa hina: “Silahkan kalau Li Ciangbun mau mengundurkan diri. Tetapi kaum
persilatan di Tionggoan takkan merobah haluannya karena penarikan diri dari
Tiam-jong-pay!”
Li Cu-liong tak mau banyak bicara. Setelah memberi hormat segera ia angkat kaki
diikuti oleh kedua pengawalnya. Pada lain kejap mereka sudah lenyap dari
pandangan.
Sekalian tokoh terlongong-longong mengantar kepergian ketua Tiam-jong-pay itu.
Baru setahun yang lalu Li Cu-liong mendjabat ketua Tiam-jong-pay. Sebagai
sebuah partai lemah, mengapa dia berani menarik diri dari persekutuan 9 partai?
Dan berani menentang kehendak golongan Siau-lim-pay? Apakah dia mempunyai
rencana sendiri. Demikian pertanyaan yang timbul di hati setiap orang.
Akhirnya Hang Liong Cuncia-lah yang membuka pembicaraan: “Keputusan telah
ditetapkan, harap cuwi sekalian pulang ke tempat cuwi masing-masing. Sebelum
akhir tahun ini harap sudah mengirim wakil ke puntjak Sin-li-hong di gunung Busan …”
Sekalian tokoh mengiyakan. Demikianlah mereka segera bubar dan pulang ke
daerahnya masing-masing.
Keheningan kembali menyelubungi tepi Pek-long-ho. Beberapa waktu kemudian
terdengar suara bicara bisik-bisik dari balik sebuah batu besar. Itulah Cu Siau-bun
dan ibunya, yang sejak tadi ternyata masih bersembunyi mendengarkan
pembicaraan rombongan 9 partai.
“Mah, jika tadi tak kau halangi, di sini tentu sudah timbul tumpukan bangkai …
mereka toh hendak merencanakan mencelakai kau, mengapa kau diam saja?” Cu
Siau-bun menggeram.
Setelah menelan pil dari ibunya, maka racun dalam tubuh Cu Siau-bun pun sudah
lenyap. Kini tenaganya sudah pulih.
Wanita tua itu tertawa hambar: “Jika tak tahan menderita soal kecil, tentu akan
membikin terlantar urusan besar. Apalagi ke 9 partai itu sebenarnya tak berdosa.
Mereka telah masuk dalam perangkap orang. Si kepala gedung Sin-bu-kiong yang
menamakan dirinya sebagai Te-kun (raja) itulah biang-keladi yang sebenarnya …”
Cu Siau-bun tertegun sejenak. Katanya: “Mah, mengapa mendadak kau berobah
begini welas-asih?”
Wanita itupun terkesiap juga: “Apakah mamahmu ini seorang ganas?”
Cu Siau-bun tertawa:”Sekaligus membunuh ketua Siau-lim-si dan 8 tianglo …”
“Kau tak tahu …!” kata wanita itu. Setelah merenung sesaat, ia berkata pula:
“Pertama, aku hendak menjaga peraturan mendiang guruku. Yakni tak
membiarkan orang yang menantang, keluar dari Mo-hu (sarang hantu) dengan
masih hidup! Kedua, ke 9 paderi itu memang cari mati sendiri …”
Cu Siau-bun melengking: “Masakan mereka …”
Tiba-tiba wajah wanita itu berobah bengis: “Jangan banyak bicara, ayo lekas
berangkat!”
“Mah, apakah kita langsung menggempur Sin-bu-kiong?” seru si nona dengan
bersemangat.
“Tidak! Akan kuajak kau ke gunung Tiam-jong-san dulu!”
Cu Siau-bun terbeliak heran: “Tiam-jong-san? Perlu apa kita ke gunung yang
tandus itu?”
“Ketua Tiam-jong-pay, Poh-ih-siu-su Li Cu-liong seorang yang aneh wataknya.
Aku hendak menjumpainya!” sahut sang ibu.
Cu Siau-bun tak berani membantah. Segera mengikuti sang ibu melintasi sungai
terus keluar dari lembah. Namun mulut nona itu masih menyumpah-nyumpah: “9
partai adalah musuh besarku, termasuk Tiam-jong-pay pun hendak kubasmi!”
Wanita itu entah dengar entah memang tak mau menghiraukan gerutu puterinya,
tetap berjalan terus …
oo00oo
Bagaimana dengan Kang Thian-leng yang kecebur di dalam sungai? Apakah dia
binasa? Tidak, ternyata dia memang belum ditakdirkan mati, masih harus
melanjutkan perdjalanan hidupnya yang penuh cerita petualangan.
Begitu kecemplung ke dalam sungai, iapun sudah pingsan sehingga dibawa
hanyut oleh arus. Pukulan yang dilancarkan oleh paderi dan imam dari 9 partai itu
hebatnya bukan kepalang. Tapi untunglah sebelumnya Thian-leng sudah
mendapat saluran lwekang dari Oh-se Gong-mo sehingga tenaga dalamnya kuat
sekali. Benar ia terluka parah tetapi tak sampai binasa.
Malah ketika terendam dalam air, iapun agak tersadar dari pingsannya. Lapatlapat ia merasa seperti membentur sebuah benda dan tahu-tahu tubuhnya
terlempar ke tepi pesisir. Lemparan itu kuat sekali sehingga tulang persendiannya
serasa remuk, kepala pening, mata berkunang-kunang. Sedemikian nyerinya sakit
yang diderita saat itu sampai-sampai ia hampir pingsan lagi! Untung tempat
jatuhnya itu di atas pasir, andaikata di atas batu karang tentulah tubuhnya sudah
hancur.
Sesaat ia berusaha untuk menyalurkan darah dan membuka matanya pelahanlahan. Apa yang dilihatnya saat itu, membuat semangatnya serasa terbang.
Seorang manusia aneh yang menyerupai mayat hidup tengah memandangnya
dengan tertawa mengikik … Kedua matanya sebesar kelinting, pipinya kempot dan
mukanya berwarna pucat kebiru-biruan. Sekalipun panca-inderanya lengkap tapi
tak mirip dengan seorang manusia!
Dia mencekal sebatang kail, batang kail terbuat dari bambu sebesar lengan bayi.
Kini orang aneh itu tengah melepaskan kait yang menyantol di baju Thian-leng.
Astaga … serentak tersiraplah darah Thian-leng ketika mengetahui apa yang
terjadi. Ternyata tadi dia dipancing orang aneh itu! Ia hendak membuka mulut,
tetapi napasnya terengah sehingga terpaksa tak bisa bicara.
Orang aneh itu tertawa mengikik dan berkata seorang diri: “Besar nian rejeki hari
ini, dapat memancing seekor manusia-ikan …” – ia menjilat-jilat lidah, katanja: “Eh,
mana lebih lezat, dimasak atau dibakar …?”
Sudah tentu Thian-leng berjingkat kaget. Terhindar dari mati tenggelam, jatuh ke
tangan seorang manusia aneh. Bukan mustahil orang aneh itu suka makan daging
orang!
Ia paksakan diri berteriak: “Aku bukan ikan tetapi bangsa manusia seperti kau.
Jangan kau …” karena lukanya parah sekali, sekalipun sudah menggunakan
sekuat tenaga tetapi teriakannya itu lemah sekali dan akhirnya malah tak
kedengaran lagi.
“Kau bukan ikan? Mengapa kau berada dalam air?” orang aneh itu tetap cekikikan.
Setelah memulangkan napas, Thian-leng menyahut dalam suara lemah: “Aku
dianiaya orang dan dipukul jatuh ke dalam sungai!”
“O, jadi kalau tidak kupancing, kau tentu sudah mati, bukan?” orang aneh itu
mengikik.
“Terima kasih atas budi pertolongan locianpwe. Kelak wanpwe tentu akan
membalasnya.”
“Selama hidup aku tak pernah berminat menolong orang. Ransumku sudah habis
3 hari yang lalu, terpaksa kujadikan kau sebagai ikan. Anggap saja kau tadi sudah
mati tenggelam dalam sungai itu!” sambil masih tertawa mengikik sekonyongkonyong orang aneh itu menampar.
“Mati aku!” keluh Thian-leng yang tak berdaya menyingkir karena tenaganya
lumpuh. Terpaksa ia meramkan mata menunggu kematian.
Plak, keajaiban terjadi! Berat kedengaran tangan orang aneh itu. menampar tubuh
Thian-leng tetapi ternyata jatuhnya lunak sekali dan yang ditampar ialah bagian
bawah perut. Seketika itu Thian-leng rasakan tubuhnya dialiri arus hawa yang
hangat. Thian-leng memberi reaksi spontan (serentak). Ia segera pusatkan seluruh
lwekangnya untuk menyambut hawa hangat itu …
Kira-kira sepeminum teh lamanya, orang aneh itupun perlahan-lahan melepaskan
tangannya. Girang Thian-leng tak terkata. Ternyata orang aneh itu memberinya
saluran lwekang sehingga saat itu lukanya sudah hampir sembuh. Buru-buru ia
merangkak dan berlutut di hadapan si orang aneh.
Tetapi orang aneh itu menolak dan menyingkir, serunya: “Aku paling benci dengan
segala macam peradatan. Tak usahlah!”
Thian-leng bangkit, ujarnya: “Oh, kiranya locianpwe seorang sakti terpendam,
wanpwe tadi …”
“Apa itu orang sakti terpendam! Adanya aku mengasingkan diri di tempat ini
karena aku masih senang hidup dan takut mati. Aku tak keluar ke dunia persilatan
karena kepandaianku tak memadai …”
Tampak wajah orang aneh itu tegang. Rupanya ada sesuatu perasaan dalam
hatinya yang tersinggung oleh kata-kata Thian-leng tadi sehingga meledak.
Thian-leng terbeliak. Orang yang mampu menyalurkan 1wekang untuk mengobati
luka dalam, terang tentu seorang sakti. Sekalipun bukan hal yang jarang terdapat
di dunia persilatan, tetapi tokoh semacam itu dapat digolongkan sebagai jago
kelas satu. Heran Thian-leng mendengar kata-kata orang aneh itu.
“Kalau begitu, apakah locianpwe juga seorang yang menderita kekecewaan …” –
ia tak mau lanjutkan kata-katanya karena kuatir menyinggung perasaan orang lagi
dan mengalihkan dengan pertanyaan: “Sukalah locianpwe memberitahukan nama
locianpwe yang mulia?”
Orang aneh itu tertegun, tiba-tiba ia tertawa: “Buyung, mungkin karena sudah
berpuluh-puluh tahun tak ketemu orang maka aku senang bicara padamu. Ya,
terus terang saja aku ini ialah salah seorang dari Su-mo (4 momok) yang dahulu
mengangkangi dunia persilatan …!” – ia tertawa mengikik: “Pernahkah kau
mendengar nama keempat momok itu?”
Thian-leng terbeliak. Teringat ia akan pesan Oh-se Gong-mo untuk menumpas si
Song-bun Kui-mo yang jahat. Adakah orang aneh yang dihadapinya saat itu Songbun Kui-mo?!
Untuk menghadapi segala kemungkinan diam-diam Thian-leng kerahkan tenaga
dalam. Ah, ia menghela napas longgar karena lwekangnya sebagian besar sudah
pulih.
“Apakah cianpwe Song-bun Kui-mo?” serunya.
Tiba-tiba orang aneh itu menggeram: “Song-bun Kui-mo? Uh, aku membencinya
setengah mati. Ingin benar kumakan dagingnya …”
Thian-leng menghela napas longgar: “Kalau begitu tentulah Tui-hun Hui-mo!”
“Hm, benarlah!” sahut orang aneh itu.
Tanpa diberi keterangan, Thian-leng telah mengetahui apa sebab tokoh Tui-hun
Hui-mo (Iblis pengejar maut) sampai sedemikian mengenaskan keadaannya. Di
dalam apa yang disebut Su-mo (4 iblis), Hun-tiong Sin-molah yang paling tinggi
kepandaiannya. Kemudian setelah Song-bun Kui-mo berhasil merebut kitab
pusaka Im-hu-po-kip, kesaktiannyapun bertambah hebat. Dengan begitu hanja
Oh-se Gong-mo dan Tui-hun Hui-mo yang terbelakang sehingga mereka lari
menyembunjikan diri.
“Dan kau, siapa namamu?” tegur Tui-hun Hui-mo.
Thian-leng tertegun, sahutnya: “Wanpwe … bernama Bu-beng-jin!”
“Bu-beng-jin?” Tui-hun Hui-mo terkejut. “Kau tak mau mengatakan namamu yang
sebenarnya?”
“Sekalipun semula wanpwe mempunyai nama, tetapi ternyata nama itu palsu,
karena …” dengan terus terang Thian-leng segera tuturkan riwayatnya. Tetapi
peristiwa masuk ke sarang Hun-tiong-san tidak diceritakannya.
Terpikat perhatian Tui-hun Hui-mo. Ketika mendengar tentang kematian Oh-se
Gong-mo, tokoh aneh itupun mengucurkan air mata dan menghela napas
berulang-ulang. Sampai beberapa saat Tui-hun Hui-mo termenung. Tiba-tiba ia
bertepuk tangan tertawa: “Buyung, kita harus kerja sama. Sip-loji itu …”
“Apakah locianpwe mengetahui jejaknya? Apakah beliau masih hidup?” tukas
Thian-leng.
Tui-hun Huimo tertawa aneh: “Ketahuilah, sudah hampir 3 tahun aku mengejar
jejaknya, tetapi setiap kali ia tentu dapat lolos. Dia benar-benar seorang manusia
aneh, dapat meramal …”
“Mengapa locianpwe hendak mengejarnya?”
“Aku … juga untuk pil Kong-yang-sin-tan itu. Pil itu bukan saja akan membuatmu
mencapai kesempurnaan ilmu Lui-hwe-ciang, pun setiap orang yang minum tentu
akan bertambah dahsyat lwekang-nya.”
Thian-leng termenung sejenak, ujarnya: “Karena locianpwe sudah lebih dulu 3
tahun, maka pil itu locianpwe saja yang minum, wanpwe …”
“Tidak!” bentak Tui-hun Hui-mo, “kalau Oh-se Gong-mo rela memberikan lwekang
peryakinannya selama 80 tahun kepadamu, masakan aku sudi mengangkangi pil
itu? Minumlah pil itu, buyung, agar kau dapat membasmi Hun-tiong Sin-mo dan
Song-bun Kui-mo kedua keparat itu!”
Thian-leng terlongong. Memang Song-bun Kui-mo harus ia basmi. Tetapi Huntiong Sin-mo? Bukankah Hun-tiong Sin-mo itu jelas bukan musuhnya? Bukankah
momok itu telah melepas budi kepadanya? Ah …
“Hai, buyung, tahukah kau siapa Song-bun Kui-mo itu?” tiba-tiba Tui-hun Hui-mo
berseru.
“Justru wanpwe bingung mencari tempat tinggalnya …”
Tui-hun Hui-mo tertawa: “Tempat tinggal? Saat ini dia ibarat matahari yang muncul
di langit, sinarnya memenuhi jagad. Dia hendak menguasai dunia persilatan,
menundukkan tokoh-tokoh silat. Masakan kau tak tahu tempat tinggalnya …”
“Dia … ?!”
“Dia ialah manusia yang mengangkat diri sebagai raja Sin-bu Te-kun dalam
sarang istananya Sin-bu-kiong!”
“Sin-bu Te-kun?” Thian-leng tergagap. Sungguh tak diduganya sama sekali.
Segera ia teringat akan dua taci-adik Ki, si orang tua baju biru. Dan Cu Siau-bun
yang entah berada di mana sekarang!
Tui-hun Hui-mo heran memandang anak muda yang tampak termenung itu,
tegurnya: “Hai, apa-apaan kau ini?”
“Tak apa-apa,” Thian-leng gelagapan, “kita …”
“Ya, kita cari tempat persembunyian Sip-loji …” tukas Tui-hun Hui-mo. Ia
menerangkan bahwa tokoh aneh itu memang suka berpindah-pindah tempat.
Tetapi untungnya hanya di sekitar gunung Thay-heng-san saja. “Tiga hari yang
lalu dia pindah di lembah Hong-lim-koh … berapa kali setiap aku hampir berhasil
menyergapnya, apabila terpisah 10 li, ia tentu sudah mengetahui dan lari!”
“Kalau begitu selamanya tentu tak dapat dipergoki!” seru Thian-leng.
“Tidak! Dengan bantuanmu, tentu lain halnya,” Tui-hun Hui-mo tertawa. Segera ia
mencari sebatang dahan kayu kering dan menggambar di tanah: “Ia di lembah
Hong lim-koh. Di tengah lembah terdapat sebuah jalanan, satu di sebelah timur
dan satu di selatan. Kau mengambil jalan yang timur dan aku dari selatan. Kali ini
masakan dia mau lari ke langit!”
Setelah selesai memberi petunjuk, Tui-hun Hu-mo segera ajak Thian-leng
berangkat. Dengan menurutkan peta guratan Tui-hun Hui-mo tadi, tak lama
kemudian tibalah ia di muka mulut jalanan lembah Hong-lim-koh yang sebelah
timur. Lembah itu merupakan sebuah tempat yang terpencil sekali. Penuh batubatu yang curam dan hutan lebat.
Setelah beberapa saat memandang keadaan lembah itu, barulah Thian-leng mulai
memasukinya. Tiba-tiba ia berhenti terlongong-longong …
***
Berhasilkah Thian-leng mencari si orang sakti Sip U-jong yang misterius …?
(Bersambung jilid 3)
Jilid 3 .
Tertangkap basah.
Di kaki puncak gunung, terdapat sebuah gubuk. Tak jauh di belakang gubuk itu,
sebuah air terjun tengah mencurah, dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang.
Sekilas alam pemandangan di situ mirip dengan sebuah lukisan.
“Ah, tentulah itu tempat kediaman Sip-locianpwe,” Thian-leng menduga-duga. Dan
segera ia menghampiri. Karena hiruk-pikuknya gemuruh air terjun maka
kedatangannya tak menimbulkan kecurigaan orang. Begitu tiba di gubuk segera ia
melongok ke dalam jendela.
Sebuah gubuk yang reyot. Di sana-sini tampak celah-celah lubang. Di dalam
ruangan hanya terdapat sebuah meja dan sebuah bale-bale terbuat dari papan. Di
atas rumput kering diperuntukkan alas bale-bale itu, duduklah seorang tua yang
sudah putih rambutnya. Paling tidak dia tentu sudah berumur 80 tahun. Tubuhnya
kurus tetapi seri wajahnya masih segar kemerah-merahan.
Agak curiga Thian-leng dibuatnya. Tui-hun Hui-mo mengatakan bahwa
pendengaran Sip U-jong itu luar biasa tajamnya. Setiap orang berada pada jarak
10 li jauhnya, tentu sudah diketahuinya. Tetapi mengapa sampai ia menghampiri
jendela, tetap tak diketahui?
Tiba-tiba penghuni gubuk tersenyum. Ia menarik meja di hadapannya dan dari
tumpukan rumput ia mengambil beberapa benda mirip potongan kulit dan tulang
kura-kura. Benda-benda itu diletakkan di atas meja.
Itulah mirip dengan barang permainan kanak-kanak dan Thian-leng pun
mengerutkan kening keheranan.
Orang tua itu sibuk menjalankan benda-bendanya, sebentar ke timur sebentar
dipindah ke barat. Tiba-tiba ia mengerutkan alis dan berkata seorang diri: “Satu ke
timur satu ke selatan. Dua setan menghadang jalan … ah, habislah permainan kali
ini …”
Thian-leng terbeliak kaget.
“Swan (tenggara) putus, Khian (barat laut) kering. Li (selatan) berair, Khun (timur
laut) banjir. Mengejutkan tetapi tak berbahaya …” kata orang tua itu pula.
Kemudian berhenti diam lagi. Tiba-tiba ia berseru kaget: “Macan putih muncul di
Te-hu (gedung residen). Naga sembunyi di ujung langit. Di dalam bahaya
melahirkan gajah jahat, ah, mungkin urusan besar kapiran!”
Thian-leng mendengarkan ocehan orang tua aneh itu setengah mengerti setengah
tidak. Ketika hampir menemukan pemecahan artinya, tiba-tiba orang tua berambut
putih itu melambaikan tangannya berseru: “Masuklah, anak muda!”
Bukan main kejutnya Thian-leng. Karena jelas bahwa orang tua itu melambai
kepadanya. Akhirnya dengan berdebar-debar ia melangkah masuk.
“Nak, telah lama kutunggu engkau!” orang tua itu
Thian-leng tersipu-sipu memberi homat: “Apakah locianpwe Sip …”
“Benar, aku memang Sip U-jong. Telah kuketahui maksud kedatanganmu ..”
“Locianpwe seorang penjelmaan dewa?”
“Bukan, aku hanya mengerti ilmu perbintangan (falak) saja, bukan dewa …” ia
mengeluarkan sebuah holou (buli-buli) warna kuning emas. Dengan hati-hati
sekali dituangnya sebutir pil sebesar ujung jempol tangan, warnanya merah. Pil itu
diberikan kepada Thian-leng.
“Inilah pil Kong-yan-sin-tan yang dibuat rebutan orang persilatan. Lekas telanlah!”
“Tidak, tidak! Wanpwe …” Thian-leng menolak. Ia terkejut dengan peruntungan
yang diperolehnya begitu mudah. Dan diapun tak mau merebut Tui-hun Hui-mo
yang sudah 3 tahun mengejar pil itu.
Sip U-jong tertawa tergelak-gelak: “Tiga puluh tahun yang lalu aku mengadakan
perjanjian dengan Oh-se Gong-mo. Kuperhitungkan waktu perjanjian itu ialah hari
ini …”
“Apakah 30 tahun yang lalu locianpwe sudah mengetahui kedatangan wanpwe
hari ini?”
“Bukan begitu. Hanya kala itu sudah kuketahui aku tak berjodoh dengan Oh-se
Gong-mo tetapi berjodoh dengan pewarisnya …”
“O, memang aku datang kemari untuk pil ini, tetapi …”
“Tadi biji Kwa-jio (papan untuk meramal) mengunjukkan bahwa banyak bahaya
segera akan muncul, setiap saat akan terjadi perobahan. Lekas minumlah pil itu!”
“Wanpwe …” masih Thian-leng bersangsi. Tiba-tiba terasa ada angin menyambar
dari belakang. Ia hendak berputar diri tetapi sudah terlambat. Punggungnya sudah
ditutuk orang. Seketika tubuhnya tak dapat berkutik lagi. Di luar dugaan Sip U-jong
tetap tenang-tenang saja.
“Mengejar aku 3 tahun, maksudmu hanya untuk pil itu!” serunya tawar.
Pendatang itu tertawa tergelak-gelak: “Benar, tetapi aku bukan manusia yang
temaha. Saat ini aku sudah merobah pikiran …” ia berhenti sejenak. “Kau dan aku
sepaham, lekas berikan pil itu kepadanya!”
Kiranya pendatang itu ialah Tui-hun Hui-mo!
Sip U-jong tertegun, ujarnya: “Sekalipun ramalanku tepat, tetapi hati orang sukar
diduga. Sungguh tak kusangka-sangka …” – ia gelengkan kepala menghela
napas: “Buyung ini lapang dada, dia hendak menyerahkan pil itu kepadamu dan
tetap menolak tak mau menelannya. Aku tak berdaya memaksanya …”
“Mudah!” sahut Tui-hun Hui-mo seraya menutuk tenggorokan Thian-leng sehingga
mulut anak muda itu menganga. Sip U-jong cepat memasukkan pil ke mulut Thianleng. Setelah itu Tui-hun Hui-mo baru membuka lagi jalan darah Thian-leng yang
tertutuk.
Thian-leng tak dapat berbuat apa-apa kecuali berlutut menghaturkan terima kasih
kepada kedua orang aneh itu. Tiba-tiba ia menjerit, loncat beberapa meter ke
udara dan jatuh berguling-guling mendekap perutnya. Kiranya pil itu mulai
bekerda. Perut Thian-leng serasa terbakar api, organ dalam tubuhnya serasa
disayati sehingga ia menjerit- jerit seperti babi disembelih!
“Pil itu telah kubuat selama 50 tahun. Untuk menjaga pil itu aku sampai
menelantarkan ilmu silat. Montang-manting lari ke mana-mana sehingga hampir
kehilangan jiwa! Ah, tak kira pil itu sedemikian mencelakakan orang …”
Tui-hun Hui-mo tertawa: “Tetapi kuharap kau membuat 2 butir, biar aku turut
merasakan bagaimana sakitnya!”
Sip U-jong tertawa perlahan: “Kau dan aku sudah ibarat senja hari, biarlah kita
titipkan harapan kita di atas bahunya saja …!” – ia berhenti untuk menghitunghitung dengan jarinya. Tiba-tiba ia terkejut: “Celaka, musuh mendesak, jalanan
lembah sudah tertutup! Bagaimana ini!”
“Apakah mereka orang Sin-bu-kiong?” Tui-hun Hui-mo terkejut juga.
“Ini sukar diperkirakan, hanya dalam ramalanku mengunjuk bahaya keludasan …”
menunjuk pada Thian-leng, ia berkata pula: “Sekalipun dia sudah minum pil itu,
tetapi dalam waktu sejam belum dapat menghadapi musuh. Jika tak beruntung,
mungkin kita sukar lolos dari kehancuran. Jerih-payahku selama berpuluh-puluh
tahun akan ludas dalam sehari saja …”
“Kau mengerti ramalan, mengapa tak mengetahui keadaan mereka?” kata Tui-hun
Hui-mo.
“Hai, benar, mengapa aku begini limbung …” Sip U-jong seperti orang disadarkan.
Segera ia memeriksa wajah Thian-leng. Saat itu Thian-leng sudah tak menggeliatgeliat, hanja keningnya masih bercucuran keringat panas. Sebenarnya jalan darah
utama Seng-si-hian-kwan dalam tubuh Thian-leng sudah tertembus. Jalan darah
ini merupakan “pintu” terakhir dari suksesnya suatu peryakinan lwekang. Selama
jalan darah itu tak dapat terbuka, orang tetap tak mampu mencapai kesempurnaan
lwekang. Tidak banyak tokoh-tokoh persilatan yang telah tertembus bagian jalan
darah Seng-si-hian-kwan.
“Ah, mungkin pilihanku salah. Seumur hidup aku menderita kekecewaan!” sesaat
kemudian Sip U-jong berseru sambil membanting-banting kaki.
“Apakah usianya tak panjang?” Tui-hun Hui-mo terkejut.
Sip U-jong gelengkan kepala: “Ini sukar dikatakan. Hanya perjalanan hidupnya
memang penuh kesulitan, selalu tertimpa bahaya maut. Jika tak ketemu bintang
penolong mungkin dia takkan hidup panjang …” ia berhenti sejenak, katanya:
“tetapi yang kukuatrkan bukan hal itu. Dia seorang anak
keras kepala, mungkin tak dapat memenuhi harapanku dengan lancar …”
“Aku tak tahu apa isi harapanmu itu, tetapi tentulah ada hubungannya dengan
Hun-tiong Sin-mo dan Song-bun Kui-mo!” seru Tui-hun Hui-mo.
Sip U-jong menggeram: “Isteri dan puteriku telah dibunuh Song-bun Kui-mo,
masakan kau tak mendengar hal itu!”
Tui-hun Kui-mo tertawa: “Asal anak itu masih bisa hidup saja, jangan kau kuatirkan
hal itu …”
Tiba-tiba ia bertanya: “Kelinci yang licin masih punya 3 liang. Selain timur, selatan,
apakah tak ada lain jalan lagi?”
“Kau takut mati?” Sip U-jong tertawa.
Tui-hun Hui-mo mendengus: “Yang mengerti gelagat dan bertindak tepat barulah
seorang gagah. Berani mati atau takut mati, bukanlah halangan.”
Sip U-jong gelengkan kepala: “Tetapi sekarang sudah terlambat …” baru ia
mengucap, tiba-tiba terdengar lengking suara seperti denging nyamuk menyusup
telinga: “Benar, memang sekarang sudah terlambat!”
Kejut Sip U-jong dan Tui-hun Hui-mo tak kepalang. Melihat ke arah datangnya
suara, tampak seorang wanita mengenakan kerudung muka sudah memasuki
pintu gubuk. Di belakangnya diiring oleh 4 bujang wanita berbaju biru.
Mereka datang tanpa menimbulkan suara apa-apa. Bahwa seorang tokoh sakti
macam Tui-hun Hui-mo sampai tak mengetahui sama sekali kedatangan
rombongan wanita itu, memang mengherankan sekali!
Cepat Tui-hun Hui-mo menghadang di muka Thian-leng, tegurnya dengan nada
bengis: “Siapa kalian ini? Perlu apa kemari?”
Wanita berkerudung itu tertawa dingin: “Matamu buta, sampai tak kenal siapa aku
…”
“Persetan kau ini siapa, lekas keluar dari pondok ini, atau …”
“Atau bagaimana?” tantang wanta itu.
“Mayatmu jadi bubur daging!”
“Mengapa kau tak lekas turun tangan?” wanita itu mengikik.
Peta Telaga Zamrud.
Memang Tui-hun Hui-mo sudah memutuskan. Rombongan wanita itu terang bukan
manusia baik. Lebih cepat ia turun tangan, lebih baik. Tak usah mengalami
pertempuran yang lama. Ia menggerung keras dan mendorong ke muka.
Wanita berkerudung itu tetap berdiri. Kedua tangan disembunyikan dalam lengan
baju. Sikapnya tenang-tenang saja. Begitu Tui-hun Hui-mo bergerak, iapun segera
ulurkan jarinya menutuk.
Sebagai tokoh kedua dari Su-mo dahulu, ia malang-melintang tanpa tanding.
Setiap pukulan Tui-hun-sin-ciang (pukulan sakti pengejar nyawa) meluncur tentu
ada orang yang terluka. Yang rubuh di tangannya entah sudah berapa banyak.
Tahu bahwa wanita yang dihadapinya itu bukan tokoh sembarangan, maka sekali
gebrak Tui-hun Hui-mo pun gunakan ilmu simpanan Tui-hun-sinciang dalam jurus
yang paling dahsyat, yakni Ngo-gak-kie-pheng (5 gunung berbareng meletus).
Pukulan dahsyat dilambari dengan tenaga penuh. Dahsyatnya bagaikan gunung
Thay-san rubuh …
Menurut perkiraannya, pukulan itu tentu akan menghancurkan si wanita, sekurangkurangnya tentu dapat melukainya, paling tidak pasti membuatnya terpental
mundur beberapa langkah. Kemudian ia akan menyusuli dengan Lian-hoan-samciang (3 pukulan berantai). Tanggung tentu menang!
Tetapi apa yang disaksikan, benar-benar tak diduganya sama sekali. Wanita
berkerudung itu gunakan jarinya untuk menyambut. Gilakah barang kali wanita itu.
Memang tenaga tutukan jari itu tajam sekali tetapi mana dapat diadu dengan
tenaga pukulan. Kecuali memang wanita itu bermaksud hendak berjibaku atau
sama-sama remuk. Tetapi anehnya wanita itu tak mengunjuk sikap hendak
mengadu jiwa.
Di saat Tui-hun Hui-mo tercengang, angin tutukan jari dan angin pukulannya telah
beradu! Aneh, aneh … angin keras yang menghambur dari pukulannya itu ketika
beradu dengan tutukan jari, berobahlah seperti api disiram air. Hilang lenyap
segala daya tenaga pukulan itu. Bahkan tak berhenti sampai di situ saja. Tui-hun
Hui-mo merasa tersembur oleh aliran hawa dingin yang keras sekali sehingga
darahnya serasa bergolak. Pemusatan tenaganya seolah-olah buyar ambyar …
“Hian-im-ci!” serentak berteriaklah Tui-hun Hui-mo dengan wajah pucat.
Wanita itu menarik jarinya, tertawa: “Setan tua, sekarang kau sudah tahu siapa
aku?”
Tui-hun Hui-mo mengerut gigi kencang-kencang, geramnya: “Sin-bu-kiong! Kau
Song-bun Kui-mo punya …”
“Kau berani menyebut nama Te-kun yang dulu? Dosamu sudah tak dapat diberi
ampun!” seru wanita berkerudung itu.
Tiba-tiba Tui-hun Hui-mo tertawa keras: “Tekun? Ha, ha, kau tentulah permaisuri
Ong-hui-nya?”
“Te-it Ong-hui!” sahut wanita itu dengan nada angkuh, bangga.
Tui-hun Hui-mo berhenti tertawa, serunya: “Bilang apa maksudmu kemari?”
“Kesatu, untuk mengambil jiwa kalian berdua setan tua!” jawab Te-it Ong-hui atau
isteri pertama dari Song-bun Kui-mo yang berganti gelar menjadi Sin-bu Te-kun
atau raja dari istana Sin-bu-kiong. “Kedua, membawa anak itu!”
Tiba-tiba Sip U-jong yang sedjak tadi masih tetap duduk di atas bale-bale, berseru:
“Ah, tak semudah itu!”
Te-it Ong-hui tertawa mengekeh: “Sebelum Te-kun mendapat kitab Im-hu-po-kip
saja kau sudah dipukulnya terkencing-kencing sehingga kepandaianmu lenyap.
Apa yang hendak kau andalkan berani menolak perintah Te-kun sekarang?”
Habis berkata Te-it Ong-hui segera menghampiri bale-bale. Seketika itu timbullah
kenekadan Tui-hun Hui-mo. Pada saat wanita itu bergerak ke tempat Sip U-jong,
iapun segera lepaskan hantaman dari samping.
Tetapi Te-it Ong-hui acuh tak acuh.
“Setan bernyali besar, kau berani kurang ajar kepada Ong-hui?” dua orang bujang
wanita segera membentak seraya kebutkan Hud-tim.
Sekalipun mengetahui gerakan kedua bujang wanita itu luar biasa cepat dan
aneh, tetapi karena mereka hanya bujang, Tui-hun Hui-mo tak memandang mata.
Dia tetap menyerang Te-it Ong-hui.
Tetapi untuk itu ia harus membayar mahal. Kebutan kedua bujang itu ternyata
seperti ribuan anak panah menyambar. Bukan saja tenaga pukulan Tui-hun Huimo buyar, pun dia malah tersambar hawa dingin yang menyerang masuk ke
tulang-tulang sehingga tak dapat menguasai diri lagi terhuyung-huyung tiga empat langkah!
Dalam pada itu Sip U-jong pun berbareng timpukkan sebuah benda bersinar
merah kepada muka si wanita berkerudung. Meski tenaganya sudah punah, tetapi
ia masih mahir menimpuk.
Te-it Ong-hui tertawa mengikik seraya ulurkan jarinya menjepit. Enak dan mudah
sekali ia menyambut timpukan itu. Benda merah terjepit dengan tepat. Tetapi
seketika itu Te-it Ong-hui menjerit kesakitan …
Kiranya benda merah itu bukan senjata rahasia apa-apa, melainkan seekor … ular
kecil yang berwarna merah. Panjangnya hanya 3 dim. Begitu dijepit dengan jari,
ular itu melingkar lalu mematuk telapak jari Te-it Ong-hui!
Te-it Ong-hui kebaskan ular yang mematuknya dan menutuk hingga mati. Dan
cepat-cepat ia tutuk jarinya sendiri karena tahu bahwa ular itu berbisa.
“Setan tua, kau mempunyai nyali!” bentaknja dengan gusar.
Sip U-jong tertawa nyaring: “Itu adalah ratu ular. Betapa hebat kepandaianmu
jangan harap kau bisa hidup!”
Te-it Ong-hui menggeram: “Kalau mati aku akan mati dengan meram. Di dalam
kitab Im-hu-po-kip, terdapat pelajaran tentang ilmu racun. Betapa hebatnya ilmu
racun dari Hwat-hun-nio, namun tak nanti mampu membunuh aku …”
Hwat-hun-nio artinya Dewi Awan Merah, sejenis ular kecil yang luar biasa
berbisanya. Sekali gigit tentu matilah korbannya!
“Sip U-jong,” seru Te-it Ong-hui pula, “tahukah kau selain kedua benda itu, apalagi
yang hendak kuganjar padamu?”
Sip U-jong terkejut namun ia berlaku tenang. Toh paling banyak hanya mati.
“Entah, aku tak tahu apa rencana keganasanmu itu?”
Te-it Ong-hui tertawa dingin: “Sebelum mati kau harus menyerahkan sebuah
benda padaku!”
“Benda apa, aku seorang jembel, apa yang dapat kuberikan kepadamu!” dengus
Sip U-jong.
“Berikan peta Giok ti tho (Telaga Zamrud )?” Te-it Ong-hui berseru bengis
“Giok ......ti ........tho………… bagaimana kau tahu ………..” Sip U-jong menyahut.
Te-it Ong-hui tertawa: “Soal sepenting itu mana mungkin mengelabui Sin-bu-kiong
…” lalu ia melanjutkan pula: “Baik Sin-bu-kiong maupun Hun-tiong Sin-mo atau
tokoh-tokoh persilatan lain, mengetahui bahwa engkau mendapat peta mustika itu
dari seorang cianpwe yang aneh, sekarang peta harus menjadi milik Sin-bukiong!”
Sip U-jong mendengus: “Memang peta itu pernah jatuh di tanganku, tetapi …
karena seumur hidup aku tak mempunyai harapan meyakinkan ilmu silat lagi,
maka untuk menghindarkan tangan orang jahat kubakar saja peta itu!”
Te-it Ong-hui tertawa mengekeh: “Dibakar …? Jika kau mau menyerahkan dengan
baik-baik, akan kuberi kemurahan agar mayatmu tetap utuh, jika tidak …”
“Kalau begitu, tunggulah sebentar …” seru Sip U-jong seraya merogoh sebuah
bungkusan kain dari kantongnya. Setelah dibuka, di antaranya terdapat sehelai
kertas putih yang kumal. Mungkin karena tuanya maka kertas itu berobah kuning.
Te-it Ong-hui puas. Baru ia hendak ulurkan tangan, tiba-tiba secepat kilat Sip Ujong merobek-robek kertas itu menjadi berkeping-keping. Tetapi Te-it Ong-hui pun
dapat bergerak sebat. Cepat luar biasa, ia merebut sisa peta itu dari Sip U-jong.
“Setan tua licik,” bentaknya dengan geram sembari menampar, “Bum” … Sip Ujong terpental serta bale-balenya hancur berantakan!
Hati-hati sekali Te-it Ong-hui mengumpulkan robekan kertas tadi. Setelah
diperiksa sejenak lalu dibungkus dan disimpan dalam bajunya. Tetapi di saat ia
hendak memasukkan robekan peta ke baju, kedua bahunya gemetar. Kejutnya
bukan kepalang. Ketika memeriksa ternyata jari yang digigit ular Hwat-hun-nio itu
sudah melepuh (bengkak) dan berwarna ungu gelap. Ia mengerut geram. Cepat ia
menelan sebutir pil lalu meramkan mata menjalankan peredaran darahnya.
Di lain pihak, Tui-hun Hui-mo telah didesak ke pojok oleh kedua bujang
perempuan. Tui-hun Hui-mo keluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya, tetapi
tiap kali tentu dihapus oleh kebutan hud-tim kedua bujang itu. Makin Tui-hun Huimo kalap dan menggerung-gerung seperti macan mencium darah, makin dia
kelabakan tak keruan!
Untung juga karena agaknya kedua bujang itu belum menerima perintah Te-it
Ong-hui, maka sampai sekian lama mereka belum mau melukai lawan.
Kedua bujang yang lain, melihat Te-it Ong-hui terluka, segera menghampiri dan
menjaga di sampingnya.
Sementara Sip U-jong saat itu menggeletak berlumuran darah. Mati tidak hidup
pun tidak. Ia keraskan hati mengerahkan seluruh sisa tenaganja untuk
menggelinding ke dekat Thian-leng. Sejenak ia mengembalikan napasnya yang
terengah-engah dan sekalian melihat suasana. Tampaknya Te-it Ong-hui sedang
bersemedhi dan keempat bujangnya sedang sibuk melaksanakan tugasnya
masing-masing. Jadi tak ada orang yang memperhatikannya. Tiba-tiba ia merogoh
sehelai bungkusan kain. Ia mengusap darah di mulut dengan kain itu lalu
menulisnja dengan beberapa kata. Setelah itu cepat-cepat ia masukkan kain itu ke
dalam baju Thian-leng.
Rupanya pekerjaan-pekerjaan itu telah memakan tenaganya yang terakhir.
Karena setelah selesai iapun lantas terkulai rubuh di tanah …
Kira-kira sepeminum teh lamanya, Te-it Ong-hui pun bangkit. Serunya: “Jun-hong,
He-liok, bawalah anak itu!”
Kedua bujangpun segera mengangkat Thian-leng lalu diseretnya keluar. Tiba-tiba
Thian-leng meronta. Keringatnya sudah berkurang dan layap-layap ia sudah
mendapat kesadaran pikirannya kembali. Kedua bujang itu tak menyangkanyangka bahwa pemuda yang tampaknja tak berkutik itu akan berontak sehebat
itu. Meskipun kedua bujang itu anak buah Te-it Ong-hui yang paling terpercaya,
tetapi toh tak kuat menahan tenaga si anak muda. Mereka melengking kaget dan
terlempar di tanah.Cepat mereka merangkak bangun tetapi tenaganya sudah
lemah. Menandakan bahwa mereka menderita luka dalam yang tak ringan.
Penghamburan tenaga itu, sebaliknya malah membuat Thian-leng makin sadar. Ia
celingukan memandang ke sekeliling. “Ini … ini bagaimana?” katanya penuh
keheranan.
Tiba-tiba Tui-hun Hui-mo yang terpojok di sudut ruangan, berteriak keras: “Bubeng-jin, bunuh …”
Ia tak dapat melanjutkan ucapannya karena saat itu Te-it Ong-hui sudah
mendahului menutuk dada Thian-leng. Pemuda itu baru saja mulai tersadar tetapi
belum pulih ingatannya. Tahu-tahu ia rasakan dadanya ampek dan bluk …
jatuhlah pula ia ke tanah!
“Lekas bawa dia pergi!” seru Te-it Ong-hui. Kedua bujang segera menyeret lagi
pemuda itu. Setelah mereka pergi barulah Te-it Ong-hui loncat ke muka Tui-hun
Hui-mo.
“Jui-kiok, Tong Jing, mundurlah!” serunya.
Kedua bujang itupun segera mundur.
Kini berhadapan Tui-hun Hui-mo dengan Te-it Ong-hui. Menghadapi bahaya yang
lebih besar, sebaliknya Tui-hun Hui-mo malah lebih tenang. Tertawalah ia nyaringnyaring: “Siluman perempuan, mungkin hari ini kau dapat bersuka-ria, tetapi
lambat atau cepat kau tentu takkan terlepas dari kehancuran?”
Murka benar Te-it Ong-hui, dampratnya: “Sebenarnya mengingat hubunganmu
dengan Sin-bu Te-kun pada masa dahulu hendak kuberimu ampun. Tetapi
ternyata kau cari mati sendiri. Baiklah, akan kusempurnakan engkau!”
Tui-hun Hui-mo menyahut dengan menggerung keras, menghantam sekuatkuatnya dengan kedua tangannya. Tetapi Te-it Ong-hui ulurkan jarinya seraya
membentak: “Hai, setan tua, mengapa tak kenal gelagat!”
Tidak terdengar suara letupan apa-apa, tidak pula benturan pukulan. Tetapi tahutahu tenaga pukulan Tui-hun Hui-mo buyar dan tubuh tokoh itupun terkulai. Hanya
sebuah erang tertahan yang terdengar, kemudian putuslah jiwa Tui-hun Hui-mo.
Ternyata Te-it Ong-hui telah melancarkan jurus Ngo-hian-ki-poh atau lima utas
sutera berhamburan. Salah sebuah jurus yang paling maut dari ilmu Hian-im-ci.
Jangankan tubuh manusia, batupun tentu hancur menjadi tepung …
Te-it Ong-hui menyongsong kematian Tui-hun Hui-mo dengan tertawa dingin.
Setelah itu ia menutuk Sip U-jong. Tubuh tokoh itupun terguling-guling seperti
bola. Diapun menerima kematian yang mengenaskan!
Begitu melangkah keluar, Te-it Ong-hui melihat keempat bujang kepercayaan
sudah berjajar-jajar sambil mencekal Thian-leng. Sebelum pergi Te-it Ong-hui
membakar gubuk itu. Ia tersenyum menyaksikan kedua sosok mayat yang
menggeletak dalam gubuk itu. Setelah puas barulah ia ajak keempat bujangnya
pulang.
Tetapi ketika tiba di mulut lembah, tiba-tiba terdengar suara bentakan dari dalam
hutan: “Ong-hui berhentilah!”
Sesosok bayangan laksana burung elang, melayang keluar …
Te-it Ong-hui tertegun kaget. Pendatang itu seorang bertubuh tinggi besar, jubah
warna ungu, menyanggul mantel warna kuning. Jenggotnya menjulai sampai ke
dada, romannya gagah-perkasa.
“Cong-hou-hwat Ni Jin-hiong menghaturkan hormat kepada Ong-hui,” seru orang
itu.
“Mengapa … kau kemari?” tegur Te-it Ong-hui.
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Te-kun memerintahkan begitu!”
Te-it Ong-hui agak tergetar. Ia terkejut namun ia berlaku setenang mungkin:
“Mengapa dia tahu aku kemari?”
Kembali Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Terus terang saja, hambalah yang
melaporkan!”
“Manusia bosan hidup!” damprat Te-it Ong-hui marah sekali, “mengapa kau
memberitahu padanya?”
“Ong-hui tinggalkan istana, bukan hal yang biasa. Karena tugas, hamba tak berani
…”
“Rubah yang licin!” tukas Te-it Ong-hui, “lekas katakan apa maksudmu?”
Sejenak Ni Jin-hiong sapukan mata ke arah empat bujang, ujarnya: “Bolehkah …
aku mendapat kebebasan bicara?”
“Mereka adalah orang kepercayaanku. Segala urusanku, mereka tahu. Masakan
kau tak tahu?”
Kali ini Ni Jin-hiong tertawa keras: “Baiklah. Terlebih dahulu aku hendak
menghaturkan selamat kepadamu!”
“Dalam hal apa?” Te-it Ong-hui kerutkan alis.
“Kau sudah mendapatkah peta Telaga Zamrud, apakah itu tak layak mendapat
pemberian selamat?”
“Ah, kau …”
“Dapatkah kau mengelabui aku?” ejek Ni Jin-hiong. Di luar dugaan tiba-tiba ia
menyambar siku lengan kiri Te-it Ong-hui, kemudian tangan kirinya menarik kain
kerudung yang menutupi wajah Te-it Ong-hui.
Sebuah wajah tersembul. Sebuah wajah yang cantik sekali. Sayang sudah agak
setengah tua. Kira-kira berumur 35-an tahun lebih.
Keempat bujang terbeliak kaget. Cepat mereka mengepung Ni Jin-hiong. Ni Jinhiong tersenyum dingin dan perkeras cengkeramannya. Karena menahan
kesakitan, Te-it Ong-hui pucat wajahnya. Segera ia memberi perintah supaya
keempat bujangnya mundur. Terpaksa keempat bujang itupun mundur.
“Ma Hong-ing, sekarang kau tentu mau mengatakan!”
Te-it Ong-hui merandek sejenak, sahutnya: “Benar, memang peta itu telah berada
dalam tanganku!”
Ni Jin-hiong kendorkan cengkeramannya, tertawa: “Sejak saat ini, dunia persilatan
bakal menjadi milikmu dan milikku …”
“Tetapi Te-kun …”
“Asal sudah menyimpan kitab pusaka dari It Bi Sianjin itu, masakan kau takut
dimakan Te-kun?” Ni Jin-hiong mendengus.
“Tetapi …” masih Te-it Ong-hui atau Ma Hong-ing bersangsi.
Ni Jin-hiong deliki mata: “Tetapi apa? Apakah kau masih sayang dengan
kedudukanmu sebagai Ong-hui?”
“Mengapa kau menuduh begitu? Kita …”
Ni Jin-hiong tertawa meloroh: “Adik Ing, jangan kuatir. Aku Ni Jin-hiong bukan
Song-bun Kui-mo yang memelihara tiga sampai empat orang isteri …”
“Masakan kau berani!” dengus Ma Hong-ing.
Masih Ni Jin-hiong lanjutkan rayuannya: “Adik Ing, sebenarnya aku hanya
mencintaimu seorang. Apabila aku sampai berhasil merajai dunia persilatan,
hanya kau seorang yang kujadikan isteriku!”
Merah selebar wajah Ma Hong-ing. Sambil menunjuk ujung hidungnya ia
melengking: “Kutu busuk, mulutmu selalu berbalut gula …”
“Berikan!” Ni Jin-hiong angsurkan tangan.
“Apa?” Ma Hong-ing terkesiap.
“Apa lagi kalau bukan peta Telaga Zamrud!”
“Apakah kau menyuruh kuserahkan padamu?”
Ni Jin-hiong tertawa berat: “Paling tidak kita harus memeriksanya dan mempelajari
letak tempat itu!”
Ma Hong-ing merenung sejenak kemudian mengeluarkan bungkusan kain yang
berisi robekan peta Giok-ti-tho. Mereka berdua segera asyik memeriksa peta itu.
Tiba-tiba wajah Ni Jin-hiong berobah.
“Palsu!” serunya dengan putus asa.
Juga Ma Hong-ing mengerut gigi, menggeram sengit: “Bangsat tua itu sungguh
menjengkelkan sekali, aku termakan tipunya … Celaka, kitab pusaka It Bi Sianjin
takkan muncul di dunia lagi!” – Ma Hong-ing membanting-banting kaki.
“Mengapa?” tanya Ni Jin-hiong.
“Bangsat tua Sip U-jong telah menipu aku dengan menyerahkan peta yang palsu.
Yang tulen tentu masih berada padanya!”
“Ya, benar. Lekas tangkap si tua celaka itu, peta tentu masih berada di tangannya!”
“Dia telah kubunuh!” Ma Hong-ing gelengkan kepala.
“Kalau begitu carilah mayatnya!”
Sahut Ma Hong-ing dengan nada lemah: “Mayatnya sudah hangus jadi abu!”
“Kau bakar?”
Hampir pingsan Ma Hong-ing mengalami kegoncangan batin yang sedemikian
hebatnya.
Plak … Sekonyong-konyong Ni Jin-hiong menampar pipi Ma Hong-ing. Lima buah
telapak jari darah segera menghias pipi wanita itu. Namun ia tak mau berusaha
membalas melainkan terhuyung-huyung jatuh ke tanah. Untung dua bujangnya
cepat menyanggapi.
“Wanita busuk bagus sekali kerjaanmu …” Ni Jin-hiong masih marah.
Ma Hong-ing agak meramkan mata tak mau menyahut. Ni Jin-hiong menghela
napas panjang, ujarnya pula: “Kau dan aku rupanya memang sudah ditakdirkan
menjadi budak. Dengan hilangnya kesempatan kali ini, seumur hidup jangan
harap kita dapat meloloskan diri dari cengkeraman Song-bun Kui-mo …”
Berhenti sejenak, ia membentak pula: “Mengapa tak lekas kembali ke istana? Jika
dia mengetahui hubungan kita, mungkin kedudukan jadi hamba sajapun kita tak
dapat menikmati!”
Ma Hong-ing menghela napas kecewa, serunya lemah kepada bujang yang
berada di belakangnya: “Bawa budak itu lekas!”
Dua bujang segera menyeret Thian-leng. Tetapi baru berjalan beberapa langkah,
tiba-tiba Ni Jin-hiong membentak marah: “Berhenti …!”
Tanyanya kepada Ma Hong-ing: “Apakah itu budak Kang Thian-leng yang kau
pelihara selama 17 tahun?”
Ma Hong-ing mengangguk.
“Budak itu sudah tak berharga lagi, perlu apa kau bawa pulang?”
“Hun-tiong Sin-mo pernah membebaskan dan menolongnya, mungkin …” tiba-tiba
Ma Hong-ing berhenti sejenak, gelengkan kepala, “ah, tetapi terserah padamulah.
Aku tak peduli!”
“Lepaskan saja!” tiba-tiba Ni Jin-hiong membentak keras kepada kedua bujang.
Kedua bujang yang mencekal Thian-leng itupun segera lepaskan tawanannya dan
loncat menyingkir.
Karena jalan darahnya masih tertutuk, ketika dilepaskan, Thian-leng hendak rubuh
lagi. Tetapi pada saat tubuhnya melorot jatuh, Ni Jin-hiong telah membarengi
dengan sebuah hantaman dahsyat … Hantaman itu disertai dendam kebencian!
Bum … karena tak dapat berkutik, maka Thian-leng terlempar seperti layanglayang putus. Setelah berjumpalitan di udara beberapa kali lalu jatuh dua puluhan
tombak jauhnya!
Ni Jin-hiong yakin anak muda itu tentu sudah mati, maka iapun tak mau
memeriksanya lagi.
Ma Hong-ing atau isteri dari Sin-bu Te-kun yang ternyata main gila dengan Ni Jinhiong, mengawasi kesemua itu dengan menghela napas perlahan. Ia tak dapat
berbuat apa-apa terhadap kepala penjaga Sin-bu-kiong itu.
Demikian dengan diantar oleh keempat bujang kepercayaannya, Ma Hong-ing
atau Te-it Ong-hui segera tinggalkan tempat itu.
Sejenak Ni Jin-hiong kerutkan alis. Kemudian iapun turun gunung juga …
***
Pengorbanan.
Keesokan hari menjjelang magrib, tampak dua buah tandu melintas di muka
lembah Hong-lim-koh. Tandu yang dipikul oleh berpuluh orang tua baju biru,
berjalan perlahan-lahan menyusur lamping gunung.
Tiba-tiba dari tandu yang di sebelah muka terdengar perintah berhenti. Seorang
gadis berpakaian hijau keluar dari tandu itu. Ia menghampiri sebuah semak
pohon.
Tandu yang di belakangpun berhenti. Yang keluarpun seorang dara yang lebih
muda dari gadis tadi. Bajunya warna ungu.
“Ci, kau melihat apa?” serunya.
“Lihatlah kemari!” seru gadis baju hijau yang dipanggil taci itu.
Ketika menghampiri, dara itu melihat seorang pemuda baju biru menggeletak di
tengah semak dengan tubuh berlumuran darah. Tampaknya pemuda itu sudah
mati beberapa waktu yang lalu.
“Perlu apa kita nonton sebuah mayat?” kembali dara itu menggerutu.
Gadis baju hijau tersenyum: “Sudahkah kau melihat jelas wajahnya?”
Rupanya dara itu muak melihat mayat. Serunya: “Perlu apa melihat mayat yang
begitu ngeri?”
“Eh, kita pernah kenal, cobalah periksa!” seru si gadis.
Adiknya terkejut. Ketika ia memandang dengan seksama, menjeritlah ia: “Hai …
dia …!” – ia terus lari menghampiri.
Dara itu ialah puteri kedua dari Sin-bu Te-kun yakni Ki Seng-wan. Dan si gadis
ialah tacinya Ki Gwat-wan. Dan pemuda yang terkapar mati itu bukan lain Kang
Thian-leng.
Beberapa kali Ki Seng-wan berjumpa dengan pemuda itu. Walaupun dalam
kedudukan bermusuhan tetapi dalam sanubari dara itu telah bersemi suatu bibit
perasaan cinta. Maka betapalah kejut dan sedih hatinya ketika menyaksikan
pemuda idam-idamannya itu mati.
“Oh, mengapa kau mati begini mengenaskan …” dara itu berjongkok menangis di
samping mayat Thian-leng.
“Budak tolol, apa-apaan kau ini? … Apakah kau benar-benar mencintainya?” Ki
Gwat-wan kerutkan dahi.
Namun dara itu diam mematung. Matanya tak berkedip memandang tubuh Thianleng yang berlumuran darah itu. Ia tak menghiraukan ucapan kakaknya.
“Hm, ternyata budak ini sungguh-sungguh telah …” gerutu Ki Gwat-wan. Ia
gelengkan kepala menghela napas kemudian menarik lengan baju Ki Seng-wan.
“Ajo, kita pergi …”
Ki Seng-wan gelagapan: “Tidak, aku tak pergi.”
Ki Gwat-wan kaget: “Tidak berangkat? Lalu hendak mengapa kau …? Eh, apakah
kau hendak turut bela pati?”
“Sekurang-kurangnya aku harus menguburnya dengan baik,” sahut Ki Seng-wan.
Dipandangnya sang kakak. “Ci, maukah kau berjalan lebih dulu …”
“Dulu ketika terjadi peristiwa di Hong-ho, jika bukan berhasil merampas panji
tengkorak dari tangannya (Thian-leng), kita berdua tentu sudah diganyang Huntiong Sin-mo. Sekarang kalau kita melanggar peraturan lagi, ayah tentu marah
pada kita …”
Tiba-tiba Ki Seng-wan menangis: “Aku tak peduli. Biarlah segala apa aku sendiri
yang menanggung, takkan merembet taci!”
Ki Gwat-wan mendengus: “Budak tolol, bukan karena aku takut terembet, tetapi …”
– ia berhenti sebentar: “Ong-hui dan cong-hou-hwat tidak berada dalam istana.
Kemungkinan besar mereka memergoki kita di sini, tentu hebat akbatnya. Lebih
baik kita segera berangkat saja!”
Ki Seng-wan tetap dengan kemauannya sendiri. Dengan sebilah dahan kayu
segera ia menggali liang. Ki Gwat-wan jengkel sekali, tetapi terhadap adiknya
yang begitu keras kepala, ia tak dapat berbuat apa-apa.
Ki Gwat-wan memandang wajah pemuda itu. Ah, memang seorang pemuda yang
cakap. Sebenarnya sayang kalau mati. Pun Hun-tiong Sin-mo pernah
menolongnya? Mengapa sekarang mati di sini? Siapa pembunuhnya? Apa
hubungannya dengan Hun-tiong Sin-mo?
Tiba-tiba ia terbeliak kaget. Bahu Thian-leng tampak bergerak-gerak. Bukankah
pemuda itu sudah mati? Ia tak percaya pada matanya dan memandang dengan
tak berkedip. Tiba-tiba ia berteriak kaget: “Hai, dia … hidup!”
“Apa?” Ki Seng-wan tertegun.
“Dia … agaknya bisa bergerak!”
Berdebar keras hati Ki Seng-wan mendengar keterangan itu. Segera ia
menghampiri dan mengamat-amati dengan penuh perhatian. Ah, benar, benar.
Thian-leng tampak menggeliat-geliat, hidungnya kedengaran bernapas. Bukan
kepalang girang dara itu.
“Kang …Kang Siangkong, Kang Siangkong …” cepat ia berjongkok membisiki
telinga pemuda itu. Namun Thian-leng diam saja.
“Benar dia belum mati tetapipun tak dapat hidup lebih lama lagi … lebih baik lekas
menguburnya saja!” seru Ki Gwat-wan.
Tiba-tiba Ki Seng-wan berlutut di hadapan tacinya, menangis: “Cici, tolonglah dia!”
“Mana bisa?”
“Di dalam Sin-bu-kiong, selain ayah, hanya kaulah yang mengerti ilmu
pengobatan …”
Ki Gwat-wan menyurut mundur, bentaknya: “Budak gila, cukup sudah kau
merecoki aku. Dalam urusan ini aku tak dapat meluluskanmu!”
“Walaupun bagaimana aku meminta, kau tetap tak mau meluluskan?” Ki Seng-wan
mengusap air mata.
“Tidak ada kompromi lagi!” sahut Ki Gwat-wan dengan tegas.
“Baik, toh aku juga sudah bosan hidup …” sejenak Ki Seng-wan menarik napas
lalu berseru pula: “Cici, harap kau … menjaga diri baik-baik …!”
“Budak tolol, hendak mengapa kau?” teriak Ki Gwat-wan terkejut.
Ki Seng-wan tak menyahut melainkan ayunkan tangannya ke batok kepalanya
sendiri. Cepat Ki Gwat-wan mencekal tangan adiknya: “Seng-wan, kau memang
terlalu!”
“Ci, apakah kau meluluskan?” Ki Seng-wan berlinang air mata.
Ki Gwat-wan menghela napas. Ia berpaling kepada pengawalnya: “Dua puluh li ke
selatan ialah desa Liu-ke-ci. Tunggulah kalian di sana!”
Sebelum pengawal itu berlalu, ia memberi pesan supaya jangan menguwarkan
kepada siapapun apa yang terjadi saat itu.
“Adikku, kita makin mendalam di lingkungan bahaya!” katanya kepada Ki Sengwan.
“Semua kemarahan dan hukuman ayah, biarlah aku yang menanggung!” sahut Ki
Seng-wan.
“Sudahlah,” kata Ki Gwat-wan, “tetapi menolong pemuda itu bukan hal yang
mudah …”
“Tetapi aku sanggup melakukan apa saja,” seru si dara.
“Begitu mati-matian kau mencintainya. Tetapi setelah dia hidup kembali, apakah
dia akan membalas cintamu? Hm, mungkin dia akan membalikkan muka padamu!”
“Hal itu tak kuhiraukan. Yang penting, dia harus ditolong!” sahut Ki Seng-wan
dengan mantep.
“Baik, angkatlah!”
Ki Seng-wan segera mengangkat tubuh Thian-leng mengikuti Ki Gwat-wan.
Ternyata Ki Gwat-wan menuju ke sebuah kuil rusak yang terletak di kaki puncak. Ia
menyuruh adiknya meletakkan si pemuda dalam sebuah ruangan gelap.
Kemudian ia sendiri duduk di ambang pintu dengan membelakangi tubuh.
“Apakah cici merobah keputusan?” tegur Ki Seng-wan.
Ki Gwat-wan tertawa getir: “Kalau mau menolong, hanya kau sendiri yang harus
turun tangan. Aku tak dapat …” ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain dan
mengangsurkan kepada Ki Seng-wan. “Pakailah ketiga jarum ini!”
“Cici …”
“Lepaskan pakaiannya!”
“Apa? Melepaskan pakaiannya?” Ki Seng-wan kaget.
“Ya! Kau harus menusuk ke 72 jalan darahnya. Kalau tidak, walaupun sembuh, dia
bakal jadi seorang invalid!”
“Aku … tidak bisa!”
“Kalau begitu, mari tinggalkan saja!” terus Ki Gwat-wan hendak bangkit pergi.
“Ci … ci … apakah tak ada lain jalan lagi?” Ki Seng-wan berseru kebingungan.
“Tidak ada …” katanya dengan serius: “Telah kukatakan tadi bahwa memang tak
mudah untuk menolongnya. Karena nantinya akan meminta pengorbanan dirimu.
Lebih baik jangan …”
Ki Seng-wan tak menyahut tetapi terdengar suara pakaian dibuka.
“Ci … ci …” seru dara itu dengan gemetar.
“Apakah sudah kau lepaskan semua?”
“Su … dah …!”
“Baik, rebahkan dengan terlentang. Siapkan tusukan jarum pertama … Tusuk jalan
darah Kian-li-hiat di dadanya, kemudian jalan darah Gi-tay-hiat di perutnya.
Setelah keluar darah baru berhenti … Yang ketiga, tusuk jalan darah than-tionghiat. Cabut jarum kesatu dan tusuk 3 kali jalan darah Ciang-tay-hat. Jika
mengalirkan darah hitam, barulah kau berhenti …”
Dengan gemetar Ki Seng-wan melaksanakan petunjuk-petunjuk tacinya. Untung
karena ia mengerti letak jalan darah pada tubuh manusia, dengan menahan rasa
malu dan jengah, terpaksa ia kerjakan.
Kira-kira setengah jam selesailah ke 72 buah jalan darah Thian-leng ditusuki
jarum. Kalau semula tubuhnya pucat lesi seperti mayat, kini sudah tampak
kemerah-merahan.
“Coba periksa apakah mulutnja berbusa!” kembali Ki Gwat-wan berseru.
“Ada … keningnya berkeringat juga!” sahut Ki Seng-wan. “Tetapi mengapa ia
masih belum tersadar?”
“Tadi hanya membuka jalan darahnya yang tertutuk, agar darahnya mengalir. Dia
menderita luka dalam yang parah, mana bisa sembuh begitu cepat!” djawab Ki
Gwat-wan.
“Lalu …?”
“Buka pakaianmu juga!” tiba-tiba Ki Gwat-wan memberi perintah.
“Ai … pakaianku?” Ki Seng-wan menjerit kaget.
“Kecuali menggunakan cara Tay-hwe-yang-sut dalam ilmu Hian-im-kiu-coan, tak
ada lain cara lagi. Sudah terlanjur begini, apakah kau hendak membatalkan?”
“Tetapi aku …”
“Untuk menolongnya, tak ada lain jalan kecuali harus mengorbankan diri!” tukas Ki
Gwat-wan.
Akhirnya terpaksa Ki Seng-wan menurut. Yang disebut pengobatan menurut Hianim-kiu-coan itu ialah menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh si sakit melalui
anggauta kelamin. Memang ilmu pengobatan cara kuno, aneh tetapi mustajab.
Dan Ki Seng-wan seorang dara yang masih suci terpaksa harus mengorbankan
kesuciannya demi menolong pemuda yang dikasihinya.
Setengah jam kemudian, berserulah Ki Gwat-wan: “Cukup, biarkan dia
beristirahat!”
Memang saat itu wajah Thian-leng tampak berobah agak segar dan hidungnya
mulai bernapas. Ki Seng-wan buru-buru mengenakan pakaian dan memakaikan
pakaian si anak muda lagi. Setelah itu dipapahnya pemuda itu duduk. Memang
dahi Thian-leng mulai mengucurkan keringat. Dia sudah dapat melakukan
pernapasan sendiri, tetapi matanya masih meram.
Sebenarnya pukulan Ni Jin-hiong tadi pasti menghancur-luluhkan tubuh Thianleng. Untunglah karena sudah mendapat saluran lwekang dari mendiang Oh-se
Gong-mo dan menelan pil Kong-yan-sin-tan, dia dapat terlindung dari bahaya
kematian.
Tusuk jarum dan pengobatan Hian-im-kiu-coan makin melancarkan darahnya.
Sekalipun pikirannya masih belum sadar tetapi ia sudah dapat bernapas dengan
baik.
“Kang Thian-leng, telah kuserahkan kehormatanku kepadamu. Seluruh
kebahagiaan hdupku tergantung padamu …” diam-diam Ki Seng-wan berdoa. Ia
menghampiri tacinya dan menanyakan keadaan pemuda itu: “Bukankah dia sudah
tak berbahaya?”
“Dia telah memperoleh rejeki yang luar biasa. Mungkin orang yang seumur hidup
meyakinkan ilmu silat, belum tentu bisa mencapai kesempurnaan lwekang seperti
dia. Masakan begitu cepatnya ia sembuh …!” sahut Ki Gwat-wan. Lebih lanjut ia
mengatakan bahwa paling banyak dalam waktu sejam lagi Thian-leng tentu sudah
dapat bergerak seperti biasa.
“Ci, mari kita pergi!” tiba-tiba Ki Seng-wan berkata.
“Pergi?” Ki Gwat-wan heran. “Setelah kau korbankan kesucianmu, lalu begitu saja
meninggalkannya? Kalau kau memang mencintainya, mengapa tak kau nyatakan
kepadanya agar memperisteri kau?”
“Memperisteri aku …?” Ki Seng-wan tersenyum redup, “dia adalah musuh dari
Ong-hui. Meskipun kita ini anak angkat dari ayah tetapi tak lain tak bukan hanya
sebagai budak saja. Coba pikirkan, layakkah itu?”
“Hm, baru sekarang kau sadar tetapi sudah terlambat,” Ki Gwat-wan mengeluh.
Ki Seng-wan tundukkan kepala berbisik: “Telah lama kuketahui hal itu, tetapi aku
tak dapat tak menolongnya. Ci, kau tak mungkin dapat mengerti hal itu!”
“Tak mungkin mengerti? Hm, kau benar-benar budak yang paling tolol di dunia!”
“Sudahlah, mari kita pergi!” Ki Seng-wan menahan air mata.
Apa boleh buat, terpaksa Ki Gwat-wan bangkit dan mengikuti sang adik
melangkah keluar. Sekonjong-konyong ia tertegun. Cepat ia menarik tangan
adiknya: “Sst, lekas sembunyi di belakang arca itu!”
Ki Seng-wan juga kaget. Cepat ia mengikuti tacinya loncat ke belakang patung
besar yang menempel pada meja sembahyang di ruang tengah. Arca malaekat itu
tinggi dan besar, cukup melindungi kedua gadis itu dari penglihatan orang.
Sesaat kedua gadis itu bersembunyi, beberapa sosok bayangan melesat masuk.
Empat orang yang masuk lebih dulu, ialah kawanan bujang perempuan baju biru.
Cepat-cepat mereka menyapu ruang tengah lalu berjajar di kedua samping sambil
mencekal kebut hudtim.
Tak lama masuklah seorang wanita memakai kerudung muka. Ah, itulah Te-it-onghui atau Ma Hong-ing. Kedua taci-adik Ki melihat jelas. Mereka gelisah sekali.
Apalagi kalau memikirkan keadaan Thian-leng yang tengah menjalankan
pernapasan itu. Sekali diketahui Ma Hong-ing, pasti akan dibunuh.
Kedua gadis itu tak dapat berbuat-apa-apa kecuali menantikan perkembangan
dengan hati berdebar-debar …
***
Rahasia di balik rahasia.
Rupanya Te-it Ong-hui Ma Hong-ing sedang gelisah menunggu kedatangan
seseorang. Kegelisahan itu menyebabkan perhatiannya tak sampai pada tindakan
memeriksa ruang situ. Sehingga dengan demikian, ia tak mengetahui bahwa di
dalam ruang itu terdapat tiga insan lainnya.
Tak berapa lama tiba-tiba di luar terdengar suitan panjang berasal dari jarak
beberapa li jauhnya. Tetapi ketika suitan kedua terdengar lagi, ternyata sudah
berada di depan kuil. Kecepatan gerak orang itu sungguh hebat sekali!
Seorang tua berjenggot putih dengan jubah warna ungu, melangkah masuk.
“Bagaimana kabarnya?” Te-it Ong-hui serentak menyambutnya dengan
pertanyaan.
Orang tua itu ternyata Ni Jin-hiong, kepala pegawal Sin-bu-kiong. Ia tertawa sinis,
ujarnya: “Coba katakan dulu, bagaimana kau akan berterima kasih padaku?”
“Gila, masakan hal itu perlu meminta pernyataanku lagi? Apa yang harus kuterima
kasihi? Tubuhku dan hatiku seluruhnya telah kuserahkan padamu, mengapa
masih meminta aku berterima kasih lagi …”
Berhenti sejenak, Te-it Ong-hui berkata pula: “Jika orang-orang Thiat-hiat-bun
(partai Darah Besi) benar-benar masuk ke daerah Tionggoan, tentu dapat
menjumpai Sin-bu Te-kun. Kita berdua jangan harap dapat lolos dari tangan maut
Te-kun!”
Tersirap darah kedua taci-beradik Ki mendengar pembicaraan itu. Sungguh tak
terlintas dalam pemikiran mereka bahwa ternyata Te-it Ong-hui dan cong-houhwat Ni Jin-hiong mempunyai hubungan rahasia. Tetapi siapakah yang disebut
partai Thiat-hiat-bun itu? Apa hubungannya dengan Ong-hui?
“Eh, apa-apaan kau begini gelisah?” terdengar Ni Jin-hiong berkata.
“Apakah kabar itu tidak benar dan Thiat-hiat-bun belum masuk ke Tionggoan?”
seru Ong-hui.
“Thiat-hiat-bun benar memang masuk ke Tionggoan tetapi tak terdengar bahwa
orang she Pok itu juga ikut serta. Mungkin hendak menyelidiki tentang keadaan
dunia persilatan di Tionggoan …”
“Bukan begitu! Meskipun Siau-yau-kiam-khek (pendekar pedang bebas) Pok Thiatbing belum pergi ke markas Thiat-hiat-bun dan Thiat-hiat-bun sendiripun juga
bukan datang kemari karena urusan itu, tetapi toh kedatangannya ke Tionggoan
itu akan membangkitkan lagi kejadian pada 17 tahun yang lalu …”
“Adik Ing,” Ni Jin-hiong tertawa, “kau terlalu meremehkan diriku. Jika kuminta kau
jangan kuatir, sudah tentu aku telah menyiapkan rencana yang tepat …”
“Coba katakanlah rencanamu itu!”
“Sebaiknyalah kalau Thiat-hiat-bun tidak masuk ke Tionggoan. Tetapi kalau
mereka datang, tentu akan mengalami kehancuran total sehingga partai itu pasti
akan lenyap selamanya …”
“Apakah kau mempunyai rencana sedemikian hebatnya?” tanya Ong-hui.
Ni Jin-hiong tertawa bangga: “Kau sudah tak percaya lagi kepadaku?”
Te-it Ong-hui Ma Hong-ing menghela napas: “Bukan tak percaya lagi melainkan
urusan ini maha penting, sekali salah tindak, akibatnya …”
“jika peta Telaga Zamrud belum terbakar, tak sampai kita begini resah …” ia
menghela napas lalu membisiki ke dekat telinga Ma Hong-ing. Wanita itu
mengangguk dan mengulum seri kegirangan.
“Teserah padamu, sudah beberapa hari aku pergi, harus lekas-lekas pulang,”
katanya. Ia bangkit tetapi tiba-tiba hentikan langkah lagi. Matanya berkeliaran
menyapu ke sekeliling ruang lalu membentak kepada keempat pelayannya.
“Apakah kalian sudah memeriksa seluruh sudut kuil ini?”
Salah seorang dayang yang bernama Jun Hong tampil ke muka dan menjatakan
bahwa karena sudah terlalu rusak, merekapun menduga tentu tak terdapat
penghuninya.
Kiranya Ma Hong-ing telah melihat bekas-bekas gurat lukisan pada lantai di
ambang pintu. Itulah perbuatan Ki Gwat-wan yang pada waktu keisengan
menunggu Ki Seng-wan mengobati Thian-leng dengan ilmu Hian-im-kiu-coan,
telah mencorat-coret lantai.
“Kelengahan kecil berarti malapetaka besar! Jika di dalam ruang ini terdapat
orang. Te-kun tentu bakal mendengar. Kita sekalian tentu akan hancur-lebur!”
Sesaat Ni Jin-hiong terkejut tetapi pada lain saat ia tertawa gelak-gelak: “Kau
memang terlalu berhati-hati, tetapi peristiwa di sini tak nanti sampai bocor keluar!”
Ni Jin-hiong tertawa sinis lalu melangkah ke ruang dalam. Sekonyong-konyong
dua bayangan melesat keluar dari balik arca.
“Aha, kiranya kalian berdua,” Ni Jin-hiong menyurut kaget. Seketika dahinya
mengerut kebuasan tetapi pada lain saat ia segera memberi hormat kepada kedua
nona yang menjadi puteri dari majikannya itu.
Te-it Ong-hui Ma Hong-ing merah-padam selebar wajahnya. Dan kedua taciberadik Ki pucat lesi.
“Menghaturkan hormat kepada Ong-hui,” mereka berdua segera maju dan berlutut
di hadapan Ma Hong-ing. Kepala menunduk tak berani memandang.
Ke 10 jari tangan Ma Hong-ing bergetaran gemetar. Sampai beberapa saat baru ia
berkata: “Kalian berani mati, berani mencuri dengar aku …” – tetapi karena ia
merasa bertindak serong, maka terpaksa ia tahan kemarahannya.
“Anak memang bersalah,” sahut kedua taci-beradik Ki. “Karena kebetulan lewat di
sini kami hendak melepaskan lelah. Tak tahu Ong-hui …”
Ki Gwat-wan mengangkat kepala memandang Ma Hong-ing, serunya dengan
lemah: “Ong-hui senantiasa menyayang pada anak berdua. Kami berdua adalah
buah hati Ong-hui …” – Ucapan itu mengandung maksud bahwa mereka berjanji
takkan memberitahukan kepada Te-kun.
Ma Hong-ing agak bersangsi. Sebenarnya ia tak menyayang sungguh-sungguh
kepada kedua puterinya itu, maka iapun tak percaya kedua gadis itu akan
menyimpan rahasia. Tetapi jika membunuh mereka, Te-kun tentu akan marah
sekali.
Ni Jin-hiong juga gelisah. Tiba-tiba ia memberi kedipan mata kepada Ma Hong-ing
kemudian gunakan ilmu menyusup suara: “Adik Ing, kita harus bertindak cepat dan
tepat. Perlukah mereka dibiarkan hidup?”
“Tetapi kalau dibunuh, Te-kun tentu bisa menyelidiki. Sekali ketahuan …” sahut Ma
Hong-ing.
“Mengapa pikiranmu selimbung itu?”
“Limbung bagaimana? Aku tak mengerti!”
“Kabarnya Hun-tiong Sin-mo sudah meninggalkan gunung, mengapa kita tak
gunakan siasat adu domba?”
“Tetapi aku tak mempunyai panji Tengkorak Darah yang asli!”
“Kebetulan sekali aku memperoleh sebuah!” kata Ni Jin-hiong.
Ma Hong-ing girang sekali. Kemudian ia memberi perintah kepada kakak-beradik
Ki dengan nada bengis: “Kalian membunuh diri sendiri atau perlu dibantu orang!”
“Terserah pada Ong-hui!” seru kedua nona.
Ma Hong-ing berseru bengis: Ni Cong-hou-hwat!”
Ni Jin-hiong tertawa meloroh: “Hamba siap!”
“Toa-kongcu dan ji-kongcu melanggar kesalahan yang tak berampun. Siaplah
melaksanakan hukuman …”
Kedua gadis saling berpandangan. Mereka insyaf kalau tak mungkin lolos dari
kematian. Tiba-tiba Ki Gwat-wan loncat bangun dan tertawa nyaring penuh
kerawanan. Dipandangnya Ma Hong-ing si ibu angkat dengan tajam, serunya
menantang: “Apakah Ong-hui tetap hendak menghukum mati kami berdua? Kami
tak berani membangkang, tetapi apakah dosa kami?”
Berobah seketika wajah Ma Hong-ing.
“Kau berani menantang aku …?” tiba-tiba ia menampar muka Ki Gwat-wan. Plak …
pipi kiri nona itu membengkak merah, darahnya mengucur.
Ni Jin-hiong tertawa mengekeh. Segera ia melesat hendak turun tangan. Merahpadam selebar muka Ki Gwat-wan menerima tamparan itu. Dadanya berombakombak menahan dendam kemarahan.
Segera Ki Seng-wan merangkak maju dan menangis merintih-rintih. “Harap Onghui jangan marah. Biarlah anak membunuh diri saja untuk membalas budi …” – ia
berhenti sejenak, katanya pula: “Tetapi mohon Ong-hui suka memberi
kelonggaran untuk anak menggali liang kubur sendiri!”
Kiranya nona itu hendak memancing Ni Jin-hiong dan Ma Hong-ing keluar dari kuil
agar jangan mengetahui diri Thian-leng.
Ma Hong-ing memandang kepada Ni Jin-hiong, meminta pendapatnya.
Kepala pengawal Sin-bu-kiong itu tertawa hambar: “Usah ji-kongcu kuatir. Kedua
kongcu adalah puteri Te-kun yang kami hormati. Sudah tentu nanti jenazah
kongcu berdua akan kami bawa pulang ke Sin-bu-kiong dengan segala upacara!”
“Benar, nanti akan kita atur selayaknya!” kata Te-it Ong-hui.
Ki Gwat-wan memberi lirikan kepada adiknya. Matanya memancar pembunuhan.
Maksudnya mengajak sang adik bersama-sama turun tangan. Lebih baik melawan
daripada mati konyol. Tetapi Ki Seng-wan membalas dengan pandangan putus
asa dan pasrah nasib.
Ki Gwat-wan menghela napas. Tiba-tiba ia berteriak dengan marah: “Aku Ki Gwatwan, sebagai putera-puteri persilatan tak takut mati. Tetapi kalau harus mati di
tangan kalian, penghianat dan wanita cabul, benar-benar penasaran sekali!”
Ia menutup kata-katanya dengan sebuah loncatan menerjang Te-it Ong-hui.
“Cici …!” Ki Seng-wan menjerit kaget. Namun Ki Gwat-wan sudah mengambil
keputusan untuk mengadu jiwa. Seluruh tenaganya ditumpahkan pada pukulan
yang diterjangkan itu. Sekalipun ia menginsyafi bahwa kepandaiannya masih
kalah, namun ia masih mempunyai harapan. Selagi Te-it Ong-hui belum bersiap,
hendak diterjangnya. Jika berhasil melukainya, matipun puas.
Tetapi Te-it Ong-hui Ma Hong-ing hanya mendengus. Secepat kilat ia kebutkan
lengan baju. Pukulan dan terjangan Ki Gwat-wan serasa terbentur ke dalam
sebuah jaring yang lunak sehingga buyarlah dayanja. Tubuh nona itu terpental
mundur, bum … ia membentur kaki tembok!
Ma Hong-ing segera hendak menyusuli pula dengan sebuah hantaman dan Ni
Jin-hiong pun membarengi memukul dari samping. Mereka berdua merupakan
jago kelas satu dalam Sin-bu-kiong.
Sekonjong-konyong sewaktu jiwa Ki Gwat-wan terancam maut, sesosok bayangan
hitam melesat ke dalam ruangan dan tahu-tahu setiup tenaga dahsyat melanda
pukulan kedua tokoh itu. Bum … terdengar ledakan keras. Tiang bergetar, atap
berhamburan jatuh dan seketika ruangan itu terasa panas sekali!
Bukan main kagetnya Ma Hong-ing dan Ni jin-hiong. Mereka serempak menyurut
tiga langkah ke belakang. Lebih besar lagi kaget mereka setelah mengetahui
siapa penyerangnya itu. Hampir mereka tak percaya pada matanya. Mulut mereka
ternganga …
Kiranya pendatang itu ialah Kang Thian-leng, pemuda yang telah mati dibunuh Ni
Jin-hiong. Bukan saja pemuda itu hidup kembali bahkan ilmu pukulan Lui-hweciangnya sudah “jadi”.
Kiranya tadi, penyaluran napas Thian-leng telah berhasil menormalkan darahnya
pula. Cepat-cepat ia bangun. Ketika hendak menyelidiki di mana ia berada saat
itu, tiba-tiba ia melihat Ni jin-hiong dan Ma Hong-ing tengah melancarkan pukulan
maut kepada Ki Gwat-wan. Tanpa berayal lagi segera ia loncat menerjang. Dan
hasil dari pada pukulannya membuatnya heran sendiri. Ia dapatkan pukulannya
sepuluh kali lipat dari semula.
Tentu diketahui jelas bahwa yang dihadapinya itu ialah ibu palsunya. Ibu palsu
yang pura-pura meninggal dunia dan menyuruhnya membalaskan sakit hati
kepada Hun-tiong Sin-mo. Ibu palsu yang menutuk jalan darahnya dan
menyerahkannya kepada Ni Jin-hiong untuk dibunuh.
Kejut Te-it Ong-hui Ma Hong-ing tak kalah dengan Thian-leng. Tujuh belas tahun
memelihara lalu memberi Pek-to-jong dalam rangka rencananya untuk membunuh
Hun-tiong Sin-mo ternyata gagal. Hun-tiong Sin-mo tak terduga-duga telah
melepaskan anak itu. Juga hukuman mati yang dijatuhkan Ni jin-hiong ternyata tak
membuat pemuda itu mati. Bahkan sebaliknya kini anak itu malah bertambah
hebat lwekangnya. Benar-benar Ma Hong-ing tak dapat membayangkan.
“Budak, ternyata umurmu masih panjang!” seru Ni Jin-hiong.
Thian-leng tak menggubrisnya. Ia melangkah maju selangkah ke hadapan Ma
Hong-ing, serunya: “Tak tahu aku siapa sebenarnya kau ini? Tetapi biarlah
kupanggilmu untuk yang terakhir kalinya dengan sebutan ‘mamah’ …”
Ma Hong-ing menyurut mundur, mukanya merah. “Toh kau sudah tahu bahwa aku
bukan ibumu …”
“Lalu siapakah kau ini? Mengapa kau memelihara aku sejak kecil tetapi kemudian
menipu aku dengan pura-pura mati? Siapakah ayah-bundaku yang
sesungguhnya? Hendak kau apakan diriku …?”
“Aku … aku tak dapat memberitahukan padamu!” Ma Hong-ing melengking,
kemudian berseru: “Ni Jin-hiong, mengapa tak lekas-lekas membunuhnya?”
Ni Jin-hiong tertawa hambar: “Mudah sekali untuk membunuhnya, tetapi rupanya
dia mempunyai hubungan dengan kedua kongcu. Biarlah kita membikin terang hal
ini dulu …” – tiba-tiba ia berhenti berkata lalu gunakan ilmu menyusup suara
Coan-im-jip-bi kepada Ma Hong-ing: “Aku mempunyai kecurigaan. Sebelum kau
tiba di lembah Hong-lim-koh, budak itu sudah berjumpa dengan Sip U-jong.
Buktinya, ada tanda-tanda bahwa dia makan pil Kong-yang-sin-tan dari Sip U-
jong. Kemungkinan peta Telaga Zamrud itupun sudah diberikan kepadanya.
Paling tidak, dia tentu mengetahui di mana beradanya peta itu …”
Tersirap darah Ma Hong-ing. Sekonyong-konyong ia hendak mencengkeram dada
Thian-leng dengan jurus Ngo-hian-ki-poh (lima busur meluncur). Jurus ini
merupakan jurus yang paling ganas dalam ilmu jari Hian-im-ci.
Thian-leng rasakan tubuhnya terlanda hawa dingin. Buru-buru ia balas memukul.
Terdengar suara letupan dan keduanya sama mundur selangkah.
Ilmu Hian-im-ci bukan saja dapat meleburkan segala macam benda, pun dapat
menghapus serangan tanaga lawan. Tetapi ternyata Thian-leng mampu
menembus. Tujuh bagian tenaga pukulan Lui-hwe-ciang terhapus, tiga bagian
masih dapat mengenai tubuh Ma Hong-ing Hanya tiga bagian tenaga, tetapi cukup
membuat darah wanita itu bergolak-golak dan tubuhnya terhuyung-huyung mau
rubuh. Pun Than-leng juga menderita serupa, wajahnya pucat lesi!
Kedua taci-beradik Ki terlongong-longong, Berbagai perasaan mencengkam hati
mereka: kaget, sangsi, cemas, gelisah. Mereka tak menduga bahwa Ma Hong-ing
dan Thian-leng ternyata pernah menjadi ibu dan anak.
Di lain pihak Ma Hong-ing memberi lirikan kepada Ni Jin-hiong supaya menyerang
lagi. Kemudian ia sendiri segera mulai bergerak. Tetapi ketika hendak
mengangkat tangan, ternyata lemah tak bertenaga.
“Jangan kuatir, silahkan menanyainya!” Ni Jin-hiong tak mau menyerang
melainkan tertawa.
Thian-leng tak kenal siapa Ni Jin-hiong, pun karena pingsan ia tak tahu kalau
orang she Ni itulah yang memberi pukulan maut ketika di lembah Hong-lim-koh.
Sampai di mana kepandaian Ni Jin-hiong, juga tak diketahuinya. Yang penting
bagi Thian-leng saat itu, ialah hendak mengorek keterangan dari Ma Hong-ing,
siapakah sebenarnya ayah-bundanya itu.
“Mengingat budimu memelihara aku selama 17 tahun, sekalipun jelas kau bukan
ibuku dan pernah menipu aku mengantar kematian kepada Hun-tiong Sin-mo,
akupun tak mau membunuhmu!” seru Thian-leng.
“Huh, masakan kau mampu!” bentak Ma Hong-ing.
“Lekas beritahukan, siapakah ayah-bundaku? Apakah sudah kau bunuh?”
“Ngaco! Kau tak punya orang tua! Kuketemukan kau di tengah hutan …”
“Jangan bohong! Jika kau tetap menolak, terpaksa kuhapus budimu selama 17
tahun itu,” teriak Thian-leng marah. “Perlu apa kau memelihara aku sampai 17
tahun? Mengapa tak kau bunuh saja? Perlu apa kau menipu aku mengantar
kematian kepada Hun-tiong Sin-mo? Kau mempunyai permusuhan apa dengan
Hun-tiong Sin-mo?”
Hujan pertanyaan itu membuat Ma Hong-ing tergugu tak dapat berkata. Hatinya
gelisah menampung berbagai perasaan.
Thian-leng perlahan-lahan ajukan langkah serta siapkan tinjunya. Tiba-tiba Ni Jinhiong maju: “Bolehkah aku bicara sepatah kata?”
“Siapa kau?” Thian-leng berpaling.
“Aku kepala pengawal Sin-bu-kiong, Ci-chiu-hoan-thian Ni Jin-hiong!”
“Besar juga namamu! Apakah yang akan kau katakan?”
“Jika kau mau menjawab beberapa pertanyaanku, kutanggung ‘ibumu’ itu tentu
akan menerangkan asal-usul dirimu dan orang tuamu …”
“Ngaco! Aku tak dapat mengatakan hal itu!” tiba-tiba Ma Hong-ing melengking.
Ni Jin-hiong memandangnya tajam, lalu berkata pula kepada Thian-leng: “Kau
telah menelan pil Kong-yang-sin-tan dari Sip U-jong, tentulah kau mendapat lain
hadiah lagi darinya!”
“Hadiah apa?” Thian-leng tertegun.
“Peta Telaga Zamrud!”
“Telaga Zamrud …? Tidak tahu!”
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Penderitaan batin yang paling menyiksa, ialah apabila
kita tak tahu asal-usul diri kita. Jika kau mau mengorbankan peta itu segera kau
akan jelas akan asal-usul dirimu. Bukankah itu lebih berharga bagimu?”
Diam-diam Thian-leng menimang. Ia tak percaya orang akan menetapi janji.
Baiklah ia gunakan siasat untuk melawan siasat.
“Memang benar Sip-locianpwe itu pernah mengatakan hendak memberi aku
sebuah peta,” katanya, “tetapi …”
“Tetapi bagaimana?” teriak Ni Jin-hiong dengan tegang. Juga Ma Hong-ing tak
kurang kagetnya.
“Tetapi beliau belum memberikan padaku dan hanya suruh aku mengambil ke
sebuah tempat!”
“Di mana?” Ni Jin-hiong makin bernapsu.
“Untuk sementara tak leluasa kukatakan. Asal kalian lebih dulu mengatakan asalusul diriku, segera akan kubawa kalian ke sana. Tempat itu tak jauh dari sini!”
“Hm, masakan kau mampu lolos dari tanganku,” gerutu Ni Jin-hiong. Kemudian
berpaling kepada Ma Hong-ing: “Kasih tahu padanya!”
Ma Hong-ing gugup, serunya: “Tidak, aku tak dapat mengatakan. Aku tak tahu apaapa ”
Thian-leng sedih-sedih gusar. Maju selangkah segera ia mencengkeram leher
baju Ma Hong-ing. Saat itu Ma Hong-ing sedang limbung pikirannya. Ia diam saja
ketika dicengkeram Thian-leng.
Ni Jin-hiong terkejut dan hendak turun tangan. Tetapi ketika dilihatnya Thian-leng
tak melakukan pemukulan, iapun tak jadi menyerang juga.
“Kau bilang atau tidak?” teriak Thian-leng.
“Bilang apa?” Ma Hong-ing tergugu.
“Siapakah ayah-bundaku?”
Ma Hong-ing tergetar hatinya. Ia deliki mata membentak murka: “Ayah-bundamu
ialah musuh besarku! Aku hendak mencincang tubuh mereka …!”
Rasa dendam kemarahan yang menumpah dari sanubari Te-it Ong-hui itu telah
memancarkan lwekang-nya keluar. Lwekang Im-han-keng yang bersifat dingin
meluncur keluar dari lubang jalan darahnya.
Sama sekali Thian-leng tak menduga akan menderita serangan semacam itu.
Seketika ia rasakan tangan kirinya yang mencengkeram leher baju Ma Hong-ing
sakit sekali seperti dipatah-patahkan tulangnya.
Ia lepaskan cengkeramannya dan mundur tiga langkah …
“Perempuan siluman, apakah kau benar menyuruh aku membunuhmu?” teriaknya
seraya mengangkat tinju kanannya.
Ma Hong-ing kertek gigi: “Sia-sia jerih-payahku selama 17 tahun. Sekarang lebih
baik kulenyapkan saja!”
Sepasang tangannya dikencangkan. Ia hendak gunakan ilmu pukulan Hian-imciang untuk menghancurkan Thian-leng.
“Kurang toleransi akan menggagalkan rencana besar! Janganlah adik Ing…” tibatiba Ni Jin-hiong menghadang di tengah dan gunakan ilmu menyusup suara
kepada Ma Hong-ing. Setelah itu ia berpaling ke arah Thian-leng: “Telah
kujanjikan padamu, harapanmu tentu terlaksana. Apalagi berkumpul selama 17
tahun itu, walaupun bukan ibu dan anak tetapi seharusnya juga mempunyai ikatan
rasa. Perlu apa harus saling bunuh-membunuh?”
Thian-leng menghela napas, serunya pula: “Di manakah ayah-bundaku? Apakah
sudah kau bunuh?”
Ma Hong-ing tertawa mengekeh: “Sudah 17 tahun lamanya orang tuamu tak ada
beritanya. Akupun juga mencari mereka kemana-mana untuk membalaskan sakit
hatiku!”
“Kau mempunyai dendam permusuhan apa dengan Hun-tiong Sin-mo?” tanya
Thian-leng.
“Dia juga musuhku besar!” sahut Ma Hong-ing.
Hati Thian-leng resah tak keruan. Berbagai pertanyaan memenuhi hatinya. Tetapi
saat itu tak tahu ia bagaimana harus bertindak untuk mencari keterangan tentang
asal-usul dirinya.
“Siapakah namamu yang sesungguhnya?” tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan
pula.
Sejenak Ma Hong-ing tertegun lalu menyahut: “Ma Hong-ing!”
“Ma Hong-ing …?” Thian-leng mengulang: “Siapakah suamimu?”
“Nyo Sam-koan!”
“Eh, bukankah dahulu kau mengatakan namamu Liok Boh-bwe dan suamimu
Kang Siang-liong yang telah mati dibunuh Hun-tiong Sin-mo pada 17 tahun yang
lalu?”
Ma Hong-ing tertawa nyaring: “Sudah tentu nama itu palsu. Untuk mengelabui
musuhku terpaksa kupakai nama palsu …”
“Suamiku juga belum mati tetapi hilang 17 tahun yang lalu!” tiba-tiba Ma Hong-ing
menggeram dengan nada penuh kemurkaan.
Thian-leng makin tenggelam ke dalam lembah kebingungan. Serentak ia teringat
akan wanita yang menolongnya di tepi sungai Hong-ho dan kemudian
memberinya sebatang pedang, Wanita itu menamakan dirinya sebagai Toan-jongjin. Agaknya wanita itulah yang mengetahui asal-usul dirinya. Bukankah wanita itu
pernah mengatakan bahwa dirinya (Thian-leng) memang seperti orang yang
dicurigai, tetapi seharusnya dia (Thian-leng) beribu orang she Ma dan berayah
orang she Nyo! Toan-jong-jin yakin bahwa Thian-leng itu adalah putera kandung
dari orang she Ma dan orang she Nyo. Dan kini wanita yang merawatnya selama
17 tahun itu juga mengaku sebagai orang she Ma dan mengatakan suaminya
orang she Nyo. Ah …
Tetapi … tiba-tiba Thian-leng tersentak. Apakah tidak mungkin Ma Hong-ing itu
memang sengaja memakai nama ibu Thian-leng yang sesungguhnya. Karena
sukar menerangkan, maka wanita itu selanjutnya terus memakai nama itu sekali.
Benak Thian-leng serasa berdenyut-denyut pusing …
“Siapakah nama dan she dari orang tuaku itu?” bentaknya pula.
Ma Hong-ing tergetar dan terhuyung-huyung. “Tak dapat kukatakan, aku …”
Wut, kembali Thian-leng menyambar leher baju wanita itu. Tetapi kali ini Ma Honging sudah berjaga. Secepat kilat ia menyambar siku kiri Thian-leng yang
merasakan separoh tubuhnya kesemutan dan serempak jatuhlah ia dalam
kekuasaan Ma Hong-ing!
Tetapi Ma Hong-ing salah duga, Thian-leng yang dicekalnya saat ini bukanlah
Thian-leng yang dirawatnya selama 17 tahun yang lalu. Lwekang-nya Lui-hwatciang sudah mencapai tingkat yang hampir dapat dikuasai semau hatinya. Pada
saat Ma Hong-ing mencengkeram, pada saat itu pula Lui-hwe-sin-kang menyalur
ke lengan. Ma Hong-ing tersentak mundur tiga langkah!
Kang Thian-leng hendak memburu, tiba-tiba kedua nona Ki meneriaki: “Kangsiangkong, hati-hatilah!”
Thian-leng merasa belakang tubuhnya tersambar angin. Buru-buru ia berputar dan
menghantam. Itulah Ni Jin-hiong yang menyerang. Karena melihat Ma Hong-ing
tak dapat menguasai ketenangan pikiran, terpaksa Ni Jin-hiong turun tangan. Ia
hendak meringkus Thian-leng dulu baru diperiksa lagi.
Ia yakin sekali bergerak tentu mampu menjatuhkan si anak muda. Tak terduga
kedua taci-beradik Ki berseru memberi peringatan pada Thian-leng sehingga
pemuda itu cepat menyambut. Des … terdengar suara benturan yang aneh,
macam api tersiram minyak.
Thian-leng kaget, Ni Jin-hiong pucat. Masing-masing terkejut atas kesaktian lawan.
Tetapi secepat itu Thian-leng sudah mengirim pukulan pula: “Aku tak kenal
padamu, harap jangan campur tangan!”
Kini Ni Jin-hiong tak berani memandang rendah. Ia kerahkan delapan bagian
tenaga dalam menyongsong sebuah pukulan.
Ces, Ces, ces … Thian-leng terhuyung mundur tiga langkah. Ternyata ilmu Luihwe-ciang itu berlawanan dengan ilmu Hian-im-ciang Ni Jin-hiong. Yang satu
bersifat keras, yang satu lunak. Masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan sendiri. Ketika beradu, maka keduanyapun sama-sama terhapus.
Hanya karena belum mampu menguasai , maka darah Thian-leng bergolak dan
tubuhnya terhuyung. Meskipun Ni Jin-hiong juga bergolak darahnya tetapi ia tetap
dapat berdiri tegak.
“Budak, lekas katakan di mana peta itu? Kalau berkeras kepala, jiwamu tentu
hilang!” serunya.
Thian-leng mendengus tertawa dingin. Sebagai jawaban ia mencabut sebatang
pedang pendek. Seketika ruangan terpancar oleh sinar kemilau. Ma Hong-ing
terkejut, demikian Ni Jin-hiong.
“Rupanya kau memang tak dapat diberi hidup!” masih Ni Jin-hiong berlaku
setenang mungkin.
Thian-leng menyahut dengan tusukan ke dadanya. Bukannya mundur sebaliknya
Ni Jin-hiong malah menyongsong maju hendak merebut. Ia yakin sekali gerak,
pedang lawan tentu kena dirampas. Tetapi alangkah kejutnya ketika pedang
Thian-leng menyambar-nyambar seperti petir memecah angkasa. Sedemikian
aneh dan dahsyat sehingga Ni Jin-hiong ketakutan dan loncat mundur.
Ternyata yang dilancarkan Thian-leng itu ialah jurus Hong-ki-hun-yong (angin
meniup awan bertebar), salah sebuah jurus dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam
ajaran Toan-jong-jin, si wanita misterius.
Thian-leng tak mau memberi hati. Dengan jurus kedua yang disebut Nok-haykeng-liong atau Laut bergolak mengejutkan naga, ia mengejar. Ni Jin-hiong makin
gentar. Kepalanya serasa diselubungi deru sinar pedang sedahsyat ombak
mendampar. Betapa sakti dan luas pengalamannya namun kali ini benar-benar ia
tercengang kaget. Belum pernah ia menyaksikan permainan pedang yang
sedemikian aneh dan dahsyatnya. Kembali ia loncat mundur.
Thian-leng terus memburunya dengan jurus ketiga Liu-hun-cek-thian atau Awan
menebar menutup langit!
Ni Jin-hiong benar-benar tak berdaya. Saat itu ia sudah terpojok di sudut ruang,
tak dapat loncat mundur lagi, untuk menangkis, ia jeri. Karena permainan pedang
si anak muda itu selain aneh sekali juga sambarannya kuat. Di dalam
kebingungan akhirnja ia menempuh jalan nekad. Wut, seketika ia lontjat
melambung dua tombak tingginya dan lekatkan tubuhnya pada tiang penglari. Bret
… mantelnya kena terbabat robek. Untung tak sampai melukai tubuh!
Murka sekali kepala pengawal istana Sin-bu-kiong itu. Sejak keluar dari
perguruan, belum pernah ia mengalami hinaan semacam itu. Apalagi dari seorang
anak muda yang tak ternama. Namun ia sabarkan hati menunggu sampai si anak
muda sudah menyelesaikan jurus permainannya.
Sesaat kemudian Thian-leng berhenti. Tiga jurus permainan pedang Toh-bengkiam telah habis dimainkan. Tetapi tak berhasil mengenai karena musuh melekat
pada tiang penglari. Ia tercengang heran.
Sekonyong-konyong Ni Jin-hiong menggerung keras dan meluncur turun sambil
menghantam. Gerakannya cepat dan dahsyat macam burung garuda menukik dari
udara. Thian-leng menyongsong dengan pukulan Lui-hwe-ciang. Tetapi saat itu ia
rasakan punggungnya disambar angin. Itulah Ma Hong-ing yang melakukan.
“Awas belakang …” baru kedua taci-beradik Ki berseru, mereka terputus oleh
gempuran angin.
Marah sekali Thian-leng akan tindakan ganas dan licik dari Ma Hong-ing. Ia insyaf
betapa gawat situasi yang dihadapinya saat itu. Kalau pecah tenaga menghadapi
kedua lawan itu, terang ia bakal celaka. Ia nekad. Lebih baik hancur bersamasama. Maka tanpa menghiraukan ancaman Ma Hong-ing, ia segera kerahkan
lwekang-nya untuk menyongsong Ni Jin-hiong, dess … sepercik asap
menghambur dari benturan kedua tenaga.
Ni Jin-hiong mencelat ke belakang sampai lima langkah, dadanya berombak dan
kedua bahunya bergemetaran. Jelas ia menderita luka dalam yang parah!
Tetapi Thian-leng pun tak kurang menderitanya. Ia terhuyung-huyung sampai
beberapa langkah. Darahnya bergolak. Buru-buru ia telan ludah ketika merasa
darahnya hendak menyembur dari mulut. Wajahnya pucat, dadanya sesak sekali.
Tetapi ada suatu keanehan. Ialah tutukan jari Ma Hong-ing tadi, entah apa
sebabnya, tahu-tahu lenyap!
Serentak Thian-leng berputar diri untuk mencari tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
Tetapi apa yang dilihatnya hanya membuatnya terbelalak kaget sekali. Ya, Ki
Seng-wan ngelumpruk jatuh di tanah, wajahnja pucat seperti kertas dan mulutnya
mengucurkan darah. Jelas dara itu menderita luka parah.
Memang dara itu tak henti-hentinya memberi pengorbanan. Pertama, ia
menyerahkan kesuciannya demi mengobati luka Thian-leng. Dan kini ia loncat
menyambuti serangan ganas dari Ma Hong-ing yang diarahkan kepada Thianleng …
Ki Gwat-wan buru-buru menolong adiknya. Ia tekan jalan darah gi-hay-hiat Ki
Seng-wan dan salurkan lwekang-nya untuk mengobati.
Tiba-tiba Ma Hong-ing melengking marah: “Budak hina, kau berani …” ucapannya
itu diteruskan dengan sebuah hantaman Hian-im-ciang yang ganas. Kedua gadis
anak-angkatnya itu hendak dibunuhnya!
Dess … tiba-tiba Thian-leng sadar apa yang telah terjadi. Tanpa ayal segera ia
lontarkan pukulan kepada Ma Hong-ing. Ma Hong-ing tersurut mundur tiga
langkah …
Jelas bahwa sekarang tenaga Thian-leng sudah berimbang dengan Ni Jin-hiong
maupun Ma Hong-ng. Hanya karena tadi ia sudah menderita luka dalam, maka
habis memukul ia tak dapat menahan darahnya yang menyembur keluar dari
mulut. Tubuhnyapun terhuyung-huyung hendak jatuh!
Ma Hong-ing juga terhuyung-huyung. Darahnya bergolak hebat. Buru-buru ia
menyalurkan napasnya. Namun karena melihat Thian-leng juga sempoyongan,
cepat ia berseru memerintahkan Ni Jin-hiong supaya turun tangan.
Tetapi kepala penjaga Sin-bu-kiong saat itupun sedang menjalanan peredaran
darah. Setelah agak baik, barulah ia tertawa gelak-gelak: “Masakan dia mampu
lolos lagi?”
Lima jari yang direntang kencang macam cakar burung garuda, segera diulurkan
untuk mencengkeram Thian-leng. Thian-leng masih berusaha untuk menyabet
dengan pedangnya. Namun karena tenaganya sudah lemah sekali, gerakan
tangan Ni jin-hiong dapat lolos dari tebasan lalu nyelonong mencengkeram bahu
Thian-leng yang kiri. Maksudnya bukan hendak membunuh anak muda itu,
melainkan hendak menangkapnya karena perlu menanyai keterangan tentang
peta Telaga Zamrud.
Thian-leng tak mampu berbuat apa-apa, tenaganya sudah habis. Tiba-tiba pada
saat bahunya tercengkeram tangan Ni Jin-hiong, kepala pengawal Sin-bu-kiong
itu menjerit kaget dan loncat mundur. Ia memeriksa mantel yang menggelantung di
punggung. Astaga … sebatang passer kecil yang runcing menancap di mantelnya.
Tangkai passer itu berukir lukisan seekor burung cendrawasih yang berkilaukilauan indah sekali!
Ni Jin-hiong terkesima, tetapi secepat itu segera ia berseru kepada Ma Hong-ing
dengan ilmu menyusup suara: “Celaka, orang Thiat-hiat-bun …”
Ma Hong-ing pun telah mendapat firasat. Cepat ia menukas dengan ilmu
menyusup suara Coan-im-jip-bi: “Bukankah kau mengatakan …”
“Tak ada tempo untuk menerangkan, urusan ini memang di luar dugaan …” Ni Jinhiong mendesak, mengajak sang kekasih melarikan diri. Te-it Ong-hui terkejut.
Melirik pada sebuah jendela yang terbuka, segera ia enjot tubuhnya melayang
keluar. Keempat bujangnya segera mengikuti, Ni Jin-hiong menyusul di belakang.
Dalam sekejap mata, kelima orang dari Sin-bu-kiong itu sudah lenyap.
Thian-leng mengawasi kesemua itu dengan terkesima. Tak tahu ia mengapa
mendadak mereka melarikan diri. Pada hal saat itu ia sudah tak berdaya. Teringat
pada pembicaraan dengan Ma Hong-ing tadi, hatinya makin resah. Siapa dirinya
dan siapa orang tuanya, tetap masih gelap.
“Mereka … telah pergi!” sekonyong-konyong Ki Gwat-wan berkata.
Thian-leng terkesiap, sahutnya: “Benar, telah pergi …” – Sesaat teringat ia akan
keadaan Ki Seng-wan yang terluka tadi, buru-buru ia bertanya: “Bagaimana
dengan luka adikmu?”
Ki Gwat-wan menghela napas: “Ia terluka dalam dan tulang-tulangnya telah
tersusup hawa Im-han, mungkin … sukar tertolong!”
“Sukar ditolong? … Akulah yang mencelakainya, aku harus …!” Thiat-leng
menggeram. Ia tahu Ki Seng-wan telah menolong jiwanya dengan menyambuti
pukulan Te-it Ong-hui Ma Hong-ing, tetapi ia tak tahu bahwa nona itupun telah
mengorbankan kehormatannya dalam pengobatan Hian-im-kiu-coan.
“Tetapi kau … kau juga terluka …!” kata Ki Gwat-wan.
“Lukaku tak berapa berat, tetapi adikmu …” wajah Thian-leng mengerut. Tak tahu
ia mengapa Ki Seng-wan rela menolongnya. Bukankah kedua nona itu selalu
mengejar dan bersikap memusuhinya? Bukankah mereka puteri Song-bun Kui-mo
dari Sin-bu-kiong, durjana yang hendak ditumpasnya? Ah, budi dan dendam harus
dipisahkan. Yang penting sekarang ini ia harus berdaya untuk membalas budi si
nona yang telah menolong jiwanya.
“Mengapa mereka mendadak lari?” tiba-tiba Ki Gwat-wan bertanya pula.
“Ya, aku sendiripun tak tahu …!” jawab si anak muda, “tetapi bukankah nona
berdua ini puteri dari Sin-bu-kiong? Mengapa bentrok dengan mereka?”
Ki Gwat-wan menghela napas, memandangnya lekat-lekat: “Apa lagi kalau bukan
karena kau? Ah … jika adikku ini sampai meninggal, bagaimana … bagaimana
pertanggungan jawabku kepada arwah ibu di alam baka?”
Air mata Ki Gwat-wan berderai turun. Thian-leng tergerak hatinya. Tiba-tiba ia
bertanya: “Tahukah nona siapa Ma Hong-ing itu …”
“Ia adalah Te-it Ong-hui (isteri pertama) dari Hu-ong (ayah). Kecuali itu, kita tak
tahu apa-apa lagi tentang dirinya … Eh, tetapi pembicaraanmu dengannya tadi
juga mengherankan!” baru Ki Gwat-wan berkata begitu, ia dikejutkan oleh tindakan
Thian-leng yang tiba-tiba mengangkat tubuh Ki Seng-wan. “Hai … mengapa kau?”
“Dia menolong aku dan akupun hendak berdaya menolongnya!”
Ki Gwat-wan tertawa getir: “Maksudmu mulia, tetapi dia sudah tak dapat ditolong
lagi!”
“Kudengar di gunung Thay-gak terdapat seorang tabib sakti …”
“Thay-gak-sian-ong …?”
“Ya, aku hendak mencari tabib itu …”
“Ah …” Ki Gwat-wan menghela napas, “dia tak mau sembarangan menolong
orang. Malah kabarnya dia sudah pindah ke lain tempat. Apalagi hawa Im-han
sudah menyusup ke dalam tulang Seng-wan, paling lama dalam tiga jam lagi
darahnya tentu sudah beku. Sekalipun kau berhasil mendapatkan Thay-gak-sianong pun sudah terlambat!”
Sekonyong-konyong di luar kuil terdengar suara orang tertawa mengekeh. Thianleng dan si nona terbeliak. Seorang dara berbaju kuning tampak muncul di
ambang pintu. Di belakang bahunya tersembul sebatang pedang pusaka.
Kemunculan seorang dara di tengah malam dalam sebuah kuil tua, sungguh
mengherankan sekali. Thian-leng duga dara itu tentu seorang dara persilatan.
Sejenak mengejapkan matanya yang bagus, dara itu menggerutu: “Eh, mana ada
pertempuran berdarah di sini. Kedua momok itu sungguh menggelikan …” – Tibatiba ia menegur: “Hai, siapakah kalian ini?”
Thian-leng tak mau buang tempo. Ia harus lekas-lekas membawa Ki Seng-wan.
Maka acuh tak acuh ia mengatakan bahwa iapun hanya singgah sebentar di kuil
itu. Habis berkata terus memanggul Ki Seng-wan keluar kuil.
Dara baju kuning itu kerutkan alis, mendamprat: “Kau benar-benar seorang
manusia yang tak tahu budi, tadi jika bukan …”
“Karena ada urusan penting, maaf, aku tak dapat melayani nona!” tukas Thianleng.
“Nyalimu besar sekali …” si dara loncat menghadang.
Thian-leng terkejut. Sungguh tak terduga dara yang masih semuda itu ternyata
memiliki gerakan yang sedemikian hebatnya. Namun Thian-leng tak puas dengan
tindakan si dara.
“Aku tak kenal padamu, mengapa nona menghadang?” serunya.
Dara itu tertegun. Ia tak dapat menjawab melainkan menatap Thian-leng dengan
kemerah-merahan malu.
“Kalau nona tak mempunyai urusan apa-apa, maaf aku hendak meneruskan
perjalanan!” kata Thian-leng pula seraya terus melangkah pergi.
Dara itu malu dan marah. Sekali melesat ia mencegat lagi: “Berhenti!”
Ki Gwat-wan yang mengikuti di belakang Thian-leng terpaksa tampil ke muka:
“Siapakah adik ini? Mengapa …”
“Siapa yang kau panggil sebagai adikmu itu? Aku tak kenal padamu …!” bentak
dara itu.
Ki Gwat-wan menyeringai malu: “Aku bermaksud baik …”
Dara itu deliki mata: “Aku tak bicara padamu, perlu apa kau banyak mulut!”
Melihat sikap si dara yang begitu ketus, marah juga Ki Gwat-wan: “Jangan keliwat
menghina orang …”
“Kalau aku menghina, kau mau apa …?” bentak si dara. Ia kedipkan mata lalu
menantangnya, “bukan hanya menghina saja, pun akan kupukul engkau juga …”
Dara itu serempakkan ucapannya dengan mengayun tangan ke pipi Ki Gwat-wan.
Plak … karena tak mengira orang akan berbuat segarang itu, Ki Gwat-wan tak
bersiap. Pipinya kena tertampar dan tubuhnya terhuung-huyung beberapa
langkah ke belakang.
Rupanya dara itu masih belum puas. Ia memburu maju dan hendak menampar
lagi. Melihat itu Thian-leng segera letakkan Ki Seng-wan di tanah lalu loncat
menghadang si dara: “Jangan terlalu galak!”
“Kalau ia tidak terima, boleh coba-coba dengan aku!” si dara deliki mata kepada Ki
Gwat-wan.
Sebenarnya Ki Gwat-wan sudah hendak menerjang tetapi karena dihadang Thianleng, terpaksa ia berhenti.
Thian-leng menghela napas: “Tiada dendam tiada permusuhan, perlu apa harus
berkelahi? Anggap aku bersalah dan harap nona suka maafkan!”
Adalah karena perlu menolong Ki Seng-wan maka Thian-leng berlaku luar biasa
sabarnya. Ia memberi hormat lalu hendak memanggul Ki Seng-wan lagi.
Karena mendapat muka terang, nada dara itu berobah lunak: “Ini baru ucapan
orang terhormat. Eh, siapakah namamu?”
Thian-leng kerutkan alis, sahutnya: “Aku bernama … Bu-beng-jin!”
“Bu-beng-jin …?” dara itu cebikan bibir, katanya dengan ewah: “Anjing dan
kucingpun mempunyai nama, mengapa kau tak punya nama!”
“Sayang, kau bukan seorang lelaki!” bentak Thian-leng dengan kesal.
“Kalau lelaki lalu bagaimana?” dengus si dara.
“Kalau lelaki, tentu sudah kutampar mulutmu!”
Dara baju kuning kerutkan kening, mengejek: “Coba lihat saja siapa yang akan
ditampar mulutnya!”
Plak … tiba-tiba dara itu sudah menampar pipi Thian-leng. Gerakan dara itu luar
biasa aneh dan cepatnya. Sekalipun andaikata Thian-leng sudah mengetahui,
juga sukar rasanya untuk menghindar.
Thian-leng tertegun. Tinju dikepal siap hendak diayunkan. Tetapi ia masih
menahan kemarahannya sekuat mungkin. Sejenak menatap wajah si dara, segera
ia berputar tubuh dan mengangkat Ki Seng-wan. “Mari kita berangkat!” ajaknya
kepada Ki Gwat-wan.
Ki Gwat-wan mengiyakan. Tanpa mengacuhkan si dara lagi, ia segera mengikuti
langkah Thian-leng. Tetapi belum berapa langkah, terdengar si dara baju kuning
melengking: “Bu-beng-jin, kau berani menghina aku … aku hendak mengadu jiwa
padamu!”
Thian-leng serahkan Ki Seng-wan pada Ki Gwat-wan: “Tolong pondongkan
sebentar, aku hendak menghajar budak liar itu …”
Si dara melesat ke depan mereka, malah sudah mencabut pedang.
“Nona sudah cukup puas memaki dan memukul, mengapa masih menuduh aku
menghinamu? jangan terlalu bicara seenakmu saja! Ketahuilah bahwa aku …”
“Mau marah? Hm, jika bukan aku, kau tentu sudah mati!” lengking si dara.
“Kalau begitu kuhaturkan terima kasih atas budi pertolonganmu …” tiba-tiba
dengan nada bengis Thian-leng membentak: “Lalu apakah maksud nona?”
“Kau pakai senjata apa?” teriak si dara.
“Apakah nona tetap hendak …”
“Kau yang mati atau aku yang mati!”
“Aku tak punya dendam suatu apa …”
“Lekas cabut senjatamu!” bentak dara itu.
Karena didesak terus akhirnya Thian-leng mencabut pedang pendek, ujarnya:
“Karena nona terus mendesak, baiklah kita main-main barang tiga jurus.”
“Bagaimana kalau kau kalah?”
“Aku rela menyatakan kalah …”
“Tidak!” si dara menolak.
“Lalu apa kemauanmu?” tanya Thian-leng.
“Menyerah dan terima hukuman mati …!”
***
Siapakah dara aneh itu?
(Bersambung jilid 4)
Jilid 4 .
Harimau betina.
“Apakah nona yakin tentu menang?” Thian- leng tertawa dingin.
Dara baju kuning itu mendengus: “Meskipun menang-kalah belum ketentuan,
tetapi aku tetap menghendaki begitu!”
Marahlah Thian-leng: “Terserah, silahkan nona mulai!”
Dara baju kuning tertawa mengikik. Sekali gerakkan pedang, ia menusuk ke arah
dada.
Sekalipun ajaran ilmu pedang Toh-beng-sam-kian dari wanita aneh Toan-jong-jin
membuktikan kesaktiannya, namun karena tadi si dara dapat menamparnya begitu
mudah, maka Thian-leng pun tak berani memandang rendah. Ia biarkan saja
sampai ujung pedang si dara hampir mengenai dadanya, barulah ia menangkis.
Setelah itu ia hendak gunakan jurus pertama dari ilmu pedang Toh-beng-samkiam yang disebut Hong-ji-hun-yong (angin meniup awan buyar) untuk secepatnya
mengakhiri pertempuran itu. Memang ia tak mau terlibat lama-lama karena perlu
lekas-lekas menolong Ki Seng-wan.
Tetapi betapa terkejutnya ketika tangkisannya itu luput. Tusukan si dara itu hanya
sebuah gertakan kosong belaka. Thian-leng tercengang. Dua hal yang
membuatnya heran. Dalam gebrak pertama, si dara sudah menggunakan jurus
kosong. Ini tidak umum. Dan yang paling mengejutkan ialah gerakan si dara yang
luar biasa cepatnya. Matanya sampai tak dapat menangkap bagaimana lenyapnya
pedang si dara itu tadi.
Rasa kejut membangkitkan kesadaran Thian-leng bahwa yang dihadapinya itu
bukan dara sembarang dara, melainkan seorang dara yang lihay sekali. Segera ia
mainkan jurus Hong-ji-hun-yong itu dengan sungguh-sungguh. Tetapi baru
separoh bagian jurus itu ia kembangkan, tiba-tiba ia rasakan sekujur tubuhnya
kedinginan dan hujan sinar pelangipun sudah mencurah ke arah kepalanya.
Ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam memang hebat, tetapi berhadapan dengan ilmu
pedang si dara yang luar biasa itu, tak sempat lagi Thian-leng mengembangkan
permainannya.
Bret … baju dada Thian-leng telah tergurat robek sampai panjang. Untung
dagingnya tak sampai terluka.
“Ah …” Ki Gwat-wan mengeluh putus asa dan tundukkan kepala. Sementara
Thian-leng pucat wajahnya, bungkam seribu bahasa.
Sebaliknya si dara itu angkuh menegur: “Bagaimana … apa kau menyerah kalah!”
“ya, aku menyerah kalah tetapi masih penasaran dengan kekalahan itu!”
Si dara deliki mata: “Kau hendak menyangkal?”
“Dalam soal kepandaian, aku tak kalah padamu! Tetapi dalam soal siasat licik, kau
lebih pintar. Maka sekalipun kau menang, tetapi bukan kemenangan yang
gemilang!”
Saking marahnya alis si dara menjungkit dan berteriaklah ia: “Menggunakan
pedang tak ubah seperti mengatur barisan. Keistimewaan terletak pada seni
mempedayakan musuh yang tak mudah menduga isi-kosongnya serangan kita.
Kau harus malu pada dirimu sendiri yang tak mengerti intisari ilmu pedang!”
“Aku tetap tak puas dengan cara-cara begitu …” Thian-leng mendengus, “aku
sudah kalah, silahkan nona bertindak!” – Ia meramkan kedua mata menunggu
kematian dengan ikhlas.
Si dara terkesiap. Pedang di tangan hanya dicekal saja, tak tahu ia bagaimana
harus bertindak.
Sebenarnya kegelisahan berkecamuk dalam hati Thian-leng. Benar kekalahan itu
dikarenakan pengetahuannya kurang luas, tetapi karena licinnya mulut si dara
maka ia membuat pernyataan sebelum bertanding. Mau tak mau ia terpaksa harus
mentaati. Tetapi sampai sekian saat tak juga si dara itu turun tangan. Ia membuka
mata, ah, dara itu tengah menatapnya dengan penuh perhatian.
“Nona, silahkan turun tangan!” kembali Thian-leng berseru.
“Turun tangan bagaimana?”
“Bukankah tadi nona hendak menghukum mati aku? Sekarang silahkan!”
Wajah dara itu sebentar pucat sebentar merah dan akhirnya menggigit bibir keras-
keras.
“Sebelum kubunuh, hendak kusuruh kau benar-benar menyerah setulusnya!”
Sambil kiblatkan pedangnya, dara itu berseru: “Mari kita bertanding lagi. Silahkan
kau mulai dulu!”
Thian-leng tertawa menghina: “Jika bertempur lagi, mungkin kau tak dapat
menggunakan akalan!”
Merah-padam wajah dara itu, lengkingnya: “Jangan banyak mulut, lekas mulai!”
Thian-leng mendongkol sekali atas kecongkakkan si dara. Sambil kiblatkan
pedang pendeknya berserulah ia: “Karena nona yang menghendaki, terpaksa aku
menurut saja.”
Jurus pertama Hong-ji-hun-yong dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam, segera
dilandaskan. Pedangnya yang pendek itu seketika berobah panjang. Hawanya
sampai bertebaran seluas satu tombak keliling.
Si dara tak tinggal diam. Iapun kembangkan pedangnya. Tring, tring, tring, dalam
sekejap mata terdengarlah tiga kali beradunya pedang mereka. Thian-leng
terkejut. Sikap congkak si dara itu ternyata karena mengandalkan kepandaiannya
yang sakti. Bukan saja ilmu pedangnya luar biasa aneh, pun memiliki tenagadalam yang hebat. Tak jauh terpaut dengan tenaga dalamnya. Pada hal ia (Thianleng) telah mendapat penyaluran tenaga dalam dari Oh-se Gong-mo dan minum
pil Kong-yang-sin-tan.
Dara itu usianya tak lebih dari 18 tahun. Taruh kata sejak lahir ia sudah berlatih,
pun tak nanti dapat mencapai kesempurnaan yang sedemikian hebatnya. Apakah
dara itu juga mendapat rejeki luar biasa? Demikian Thian-leng bertanya-tanya
dalam hati.
Selesainya jurus pertama terus dilanjutkan dengan jurus kedua yang disebut Nokhay-keng-liong (laut marah mengejutkan naga). Sambaran angin yang
menerbitkan lengking tajam segera berhamburan seluas dua tombak.
Rupanya dara itu juga terkedjut, serunya: “Bagus, ternyata boleh juga!” – Ia
taburkan pedangnya menjadi gumpalan sinar untuk menahan serangan lawan.
Tiba-tiba Thian-leng tertawa nyaring, serunya: “Hati-hatilah nona!”
Serempak dengan peringatan itu tiba-tiba permainan pedang Thian-leng berganti
dengan jurus ketiga yang disebut Liu-hun-ci-thian atau awan berarak menutup
langit. Jurus ini jauh berlainan dengan jurus pertama dan kedua tadi. Sinar
pedang tiba-tiba melambung naik ke atas, berobah laksana ribuan bintang. Sesaat
ribuan bintang itupun mencurah ke arah kepala si dara.
Kali ini benar-benar si dara itu terkejut sekali. Cepat ia loncat mundur. Karena tak
bermaksud hendak membunuh, maka Thian-leng tak mau mengejar. Segera ia
tarik pedang dan berdiri tegak, serunya sambil tersenyum: “Terima kasih atas
kesungkanan nona!”
Wajah dara itu berobah gelap. Ternyata dua jemput rambut di kanan-kiri
keningnya kena terpapas! Thian-leng pun melongo sendiri. Dara itu memang
congkak sekali, tetapi memapas rambut seorang anak perempuan adalah
perbuatan yang keliwat garis …
Si dara terlongong-longong mengawasi rambutnya yang terkupas tadi. Tiba-tiba ia
menutup muka dan menangis …
Thian-leng tak enak sendiri. Setelah menghela napas, ia melangkah menghampiri,
ujarnya: “Adalah karena nona suka mengalah maka aku beruntung bisa menang.
Harap nona jangan taruh di hati … Maaf, karena ada urusan penting, terpaksa aku
mohon diri!”
Dara baju kuning itu tetap menangis tersedu-sedu …
Ketika tertumbuk pada gumpalan rambut si dara yang jatuh di tanah, Thian-leng
hentikan langkah. ”Sungguh aku tak sengadja, nona …” ia hendak minta maaf,
tetapi tiba-tiba si dara berhenti menangis dan membentaknya: “Jangan jual lagak
kau! Jika sungguh mau membunuhmu adalah semudah membalikkan tanganku!”
Thian-leng tertawa kecut. Pikirnya, dara itu benar-benar centil sekali. Masakan ia
minta maaf malah diberi semprotan yang menusuk hati! Namun tak mau ia
meladeni. Berpaling ia mengajak Ki Gwat-wan pergi. Tanpa diulang, nona itupun
segera memanggul Ki Seng-wan. Thian-leng pun segera mengikuti.
Tiba-tiba dara itu taburkan tangannya ke punggung Thian-leng, serunya: “Bubeng-jin, awas kau!”
Thian-leng tertegun. Punggungnya tersambar angin tajam. Ia tahu si dara tentu
gunakan senjata rahasia, namun tak sempat lagi ia menghindar. Senjata rahasia
itu meluncur dengan luar biasa cepatnya. Tubuh Thian-leng tergetar. Rasanya
seperti tersusup oleh beberapa batang senjata rahasia!
“Kang-siangkong, kau terluka …!” Ki Gwat-wan berseru kaget.
Thian-leng terkesiap. Ia merasa memang telah terkena senjata rahasia, tetapi
anehnya ia tak merasa sakit sama sekali. Tetapi ketika memeriksa, kejutnya bukan
kepalang. Kedua bahunya kanan-kiri dan punggung, tertancap 3 batang passer
(anak panah kecil) yang tangkainya berukir kepala burung hong. Tiga batang
passer itu berjajar merupakan bentuk segi-tiga. Yang membuat Thian-leng hampir
tak percaya pada penglihatan matanya ialah bahwasanya ke 3 passer itu hanya
menancap pada bajunya saja, sedikitpun tak menyentuh kulit. Ilmu kepandaian
serupa itu benar-benar mempesonakan sekali!
Setelah mencabut ke tiga passer itu, terlongong-longonglah Thian-leng. Benar-
benar ia kehilangan paham kepada dara itu. Seorang dara yang muda-belia,
mengapa memiliki beberapa kepandaian yang tiada taranya!
Si dara tertawa mengikik: “Bu-beng-jin, telah kukatakan tadi bahwa kalau hendak
membunuhmu adalah semudah membalikkan telapak tangan. Apakah sekarang
kau sungguh tunduk?”
Thian-leng mengangguk, sahutnya serta merta: “Ya, sekarang aku tunduk sungguh
atas kesaktian nona!”
Ia segera memberi hormat kepada dara itu lalu berputar tubuh dan terus berlalu.
Kali ini si dara tak mau merintangi lagi. Dipandangnya si anak muda yang berjalan
mengikuti Ki Gwat-wan. Setelah itu ia memungut gumpalan rambutnya yang jatuh
di tanah dan menghela napas panjang.
Sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa gelak-gelak.
“Niu-niu, apakah kau setuju dengan budak itu?” menyusul terdengar suara lantang
nyaring. Sesosok tubuh melayang turun dari puncak sebuah karang. Seorang
lelaki tua yang berambut putih tetapi wajahnya segar kemerah-merahan seperti
seorang anak. Usianya lebih dari 70 tahun namun masih tampak gagah.
“Ayah, kembali kau mengoceh yang tidak-tidak!” sambil berpaling si dara
melengking manja.
“Kurang ajar kau, Niu-niu, berani memaki ayahmu!” bentak lelaki tua itu.
Si dara tertawa mengikik: “Mengapa ayah mengolok aku?”
Lelaki tua tertawa meloroh: “Niu-niu, ayah tahu kau suka padanya. Tetapi caramu
tadi dapat menimbulkan salah pahamnya, mungkin …”
“Mungkin bagaimana, yah?”
Lelaki tua menggeleng-geleng: “Mungkin malah meletus. Budak itu tampaknya
juga keras kepala …”
“Peduli dengan dia! Sayang tadi tak kubunuh saja … dia keliwat menghina
padaku!”
“Amboi, apakah dia berani menghina puteri kesayanganku?” sengaja nada si
lelaki tua dibuat-buat.
Dengan berlinang-linang dara itu berseru manja: “Lihatlah sendiri ini.” Sekali
goyangkan bahunya maka berhamburan gumpalan rambutnya yang terkupas tadi.
“Kurang ajar, Niu-niu, tunggulah. Paling lama setengah jam ayah tentu akan
menghancurkan kepala budak liar itu!” habis berkata, lelaki tua segera melesat
pergi.
“Yah, kau hendak …” tiba-tiba si dara berseru kaget.
Lelaki tua deliki mata: “Ayah hendak membalaskan penasaranmu. Hendak
kubunuh budak itu!”
“Seorang budak tak bernama masakan layak kau ajak berkelahi. Sudahlah, yah!”
di luar dugaan dara itu mencegah.
“Apa? Apa kau hendak berikan rambutmu digunduli olehnya?”
Si dara merah wajahnya. “Kelak kalau berjumpa padanya, tentu kubuat
perhitungan!”
Sejenak memandang sang puteri, tertawalah lelaki tua itu: “Kelak kalau kau
berjumpa padanya, mungkin dia sudah jadi suami orang … Niu-niu, lebih baik kita
kejar dia sekarang saja!”
Sepasang pipi si dara merah jambu. Segera ia susupkan kepalanya ke dada
ayahnya: “Yah, kau memang suka mengolok-olok, bagaimana hukumannya?”
Lelaki tua tertawa: “Hukumannya mudah saja, suruhlah aku minum secawan arak
kebahagiaanmu!”
Tiba-tiba tubuhnya mencelat sampai beberapa tombak jauhnya. Dia hendak
mengejar Thian-leng.
“Yah, awas kau!” si dara berkaok-kaok seraya menyusul.
Sementara itu Thian-leng dan Ki Gwat-wan yang memanggul adiknya sudah
berjalan beberapa li jauhnya. Kala itu sudah hampir terang tanah. Tiba-tiba Ki
Gwat-wan menghela napas dan hentikan langkah.
Thian-leng terkejut, serunya: “Ah, karena mendongkol pada anak perempuan tadi,
aku sampai lupa membiarkan kau …” ia ulurkan tangan hendak menyambuti tubuh
Ki Seng-wan. Ia kira Ki Gwat-wan letih memanggul.
Di luar dugaan Ki Gwat-wan gelengkan kepala: “Mungkin … tak keburu
menolongnya lagi!”
Thian-leng kaget dan buru-buru memeriksa. Tampak wajah K Seng-wan pucat
seperti mayat, mulut terkancing rapat dan napasnya makin lemah seperti orang
yang tengah meregang jiwa.
“Budak itulah yang mencelakai, kalau tidak …” Thian-leng menggeram sedih.
Ki Gwat-wan tertawa hambar: “Thay-gak-san terpisah ribuan li jauhnya. Betapapun
cepatnya kita berjalan juga harus memakan waktu lebih dari satu hari padahal
adikku yang malang ini hanya mampu bertahan paling lama satu jam saja.”
Thian-leng banting-banting kaki: “Biarlah kusalurkan seluruh tenaga dalamku,
mungkin dia dapat bertahan beberapa jam. Asal kita percepat perjalanan, mungkin
…”
“Percuma,” Ki Gwat-wan gelengkan kepala, “hawa Im-han telah menyusup ke
dalam sumsumnya. jika kau hendak salurkan tenaga dalam, darahnya pasti
bergolak dan berarti malah mempercepat kematiannya …” beberapa butir air mata
menetes dari mata Ki Gwat-wan. Setelah itu berkata pula: “Di dalam Sin-bu-kiong,
kecuali ayah, akulah yang paling mahir dalam ilmu pengobatan. Jika masih ada
daya menolongnya masakan aku tak berusaha?”
Thian-leng kucurkan air mata terharu, ujarnya rawan: “Apakah kita berpeluk
tangan saja melihat ia meninggal …”
“Kita … tak berdaya lagi,” sahut Ki Gwat-wan. Segera ia angsurkan tubuh Ki Sengwan kepada Thian-leng: “Adikku ini terhadap kau …”
Ki Gwat-wan segera menceritakan bagaimana sang adik telah mengorbankan
kesuciannya untuk menolong jiwa pemuda itu. Tetapi baru bercerita sampai
separoh bagian, tiba-tiba dari jauh terdengar derap kaki orang berlari-lari
mendatangi. Beberapa saat kemudian tampak beberapa sosok bayangan melesat
bermunculan. Ki Gwat-wan terkesiap kaget. Buru-buru ia gunakan ilmu menyusup
suara kepada Thian-leng. “Celaka, mereka datang kembali …”
Thian-leng segera mengajak bersembunyi di dalam hutan. Diketahui pendatangpendatang itu ialah rombongan orang Sin-bu-kiong, yakni Te-it Ong-hui Ma honging, Ci-chiu-hoan-thian Ni Jin-hiong, 4 orang dayang wanita dan sejumlah besar
jago-jago persilatan yang bermuka bengis.
“Apakah mereka dapat menyusul kemari?” kata Ni Jin-hiong dengan wajah
tegang.
Salah seorang rombongan jago silat yang sudah berambut putih segera
menjawab: “Lereng Gan-beng-poh biasanya menjadi tempat pertemuan kita,
sudah tentu dapat mencari …”
Kata-kata itu diganggu oleh terdengarnya derap kaki yang berlari-lari mendatangi.
Seorang lelaki bertubuh kekar muncul terus memberi hormat kepada orang tua itu:
“Melapor pada bengcu (ketua), bahwa menurut laporan mata-mata, sampai seluas
30 li belum tampak tanda-tanda jejak musuh!”
Ternjata lelaki kekar itu adalah salah seorang kepala cabang suatu perserikatan
partai-partai persilatan. Dan lelaki tua itu ialah Suma Beng, ketua perserikatan
partai-partai persilatan dari 13 propinsi. Suma Beng bergelar Tok-bok-sin-tiau atau
Kokok-beluk sakti bermata satu.
Entah kapan si Kokok-beluk itu menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong.
Tanya Ni Jin-hiong dengan gelisah: “Kalau orang Thiat-hiat-bun belum muncul,
apakah kalian menemukan jejak budak she Kang dengan kedua puteri ketua kami
… eh, apakah biara tua itu sudah diselidiki?”
Lelaki kekar itu mengatakan bahwa semua tempat dan biara tua tu sudah
dijelajahi, tetapi tak menemukan suatu apa. Hanya saja caranya bicara itu tak
lancar seperti menyembunyikan sesuatu.
Melihat itu dengan membawa sikap sebagai seorang Ong-hui (ratu), Ma Hong-ing
membentak Suma Beng: “Tadi di dalam biara rusak jelas terdapat tanda-tanda
munculnya orang Thiat-hiat-bun dan kedua puteri itu juga berada di dalam situ.
Mengapa mengatakan tak ada jejak apa-apa. Kalian membanggakan diri sebagai
kaum persilatan yang palng pandai mencari berita, mengapa ternyata tak berguna
sama sekali?”
Kokok-beluk sakti Suma Beng terbata-bata: “Entah kapankah Ong-hui mengetahui
… mengapa …”
Sebenarnya ia hendak menegur Ong-hui, kalau memang tahu mengapa
membiarkan mereka lolos. Tetapi ia merasa ucapan itu kurang layak, maka
ditelannya kembali.
Merahlah wajah Ma Hong-ing. Ia deliki mata kepada Ni Jin-hiong lalu mendengus.
Itulah suatu dampratan halus kepada Ni Jin-hiong yang belum-belum sudah panik
karena mengira orang Thiat-hiat-bun muncul.
Ni Jin-hiong pun kerutkan alisnya. Ia menginsyafi gawatnya urusan saat itu.
Tentang Kang Thian-leng itu tak menjadi soal, tetapi yang menggelisahkan adalah
kedua kakak-beradik Ki itu. Jika kedua nona itu sampai melapor pada ayahnya
(Sin-bu-te-kun) tentang hubungan gelap antara Ma Hong-ing dengannya (Ni Jinhiong), pasti mereka akan dibunuh.
Sejenak merenung, berkatalah Ni Jin-hiong kepada Kokok-beluk hantu Suma
Beng: “Tolong Suma-bengcu suka mengirim berita dengan burung, memberi
tahukan tokoh-tokoh persilatan yang tinggal di sekitar 100 li jaraknya, agar
mengerahkan tenaga untuk mencari jejak kepada kedua puteri ketua kami itu.
Begitu tahu, harus segera menyampaikan laporan!”
Suma Beng mengiyakan dan lalu memberi perintah kepada si lelaki bertubuh
kekar: “Urusan ini harus kusampaikan sendiri pada cabang di daerah selatan.
Kalian harus hati-hati menjaga di sini!”
Jago tua bermata satu itu segera melesat pergi. Ma Hong-ing mondar-mandir
dengan gelisah dan Ni Jin-hiong pun cemas sekali.
Thian-leng dan Ki Gwat-wan yang bersembunyi beberapa tombak jauhnya, tak
kurang cemasnya. Jarak begitu dekat dan Ni Jin-hiong seorang tokoh yang
berkepandaian tinggi. Sedikit gerakan saja pasti diketahuinya. Apalagi Thian-leng
saat itu mewajibkan diri untuk melndungi kedua nona Ki. Mereka berdua tak berani
bergerak sedikitpun juga.
Berapa lama kemudian, tiba-tiba wajah Ni Jin-hiong mengerut kejut. Ia melirik ke
arah Ma Hong-ing dan bibirnya bergerak-gerak, seperti orang menggunakan ilmu
menyusup suara.
Ma Hong-ing tegang seketika. Segera ia memberi isyarat kepada ke 4 dayangnya
dan beberapa jago-jago persilatan untuk bersembunyi di balik gundukan batu di
belakang gerumbul pohon.
Thian-leng pun kaget. Tetapi ia tak mendengar suatu suara apapun. Namun ia
percaya Ni Jin-hiong tentu bukan pura-pura. Tentu ada sesuatu yang dicurigai.
Thian-leng pun tumpahkan perhatian menanti perkembangan selanjutnya …
Ah, ternyata benar. Tak berapa lama terdengarlah derap kaki ringan dan dari jarak
10 tombak jauhnya muncullah 3 orang imam bertubuh kurus. Begitu kurus hingga
mirip dengan orang-orangan bambu yang diberi pakaian jubah. Punggung mereka
masing-masing menyelinap hud-tim (kebut yang dipakai kaum paderi atau imam).
Tak tahu Thian-leng siapa ketiga imam itu. Hanya diduganya tentulah orang dari
salah satu 9 partai besar di dunia persilatan.
Secara kebetulan ketiga imam itu melalui tempat persembunyian Thian-leng.
Kuatir dipergoki, terpaksa Thian-leng menyandar pada sebatang pohon. Siapa
tahu, tubuhnya membentur sebatang ranting kering. Ranting patah dan jatuh
berkeresekan …
Ketiga imam itu menghentikan langkah, menyebut doa O-mi-to-hut. Yang di
tengah, seorang imam tua berambut puth segera melengking: “Hai, siapakah yang
malam-malam bersembunyi di sini?”
Wut, ia kebutkan lengan jubahnya menampar ke arah tempat persembunyian
Thian-leng. Saking kaget dan kuatir atas keselamatan Ki Seng-wan yang sudah
terluka parah itu, tanpa banyak pikir Thian-leng segera lepaskan pukulan Lui-hwesin-ciang. Dar … si imam tua itupun terhuyung-huyung ke belakang Kedua imam
lainnya segera mundur ke samping seraya mencabut hud-tim nya. Demikianpun si
imam tua yang terhuyung ke belakang tadi.
“Ah, tak nyana di sini aku bertemu dengan orang sakti,” serunya seraya mencabut
hudtim. Tetapi seruannya segera mendapat sambutan dari suara orang tertawa
gelak: “Ah, kiranya ketiga totiang dari Lo-san …!”
Ketiga imam itu tersirap kaget. Ketika berpaling tampak beberapa sosok tubuh
melesat dari balik gerumbul pohon. Heran ketiga orang itu dibuatnya. Tetapi
segera imam itu tertawa menegur: “Bukankah sicu ini kepala penjaga istana Sinbu-kiong?
Memang yang keluar itu adalah Ni Jin-hiong dan rombongannya. Kepala penjaga
Sin-bu-kiong ini menjawab: “Sungguh kuat sekali ingatan totiang,” ia keliarkan
mata sejenak. “Ah, jika bukan totiang yang kebetulan lewat di sini, mungkin
beberapa budak murtad itu dapat mengelabui aku!”
Imam berjenggot putih itu berseru heran: “Ini … ini bagaimana duduk perkaranya?”
Wajah Ni Jin-hiong membesi: “Hendak kuhaturkan pertanyaan pada totiang
bertiga. Bagaimanakah sikap totiang bertiga terhadap Sin-bu-kiong …”
“Terus terang saja, kami memang hendak menggabungkan diri pada Sin-bukiong!” tukas ketiga imam dari Lo-san itu.
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Menggabung pada Sin-bu-kiong …”
Imam tua itu menghela napas perlahan, ujarnya: “Walaupun sudah mendekati
hari-hari tua, tapi rupanya Hun-tiong Sin-mo itu masih gemar menjagal manusia.
Peristiwa pembunuhan ketua kuil Siau-lim-si dan ke delapan paderi tinggi, telah
menggemparkan dunia persilatan. Sejak itu dunia persilatan menjadi gelisah.
Panji Tengkorak Darah muncul di mana-mana.
Ratusan jiwa telah melayang. Sebenarnya gunung Lo-san merupakan daerah
yang suci, tetapi beberapa hari yang lalu Panji Tengkorak Darahpun muncul di situ
…”
“Siapakah yang menjadi korban?” seru Ni Jin hiong.
Imam tua menggeram: “Kalau yang dijagal itu kaum persilatan, itu dapat
dimengerti …”
“Apa? Apakah Hun-tiong Sin-mo membunuh orang yang tak mengerti ilmu silat?”
Ni Jin-hiong pura-pura kaget.
“Benar!” imam tua itu makin merah matanya, “beberapa hari yang lalu terdapat dua
belas pemburu yang mati dibunuh di bawah puncak Ou-lay-hong. Di samping
mayat mereka terdapat panji berlukis tengkorak darah …” – ia berhenti sejenak,
katanya pula: “kami dengar para pemimpin sembilan partai besar telah meminta
bantuan pada Sin-bu Te-kun dan Te-kun pun sudah menerima baik untuk
memimpin gerakan membasmi Hun-tiong Sin-mo. Maka jauh-jauh kami perlukan
menuju ke Sin-bu-kiong!”
Serta merta Ni Jin-hiong memberi pujian atas sikap ketiga imam dari Lo-san yang
sedia berjoang untuk peri-kemanusiaan. Tiba-tiba ia beralih pembicaraan: “Tetapi
baiklah hal itu kita bicarakan lagi setelah menangkap ketiga murid murtad ini …”
Imam tua menatap pada Thian-leng, serunya: “Rupanya budak itu memiliki ilmu
pukulan bagus, tenaga dalamnyapun tinggi, tadi kamipun hampir …” teringat akan
peristiwa tadi, ia tak jadi lanjutkan kata-katanya. Mukanya merah-padam.
Lo-san Sam-to atau tiga imam dari Lo-san, meskipun bukan termasuk tokoh-tokoh
sembilan partai, tetapi juga tergolong tokoh yang dimalui. Beberapa puluh yang
lalu banyak juga jago-jago yang dijatuhkan. Maka ia merasa malu, kalau ketahuan
orang bahwa dirinya sampai dipukul sempoyongan oleh seseorang anak yang tak
terkenal!
Setelah dirinya dipergoki dan mengetahui bahwa ketiga imam itu hendak
menggabung diri pada Sin-bu-kiong, terpaksa Thian-leng ambil putusan nekad.
Dengan melindungi Gwat-wan yang memondong adiknya, Thian-leng tegak
bersiap sambil menghunus pedang pendeknya.
Pada saat itu Ma Hong-ing dengan beberapa jago-jago persilatanpun menyusul
datang. Mereka segera mengepung Thian-leng. Thian-leng hanya tertawa dingin
saja. Dipandangnya wanita itu dengan tatapan kemarahan dan kekecewaan.
Tiba-tiba Ni Jin-hiong berseru: “Budak, menyerahlah. Jika kau mau membunuh diri
sendiri, mayatmu kubiarkan utuh. Tetapi kalau membangkang, hm, aku bukan
orang yang suka memberi ampun!”
Namun sekalipun mulut berkata begitu garang, diam-diam hati Ni Jin-hiong cemas
juga. Permainan pedang si anak muda yang dapat menggurat robek mantelnya
tadi, cukup membuat nyalinya nanar. Maka iapun memberi isyarat mata kepada
Ma Hong-ing supaya siap-siap menyerang dari belakang anak itu.
Justru Ma Hong-ing memang mempunyai rencana begitu. Mengisar ke belakang
Thian-leng segera ia mengancam Ki Gwat-wan: “Budak hina, mengapa tak lekas
menyerah menerima hukuman?”
Karena tengah memondong adiknya maka Ki Gwat-wan tak berdaya melawan.
Thian-leng juga tak kurang gelisahnya. Ia tahu seorang Ni Jin-hiong saja sudah
cukup berat, apalagi harus melindungi kedua nona itu. Malah keempat pelayan Ma
Hong-ing pun menghunus kebutannya. Dan untuk mendirikan jasa pada Sin-bukiong, ketiga imam dari Lo-san pun siap dengan tinjunya, Thian-leng diam-diam
mengeluh.
Setelah melihat kepungan yang sedemikian rapat tertawalah Ni Jin-hiong
mengejek. Tiba-tiba ia memberi perintah: “Serang! – Ia sendiri segera
mempelopori dengan sebuah hantaman.
Ia memutuskan untuk membunuh Thian-leng agar jangan menimbulkan bahaya di
kemudian hari, maka sekali gebrak iapun lantas gunakan ilmu pukulan Hian-imciang yang dilambari dengan tenaga penuh. Ma Hong-ing pun taburkan kelima
jarinya. Keempat dayangnya menampar dengan kebutan, sedang ketiga imam dari
Lo-san menghujankan pukulan. Tak ketinggalan pula dengan jago-jago silat anak
buah Kokok-beluk Suma Beng yang menghujankan pukulan. Situasi berobah
ngeri sekali …
Sambil mencekal pedang di tangan kiri, Thian-leng pun siapkan ilmu pukulan Luihwe-sin-ciang. Dia siap bertempur mati-matian.
Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa meloroh dan belasan jago-jago yang
mengepung Thian-leng itu, menjerit kaget. Tinju mereka yang sudah diluncurkan
terpaksa ditarik setengah jalan dan loncatlah mereka mundur …
Thian-leng juga kaget. Ketika mengawasi, kiranya di sebelah muka muncul
seorang tua yang jenggotnya menjulai sampai ke dada, bermuka merah, tengah
memandang dirinya dengan tertawa.
Kiranya serempak dengan suara ketawa yang menggetarkan urat jantung itu, juga
tangan Ni Jin-hiong serta kawannya yang dihantamkan kepada Thian-leng itu,
terasa sakit sekali. Tangan mereka masing-masing, tertusuk sebatang passer kecil
yang berkepala burung hong. Ujung passer kecil runcing sekali dan tepat
menyusup di sela jari. Itulah yang menyebabkan mereka menjerit kaget dan loncat
mundur.
Hebat dan luar biasa sekali kepandaian orang yang menimpukkan passer kecil itu.
Belasan jago-jago yang menyerang Thian-leng, tidak seorangpun yang mampu
menghindar. Bahkan ke empat dayang pelayan Ma Hong-ing pun menderita
senjata rahasia itu.
Orang tua itu mengusap-usap jenggotnya yang putih mengkilap seperti perak
seraya tertawa terkekeh-kekeh. Rupanya ia gembira sekali.
Ni Jin-hiong cepat mencabut passer kecil yang menancap di punggung telapak
tangannya. Demi mengetahui siapa orang tua itu, mukanya pun segera berobah
seperti orang dicekik setan. Mulutnya terbata-bata berseru: “Kau … bukankah Ginhi-sin-soh Lu Liang-ong?”
Gin-hi-sin-soh artinja Jenggot perak si kurus sakti. Orang tua berjenggot perak itu
tertawa: “Selama hidup aku belum pernah masuk ke daerah Tionggoan, mengapa
kau kenal padaku!”
Makin pucat wajah Ni Jin-hiong, ujarnya: “Kalau begitu kau lo-ciangbun
(pemimpin) perkumpulan Thiat-hiat-bun (Darah besi).”
Orang tua berjenggot perak itu mengangguk tertawa: “Benar, memang aku ini …” –
ia keliarkan matanya ke sekeliling, serunya: “Melihat kamu begini banyak
mengeroyok seorang anak muda, mataku tak tahan maka tadi kuberi peringatan
…”
Ucapan sedap, wajah berseri tertawa. Enak sekali tampaknya orang tua jenggot
perak itu bicara seolah-olah menghadapi anak kecil saja.
Sebenarnya dada Ni Jin-hiong sudah seperti mau meledak, tetapi karena
mengetahui riwayat ketua partai Darah Besi, terpaksa ia menyumbat
kemarahannya. Kemunculan ketua partai Darah Besi itu menimbulkan kecemasan
hebat dalam hati Ni Jin-hiong. Ia kuatir suatu peristiwa ngeri tak mungkin dihindari
lagi. Segera ia memberi isyarat mata kepada Ma Hong-ing. Kemudian bertanyalah
ia kepada Jenggot perak Lu Liang-ong: “Kabarnya Siau-yau-kiam-khek Pok Thiatbeng kembali pula pada partai Thiat-hiat-bun, entah …”
“Siapa kau? Perlu apa kau tanyakan hal itu?” tukas Lu Liang-ong tak lupa dengan
ketawanya.
Ni Jin-hiong terkesiap, serunja: “Aku Ni Jin-hong karena mengagumi pribadi Poktayhiap, maka ingin mengetahui hal itu!”
Lu Liang-ong tertawa: “Entahlah, aku juga sudah beberapa tahun tak ketemu
dengan dia!”
Mendengar itu longgarlah perasaan Ni Jin-hiong. Ia percaya keterangan orang tua
berjenggot perak itu tentu benar. Kini berobah nadanya menjadi nyaring, serunya:
“Entah apakah maksud saudara berkunjung ke Tionggoan ini?”
Tiba-tiba wajah Lu Liang-ong mengerut bengis: “Apakah Tionggoan ini tanah
milikmu? Apakah aku tak boleh datang kemari?”
Tersipu-sipu Ni Jin-hiong dibuatnya, segera ia menyahut: “Saudara sudah melukai
orang masih omong besar. Janganlah keliwat menghina orang! Ketahuilah, aku
juga bukan bangsa kerucuk tak bernama. Adalah karena mengindahkan nama
partai Thiat-hiat-bun maka aku masih menaruh kesungkanan padamu!”
Ketua Thiat-hiat-bun tertawa tergelak-gelak: “Bagus, bagus, jika kau penasaran,
silahkan turun tangan saja …” – ia tertegun sejenak lalu berkata pula: “Ya, ya,
tiada halangan kuberitahukan padamu bahwa aku memang kekurangan lawan di
daerah Lam-hong sehingga tanganku gatal. Kedatanganku ke Tionggoan ini tak
lain karena hendak menguji kepandaian dengan datuk-datuk persilatan di sini.
Aku ingin sekali berjumpa dengan seorang lawan yang berimbang agar sisa
hidupku tak kecewa …”
Lagi-lagi Ni Jin-hiong terperanjat. Tetapi secepat itu ia tutupi dengan tertawa,
ujarnya: “Maksud saudara tentu akan mendapat sambutan gembira, tetapi …”
“Tetapi bagaimana?”
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Melintasi pagar baja harus dipatahkan, apalagi negara
Tionggoan adalah kandang naga dan harimau …”
“Kamipun menghormati partai Thiat-hiat-bun yang termasyhur,” ketiga imam dari
Lo-san menyeletuk, “tokoh yang berkepandaian paling tinggi di daerah Tionggoan
adalah Hun-tiong Sin-mo! Jika lo-sicu dapat melenyapkan momok itu, semua kaum
persilatan daerah Tionggoan …”
Mengetahui betapa tinggi kepandaian ketua Thiat-hiat-bun, ketiga imam dari Losan itu hendak gunakan siasat memprovokasi (membakar) hati Lu Liang-ong agar
menempur Hun-tiong Sin-mo. Pikirnya, siasat adu domba itu adalah yang paling
tepat. Tetapi demi diperhatikan Ni Jin-hiong tak mengajukan siasat itu, maka ketiga
imampun tak dapat menahan kesabarannya lagi.
Di luar dugaan Ni Jin-hiong dan Ma Hong-ing berobah wajahnya ketika
mendengar ucapan itu. Cepat-cepat Ni Jin-hiong menukasnya: “Jangan …
janganlah Lu locianpwe menempur Hun-tiong Sin-mo!”
“Mengapa?” tanya ketua Thiat-hiat-bun.
Ni Jin-hiong menyahut tersekal-sekal, “Karena … karena Hun-tiong Sin-mo itu
manusia licik yang banyak muslihatnya. Kini tokoh-tokoh sembilan partai
persilatan di Tionggoan sudah bersatu-padu untuk menghancurkan momok itu.
Jika saudara menempur Hun-tiong Sin-mo, dikuatirkan malah menganggu
rencana sembilan partai persilatan itu …”
“Kalau begitu, aku tak usah pergi saja!” ketua partai Thiat-hiat-bun tersenyum.
Ni Jin-hiong menghela napas longgar. “Tetapi baik kiranya saudara pesiar
menikmati alam pemandangan Tionggoan dulu, kemudian …”
“Hm, kau hendak mengusir aku?” dengus orang tua berjenggot perak itu.
“Mana aku berani …” Ni Jin-hiong tersipu-sipu menerangkan.
“Eh, masakan kalian tak marah karena kulukai tadi?” Si Jenggot perak tertawa.
Memang mata sekalian jago pada merah, tetapi mereka tak berani berbuat apaapa. Ni Jin-hiong memaksa tertawa: “Ah, itu hanya sedikit salah paham. Hanya
luka tak berarti saja!”
“Eh, tadi pertanyaanku belum terjawab! Mengapa kalian mengeroyok kedua anak
itu!” tiba-tiba ketua partai Thiat-hiat-bun berganti pembicaraan.
“Itu juga urusan salah paham!” buru-buru Ni Jin-hiong menjelaskan. Kemudian ia
melirik Thian-leng dan Ki Gwat-wan, serunya: “Mereka adalah murid-murid Sin-bukiong yang murtad, maka hendak kami tangkap. Kiranya locianpwe tentu tak suka
mengurus hal-hal semacam begitu bukan?”
Thian-leng menyaksikan beberapa hal yang tak diduga-duga. Jelas bahwa Ni Jjinhiong merasa takut dengan orang tua jenggot perak yang sakti itu. Dan nyata pula
bahwa orang tua itu bukan tokoh golongan hitam melainkan pendekar yang suka
membela kebenaran. Ada titik terang yang memantul dalam harapan Thian-leng.
Tetapi harapan itu juga tercampur kecemasan. Passer kecil berkepala burung
hong yang mengenai tangan orang-orang itu, serupa benar dengan passer yang
ditimpukkan si dara baju kuning ke padanya. Dan juga caranya menimpuk
terdapat persamaan. Apakah si dara dan orang tua berjenggot perak itu sekaum?
Karena belum mendapat kesimpulan jelas maka Thian-leng pun hanya diam saja,
menunggu perkembangan selanjutnya.
Tetapi ketika mendengar Ni Jin-hiong mengatakan dia murid Sin-bu-kiong yang
murtad, tak dapat lagi ia menahan kemurkaannya. “Ngaco! Siapa sudi mengaku
guru kepada bangsa penjahat!” bentaknya, lalu berpaling menghadap si Jenggot
perak, serunya: “Harap locianpwe jangan percaya omongannya. Aku adalah
musuh dari gerombolan Sin-bu-kiong …” – tiba-tiba ia merasa bahwa
permusuhannya dengan orang Sin-bu-kiong berbelit-belit, tak dapat sepatah dua
patah dapat dijelaskan.
Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Meskipun kau bukan anak murid Sin-bu-kiong, tetapi
kau telah melarikan kedua puteri Sin-bu Te-kun. Tentunya kau tak menyangkal …”
– ia menunjuk pada nona Ki Gwat-wan yang berada di belakang Thian-leng, lalu
berkata kepada ketua Thiat-hiat-bun: “Silahkan locianpwe tanyakan, benar tidak?”
Karena tak dapat memberi jawaban, Thian-leng merah-padam mukanya.
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa: “Aku tak punya tempo mengurusi soal tetekbengek begitu, tetapi …” ia berhenti sejenak, katanya pula:
“Anak ini rupanya berjodoh padaku, kalau tidak tentu tak ketemu dengan aku.
Sekali bertemu tak dapat kutinggal diam saja …”
Wajah Ni Jin-hiong berobah pucat, buru-buru serunya: “Habis, locianpwe hendak
berbuat apa!”
“Tinggalkan anak itu!”
Ni Jin-hiong mengeluh tertahan, serunja cemas: “Tetapi … kedua puteri …”
“Tinggalkan juga!” tukas Jenggot perak Lu Liang-ong.
“Ini …”
“Apa? Tidak boleh …?”
Ni Jin-hiong meringis seperti kera termakan getah. Ia tertawa menyeringai: “Kalau
begitu apakah locianpwe hendak bermusuhan dengan Sin-bu-kiong?”
“Biarlah! Eh apa jabatanmu dalam Sin-bu-kiong?” seru Jenggot perak Lu Liangong.
“Kepala penjaga istana …”
“Pergi kau beritahukan pada Sin-bu Te-kun, aku akan tinggal di Tionggoan selama
beberapa bulan. Di mana dan kapan saja dia boleh mencari aku kalau minta
orang!”
Ni Jin-hiong alihkan pandangannya kepada Ma Hong-ing seperti hendak minta
keterangan. Tetapi wanita itu hanya kerutkan alis tak dapat berkata apa-apa.
“Pergilah kalian!” tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun membentak seraya menampar.
Ni Jin-hiong serasa terbang semangatnya. Ia hendak menangkis, tetapi, ah,
kiranya jago Thiat-hiat-bun itutidak menamparnya melainkan menghantam ke arah
sebatang pohon cemara yang beberapa tombak jauhnya!
Pukulannya itu tampak lemah dan tak mengeluarkan deru angin apa-apa. Mengira
kalau orang tua itu hanya main gertak, Ni Jin-hiong terlongong-longong, dalam
batin ia malu-malu mendongkol.
Tetapi selagi sekalian orang tertegun, tiba-tiba terdengar bunyi benda
berhamburan riuh gemuruh. Ketika melihat apa yang terjadi, kejut sekalian jagojago bukan alang-kepalang!
Daun dari pohon cemara yang sebesar dua pemeluk tangan orang, rontok
berguguran akibat pukulan kosong dari jago tua Thiat-hiat-bun. Suara gemuruh
tadi berasal dari ribuan daun yang berhamburan ke tanah. Kini pohon cemara itu
berobah gundul.
Seluas-luas pengalaman dan sehebat-hebat kepandaian Ni Jin-hiong, namun
baru pertama kali itu ia menyaksikan ilmu kepandaian yang luar biasa. Di luar
kesadarannya, lidahnya bercekat menelan ludahnya.
“Ho ho, kali ini pukulanku kutujukan pada batang pohon, tetapi lain kali tentu pada
orang!” Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa meloroh.
Mendengar itu serasa terbanglah semangat jago-jago, baik dari rombongan Sinbu-kiong maupun anak buah Kokok-beluk bermata satu Suma Beng. Pertamatama adalah Ma Hong-ing yang angkat kaki diiring oleh ke empat dayangnya,
setelah itu menyusul Ni Jin-hiong, ketiga imam dari Lo-san dan berpuluh anak
buah Suma Beng, berbondong-bondong tinggalkan tempat itu …
Istana Hantu.
Thian-leng menghaturkan terima kasih atas pertolongan orang tua berjenggot
perak itu.
“Memang jitu, tepat! Mata Niu-niu memang tajam sekali … ha, ha, ha!” ketua Thiathiat-bun tertawa sambil mengawasi Thian-leng.
Thian-leng tak mengerti apa yang diucapkan orang tua berjenggot perak itu.
Sejenak ia berpaling ke arah Ki Seng-wan. Ah, kedua mata nona itu meram.
Keadaannya sedemikian parah seperti pelita yang sudah hampir padam sinarnya.
Taci-nya bercucuran air mata. Nona itupun menghaturkan terima kasih kepada
ketua Thiat-hiat-bun tetapi tak berkata suatu apa.
“Maaf, sekiranya locianpwe tak keberatan, aku hendak mohon … diri!” akhirnya
Thian-leng memberanikan diri berkata kepada orang tua itu.
Jenggot perak Lu Liang-ong tiba-tiba mengerutkan wajah, dengusnya: “Nanti dulu
…!”
“Locianpwe hendak memberi petunjuk apa lagi?”
“Siapa namamu?” tanya si Jenggot perak.
Thian-leng tertegun, sahutnya: “Bu-beng-jin!”
“Bu-beng-jin …?” dengus Jenggot perak, “kau tak mau mengatakan namamu atau
memang tak punya nama?”
“Masakan aku berani mempermainkan locianpwe? Memang …” Thian-leng tak
dapat melanjutkan kata-katanya karena sukar untuk menerangkan. Beberapa
jenak kemudian baru ia berkata pula: “Sedari kecil aku bernasib malang. Sampai
sekarang tak tahu siapa ayah-bundaku, maka …”
“O, kiranya kau bernasib begitu malang!” jago Thiat-hiat-bun mengangguk-angguk.
“Locianpwe, sesungguhnya aku perlu sekali harus cepat-cepat menuju ke gunung
Gak-san …”
“Perlu apa?” tukas Jenggot perak.
“Nona itu,” kata Thian-leng sembari melirik ke arah Ki Seng-wan yang pingsan,
“menderita luka parah sekali. Kecuali Thay-gak Sian-ong, siapa lagi yang dapat
menolongnya. Maka terpaksa aku harus cepat-cepat ke sana!”
“Pernah apa kau dengan nona itu?” tanya Lu Liang-ong.
“Sebenarnya bukan apa-apa, tetapi lukanya itu karena ia hendak menolong aku,
maka akupun harus membalas budi …”
“Eh, andaikata tadi aku tak muncul, apakah kau mampu melanjutkan perjalananmu
ke Gak-san?”
Thian-leng tergagap-gagap: “Ini …” – ia tak dapat menemukan kata-kata untuk
diucapkan lagi.
“Ayo, coba jawablah sebuah pertanyaanku lagi!” kembali ketua Thiat-hiat-bun itu
berkata.
“Silahkan!”
“Jiwa kalian bertiga, bukankah aku yang menyelamatkan?”
“Sudah tentu, budi locianpwe itu takkan kulupakan. Tetapi aku …”
“Aku tak suka berpura-pura. Ada ubi ada talas. Kau sudah hutang budi, sekarang
harus membayar!” ketua Thiat-hiat-bun tertawa.
Thian-leng tertegun mendengar ucapan yang tak diduga-duga itu. Cepat-cepat ia
menyahut: “Asal locianpwe yang memerintah, aku sanggup menerjang ke dalam
lautan api, barisan golok!”
Ketua Thiat-hiat-bun tertawa: “Ah, bukan meminta kau harus menerjang bahaya,
hanya …” ia berhenti sejenak lalu berganti nada berat, “kuminta kau meluluskan
sebuah hal!”
“Silahkan locianpwe mengatakan!”
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa renyah: “Urusan itu tak memerlukan kau buruburu melaksanakan, tetapi cukup kau mengatakan janji dulu.”
“Mengapa locianpwe tak mengatakan sejelas-jelasnya?”
“Jadi kau tak mau meluluskan?” nada ketua That-hiat-bun berobah berat.
“Mana aku berani menolak? Sekalipun locianpwe meminta kepalaku, tentu akan
kuberikan. Hanya …”
“Hanya bagaimana?” tegas si Jenggot perak.
“Aku merasa heran, mengapa locianpwe tak mau segera mengatakan apakah
urusan yang locianpwe kehendaki itu … apalagi aku seorang kelana yang tak
punya tempat tinggal menentu. Mungkin kelak sukar berjumpa dengan locianpwe,
apakah itu tak akan mengecewakan …”
“Tak usah kau resahkan hal itu. Pokoknya sekarang kau harus menyatakan
persetujuanmu dulu.”
Thian-leng menimang sejenak, lalu serentak memberi pernyataan: “Baik, aku
meluluskan!”
“Belum cukup hanya mengucapkan pernyataan saja, kaupun harus bersumpah
pada langit!” seru LuLiang-ong dengan serius.
“Aku seorang yang taat akan janji, kiranya janganlah locianpwe meragukan
pernyataanku tadi!”
“Selama kau tak bersumpah, tetap aku tak mempercayai!” seru Jenggot perak Luliang-ong.
Thian-leng tertawa masam. Ia anggap orang tua sakti itu memang aneh. Namun
karena sudah berhutang budi, akhirnya Thian-leng pun segera berlutut dan
menyatakan sumpahnya.
“Bagus, sekarang bolehlah kau pergi!” ketua Thiat-hiat-bun tertawa puas sambil
mengusap-usap jenggotnya yang putih seperti perak.
“Nona Ki, marilah …” belum habis Thian-leng berkata mengajak pergi Ki Gwatwan, tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun sudah membentaknya: “Kau sendiri yang pergi,
kedua anak perempuan ini tinggalkan padaku!”
“Locianpwe …” Thian-leng berseru kaget.
“Luka budak perempuan itu keliwat parahnya. Sebelum kau dapat mencapai
gunung Gak-san, tentu ia sudah mati di tengah jalan!”
“Terserah pada nasibnya, tetapi aku harus berusaha!”
Mendengar itu Ki Gwat-wan segera berlutut meminta pada ketua Thiat-hiat-bun:
“Mohon locianpwe suka menolong adikku yang bernasib malang ini!”
Jenggot perak Lu Liang-ong mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuang
sebutir pil warna hijau. Segera ia menyusupkan pil itu ke mulut Ki Seng-wan.
Sungguh ajaib, tak berapa lama muka nona itu mulai merah dan napasnya makin
deras. Thian-leng dan Ki Gwat-wan girang sekali.
“Rupanya kau juga banyak urusan,” kata ketua Thiat-hiat-bun kepada Thian-leng,
“nona itu masih perlu mendapat perawatan. Maka jika kau hendak menyelidiki
asal-usul dirimu, silahkan pergi. Jangan kuatir, tinggalkan saja nona itu padaku!”
Sebenarnya Thian-leng memang tak punya perasaan apa-apa terhadap kedua
nona kecuali hanya hendak membalas budi. Ucapan orang tua Jenggot perak itu
dirasa memang tepat. Dia masih mempunyai beberapa urusan penting mencari
tahu asal-usul dirinya dan melaksanakan pesan Oh-se Gong-mo untuk membunuh
Song-bun Kui-mo dan merebut kitab pusaka. Tak ketinggalan Cu Siau-bun,
pemuda yang baik budi itu …
“Kemanakah locianpwe hendak pergi dan di mana kiranya kelak aku dapat
menjumpai?” tanyanya.
“Jangan hiraukan hal itu. Jika aku hendak mencarimu, sekalipun kau berada di
ujung langit, setiap saat aku dapat menemukan juga …!”
“Kalau begitu, aku mohon diri,” Thian-leng segera pamit. Melihat itu Ki Gwat-wan
seperti kehilangan sesuatu. Buru-buru ia menghampiri pemuda itu dan berbisik
rawan: “Harap Kang-siangkong baik-baik menjaga adikku ini …”
Tak dapat nona itu melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun
melesat di tengah mereka dan memberi isyarat agar Thian-leng segera angkat
kaki. Terpaksa anak muda itu melangkah pergi.
Setelah pemuda itu jauh, tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun tertawa keras: “Niu-niu,
mengapa kau tak lekas muncul!”
Sesosok tubuh kecil melayang turun dari sebatang pohon yang beberapa tombak
jauhnya. Gerakannya gesit seperti burung walet. Sedikitpun tak mengeluarkan
suara ketika kakinya menginjak tanah. Itulah si dara baju kuning Niu-niu.
Melihat itu segera Ki Gwat-wan tahu apa sesungguhnya maksud yang tersembunyi
dalam percakapan si Jenggot perak tadi. Seketika luluhlah hatinya. Ia
membungkuk membisiki ke dekat telinga adiknya yang masih belum sadar,
perlahan: “Oh, adikku, malang benar nasibmu …”
“Niu-niu, bagus tidak caraku bekerja tadi!” seru Jenggot perak Lu Liang-ong.
“Uh, masih bertanya begitu? Apa ingin aku mati kaku?” dengus Niu-niu.
“Mati kaku?” ayahnya melongo.
“Karena kau selalu mengolok saja!”
Lu Liang-ong membelai-belai rambut puterinya, tertawa: “Budak tolol, ayah tahu
hatimu. Jangan kuatir, urusan itu tentu beres. Lain kali kau ketemu dengannya, dia
adalah milikmu!”
Wajah Niu-niu merah: “Lain kali? Siapa tahu bagaimana dengan lain kali itu …!”
Lu Liang-ong mencekal dagu si dara, tertawa: “Niu-niu, masakan kau begitu
terburu-buru?”
Niu-niu menampar dada ayahnya: “Yah, kau benar-benar hendak membuat aku
mati kaku!”
Lu Liang-ong tertawa tergelak-gelak, kemudian berseru kepada Ki Gwat-wan:
“Bawa adikmu dan ikutlah aku. Dalam dua belas jam tanggung adikmu akan waras
kembali!”
Ketua Thiat-hiat-bun itu segera ayunkan langkah. Niu-niu melirik kedua saudara
Ki, tiba-tiba ia gunakan ilmu menyusup suara berkata kepada ayahnya: “Yah,
kedua anak perempuan itu tak boleh dibiarkan!”
Liu Liang-ong kerut alis dan menjawab dengan ilmu menyusup suara juga: “Habis,
kemauanmu?”
Niu-niu terkesiap, lalu menggeram: “Bunuh saja. Aku benci kepada mereka!”
“Membunuh mereka berarti kau akan kehilangan budak laki itu selama-lamanya
…!” ketua Thiat-hiat-bun merenung sejenak, katanya pula: “Ketahuilah Niu-niu.
Ayah memang cinta dan sayang sekali padamu. Tetapi pun takkan membiarkan
kau melakukan perbuatan yang melanggar undang-undang alam!”
Niu-niu si dara manja, terkejut sekali mendengar kata-kata sang ayah. Biasanya
ayah itu tentu suka bergurau dan memanjakannya sekali. Tetapi kali ini sampai
berkata dengan nada yang begitu serius dan bengis!
Niu-niu tak berani banyak bicara lagi. Iapun mengikuti saja di belakang ayahnya.
Demikianlah keempat orang itu segera lenyap dalam kepekatan malam …
***
Entah berapa jauh sudah, hanya ketika cuaca di ufuk timur sudah mulai terang,
Thian-leng pun kendorkan langkahnya. Ia menghela napas panjang. Ia bingung
apa yang harus dilakukan lebih dulu.
Ni Jin-hiong tadi menyebut-nyebut tentang Siau-yau-kiam-kek (Pendekar Pedang
Kelana) Pok Thian-beng, tetapi ketua Thiat-hiat-bun mengatakan bahwa sudah
belasan tahun tak berjumpa dengan tokoh itu. Ah, bukankah Pok Thian-beng itu
orang yang wanita tua Toan-jong-jin menyuruh ia mencari? Dari percakapan tadi,
jelas bahwa ketua Thiat-hiat-bun bersahabat baik dengan jago pedang itu. Tetapi
mengapa Ni Jin-hiong menanyakan orang itu? Hubungan apakah yang menyelak
di antara mereka?
Thian-leng benar-benar tak dapat menganalisa persoalan itu. Dan terutama, asalusul dirinya sendiripun masih merupakan teka-teki besar …
Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Ya, ia memutuskan untuk
menyelidiki istana Sin-bu-kiong di gunung Hun-san saja. Di sana ia akan
mendapatkan Ma Hong-ing, wanita yang telah mengaku menjadi ibunya dan
memelihara selama tujuh belas tahun. Dan Sin-bu Te-kun ialah Song-bu Kui-mo,
orang yang dikehendaki Oh-se Gong-mo untuk dibunuh! Sekali tepuk dua lalat.
Dapat menyelidiki asal-usulnya dan membunuh momok itu.
Memang Sin-bu-kiong penuh bahaya maut, tetapi jika tak berani masuk ke sarang
harimau, mana ia akan memperoleh anak harimau?
Dengan gunakan ilmu berjalan cepat, pada hari kedua ia sudah tiba di kaki
gunung Hun-san. Sebuah gunung yang tinggi penuh dengan tebing curam dan
hutan lebat.
Ketika mencapai puncak, bertemulah ia dengan sebuah tempat alam yang
strategis sekali. Di atas puncak terdapat sebuah lembah yang empat penjuru
dikelilingi karang tinggi. Di tengah lembah terdapat beratus-ratus bangunan
gedung. Diam-diam Thian-leng terpaksa memikir-mikir lagi. Istana Sin-bu-kiong
yang seolah-olah seperti benteng itu tentu penuh dengan alat-alat rahasia dan
penjagaan yang kuat.
Teringat akan rejeki yang diperolehnya selama ini, antara lain mendapat saluran
lwekang dari Oh-se Gong-mo, pelajaran ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam dari
wanita Toan-jong-jin dan minum pil mujijat Kong-yang-sin-tan dari Sip U-jong,
serta ilmu pukulan Lui-hwe-ciang yang sudah hampir sempurna diyakinkan itu,
timbullah keberaniannya.
Seketika iapun lari menuju ke gedung Sin-bu-kiong. Cepat sekali ia sudah tiba di
kaki tembok istana. Tembok yang memagari istana, tak kurang dari tiga tombak
tingginya, terbuat dari tumpukan batu-batu besar. Thian-leng gunakan ilmu Ciamliong-seng-thian (naga muncul ke atas) untuk loncat ke atas tembok. Ia mencekal
pedang dan siapkan pukulan Lui-hwe-ciang pada tangan kiri. Tetapi keadaan di
sekeliling, sunyi-senyap saja. Hanya lampu yang menyinari menembus atap
gedung-gedung itu.
Ah, apakah penghuni gedung sudah tidur semua? Demikian sambil berjalan di
sepanjang tembok, pikirannya bertanja-tanya.
Sekonyong-konyong ia tersentak kaget. Dua sosok tubuh rebah melintang di
tanah. Ketika dihampiri, ah, ternyata dua sosok mayat. Dua lelaki berpakaian biru,
tangan masing-masing masih mencekal pedang yang menancap pada bahu
mereka. Rupanya mereka berusaha hendak mencabut tetapi sudah keburu
dihantam lagi oleh musuh.
Dari pemeriksaannya, Thian-leng tak mendapatkan suatu luka apapun di tubuh
mereka. Tapi jelas bahwa mereka sudah mati beberapa waktu yang lalu. Thianleng makin waspada. Ia teruskan langkahnya. Hai … kembali ia bertemu dua
sosok mayat yang keadaannya persis seperti tadi. Berturut-turut Thian-leng
mendapatkan belasan mayat begitu. Karena baik pakaian maupun cara
kematiannya sama, Thian-leng duga mereka tentu rombongan penjaga Sin-bukiong. Dengan begitu jelas bahwa telah ada orang yang mendahului masuk ke
Sin-bu-kiong. Tetapi siapakah gerangan orang itu? Jenggot perak Lu Liang-ong?
Ah tak mungkin! Tetapi kalau bukan dia siapa lagi yang mempunyai kepandaian
begitu sakti?
Tiba-tiba Thian-leng dikejutkan oleh munculnya sesosok bayangan orang
berkelebat di antara jajaran gedung-gedung. Tanpa berayal lagi, Thian-leng
segera loncat memburu. Begitu melayang turun ke tanah, ia dapatkan dirinya
berada di sebuah taman kecil.
Taman penuh ditumbuhi pohon-pohon bunga yang harum. Bayangan itupun telah
lenyap. Thian-leng terkejut atas kegesitan orang itu. Sejak tadi ia ikuti dengan
lekat, tahu-tahu orang itu sudah menghilang di luar pengetahuannya!
Hai … tiba-tiba ia tersirap demi menangkap derap kaki ringan menghampiri. Ah,
ternyata seorang bujang perempuan muncul dari pintu dengan membawa pelita
tanduk kambing. Bujang itu melalui taman hendak menuju ke ruang besar. Cepat
Thian-leng bersembunyi di balik sebatang pohon. Begitu bujang itu lewat, segera
ia tutuk jalan darahnya.
“Jangan menjerit nanti kubuka jalan darahmu, mau?” bentak Thian-leng.
Bujang itu mengangguk dan Thian-leng pun segera membuka jalan darahnya.
Setelah menghela napas bujang itu berkata terbata-bata: “Kau … kau …”
“Asal kau mau menjawab pertanyaanku, tentu takkan kuapa-apakan!” ancam
Thian-leng.
“Silahkan!” sahut budak perempuan itu dengan tenang. Rupanya ia sudah
mempunyai pengalaman dalam menghadapi bahaya.
“Apakah Te-it Ong-hui sudah pulang?” tanya Thian-leng.
“Sudah, kemarin dulu!”
“Dan Te-kun?”
“Te-kun tak pernah pergi, sudah tentu tetap berada di istana.”
“Di mana dia sekarang?”
“Di Pek-bong-lo (pagoda seratus impian)!”
“Apakah tinggal bersama dengan Ong-hui?”
Budak itu agak mengerut alis, ujarnya: “Sudah tiga hari ini Te-kun tak pernah
berkunjung ke ruang Ing-jun-wan. Mungkin Ong-hui akan kesepian.”
“Bawa aku ke sana!” seru Thian-leng.
Semula budak itu terkejut, tetapi sesaat kemudian ia bertanya: “Siapa yang akan
kau cari, Te-kun atau Te-it Ong-hui?”
“Te-it Ong-hui dulu!” kata Thian-leng. Ia hendak bicara empat mata dengan Ma
Hong-ing untuk menjelaskan teka-teki yang selama ini menyelubungi asal-usul
dirinya. Tetapi dia lupa bahwa saat itu ia berada di dalam sarang harimau. Setiap
saat dan setiap sudut merupakan bencana maut.
“Baik, mari kuantarkan!” tanpa bersangsi budak itupun menyahut. Berputar tubuh
iapun balik menuju ke pintu tadi lagi. Thian-leng lekatkan ujung pedang di
punggung budak itu dan mengancam: “Awas, kalau berani bohong, jiwamu tentu
melayang!”
Setelah melalui belasan pintu bundar dan melintasi lorong yang berbelok-belok,
tiba-tiba budak itu berhenti. Ternyata mereka tiba di sebuah tempat yang dikelilingi
gedung-gedung tinggi berpagar tembok.
“Kemana kau hendak membawa aku?” tegur Thian-leng.
“Bukankah kau hendak ke gedung Ing-jun-wan menemui Te-it Ong-hui?”
Thian-leng malu dalam hati mengapa ia begitu menguatirkan seorang budak saja.
Kemudian ia bertanya lebih lanjut: “Apakah masih jauh?”
“Tidak, tetapi kalau berjalan lurus, mungkin kepergok penjaga. Maka lebih baik
mengitar saja, meskipun sedikit jauh.”
Melihat budak itu ramah-tamah, hilanglah kecurigaan Thian-leng. Demikian
mereka meneruskan perjalanan lagi.
Kira-kira dua puluhan tombak setelah membeluk pada sebuah gang kecil dan
melintasi sebuah lorong sempit, tibalah mereka pada sebuah gedung yang
pintunya tertutup. “Inilah gedung Ing-jun-wan,” kata budak itu.
Gedung itu luas sekali, karena temboknya tinggi maka tak dapat Thian-leng
memperkirakan dalamnya. Halaman gedung ditumbuhi pohon cemara yang tinggitinggi sehingga menambah seram suasana.
“Benarkah ini Ing-jun-wan?” tegas Thian-leng.
Budak itu mengangguk: “Perlukah kumintakan pintu?”
“Tak usah ...” sahut Thian-leng, “ingat, jangan mengatakan kepada siapapun atau
kau …”
“Masakan aku sudah jemu hidup,” celetuk budak itu.
Kata-kata budak itu menghilangkan keraguan Thian-leng. Sekali loncat ia melesat
ke dalam ruangan, hai … pada saat tubuhnya melayang, tiba-tiba seperti ada
suatu tenaga kuat yang menariknya balik. Berbareng itu terdengar suara orang
tertahan. Astaga … budak perempuan itu rubuh di tanah tak berkutik lagi!
Kejut Thian-leng bukan kepalang. Segera ia kembali untuk menghampiri. Tiba-tiba
ia melihat sesosok tubuh warna biru tegak berdiri di muka segerombol semak yang
tumbuh pada tiga langkah jauhnya. Ketika mengetahui siapa orang itu, bukan
main girang Thian-leng. Segera ia lari menghampiri dan berseru perlahan: “Toanjong-jin locianpwe, kau di sini …!”
Kiranya orang itu memang si wanita sakti Toan-jong-jin. Wanita itu cepat-cepat
gunakan ilmu menyusup suara: “Di sini banyak jago-jago lihay, jangan membikin
kaget mereka...”
“Locianpwe, mengapa kau juga …” baru Thian-leng gunakan ilmu menyusup
suara bertanya, Toan-jong-jin pun sudah menghela napas: “Aku mempunyai
beberapa persoalan yang masih gelap, maka hendak kuselidiki kemari …
Kabarnya kau, ketika di lembah Sing-sim-kiap di gunung Thay-heng-san telah di
…”
“Mungkin nasibku masih belum ditakdirkan mati,” sahut Thian-leng, “di dalam
bahaya selalu mendapat penolong. Untuk mencari asal-usul diriku, maka akupun
…”
“Kau benar membereskan hal itu?”
“Locianpwe, ternyata Te-it Ong-hui lah yang memelihara aku selama tujuh belas
tahun. Maka aku sengaja kemari hendak …”
“Kau sudah ketemu dengannya?”
“Sudah dua kali, tetapi ia …”
“Bagaimana?”
“Bukan saja ia tak mau menerangkan asal-usulku, bahkan malah hendak
membunuhku. Jika tiada orang sakti yang menolong, mungkin aku sudah binasa di
tangannya!”
Toan-jong-jin kerutkan alis: “Betapapun buasnya seekor harimau takkan memakan
anaknya. Tetapi mengapa ia …”
Thian-leng tergetar hatinya: “Locianpwe, kau maksudkan?”
“Seharusnya ia adalah ibu kandungmu!”
“Bagaimana locianpwe tahu?”
“Bukankah ia bernama Ma Hong-ing? Bukankah ayahmu bernama Nyo Samkoan?” Toan-jong-jin balas bertanya.
Thian-leng mengangguk: “Benar! Ia memang telah mengakui hal itu, tetapi selama
selama tahun ia mengaku bernama Liok Poh-bwe dan mengatakan ayahku
bernama Kang Siang-liong …”
Toan-jong-jin tertawa getir: “Itu bohong, mungkin karena takut aku nanti mencari
mereka!”
Kembali jantung Thian-leng berdenyut keras, serunya: “Locianpwe, sebenarnya
apakah kau kenal dengan dia? Mengapa tahu …”
Toan-jong-jin menghela napas: “Nyo Sam-koan dan Ma Hong-ing itu pernah
menjadi bujangku selama delapan tahun. Tujuh belas tahun yang lalu baru
berpisah.”
Thian-leng mengeluh tertahan. Ia tak menyangka kalau Toan-jong-jin dan Ma
Hong-ing mempunyai hubungan sedemikian erat. Tetapi dalam pada itu Thianleng pun kecewa sekali. Kalau Ma Hong-ing itu benar ibu kandungnya mengapa
sedikitpun tak punya kasih-sayang? Mengapa selalu berusaha hendak
mencelakainya?
“Tidak, tak mungkin Ma Hong-ing itu ibuku!” akhirnya Thian-leng mengambil
kesimpulan dalam hati.
“Locianpwe …” Thian-leng menunjuk ke arah gedung mewah, “‘ibuku’ berada
dalam gedung Ing-jun-wan, aku hendak menyelidiki soal itu.” Toan-jong-jin
kerutkan kening tertawa hambar: “Itu bukan gedung Ing-jun-wan. Kalau kau
masuk, bukan saja kau takkan menjumpai ibumu selama-lamanya, pun kau bakal
menjadi setan tanpa kepala …”
Thian-leng seperti disengat kalajengking kejutnya. Baru ia hendak minta
keterangan tiba-tiba wajah Toan-jong-jin berobah gelap dan menarik ujung baju
Thian-leng untuk diajak bersembunyi di balik gerombolan pohon.
Thian-leng cepat mengikuti tindakan wanita sakti itu. Tetapi sampai beberapa saat,
keadaan di sekelilingnya tetap sunyi saja. Karena heran, iapun segera bertanya
dengan ilmu menyusup suara: “Tampaknya tidak ada apa-apa, mengapa
locianpwe …”
“Berapa jauh jarak pendengaranmu?”
“Seluas 50 tombak jauhnya, aku dapat mendengar daun yang rontok ke tanah!”
sahut Thian-leng dengan bangga.
“Kalau kukerahkan perhatian, dalam lingkaran 10 li jauhnya aku tak kena dikelabui
oleh suara apapun juga!”
Hampir tak percaya Thian-leng akan keterangan itu, namun karena tampaknya
Toan-jong-jin serius, iapun tak berani menyangsikan hal itu.
“Apa yang locianpwe dengar saat ini?” tanyanya.
“Tak lama lagi tentu ada orang datang!”
Than-leng tak mau banyak bicara lagi. Segera ia pusatkan perhatiannya
menunggu apa yang akan terjadi …
Sin-bu Te-kun.
Tak lama kemudian, memang terdengarlah derap kaki orang. Pada lain saat
muncul serombongan orang. Dua orang yang berjalan di sebelah muka, rupanya
menjadi pembuka jalan. Mereka membolang-balingkan pedang ke kanan-kiri
dengan sikap yang mengerikan.
Kemudian di belakangnya tampak seorang berjubah merah darah. Tubuhnya
pendek sekali, kurus dan kecil. Memelihara segumpal jenggot seperti jenggot
kambing. Gerakannya bersemangat, matanya bersinar tajam. Mempunyai perbawa
yang memaksa orang menaruh rasa hormat!
Di belakang mengiring Ni Jin-hiong, kepala penjaga istana Sin-bu-kiong yang
bertubuh tinggi besar, ia mengepalai serombongan lelaki tua yang mengenakan
jubah warna ungu.
Thian-leng menyingkap sebatang ranting kecil. Ketika matanya melihat
rombongan orang itu, segera ia gunakan ilmu menyusup suara berkata kepada
Toan-jong-jin: “Orang itu tentu …”
“Song-bun Kui-mo, juga Sin-bu Te-kun yang belakangan ini memalsu sebagai
Hun-tiong Sin-mo untuk membunuhi jiwa manusia dan meninggalkan tanda Panji
Tengkorak Darah!”
Saat itu rombongan Sin-bu Te-kun hanya terpisah satu tombak dari
persembunyian Thian-leng.
Darah Thian-leng mendidih. Digenggamnya pedang pemberian Toan-jong-jin
erat-erat. Urat syarafnya tegang sekali. Sin-bu Te-kun alias Song-bun Kui-mo ialah
musuh dari Oh-se Gong-mo. Sekalipun bukan guru, tetapi Thian-leng berhutang
budi besar sekali kepada Oh-se Gong-mo. Saat itu Song-bun Kui-mo berada di
hadapannya, apakah hendak ia biarkan saja kesempatan sebagus itu?
Di samping membalaskan sakit hati Oh-se Gong-mo, juga untuk membalas budi
kebaikan Hun-tiong Sin-mo. Karena Song-bun Kui-mo telah memfitnah nama baik
Hun-tiong Sin-mo.
Dan … dan juga untuk kepentingannya sendiri. Ma Hong-ing menjadi Ong-hui
(isteri) dari Song-bun Kui-mo. Jika keterangan Toan-jong-jin tadi benar, Ma Honging itu adalah ibu kandungnya. Relakah hatinya membiarkan sang ibu diperisteri
seorang manusia serigala …?
Pikiran Thian-leng melayang lebih jauh … Ya, berobahnya watak ibunya sehingga
sampai tega hendak membunuhnya serta perbuatannya berlaku serong dengan Ni
Jin-hiong, mungkin karena akibat dijadikan isteri oleh Sin-bu Te-kun. Kalau tidak,
mungkin ibunya itu tentu masih hidup bersamanya di lembah Pek-hun-koh yang
tenteram.
Mendadak Thian-leng menganggap Song-bun Kui-mo itu sebagai musuh
besarnya! Dan cepat sekali Thian-leng mengambil putusan …
Lelaki pendek kurus yang memelihara jenggot kambing itu memang Song-bun
Kui-mo yang kini berganti gelar sebagai Sin-bu Te-kun atau raja dari istana Sinbu-kiong. Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berhenti dan memandang ke sekeliling.
Jaraknya dengan gerumbul pohon tempat persembunyian Thian-leng hanya 2-3
meter saja. Mayat budak perempuan yang terkapar di muka pintupun hanya dua
tombak jaraknya. Sudah tentu Sin-bu Te-kun dan rombongannya tahu. Tetapi di
luar dugaan mereka seperti acuh tak acuh.
Tetapi selagi Thian-leng terbenam dalam keheranan, sekonyong-konyong Sin-bu
Te-kun memberi isyarat kepada rombongannya: “Singkirkan budak itu!”
Keheranan Thian-leng pecah menjadi rasa kaget. Kiranya Sin-bu Te-kun telah
mengetahui mayat si budak. Tetapi mengapa dia bersikap diam saja?
Thian-leng palingkan muka ke arah Toan-jong-jin. Tampak wanita sakti itu tenang
sekali.
Perintah Sin-bu Te-kun segera dilakukan. Dua lelaki berjubah biru menyeret mayat
si budak. Sesaat kemudian Sin-bu Te-kun mengusap-usap jenggot kambingnya
dengan kelima jarinya yang kurus kering macam cakar. Sekonyong-konyong ia
menengadah ke langit dan tertawa nyaring. Orangnya pendek kurus tetapi suara
tertawanya ternyata seperti singa meraung. Jantung Thian-leng berdetak keras,
darahnya bergolak.
Buru-buru ia kerahkan semangat untuk menenangkan darahnya.
Berhenti tertawa, tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru: “Ni Cong-hou-hwat!”
Buru-buru Ni Jin-hiong menyahut dengan hormat.
“Sin-bu-kiong telah mempersiapkan diri untuk menguasai dunia persilatan. Tetapi
belum lagi pahlawan-pahlawan kita muncul menjalankan tugas, istana kita telah
kebobolan musuh. Jika hal ini sampai tersiar …”
Mendengar ucapan itu pucatlah seketika wajah Ni Jin-hiong, ujarnya dengan
gemetar: “Hamba telah alpa, mohon Te-kun memberi hukuman.”
“Siapa orangnya itu?” seru Sin-bu Te-kun.
“Hamba telah kerahkan penjagaan kuat, tentu dapat …”
“Apakah sudah kau ketahui berapa jumlahnya dan dari golongan apa mereka itu?”
bentak Sin-bu Te-kun dengan gusar.
“Ini … ini hamba segera dapat mengetahui. Segera mereka tentu dapat ditangkap!”
Ni Jin-hiong makin gugup.
“Seorang saja dari mereka sampai lolos, awas batang kepalamu!” Sin-bu Te-kun
berseru bengis.
“Baik, baik …” Ni Jin-hiong terbata-bata.
“Sebelum tengah malam, datang ke Pek-bong-loh terima perintah lagi!” seru Sinbu Te-kun seraya berputar diri hendak berlalu.
Sekonyong-konyong sesosok tubuh meloncat dari balik gerumbul pohon dan terus
menikamnya. Itulah Than-leng yang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi.
Bukan saja Sin-bu Te-kun, pun Toan-jong-jin juga terkejut melihat tindakan
pemuda itu.
Thian-leng telah mengerahkan seluruh tenaganya menyerang. Pukulan kiri
melancarkan ilmu Lui-hwe-ciang dan tangan kanan gunakan jurus Liu-hun-ci-thian
(awan menutup langit) dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam.
Sin-bu Te-kun terperanjat dan Ni Jin-hiong sekalipun tahu juga, namun karena
menurut peraturan Sin-bu Te-kun tak beranilah ia sembarangan bergerak. Maka
terpaksa ia diam saja.
Sin-bu Te-kun kebutkan kedua lengan jubahnya, tersebar asap berhamburan.
Dalam batin Thian-leng mengejek. Masakan momok Sin-bu-kiong itu mampu
menerima sebuah pukulan dan serangan pedang yang dilambari seluruh
tenaganya. Ia hendak menjadikan serangan itu sebagai suatu duel mati atau
hidup.
Dar … terdengar suara menggelegar perlahan. Thian-leng sepert membentur
segumpal tembok keras. Matanya berkunang-kunang, pedang hampir terlepas dan
tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Untung lwekang-nya cukup kuat,
serta lwekang yang dilontarkan Sin-bu Te-kun itu lwekang lunak, sehingga
pemuda itu tak sampai menderita luka dalam. Namun sekalipun demikian,
cukuplah membuatnya terkejut sekali. Ya, betapa tidak, Sin-bu Te-kun tidak
menangkis, melainkan hanya mengebut dengan lengan jubah dan toh cukup
untuk membuatnya pusing tujuh keliling …
Ketika memandang ke muka tampak Sin-bu Te-kun tegak seperti karang,
wajahnya beringas murka! Setelah memulangkan napas, Thian-leng pun segera
menyerang lagi.
“Mohon Te-kun memberi perintah kepada hamba untuk menghajarnya …” bisik Ni
Jin-hiong meminta izin. Ia kuatir pemuda itu akan membuka rahasia hubungan
gelapnya dengan Ma Hong-ing. Lebih baik dilenyapkan dulu.
“Hendak kubunuh sendiri, kau mundur saja!” dengus Sin-bu Te-kun.
Mendengar itu pucatlah wajah Ni Jin-hiong. Keringat dingin membasahi
keningnya, namun tak berani membantah. Ia memberi tanda kepada rombongan
anak buahnya untuk mundur.
“Kau membawa berapa konco?” tegur Sin-bu Te-kun kepada Thian-leng.
“Hanya tuanmu ini seorang!” Thian-leng menyahut nyaring.
Sin-bu Te-kun gusar, segera ia gerakkan jari kanannya untuk menutuk. Ilmu
kepandaian yang dibuat andalan Thian-leng ialah pukulan Lui-hwe-sin-ciang dan
ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Tetapi karena serangan pertama tadi gagal,
hampir saja nyalinya menurun. Cepat ia siapkan pedang di tangan kiri untuk
menyambut. Melihat itu Sin-bu Te-kun turunkan pula tangannya.
“Siapa namamu?” serunya.
“Bu-beng-jin!”
Terkesiap Sin-bu Te-kun mendengar jawaban itu, tetapi pada lain kilas ia tertawa:
“Oh, kiranya orang yang tak bernama … Mengapa kau berani masuk ke istana
ini?”
“Song-bun Kui-mo, malam ini tuanmu akan mengambil jiwamu!” bentak Thianleng.
Wut, kemarahan Sin-bu Te-kun telah ditumpahkan dalam tamparannya. Thian-leng
segera menyambut serangan itu dengan pukulan dan tebasan.
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun merobah pukulannya, diarahkan ke sebelah kanan.
Tampaknya lemah dan tak mengeluarkan suara, tetapi tiba-tiba terdengarlah suara
gemuruh. Sebuah paviliun hancur, atapnya berhamburan ke mana-mana. Itulah
akibat dari pukulan Sin-bu Te-kun! Di samping itu, akibat lwekang pertahanan diri
dari Sin-bu Te-kun, maka kembali Thian-leng tersurut mundur sampai tujuh
delapan langkah … Bahkan kali ini, lebih hebat. Bukan saja mata Thian-leng
berkunang-kunang, pun tulang-belulangnya terasa sakit, tenaganya serasa
lunglai. Buru-buru ia kerahkan tenaga dalam. Lebih baik bunuh diri saja daripada
mati di tangan momok jahat itu. Dalam pada itu diam-diam ia heran mengapa
Toan-jong-jin tak muncul? Apakah wanita itu marah karena ia bertindak tanpa
meminta persetujuan wanita itu? Apakah wanita itu hendak biarkan ia mati di
tangan Song-bun Kui-mo? Tetapi mengapa Sin-bu Te-kun pun tak jadi
menghantamnya?
Keheranan itu membuatnya memandang kepada Sin-bu Te-kun. Tampaknya
momok itu dingin-dingin saja.
“Tadi jika sungguh-sungguh kuhantam, kau tentu sudah jadi gumpalan darah!”
beberapa saat kemudian kedengaran Sin-bu Te-kun berseru.
“Tuanmu sudah tak menghiraukan mati-hidup lagi. Hanya aku kecewa kalau mati
di tanganmu!” bentak Thian-leng.
Wajah Sin-bu Te-kun berseri dan tersenyum, nadanyapun lebih ramah. Serunya:
“Kau tak takut mati?”
“Tak ada kata-kata ‘takut mati’ dalam hati tuanmu!”
Sin-bu Te-kun tertawa: “Di dunia tak ada orang yang tak takut mati. Sekalipun
mulut mengatakan tak takut mati, tetapi dalam hati tentu takut! Mungkin kau hendak
berlagak sebagai ksatria gagah …”
“Setan tua, itu anggapanmu sendiri. Seorang lelaki, mati boleh hiduppun baik.
Tidak seperti manusia tak tahu malu macam kau …”
Amarah Sin-bu Te-kun tak terkendalikan lagi. Kelima jarinya segera ditamparkan
ke muka Thian-leng. Jaraknya tak begitu jauh dan Thian-leng pun segera
menyabet dengan pedang. “Plak “… entah bagaimana, tahu-tahu tangan Sin-bu
Te-kun sudah lebih cepat menampar muka Thian-leng. Pipi pemuda itu merah
membara, mulutnya mengucur darah.
Thian-leng kaget-kaget marah. Tubuhnya menggigil gemetar dan wajahnya
muram membesi. Dengan sisa tenaganya, ia hendak menimpukkan pedang itu
kepada lawan.
“Tahan! Tamparan tadi, hanya sebagai hukuman kecil atas penghinaanmu …” Sinbu Te-kun tersenyum, “sekarang marilah bicara perlahan-lahan.
“Tak sudi aku berunding denganmu!”
Masih tetap tersenyum Sin-bu Te-kun bertanya: “Kau mempunyai dendam apa
sehingga hendak membunuh aku?”
“Hm, apakah kau tak mengakui bahwa kau ialah salah seorang dari Su-mo (4
momok)?” tanya Thian-leng.
“Aku tak pernah menyangkal dan semua orang persilatan memang sudah
mengetahui!”
“Bagaimana hubunganmu dengan Oh-se Gong-mo?”
Sin-bu Te-kun kerutkan alis, namun dengan nada masih ramah ia menyahut:
“Bersama-sama menjadi Su-mo dan bersahabat lama, hanya itu …” – ia kerlingkan
mata, ujarnya pula: “Perlu apa kau tanyakan hal itu?”
“Agar kau tahu alasanku hendak membunuhmu terpaksa harus menyebut hal itu.
Tentunya hal itu mencemarkan kau dan kau tentu menyesal!”
“Kurang ajar, aku tak pernah menyesali apa yang kuperbuat, masakan kau …”
“Kau telah merebut kitab Im-hu-po-kip milik Oh-se Gong-mo Locianpwe secara
licik! Beranikah kau menerangkan secara blak-blakan …”
“Apakah kau mempunyai hubungan dengan Oh-se Gong-mo!” tukas Sin-bu Te-kun
dengan wajah berobah muram.
“Tidak ada hubungan apa-apa!” sahut Thian-leng, “tetapi di kala Oh-se Gong-mo
hendak menutup mata aku, telah mendapat perintahnya supaya membunuh
musuhnya dan merebut kembali kitab pusaka itu!”
“Rupanya kau hanya mendengar keterangan sepihak dari dia saja!” – sejenak
matanya berkeliaran, serunya, “karena memandang usiamu masih muda sehingga
kena dipergunakan orang, maka aku tak mau membunuhmu. Ketahuilah, bahwa
aku hendak membangun kesejahteraan bagi umat manusia, sudah tentu aku tak
mau melakukan hal-hal yang hina. Jika kau masih berani menghina namaku,
awas, akan kubuat mayatmu tiada tempat berkubur lagi!”
Thian-leng tak jeri dengan ancaman itu, dengusnya: “Selain ini, tuanmu ini masih
mempunyi lain alasan lagi untuk membunuhmu!”
“Katakanlah!” Sin-bu Te-kun terkesiap heran.
“Dewasa ini di unia persilatan telah terjadi pembunuhan, dan di mana-mana
muncullah Panji Tengkorak Darah. Tetapi kesemuanya itu palsu belaka …” Thianleng berhenti untuk memperhatikan wajah Sin-bu Te-kun, kemudian katanya pula:
“Panji Tengkorak Darah itu sumbernya ialah dari istana Sin-bu-kiong ini. Kau
bermaksud hendak membangkitkan kemarahan dunia persilatan terhadap diri
Hun-tiong Sin-mo agar kau dapat mencapai tujuanmu menguasai dunia persilatan.
Karena satu-satunya orang yang kau takuti ialah Hun-tiong Sin-mo. Jika dia
lenyap, kau tentu mudah menguasai dunia persilatan dan malang-melintang di
dunia. Tetapi kau salah …”
Semula wajah Sin-bu Te-kun marah tetapi akhirnya tenang kembali, malah lalu
berseri-seri. “Bagaimana salahnya,” serunya.
Thian-leng tertawa nyaring: “Andaikata Hun-tiong Sin-mo mati, tetapi masih ada
lagi Thiat-hiat-bun …!
Sebenarnya Thian-leng belum kenal jelas pada Jenggot perak Lu Liang-ong,
tetapi karena menyaksikan kepandaian dan perbawa jago berjenggot perak itu
sedemikian hebatnya, maka ia mendapat kesimpulan bahwa partai Thiat-hiat-bun
tentulah sebuah partai yang paling lihay sendiri.
Mendengar itu teganglah seketika kerut muka Sin-bu Te-kun. Mulutnya tergagapgagap: “Thiat-hiat-bun … Thiat … hiat … bun …”
Thian-leng kembali tertawa gelak-gelak: “Dan andaikata Thiat-hiat-bun pun dapat
kau lenyapkan, tetap masih ada sebuah benda yang akan menghancurkan kau.
Lambat atau cepat, kelak kau pasti akan berlutut di hadapan benda itu …”
“Apa itu?” bentak Sin-bu Te-kun.
“Bu-lim-ceng-gi!” seru Thian-leng tak mau kalah nyaring. Bu-lim-ceng-gi artinya
Demi kebenaran dunia persilatan.
“Bu … lim …ceng … gi …” ulang Sin-bu Te-kun tersekat-sekat. Tiba-tiba ia tertawa
sekeras-kerasnya.
Thian-leng tunggu sampai orang berhenti tertawa, baru berkata: “Sejak dahulu
sampai sekarang, kecongkakan kesewenang-wenangan, kelicikan dan kejahatan,
hanya dapat berjalan sementara waktu. Karena pada akhirnya kebenaranlah yang
akan menang!”
***
Pertaruhan.
“Budak, bukan saja kau bertulang dan berotak bagus, pun kau pandai berdebat,
sungguh hebat!” Di luar dugaan Sin-bu Te-kun malah memberi pujian. Hal itu
mengejutkan Thian-leng yang bermaksud hendak membikin marah orang. Diamdiam ia maki momok itu sebagai manusia yang licin dan bermuka tebal.
Terlintas dalam benak Thian-leng tentang kedudukannya pada saat itu. Ia berada
dalam keadaan serba sukar. Tidak dapat mengalahkan lawan, tetapipun tak
mampu lolos. Hanya ada dua pilihan baginya: Menyerah atau bunuh dri! Diamdiam ia mempersiapkan diri, daripada malu jatuh di tangan musuh, lebih baik ia
bunuh diri saja.
Perobahan air muka Thian-leng yang seolah-olah menahan gelombang
kemarahan itu, tak luput dari perhatian Sin-bu Te-kun juga. Tiba-tiba ia berputar
tubuh dan memandang Ni Jin-hiong dan anak buahnya.
Ni Jin-hiong dan sekalian anak buahnya pucat seketika. Mereka cukup kenal akan
perangai tuannya itu. Betapa keganasan Sin-bu Te-kun telah diketahuinya. Maka
heranlah mereka mengapa Te-kun begitu sabar terhadap pemuda yang berani
memaki-makinya. Namun Ni Jin-hiong tak berani mengatakan apa-apa.
“Kalian keluar dulu dari halaman ini, sebelum mendapat perintah jangan masuk!”
tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru.
Tanpa banyak bicara, Ni Jin-hiong pun segera mengajak anak buahnya keluar.
Juga Thian-leng sendiripun tak kurang herannya. Namun karena sudah mantap,
iapun tak acuh apa yang akan dilakukan oleh si momok. Ia besarkan nyalinya
dengan tertawa dingin dan sikap congkak.
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun menghampiri. Dengan seri wajah yang ramah, ia berkata:
“Lwekang-mu kuat dan ilmu pedangmu luar biasa. Menilik usiamu yang masih
muda, tak mungkin hal itu mampu kau yakinkan kecuali kau memperoleh suatu
rejeki yang luar biasa!”
“Mungkin!” sahut Thian-leng tawar.
“Apakah kau diterima murid oleh Oh-se Gong-mo?” Sin-bu Te-kun tersenyum.
“Tidak!”
Sin-bu Te-kun tertegun, ujarnya pula: “Oh-se Gong-mo pernah meyakinkan ilmu
pukulan Lui-hwe-ciang di goa Toan-hun-tong. Dan jelas ilmu pukulanmu tadi …”
“Tuanmu tak perlu bicara banyak dengan kau!” bentak Thian-leng.
Kembali Sin-bu Te-kun terkesiap. Namun secepat itu ia menghapus mukanya
dengan tertawa: “Sejak mengangkat nama di dunia, belum pernah ada orang yang
berani menghina diriku. Sejak berpuluh tahun baru kali ini yang pertama kalinya
…”
Ditatapnya wajah Thian-leng dengan tajam, lalu katanya pula: “Tetapi kupuji juga
keberanianmu itu! Meskipun kau telah memperoleh rejeki luar biasa dan
kepandaian yang kau miliki itu dapat digolongkan sebagai jago kelas satu, tetapi
bagiku hal itu tetap tak berarti apa-apa!”
“Telah kukatakan, aku tak menghiraukan mati atau hidup. Kalah bertempur dan
mati, sudah selayaknya. Momok tua, silahkan kau turun tangan!” Thian-leng
menantang.
Sin-bu Te-kun geleng-gelengkan kepala: “Tidak, itu tidak adil!”
Thian-leng heran, namun ia tahu bahwa manusia licik yang ganas itu tentu
menyembunyikan apa-apa dalam keramahannya. Segera ia berseru: “Bagaimana
maksudmu?”
Sin-bu Te-kun tersenyum: “Baik kita mengadakan taruhan!”
“Taruhan bagaimana?”
“Akan kubuat sebuah lingkaran di tanah. Aku berada dalam lingkaran itu untuk
menerima 100 jurus seranganmu!”
“Cara baru yang menarik!”
“Aku hanya bertahan, tak balas menyerang. Silahkan kau gunakan tinju, pedang,
jari atau apa saja. Jangankan kau dapat melukai aku, cukup asal kau mampu
membuat aku keluar dari lingkaran itu, kau menang!”
Mau tak mau Thian-leng leletkan lidah. Ia anggap hal itu tak mungkin. Pada lain
saat, marahlah ia karena dirinya diremehkan sebagai anak kecil.
“Setan tua, katakan terus terang saja ilmu sulap apa yang hendak kau
pertunjukkan di hadapanku!” bentaknya.
“Akan kutundukkan hati dan mulutmu!” bentak Sin-bu Te-kun marah, “berani tidak
kau?”
Diam-diam Thian-leng menimbang. Sekalipun pertanyaan itu merendahkan
dirinya, namun terhadap momok yang begitu jahat, perlu apa ia harus memegang
peraturan persilatan lagi? Apalagi momok itu sendiri yang mengatakan.
“Karena kau yang menghendaki sendiri, baik kuterima!” sahutnya.
“Kita adakan perjanjian dulu,” Sin-bu Te-kun tersenyum.
“Tuanmu tak punya perjanjian apa-apa. Terserah padamu saja!”
Kata Sin-bu Te-kun: “Kalau dalam 100 jurus kau dapat melukai atau mendesak
aku keluar dari lingkaran, aku mengaku kalah dan segera membubarkan istana
Sin-bu-kiong. Aku sendiripun akan bunuh diri di hadapanmu. Puaskah kau?”
“Jangan-jangan kau nanti ingkar!” seru Thian-leng yang tak percaya akan ucapan
itu.
“Tetapi kalau kau yang kalah, kau harus menyerahkan mati-hidupmu kepadaku.
Entah apa yang akan kujatuhkan kepadamu, kau tak boleh membantah!” kata Sinbu Te-kun lebih lanjut.
“Baik, kuterima!” serentak Thian-leng menyambut.
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh: “Tetapi akupun seperti kau tadi, tak dapat
mempercayai keteranganmu!”
Thian-leng terkesiap: “Apa syarat kepercayaanmu itu?”
Sin-bu Te-kun bergontaian melangkah, sejenak kemudian berseru seenaknya:
“Hanya dengan sebuah cara …”
“Cara bagaimana?”
“Bersumpah pada Thian!”
“Bersumpah pada Thian …?”
Thian-leng menatap tajam pada Sin-bu Te-kun. Ia bingung dibuatnya. Sebenarnya
ia tak dapat percaya penuh pada momok itu, namun karena melihat
kesungguhannya dan bahkan menurut sumpah, kecurigaannyapun mulai goyah.
Ia coba merenungkan apa yang tersirat dalam maksud tuntutan itu. Kemudian
tanpa ragu-ragu segera berseru: “Tuanmu menerima tuntutanmu itu!”
Sin-bu Te-kun menyambut dengan gelak tertawa yang gembira. Tiba-tiba ia
berteriak memanggil anak buahnya, Ni Jin-hiong muncul dengan dua lelaki baju
biru: “Te-kun hendak memberi perintah apa?”
“Siapkan meja sembahyang!” seru Te-kun.
Jin-hiong melongo, tetapi terpaksa ia lakukan perintah juga. Tak lama meja
sembahyangpun disiapkan. Setelah dupa disulut maka suasanapun berobah
seram. Ni Jin-hiong pun disuruh keluar lagi, Sin-bu Te-kun segera mendahului
berlutut di muka meja dan mengucapkan sumpah berat. Thian-leng heran
melihatnya. Tiba-tiba Sin-bu Te-kun bangkit dan suruh Thian-leng juga
mengucapkan sumpah. Terpaksa Thian-leng menurut juga.
Sesaat kemudian Sin-bu Te-kun menggurat sebuah lingkaran kecil di tanah, lalu
melangkah masuk ke dalamnya, serunya: “Pertandingan boleh dimulai sekarang!”
Thian-leng menyeringai. “Kau sendiri yang mengusulkan pertandingan ini, jangan
salahkan tuanmu berhati jahat!”
“Ha, ha,” Sin-bu Te-kun tertawa menghina, “silahkan tumplak seluruh
kepandaianmu, jangan sungkan-sungkan!”
“Baik, hati-hatilah!” seru Than-leng seraya menusuk lurus ke muka. Itulah jurus
pertama dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam yang disebut Hong-jin-hun-yong.
Tetapi tusukan itu digerakkan perlahan dan menggunakan 4 bagian tenaganya
saja, karena ia hendak menjajaki tenaga lawannya.
Sin-bu Te-kun tegak dengan tenangnya. Begitu ujung pedang hampir menyentuh
dada, tiba-tiba ia kempiskan dadanya. Ujung pedang tak dapat mengenai, tetapi
tampaknya Sin-bu Te-kun seolah-olah seperti tak bergerak apa-apa. Momok itu
tertawa sinis, serunya: “Satu!”
Thian-leng terbeliak. Cara penghindaran Sin-bu Te-kun itu sungguh enak sekali,
walaupun sebenarnya amat berbahaya sekali. Karena ujung pedang hanya
terpisah selembar rambut dari dada.
Tetapi Thian-leng tak gentar. Serangannya itu hanya percobaan untuk menjajaki
tenaga lawan. Apalagi baru satu jurus, masih ada 99 jurus. Ia yakin tentu dapat
sekurang-kurangnya melukai lawan.
Nok-hay-keng-liong atau Laut marah mengejutkan naga, jurus kedua dari ilmu
pedang Toh-beng-sam-kiam secepat kilat segera dilancarkan. Seketika tampak
segulung sinar pedang seperti ombak besar, mendampar ke tubuh Sin-bu Te-kun.
Dan tenaga yang digunakanpun ditambah menjadi sembilan bagian, sehingga
menimbulkan deru angin yang dahsyat …
“Dua!” tiba-tiba terdengar Sin-bu Te-kun berseru hambar.
Kejut Thian-leng bukan kepalang. Segera ia tarik pulang pedangnya. Tak tahu ia
bagaimana cara Sin-bu Te-kun menghindar tadi. Tetapi yang jelas momok itu
masih tegak berdiri dengan tenang.
Thian-leng menggembor keras dan menyerang dengan jurus ketiga, Liu-hun-cithian atau Awan berarak menutup langit. Jurus ini merupakan yang teristimewa
dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Seluas tiga tombak keliling, telah diliputi
oleh gulungan sinar pedang. Sin-bu Te-kun pun seolah-olah tertelan dalam
gulungan sinar pedang. Tetapi heran … gulungan sinar pedang yang tak dapat
tertembus air hujan itu, sedikitpun tak dapat menyentuh secarik pakaian Sin-bu Tekun!
“Tiga!” terdengar Sin-bu Te-kun berseru tawar.
Thian-leng pucat seketika. Mimpipun tidak ia, bahwa ternyata Sin-bu Te-kun itu
seorang sakti yang luar biasa. Kedua kakinya tetap terpaku namun mampu
menghindari gelombang sinar pedang yang sedemikian gencarnya.
Di lain pihak, Sin-bu Te-kun saat itu tampak berseri-seri memandang kepadanya.
Sekonyong-konyong Thian-leng meraung. Laksana seekor harimau kelaparan, ia
menerjang lawan.
Kali ini ia menyerang dengan kedua tangannya. Tangan kiri menghantam dengan
pukulan Lui-hwe-sin-ciang dan tangan kanan menyerang dengan ilmu pedang
Toh-beng-sam-kian. Tinju dan pedang serempak digunakan bersama. Walaupun
tubuh Sin-bu Te-kun itu terbuat dari daging baja dan tulang besi, namun tak
mungkin ia dapat terhindar dari luka-luka.
“Empat!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru pula, ia tampak tegak di dalam lingkaran.
Sedikitpun kakinya tak berkisar …
Dapatkah Thian-leng memenangkan pertempuran ini?
(Bersambung jilid 5)
Jilid 5 .
Ilmu melawan otak
Nyali Thian-leng turun dengan drastis. Jurus yang paling istimewa telah
digunakan, namun tak dapat menyentuh secarik pakaianpun dari Sin-bu Te-kun.
Iblis itu seakan-akan memiliki kesaktian dapat membuka langit menyusup bumi.
Suatu gambaran muram terlintas dalam benak Thian-leng. Kekalahan mulai
membayang di mukanya, dan apakah hukuman yang akan dijatuhkan Sin-bu Tekun kepadanya nanti..
Namun karena sudah mengucapkan sumpah, apapun hukuman itu, ia harus
menerima dengan rela, dan untuk itu ia tak menyesal sedikitpun juga. Tetapi ada
suatu hal yang menjadi pemikirannya. Dengan kesaktian itu, jelas bahwa Sin-bu
Te-kun mudah sekali untuk membunuhnya. Mengapa ia perlu mengusulkan
pertaruhan seganjil itu? Apakah yang tersembunyi di balik tindakan Sin-bu Te-kun
yang aneh itu?
Tetapi ah, apa pedulinya dengan itu. Toh ia sudah mengambil keputusan. Apabila
dalam jurus ke sembilan puluh sembilan nanti ia tetap gagal, segera ia hendak
bunuh diri....
“Hai budak, masih ada sembilan puluh enam jurus lagi, mengapa tak lekas
menyerang? tiba-tiba Thian-leng dikejutkan oleh tertawa mengejekdari Sin-bu Tekun.
Tertawa itu membangkitkan kemarahan Thian-leng. Serentak ia menyerang lagi
dengan pukulan dan pedang.
“Lima!” kembali terdengar Sin-bu Te-kun menghitung. Disusul lagi dengan seruan
berturut-turut, “Enam ! “…. “Tujuh ! “…….“Delapan ! “….Sembilan ! “…..Sepuluh ! “
Thian“-leng seperti orang kalap. Tinju dan pedang dilancarkan sederas-derasnya.
Cepat sekali lima puluh jurus sudah berlangsung. Pukulannya memang sedahsyat
gunung rubuh, dan tebasan pedangnya segencar hujan mencurah. Namun Sin-bu
Te-kun yang bertubuh pendek kurus itu tetap seperti bayangan saja. Jelas
tampaknya ujung pedang sudah menusuk kena, tetapi entah bagaimana tiba-tiba
meleset lagi ke samping. Kedua kaki momok itu seolah-olah berakar di tanah !
Thian-leng tersentak kaget demi mendengar Sin-bu te-kun menghitung sampai
lima puluh jurus. Serempak ia menghentikan serangannya. Kini jelas seperti
burung dara terbang di siang hari, bahwa ia akan kalah.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Separoh dari seratus jurus telah selesai, ternyata
harapanmu memang tipis sekali ! “
Thian-leng mengkal dan gusar sekali, gelisah dan gugup. Badannya terasa dijepit
oleh dua buah batu karang yang membuatnya tak dapat bicara lagi. Tiba-tiba ia
menyadari suatu kekeliruan. Serangan secara kilat memang hebat sekali. Tetapi ia
tak dapat melihat bagaimana cara lawan menghindarkan diri. Masih ada
kesempatan lima puluh jurus untuk mengganti siasat baru.
Keputusan itu dimulai dengan sebuah serangan perlahan menusuk ke dada
lawan. Bahkan kali ini tidak menurut tata cara ilmu pedang lagi. toh Sin-bu Te-kun
hanya membela diri dan tak boleh balas menyerang !
Perobahan siasat itu telah memberinya hasil seperti yang diharapkan. Pada saat
ujung pedang menuju ke dada, tampak tubuh Sin-bu Te-kun bergeliatan dan pada
saat itu mengeluarkan semacam tenaga lwekang lunak untuk mendorong ujung
pedang ke samping, sehingga pedang itu lewat di sisinya dan orangnya berkisar
ke samping!
Kini jelaslah bagi Thian-leng! Tadi karena ia menyerang secara cepat sehingga
tak mengetahui gerak lawan. Kiranya kini ketahuanlah bahwa Sin-bu Te-kun
bukan malaikat atau menggunakan ilmu sihir, melainkan menggunakan gerakan
tubuh dan tenaga lwekang juga. Hanya gerakan dan lwekang itu memang tepat
sekali digunakannya.
“Lima puluh satu…. “ seru Sin-bu Te-kun. “… Hai budak, kau sungguh cerdik ! “
Thian-leng seolah-olah tak mendengar pujiannya, seluruh perhatiannya terpesona
melihat keindahan jurus-jurus gerakan Sin-bu Te-kun yang luar biasa. Habis
menyerang, diam-diam Thian-leng mencatatnya dalam hati.
Selanjutnya menyeranglah ia dengan perlahan-lahan. Baik memukul maupun
menusukkan pedang, ia gunakan gerakan perlahan sekali. Begitu pula arah dan
bagian tubuh lawan yang diserang, selalu diganti-ganti. Dengan demikian
dapatlah ia mengetahui lebih banyak lagi tentang jurus-jurus Sin-bu te-kun yang
ajaib.
Thian-leng tak menghiraukan lagi bahwa berturut-turut Sin-bu Te-kun terus
menghitung dari lima puluh dua, limapuluh tiga , terus naik ….nalk… sehingga
menjadi jurus ke sembilan puluh….
Thian-leng seakan-akan mabuk dan lupa segalanya. Seluruh pikirannya
tertumpah mengikuti gerak-gerik Sin-bu Te kun yang aneh itu. Memang
demikianlah orang yang mempelajari ilmu silat. Apabila menyaksikan suatu ilmu
silat baru yang luar biasa anehnya, tentu akan tertarik perhatiannya. Dan Thianleng pun seperti orang yang kena sihir! Ia lupa bahwa sepuluh jurus lagi akan
selesailah pertandingan itu dengan membawa kekalahan baginya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan lantang di tengah udara, “Budak tolol, masih
tak berhenti?”
Sesosok bayangan kuning melesat dan tahu-tahu muncullah seorang dara yang
cantik sekali. Kemunculannya yang begitu mendadak dan cepat itu bukan saja
mengejutkan Thian-leng, juga Sin-bu te-kun tercengang. Bagi Thian-leng
merupakan suatu keuntungan karena saat itu tersadarlah ia dari pesonanya. Ia
gelagapan. Ya, sepuluh jurus lagi dan ia harus bunuh diri karena menderita
kekalahan!
Dipandangnya dara itu, amboi……. itulah dara yang dijumpainya di biara tempo
hari. Ya, si dara baju kuning yang angkuh dan menjengkelkan! Dan serempak
dengan itu, teringatlah Thian-leng pada wanita sakti Toan-jong-jin. Kemanakah
gerangan perginya wanita itu. Mengapa sampai sekian lama tak juga wanita itu
unjuk diri?
Tiba-tiba ia berpaling ke arah gerombolan pohon. Ah, gerombol itu sunyi senyap
saja. Hanya ada dua kemungkinan, Toan-jong-jin masih bersembunyi di situ tapi
tak berani bergerak atau memang sudah pergi.
Si dara melirik Thian-leng dan tersenyum tawa.
“Bagus, dalam satu malam ini rupanya banyak tamu berkunjung. Entah bagaimana
harus…. “tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa. “Apakah kalian datang bersama?" tibatiba ia memebentak.
“Hm, siapa kenal padanya? Siapa datang bersamanya?” dengus dara itu.
Mendengar itu Thian-leng kerutkan alis. Ia mendongkol dengan sikap acuh tak
acuh dara angkuh itu, namun diam-diam ia berterima kasih juga. Karena
kemunculan dara itu telah membuatnya menyadari kenyataan yang dihadapi saat
itu.
“Namamu?” seru Sin-bu Te-kun pula.
“Lu Bu-song ! “ sahut si dara.
Sin-bu Te-kun kedipkan mata, serunya tersekat, “Lu Bu-song ?.... Kau ini…. “
“Kalau tak dapat mengingat, baik tutup saja mulutmu ! “ lengking si dara.
Sin-bu Te-kun tersenyum, “Tetapi dari gerakan-gerakanmu datang kemari, tentulah
kau seorang yang mempunyai nama besar juga, mungkin…. “ Sin-bu Te-kun
sengaja tak mau melanjutkan kata-katanya dan segera mengganti dengan
pertanyaan, “Katakan maksud kedatanganmu ! “
“Untuk menelanjangi akal bulusmu ! “ seru si dara.
Sin-bu Te-kun marah, “Aku selalu bertindak dengan terang-teranga, mengapa….“
Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena terputus oleh ketawa Lu Bu-song
yang nyaring dan panjang.
“Apa yang kau tertawakan ? “ tegur Sin-bu Te-kun.
Lu Bu-song berhenti tertawa dan menyahut, “Katakan saja apa rencanamu
terhadap dirinya. ? “ Di kala mengucapkan kata-kata terakhir si dara kembali
melirik ke arah Thian-leng. Setelah itu cepat-cepat berpaling ke muka lagi.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Apakah kau dengan dia…… ? “
“Aku hanya membicarakan persoalan, jangan banyak bicara yang tak berguna ! “
bentak si dara.
Sin-bu Te-kun tertawa, “Dia berani masuk ke Sin-bu-kiong dan membunuh
belasan penjaga. Menurut peraturan Sin-bu-kiong, harus dijatuhi hukuman mati.
Tetapi aku justru membebaskannya dari hukuman itu dan melainkan mengajaknya
taruhan bertanding dalam seratus jurus. Itulah suatu kemurahan besar….“
Bu-song cebikan bibirnya, “Ucapan yang indah merdu, sayang keluar dari
mulutmu ! Kecuali budak goblok itu, siapapun tentu tak percaya ! “
Thian-leng mendelik, mukanya merah padam.
“Menurutmu, bagaimanakah muslihatku itu ? “ Sin-bu Te-kun berseru marah.
Tangkas sekali dara baju kuning itu menjawab. ”Sebelumnya kau sudah
mengetahui sampai di mana tingkat kepandaiannya. Meskipun kuat, tapi tidak
dahsyat. Meskipun aneh, tapi tidak sempurna. Dengan kepandaianmu, terang kau
dapat mengalahkannya dalam seratus jurus. itulah maka kau lantas pura-pura jual
kemurahan hati.”
“Aku dapat membunuhnya dengan seketika, perlu apa harus mengatur tipu
muslihat!”
“Justru di situlah letak rahasia muslihatmu!”
“Jelaskan!”
“Untuk menundukkan orang, harus menundukkan hatinya. Sekalipun kau tak dapat
menundukkan hatinya, tapi kau akan membuatnya menyerah tanpa syarat, karena
kau tahu dia tentu tak mau ingkar janji, seorang yang keras hati….”
“Aku tak mengerti omonganmu!”
“Melakukan sumpah, mengadakan pertandingan seratus jurus. Ya, entah apa saja
yang kau usulkan dia tentu menerima, karena dia tak mau menjilat ludahnya.
Apalagi selama pertandingan seratus jurus itu berlangsung, sengaja kau memberi
pelajaran, sehingga dia makin jinak dalam cengkeramanmu ! ”
”Perlu apa aku membutuhkannya?”
“Bakat bagus, sukar dicari. Mungkin kau hendak mengambilnya sebagai murid
untuk menjadi pewarismu!”
Tiba-tiba Sin-bu te-kun tertawa keras. Lama kumandangnya bergema di seluruh
istana.
“Salahkah bicaraku?” tegur Bu-song.
”Benar…….benar….” tiba-tiba Sin-bu Te-kun berhenti tertawa dan maju selangkah,
kemudian tertawa sinis, “kecerdasanmu menggembirakan hatiku. Akupun ingin
sekalian memungutmu menjadi putri angkat!”
“Tak sudi!” dengus si dara.
Wajah Sin-bu Te-kun membesi seketika, serunya bengis. ”Apa yang kuhendaki
harus tercapai, kalau tidak, lebih baik kuhancurkan saja. Membiarkan seorang
seperti kau hidup di dunia, berarti menanam bahaya di kemudian hari. Jika kau tak
mau menjadi anak pungutku, lebih baik kuhancur-leburkan tubuhmu saja ! ”
”Masakah kau berani!” lengking Bu-song.
”Masakah kau mampu bertanding dengan aku?” Sin-bu Te-kun marah.
Bu-song tertawa hina, ”Mungkin aku tak menang, tetapi sekalipun bisa menang,
akupun tak sudi mengotorkan tangan bertanding dengan manusia semacam
kau…… ” sejenak ia kedipkan mata, serunya pula, ”Barangkali kau lupa namaku!”
Sin-bu Te-kun terkesiap, ujarnya, “Tidak, aku tak lupa, tetapi karena kau berani
masuk ke istanaku, kalau kubunuhpun kakekmu yang tersayang itu juga tak dapat
berbuat apa-apa terhadap aku…!”
Lu Bu-song tetap tertawa hina, “Kakekku seorang memang tak perlu kau takuti.
Tetapi beliau adalah ketua dari sebuah perkumpulan besar. Dan saat ini beliau
mengajak rombongan tokoh-tokoh sakti masuk ke Tionggoan. Mungkin dalam
waktu yang singkat akan menyelenggarakan suatu Eng-hiong-tay-hwee
( pertemuan besar para orang gagah), untuk menguji kepandaian dengan jagojago persilatan dari daerah Tionggoan. Nah, hal itu besar sekali pengaruhnya
terhadap kewibawaanmu.
Menjadi musuh atau menjadi kawan, tergantung pada tindakanmu……” – ia
berhenti sejenak, lalu berkata pula. “ Jika berhasil mendapat dukungan partai
Thiat-hiat-bun, tentu mudah sekali hendak menguasai dunia persilatan Tionggoan. Namun jika menempatkan Thiat-hiat-bun sebagai musuh, mungkin namamu
akan hancur di dalam sampah. Paling tidak kedua-duanya tentu sama menderita
kerugian besar!”
Thian-leng tergetar hatinya. Kini baru ia tersadar kalau hampir saja masuk ke
dalam perangkap Sin-bu Te-kun. Jika ia melaksanakan keputusannya untuk
bunuh diri, bukankah akan sia-sia saja pengorbanannya itu?
Dan kini tahu juga ia bahwa orang tua jenggot perak yang menjadi ketua partai
Thiat-hiat-bun itu ternyata kakek si dara baju kuning. Eh, mengapa dara itu juga
menyelundup ke Sin-bu-kiong? Ia mempunyai rencana sendiri atau memang
hanya hendak menolongnya?
Mengapa? Ya, Mengapa? Apakah dara itu……..?
Dan yang paling meresahkan hatinya ialah, bahwa penyaluran lwekang 18 tahun
dari Oh-se Gong-mo dan ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam dari wanita Toan-jongjin, ternyata tak dapat mengapa-apakan Sin-bu Te-kun. Taruh kata nanti ia dapat
keluar dari Sin-bu-kiong, tetapi cita-citanya untuk melakukan pembalasan akan
kabur selama-lamanya.
Tampak Sin-bu Te-kun mengerutkan alisnya, merenungkan ucapan si dara.
Beberapa jenak kemudian tiba-tiba ia tertawa sinis, “ Ha, budak perempuan,
meskipun otakmu cerdas sekali, bicaramu sangat tajam, tetapi kali ini kau salah
hitung!”
“Salah hitung!?” Bu-song terkesiap.
Sin-bu Te-kun tertawa keras, “Kakekmu itu menyayangi dirimu melebihi jiwanya
sendiri. Segala permintaanmu tentu dituruti!”
“Boleh dikata begitulah!” sahut Bu-song.
Sin-bu te-kun makin gembira, “Kalau begitu akupun tak mau membunuh, tetapi
juga tak akan melepaskanmu. Hendak kukurung kau dalam istanaku sini….”
Bu-song tersentak kaget. Memang ia tak memperhitungkan kemungkinan itu.
Melihat perubahan wajah si dara, tertawalah Sin-bu te-kun, “Dengan barang
tanggungan dirimu, masakah kukuatir kakekmu takkan menurut perintahku!”
Sejenak saja mengedipkan mata, Bu-song sudah mendapat ketenangannya lagi,
serunya tawar, “Jika kemungkinan itu aku tak dapat memperhitungkan, aku benarbenar seorang goblok!”
“Andaikata dapat memikirkan, pun apa gunanya. Asal kau terkurung dalam istana
ini, sekalipun kakekmu mempunyai tiga kepala dan enam lengan, juga tentu
takkan berani main-main mempertaruhkan jiwamu !” Sin-bu Te-kun tertawa sinis.
”Untuk menghadapi kemungkinan itu, aku telah mengatur persiapan!” dengus Busong.
Sin-bu Te-kun tertegun, serunya, ”Coba katakanlah ! ”
Senaknya saja Bu-song berkata, “Pertama, jika kau berani menyerang aku,
akupun segera memberikankan tanda…..”
“Begitu kakekmu tiba, kau sudah menjadi tawananku!” Sin-bu Te-kun tertawa.
”Tentulah kau kenal pada Thiat-hiat Su-kiat dari Thiat-hiat-bun? ” seru Bu-song.
Thiat-hiat Su-kiat artinya Empat tokoh gagah dari partai Thiat-hiat.
”Kalau tahu lalu bagaimana ? ” jawab Sin-bu Te-kun.
”Sedang aku yang masuk ke sini orang-orangmu tak mengetahui, apalagi Thia-hiat
Su-kiat yang jauh lebih lihay dari aku, mungkin…..”
Kali ini Sin-bu Te-kun terbeliak, serunya, ”Kau maksudkan…. ”
”Thia-hiat Su-kiat datang bersama aku. Mereka menjaga keselamatanku secara
diam-diam. Asal kau berani bertindak, merekapun tentu akan turun tangan!”
“Hm, Thiat-hiat Su-kiat mau menggertak aku?” tukas Sin-bu Te-kun.
”Mungkin tidak mampu. Tetapi sekurang-kurangnya mereka tentu melibat kau
dalam pertempuran seru mengobrak-abrik istanamu. Selain itu……. ” sejenak Busong kerlingkan ekor mata, katanya pula, ”Kakekku akan memimpin rombongan
tiga puluh enam Thian-kong dari tujuh puluh dua Te-sat ( nama-nama tingkatan
tokoh-tokoh dalam Thiat-hiat-bun ) untuk mengurung istana Sin-bu-kiong.
Begitu di dalam istana timbul gerakan, mereka tentu segera menerjang masuk.
Siapa tahu istanamu ini akan diratakan, paling tidak tentu akan menghabiskan
waktu bertahun-tahun untuk membangunnya lagi. Dan kemungkinan juga akan
meludaskan jiwamu sekali…”
Tampaknya Sin-bu Te-kun percaya akan ancaman si dara. Hatinya gelisah.
Mengingat bahwa kedua anak muda itu toh mampu menyelundup dari penjagaan
Sin-bu-kiong, Sin-bu Te-kun jengkel dan marah. Namun sebagai rase tua yang
berpengalaman, ia tak mau menunjukkan kegentarannya. Segera ia berpaling dan
berseru kepada Thian-leng, ”Pertandingan kita tadi, masih kurang sepuluh jurus.
Ayo, lekas selesaikan, karena aku hendak segera membereskan budak
perempuan itu….”
Sin-bu Te-kun melangkah ke dalam lingkaran dan tegak menunggu serangan. Hal
itu menggelisahkan Thian-leng. Ia sudah melakukan sumpah dan menyatakan
janji. Tak dapat ia menarik omongan lagi. Apalagi pertandingan sudah berjalan
sembilan puluh jurus. Tetapi jika melanjutkan pertandingan, hasilnya sudah jelas.
Thian-leng seperti limbung, namun ia tetap maju menghampiri dan siap
menyerang Sin-bu Te-kun lagi.
Bu-song mengikuti gerak-gerik pemuda itu. Setelah Thian-leng hendak
menyerang, barulah ia berteriak, “Bu-beng-jin, apakah kau sungguh hendak jadi
budaknya seumur hidup!”
Thian-leng tertegun serunya, “Janji sudah diucapkan, laksana kuda terlepas dari
kendali. Bagaimana akibatnya, bukan soal. Aku hanya hendak melaksanakan
janji!”
Bu-song mendengus, “Goblok, apakah kau tak dapat tak melanjutkan
pertandingan itu?”
“Ini…. ini….” kening Thian-leng mengerut.
Sin-bu Te-kun tertawa hina, “Hm, menolak melanjutkan pertandingan berarti ingkar
janji.”
“Sebagai putra persilatan, sudah tentu dia tak mau ingkar janji menolak
pertandingan!” sahut Bu-song.
”Habis mengapa kau banyak mulut!” bentak Sin-bu Te-kun.
Bu-song tertawa dingin, ”Aku hanya menganggap dia goblok sekali. Toh bisa saja
dia minta pertandingan itu diundur!”
Thian-leng seperti orang tersadar dari mimpinya. Cepat ia menanggapi, “Benar, di
dalam perjanjian tak disebut bahwa pertandingan itu harus selesai dalam saat itu
juga. Maka sisa sepuluh jurus, lain hari saja kita lanjutkan. Tuanmu hendak pergi
dulu!”
Jenggot kambing Sin-bu Te-kun menjengit , bentaknya, “Ngaco…..!” jubahnya
mengembung, darahnya memancar keras. Ia marah sekali dan hendak
menghantam Thian-leng.
“Eh, kau mau naik pitam ? Lupa malu mau menyerang ? ” Bu-song menertawakan.
Gemetar tubuh Sin-bu Te-kun karena marahnya. ” Ya, aku tak peduli bagaimana
akibatnya, malam ini aku hendak membunuhmu budak !” Habis berkata segera ia
mengangkat lengannya.
”Hai, jika urusan kecil tak dapat menahan hati, urusan besar tentu kapiran. Apakah
kau benar-benar mau turun tangan tanpa pertimbangan lagi?”
Wajah Sin-bu Te-kun berobah seketika. Ia termangu-mangu.
Tiba-tiba terdengar tiga kali lengking genta bertalu. Seketika berserilah wajah Busong, serunya, “Nah, itulah kakekku sudah datang.”
Seketika alis Sin-bu Te-kun mengerut cekung. Dengan mata berapi dibakar
kemarahan dan kebencian dipandangnya si dara. Habis itu tanpa berkata apaapa, ia terus melesat pergi.
Rupanya tiga kali lengking genta tadi merupakan pertandaan penting. Maka tanpa
menghiraukan kedua anak muda itu, Sin-bu te-kun segera meninggalkan mereka.
Dengan muka tersipu-sipu malu, Thian-leng segera menghaturkan terima kasih,
”Terima kasih, nona….”
ooo0000ooo
Si dara merah
Pipi Bu-song bersemu merah. Diliriknya pemuda itu dengan setengah menyesali,
“Aku hanya secara kebetulan saja lewat di sini. Sekali-kali bukan sengaja datang
untuk menolongmu...” tiba-tiba ia hentikan kata-katanya. Ia merasa makin memberi
penjelasan makin ketahuan kalau ia memang datang memberi pertolongan.
Sebenarnya Thian-leng tak menaruh perhatian akan hal itu. Kini ia memandang ke
arah gerumbul pohon tempat ia bersembunyi tadi. Cepat ia lari menghampiri. Ah,
ternyata Toan-jong-jin tak berada di situ.
“Siapa yang kau cari?” tegur Bu-song.
”Tidak apa-apa…… eh kalau nona datang bersama rombongan, mengapa ………”
Cepat Bu-song gunakan ilmu menyusup suara menukasnya, “Apa yang kukatakan
tadi hanya gertakan kosong saja. Thia-hiat Su-kiat dan kakekku tidak tahu
kepergianku!”
Thian-leng kerutkan dahinya, “Mengapa nona menempuh tempat yang berbahaya
ini. Andaikan terjadi sesuatu…”
“Aku menuruti kesukaan hatiku, apa pedulimu!” Bu-song tertawa.
Thian-leng tertegun. Dara itu memang centil sekali, pintar mendamprat orang.
Ujarnya, “Kalau begitu, momok itu tentu akan kemari lagi, lebih baik nona lekas
tinggalkan tempat ini. Aku sudah terlanjur masuk ke sarang hantu, tak mau kupergi
tanpa hasil. Sekurang-kurangnya hendak kutemui Te-it Ong-hui itu!”
Bu-song tertawa dingin, “Kalau kau tak pergi, perlu apa mengusir aku….” tiba-tiba
ia merasa kelepasan omong lagi, mukanya merah. Diam-diam ia jengkel terhadap
dirinya sendiri. Ia seorang dara yang centil, tetapi mengapa selalu limbung
terhadap pemuda itu.
Syukur Thian-leng tak mengetahui hal itu. Ia mengerutkan sepasang alisnya, “Aku
memikirkan kepentingan nona, karena kakek nona…”
Hampir Bu-song tak dapat menahan gelinya.
Jika tadi ia terlambat datang menelanjangi muslihat Sin-bu Te-kun, mungkin
pemuda itu sudah menjadi seorang budak belian yang terbelenggu
kemerdekaannya.
“Sekalipun aku dapat menerobos penjagaan Sin-bu-kiong yang kuat, tetapi untuk
keluar tidaklah semudah itu. Dikuatirkan momok itu sudah menyiapkan jagojagonya untuk menutup semua jalan keluar!”
“Maksud nona, apakah……?” Thian-leng mengerutkan kening.
“Lebih baik kutemui Te-it Ong-hui juga, mari kita bersama-sama mencarinya!”
dengus Bu-song.
Thian-leng cukup kenal perangai si dara. Terpaksa ia menuruti saja. Tetapi baru
beberapa langkah, kembali ia bersangsi. Gerumbul pohon cemara yang lebat dan
gedung yang pintunya tertutup rapat itu, menurut Toan-jong-jin bukanlah wisma
Ing-jun-wan, tetapi sebuah tempat yang berbahaya sekali. Thian-leng hentikan
langkah, berdiri terlongong-longong!
“Bah, goblok, bagaimana kau?” Bu-song tak dapat menahan tertawanya lagi.
Sebenarnya jengkel juga Thian-leng selalu dimaki goblok itu. Namun karena
mengingat budi terpaksa ia menahan sabar. Ujarnya, “Aku hendak mencari tempat
kediaman Te-it Ong-hui, tetapi tak tahu yang mana!”
“Gedung dalam istana Sin-bu-kiong tak terhitung jumlahnya. Kamarnya ribuan
buah. Sudah tentu sukar mencarinya, apalagi para penjaganya tentu tak akan
membiarkan kau mencari satu persatu.”
“Kalau demikian, bukankah…..”
“Mumpung Sin-bu Te-kun menyambut tamu di luar, kita berusaha menerobos.
Kalau tidak tentu sukar meloloskan diri!”
Thian-leng gelengkan kepala, “Sudah terlanjur masuk ke sini, tak dapat aku pergi
dengan begitu saja!” Thian-leng mengucapkan kata-katanya dan lantas
melangkah ke muka.
Bu-song deliki mata dan menggeram.
Jilid 6 .
Namun terpaksa ia mengikuti juga. Mereka berjalan di sebuah lorong, tetapi belum
setombak jauhnya, empat orang yang berjubah ungu menghalang dengan
bentakan bengis.
Thian-leng mencekal pedang erat-erat, bentaknya, “Tahukah kau di mana wisma
Ing-jun- wan?”
Salah seorang baju ungu itu tertawa hina, “ Kami mendapat tugas untuk menjaga
tempat ini. Sebelum Te-kun kembali, kalian tidak boleh pergi!”
“Eh, kalian hendak mencari mati?” Thian-leng berseru gusar. Ia kibatkan
pedangnya, seketika berhamburanlah segulung sinar dingin.
Keempat penghadang itu memelihara jenggot putih yang menjulai ke dada.
Matanya bersinar tajam. Baik usia dan dandanannya serupa dengan Ni Jin-hiong.
Tiba-tiba mereka mencabut pedang. Gerakannya serempak dan tangkas sekali
sehingga Thian-leng terkesiap.
Saat itu Bu-songpun tiba dengan dampratannya, “Goblok, mengapa tertegun…” ia
taburkan tangannya, serunya, “Keadaan sudah mendesak, mengapa tak
menempur?”
Keempat pengawal baju ungu itu agak terkejut ketika diri mereka tertusuk jarum
kepala burung Hong ( Hong-thau-kiong) . Mereka mundur selangkah. Tetapi jarum
itu tidak beracun dan tidak mengenai jalan darah penting. Apalagi mereka
berempat berkepandaian tinggi, dengan serentak jarum itu dicabutnya.
Sekalipun begitu, ilmu menebar jarum dari si dara cukup menggetarkan hati
mereka. Saat itu Thian-lengpun tak mau berayal lagi. Ilmu pedang toh-beng-samkiam dan pukulan Lui-hwe-sin-ciang, segera dilancarkan dengan gencar !
Ilmu pedang ke empat pengawal baju ungu itu hebat juga. Apalagi mereka maju
bersama, selang beberapa jurus, pertandingan tetap berimbang.
Bu-song marah bukan kepalang, dengan melengking nyaring ia menyerang
dengan pedangnya. Seketika berobahlah jalannya pertempuran. Terdengar jeritan
dari seorang pengawal baju ungu yang terpapas kutung sebelah tangannya!
Mendapat angin, thian-leng menggerung dan melepaskan tiga buah pukulan dan
lima kali tebasan. Dengan bantuan Bu-song, sekejap saja mereka dapat
mendesak mundur ketiga lawannya.
“Lekas lari!” seru Bu-song seraya menerobos keluar. Tetapi baru beberapa
langkah, ia sudah didampar oleh tenaga dahsyat dan bentakan keras, sehingga
kepalanya pusing. Hampir saja dara itu tak dapat mempertahankan keseimbangan
dirinya.
Thian-leng yang menyusul tiba terkejut sekali. Ternyata yang menghadang kali ini
adalah Ni Jin-hiong. Di Belakangnya tegak belasan anak buahnya dalam seragam
warna ungu. Jelas mereka itu ialah rombongan jago-jago kelas satu dalam istana
Sin-bu-kiong.
“Hm, apakah kalian hendak menghadang kami?” bentak Bu-song.
“Bukan hanya menghadang, tapi hendak mencincang kalian berdua…” sahut Ni
Jin-jiong dengan bengis. Kemudian ia memebri perintah kepada anak buahnya,
”Tangkap kedua budak itu hidup atau mati!”
Belasan jago-jago kelas satu itu mengiyakan. Serempak mereka menyerang.
Thian-leng cepat menyrang Ni Jin-hiong. Karena pernah menderita kerugian
menghadapi ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam maka Ni Jin-hiong bertempur
dengan hati-hati sekali, maka dapatlah Thian-leng mendesaknya mundur. Sambil
menarik pulang serangan, Thian-leng berseru pada Bu-song dengan ilmu
menyusup suara, “Harap nona lekas lolos, biarlah aku yang menghadapi urusan di
sini….”
“Goblok! Jangan banyak bicara kosong, curahkan perhatianmu sepenuhnya untuk
menghadapi musuh!” tukas Bu-song juga dengan ilmu menyusup suara.
Thian-leng mengerutkan keningnya. Ia bertempur lagi dengan seru. Belasan jagojago baju ungu itupun cepat menerjang. Kepandaian mereka memang hebat,
apalagi jumlahnya banyak. Bu-song terkurung dan Thian-leng pun sibuk sekali.
Bu-song menggunakan taktik, sambil memainkan pedang, tangan kirinya tak hentihentinya menaburkan jarum Hong-thau-kiong. Setiap batang jarum tentu
mendapat hasil, tetapi karena jarum itu tak beracun dan hanya dapat menimbulkan
luka kecil, maka belasan jago baju ungu itupun tidak menderita apa-apa. Mereka
tetap melancarkan serangan bertubi-tubi. Tak berapa lama, jalannya
pertempuranpun berubah lagi.
Ilmu pedang Bu-song tak sehebat ilmu pedang Thian-leng. Jarum Hong-thaukiong pun telah dipakai habis. Berhadapan dengan Ni Jin-hiong saja, Thian-leng
sudah payah, apalagi menghadapi serangan serempak dari belasan jago-jago
lihay. Sudah tentu makin payah lagi. Kedua anak muda itu berada dalam keadaan
berbahaya, sewaktu-waktu tentu akan celaka.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melayang tiba. Ketika masih
berada di udara, orang itu menaburkan senjata rahasia. Seketika dua orang baju
ungu terjungkal rubuh. Tiga orang lagi menderita luka parah dan terhuyunghuyung beberapa langkah ke belakang, lalu jatuh terduduk di tanah!
Hebat sekali. Rombongan pengawal baju ungu itu adalah jago-jago kelas satu
dalam istana Sin-bu-kiong, bahwa sekali muncul, pendatang tak dikenal itu dapat
merubuhkan lima orang baju ungu sungguh mengejutkan sekali. Ni Jin-hiong
menjadi pucat dan terpaksa ia mundur serta menghentikan serangannnya.
Ketika pendatang itu sudah melayang tiba di tanah , sekalian orang semakin
terbeliak kaget. Bukan dewa bukan lelaki gagah perkasa, melainkan hanya
seorang dara yang cantik jelita, segar meriah dalam pakaian merah menyala.
Thian-leng terbelalak matanya. Ia seperti pernah melihat dara itu tapi entah di
mana.
“Hai, siapa kau budak,” teriak Ni Jin-hiong, “kau berani mengganas dalam istana
Sin-bu-kiong? Hm, tidakkah kau mengetahui bahwa istana ini mudah dimasuki tapi
sukar keluarnya?”
Si dara merah itu tertawa hina, “Kalau berani masuk tentu berani keluar!”
” Tetapi Sin-bu-kiong toh tak bermusuhan padamu, mengapa kau menggunakan
senjata rahasia mengganas anak buah kami ? ”
Secepat kilat dara merah itu mencuri lirik ke arah Thian-leng dan Bu-song, lalu
tertawa dingin, ” Senjata rahasia milikku itu tanggung tak beracun, tetapi dapat
menembus ke jantung dan menyebabkan orang mati seketika ! ”
Ni Jin-hiong menggertek gigi, ” Kalau tak dapat mencincang tubuhmu, aku segera
akan bunuh diri di tempat ini !”
”Ih, mungkin kau tak mempunyai kemampuan melakukan hal itu,” ejek si dara baju
merah. Tiba-tiba menaburkan senjata rahasia jarum. Tetapi Ni Jin-hiong sudah
siap. Ia mengerahkan lwekang untuk menutup seluruh jalan darahnya.
Tring … tring… terdengar dering jarum terbentur benda keras dan jatuh
berhamburan ke tanah.
Si dara baju merah terbeliak kaget. Ia tak mengira bahwa kepala pengawal Sin-bukiong memiliki ilmu Thiat-poh-san ( ilmu baju besi) yang tak tembus jarum Tuihong-kiong.
Selagi dara itu masih terkesima, tiba-tiba Ni Jin-hiong menerkam dengan jurus Jiphay-kin-kau (masuk ke laut menangkap naga ). Marah sekali kepala pengawal Sinbu-kiong itu , maka serangannyapun dilakukan dengan cepat dan dahsyat sekali.
Tiba-tiba terdengar lengking bentakan, ”Berhenti!” Menyusul sesosok tubuh
langsing melayang di udara.
Ketika orang itu tiba di tanah, kembali sekalian orang terbeliak matanya…..
Ternyata yang muncul itu ialah Te-it-ong-hui Hong-ing sendiri, diikuti oleh keempat
dayangnya. Ni Jin-hiong dan belasan pengawal baju ungu itu segera
menghaturkan hormatnya.
“Sudahlah, jangan banyak peradatan!” Ma Hong-ing melambaikan tangannya.
Ni Jin-hiong segera menggunakan ilmu menyusup suara, “Adik Ing, mengapa kau
tak tahu gelagat? Mengapa kau mencampuri urusan ini. Kalau Te-kun sampai
mengetahui hubungan kita berdua….”
Sahut Ma Hong-ing juga dengan ilmu menyusup suara, ” Lain-lainnya boleh kau
bunuh, tetapi dara baju merah ini jangan kau apa-apakan! ”
” Wanita selalu lemah hati! Apakah kau tak takut membuat kapiran urusan besar?”
masih Ni Jin-hiong menyanggah.
“Ni cong-houhwat!” bentak Ma Hong-ing dengan suara biasa. Tidak lagi
menggunakan ilmu menyusup suara.
Sekalipun marah sekali, namun di hadapan para pengawal baju ungu terpaksa Ni
Jin-hiong berlaku hormat kepada ‘permaisuri’ ini. Buru-buru ia mengiyakan.
“Dara baju merah itu hendak kubawa pergi….” Ma Hong-ing menuding pada
Thian-leng dan Bu-song. “Mereka berdua terserah padamu hendak mengurusnya.
Lain-lainnya harus segera melapor kepada Te-kun.!”
“Baik, hamba segera mengerjakan!” Ni Jin-hiong mengiyakan. Kemudian ia
menggunakan ilmu menyusup suara, “Hong-ing, kau gila! Jika Te-kun menyelidiki,
bagaimana kau hendak menjawab. Jangan karena urusan kecil membikin kapiran
urusan besar. Ada hubungan apa kau dengan budak perempuan ini hingga kau
hendak melindunginya!”
Ma hong-ing pun menyahut dengan ilmu suara, “Lain-lain urusan memang aku
boleh berunding dengan kau. Tetapi urusan ini, janganlah kau bertanya. Jika takut
urusan kita ketahuan Te-kun, bunuh saja budak laki itu. Lebih baik kalau dapat
menemukan jejak kedua taci beradik Ki….. Entah bagaimana akibatnya, sekalipun
harus mempertaruhkan jiwa di hadapan Te-kun, tetap aku harus menolong anak
peremouan ini!”
Habis itu segera ia memberi anggukan kepada si dara baju merah,” Ikutlah aku!”
“Kemana?” si dara baju merah tertawa dingin.
Ma Hong-ing tertegun. Buru-buru ia gunakan ilmu menyusup suara, “Hendak
kutolong jiwamu dan mengantarkan engkau keluar dari istana ini! Lekas!”
Sudah tentu dara baju merah itu tertegun. Heran ia mengapa Te-it-ong-hui ini
begitu baik hati kepadanya. Setelah merenung sejenak, segera ia memaberi
isyarat mata kepada Thian-leng, serunya, “Mengapa tak ikut!”
Karena ingin bicara berdua dengan Ma Hong-ing untuk meminta penjelasan
tentang asal-usul dirinya, maka Thian-lengpun segera meloncat mengikuti. Lu Busong juga segera menyusul. Tetapi secepat itu Ni Jin-hiong dan rombongan
pengawal segera menghadang, “Tinggalkan jiwamu!”
Ni Jin-hiong memelopori. Ia mencengkeram dengan ke sepuluh jarinya. Thianleng cepat menyabet siku lengannya. Karena gentar akan ilmu pedang si anak
muda, Ni Jin-hiong menarik kembali cengkeramannya dan berganti menusuk
dengan sebuah jarinya. Seketika itu dada Thian-leng seperti dilanda lwekang
yang berat. Cepat-cepat ia menagkisnya dengan pukulan Lui-hwe-sin-ciang.
Terjadi suatu benturan antara lwekang keras dan lwekang lunak. terdengar
semacam suara mendesis, kedua macam lwekang itu hampir buyar kekuatannya.
Thian-leng masih merasakan tubuhnya seperti terserap lwekang dingin sehingga
ia menggigil dan terpaksa mundur selangkah.
Kedua pihak bergerak cepat sekali. Dua jurus serangan hanya berlangsung dlam
sekejap mata saja. Celakanya, ketika Thian-leng terhuyung mundur, belasan
pengawal baju ungu itupun segera mengepungnya.
Di lain pihak Lu Bu-song pun mendapat rintangan berat. Ia mainkan pedangnya
dan berhasil mendesak dua pengawal baju ungu. Berbareng itu si dara berbalik
dan menaburkan serangkum jarum Tui-hong-kiong ke arah Ni Jin-hiong. Saat itu
Ni Jin-hiong tengah memusatkan perhatiannyauntuk membinasakan Thian-leng.
Serangan jarum dari belakang oleh si dara baju merah itu membuatnya sedikit
lambat menangkis. Apalagi jarum si dara baju merah itu memang tak
mengeluarkan suara. Betapapun Ni Jin-hiong berusaha hendak menghindar,
namun tak urung pahanya tertusuk juga. Sebatang jarum telah menembus
pahanya. Sakitnya bukan kepalang. Karena marahnya ia berkaok-kaok seperti
kerbau. Dengan berputar tubuh, cepat ia menyerang si dara baju merah. Kacaulah
jalannya pertempuran, acak-acakan tak keruan.
“Berhenti!” tiba-tiba Te-it Ong-hui Ma Hong-ing membentak nyaring.
Belasan pengawal baju ungu meloncat mundur. Ni Jin-hiong pun terpaksa
mendengus dan mundur beberapa langkah.
“Apa kau sudah bosan hidup ? “ tatap Ma Hong-ing kepada si dara baju merah.
Dara itu tertawa ringan, “Belum tentu kalian dapat merenggut jiwaku!”
Ma Hong-ing membanting-banting kaki, “Ah, sungguh tak nyana, kaupun
menirukan perangainya……….sekalipun mempunyai tiga kepala enam lengan,
belum tentu kau dapat keluar dari istana Sin-bu-kiong!”
Dara baju merah itu mengerutkan alisnya keheranan….Bukan saja tingkah laku
Ma Hong-ing itu tak wajar, tetapi ucapannya….’tak nyana kaupun menirukan
perangainya’…. makin membuatnya tak mengerti. Siapakah perempuan yang
dimaksudkan dengan ‘nya’ itu? Dan perlu apa ia harus mengucapkan kata-kata
semacam itu?
Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara genta bertalu. Ma Hong-ing tegang
wajahnya, buru-buru ia gunakan ilmu menyusup suara, “Budak perempuan, jika
kau ingin hidup, lebih baik iktu aku tinggalkan tempat ini. Begitu Te-kun datang
bersama anak buahnya, tentu sudah terlambat…..!
Kutanggung tentu dapat mengantarkan engkau keluar. Kalau kau masih
penasaran, di kemudian hari bolehlah kau kemari lagi ! “
Rupanya kali ini termakan dalam hari si dara baju merah. Sahutnya dengan ilmu
menyusup suara, “ Aku mau, tetapi pemuda she Kang itupun harus bersama-sama
diantar keluar! “
Berobahlah wajah Ma Hong-ing sesaat. Diam-diam ia menghela napas, “Keparat
apakah kau juga jatuh hati kepadanya…..” ia merenung sejenak, lalu cepat
menjawab, “Baik! Kuturuti permintaanmu!”
Wajah Ni Jin-hiong mengerut. Marah dan gelisah, mengkal dan cemas. Tetapi di
hadapan rombongan pengawal anak buahnya, tak mau ia mengunjukkan reaksi
apa-apa.
Rombongan baju ungu yang menjadi jago-jago kelas satu dalam istana Sin-bu-
kiong itupun tercengang heran. Mereka saling berpandangan. Mereka
menyaksikan sendiri keeratan hubungan Ong-hui dengan si dara baju merah.
Aneh, mengapa Ong-hui tak membunuhnya tetapi kebalikannya malah hendak
mengantarnya keluar? Hubungan apakah antara Ong-hui dengan dara itu?
Namun kedudukan Ong-hui dalam Sin-bu-kiong hanyalh di bawah Sin-bu Te-kun.
Wanita itu merupakan orang kedua yang berpengaruh. Walaupun pengawal baju
ungu itu tak keruan perasannya, namun mereka tak berani berbuat apa-apa.
“Serahkan ketiga budak itu kepadaku. Silakan kalian mundur semua!” tiba-tiba ma
Hong-ing berseru keras kepada Ni Jin-hiong.
Ni Jin-hiong gelagapan…..” Ini… hamba takut kepada Te-kun!” Buru-buru ia
gunakan ilmu menyusup suara mendamprat, ”Ma Hong-ing, apa kau benar-benar
sudah gila ? “
Wajah Ma Hong-ingpun menggelap beku, bentaknya,”Te-kun belum hadir, akulah
yang berkuasa. Apa kau berani membangkang perintah Ong-hui?” Tetapi secepat
itu juga ia segera menggunakan ilmu menyusup suara,”Barisan Bi-hun-tin di
belakang wisma Ing-jun-wan, cukup untuk menahan kedua budak laki perempuan
itu. Saat itu bolehlah kau menghancurkan mereka, aku tak perduli. Tetapi anak
perempuan baju merah ini harus kuantar keluar istana!”
Dengan mengerutkan gigi, terpaksa Ni Jin-hiong mengiyakan. Belasan pengawal
baju ungu itupun meloncat mundur dan menghilang dalam kegelapan.
“Kaupun mundur juga!” bentak Ma Hong-ing kepada Ni Jin-hiong. Lalu menyusuli
kata-katanya dengan ilmu menyusup suara, “Hendak kubawa mereka melalui
barisan Bi-hun-tin, pergilah kau mengatur persiapan dulu!”
“Harap Ong-hui berhati-hati, hamba mohon diri,” buru-buru Ni Jin-hiong memberi
hormat dan ngeloyor pergi.
Kini dalam halaman yang luas itu hanya tinggal empat orang saja. Tiba-tiba thianleng melangkah menghampiri Ma Hong-ing.
“Mah….!” serunya lirih.
Ma Hong-ing terbeliak. Bu-song dan si dara baju merahpun terkesiap kaget! Tetapi
pada lain saat wajah Ma hong-ing pun membeku! “Tentulah kau sudah tahu
bahwa aku bukan ibu kandungmu!”
Thian-leng mengakui Ma Hong-ing sebagai ibunya karena percaya akan
keterangn wanita sakti Toan-jong-jin. Tetapi sikap Ma Hong-ing yang sedemikian
dingin membuatnya ngeri. Cepat-cepat Thian-leng menyusuli kata-katanya pula,
“Kutahu kau adalah ibu kandungku. Sekarang aku ingin tahu siapa ayahku dan
sebab apa kau menetap di istana Sin-bu-kiong menjadi istri Sin-bu Te-kun,
mengapa….?”
“Aku tak butuh membohongimu! Aku tak butuh anak semacam engkau! Aku ingin
mencacah-cacah tubuhmu agar puas penasaran hatiku!”
Hati Thian-leng seperti disayat-sayat. Dia tak berdaya mengetahui hal yang
sebenarnya. Dan sesaat timbullah kesangsiannya akan ucapan wanita Toan-jongjin. Menilik sikap Ma Hong-ing itu tak menyerupai seorang ibu kandung.
“Kasih tahu aku hal yang sebenarnya!” teriak nya kalap.
Namun Ma Hong-ing hanya tertawa sinis, “Biarlah kau merasakan siksaan batin
begitu. Selamanya tak sudi aku memberitahukan kepadamu!”
Thian-leng mengertek gigi, “Tetapi aku sudah mendengar dari seseorang!”
“Siapa?” Ma Hong-ing terbeliak.
“Toan-jong-jin!” sahut thian-leng. Ia tertegun. Tak tahu ia siapa nama sebenarnya
dari wanita sakti yang menggunakan nama samaran Toan-jong-jin atau si Patah
hati itu.
“Toan-jong-jin….” Ma Hong-ing tergugu. “Bagaimana wajah orang itu?”
“Seorang wanita tua yang sudah berambut putih!”
Kendor ketegangan di dahi Ma Hong-ing, ujarnya,” Wanita tua…. mungkin kau
menjumpai seorang wanita edan!”
Si dara baju merah terkejut. Wajahnya sebentar pucat, sebentar merah. Jelas
bahwa ia menderita goncangan hati.
“Sekalipun aku tak tahu nama beliau, tetapi rupanya ia mempunyai hubungan erat
dengan beliau. Tentunya kau dapat menduga siapa orangnya!” seru Thian-leng.
“Apa hubunganku dengan dia?” Ma Hong-ing terkesiap.
“Beliau mengatakan bahwa kau pernah menjadi budaknya pada tujuh belas tahun
yang lalu!”
Mendengar itu seketika pucatlah wajah Ma Hong-ing. Tubuhnya gemetar dan
terhuyung mau rubuh. Mulutnya meracau, “Dia? Apakah dia hendak sungguhsungguh menyelidiki urusan ini…! Kata-katanya itu diucapkan seperti orang
mengoceh tak keruan sehingga si dara baju merah yang berada di dekatnyapun
tak mengerti maksudnya.
“Benar, memang dia! Dan saat ini beliaupun sudah berada dalam istana ini!” seru
Thian-leng.
Ma Hong-ing melonjak kaget, serunya,”Apa? Dia …. msauk ke dalam istana ini,
dia…. berada di mana?”
Thian-leng mengerutkan alisnya. Diam-diam ia merasa aneh mengapa mendadak
Ma Hong-ing begitu tegang ketika mendengar kisah tentang Toan-jong-jin. Ah,
tentu ada sesuatu yang terselip di antara kedua wanita itu!
“Entah beliau berada di mana, tetapi tentu masih berada di dalam istana ini….
Beliau seorang wanita yang memiliki kepandaian sakti. Mau datang bisa datang
seketika. Mau pergipun dapat lenyap seketika. Istana Sin-bu-kiong yang begini
kecil mana mampu menghalanginya?”
Tiba-tiba Ma Hong-ing mendongak dan tertawa nyaring, “Baik, biarlah datang!
Agar segala urusan dapat dibereskan!”
“R upanya kau mempunyai hubungan yang berbelit-belit dengan Toan-jong-jin
itu….!” tiba-tiba si dara melengkingkan tawa ejekan kepada Ma Hong-ing.
”Aku tak kenal dengan segala macam Toan-jong-jin…! bentak Ma Hong-ing.
Berpaling pula kepada Thian-leng berserulah ia dengan menggertek gigi. “Jangan
coba memburuk-burukkan namaku. Masakah aku pernah menjadi budak orang.
Lelucon yang edan….!”
“Habis mengapa kau perlu memelihara aku selama tujuh belas tahun? Mengapa
kau tak mau memberitahukan nama ayah bundaku ? Mengapa kau
menjerumuskan aku supaya mati bersama Hun-tiong Sin-mo? Mengapa … ? ”
“Aku tak punya waktu ribut-ribut dengan kau…!” Ma Hong-ing membentak bengis.
“Lekas! Kalau ayal tentu terlambat!” Ma Hong-ing berseru kepada si dara baju
merah. Tanpa menghiraukan reaksi Thian-leng dan si dara baju merah lagi, iapun
terus mengayunkan langkah. Keempat bujangnya segera mengiringkan.
Si dara baju merah memberi anggukan kepada Thian-leng lalu mengikuti Ma
Hong-ing. Sementara itu Bu-song yang masih terlongong-longong mendengari
percakapan itu, begitu melihat Ma Hong-ing pergi, segera menggamit Thian-leng,
”Goblok ! Mengapa tak lekas mengikuti wanita itu. Jika Te-kun sampai muncul
kemari, tentu sukarlah lolos. Rupanya Ong-hui itu memang bersungguh hati
hendak menolong si gadis baju merah itu tadi. Ayo , kita ikuti ! ”
Thian-leng seperti tersadar dari mimpi. Cepat ia melesat.
Ma Hong-ing diiringi keempat dayangnya berjalan di sebelah muka, menyusur
lorong yang berliku-liku.
Tetapi mereka berjalan perlahan dan setiap kali berhenti, seolah-olah kuatir
ketahuan orang. Si dara baju merah mengikuti di belakangnya. Tiap-tiap kali ia
berpaling ke belakang menengok Thian-leng dan Bu-song.
Karena pikirannya dipusatkan untuk mengungkap asal-usul dirinya, Thian-leng tak
sempat memperhatikan diri si dara baju merah. Tetapi rasanya ia pernah kenal,
tetapi entah di mana. Dia mengikuti di belakang si dara. Tiba-tiba timbul
keinginannya bertanya, ”Terima kasih atas bantuan nona tadi, entah nona….. ”
“Apa yang hendak kau tanyakan?” tukas dara baju merah itu.
“Rasanya aku pernah kenal dengan nona, tetapi entah di mana?” kata Thian-leng.
“Benar?” dara itu mengulum tawa, “mengapa aku tak merasa?”
Thian-leng terpaksa menyeringai, “Mungkin aku yang lupa….!” Entah siapakah
nama nona…..”
“Cu Siau-bun…..!”
Thian-leng seperti disengat lebah, ulangnya,”Cu….Siau….bun…!”
”Apa kau sungguh kenal padaku?” dara baju merah itu melengking.
Thian-leng sejenak tertegun, lalu menggelengkan kepala, ”Tidak! Hanya karena
mendengar nama nona, maka teringatlah aku akan seorang sahabat. Sejak
berpisah, aku belum tahu rimbanya……!”
Thian-leng menghela napas panjang.
“Apakah kau teringat padanya?” Cu Siau-bun bertanya dengan nada
bersemangat.
Thian-leng mengangguk, ” Sudah tentu, dia banyak melepas budi padaku, dan
lagi…. ”
“Dan lagi bagaimana?” tukas Cu Siau-bun.
Thian-leng menghela napas sebelum menyahut, “Dia pernah mengucap janji
indah kepadaku. Dikuatirkan di dalam kehidupan sekarang hal itu sukar
terlaksana, mungkin besok dalam penjelmaan yang akan datang!”
Wajah Cu Siau-bun berwarna merah, bisiknya, « Mungkin dalam kehidupan
sekarang hal itu bisa terlaksana. Apabila aku dapat mencari orang itu, apakah kau
masih bersedia memenuhi janji itu? Bersama-sama mengasingkan diri dari dunia
keramaian dan hidup tenang sampai di hari tua. ? ”
Sampai beberapa jenak Thian-leng tak menyahut. Dipandangnya dara itu lekatlekat. Cu Siau-bun risih, buru-buru ia berpaling ke muka lagi.
“Di saat dan tempat seperti sekarang, mengapa nona mengemukakan hal itu?”
tanya Thian-leng.
Cu Siau-bun menghela napas, ujarnya,” Aku hanya menruh simpati kepada kalian.
Tetapi mungkin aku dapat membantu kalian agar kalian dapat melaksanakan citacita kalian itu!”
Thian-leng menghela napas rawan. “Ah, mungkin dalam kehidupan sekarang hal
itu sukar. Karena setiap saat jiwaku terancam maut, dan aku kuatir sahabatku
itupun sudah…. tiada di dunia lagi!”
Tiba-tiba Cu Siau-bun tertawa, ”Mengapa karena aku maka kau lantas teringat
padanya?”
“Karena nama nona sama dengan dia! Sahabatku itupun bernama Cu Siau-bun,
dan lagi…” ia berhenti sejenak, “maaf, meskipun tubuhnya lemah dan sakitan,
tetapi mirip sekali dengan nona…. inilah sebabnya kukatakan aku seperti pernah
kenal dengan nona!”
Cu Siau-bun merah mukanya. Ia menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan
apa-apa.
Pembicaraan kedua anak muda itu didengar jelas oleh Ma Hong-ing. Tetapi ia tak
mau mencegah. Bu-song pun menangkap pembicaraan itu. Juga seperti Ma Honging ia mengerutkan dahi.
Tiba-tiba Ma Hong-ing berhenti. Tibalah mereka di muka sebuah gedung.
Meskipun kala itu sudah musim rontok, tetapi beberapa batang pohon dahlia
masih menyiarkan bau yang harum. Pintu gedung yang bercat merah perlahanlahan terbuka. Setelah melepaskan pandangan ke sekeliling penjuru, Ma Honging pun segera melangkah masuk. Keempat dayang dan anak-anak muda itupun
mengikuti di belakangnya.
Gedung itu sebuah gedung bertingkat yang luas dan indah. Lampunya terang
benderang, kain jendela warna warni. Gedung itu adalah Ing-ju-wan (wisma
menyambut musim semi) yang didiami oleh Te-it Ong-hui Ma Hong-ing.
Ma Hong-ing segera membisiki keempat dayangnya. Keempat dayang itupun
segera menuju ke ruang belakang.
Thian-leng gelisah. Bukan karena menghadapi bahaya maut, bukan pula takut
memikirkan bagaimana akibatnya nanti. Ia hanya merasa dadanya penuh sesak
seolah-olah tertindih batu besar.
Sesaat kemudian tampak Ma Hong-ing bergegas ke arah Cu Siau-bun, “Dari
belakang gedung kediamanku ini dapat menembus keluar. Sekarang tiada tempo
lagi untuk menahan kalian lebih lama, segeralah kalian keluar dari istana ini.!”
Ma hong-ing segera mengitari sebuah loteng kecil lalu menuju ke bagian
belakang. Setelah beberapa kali membelok, tibalah di sebuah lorong yang gelap.
Rupanya lorong itu disanggah oleh tonggak-tonggak balok besar. Tonggaktonggak itu dipenuhi semak-semak lebat sehingga pada malam hari makin tampak
gelap.
Ma Hong-ing mempelopori di muka. Tiba-tiba Cu Siau-bun mendengus dingin,
“Jangan cepat-cepat!”
Ma Hong-ing menghentikan langkahnya, “Mengapa?”
“Katakan terus terang, kau hendak mengatur perangkap apa ? “ Cu Siau-bun
berseru bengis.
Mata Ma Hong-ing berkaca-kaca, katanya dnegan nada gemetar, “Nak, aku tak
memasang perangkap apa-apa, kecuali hendak menolongmu keluar dari
bahaya… “ Dua butir air mata keluar dari mata Ma Hong-ing, buru-buru ia
melengos ke samping.
Cu Siau-bun tergetar hatinya. Dari sinar matanya yang rawan, ia mendapat kesan
bahwa air mata Ma Hong-ing itu sungguh-sungguh air mata kesedihan. Beberapa
perkataan yang sedianya hendak dilontarkan kepada Ma hong-ing terpaksa tak
jadi diucapkan.
Sebagai gantinya kini timbullah berbagai macam perasaan heran. Betapapun ia
membuat analisa, namun tetap tak memperoleh jawaban. betapapun kejam sikap
Ma Hong-ing terhadap puteranya, namun mengapa wanita itu bersikap begitu
sayang sekali kepadanya. Mengapa wanita itu mengucurkan air mata? Mengapa
menyebutnya pula dengan kata-kata’anak’? Dan mengapa bertekad keras untuk
menolong dirinya keluar dari Sin-bu-kiong? Ya , mengapa, mengapa…..?
Berdenyut-denyut otak Cu Siau-bun merenungkan sikap dan tindakan Ma Honging yang begitu aneh. Namun tak jua ia dapat menyingkap tabir teka-teki yang
menyelimuti diri Ma Hong-ing.
Tiba-tiba pikirannya jauh melayang ke puncak lamunan yang ngeri. Ah, tidak,
tidak ! Tak dapat ia mempunyai ikatan apa-apa dengan wanita yang ganas ini.
Biar, biarlah ….. tak mau Cu Siau-bun menyelidiki rahasia apa yang terselip antara
Ma Hong-ing dengan dirinya. Biarlah hal itu terpendam. Ngeri ia membayangkan
andaikata Ma Hong-ing itu benar-benar mempunyai ikatan hubungan darah
dengan dirinya!
Tiba-tiba ia menemukan suatu keputusan yang seram. Ya, tak ada jalan lain
kecuali harus melenyapkan Ma Hong-ing. Asal wanita itu mati, maka segala
rahasia…-andaikan ada- biarlah turut lenyap selama-lamanya.
Saat itu tampak Ma Hong-ing membesut air matanya, kemudian berpaling ke arah
Cu Siau-bun, “Nak, percayalah kepadaku. Jika lambat tentu sudah kasip.”
Tetapi Cu Siau-bun sudah mempunyai keputusan. Sahutnya tertawa, “Apakah kau
sungguh hendak menolong kami dari bahaya?”
“Perlukah aku bersumpah?” Ma Hong-ing berkata dengan nada berat.
“Hal itu tak perlu, hanya saja…. “ Cu Siau-bun sejenak kerlingkan pandangannya
ke arah lorong gelap, katanya,” Lorong segelap itu, masakah tak tada perkakas
rahasianya?”
“Nak, kau memang terlalu curiga,” Ma Hong-ing banting-banting kaki, “ Di dalam
istana Sin-bu-kiong terdapat lebih dari dua belas lorong yang segelap itu.
Meskipun lorongnya berliku-liku dan sempit, tetapi dapat menembus keluar
istana……. ”, ia berhenti sejenak dan katanya pula, “Memang lorong itu dijaga oleh
jago-jago tangguh, tetapi asal aku mengantar kalian sampai di pintu istana,
tentulah kalian selamat….”
Cu Siau-bun tertawa dingin, “Sin-bu-kiong dapat dimasuki dari empat penjuru.
Ketika kami masuk, kami tak menemukan rintangan apa-apa. Perlu apa kau harus
memilih jalan gelap yang begini berbahaya?”
Wajah Ma Hong-ing mengerut gelap, “Memang Sin-bu-kiong bisa dimasuki, tetapi
tak mungkin bisa keluar dari sini. Te-kun sendiri yang mengatur perlengkapan
istana ini. Tak peduli tokoh-tokoh silat yang bagaimana saktipun, sekali berani
masuk ke sini, jangan harap dia dapat keluar lagi.!”
Cu Siau-bun merenung sejenak, ujarnya,”Baik, tolong kau tunjukkan jalannya!”
Ma Hong-ing menghela napas longgar. Segera ia memelopori jalan di muka.
Lorong gelap itu memang penuh dengan lika-liku tikungan. Ada kalanya ke timur,
adakalanya menikung ke barat dan setempo ke selatan , setempo ke utara. Atap
dari lorong itu penuh tertutup semak-semak lebat, sehingga sukar melihat langit.
Thian-leng dan Bu-song mengikuti di belakang. Berkat lwekangnya yang tinggi,
sekalipun dalam malam gelap, mereka dapat melihat terang. Tetapi di dalam
lorong yang rindang dengan semak-semak lebat itu, merekapun tak berdaya,
hanya dapat melihat pada jarak beberapa meter saja.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring. Di tempat sesempit itu, bentakan
orang itu terdengar menggelegar sekali, Thian-leng terkejut dan cepat siap
mencekal pedangnya.
Sesosok bayangan hitam melesat keluar dari sebuah sudut lorong. dengan
pedang terhunus, orang itu menghadang di tengah jalan. bentaknya, “Siapa
tengah malam berani melintasi Kian-koan? Apakah membawa perintah Te-kun?”
“Aku Ong-hui yang datang, perlu apa harus membawa perintah Te-kun? Apakah
matamu buta?” Ma Hong-ing mendamprat.
Orang itu mengeluh dan buru-buru berlutut minta maaf. ”Hamba tak tahu kalau
Ong-hui yang datang ! ” Kemudian ia bangkit dan berdiri dengan kepala
menunduk.
Ma Hong-ing mendengus sambil melangkah masuk diikuti oleh rombongan anak
muda itu. Orang itu tetap tak berani mengangkat kepala. Setelah rombongan Onghui lewat, barulah ia bersembunyi lagi.
Pada saat lewat di sisi pengawal itu, thian-leng memerhatikan wajah orang.
Seorang tua berjubah ungu, mata bersinar-sinar tajam, pelipisnya menonjol,
menandakan seorang ahli lwekang yang berilmu tinggi.
Kira-kira berjalan lima-enam puluh tombak jauhnya dan sudah melalui tiga pos
penjagaan yang semuanya dapat dilalui Ma Hong-ing dengan mudah, tiba-tiba cu
Siau-bun berhenti, serunya, “Masih berapa lama lagi kita harus menyusuri?”
Ma Hong-ing menghentikan langkah, “Cepat, paling lama dua puluhan tombak lagi
sudah tiba di luar istana!”
“Apakah masih ada penjagaannya?”
“Tidak asal….” Ma Hong-ing bersangsi.
“Kalau begitu tolong lekas sedikit saja!” buru-buru Cu Siau-bun meminta.
Baru Ma Hong-ing pun berputar dan hendak melangkah, tiba-tiba Cu Siau-bun
taburkan tangannya ke punggung Ma Hong-ing. Karena tak menduga, menjeritlah
Ma Hong-ing dan rubuh di tanah….. !
Jilid 7 .
Thian-leng dan Bu-song terkejut juga. Mereka tak menyangka bahwa Cu Siau-bun
akan berbuat begitu. Mereka buru-buru menghampiri Ma Hong-ing.
Cu Siau-bun sendiri walaupun sudah memutuskan untuk membunuh Ma Honging, tetapi dikala melontarkan jarum entah bagaimana hatinya keder, tangannya
lemas sehingga agak mencong.
Sebelum Thian-leng dan Bu-song menolong, Ma Hong-ing sudah dapat berdiri
sendiri. Meskipun punggungnya tertusuk tiga batang jarum hingga tembus sampai
ke dada, tetapi karena tangan Cu Siau-bun mencong, maka tidak sampai
mengenai jalan darah yang berbahaya.
Ma Hong-ing pucat seperti kertas, setelah terengah-engah sebentar, ia menatap
Cu Siau-bun, ”Kau....... sungguh ganas.......”, tiba-tiba wajahnya berobah dan
berkata pula tergagap, “tetapi tak dapat mempersalahkan engkau. Aku ...aku
memang pantas mati dan seharusnya mati di tanganmu .......!” selanjutnya ia
berbicara tak jelas sehingga Thian-leng dan Bu-song tak mendengar apa yang
dikatakan itu.
Cu Siau-bun pun juga. Ia tak dapat berkata sepatahpun. Perasaan hatinya
berkecamuk keras. Tak tahu ia apakah tindakannya itu benar atau salah. Ia hanya
merasa mempunyai keharusan untuk membunuh wanita itu. Ia hanya menuruti
suara hatinya, bahwa wanita itu tak boleh hidup bersama-sama di dunia!
Tetapi mengapa pada detik-detik ia melaksanakan keputusannya itu mendadak
sontak tangannya lemas, hatinya goncang? Hal itu ia tak tahu, tak mengerti apa
sebabnya!
Thian-leng menghela napas kecil, serunya tersekat, “Kau…..terluka?”
Tiba-tiba Ma Hong-ing membeliakkan matanya dan menyahut dingin, “Aku tidak
mati! Tak usah kau tanyakan!”
Thian-leng terkesiap. Ia tercengang. Wanita di hadapannya itu, sungguh seorang
wanita yang misterius. Kalau menurut Toan-jong-jin, Ma Hong-ing adalah ibu
kandungnya. Tetapi mengapa wanita itu sedemikian dingin sikapnya. Mengapa
wanita itu menganggap dirinya seolah-olah sebagai musuh bebuyutan? Kapankah
ia dapat menyingkap tabir yang menyelimuti dirinya? Thian-leng tercekam dalam
kabut misterius yang makin gelap!
Ma Hong-ing mendekap dada menahan sakit. Tetapi wajahnya kembali membesi,
dengusnya, “Ayo, jalan lagi….!”
Dengan terhuyung-huyung wanita itu melanjutkan perjalanan lagi. Diam-diam Cu
Siau-bun menyesal. Tanpa bicara apa-apa, ia mengikuti.
Tak lama kemudian tibalah mereka di muka sebuah pintu besi yang menutup
jalanan. Ma Hong-ing segera memijat sebuah alat yang berbentuk seperti gelang
kecil. Terdengarlah bunyi berderak-derak dan terbukalah seketika sebuah pintu
kecil. Pintu itu hanya cukup dimasuki seorang. Pun tidak bisa masuk dengan
tegak, tetapi harus membungkuk.
“Sekeluarnya dari lorong berdinding besi ini kita bakal tiba di luar istana yang
gelap pintunya!” kata Ma Hong-ing sambil mendahului jalan.
Kali Cu Siau-bun tak bersangsi. Ia terus mengikuti saja. Tetapi baru ia melangkah
melalui pintu besi itu, tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang mengejutkan!
Habis melalui pintu besi, Ma Hong-ing segera berhenti menjaga di samping pintu.
Karena mengira Ong-hui hendak melindungi sampai rombongan muda-mudi itu
selamat melalui pintu besi, maka tanpa curiga apa-apa Cu Siau-bun pun segera
ayunkan langkah.
Demikianlah Thian-leng dan Bu-songpun segera mengikuti tindakan dara baju
merah itu. Begitu Cu Siau-bun sudah masuk, maka Thian-leng dan Bu-song pun
melangkah maju ke pintu. Sekonyong-konyong Ma Hong-ing mengangkat
tangannya menghantam kepada kedua muda-mudi itu.
Daarr…. karena tak menyangka, Thian-leng dan Bu-song termakan pukulan Hianim-ciang dari Ma Hong-ing dengan jitu. Tubuh kedua anak muda itu serasa
dilanda oleh hawa dingin, darah merekapun bergolak sehingga terhuyung-huyung
mundur beberapa langkah. Dan pada saat itu tiba-tiba pintu besi tertutup pula.
Thian-leng dan Bu-song baru hendak berusaha memperbaiki keseimbangan
tubuh, sekonyong-konyong tanah yang mereka injak itu amblas dan terceburlah
mereka ke dalam sebuah lubang jebakan yang gelap….
Cu Siau-bun kaget sekali. Buru-buru ia hendak menerjang keluar untuk menolong
Thian-leng, tapi sudah terlambat. Pintu besi itu sudah tertutup. Ternyata pintu itu
ditutup oleh dua orang penjaga.
Pada saat melontarkan pukulan, Ma Hong-ing memberi isyarat kepada kedua
penjaga supaya segera menutup pintu….
Kini Ma Hong-ing mendekap dadanya yang terluka dengan kedua tangannya.
Rupanya karena menggunakan banyak tenaga untuk memukul, maka lukanyapun
goncang. Mulutnya gemetar dan tiba-tiba ia muntahkan segumpal darah segar!
“Apakah Ong-hui masih ada perintah?” kedua pengawal baju biru segera
menanya.
Ma Hong-ing mengembalikan napasnya dulu. Ia paksakan untuk berdiri tegak,
serunya. “Cabut pedang!”
Kedua pengawal saling berpandangan. Tampaknya mereka tekejut, tetapi tak
berani membantah. Keduanya segera mencabut pedang masing-masing.
“Bunuh diri kalian sendiri!” Kembali Ma Hong-ing memberi perintah singkat.
Berobahlah wajah kedua pengawal itu. Mereka kembali berpandangan satu sama
lain.
“Kalian berani membantah?” bentak Ma Hong-ing.
Kedua pengawal itu mengangkat kepala, serunya dengan gemetar, “Hamba
merasa tak berdosa, mohon Ong-hui suka melimpahkan ampun!”
Ma Hong-ing mendengus, “Membunuh kalian mengapa harus membuktikan
kesalahanmu…..” berkilauan mata Ma Hong-ing memancarkan hawa
pembunuhan, bentaknya, “Jika kesabaranku habis, mungkin kalian tak mempunyai
kesempatan untuk melakukan perintah bunuh diri lagi!”
Wajah kedua pengawal itu pucat pasi. Namun tanpa ayal lagi mereka segera
menusukkan pedang ke dadanya sendiri. Terdengar dua sosok tubuh mengelepar
jatuh ke tanah. Kedua pengawal itupun melayang jiwanya.
Ma Hong-ing terengah mengembalikan napasnya, lalu menunjuk ke muka, “Kita
jalan lagi! Di sanalah pintu Kian-kwan yang gelap! Lewat pintu itu sudah di luar
istana Sin-bu-kiong.”
Tiba-tiba Cu Siau-bun mencabut pedang dan diancamkan ke dada Ma Hong-ing,
bentaknya, “Lekas buka pintu besi itu!”
Dingin-dingin Ma Hong-ing menyahut, “Dibukapun tak ada gunanya. Anak itu
sudah terjerumus ke dalam neraka di bawah tanah. Mungkin saat ini kedua budak
itu sudah mati! Kalau masih hiduppun tentu sudah dibunuh penjaga di situ!”
“Perempuan siluman, mengapa kau begitu ganas?” saking geramnya geraham Cu
Siau-bun sampai bercatrukan.
Sebaliknya Ma Hong-ing malah tenang sekali sahutnya, “Tidak kenapa-kenapa!
Tak kuijinkan kau mencintai budak lelaki itu. Kecuali membunuhnya rasanya tiada
cara lain lagi……”
Cu Siau-bun tiba-tiba memutar tubuhnya. Ia memukul dan menebas pintu besi itu.
Tetapi betapapun ia habiskan tenaganya, pintu besi itu tak bergeming sedikitpun
jua. Matanya yang mengembang air mata menyinarkan gelora pembunuhan yang
menyala-nyala. Cepat ia berputar dan mengancamkan pedangnya ke dada Ma
Hong-ing lagi, bentaknya, “Jika kau tak mau membuka pintu besi ini, segera akan
kubunuh!”
Ma Hong-ing tak mau melawan. Ia memeramkan mata dan menantang, ”Kalau
mau membunuh, silakan ! Tetapi jangan harap kau dapat menyuruh aku membuka
pintu itu…”, ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya lagi, kemudian berseru
pula, ”Mungkin aku sudah diharuskan mati di tanganmu. Dan memang hanya mati
di tanganmu baru tenteram hatiku….. ”
Lagi-lagi Cu Siau-bun tekejut. Tampaknya wanita itu memang mempunyai
hubungan rahasia dengan dirinya. Membayangkan hal itu, ngerilah hatinya.
Benaknya penuh lalu –lalang renungan……”Ah, lebih baik kubunuh saja! Hanya
kalau wanita ini mati, maka barulah rahasia itu terkubur selama-lamanya,”
Akhirnya keputusan untuk melenyapkan wanita itu timbul kuat kembali.
Sebenarnya ia tak tahu apakah rahasia terpendam itu. Hanya ia merasa bahwa
hal itu tentu tak menguntungkan dirinya, “Bunuh, bunuhlah saja….!” demikian sang
hati meronta-ronta mendesak sang pikiran yang masih ayal.
Tiba-tiba dengan sekuat tenaga, ia menusuk dada Ma Hong-ing sekuat-kuatnya.
Dan Ma Hong-ingpun hanya memeramkan mata menyerahkan jiwanya….
Sekonyong-konyong pada detik ujung pedang menyentuh dada Ma Hong-ing, Cu
Siau-bun merasa lengannya seperti ditarik oleh suatu tenaga kuat yang tak
kelihatan. Terkejutnya bukan kepalang. Cepat-cepat ia berpaling ke belakang dan
lemas lunglailah api pembunuhan yang membakar hatinya itu.
Entah kapan dan bagaimana caranya, tahu-tahu seorang wanita tua berambut
putih dan wajahnya sudah keriput tampak tegak berdiri di belakangnya. Seperti
seekor domba yang melihat induknya, maka Cu Siau-bunpun segera loncat
menubruk ke dada wanita itu seraya menangis, “Mah….”
Wanita itu membelai rambut Cu Siau-bun. “Apakah kau menderita kesukaran
nak?”
“Dia…… dia mungkin telah dicelakai mereka!” Cu Siau-bun tersedu-sedu.
“Dia….. dia siapa?”
“Kang Thian-leng………,” sahut Cu Siau-bun. “Mah kemanakah kau tadi?
Mengapa tak membantu kami?”
Wanita itu mengerutkan dahi, “Sekarang belum saatnya aku menunjukkan diri. Aku
hendak menyelidiki secara diam-diam, baru nanti turun tangan menyelesaikan
seluruh persoalan….”
“Tetapi karena kau tak mengamat-amati kami, Kang Thian-lengpun mati…..”,
tenggorokannya tersekat isak tangisnya sehingga tak dapat melanjutkan katakatanya.
Kemudian ia menyusupkan kepalanya ke dada sang ibu dan meratap iba. “Kalau
dia mati, akupun tak mau hidup lagi!”
“Nak, janganlah kau mengucapkan kata-kata yang melemahkan semangat
hidupmu. Apalagi budak itu belum tentu terus begitu cepat mati….!”
“Bagaimana mamah tahu?”
“Lupakah kau bahwa aku mengerti juga tentang ilmu meramal ?”
”Apakah kau telah melihat nasibnya?”
Wanita itu paksakan tertawa, “Tak usah diramal lagi, jelas bahwa wajahnya tak
memantulkan tanda kenaasan!”
Agak longgar hati Cu Siau-bun, namun ia tetap mendesak ibunya, “Kalau begitu
baiklah kita lekas menolongnya!”
“Tak perlu, karena tentu sudah ada orang yang menolongnya!” wanita itu
tersenyum.
“Aku tak percaya,” Siau-bun menyengit, “mungkin saat ini dia sudah meninggal!”
“Percayalah omonganku, nak! Tadi aku telah berjumpa dengan seseorang!”
“Siapa?”
“Ka……kekmu!”
“Kakek….?” Siau-bun tertegun, “Mengapa mamah tak pernah mengatakan
sebelumnya? Apakah beliau sakti?” Ibunya tak suka banyak omong. Ia menghela
napas perlahan.
“Mamah mempunyai alasan yang sukar diutarakan. Baiklah kau jangan banyak
tanya lagi!”
“Apakah kakek yang menolongnya?”
“Tidak, tetapi aku dan kekekmu telah mempersiapkan rencana untuk
menolongnya. Jangan kuatir!”
Siau-bun tertegun diam. Sekalipun hatinya belum longgar seluruhnya, tetapi
terhadap ibunya ia menaruh kepercayaan besar. Ia percaya setiap patah kata dari
ibunya seperti orang memuja dewa.
Ibunya seorang wanita yang keras tetapi mengasihinya dan terutama sang ibu itu
tak pernah berbohong.
Sekalipun manja tetapi Siau-bun mengindahkan ibunya.
Wanita itu menghela napas. Tiba-tiba ia melangkah maju menghampiri Ma Honging. Betaknya, “Apakah kau masih kenal padaku……?”
ooo000oooo
Sejak wanita itu muncul, Ma Hong-ing terlongong-longong berdiri di samping.
Ditatapnya wanita tua itu dengan penuh perhatian. Diam-diam ia terkejut. Kalau
tak salah ia seperti kenal siapa wanita itu. Namun tak dapat ia membuktikan
dugaannya itu.
Baru setelah wanita itu membentaknya, Ma Hong-ing gelagapan, serunya,
”Kau……kau..ini……!”
Wanita tua itu mendengus dingin. Tiba-tiba ia mengusap mukanya. Hai….. kulit
mukanya bergulung seperti dikupas. Ah….. , kiranya ia memakai kedok dari kulit
orang. Dan hilangnya muka orang tua berwajah keriput itu, tampaklah wajahnya
yang asli.
Seorang wanita yang cantik sekali. Walaupun usianya sudah mendekati tiga puluh
enam-tiga puluh tujuh tahun, namun kecantikannya masih memancar gilanggemilang….
Ma Hong-ing terbeliak kaget, serunya tergugu, “Ah, kiranya memang kau ….Cu
Giok-bun!”
Wanita yang ternyata bernama Cu Giok-bun itu terpukau dalam badai perasaan
yang melanda hatinya. Dia tegang, hatinya bergolak-golak!
“Tujuh belas tahun tak bertemu, ternyata kau masih dapat mengenali diriku,”
akhirnya meluncurlah kata-kata dari mulutnya.
“Jangankan tujuh belas tahun, tujuh puluh tahunpun aku tetap mengenalimu.
Siang malam aku selalu terkenang padamu…….” Ma Hong-ing menjerit geram.
“Ya, ingin sekali kumakan dagingmu, membeset kulitmu!” tiba-tiba Ma Hong-ing
menjerit pula dengan kalap.
Cu Giok-bun mengerutkan alisnya, “Itulah sebabnya aku sengaja datang kemari!
Mengapa kau membenci aku? Mengapa kau tak sayang menyuruh puteramu mati
bersamaku…” sejenak ia menggerakkan matanya, kemudian melanjutkan berkata
pula, “Ingatlah, bahwa kita pernah tinggal bersama selama delapan tahun.
Hubungan kita selama itu cukup baik, aku tak pernah memperlakukan kau secara
tak baik dan kaupun tak pernah mendendam padaku. Mengapa……..”
Kata-katanya terputus oleh derai tertawa Ma Hong-ing yang melengking panjang
penuh kecongkakan.
“Mengapa? Karena hendak membalas sakit hati!” bentak Ma Hong-ing, “selama
delapan tahun kusiksa diriku menjadi budakmu karena hendak mencari
kesempatan membalas sakit hati. Sayang selama itu tak pernah kudapatkan
kesempatan itu…”
“Sebelum menjadi pelayanku, kau toh belum kenal padaku? Mengapa kau
mempunyai dendam sakit hati?” Cu Giok-bun mengerutkan dahi.
Kembali Ma Hong-ing tertawa menyombong.
“Mungkin kau memang lupa. Kau telah membunuh ratusan jiwa manusia, sudah
tentu tak teringat akan peristiwa kecil itu…..” seru Ma Hong-ing,”tetapi yang jelas,
seluruh empat belas jiwa keluargaku, telah mati di tanganmu!”
Wajah Cu Giok-bun mengerut gelap, serunya sengit, “Meskipun sejak kecil aku
sudah belajar silat, tetapi belum pernah membunuh seorang manusia. Apalagi
ketika kau menjadi pelayanku, aku masih kecil, mana dapat membunuh orang!”
“Memang bukan tanganmu yang membunuh! “ teriak Ma Hong-ing makin sengit,
“tetapi ketahuilah bahwa ‘lidah itu lebih tajam daripada pedang’. Mungkin
keluargaku mati karena pengaruh lidahmu!”
Cu Giok-bun makin heran, serunya, ”Aku sungguh tak ingat hal itu. Lebih baik
segera jelaskan. Jika benar aku yang membunuh keluargamu, silakan kau
melakukan pembalasan dendam sesukamu!”
Ma Hong-ing tertawa hina, “Aku tak suka bicara yang tak berguna! Saat ini aku
jatuh di tanganmu, adalah nasibku yang jelek. Jika kau takut terancam bahaya di
kemudian hari, lekas bunuh aku!”
Cu Giok-bun tertawa getir, “Telah kukatakan, tak tahu aku di mana letaknya
permusuhan kita ini. Perlu apa aku harus membunuhmu……” matanya berkilatkilat dan nadanya berubah serius. “Aku ingin mengetahui duduk perkara yang
sebenarnya. Apakah dendammu kepadaku itu ? Mengapa kau mati-matian hendak
mencari balas padaku? Mengapa kau tahu bahwa aku adalah Hun-tiong…., “ tibatiba ia mengganti kata-katanya, “Tuduhanmu aku takut menerima pembalasanmu,
sungguh menggelikan. Asal kau mau mengatakan sejujurnya, segera aku angkat
kaki dari sini.
Silakan kau mengatur rencana pembalasanmu. Aku Cu Giok-bun setiap saat dan
di manapun saja selalu bersedia menerima kedatanganmu!”
Lagi-lag Ma Hong-ing tertawa angkuh, ”Karena tak dapat melakukan pembalasan,
maka biarlah urusan yang kau ingin tahu itu menyiksa batinmu. Betapapun kau
hendak bertanya, jangan harap aku sudi mengatakan !”
Alis yang melengkung indah di dahi Cu Giok-bun menjungkat ke atas. Bentaknya,
“Aku tak mau membunuhmu, tetapi hendak menyuruhmu merasakan siksaan.
Coba saja sampai berapa lama kau mampu bertahan….”
Tiba-tiba Cu Giok-bun mencengkeram bahu Ma Hong-ing. Ma Hong-ing tetap diam
saja tak mau menghindar. Hanya tubuhnya bergoyang-goyang dan tiba-tiba ia
muntah darah. Ia menjamah sebatang pohon kecil untuk menjaga keseimbangan
tubuhnya. Dengan susah payah barulah ia dapat berdiri tegak pula.
Tangan Cu Giok-bun yang sudah diulur terpaksa ditarik kembali.
“Siau-bun , apakah kau melukainya…. ? ” serunya kepada si dara baju merah.
Siau-bun mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa kasihan kepada Ma
Hong-ing. Timbullah rasa simpatinya kepada wanita yang terluka itu.
“Mah, ampunilah dia!” serentak ia mintakan kebebasan kepada ibunya.
Cu Giok-bun merenung. Sejenak kemudian berseru bengis, “Kalau begitu terang
Thian-leng adalah puteramu. Tetapi mengapa kau begitu tega menyuruhnya
mati?”
“Mah, dia bukan putera wanita ini. Aku mempunyai beberapa bukti!” tiba-tiba Siaubun menyeletuk.
“Siau-bun, jangan banyak mulut!” bentak Cu Giok-bun dengan suara tegang.
Sambil menahan rasa sakit, Ma Hong-ing kertak giginya memaksakan diri berseru,
”Puteraku sendiri atau bukan , bukanlah urusanmu! ”
Cu Giok-bun menghela napas longgar.
”Kalau begitu pemuda itu benar-benar anak kandungmu sendiri?” serunya.
Ma Hong-ing menengadahkan kepalanya dan tertawa congkak. Serunya, “Kalau
benar, mau apa? ”
Cu Giok-bun tertawa dingin, “Kalau begitu, pertanyaanku cukup sampai sekian
saja. Apakah dendammu kepadaku itu tepat atau palsu, aku tak mau
membunuhmu. Aku hendak menunggu kau datang untuk menuntut balas….”
“Siau-bun , mari kita pergi,” ia berpaling dan ajak si dara baju merah.
”Pergi…..?” Siau-bun cebikan bibir, “Apakah tak dapat menolongnya dan
membawanya keluar bersama?”
Cu Giok-bun berobah dingin wajahnya, “Nak, kau jangan terlalu manja. Mamah
sudah mengatur…..”
Kata-kata Cu Giok-bun terputus oleh munculnya tiga sosok bayangan yang
melayang dari atas. Cu Siau-bun terkejut. Ternyata yang datang itu ialah Ni Jinhiong dengan kedua orang pengawal baju ungu. Ketiga orang itu sama
menghunus pedang.
Ketika melihat seorang wanita cantik, Ni Jin-hiong terkesiap. Tetapi pada lain saat
ia membentak,” Siapa kau…….?”
Cu Giok-bun mendengus hina, “Kau tak layak bertanya!”
Ni Jin-hiong mengerutkan alis, berpaling kepada Ma Hong-ing, “Hai, apakah Onghui terluka?”
Ma Hong-ing tampak gugup, “Lepaskan mereka, kau ….. mengapa datang ….
kemari?”
“Hamba mendapat perintah Te-kun, tak boleh melepaskan orang. Karena tugas,
terpaksa hamba tak dapat meluluskan perintah Ong-hui,” sahut Ni Jin-hiong. Habis
itu ia mengumpulkan tenaga dan sekoyong-konyong menghantam.
Kedua pengawal baju ungupun , yang satu hendak menyerang punggung Cu
Giok-bun, yang satu hendak menerjang Cu Siau-bun.
“Berhenti! Kalian bukan tandingannya!” tiba-tiba Ma Hong-ing membentak keras.
Ni Jin-hiong tertawa congkak, “Tak peduli dia orang bagaimana, sekali jatuh ke
dalam tanganku, tentu tamat riwayatnya.”
Di dalam tertawa itu, ia sudah mengerahkan lwekang ke tangannya. Dengan
sekuat tenaga ia menghantam. Sebagai kepala penjaga istana Sin-bu-kiong,
sudah tentu Ni Jin-hiong terpilih sebagai jago yang paling tinggi sendiri
kepandaiannya. Ilmu pukulan lwekang dingin Hian-im-ciang telah diyakinkan
dengan sempurna.
Ia tak kenal siapa wanita pertengahn umur yang cantik itu. Tetapi ia yakin wanita
itu tentu tak kuat bertahan dalam tiga buah jurus serangannya. Bahkan mungkin
sekali pukulan saja, wanita itu sudah mampus. Maka dengan keyakinan itulah ia
tak menghiraukan peringatan Ma Hong-ing. Cu Giok-bun hanya tertawa dingin.
Sikapnya acuh tak acuh.
Diam-diam Ni Jin-hiong terkesiap. Buru-buru ia melipatgandakan lwekang yang
dilontarkan pada pukulannya itu. Seketika berhamburan semacam hawa dingindingin seram.
Adalah ketika tenaga dingin itu menyambar ke muka Cu Giok-bun, barulah wanita
itu menggerakkan tangan menyongsong ke muka. Berbareng dengan itu tangan
kirinya dibalikkan ke belakang untuk menutuk kedua pengawal baju ungu yang
menyerang dari belakang itu.
Seketika terdengar erang rintihan perlahan dan timbullah beberapa peristiwa
mengejutkan!
Sama sekali Ni Jin-hiong tak mengetahui ilmu pukulan apa dan tenaga apa yang
dilancarkan si wanita itu, tetapi ia merasa suatu aliran hawa panas melanda
semacam banjir lahar. Bukan saja lwekang dingin Hian-im-sicang sirna seketika,
bahkan hawa panas itu masih menembus menyerang dadanya! Ia terkejut sekali.
Saat itu baru ia menginsyafi kalau berhadapan dengan seorang wanita sakti. Buruburu ia hendak menghindar, tetapi sudah tak keburu lagi. Dadanya merasa di
tampar taufan panas, darahnya bergolak dan tubuhnya serasa dibakar. Tak
mampu lagi ia berdiri tegak. Tubuhnya terhuyung-huyung mundur sampai
beberapa langkah. ‘Huak….’ segumpal darah panas muntah dari mulutnya…..
Kedua pengawal baju ungu lebih mengenaskan lagi keadaannya. Keduanya
hanya dapat mengerang perlahan sebentar, karena batok kepalanya keburu
pecah. Otaknya berhamburan kemana-mana. Mereka rubuh menjadi setan tanpa
kepala….
Ternyata sebelum pukulan mereka melayang, tutukan jari Cu Giok-bun tadi telah
menghamburkan angin keras. Sekeras palu besi yang menghantam kepala
mereka. Betapapun kerasnya batok kepala, tetapi tetap hancur diadu dengan palu
besi!
Sekali gerak Cu Giok-bun dapat melukai kepala penjaga Sin-bu-kiong dan
membunuh dua orang pengawal, benar-benar menakjubkan. Wanita cantik itu
tampak tegak berdiri, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Tanpa menghiraukan bagaimana jadinya, Ni Jin-hiong segera memeramkan mata
menyalurkan darahnya. Untung Cu Giok-bun tak mau berlaku ganas.
Dipandangnya kepala penjaga istana Sin-bu-kiong itu dengan tertawa hina.
Beberapa kejap kemudian, Ni Jin-hiong merasakan darahnya sudah normal
kembali. Begitu membuka mata ia segera berseru, “Terima kasih atas kemurahan
hatimu tak mau menyerang lagi. Tetapi hinaan hari ini kelak pasti aku
membalasnya. Harap tinggalkan namamu!”
Cu Giok-bun hanya perdengarkan tawa hina tak mau menyahut.
Tiba-tiba Ma Hong-ing menghela napas dan menyeletuk, “Dia adalah tokoh
terkenal jaman ini, Hun-tiong Sin-mo!”
“Hun-tiong Sin-mo…..!” Ni Jin-hiong menjerit kaget. Ia terhuyung-huyung beberapa
langkah lagi.
“Hun-tiong Sin-mo, mengapa dia….”
“Hari ini kuberi ampun kalian, tetapi…….” tiba-tiba Cu Giok-bun berseru bengis,
“jika berani membocorkan rahasia ini, segera akan kuhancur leburkan tubuh
kalian!”
Ni Jin-hiong seketika lemas lunglai macam balon kempes. Hampir saja ia putus
jantungnya. Ia sadar bahwa cita-citanya untuk menuntut balas tentu hanya menjadi
lamunan kosong belaka.
Kembali Cu Giok-bun perdengarkan tawa hina. Ia menarik Siau-bun,”Ayo, kita
pergi!”
Walaupun segan, namun Siau-bun tak dapat membantah lagi. Sekali enjot tubuh,
kedua ibu dan anak itu lenyap dari pandangan !
Ni Jin-hiong melirik ke arah kedua pengawal yang sudah menjadi mayat itu,
mulutnya mengoceh seorang diri, “Hun-tiong Sin-mo….mengapa hanya seorang
wanita yang begitu cantik…. ?” Tiba-tiba ia berpaling ke arah Ma Hong-ing,
“Benarkah keteranganmu ini?”
Ma Hong-ing menyahut hambar, “Bukankah dulu pernah kukatakan padamu?”
Ni Jin-hiong mengerutkan alis, “Kau hanya mengatakan kalau mempunyai
dendam permusuhan besar dengan Hun-tiong Sin-mo, tetapi tak pernah
menerangkan bahwa Hun-tiong Sin-mo itu hanya seorang wanita, apalagi masih
muda……”
Ia termenung sejenak, ujarnya pula, “Menurut cerita, Hun-tiong Sin-mo itu sudah
berusia sembilan puluhan tahun dan lagi dia itu seorang lelaki. Adik Ing,
bagaimanakah hal ini...”
Agak tak sabar Ma Hong-ing menjawab, “Hal itu sekarang enggan aku
menceritakan. Apalagi sekalipun kuterangkan juga tak dapat sejelas-jelasnya.” Ia
tertawa rawan, serunya, “Apakah anak itu sudah kau bunuh?”
“ Belum …….”Ni Jin-hiong terkejut, “pada saat hendak kubunuh, tiba-tiba Te-kun
mengirim perintah anak itu harus ditangkap hidup-hidup dan tak boleh dibunuh,
maka…..”
Seketika pucat pasilah wajah Ma Hong-ing, serunya gugup, “Di mana dia
sekarang?”
“Di dalam penjara Cui-lo (penjara air). tetapi Te-kun telah menitahkan kedua Sucia untuk melihatnya !”
“Celaka! Urusan kita tentu bakal ketahuan Te-kun……” Ma Hong-ing menghela
napas.
Mendengar itu pucatlah wajah Ni Jin-hiong, ia menggelengkan kepalanya, ”
Sekalipun budak itu tidak menceritakan urusan kita kepada Te-kun. Tetapi
peristiwa malam ini, tentu sukar kita pertanggung jawabkan kepada Te-kun.
Menilik gelagat, dikuatirkan…… ” ia tak melanjutkan kata-katanya melainkan
menghela napas panjang.
”Kalau begitu kita harus mencari akal, masakah kita mandah saja menunggu
hukuman Te-kun…..” kata Ma Hong-ing.
Tiba-tiba mata Ni Jin-hiong berkilat, serunya, ”Sekarang hanya ada sebuah akal.
Kita tinggalkan istana ini!”
“Kau maksudkan melarikan diri?”
“Benar, kita lari sejauh-jauhnya. Tinggalkan segala dendam permusuhan, mencari
tempat yang sunyi, jauh dari masyarakat ramai……”
“Mungkin tidak leluasa! Apalagi aku…..”
”Adik Ing, kalau terlambat tentu kasip. Mungkin Te-kun akan keluar sendiri……
percayalah, adik Ing, marilah kita lewatkan sisa hidup kita….. ”
Tiba-tiba kata-kata Ni Jin-hiong itu terputus oleh sebuah suara yang bernada
dingin, ”Siapa yang kau sebut adik Ing itu?”
******
Penjara Air
Ni Jin-hiong dan Ma Hong-ing terkejut. Tubuh mereka menggigil gemetaran. Suara
itu datangnya secara tiba-tiba sekali. Baru sekejap mata Ni Jin-hiong tadi
berpaling ke belakang, tetapi tak melihat suatu apappun. Baru ia bicara dengan
Ma Hong-ing tahu-tahu terdengarlah suara dari sampingnya. Ketika Ni Jin-hiong
memandang dengan seksama, kejutnya bukan alang kepalang !
Seorang pendek kurus, berjenggot kambing dan mengenakan jubah warna merah,
tengah berdiri tak jauh di sebelahnya!
Itulah Sin-bu Te-kun!
Mata Sin-bu Te-kun berkilat-kilat memancarkan api memandang kepada Ni Jinhiong dan Ma Hong-ing.
Tiba-tiba ia membentak, ”Mengapa tak menjawab pertanyaanku itu?”
Semangat Ni Jin-hiong serasa terbang, mukanya pucat seperti mayat. Serta merta
ia berlutut dan meratap, “Hamba pantas dibunuh….!”
Ma Hong-ing pun wajahnya seputih kertas. Ia segera berlutut di hadapan Sin-bu
Te-kun dan meratap tangis, ”Hamba …. tersesat. Mohon demi mengingat
kecintaan sebagai suami isteri, sukalah mengampuni jiwaku ! Selanjutnya
aku……. ”
Wajah Te-kun membesi, “Bukankah kalian hendak melarikan diri ke tempat jauh?
Ayo, pergilah sekarang juga!”
Ni Jin-hiong yang masih berlutut tak henti-hentinya merintih-rintih, “Hamba
memang harus mati…….!”
Ma Hong-ingpun segera memeluk kaki kanan Sin-bu te-kun dan menangis
tersedu-sedu, meratap memohon ampun.
Sin-bu Te-kun sejenak menengadahkan kepala, serunya, ”Dengan kesaktian yang
merajai empat lautan, aku bermaksud hendak menguasai dunia persilatan. Tetapi
tak terduga, peristiwa yang memalukan ini telah menimpa diriku… !”
Dipandangnya kedua lelaki perempuan itu. Serunya geram, “Yang satu permaisuri
tersayang dari Te-kun, yang satu kepala penjaga istana Sin-bu-kiong yang paling
kupercaya. Ah, ternyata mereka telah melakukan perbuatan zinah. Kedua-duanya
telah menghianati aku….”
Tiba-tiba ia menutup dampratannya itu dengan sebuah tendangan. Terdengar
jeritan ngeri dari tubuh Ma Hong-ing yang terlempar di udara. Bum…. ia jatuh dua
tombak jauhnya, sejenak meronta lalu tak berkutik lagi….
Sin-bu Te-kun rupanya masih belum puas. Ia kibatkan dua buah jari tangannya,
yang satu ke arah Ni Jin-hiong, yang satu pada Ma Hong-ing.
Ni Jin-hiong tak berani begerak. Ia mandah punggungnya ditutuk. Seketika ia
merasakan tubuhnya kesemutan lalu terkapar di tanah!
“Bawa kedua anjing ini ke dalam penjara Si-lo. lain hari aku sendiri yang hendak
memberi hukuman kepada mereka!”
Dua pengawal baju ungu segera tampil. Mereka mengangkut tubuh Ni Jin-hiong
dan Ma Hong-ing menuju ke pintu besi. Pada lain saat, pintu besi itupun tertutup
lagi.
Suasana di luar pintu besi kembali diselubungi oleh kesunyian. Mayat dari kedua
pengawal baju biru yang disuruh bunuh diri oleh Ma Hong-ing dan dua pengawal
baju ungu yang dibunuh oleh Cu Giok-bun masih malang melintang di tanah…..
Sekarang marilah kita ikuti Thian-leng dan Bu-song yang jatuh ke dalam liang
jebakan itu.
Akibat pukulan Ma Hong-ing, kedua anak muda itu telah menderita luka yang tak
ringan. Darah mereka serasa bergolak-golak. Untung lwekang mereka cukup
kokoh.
Pada saat menerima pukulan, mereka segera mengerahkan tenaga untuk
menahan, sehingga pukulan lwekang Ma Hong-ing yang mengandung racun Imhan (dingin) itu tak sampai menembus ke dalam tulang.
Lubang perangkap itu cukup dalam. Adalah karena lwekangnya buyar, Thian-leng
tak dapat memusatkan pertahanan diri lagi. Ia coba kerahkan sisa tenaga untuk
memusatkan ketenangan pikirannya ketika sang tubuh meluncur turun ke bawah.
Diam-diam ia menghitung jarak luncurannya itu. Kira-kira limapuluhan tombak,
tiba-tiba kakinya menginjak tanah lunak, macam gundukan pasir. Sekalipun
begitu, toh ia masih merasakan kepalanya pening sekali. Sampai beberapa saat ia
tak dapat bangkit.
Api kebencian membakar hatinya. Tak mungkin Ma Hong-ing itu ibunya. Macan
yang buaspun tak akan memakan anaknya. Ma Hong-ing ternyata lebih buas dari
macan. Apalagi selama berkumpul tujuh belas tahun itu, seingatnya ia tak pernah
berbuat salah terhadap ibunya itu. Ah, benarkah wanita itu ibunya….?
Tiba-tiba ia teringat kepada Bu-song. Bukankah tadi nona itu juga terkena pukulan
Ma Hong-ing dan bersama-sama jatuh ke dalam lubang jebakan ini?
“Nona Lu……,” serentak berteriaklah ia memanggil.
Tiada suatu sahutan.
Thian-leng tergetar. Ia mengulangi lagi berteriak lebih keras, “Nona Lu! No…
na..Lu..!”
Tetap tiada sahutan.
Mulailah Thian-leng memandang ke sekeliling tempatnya. Agaknya ia berada di
dalam sebuah sumur besar yang dalam sekali. Di sekeliling penjuru tak tampak
barang sepercik sinar. Gelap, gelap sekali di sekelilingnya.
Bahkan ketika memandang ke tangannya, tak dapat ia melihat jari tangannya
sendiri….
Beberapa saat kemudian, lapat-lapat ia seperti mendengar suara napas orang
merintih. Ia terkejut girang. Buru-buru ia paksakan diri merangkak menghampiri.
Kira-kira setombak jauhnya, dilihatnya memang Bu-song adanya. Tetapi betapa
terkejutnya ia ketika diperhatikannya tubuh nona itu mandi darah. Rupanya ia
menderita luka yang lebih parah lagi. Ternyata tempat nona itu jatuh selain pasir
juga terdapat kerikil yang tajam. Pinggang dan kaki nona itu pecah-pecah
berdarah. Untung hanya luka luar, namun cukup membuatnya pingsan beberapa
saat sehingga tak mendengar panggilan Thian-leng.
“Nona Lu!” kembali Thian-leng memanggilnya.
Bu-song berusaha untuk mengangkat kepalanya dan menyahut limbung. “Di
manakah kita sekarang?”
“Dalam sebuah lubang jebakan yang berpuluh-puluh tombak dalamnya!”
“Ah, mungkin kita akan mati di sini, " Bu-song menghela napas. Thian-lengpun
rawan hatinya. Meskipun tak takut mati, tetapi ia kecewa dengan kematian cara
begitu.
Ia masih belum mengetahui asal-usul dirinya. Tugas yang diletakkan oleh
beberapa tokoh kepadanya,belum terpenuhi. Kalau harus mati pada saat dan
seperti itu, bagaimana ia tak kecewa?
Bayang-bayang dari Oh-se Gong-mo, Hun-tiong Sin-mo, Cu Siau-bun, Tui-hong
Hui-mo, Sip uh-jong, kedua taci beradik Ki, mulai berlalu-lalang di benaknya.
Mereka telah melimpahkan budi dan menitipkan harapan kepadanya agar
membalaskan sakit hati terhadap Sin-bu Te-kun. Belum cita-cita itu terlaksana, kini
ia sudah terjeblos dalam lubang jebakan maut. Dan yang mencelakainya ialah Ma
Hong-ing!
Siapakah Ma Hong-ing itu sebenarnya?
Apakah wanita itu ibunya atau bukan…..?
Jilid 8 .
Kenangan
Bayangan orang-orang itu lalu-lalang di benak Thian-leng. Kepada mereka ia
mempunyai budi dan dendam yang belum lunas.
Akhirnya setelah hatinya tenteram, ia tersenyum kepada Bu-song, ”Bagaimana
luka nona?”
Bu-song tertawa getir, ”Lukaku tak menguatirkan, tetapi yang penting bagaimana
kita keluar dari tempat ini...?”
“Tak usah nona kuatir, “Thian-leng paksakan tertawa menghiburnya, “lebih baik
kita beristirahat mengembalikan semangat dulu. Setelah itu baru kita berusaha!”
Bu-song mengiyakan, kemudian balas menanyakan luka pemuda itu, Thian-leng
mengatakan tak berbahaya.
Biji mata Bu-song yang berkilau-kilau laksana bintang kejora menatap tajam pada
Thian-leng, ujarnya,”Mungkin kau........masih mendongkol padaku?”
Thian-leng tertegun, “Eh, mengapa nona mengatakan begitu, mana aku berani....”
“Sewaktu di biara rusak, aku memang agak galak, tetapi......” tiba-tiba ia
menghambur tertawa tak melanjutkan ucapannya lagi.
Thian-leng menyeringai. Untung karena gelap kerut wajahnya tak kelihatab Busong. Ia terbatuk-batuk sebentar, lalu menjawab, “Nona tak bersalah, memang aku
sendiripun juga tidak benar!”
“Ih, kau ini kiranya...... seorang yang lemah lembut…..”
Thian-leng tersipu-sipu . Buru-buru ia mengulang anjurannya agar nona itu suka
mengumpulkan semangatnya.
“Tak perlu menyalurkan lwekang, nanti saja setelah berada di neraka kalian boleh
melakukan hal itu!” tiba-tiba terdengar suara tertawa sinis.
Thian-leng terbeliak kaget! Walaupun tak tampak orangnya, tapi ia kenal suara
ketawa itu sebagai suara Ni Jin-hiong. Buru-buru Thian-leng kerahkan
lwekangnya siap sedia. Tetapi ia menderita luka parah, geraknya agak ayal.
Seketika ia rasakan punggungnya kesemutan dan tahu-tahu jalan darahnya kena
tersambar angin tutukan jari Ni Jin-hiong. Bu-songpun mengalami nasib serupa.
Pada lain saat Ni Jin-hiong muncul. Sambil menyambar pedang salah seorang
pengikutnya, segera ia tebaskan kepada kedua anak muda itu.........
Sekonyong-konyong pada detik-detik maut hendak merenggut jiwa kedua anak
muda itu, terdengarlah derap kaki bergegas mendatangi. Berbareng dengan itu
terdengar suara bentakan nyaring, “Te-kun memberi perintah, semua orang yang
menyelundup ke dalam istana harus ditangkap hidup-hidup, tak boleh dibunuh.
Tawanan harus segera dijebloskan ke dalam penjara Cui-lo. Kedua penjaga Coyu sucia diwajibkan mengawasi!”
Ni Jin-hiong terpaksa menarik pulang pedangnya dan banting-banting kaki.
Namun ia tak berani membantah. Sesaat kemudian orang itu terdengar
menyelinap pergi lagi.
“Jebloskan ke dalam penjara Cui-lo!” Ni Jin-hiong berseru dengan tak
bersemangat.
Beberapa penjaga tampil menjerat Thian-leng dan Bu-song. Karena jalan
darahnya tertutuk, Thian-leng tak dapat berbuat apa-apa. Lapat-lapat ia
mendengar Ni Jin-hiong memberi perintah kepada salah seorang pengawal, “Aku
hendak melapor pada Te-kun. Kalian harus hati-hati menyerahkan kedua tawanan
ini kepada Co dan Yu kedua sucia!”
Pada lain saat Ni Jin-hiongpun lenyap. Tampak di sebelah muka terdapat sebuah
pintu batu yang tertutup rapat. Di kedua sampingnya diterangi oleh empat batang
lilin yang sebesar lengan anak kecil.
“Apakah yang kau bawa itu kedua tawanan tadi?” tiba-tiba terdengar suara
bentakan keras. Dua penjaga tua yang bertubuh kurus dan gemuk muncul dari kirikanan pintu.
Rombongan yang membawa Thian-leng dan Bu-song serempak menyahut,
“Benar, atas perintah Te-kun, tawanan ini supaya diserahkan kepada su-cia
berdua!”
Penjaga yang bertubuh gemuk dan kurus itu brseru, “Baik, jebloskan ke dalam!”
Terdengar suara berdrak-derak dan kedua daun pintu batu itupun perlahan-lahan
terbuka. Di dalam pintu ternyata merupakan sebuah kubangan seluas sepuluh
tombak, penuh digenangi air busuk. Baunya menusuk hidung. Di tengah
kubangan terdapat beberapa tiang batu yang ujungnya diberi gelang baja besar.
Rombongan pengawal segera mengikat Thian-leng dan Bu-song. Kedua anak itu
diikat pada gelang baja. Dengan demikian Thian-leng dan Bu-song dibenam
dalam kubangan air itu sebatas dada. Kedua tangan mereka diikat pada tiang
batu. Keadaannya tak berdaya sama sekali karena jalan darah mereka tertutuk….
Selesai mengikat, rombongan pengawal segera pergi dan pintu batupun tertutup
pula. Kini di dalam penjara Cui-lo hanya tertinggal kedua anak muda itu. Lama
sekali keduanya tak dapat bicara. Akhirnya Thian-lenglah yang mulai membuka
mulut, “Nona Lu……… lukamu…..”
Bu-song tertawa getir, “Jiwapun belum tentu selamat, mengapa masih menyibuki
luka!”
Pedih hati Thian-leng, katanya dengan rawan, ”Mati tak kusayangkan, tetapi tak
seharusnya kurembet nona…..”
Bu-song menghela napas, “Aku tak sesalkan kau, biarlah kita serahkan pada
nasib!”
Habis berkata dara itu pejamkan mata, Thian-lengpun ikut terbenam dalam
renungan.
Sesaat sunyi senyap dalam penjara air. Dari berpuluh-puluh tonggak batu yang
berada dalam kubangan air busuk itu, semua kosong kecuali terisi mereka berdua.
Dinding tembok penjara itu terbuat dari batu yang tebal, hanya bagian wuwungan
atas diberi berpuluh lubang kecil untuk udara. Penjara air yang sekokoh itu masih
dijaga pula oleh dua penjaga yang bertubuh gemuk dan kurus…..
Gelap makin gelap!
Perlahan-lahan Thian-leng mengedarkan pandangannya memandang sekeliling
tempat itu. Diam-diam ia mengeluh. Jangankan dirinya diikat pada tonggak batu,
sekalipun dibebaskan tetap sukar sekali untuk lolos dari penjara air yang
sedemikian kokohnya.
Kubangan air busuk sekali hawanya. Sedemikian busuk sampai membuat orang
hampir muntah. Bu-song mengkertak gigi, dahinya mengerut dan tak hentihentinya tubuhnya bergetar. Jelas dara itu tengah berjuang menahan derita
kesakitan.
Melihat itu Thian-leng makin pedih, serunya, “Nona Lu…..”
Bu-song menghela napas, menyahut perlahan, “Hmm……” Thian-leng hendak
menghibur dara itu, tetapi sesaat tak tahulah ia bagaimana hendak mengucapkan
kata-katanya. Mulutnya bergerak-gerak, tetapi tak jelas apa yang dikatakan.
”Kau hendak berkata apa, mengapa tak jadi?” dengus Bu-song.
Kini Thian-leng yang menghela napas, ”Semua adalah salahku, sehingga
menyebabkan nona ikut menderita. Aku....minta maaf!”
“Apakah cukup dengan permintaan maaf saja?” dengus Bu-song pula.
Thian-leng tertegun ujarnya, “Jika berhasil lolos dari neraka ini, kelak aku tentu
akan membalas budi nona. tetapi jika tak beruntung mati di sini, biarlah dalam
penjelmaan kelak kubalas budi nona!”
Mendengar ucapan itu lupalah sejenak Bu-song akan penderitaannya. Matanya
berkilat-kilat menatap Thian-leng.
“Jika kita tidak mati, bagaimana kau hendak membalas budi padaku?”
Setitikpun Thian-leng tak menyangka bahwa si dara akan mengutarakan
pertanyaan semacam itu. Ia tertawa rawan dan cepat-cepat mengalihkan
pembicaraan, “Yang penting sekarang kita harus berdaya mencari jalan lolos.
Entah bagaimana dengan luka nona sekarang...?”
“Tidak, kau harus mengatakan hal itu. Setelah itu baru kita bicarakan lain-lainnya!”
si dara bersikukuh.
Thian-leng kerutkan alis, ”Jika beruntung tak mati di sini, apapun yang nona
hendak perintahkan padaku, tentu aku sanggup melaksanakan, sekalipun harus
terjun ke dalam lautan api !”
”Hanya begitu?” Bu-song agak kurang puas.
Diam-diam Thian-leng membatin. Anak perawan ini aneh sekali. Budi dibalas budi
adalah sudah layak. Mengapa masih ngotot, apa yang dikehendaki lagi?
“Maaf, aku tak dapat memikirkan, bagaimana cara membalas budi yang
memuaskan nona, hanya saja.......aaa, tak peduli nona akan menitahkan apapun,
tentu kululuskan!”
Kini barulah Bu-song tersenyum puas, ujarnya, “Mulutmu yang mengatakan
sendiri, kelak janganlah menyesal!”
“Apakah aku ini orang yang tak pegang janji? Nona......”
“Aku percaya padamu. Tak usah berkata lagi.....” tukas Bu-song. “Coba terka, apa
yang hendak kuminta darimu?”
Kembali Thian-leng tertegun, “Bagaimana aku tahu hati nona? Tetapi pokoknya
apapun yang nona katakan, pasti kulakukan dengan sepenuh tenaga. Tentu
takkan mengecewakan!”
Tiba-tiba mata Bu-song berkilat-kilat penuh sinar harapan hidup dan mulutnya
tersekat-sekat berkata, “Aku ....... menghendaki kau seumur hidup.............”
Sekonyong-konyong terdengar pintu batu berderak-derak terbuka sehingga Busong tak dapat melanjutkan kata-katanya. Kedua anak muda itu cepat berpaling.
Ternyata pintu penjara air itu terbuka lebar. Penjaga gemuk dan kurus yang
disebut Co sucia dan Yu sucia itu tegak berdiri di ambang pintu.
“Bawa anak perempuan itu!” serunya dengan bengis. Dua penjaga berpakaian
hitam muncul menghampiri Bu-song. Mereka membuka ikatan si nona lalu
menyeretnya pergi.
“Kalian hendak membawa aku kemana?” karena jalan darahnya tertutuk, Bu-song
tak dapat berbuat apa-apa kecuali menjerit-jerit.
“Jangan ribut!” bentak kedua pengawal gemuk dan kurus, “sebentar kau tentu tahu
sendiri!”
“Aku tak mau pergi!” Bu-song menjerit-jerit, “kalau mau membawa aku, bawalah
pemuda itu juga....”
Si gemuk dan si kurus tertawa tergelak-gelak, “Aneh, apakah enaknya dibenam
dalam air busuk dengan tangan diikat? Sebentar kau akan ke tempat bahagia........”
“Awas jangan sampai melukainya..........,” kedua sucia memberi perintah bengis.
Kedua anak buah baju hitam mengiyakan. Mereka menggusur Bu-song keluar.
Lenyapnya suara tertawa dari kedua su-cia gemuk kurus dibarengi dengan
tertutupnya pintu baru.
Masih terdengar suara Bu-song yang penghabisan kalinya, “Kang Thian-leng, jika
aku tak mati, aku tentu datang menolongmu, kau.......” Hanya itu suara yang dapat
diteriakkan si dara karena sekejap kemudian suaranya telah lenyap ditelan
tertutupnya pintu batu.
Hati Thian-leng pun ikut tenggelam. Kemanakah mereka hendak membawa si
dara? Akan dibunuh atau dilepaskan? BetapaThian-leng berusaha untuk
menganalisa, namun tak dapat ia membuat kesimpulan.
Penjara airpun kembali dalam kegelapan. Kini hanya berisi Thian-leng seorang.
Badannya yang terikat dan rasa sakit pada luka-lukanya, tak dihiraukan sama
sekali. Ia masih dapat bertahan. Tetapi derita batin memikirkan keselamatan Busong jauh lebih menyiksa hatinya. Dalam kemarahan yang tak berdaya itu, hampir
putuslah segala harapan. Betapa inginnya saat itu ia segera mati saja! Ya, hanya
kematianlah yang kiranya dapat membebaskannya dari penderitaan semacam itu.
Sekilas kemudian, terlintas suatu percikan sinar terang dalam otaknya. Mati, ya,
kematian memang enak, memang satu-satunya cara untuk membebaskan
penderitaan.
Tetapi hal itu hanyalah suatu penghindaran diri dari kenyataan. Suatu pengelakan
dari tanggung jawab.
Suatu perbuatan pengecut dari manusia yang tak berani menghadapi kenyataan
hidup. Bukankah ia seorang jantan ? Mengapa ia takut menanggung segala akibat
perjalanan hidupnya ?
Sesaat tenanglah pikirannya. tetapi ketenangan itu hanya berlangsung beberapa
detik saja. Karena segera pikirannya terlintas pula oleh bayangan Lu Bu-song.
Adalah karena hendak menolong dirinya, maka dara itu sampai menyelundup
masuk ke dalam istana Sin-bu-kiong. Jika dara itu tak muncul, mungkin saat ini ia
sudah menjadi budak pengikut Sin-bu Te-kun atau mungkin sudah menjadi mayat!
Memang perangai dara itu agak kemanja-manjaan dan congkak. Tetapi
betapapun ia telah menolong jiwanya. Telah mempertaruhkan jiwanya sendiri
untuk melepaskannya dari belenggu perbudakan Sin-bu Te-kun. Adalah sudah
menjadi kewajibannya untuk balas budi menolong si dara dari cengkeraman iblisiblis Sin-bu-kiong.
Mengapa dara itu dibawa pergi kalau tidak akan dibunuh? Memikirkan hal itu
kembali hati thian-leng tegang sekali. tetapi pada lain saat ia teringat bahwa Busong adalah cucu kesayangan dari ketua partai Thiat-hiat-bun. Kakek berjenggot
perak ketua partai Thiat-hiat-bun adalah seorang tokoh sakti. Mungkin tentu dapat
menolong cucunya.
Sesaat cemas, sesaat terhibur. Pikiran Thian-leng teraduk-aduk oleh berbagai
lamunan. Entah berapa lama ia berada dalam gelombang kecemasan yang
pasang surut tak henti-henti melanda batinnya. Sekonyong-konyong ia dikejutkan
oleh suatu suara yang mencurigakan. Suara itu terdengar lemah sekali hingga
hampir tak tertangkap oleh telinga andaikata tak secara kebetulan Thian-leng
dapat mendengarnya. Suara itu lemah dan sebentar-sebentar lenyap.
Cepat-cepat Thian-leng pusatkan seluruh perhatiannya. Ia memandang ke
sekeliling penjara dengan seksama. Ah, dinding tembok itu terbuat dari batu yang
kokoh dan licin. Tak tampak barang sedikitpun retakan ataupun liang. Tak mungkin
suara orang dapat menembus ke dalam. ia mendongak memandang pada langitlangit ruangan, tak memungkinkan juga ditembus suara.
Thian-leng pejamkan mata. Diam-diam ia menertawakan dirinya yang sudah
kacau. Paling-paling suara itu tentu berombaknya air busuk dalam kubangan.
Teringat akan air, iapun menunduk memandang ke permukaan air. Permukaan air
tenang sekali, sedikitpun tidak beralun. Apalagi di dalam air yang sedemikian
busuknya, tak mungkin terdapat mahluk hidup.
Tiba-tiba ia tersentak kaget lagi. Mau tak mau ia harus mempercayai pendengaran
telinganya. Ya, terdengar pula suara lemah itu. Malah kini lebih dari yang tadi. Ia
yakin tentu tak salah dengar. Jelas bahwa suara itu merupakan suara erang
seruan seseorang. Ah, tak salah lagi !
Satu-satunya jalan yang dapat ditembusi ialah dari lubang-lubang kecil pada
langit-langit ruang penjara. Maka kali ini ia hentikan pernapasan dan mendongak
ke atas mendengarkan dengan penuh perhatian. Ah, benarlah. Suara lemah itu
terdengar jelas…..
Sayup-sayup terdengar suara seorang tua yang parau, “Nak, apakah kau
mendengar suaraku….?”
Girang Thian-leng tak terkira, segera ia menyahut. “Ya, mendengar. Siapa kau?”
karena meluapnya rasa girang, Thian-lengpun menghamburkan suaranya dengan
keras sehingga ruang penjara air itu seolah-olah terselubung oleh suara
kumandangnya yang bergema lama.
Ketika suara Thian-leng sudah lenyap, terdengar pula suara parau itu, “Nak,
jangan keras-keras, aku tak dapat mendengar dan lagi akan menarik perhatian
penjaga!”
“Cianpwe, di manakah kau?” Thian-leng segera merobah suaranya seperlahan
mungkin.
Orang tak dikenal itu menghela napas, “Aku berada di ruang penjara Si-lo
( Penjara maut), di sebelah penjara air……”
Penjara Si-lo…… ! Thian-leng berseru kaget, ‘’ Bilakah cianpwe dijebloskan
mereka?”
Orang itu mengerang sejenak, ujarnya, “Tujuh belas tahun yang lalu…………”
“Tujuh belas tahun yang lalu?” kembali Thian-leng terkejut, ‘’siapakah nama
locianpwe.. ?”
Kata-kata tujuh belas tahun itu memberi getaran keras pada perasaan Thian-leng.
Ia mendapat firasat bahwa pada masa itu telah terjadi suatu peristiwa yang tak
wajar dan peristiwa itu mempunyai sangkut-paut dengan dirinya.
Orang itu berhenti sejenak, kemudian katanya pula, “Nak, jangan banyak tanya
dulu. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Thian-leng tertawa getir, “Jalan darahku tertutuk, kedua tanganku diikat dan aku
dijebloskan dalam penjara air yang berdinding kokoh. Locianpwe, kiranya engkau
tentu dapat membayangkan keadaanku itu!”
“Yang kutanyakan ialah lukamu!” cepat orang itu menyeletuk.
“Sekalipun menderita luka, tetapi aku telah mendapat peruntungan yang luar biasa
dari seorang sakti. Tenaga dalamku telah digembleng sehingga luka yang kuderita
ini tak menjadi soal.”
“Dapatkah kau menguasai ilmu mengerahkan lwekang untuk membuka jalan
darah yang tertutuk?” tanya orang itu pula.
Thian-leng tertegun, ujarnya, “Ini…. ini aku belum pernah mencoba!”
“Sekarang kau boleh mencobanya!”
Masih Thian-leng meragu, serunya, “Locianpwe, sukakah kau memberitahukan
namamu yang mulia?”
“Jangan banyak mulut!” orang itu membentak marah, “ lekas cobalah!”
Thian-leng tak berani banyak bicara lagi. Ia anggap perkataan orang tak dikenal
itu memang benar. Siapa tahu jika memang dengan pengerahan tenaga lwekang
dapat membuka jalan darahnya yang tertutuk, bukankah itu suatu pertolongan
yang besar? Segera ia mengerahkan semangat dan pusatkan seluruh
perhatiannya. Setelah tenaga itu terpusat, segera ia salurkan ke arah jalan
darahnya yang tertutuk. Tetapi secepat itu ia merasakan suatu penderitaan yang
hebat. Tulang-tulangnya serasa ditusuk senjata tajam. Sakitnya bukan kepalang
sehingga ia mengerang.
“Ah, aku tak dapat melakukan,” rintihnya.
“Karena takut sakit?” orang itu mengejek.
Thian-leng tak dapat menyahut. Diam-diam ia malu dalam hati.
Tiba-tiba terdengar keluh orang itu, “Ah, mungkin aku salah menilai orang. Hm, kita
sudahi saja pembicaraan sampai di sini!”
Bukan kepalang terkejutnya Thian-leng, serunya tersipu-sipu. “Locianpwe….
Locianpwe. …”, tetapi betapapun ia meneriaki, tak terdengar suara sahutan.
Rupanya orang itu benar-benar marah, tak mau lagi bicara padanya.
Terdorong oleh rasa malu dan gugup, ia segera menggertak gigi dan
mengerahkan seluruh lwekangnya untuk membuka jalan darahnya yang tertutuk
itu. Sekali…. dua kali… tiga kali…. ia tahan segala kesakitan, terus
menggempurkan lwekangnya.
Sampai pada putaran yang ke sembilan kali, terdengarlah tulang-tulangnya
berkerotokan dan jalan darahnya yang tertutuk itupun …terbuka!
Girang Thian-leng bukan kepalang! Tetapi saat itu ia merasa letih sekali. Tulangtulangnya serasa lunglai, kepalanya mandi keringat, napas terengah-engah.
Sekonyong-konyong terdengar pula orang tak dikenal itu tertawa perlahan.
“Bagaimana nak?”
“Aku berhasil melakukan……” sahut Thian-leng terengah-engah.
“Ah, nyata kau tak mengecewakan harapanku!”
“Tetapi….”
“Tetapi bagaimana?”
“Karena terikat oleh kulit ular , sekalipun jalan darahku sudah terbuka, tetapi belum
dapat memutuskan tali pengikat itu!”
Orang di dalam penjara air itu tertawa, “Tak perlu kuatir! Cobalah kau ulangi lagi
jurus-jurus yang kau pelajari dari Sin-bu Te-kun itu!”
Kembali Thian-leng terkejut. Memang selama bertanding dengan Sin-bu Te-kun,
karena Sin-bu Te-kun bergerak perlahan, maka dapatlah ia mempelajari jurus
gerakannya yang luar biasa. Tetapi yang membuat pemuda itu tak habis heran,
orang yang telah dijebloskan ke dalam penjara maut selama tujuh belas tahun,
mengapa tahu kalau ia habis bertempur dengan Sin-bu Te-kun?
“Cianpwe, rupanya kau mengetahui segala apa, mengapa……….”
“Jangan banyak bicara ?” tiba-tiba orang itu menukas, “lekas turut perintahku ini!”
Thian-leng yang sudah mengenal akan perangai orang, terpaksa tak berani
membantah. Segera ia ulangi menjalankan jurus-jurus dari permainan Sin-bu Tekun. Makin lama makin terlelap ia dalam ilmu permainan yang luar biasa itu.
Entah berapa lama ia terbenam dalam permainan itu. Satu demi satu, dari jurus ke
jurus, telah dimainkan sampai selesai. Setelah inti pelajaran itu dicamkan benarbenar, barulah ia berkata, ’’Locianpwe, telah kupelajari pelajaran itu dengan
paham !’’
Dengan suara menghibur, orang aneh itu berseru, “ Bagus, sekarang kau boleh
bertanya!”
Buru-buru Thian-leng menanyakan nama orang aneh itu.
“Nyo Sam-koan!” sahut orang itu serentak.
“Ha….? Mohon locianpwe mengatakan sekali lagi!”
Dengan tegas orang itu mengulangi lagi ,”Nyo… Sam….. Koan……”
Thian-leng merasakan jantungnya hampir melompat ke luar. Darahnya serasa
membeku dan dengan suara lemah-lunglai ia berseru, “Kalau begitu, locianpwe ini
adalah Sin-bu-kiong Te-it Ong-hui punya……”
“Benar, Ma Hong-ing memang semula adalah istriku!”
Makin terengah napas Thian-leng seketika. Serunya , “Pada tujuh belas tahun
berselang, bukankah kau pernah mempunyai seorang putera? Mengapa kau
sekarang dijebloskan dalam penjara maut ini?”
Nyo Sam-koan tertawa getir, “Nak, akan kuceritakan padamu dengan perlahanlahan. Tetapi yang jelas, aku bukanlah ayahmu……! Siapa ayahmu aku sendiri tak
jelas….! Mungkin kau anaka pungut Ma Hong-ing atau mungkin anak orang lain
yang dicuri… ‘’
Dada Thian-leng berombak keras menahan gelombang perasaannya yang
bergolak-golak. Namun ia tahankn diri tak mau menyambung bicara.
Kata Nyo Sam-koan pula, “Sekarang aku sudah berumur tujuh puluh lima tahun.
Dahulu sejak kecil aku menjadi bujang dari keluarga Pok di Lulam. Keluarga Pok
termasyhur sebagai tokoh silat yang dihormati orang. Aku disuruh melayani
puteranya yang bernama Pendekar pedang bebas Pok Thiat-beng…..”
“Pok Thiat-beng……!” menjeritlah Thian-leng dengan terkejut. Bukankah Pok
Thiat-beng itu orang yang hendak dicari wanita sakti Toan-jong-jin? Apakah
hubungan mereka berdua? Dan apa sangkut pautnya dengan dirinya…
“Jangan keburu memutuskan omonganku dulu, nak. Dengarlah ceritaku lebih
lanjut….” kata Nyo Sam-koan dengan suara lemah, “Pok kongcu itu seorang
pemuda yang gagah perwira. Ia bercita-cita hendak menjelajahi dunia, maka
diajaknyalah aku mengembara, mengunjungi tempat-tempat termasyhur…..
Peristiw itu terjadi pada delapan belas tahun yang lalu. Pada waktu itu, aku baru
berumur enam puluh tahunan. Karena selama menjadi bujang keluarga Pok aku
juga diajari ilmu silat, mak tubuhku masih tampak segar kuat. Dan kala itu Pok
kongcu baru berumur duapuluh tahunan. Karena tertarik dengan kemasyhuran
alam daerah selatan, maka kami segera menuju ke selatan. Sebulan kemudian
tibalah kami di daerah Ling-lam….” Nyo Sam-koan berhenti sejenak untuk
mengatur napasnya.
“Lalu?” desak Thian-leng.
“Mungkin seharusnya Pok kongcu jangan pesiar ke Ling-lam. Karena hal itulah
maka sampai menimbulkan bermacam kejadian yang berbelit-belit!”
“Memang Pok kongcu memiliki kepandaian silat yang hebat, sehingga dalam usia
kurang dari dua puluh tahun saja dia sudah merupakan tokoh silat yang
termasyhur di dunia persilatan Tiong-goan. Sebagai anak muda, tak lepas Pok
kongcu dari rasa bangga. Julukan Siau-yau kiam-khek (Pendekar pedang bebas)
itu dia sendirilah yang mengumumkan. Selama dalam pengembaraan itu, tak
sedikit sahabat-sahabat persilatan yang coba-coba hendak menjajal kepandaian
Pok kongcu. Tetapi rata-rata mereka hanya mampu melayani Pok kongcu sampai
sepuluh jurus saja. Tak seorangpun dari tokoh persilatan yang tak mengagumi
ilmu pedang Pok kongcu! Tetapi setiba di Liang-lam, terjadilah suatu peristiwa
yang luar biasa. Pok kongcu telah ketemu batunya…. »
‘’Apakah dia dikalahkan orang ?’’ Thian-leng tak dapat menahan diri lagi.
“Benar!” sahut Nyo Sam-koan. “Bahkan menderita kekalahan yang mengenaskan.
Baru bertempur tiga jurus saja, pedangnya telah dimentalkan jauh, lengan
kanannya terluka. Sekalipun lawan tak bermaksud melukainya sungguh-sungguh,
namun hal itu dianggapnya suatu penghinaa yang hebat!”
Thian-leng dapat memahami. Memang seorang tokoh persilatan, menganggap
nama itu jauh lebih berharga dari jiwa. Apalagi seorang pemuda yang tinggi hati
macam Pok Thian-beng. Tidak sampai tiga jurus sudah dikalahkan orang,benarbenar lebih baik mati saja.
“Siapa lawannya yang begitu lihai itu?” tanya Thian-leng.
“Thiat-hiat-bun!” sahut Nyo Sam-koan.
“Thiat-hiat-bun?” untuk kesekian kalinya Thian-leng berjingkrak kaget.
“Lawannya itu hanya seorang dara yang baru kira-kira berumur enam belas tahun.
Puteri kesayangan dari Lu Liang-ong, ketua partai Thiat-hiat-bun sendiri!” kata Nyo
Sam-koan lebih lanjut.
Hati Thian-leng bergelombang keras. Seketika teringatlah dia akan si dara Busong. Bu-song ialah cucu si Jenggot Perak Lu Liang-ong, ketua Thiat-hiat-bun.
Kalau begitu bukankah yang mengalahkan Pok Thiat-beng itu ibu dari Bu-song?
Sesaat kemudian Nyo Sam-koan berkata pula, “Seteloah menderita kekalahan itu,
Pok kongcu segera hendak membunuh diri. tetapi ah………. rupanya masih
panjang lelakonnya. Ternyata dara yang mengalahkan Pok kongcu itu malah jatuh
cinta padanya….!”
”Apakah mereka lalu menikah?” seru Thian-leng.
“Ya,” jawab Nyo Sam-koan, “tiga hari kemudian disaksikan oleh ketua Thiat-hiatbun Lu Liang-ong, mereka terangkap menjadi suami isteri, bersumpah sehidup
semati…..!”
Kembali pikiran Thian-leng melayang-layang. Wanita sakti Toan-jong-jin minta
padanya supaya mencarikan jejak Pedang bebas Pok Thiat-beng. Dalam ucapan
wanita itu seperti tersimpan urusan cinta. Tetapi si Patah hati itu kini sudah
merupakan seorang nenek berumur tujuh-delapan puluh tahun. Rasanya tentu
bukan puteri dari ketua Thiat-hiat-bun. Memikir sampai di situ, peninglah kepala
Thian-leng…..
“Siapa nama gadis yang menikah dengan Pok Thian-beng itu?” tanyanya.
“Lu Giok-bun !” jawab Nyo Sam-koan.
Thian-leng hanya mendesis. Ia tetap merasa terbungkus dalam halimun
kegelapan…
Dua gembong bertemu.
“Meskipun Pok kongcu sudah menikah dengan nona Lu, tetapi ia tak mau menetap
di daerah Ling-lam. Setelah beberapa bulan kemudian ia pamit pada ayah
mertuanya dan membawa isterinya pulang ke utara.
Nona Lu mempunyai seorang pelayan perempuan yang semestinya ditinggal di
rumah untuk melayani Lu Liang-ong. Tetapi bujang perempuan itu dengan sangat
meminta pada nona Lu supaya diperbolehkan mengikutinya. Katanya ia ingin
melayani nona majikannya selama-lamanya. Sekalipun terharu atas kesetiaan
bujang itu, namun nona Lu tak meluluskan, karena mengingat kepentingan
ayahnya nanti.
Di luar dugaan bujang itu menyatakn bahwa ia jatuh cinta padaku dan ingin
menjadi isteriku…..”
“Sungguh baik sekali!” seru Thian-leng.
“Baik sih baik, tetapi akhirnya menjadi buruk…..”
“Apakah budak perempuan itu…..”
“Ialah Ma Hong-ing yang menjadi Teit Ong-hui dari Sin-bu Te-kun sekarang!” ia
menutup kata-katanya dengan helaan napas.
“Lo-cianpwe, lekas lanjutkan ceritamu!” Thian-leng tak sabar lagi.
“Baik, “ kata Nyo Sam-koan, “atas permintaan yang sangat dari Ma Hong-ing,
akhirnya nona Lu meluluskan Ma Hong-ing jadi dinikahkan dengan aku lalu diajak
pulang ke rumah Pok kongcu. Tetapi sebelum sempat pulang ke Lu-lam, di tengah
jalan telah timbul peristiwa….”
“Karena tujuan semula Pok kongcu hendak pesiar, maka iapun mengajak isterinya
berbulan madu dahulu, pesiar ke berbagai tempat yang indah alamnya. Maka
kurang lebih delapan bulan lamanya, barulah kami tiba di daerah Su-chuan.
Waktu itu nona Lu dan Ma Hong-ing masing-masing sudah mengancdung. Karena
kuatir tak keburu mencapai rumah , maka Pok kongcu segera mengutus aku untuk
memberi kabar dulu ke lu-lam. Pok kongcu dan isteri terpaksa tinggal di Su-chuan
menunggu kelahiran….”
“Pergi pulang ke Lu-lam itu memakan waktu delapan bulan lebih. Ketika aku
kembali ke Su-chuan, nona Lu dan Ma Hong-ing pun telah melahirkan anak. Nona
Lu melahirkan seorang puteri dan Ma Hong-ing seorang lelaki….”
Nyo Sam-koan berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tiba-tiba ia berseru, “Anak
lelaki itu ialah Kau!”
Jantung Thian-leng berdebar keras, serunya, “Kalau begitu apakah kesemuanya
ini benar? Ma Hong-ing adalah ibu kandungku dan kau..... adalah ayahku....”
Nyo Sam-koan tertawa getir, “Tidak, yang jelas aku bukanlah ayahmu!”
“Hai, bagaimana kau begitu yakin?” seru Thian-leng.
“Karena …. karena aku tak pernah meniduri Ma Hong-ing!”
“Hai.....! Bagaimana ia bisa hamil?”
“Ini........ ada dua kemungkinan. Pertama, dia pura-pura hamil. Pada saatnya
melahirkan, dia diam-diam menculik bayi dari salah seorang penduduk yang
tinggal di dekat desa situ.....”
“Ah, jadi ........ aku ini anak curian...........?” Thian-leng mengeluh.
Nyo Sam-koan menghela napas, ujarnya pula, “Dan kemungkina kedua, Ma Honging hamil sungguhan!”
“Dengan siapa?” seru Thian-leng.
“Dia berjinah dengan orang lain!”
Darah Thian-leng serasa membeku. Kalau benar begitu, ia seorang anak haram.
Hai…. tiba-tiba ia teringat akan tingkah laku Ma Hong-ing. Apakah ...... apakah dia
berjinah dengan Ni Jin-hiong? Ah.... kalau begitu, Ni Jin-hiong itukah ayahnya...?
Sungguh ngeri....!
Kesimpulan ini lebih banyak mendapat tempat dalam pikiran Thian-leng. Karena
kalau tidak, perlu apa Ma Hong-ing pura-pura hamil lalu mencuri bayi orang?
Kemungkinan pertama itu, rasanya lebih tidak masuk akal. Mungkin Ma Hong-ing
takkan berbuat begitu!
Jika benar ia itu putera Ni Jin-hiong, ah.....! Tak tahu bagaimana perasaan Thianleng saat itu. Yang nyata ia kepingin segera mati saat itu juga!
Kembali suara parau dari Nyo Sam-koan terdengar pula, “Nak, tak usah kau resah.
Macan betina yang buas, tetap takkan memakan anaknya. Tetapi melihat tindakan
Ma Hong-ing yang dengan berbagai tipu muslihat hendak membunuhmu,
membuktikan bahwa kau bukanlah anak kandungnya.....!”
Thian-leng menghela napas, “Namun andaikata benar mereka itu ayah bundaku,
akupun ....”
“Justru hal itulah yang harus kau selidiki sampai jelas!” tukas Nyo Sam-koan.
Thian-leng tertawa getir, “Lo-cianpwe, silakan melanjutkan lagi!”
Nyo Sam-koan menarik napas, ujarnya, “Pada saat aku kembali ke Su-chuan,
terjadilah suatu peristiwa yang tak terduga-duga…..” ia berhenti sejenak untuk
menggali ingatan. Kemudian melanjutkan, “ Saat itu tengah malam buta. Tiba-tiba
kudengar percekcokan mulut antara Pok kongcu dengan nona Lu. Baru pertama
kali itu sejak menikah mereka cekcok. Yang pertama, tetapi juga yang terakhir!
Semula hanya dengan suara perlahan, tetapi makin lama makin keras dan nyolot.
Ketika aku menyadari bahwa keduanya sudah sama-sama naik darah, segera aku
bergegas keluar hendak meramaikan. Tetapi sudah terlambat. Kedua suami isteri
itu sudah bertempur!
Mereka sama-sama memiliki kepandaian sakti. Betapapun usahaku hendak
melerai, namun tak berdaya juga. Pok kongcu dapat melukai lengan kiri nona Lu,
tetapi nona Lu pun dapat menusuk dadanya. Sepasang suami isteri yang saling
mencintai satu sama lain, pada saat itu telah berobah menjadi dua musuh yang
mendendam. Akibatnya telah menimbulkan peristiwa-peristiwa yang menyedihkan
sekali…..
Akhirnya Pok kongcu marah dan tinggalkan isterinya. Dan nona Lu pun membawa
puterinya itu pergi. Sepasang burung merpati, kini saling terbang tercerai-berai....”
“Urusan apakah yang menyebabkan mereka sampai terpecah-belah begitu
macam?” tanya Thian-leng.
Kali ini Nyo Sam-koan menghela napas panjang, ujarnya, “ Semula aku sendiripun
tak tahu persoalannya. Tetapi akhirnya ku ketahui juga. Kiranya wanita busuk Ma
Hong-ing itulah yang menjadi gara-garanya. Dia telah mengatur siasat mengadu
domba…….”
“Bagaimana caranya mengadu domba?”
“Di hadapan Pok kongcu ia merangkai cerita bahwa sewaktu masih gadis di Lionglam, nona Lu sudah mempunyai kekasih. Juga sebaliknya di depan nona Lu, Ma
hOng-ing menggosok-gosok bahwa Pok kongcu itu sebenarnya sudah mempunyai
isteri di rumah!”
“Masakan kedua suami isteri itu begitu mudah saja memercayai cerita itu?” seru
Thian-leng.
“Ah, Pok kongcu dan nona Lu sama-sama masih muda. Darah mereka mudah
meluap. Apalagi karena rasa cintanya, mereka mudah dihinggapi rasa cemburu.
Pada saat masing-masing menganggap bahwa orang yang dicintainya itu ternyata
sudah mempunyai kekasih, meletuslah perang mulut yang berakhir dengan
pecahnya istana kasih yang mereka bentuk selama itu. Perempuan busuk Ma
Hong-ing memang lihay. Selain cerita, iapun dapat menunjukkan beberapa bukti
untuk memperkuat ceritanya itu. Demikianlah akhirnya kedua suami isteri itu
berpisah……”
Thian-leng termenung mendengar kisah-kasih yang tragis itu. Tiba-tiba ia teringat
pada si wanita Patah Hati. Mengapa wanita aneh itu memakai nama Toan-jongjin? Bukan tidak ada sebabnya ia menggunakan nama itu! Dan kalau menilik
gerak-geriknya, kecuali hanya umurnya yang berbeda, wanita itu menyerupai
benar dengan Lu Giok-bun. Hal ini........
“Begitu mengetahui persoalannya, “ tiba-tiba lamunan Thian-leng terbuyar oleh
kata-kata Nyo Sam-koan pula, “segera kususul Pok kongcu. Kepadanya
kujelaskan bahwa sebenarnya nona Lu tak bersalah, tetapi......” Nyo Sam-koan
tertawa rawan dan tak melanjutkan kata-katanya.
Thian-leng dapat meraba apa yang telah terjadi. Namun dicobanya berkata juga,
“Bukankah akhirnya kau kena diringkus Ma Hong-ing dan dijebloskan ke dalam
Sin-bu-kiong sini……”
“Benar!” sahut Nyo Sam-koan, “ternyata orang-orang Sin-bu-kiong sudah
memasang pengaruh sampai di Suchuan. Mereka diam-diam sudah mengepung
tempat tinggal Pok kongcu…….” ia berhenti sejenak, katanya pula, “tetapi sampai
sekarang ini aku belum jelas kapankah Ma Hong-ing itu mulai mengadakan
hubungan rahasia dengan Sin-bu Te-kun dan akhirnya menjadi Te-it Ong-hui?”
Cerita itu telah memberi banyak pengetahuan pada Thian-leng. Tetapi juga lebih
mempertebal kabut rahasia yang menyelimuti asal-usul dirinya.
“Lo cianpwe, apakah selama tujuh belas tahun ini kau dijebloskan dalam penjara
air ini?” tanyanya.
“Ya,” Nyo Sam-koan mengiyakan, “mereka telah melumpuhkan kepandaianku.
Kedua kakiku dirantai sehingga setapakpun aku tak dapat keluar dari penjara air
ini. Selama tujuh belas tahun aku tak pernah melihat sinar matahari lagi!”
“Tetapi mengapa lo-cianpwe tahu semua kejadian dalam istana Sin-bu-kiong ini?”
Mengapa lo-cianpwe tahu aku....”
Nyo Sam-koan menukas tertawa, “Memang sudah selayaknya kau heran! Dahulu
aku pernah menerima ajaran ilmu gaib dari nona Lu yang disebut ilmu Melihatlangit-mendengarkan-bumi…”
“Melihat langit mendengarkan bumi?” Thian-leng menegas.
“Apabila ilmu itu diyakinkan sampai sempurna, maka apa yang terjadi di daerah
seluas sepuluh li, apakah itu angin meniup atau rumput bergoyang, kita dapat
mendengarkan dengan jelas!”
“Tetapi bukankah kepandaian lo-cianpwe sudah dilumpuhkan? Mengapa bisa
meyakinkan ilmu itu?”
“Ilmi itu tak memerlukan suatu tenaga dalam, melainkan hanya konsentrasi hati,
pikiran dan indra. Selama tujuh belas tahun disekap di sini, tak henti-hentinya
kulatih ilmu itu.
Baru setahun yang lalu aku berhasil mencapai kesempurnaan. Tetapi
penangkapan pendengarankupun hanya mencapai seluas satu li saja. Maka apa
yang terjadi dalam istana ini tentu tak terluput dari pendengaranku. Di luar istana,
aku masih belum mampu menangkapnya!”
Kata Thian-leng dengan tegas, “Apabila aku berhasil lolos dari penjara air sini, aku
tentu berdaya menolong lo cianpwe. Tetapi bagaimana cara memecahkan penjara
Si-lo itu? Apakah di situ tak dipasangi alat rahasia?”
“Jangan!” sahut Nyo Sam-koan, “jika kau berhasil lolos, harus segera tinggalkan
Sin-bu-kiong untuk menyiapkan rencana menghancurkan Sin-bu Te-kun. Yang
perlu kau ketahui, penjara Si-lo ini adalah pos terpenting dalam istana Sin-bukiong. Bukan hanya penuh dengan alat rahasia, tapi juga dijaga keras oleh
sejumlah besar jago-jago tangguh. Jangan sekali-kali gegabah ke tempat
berbahaya ini....!”
Nyo Sam-koan berhenti untuk menghela napas, ujarnya pula, “Apalagi selama
disiksa tujuh belas tahun ini, kini diriku hanya tinggal serangka tulang. Sekali
melihat sinar matahari, mungkin aku tak tahan. Bisa buta atau mati seketika!”
Thian-leng hendak menyambung, tetapi Nyo Sam-koan meneruskan kata-katanya,
“Eh, ada orang datang! Mungkin ada bintang penolong datang. Ingat-kata-kataku
tadi. Segera tinggalkan tempat ini dan teruskan usahamu untuk menumpas Sin-bu
Te-kun. Setelah itu barulah kau perlahan-lahan menyelidiki asal-usulmu..!”
Serentak Thian-leng meminta agar Nyo Sam-koan menceritakan bagaimana ia
dapat dijebloskan ke dalam penjara Si-lo, tetapi Nyo Sam-koan sudah
menukasnya.
“Orang yang datang itu sudah tiba di luar penjara air, sudahlah, jangan banyak
cakap lagi!” serunya.
Kata-kata Nyo Sam-koan terputus oleh bunyi berderak-derak dari pintu batu yang
terpentang.
Jilid 9 .
Thian-leng pura-pura meramkan mata, napas terengah-engah macam orang yang
sudah lemas-lunglai. tetapi diam-diam ia siap sedia untuk menghadapi segala
kemungkinan!
Begitu pintu batu terbuka, maka empat orang penjaga berpakaian ungu segera
menerobos masuk. Dua diantaranya segera terjun ke dalam air dan melepaskan
tali pengikat kedua tangan Thian-leng. Kemudian tanpa berkata apa-apa, kedua
penjaga itu segera memapah Thian-leng keluar.
Thian-leng masih pura-pura seperti orang yang tertutuk jalan darahnya. Ia
menggelendot pada kedua penjaga itu. Tetapi begitu tiba di depan kedua penjaga
yang lain, tiba-tiba ia melepaskan dua buah pukulan. Karena jaraknya teramat
dekat, apalagi tak mengira sama sekali, maka kedua penjaga itupun tak sempat
menghindar lagi. Kedua penjaga itupun bagaikan layang-layang yang putus
talinya mencelat keluar. Sebelum kedua penjaga itu sempat mengerang, kepala
mereka terbentur pada tembok. Benak mereka berhamburan keluar karena
dinding kepalanya hancur...... Dan yang lebih menyeramkan lagi, pukulan Luihwe-ciang yang yang dilepaskan Thain-leng itu telah membakar hangus tubuh
kedua korbannya. Serentak terhamburlah bau daging terbakar yang menusuk
hidung!
Kedua pengawal yang menyeret Thian-leng tadi terperanjat sekali. Tetapi cepat
sekali Thian-leng sudah mencabut pedangnya. Sebelum kedua penjaga itu
sempat menyerang, tahu-tahu tubuh mereka sudah tertebas. Dalam sekejap mata
saja, keempat penjaga itupun sudah menjadi setan penghuni penjara air!
Setelah membereskan keempat penjaga, Thian-leng segera hendak loncat keluar.
Tetapi sekonyong-konyong terdengar bentakan keras. Dari sebelah kanan dan kiri
pintu batu, muncullah dua penjaga lagi yang serentak menerkamnya. Tetapi pada
saat itu Thian-leng sudah mendapat hati. Ia tak mau menghindar, sebaliknya
malah membolang-balingkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Kedua penjaga itu
menggembor keras, namun mereka terpaksa loncat mundur seraya merogoh ke
dalam bajunya. Rupanya mereka mengambil senjata rahasia.
Thian-leng tak gentar. Ia serang kedua lawannya itu.
“Tahan!” tiba-tiba sebelum Thian-leng menerjang, terdengar sebuah bentakan
dahsyat. Nadanya berat penuh dengan hamburan tenaga dalam yang hebat.
Kedua penjaga itupun mundur. Juga Thian-leng tertegun dan membatalkan
serangannya. Ketika mengawasi siapa pendatang baru itu, kejutnya bukan
kepalang.
Ternyata di sebelah luar dari penjara air, tampak muncul serombongan orang
yang dikepalai oleh Sin-bu Te-kun sendiri!
Yang membuat Thian-leng terkejut bukanlah kepala dari Sin-bu-kiong itu,
melainkan munculnya seorang tua berjenggot putih yang berada di samping Sinbu Te-kun. Itulah Lu Ling-ong , ketua Thiat-hiat-bun yang bergelar si Jenggot
Perak.
Tersipu-sipu Thian-leng memberi horamat kepada jago tua itu, “ Locianpwe…….”
Jenggot Perak Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Ah, tak usah banyak peradatan!
Mana cucu perempuanku?”
“Ia bersama diriku telah dijebloskan ke dalam penjara air, tetapi diambil pergi oleh
dua penjaga lagi, entah di mana………..” sahut Thian-leng.
“Bagaimana, apakah kau tetap menyangkal?” segera Jenggot Perak Lu Liang-ong
menegur Sin-bu Te-kun.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Sejak semula memang tak kusangkal hal itu. Cucumu
telah mendapat pelayanan istimewa dari istana kami. Makan dan oakaian tak
kekurangan, harap Lu lo-hiapsu jangan kuatir!”
Lu Liang-ong mendengus, “Hm, jika tak salah anak itu tentu sudah dimasukkan ke
dalam penjara Si-lo, kaki tangannya dirantai. Apakah itu yang kausebut sebagai
pelayanan istimewa?”
Sin-bu Te-kun tampak agak terkejut, namun segera menghamburkan tawa sinis.
“Memang begitu. Tetapi bagaimana lo-hiapsu tahu?”
Lu Liang-ong tertawa dingin, “Salahmu sendiri, mengapa kurang luas
pengalaman. Apakah kau tak pernah mendengar tentang ilmu ‘melihat ke langitmendengar bumi’ dari Thiat-hiat-bun.....?”
Jago tua itu sejenak keliarkan matanya, lalu berkata pula, “Terus terang, segala
sesuatu yang terjadi dalam istana sekecil ini, tentu tak terlepas dari
pengetahuanku!”
Sin-bu Te-kun tertawa lepas, “Di dalam kitab Im-hu-po-coan juga terdapat
semacam ilmu begitu, hanya namanya yang berlainan, ialah Liok-ji-thong-leng
( enam telinga menembus alam ). Rasanya tak lebih rendah dari ilmu Lu lohiapsu....”
Ketua Thia-hiat-bun tertawa misterius, “Berapa jauhnya ilmu Liok-ji-thong-leng itu
dapat menangkap suara?”
“Seluas tiga li dapat membedakan langkah kaki orang!” jawab Sin-bu Te-kun
dengan bangga.
Lu Liang-ong tertawa tergelak-gelak. Lama sekali belum berhenti, Sin-bu Te-kun
memgerutkan alis.
“Mengapa? Apakah lo-hiapsu terserang penyakit?”
Ketua Thiat-hiat-bun terpaksa berhenti tertawa, ujarnya, “Aku tak sakit melainkan
menertawakan pengalamanmu yang sedemikian dangkal itu. Hanya dapat
menangkap suara sejauh tiga li saja mengapa sudah dibanggakan?”
Merah padam muka Sin-bu Te-kun atas hinaan itu. Rasa malu merobah menjadi
gusar, “Coba katakan sampai di mana kelihayan ilmu ‘Melihat langit mendengar
bumi’ mu itu?”
“Seluas lima belas li aku dapat mendengarkan angin berhembus, rumput
bergoyang dan serangga beringsut!” sahut ketua Thiat-hiat-bun.
Seketika berobahlah wajah Sin-bu Te-kun, namun ia masih bersikap tenang.
Serunya dengan tertawa dingin, “Kata-kata besar itu biasanya hanya untuk
menggertak orang saja!”
Tiba-tiba Jenggot Perak Lu Liang-ong picingkan matanya sehingga menjadi
selarik garis kecil. Ia memandang dinding penjara air lalu berkata dengan
perlahan, “Saat ini aku dapat melihat apa yang terjadi di sekeliling delapan li…”
“Apa yang kau lihat?” tanya Sin-bu Te-kun dengan nada mengejek.
“Ada dua anak buahmu yang saat ini tengah bertempur dengan orang sakti. Yang
seorang terbunuh dan yang seorang lari……”
“Omong kosong!” teriak Sin-bu Te-kun.
Jenggot Perak Lu Liang-ong tertawa, “Omong kosong atau benar, nanti dapat
dibuktikan! Untung masih ada seorang yang hidup. Asal kakinya panjang (bisa lari
cepat), tentu dia bisa selamat kembali ke istana Sin-bu-kiong!”
Muka Sin-bu Te-kun sebentar pucat sebentar merah. Mulutnya tak dapat berkata
apa-apa. Thian-leng pun hanya tercengang-cengang saja mendengarkan
percakapan itu.
Ketua Thiat-hiat-bun hanya ganda tertawa. Sebentar-bentar mengedipkan mata ke
arah Thian-leng. Sikapnya lucu sekali. Karena sampai sekian lama Sin-bu Te-kun
tak bersuara, akhirnya ketua thiat-hiat-bun itu tertawa, “Dari ribuan li jauhnya aku
sengaja perlukan datang mengunjungi Sin-bu-kiong. Entah apakah saudara
bermaksud hendak bersahabat atau bermusuhan dengan pihakku?”
Sin-bu Te-kun menjawab dengan nada dingin, “Bersahabat bagaimana?
Bermusuhan bagaimana?”
“Jika menghendaki permusuhan, partai Thiat-hiat-bun pun tak takut kepada istana
Sin-bu-kiong! Anggota-anggota Thiat-hiat-bun saat ini sedang berbondongbondong kemari. Sekali kau sudah memaklumkan permusuhan, segera orangorangku siap bertempur sampai ludas….”
“Kalau Sin-bu-kiong sudah berani memikul tanggung jawab mempersatukan dunia
persilatan, sudah tentu tak gentar terhadap sebuah gerombolan di daerah
perbatasan yang menyebut dirinya sebagai partai Thiat-hiat-bun….” Sin-bu Te-kun
berhenti sejenak, katanya pula, “Hanya saja, telah kuperhitungkan bahwa Lu lohiapsu tak nanti berbuat demikian. Karena cucu kesayanganmu itu saat ini berada
dalam tanganku. Jika kau sungguh mengandung masksud bermusuhan, lebih
dahulu cucumu yang tersayang itu….”
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh. Ia tak menyelesaikan perkataannya, karena sudah
cukup jelas. Si dara Bu-song akan dijadikan barang tanggungan untuk
menggertak Jenggot Perak Lu Liang-ong.
Di luar dugaan, ketua Thiat-hiat-bun yang berjenggot putih mengilap itu tertawa
lebar, serunya, “Aku tak ambil pusing dengan cucuku itu. Anak itu memang besar
kepala dan manja, biarlah ada orang yang memebrinya hajaran. Andaikata
sampai dibunuh orangpun malah meringankan bebanku dari rongrongannya.
Bunuhlah, aku malah berterima kasih padamu ! ”
Sin-bu Te-kun terkejut mendengar ucapan jago tua itu. Serunya sesaat kemudian,
“ Kalau bersahabat lalu bagaimana ? ”
Sambil mengusap-usap jenggotnya yang putih mengilat, Lu Liang-ong tertawa, “
Kalau bersahabat, baiklah kau adakan perjamuan untukku dan anak ini. Aku telah
memutuskan untuk mengadakan sebuah Eng-hiong-tay-hwe ( pertemuan besar
orang gagah ) di gunung Tiam-jong-san. Akan kuundang seluruh sahabat
persilatan untuk hadir. Kemudian pada saat itu tentu kubantu usahamu untuk
merebut kedudukan sebagai Bu-lim-beng-cu ( pemimpin kaum persilatan ).
Setelah selesai barulah aku pulang ke King-lam. Bukankah hal itu sesuai dengan
kehendakmu ? ”
”Tiam-jong-san?” Sin-bu Te-kun menegas.
“Ketua partai Tiam-jong-pay adalah sahabat lamaku. Karena aku tak punya
banyak kenalan di tionggoan, maka terpaksa aku hendak pinjam tempatnya di
gunung Tiam-jong-san ….ini……mengapa tak leluasa?”
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Sekalipun kurang leluasa, tetapi mengapa aku takut?
Jika Lo-hiapsu bermaksud sungguh-sungguh hendak mengadakan pertemuan
besar itu, sudah tentu aku akan hadir. Entah kapankah kiranya pertemuan itu akan
diadakan?”
“Tahun depan tanggal lima belas bulan satu.”
“Pertengahan bulan satu?” gumam Sin-bu Te-kun, “mengapa harus pada tanggal
itu?”
“Mengapa tak boleh pada tanggal itu ? »balas Lu Liang-ong tertawa.
Rupanya Sin-bu Te-kun merasa kelepasan omong. Buru-buru ia batuk-batuk dan
berkata. “Bulan satu tanggal lima belas adalah hari dari sembilan partai besar
mengundang Hun-tiong Sin-mo untuk mengadu kepandaian di puncak Sin-li-hong
gunung Busan. Pada saat itu semua tokoh persilatan sama berkumpul di Jwantang. Kemungkinan besar tentu tak ada yang memenuhi undangan ke Tiam-jongsan!”
Ketua Thiat-hiat-bun tertawa lebar. “Tak usah saudara meresahkan hal itu. Ke
sembilan partai besar itu pasti akan merobah tanggal undangannya kepada Huntiong Sin-mo!”
“Kenapa?” Sin-bu Te-kun tertegun.
Jenggot Perak Lu Liang-ong tertawa, “Karena Hun-tiong Sin-mo sudah menerima
undanganku!”
Kembali Sin-bu Te-kun tersentak kaget, serunya, “Bagaimana dengan ke sembilan
partai besar?”
“Bagaimana kalau kuserahkan kepada saudara untuk mengundang mereka?” Lu
Liang-ong tertawa.
Lagi-lagi wajah Sin-bu Te-kun berobah, ujarnya, “Selama ini Sin-bu-kiong tak
mempunyai hubungan dengan ke sembilan partai besar. Msing-masing menuntut
jalannya sendiri-sendiri. Permintaan lo-hiapsu ini, aku……”
“Ah janganlah menolak, “Lu Liang-ong tertawa, “tentang hubungan Sin-bu-kiong
dengan ke sembilan partai besar.... tak perlu disinggung-singgung......”
Dan belum lagi Sin-bu Te-kun menyahut, ketua Thia-hiat-bun itu sudah
menyeletuk pula, “ Eh, bagaimana sikap kita ini? Bermusuhan atau bersahabat?”
Sin-bu Te-kun mendengus dengan geram. Tiba-tiba ia berputar tubuh dan
memberi perintah kepada anak buahnya supaya menyiapkan perjamuan.
Kemudian tanpa menghiraukan Lu Liang-ong dan Thian-leng serta keempat
penjaga yang terbunuh mati dalam penjara air, ia segera melangkah pergi......
“Buyung, kau tentu lapar, mari kita suruh dia menjamu dulu!” Jenggot Perak Lu
Liang-ong menarik tangan Thian-leng.
oooo0000ooooo
Mengadu Kesaktian
Ketika menghadapi meja perjamuan yang tumpah ruah penuh dengan segala
macam hidangan lezat, Jenggot perak Lu Liang-ong segera gunakan ilmu
menyusup suara membisiki Thian-leng, “Buyung, tak usah sungkan. Hidangan tak
ada racunnya, makanlah sepuasnya. Habis makan baru kita pergi…..”
Kala itu mereka berada dalam sebuah ruangan yang indah hiasannya,
menghadapi meja yang penuh hidangan dan dilayani oleh berpuluh bujang
wanita. Lu Liang-ong bersikap sebebas-bebasnya. Tanpa dipersilakan oleh Sin-bu
Te-kun lagi, segera ia menyambar cawan arak, terus diteguk habis.
Melihat sikap jago tua itu, diam-diam Thian-leng gelisah. Iapun gunakan ilmu
menyusup suara, “Locianpwe, cucumu nona Lu…….”
“Hai, apakah kalian berdua…..?” Lu Liang-ong tertawa mengikik lalu meneguk
cawannya lagi.
Melihat kedua tamunya saling menggunakan ilmu menyusup suara untuk
bercakap-cakap, timbullah kecurigaan Sin-bu Te-kun. Namun ia pura-pura tak
melihatnya. Seolah-olah tak terjadi suatu apapun, ia tetap perintahkan pelayanpelayan untuk menuangkan arak dan menghidangkan makanan yang lezat-lezat.
“Nona Lu masih berada dalam penjara Si-lo, bagaimana kita bisa tinggalkan
tempat ini?“ kembali Thian-leng bertanya dengan ilmu menyusup suara.
“Budak itu memang kelewat liar, biarlah ia rasakan sedikit penderitaan!” Lu Liangong tetap acuh tak acuh.
Jawaban itu membuat Thian-leng heran sekali. Sikap manja dari dara itu tenttulah
karena jago tua itu kelewat menyayangnya. Mengapa tiba-tiba sekarang tak
dipedulikan?
Tatkala ia hendak membuka mulutnya lagi, tiba-tiba seorang penjaga istana
masuk menghadap Sin-bu te-kun. Dengan tergagap-gagap orang itu memberi
hormat kepada pemimpinnya.
“Ada urusan apa?” bentak Sin-bu Te-kun.
Penjaga tua waju ungu itu memandang sejenak kepada Thian-leng dan Lu Liangong, tampaknya ia kurang leluasa bicara.
Melihat itu Lu Ling-ong mengulum tawa. Ia meneruskan makan dan minum
seenaknya.
“Tak apa-apa, katakanlah!” kembali Sin-bu Te-kun berseru.
Mendengar perintah barulah si baju ungu berani berkata dengan suara perlahan,
“Dua orang murid dari paseban Hian-tian telah bertempur dengan musuh di luar
istana, satu meninggal satu terluka…….”
Serentak bangkitlah Sin-bu Te-kun dari tempat duduknya, “Di mana terjadinya
peristiwa itu?” serunya dengan gusar.
“kira-kira tiga belas li jauhnya……”
Tiba-tiba Lu Liang-ong menyeletuk, “Berita yang kau bawa itu bukan hal yang
baru! Tadi akupun sudah mengatakan kepada Te-kun kalian!”
Wajah Sin-bu Te-kun seperti direbus, serunya nyaring,” Siapakah orang yang
berani mencabut kumis harimau itu?”
“………………..Tiam-jong-pay…….” sahut pengawal baju ungu dengan tergagap.
“Tiam-jong-pay…!” Sin-bu te-kun berseru tertahan. Kemudian ia berpaling kepada
Lu Liang-ong, “Bukankah tadi Lu lohiapsu mengatakan bahwa nanti bulan satu
tanggal lima belas akan mengadakan rapat besar kaum gagah di gunung Tiamjong-san? Mengapa sekarang mendadak orang Tiam-jong-pay berani
mengganggu istanaku ini….?”
Lu Liang-ong tertawa, “Apakah kau menuduh aku hendak mengadu domba?”
“Memang sukar untuk dikata.” sahut Sin-bu Te-kun, “namun sekali Sin-bu-kiong
sudah berani mencita-citakan menguasai dunia persilatan, sudah tentu tak takut
pada siapa saja….”
Lu Liang-ong hanya tertawa hambar. Dia tak mau menyahut tetapi gunakan ilmu
menyusup suara kepada Thian-leng, “Buyung, sudahlah, jangan pikirkan apa-apa.
Makanlah sekenyangmu, habis itu kita pergi!”
Memang Thian-leng merasa lapar. Iapun segera menurut perintah jago tua itu.
Masih penjaga baju ungu itu berkata dengan terbata-bata, “Karena hal ini....
menyangkut ke sembilan partai, maka hamba mohon Te-kun sudi memberi
petunjuk...”
Sin-bu Te-kun mendengus, ujarnya sambil mengerutkan dahi, “Segera lepaskan
burung merpati supaya membawa surat kepada ketua Tiam-jong-pay Poh-ih-siausu Li Cu-liong agar dalam waktu tiga hari mengantarkan anak buahnya yang
bersalah itu kemari menerima hukuman. Kalau tidak, akan kukerahkan anak buah
Sin-bu-kiong untuk meratakan markas Tiam-jong-pay!”
Serta merta pengawal baju ungu itu mengiyakan dan minta diri. Pada saat itu
Jenggot Perak Lu Liang-ong pun sudah kenyang melalap hidangan. Sambil
mengusap-usap mulut, ia berkata, “Jangan lupa bahwa aku sudah meminjam
tempat Tiam-jong-san untuk mengadakan pertemuan besar. Takkan kubiarkan
tempat itu dirusak orang. Jika saudara sungguh-sungguh....”
“Kalau begitu Lu lo-hiapsu hendak mewakili pihak Tiam-jong-pay untuk
mempertanggung jawabkan peristiwa itu?” tukas Sin-bu Te-kun.
“Maksudku,” kata Lu Liang-ong, “kalau hendak membikin perhitungan, baiklah
ditangguhkan sampai pertemuan besar itu selesai diadakan.”
“Jika aku tak setuju?”
“Sekali partai Thia-hiat-bun masuk ke daerah iong-goan, tentu takkan membiarkan
namanya jatuh! Dimulai dari aku si orang tua, seluruh anggota Thiat-hiat-bun
menyatakan berdiri di belakang Tiam-jong-pay!”
Mata Sin-bu Te-kun meliar buas, serunya, ”Jangan lupa bahwa hidup matinya
cucumu itu masih berada dalam tanganku!”
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa meloroh, “Telah kukatakan tadi, membunuh
budak perempuan itu berarti mengurangi bebanku. Silakan bunuh
saja.....................” ketua Thai-hiat-bun itu berpaling kepada Thian-leng, ujarnya,
“Buyung, apa sudah kenyang? Mari kita kita pergi!”
Mimik Sin-bu Te-kun berobah gelap, serunya, “Kuhormati pribadi Lu lo-hiapsu,
tetapi hal itu bukan berarti aku takut padamu atau gentar terhadap partai Thiat-hiatbun.....”
“Ah, kau keliwat merendah!” Lu Liang-ong tertawa sambil mengurut jenggot
peraknya yang putih mengkilap. Ia bangkit hendak angkat kaki. Thian-leng pun
mengikuti tindakan jago tua itu. Ia berdiri tetapi diam-diam salurkan tenaga dalam
untuk berjaga-jaga.
Wajah Sin-bu Te-kun makin merah, bentaknya dengan bengis, “Tua bangka Lu,
jika dalam waktu tiga hari Tiam-jong-pay tak menyerahkan orangnya, bukan saja
cucu perempuanmu akan kubunuh, gunung Tiam-jong-san pun akan kubumihanguskan!”
Enak saja ketua Thiat-hiat-bun itu menyahut, “Akan kusampaikan ucapanmu itu
kepada Tiam-jong-pay. Mau bersikap musuh atau sahabat, terserah saja padamu.
Atau menyelesaikan dulu pertentangan antara Sin-bu-kiong dengan Tiam-jongpay, kemudian baru mengadakan pertemuan besar tokoh-tokoh persilatan pun
baik saja...... Atas kerepotanmu menjamu hidangan tadi, nanti Tiam-jong-san tetntu
akan membalasnya, nah, selamat tinggal!”
Habis berkata jago tua itupun segera melangkah pergi.
“Nanti dulu!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun menghadang.
“Apa ? Apakah sekarang mau menantang berkelahi ?“ tegur Lu Liang-ong dengan
nada berat.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Aku bukanlah orang yang tak menghormati
peraturan, tetapi…“
Ia menunjuk pada Thian-leng, “Anak muda itu telah mengucap sumpah, akan
bertempur melawan aku sampai seratus jurus. Sekarang masih kurang sepuluh
jurus yang belum diselesaikan. Tambahan pula, tindakannya membunuh ke empat
anak buahku tadipun memerlukan ia harus tinggal di sini dulu ! “
Mata Jenggot perak Lu Liang-ong berputar sebentar, lalu katanya, “Selain paham
dalam ilmu ‘melihat-langit-mendengar-bumi’, aku si orang tua ini juga mempunyai
semacam kesaktian. Apakah kau ingin mengenalnya ? “
Sin-bu Te-kun terbeliak mendengar jawaban orang yang menyimpang dari
pertanyaan tadi, serunya , “Masakah kau hendak mengunjuk kepandaian di
hadapanku ? “
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Benar, aku si orang tua
memang bermaksud demikian…… “ ia mengedipkan mata, “Hanya pertunjukan itu
memerlukan lapangan yang luas ! “
Sampai berapa jauh kesaktian jago Thiat-hiat-bun itu, ingin juga Sin-bu Te-kun
untuk menjajakinya. Setelah merenung sejenak, berkatalah ia, “Halaman di ruang
muka luasnya duapuluhan tombak, bagaimana kalau kau berikan pelajaran
padaku di situ saja ? “
Lu Liang-ong melirik ke arah ruang dalam, ujarnya, “ Dua puluh tombak
cukuplah…. “ ia tarik tangan Thian-leng, “Untuk mempertunjukkan ilmu gaib itu,
harus ada seorang pembantu. Tolong kau bantu!”
Terpaksa Thian-leng mengiyakan. Sin-bu Te-kun makin heran. Segera ia ayunkan
langkah menuju keluar halaman. Sekeliling halaman penuh dengan anak buah
Sin-bu-kiong yang siap sedia dengan senjatanya. Jelas bahwa sebelumnya
memang Sin-bu Te-kun sudah mempersiapkan penjagaan yang kuat.
Setelah tiba di tengah halaman, dengan masih memimpin tangan Thian-leng,
berserulah Jenggot perak Lu Liang-ong dengan nyaring, “Aku si orang tua hendak
mempertunjukkan sebuah ilmu permainan yang cukup memesonakan. Nanti
semua serangga yang berada seluas sepuluh tombak tentu mati. Maka kuharap
kalian menyingkir agak jauh sedikit!”
Sin-bu Tekun ganda tersenyum, tetapi diam-diam hatinya kebat-kebit. Segera ia
memberi perintah supaya anak buahnya mundur sedikit. Merekapun menyingkir
sampai batas sepuluh tombak. Dengan penuh perhatian ia mengikuti apa yang
akan terjadi.
Ketua Thiat-hiat-bun tertawa riang, serunya, “Apa yang kupertunjukkan disebut
Sin-liong-sam-sian ( naga sakti tiga kali muncul ), suatu ilmu meringankan tubuh
yang istimewa…” Tiba-tiba ia menggunakan ilmu menyusup suara kepada Thianleng, “Perhatikanlah pohon besar yang berada di sebelah selatan tiga puluh
tombak dari sini itu! Itulah tempat pertama munculnya Sin-liong sam-sian…”
Thian-leng sudah mempunyai rabaan, ia menyahut dengan ilmu menyusup suara
juga, “Tetapi kepandaianku masih rendah, dikuatirkan tak dapat mengikuti locianpwe…”
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru dengan agak marah, “Bagaimanakah
kehebatannya ilmu meringankan tubuh itu! Lu lo-hiapsu, apakah kau hendak
menggunakan kesempatan…”
Jenggot perak Lu Liang-ong tidak memperdulikan kata-kata Sin-bu Te-kun. Segera
ia menarik Thian-leng seraya membentaknya, “Naiklah!”
Thian-leng sudah dapat menagkap maksud Lu Liang-ong. Maka diam-diam ia
sudah kerahkan seluruh tenaganya. Begitu ditarik segera ia enjot tubuhnya ke
udara. Ditambah dengan tarikan Lu Liang-ong tadi, maka meluncurlah tubuh
keduanya bagai meteor yang melesat di udara. Tepat mereka hinggap di puncak
pohon yang berada tiga puluh tombak jauhnya seperti yang ditunjuk si Jenggot
perak tadi.
Bukan kepalang marahnya Sin-bu te-kun mengetahui dirinya ditipu mentahmenatah. Segera ia menggerung keras dan hendak enjot tubuhnya mengejar.
Tetapi secepat itu terdengarlah Lu Liang-ong membentaknya, “Awas, panah Hongthau-kiong ku akan mengambil kedua matamu!”
Ketua Thiat-hiat-bun itupun mengayunkan tangan kanannya. Walapun
kemarahannya menyala-nyala, tetapi Sin-bu Te-kun cukup mengetahui kelihayan
panah Hong-thau-kiong dari Thiat-hiat-bun yang tak pernah luput. Segera ia
mendorong dengan kedua tangannya dan dengan meminjam tenaga dorongan itu
ia apungkan tubuhnya sampai beberapa meter ke udara.
Di luar dugaan, taburan Lu Liang-ong itu hanya gertakan kosong. Kembali Sin-bu
te-kun termakan tipu. Ia harus berjumpalitan di udara untuk menghindari angin
kosong !
Dalam pada itu Lu Liang-ong pun tertawa geli. Katanya kepada Thian-leng,
“Buyung, tempat munculnya Sin-liong-sam-sian yang kedua ialah pada puncak
lereng yang tinggi itu. Kali ini kita harus loncat sampai empat puluhan tombak.
Slain tenagaku, kau sendiripun harus gunakan tenaga!”
Thian-leng kerahkan seluruh tenaga ke arah kedua kakinya. Begitu ditarik Lu
Liang-ong segera ia loncat mengikutinya. Pada saat itu Sin-bu Te-kun menyadari
dirinya tertipu, segera ia enjot tubuhnya mengejar ke puncak pohon, tetapi saat itu
Lu Liang-ong dan Thian-leng sudah berada di puncak tingkat ( loteng ) yang tinggi.
Loteng itu merupakan tingkat yang tertinggi dari gedung Sin-bu-kiong. Dari situ
dapat melihat seluruh bangunan istana Sin-bu-kiong. Di sebelah selatan kira-kira
lima puluh tombak, terdapat dinding tembok. Apabila melintasi dinding tembok itu,
maka sudah dapat keluar dari Sin-bu-kiong.
Diam-diam Thian-leng gelisah. Lima puluh tombak bukan jarak yang mudah
dilompati. Apalagi seluruh anak buah Sin-bu-kiong pun sudah beramai-ramai
mengepung dengan membawa obor. Bahkan saat itu Sin-bu te-kun sendiri juga
sudah mengejar.
“Buyung, tempat ketiga dari munculnya Sin-liong-sam-sian ialah dinding tembok
sebelah selatan itu. Kali ini kita harus loncat lima puluh tombak jauhnya…”
“Lo-cianpwe, ini tak mungkin……..”
“Di dunia tiada hal yang tak mungkin! Apakah kau hendak suruh aku si orang tua
begini menggendongmu!” bentak ketua Thiat-hiat-bun dengan murka. Berabreng
dengan itu terdengar gemboran keras dari Sin-bu Te-kun yang melayang
mengejar.
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa mengejek, “Tolol, lihatlah Hong-thau-kiong
makan kedua matamu!” ia ayunkan tangan kanannya.
Sin-bu Te-kun tak percaya kalau orang benar-benar hendak menimpuknya. Dan
kedua kalinya ia sedang dirangsang kemarahan, maka tanpa menghiraukan suatu
apapun, ia terus melayang. Dan memang selama itu tak terjadi apa-apa. Bahkan
ketika hampir dekat ia seilangkan kedua tangannya untuk melindungi mata. Begitu
tiba segera ia hendak menghantam remuk lawan!
Tiba-tiba terdengar Lu linag-ong tertawa gelak-gelak. Ternyata ancamannya kali
ini bukan gertakan kosong tetapi sungguh-sungguh. Hanya saja yang diarah
bukan mata melainkan kedua bahu orang.
Panah rahasia yang berkepala burung Hong dari partai Thiat-hiat-bun itu sudah
bertahun-tahun menggetarkan dunia persilatan. Tak pernah panah itu gagal
memenuhi tugasnya. Cikal bakal pendiri Thiat-hiat-bun yang dulu merendam
panah itu dalam racun. Setiap korban tentu binasa. Tetapi untunglah ketua Thiathiat-bun yang sekarang tak mau melanjutkan warisan itu. Ia melarang panah diberi
racun dan tak boleh sembarangan digunakan. Maka sekalipun panah Hong-thaukiong termasuk salah satu dari tiga-senjata-rahasia ampuh dalam dunia persilatan,
tetapi yang binasa karena panah itu boleh dikata tak ada!
Setelah menghisap ilmu kepandaian dalam kitab pusaka Im-hu-po-kip, Sin-bu Tekun bercita-cita hendak menguasai dunia persilatan. Memang telah didengarnya
juga tentang panah sakti dari Thiat-hiat-bun itu, tetapi dalam hati ia tak tunduk.
Adalah karena hendak menggunakan tenaga partai Thiat-hiat-bun, maka ia tetap
bersabar terhadap tingkah laku ketua Thiat-hiat-bun.
Tetapi kini setelah dirinya dipermainkan begitu rupa oleh Lu Liang-ong, tak dapat
lagi ia menahan kemarahannya. Persetan dengan panah hong-thau-kiong!
Alangkah terkejutnya ketika menghadapai tipu orang yang licin. Ia tak menyangka
bahwa yang di arah lawan bukan kedua matanya, melainkan bahu. Dalam
keadaan di dirinya melayang di udar, betapapun lincahnya namun Sin-bu te-kun
tak berdaya menghindari timpukan jago thiat-hiat-bun. Juga ternyata cara Lu
Liang-ong menimpukkan panahnya itu luar biasa anehnya. Aum suaranya berada
di sebelah barat, tetapi yang diserang di sebelah timur. Terpaksa Sin-bu Te-kun
hanya kerutkan gigi untuk menerimanya! Seketika ketua Sin-bu-kiong itu
merasakan bahunya sakit sekali. Dua batang Hong-thau-kiong tepat menyusup ke
jalan darah bahu kanan kirinya!
Saat itu Sin-bu Te-kun hanya terpisah dua tombak dari puncak loteng tertinggi.
Walaupun panah Hong-thau-kiong itu tak sampai membuatnya tak dapat berkutik,
namun karena jalan daranya terkena, maka mau tak mau sekujur tubuhnya terasa
kesemutan, tangannyapun tak leluasa digerakkan lagi. Tak ampun lagi ia
meluncur turun bagaikan seekor burung alap-alap yang terkena anak panah….
Jilid 10 .
Jenggot perak Lu Liang-ong mengantar kejatuhan lawan dengan gelak tertawa.
Segera ia menarik Thian-leng untuk diajak loncat lagi. Diam-diam Thian-leng
putus asa.
Dua kali mengadakan gerak loncatan yang demikian tinggi, telah membuat
tenaganya hampir habis. Kalau harus loncat lagi sejauh lima pukuh tombak,
rasanya ia tentu tak kuat.
Tetapi aneh bin ajaib. Ketika ditarik Lu Liang-ong ia rasakan tubuhnya sudah
melambung sampai sepuluh tombak.
“Buyung, ayo gunakan tenagamu!” tiba-tiba Jenggot perak membentaknya.
Thian-leng gelagapan. Buru-buru ia kerahkan sisa tenaganya dan ah…… ternyata
berhasillah ia mencapai jarak lima puluh tombak itu. Saat itu ternyata ia sudah
hinggap di atas tembok istana Sin-bu-kiong sebelah luar. Hampir Thian-leng tak
percaya apa yang telah dialami saat itu.
“Sejak berdiri, belum pernah ada orang yang mampu keluar dari istana Sin-bu-
kiong. Tetapi hari ini, kita dapat memecahkan hal itu!” Lu Liang-ong tertawa.
“Rasanya hanya locianpwe seorang yang mampu!” Thian-leng menyatakan
kekagumannya.
“Tidak begitu,” sahut ketua Thiat-hiat-bun. “Di dunia terdapat banyak orang-orang
sakti. Misalnya malam ini, yang bebas keluar masuk ke istana Sin-bu-kiong bukan
hanya aku seorang saja!”
“Siapa?” Thian-leng terkejut.
“Hun-tiong Sin-mo!”
“Ha?” Thian-leng tercengang, “Hun-tiong Sin-mo juga masuk ke istana Sin-bukiong?”
Sebagai jawaban Lu Liang-ong menarik tangan pemuda itu untuk diajak loncat
keluar dari lingkungan Sin-bu-kiong.
Dalam laut dapat diukur
Hati dara sukar diduga
Kala itu sudah menjelang fajar. Di dalam istana Sin-bui-kiong masih terdengar
suara hiruk pikuk, tetapi tak lama kemudian sunyi kembali. Tiada seorang pun
anak buah Sin-bu-kiong yang mengejar keluar. Rupanya Sin-bu Te-kun sudah
menerima kekalahannya.
Setelah berjalan dua li, Lu Liang-ong berhenti di sebuah lereng gunung yang
landai. Di bawah lereng tampak sebuah biara yang masih memancarkan lampu.
Agaknya para imam dalam biara itu sedang melakukan sembahyang subuh.
Teringat akan diri si dara Bu-song, serentak Thian-leng berseru terbata-bata, ‘’Locianpwe….,” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tak tahu bagaimana
harus menyatakan. Kiranya ia hendak menyatakan isi hatinya kepada jago Thiathiat-bun itu. Sedangkan ia yang baru dikenal saja toh ditolong, mengapa Lu Busong dibiarkan saja menderita dalam penjara Sin-bu-kiong. Bukankah Bu-song itu
cucu ketua Thiat-hiat-bun itu sendiri ?
‘’Buyung, apa katamu ?’’ Lu Liang-ong tertawa.
“Walaupun lo-cianpwe telah menolong diriku, tetapi Sin-bu Te-kun itu seorang
momok yang ganas sekali. Kalau dia menurunkan tangan jahat kepada nona Lu,
bukankah …….”
“Eh, bukankah telah kukatakan tadi bahwa budak perempuan itu telah rusak
karena kumanjakan? Biarlah dia merasakan sedikit rasa pahit agar dapat
menjinakkan keliarannya, besok mungkin….”
Tetapi kata-katanya itu terputus oleh sosok bayangan yang melesat datang. Thian-
leng cepat-cepat berpaling, ah….. si dara Bu-song.!
Wajah dara itu tampak merengut. Sejenak melirik pada Thian-leng, tangannya
menyambar jenggot kakeknya, lengkingnya, ”Kek, kau bilang apa?”
Lu Liang-ong membiarkan jenggotnya ditarik-tarik si dara, “Aku bilang apa?”
“Kali ini aku tak dapat memberi ampun. Kek, kau hendak menyuruh aku mati!” Busong merajuk.
Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Ho, ho, masakah kau masih mempunyai lain
kakek yang lebih buruk dari aku…..eh, kakek menyakiti kau apa?”
Bu song lepaskan cekalannya, tetapi tiba-tiba tangannya merogoh dan mencubit
dada kakeknya. Thian-leng hanya terlongong-longong saja mengawasi. Saat itu
pikirannya tengah melayang-layang, Mengapa Lu Bu-song bisa keluar dari
penjara Sin-bu-kiong. Tetapi dari nada ucapan Lu Liang-ong jelas bahwa ketua
Thiat-hiat-bun atau seorang tokoh partai itu yang menolong si dara. Namun ketua
Thiat-hiat-bun itu masih berlagak tidak tahu untuk menggoda cucunya.
“Kek, apakah kau tak menghajar iblis tua itu?” seru si dara dengan aleman.
Wajah ketua Thia-hiat-bun berobah serius, “Lumayan saja, tetapi karena hal itu
bakal menimbulkan kesukaran besar…”
“Kesukaran besar apa?” Bu-song cibirkan bibirnya.
Lu Liang-ong merenung sejenak, katanya, “Eh, budak, coba katakan dulu apa
rencanamu?”
“Rencanaku…….?” dara itu melongo. Sesaat kemudian ia berseru dengan nada
sungguh-sungguh, “Bukankah kakek meluluskan aku berkelana di dunia
persilatan untuk mencari pengalaman?”
Lu Liang-ong tertegun. Buru-buru ia gelengkan kepalanya, “Bukan, bukan. Kakek
maksudkan, kau suka menemani aku atau.......” ketua Thiat-hiat-bun itu tiba-tiba
melirik kepada Thian-leng, sambungnya , “ atau bersama dia!”
Merah padam seketika selebar wajah dara itu. Ia tundukkan kepala memandang
ujung baju. Sepatahpun tak berkata.
Thian-leng terbeliak! Tak tahu ia mengapa ketua Thiat-hiat-bun itu mengajukan
pertanyaan seaneh itu pada cucunya. Bukankah tak layak kalau seorang gadis
mengadakan perjalanan bersama seorang pemuda? Tetapi Thian-leng menghibur
hatinya sendiri. Ah,, Bu-song tentu menolak bersama dia. Dara itu tentu lebih suka
bersama dengan kakeknya.
Tetapi ternyata dugaannya meleset.
“Eh, budak, lekas katakan, turut kakek atau anak muda itu? Kakek tak punya tempo
menunggu lama-lama lagi!” tiba-tiba Lu Liang-ong mendesak pula.
Setelah berdiam diri sejenak, dengan tersipu-sipu malu dara itu menyahut, “Kek,
hendak kemana kau?”
“Tiam-jong-san!” sahut Lu Liang-ong.
“Uh, siap sudi ke gunung setan itu?” gumam Bu-song.
Lu Laing-ong tertawa gelak-gelak, “Kalau begitu, berarti kau ingin…..” ia menutup
kata-katanya dengan tertawa keras.
Wajah Bu-song semakin merah. Ia mencubit dada kakeknya pula, “Aku tak mau
bersama siapa-siapa! Masakah aku takut berjalan seorang diri?” Habis berkata
dara itupun sudah melesat beberapa tombak jauhnya.
“Hai, budak…..!” bukannya mengejar cucunya, sebaliknya Lu Liang-ong berputar
tubuh membentak Thian-leng.
“Lo-cianpwe…… “ tersipu-sipu Thian-leng menyahut terbata-bata, sesaat
kemudian berganti nada bersungguh-sungguh, “Jika lo-cianpwe hendak
menyuruh, sekalipun masuk lautan api menerjang hutan golok, aku tentu akan
mengerjakan!”
Lu Liang-ong tertawa puas, “Sekarang aku hendak menyuruhmu melakukan
sebuah hal!”
“Silakan lo-cianpwe mengatakan, tentu kulaksanakan!”
“Jagalah cucu perempuanku itu....!”
“Ini....ini.......”
“Bukan hanya untuk sekarang, tetapi selama-lamanya. Ya, ambillah dia sebagi
isterimu!”
“Ini......”
“Ini , ini apa? Apakah kau menolak?”
“Aku....,” karena tak menyangka-nyangka orang akan mengatkan begitu, maka
untuk sesaat tak dapatlah Thian-leng berkata-kata.
“Eh, rupanya kau hendak berbalik haluan?” tiba-tiba Lu Liang-ong menegur
dengan nada tajam.
“Bukan begitu!” buru-buru Thian-leng menerangkan.
dengan nada sungguh-sungguh, “Bukankah Habis mengapa kau tak lekas
menyusul? Jagalah dia baik-baik, kelak apabila urusanku sudah selesai segera
akan kulangsungkan pernikahan kalian…..“
“Tetapi….. “
“Tetapi bagaimana ? “
“Nona Lu telah pergi dengan marah, aku kuatir tak dapat menyusulnya!”
Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Kau sungguh tolol! Dia kan tentu
menunggumu, kalau tak percaya silakan membuktikan sendiri….” ia berhenti
sejenak, lalu katanya pula, “Aku masih mempunyai urusan penting, nah, aku
hendak pergi dulu!”
Berbareng dengan kata-kata terakhirnya, jago Thiat-hiat-bun itupun sudah
melayang ke udara dan turun tujuh delapan tombak jauhnya. Thian-leng tertawa
meringis. Dia tak dapat melanggar sumpahnya. Tak mau ia memikirkan bagaiman
akibatnya di belakang hari. Pokoknya sekarang ia harus melakukan perintah ketua
Thiat-hiat-bun. terpaksa ia menyusul si dara.
Ditilik dari sikapnya tadi. Bu-song tentu pergi dengan marah-marah. Saat itu
tentulah dara itu sudah jauh berpuluh-puluh li. Tetapi di luar dgaan, ketika Thianleng melintasi tikungan di lereng gunung, ia terkejut.
Tak jauh di sebelah muka tampak si dara berjalan dengan lenggangnya. Dengan
berdebar-debar segera Thian-leng menyusulnya. “Nona Lu...”
Bu-song berpaling. Dengan nada acuh tak acuh ia menjawab, “Ada apa?”
Jawaban itu membuat Thian-leng tertegun. Sahutnya gugup, “Tidak a…..apaapa…. hanya kakek nona menyuruh aku…..” ia tak dapat melanjutkan katakatanya lagi.
Bu-song kerutkan sepasang alis, “Kakekku menyuruhmu apa?”
Thian-leng paksakan tertawa meringis, “Beliau suruh aku menjaga nona!”
Tiba-tiba Bu-song mendengus, “Hm, masakan kau mampu?” ia memutar tubuh
terus melesat pergi.
“Hai, nona Lu! Nona Lu….!” Thian-leng kaget dan buru-buru mengejar.
Kira-kira satu li jauhnya barulah Bu-song berhenti. Serunya dingin, “Eh, kau ini
bagaimana? Mengapa mengikuti aku saja?”
“Aku sungguh menerima perintah dari kakek nona suapaya menjaga nona.....”
“Uh, telah kukatakan tadi, kau tak mampu!” dengus si dara.
Betapapun juga Thian-leng itu seorang pemuda yang masih berdarah panas.
Walaupun karena sumpah ia harus mengikat diri tunduk pada perintah, tetapi
sebagai seporang pemuda sudah tentu ia tak mandah dihina oleh seorang anak
perempuan.
“Kalau begitu baiklah. Akan kucari kakekmu dan minta beliau supaya menarik
kembali perintahnya!” kali ini Thian-leng benar-benar unjuk gigi. Pikirnya kalau
mempunyai istri macam dara yang tinggi hati itu, kelak tentu ia menerima
cemoohan saja. Maka habis berkata segera ia memutar tubuh dan melesat pergi.
Dan sebaliknya sekarang Bu-songlah yang mendapat giliran terkejut. Ia tak
menyangka bahwa Thian-leng akan bersikap tegas juga.
“Berhenti!” Cepat ia berseru kepada si anak muda yang sudah enam tujuh tombak
jauhnya.
Thian-leng terpaksa hentikan langkah. Tetapi tanpa berpaling ke belakang ia
berseru, “Nona hendak memesan apa?”
Beberapa saat Bu-song tak berkata apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara terisakisak. Thian-leng tercengang. Bukankah tadi dara itu bersikap sedemikian garang.
Beberapa kali menghinanya tak akan mampu menjaga? Mengapa ketika ditinggal
pergi malah menangis?
Terpaksa Thian-leng berganti dengan nada sabar, “Bagaimana nona? Apakah
aku....”
“Mengapa kau memperlakukan aku begitu?” Bu-song deliki mata.
Thian-leng tertawa masam, “Karena nona mengatakan aku tak mampu menjaga
nona, maka akupun terpaksa pergi!”
“Kakekku telah memberi perintah padamu, masakah menerima sedikit cemoohan
saja kau sudah marah?” Bu-song mengomel.
“Bukankah nona muak kepadaku? Sekalipun aku sanggup menerima cemoohan,
tetapi kalau nona memang tak suka, bukankah sia-sia saja aku menemani nona?”
“Tolol, kau membuat aku mati penasaran!” Bu-song membanting-banting kaki.
Thian-leng kerutkan alis. Tak tahu ia bagaimana harus menghadapi dara
semacam itu. Ah, hati wanita sungguh aneh! gerutunya….
Meliaht si anak muda meringis, tertawalah Bu-song, “ Kau gagu?”
Thian-leng yang sedang merenung, gelagapan mendengar pertanyaan itu. Tanpa
disadari ia segera menurutkan apa yang ditanyakan, “Tidak, tidak gagu!”
Tetapi pada lain saat ia segera menyadari bahwa kata-katanya itu seperti anak
kecil saja. Warna merah segera menebar di seluruh mukanya.
Si dara tertawa mengikik sampai lama. Serunya kemudian, “Cobalah katakan
apakah perintah kakek kepadamu itu?”
Merah padam wajah Thian-leng seketika. Namun terpaksa ia menjawab juga,
“beliau mengatakan aku harus menjaga nona…..”
“Hanya begitu saja..?” tegas si dara.
“Masih ada lagi...ada.....”
“Ada lagi apa!” bentak Bu-song.
“Beliau suruh aku menjaga nona selama-lamanya, mengambil nona sebagi
isteri!”.. Thian-leng terpaksa mengulang apa yang dikatakan Lu Liang-ong tadi.
Tetapi karena likat, habis berkata ia lalu tundukkan kepala.
Wajah Bu-song pun kemerah-merahan seperti buah jambu. Ia tundukkan kepala
memainkan ujung baju. Dengan suara tak lampias ia berseru, “Lalu kau mau atau
tidak?”
Thian-leng terhenyak, “Demi mentaati sumpah, aku tak dapat menolak lagi!”
“Artinya kau tak mau? Mau karena terpaksa? ”
”Kurasa diriku..... tak pantas menjadi pasangan nona.....”
“Memang sebenarnya kau tak pantas!” Bu-song menertawakan.
“Dan lagi asal-usul diriku masih belum terang. Aku masih mempunyai tugas berat.
Sebagai seorang pemuda persilatan, jiwaku setiap saat belum ketentuan
nasibnya. Mungkin akan mengecewakan hati nona, maka.....”
Bu-song tertawa. Kali ini tertawanya merdu meresap, “Mungkin kata-katamu itu
benar, tetapi aku ingin tahu....bagaimana anggapanmu terhadap diriku? Apakah
kau mempunyai sedikit .... rasa suka kepadaku?”
Thian-leng membatin, “Kau seorang dara manja. Jika mengambilmu sebagai isteri
tentu runyam. Untung kakekmu melepas budi besar kepadaku. Apalagi aku telah
mengucapkan sumpah. Apa boleh buat, untung celaka terpaksa kuterima!”
“Nona mempunyai ilmu sakti dan rupa yang cantik. Pula menjadi cucu kesayangan
dari ketua partai Thiat-hiat-bun yang termasyhur. Jika aku beruntung mendapat
isteri sebagai nona, sungguh......”
“Kalau begitu kau suka kepadaku?” si dara tertawa riang.
“Su.....dah.....tentu.....tetapi.....”
“Tetapi apa?”
“Perangai nona itu .....agak kelewat manja, sehingga orang tak berani mendekati!”
“Baik, baik, kalau begitu aku akan berlaku ramah kepadamu ya!” si dara tetap
tertawa.
Thian-leng mengeluh dalam hati. Ah, rupanya seumur hidup ia akan ditakdirkan
untuk menerima kocokan dari si dara manja itu. Ia kerutkan alis tak dapat berkata
apa-apa lagi.
“Eh, sekarang kemana kita hendak pergi? “ tiba-tiba Bu-song menegur. Tetapi
belum dijawab, ia sudah berkata lagi, “Kukira begini saja. Lebih baik kita pesiar
menikmati alam pemandangan indah dari gunung Thay-san!”
“Pesiar….?” Thian-leng melongo.
“Ya, apakah kau tak suka?”
Thian-leng gelengkan kepala tertawa rawan, “Tidak! Aku tak mempunyai selera
dan tak punya waktu luang untuk pesiar. Maaf, aku tak dapat menemani nona…..”
“Kalau tak mau, tak apalah! Perlu apa harus minta maaf ? “ tukas Bu-song. Ia
kerutkan kening, sesaat kemudian berseru pula, “ Eh, kau tadi memanggil aku
dengan sebutan apa ? “
“No…..na….. “
“Bagaimanakah ikatan hubungan kita sekarang ? “
Thian-leng terpaksa menyahut, namun tak dapat ia melanjutkan kata-kata kecuali
dua patah kata, “Adik Song…. “
Namun jawaban itu telah membuat hati Bu-song bahagia.
“Kalau tak mau pesiar terserah. Kemanapun kau pergi, aku tentu ikut padamu! “
katanya dengan nada lemah lembut.
Thian-leng masih terpukau. Sesaat tak tahulah ia kemana tujuannya. Banyak nian
hal yang hendak dilakukan, namun tak tahu ia bagaimana harus memulai.
Thian-leng masih terpukau. Sesaat tak tahulah ia kemana tujuannya. Banyak nian
hal yang hendak dilakukan, namun tak tahu ia bagaimana harus memulai. Dan
kekalahannya di istana Sin-bu-kiong telah memukul batinnya. Ia merasa
kepandaiannya masih jauh dari memadai.
Ia menghela napas, “ketika Oh-se Gong-mo lo cianpwe menutup mata, beliau telah
meninggalkan pesan kepadaku supaya melakukan pembalasan kepada Sonh-bun
Kui-mo. Tetapi karena kepandaianku masih dangkal maka tak dapatlah
kulaksanakan pesannya itu. Kini antara partai Tiam-jong-pay dan Sin-bu-kiong
telah timbul permusuhan. Sin-bu Te-kun mengatakan, apabila dalam tiga hari
Tiam-jong-pay tak menyerahkan anak buahnya yang membunuh penjaga Sin-bukiong, maka dia hendak menyerang Tiam-jong-san. Lu Lo-cianpwe juga ke sana.
Kurasa lebih baik kita ke gunung itu. Sedikit banyak dapat menyumbangkan
tenaganya untuk menghancurkan Sin-bu Te-kun. Dengan begitu dapatlah
sekurang-kurangnya kupenuhi pesan Oh-se Gong-mo lo-cianpwe.
“Baik,” acuh tak acuh Bu-song mengiyakan, “kita ke Tiam-jong-san. Tetapi jika
dugaanku tak salah, untuk sementara ini Sin-bu Te-kun tentu tak berani ke sana.
Dia tak mau mengurus soal kecil yang dapat merugikan cita-citanya menguasai
dunia persilatan!”
“Maksud adik Song……”
“Sin-bu Te-kun tentu tak berani bermusuhan dengan partai Thiat-hiat-bun karena
akibatnya keduanya tentu sama remuk. Ia berani buka mulut besar di hadapan
kakekku karena aku menjadi orang tawanannya. Tetapi siap tahu…..”
“Ya, ya , bagaimana adik bisa keluar dari penjara itu?” tanya Thian-leng.
Bu-song tertawa,”Ingatkah kau, aku pernah mengatakan tentang keempat Su-liat
(orang gagah) dari Thiat-hiat-bun?”
“Ya, ya, aku ingat. Tetapi bukankah kemudian kau mengatakan bahwa hal itu
hanya obrolan kosong dari Sin-bu Te-kun saja?”
Bu-song tertawa riang, “Memang apa yang kukatakan kala itu sungguh-sungguh,
karena kepergianku ke Sin-bu-kiong itu di luar tahu kakekku. Saat itu kakek
sedang sibuk mengobati budak perempuan dari Sin-bu-kiong….” sejenak Bu-song
melirik tajam kepada Thian-leng, ujarnya pula, “tetapi ilmu ‘Melihat-langitmendengar-bumi’ dari kakek dapat melingkupi seluas sepuluh li. Maka gerakgerikku tak luput dari pengetahuannya. Selain mengirim keempat Su-kiat, ia
sendiripun segera menyusul ke istana Sin-bu-kiong…!”
“Bagaimana dengan luka nona itu?” tiba-tiba Thian-leng teringat akan kedua taci
beradik Ki Seng-wan dan Ki Gwat-wan.
“Mati!” sahut Bu-song dingin-dingin.
Thian-leng tersentak kaget. Ia tak yakin tetapi ketika hendak menanyakan lebih
lanjut, Bu-song mendengus, memutar tubuh terus pergi……
Thian-leng tercengang. Ia berseru seraya mengejar. Sepuluh tombak jauhnya, Busong berhenti. Sesosok tubuh tiba-tiba melesat menghadangnya seraya menegur
dengan tertawa dingin, “Adik Lu, perlu apa memaki-maki orang?”
Bu-song kerutkan alis:” Siapa yang suruh kau mengurus lain orang, siapa yang
kau sebut adikmu itu…” Ia mendengus lalu melesat pergi.
Thiang leng terkejut girang. Orang yang mengenakan baju merah itu bukan lain
Cu Siao-Bun. Buru-buru ia memberi hormat, “Nona Cu, sungguh beruntung bisa
berjumpa…”
Mendengar ini, bukan main marahnya Bu-song, lengkingnya, “Apa-apaan kau!?
Jalan!”
Thian-leng serba salah. Kecongkakan Bu-song sungguh membuat orang muak.
Cu Siao-bun pernah melepas budi kepadanya, bagaimana ia dapat bersikap
sedingin itu? Akhirnya tanpa memperdulikan kata-kata keras dari Bu-song, Thianleng tetap menyapa kepada Cu Siao-bun, “Bilakah nona terlepas dari bahaya?
Sekarang hendak kemanakah?”
Melihat dirinya tak dipedulikan, amarah Bu-song meluap. Tiba-tiba ia ayunkan
tangannya menampar muka Thian-leng. Plak… karena tak menyangka-nyangka,
pipi kiri Thian-leng kena. Pipi melepuh, darah mengucur dari ujung mulut.
Cu Siao-bun mengawasi kedua muda-mudi itu dengan senyum ewa. Sedang
Thian-leng sendiri masih terlongong-longong karena kepalanya pusing, mata
berkunang-kunang.
Tamparan itu tak menyebabkannya menderita luka , tidak pula membuatnya sakit.
Tetapi yang terluka adalah perasaan hatinya. Kepribadiannya sebagai seorang
lelaki. Diam-diam ia menyesal dalam hati.
Tetapi si dara yang sudah biasa dimanja, malah membentak-bentak lagi, “Kau
hendak kasak-kusuk apa dengannya? Ayo, jalan tidak?”
Sekalipun tidak ada orang lain, kata-kata itu juga tak pantas diucapkan. Apalagi
Cu Siao-bun ada di situ. Darah panas Thian-leng menggelora dan lupalah ia
seketika.
Plak….. ia balas menampar pipi Bu-song sekeras-kerasnya. Bu-song mengerang.
Pipinya membenjul besar, darah dari mulutnya mengucur membasahi dadanya.
rupanya ia lebih menderita dari Thian-leng.
“Kau ….. kau berani memukul…..” Bu-song melengking, ia memutar tubuh terus lari
terhuyung-huyung.
Thian-leng melongo. Sesaat kemudian ia hendak mengejar. Tetapi tiba-tiba Cu
Siao-bun menertawainya.
“Mau minta ampun ya.....?”
Thian-leng tertegun. Ia berhenti, mukanya merah padam. Sahutnya, “Aku belum
serendah itu, hanya…..” Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena merasa
sukar untuk menjelaskan hubungannya dengan Bu-song. Dan ia anggap tak perlu
menerangkan hal itu kepada Cu Siao-bun.
“Tentunya kau masih ada lain urusan lagi?” tegur Cu Siao-bun dengan tetap
tertawa.
Terpaksa Thian-leng menjelaskan, “Karena aku telah menyanggupi kakeknya
untuk menjaga dara itu, maka hendak kuserahkan kembali ia kepada kakeknya
saja agar jangan menimbulkan perkara di perjalanan!”
Cu Siao-bun tertawa mengikik, “Jangankan sudah mendapat perintah dari
kakeknya, sekalipun tidak, bukankah kau juga senang untuk menjaganya? Eh,
tetapi bagaimana caramu menjaganya?”
Thian-leng tak biasa berbohong. Maka merahlah mukanya. Kembali rasa gelisah
mencengkam hatinya. Betapapun kesalahan si dara Bu-song, tetapi karena
kakeknya telah melepas budi besar, seharusnya ia tak boleh mengimbangi sikap
dara itu. Bukankah ia sudah mengangkat sumpah? Bagaimana nanti pertanggung
jawabannya kepada Jenggot perak Lu Liang-ong?
“Jika nona tiada pesan lain lagi, maaf, aku hendak berangkat dulu!” akhirnya ia
paksakan berkata.
“Ah, mana berani aku memberi perintah? Tetapi aku hanya hendak menyerahkan
sepucuk surat dari seorang sahabat.....”
“Siapa?” Thian-leng terbeliak.
“Cu Siau-bun.....!”
(bersambung ke jilid 11)
Jilid 11 .
Pengemis Bulu besi.
“Dia?” Thian-leng berseru kaget, “bukankah dia mendapat kecelakaan di gunung
Thay-heng-san.....”
“Tidak, dia masih hidup....” sahut Cu Siao-bun dengan nada rawan.
( Catatan: Cu Siao-bun adalah gadis baju merah yang bercakap-cakap dengan
Thian-leng saat itu. Sedang Cu Siau-bun adalah pemuda berwajah pucat yang
dijumpai Thian-leng ketika keluar dari gunung Hun-tiong-san. Agar tidak
membingungkan, maka digunakan ejaan Siao untuk si gadis dan Siau untuk si
pemuda – Pen).
Tiba-tiba terlintaslah sesuatu dalam benak Thian-leng, Cu Siao-bun dan Cu Siaubun. Namanya hampir sama dan wajahnya serupa. Mengapa gadis Siao-bun
membawakan surat pemuda Siau-bun? Aneh....
“Mungkin kau merasa heran, bukan ? “ tegur Cu Siao-bun.
“Ya,...... apakah nona.......”
Siao-bun tertawa, “Sebenarnya tiada hal yang perlu diherankan. Cu Siau-bun
adalah engkoh. jadi wajar kalau sama wajahnya…. “
“O, kiranya nona adik dari saudara Cu, maaf!” Thian-leng seperti tersadar.
Selanjutnya Thian-leng segera menanyakan berita pemuda Cu Siau-bun.
“Dia masih hidup di dunia, tetapi.....” Siao-bun tak melanjutkan kata-katanya.
Dengan pandangan rawan ia menatap Thian-leng.
“Dia... dia bagaimana?” Thian-leng gelisah.
“Segera akan mati!”
“Hai....!” thian-leng menjerit, “ Di mana sekarang ia?”
“Apakah kau ingin menemuinya?” tanya Siao-bun.
“Ya, engkoh nona itu telah banyak melepas budi padaku. Sudah tentu aku harus
menjenguknya!”
“Rupanya engkohku juga selalu teringat padamu. Kini ia berada dalam rumah
penginapan Ih-hian di kota Ceng-liong-tin. Kira-kira dua ratus li dari sini....”
“Jangankan hanya dua ratus li, sekalipun ribuan li aku tetap akan menjumpainya,”
sahut Thian-leng.
Tampak wajah Siao-bun tertawa girang, ujarnya dengan tertawa, “Jika kau
memang bermaksud begitu, silakan lekas ke sana. Kalau tidak dikuatirkan kau tak
dapat bertemu dengan engkohku lagi selama-lamanya!”
“Maaf, aku segera hendak ke sana!” Thian-leng terus memutar tubuh melesat
pergi.
Siao-bun memandang bayangan pemuda itu dengan terlongong-longong. Tibatiba wajahnya mengerut keras, ujarnya seorang diri, “Lu Bu-song, sekalipun kau ini
adik misanku, tetapi dalam hal ini aku tak dapat mengalah padamu!”
ooooo00000ooooo
Thian-leng menggunakan ilmu lari cepat. Ia ingin segera dapat menyusul si dara
Bu-song, kemudian baru menuju ke kota Ceng-liong-tin menjenguk Cu Siau-bun
yang sakit keras. Kepada pemuda wajah pucat itu, Thian-leng juga berhutang
budi. Adalah pemuda itu yang membebaskan dirinya dari kepungan delapan anak
buah Sin-bu-kiong ketika Thian-leng baru keluar dari markas Hun-tiong Sin-mo.
Adalah pemuda itu juga yang menunjukkan tentang tipu muslihat Ma Hong-ing
yang mengaku jadi ibunya itu…..
Masih banyaklah kebaikan-kebaikan yang diunjukkan pemuda Cu Siau-bun itu
kepadanya. Kini pemuda itu menderita sakit berat, entah besok entah sore akan
meninggal dunia. Ia ingin sekali menemui pemuda itu. Tetapi …ah, ia mendongkol
benar kepada Bu-song. Ia segera perkencang larinya seraya berteriak-teriak, “Adik
Song….. Lu…. Bu…..song…..!”
Namun bayangan dara itu tak tampak sama sekali. Seluas puluhan li telah
dijelajahi, tetapi ia tak berhasil mencari dara itu.
“Celaka, dia tentu marah dan pulang melapor pada kakeknya!” diam-diam ia
mengeluh.
Ketika ia sedang gelisah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara helaan napas
panjang. Dan matanya segera melihat sesosok tubuh manusia tengah berlutut di
bawah sebuah pohon besar. Ketika dihampiri, ternyata hanya seorang pengemis
tua yang sudah putih rambutnya. Wajahnya kumal penuh debu. Pengemis itu
duduk bersandar pada batang pohon, sebatang tongkat bambu terletak di
sampingnya.
Sekalipun lelah, namun terpaksa ditegurnya juga pengemis itu. “Mengapa locianpwe seorang diri berada di hutan sunyi ini, apakah....”
Thian-leng bersedia memberi pertolongan apabila pengemis tua itu memerlukan
bantuan. Tetapi kata-katanya itu terputus oleh rasa kaget. Pengemis tua itu tibatiba membuka matanya. Dua larik sinar berkilat-kilat tajam memancar. Itulah
pancaran sinar mata dari seorang ahli tenaga dalam yang hebat.
“Maaf, kalau aku mengganggu lo-cianpwe!” buru-buru Thian-leng berseru seraya
memberi hormat lalu pergi.
“Tunggu!” sekonyong-konyong pengemis itu berseru. Thian-leng terpaksa hentikan
langkahnya.
“Berjam-jam kudengar kau menjerit-jerit seperti anak ayam mencari induknya.
Sekarang baru kau minta maaf, apakah tidak terlambat?” dengus pengemis tua itu.
Thian-leng mengerutkan kening. Pikirnya, pengemis ini benar-beanr liar sekali. Ia
bermaksud baik, mengapa malah disemprot?
“Aku tak tahu kalau lo-cianpwe sedang beristirahat di sini, maaf! “ terpaksa Thianleng meminta maaf lagi, lalu melangkah pergi.
Tetapi baru beberapa langkah, kembali pengemis tua itu membentaknya,
“Kembali!”
Kali ini Thian-leng tak mau. Ia hanya menyahut tawar, “Aku toh sudah minta maaf
padamu!”
Pengemis tua itu tertawa gelak-gelak, “Dalam satu perahu sama-sama
mendayung, adalah sudah menjadi suatu keharusan. Kita bertemu di sini, boleh
dikata mempunyai jodoh. Paling tidak harus saling memberitahukan nama, baru
kau pergi……” pengemis tua itu berhenti sejenak dari ocehannya. Sebelum Thianleng menyahut, ia sudah lanjutkan kata-katanya lagi, “Aku si pengemis tua ini
orang she Auyong, bernama tunggal Beng. Atas kecintaan dari sahabat-sahabat
persilatan, aku diberi gelar Thiat-ik Sin-kay ( Pengemis sakti berbulu besi ). Dan
kau?”
Thian-leng tertegun, serunya, “Aku yang rendah sampai sekarang belum
mempunyai nama. Untuk sementara aku memakai nama Bu-beng-jin!”
Bu-beng-jin artinya ‘Orang yang tak punya nama’.
Auyong Beng tertawa gelak-gelak, “Bu-beng-jin, ah, bagus juga nama itu……”
Thian-leng hanya tertawa masam. Sambil berputar ia terus hendak berlalu lagi….
“Sebenarnya aku hendak tidur, tetapi terganggu dengan jerat-jeritmu tadi. Karena
sudah terlanjur terjaga, mari kita omong-omong!”
Thian-leng menolak, “Tidak-tidak! Karena masih mempunyai urusan penting, maaf,
aku tak dapat menemanimu!”
Pengemis sakti tertawa meloroh, “Meskipun kau tetap hendak pergi, tetapi juga tak
perlu terburu-buru begitu. Kalau kita omong-omong barang dua tiga patah kata
lagi, toh takkan membuatmu rugi bukan?”
Thian-leng kerutkan dahi, serunya, “Lo-cianpwe hendak memberi pesan apa,
silakan lekas mengatakan saja!”
“Tadi kau jerat-jerit tak keruan itu hendak mencari siapa saja?”
“Ini …. seorang adik perempuan …… adik angkatku!”
“Adik angkat...? Berpuluh-puluh tahun si pengemis tua ini berkelana di dunia
persilatan, tak pernah aku bicara bohong, tak pernah aku menyombongkan diri.
Dengan begitu barulah aku dapat memenangkan ....”
Merah padam seketika wajah Thian-leng, “Itu urusanku pribadi, harap lo-canpwe
jangan mendesak!”
Kembali pengemis tua itu tertawa keras, “Baik, aku takkan menanyakan urusan
pribadi. Bu-beng-jin, rupanya jodoh kita hanya sampai di sini saja. Karena kau
mempunyai urusan lain, silakan pergi!”
Thian-leng tak mau banyak cakap. Setelah memberi hormat, segera ia memutar
diri dan melangkah pergi. Tetapi baru beberapa langkah, kembali ia harus
berhenti lagi. Kiranya ia mendengar pengemis tua itu berkata seorang diri, “Ah, Sip
Uh-jong, Sip Uh-jong, kematianmu sungguh mengenaskan sekali.”
Buru-buru Thian-leng balik dan bertanya, “Apakah lo-cianpwe kenal pada Sip locianpwe? Apakah dia....”
“Mengapa kau tanyakan dia?” wajah Pengemis sakti mengerut gelap.
“Terus terang beliau telah banyak melepas budi padaku!”
“O, kiranya kau masih ingat budi? Sayang sahabatku itu sudah mati!”
“Benarkah? ” Thian-leng menegas.
“Aku pengemis tua tak pernah bohong!” sahut si pengemis. Namun Thian-leng
masih tetap meminta keterangan yang jelas.
“Sahabatku itu dan Tui-hun Hui-mo telah ditutuk jalan darahnya oleh isteri Sin-bu
Te-kun. Setelah mereka tak berdaya lalu dibakar!”
Thian-leng pening kepalanya mendengar cerita itu. Samar-samar ia masih ingat
akan peristiwa yang telah lalu. Ia anggap keterangan si pengemis itu tentu benar.
“Agaknya lo-cianpwe tahu banyak perihal beliau, apakah lo-cianpwe…………”
“Aku tak punya keistimewaan apa-apa. Tetapi segala peristiwa di dunia persilatan,
baik kecil maupun besar, tak nanti luput dari pendengaranku. Maukah kau
mendengar peristiwa-peritiwa itu semua?”
“Tak usah, aku percaya penuh pada lo-cianpwe. Aku hanya mengutuk diriku
sendiri yang tak punya kepandaian tinggi hingga tak mampu membalaskan sakit
hati Sip lo-cianpwe....”
Pengemis sakti menghela napas, “Benar, meskipun kau sudah meyakinkan ilmu
pukulan Lui-hwe-sin-ciang dengan hebat, tetapi hawa dalammu masih kalah jauh
dari Sin-bu Te-kun, si Jenggot perak Lu Liang-ong, Hun-tiong Sin-mo dan lain-lain,
kecuali.....”
“Kecuali bagaimana? Mengapa Lo-cianpwe tak melanjutkan kata-kata?”
Pengemis sakti perdengarkan tawa yang dalam, ujarnya, “Sip U-jong paham ilmu
meramal. Tak nanti ia biarkan peta telaga Zamrut itu terbakar bersamanya. Jika
sudah memberimu pil Kong-yang-sin-tan, masakah tidak peta itu sekalian?”
“Apa kata lo-cianpwe?” ulang Thian-leng.
“Aku tahu segala apa, tetapi soal peta itu benar-benar aku masih gelap. Sip U-jong
memiliki selembar peta Telaga Zamrut. Sebelum ia menutup mata apakah tak
diserahkan padamu?”
Thian-leng pun kerutkan dahi. “Sesaat setelah meminum pil Kong-yang-sin-tan,
karena tak kuat menahan rasa panas, akupun pingsan sampai lama. Bagaimana
dengan nasib Sip lo-cianpwe saat itu aku tak tahu. Begitu pula dengan peta itu!”
“Aneh, masakah peta itu turut terbakar……?” gumam pengemis sakti. Beberapa
saat kemudian baru ia berkata pula, “Beberapa tahun yang lalu di dunia persilatan
telah muncul seorang tokoh baru yang mengejutkan. Kepandaiannya luar biasa.
Tokoh-tokoh kelas satu yang berhadapan dengan orang itu hanya seperti anaianai yang menerjang api. Belum pernah ada seorangpun jago persilatan yang
mampu melayani lebih dari tiga jurus….”
“Siapakah tokoh itu?” seru Thian-leng serentak.
“It Bi siangjin!” sahut si pengemis.
“It Bi siangjin….. ?” Thian-leng mengulang heran. Ia tak tahu siapa tokoh itu.
“It Bi siangjin adalah seorang pertapa aneh. Tak suka bergaul dengan orang.
Sudah berpuluh tahun ia berkelana untuk mencari seorang yang dipandang dapat
menjadi murid penggantinya. Tetapi tak ada yang dicocoki, sehingga karena putus
asa, ia menguburkan kitab dan pedang pusaka Liong-coan-po-kiam …….”
“O, jadi Telaga Zamrut itu tempat kuburan pusaka!” seru Thian-leng.
“Benar, asal mendapat petanya, tentu dapat mencari pusaka-pusaka terpendam
itu.” Pengemis sakti mengatakan, “ kitab pusaka itu ditulis sendiri oleh It Bi siangjin,
berisi seluruh ilmu kepandaiannya. Kalau berhasil meyakinkan , Sin-bu te-kun,
Hun-tiong Sin-mo, Lu Liang-ong, ya… pendek kata siapapun tentu tak
menang……, sayang sekali kalau sampai turut terbakar !”
“Bagaimana lo-cianpwe tahu peta itu berada pada Sip lo-cianpwe ? Dan mengapa
Sip lo-cianpwe tak berusaha mencari pusaka itu?”
“Berita itu sudah lama tersiar di dunia persilatan, jadi tak mungkin bohong. Sip Ujong sudah dipunahkan kepandaiannya oleh musuh, maka percuma ia mendapat
kitab itu, toh tak dapat meyakinkan lagi. Ia hendak menyerahkan kitab itu kepada
orang yang dianggapnya berbakat bagus, agar dapat membalaskan sakit hatinya.
Sip U-jong seorang yang pandai meramal, licin dan pandai tentang obat-obatan
beracun. Sekalipun ilmu silatnya sudah punah, tetapi bertahun-tahun ia dapat
mempertahankan peta itu dari sergapan orang. Ditilik dari akal muslihatnya, tak
mungkin peta itu sampai jatuh di tangan Te-it Ong-hui. Maka kusangka kaulah
yang diberi peta itu !”
“Tetapi aku tak tahu menahu tentang peta itu dan Sip lo-cianpwe pun tak pernah
mengatakannya !” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tercengang. Menilik kesungguhan wajah si anak muda, ia percaya
Thian-leng tentu tak bohong. Sampai beberapa lama ia berdiam diri.
“Hai, apakah kau pernah memeriksa tubuhmu ?” tiba-tiba ia tersadar.
“Memeriksa tubuh ? Perlu apa ?” Thian-leng melongo.
“Setelah minum pil, bukankah kau lantas pingsan? Pun pada saat Te-it Ong-hui
tiba, ia tak sempat menggeledah badanmu. Siapa tahu Sip U-jong diam-diam
menyelinapkan peta itu dalam tubuhmu!”
Walaupun kurang percaya, tetapi Thian-leng anggap tiada jeleknya ia memeriksa
tubuhnya. Dan memang sejak meninggalkan lembah Hong-lim-koh, tak pernah ia
memeriksa pakaiannya. Pun ketika Ki Seng-wan melakukan pengobatan Hiam-imkiu-coan, meskipun pakaian Thian-leng itu dibuka tetapi nona itupun tak sempat
memeriksa.
“Hai,………!” tiba-tiba Thian-leng berseru tertahan.
Ketika tangannya merogoh kantong, ia menyentuh sebuah bungkusan kertas.
Buru-buru ditariknya keluar…….
“Oho, tepat sekali dugaanku!” Pengemis sakti berteriak kaget.
Thian-leng tegang sekali. Ia tak tahu bahwa kantongnya berisi sebuah bungkusan
kain yang sudah kumal. Dengan berdebar-debar ia membuka lipatan kain itu.
Ah……. hampir ia menjerit kegirangan. Sebuah peta yang penuh dengan jalurjalur goresan. Di sebelahnya tertulis tiga buah huruf Giok-ti-tho ( peta telaga
zamrut)!
Tetapi yang membuat Thian-leng terkejut ialah sebaris tulisan di balik peta itu.
Tulisan itu ditulis dengan darah, berbunyi :
“Hun-tiong dan Song-bun kedua durjana, adalah musuh bebuyutanku. Aku mati
dibunuh Ma Hong-ing, supaya membalaskan sakit hatiku. Jangan lupa……”
Thian-leng menggigit gigi kencang-kencang.
“Bu-beng-jin, kuhaturkan selamat padamu!” tiba-tiba pengemis sakti berseru “……
asal kau memperoleh pusaka itu, kelak kau tentu menjadi tokoh utama di dunia
persilatan. Untuk menuntut balas sakit hati Sip U-jong adalah semudah orang
membalikkan telapak tangan!”
Thian-leng tak berkata-kata. Hatinya penuh dengan rasa haru dan dendam. Sip Ujong bukan saja memberinya minum pil Kong-yang-sin-tan, tetapi juga
menyerahkan peta. Ia harus menunaikan pesan tokoh yang bernasib malang itu,
menuntut balas pada Hun-tiong Sin-mo, Song-bun Kui-mo dan Ma Hong-ing. Dan
memang Song-bun Kui-mo yang kini menjelma menjadi Sin-bu Te-kun itu adalah
manusia yang harus dilenyapkan demi keselamatan dunia persilatan! Tetapi yang
dua orang itu….. ya, Hun-tiong Sin-mo telah menyembuhkan lukanya, Ma Honging kemungkinan adalah ibunya sendiri! Hendak dibunuhkah kedua orang itu?
Tidak…..! Ia tak dapat membunuh orang yang telah melepas budi padanya. Dan
sebelum asal-usul dirinya diketahui, ia tak dapat membunuh Ma Hong-ing dulu.
Karena kalau-kalau wanita itu benar ibu kandungnya….
Benak Thian-leng penuh dengan berbagai persoalan yang rumit, sehingga untuk
beberapa saat lamanya ia hanya tegak terlongong-longong saja.
“Lekas simpan peta itu! Kalau aku seorang temaha, mungkin peta itu tentu sudah
pindah ke tanganku!”tiba-tiba Pengemis sakti memperingatkan.
Tetapi di luar dugaan Thian-leng malah mengangsurkan peta itu kepada si
pengemis, “Aku tak tertarik dengan peta ini. Kalau lo-cianpwe menghendaki,
ambillah!”
Kalau tak mengambil peta itu berarti bebas dari kewajiban melaksanakan pesan
Sip U-jong. Dmeikianlah jalan pikiran Thian-leng.
“Kau gila…..?” teriak si pengemis.
“Jika memperoleh pusaka kau bakal menjadi tokoh silat nomor satu! Tak seorang
persilatan pun yang tak mengiler dengan peta itu, tetapi mengapa kau.....”
Thian-leng hanya menghela napas, “Aku masih muda dan kurang pengalaman,
mungkin tak layak mendapat kitab pusaka itu. Lo-cianpwe lebih ternama dan lebih
berpengalaman, bukankah.....”
“Tidak! Tidak!” Pengemis sakti menolak tegas. “Aku si pengemis tua tak mau
melanggar kemauan alam! Apalagi pilihan Sip U-jong tentu tak salah. Dia tentu
sudah memperhitungkan bahwa bukan saja kau dapat melaksanakan pesannya,
juga dapat pula memikul beban kewajiban menjaga keselamatan dunia persilatan.
Aku si pengmis tua ini tak punya rejeki sedemikian besar !”
Thian-leng terpaksa menyimpan lagi peta itu, kemudian ia minta diri.
“Apakah kau hendak mencari adik angkatmu itu lagi?” tanya si pengemis.
Thian-leng mengiyakan.
“Aku si pengemis tua bersedia mewakili pekerjaanmu itu tetapi .... kau .....harus
segera menjenguk sahabatmu yang sakit keras itu. Sudah, jangan membuang
waktu lagi....”
Thian-leng tersirap kaget. Mengapa pengemis itu tahu urusan itu pula?
“Apakah lo-cianpwe yakin berhasil mencari nona Lu itu?”
“Jangankan dia, sekalipun kau suruh cari seekor semut di ujung langit, aku tentu
sanggup mengerjakannya!”
“Aku seorang yang tahu membalas budi dan dendam. Atas budi lo-cianpwe kelak
aku tentu membalasnya. Sekalipun lo-cianpwe suruh aku menyebur ke dalam
lautan api, tentu aku tak menolak !”
“Bagus, bagus. “ si pengemis tua tertawa, “aku memang tak mau bekerja percuma.
Setiap bantuan yang kuberikan, tentu kuminta balas. Sekarangpun aku hendak
minta balas padamu!”
“Lo-cianpwe hendak suruh apa?” Thian-leng tercengang.
“Tidak menyuruh melainkan hanya meminta kau meluluskan dua buah hal!”
“Silakan mengatakan.”
Seketika wajah Pengemis sakti berobah serius, ujarnya dengan nada sungguhsungguh, “Pertama, mulai saat ini jangan kau berbahasa ‘lo-cianpwe’ lagi
kepadaku. Aku akan memanggilmu ‘laote’ (adik) dan kau panggil aku
‘laoko’(kakak)!”
“Aku terpaksa menurut, laoko, ”segera Thian-leng mengganti panggilannya, “dan
apakah permintaan laoko yang kedua itu ?”
Pengemis sakti tertawa aneh, “Yang kedua, kuminta kau menyimpan sebuah
barangku. Harus kau pakai selama-lamanya dan jangan sampai hilang !”
Diam-diam Thian-leng geli-geli heran. Mengapa memberi barang saja harus pakai
perjanjian? Dan mengapa harus suruh memakai seumur hidup?
“Baiklah , laoko!” sahut Thian-leng.
Pengemis sakti tersenyum. Segera ia mengeluarkan sebuah benda. Dengan hatihati benda itu dikalungkan pada leher Thian-leng.
“Lencana ini, meskipun tak berharga, tetapi merupakan barang pusakaku. Harap
jangan dibuang!” pesannya.
Benda itu ternyata sebuah lencana berukirkan beberapa batang bambu yang
malang-melintang. Lencana itu diikat dengan sebuah kalung kecil.
Thian-leng tak tahu apa guna dan arti lencana bergambar bambu itu. Namun
karena sudah berjanji ia biarkan saja lencana itu dipasangkan si pengemis pada
lehernya.
Sebelum pamit pergi, Thian-leng sekali lagi menyampaikan permintaan supaya si
Pengemis Sakti bulu-besi suka mengusahakan mencari Lu Bu-song.
Si Pengemis sakti menyanggupi.
ooo000ooo
Ah, kau.......!
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, dalam setengah hari saja dapatlah Thianleng mencapai seratus li. Pikirannya masih penuh dengan bermacam perasaan.
Ia tak mengira Sip U-jong dan Tui-hun Hui-mo mati begitu mengenaskan. Lebihlebih tak menyangka kalau Sip U-jong diam-diam menyerahkan peta pusaka
kepadanya. Jika berhasil mendapatkan kitab pusaka dan meyakinkannya, kelak ia
bakal menjadi tokoh nomor satu di dunia persilatan. Dengan begitu dapatlah ia
melakukan segala rencananya.
Hari kedua tibalah ia di kota Ceng-liong-tin, sebuah kota yang terletak di tepi
sungai Hong-ho. Kota itu merupakan lalu lintas perdagangan yang ramai.
Pertama-tama Thian-leng mencari keterangan tentang rumah penginapan Ih-hian.
Ternyata rumah penginapan itu terletak di sebuah jalan kecil yang sepi. Rumah itu
sepi tetamu. Diam-diam ia heran mengapa Cu Siau-bun memilih rumah
penginapan yang sedemikian jorok dan kecil Apakah sahabatnya itu kehabisan
uang?
Ketika ia masuk, ruangan suram penerangannya. Setelah bertanya pada pelayan,
ia segera menghampiri sebuah kamar. Di dalam kamar itu hanya terdapat meja
dengan sebuah kursi dan sebuah ranjang bambu. Di antara lampu yang redup
tampak sesosok tubuh pemuda membujur di atas ranjang. Wajah pemuda itu
pucat. Begitu melihat kedatangan Thian-leng, pemuda itu berusaha menggeliat
bangun. Tetapi ia mengerutkan dahi dan rebah lagi, rupanya ia tak kuat bangun.
Melihat itu Thian-leng terharu sampai menitikkan dua tetes air mata, serunya
teriba-iba, “ Cu-heng, Cu-heng ………kau masih ingat padaku!”
Pemuda itu yang bukan lain memang Cu Siau-bun, memaksakan diri memandang
Thian-leng, “Kau…. Kang-heng….. aku menunggumu setengah mati!”
Thian-leng menghela napas, “Aku bukan she Kang, Cu-heng tentunya tahu.
Sampai saat inipun aku belum tahu asal-usulku, …… tetapi bagaimana dengan
penyakit Cu-heng?”
“Ah, mungkin tiada pengharapan lagi…..!” Cu Siau-bun tersenyum hambar, “dalam
saat-saat terakhir dapat melihat kau…. dapatlah aku mati dengan puas!”
“Tidak, akan kuusahakan sekuat tenaga untuk menyembuhkan Cu-heng…..” Thian
mendekap kedua bahu sahabatnya. Tiba-tiba ia teringat, “Apakah Cu-heng tahu
tentang tabib Thay-gak Sian-ong di gunung Thay-san? Kabarnya ia seorang tabib
yang pandai. Mari kuantar Cu-heng ke sana!”
Tetapi Cu Siau-bun menolak, “Percuma, penyakitku ini sudah bertahun-tahun.
Obat dari tabib itu takkan menolong jiwaku!”
“Lu lo-hiapsu ketua Thiat-hiat-bun juga pandai ilmu pengobatan. Aku kenal baik
padanya, kalau dia mau tentu dapat menyembuhkan Cu-heng!”
Sekalipun mulut mengatakan begitu, tapi dalam hati Thian-leng gelisah. Ia belum
yakin si Pengemis sakti dapat mencari Lu Bu-song. Kalau dara itu belum
diketemukan, ketua Thiat-hiat-bun tentu marah.
Selain itu iapun memikirkan tentang pernyataan Sin-bu Te-kun yang hendak
menggempur Tiam-jong-san. Belum tentu dugaan Lu Bu-song bahwa Sin-bu Tekun tentu tak berani menyerang Tiam-jong-san itu yang benar. Kalau Sin-bu Tekun benar-benar membuktikan ancamannya, bukankah berabe membawa orang
sakit kepada ketua Thiat-hiat-bun yang sedang bertempur dengan Sin-bu-kiong
itu ?
“Itupun sia-sia saja,” tiba-tiba kedengaran Cu Siau-bun menolak. “Telah kukatakan
bahwa penyakit ini telah kuidap lama sekali. Tiada seorangpun yang dapat
mengobati, kecuali....”
“Kecuali bagaimana harap Cu-heng katakan. Asalkan dapat menyembuhkan
penyakit Cuheng, apapun aku sanggup melakukan!”
Wajah Cu Siau-bun menebar warna merah, serunya, “Apakah….. kau….
sungguh….”
“Seorang lelaki rela berkorban untuk sahabatnya!” seru Thian-leng dengan tegas.
“Asal Cu-heng bisa sembuh aku rela mengorbankan apa saja….!Eh, apakah Cuheng masih ingat perjanjian kita di lembah Sing-sim-kiap dahulu?”
“Tiada sedetikpun aku melupakan perjanjian itu. Hanya … mungkin bisa
terlaksana besok pada penitisan kita lagi!”
Kembali Thian-leng menghiburnya dan memberi pernyataan lagi. Kemudian
dengan suara berbisik-bisik ia menerangkan bahwa ia telah mendapat peta
Telaga zamrut. Apabila ia berhasil menemukan kitab pusaka itu, tentulah cita-cita
mereka berdua bakal tercapai!
“Benarkah ucapanmu itu?” Cu Siau-bun menegaskan girang-girang kaget.
Segera Thian-leng mengeluarkan peta, serunya, “Lihatlah peta ini, Cu-heng…..!”
serunya. Cu Siau-bun memperingatkan supaya sahabatnya itu jangan bicara
keras-keras, karena dinding itu bertelinga. Kemudian ia menyuruh Thian-leng
menyimpannya lagi.
“Tadi Cu-heng mengatakan ada cara yang dapat menyembuhkan penyakitmu,
entah apakah…..”
Wajah Cu Siau-bun berobah merah, ujarnya tersipu-sipu, “Sekalipun ada, tetapi
tentu membuat kau menderita…..”
Thian-leng menyatakan bahwa ia bersedia melakukan apa saja asal penyakit
sahabatnya itu sembuh.
Akhirnya Cu Siau-bun terpaksa berkata dengan nada jengah, “Sejak kecil tubuhku
telah terkena semacam racun. Racun itu kecuali dengan cara pengobatan Goanyang-sam-hwe ialah menggunakan sari perjakamu untukmu mengenyahkan
racun, tiada lain jalan lagi!”
Thian-leng pun merah mukanya. Ia tahu bahwa Goan-yang-sam-hwe itu memang
suatu cara pengobatan yang mujarab. Ibarat dapat merebut jiwa manusia dari
cengkeraman iblis maut. Tetapi cara itu berarti suatu pengorbanan kehilangan
perjakanya. Namun dalam menghadapi saat-saat seperti itu, pikirannya hanya
ditujukan untuk menolong sang sahabat saja, maka iapun terpaksa meluluskan
juga.
Demikian kedua pemuda itu hendak melakukan pengobatan istimewa. Pada detikdetik
di mana keduanya sudah siap melaksanakan, terdengar Cu Siau-bun menghela
napas, “Apakah kau bersungguh hati hendak menolong jiwaku?”
“Eh, mengapa Cu-heng masih berkata begitu?”
“Apakah kau takkan menyesal?”
“Menyesal? Mengapa harus menyesal?”
“Jika kau mengetahui bahwa aku….” Cu Siau-bun berhenti sejenak, “andaikata
kau mendapatkan ada sesuatu yang mengejutkan pada diriku, apakah kau
tetap……”
“Ah, mengapa Cu-heng masih tak percaya!” Thian-leng heran.
“Bukan tak percaya, tetapi kuatir kau…..” tiba-tiba suara dan tubuh Cu Siau-bun
gemetar, ujarnya, “Aku…..aku….sebenarnya……”
“Kau seorang ….. gadis!” Thian-leng menjerit kaget, “kau ini Cu Siao-bun, kau
ternyata tak sakit!”
“Ya, benar, aku……..,” Cu Siau-bun menangis sedih. Sementara Thian-leng tak
tahu apa yang harus dilakukan. Ia kehilangan kata-kata. Seharusnya ia pagi-pagi
tahu bahwa Cu Siau-bun itu ialah Cu Siao-bun juga. Mengapa ia begitu naif
sampai kena dikelabui?
Tetapi haruskah ia mendamprat gadis itu?
Tidak! Walaupun bagaimana yang telah terjadi, ia tak dapat menyalahkan nona itu.
Adalah karena dirundung oleh badai asmara, maka nona itu sampai nekat
melakukan hal-hal yang sebenarnya kurang senonoh. Ya, tak sangsi lagi. Adalah
karena pengaruh asmara terpendam yang meledak di sanubari nona itu. Jelas
sudah bahwa nona itu memang sangat mencintainya......
Baik rupa maupun kepandaian, memang Cu Siau-bun merupakan gadis idaman
yang sukar dicari keduanya. Ia tentu bahagia mempunyai seorang isteri yang
begitu menyayang. tetapi dapatkah ia memperisterikannya? Tidak! Ia telah
meluluskan pada si Jenggot Perak Lu Liang-ong untuk mengambil Lu Bu-song
sebagai isteri. Ia tak dapat melanggar sumpahnya. Tetapi, tetapi.... ah, ia telah
melanggar kesucian Cu Siau-bun.... dapatkah hal itu dipertanggung-jawabkan???
“Kau ...... benci padaku?” karena melihat Thian-leng membisu, Cu Siau-bun
memberanikan diri menegur.
Thian-leng gelagapan menyahut, “Tidak! Aku …merasa mengecewakan kau…. “ ia
menghela napas panjang, “Karena aku tak dapat memperisteri kau!”
Cu Siau-bun tertawa rawan, “Kutahu, tak dapat kusesalimu!”
Tetapi dalam hati nona itu telah memutuskan. Ia hendak berjuang mengalahkan
Lu Bu-song untuk merebut Thian-leng. Dan kini dalam babak pertama, ia sudah
menang…..
Sekonyong-konyong sebuah benda berkelap-kelip macam seekor kunang-kunang
menghampiri tempat lilin dan tiba-tiba membentur sumbu lilin. Seketika lilinpun
menyala dan serentak dengan itu terdengar suara berbisik, “Menghadapi seorang
nona cantik, mengapa kasak-kusuk dalam kegelapan!”
Thian-leng dan Siau-bun tersentak kaget!
(bersambung ke jilid 12)
Jilid 12 .
Utusan Neraka
Siau-bun menjulurkan sebuah jarinya dan lilin itupun padam. Keduanya segera
mengemasi pakaiannya.
“Awas, jaga baik-baik petamu, mungkin orang ini hendak mengarah petamu itu!”
bisiknya kepada Thian-leng.
Thian-leng mendorong jendela dan loncat keluar. Dengan sebuah loncatan yang
indah ia hinggap di atas penglari rumah. Rumah penginapan seolah-olah
terbungkus oleh kegelapan, sunyi dan senyap.
“Apakah kau melihat sesuatu?” tanya Siau-bun ketika menyusul loncat ke atas
rumah. Thian-leng hanya menggeleng. Mungkin waktu berpakaian tadi orang
sudah menyingkir pergi. Apa tujuan orang itu? Mengapa ia terus melarikan diri?
Siau-bun pun heran. Ia masih mengenakan pakaian laki-laki, wajahnya yang pucat
kini tampak kemerah-merahan. Thian-leng melirik padanya dan tertawa.
“Kau menertawakan aku?” dengus Siau-bun.
“Jangan salah paham, engkoh Cu...eh.....nona Cu.....”
Siau-bun menggumam, “Bagaimanapun pandanganmu terhadap diriku, tetapi kita
telah...... tidur bersama. Dengan masih memanggil nona, apakah tidak terlalu.....,”
ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terisak-isak.
Terpaksa Thian-leng menghiburnya, “Adik Bun, ya..., akulah .... yang salah.....”
“Ah, sudahlah. Yang sudah biarlah lampau....” sahut Siau-bun rawan.
Sekonyong-konyong terdengar sebuah tertawa mengejek. Thian-leng segera
mengenali suara itu seperti suara orang yang mengganggu tadi. Berbareng
dengan itu tampak sesosok tubuh melesat keluar dari sudut rumah penginapan
dan terus melarikan diri.
“Hai, siapa itu berani mengganggu tak berani berhadapan muka?” Thian-leng
berseru seraya loncat mengejar.
“Biarkan saja, jangan kena tertipu….” Siau-bun mencegah. Tetapi Thian-leng yang
sudah dirangsang kemarahan sudah terlanjur melambung ke atas wuwungan.
Terpaksa Siau-bun pun mengikuti.
Orang itu hebat sekali. Betapapaun Thian-leng lari sekencang-kencangnya, tetapi
tetap ketinggalan berpuluh tombak jauhnya. Bisa melihat orangnya tapi tak bisa
mendekati.
Mereka sudah berada di luar kota. Orang itu berlari menyusur sepanjang pantai
sungai Hongho. Air bengawan yang mengkilap gelap di malam pekat, makin
menambah keseraman suasana.
“Pernahkah kau melihat orang itu?” tanya Siau-bun. Thian-leng menggeleng.
Tiba-tiba Siau-bun loncat menghadang di muka, “Sudahlah , tak usah mengejar
lagi.!”
“Mengapa?” Thian-leng terkejut.
“Kita masih mempunyai urusan. Kalau kau tak tahu siapa orang itu, perlu apa matimatian mengejarnya? Kemungkinan besar ia hendak gunakan tipu untuk
memancing kita!”
Thian-leng menghentikan langkahnya. Ia pikir alasan Siau-bun itu benar. Ya, perlu
apa ia harus mengejar orang yang tak dikenal itu?
“Baiklah, mari kita balik ke pondok lagi.” katanya. Tetapi pada saat keduanya
memutar tubuh, tiba-tiba terdengar orang itu menggunakan ilmu menyusup suara
berseru kepada Thian-leng.
“Bu-beng-jin, bukankah kau hendak mencari tahu asal-usulmu?”
Sudah tentu Thian-leng tersentak kaget dan cepat-cepat memutar tubuh lagi.
Orang itu melanjutkan kata-katanya dengan ilmu menyusup suara, “Ketahuilah
bahwa aku bermaksud baik. Aku tak punya dendam apa-apa kepadamu, jangan
kau menguatirkan diriku. Jika ingin tahu asal-usul dirimu, bebaskanlah dirimu dari
libatan kawanmu itu dan ikutlah aku ke dalam sarangku. Jika tak mau, maaf aku
tak dapat menunggumu lebih lama lagi....”
Hati Thian-leng berdebar keras. Hal yang paling menjadi pemikirannya ialah
tentang asal-usul dirinya. Apalagi orang itu memang tak bermusuhahn padanya.
Ditilik dari caranya menyalakan lilin dari kejauhan dan ilmu lari cepatnya, jelask
kalau seorang sakti. Mungkin orang itu memang sungguh-sungguh bermaksud
baik hendak memberi petunjuk padanya!
Seketika tergeraklah hati Thian-leng. Ia hendak menurut seruan orang itu. tetapi
pada lain saat, timbullah suatu prasangka. Nada suara orang itu memang tak
pernah didenagrnya, tetapi mengapa dia tahu tentang riwayat dirinya? Mengapa
orang itu begitu menaruh perhatian padanya? Kaki Thian-leng yang sedianya di
ayun, kembali terhenti pula.
“Lekas, mengapa kau ini?” melihat Thian-leng berhenti, Siau-bun menegur heran.
Thian-leng termangu-mangu tak dapat mengambil keputusan. Tiba-tiba orang tak
dikenal itu kembali menggunakan ilmu menyusup suara, “Kau mau ikut atau tidak
terserah! Tetapi sekarang aku tak dapat menunggu lagi!”
Belum Thian-leng sempat menimbang, tiba-tiba Siau-bun sudah menepuk
bahunya, “Hai, mengapa kau ini?”
Thian-leng gelagapan. Dalam gugupnya ia segera mengambil keputusan. Segera
ia mengambil keluar peta Telaga zamrud dan diberikan kepada si nona, “Harap
adik Bun pulang dulu ke pondok, aku hendak menemui seorang sahabat dulu!”
“Kau kenal dengan orang itu?” tanya Siau-bun.
“Tidak, aku tak kenal!”
“Mengapa kau hendak menemuinya? Apakah kau tak kuatir terjebak tipunya?”
Thian-leng menggeleng,”Tidak, aku harus pergi, harap adik Bun jangan kuatir!”
tanpa menunggu sahutan si nona lagi, Thian-leng pun segera loncat mengejar
orang aneh tadi.
Siau-bun heran atas tindakan pemuda itu. Setelah menyimpan peta ke dalam baju,
iapun segera menyusul.
Bayangan hitam itu tetap berada pada jarak dua puluhan tombak. Melihat Thianleng menyusul, ia tertawa gelak-gelak dan melanjutkan larinya lagi. Betapapun
Thian-leng hendak menyusulnya tetap tak mampu.
Tiba di puncak bukit yang sunyi, tiba-tiba orang aneh itu berhenti. Sekeliling bukit
itu penuh ditumbuhi huatan pohon Yang dan Siong yang rindang.
Secepat Thian-leng dan Siau-bun tiba, kejut mereka bukan kepalang ketika
melihat wajah orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar, mata sebesar
kelereng, dahinya menonjol, wajahnya mengerikan.
Punggungnya menyelip sebatang kipas besi. Begitu melihat Thian-leng,
berserulah orang itu dengan bengis, “Hai, telah ukatkan supaya jangan membawa
kawanmu, mengapa……..”
“Sebutkan namamu dulu! Asal kau menerangkan maksudmu mengi=undang dia
kemari, tentu aku segera mengundurkan diri sendiri, kalau tidak….” Siau-bun
cepat-cepat menyambuti. Sejenak ia melirik ke arah Thian-leng, ia berkata pula,
“Kami berdua datang bersama pergi berdua! Betapapun hendak gunakan tipu
muslihat memikatnya, tak akan kubiarkan dia termakan tipumu….”
“Ya, aku belum meminta keterangan nama cianpwe?” sambung Thian-leng.
Orang aneh itu tertawa seram, “Aku mempunyai she ganda Tok-ko dan nama Sing.
Atas perintah tuanku, aku disuruh mengundang Be-beng tayhiap untuk
diberitahukan sebuah rahasia penting!”
Thian-leng tertegun, “O, kiranya cianpwe mempunyai majikan?”
Ia anggap orang itu mempunyai kepandaian sakti dan umurnyapun sudah enam
puluhan tahun, masakah masih berhamba pada orang. Kalau orang itu saja sudah
dapat digolongkan sebagai tokoh kelas satu, bagaimana dengan majikannya!
“Boleh aku bertanya siapa tuanmu itu?” seru Siau-bun.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak,” Tuanku juga mempunyai she ganda Kong-sun
dan nama gnda Bu-wi.”
Siau-bun mendengus, “Ah, apakah kepala dari Hek-gak (Neraka hitam)?”
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Hek-gak sudah melenyapkan diri dari dunia
persilatan selama enam tujuh tahun. Sungguh tak nyana nona bisa
mengetahuinya dengan jelas!”
Siau-bun memandang Thian-leng, “Jangan kena jebakannya, ayo kita pergi saja!”
Kembali Thian-leng ragu. Ia tak tahu siapa yang disebut Hek-gak itu, tetapi dari
ucapan Siau-bun yang begitu serius, tentu Hek-gak itu sebuah tempat yang
misterius. Tetapi ia tertarik dengan undangan Tok-ko Sing tadi…..
“Eh, apakah kau masih berkeras tak mau mendengar kata-kataku?” Siau-bun
banting-banting kaki.
Baru Thian-leng hendak menyahut, Tok-ko Sing sudah mendahului tertawa sinis,
“Apakah nona marah karena aku mengganggu kesenangan kalian tadi sehingga
nona melarang dia memenuhi undanganku?”
“Ngaco!” bentak Siau-bun. Wajahnya tersipu-sipu merah. Tak mau ia
menghalanagi Thian-leng lagi.
“Karena sudah datang, maka harap cianpwe suka membawa aku ke sana!”
akhirnya Thian-leng pun mengambil keputusan.
Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Aha, ternyata kau tak mengecewakan sebagai
seorang pendekar muda. Pandangan tuanku itu maha tajam dalam menilai pribadi
seorang ksatria….”
Habis berkata orang aneh itupun segera ayun langkah menuju ke dalam hutan.
Thian-leng pun tak ragu-ragu lagi segera mengikutinya. Siau-bun mendengus,
tetapi iapun terpaksa mengikuti juga.......
ooooo000000000oooo
Neraka Hitam
Tak lama mereka sudah menyusup berpuluh-puluh tombak ke dalam hutan. Saat
itu hari
makin malam. Hutan Siong dan jati makin pekat. Sedemikian gelap sehingga tak
dapat melihat jari sendiri. Namun karena lwekang Thian-leng dan Siau-bun cukup
tinggi, maka dapatlah mereka menembus kegelapan itu. Sejauh beberapa tombak
mereka masih dapat melihat jelas. Sekalipun demikian tak urung kedua mudamudi itu tercekat juga hatinya.
Sambil menarik tangan Thian-leng, berkatalah Siau-bun dengan ilmu menyusup
suara, ”Mungkin kita masuk dalam jebakan. Masih keburu jika kita balik keluar!”
“Putusanku telah bulat. Biarpun masuk ke dalam sarang harimau telaga naga, aku
tetap tak gentar,” sahut Thian-leng, “sekiranya adik Bun kuatir, baiklah pulang lebih
dahulu!”
“Apakah kau anggap aku tega membiarkan kau seorang diri menempuh bahaya?”
gumam Siau-bun.
Sederhana kedengarannya ucapan itu, tetapi penuh dengan kasih sayang yang
mesra. Mau tak mau tergeraklah nurani Thian-leng.
“Apa katanya kepadamu sehingga kau begitu terpikat?” Siau-bun setengah
menyesali.
“Aku tak dapat melepaskan kesempatan untuk mencari tahu asal-usul diriku…….!”
“O, jadi dia hendak memberitahukan tentang asal-usulmu?” tanya SIau-bun pula.
Thian-leng mengiyakan.
Siau-bun geleng-geleng kepala, ”Kau termakan tipunya. Tahukah kau tempat apa
Neraka Hitam ini?”
Thian-leng mengangkat bahu.
“Pemilik dari Neraka Hitam ini ialah Kongsun Bu-wi, seorang durjana besar pada
enam tujuh puluh tahun yang lalu. Dia membunuh jiwa manusia seperti
membunuh lalat. Tak ada kejahatan yang tak dilakukan…..”
“Tetapi mengapa ia menyembuhkan diri?” tanya Thian-leng.
“Karena waktu itu ia dikalahkan Hun-tiong Sin-mo dan sejak itu kekuasaan dunia
persilatan pindah ke tangan Hun-tiong Sin-mo. Kongsun Bu-wi beruntung masih
dapat melarikan diri!”
Thian-leng terkejut. Ia tak pernah mendengar tentang peristiwa itu. Sejenak
kemudian ia bertanya mengapa Siau-bun tahu tentang hal itu.
Pertanyaan itu membuat Siau-bun tertegun tetapi cepat-cepat ia menyahut, “
Sudah tentu aku hanya mendengar cerita ibuku saja!”
“Kalau begitu ibumu itu tentulah seorang pendekar wanita yang ternama?” tibatiba Thian-leng mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Siau-bun
tertegun.
“Apakah kau benar-benar tak mau merobah keputusan?” cepat-cepat nona itu
mengalihkan pembicaraan.
Thian-leng menghela napas, “Hal yang paling menyiksa batin orang ialah kalau
tak tahu asal-usul dirinya. Itulah sebabnya maka aku menggunakan nama Bubeng-jin. Setiap kesempatan mencari tahu hal itu sudah tentu takkan kulepaskan!”
Siau-bun menghela napas, “Soalnya, bukan saja kau tak berhasil mencapai
tujuanmu pun bahkan malah terjebak dalam bahaya. Kau tak pernah mendengar
betapa keganasan momok Kongsun Bu-wi! Dia lebih ganas daripada Sin-bu Tekun!”
Thian-leng batuk-batuk, “Selama Hun-tiong Sin-mo masih menguasai dunia
persilatan, mengapa Kongsun Bu-wi berani berkutik lagi?”
Siau-bun tertawa getir, “Ilmu kepandaian itu sukar diukur dalamnya. Tiada ujung
tiada pangkal kecuali It Bi siangjin seorang, mungkin tiada seorang tokoh lain yang
berani membanggakan diri sebagai tokoh lain yang berani membanggakan diri
sebagai tokoh tanpa tandingan…….” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula,
“Rupanya dalam persembunyiannya selama enam puluh tahun itu, Kongsun Bu-wi
telah meyakinkan suatu ilmu kesaktian untuk menebus kekalahannya yang
dahulu. Dikuatirkan tak lama lagi dunia persialtan tentu akan timbul suatu huruhara hebat!”
Thian-leng anggap ulasan nona itu mendekati kebenaran. Ia tak memberi
komentar suatu apa. Dalam pada itu, mereka sudah melintasi berpuluh tombak
lagi, namun hutan itu tampaknya tiada berujung.
“Apakah Bu-beng tayhiap tetap hendak bersama dengan sahabatmu itu?” tiba-tiba
Tok-ko Sing berhenti dan memutar tubuh.
Sebelum Thian-leng sempat menyahut, Siau-bun sudah mendahului lagi, “Apakah
majikanmu tak mau menerima kedatanganku?”
Tok-mo Sing batuk-batuk, “Ini…sekalipun aku tak berani memastikan, tetapi
biasanya perintah beliau teramat keras. Karena beliau hanya perintahkan aku
mengundang Bu-beng tayhiap, maka tak beranilah aku membawa nona!”
Siau-bun tertawa datar, “Begini sajalah. Aku tak kan menyusahkan kau. Nanti
apabila berhadapan dengan majikanmu, akan kukatakan bahwa aku datang
sendiri bukan karena ikut kau!”
Tok-ko Sing memandang Siau-bun dengan tajam. Tiba-tiba ia tertawa sinis,
“Baiklah, harap nona jangan sesalkan aku!”
“Terserah bagaimana kau hendak mengaturnya,” Siau-bun balas tertawa tak acuh.
Kata-katanya juga mengandung berbagai tafsiran.
Segera Tok-ko Sing ayunkan tangannya ke atas. Terdengarlah letupan keras
disertai hamburan sinar berkilat di udara. Rupanya utusan Neraka Hitam itu
melepaskan api pertandaan.
Beberapa jenak kemudian, terdengarlah tiga kali genderang bertalu. Semula
perlahan tetapi lama kelamaan gemanya berkumandang keras.......
Tok-ko Sing tertawa, “Pintu gerbang tengah dalam Neraka Hitam sudah dibuka,
menunggu kedatangan tetamu!”
Thian-leng dan Siau-bun segera mengikuti orang itu melintasi gerombol pohon
yang lebar. Tiba-tiba mata kedua muda-mudi itu tertumbuk pada selarik sinar
penerangan yang melingkar-lingkar dalam warna hijau kebiru-biruan. Ketika
mengawasi dengan seksama, terkejutlah kedua anak muda itu. Kiranya lingkaran
sinar hijau itu tergantung di atas puncak sebuah gedung dan berbentuk dua buah
huruf “ Hek Gak”.
Pada kedua samping tembok pintu, tergantung berpuluh mayat manusia yang
perutnya pecah, usus berhamburan keluar dan darah bercucuran!
Thian-leng memekik tertahan dan berhenti.
“Ha, ha, masakah Bu-beng tayhiap takut?” Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak.
Thian-leng mendengus geram, “Sejak lahir, aku tak kenal dengan kata-kata takut!”
“Tetapi mengapa Bu-beng tayhiap berhenti?” Tok-ko Sing tertawa mengejek.
“Kuanggap majikanmu kelewat ganas…..” sahut Thian-leng. Menunjuk pada
deretan mayat pada tembok, ia berkata,” Orang-orang itu sudah dibunuh begitu
kejam, mengapa masih dipaku pada tembok! Kepada manusia yang sedemikian
kejamnya, aku akan pikir-pikir dulu untuk menjumpainya atau tidak!”
Kembali Tok-ko Sing tertawa keras. Sedemikian keras, hingga daun-daun di
sekeliling bergoyang-goyang. Dan sampai lama sekali baru ia berhenti tertawa.
“Bu-beng tayhiap, kau salah tafsir!” serunya.
“Salah tafsir?” Thian-leng terbeliak, “Apakah mereka bukan dibunuh oleh orang
Neraka Hitam? Apakah pembunuhan itu tiada sangkut pautnya dengan
majikanmu?”
Tok-ko Sing tertawa,”Sayang indera penglihatanmu itu kurang tajam. Cobalah
periksa yang jelas mayat-mayat itu lagi!”
Selama Thian-leng mengadakan percakapan dengan Tok-ko Sing, Siau-bun
hanya diam saja. Ia hanya memperhatikan suasana sekeliling tempat itu.
Thian-leng segera menghampiri ke tembok. Ketika dekat, ia menjerit kaget! Ah…
kiranya mayat-mayat itu bukan manusia melainkan hanya orang-orangan yang
terbuat dari lilin. Adalah karena pembuatannya sedemikian pandai sehingga
menyerupai benar dengan manusia.
Diam-diam Thian-leng malu sendiri. Namun masih ia tak mengerti mengapa
Kongsun Bu-wi membuat orang-orangan lilin seperti itu. Apakah untuk menambah
keseraman nerakanya atau ada lain maksud lagi?
Rupanya Tok-ko Sing mengetahui isi hatinya, ia tertawa, “Bu-beng tayhiap tentu
heran melihat orang-orangan itu bukan?”
Thian-leng mengangguk, “Ya, memang aneh!”
Tok-ko Sing tertawa, “Orang-orangan lilin itu ialah sasaran yang hendak dituju
majikanku pada saat ia keluar ke dunia persilatan lagi……” Sambil menunjuk pada
mayat lilin yang tergantung di tengah-tengah, ia berkata pula. “Itulah lambang
Hun-tiong Sin-mo dan itu Song-bun Kui-mo. Sebenarnya masih ada dua orangorangan lilin lagi, tetapi karena orangnya sudah mati, maka tak dipasang lagi….”
Memang Thian-leng melihat bahwa ada dua tempat yang kosong. Diam-diam ia
menduga bahwa yang diambil itu tentulah orang-orangan lilin lambang Oh-se
Gong-mo dan Tui-hun Hui-mo. Karena kedua tokoh itu sudah meninggal.
Kembali Tok-ko Sing menunjuk ke arah kanan, “Tahukah Bu-beng tayhiap siapa
orang-orangan itu?”
Thian-leng memperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh Tok-ko Sing itu berjumlah
sembilan buah orang-orangan lilin terdiri dari lambang paderi, imam, rahib dan
ada orang biasa.
“Apakah mereka bukan melambangkan tokoh sembilan partai?” Thian-leng balas
menanya.
“Benar!” sahut Tok-ko Sing. Kemudian ia menunjuk ke arah kiri pada empat lima
puluh mayat orang-orangan lilin. “Dan yang sana itu lebih banyak lagi jumlahnya,
tahukah Bu-beng tayhiap siapa mereka itu?”
“Aku masih hijau, tak mengerti banyak!” Thian-leng agak mengkal menyahut.
“Mereka itu juga tokoh-tokoh yang terkenal, antara lain ketua Thiat-hiat-bun
Jenggot Perak Lu Liang-ong, ketua Bu-siong-hwe yang bernama Hun-bin Busiong, ketua perkumpulan agama Pek-tok-kau yang bernama Ha-Lui, ketua
perkumpulan pengemis Kay-pang….”
Siau-bun hanya ganda tersenyum saja. Sepatahpun ia tak berkata. Tetapi lamakelamaan
ia tak tahan lagi. Tukasnya dengan tawar, “Sudahlah, tak usah cerita terus.
Memang cita-cita majikanmu besar sekali, tetapi sayang ia melalaikan sebuah
hal!”
“Melalaikan hal apa?” tertariklah perhatian Tok-ko Sing.
“Dia tak kenal dirinya sendiri!” Siau-bun tertawa dingin.
Tok-ko Sing tertegun, ujarnya, “Hal ini tak dapat kukatakan. Coba saja buktikan
nanti!”
Diam-diam Thian-leng merenung dalam-dalam. Dari pameran mayat-mayat lilin itu
dapatlah diketahui sampai di mana ambisi Kongsun Bu-wi. Jelas orang itu hendak
menimbulkan pemberontakan dalam dunia persilatan.
“Sekarang terserah pada Bu-beng tayhiap apakah tetap hendak masuk ke dalam
Neraka Hitam ataukah mundur…..” kata Tok-ko Sing.
Sambil melirik kepada Siau-bun, berkatalah Thian-leng dengan gagahnya,
“Dengan pameran serupa itu masakah dapat menggertak aku. Silakan membawa
kami terus!”
Tok-ko Sing tertawa sinis. Segera ia memberi isyarat tangan mempersilakan kedua
muda-mudi itu.
Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Serentak dengan gerakan Tok-ko Sing itu maka
terdengarlah suara berdrak-derak dari pintu gerbang besi yang terpentang. Thianleng sejenak termangu tetapi pada lain saat ia segera melangkah masuk diikuti
oleh Siau-bun.
Dua deret rombongan penjaga yang mengenakan pakaian ringkas dan senjata
lengkap tampak menjaga di sepanjang jalan masuk. Deretan terakhir terdiri dari
dua orang bujang perempuan dalam pakaian sederhana. Kedua bujang itu
menghadang di tengah dan menyambut kedatanagn sang tetamu, “Selamat
datang Bu-beng tayhiap!”
Tetapi kedua bujang itu segera tersirap kaget demi melihat Siau-bun. Heran
mereka mengapa Thian-leng membawa kawan.
Tok-ko Sing segera memberi keterangan, “Walaupun berpakaian lelaki, tetapi
tamu kita ini seorang nona. Sambutlah mereka berdua ke dalam ruang tamu......!”
Kemudian ia menyatakan hendak menemui Kongsun Bu-wi.
Ruangan dalam gedung itu tinggi-tinggi, tetapi semuanya dicat hitam sehingga
seram tampaknya. Kedua bujang itu membawa Thian-leng dan Siau-bun masuk.
Selama melalui jalan kecil dan tikungan-tikungan gang, diam-diam Thian-leng
mencatat dalam hati. Kira-kira empat puluh tombak jauhnya setelah melintasi dua
buah halaman, tibalah mereka di ruang tamu. Sebuah ruangan yang luas, penuh
dengan kamar-kamar tetapi sepi-sepi semua. Juga kamar-kamar itu dicat warna
hitam, tanpa lampu sama sekali. Tetapi ketika Thian-leng dan Siau-bun
dipersilakan masuk ke dalam kamar sebelah utara, kedua bujang itupun menyulut
juga sebuah pelita.
Setelah menghidangkan dua cawan the wangi, kedua bujang itupun
meninggalkan ruangan. Begitu mereka pergi, Thian-leng cepat-cepat mengunci
pintu. Ia periksa seluruh ruangan itu dengan teliti. Di situ terdapat tiga buah kamar.
Ruangan dihias indah, tetapi serba sederhana. Sekilas pandang seperti tak ada
sesuatu alat rahasia.
“Adik Bun, jangan minum teh itu!” habis memeriksa ruangan, Thian-leng terkejut
melihat Siau-bun tengah mengangkat cawan arak.
“Mengapa?” Siau-bun tertawa datar.
“Kita berada dalam tempat berbahaya. Segala tindak tanduk kita harus hati-hati.
Kalau teh itu diberi obat, bukankah....”
“Teh ini tiada racunnya dan ternyata teh dari Liong-keng yang termasyhur. Ayo,
kita nikmati saja!” Siau-bun tertawa.
“Bagaimana kau memastikan mereka tak menyampuri obat?”
“Sebabnya sederhana saja. Pertama, gedung ini berdinding sangat tinggi, berpintu
besi dan penuh alat rahasia. Sekali kau sudah masuk tak nanti kau mampu keluar
lagi. Kedua, pemilik Neraka Hitam ini sudah enam-tujuh puluh tahun
menyembunyikan diri. Begitu hendak muncul lagi sudah tentu harus menjaga
gengsi. Tak nanti mau merendahkan diri membunuh kita dengan racun. Masih
banyak lagi alasan-alasannya, tetapi pada pokoknya untuk sementara ini tentu
takkan bertindak curang....”
Thian-leng anggap analisa nona itu tepat, namun ia tetap merasa cemas. Ia masih
sangsi akan keterangan Tok-ko Sing bahwa pemilik Neraka Hitam itu akan
memberi keterangan tentang asal-usul dirinya. Mengapa Kongsun Bu-wi begitu
menaruh perhatian besar kepadanya? Apakah maksudnya.......
“Tolol, apa yang kau pikirkan....?” tiba-tiba Siau-bun menegurnya, “ bagaimana
hasil penyelidikanmu tadi?”
Thian-leng mengatakan bahwa tampaknya ruang itu tiada diberi barang suatu
perkakas rahasia.
“Gila kau!” Siau-bun tertawa hambar, “ruangan ini justru penuh dengan perkakas
rahasia.!”
“Kalau begitu kita ini berada dalam jebakan mereka?” Thian-leng terkejut.
“Boleh dikata begitulah.....” Siau-bun tersenyum, ujarnya pula, “Tetapi telah
kukatakan tadi, dalam waktu singkat ini mereka takkan mencelakai kita. Maka
untuk sementara ini kita aman, tak usah kuatir apa-apa!”
“Bagaimana dengan kata-kata Tok-ko Sing tadi?” tanya Thian-leng.
“Bukankah aku pernah menganjurkan kau supaya jangan ikut padanya?” sahut
Siau-bun hambar.
“Jadi kau sudah mengetahui kalau dia hendak mengelabui?” Thian-leng terbeliak
kaget.
Si nona hanya mengangguk lesu.
Thian-leng tersipu-sipu menundukkan kepala dengan penuh sesal. Tiba-tiba Siaubun tertawa hambar, ia menjentik dengan sebuah jari memadamkan pelita.
Seketika ruangan itupun gelap gulita.
“Ha, apakah adik Bun mendengar sesuatu?” Thian-leng bertanya kaget.
“Tidak!”
“Habis mengapa memadamkan pelita?”
Segera Siau-bun menggunakan ilmu mnyusup suara, “Kita toh dapat melihat dlam
kegelapan, jadi tak perlu dengan penerangan macam kunang-kunang begitu.
Siapa tahu diam-diam ada orang tengah mengawasi gerak-gerik kita. Dalam
kegelapan tentu sukarlah dia melakukan pengintaiannya!”
Beberapa kali nona itu telah mengemukakan analisa yang dapat diterima akal.
Diam-diam Thian-leng kagum. Mereka segera duduk bersamadi.
Tak berapa lama tiba-tiba Siau-bun berseru dengan ilmu menyusup suara. “Ada
orang datang, lekas...!” nona itu menutup kata-katanya dengan sebuah gerakan
loncat ke atas tiang penglari. Tanpa banyak bicara Thian-leng pun segera
mengikuti.
Benar juga, sesaat kemudian terdengar langkah kaki seorang berjalan dengan
perlahan-lahan.
“Aneh, apakah di luar dugaanku?” Siau-bun menggumam heran.
“Apa yang kau duga?”
“Kuduga pemilik gedung ini tentu akan datang sendiri. Dengan menawarkan
keterangan tentang asal-usulmu, dia akan minta peta Telaga zamrud. Jika kau
menolak, dia akan menggunakan keerasan. Peta direbut dan kau akan dibunuh
untuk menghilangkan jejak..”
“Apakah dia sudah tahu peta itu ada padaku?” Thian-leng tersirap kaget.
“Kalau tidak masakah dia begitu baik mengundangmu kemari?”
“Kalau begitu soal asal-usul diriku itu….?”
“Hal itu memang berliku-liku, sayang kau mudah tertipu!” tukas Siau-bun.
Thian-leng menghela napas penyesalan. Langkah kaki itu makin dekat tapi makin
perlahan.
“Apa yang kau maksud dengan di luar dugaan tadi?” Thian-leng bertanya pula.
“Langkah kaki seperlahan itu menunjukkan bahwa orang berjalan dengan penuh
hati-hati. Mungkin takut diketahui orang. Apakah di dalam Neraka hitam ini telah
kemasukan orang lagi?”
Mendengar itu Thian-leng makin bingung. Saat itu langkah kaki sudah berada di
luar pintu, menyusul terdengar suara ketukan pintu perlahan-lahan dan orang
berseru lirih, “Bu-beng tayhiap…..!”
Thian-leng memandang Siau-bun, bagaimana adik Bun, kita bukakan pintu tidak?”
Siau-bun merenung sejenak, lalu mengatakan, “Bukalah pintu.”
Dengan sebuah gerakan seperti kucing, Thian-leng loncat turun dan membukan
palang pintu. Siau-bun menyiapkan senjata rahasia tui-hong-kiong. Juga Thian-
leng telah siap dengan pukulan Lui-hwe-ciang.
Tetapi apa yang muncul hampir membuat si anak muda menjerit kaget. ternyata
hanya seoarang dara baju hijau. Wajahnya memancarkan seri kecemasan.
“Nona ini…..?”
“Apakah kau Bu-beng tayhiap?” tukas dara itu dengan berbisik.
Baru Thian-leng mengiyakan. Siau-bun sudah berseru supaya menyuruh dara itu
masuk dan segera menutup pintu lagi. ternyata Siau-bun pun sudah loncat turun di
belakang Thian-leng.
“Mungkin kau ini nona Cu yang bersama dengan Bu-beng tayhiap?” tanya si dara
itu setelah masuk.
“Kau ini sebagai apa di dalam Neraka Hitam? Mengapa tengah malam datang
kemari? Mengapa kau tahu kami berdua berada di sini?”
“Di Neraka Hitam ini kedudukanku cukup tinggi. Namanya saja aku ini majikan dari
Hong-kiong (istana burung Hong), tetapi sebenarnya tak lebih dari seorang
tawanan….kecuali pada saat berada di samping ayahku!”
Ucapan itu membuat Thian-leng dan Siau-bun bingung karena tak mengerti apa
maksudnya.
“Katkan apa maksud kedatangnmu ini?” seru Siau-bun.
“Hendak mophon bantuan tuan berdua agar menolong kakekku!” sahut si dara.
“Asal kami dapat tentu dengan senang hati membantu nona, “ sahut Thian-leng
serempak.
Dara baju hijau itu tertegun, “Kakekku itu tidak dipenjarakan karena dia….. dia
bukan saja Cong-hou-hwat (kepala penjaga) Neraka Hitam, juga merupakan guru
dari Kongsun Bu-wi…..!”
“Astaga!” Thian-leng mengeluh kaget. Ia memperhatikan lagi wajah nona itu, tetapi
nyata kalau nona itu bukan seorang gila. tetapi mengapa ucapannya begitu aneh?
Kakek nona itu menjabat kedudukan yang sedemikian tinggi, perlu apa ia minta
pertolongan pada orang asing? Juga nona itu sendiri menjabat sebagai kepala
Hong-kiong. Mengapa dia begitu ketakutan dan minta tolong pada lain orang?
Secerdas-cerdasnya otak Siau-bun, kali ini benar-beanr ia tak mengerti.
“Maukah nona menceritakan yang jelas? “ segera Siau-bun meminta.
Nona itu menyadari bahwa keterangannya tadi memang membingungkan, maka
iapun segera memberi penjelasan.
“Ya, ya, memang harus kuceritakan dari awal. Lima tahun yang lalu kakekku itu
datang kemari atas undangan kepala Neraka Hitam. Sebelum itu kakek tinggal di
gunung Kiu-kong….”
“Kakekmu itu bernama……?” tukas Siau-bun.
“Kami keluarga she Bok. Kakekku itu bernama Bok Sam-pi, bergelar Ang-tim
Cong-khek….”
“Bok Sam-pi….!” Siau-bun berseru kaget sekali.
(bersambung jilid 13)
Jilid 13 .
Bok Sam-pi walaupun tak begitu terkenal, tetapi juga seorang tokoh sakti. Ilmu
kepandaiannya sukar diukur. Memang jarang orang persilatan yang tahu dia,
tetapi orang yang kenal padanya tentu mengindahkan. Malah ada yang
menganggap bahwa Bok Sam-pi itu tokoh kedua setelah It Bi siangjin!
Tetapi Bok Sam-pi itu juga lebih senang mengasingkan diri. Itulah sebabnya maka
angkatan muda jarang yang tahu namanya. Tetapi rupanya Siau-bun yang masih
muda itu tahu banyak sekali tentang seluk-beluk dunia persilatan.
“Nama nona…….” tiba-tiba Thian-leng menyeletuk.
“Bok Ceng-ceng……” sahut si dara perlahan. Kemudian ia mengulangi lagi
permintaannya tadi, “Apakah tuan berdua suka menolong kakekku?”
Siau-bun tertawa getir, “Kepandaian kakek nona ini sukar dicari tandingannya.
Bukankah dia menjadi guru dari Kongsun Bu-wi? Bagaimana kami dapat
menolongnya….?” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Apalagi kami sendiripun
terjebak kemari, bagaimana dapat memberi pertolongan pada kakek nona?”
“Jadi tuan berdua tak mau membantu kesusahanku?” kata nona itu dengan nada
terisak.
“Harap nona bercerita yang jelas. Asal kami dapat melakukan, tentu akan
berusaha sekuat tenaga! Apa yang telah terjadi dengan kakek nona…”
Baru Thian-leng bertanya begitu, tiba-tiba Siau-bun menukasnya, “Celaka, kali ini
kepala Neraka yang datang, lekas……!” ia suruh Bok Ceng-ceng bersembunyi.
Ceng-ceng gugup sekali. Cepat ia menyusup ke bawah kolong ranjang.
Sesaat kemudian terdengar derap kaki riuh. Paling tidak tentu ada lima orang yang
datang. Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara supaya Thian-leng
bertindak menurut isyarat matanya. Jangan bertindak sekehendak sendiri.
“Masih begini sore mengapa kalian sudah sama tidur?” segera terdengar suara
orang berkata-kata bercampur tawa. Nadanya berat, mengiang keras di telinga.
Thian-leng pun tertawa seraya membuka palang pintu. Serombongan lima orang
melangkah masuk. Pelopornya seorang lelaki bongkok, kaki pincang, tangan
kutung sebelah. Jenggotnya putih mengkilap, wajahnya penuh keriput. Umurnya
ditaksir tentu sudah seratusan tahun.
Rombongan pengiringanya, kecuali Tok-ko Sing masih ada empat orang yang
mengenakan pakaian seragam. Tok-ko Sing segera melangkah maju,
memperkenalkan orang cacat itu kepada Thian-leng, “Inilah pemimpin kami.......!”
Thian-leng tersipu-sipu memberi hormat, “Kongsun cianpwe……”
Ketua Hek-gak itu tertawa, “Bu-beng tayhiap benar-benar tak bernama kosong.
Seorang berbakat yang hebat dan berwibawa….”
Tetapi wajah ketua Hek-gak itu cepat berobah kurang senang ketika melihat Siaubun. Sebaliknya Siau-bun acuh tak acuh.
“Sekiranya penyambutan kami kurang memuaskan, jangan Bu beng tayhiap ambil
di hati,” kata ketua Hek Gak pula.
Thian-leng menyatakan terima kasih atas kebaikan tuan rumah hendak
memberitahukan asal-usul dirinya.
“Ah, adalah karena kebetulan bertemu dengan seorang kawan lama yang tahu
jelas tentang riwayat tayhiap, maka….” ketua Hek Gak tiba-tiba tak melanjutkan
ucapannya.
“Mohon Gak-cu (kepala neraka) sudi memberitahukan. Untuk itu takkan kulupakan
budi Gak-cu seumur hidup,” Thian-leng mendesaknya.
Kongsun Bu-wi mengangguk, “Sudah tentu, hanya saja.....” ia berhenti sejenak lalu
menyambung pula, “Sebelum menceritakan riwayat tayhiap, bolehkah aku
bertanya dulu tentang suatu hal?”
Thian-leng mempersilakan. Tiba-tiba Siau-bun membisikinya dengan ilmu
menyusup suara. “Tuh, dia sudah mulai....... ingat! Betapapun ia mendesakmu,
janganlah sekali-kali kau mengaku!”
“Kudengar tayhiap memiliki sebuah peta Telaga zamrut, benarkah itu?” sesuai
dengan dugaan Siau-bun, ketua Hek gak itu menyatakan maksudnya.
Hampir meledak dada Thian-leng. Namun ia tetap bersabar dan pura-pura tak
mengerti. “Peta Telaga zamrut? Aku tak pernah mendengarnya apalagi memiliki!”
Ketua Hek Gak tetap tertawa, “Peta itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai
harganya. Tetapi pun bisa dianggap tak berharga sepeser juga!”
“Entah bagaimanakah wujud peta itu, harap cianpwe suka menjelaskan. Kelak
apabila berkelana, aku tentu berusaha untuk mencarikan !” Thian-leng tetap
membodoh.
“Eh, kabarnya kau ini seorang kstria yang suka berterus terang, tak pernah
bohong! Tetapi mengapa kau tak mau berlaku jujur?”
Wajah Thian-leng tampak agak berubah, ujarnya, ”Taruh kata aku memiliki peta
itu, tetapi cara cianpwe hendak merebut dengan siasat serendah ini, tentu tak
kuserahkan! Apalagi sesungguhnya peta itu tak berada padaku!”
Wajah Kongsun Bu-wi pun berobah juga, serunya, “Jadi kau tak mau mengaku?”
Tok-ko Sing tertawa sinis dan segera menyeletuk, “Walaupun tayhiap telah
mendapatkan peta itu secara rahasia sekali, tetapi beritanya sudah tersiar luas di
dunia persilatan. Kalau kau tak mau menyerahkan peta itu kepada ketua kami,
dikuatirkan kau tak dapat mempertahankannya lebih lama dari tiga hari,
apalagi...... tempat persembunyian pusaka itu telah diketahui di gunung Thayheng-san! Seluruh wilayah gunung itu kini berada dalam pengawasan kami.
Jangan harap kau bisa menggali tempat itu. Maka daripada melakukan pekerjaan
yang sia-sia, lebih baik kau tukarkan saja dengan keterangan tentang asal-usul
dirimu!”
Saking marahnya, menggigillah tubuh Thian-leng.
“Kalian tuan dan budak adalah manusia hina semua, tak malu sama sekali…..”
Tetapi secepat itu Siau-bun segera berseru, “Jangan keburu nafsu dulu……
memang apa yang dikatakan mereka itu benar. Jika kau memang memiliki peta,
tak beda seperti secarik kertas tak berharga saja!”
Thian-leng melongo. Tak tahu ia mengapa mendadak Siau-bun mengatakan
begitu.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Ha, benar! Kiranya nona Cu lebih mengerti
persoalan….!” tiba-tiba ia memutar tubuh dan berbisik-bisik kepada Kongsun Buwi. Ketua Hek Gak itu mengangguk, “Baik, kita beri waktu dua jam lagi untuk
mereka pikir-pikir. Nanti tengah malam aku akan kembali kesini lagi minta
jawaban.....”
Sebelum pergi ketua Hek Gak itu melontarkan pandangan tajam pada Thian-leng,
serunya tandas, “Ingin mati atau hidup, terserah padamu!”
Baru ketua itu memutar tubuh hendak berlalu, tiba-tiba ia memutar diri lagi. Thianleng dan Siau-bun terkejut. Merekapun bersiap-siap. Tetapi ternyata ketua Hek
Gak itu tak mengacuhkan kedua anak muda itu. Dengan suatu gerakan yang tak
terduga, tiba-tiba ia mencengkeramkan tangannya ke arah kamar.
Cengkeraman itu dilakukan dari jauh dan tampaknya lemah-lemah saja, tetapi
hasilnya sungguh tak terduga, Bok Ceng-ceng yang bersembunyi di kolong
ranjang telah tertarik keluar!
Kejut Thian-leng tak kepalang. Cepat ia meraih pedangnya, tetapi Siau-bun
menepuk bahunya perlahan-lahan, bisiknya dengan ilmu menyusup suara,
“Sebelum terpaksa jangan bertindak gegabah!”
Thian-leng menurut. Ceng-ceng yang terseret keluar itu, bagaikan seekor ikan
dalam jaring. Serta merta ia memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi.
Ketua Hek Gak tertawa meloroh, “O, kukira ada penjahat masuk ke sini, ternyata
kepala dari Hong-kiong….” tiba-tiba ia berganti nada bengis.” Mengapa kau tidur
di kamar tamu? Bukankah kau tak mempunyai kebiasaan jalan-jalan di waktu
tidur?”
“Hamba…. hamba…..” tak dapat Ceng-ceng memberi jawaban yang tepat.
“Mana Si-hwat?” teriak Kongsun Bu-wi. Si-hwat adalah algojo.
Segera Tok-ko Sing tampil.
“Kepala Hong-kiong telah melanggar peraturan, bagaiman hukumannya?” seru
Kongsun Bu-wi.
“Mati!” sahut Tok-ko Sing.
Kongsun Bu-wi kerutkan dahi, ujarnya, “Tetapi dia adalah cucu tunggal dari
guruku, boleh diperingan hukumannya….” melirik pada Ceng-ceng ketua Hek Gak
itu berseru pula. “Potong kedua paha saja, jiwanya tetap diampuni!”
Tok-ko Sing mengiyakan terus hendak turun tangan. Ceng-ceng gemetar
tubuhnya, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meramkan matanya yang
basah dengan air mata.
Sambil mencabut sebatang badik, Tok-ko Sing membentak, “Kau diberi ampun tak
dihukum mati, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih kepada Gak-cu!”
Segera Ceng-ceng memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi seraya menghaturkan
terima kasih . Setelah itu ia rebah di tanah. Tok-ko Sing menyeringai senyum iblis,
terus mengayunkan badiknya. Petunjukan ngeri tak dapat dibiarkan saja oleh
Thian-leng. Ia tak tahan melihat kebuasan orang Neraka Hitam. Sekonyongkonyong ia menggembor keras dan melepaskan pukulan Lui-hwe-sin-ciang ke
arah Tokko Sing. Seketika terhambur angin keras yang panas sekali.
Tok-ko Sing tak menyangka sama sekali. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam
untuk menyambut. Das.. badik mencelat lepas ke udara, tubuhnya terhuyunghuyung beberapa langkah……. Namun Thian-leng sendiri juga tak kurang
terkejutnya. Ternyata tenaga dalam Tok-ko Sing hebat sekali, sehingga ia rasakan
separoh tangannya yang digunakan memukul tadi kesemutan. Darah bergolakgolak.
Setelah dapat berdiri tegak, wajah Tok-ko Sing merah padam. Ditatapnya anak
muda itu, “Bu-beng tayhiap mempunyai hubungan apa dengan kepala Hong-kiong
itu?” serunya bengis.
“Tidak kenal mengenal, tidak ada sangkut pautnya!” Thian-leng menjawab lantang.
Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Kalau tiada sangkut pautnya mengapa tayhiap hendak
menolongnya? Mengapa tayhiap menghalangi hukuman tadi?”
Sahut Thian-leng, “Aku tak tahan melihat cara-cara yang sekeji itu. Hanya karena
sedikit kesalahan saja lantas mau memotong kaki seorang gadis….”
“O, kiranya tayhiap jatuh cinta padanya…..”
“Ngaco!” bentak Thian-leng, “aku bukan pemuda beriman begitu rendah…”
“Apakah Gak-cu percaya omongannya itu?” tanpa mengacuhkan Thian-leng, Tokko Sing tiba-tiba menghadap ke arah Kongsun Bu-wi.
Wajah Kongsun Bu-wi mengerut gelap, serunya, “Bok Ceng-ceng telah
mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar, ini jelas. Bagaimana
hukumannya?”
“Mati digigit lima binatang berbisa,” sahut Tok-ko Sing.
“Ini bukan urusan kecil, harus memberi tahu pada guru!” seru Kongsun Bu-wi. Lalu
ia menyuruh keempat pengawalnya pergi ke istana Yang-sim-kiong. “ Coba
jenguklah apakah Cong-hou-hwat sudah tidur atau belum. Kasih tahu aku hendak
bertemu padanya!”
Salah seorang pengawal segera melakukan perintah itu. Setelah itu Kongsun Buwi berkata pula kepada Ceng-ceng, “Aku tak berani gegabah menghukummu
nanti. Hal itu akan kurundingkan dengan guru dulu, kau tentu tak keberatan….”
Thian-leng mendengus lega, karena ia tahu guru Kongsun Bu-wi itu ialah kakek
dari Ceng-ceng. Tidak demikian dengan Ceng-ceng. Wajah dara itu pucat pasi.
Tiba-tiba ia merangkak ke hadapan Kongsun Bu-wi dan meratap, “Mohon Gak-cu
memberi hukuman potong kaki saja….”
Thian-leng kaget sekali mendengar permintaan nona itu.
“Mengingat kau ini cucu tunggal dari guru, maka hendak kuserahkan hukumanmu
itu kepadanya,” Kong sun Bu-wi tetap menolak. Ceng-ceng pun tetap meminta
dengan ratap tangis.
“Neraka Hitam ternyata sesuai dengan kenyataannya....” Thian-leng tertawa
dingin.
“Hek Gak mempunyai peraturan keras. Sekalipun aku sendiri yang bersalah juga
harus dihukum. Adalah karena Ceng-cengmu itu cucu guruku, maka kuadakan
pengecualian. Apakah itu ganjil?”
“Mungkin persoalannya bukan begitu sederhana saja!” seru Thian-leng.
Ceng-ceng telah ditutuk kedua bahunya. tetapi ia masih dapat bicara. Segera ia
berseru kepada Thian-leng dan Siau-bun, “Mohon kalian berdua menyelamatkan
jiwaku dan kakekku….”
Bukan main marahnya Kongsun Bu-wi. Cepat-cepat ia tutuk rubuh dara itu. Belum
Thian-leng hilang herannya, tiba-tiba pengawal yang disuruh tadi muncul lagi dan
memberitahukan bahwa cong-hou-hwat menunggu di istana Yang-sim-kiong.
“Bawa dia!” Kongsun Bu-wi memberi perintah, dan Ceng-ceng segera diseret oleh
dua pengawal.
“Bu-beng tayhiap silakan menimbang lagi. Nanti lewat tengah malam aku akan
datang minta jawaban, saat itu..........” kepala Hek Gak menutup kata-katanya
dengan tertawa dan melangkah keluar.
Thian-leng mencabut pedang dan hendak mengejarnya, tetapi dicegah Siau-bun,
“Kita harus menahan diri. Paling tidak sampai nanti lewat tengah malam kita aman.
Baiklah kita gunakan tempo ini untuk beunding!”
“Selain menghadapi dengan kekerasan, rasanya tiada jalan lain lagi,” Thian-leng
menggeram.
“Ah, barangkali akan terjadi perobahan, “Siau-bun mengerutkan kening, “tetapi
gerak-gerik Bok Ceng-ceng itu sungguh mencurigakan….”
“Ya, mungkin Kongsun Bu-wi tak membawa gadis itu ke tempat kakeknya
melainkan ke lain tempat untuk dihukum mati……”
“Bukan itu yang kucurigai, ” sahut Siu-bun, “ mungkin kau tak tahu riwayat kakek
nona itu. Ang Tim Gong-khek selain sakti pun cerdik sekali. Masakah tokoh seperti
dia sudi berhamba pada Kongsun Bu-wi? Dan mengapa ia biarkan cucunya
disiksa orang? Kemudian yang lebih aneh lagi, mengapa Ceng-ceng begitu
sungguh-sungguh minta kita menolong kakeknya. Tokoh semacam Ang Tim
masakah perlu ditolong orang lain….?”
Thian-leng hanya termenung tak dapat memberi pandangan.
“Hanya ada satu cara untuk menyelidiki kesemuanya itu,” Siau-bun tersenyum.
“Bagaimana?”
“Kita harus mengikuti mereka!”
Thian-leng tertegun, serunya, “Ah, mungkin tak mudah!”
“Mengapa tak mudah?”
“Di dalam Hek Gak ini tentu penuh dnegan perkakas rahasia. Setiap sudut, setiap
lantai merupakan bahaya. Jika kita sampai terperosok dalam jebakan, bukankah
akan celaka?”
“Mungkin benar begitu, tetapi sekurang-kurangnya mereka tentu takkan bergerak
mencelakai kita sampai nanti lewat tengah malam!” bantah Siau-bun.
“Tetapi mereka sudah jauh. Jalanan di sini berkelok-kelok rumit sekali. Mungkin
sukar untuk mengejar mereka....”
“Jangan kuatir,” Siau-bun menghibur, “aku pernah mempelajari ilmu ‘melihat langit
mendengarkan bumi’. Meskipun belum sempurna, tetapi dalam jarak seratus
tombak aku masih dapat menangkap derap kaki orang. Dengan menurutkan derap
kaki itu, tentulah tak sukar mengikuti mereka!”
Thian-leng tersirap kaget. Ketika dalam penjara air di istana Sin-bu-kiong, Nyo
Sam-koan pernah menceritakan tentang ilmu itu. Dan kemudian ia pernah
menyaksikan ketua Thia-hiat-bun menggunakan ilmu itu. Mengapa Siau-bun
mengerti juga ilmu sakti itu? Sejak kenal memang ia tak banyak mengetahui
tentang diri nona itu. Dan memang ia tak pernah menanyakan hal itu kepada Siaubun. Kini tiba-tiba timbullah kecurigaannya. Apakah nona itu mempunyai
hubungan juga dengan partai Thia-hiat-bun?
“Eh, kau melamun apa?” Siau-bun tertawa melihat Thian-leng terlongong-longong.
Thian-leng gelagapan. ”Eh, dari manakah adik Bun mempelajari ilmu itu?”
Siau-bun tersentak kaget, tetapi cepat-cepat ia alihkan pembicaraan, “Panjang
sekali untuk menceritakannya. Sekarang baik kita putuskan dulu. Hendak
mengejar jejak mereka atau tidak?”
Thian-leng tak mau mendesak. Ia menyatakan supaya mengejar saja. Demikianlah
kedua anak muda itu segera meninggalkan kamar. Di luar gelap sekali. Siau-bun
sebentar-sebentar berhenti untuk pasang telinga. Setelah melintasi beberapa
tikungan, tak berapa lama mereka harus melalui beberapa halaman luas. Thianleng siap sedia. Tetapi selama itu mereka tidak menjumpai barang seorangpun.
Gedung itu seolah-olah tanpa penghuni.
Tiba-tiba Siau-bun berhenti, serunya, “Setelah melintasi tembok tinggi ini kita akan
tiba di istana Yan-sin-kiong!”
Kedua anak muda itu loncat ke atas tembok. Mereka agak terkesima. Di sebelah
luar tembok itu terdapat sebuah halaman luas penuh ditumbuhi pohon bunga. Tiga
buah paseban besar terang-benderang dengan penerangan. Di ruang paseban itu
penuh sesak orang. Tampak Kongsun Bu-wi diiringai oleh para pengawalnya
tengah menyeret Bok Ceng-ceng. Rupanya mereka baru tiba.
“Kita sembunyi di luar jendela dalam kebun belakang agar dapat melihat dengan
jelas,” Siau-bun mengajak. Anehnya tempat yang dituju kedua anak muda itu tiada
penjaganya sama sekali. Daun jendela besar sekali tertutup dengan kertas lilin
yang sudah penuh lubang. Untung karena di sebelah luar gelap, maka jejak kedua
anak muda itu tak sampai ketahuan oleh orang di dalam ruangan. Dari lubang
kertas jendela, mereka mengintai apa yang sedang terjadi di dalam.
Di tengah ruang terdapat sebuah ranjang kayu yang besar sekali dan dicat merah.
Di situ rebah seorang tua yang aneh. Kepalanya gundul kelimis. Wajahnya putih
bersih, tetapi yang aneh ialah hidungnya. Hidungnya besar dan merah, penuh
dengan tonjolan bintil. Dia hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, shingga
perutnya yang buncit tampak menonjol jelas. Di belakang ranjang terdapat empat
bujang perempuan yang masih muda.
“Dia tentu Ang Tim Gong-khek?” tanya Thian-leng dengan ilmu menyusup suara.
“Benar, apakah kau tak melihat hidungnya?” sahut Siau-bun.
Thian-leng hampir tertawa, Bok Sam-pi ( Bok si hidung tiga ) memang sesuai
dengan namanya. Bukan saja besar sekali, tetapi hidungnya itu seperti terbelah
jadi tiga.
Begitu tiba di hadapan ranjang, Kongsun Bu-wi segera berlutut memberi hormat.
Bok Sam-pi mempersilakan dia bangun. Tetapi tiba-tiba Ang Tim Gong-khek itu
loncat bangun dan berlutut di hadapan Kongsun Bu-wi juga, “Hamba
menghaturkan hormat kepada Gak-cu!”
Pertama, Kongsun Bu-wi memberi hormat kepada Ang Tim Gong-khek dalam
kedudukan sebagai gurunya. Tetapi Ang Tim Gong-khek pun balas memberi
hormat kepada Kongsun Bu-wi dalam kedudukan sebagai kepala Hek Gak. Habis
memberi hormat Bok Sam-pi pun rebah lagi di atas ranjang.
Thian-leng heran mengapa Bok Sam-pi acuh tak acuh melihat cucunya dalam
keadaan ditutuk jalan darahnya.
“Tengah malam menemui aku, ada urusan apa?” tegur Bok Sam-pi.
“Jika tidak penting, masakah murid berani mengganggu guru. Adalah karena…”
“Nanti dulu!” Bok Sam-pi cepat menukas, “aku tak mau menjalankan peradatan
sebagai cong-hou-hwat lagi. Jangan membicarakan urusan dalam Hek Gak…”
Kembali ketua Hek Gak menjura, “Murid tak berani kurang adat, silakan suhu
rebahan saja.”
Bok Sam-pi tertawa dan suruh Kongsun Bu-wi mengutarakan keperluannya.
“Ada seorang murid yang mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar,”
kata ketua Hek Gak.
Bok Sam-pi terkejut marah, “Siapa?”
“Kepala istana Hong-kiong, cucu suhu sendiri Bok Ceng-ceng!”
“Dia?” Bok Sam-pi menuding ke arah Ceng-ceng dan Kongsun Bu-wi mengiyakan.
“Kemari kau!” serunya. tetapi karena tertutuk jalan darahnya, sudah tentu Cengceng tak dapat berjalan. Kongsun Bu-wi memberi isyarat mata kepada kedua
pengawal. Kedua pengawal itu segera membuka jalan darah si dara.
“Kek!” Ceng-ceng loncat menghampiri kakeknya seraya menangis.
“Saat ini kakek sebagai cong-hou-hwat, lekas haturkan hormat!” bentak Bok Sampi.
Ceng-ceng terpaksa berlutut. Ia tak menangis lagi. Mulutnya terkancing, sikapnya
seperti sebuah patung.
“Benarkah kau mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar?” seru Bok
Sam-pi.
Ceng-ceng diam saja.
“Tahukah apa hukuman yang harus dijatuhkan?” dengus Bok Sam-pi pula.
Ketua Hek Gak segera melangkah maju. “Menurut undang-undang Hek Gak, harus
menerima hukuman digigit lima binatang beracun, tetapi….”
“Tetapi bagaimana?” Bok Sam-pi berseru gusar.
“Tetapi Ceng-ceng adalah …….”
“Tak peduli apaku, sebagai cong-hou-hwat, aku harus bertindak menurut hukum.
Kalau hukum tak dipegang, rusaklah peraturan!” teriak Bok Sam-pi, “Lekas
jalankan hukuman!”
Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera memanggil Tok-ko Sing yang menjabat
sebagai pelaksana hukum atau algojo. Tok-ko Sing pun segera bertindak. Ia
hendak mencengkeram bahu kanan dara itu dan Ceng-ceng tak mengadakan
perlawanan apa-apa.
“Tunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi mengebutkan tangannya. Tok-ko Sing menarik
pulang cengkeramannya, tetapi kebutan tangan Bok Sam-pi itu membuatnya
terhuyung-huyung beberapa langkah.
“Mengapa suhu……..?” Kongsun Bu-wi berseru kaget.
“Apakah ada buktinya Bok Ceng-ceng melakukan hubungan itu?” tegur Bok Sam-
pi.
“Orang itu masih berada di ruang tamu. Apakah suhu perlu suruh mereka
menghadap?”
Tiba-tiba Bok Sam-pi tertawa keras-keras. “Tak usah, lebih baik kau lihat saja
kutangkap mereka!”
Kongsun Bu-wi terkejut, “Maksud suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi menampar ke jendela belakang, bingkai jendela yang
hampir satu tombak besarnya itu serentak hancur berantakan. Thian-leng dan
Siau-bun pun tak sempat lagi menjaga diri. Serentak mereka seperti digulung oleh
tenaga tarik yang tak dapat dilawan. Bersama dengan keping jendela, kedua anak
muda itupun tersedot ke dalam ruang dan jatuh tepat di muka ranjang Bok Sam-pi.
Untung tak sampai terluka.
Thian-leng dan Siau-bun menginsyafi betapa hebat kesaktian orang she Bok itu.
Maka merekapun tak mau bertindak sembarangan.
“Apakah kedua orang ini?” tanya Bok Sam-pi.
“Benar ,” buru-buru ketua Hek Gak menjawab, “dengan baik-baik murid melayani
mereka di ruang tamu, tetapi ternyata mereka telah bersekongkol dengan Bok
Ceng-ceng. Dan ternyata juga diam-diam mengikuti murid kemari hendak
mencelakai suhu.”
“Bagaimana hukumannya?” seru Bok Sam-pi.
“Mereka bukan murid kita, sudah tentu boleh dihukum apa saja…..” mata ketua
Hek Gak itu berkedip-kedip, “sudah lama suhu kesepian. Baiklah kedua orang ini
dijadikan hiburan saja, entah bagaimana kehendak suhu….”
Tiba-tiba Bok Sam-pi bangkit duduk serunya, “Ya, ya, aku ingin menyaksikan
hukuman Toa-gi-pat-kui, lakukanlah sekarang!”
Thian-leng mengeluh putus asa. Ia melirik kepada Siau-bun yang berada di
sampingnya. “Adik Bun, akulah yang bersalah mencelakaimu......aku tak menyesal
mati, tapi kalau sampai membuatmu ikut menderita, aku tak dapat mati dengan
meram.”
Di luar dugaan Siau-bun tenang sekali. Bahkan bibirnya menyungging senyuman.
Segera ia menjawab dengan ilmu menyusup suara, “Takutkah kau?”
Thian-leng tertegun, “Tidak, aku tak takut mati. Hanya yang kusesalkan ialah
tindakanku yang sembrono hingga merembet dirimu…..”
“Mati atau hidup masih belum ketahuan. Perlu apa kau sudah putus asa?”
Sentilan si nona membuat Thian-leng malu hati. Segera ia menjamah pedangnya
dan dengan ilmu menyusup suara ia berkata tegas, “Akan kuserang tua bangka
itu, adik Bun…..”
“Jangan gegabah. Melawan si tua itu berarti seperti ana-anai melanda api, telur
membentur tanduk. Kalau kita bertindak begitu, tentu mereka segera menjalankan
hukuman Toa-gi-pat-kui itu!” cegah Siau-bun.
Pada saat kedua anak muda itu bercakap-cakap, Kongsun Bu-wi sudah
perintahkan pengawalnya mengambil sebuah tiang kayu yang besar, tali dan
beberapa batang golok tajam. Alat-alat itu dibawa ke tengah, sedang Bok Sam-pi
tetap menunggu di ranjang kayu. Dengan tenang ia menunggu dilaksanakannya
hukuman Toa-gi-pat-kui.
Sebenarnya Siau-bun pun berdebar-debar hatinya. Namun dara itu sudah biasa
menghadapi ancaman bahaya. Maka sikapnyapun tenang-tenang saja. Tidak
demikian halnya dengan Thian-leng yang sudah gelisah tak keruan. Sedang
terhadap cucunya sendiri saja Bok Sam-pi begitu kejam, apalagi terhadap orang
luar!
“Jalankan dulu hukuman Toa-gi-pat-kui pada kedua mata-mata itu, baru kemudian
menghukum budak ini,” seru Bok Sam-pi. Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera
menyuruh orang mengikat Thian-leng dan Siau-bun pada tiang.
Empat pengawal maju menghampiri Thian-leng. Thian-leng menyiapkan
pedangnya hendak menempur. Tiba-tiba Siau-bun tertawa dingin, “Tunggu!”
“Eh, apakah kau hendak meninggalkan pesan?” tanya Kongsun Bu-wi.
“Tidak……. aku tak butuh memesan apa-apa,” nona itu tertawa.
“Aneh, mengapa kau masih berani tertawa?” tegur Bong Sam-pi.
Siau-bun makin perkeras tawanya, “Karena aku tak dapat mati. Tiada seorangpun
di ruang ini yang mampu membunuhku!”
Wajah Bok Sam-pi berobah seketika dan bangkitlah ia serentak.
“Di antara kalian siapakah yang paling sakti?” tegur Siau-bun dengan senyum tak
acuh.
“Aku!” Bok Sam-pi menggerung.
Siau-bun mendengus hina, “Apakah kau berani bertanding melawan aku?”
Bok Sam-pi tertawa gusar. Tiba-tiba ia melesat maju ke arah si nona……
Bok Sam-pi tegak di hadapan Siau-bun. Perutnya yang gendut terkial-kial karena
menahan kemarahan. Biji matanya yang sebesar kelereng menyala tajam.
“Kau hendak menantang berkelahi denganku?” serunya.
“Benar,” Siau-bun tertawa, “aku ingin bermain-main beberapa jurus dengan kau.”
Bok Sam-pi menggerung seperti harimau mencium mangsa. “Berpuluh-puluh
tahun belum pernah ada manusia yang berani berkata begitu di hadapanku. Toagi-pat-kui masih terlalu ringan. Akan kutambahi hukumanmu dengan Sam-sing-kasim dan Ngo-tok-ya-thi!”
“Bagus, sayang kau tak mampu…..” Siau-bun mengedipkan mata sejenak, “eh,
bagaimana? Apakah kau mau adu kepandaian denganku?”
Bok Sam-pi memekik, “Budak perempuan, kalau mau adu kepandaian lekaslah!
Kalau ayal-ayalan mungkin kau tak sempat lagi!”
Menunjuk pada perutnya yang buncit, ia berseru pula, “Boleh kau gunakan senjata
tajam atau senjata rahasia, pukulan, kaki, jari ataupun apa saja. Kalau mampu
merontokkan selembar buluku saja, aku menyerah kalah dan terserah hendak kau
apakan…..”
Siau-bun tertawa nyaring, “Cara itu tidak adil. Jika kau menghendaki cara
berkelahi mati-matian macam benggolan penjahat….., maaf, aku tak sudi
melayani!”
“Bagaimana kalau adu lwekang?” seru Bok Sam-pi.
“Kasar!”
Biji mata Bok Sam-pi yang besar berkilat-kilat. “Katakanlah, teresrah kau hendak
memakai cara apa, aku menurut saja!”
Siau-bun mondar-mandir sejenak, tersenyum, “Begini saja ! Aku mempunyai
sebutir mutiara Ban-lian-liong-cu ( mutiara naga ribuan tahun ). Jika kau mampu
memijatnya hancur dengan dua buah jari tanganmu, aku mengaku kalah....”
Bok Sam-pi hendak menyahut, tetapi Kongsun Bu-wi sudah mendahului, “Suhu,
budak perempuan ini banyak akal, jangan kena diakali!”
Bok Sam-pi merengut kurang senang, “Apakah aku anak kemarin sore? Kau
pandang aku ini orang apa?”
“Harap suhu jangan marah. Murid hendak mengatakan tentang mustika Ban-lianliong-cu……”
“Persetan dengan Ban-lian-liong-cu! Apakah kau kira aku tak dapat memijatnya
hancur?”
Kongsun Bu-wi gelengkan kepala, “Bukan maksud murid mengatakan suhu tak
dapat meremasnya. Melainkan hanya mengatakan bahwa Ban-lian-liong-cu itu
adalah mustika yang jarang terdapat di dunia. Kemungkina tentu dia tak punya.
Dan andaikan punya pun, bagaimana hendak suruh suhu menghancurkannya?”
“Ya, benar!” Bok Sam-pi gelagapan. “Ban-lian-liong-cu adalah sebuah pusaka
ajaib, mengapa kau suruh aku menghancurkan!”
“Benda yang paling keras di dunia, apakah dapat menandingi kekerasan Ban-lianliong-cu?” Siau-bun tertawa dingin.
“Mungkin tidak ada!” Kongsun Bu-wi menanggapi.
“JIka gurumu dapat memijat hancur Ban-lian-liong-cu, kalau kuberikan yang palsu,
bukankah akan lebih cepat lagi? Dengan begitu bukankah aku kalah dan akan
menerima hukuman Toa-gi-pat-kui atau apa itu Sam-sing-ka-sim atau Ngo-tok-yathi? Apakah aku dapat mengingkari perjanjian lagi?”
Sahutan nona itu membuat ketua Hek Gak gelagapan dan hanya dapat menjawab
sekenanya, “Siapa yang tahu permainan setan itu?”
Siau-bun tertawa dingin, “Dalam hal main setan-setanan, mungkin kau lebih ahli.
Dengan menipu orang untuk diberi tahu tentang asal-usulnya, kau menjebaknya
kemari. Perlunya tak lain hanya hendak merampas peta pusakanya….!” Sambil
menunjuk pada Bok Sam-pi, ia berseru pula, “dan dia seorang cianpwe persilatan
yang sakti, telah kau cekoki dengan obat yang membuatnya berobah linglung tak
sehat pikirannya! Bukankah perbuatanmu itu sangat keji…..!”
“Keparat!” teriak ketua Hek Gak kalap, “kalau kau berani mengoceh tak keruan
tentu akan kucincang tubuhmu!”
Siau-bun acuh tak acuh menyahut, “Sayang saat ini kau tak dapat bertindak
semaumu……” ia berhenti sejenak. “Kepintaran yang digunakan untuk menipu
orang, akhirnya keblinger sendiri. Mungkin kau akan menyesal atas perbuatanmu
itu!”
“Budak perempuan, dengan mengandal akal muslihatmu itu jangan harap kau
mampu lolos dari sini kecuali kau dapat membujuk Bubeng tayhiap supaya
menyerahkan peta padaku!”
Siau-bun tetap tertawa dingin.
“Kalau benar punya Ban-lian-liong-cu, ayo, lekas keluarkan! Coba lihat saja aku
dapat memijatnya hancur atau tidak?” teriak Bok Sam-pi yang rupanya tidak sabar
lagi.
Sahut Siau-bun tenang-tenang, “Jangan terburu nafsu dulu. Akan kujelaskan dulu
palsu tidaknya mustika Ban-lian-liong-cu itu. Toh akhirnya nanti kau tentu akan
memijatnya!”
Ia berpaling ke arah ketua Hek Gak, “Apakah kau tahu khasiat Ban-lian-liong-cu
dan dapat membedakan palsu tidaknya ?”
Kongsun Bu-wi tertawa nyaring, “Ban-lian-liong-cu kira-kira sebesar biji lengkeng,
warnanya merah tua. Begitu dimasukkan dalam air dingin maka hilanglah dingin
air. Dimasukkan dalam api, maka hilanglah panas api. Khasiatnya untuk menolak
air dan api, merupakan mustika yang tiada nilainya di dunia!”
Siau-bun tertawa tawar, “Kalau begitu harap sediakan air dan api, kita buktikan
saja!”
Ia mengeluarkan sebuah kotak emas lalu mengambil sebuah bungkusan sutera
merah. Dengan hati-hati Siau-bun membuka bungkusan itu dan tampaklah sebutir
mutiara sebesar lengkeng. Thian-leng dan orang-orang yang berada dalam
ruangan itu berteriak kaget.
Tepat seperti yang dikatakan ketua Hek Gak tadi, memang mustika itu berwarna
merah tua berkilau-kilauan memancarkan sinar terang-benderang yang
menyilaukan mata. Seketika berhamburan semacam hawa dingin. Begitu dingin
sehingga membuat keempat pengawal Hek Gak yang berdiri pada jarak beberapa
tombak sampai gemetar badannya.
Juga Bok Sam-pi ternganga, serunya dengan terbata-bata, “Mustika yang hebat,
mustika yang hebat, benar-benar mustika yang tiada tandingannya….!”
Siau-bun hanya mengulum senyum. Dengan angkuh ia berkata kepada ketua Hek
Gak, “Apakah seumur hidupmu kau pernah melihat mustika semacam ini?”
Mulut ketua Hek Gak tersekat, “Kalau menilik ujudnya saja, memang belum dapat
dibuktikan palsu tidaknya………” ia berpaling kepada pengawalnya menyuruh
siapkan air dan api. Empat pengawal Hek Gak segera mengiyakan.
Thian-leng segera menggunakan ilmu menyusup suara menegur Siau-bun,
“Apakah itu Ban-lian-liong-cu yang tulen?”
“Sudah tentu!” sahut Siau-bun.
”Ha !? Kalau sampai dipijat hancur oleh setan tua itu, bukankah……”
“Kita ini perlu mempertahankan jiwa atau memberatkan mustika……. ”
Jawaban si nona itu membuat Thian-leng kemalu-maluan. Diam-diam ia menyesal
karena menyebabkan Siau-bun sampai mengorbankan mustikanya.
“Tetapi dengan mengorbankan mustika itu apakah kita pasti dapat lolos ?” ia
masih penasaran.
“Ya, sekalipun Ban-lian-liong-cu itu mustika yang keras sekali, tetapi bukannya
mustahil dihancurkan. Kepandaian setan tua itu memang tinggi sekali. Aku tak
tahu pasti apakah ia mampu memijatnya hancur atau tidak!”
(bersambung ke jilid 14)
Jilid 14 .
Thian-leng cemas, “ Kalau begitu bukankah …. ?”
“Segala apa kita harus menyesuaikan dengan gelagat, tak usah kau cemas!” tukas
Siau-bun.
Pada saat itu dua orang pengawal Hek Gak muncul dengan membawa baskom air
dan tempat api. Siau-bun dengan tertawa-tawa segera menyerahkan Ban-lianliong-cu kepada Kongsun Bu-wi, ujarnya, “Silakan mencobanya di hadapan
hadirin!”
Kongsun Bu-wi menyambuti. Matanya tak berkedip memandang mustika itu.
Wajahnya menampilkan nafsu memiliki.
“Rupanya ada rasa dalam hatimu untuk memiliki mustika itu, eh?” Siau-bun
tertawa mengolok.
Kongsun BU-wi merah mukanya, “Jangan mengukur baju orang menurut
ukuranmu sendiri!” serunya.
Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Jika kau tak mendustai batinmu, saat ini kau
merasa gelisah kalau mustika itu sampai teremas hancur oleh gurumu. Karena
dengan begitu kau tentu tak dapat memilikinya!”
Karena malu, marahlah Kongsun Bu-wi, “Ngaco! Orang macam apakah diriku?
Masakah sebutir mustika macam begitu saja dapat menggerakkan keinginanku!?”
Alis Siau-bun menjungkit, “Sudahlah , jangan coba sangkal isi hatimu, toh tiada
yang tahu!”
Wajah ketua Hek Gak berobah makin gelap. Segera ia lemparkan Ban-lian-liongcu ke dalam baskom air. Serentak terdengarlah pekik kaget dari sekalian orang.
Begitu tercebur air, mustika itu seperti membelah air. Di Sekeliling mustika air
sama menyiah beberapa dim jauhnya.
Wajah Kongsun Bu-wi makin gelap. Ia ambil mustika keluar. Jelas ketika
memasukkan tangan ke dalam basko, ujung bajunya itu terendam air. Tetapi
anehnya setetes airpun ujung bajunya tak basah dan mustika Ban-lian-liong-cu
kering kerontang.
“Bagaimana……..” ujar Siau-bun seraya maju menghampiri.
Kongsun Bu-wi terpukau tak dapat menjawab. Serentak ia lemparkan mustika ke
dalam anglo api. Kembali mata ketua Hek Gak terbelalak. Anglo yang penuh
dengan api membara, tersiak oleh Ban-lian-liong-cu. Ujung baju Kongsun Bu-wi
yang masuk ke dalam api tidak terbakar sama sekali. Bahkan tangannya yang
memegang anglo itu sedikitpun tak terasa panas.
Akhirnya ketua Hek Gak menarik pulang tangannya. Sejenak ia memuaskan
pandangannya ke arah mustika itu, baru diberikan lagi kepada Siau-bun, ujarnya,”
Mustika ini memang benar Ban-lian-liong-cu yang asli, sekarang boleh kau
serahkan kepada suhu!”
Dengan tersenyum Siau-bun menyambutnya.
“Serahkan padaku, lekas. Aku tak sabar lagi menunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi
berteriak.
Siau-bun memutar dirinya menghadapi, ujarnya, “Baik, kita bicarakan dahulu
secara jelas. Barang siapa kalah tak boleh ingkar janji!”
“Kurang ajar, kau anggap aku ini orang apa? Masakah aku sudi ingkar janji
padamu ! » Bok Sam-pi marah-marah.
Namun si nonan masih tetap tersenyum simpul, ujarnya. “Pertanyaan lo-cianpwe
itu sudah cukup menjadi jaminan!” Ia segera angsurkan mustika Ban-lian-liong-cu
kepada Bok Sam-pit.
Begitu menyambuti mustika, sejenak Bok Sam-pi memepermainkannya. kemudian
tiba-tiba ia menjepit mustika itu dengan jari tengah dan jari telunjuk, lalu tertawa
gelak-gelak, “Sebenarnya aku tak sampai hati menghancurkan mustika ini….!”
Thian-leng seperti disadarkan. Ia merasa dapat menduga rencana yang dijalankan
Siau-bun. Jika Bok Sam-pi sampai tak rela meremas hancur mustika itu, berarti ia
kalah dan dapatlah Siau-bun lolos dari neraka Hek Gak. Demikianlah dugaannya.
Tetapi ternyata dugaan itu meleset………
“Tetapi jika tak kuremas hancur, berarti aku menyerah kalah padamu,budak
perempuan! dengan begitu bukankah aku…..bukankah ….” tiba-tiba Bok Sam-pi
bersungut-sungut. Ia tak melanjutkan kata-katanya lebih jauh, tetapi mulai
kencangkan kedua jari yang menjepit Ban-lian-liong-cu…….
Wajah thian-leng berobah seketika. Sejenak ia berpaling memandang Siau-bun
tetapi nona itu tampak tenang-tenang saja. Sedikitpun tak menunjukkan rasa
cemas.
Saat itu tampak wajah Bok Sam-pi agak mengeras tegang. Sepasang matanya
terpentang lebar. Kedua tulang pelipisnya mulai menonjol, begitu pula dahinya.
Jelas menunkukkan bahwa ia menghadapi kesukaran!
Melihat itu Kongsun Bu-wi dan sekalian anak buahnya tampak tegang. Mata
mereka mengikuti lekat-lekat pada mustika yang terjepit di tengah kedua jari
tangan Bok Sam-pi.
Wajah Bok Sam-pi makin tegang. Warnanya berobah merah seperti darah, giginya
mengerut kencang. Inilah yang pertama kali ia menghadapi kesulitan besar dan
kekalahan. Siau-bun tersenyum datar. Ia acuh tak acuh.
Dalam pada itu, sang waktupun merayap terus dengan cepat. Tak terasa sudah
sejam lamanya Bok Sam-pi melakukan taruhannya. Tangan kanannya tampak
gemetar, dahinya mengucurkan butir-butir keringat sebesar biji kedele. Warna
wajahnya yang merah padam berobah biru gelap. Nyata dia sedang mengerahkan
seluruh tenaga dalam untuk meremas Ban-lian-liong-cu.
Akhirnya… ia menghela napas, “Aku tak dapat memijat hancur mustika ini. Ya, aku
menyerah kalah!” ujarnya disertai helaan napas rawan.
Kongsun Bu-wi seperti mendengar halilintar berbunyi di tengah hari. Buru-buru ia
maju melangkah, “Tidak, suhu belum kalah!”
Bok Sam-pi menghela napas, “Bagaimana tidak kalah?”
“Karena mustika itu memang luar biasa kerasnya....” ia lepaskan lirikan tajam
kepada Siau-bun, katanya pula, “Jika dia mampu meremasnya hancur, barulah
benar-benar dia menang. Tetapi jika dia tak dapat, berarti seri. Pertandingan ini
tiada yang kalah atau menang dan boleh diganti dengan cara lain.”
“Benar, benar.” Bok Sam-pi seperti disadarkan. Segera ia berikan Ban-lian-liongcu kepada Siau-bun. “Sekarang kau yang meremasnya!”
Siau-bun tak ragu-ragu menyambuti mustika itu. Ia tertawa mengejek Kongsun Buwi. “Memang telah kuduga kau akan mengajukan usul ini!”
Sejenak Siau-bun mengepal-ngepal mustika di dalam telapak tangan, setelah itu
dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Serunya kepada Bom Sam-pi, “Silakan
Cianpwe melihat dengan betul!”
“Tentu, ayo pijitlah!” Bok Sam-pi mengangguk, mengira nona itu tentu tidak dapat.
Kongsun Bu-wi tertawa yakin. Tetapi pada lain kejap, suara tertawanya sirap
ditelan kekagetan........ Ketua Hek Gak itu terlongong-longong melongo... lutnya
ternganga!
Jelas terngiang di telinganya suatu suara letupan kecil. Mustika Ban-lian-liong-cu
yang terjepit di jari Siau-bun itu pecah berhamburan......
Sekalian orang menjerit kaget! Benar-benar sukar dipercaya. Ketua Hek Gak
berdenyut-denyut kepalanya, bumi yang dipijaknya serasa berputar. Ceng-ceng
yang tengah belutut di depan ranjang, bangkit serentak! Wajahnya penuh diliputi
seri kegirangan. Dipandangnya Siau-bun dengan lekat.
Tiba-tiba Bok Sam-pi menjerit, “Sudahlah, sudahlah, aku kalah…..”
“Tidak suhu, kau tetap belum kalah!” Kongsun Bu-wi berseru.
“Mengapa tidak?” sahut Bok Sam-pi.
Ketua Hek Gak tertaw sinis.” Dengan susah payah suhu memijat, tetapi gagal.
Mengapa dia hanya sekali pijat saja sudah dapat menghancurkan? Bukankah kau
lebih sakti dari dia? Bukankah dia tentu menggunakan tipu muslihat!”
Perut Bok Sam-pi yang gendut tampak terkial-kial karena menahan gejolak
perasaan. tetapi tak tahu bagaimana hendak menumpahkan. Marahkah atau
sedihkah?
Siau-bun tertawa dingin, ujarnya kepada Bok Sam-pi, “Ketika kupijit Ban-lian-liongcu bukankah cianpwe mengawasi dengan jelas?”
“Benar…..” Bok Sam-pi menyahut terpaksa.
“Apakah aku menggunakan ilmu sihir?”
“Rasanya eh…. tidak…”
“Dengan begitu lo-cianpwe rela mengaku kalah?” kata Siau-bun dengan nada
serius.
“Ya, aku menyrah kalah!”
“Tidak , suhu tak boleh menyerah kalah, jika.....” cepat-cepat ketua Hek Gak
menukas. Tetapi secepat itu pula Siau-bun segera berseru keras kepada Bok
Sam-pi, “Jika lo-cianpwe tak suka mengaku kalah, sayapun tak dapat berbuat apaapa. Tetapi bagi martabat lo-cianpwe dalam dunia persilatan, tidaklah layak untuk
menelan ludah lagi!”
“Siapa bilang aku menelan ludah?” Bok Sam-pi murka.
“O, kalau benar cianpwe tak ingkar janji, marilah sekarang kita laksanakan
perjanjian kita!” desak Siau-bun.
“Perjanjian apa ?” Bok Sam-pi mengerutkan dahi,
“Ah, apakah lo-cianpwe benar-benar pelupa sekali?”
Bok Sam-pi mendengus, “Karena kau yang menang, maka segala macam
hukuman
yang hendak kujatuhkan padamu itu batal semua. Kalian boleh keluar dari istana
Hek Gak sini. Apakah ini tidak cukup? Apakah masih hendak suruh aku menganar
kalian?”
Cepat Siau-bun menanggapi, “Itulah! Memang ada dua buah urusan kecil yang
memerlukan persetujuan lo-cianpwe!”
Bok Sam-pi mendengus lagi, “Tidak bisa, aku ini orang macam apa, masakah kau
suruh mengantarkan!”
Siau-bun tertawa dingin, “Jika cianpwe menganggap dirimu sebagai ksatria sejati,
haruslah berjiwa ksatria!”
Marah Bok Sam-pi tak tertahan lagi. Segera ia mengangkat tangannya hendak
menghantam. Tetapi Siau-bun acuh tak acuh. Melihat itu Bok Sam-pi
menghentikan tinjunya dan perlahan-lahan menurunkan lagi. Keriput
kemarahannya perlahan-lahan kendor, berganti kerawanan. Akhirnya menghela
napaslah ia, “Baik, akan kuantar kalian keluar dan sebutkanlah kedua tuntutanmu
itu.”
“Kesatu, serahkan cucumu Bok Ceng-ceng itu kubawa pergi. Kedua , minumlah
sebutir pil dariku.”
“Kau hendak suruh aku minum pil? Perlu apa?” Bok Sam-pi melongo.
“Supaya jiwamu lekas melayang,” sahut Siau-bun tenang.
“Hm, apakah tiada jalan lain lagi?” dengus Bok Sam-pi.
“Perangaiku sama dengan perangaimu. Apa yang kukehendaki, tentu harus
kulaksanakan. Atau lebih baik kau ingkar janji dan bertempur dengan aku
lagikah?” Siau-bun mengejek.
Bok Sam-pi menggelengkan, “Baik, kuterima kedua syaratmu itu. Akan kuantarkan
kalian keluar dari sini dan kuminum pil mautmu itu…….!”
“Tunggu !” sekonyong-konyong Kongsun Bu-wi menjerit.
Siau-bun melirik tajam kepada ketua Hek Gak itu serunya, “Telah kukatakan
padamu tadi bahwa ada suatu saat kau pasti menyesali perbuatanmu selama ini,
nah, bagaimana sekarang?”
“Tak mudah kaulaksanakan kemauanmu itu!” ketua Hek Gak menggeram.
“Ah, belum tentu. Segala apa yang akan terjadi semua di luar dugaanmu......”
Menjeritlah ketua Hek Gak itu dengan kalap, “Jika kau sampai mampu keluar dari
istana ini akan kurayakan dengan bunuh diri!”
Tiba-tiba ketua Hek Gak itu berpaling ke arah Bok Sam-pi dan membentak, “Bok
conghouhwat!”
Mendengar itu kejut Bok Sam-pi bukan kepalang. Segera ia hendak berlutut
memberi hormat. Tetapi secepat itu juga Siau-bun sudah membentaknya, “Nanti
dulu!”
“Jangan menjual muslihat!” bentak ketua Hek Gak murka.
Siau-bun menyambutnya dengan tertawa dingin, “Justru kebalikannya! Aku hanya
hendak melucuti kedokmu selama ini, hanya sayang….” ia tertawa mengikik,
ujarnya pula, “Segala tipu muslihatmu itu gagal semua!”
“Apa maksudmu!” bentak ketua Hek Gak.
“Kau hendak menggunakan pengaruhmu sebagai ketua untuk memaksa Bok Locianpwe tunduk kepadamu bukan?”
“Istana Hek Gak mempunyai tata tertib yang keras. Walaupun beliau menjadi
guruku, tetapi karena beliau menjabat sebagai Conghouhwat, maka wajib menurut
perintahku!” sahut ketua Hek Gak dengan congkak.
“Tanpa kau sadari, dalam babak ini kau sudah mengaku kalah!” Siau-bun tertawa.
“Bagaiman kalahnya?”
“Tadi Bok-locianpwe sudah menyatakan bahwa malam ini tiada lagi garis pemisah
antara ketua dan anak buah, melainkan beliau berbicara dalam kedudukan
sebagai guru dengan murid. Bukankah hal itu sudah merupakan kekalahan
bagimu?”
“Benar, benar! Malam ini kaulah yang seharusnya mendengar perintahku!” Bok
Sam-pi seperti disadarkan.
Serentak berobahlah cahaya muka Kongsun Bu-wi. Giginya terdengar bercatrukan
menahan kemarahan. Tetapi ia tak dapat membantah sepatah pun juga.
Thian-leng kagum sekali atas kecerdikan si nona. Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu
menyusup suara berseru kepadanya, “Siap-siaplah, kita segera akan angkat kaki
dari sini!”
Thian-leng terkesiap. Cepat ia bersiap dengan pedang dan mengerahkan tenaga
Lui-hwe-ciang. Apabila anak buah Hek Gak berani merintangi, ia hendak adu jiwa
dengan mereka.
Siau-bun perlahan-lahan menghampiri kehadapan Bok Sam-pi, ujarnya, “Lo
cianpwe marilah kita pergi!”
“Baik, “ Bok Sam-pi tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengiyakan.
Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu menyusup suara kepada si jago tua itu,” Muridmu
itu sukar diraba hatinya. Jika lo-cianpwe tak siap sedia, dia tentu diam-diam akan
memerintahkan supaya menutup jalan dan menggerakkan perkakas rahasia. Mati
bagi kami anak-anak yang tak bernama ini tak mengapa. Tetapi betapa besar
akibatnya bagi kebesaran nama lo-cianpwe!”
“Beralasan juga ,” dengus Bok Sam-pi.
“Apa kata mereka kepada suhu?” ketua Hek Gak berseru kaget.
Bok Sam-pi deliki mata, teriaknya, “Kemarilah!”
“Suhu hendak memberi pesan apa?” Kongsun Bu-wi makin kaget.
“Aku kuatir kau nanti diam-diam menyuruh orang menjalankan perkakas rahasia,
hal itu pasti akan menjatuhkan namaku!”
“Apakah suhu percaya?” ketua Hek Gak kaget bercampur marah.
Bok Sam-pi tertegun. Tetapi pada lain saat ia menjawab tanpa ragu-ragu. “Percaya
saja. Kutahu apa yang dapat kaulakukan….” ia berhenti sejenak lau melanjutkan
pula. “Karena itu hendak kupelintir dulu urat pergelangan tanganmu agar hatiku
tenteram!”
Seketika berobahlah wajah ketua Hek Gak. Kakinya terhuyung mundur beberapa
langkah. Maksudnya ia akan loncat keluar ruangan. Tetapi Siau-bun cepat
menyentaknya, “Eh, jangan coba kabur, ya! Bok lo-cianpwe sepuluh kali lipat dari
kepandaianmu. Dalam jarak seratus tombak, beliau masih dapat menangkapmu!”
Bok Sam-pi tokoh yang sudah limbung otaknya seperti disadarkan. Bentaknya
murka, “Apa? Kau hendak lari?” Berbareng itu ia ulurkan tangan mencengkeram.
Rencana Kongsun Bu-wi untuk melarikan diri dan mempersiapkan perkakas
rahasia dalam istana itu menjadi berantakan. Selagi ia termangu, Bok Sam-pi
sudah menamparnya. Sebagai murid ia tahu sampai di mana kesaktian gurunya
itu. Tak berani ia menangkis melainkan mandah mengikuti gerak cengkeraman
gurunya, mencelat ke hadapan Bok Sam-pi.
Gemuk sekalipun potongan tubuhnya, tetapi tangan Bok Sam-pi tangkas bukan
kepalang. Secepat kilat ia sudah mendcengkeram pergelangan tangan Kongsun
Bu-wi.
Ketua Hek Gak itu menumpahkan kemarahannya kepada Siau-bun, “Cu Siau-bun,
ingatlah, lambat atau cepat ada suatu hari tulang belulangmu tentu akan
kuremukkan!”
Cu Siau-bun hanya ganda tertawa, “Nanti saja kita bicara lagi apabila hari itu
sudah tiba...”
Setelah itu ia berpaling kepada Ceng-ceng yang masih tercengang-cengang,
“Nona Bok, marilah kita pergi!”
Ceng-ceng seperti orang dibangunkan dari mimpi, serta merta ia mengikuti di
belakang Cu Siau-bun yang berjalan keluar. Sementara itu Bok Sam-pi tampak
seperti orang yang limbung. Dengan masih mencekal lengan Kongsun Bu-wi, ia
tak berkata sepatahpun juga. Ia juga tak sejenakpun melihat pada cucunya. Ia
berjalan seperti orang kehilangan semangat.
Demikianlah kelima orang itu segera beriringan melintasi jalanan istana yang
penuh liku-liku. Tok-ko Sing dan berpuluh-puluh pengawal baju hitam hanya
mengawasi saja. Mereka tak berani bertindak apa-apa, karena tahu ketuanya
sudah dalam penguasaan.
Tak lama kemudian tibalah mereka di luar pintu gerbang Hek Gak. Siau-bun
berseru kepada Bok Sam-pi, “Bok Lo-cianpwe, kini sudah berada di luar istana.
Boleh suruh mereka pulang!”
“Hm, ya benar, kata-kata itu beralasan...” sahut Bok Sam-pi seperti membeo saja.
Segera ia melepaskan cekalan dan menyuruh Kongsun Bu-wi pergi.
Tanpa disadari, Bok Sam-pi sudah dikuasai oleh Siau-bum. Ia menurut saja apa
yang dikatakan nona itu.
Kongsun Bu-wi menghamburkan napas untuk melonggarkan dadanya yang sesak
dengan kemarahan. Setelah melirik buas ke arah Thian-leng , Siaubun dan Cengceng, tanpa berkata apa-apa ia segera ayunkan tubuhnya melesat pergi.
Setelah ketua Hek Gak itu lenyap, Siau-bun menghela napas lega. Ia segera
keluarkan sebuah botol kecil. Ia mengambil sebutir pil berwarna putih seperti salju.
“Lo-cianpwe, silakan minum!” serunya.
Bok Sam-pi tersentak kaget, “Pil beracun?”
Dengan wajah bersungguh-sungguh, berkatalah Siau-bun, “Karena lo-cianpwe tak
beruntung kalah dengan aku, janganlah menghiraukan lagi pil ini obat beracun
atau bukan, tetapi makanlah saja!”
Bok Sam-pi mengangguk-angguk, “Benar, benar, kata-kata itu memang
beralasan!” Menyambut pil, terus ditelannya.
Melihat itu Ceng-ceng mengucurkan air mata, ratapnya, “Apakah kau benar-benar
hendak meracuni kakekku! Sebenarnya kakek itu seorang baik. Adalah sejak
menjadi Cong-houhwat dari Hek Gak, barulah ia berobah seperti orang limbung
begitu!”
Siau-bun menjawab dengan ilmu menyusup suara. “Kesemuanya itu telah
kuketahui. Pil itu bukan pil beracun, tetapi pil penenang urat syaraf. Mudahmudahan ia akan mendapatkan kesadaran pikirannya lagi!”
“Silakan lo-cianpwe pulang kalau mau pulang, ” kata Siau-bun sesaat kemudian.
“Pulang?” Bok Sam-pi gelagapan. Tiba-tiba ia duduk di tanah, ujarnya. “Aku
hendak menunggu kematian di sini!”
Siau-bun tak dapat menahan gelinya, “Terserah kalau kau tahan menunggu di
sini!”
Bok Sam-pi terbelalak, teriaknya, “Apakah bekerjanya racunmu itu perlahanlahan?”
“Mungkin sekitar 10 hari baru terasa!”
“Sepuluh hari…… ?” Bok Sam-pi mengerutkan dahi.
“Jika kepandaianmu memang tinggi sekali, mungkin dua puluh sampai tiga puluh
hari baru bisa bekerja. Atau mungkin juga seumur hidup takkan bekerja!”
Bok Sam-pi menghela napas, “Budak perempuan, kau sangat menyiksa diriku….”
Siau-bun ganda tertawa, “Menurut pendapatku, lebih baik cianpwe pulang ke
dalam istana lagi tentu lebih leluasa.”
Bok Sam-pi benar-benar seperti seekor ayam jago yang jinak! Dengan langkah
berat dan menundukkan kepala ia melangkah kembali ke istana Hek Gak.
“Eh, mengapa adik Bun melepaskannya?” Thian-leng terheran-heran.
“Penyakit apa yang sebenarnya diderita itu dalam waktu yang singkat tak mungkin
kuketahui. Yang kuberikan padanya tadi hanyalah pil biasa. Dapat tidaknya pil itu
menyembuhkannya, aku atk berani memastikan. Sesudah minum pil itu memang
seharusnya ia beristirahat beberapa hari barulah terasa khasiatnya. Maka kurasa
lebih baik kulepaskan pulang saja!”
Selanjutnya Siau-bun menerangkan bahwa apabila pikiran jago tua itu sudah
pulih kembali, tanpa harus diberi petunjuk, tentu akan menyadari apa yang telah
terjadi atas dirinya selama ini. “Dia tentu akan membuat perhitungan dengan
Kongsun Bu-wi!” kata Siau-bun.
Thian-leng kagum sekali atas kecerdikan nona itu. “Tetapi bagaimana dengan
mutiara Ban-lian-liong-cu itu...?”
Siau-bun merogoh ke dalam baju mengeluarkan kotak berisi mutiara itu. “Apakah
kau ingin melihat mutiara ini lagi!” katanya.
“Memang aku tak percaya kalau adik rela menyerahkan mutiara itu kepadanya.
Kupercaya mutiara itu tentu masih berada dalam tempatnya, bukan?”
“Tentu, tetapi....” Siau-bun tertawa, “sungguh berbahaya sekali pertunjukan tadi.
Sekali mereka mengetahui permainanku itu, kita tentu akan menjalani hkuman
ngeri!”
“Tetapi memang benar-benar aku tak tahu permainan apa yang adik pertunjukkan
tadi?”
Siau-bun tertawa geli, “Sebenarnya jika kuterangkan tentu tak ada hal yang patut
diherankan! Selain mustika Ban-lian-liong-cu itu, aku masih mempunyai sebutir
mutiara yang serupa besar dan warnanya dengan Ban-lian-liong-cu itu. Pun
kudapatnya juga berbarengan waktunya, hanya saja mutiara itu tak berharga
sama sekali. Hanya bedanya yang asli itu licin dan yang palsu suram. Mustika
yang licin kuberi minyak dan kupasang pada rambutku. Sekalipun Bok lo-cianpwe
itu sakti tetapi dia sudah dibikin limbung pikirannya oleh ketua Hek Gak, sehingga
tak dapat memperhatikan palsu tidaknya mustika itu.
Pada saat kuterima Ban-lian-liong-cu dari tangan Bok lo-cianpwe, segera kutukar
dengan mustika yang palsu. Maka sekali pijat saja hancurlah mutiara itu.....!”
Kini mengertilah Thian-leng mengapa Siau-bun dapat memijat hancur mutiara
yang dikira Ban-lian-liong-cu. Makin dalam rasa kagum dan hormat Thian-leng
terhadap si nona yang dalam saat-saat menghadapi bencana maut dapat bersikap
tenang sekali.
Siau-bun lalu berkata kepada Bok Ceng-ceng, “Adik Ceng, tahukah kau mengapa
kubawa kau keluar dari istana Hek Gak.?”
Ceng-ceng mengangguk, “Kini aku tahu apa sebab kakek tak menghiraukan diriku
bahkan ada kala begitu membenci dan ingin membunuhku. Setelah terjadi
peristiwa ini, ketua Hek Gak tentu akan benci padaku, kemungkinan besar tentu
akan membereskan diriku...” habis bekata dara itu segera berlutut di depan Siaubun dan Thian-leng, ujarnya, “Terimalah hormat dan terima kasihku atas
pertolongan tuan berdua!”
Siau-bun buru-buru menilakan bangun, “Jangan terlalu banyak peradatan, aku tak
berani menerima kehormatan yang demikian besar.”
Sejenak dara itu melirik pada Thian-leng lalu menanyakan apakah hubungan
antara Siau-bun dengan Thian-leng.
Tiba-tiba Siau-bun mencopot kain kepalanya dan tersenyum, “Adik Ceng, lihatlah,
aku juga seorang anak perempuan seperti engkau!”
Ceng-ceng memekik kaget dan terlongong-longong.
“Kita berjumpa dalam keadaan menderita kesusahan, berarti kita ini mempunyai
jodoh, “ Siau-bun tertawa ramah, ”sekiranya adik tak menolak, aku ingin
mengangkat saudara denganmu, entah…..”
“Kalau taci tak menolak diriku, sungguh besar sekali rejekiku!” Bok Ceng-ceng
berteriak menukas.
Begitulah maka kedua nona itu segera melakukan upacara sederhana
mengangkat saudara. Siau-bun lebih tua setahun dari Ceng-ceng. Selanjutnya
kedua nona itu berbahasa taci dan adik. Thian-leng memberi selamat kepada
mereka.
Perkenalan singkat yang berakhir dengan angkat saudara itu ternyata memuaskan
kedua nona itu. Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Tak putus-putusnya
mereka saling menuturkan tentang riwayat hidupnya selama ini. Begitu uplek
mereka bercakap-cakap sehingga Thian-leng seolah-olah tak diacuhkan…
“Adik Ceng, apakah kau suka melakukan sebuah hal untukku?” tanya Siau-bun.
Ceng-ceng terbeliak, “Mengapa taci begitu sungkan terhadapku? Silakan taci
mengatakan, tentu akan kulakukan sekalipun harus menerjang lautan api!”
Siau-bun tertawa, “Ah, urusan itu tak begitu menyeramkan! Aku hanya minta tolong
supaya kau mengantarkan suratku kepada seorang keluarga yang sudah berpisah
selama dua tahun!”
“Di mana tempat tinggalnya?” tanya Ceng-ceng.
Siau-bun mendekat dan membisiki telinga adik angkatnya, Ceng-ceng
mengangguk.
“Sampai berjumpa,” ia mengambil selamat berpisah dan tanpa mengacuhkan
Thian-leng, terus saja ia melangkah pergi.
Thian-leng tercengang, tetapi ia tak mau bertanya.
Siau-bun melirik tertawa, “Aku mempunyai rencana supaya ia pergi. Kau takkan
menyalahkan aku bukan?”
“Ah, mengapa adik Bun mengatkan begitu. Aku selalu mengagumi apa yang kau
lakukan, apalagi aku tak mempunyai hubungan apa-apa dengan nona itu!”
“Fui, jangan berlagak. Masakah kau dapat melupakannya?” olok Siau-bun.
Diam-diam Thian-leng menghela napas. Ah, wanita, wanita. Masakah baru saja
berkenalan sudah dicemburui. Kalau seorang nona yang berpandangan luas
seperti Siau-bun masih dihinggapi perasaan begitu, apalagi nona-nona lainnya.
“Ah, aku hanya berolok-olok saja, mengapa kau begitu sungguh-sungguh?” Siaubun tertawa.
Nona itu segera mengangsurkan sebuah benda. Ketika Thian-leng menyambuti, ia
mengerang tertahan.
Kiranya Giok-ti-tho atau peta Telaga Zamrud! Sebelum masuk ke dalam istana Hek
Gak, peta itu diserahkan kepada Siau-bun. Maksudnya agar si nona jangan turut
masuk ke dlam istana. Apabila dirinya sampai tertimpa musibah. peta itu tetap
berada di tangan Siau-bun. Tetapi ternyata si nona nekat ikut.
Kini badai telah berlalu. Mereka selamat dan peta pun kembali......
ooo0000oooo
Lenyap tanpa bekas
“Terserah kau, “ kata Siau-bun ketika menjawab pertanyaan Thian-leng tentang
tempat tujuan yang hendak mereka tempuh. Tetapi sekalipun mulut mengatakan
begitu, nona itu sudah mendahului ayunkan langkah.
Agak bingung rupanya Siau-bun mengenai tempat yang hendak dituju. Ada tempat
yang ia merasa tak leluasa kalau mengajak pemuda itu. Ada pula tempat yang ia
sendiri tak suka pergi. Dan yang paling menjadi pemikirannya ialah tentang Lu Busong. Bagaimanakah ia nanti menghadapi dara itu apabila bersua kembali.....
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara orang merintih.
“Tidakkah adik Bun mendengar suara rintihan...?”
“Eh, kau ini bagaimana. Dengan ilmu Melihat langit-mendengar bumi, bukan saja
mendengar jelas, akupun bahkan dapat melihatnya. Itu kan hanya seorang yang
kebetulan lewat di sini merasa tak enak badan maka beristirahat di bawah pohon.
Mengapa kita ribut-ribut?” sahut Siau-bun.
Thian-leng tersentak diam. Tetapi baru beberapa tombak jauhnya, ia melihat
seorang tua bersandar pada sebatang pohon. Orang itu mendekap perutnya
sambil merintih-rintih. Tanpa menghiraukan bagaimana reaksi Siau-bun lagi, terus
saja Thian-leng menghampiri tempat orang itu.
“Apakah lo-cianpwe sakit? Perlukah kubantu?” tanyanya.
Orang tua itu terus merintih-rintih. Tubuhnya terhuyung-huyung seperti tak kuat lagi
menyandar pada pohon. Buru-buru Thian-leng memapahnya, “Lo-cianpwe,
maukah kuajak ke kota terdekat mencari tabib?”
Tiba-tiba orang tua itu meronta dari pegangan si anak muda, “Tak usah.,
penyakitku ini memang sering kumat, sebentar tentu sembuh!”
Thian-leng mengerutkan dahi. Ia merasa kasihan melihat seorang tua
berpenyakitan berjalan seorang diri di malam buta. Tetapi ia terpaksa tak dapat
memikirkan diri orang tua itu lebih lanjut, karena Siau-bun tak mengacuhkan sama
sekali dan tetap berjalan terus. Sebentar saja nona itu sudah belasan tombak
jauhnya.
“Terima kasih.... atas……perhatian ..tuan….. kepadaku… si orang tua ini!” kata si
orang tua dengan suara lemah.
Thian-leng hanya dapat menghela napas dan segera meninggalkan orang tua itu.
Ternyata Siau-bun lambat sekali jalannya, seperti sengaja hendak menunggunya.
Begitu si anak muda tiba, segera ia cebikan bibir dan menertawakannya, “Uh,
ternyata kau seorang manusia yang berhati mulia!”
Tak tahu Thian-leng bagaimana harus menanggapi ucapan si nona. Artinya
seperti orang memuji tetapi nadanya sinis sekali.
Saat itu hari sudah menjelang terang tanah. Angin terasa dingin. Sesaat kemudian
Thian-leng menanyakan apakah si nona tidak dingin.
“Badan memang dingin, tetapi hatiku terasa hangat,” Siau-bun memberi sebuah
lirikan kepada pemuda itu. Gelora darah muda telah mendorong si nona
menghampiri Thian-leng dan terus menjatuhkan diri di dada. Thian-leng terpaksa
menyanggapi. Mereka berjalan sambil berpelukan.
Fajar hampir tiba. Tiba-tiba Thian-leng menjerit kaget, “Celaka!”
“Mengapa?” Siau-bun tersentak kaget.
Wajah Thian-leng tampak pucat, suaranya terbata-bata, “Pe….ta…… i….itu...” ia
tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena sibuk menggerayangi seluruh
pakaiannya.
“Tenang,” Siau-bun kerutkan dahi,” katakanlah perlahan-lahan.”
Masih Thian-leng banting-banting kaki, “Peta Telaga zamrut....”
“Apa? bagaimana dengan peta itu? Bukankah telah kau simpan dalam bajumu?”
Siau-bun gugup.
Thian-leng menghela napas, “Benar, tetapi sekarang tak ada lagi!”
“Apa? Peta itu hilang?” Siau-bun melonjak kaget.
“Tentu jatuh, mari kita balik mencarinya,” seru Thian-leng. Demikianlah keduanya
segera balik menyusur sepanjang jalan yang dilaluinya tadi. Kalau thian-leng matimatian mengamat-amati setiap benda yang tampak menggeletak di jalan, tidak
demikian dengan Siau-bun. Nona itu diam-diam sudah membatin. Ia tahu bahwa
pencariannya itu tentu akan sia-sia. Tak mungkin sebuah peta pusaka yang sudah
disimpan sedemikian hati-hati, dapat jatuh di jalan. Dan andaikata benar-benar
jatuh, tentulah juga sudah ditiup angin.
Kurang lebih dua jam lamanya mereka mencari, tetapi tetap tidak berhasil
menemukan apa-apa. Saking jengkelnya Thian-leng hendak nekad mati. Siau-bun
juga tak kurang gelisahnya. Kalau peta pusaka itu sampai jatuh di tangan orang
Hek Gak atau Sin-bu Te-kun, hebatlah akibatnya.
Tiba-tiba Siau-bun mebanting-banting kaki, “Celaka, peta itu tidak jatuh tetapi
terang dicuri orang!”
“HA? Dicuri orang?” Thian-leng tercengang. “Sejak keluar dari istana Hek Gak, kita
toh belum berjumpa dengan siapa-siapa. Apalagi peta itu kusimpan hati-hati di
dalam bajuku, bagaimana bisa dicuri orang...” ia berhenti seketika, seolah-olah
seperti orang tersadar, “Adik Bun maksudkan si orang tua berpenyakitan itu tadi?”
“Siapa lagi kecuali dia!” kata Siau-bun dengan nada berat.
(bersambung ke jilid 15)
Jilid 15 .
Thian-leng pucat. Kalau benar dicuri orang tua itu tentulah sukar mencarinya. Ia
tak ingat lagi bagaimana potongan mukanya, kecuali hanya jenggot orang tua itu
sudah putih, umurnya sekitar tujuh puluhan tahun, berpakaian seperti orang
pertapaan. Tetapi siapa nama dan tempat tinggalnya, sama sekali tak
diketahuinya. Jaraknya sudah berselang tiga jam, kemanakah harus mencarinya?
Makin terang pikiran Thian-leng menyoroti diri orang tua itu lebih jauh. Jelas orang
itu seorang kaum persilatan yang sengaja berpura-pura sakit. Ia kena dipancing
mentah-mentah.
Celaka! Jika orang itu kaki tangan Sin-bu Te-kun atau golongan jahat, bukankah ia
berdosa terhadap It-bi siang-jin pencipta peta itu? Makin merenung makin
kalaplah Thian-leng...
Siau-bun menghela napas, “Sekarang bukan saatnya mengeluh. Yang penting kita
harus berdaya!”
“Bagaimana caranya?” Thian-leng menukas.
“Kalau begitu apakah kau hendak mati saja?” Siau-bun menyentil tajam, “putus
asa berarti membunuh semua daya upaya!”
Kata-kata itu membuat Thian-leng tergerak. Ia membenarkan si nona. Sekalipun
bunuh diri, urusan itu tetap tak tertolong. Akhirnya ia menanyakan pendapat si
nona.
Kata Siau-bun, “Bahwa It-bi siangjin telah meninggal di gunung Thay-heng-san
dengan menyembunyikan kitab pusakanya, telah diketahui lama oleh orang
persilatan!”
Thian-leng mengiyakan, “Benar, tetapi Thay-heng-san demikian luasnya, apakah
kita harus menggali tiap jengkal tanahnya! Kalau tidak sesukar itu, tentulah kitab
itu tak berharga!”
“Apakah tujuan orang yang mencuri peta itu?” tiba-tiba Siau-bun menyeletuk.
“Sudah tentu hendak meyakinkan isinya!”
“Kalau begitu, dia tentu akan menuju ke gunung Thay-heng-san…..”
“Oh…. “ Thian-leng mengerang.
“Masih ingatkah kau akan wajahnya?”
“Hanya samar-samar, tetapi kalau berjumpa muka tentu dapat mengenalnya!”
Siau-bun menghela napas, “Sekalipun tipis harapannya, tetapi tiada jalan lain!”
“Jadi adik Bun Juga.....”
“Sudah tentu aku pergi, ayo berangkat sekarang juga!”
oo000oo
Liu-ke-cip merupakan sebuah kota kecil di kaki gunung Thay-heng-san.
Perdagangan kota itu cukup ramai karena merupakan pusat lalu lintas keluar
masuk gunung Thay-heng-san.
Sepasang muda-mudi tampak berjalan perlahan-lahan memasuki Liu-ke-cip.
Kecakapan si pemuda dan kecantikan si pemudi memikat orang-orang yang
berada di jalan. Tetapi mereka tak menghiraukan perhatian orang-orang. Si
pemuda tampak murung wajahnya, si pemudi bersikap diam. Mata si pemuda tak
henti-hentinya berkeliaran memandang orang-orang yang ditemuinya. Tetapi
selalu kecewa.
Tiba-tiba seorang pengemis tua lewat di samping pemuda itu dan berhenti. Ketika
pengemis itu melihat thong-pay (lencana tembaga) yang terpampang pada dada si
pemuda, ia terbeliak kaget. Setelah memandang ke sekeliling, barulah pengemis
itu mendekati si pemuda, bisiknya, “Bolehkan aku bicara sebentar pada tuan?”
Gerak-gerik pengemis itu memang telah diperhatikan si pemuda. Si pemudipun
serentak gunakan ilmu menyusup sura bertanya kepada kawannya, “Apakah
orang ini?”
“Bukan,” pemuda itu gelengkan kepala. Kemudian ia minta si pengemis
menjelaskan semuanya.
Pengemis tua tampak gelisah, ujarnya, “Tetapi di sini kurang leluasa bicara,
sebaiknya......”
Sejenak pemuda itu melirik ke arah si pemudi, lalu anggukkan kepala, “Baiklah
silakan menunjukkan tempatnya.”
Pengemis itu bersikap menghormat sekali. Ia segera berjalan lebih dahulu. Tak
berapa lama kemudian mereka tiba di luar kota dan masuk ke dalam sebuah biara
tua. Karena terlantar, biara itu menjadi pusat tempat tinggal kaum pengemis.
Arca-arca dalam biara itu jungkir balik berserakan tak teratur. Sarang galagasi
tampak di mana-mana, tetapi pada meja sembahyang terdapat sebuah lampu
yang masih memancarkan cahaya redup.
“Katakanlah apa maksud bapak ini,” kata si pemuda.
“Terlebih dahulu hamba mohon tanya nama tuan?” jawab si pengemis dengan
nada menghormat.
“Aku Bu-beng-jin, “ sahut si pemuda yang bukan lain ialah Thian-leng.
Pengemis itu terbeliak, “Lencana Kiu-pang tong pay yang Bu-beng siauhiap bawa
itu, entah berasal dari mana?”
“Jadi bapak membawa kami kemari ini, untuk urusan itu?” tegur Thian-leng.
Lencana yang tergantung pada lehernya itu adalah pemberian Thiat-ik-sin-kay
( pengemis sakti berbulu besi ) Auyang Beng. dia tak menaruh perhatian kepada
benda itu, maka tanpa disadari digantungnya lencana itu pada lehernya. Sama
sekali tak disangkanya bahwa benda itu telah menimbulkan perhatian pengemis
tua itu.
Seketika wajah pengemis tua itu berobah gelap, serunya, “Ya, harap siauhiap....”
“Lencana ini pemberian seorang cianpwe. Jika bapak suka pada benda ini,
ambillah...”
“Tidak.. .tidak!” pengemis tua itu tersipu-sipu menolak. “ Hamba tak berani
mengambilnya….. tetapi sukalah siauhiap memberitahukan nama cianpwe itu?”
“Orang she Auyang bernama Beng, Orang persilatan memberi gelar nama Thiat-iksin-kay. Kenalkah bapak padanya?”
Tiba-tiba pengemis itu bercucuran air mata dan serentak jatuhkan diri berlutut
seraya berseru nyaring, “Murid Kay-bun yang menjabat ketua Letong, yakni Lau
Gik-siu menghaturkan hormat kepada ketua!”
“Apa?.... jangan berolok-olok!” Thian-leng berseru kaget.
Pengemis tua itu tak menghiraukan jeritan si anak muda dan berseru dengan nada
bengis, “Ketua telah datang, mengapa kalian tak lekas-lekas memberi hormat!”
Terdengarlah suara pekik bergemuruh dan berpuluh-puluh pengmis tampak
muncul dari balik ruang, mereka serempak berlutut di hadapan Thian-leng dan
berseru, “Kami sekalian menghaturkan hormat kepada ketua!”
Thian-leng bingung tak keruan. Tak tahu ia bagaimana harus menghadapi
puluhan pengemis itu. Ia banting-banting kaki.
“Ah, wajiblah kuberi selamat padamu, ih, ternyata kau juga seorang ketua!”Siaubun tertawa ringan.
“Hai, mengapa kau juga memperolok diriku………….” Thian-leng makin
kelabakan. Tiba-tiba ia ingat akan kecerdikan si nona. Ditatapnya nona itu dengan
pandangan minta bantuan, “Bagaimana nih, “ ia tertawa masam.
“Kan baik?” Siau-bun tertawa
Melihat si nona tetap berolok, segera Thian-leng menarik Lau Gik-siu bangun,
bentaknya, ”Apa-apaan ini? Lekas terangkan yang jelas, atau aku segera
tinggalkan tempat ini!”
Lau Gik-siu kembali menjura dengan hormat sekali, ujarnya.”Apakah ketua tahu di
mana berjumpa dengan Thiat-ik-sin-kay?”
“Tolol, aku bukan ketua kalian. Aku tak peduli siapa itu Thiat-ik sin-kay!”
“Tetapi sekarang kau adalah ketua kami!” Lau Gik-siu berkata dengan yakin.
“Mengapa?”
“Karena kau sudah menerima lencana Kiu-pang thong-pay dari kakek guru kami!”
“Kiu-pang-thong-pay Thiat-ik Sin-kay, aku tak peduli! Jika karena gara-gara
lencana ini, sekarang aku kembalikan saja kepadamu!” Thian-leng terus menarik
lencana dari lehernya, diberikan kepada Lau Gik-siu.
Tiba-tiba Siau-bun menepuk bahu Thian-leng,”Tak dapatkah kau menimbang
lagi?”
Thian-leng menarik pulang tangannya. Dilihatnya nona itu memberinya sebuah
lirikan yang memperbesar semangat. Rupanya nona itu tak menentang atas
dijadikannya Thian-leng sebagai ketua partai pengemis.
Akhirnya ia geleng-geleng kepala dan menghela napas. Gerutunya seorang diri,
“Mengapa nasibku penuh dnegan peristiwa-peristiwa aneh....”
“Eh, apa kau hendak membairkan mereka berlutut terus?” tegur Siau-bun.
Memang saat itu berpuluh-puluh pengemis masih berlutut di hadapannya.
Terpaksa ia menyuruh mereka bangkit. Merekapun menurut dan berdiri di
samping.
“Murid telah menerima berita rahasia yang dibawa burung. Kakek guru Thiat-iksin-kay menyuruh kami beramai-ramai menunggu di sini untuk menyambut
kedatangan ketua baru. Ternyata hal itu benar.” kata Lau Gik-siu.
“Apakah kedudukan Thiat-ik-sin-kay dalam partai kay-pang?” buru-buru Thianleng minta keterangan.
“Ahli waris dari angkatan yang dulu, tetapi kini menjadi kakek guru kaum kami!”
“Lalu kemana ketuamu itu?”
“Beberapa hari yang lalu telah menigngal dunia di bawah lambaian Panji
Tengkorak Darah!”
“Panji Tengkorak Darah?”
“Ya, atau berarti mati di tangan Hun-tiong Sin-mo!”
“Kaum jembel tersebar di seluruh negeri. Pengaruhnya tentu besar, masakah tak
dapat memeriksa berita yang palsu dan benar?”
Lau Gik-siu tertegun, ”Maksud nona...?”
“Panji Tengkorak darah itu palsu!” Siau-bun berseru pula dengan tegas.
“Palsu?”
“Ya. Hanya bikinan dari orang Sin-bu-kiong belaka. Untuk mengelabui mata dunia
persilatan. Dia memfitnah Hun-tiong Sin-mo agar dibenci oleh dunia. Kemudian
dapatlah ia mengeduk keuntungan dari kekeruhan itu. Memang dia telah mainkan
sebuah tipu muslihat yang luar biasa pintarnya!”
Seluruh mata pengemis ditumpahkan ke arah Thian-leng. Seolah-olah mereka
hendak meminta tanggapan Thian-leng.
“Ya, memang benar!” tanpa ragu-ragu Thian-leng serentak memberi pernyataan.
Terdengar gemuruh sorak para pengemis, “Mohon ketua suka memberi keputusan
untuk membalaskan sakit hati mendiang pangcu!”
“Tentu…. “ tiba-tiba ia tertegun sejenak, “atas kepercayaan Thiat-ik-sin-kay dan
dukungan saudara-saudara sekalian, aku akan mencurahkan segenap tenaga
untuk membalaskan sakit hati almarhum ketua kalian!”
Terdengar tempik sorak gegap gempita. Dari pernyataan itu jelaslah bahwa Thianleng sudah menerima pengangkatannya sebagai ketua Kaypang. Ternyata
pengemis-pengemis
yang berkumpul di situ adalah ketua-ketua daerah dari berbagai tempat. Atas
petunjuk Thiat-ik-sin-kay, mereka berbondong-bondong menuju ke gunung Thayheng-san menunggu kedatangan ketua baru.
Tetapi perhitungan Thiat-ik-sin-kay itu meleset sedikit. Dia memperhitungkan di
kala
Thian-leng tiba di gunung Thay-heng-san itu tentu sudah memperoleh kitab
pusaka dan harta karun. Siapa tahu ternyata peta itu telah hilang dan kedatangan
Thian-leng hanyalah hendak menyelidiki jejak si orang tua yang telah mencuri
peta.
Tiba-tiba Siau-bun gunakan ilmu menyusup suara membisiki Thian-leng, “Anggota
Kay-pang tersebar luas di seluruh negeri. Pengaruhnya tentu luas sekali. Oleh
karena kini kau telah menjadi ketua mereka, mengapa tak memberitahukan
kehilangan peta itu kepada mereka dan memerintahkan mereka mencarinya?”
Thian-leng anggap pernyataan nona itu tepat. Segera ia menarik Lau Gik-siu ke
samping dan membisikinya perlahan-lahan. Wajah Lau Gik-siu berobah membesi.
Pengemis tua itu mengangguk-angguk, “Murid segera akan menyebar
pengumuman ke seluruh daerah. Begitu ada berita tentu akan segera memberi
laporan pada pangcu.... Tetapi saat ini pangcu hendak pergi ke.....?”
“Aku hendak menjelajahi gunung ini. Urusan partai yang penting-penting untuk
sementara ini kaulah yang mengurusi.” sahut Thian-leng.
Serta-meta Lau Gik-siu mengiyakan. Ia berlutut di hadapan Thian-leng diikuti oleh
berpuluh-puluh pimpinan cabang kay-pang di daerah-daerah. “Memujikan pangcu
selalu diberkahi keselamatan dalam perjalanan!”
Thian-leng tak tahu harus bertindak bagaimana menyambut penghormatan itu.
Akhirnya ia mnyuruh mereka bangun, kemudian mengajak Siau-bun
meninggalkan biara itu. Mereka hendak buru-buru mencapai puncak gunung
untuk menikmati pemandangan matahari terbit.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat ke dalam hutan.
Gerakannya gesit sekali, pasti seorang tokoh persilatan.
“Adik Bun, tolong gunakan ilmu Melihat-langit-mendengar-bumi.”
“ Hanya karena seorang ya-heng-jin ( orang persilatan yang berjalan tengah
malam) lantas menggunakan ilmu tersebut, sungguh keterlaluan.”
Tetapi kata-katanya itu terputus oleh terdengarnya jeritan ngeri menyayat hati yang
berasal dari arah hutan. Itulah jerit pembunuhan!
Cepat sekali Thian-leng segera ajak Siau-bun. Bahkan ia sudah mendahului
loncat menuju ke dalam hutan. Begitu tiba, hidungnya mencium bau darah…..
“Jangan kesusu! Hati-hati terhadap perangkap orang!” Siau-bun memberi
peringatan dengan ilmu menyusup suara.
Thian-leng mencabut pedang dan berjalan dengan hati-hati. Apa yang dilihatnya
membuat bulu romanya berdiri….
Di tengah hutan situ tampak belasan mayat berserakan mengerikan. Hampir
Thian-leng muntah karena tak tahan baunya. Mayat-mayat itu tak utuh, tangan,
kaki, lengan, paha, badan dan kepala mereka hancur lebur, ada yang terpisah
badan. Usus dan otak berhamburan keluar. Ya, pendeknya mayat-mayat itu seperti
dicincang-cincang sehingga tak dapat dikenali lagi.
Tiba-tiba Thian-leng melihat ada seorang yang sekalipun tubuhnya sudah tak
keruan tapi dadanya masih berkembang kempis tanda masih bernapas. Buru-buru
dihampirinya orang itu. Seorang muda yang cakap. Keadaannya payah sekali,
tetapi ia masih dapat paksakan dirinya brseru, “Di muka puncak Co-gan-hong…..!”
Habis mengucapkan, orang itu pingsan tak ingat diri lagi.
Thian-leng menempelkan tangannya ke perut orang itu. Ia menyalurkan tenaga
dalamnya untuk menolong. Tak berapa lama orang itupun dapat menghela napas
lagi.
“Apa maksudmu tadi?” tegur Thian-leng.
Dengan susah payah, orang itu berkata, “Pertempuran besar segera terjadi. Ketua
kami di…… kurung oleh beberapa orang tak dikenal………lekas….lekas bantu!”
Thian-leng tercengang. Ia berpaling kepada Siau-bun. Nona itupun tampak
mengerutkan dahi. Thian-leng menyalurkan tenaga dalamnya lagi kepada orang
itu. Setelah orang itu sadar lagi, buru-buru ditanyanya, “Siapakah mayat-mayat ini.
Siapa yang membunuhnya?”
“Orang-orang partaiku....”
“Apa partai perguruanmu itu?” tanya Thian-leng.
Orang itu sudah tak kuat lagi, namun hatinya keras sekali. Dengan seluruh sisa
tenaganya, ia membuka mata dan memandang Thian-leng.
Thian-leng tak tahu apakah orang itu dapat melihatnya jelas, tetapi yang jelas ia
mendengar mulut orang itu mengucapkan beberapa patah kata lemah, “
Tiam...jong.....”
“Tiam-jong?” tiba-tiba Siau-bun melonjak kaget. Demikian pula Thian-lengpun tak
kurang kagetnya. Teringat ia akan si Jenggot Perak ketua Thiat-hiat-bun yang
mengundang sekalian orang gagah datang ke gunung Tiam-jong-san. Teringat
juga betapa ketua Sin-bu-kiong telah menyatakan bahwa dalam tiga hari nanti ia
akan ngeluruk ke Tiam-jong-san.
Dan saat ini anak buah Tiam-jong-pay telah dibunuh musuh yang tak dikenal dan
ketua merekapun telah dikurung oleh orang! Thian-leng meminta penjelasan lagi,
tapi ternyata orang itu sudah putus nyawanya......
Wajah Siau-bun berobah pucat sekali. Jelas bahwa ia sangat dipengaruhi oleh
kejadian saat itu. Buru-buru ia mengajak Thian-leng, “Ayo, cepat ke Co-gan-hong!”
“Di manakah letak puncak itu?” tanya Thian-leng.
“Masakah kau lupa akan ilmuku Melihat-langit-mendengar-bumi…..” dan tanpa
menunggu jawaban si anak muda lagi, Siau-bun terus lari mendahului.
Tampaknya Siau-bun paham sekali akan jalan di gunung itu. Kira-kira berlari satu
li, tampak sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit.
“Tentu puncak Co-gan-hong, “ kata Siau-bun.
Thian-leng melihat puncak itu penuh dengan lereng dan tebing yang curam, tetapi
tak tampak barang seorangpun di sana. Siau-bun membaringkan diri memasang
telinga.
“Bagaimana?” tanya Thian-leng.
Siau-bun mengerutkan dahi, “Aneh, seluas limapuluhan tombak tak terdengar
suara orang!”
Tetapi ucapannya itu terputus oleh suara tertawa nyaring bernada sinis. Siau-bun
dan Thian-leng tersentak kaget. Orang itu muncul tanpa suara sama sekali. Dan
serentak dengan tertawa itu, orangnya pun terdengar berseru mengejek, “Oho,
jangan-jangan ilmumu Melihat langit mendengar bumi tak mempan lagi!”
Kedua muda mudi itu cepat memutar ke arah datangnya suara. Ah, seorang lelaki
bertubuh kurus pendek dalam pakaian merah yang berlapis mantel biru. Dia
memelihara jenggot kambing.
Sin-bu Te-kun!
Thian-leng segera meraba pedangnya. Ia siap sedia menghadapi momok itu.
Namun Sin-bu Te-kun hanya ganda tertawa, “Buyung, apakah hal yang paling
dihormati kaum persilatan?”
Thian-leng malu dan marah sekali. Tahulah ia di mana jatuhnya perkataan orang.
Seketika merah padamlah air mukanya.....
oooo00000oooo
Empat Serangkai
Siau-bun tertawa hina, “Baiklah aku mewakilinya berbicara. Yang paling dihormati
kaum persilatan ialah kepercayaan dan kebajikan. Benar tidak?”
Sin-bu Te-kun tertegun. Matanya berkilat-kilat menyapu si nona. Pada lain kilas ia
tertawa membatu, “Nona seorang yang tangkas bicara, tak kecewa menjadi ratu
kembang, pendekar wanita.”
“Ah, jangan kelewat memuji… ”
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun alihkan pandangan ke arah Thian-leng, “Buyung, eh, Bubeng-tay-hiap, setujukah kau dengan kata-kata nona tadi?”
Wajah Thian-leng membesi. Rasa malu bercampur marah membuatnya tak dapat
bicara.
“Bu-beng-tay-hiap tak suka menerima budi orang, anggaplah aku yang
mewakilinya bicara!” Siau-bun tertawa tawar.
“Akan kudengarkan dengan khidmat!” ejek Sin-bu Te-kun.
Sejenak Siau-bun melirik Thian-leng lalu berkata dengan tenang, “Bukan saja
menjunjung kepercayaan dan kebajikan, Bu-beng-tay-hiap pun paling konsekwen
melaksanakan kedua hal itu!”
Sin-bu Te-kun mendelikkan mata kepada Thian-leng. Tiba-tiba ia tertawa nyaring.
Seketika berhamburan dering ringkik bagai petir menyambar anak telinga.
Kumandangnya menggelegar ke seluruh lembah…..
“Setan tua, pertandingan seratus jurus itu hanya tipu muslihatmu belaka….!” tibatiba Thian-leng membentaknya.
“Taruh kata benar suatu tipu muslihat, mengapa kau sampai kena tertipu? Apakah
kau seorang anak kecil atau kau menyesal sekarang?” Sin-bu Te-kun tertawa hina.
“Apakah aku menyatakan menyesal? Seorang lelaki sekali berkata tentu tak mau
menjilatnya lagi. Apalagi aku sudah bersumpah kepada langit….”
“Kalau begitu, sepuluh jurus yang terakhir…….?”
“Kau sudah sedia melanjutkan ?” Thian-leng menjamah pedangnya.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis. Ia lingkarkan jari telunjuknya ke arah tanah dan
terbentuklah sebuah lingkaran di tanah. Tubuhnya yang kecil kurus berada di
tengah lingkaran.
“Aku sudah siap!”
Diam-diam Thian-leng telah mengambil keputusan. Jika dalam sembilan jurus ia
tak berhasil merebut kemenangan, maka satu jurus terakhir akan digunakan untuk
membunuh diri. Betapapun halnya, ia tak sudi jatuh ke tangan Sin-bu Te-kun.
Tiba-tiba terdengar suara Sin-bu Te-kun dalam ilmu menyusup suara, melengking
di telinga Thian-leng, “Buyung, hendak kugunakan sepuluh jurus ilmu silat yang
paling sakti untuk menghindari seranganmu. Harap kau perhatikan dengan
seksama. Mungkin di kemudian hari akan banyak berguna padamu!”
Thian-leng tergerak hatinya. Teringat ia ketika melakukan pertempuran sembilan
puluh jurus dengan Sin-bu Te-kun tempo hari. Banyak sekali ilmu pelajaran silat
yang aneh dan sakti telah didapatnya dari raja Sin-bu-kiong itu. Dan ketika berada
dalam penjara Cui-lo, Nyo Sam-kui berpesan dengan wanti-wanti agar ia suka
melatih ilmu pelajaran dari Sin-bu Te-kun itu.
Dan kini kembali Sin-bu Te-kun menyuruh ia memperhatikan jurus-jurusnya. Jelas
bahwa momok itu sengaja hendak menurunkan pelajaran padanya. Ah, sungguh
aneh!
Tiba-tiba ia teringat bagaimana Lu Bu-song memutuskan perundingannya dengan
Sin-bu Te-kun untuk menetapkan perjanjian seratus jurus pertempuran itu. Apakah
Sin-bu Te-kun benar-benar bermaksud hendak mengambilnya sebagai ahli waris?
Ah, tidak, tidak……
“Ayo, mulailah buyung!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun membentaknya.
Thian-leng tersentak kaget dari lamunan. Ternyata walapun tangan sudah
menjamah pedang, tetapi tak segera dicabut. Cepat ia mencabut pedang dan
segera hendak menyerang. Tetapi secepat itu juga Siau-bun membentaknya
perlahan.
“Hai, perlu apa kau turut campur?” bentak Sin-bu Te-kun dengan murka.
Siau-bun tersenyum, “ Memang tak ada hubungan apa-apa. Aku tak mau
merintangi kalian melanjutkan pertempuran, tetapi aku perlu memperingatkan dulu
pada Bu-beng-tay-hiap!”
Thian-leng tertegun, serunya kemudian, “Seorang lelaki tak serakah hidup, tak
gentar mati. Karena aku sudah terlanjur berjanji, maka tak ada jalan lain kecuali
harus menempurnya. Jika gagal kematianlah yang menjadi bagianku. Tak nanti
aku sudi jatuh ke tangan setan tua itu!”
Siau-bun gelengkan kepala, “Justru hal itu yang hendak kuingatkan kepadamu.
Sekalipun kau sudah bertekad begitu, tetap kau tak kenal siapa lawanmu itu.
Sekali sudah menghendaki mengambil kau sebagai murid, maukah ia
membiarkan kau bunuh diri?”
Nona itu berpaling kepada Sin-bu Te-kun, “Maaf karena menelanjangi rencanamu.
Kau tentu tahu ia tak sudi menjadi muridmu dan akan bunuh diri. Tetapi dengan
kepandaianmu kau pasti dapat mencegahnya. Dengan selesainya pertandingan
seratus jurus itu, tentu kau yakin dia akan menurut perintahmu.”
Thian-leng tersentuh hatinya. Diam-diam ia mengakui ucapan si nona itu memang
benar. Memang mudah sekali bagi Sin-bu te-kun hendak mencegah ia bunuh diri.
Dalam pada itu tampak Sin-bu Te-kun marah sekali, serunya mengekeh,
“Anggaplah ucapanmu itu benar, lalu bagaimana……” ia melirik tajam kepada
Thian-leng, serunya, “Apakah kau hendak membatalkan pertandinagn ini?”
Thian-leng terpaku tak dapat bicara.
Siau-bun tertawa mengejek, “Kau mau menghabiskan urusan ini atau tidak, Bubeng-tay-hiap kelak tetap akan mencarimu untuk membikin perhitungan ….”
Tergerak sekali semangat Thian-leng mendengar ucapan itu. Dia telah
menyanggupi Oh-se Gong-mo untuk menuntut balas pada Song-bun-kui-mo atau
Sin-bu Te-kun sekarang…. Tetapi ia kalah sakti dengan musuh itu dan kini masuk
ke dalam perangkapnya. Tidak hidup juga tidak mati….
“He, he…” Sin-bu te-kun mengekeh tertawa, “Ucapan nona memang tepat sekali,
lalu….”
“Sisa pertandingan ini diundur lagi sampai lain waktu!” Siau-bun cepat
menanggapi.
Thian-leng terkesiap. Tempo hari Lu Bu-song pun mencegah diteruskannya sisa
sepuluh jurus itu. Sekarang Siau-bun pun demikian.
Sin-bu te-kun marah sekali, “Seharusnya pertandingan seratus jurus itu
diselesaikan pada saat itu juga. Toh sudah diundur sekali, rasanya sukar untuk
menundanya lagi.....” cepat ia berpaling kepada Thian-leng dan berseru
menantang, “Hai, Bu-beng-tay-hiap, mengapa tak segera menyerang?”
Merah padam muka Thian-leng tetapi segera ia menyahut lantang, “Saat ini aku
tak mempunyai selera bertempur, maka harus....”
“Toh baru diundur satu kali masakah tak boleh sekali lagi....” Siau-bun tertawa.
“Salahmu mengapa kau lalai pada waktu permulaannnya!” kata Sin-bu Te-kun
kepada
Siau-bun.
“Dalam sumpah, tak diterangkan bahwa pertandingan harus diselesaikan dalam
satu saat. Tak disebutkan pula kalau hanya boleh diundur satu kali!” sahut Siaubun.
Marah Sin-bu Te-kun bukan kepalang. Ia tertawa meringkik, “Kalau begitu, jangan
salahkan aku seorang yang ganas…”
“Mau apa kau?” tegur Siau-bun.
Sin-bu Te-kun mendesah. “Akan kucincang tubuhmu lebih dahulu, baru nanti
kulanjutkan pertempuran dengan budak itu!”
Siau-bun tertawa nyaring. “Oh, jadi kau hendak bertempur melawan aku!”
“Terhadap seorang budak perempuan seperti kau, tak perlu menggunakan katakata bertempur. Jika mau membunuhmu adalah semudah membalikkan telapak
tanganku ini!” seru Sin-bu Te-kun dan tanpa tampak bergerak, tiba-tiba ia sudah
melesat ke hadapan Siau-bun. Kelima jari tangannya segera dicakarkan….
Bukan main terkejutnya Thian-leng. Sekalipun ia tahu kepandaiannya kalah jauh
dengan Sin-bu Te-kun, namun untuk menolong Siau-bun ia tak segan mengadu
jiwa. Dengan sepenuh tenaga ia siapkan Lui-hwe-sin-ciang dengan tangan kiri,
sedang tangan kanan siap mencabut pedang.
Tetapi anehnya Siau-bun tampak tenang-tenang saja. Bahkan sama sekali tak
mengacuhkan Sin-bu Te-kun.
Nona itu tertawa hambar, “Sayang saat ini aku tak gembira bertempur dengan
engkau. Apalagi kuperhitungkan kau tentu tak berani membunuhku!”
Kata-kata gagah itu membuat Sin-bu Te-kun tertegun, serunya geram,”Kau sudah
yakin? Bagaimana kau tahu aku akan memberi ampun kepadamu?”
“Siapa sudi menerima pengampunanmu?” Aku hanya mengatakan bahwa pada
saat ini kau tentu tak berani membunuhku!” kata Siau-bun.
Ucapan nona itu ditutup dengan menaburkan tangannya ke udara. Seutas sinar
merah segera menghambur. Cepat sekali Sin-bu Te-kun sudah menyambut benda
yang dilontarkan si nona itu. Hanya yang jelas benda itu bukanlah sejenis senjata
rahasia. Tetapi untuk keheranannya begitu memeriksa benda itu terbeliak mata
Sin-bu Te-kun..
“Kau ternyata......” mulutnya terbuka.
Thian-leng tak dapat mendengar apa yang dikatakan Sin-bu Te-kun lebih jauh,
karena pada saat itu juga Siau-bun segera mengajaknya pergi,” Jangan lupa
tujuan kita, ayo kita berangkat!”
Sekalipun menurut ajakan si nona, namun Thian-leng tak mau tinggalkan
kewaspadaan. Ia terus memandang lekat-lekat kepada Sin-bu Te-kun sembari
melangkah mundur. Aneh sekali Sin-bu Te-kun sama sekali tak merintanginya.
Tiba-tiba raja Sin-bu-kiong itu berseru sinis, “Kasih tahu pada ibumu, keputusanku
untuk menguasai dunia persilatan sudah lenyap! Jika dia mau bekerja sama, tentu
kubagi rata kedudukan itu, tetapi kalau tidak.....”
Thian-leng hanya samar-samar menangkap arti kata-kata itu, tapi ia tak sempat
merenungkan lebih jauh karena ia sudah diseret sampai tujuh delapan tombak
jauhnya oleh Siau-bun.
“Apakah yang kau lemparkan tadi sehingga membuat ia......” ia hendak minta
keterangan.
“Saat ini kita berada dalam kepungan orang Sin-bu-kiong,” Siau-bun memutus,
“iblis tua itu setiap saat dapat berobah haluan. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!”
Thian-leng terpaksa menurut. Dalam beberapa kejap saja, mereka sudah tiba di
dalam sebuah hutan di kaki gunung. Suasana malam sunyi sekali.
Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara,”Tempat ini tampaknya sunyi
senyap, tetapi sebenarnya penuh dengan naga dan harimau!”
Diajaknya Thian-leng bersembunyi di sebuah gerumbulan pohon. Diam-diam
Thian-leng heran mengapa ia tak melihat barang seorangpun manusia. “Apakah
tempat ini benar Co-gan-hong?” tanyanya.
Siau-bun mengiyakan.
“Katanya ketua Tiam-jong-pay dikepung di sini, tetapi mengapa sepi-sepi saja,
apakah….”
“Memang seperti orang Sin-bu-kiong yang mengepung, tetapi kurasa pertempuran
ini tidak terbatas hanya antara Tiam-jong-pay dengan Sin-bu-kiong saja…..”
“Oo, masih ada lain partay…”
“Tunggu saja sebentar lagi…!”
Thian-leng tak habis herannya. Banyak nian keanehan yang dijumpainya. Tibatiba dari dalam hutan muncul lima sosok bayangan hitam. Gerakan mereka gesit
sekali, tentulah jago-jago silat yang sakti.
Karena mencurahkan pandangannya kepada Sin-bu Te-kun, maka Thian-leng tak
dapat melihat jelas kelima bayangan itu. Ia menanyakannya kepada Siau-bun.
“Akupun tak tahu golongan mana mereka itu,” jawab Siau-bun, “tetapi yang jelas di
hutan ini penuh tokoh-tokoh persilatan dari segala penjuru dunia....”
“Mengapa aku tak dengar apa-apa? Apakah karena kau menggunakan ilmu
Melihat-langit-mendengar bumi….. ”
“Tetapi sampai saat inipun aku tak mendengar apa-apa,” sahut Siau-bun, “ini
membuktikan mereka itu memiliki kepandaian sakti. Dan lagi karena terhalang
lamping gunung, sehingga tak mudah tertangkap suaranya…. ”
“Bagaimana, apa sudah kedengaran apa-apa?” tanya Thian-leng sesaat
kemudian.
“Sekeliling penjuru ini penuh dengan orang. Entah apakah yang mereka tunggu,”
kata Siau-bun, “Celaka, kedatangan kita mungkin sudah diketahui, lebih baik…..”
(bersambung jilid 16 )
Jilid 16 .
Belum selesai ucapannya, tiba-tiba kelima sosok bayangan tadi melesat keluar
dari hutan. rupanya mereka bertemu rintangan.
“Sahabat manakah yang di depan itu?” salah seorang berseru dengan nada berat.
Terdengar suara sahutan disertai tawa dingin, “Mengapa bukan kau yang melapor
dirimu terlebih dahulu?”
Kelima orang itu terbeliak. Orang yang berseru tadi kembali berseru pula, “Kami
adalah orang Sin-bu-kiong, mohon tanya siapa saudara?”
“Thiat-hiat-bun!” sahut suara itu.
Kelima orang itu mengeluh kaget dan menyurut langkah, “Thiat-hiat-bun sudah
datang?”
Sebagai jawaban, sebuah pukulan dilayangkan. Kelima orang itu sama sekali tak
menyangka. Mereka menangkis kalang kabut, namun tetap harus terhuyunghuyung beberapa langkah. Pukulan orang Thiat-hiat-bun itu keras sekali.
“Ha,ha, ha,, murid-murid Sin-bu-kiong hanya gentong kosong semua. Masakah
dengan kepandaian begitu berani unjuk muka di sini?” orang Thiat-hiat-bun itu
tertawa mengejek.
Thian-leng dan Siau-bun terkejut girang. Buru-buru mereka mencuri lihat. Di
sebelah sana tampak kelima orang Sin-bu-kiong itu tengah berhadapan dengan
seorang lawan yang menyebut dirinya Thiat-hiat-bun. Dia seorang tua dalam
jubah pertapaan. Sikapnya berwibawa.
Tiba-tiba dari dalam hutan melesat keluar lagi tiga orang yang menggabung di
sebelah orang tua itu. Salah seorang segera menegur rombongan orang Sin-bukiong.” Di mana Poh-ih-siu Li ciangbun sekarang?”
Setelah menenangkan diri, kelima orang Sin-bu-kiong itu segera menyahut.
“Sayang kalian datang terlambat. Dia sudah menyerah!”
Marah sekali keempat orang Thiat-hiat-bun itu. Serempak mereka membentak
seraya menghantam, “Kalau begitu kamu harus mengganti jiwa!”
Seorang Thiat-hiat-bun saja sudah cukup ngeri, apalagi empat orang. Kelima
orang Sin-bu-kiong mundur seraya memberi isyarat tangan, “Tahan dulu!”
Keempat orang Thiat-hiat-bun itu hentikan pukulannya, “Lekas bilang!”
“Mohon tanya nama saudara-saudara?”
Orang Thiat-hiat-bun tertawa, “Pernahkah kamu dengar tentang Thiat-hiat Sukiat?”
“Thiat-hiat Su-kiat?” kelima orang Sin-bu-kiong menjerit kaget dan buru-buru
hendak melarikan diri. Thiat-hiat Su-kiat artinya Empat pahlawan partai Thiat-hiatbun.
Tetapi Thiat-hiat Su-kiat bergerak secepat kilat. Terdengar deru angin bagai
gunung roboh menyambar kelima orang itu. Orang Sin-bu-kiong pun terpaksa
mengadakan perlawan. Mereka sebenarnya juga jago kelas satu dalam istana
Sin-bu-kiong. Tetapi terhadap keempat Su-kiat, jauhlah kepandaiannya. Dalam
waktu singkat, kelima orang Sin-bu-kiong itupun tercancam maut.
Tiba-tiba sesosok bayangan merah melesat. Seorang tua bertubuh kecil kurus
melayang dari udara dan menangkis serangan keempat Su-kiat.
Bum….terdengarlah letusan dahsyat dan debu berhamburan….
Keempat Su-kiat itu tersentak kaget. Mereka dapatkan selain luar biasa kuatnya,
tenaga pukulan orang tua pendek itupun mengandung tenaga Imhan ( dingin ),
yang menusuk sampai ke tulang, sehingga menyurutkan tenaga keempat Su-kiat
sampai beberapa bagian. Penyurutan tenaga itu membuat kuda-kuda kaki mereka
tergempur mundur beberapa langkah.
Pendatang baru itu bukan lain Sin-bu Te-kun sendiri. Tetapi dia juga tak terlepas
dari rasa kaget. Sejak mempelajari ilmu kesaktian dari kitab Im-hu-po-tian, ia
anggap dirinya tiada yang menandingi lagi. Tetapi diam-diam ia masih kuatir
terhadap partai Thiat-hiat-bun.
Peristiwa si jenggot Perak Lu Liang-ong mengacau istana Sin-bu-kiong belum
cukup meyakinkan Sin-bu Te-kun tentang kepandaian orang Thiat-hiat-bun. Dia
belum bertempur resmi dengan ketua Thiat-hiat-bun. Bahwa ternyata keempat
Thiat-hiat Su-kiat yang tentunya lebih rendah kepandaiannya dari ketua Thiat-hiatbun, mampu menahan pukulannya dan bahkan adu pukulan itu membuat
darahnya bergolak-golak, benar-benar membuat Sin-bu Te-kun terkejut bukan
kepalang.
Seketika berkobarlah nafsu membunuh dalam hatinya. Diam-diam ia
mengerahkan tenaga dalam dan berdiri tegak. Begitu keempat Su-kiat maju
menyerang, hendak ia sambut dengan pukulan Hiam-im-ciang yang ganas sekali.
Thiat-hiat Su-kiat pun termangu heran. Mereka diperintahkan oleh ketua Thiat-hiatbun untuk menolong Lu Bu-song yang ditawan dalam penjara istana Sin-bu-kiong.
Memang telah diketahui bahwa istana Sin-bu-kiong itu penuh dengan naga dan
harimau, juga ketua Sin-bu-kiong itu memiliki kepandaian yang tiada taranya.
Tetapi mereka tak sampai membayangkan kalau raja Sin-bu-kiong itu ternyata
sedemikian saktinya. Tenaga pukulan mereka berempat dapat ditolak mundur
olehnya.
Namun keempat Su-kiat itu juga tokoh-tokoh kenamaan. Setelah saling memberi
isyarat, mereka serempak maju memukul.
“Tahan!” sekonyong-konyong terdengar suara bentakan dari udara.
oo000oo
Bahasa Singa dan Naga
Bentakan itu bagaikan petir menyambar pecah anak telinga. Sin-bu Te-kun terkejut
juga. Sedang keempat Su-kiat mundur beberapa langkah.
Seorang tua bertubuh kokoh kekar dengan jenggot berkelap-kelip seperti perak
melayang turun dari udara. Dia tegak di tengah-tengah kedua pihak yang hendak
bertempur.
Girang Thian-leng bukan kepalang. Itulah si Jenggot Perak Lu Liang-ong , ketua
Thiat-hiat-bun.
“Adu tenaga yang tadi sudah cukup!” jago Thiat-hiat-bun itu tertawa meloroh. Ia
mengurut-urut jenggot dan menatap Sin-bu Te-kun. “Cukuplah kiranya kau
menikmati rasanya orang Thiat-hiat-bun!”
Wajah Sin-bu Te-kun berobah gelap, serunya dengan geram. “Lu tua, jangan
terlalu menghina orang!”
Ia menengadah sambil bersuit panjang. Nadanya aneh dan seram. Begitu berhenti
bersuit, tiba-tiba muncullah serombongan orang Sin-bu-kiong, antara lain Co sucia
dan Yu sucia. Kepala Cong houhwat yang baru dan berpuluh-puluh pengawal
baju ungu. Mereka berdiri di belakang Sin-bu Te-kun.
“Aha, apakah semua kochiu Sin-bu-kiong sudah lengkap?” Jenggot perak tertawa.
Sahut Sin-bu Te-kun sinis, “Lengkap atau tidak, tetapi rasanya cukup sudah untuk
menghadapi Thiat-hiat-bun!”
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa meloroh, “Kukuatir kau salah hitung……” tibatiba ia bertepuk tangan.
Seketika dari dalam hutan samping berbondong-bondong muncul puluhan orang
Thiat-hiat-bun. Di antaranya terdapat juga ke tiga puluh enam Thian-kong dan ke
tujuh puluh dua Te-sat dari Thiat-hiat-bun.
Thian-kong dan Te-sat merupakan kedudukan yang tinggi dalam partai Thiat-hiatbun. Ke tiga puluh enam Thian-kong itu mengenakan pakaian ringkas warna biru
dan ke tujuh puluh dua tokoh Te-sat berpakaian kuning. Masing-masing bersabuk
kong-pian atau ruyung emas seperti cemeti.
Sin-bu Te-kun terbelalak, serunya, ”Lu tua, kiranya kau merencanakan hendak
menancapkan kaki di Tiong-goan !”
Jenggot perak tertawa datar. “Daerah di Lam-hong sudah cukup luas, perlu apa
aku menginginkan daerah Tiong-goan lagi…”
“Kalau tidak bermaksud begitu, mengapa jauh-jauh datang kemari dengan
membawa seluruh anak buahmu? Bukankah hendak memusuhi pihak Sin-bukiong?” tukas Sin-bu Te-kun.
Jenggot perak tertawa nyaring, ”Telah kukatakan bahwa aku ingin pesiar
menikmati pemandangan alam di sini. Kalau kau katakan memusuhi pihak Sin-bukiong, mungkin itu hanya kebetulan saja….”
“Bagaimana kau katakan kebetulan saja?”
“Kebetulan karena mengetahui perbuatan-perbuatan Sin-bu-kiong yang
melampaui batas hendak menguasai dunia persilatan. Aku si orang tua merasa
gatal. Inilah yang kumaksud dengan secara kebetulan itu!”
Rambut Sin-bu Te-kun menjinggrak. Mulutnya memekik makian, “Lu tua yang licik!
Terang kau hendak menancapkan kaki di Tiong-goan, sebaliknya malah menuduh
pihakku yang salah!” Ia berhenti sejenak, serunya pula, “Bukankah kau hendak ke
Tiam-jong-san? Mengapa datang ke Thay-heng-san sini?”
Jenggot perak tertawa keras, “Pertanyaan itu seharusnya kuajukan kepadamu.
Bukankah kau hendak membalas sakit hati ke Tiam-jong-san? Mengapa kau
datang kemari?”
“Aku mengejar jejak ketua Tiam-jong-pay Li Cu-liong. Kini dia sudah kutawan dan
hendak kutuntut dosanya mengapa berani membunuh orang Sin-bu-kiong!”
Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa tenang. “Akupun kemari karena hendak
membebaskan ketua Tiam-jong-pay itu. Jika tak kau bebaskan, jangan harap ada
seorangpun Sin-bu-kiong yang dapat meninggalkan tempat ini!”
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa sekeras-kerasnya. “Lu tua, terlebih dahulu aku
hendak minta penjelasan padamu!”
“Silakan!”
“Ketua Tiam-jong-pay Li Cu-liong itu pernah apa dengan engkau? Mengapa kau
begitu ngotot hendak melindunginya?”
Jenggot perak tertegun. Sampai beberapa saat barulah ia menjawab. “Telah
kukatakan tadi bahwa aku bertindak semata-mata demi keadilan. Apalagi aku
hendak meminjam markas Tiam-jong-san untuk menjamu sekalian orang gagah di
Tiong-goan. Sudah tentu tak dapat kubiarkan tuan rumah dicelakai orang lain!”
“Huh, belangmu telah kuketahui sejak semula. Perlukah kukatakan sejelasjelasnya?” ejek Sin-bu Te-kun tajam.
Lu Liang-ong tertegun. Ditatapnya Sin-bu Te-kun tajam-tajam.
Sin-bu Te-kun melanjutkan ucapannya dengan riang, “Siapakah ketua Tiam-jongpay itu? Oh, tak lain tak bukan anak asuh Thiat-hiat-bun, putera angkat Lu Liangong ketua Thiat-hiat-bun! Tiga tahun yang lalu ia diselundupkan ke Tiong-goan,
masuk ke dalam partai Tiam-jong-pay. Setahun lalu berhasillah dia diangkat
sebagai ketua Tiam-jong-pay. Benar tidak?”
Jenggot perak mengangguk, “Apa yang benar takkan kusangkal. Kau memiliki
sumber berita yang hebat!”
Sin-bu Te-kun tertawa gembira,”Pengakuanmu merupakan bukti yang tak dapat
dibantah lagi. Lebih dahulu kau suruh muridmu merebut kedudukan salah sebuah
partai besar Tiong-goan, kemudian menjadikan Tiam-jong-san sebagai markas
untuk menguasai dunia persilatan Tiong-goan. Jelas bukan?”
Di luar dugaan Jenggot Perak tertawa dan menghela napas longgar. Diam-diam ia
girang karena yang diketahui Sin-bu Te-kun hanyalah sampai di situ saja.
“Apakah tuduhanmu itu benar atau tidak, aku takkan mewajibkan diriku untuk
membantahnya….” ia berhenti sejenak lalu berkata pula. “Sekarang kita
selesaikan dulu persoalan ini. Jika kau mau percaya padaku, hapuslah
permusuhan dengan persahabatan. Kelak dalam perjamuan para orang gagah di
Tiam-jong-pay, akan kubantu engkau untuk mencapai kedudukan ketua dunia
persilatan Tionggoan!”
“Ooo, Lu tua, betapapun lincah lidahmu, tak nanti aku jatuh ke dalam
perrangkapmu lagi!” dengus Sin-bu Te-kun.
“Jadi kau menghendaki kekerasan?”
“Sebenarnya tidak!” sahut Sin-bu Te-kun, “asal kau segera ajak anak buahmu
pulang ke Lam-hong, akupun takkan memusuhi Thiat-hiat-bun lagi!”
“Jika aku keberatan?”
“Terpaksa kita selesaikan dengan pedang!”
Jenggot perak tertegun. Tiba-tiba ia tertawa, “Oho, makanya kau begitu bernyali
besar. Kiranya sahabatmu datang juga!”
Berbareng dengan ucapan itu muncullah serombongan orang. Pemimpinnya
seorang bungkuk, kakinya pincang dan lengan buntung, tetapi gerakannya lincah
sekali. Ia tertawa mengekeh tak jauh dari tempat Sin-bu Te-kun.
Pemilik Hek Gak, Kongsun Bu-wi! Dia datang bersama puluhan su-cia Hek Gak.
tetapi yang paling mengejutkan orang ialah ikut sertanya Ang-tim-gong-khek Bok
Sam-pi!
Di tempat persembunyiannya, Thian-leng tegang sekali. Ia tahu sampai di mana
kesaktian Bok Sam-pi. Ngeri ia membayangkan bagaimana akibatnya kalau
Jenggot Perak Lu Liang-ong sampai kena diadu dengan Bok Sam-pi…
Ketua Hek Gak tertawa tajam, “Maaf, maaf, aku datang terlambat!”
“Kalau mataku si orang tua ini tak salah lihat, kaulah yang datang paling pagi di
sini. Hanya saja kau tak mau unjuk diri, melainkan bersembunyi dulu.” Jenggot
perak tertawa.
Merah padam wajah ketua Hek Gak, serunya, ”Jangan jual ketuaanmu di sini!
Setiap berkata tentu tak lupa menyebut ‘aku si orang tua’! Kau hendak menakutnakuti atau menjual lagak?”
Jenggot perak tetap tertawa, ”Dalam hal umur sebenarnya kau lebih tua dari aku.
Tetapi dalam sejarah hidupku, aku tak pernah jatuh di tangan orang. Tak seperti
kau seorang tua yang sudah hidup tujuh puluhan tahun masih tak berani unjuk
muka!”
Marah ketua Hek Gak bukan kepalang. Sampai rambutnya jigrak, mata mendelik.
“Seoarng lelaki tak mau bergerak sembarangan. Akan menunggu sampai saatnya
baru bertindak. Asal dapat mencuci bersih hinaan yang lampau, tetap berharga
sebagai insan persilatan sejati….!”
“Sayang dalam kehidupanmu sekarang kau tak sempat mencuci hinaan itu!”
dengus jenggot Perak.
“Cong houhwat!” teriak ketua Hek Gak serentak.
“Ya, aku di sini!” Bok Sam-pi tampil menyahut.
Jenggot perak terkejut melihat perawakan orang yang gendut perutnya tapi
tangkas sekali.
“Hajar orang tua yang tak tahu adat itu!” teriak ketua Hek Gak.
“Hamba menuruuut…….,” Bok Sam-pi mengucapkan kata’menurut’ itu dengan
panjang karena matanya memandang wajah Jenggot Perak tajam-tajam. Sebelum
ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba sudah berganti nada.
“Murid!” serunya.
Ketua Hek Gak tercengang, tegurnya, “Hai, mengapa kau memanggilku begitu?”
Bok Sam-pi mendengus, “Mengapa tak boleh?”
“Panggilan murid dan guru hanya apabila kita berdua saja. Atau di kala sedang
mengajar kepandaian. Saat ini aku sebagai ketua hek Gak yang sedang ngeluruk
keluar. Yang ada hanyalah antara pemimpin dan anak buah. Kaupun harus
berbahasa begitu!” sahut ketua Hek Gak.
Bok Sam-pi kurang senang, “Persetan, di dalam dan di luar Hek Gak apa
bedanya?”
Ketua Hek Gak Kongsun Bu-wi menghela napas. “Kejayaan Hek Gak memang
tergantung tenaga suhu, tetapi…..”
“Murid!” Bok Sam-pi berteriak menukas.
“Eh, suhu hendak memberi pesan apa?” terpaksa ketua Hek Gak mengalah.
Bok Sam-pi menuding pada Jenggot Perak, serunya, “Orang tua itu berwajah
terang. Kita harus bersahabat dengannya, mengapa kau hendak memusuhi?”
Kongsun Bu-wi mengerutkan dahi, “Tetapi hati orang siapa tahu, suhu....”
“Masakah suhu bisa salah lihat? Kau berani membantah perintahku?” Bok Sam-pi
memekik.
“Ya, ya, murid menurut.” ketua Hek gak tak berdaya lagi. Ia memberi isyarat
kepada Tokko Sing yang berdiri di belakang, serunya, ”Sudah saatnya suhu
minum arak. Apakah minumannya dibawa?”
Tokko Sing segera mengatakan bahwa hidangan untuk guru besar Bok Sam-pi
sudah disiapkan.
“Bagus, aku hendak minum tiga cawan dulu, baru istirahat sebentar. Urusan di sini
kuserahkan padamu!” mendengar arak, selera Bok Sam-pi pun berontak.
Dengan khidmat ketua Hek Gak mengiyakan. Tokko Sing pun segera mengiring
Bok Sam-pi untuk minum arak. Begitu jago tua itu angkat kaki, ketua Hek Gak
segera mengambil sebutir pil hitam dan menyerahkan pada salah seorang
pengawal. Ia membisiki beberapa patah kata. Pengawal itu mengangguk dan
segera pergi.
Selama itu Jenggot perak hanya diam saja mengawasi gerak-gerik kedua suhu
dan murid itu.
Setelah Bok Sam-pi pergi, barulah ia tertawa gelak-gelak, “Apakah artinya
pertunjukan ini?”
Wajah ketua Hek Gak memerah, “Jangan banyak bicara, sebentar kau tentu
merasakan sendiri!”
“Bagaimana andaikata pil hitammu itu tak manjur?” Jenggot perak tertawa
mengolok.
Berobahlah seketika wajah ketua Hek Gak , “Pil itu adalah penguat tubuh. Setiap
minum arak tentu dicampurkan. Jangan mengoceh tak keruan!” bentaknya murka.
“Aneh, aneh,” Jenggot perak tertawa sinis, “aku toh tidak mengatakan pil itu obat
bius atau obat kuat. Mengapa kau kalang kabut memberikan penjelasan…. “ ia
tertawa meloroh, “siapa berbuat tentu merasa. Kira-kira tentu begitulah
keadaanmu!”
Menyala mata ketua Hek Gak. rupanya ia hendak menyerang. Namun si Jenggot
Perak tetap acuh tak acuh. Sebaliknya para anggota rombongannya, keempat
Thiat-hiat Su-kiat dan ke tiga puluh enam Thian-kong serta ke tujuh puluh dua Tesat sudah mengepal-ngepal tinju siap hendak menyerang.
Suasana menjadi tegang!
Tiba-tiba ketua Hek Gak mendapat pikiran. Ia berpaling ke arah Sin-bu Te-kun dan
memberi anggukan kepala. “Ah, sahabatku, sudah lama kita tak berjumpa!”
Sin-bu Te-kun yang sejak tadi hanya mengawasi ramai-rami itu balas tertawa,
“Berpuluh tahun tak bertemu, tentulah kepandaian saudara makin sakti.”
“Ah, mana dapat menyamai Te-kun….” ketua Hek Gak merendah.
“Aha, tak usah main sandiwara, ”Jenggot perak menyeletuk tertawa, “rasanya
memang sudah ada sekongkolan di antara kalian berdua.”
“Lu tua, jangan memfitnah orang!” bentak Sin-bu Te-kun.
Lu Liang-ong mengurut-urut jenggotnya yang putih mengkilap. Ia tertawa riang,
“Sin-bu-kiong dan Hek Gak masing-masing mempunyai cita-cita hendak
mencaplok dunia persilatan. Kalau dua ekor srigala saling berebut tulang,
akhirnya tentu cakar-cakaran sendiri!”
“Tua bangka Lu, jangan mengadu domba!” bentak ketua Hek Gak, “Jangan
bermimpi kau dapat menipu kami…. ” ia berpaling ke arah Sin-bu Te-kun. “Thiathiat-bun berani masuk ke wilayah Tiong-goan, ini suatu penghinaan bagi kita.
Tidakkah kita bersatu mengusirnya?”
Sin-bu Te-kun mengangguk, “Baik, silakan Kongsun-heng menghajarnya, aku
bersumpah membantu sepenuh tenaga. Malam ini jangan sampai ada seorang
Thiat-hiat-bun yang lolos… !”
“Bagus, bagus!” Jenggot perak tertawa gelak-gelak, “ maju keroyokan atau satu
lawan satu, Thiat-hiat-bun siap melayani. Tetapi sayang tidak semudah itu
kawan….. !”
ooo000ooo
Barisan darah besi.
Sin-bu Te-kun mengekeh tertawa, “Apa ? Pihakku tak mampu melawan?”
Jenggot perak tertawa, “Mampu atau tidak soal kedua. Hanya dikuatirkan tak ada
orang yang berani bertempur!”
Kembali kepala Hek Gak memperdengarkan tertawa sinis, “Aku tak percaya Thiathiat-bun sedemikian menyeramkan. Toh kau juga tak memiliki tiga buah kepala
dan enam lengan ! Percaya bahwa orang-orangku tentu dapat melenyapkan partai
Thiat-hiat-bun! ”
Jenggot perak maju selangkah, tertawa mengejek, “Mengapa kau tak turun
tangan?” iapun bersiap menunggu serangan.
Dengan sebelah tangan yang tinggal satu, ketua Hek Gak segera hendak
menyerang. tetapi secepat itu pula segera menurunkan tangannya lagi. Tertawa
sinis dan mundur selangkah!
Jenggot perak menyambutnya dengan tertawa panjang.
“Telah kuperhitungkan dengan masak. Kalau Hek Gak berani bertempur dengan
Thiat-hiat-bun, keduanya pasti hancur. Dengan begitu cita-citamu hendak merajai
dunia persilatan tentu berantakan….”
Jenggot perak menatap wajah kepala Hek Gak dengan tajam, serunya pula,
“Tetapi aku si orang tua mengerti tentang ilmu melihat tampang orang. Telah
kuketahui isi hatimu. Tak nanti kau mau menguntungkan orang lain dan merugikan
diri sendiri. Tak nanti kau sudi menyerahkan kekuasaan dunia persilatan kepada
Sin-bu-kiong. Itulah sebabnya maka kutahu kau pasti tak berani menempur aku!”
“Ngaco!” serentak ketua Hek Gak membentak dengan wajah pucat.
Tetapi Jenggot perak tak menghiraukan. Kembali ia beralih memandang Sin-bu
Te-kun, serunya, “Sekalipun siasatmu mengadu domba berhasil dijalankan. Thiathiat-bun dan Hek Gak hancur kedua-duanya, tetapi Sin-bu-kiong pun masih tak
dapat menguasai dunia persilatan, karena kau masih mempunyai seorang musuh
besar!”
Sekarang giliran Sin-bu Te-kun yang mendelik. Memekiklah ia, “Sin-bu-kiong
bersumpah tak mau hidup sekolong langit dengan Thiat-hiat-bun! Andaikata
saudara Kongsun ketua Hek Gak mau melepaskan engkau, tetapi aku Sin-bu Tekun tetap akan menghancurkanmu!”
Jenggot perak tertawa, “Inginkah kau mendengar siapakah musuhmu itu?”
“Sebutkan!” teriak Sin-bu Te-kun gusar.
“Hun-tiong Sin-mo!”
“Huh, Hun-tiong Sin-mo sudah ibarat ikan dalam jaring. Pasti segera mampus!”
Sin-bu Te-kun menggeram.
Jenggot Perak tertawa nyaring, “Ah, kata-katamu ini agak sombong….” ia berhenti
sejenak, serunya pula, “Kau telah membuat Panji Tengkorak Darah palsu untuk
melakukan pembunuhan besar-besaran. Fitnah itu telah menimbulkan kemarahan
besar pada sembilan partai, sehingga mereka menantang Hun-tiong Sin-mo untuk
bertempur di puncak Sin-li-hong. Hal ini membuktikan bahwa kau jeri terhadap
Hun-tiong Sin-mo!”
“Ngaco! Seumur hidup aku tak pernah takut kepada siapapun juga!” teriak Sin-bu
Te-kun.
Jenggot Perak geleng-geleng kepala, “Jika kau tak takut, sejak dulu-dulu kau tentu
sudah ke Hun-tiong-san menantangnya! Perlu apa kau gunakan siasat memfitnah
sehingga menimbulkan kemarahan sembilan partai.?”
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa seram, serunya sengit, “Apakah hubunganmu
dengan Hun-tiong Sin-mo…?”
Sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun tak mau melanjutkan kata-katanya, tetapi
diam-diam ia gunakan ilmu menyusup suara kepada Jenggot Perak, “Ho, tua
bangka, jangan kira aku tak tahu bahwa Hun-tiong Sin-mo sudah mati karena
diracun anak perempuanmu. Mungkin aku tahu lebih banyak dari kau…..”
Jenggot perak berobah wajahnya. Tetapi pada lain saat ia sudah tertawa lagi.
“Kau tahu atau tidak, itu tak ada kepentingannya. Sekarang aku hendak minta
kepadamu menyerahkan dua orang budak Thiat-hiat-bun yang melarikan diri, yaitu
Nyo Sam-koan dan Ma Hong-ing. Jika bukan karena mereka berdua, tak nanti kau
tahu tentang urusan ini!”
Kata-kata Jenggot Perak itu tidak diucapkan dengan ilmu menyusup suara,
melainkan dengan suara biasa. Sudah tentu hal itu terdengar jelas oleh Kongsun
Bu-wi ketua Hek Gak. Tetapi ketua Hek Gak ini tak mengerti apa yang terjadi
sebenarnya. Maka iapun hanya terlongong-longong saja!
Wajah Sin-bu Te-kun membesi, segera ia berseru kepada ketua Hek Gak, “Selama
Thiat-hiat-bun masih ada, kita tak dapat hidup tenang. Marilah kita bersatu padu
untuk membasminya!”
Diam-diam ketua Hek gak sudah mempunyai rencana sendiri. Segera ia
menyahuti, “Memang akupun sudah mempunyai pikiran begitu, maka silakan Tekun segera memberi perintah!”
Tetapi Sin-bu Te-kun tak segera bertindak, ia hanya memandang ke sekeliling
penjuru dengan sikap meragu. Sebaliknya ketua Hek Gak juga hanya mulutnya
saja yang setuju akan ajakan Sin-bu Te-kun, tetapi iapun tak mau memerintahkan
kepada anak buahnya menyerang. Dengan begitu kedua-duanya saling tunggu
menunggu.....
Setelah menunggu sekian lama tiada yang menyerang, Jenggot Perak tertawa
nyaring, “Aha, ramalanku selalu manjur! Sudah kuketahui bahwa baik Sin-bukiong maupun Hek Gak tentu tak ada yang berani membentur perutku.......” sejenak
ia kedipkan mata, katanya pula, “Aku masih memepunyai sebuah pertanyaan lagi
pada kalian.”
Karena kelemahannya diketahui, Sin-bu Te-kun dan Hek Gak hanya meringis saja.
Maju gentar, mundurpun sukar.
“Katakanlah!” seru mereka serempak.
“Tanpa bersepakat, kalian datang ke gunung Thay-heng-san sini,” Jenggot perak
tertawa, “Apakah maksudnya?”
Pertanyaan ini membuat Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak melongo.
“Tak lain tak bukan adalah karena peta Telaga Zamrut dan kitab pusaka It Bi
Siangjin!” seru Jenggot Perak dengan suara datar.
Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak seperti disengat kalajengking kagetnya. Baru
mereka hendak membuka mulut, tiba-tiba dari kejauhan terdengar berisik suara
orang.
Jenggot perak masih tetap tertawa, “Dewasa ini di dunia persilatan timbul
beberapa panji kekuatan yang hebat. Masing-masing belum diketahui siapakah
yang paling unggul ! Hun-tiong- san, Sin-bu-kiong, Hek Gak dan pihakku Thiathiat-bun serta partai-partai besar di dunia Tiong-goan. Masing-masing mempunyai
sumber kepandaian sakti yang berlain-lainan. Boleh dikata mutu kepandaian
mereka hampir berimbang, maka tak ada pihak manapun yang dapat merajai
dunia persilatan. Hanya ada satu jalan yang dapat mengatasi. Barang siapa yang
berhasil mendapatkan kitab pelajaran dari It Bi siangjin barulah dia akan menjadi
jago yang tiada tandingannya di dunia persilatan…”
Jenggot Perak tertawa mengekeh, serunya pula, “Kita saling bertempur,
sebenarnya termasuk urusan kecil. Yang penting ialah mencari kitab pusaka itu.
Peta Telaga zamrud telah muncul kembali di dunia dan tempat persembunyian
kitab pusaka itu ialah di gunung ini. Kalian tentu mendengar suara orang berisik
tadi bukan ? Nah, itulah rombongan orang yang mencari kitab pusaka. Apabila
kitab sampai jatuh di tangan mereka, dikuatirkan Sin-bu-kiong maupun Hek Gak
akan lenyap dari dunia persilatan selama-lamanya!”
Mendengar uraian itu, pucatlah seketika wajah Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak.
Sin-bu Te-kun berusaha untuk menenangkan kegelisahannya.
“Lu loji, ” ia tertawa sinis, “Apakah kedatanganmu juga bukan karena hendak
mencari kitab pusaka itu?”
“Aku?” sahut Jenggot Perak dengan dingin, “jika aku memang bermaksud hendak
mengambil kitab itu, mungkin kalian tak mempunyai kesempatan untuk
mendapatkannya lagi!”
“Heh, heh,” ketua Hek Gak tertawa mengekeh, “Lu tua, kau terlalu memandang
tinggi dirimu!”
Sambil berkata itu diam-diam lengan tunggal ketua Hek Gak itu dilambaikan ke
belakang. Empat orang sucia (jago) Hek gak yang berada di belakang ketuanya
mengerti isyarat itu. Segera mereka menyelinap pergi.
Tetapi perbuatan itu tak lepas dari mata Sin-bu Te-kun. “Eh, apa maksud saudara
Kongsun menyuruh anak buahmu pergi?” tegurnya.
Wajah Kongsun Bu-wi ketua Hek Gak memerah, serunya, “Suruh mereka lihat
apakah suhuku sudah minum arak atau belum?”
Namun jawaban itu disambut dengan tertawa sinis oleh Sin-bu Te-kun. Kepala
istana Sin-bu-kiong itupun segera lambaikan tangannya. Dua orang sucia yang
berada di kanan kirinya segera mengundurkan diri. Mereka mengajak belasan
anak buah baju ungu pergi menyusul keempat sucia Hek Gak.
Jenggot Perak tertawa berderai-derai sampai lama, serunya, “Hanya mengirim
sekian orang untuk menjaga pihak yang mencari kitab, mungkin takkan berhasil.
Kecuali kalian mengerahkan anak buah secara besar-besaran, mungkin ada
harapan. Hanya saja.....”
Tiba-tiba jago Thiat-hiat-bun itu melambaikan tangannya dan berseru, “Hanya
saja, ah, kalian saat ini sukar untuk meloloskan diri….”
ooo00000ooo
Barisan Thiat-hiat-tin
Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak tercengang!
Tiba-tiba Jenggot perak lambaikan tangan. Dari empat penjuru segera muncul
Empat Su-kiat, tiga puluh enam Thian-kong dan tujuh puluh dua Te-sat. Mereka
memecah diri membentuk sebuah lingkaran seluas berpuluh tombak. Rombongan
Sin-bu-kiong dan Hek Gak terkepung di tengah-tengah.
Sin-bu Te-kun tertawa nyaring, “Aha, Lu tua, kau hendak main apa ini ?”
Jenggot perak balas tertawa, “Cuma akan meminta kalian merasakan kenikmatan
barisan Thiat-hiat-tin!”
“Oh, hanya sebuah barisan sekecil ini mana dapat mengepung rombongan Hek
Gak dan Sin-bu-kiong!” ketua Hek Gak berseru mengejek.
Jenggot perak ganda tertawa, “Sekurang-kurangnya dalam waktu dua puluh
empat jam, kalian tak dapat lolos dari tempat ini!”
Semula Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak tak mengacuhkan. Pikir mereka tentu
dapat menerobos dari barisan Thiat-hiat-tin. Tetapi apa yang tampak di
hadapannya, membuat mereka terkejut….
Memang tampaknya barisan itu tiada yang aneh. Tetapi setelah persiapan selesai,
semua orang Thiat-hiat-bun itu sama mengeluarkan asap kuning. Asap itu keluar
dari lengan baju, celana dan leher baju mereka. Rupanya obat telah disimpan
dalam dadanya lebih dahulu, kemudian ditekan keluar dengan tenaga dalam.
Asap kuning makin lama makin tebal. Di bawah teriakan-teriakan Jenggot perak,
anggota-anggota Thiat-hiat-bun itu segera berputar-putar membuat lingkaran.
Asap bergulung-gulung menghambur ke tengah.
Sin-bu Te-kun gugup dan segera memerintahkan anak buahnya, “Terobos keluar!”
dan ia sendiri mendahului menerobos keluar barisan.
Tetapi serempak dengan gerakan Sin-bu Te-kun, terdengarlah lengking tertawa
panjang. Serangkum tenaga kuat segera menghambur. Kiranya tenaga kuat itu
berasal dari Jenggot Perak yang segera mendorong dengan kedua tangannya.
Marahlah Sin-bu Te-kun. Sewaktu masih melayang di udara, ia geliatkan kedua
tangannya memukul dengan pukulan Hiam-im-ciang. Hiam-im-ciang yang telah
diyakinkannya dengan sempurna. Jauh sekali bedanya dengan Hiam-im-ciang
yang digunakan oleh Ni Jin-hiong dan Ma Hong-ing.
Tetapi sebelum kedua tenaga pukulan itu beradu, sekonyong-konyong Jenggot
Perak melambung ke udara sampai beberapa tombak. Dengan tertawa meloroh, ia
membentak, “Awas, kedua matamu!” Dengan kecepatan seperti kilat menyambar,
ia timpukkan dua buah benda mengkilap ke arah Sin-bu Te-kun.
Sin-bu Te-kun hendak menjajalkan tenaga Hiam-im-ciangnya dengan tenaga
lawan. Tetapi di luar dugaan, lawan telah menarik balik pukulannya. Ia terkejut dan
buru-buru menukik ke bawah, tetapi teriakan Jenggot Perak itu, telah membuatnya
kaget sekali.
Ia tahu bahwa ilmu kepandaian orang Thiat-hiat-bun menimpuk senjata rahasia,
hebat sekali. Seratus kali menimpuk, seratus kali tentu kena. Apalagi saat itu ia
tengah menukik di udara. Sukar sekali untuk menghindari ancaman musuh.
Serentak teringat ia akan peristiwa di istana Sin-bu-kiong yang lalu. Jenggot perak
pernah melepaskan dua buah panah yang menembus kedua bahunya!
Dalam keadaan yang tak berdaya itu Sin-bu Te-kun hanya dapat menutupkan
kedua tangannya untuk melindungi mukanya. Untung Jenggot Perak tak
menggunakan ilmu Penyesat suara, yakni suaranya terdengar di sebelah timur,
tetapi orangnya berada di barat. Dan timpukannya itu memang hanya ditujukan ke
arah muka orang. Maka terhindarlah muka Sin-bu Te-kun dari dua buah panah
Hong-thau-kiong.
Sin-bu Te-kun rasakan tangannya seperti digigit ular. Begitu menginjak tanah
segera ia kibaskan panah itu.
“Lu tua, aku bersumpah tak mau hidup bersama engkau! Hari ini kau atau aku
yang mati!” teriaknya dengan marah.
Seluruh tenaga dalamnya segera dikerahkan, ia bertekad hendak adu jiwa
dengan ketua Thiat-hiat-bun. Tetapi apa yang dilihatnya saat itu benar-benar
membuatnya kaget seperti patung!
Bukan saja Jenggot Perak lenyap dari pandangan, juga seluruh anggota Sin-bu
kiong dan ketua Hek Gak serta rombongannya pun tak kelihatan lagi
bayangannya!
Sin-bu Te-kun dapatkan dirinya seolah-olah hanya seorang diri dalam lautan asap
warna kuning. Sedemikian tebal asap itu mengembang sehingga tak dapat lagi ia
melihat jari-jari tangannya. Dan yang lebih mengerikan lagi ialah saat itu
hidungnya mencium bau wangi. Karena curiga kalau-kalau bau itu mengandung
racun, buru-buru ia menutup jalan darah penting pada tubuhnya. Kemudian ia
menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengetahui apakah tubuhnya sudah
kemasukan racun atau belum.
Tengah ia meramkan mata menyalurkan tenaga dalam, tiba-tiba terdengar suara
tertawa memanjang. Digoda begitu, meluaplah amarah Sin-bu Te-kun. Ia meloncat
ke udara sampai tiga tombak tingginya dan menggerung seperti harimau
kelaparan, “Lu tua, keluarlah, mari kita bertanding selaksa jurus!”
Jenggot perak tertawa nyaring, “Aku sudah tua tak punya selera lagi untuk
berkelahi. Yang kusuka ialah melihat orang kelabakan seperti ikan dalam jaring...”
ia berhenti sejenak lalu berseru pula, “Ki Pek-lam, bukankah kau sudah
mempelajari kitab Im-hu-po-kip sampai paham? Dalam dunia persilatan jarang
terdapat orang yang dapat menandingimu! Barisan sekecil ini masakah mampu
mengepungmu? Ayo, mengapa kau tak gunakan kesaktianmu membobolkan
barisan ini?”
Sin-bu Te-kun berkeliaran memandang empat penjuru. Tetapi asap yang demikian
tebal tak dapat ditembus dengan matanya. Ia tak tahu di mana Jenggot Perak
berada! Dan yang menjengkelkan, suara Jenggot Perak itu sebentar terdengar
dekat sebentar jauh. Sukar diduga tempatnya yang pasti.
Tetapi Sin-bu Te-kun sudah terlanjur mengumbar kemarahan. Dengan meraung
keras ia berseru, “ Lu tua, kau kira aku benar-benar tak dapat lolos dari barisanmu
ini?” Sin-bu Te-kun menumpahkan kemarahannya dengan sepuluh kali pukulan
yang dilontarkan berturut-turut! Pukulan itu ditujukan ke empat penjuru. Cepat dan
dahsyatnya bukan kepalang!
(bersambung jilid 17 )
Jilid 17 .
Angin menderu-deru laksana badai meniup, tetapi yang mengejutkan, ke sepuluh
pukulan dahsyat itu malah membuat asap bergulung-gulung deras. Kecuali itu tak
ada lain-lain hasil lagi.
“Hi, hi, hi.” Terdengar Jenggot Perak tertawa mengikik.
Semenjak mengangkat panji di dunia persilatan jauh sebelum ia mendapatkan
kitab pusaka Im-hu-po-kip, belum pernah ia menelan hinaan sedemikian rupa.
Dadanya serasa hangus dibakar api kemarahan. Ia bersiap-siap hendak
menerjang ke muka.
Sin-bu Te-kun memiliki apa yang disebut Liok-ji-thong-leng ( enam telinga ajaib),
yakni ilmu pendengaran yang sakti. Tetapi pada saat itu ilmu tersebut tak dapat
digunakan lagi. Asap yang makin tebal itu seakan mempunyai kekuatan untuk
menyumbat telinga, Bukan saja yang terjadi di luar barisan tak dapat didengarnya,
bahkan orang-orang yang terkepung dalam barisan itu sedikitpun tak kedengaran
suaranya.
Ilmunya melihat di tempat gelappun mengalami nasib serupa. Asap kuning telah
menyerang mata sedemikian pedas, sehingga tak dapat dibuka. Dan yang
mengejutkan lagi bahwa ilmu menyusup suara yang dicobanya untuk
menghubungi ketua Hek Gak dan anak buahnya sendiri, pun tak ada hasilnya
alias melempem.
Ia benar-benar merasa sebatang kara dalam barisan asap.
Selain ilmu silat sakti, iapun mengerti segala macam ilmu barisan. Tetapi terhadap
barisan asap ini, benar-benar ia asing sama sekali.
“Asal arahkan langkah ke muka, tentu akan dapat menerobos keluar,” katanya
dalam hati. Ia percaya dengan ilmunya Hian-im-ciang-ci yang sakti, segala
rintangan tentu dapat dihancurkan.
Diam-diam ia menghitung. Sudah tiga puluh tombak jauhnya ia melangkah ke
muka. tetapi ah....... terpaksa ia hentikan langkah. Ia merasa bahwa ia sedang
berjalan berkeliling sebuah lingkaran. Apabila diteruskan, sehari semalam kakinya
pasti letih tanpa hasil apa-apa.
Gigi Sin-bu Te-kun bercatrukan keras. Ingin ia memakan daging Jenggot perak
dan minum darahnya, tetapi aah, apa daya.....
Setelah ia dalam keadaan seperti semut dipanggang di atas kuali panas, tiba-tiba
terdengar si Jenggot Perak berseru pula , “Ki Pek-lam, mengapa kau sibuk. Aku
toh hendak memberimu istirahat! Setelah duapuluhempat jam, barisan ini akan
buyar sendiri. Sekarang menyerah sajalah!”
“Lu tua, aku tak peduli dengan segala macam peta Telaga zamrud atau nafsu
menguasai dunia persilatan lagi. Asal barisan ini buyar, segera kau akan
mengetahui apa yang hendak kulakukan!”
“Heh, heh, tentu akan mengadu jiwa denganku ?” Jenggot perak tertawa
mengejek.
“Asal kau tahu saja, cukuplah!” Sin-bu Te-kun meraung.
“Ki Pek-lam, jagalah kedua biji matamu, aku hendak membidiknya!” seru Jenggot
perak.
Kejut dan marah Sin-bu Te-kun bukan kepalang. Tetapi ia tak berani berayal.
Segera ia menutupi matanya dengan tangan. Begitu pula ia menyalurkan tenaga
dalamnya untuk melindungi kelima indranya.....
Bagaimana dengan ketua Hek Gak? Diapun serupa nasibnya dengan Sin-bu Tekun. Hanya bedanya yang menjaga ialah keempat Su-kiat. Ketika ketua Hek Gak
hendak berusaha menerobos keluar barisan, keempat Su-kiat dari partai Thiathiat-bun serempak menghantamnya. Berbareng itu timpukan empat batang panah
Hong-thau-kiong ke dada dan punggung ketua Hek gak. Panah-panah itu dak
dapat membinasakan, tetapi cukup untuk menggagalkan rencana Kongsun Bu-wi.
Keadaannya senasib dengan Sin-bu te-kun. Bagaikan harimau yang terkurung
dalam perangkap meraung-raung di tengah lautan asap kuning.
Sekalipun belum larut, tetapi malam terasa sepi sekali. Tabir asap seluas
berpuluh-puluh tombak itu tampak seperti gulungan awan yang menyelubungi
puncak gunung....
oo000ooo
Kini kita jenguk keadaan Siau-bun dan Thian-leng yang bersembunyi di dalam
hutan. Mereka tak berani bergerak. Apa yang terjadi di luar hutan diikuti dengan
seksama. Adalah ketika barisan Thiat-hiat-tin menghamburkan asap tebal,
begitulah mereka kehilangan pandangan. Untunglah kedua anak muda itu berada
di luar lingkungan asap.
“Hai, kemanakah gerangan Lu Bu-song? Meangapa ia belum menggabungkan diri
dengan kakeknya? Celaka, kalau dara yang suka ngambek itu sampai mengalami
apa-apa, bagaimana ia nanti hendak memberi jawaban kepada Jenggot Perak?”
demikian pertanyaan dalam hati Thian-leng yang menimbulkan kegelisahan.
Dan apa yang paling menggelisahkan hatinya ialah tentang peta Telaga zamrud.
Bukankah tokoh-tokoh yang berkumpul di gunung situ datang untuk mencari kitab
pusaka itu ? Jelas didengarnya dari percakapan mereka, bahwa siapa yang dapat
memiliki kitab itu akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan. Dan bukankah
peta yang sudah di tangannya itu hilang ?
Thian-leng melanjutkan lamunannya. “Mengapa Jenggot perak mengepung Sinbu Te-kun dan Hek Gak ? Apakah bukan karena jago Thiat-hiat-bun itu
mengetahui bahwa malam itu ia tentu datang ke gunung Thay-heng untuk mencari
pusaka, maka sengaja jago Thiat-hiat-bun itu merintangi orang Sin-bu-kiong dan
Hek Gak, agar ia aman mencari pusaka ? Ah, betapalah kecewanya Jenggot
Perak nanti apabila mengetahui bahwa peta pusaka itu ia hilangkan ?
Lu Bu-song tak bersamanya, sudah cukup membuat Jenggot perak marah, apalagi
ditambah pula dengan menghilangkan peta Telaga zamrud….. Seketika
berhamburan airmata Thian-leng karena dilanda gelombang kemengkalan!
Sementara Siau-bun yang sejak tadi menumpahkan perhatiannya pada
ketegangan ketiga gembong, ketika barisan Thiat-hiat-bun menghamburkan asap,
ia menghela napas, “Hebat barisan Thiat-hiat-tin ! Sin-bu Te-kun dan ketua Hek
Gak sukar meloloskan diri, kita tak perlu kuatir!”
Thian-leng gelagapan dari lamunannya, “Adik Bun, kita...” belum sampai ia
melanjutkan kata-katanya, sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat
dan tahu-tahu di sebelah mereka muncul seorang wanita berambut putih!
“Mah! ” serentak Siau-bun brseru girang seraya menubruknya.
Thian-lengpun terkejut girang. Wanita tua itu bukan lain ialah Toan-jong-jin, wanita
sakti yang pernah memberinya pedang pusaka. Tetapi yang membuatnya heran,
mengapa Siau-bun memanggil ‘mamah’. Thian-leng terlongong-longong heran.
Tiba-tiba terlintaslah sesuatu pada pikirannya dan cepat ia membuat kesimpulan.
Nada suara wanita itu bening dan terang, tak menyerupai nada perempuan tua.
Dan kerut wajahnya pun tidak wajar. Jelas dia menggunakan topeng kuit. Dan dari
panggilan Siau-bun tadi makin menguatkan dugaannya bahwa wanita itu bukan
seorang wanita tua! Usia Siau-bun baru tujuh-delapan belas tahun, tak nanti ia
mempunyai seorang ibu yang sudah tua sekali.
Pun ketika wanita itu menolongnya di tepi sungai Huang-ho, sehabis menurunkan
ilmu pedang, dia memesan padanya untuk mencari seorang yang bernama Pok
Thiat-beng yang bergelar Si Pedang bebas.
Toan-jong-jin atau Si Patah hati, nama samaran yang dipakai wanita itu serta nada
ucapannya yang penuh kepedihan, membuktikan adanya suatu rngkaian
hubungan antara wanita itu dengan pendekar Pok Thiat-beng. Sekurangkurangnya mereka itu tentulah sejoli kekasih.
Dan teringatlah juga Thian-beng akan keterangan Nyo Sam-koan di dalam
penjara Cui-lo tempo hari. Ya, jelas…, jelas.!
Toan-jong-jin tentulah isteri tercinta dari Pok Thiat-beng. Dan toan-jong-jin bukan
lain ialah puteri kesayangan Jenggot Perak Lu Liang-ong ketua Thiat-hiat-bun.
toan-jong-jin sebenarnya ialah Cu Giok-bun ibu dari si dara Cu Siau-bun!
Otak Thian-leng bernanaran diamuk badai lamunan.....
Toan-jong-jin pernah dengan tandas mengatakan bahwa Thian-leng benar putera
dari Ma Hong-ing dan Nyo Sam-koan. Tetapi anehnya, Nyo Sam-koan
menyangkal keras. Thian-lengpun bukan putera Nyo Sam-koan dan bukan anak
Ma Hong-ing!
Teringat akan semuanya ini, Thian-leng benar-benar seperti terkungkup dalam
awan gelap. Siapakah ayah bundanya? Apakah memang ia manusia tanpa ayah
ibu? Mengapa orang-orang yang diduganya menjadi orang tuanya, sama
menyangkal dan saling melontarkan tanggung jawab. Apakah ia anak haram?
Sekalipun anak haram, juga sang orang tua tentu mau mengakuinya.
Tiba-tiba pikiran Thian-leng tertuju pada Pok Thiat-beng dan Cu Giok-bun.
Benarkah kedua orang itu mempunyai hubungan suami ister? Dan apakah
hubungannya dengan mereka berdua?
Jenggot Perak telah menyerahkan Lu Bu-song menjadi isterinya. Sedangkan Cu
Siau-bun an pun tampaknya menaruh hati padanya. Tempo di hotel Hian-gek-can
di kota Ceng-liong tempo hari, ia dengan dara itu telah melakukan hubungan.......
Ah, otak Thian-leng benar-benar nanar mengingat peristiwa yang dihadapinya
saat itu, begitu berbelit-belit sampai-sampai ia lupa apa yang dihadapinya saat ini.
“Bu-beng-jin, apa kabar?” tiba-tiba Toan-jong-jin menegur.
Thian-leng gelagapan. Tersipu-sipu ia memberi hormat, “Ah, locianpwe, tak kira
berjumpa di sini! Lebih tak kusangka lagi bahwa lo-cianpwe ternyata…… nona
Cu.. punya.....”
“O, tak menduga kalau ibu dan anak?” Toan-jong-jin tersenyum.
“Be.…… nar, sungguh tak kuduga sama sekali,” Thian-leng terbata-bata. Ia
memandang Siau-bun lalu menunduk dengan muka merah.
“Tahukah kau sekarang siapa aku?” beberapa jenak kemudian toan-jong-jin
bertanya. Dipandangnya anak muda itu dengan seksama.
“Jika cianpwe tak menyalahkan, kini aku sudah dapat menduga,” sahut Thian-leng.
“Coba katakanlah!”
Sejenak Thian-leng merenung, katanya, “Tempo itu dalam penjara Cui-lo di Sinbu-kiong, aku telah bertemu dengan seseorang.”
“Siapa?”
“Nyo Sam-koan!”
Toan-jong-jin menghela napas, serunya, “Itulah ayahmu!”
“Bukan!” jawab Thian-leng tegas. Jawaban itu membuat Toan-jong-jin terbeliak.
“Bagaimana kau begitu yakin?” Toan-jong-jin memandangnya heran.
“Karena Nyo Sam-koan menyangkal keras. Dia bilang…..” sampai di sini Thianleng berhenti dalam kesangsian. Baik ia lanjutkan keterangannya atau tidak.
Toan-jong-jin mengerutkan kening, ujarnya,”Apapun alasannya, silakan kau bilang
saja!”
Dengan nada berat berkatalah Thian-leng, “Nyo Sam-koan menerangkan bahwa
selama mengawini Ma Hong-ing itu, ia belum pernah tidur bersamanya!”
“Ih!” tiba-tiba Toan-jong-jin mendesis ngeri. Tubuhnya terhuyung-huyung hampir
pingsan.
“Mah!” teriak Siau-bun, “Telah kukatakan bahwa dia bukan anak Ma Hong-ing!”
Toan-jong-jin tenangkan kegoncangan hatinya.
Beberapa saat kemudian baru ia membuka mulut, “Habis, anak siapakah dia itu?”
Tiba-tiba mata Toan-jong-jin memandang lekat-lekat ke tengkuk Thian-leng. Ia
terbeliak. Jelas tampak pada tengkuk anak muda itu terdapat sebuah tahi lalat
merah.
Amboi, mengapa begitu? Toan-jong-jin benar-benar kehilangan akal….
Siau-bun pun berdiam diri tenggelam dalam renungan. Jelas masih segar dalam
ingatannya. Ketika berada dalam istana Sin-bu-kiong tempo hari, Ma Hong-ing
memanggilnya dengan kata-kata ‘nak’. Mengapa? Mengapa.....?
Thian-leng juga lelap dalam lautan kegelisahan. Siapakah ayah bundanya?
Mengapa tiada orang yang sudi mengakuinya sebagai anak....? Apakah ia lahir
tanpa ibu bapak..?
Sam-chiu Sin-kun
“Bu-beng-jin, kau belum mengatakan siapa diriku!” sesaat kemudian Toan-jong-jin
berseru.
Thian-leng tersipu-sipu dan segera menghaturkan hormat, “Kalau tak salah,
cianpwe mungkin….memakai kedok kulit!”
Toan-jong-jin tersenyum. Tiba-tiba ia merenggut kulit mukanya sendiri. Ah.....
sebuah kedok kulit tersingkap dan sebagai ganti dari rambut putih dan kulit muka
keriput dari seorang wanita tua, kini muncullah sebuah wajah cantik berseri dari
seorang wanita yang baru berumur 35 an tahun.
“Ijinkanlah wanpwe berkata sepatah lagi,” kata Thian-leng pula, “Cianpwe tentulah
wanita yang dikatakan Nyo Sam-koan, ialah Pedang bebas Pok.... cianpwe...”
sampai di sini Thian-leng tergagap tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Toan-jong-jin memakai kedok lagi, sahutnya tertawa, “Benar, memang aku adalah
isteri dari Pok Thiat-beng. Hanya sayang kami suami isteri......” Toan-jong-jin tak
melanjutkan keterangannya lebih jauh.
Thian-leng buru-buru memberi hormat lagi, ujarnya “Atas pemberian cianpwe
sebatang pedang pusaka itu, sampai matipun aku takkan melupakan. Tetapi.....” ia
berhenti meragu sejenak, lalu menyambung lagi dengan nada menyesal, “Tetapi
sampai saat ini wanpwe belum dapat menemukan setitikpun jejak Pok locianpwe!”
Toan-jong-jin tertawa rawan, ujarnya, “Hal itu tak dapat menyalahkanmu. Memang
dia sukar dicari jejaknya. Mungkin sudah melenyapkan diri jauh ke luar
perbatasan. Mungkin dalam kehidupan sekarang takkan dapat berjumpa lagi....”
Tiba-tiba Toan-jong-jin alihkan ucapannya pada sebuah pertanyaan, “Apakah
yang kau ketahui lagi tentang diriku?”
Thian-leng tertegun, sahutnya tergagap, “Hanya itulah yang kuketahui….”
Kembali Toan-jong-jin tersenyum. Dengan penuh misterius ia memandang Siaubun. Si darapun balas memandangnya dengan tersenyum.
Thian-leng seperti terbungkus dalam kabut rahasia.Tak tahu ia apa yang telah
terjadi sebenarnya. Namun ia tak mau banyak tanya. Memang yang diketahui
hanya hal-hal yang telah dikatakan tadi. Tak tahu ia apa lagi yang tersembunyi di
balik diri wanita Toan-jong-jin yang serba misterius itu.
Sebenarnya Thian-leng telah lengah. Lengah tentang diri Toan-jong-jin. Karena
sampai saat itu, ia belum menyadari bahwa wanita Toan-jong-jin yang
dihadapinya itu bukan lain ialah momok ganas yang merajai dunia persilatan
yakni Hun-tiong Sin-mo!
Tiba-tiba Toan-jong-jin bangkit, “Karena terlibat percakapan , hampir membikin
terlantar urusan kalian yang penting!” Memandang ke langit, ia berkata pula,
“Sudah saatnya orang itu harus datang!”
“Mah, siapa yang kaumaksudkan?” tukas Siau-bun.
Pun karena ingin mengetahui, Thian-leng diam untuk mendengarkan. Tetapi Toanjong-jin hanya tersenyum misterius. “Nanti kalian tentu tahu sendiri, tunggu saja
sebentar!”
Habis bicara, tiba-tiba ia melesat lima - enam tombak jauhnya. Saat itu asap
kuning dari barisan Thiat-hiat-tin masih menghambur tebal. Rombongan Sin-bukiong dan Hek Gak tetapa tenggelam di dalamnya.
Siau-bun menarik lengan Thian-leng diajak memburu Toan-jong-jin. Tegurnya,
“Eh, mah, mengapa kau menyimpan rahasia terhadap aku?”
Tetapi Toan-jong-jin hanya mengerut sebuah senyum kecil, lalu melesat sepuluh
tombak lagi. Siau-bun dan Thian-leng tetap mengejar. Dalam beberapa kejap saja
mereka sudah mencapai satu li jauhnya.
Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri. Jeritan orang yang bunuh
membunuh!
Thian-leng terkejut sekali. Sebaliknya Toan-jong-jin masih tetap berjalan tenang.
Tampaknya perlahan, tetapi cepatnya bukan main. Malah pada lain saat, ia
percepat jalannya sampai seperti angin meniup.
Ilmu ginkang dari Siau-bun dan Thian-leng sebenarnya sudah tergolong tingkat
kelas satu. Tetapi ketika mengejar Toan-jong-jin tampak jelas sekali bedanya.
Hanya dalam beberapa saat saja mereka sudah tertinggal setengah li di belakang.
Dan ketika kedua anak muda itu tiba di tempat yang dituju, di situ sudah terjadi
peristiwa yang mengerikan!
Belasan jago-jago baju ungu tampak bergelimpangan tersebar di tanah. Tubuh
mereka hancur dan gosong seperti terbakar. Jelas mereka telah dibunuh orang
dengan ilmu Ciong-chin-hoat atau tenaga dalam keras. Di samping mereka
terdepat tiga sosok mayat pengemis. Belasan pengmis tengah tegak terlongonglongong seperti patung....
Thian-leng cepat mengerti apa yang telah terjadi. Belasan pengemis itu telah
dianiaya oleh orang Sin-bu-kiong dan ketika Toan-jong-jin tiba ia hanya berhasil
membunuh tiga orang Sin-bu-kiong. Yang lain-lain tentu sudah melarikan diri.
Beberapa saat kemudian rombongan pengemis itu gelagapan seperti orang
tersadar dari mimpi. Tersipu-sipu mereka memberi hormat kepada Toan-jong-jin
serta menghaturkan terima kasih. Setelah itu mereka juga memberi hormat kepada
Thian-leng, seru mereka, “Murid menghaturkan hormat kepada pangcu!”
Thian-leng tersipu-sipu dan buru-buru menyuruh mereka bangun.
“Eh, aku sampai lupa menghaturkan selamat padamu yang dalam usia begitu
muda sudah menjadi ketua Kay-pang..” tiba-tiba Toan-jong-jin berseru tertawa, “
hanya.....ah, pengemis-pengemis itu baunya sungguh tak tahan......” ia berpaling
kepada Siau-bun, “Nak, apakah kau juga bersedia menemaninya seumur hidup
makan nasi sisa dan sayur sisa?”
Siau-bun bersungut, “Mah, mengapa kau menggoda aku?”
Tetapi Toan-jong-jin tak menghiraukan urusan itu lagi dan berkata cepat, “Ah, aku
masih mempunyai urusan lain. Aku hendak pergi dulu, kalian boleh bersama
melanjutkan perjalanan.”
Siau-bun terkejut dan menyambar ujung baju ibunya, “Mah, kami ikut bersamamu!”
Toan-jong-jin mengerutkan kening, “Tetapi aku masih mempunyai urusan penting.
Kalian tak perlu ikut!”
“Coba katakan dulu urusan apa?” bantah Siau-bun.
Toan-jong-jin mendengus perlahan, “Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay, sudah jatuh
di tangan orang Sin-bu-kiong, mamah harus menolongnya!”
“Lalu kemana kita mencarimu?”
“Tak usah kalian cari. Begitu urusan selesai aku tentu dapat mencarimu!” sahut
Toan-jong-jin.
Akhirnya terpaksa Siau-bun melepaskan mamahnya. Bagaikan burung garuda
melayang, dalam beberapa kejap saja bayangan Toan-jong-jin pun lenyap dalam
kegelapan malam.
Sebenarnya Thian-leng masih ingin menanyakan beberapa hal kepada Toan-
jong-jin. Tetapi karena cepat sekali wanita itu bergerak, pada saat Thian-leng
hendak mengajukan pertanyaannya, Toan-jong-jin pun sudah lenyap.
Siau-bun menghela napas, ujarnya, “Bu-beng pangcu, mamahku sudah pergi.
Marilah kita selesaikan urusan di depan mata ini.”
Thian-leng seperti disadarkan. Di hadapannya tampak belasan pengemis masih
tetap dalam sikap menghormat kepadanya. Mereka dipimpin oleh Lau Gik-siu,
ketua cabang partai Kay-pang.
“Mengapa saudara-saudara datang kemari? Apakah ada urusan penting?”
Lau Gik-siu segera menyahut dengan hormat, “Sejak pangcu pergi, muridpun
mengirim berita dengan burung. Ada sebuah berita yang kami terima, bahwa ada
seorang misterius yang masuk secara mencurigakan di wilayah gunung Thayheng-san....”
Diam-diam Thian-leng membatin,”Sin-bu-kiong, Hek Gak, Tiam-jong-pay dan
orang Thiat-hiat-bun semuanya telah masuk ke daerah Thay-heng-san. Jumlah
mereka sedemikian besarnya, mengapa hanya seorang saja yang dicurigai?”
“Dewasa ini di gunung Thay-heng-san penuh dengan jago-jago persilatan, baik
dari golongan hitam maupun golongan putih. Mengapa kalian hanya
mementingkan seorang pendatang saja?”
“Tetapi orang itu adalah seorang tokoh golongan hitam yang termashyur, “ buruburu Lau Gik-siu menjelaskan, “dan jejaknya memang sangat mencurigakan.
Karena itu kami segera mengikutinya!”
“Mengapa mencurigakan?” tanya Thian-leng.
“Kemungkinan dialah yang mencui peta Telaga zamrut milik pangcu,” sahut Lau
Gik-siu dengan perlahan.
Seketika teganglah Thian-leng, serunya, “Siapakah orang itu?”
“Cia Bu-sin bergelar Sam-chiu sin-kun ( Malaikat bertangan tiga)!”
“Di mana ia sekarang?”
“Menuju ke arah selat Pak-bong-kiap. Tetapi ketika kami sampai di tempat ini, telah
bertemu dengan anak buah Sin-bu-kiong. Dalam pertempuran , kami kehilangan
tiga orang anggota!”
“Tinggalkan dua orang anggota untuk mengurus mayat-mayat itu. Dan harap Lautongcu memimpin rombongan untuk mengejar Sam-chiu sin-kun!” Thian-leng
memberi perintah.
Lau Gik-siu segera melakukan perintah ketuanya. Setelah menyuruh dua orang
pengmis tinggal di situ untuk mengubur mayat, ia segera ajak rombongannya
meneruskan pengejaran.
Thian-leng ajak Siau-bun mengikuti rombongan Kay-pang. Setelah meintasi dua
buah jalanan, tibalah mereka di sebuah lembah.
Lembah itu aneh dan seram. Kedua belah dindingnya menjulang ke langit, penuh
hutan cemara yang lebat dan batu-batu besar yang berserakan. Sepintas pandang
mirip dengan kuburan.
Lau Gik-siu dan rombongannya berhenti, katanya, “Inilah Pak-bong-kiap, tetpai
mengapa Sam-chiu Sin-kun tak berada di dalam lembah?”
Thian-lengpun tak melihat barang seorangpun juga. Sesaat kemudian tiba-tiba
Siau-bun menggapai anak muda itu, bisiknya, “Lekas kejar, dia memang
memasuki lembah ini!”
Girang Thian-leng tak pelang, katanya, “Apakah ilmumu Melihat-langit-mendengar
–bumi …. “
Siau-bun menjawab dengan menarik lengan baju anak muda itu terus diajak
loncat ke atas batu karang yang tinggi. Karang itu tepat di samping lembah,
sehingga dari situ dapat melihat jelas ke dalam lembah. Tetapi hutan cemara yang
lebat tetap menutupi pandangan mata.
“Apakah adik Bun tak salah dengar?” tanya Thian-leng dengan menggunakan ilmu
menyusup suara
“Meskipun ilmu mendengar bumi ada kalanya menerima rintangan dari hutan,
hujan dan angin, tetapi tetap takkan salah dengar!” sahut Siau-bun.
“Kalau begitu tentulah Sam-chiu Sin-kun berada di sini!”
Siau-bun tak menghiraukan anak muda itu. Dia menumpahkan seluruh
perhatiannya untuk mendengar dan memandang ke seluruh lembah.
Rombongan pengemis tua yang mengikuti di belakang mereka, tak dapat
mendengar apa yang dipercakapkan kedua anak muda itu. Lau Gik-siu yang
melihat ketuanya tegak beradu bahu dengan seorang gadis tanpa bicara apaapa , segera memberanikan diri untuk berseru perlahan,”Pangcu….”
“Apa?” sahut Thian-leng.
“Kami telah menemukan jejak Sam-chiu Sin-kun. Dia memang benar telah
memasuki lembah. Harap pangcu lekas mengejar…..” Lau Gik-siu berhenti
sejenak, lalu berkata pula, “Sam-chiu Sin-kun memang mempunyai kepandaian
istimewa dalam mencuri dan banyak tipu muslihatnya pula!”
Thian-leng sejenak melirik Siau-bun. Nona itu tampak mengerutkan kening seperti
tengah memikirkan persoalan yang rumit, sepertinya tak mengacuhkan anak muda
itu.
“Ya, aku tahu…..” terpaksa Thian-leng menjawab Lau Gik-siu. Tetapi walaupun
begitu, ia tetap tak bergerak melainkan hanya memandang Siau-bun saja.
Beberapa saat kemudian baru kelihatan Siau-bun mengangguk dan loncat turun.
“Apakah adik sudah mengetahui tempat orang itu?” tanya Thian-leng.
“Tanyakan Lau tongcu, apakah di belakang lembah ini terdapat jalan tembus?”
kata Siau-bun.
Mendengar itu Lau Gik-siu segera memberi keterangan, “ Lembah Pak-bong-kiap
ini terkenal berbahaya sekali. Belum pernah aku menyuruh orang menjelajahinya.
Maka apakah di belakang lembah ada jalan tembus atau tidak… aku..kurang
tahu…” kemudian ia menanyakan Siau-bun perlukah menyuruh orang menyelidiki.
“Terlambat, kita terjang saja!” Siau-bun terus hendak menyerbu ke dalam lembah.
tetapi dicegah Thian-leng, “Nanti dulu, apa sajakah yang kau dengar ?”
“Aku sendiri belum dapat memastikannya, ”kata Siau-bun, “di dalam lembah
memang ada seorang yang tengah berjalan dengan langkah aneh. Dia seorang
sakti, umurnya di antara tujuhpuluhan tahun, jenggot melambai sampai dada. Dia
berjalan perlahan sekali seakan mencari jalan. Dan saat ini sudah memasuki
lembah sejauh seratus tombak, menuju ke belakang lembah…. ”
“Itulah Sam-chiu Sin-kun!” Lau Gik-siu menyeletuk. Kemudian ia mendesak Thianleng supaya lekas mengejar. Tetapi segera ia menutup mulut demi melihat wajah
kedua anak muda itu tampak serius sekali. Tentulah sedang menghadapi
persoalan yang genting.
“Kalau pendengaranku tak salah, Sam-chiu Sin-kun diam-diam sedang diikuti oleh
lima orang!”
“Tetapi bukankah kau tadi mengatakan belum dapat memastikan?” tanya Thianleng.
“Itulah yang membingungkan aku,” kata Siau-bun, “kelima pengejarnya itu tidak
mengambil jalan dari tengah lembah, tetapi muncul dari empat penjuru lembah.
Padahal jalan di situ sukarnya bukan main. Dan yang lebih hebat, langkah mereka
hampir tak tertangkap ilmu Melihat-langit-mendengar-bumi…”
“Oh, mereka tentu orang-orang yang berilmu sakti,” Thian-leng berseru kaget,
“Kecuali Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak, tentu tak ada lainnya lagi. Kita beresi
dulu kedua durjana itu baru kemudian membekuk Sam-chiu Sin-kun….”
“Tidak,” tukas Siau-bun, “Menurut dugaanku, kalau orang itu memang bangsa
manusia, tentu bukanlah Sin-bu Te-kun ataupun ketua Hek Gak!”
“Bagaimana kau dapat memastikan?”
“Sin-bu Te-kun dan rombongan Hek Gak masih dikepung oleh Thiat-hiat-tin. Lain
orang tentu tak ada yang memiliki ilmu sehebat itu!”
Thian-leng terbeliak. Habis siapakah kelima orang pengejar yang sakti itu? Jelas
tujuan mereka ialah hendak merebut peta Telaga zamrud.
“Dengan munculnya secara terpencar itu, jelaslah bahwa mereka bukan
segolongan. Jika kita dapat mencegat di belakang lembah, kita dapat merebut
dulu peta itu dari tangan Sam-chiu Sin-kun. Tetapi apa boleh buat, sekarang kita
terpaksa aharus menerjang dari sini!”
“Baik, aku yang menjadi pembuka jalan!” kata Thian-leng seraya terus melangkah
ke dalam lembah.
“Hai, tahukan kau di mana beradanya Sam-chiu Sin-kun?” Siau-bun berseru
seraya mengejar.
Thian-leng tertegun, Serunya. “Dia toh berada dlam lembah, masakah kita tak
dapat menemukannya?”
“Uh, lebih baik kau ikut aku saja!” Siau-bun tertawa hambar.
Thian-leng menurut. Dengan pedang terhunus ia mengikuti di belakang si nona.
Begitu pula Lau Gik-siu beserta anak buahnya. Mereka siap dengan senjata
masing-masing.
Lembah itu tiada jalannya. Hanya sebuah lembah mati yang penuh batu-batu
besar dan hutan lebat. Baru berjalan sepuluhan tombak, Thian-leng merasa
kehilangan arah. Coba tak ada Siau-bun yang menjadi penunjuk jalan, tentu ia
sedah tersesat.
Siau-bun berjalan dengan hati-hati sekali. Setiap kali ia berhenti untuk memasang
telinga. Belum tujuh puluh tombak jauhnya, tiba-tiba nona itu berhenti. Ia gunakan
ilmu menyusup suara membisiki Thian-leng, “Sam-chiu Sin-kun berada pada jarak
tiga puluh tombak. Para pengejarnyapun sudah muncul mengepungnya. Mereka
berilmu tinggi semua. Kita harus menjaga jangan sampai ketahuan mereka.!”
Thian-leng mengiyakan dan segera menyuruh rombongan Lau Gik-siu menunggu
di situ.
“Tidak, bagaimana kami disuruh tinggal diam saja melhat pangcu terancam
bahaya....” bantah Lau Gik-siu.
“Tetapi ini harus dilakukan secara bersembunyi. Kalau kalian ikut, lebih besar
bahayanya!”
Lau Gik-siu tetap menolak, ”Pesan mendiang cikal bakal kaum Kay-pang, murid-
murid Kay-pang harus perintah ketuanya dan melindumginya….”
Thian-leng gugup. Tiba-tiba ia mendapat akal. Diambilnya lencana Kiu-pang-tongpay dari lehernya, “Lau tongcu, dengarlah perintahku!”
“Hamba siap!” tergesa-gesa Lau Gik-siu menyahut dengan hermat.
“Untuk sementara ini kuserahkan kekuasaan partai kepadamu. Kau jaga di sini.
Jika terjadi sesuatu, bertindaklah menurut gelagat!”
Walaupun ragu, tapi Lau Gik-siu terpaksa menerima perintah itu. Thian-leng
segera gunakan ilmu menyusup suara untuk mengajak Siau-bun melanjutkan
perjalanan lagi.
Jalan semakin sukar. Hampir sejam mereka baru mencapai lima puluh tombak.
Tiba-tiba Siau-bun berkata, “Kalau pendengaranku tak salah, sudah sepenanakan
nasi lamanya Sam-chiu Sin-kun berhenti di sebelah muka.....”
“Di mana?”
“Apakah kau melihat tiga batang pohon jati di sebelah muka itu?” tanya Siau-bun.
Memang benar. Thian-leng melihat tiga batang pohon jati tumbuh menggerumbul.
Setiap batang besarnya sepelukan tangan orang. Karena berjajar rapat pohon itu
seperti tembok tinggi.
“Ya, memang kelihatan.” sahutnya.
“Nah, di situlah ia bersembunyi!”
“Lalu pengejar-pengejarnya itu?” tanya Thian-leng.
“Berada di sekeliling tempat ini sekitar sepuluhan tombak jauhnya. Sebenarnya
kita sudah masuk dalam kepungan mereka!”
Thian-leng terkejut, “Apakah mereka sudah mengetahui jejak mereka?”
“Entahlah, “ Siau-bun mengerutkan dahi, “aku tak tahu apakah mereka juga
mempunyai ilmu gaib seperti Melihat langit mendengar bumi. Tetapi yang jelas
mereka tak dapat bertahan menyembunyikan diri lagi!”
“Apakah Sam-chiu Sin-kun benar-benar bersembunyi di belakang ketiga pohon
itu?” Thian-leng menegas, rupanya ia mempunyai rencana.
“Masakah aku hendak membohongimu?”
“Bagus, kalau begitu kita harus membekuknya lebih dahulu!”
“Tetapi tahukah kau bahwa di belakang pohon itu penuh dengan batu-batu
besar?”
“Tahu!” sahut Thian-leng, “mengapa kau tanyakan hal itu?”
Sahut Siau-bun dengan nada bersungguh-sungguh, “Berapa jumlahnya dan dari
golongan mana kawanan pengejar itu, kita belum tahu. Tetapi yang jelas mereka
itu bukanlah tokoh-tokoh sembarangan dan tujuannya sudah jelas hendak
merebut peta pusaka. Maka barang siapa berani turun tangan lebih dahulu, dia
bakal menjadi korban bulan-bulan orang yang lain!”
“Tetapi bagaimana dapat menghindari pertempuran?” bantah Thian-leng, “kalah
memang toh kita belum tahu! Tanpa berani mengambil resiko mana mungkin kita
dapat merebut peta itu kembali? Apakah kau mempunyai cara lain kecuali
gunakan kekerasan?”
Siau-bun mengerutkan dahi, ujarnya “Segala apa dapat dipecahkan. Soalnya
bukan masalahnya yang tak dapat dipecahkan, tapi kita yang tak mampu
memecahkan!”
Jilid 18 .
Thian-leng meringis. Ia tahu sampai di mana kelihayan otak si nona itu. Cara-cara
meloloskan diri dan mengocok Kongsun Bu-wi ketua Hek Gak dengan gurunya si
Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi, cukup membuktikan betapa cerdas nona itu.
Setelah kedua anak muda itu merenung lama, barulah tiba-tiba Siau-bun berkata
pula, “Sam-chiu-Sin-kun pasti bersembunyi di balik pohon, kuyakin
pendengaranku tak salah. Menurut pendapatku, kepandaiannya tak ungkul dari
kau. Dapatkah kau dalam tiga jurus serangan mendadak, membuatnya tak
berdaya?”
Dian-diam Thian-leng memperhitungkan. Jaraknya dengan pohon itu hanya
sepuluhan tombak. Dua kali lompatan ia dapat mencapai. Dengan ilmu pukulan
Lui-hwe-ciang dan ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam, rasanya ia tentu mampu
mengatasi Sam-chiu Sin-kun.
Kalau perlu bunuh saja orang itu, karena ia benci dengan perbuatannya!
“Baik, aku sanggup! Tetapi …..” ia meragu, “tetapi bagaimana kalau orang-orang
itu menyerang aku…”
“Sudah tentu mereka akan menyerangmu. Tetapi janganlah kau hiraukan mereka.”
jawab Siau-bun, “yang penting kau harus segera melukai Sam-chiu Sin-kun dan
menyeretnya ke tengah tumpukan batu dan mengambil peta lalu memasukkan ke
dalam sepatu…”
“Ya, ya, hal itu mudah. tetapi…..”
“Ilmuku menimpuk panah Tui-hong-kiong dan ilmu pedang, mungkin masih dapat
menghalangi mereka. Begitu kau berhasil mendapat peta itu, berhasillah kita!”
Masih Thian-leng bersangsi, ujarnya, “Pengejar-pengejar itu tentu bertekat mati-
matian merebut peta. Apabila kita berdua tak sanggup melawan mereka, apakah
akhirnya……”
“Kekuatiranmu memang beralasan. Menurut peneropongan yang kulakukan
dengan ilmu Melihat langit mendengar bumi, mereka masing-masing memiliki ilmu
yang tinggi dan mungkin kita tak mampu menandingi…..”
“Kalau begitu apa gunanya!?”
Siau-bun tertawa, “Tetap ada gunanya. Segala sesuatu bukanlah tergantung
kenyataan semata-mata, tetapi pada kecerdikan!” Ia berhenti sejenak, melepaskan
pandangan mata, kemudian berkata pula, “Kita akan membentuk barisan,
menjebak mereka agar saling bunuh sendiri!”
“Oh,” Thian-leng melongo, “tetapi bagaimana caranya?”
Siau-bun tersenyum simpul, “Biarkan mereka saling merebut peta itu sendiri
seperti anjing merebut tulang.....” ia segera mengeluarkan sehelai kain. Setelah
dilipat lalu diberikan kepada Thian-leng.
“Begitu kau berhasil mengambil peta dan menyusupkan ke dalam sepatu, segera
kau lemparkan kain itu kepadaku…”
“Bagus!” Teriak Thian-leng girang, “bukankah maksudmu supaya mereka mengira
buntalan kain itu berisi peta, sehingga mereka lalu rebutan sendiri?”
Siau-bun mengangguk, “Begitulah! Setelah mereka saling merebut, kita angkat
kaki dengan lenggang kangkung, tapi kau….” dipandangnya anak muda itu
dengan cemas.
“Jangan kuatir,” kata Thian-leng dengan tenang, “asal Sam-chiu Sin-kun benarbenar berada di balik pohon, tentu aku akan dapat melakukan rencana kita itu
dengan berhasil!”
Siau-bun menyuruh anak muda itu segera bersiap-siap. Thian-leng menyisipkan
kain ke lengan baju, menyiapkan pedang dan mengerahkan seluruh
semangatnya. Begitu Siau-bun memberi perintah, segera anak muda itu
mengenjot kakinya, bagaikan seekor burung alap-alap, ia melayang ke arah
pohon!
Berebut peta!
Memang tepat sekali dugaan Siau-bun. Di belakang ketiga pohon besar tampak
sesosok bayangan putih. Punggung orang itu menempel pada batang pohon.
Walaupun belum jelas apakah orang itu benar Sam-chiu Sin-kun yang mencuri
petanya, Thian-leng segera melancarkan pukulan dahsyat dan serangan pedang
secepat-cepatnya dan sedahsyat-dahsyatnya.
Sungguh aneh sekali. Orang itu tak menghindar maupun menangkis. Sebuah
pukulan dan tiga tebasan pedang Thian-leng tepat jatuh di tubuhnya. Dan tanpa
mengerang serta menggeliat, rubuhlah orang itu.
Walaupun heran, tetapi Thian-leng tiada tempo untuk memeriksa, Cepat-cepat ia
mengangkat tubuh orang itu terus dibawa loncat ke tengah gundukan batu. Thianleng telah menunaikan tugas sesuai rencana!
Tetapi pada saat Thian-leng menginjak batu dan hendak menggeledah, kejutnya
bukan kepalang. Tiga sosok tubuh serempak bersuit dan mencelat keluar dari tiga
penjuru. Siau-bun sudah memperhitungkan hal itu. Maka berbareng dengan
tibanya orang-orang itu, iapun sudah menyerang dengan pukulan dan timpukan
panah Tui-hong-kiong.
Ketiga orang itu rupanya tahu jelas dengan kelihayan Tui-hong-kiong. Mereka
menyurut mundur dan mengebut dengan lengan bajunya. Adalah karena sedetik
rintangan itu, cukuplah sudah bagi Thian-leng untuk menyelinap ke tengah
gundukan karang.
Dalam pada itu Siau-bun sudah melolos pedang dan menyerang dua orang
musuh. Pedang nona itu merupakan pasangan dari pedang Thian-leng. Walaupun
pendek, tetapi sinarnya dapat memancar sampai beberapa meter. Juga ilmu
pedang yang dimainkan adalah Toh-beng-sam-kiam. Hanya bedanya Siau-bun
lebih unggul setingkat dalam peryakinan.
Dua orang yang menyerang dari samping kiri terdiri dari seorang lelaki dan
seorang wanita. Umurnya di antara empat puluh tahun. Wajahnya buruk. Yang
lelaki beralis tebal, mata besar mulut lebar. Yang perempuan daging mukanya
menonjol macam setan malam.
Kedua orang itu mengebutkan lengan bajunya menampar pedang Siau-bun.
Seketika Siau-bun merasa seperti ditiup angin dingin. Terpaksa ia menarik pulang
pedangnya dan berputar menyerang lawan yang dari samping kanan. Orang itu
seorang tua berjenggot kuning.
Orang tua itu sebenarnya hendak memburu Thian-leng , tetapi karena dihalangi
Siau-bun terpaksa berhenti. Marahlah orang tua itu.
“Budak perempuan, apa kau bosan hidup?” serunya seraya menusukkan sebuah
jari ke pedang si nona.
Siau-bun terkejut. Tusukan jari itu hebatnya bukan kepalang, sampai
mengeluarkan suara mendesing yang tajam sekali. Siau-bun hendak menarik
pulang pedangnya, tetapi
tusukan jari orang tua berjenggot cepatnya bukan main. Tring….. ujung pedang
mendering keras dan seketika itu Siau-bun rasakan lengan kanannya kesemutan.
Pedangnya hampir mencelat ke udara. Kuda-kuda kakinya tergempur dan
terhuyunglah ia sampai 3-4 langkah ke belakang.
Di sebelah belakang ia disambut oleh seorang paderi dan seorang imam. Si
paderi membawa pedang dan si imam mencekal senjata sekop.
Siau-bun tak berdaya merintangi lagi. Lelaki dan wanita jelek tadipun sudah
memburu Thian-leng. Thian-leng terancam bahaya!
Adegan itu berlangsung hanya dalam sekejap saja. Pada saat Thian-leng
melemparkan tubuh tawanannya ke tengah gundukan batu, penyerangpenyerangnyapun sudah tiba. Thian-leng tercengang.
“Tolol, mana peta itu!” serentak Siau-bun meneriaki si anak muda.
Thianleng gelagapan. Tanpa berpikir panjang lagi, segera ia melemparkan
bungkusan kain, “Adik Bun, lekas sambutlah!”
Si paderi dan si imam yang sudah tiba di muka Siau-bun tertegun. Adalah si imam
yang lebih dulu tertawa gelak-gelak, terus mengenjot tubuhnya melayang di udara
dan segera menyambar bungkusan kain. Begitu menyambuti bungkusan, ia
melambung terus sampai setinggi-tingginya, bergeliatan dan meluncur sampai
beberapa tombak jauhnya. Dia yakin peta Telaga zamrud sudah dikuasainya!
“Hai, to-heng, tunggulah!” si paderipun mengenjot tubuhnya ke udara mengejar si
imam.
Si orang tua berjenggot kuning dan sepasang lelaki perempuan berwajah buruk
tadi, sebenarnya sudah tiba di muka Thian-leng dan hendak menyambarnya.
tetapi timbulnya perobahan yang mendadak itu membuat mereka kaget bukan
kepalang.
Si orang tua jenggot kuning secepat kilat menarik pulang tangannya terus
mencelat ke udara, “Coba saja kalau kau mampu lepas dari tangan Thian-san Siusin ( Dewa hewan dari gunung Thian-san)!”
Juga sepasang lelaki perempuan berwajah buruk yang agaknya seperti sepasang
suami istri itu bergerak aneh sekali. Mereka tak menghiraukan Thian-leng lagi.
Tiba-tiba si lelaki menyambar paha kiri si perempuan, terus dilemparkan ke udara
seraya berseru, “Di hadapan Im-yang Song-sat, kalian berani main gila!”
Tubuh wanita itu meluncur laksana anak panah. Dalam sekejap saja sudah
melampaui si orang tua berjenggot kuning, terus mengejar si paderi dan si imam.
Setelah melemparkan tubuh si perempuan, lelaki itupun melambung ke udara.
Demikian timbullah kejar mengejar di antara lima orang. Dalam sekejap saja
mereka sudah meluncur enam puluhan tombak jauhnya.
Sesaat kemudian terdengarlah suara letupan dari pukulan beradu, disusul dengan
gemuruh pohon tumbang dan batu meledak pecah. Jelas bahwa mereka telah
saling memukul.
Siau-bun cepat meloncat ke hadapan Thian-leng, “Lekas lari, mereka…..”
Tetapi Thian-leng tetap tegak seperti patung.
“Hai bagaimana? Apakah peta itu........ belum kau dapatkan?”
Thian-leng menghela napas panjang, “Silakan lihat sendiri!” Ia menunjuk pada
tubuh tawanannya yang sudah terkapar tak bernyawa di antara gundukan batu.
Cepat Siau-bun memeriksa dan secepat itu pula ia termangu terkesima. Ternyata
yang dibunuh Thian-leng itu bukan Sam-chiu Sin-kun, bukan pula manusia,
melainkan orang-orangan dari batu dan dahan pohon, tetapi dibuat sedemikian
rupa sehingga menyerupai seorang manusia, lengkap dengan panca indra dan
jenggot panjang. Di tempat segelap itu, apalagi pada malam hari, orang tentu
keliru menyangkanya sebagai manusia!
Dan yang istimewa lagi, orang-orangan itu dibalut dengan tali sutera yang ulet
sekali. Maka tiga buah tusukan pedang Thian-leng dan sebuah pukulannya tadi
tak berhasil menghancurkan orang-orangan itu!
“Rase tua yang licin sekali. Dia-benar-benar lihay mengatur siasat!” Siau-bun
membanting-banting kaki.
“Tetapi dari mana ia membuat orang-orangan ini? Apakah sebelumnya kau tak
mengetahui?”
Siau-bun hanya menghela napas, “Setan tua itu memang licin sekali. Bodoh sekali
kalau ia membuat orang-orangan itu dari lain tempat...... eh, apakah kau tak
memperhatikan kaki pohon itu? Di situlah ia mempersiapkan orang-orangannya!”
Memang di bawah ketiga pohon tua tadi tampak ranting dan dahan pohon
berhamburan.
“Dia sudah tahu kalau dikejar orang, maka sengaja ia berhenti di sini. Diapun
sudah memperhitungkan bahwa pengejar-pengejarnya itu tentu saling menunggu
siapa yang berani bergerak dulu. Hal itu tentu memakan waktu cukup lama. Maka
enak saja ia membuat orang-orangan itu. Karena kesemuanya itu sudah
diperhitungkan lebih dahulu, maka sebelumnya iapun sudah membawa pakaian,
rambut dan jenggot palsu!”
“Pengejar-pengejarnya itu hanya terpisah sepuluhan tombak jauhnya. Apakah ia
tak takut dipergoki?”
“Sudah tentu ia menyembunyikan diri sedemikian rupa agar jangan sampai
ketahuan kalau sedang membuat orang-orangan. Ilmu sakti apapun juga hanya
terbatas mengetahui bahwa ia bersembunyi di balik pohon. Tetapi apa yang
tengah dikerjakan tentu tak dapat diketahui. Setelah selesai, orang-orangan itu
disandarkan ke batang pohon dan ia sendiri diam-diam sudah menyelinap pergi.
Benar-benar hebat rase tua itu!”
Thian-leng heran dan menanyakan apakah ilmu Melihat-langit mendengar-bumi si
nona tak dapat mengetahui kalau pencuri itu lolos.
“Ah, akupun kena dikelabui. Kukira orang-orangan itu adalah dia, maka yang
kuperhatikan hanya itu saja,” Siau-bun menghela napas lagi.
Thian-leng meringis. Sekarang soal yang harus dipecahkan ialah ke manakah
gerangan larinya penjahat itu? Menilik kelihayan Sam-chiu Sin-kun mencopet peta
dan meloloskan diri dari kepungan , jelas bahwa orang itu memiliki otak luar biasa.
Kalau ia berhasil mendapatkan kitab pusaka, tentulah dalam waktu singkat ia
sudah berhasil mempelajari isinya. Apabila hal itu sampai terjadi, betapa besar
bencana yang bakal menimpa dunia persilatan!
Pikiran Thian-leng melayang-layang dilanda badai kegelisahan. Sementara itu
Siau-bun mondar-mandir memeriksa bekas-bekas di bawah pohon. Yang dapat
diketemukan hanyalah hamburan ranting-ranting dan daun pohon, tetapi bekas
telapak kaki orang sama sekali tak tampak.
Beberapa saat kemudian Thian-leng bertanya apakah Siau-bun mendengar
sesuatu. Nona itu termenung sebentar lalu menggelengkan kepala, “Ah, mungkin
bangsat tua itu sukar diketemukan lagi!”
“Ah, kitab pusaka It Bi siangjain tentu akan dimilikinya!” Thian-leng berteriak kaget.
“Habis?” Siau-bun mengangkat bahu, “dengan kecerdikannya bangsat tua itu tentu
berhasil menemukan tempat kitab itu!”
Thian-leng membanting-banting kaki, “Celaka, kalau kitab pusaka itu didapat
manusia semacam itu, berarti malapetaka bagi dunia persilatan!”
“Apa mau dikata, mungkin sudah suratan takdir,” sahut Siau-bun lesu, “mungkin
dunia persilatan memang harus mengalami banjir darah!”
Thian-leng merasakan bumi yang dipijaknya seperti bergoyang. Ingin ia mati saja
saat itu. Bayang-bayang Oh-se Gong-mo, Tui-hun Hui-mo dan tabib Sip U-jong
bermunculan di kalbunya. Mereka menuding-nuding kepada Thian-leng, seolah
hendak menuntut janji pemuda itu.
Pada lain saat terbayang pula budi kebaikan Hun-tiong Sin-mo memberinya obat
dahulu, Toan-jong-jin memberi pedang dan ilmu pedang, pengangkatannya
sebagai ketua partai Pengemis, serta budi kebaikan yang dilimpahkan si Jenggot
perak dan cucu perempuannya Lu Bu-song….
Untuk membalas budi dan melaksanakan harapan mereka yang telah memberi
kepercayaan kepadanya hanyalah disandarkan pada kitab pusaka. Tetapi.. ah
peta itu telah hilang. Dia adalah manusia yang berdosa. Berdosa karena
menghancurkan harapan mereka. Ia harus mati untuk menebus dosa itu…..
“Ayo, kita pergi!” tiba-tiba Siau-bun menarik lengannya.
“Apakah kau sudah mendapatkan ssesuatu jejak?”
“Tidak…….. tetapi kalau tidak pergi kita tentu terancam bahaya!”
“Kenapa?” Thian-leng masih bertanya.
“Suara pertempuran sudah berhenti, jelas bahwa mereka tentu sudah mengetahui
bahwa buntalan kain itu bukan peta. Sebentar lagi mereka tentu kembali mencari
kita……”
“Tetapi kita sendiri juga tertipu. Asal kita terus terang menceritakan..........”
“Mereka jago-jago sakti dan belum ketahuan dari golongan mana. Paling tidak
mereka tetap akan menuntut karena kau telah menipunya. Jika bertempur, kita
tentu menderita. Lebih baik kita lari dulu baru nanti kita mengatur rencana lagi!”
“Baik, marilah......,” baru Thian-leng mengucapkan itu, tiba-tiba terdengar suara
bentakan bengis, “Huh, kalian mau lari?”
Kejut Thian-leng dan Siau-bun bukan kepalang. Di empat penjuru telah
mengepung kelima orang yang merebut kain tadi.
“Budak bernyali besar!” bentak si imam sembari menimpukkan kain kepada Thianleng, “Kau berani menipu aku berarti bosan hidup! Kau belum mendengar siapa
Tiang Pek cinjin?”
Thian-leng menyahut dengan angkuh, “Sekali-kali aku tak bermaksud menipumu.
Apalagi aku sendiri juga kena ditipu orang!”
Ia menunjuk pada orang-orangan yang terkapar di tanah, serunya, “Silakan lihat!”
Tiang Pek cinjin melemparkan pandangan ke benda itu. Di luar dugaan ia
berpaling kepada si paderi, “Bagaimana ini?”
Paderi Ko Bok juga seorang paderi ganas yang berpuluh tahun memendam diri. Ia
menggaruk-garuk telinga, “Aneh, memang aneh. Kemana si tua Sam chiu Sin kun
itu?”
Rupanya ia mempunyai hubungan baik dengan Tiang Pek cinjin.
Siau-bun tertawa getir, “Cuwi tentulah para cianpwe dari dunia persilatan.
Sebaiknya segera melakukan pengejaran pada Sam chiu Sin-kun, jangan buang
waktu!”
Thian-san Siu sin si tua jenggot kuning mendengus, “Hm, jangan kira kau dapat
mengelabui kami lagi! Dengan tipu muslihatmu yang licik, kau telah menipu kita,
kemudian di sini kau lakukan sulapan. Aku sudah tua, masakah kena diingusi
seperti anak kecil!”
Sepasang suami isteri berwajah buruk segera ikut membentak, “Memang benar!
Lekas serahkan peta itu, nanti kalian boleh bebas pergi!”
Turut campurnya kedua suami isteri yang bergelar Im Yang song-sat itu membuat
si paderi dan si imam gusar sekali.
“Jika peta telaga zamrut sampai jatuh ke tangan kalian, aku paderi Ko Bok dan
imam Tiang Pek segera akan bunuh diri saja!” bentak paderi Ko Bok.
“Mau bunuh diri atau tidak, itu urusanmu sendiri. Tetapi peta itu harus menjadi
milik kami suami isteri!” sahut Im Yang song-sat.
“Mungkin keinginanmu itu sukar terlaksana!”
“Silakan saja kalau mau mencoba!” sahut Im Yang song-sat.
Ketegangan merebak. Kedua pihak saling bersiap.
“Nanti dulu!” tiba-tiba si jenggot kuning Thian-san Siu-sin mencegah.
“Jenggot kuning, tak usah kau campur mulut, kau tak berhak ikut menginginkan
peta!” bentak Im Yang song-sat.
Juga paderi Ko Bok mengenyahkan jenggot kuning, “Menyingkir sajalah kau ini.
Atau akan kuremukkan dulu tulang-belulangmu yang bangkotan itu!”
Didamprat kedua belah pihak, Thian-san Siu-sin tertawa sinis, “Kalian begitu
congkak terlalu tak memandang mata padaku Thian-san Siu-sin. Aku bukan
seorang pengecut, tetapi……” sejenak ia memandang Thian-leng, lalu berseru
pula, “Coba jawab, di mana peta itu sekarang?”
“Tentu pada budak itu!” sahut Im Yang song-sat.
Thian-san Siu-sin tertawa, “Kalau begitu mengapa tak tunggu setelah peta ketemu
baru kalian bertempur lagi?”
Paderi Ko Bok dan imam Tiang Pek saling tukar isyarat mata. Ko Bok berseru,
“Baik, kami setuju dengan usulmu itu!”
“Begitu peta diketemukan, segera kita rundingkan cara pertempuran. Siapa yang
menang paling akhir, dialah yang berhak memiliki peta itu!” imam Tiang Pek
menambah.
“Baik, kami suami isteri yang menggeledah budak itu!” tiba-tiba Im Yang song-sat
mencelat ke arah Thian-leng.
Siau-bun yang tengah memutar otak mencari akal terkejut sekali. Cepat ia
menimpukkan dua buah tui-hong-kiong. Tetapi Im Yang song-sat sudah
melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam. Mereka tak mengacuhkan tui-hongkiong si nona dan tetap hendak mencengkeram Thian-leng.
Tring.... tring.... tui-hong-kiong berdenting mencelat ke udara. Kejut Thian-leng
bukan kepalang. Segera ia memukul dengan tangan kiri dan menyabet dengan
pedang di tangan kanan. Seluruh tenaga ditumpahkan pada serangan itu.
Terdengar letupan dahsyat dan tiba-tiba terjadilah peristiwa yang mengejutkan….
Pemilik Peta
Thian-leng sudah nekad. Bahwa timpukan panah Siau-bun dapat dipentalkan
begitu mudah, sadarlah ia bahwa kedua suami isteri itu jago-jago sakti yang luar
biasa. Iapun menyadari bahwa serangannya itu mungkin akan mengalami nasib
serupa. Tetapi biarlah… Daripada mati konyol, lebih baik ia hancur lebur
melawan….
Tetapi di luar dugaan, timbul suatu hal yang menggemparkan. Terdengar letupan
keras, disusul dengan mencelatnya kedua suami isteri jahat itu sampai beberapa
meter jauhnya.
Thian-leng terkejut. Jelas ia merasa bahwa ujung pedangnya belum menyentuh
tubuh lawan. Dan jelas bahwa tadi ada serangkum tenaga dahsyat meniup
sepasang suami isteri itu. Tetapi ia tak tahu siapa dan tenaga apa yang
sedemikian luar biasa itu.
Bahkan karena terjadi begitu mendadak serta secepat kilat, Thian-san Siu sin, Ko
Bok dan Tiang Pek pun tak tahu apa yang telah terjadi. Momok-momok itu
terlongong-longong terkesima.
Dan kejut mereka makin menjadi, ketika tahu-tahu di belakang Thian-leng muncul
seorang tua dengan dandanan seperti pertapa.
Rambut dan jenggotnya yang menjulai panjang berwarna putih seperti salju.
Jubahnya berwarna kuning menyentuh sampai ke tanah. Kemunculan pertapa itu
benar-benar seperti dewa turun ke bumi.
Terjungkalnya kedua suami isteri Im Yang song-sat tadi hanyalah karena dikebut
dengan lengan jubahnya. Dan kedatangannya yang sama sekali tak diketahui
oleh jago-jago yang berada di situ benar-benar menggemparkan sekali.
Im Yang song-sat babak belur. Untung mereka tinggi kepandaiannya. Secepat
itupun sudah loncat berdiri lagi. Tetapi mereka masih terlongong-longong
terkesima. Mereka tak mengerti mengapa tahu-tahu bisa mencelat jatuh bangun….
Pertapa jubah kuning itu tertawa meloroh, “Siapa lagi yang tidak terima?”
Sekalian orang terbeliak. Sesaat kemudian paderi Ko Bok mengucapkan salam
keagamaan, “Omitohud! Siapakah kau? Apakah hendak ikut campur dalam urusan
ini?”
“Aku hanya perlu meminta keterangan, kalian terima atau tidak?” pertapa jubah
kuning itu menyahut lain.
Merahlah mata paderi Ko Bok mendapat hinaan semacam itu, bentaknya, ”Selama
keluar dari pertapaan, belum pernah aku menyerah pada orang lain.”
Kata-kata itu ditutup dengan tusukan ujung tongkatnya kepada si pertapa jubah
kuning. Ia insyaf bahwa pertapa itu bukan tokoh sembarangan, maka
serangannyapun harus yang istimewa. Tusukan ujung tongkat disaluri dengan
tenaga dalam penuh!
Tetapi ia hanya memperhitungkan kekuatan sendiri. Tadi kekalahan Im Yang
song-sat adalah karena mereka belum bersiap dan tak menduga atas serangan
gelap tersebut. Tetapi serangannya dengan jurus Ting-hong-koan-jit ( bianglala
menutup mentari) ini, telah dilampiri dengan tenaga dalam dahsyat dan
dilancarkan dengan keras. Sekali ia dapat menjatuhkan pertapa itu, dapatlah ia
menguasai semua tokoh-tokoh di situ dan peta itupun tentu menjadi miliknya!
Ujung tongkat sudah meluncur ke arah dada si pertapa. tetapi anehnya pertapa itu
tetap diam saja, seolah-olah membiarkan ujung tongkat menusuk dadanya.
Melihat itu diam-diam paderi Ko Bok girang sekali. Ia melipat gandakan saluran
tenaga dalamnya.
“Hidung kerbau, serahkanlah jiwamu!” serunya dengan garang. Tetapi belum
habis kata-katanya ia sudah mendelik kaget.
Ujung tongkat yang tepat mengenai dada si pertapa, tiba-tiba menemui tempat
kosong. Padahal jelas dilihatnya pertapa itu tadi tetap tegak berdiri di hadapannya.
Dan karena menusuk angin, paderi Ko Bok terdorong ke muka. Buru-buru ia
hendak membalik tubuh. Tetapi bukan main kagetnya ketika dilihatnya pertapa itu
tegak lagi di hadapannya dan mendorongkan tangannya.
“Ilmu siluman….!” Ko Bok memekik kaget. Tetapi ia tak dapat melanjutkan katakatanya karena tubuhnya mencelat ke udara. Dan serupa dengan Im Yang songsat, iapun terbanting sampai dua tombak jauhnya!
Bantingan itu jauh lebih hebat dari Im Yang song-sat. Kalau suami isteri Im Yang
song-sat hanya babak belur, paderi Ko Bok harus meringis seperti monyet makan
terasi. Mata berkunang-kunang, kepala pusing tujuh keliling dan tulang-tulang
seperti remuk-redam.
Masih untung pertapa jubah kuning itu tak mau menggunakan tenaga besar,
sehingga Ko Bok terhindar dari luka dalam. Ia terpaksa bangun perlahan-lahan.
Pertapa tua itu tertawa tergelak-gelak. Tiba-tiba ia melesat ke tempat Thian-san
Siu-sin, tegurnya, “Mungkin kau agak penasara?”
Thian-san Siu-sin melongo dan menyahut tergagap, “Aku...” belum sempat ia
melanjutkan jawaban, tiba-tiba pertapa itu mengebutkan lengan jubahnya, bret…..
Thian-san Siu-sin terkejut, cepat-cepat ia menangkis dengan tangan kanan.
Uh…..kebutan lengan jubah pertapa itu menerbitkan tenaga luar biasa. Bukan saja
tangkisan Thian-san Siu-sin lenyap tenaganya, pun tubuh jago Thian-san itu
mencelat terbanting ke tanah!
Thian-leng dan Siau-bun tercengang terkesima. hampir mereka tak percaya apa
yang disaksikannya.
Im Yang song-sat, paderi Ko Bok dan Thian-san Siu-sin adalah tokoh-tokoh
persilatan yang sakti. Kesaktian mereka hampir menyamai Sin-bu Te-kun dan
ketua Hek Gak. Tetapi berhadapan dengan pertapa jubah kuning, mereka
diperlakukan seperti anak-anak kecil saja. Sungguh ajaib sekali!
Setelah memberi hajaran kepada ke empat orang itu, pertapa baju kuning itu
segera menghampiri Tiang-Pek cinjin. Paderi itu tegak berdiri seperti patung.
Nyalinya sudah hancur berantakan ketika pertapa itu mendatanginya.
Pertapa itu tertawa tergelak-gelak, “ Kau dan aku sama-sama murid Sam Ceng.
Perlukah kita mengukur kepandaian?”
Tiang Pek cinjin gelagapan. Serunya tergugu, “ Tidak…… tidak usahlah. Pe…..ta
Telaga zamrud silakan kau ambil…….”
“Kau pandai melihat gelagat!” pertapa itu tertawa. Tiba-tiba ia ajukan langkah
seraya berseru kepada Thian-leng, “Ikut aku!”
Thian-leng tak kenal siapa pertapa ajaib itu dan apakah maksud kedatangannya.
Jika pertapa itu juga bertujuan merebut peta telaga zamrud, habislah segala
harapannya. Ia tegak termangu-mangu.
“Mari kita pergi!” tiba-tiba Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara. Dan
sekali melesat nona itu sudah mendahului.
Thian-leng tertegun. Buru-buru ia menyahut dengan ilmu menyusup suara, “Jika
pertapa itu bermaksud buruk, jangan harap kita dapat lolos!”
“Tetapi bagaimanapun tetap lebih baik daripada kita menunggu kematian di sini!”
Thian-leng anggap kata-kata si nona itu tepat, peristiwa saat itu tentu akan
menambah kebencian Im Yang song-sat dan lain-lain kepadanya. Begitu pertapa
itu pergi, mereka tentu akan menumpahkan kemarahan kepadanya. Apalagi tadi
jelas didengarnya pertapa itu mengajaknya pergi. Tanpa bersangsi lagi, iapun
segera mengikuti Siau-bun.
Im Yang song-sat, Thian-san Siu-sin, Ko Bok dan Tiang Pek cinjin tak berani
berkutik merintangi Thian-leng. Begitu pertapa itu sudah lenyap dari pandangan
mata, barulah kelima tokoh itu saling berpandangan. Kemudian merekapun
melangkah ke dalam lembah.
Lembah itu penuh dengan jalan berliku-liku yang panjang. Diselimuti dengan
kabut malam yang tebal, sukar mengetahui arah yang harus dituju. Kelima tokoh
itu tak mengerti di mana mereka berada.
Pertapa jubah kuning itu berjalan dengan melenggang, tetapi cepatnya bukan
main. Thian-leng dan Siau-bun mengerahkan seluruh kepandaiannya berjalan
cepat barulah mereka dapat mengejar pertapa itu. Kejut kedua anak muda itu tak
terperikan.
Kira-kira dua li jauhnya, tiba-tiba dari kejauhan tampak selarik sinar lampu dan
pertapa itupun berseru, “Sudah sampai!”
Sekonyong-konyong ia enjot tubuhnya melambung dan melayang seperti seekor
burung garuda. Hanya dalam dua tiga lompatan, pertapa itu sudah berada pada
jarak tiga empat tombak jauhnya.
“Apakah kita berjumpa dengan dewa?” tanya Thian-leng dengan heran.
“Jangan melantur,” sahut Siau-bun, “cepatkan langkah mengejarnya, tentu tahu
jelas tentang dirinya!”
Thian-leng dan Siau-bun segera percepat larinya.
Dalam sekejap saja mereka sudah mencapai tempat yang berlampu itu. Semula
Thian-leng kira tempat itu tentu sebuah biara. Kemungkinan tentulah tempat
tinggal pertapa jubah kuning. Tetapi ternyata tempat itu merupakan sebuah gubuk
kecil. Pintunya terbuka lebar. Di tengah ruangan terdapat sebuah lampu, selembar
permadani dan pertapa itu sudah tampak duduk bersila di atasnya.
Begitu masuk, Thian-leng dan Siau-bun segera menghaturkan terima kasih
kepadanya. “Terima kasih atas budi pertolongan to-tiang. Aku…..”
Pertapa itu tertawa tergelak-gelak. Sepasang matanya dipentang lebar-lebar. Dua
larik sinar tajam segera tertuju pada kedua anak muda itu. Akhirnya pertapa itu
melekatkan pandangannya pada Thian-leng, “Apakah peta itu kau terima dari Sip
U jong?” tegurnya.
Thian-leng tertegun, ujarnya, “Benar, tetapi peta itu dicopet orang, tak berada
padaku lagi!”
Pertapa itu memandang tajam. Sekujur tubuh Thian-leng dijelajahinya. Beberapa
saat kemudian terdengar ia berbicara seorang diri, “Ah, Sip tua itu benar-benar jeli
matanya!”
Thian-leng tidak mengerti apa yang dikatakan si pertapa. Saking tak tahan ia
memberanikan diri bertanya, “Mohon to-tiang suka memberitahukan nama gelaran
to-tiang. Terhadap peta itu…….” Ia tak melanjutkan kata-katanya. Kedatangan
pertapa itu terang dapat menyelamatkan jiwanya dari ancaman kelima
pengejarnya. Mengapa ia harus menanyakan lagi?
Perta itu hanya ganda tertawa dan menyahut seenaknya, “Aku It Bi…..”
Thian-leng dan Siau-bun seperti mendengar petir menyambar di tengah hari,
serunya, “Jadi to-tiang ini It Bi siangjin…..!”
(bersambung ke jilid 19 )
Jilid 19 .
Tetapi ah, tak mungkin. It Bi siangjin tentu sudah tidak ada di dunia lagi. Kedua
anak muda itu tak melanjutkan lagi kata-katanya. Mereka malu sendiri.
Pertapa itu tetap ganda tertawa, “It Bi siangjin sudah beratus tahun wafat. Mana
orang mati bisa hidup kembali? Aku........”
Siau-bun pun tertawa, serunya, “Kiranya karena mengagumi kepribadian It Bi
siangjin maka to-tiang pun memakai nama itu.....”
Pertapa itu melirik sejenak kepada Siau-bun, ujarnya, “Benar, kau pandai sekali.
Memang karena aku adalah pemuja yang mengagumi sekali riwayat It Bi siangjin.
Untuk mengabadikan, kupakai nama It Bi.....”
“Tetapi kepandaian dan perbawa to-tiang rasanya tak kalah dengan It Bi
siangjin.....”
Pertapa itu menghela napas, “Ah, tetapi ada beberapa hal yang kalian tak tahu....”
Cepat Siau-bun pun menukas, “Kalau tak salah, di sekitar tempat ini tentulah
merupakan telaga zamrud seperti yang dimaksud dalam peta. Usaha Sam-chiu
Sin-kun Ki Bu-sin mencuri peta dan menyelundup kemari, juga telah kau ringkus!”
Thian-leng terbeliak kaget. Juga It Bi berobah wajahnya, “Kau mengetahui banyak
hal, darimana kau tahu?”
Siau-bun tersenyum, “Terus terang saja , aku hanya menebak.”
“Menebak?”
“Ya,” sahut Siau-bun, “toh soal itu sudah jelas. Menilik keadaan lembah Pak-bongkiap yang begini seram, tak mungkin dijadikan tempat tinggal. To-tiang menyebut
diri sebagai It Bi, tetapi di sini tak ada pusaranya. To-tiang membuat rumah di sini
tentulah ada maksudnya. Sesudah mencuri peta, Samchiu Sin-kun terus menuju
kemari. Kesemuanya itu cukup membuktikan bahwa tempat ini merupakan tempat
penyimpanan kitab pusaka It Bi siangjin. Totiang tepat pada waktunya datang
menolong kami berdua, tentulah telah dapat meringkus Sam chiu Sin-kun.....”
Thian-leng terkesiap dan berpaling. Tampak di balik tirai penutup pintu kamar, dua
buah paha orang menjulur di tanah. Tentu orangnya sudah ditutuk jalan darahnya,
dan jelas orang itu tentu Sam-chiu Sin-kun.
Siau-bun tertawa tawar, “Benar, karena Sam-chiu Sin-kun kena kau tutuk, barulah
aku dapat menduga tempat ini. Tetapi ada beberapa hal yang tak kumengerti.”
“Dalam hal apa, silakan bertanya!”
“Yang kuherankan, mengapa kau sebarkan peta itu ke dunia sehingga
menimbulkan perebutan....... Kitab itu mungkin sejak dulu sudah berada di
tanganmu....eh, ilmu sakti yang kau pertunjukkan tadi, mungkin termasuk salah
satu ilmu dalam kitab itu?”
It Bi kerutkan kening menghela napas, “Hm, sekalipun otakmu cerdas, tetapi kau
tetap tak dapat menerka hal itu!”
“Apakah kau belum mendapatkan kitab It Bi siangjin itu?”
“Sudah!” sahut It Bi.
Mendengar itu hampir saja Thian-leng pingsan. Harapan untuk mendapatkan
kitab”itu hilanglah sudah. Dia tak mempunyai harapan lagi untuk mengalahkan
Sin-bu te-kun dan ketua Hek Gak.
“Setelah mendapat kitab itu, mengapa totiang perlu mengadakan lelucon lagi?
Perlu apakah totiang memikat orang datang kemari..... ”
Dengan wajah membesi It Bi menyahut, “Telah kukatakan bahwa ada beberapa
hal yang kalian tak mengerti………..” ia berhenti sebentar, ujarnya pula, “Berpuluh
tahun yang lalu, aku bersama Sip U jong telah mendapatkan peta itu. Kami kemari
dan berhasil mendapatkan tempat penyimpanan kitab.”
“Tetapi kabarnya Sip U-jong telah dianiaya Sin-bu Te-kun sehingga
kepandaiannya hilang. Kalau benar sudah mendapatkan kitab itu, masakah Sin-bu
Te-kun dapat melukainya?”
It Bi mengerutkan alis, “Itu terjadi sebelumnya. Memang Sip U-jong menaruh
harapan dapat menuntut balas. Ia meyakinkan isi kitab dengan sungguh-sungguh,
tetapi pada akhirnya ia menyadari bahwa peryakinannya itu keliru semua....”
“Keliru bagaimana?” Thian-leng terkejut.
It Bi tertawa masam, “Ilmu ajaran It Bi siangjin itu dalam sekali, tak mudah
dipelajari sembarang orang. Baru tiga hari berlatih Sip U-jong telah mengalami cohwe-jip-mo ( salah latihan dan merusak diri), sehingga menyebabkan ia
kehilangan semua kepandaiannya. Tetapi ia akhirnya dapat mempelajari sedikit
ilmu meramal……”
Kini tergeraklah hati Thian-leng, “Ilmu apakah yang tertulis dalam kitab pusaka
itu?”
It Bi melanjutkan penuturannya, “Aku lebih beruntung sedikit dari Sip U-jong.
Sedikit banyak aku berhasil mempelajari kepandaian istimewa. Karena merawat
Sip U-jong, kuhentikan latihanku. Dan secara kebetulan hal itu ……”
“Berapa lamakah totiang mempelajari?” tukas Thian-leng.
“Satu hari!”
“Satu hari?” Thian-leng berteriak kaget, “berapakah hasil dari pelajaran sehari
saja? Tetapi ilmu kepandaian yang totiang miliki………”
It Bi tertawa, “Jika aku temaha dan belajar ngotot seperti Sip U-jong, tentu akupun
akan mengalami nasib seperti dia, menjadi orang yang cacat!”
Heran Thian-leng tak terkira. Masakah belajar sehari saja sudah dapat memiliki
kepandaian sesakti itu.
“Berapa bagiankah yang totiang dapat pelajari?” tanyanya.
“Hanya sepersepuluh bagian saja!”
Thian-leng dan Siau-bun hampir tak dapat mengendalikan kekagetannya. Benarbenar sukar dapat dipercaya. Hanya mempelajari sepersepuluh bagian saja
sudah sedemikian hebatnya. Bagaimanakah kalau sudah mempelajari
seluruhnya.
“Sudahlah, jangan mengganggu , biarkan totiang melanjutkan ceritanya,” kata
Siau-bun.
It Bi tertawa, tuturnya, “Ilmu pelajaran dalam kitab It Bi bu-cui itu sekalipun tak
sukar dipelajari, tetapi setiap bagian mempunyai keistimewaan sendiri. Jika tidak
mempunyai tulang yang bagus, tak mungkin dapat mempelajari. Setelah Sip Ujong menyadari hal itu, dia menjadi putus asa. Tetapi dia tak dapat berdaya apaapa lagi…”
It Bi berhenti sejenak menghela napas, lalu meneruskan lagi, “Akhirnya kita
mencapai persetujuan. Peta dia yang membawa untuk mencari orang yang dapat
menerima warisan It Bi siangjin. Agar jerih payah pertapa itu jangan terbuang siasia, tetapi terus menerus dapat berkembang di dunia! Sementara aku yang telah
beruntung mendapatkan sebuah ilmu dari kitab itu, menjaga tempat penyimpanan
kitab di sini. Pertama , menjaga jangan sampai tempat ini diketahui orang. Kedua,
andaikata peta yang dibawa Sip U-jong itu dirampas orang, aku dapat mengejar
penjahat itu lagi! Ah, tak kira belasan tahun kita berpisah, sampai sekarang……….”
It Bi berhenti sejenak untuk mengambil napas, katanya pula, “Beruntunglah
akhirnya Sip U-jong telah berhasil menyelesaikan harapan kita berdua. Dia dapat
memilih orang yang tepat. Ketahuilah, bagiku mengalahkan tiga barisan tentara
adalah mudah. tetapi untuk mencari tunas yang sungguh-sungguh berbakat,
sukarnya seperti mencari jarum di lautan. Tulang rangka seperti yang kau miliki itu,
barulah benar-benar dapat menerima pelajaran sakti dari kitab It Bi bu-cui!”
It Bi menutup penuturannya dengan melepaskan pandangan mata menatap wajah
Thian-leng. Kemudian ia tertawa gelak-gelak.
Tersipu-sipu Thian-leng menyahut dengan rendah hati, “Wan-pwe hanya seorang
pemuda biasa, mungkin tak dapat memenuhi harapan totiang dan Sip lo-cianpwe.
Dan lagi wanpwe……….” ia berpaling memandang Siau-bun, “Jika bukan….. nona
Cu yang menolong, mungkin saat ini wanpwe sudah mati. Maka paling tidak
wanpwe minta supaya nona Cu juga diperbolehkan mempelajari kitab itu
bersama-sama…..”
Siau-bun tertawa mengikik, “Sudahlah, jangan ngelantur. Bukankah tadi totiang
sudah mengatakan, Ilmu itu tak boleh dipelajari sembarang orang. Apalagi
mendiang It Bi siangjin tentu menghendaki bahwa setiap jaman hanya seorang
ahli waris saja…..”
“Benarlah,” It Bi tertawa, “tetapi kaupun termasuk tunas yang berbakat hebat.
Hanya sayang……..”
“Sayang bagaimana?” buru-buru Thian-leng merebut pertanyaan.
Adalah karena ia merasa berhutang budi kepada Siau-bun, maka sedapat
mungkin ia hendak membagi rejeki besar itu kepada si nonan. Ia gembira kalau
Siau-bun juga mendapat ilmu kesaktian yang hebat.
It Bi menghela napas, “Ah, ilmu pelajaran dalam kitab itu tidak sesuai diyakinkan
oleh kaum wanita!”
Thian-leng melongo.
Siau-bun tertawa acuh tak acuh, “Huh, andaikata sesuai untuk kaum wanita,
akupun tak ngiler. Karena aku sudah mengangkat sumpah di hadapan suhu
bahwa aku akan bersetia kepada sumber ajarannya. Tak boleh berguru pada lain
orang,” Siau-bun melanjutkan pula.
Kamar Rahasia.
It Bi tertawa gelak-gelak, “Bagus,….. kalau begitu. Tetapi kau belum
memberitahukan namamu lho!” serunya kepada Thian-leng.
Thian-leng tertegun, jawabnya, “ Maaf, aku masih bernama Bu-beng-jin....... ”
“Hai, aneh,” It Bi terbelalak, “Apakah kau seorang anak yatim piatu?”
Thian-leng menghela napas. Iapun lalu menuturkan rahasia yang menyangkut
dirinya. It Bi mengerutkan dahi. Ia hanya geleng-geleng kepala saja. Kemudian
menghela napas. “Kelak apabiila kau sudah berhasil meyakinkan ilmu kesaktian
itu, tentu kau dapat mengusut riwayat dirimu!”
Ia bangkit dan mengajak mereka mengikutinya. Pertapa aneh itu menuju ke ruang
sebelah kiri. Thian-leng dan Siau-bun pun segera ikut.
Kamar itu gelap gulita, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, dapatlah kedua anak
muda itu melihat jelas. Di tengah ruangan seperti terdapat sebuah lubang
terowongan selebar dua meter.
“ Itulah pintu masuk dari apa yang dihebohkan orang dalam peta Telaga zamrud.
Dulu setelah kubuka, aku terus tinggal di sini , tak pernah pergi kemanapun juga,“
kata It Bi seraya masuk ke dalam terowongan itu.
Thian-leng dan Siau-bun tetap mengikuti. Terowongan itu dalamnya seperti sumur,
mempunyai titian batu yang menurun. Diam-diam Thian-leng menghitung titian itu.
Jumlahnya tak kurang dari 200 buah undakan. Dasar terowongan itu merupakan
sebuah dataran yang terang. Luasnya puluhan tombak. Baik atap maupun
lantainya terbuat dari batu seluruhnya. Benar-benar merupakan sebuah bangunan
yang besar dan megah.
Diam-diam Thian-leng mengagumi kehebatan mendiang yang telah menciptakan
bangunan sedemikian hebatnya.
“Menurut catatan dalam kitabnya. Ruangan ini dibuat sendiri oleh mendiang It Bi
siangjin dalam waktu tiga hari!” tiba-tiba It Bi berkata.
“Hai.... tak mungkin!” Thian-leng berseru kaget.
“Seorang yang berilmu sakti, apapun dapat dilakukan. Mungkin batu-batu raksasa
ini hanya sebagai benda tak berarti bagi almarhum, ” tukans Siau-bun.
“Benar,” It Bi tertawa, “baginya ruang ini masih belum menyulitkan…… eh, tahukah
kalian apa guna ruangan ini?”
Thian-leng menggelengkan kepala. Tetapi Siau-bun segera menanggapi, “Ruang
rahasia ini tentu mempunyai alat dan pintu rahasia. Tanpa melihat pada peta, tak
mungkin orang bisa keluar. Rupanya It Bi siangjin seorang ahli bangunan yang
cerdik!”
“Benarlah,” seru It Bi, “ruang ini mempunyai delapan buah pintu rahasia. Hanya
ada sebuah pintu hidup yang boleh dimasuki….” ia menutukkan jari pada ujung
dinding batu yang sebelah kanan. Terdengarlah bunyi berdrak-derak dan
terbukalah sebuah lubang pintu, It Bi melangkah masuk, Thian-leng dan Siau-bun
mengikuti terus.
Melintasi pintu itu, mereka berada di sebuah ruang batu yang terang benderang.
Sekeliling dindingnya penuh brtaburan mutiara. Mutiara-mutiara itulah yang
memancarkan cahaya cemerlang.
Thian-leng dan Siau-bun terkejut ketika matanya tertumbuk pada sebuah peti mati
yang terletak di tengah ruangan. Peti mati itu terbuat dari batu mustika. Di
depannya tercantum sebuah tong-pay ( nisan dari logam). Tong-pay itu bertuliskan
beberapa huruf yang ditulis dengan guratan jari.’Tempat arwah It Bi siangjin’.
It Bi segera berlutut dan menyuruh kedua anak muda itu berlutut juga. Mereka
bersujud dengan khidmat. It Bi bangkit, tetapi ketika Thian-leng hendak bangkit, It
Bi melarangnya.
“Mendiang It Bi siangjin telah meninggalkan pesan, bahwa barang siapa
mendapat harta peninggalannya, harus menjaga seumur hidup dan
melaksanakan cita-citanya.” kata It Bi dengan nada bersungguh-sungguh. “Surat
pesanan itu ditanam di bawah. Karena kurang hati-hati ketika menggalinya, surat
itu hancur. Tetapi yang penting, ada dua hal dalam surat itu.....”
It Bi berhenti sejenak, katanya pula, “Lebih dulu kau harus mengangkat sumpah
untuk menjaga dan melaksanakan pesan almarhum, barulah kau dapat menjadi
pewaris It Bi siangjin yang nomor dua dan menjadi muridnya…..”
“Tetapi totianglah yang menemukan suratnya. Seharusnya totianglah yang
menjadi pewarisnya yang kedua. Aku rela menjadi pewaris nomor tiga….”
“Tidak!” tukas it Bi. “Sekalipun aku beruntung menemukan peninggalannya, tetapi
aku bukanlah pewaris seperti yang dikehendakinya. Apalagi yang kupelajari
hanya sepersepuluh kepandaiannya, mana berani mengaku sebagai pewarisnya.
Memang akupun sudah mengangkat sumpah di hadapan jenasahnya. Tetapi
bersumpah untuk menjaga tempat ini sampai nanti mendapatkan orang yang
tepat. Setelah kuserahkan semua peninggalannya, barulah aku pergi. Aku
beruntung Sip U-jong akhirnya menemukan kau…..”
Thian-leng mendengarkan dengan tegang.
“Dua buah pesan penting itu, pertama harus orang yang jujur, berjiwa ksatria dan
mempunyai cita-cita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Kedua, dia
harus memilih pewaris dengan hati-hati, agar ilmu pelajaran It Bi siangjin akan
terus berkembang selama-lamanya!”
Serta merta Thian-leng mengucapkan sumpah, “ Tecu (murid) bersumpah di
hadapan arwah siangjin, akan taat melaksanakan pesan sampai mati. Kalau
sampai berkhianat dan ingkar, biarlah mendapat kutukan yang berat dari Tuhan!”
“Cukup! Bebanku kini sudah impas separoh.... mari ikut!” kata It Bi terus menuju ke
belakang peti mati. Di situ terdapat sebuah meja dan ranjang, serta beberapa
kursi. Tempatnya bersih. Pada dinding tengah terdapat dua buah gelang batu
mustika. It Bi menarik gelang sebelah kanan dan terbukalah sebuah pintu rahasia.
Ternyata di situ terdapat pula sebuah kamar rahasia.
“Kamar ini adalah tempat penyimpanan pusaka It Bi siangjin, masuklah!,”seru It Bi
yang tegak berdiri di ambang pintu rahasia.
Tanpa bersanggsi lagi Thian-leng segera melangkah masuk. Tetapi baru kakinya
melalui pintu, sekonyong-konyong pintu itu menutup. It Bi telah menggerakkkan
alat penutup pintu.
Kejut Thian-leng bukan buatan, “Totiang! Totiang……!” ia berteriak sekuat-kuatnya,
tetapi tiada sahutan sama sekali. Dicobanya untuk mendorong pintu itu,
tetapi..ah… pintu itu tak bergeming sama sekali. Walaupun mendorong sekuat
tenagapun tetap tak berhasil.
Pada lain saat ia sadar. Mungkin It Bi memang sengaja menutup pintu agar Siaubun tak ikut masuk. Karena yang diperbolehkan mempelajari ilmu kitab pusaka itu
hanya dia seorang. Tetapi ia memikirkan nona itu. Siau-bun telah menemaninya
menempuh bahaya, sekarang setelah mendapat rejeki, ditinggal begitu saja di
luar. Ah…. namun ia tak berdaya.!
Ruang itu tak seberapa luasnya, kira-kira hanya seluas dua tombak. Empat
dinding ruang dilekati belasan mutiara yang cukup memancarkan terang.
Tetapi yang membuat Thian-leng heran ialah, ruang itu tak terdapat apa-apa.
Sebuah ruang yang kosong melompong tanpa isi.
Setelah merenung beberapa saat, barulah Thian-leng tersadar. Kiranya pada
empat dinding ruang itu terdapat guratan lukisan dan huruf. Ah, kini barulah ia
menyadari. Kitab pusaka It bi-bu-cui itu bukanlah semacam kitab yang dapat
dibawa kemana-mana, melainkan tulisan-tulisan yang diguratkan pada tembok!
Thian-leng segera memulai meneliti tulisan di tembok itu. Makin lama ia makin
seperti tenggelam dalam lautan yang tiada dasarnya. Dipelajarinya gerak kaki dan
tangan sesuai dengan petunjuk-petunjuk tulisan di tembok. Entah berapa lama ia
terbenam dalam keasyikan belajar itu, ketika tiba-tiba terdengar bunyi berderakderak dan pintu batu terbuka.......
“Sudah dua hari, berapa bagiankah yang sudah kau pelajari?” It Bi tegak di
ambang pintu dengan tersenyum.
“Ah, mungkin baru seperempat bagian!”
Memang Thian-leng baru dapat mempelajari sebuah dinding saja. Masih ada tiga
buah dinding yang belum dipelajari.
“Cukup dengan sebuah dinding saja, mungkin kau sudah tak ada tandingannya!”
seru Siau-bun yang berdiri di belakang It Bi.
“Memang, kepandaianmu sekarang sudah lebih unggul setingkat daripadaku.”
kata It Bi.
“Ah, mana mungkin. Aku hanya mempelajari dua hari, masakah sudah sedemikian
rupa hebatnya,” Thian-leng tak percaya.
“Sebentar kau tentu mengetahui sendiri. Sekarang aku hendak bicara padamu,
mari kita keluar!”
Thian-leng keluar dan It Bi pun menutup pintu rahasia itu lagi. Kemudian Thianleng menanyakan apa yang hendak ditanyakan It Bi.
It Bi berkata, “Sejak kau mengangkat sumpah di hadapan arwah It Bi siangjin, kau
sudah menjadi murid pewaris kedua. Saat ini aku kalah tingkatan dan tunduk pada
perintahmu. Maka tak usah kau berlaku menghormat lagi padaku....... ”
“Ah, tanpa bantuan totiang mana aku dapat menemui rejeki yang sedemikian
besarnya ini,” buru-buru Thian-leng merendahkan diri.
Siau-bun juga turut memperkuat pernyataan Thian-leng dan menganggap pertapa
itu adalah penolong yang berbudi.
“Aku bukan menolong, tetapi melaksanakan tugas dalam pesan It Bi siangjin,” kata
It Bi kemudian dengan nada bersungguh-sungguh. “Jadi sesungguhnya akulah
yang harus berterima kasih padamu.”
“Tetapi bagaimanapun aku tetap menghormat totiang sebagai guru,” Thian-leng
membantah.
Keduanya sama tak mau mengalah. Siau-bun tertawa geli, “Ah, kalau terus
menerus berdebat tentu takkan putus-putusnya. Aku mempunyai usul.”
“Ya, ya silakan nona bilang.”
“Kusulkan baiklah kalian berbahasa sebagai kakak dan adik saja,” kata Siau-bun.
Masih It Bi kurang puas dan mengatakan hal itu masih melanggar tata tertib. Tetapi
Thian-leng segera menjura memberi hormat dan menyebutnya ‘totiang toako’ atau
engkoh imam. Akhirnya It Bi terpaksa menerima. Sejak saat itu keduanya sling
memanggil kakak adik.
“Tadi aku sedang mempelajari ilmu pelajaran It Bi siangjin, mengapa toako
memanggilku keluar?” tanya Thian-leng.
“Sudah dua hari kau berada di situ, apakah kau tak lapar?” It Bi tersenyum.
Peringatan itu serentak membuat perut Thian-leng berkeruyuk.
“Sudahlah, makan dulu baru nanti sambung bicara lagi!” seru Siau-bun.
“Nanti dulu, ijinkanlah aku merenungkan sekali lagi pelajaran dalam ruang itu agar
tak lupa….”
“Tunggu,” buru-buru It Bi mencegah, “walaupun hanya seperempat bagian, tetapi
isinya sudah mencakup ilmu yang sakti. Yang tiga bagian itu kebanyakan hanya
ilmu meramal dan ilmu perbintangan saja. Baiklah kau berhenti dulu. Setelah
meyakinkan sempurna, barulah kau mulai mempelajari lanjutannya.!”
Setelah berunding banyak tentang rencana yang akan datang, akhirnya
diputuskan, Thian-leng boleh pergi. Setahun kemudian harus kembali lagi ke goa
itu. Mereka segera keluar ke dalam pondok lagi. Sam-chiu Sin-kun masih
menggeletak di lantai tak berkutik.
Ketika keluar dari Telaga zamrud, haripun sudah tengah malam. Kiranya sudah
dua hari dua malam Thian-leng masuk ke dalam goa Telaga zamrud. Ia masih
belum yakin bahwa kepandaian yang dipelajarinya selama dua hari itu akan dapat
mengalahkan Sin-bu Te-kun dan kepala Hek Gak….
“Menurut ukuran kepandaianmu sekarang, kau lebih sakti beberapa kali dari dua
hari yang lalu. Apakah saat ini kau tak mendengar atau melihat sesuatu?” tiba-tiba
Siau-bun menegur.
Thian-leng seperti disadarkan. Ia kaget-kaget girang ketika merasakan lembah
yang diselimuti kepekatan kabut malam itu, tidaklah segelap dalam
pandangannya. Seluas satu li, ia dapat melihat dan mendengarkan suara yang
betapa kecilpun.
Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya dan berkata dengan ilmu menyusup suara.
“Apakah kau dapat mendengar pada jarak duapuluhan tombak….”
“Lupakah kau akan ilmuku Melihat langit mendengarkan bumi?” Siau-bun
tersenyum.
“Orang yang diam-diam menguntit kita ini tentulah...”
“Sudah tentu Im Yang songsat dan lainnya. Mungkin selama dua hari ini mereka
tetap berkeliaran di sekeliling lembah, tetapi mereka takut kepada It Bi..... ” kata
Siau-bun.
Thian-leng berkobar nyalinya. Inilah saatnya ia hendak menguji ilmunya. Segera
mereka meneruskan perjalanan. Tak berapa lama tibalah mereka di mulut lembah
Pak-bong-kiap. Thian-leng segera mempercepat langkahnya. Ia ingin segera
bertemu dengan rombongan Kay-pang.
Baru melintasi mulut lembah, tiba-tiba muncullah lima orang yang mengepung
mereka dari lima jurusan.
Mereka ialah Im Yang song-sat suami isteri, Thian-san Siu-sin, paderi Ko Bok dan
imam Tiang Pek cinjin. Thian-leng pun lantas bersiap diri.
“Eh, apakah kalian belum pergi?” acuh tak cuh Siau-bun menegur mereka.
“Berikan!” bentak paderi Ko Bok.
“Berikan apa?” sahut Siau-bun.
“Kitab pusaka It Bi siangjin!”
“Si pertapa busuk itu telah membawa kalian ke dalam sarangnya sampai dua hari.
Tentulah memberikan kitab itu kepadamu!” teriak Thian-san Siu-sin.
“Dia hanya menjamu kita dengan hidangan yang lezat. Maksudnya begitu kalian
sudah pergi, barulah melepaskan kita lagi.” jawab Siau-bun.
“Ngaco!” bentak Tiang Pek cinjin, “Sam-chiu Sin-kun ditutuk jalan darahnya.
Terowongan goa dalam sekali, tentulah Telaga zamrud berada di situ! Kau masih
menyangkal!”
“Oh, kiranya kalian telah menjenguk pondok itu?” Siau-bun tertawa.
“Benar di situ tentulah tempat penyimpanan pusaka It Bi siangjin!” seru Tiang Pek
cinjin.
“Kalau sudah menduga begitu, mengapa kalian tak mengambilnya? Mengapa
menunggu di situ saja?”
Merahlah wajah pertapa Tiang Pek, ia berpaling kepada paderi Ko Bok , “Budak
perempuan ini bermulut tajam, tak perlu berdebat dengannya. Kita mulai
menggeledahnya saja!”
“Benar, mari mulai sekarang juga!” paderi Ko Bok menggerung.
“Jangan terburu-buru....” teriak Siau-bun sehingga kelima jari Ko Bok yang sudah
direntang hendak mencengkeram si nona itu terpaksa dihentikan.
“Asal kalian mau menyerahkan dengan baik, tentu kami lepaskan kalian pergi....”
“Apakah kalian tentu harus mendapatkan benda itu?” Siau-bun tertawa terpaksa.
“Sudah tentu!”
Tiba-tiba Siau-bun menuding ke arah Thian-leng, serunya. “Kitab pusaka berada
padanya. Minta saja!”
Thian-leng terkesiap, serunya.”Mengapa adik Bun……”
Siau-bun tertawa mengikik, “Kau mengaku atau tidak, mereka tetap
menghendaki….”
“Benar, kita harus mendapatkan sekarang juga!” bentak paderi Ko Bok seraya
berputar merangsek Thian-leng. Melihat itu kedua suami isteri Im Yang song-sat,
Tiang Pek cinjin dan Thian-san Siu-sin pun menyerbu Thian-leng.
“Adik Bun, kau tahu jelas aku tak membawa apa-apa, mengapa kau katakan kitab
itu berada padaku?” Thian-leng menyesali Siau-bun.
Namun nona itu hanya tertawa, “Kita berada selama dua hari dalam goa telaga
zamrud, apakah mereka mau percaya kita tak membawa apa-apa?”
“Sudah tentu tidak percaya!” teriak paderi Ko Bok.
Pun Thian-san Siu-sin mengancam, “Budak, rupanya kau memang ingin menjadi
penghuni peti mati. Kalau tak diberi sedikit rasa tentu belum kapok…..” kemudian
ia berseru kepada lainnya. “Harap saudara-saudara menyingkir dulu, biar aku
yang membekuk budak ini!”
Tiang Pek cinjin tertawa sinis dan loncat merintangi, “Tak usah saudara
mencapekan diri, aku sendiri cukup membereskannya!”
Ternyata tokoh-tokoh itu sama mengerti. Mereka tahu jelas sampai di mana
kepandaian Thian-leng dan Siau-bun ini. Salah seorang dari mereka itu sudah
cukup untuk meringkus anak muda itu. Hal itu menimbulkan perebutan. Mereka
saling berebut hendak menangkap Thian-leng yang dikira tentu menyimpan kitab
pusaka.
Thian-leng masih meragu. Ia hendak segera meloloskan diri dan yang kedua ia
masih belum yakin akan kepandaian yang dipelajarinya selama dua hari itu.
“Eh, mengapa kau masih ragu-ragu? Inilah saat yang tepat untuk menguji
kepandaianmu!” teriak Siau-bun.
Thian-leng tertawa meringis. Kalau kepandaiannya ternyata gagal menghadapi
kelima durjana itu, paling banyak itu hanya mati. Baginya kematian tak terlalu
dipersoalkan. Tetapi bagaimana dengan tugas yang diletakkan di bahunya oleh
para cianpwe yang melepas budi kepadanya itu? Bagaimana dengan warisan dari
It Bi saingjin dan sebagainya!
Tetapi ia tak diberi kesempatan untuk bersangsi lagi. Sekonyong-konyong paderi
Ko Bok menyelonong maju mencengkeram dadanya. Seketika marahlah Thianleng. Pedang dilintangkan ke dada untuk menjaga diri, dengan tangan kiri ia balas
menghantam Ko Bok.
Mempelajari ilmu silat It Bi siangjin yang luar biasa dalamnya itu, tak mungkin
selesai dalam waktu dua hari saja. Untunglah berkat otaknya yang terang, Thianleng dapat mengingat semua pelajaran itu. Kini dicobanya menggunakan salah
satu jurus dari It bi bu-cui.
Paderi Ko Bok termasuk tokoh yang jarang tandingannya. Dia yakin
cengkeramannya itu tentu berhasil meremukkan dada si anak muda. Tetapi apa
yang diperolehnya benar-benar di luar dugaannya!
Memang diketahuinya juga Thian-leng balas memukul. Tetapi gerakannya itu
adalah sebuah gerakan ilmu silat yang sederhana saja. Diam-diam ia geli dan
melipatgandakan tenaga cengkeramannya.
Tamparan Thian-leng tepat sekali mengenai siku lengan lawan. Cepat dan aneh
sekali gerak tamparan itu sehingga musuh tak sempat menghindar lagi.
Menjeritlah paderi Ko Bok seperti babi yang disembelih. Lengannya serasa putus
dan tubuhnyapun terlempar…
Sekalian orang terbeliak kaget. Bahkan Thian-leng sendiripun terkesima.
Sebenarnya ia hendak menggunakan ilmu pukulan Lui hwe ciang. Adalah karena
paderi Ko Bok menyerang secara cepat, ia tak sempat mengembangkan Lui hwe
caing dan terpaksa mainkan gerakan menampar itu. Sedikitpun ia tak menyangka
bahwa ia dapat menggulingkan lawannya secara begitu gemilang.
“Ayo, siapa lagi yang berani maju?” Siau-bun melengking.
Sepasang suami isteri Im Yang songsat menyambut dengan gemboran keras dan
bergerak menerjang. Keduanya tahu apa yang diderita paderi Ko Bok, tetapi
mereka masih tetap yakin, apabila menyerang secara cepat tentu dapat membuat
si anak muda tak berkutik. Dan telah menjadi tekad mereka, lebih baik mati
daripada tak mendapatkan kitab pusaka.
Thian-leng menyapu dengan pedangnya. Ia menggunakan jurus Hong-ki-hunyong atau Angin meniup awan berkembang. Sebuah jurus dari ilmu pedang Tohbeng-sam-kiam ajaran wanita sakti Toan-jong-jin. Tetapi di luar kemauannya, ia
telah mainkan salah sebuah jurus dari ilmu ajaran It Bi siangjin.
Tampak segumpal sinar pedang berhamburan memenuhi udara. Sesaat kemudian
terdengar jeritan dan Im Yang songsat pun tehuyung-huyung mandi darah. Si
lelaki yang bernama Go Goan-pa, lengan kirinya tergores ujung pedang dan si
perempuan yang bernama Po Giok-kang pun menderita luka di perutnya.
(bersambung ke jilid 20)
Jilid 20 .
Dalam beberapa detik saja Thian-leng telah berhasil mengalahkan tiga orang
tokoh persilatan yang ternama. Thian-leng makin heran. Ia mengkombinasikan
jurus ilmu pedang Toh beng-sam-kiam dengan sedikit jurus It bi-bu-cui. Ia merasa
selama dua hari ini tak ada perobahan yang menyolok. Tetapi apa yang
dihasilkan, benar-benar membuatnya seperti bermimpi.
Thian-san Siu-sin diam-diam menyadari apa yang terjadi pada anak muda itu. Ia
mencuri lirik pada Tiang Pek cinjin. Pertapa itupun mengetahui apa yang
dipikirkan Thian-san Siu-sin. Jelas si anak muda telah mendapat ilmu pelajaran
dari It Bi. Mundur malu, maju gentar. Tetapi, ah… anak muda itu baru mempelajari
dua hari saja. Bagaimanapun tentu belum sempurna latihannya. Kalau tak segera
ditumpas, kelak tentu semakin sukar. Tiang Pek cinjin membalas isyarat Thian-san
Siu-sin dengan tatapan mata.
Segera Thian-san Siu-sin tertawa sinis dan melangkah maju ke hadapan Thianleng.
“Sebenarnya aku tak mau bermusuhan dengan orang. Baiklah saudara jangan
mendesak, benar-benar aku tak membawa kitab pusaka itu!” Thian-leng memberi
peringatan.
“Ah, Bu Beng tayhiap salah paham….” Thian-san Siu-sin kedipkan mata, “setiap
pusaka tentu mencari pemilik yang tepat. Aku tahu diriku tak berjodoh, takkan
melanggar garis alam.”
Mulutnya berbicara begitu, tetapi dia tetap melangkah maju. Siau-bun yang berdiri
di samping, tahu maksud orang, namun ia hanya ganda tertawa saja.
“Kalau cunkia tak bermaksud begitu, baiklah segera tinggalkan tempat ini….”
Thian-san Siu-sin cepat-cepat menukas, “Aku hanya akan bertanya padamu……”
ia sudah berada dua meter di hadapan Thian-leng. Juga Tiang Pek cinjin yang
berada di belakang Thian-leng, berkisar merapat di belakang Thian-leng.
“Aku tak bermusuhan kepada kalian berdua. Sedapat mungkin jangan kita
bertempur lagi. Silakan bertanya, akupun segera angkat kaki dari sini!” sahut
Thian-leng.
Tiba-tiba Tiang Pek cinjin memberi isyarat mata kepada Thian-san Siu-sin.
“Aku ingin bertanya apakah Bu Beng tayhiap sudah mendapatkan kitab pusaka itu
atau belum?” tanya Thian-san Siu-sin pula.
“Walaupun aku sudah mendapat ilmu ajaran It Bi siansu, tetapi..... ” Thian-leng
mengerutkan alis.
Suami isteri Im Yang songsat dan paderi Ko Bok yang masih duduk di tanah,
mengerang
kaget mendengar kata-kata si anak muda. Serentak Thian-san Siu-sin menyeletuk,
“Siansu , apakah....?”
“Aku sudah bersumpah di hadapan layon It Bi siangjin untuk menjadi murid
pewaris angkatan kedua, maka................. ”
“Oh, jadi tadi Bu Beng tayhiap telah menggunakan ajaran It bi-bu-cui?” Thian-san
Siu-sin berseru kaget.
Thian-leng seorang pemuda yang jujur. Karena melihat keramahan Thian-san Siusin, iapun menjawab dengan terus terang. Tetapi di luar dugaan, sekonyongkonyong Thian-san Siu-sin memukulkan kedua tangannya. Seluruh tenaganya
ditumpahkan dalam pukulan dahsyat yang di arahkan ke dada si anak muda!
Berbareng dengan itu Tiang Pek cinjin segera bergerak secepat kilat menyerang
punggung Thian-leng. Dua tokoh kenamaan, pada jarak yang dekat dan waktu
yang bersamaan telah menyerang dengan seluruh tenaganya. Bagaimana
akibatnya benar-benar tak dapat dibayangkan!
Thian-leng kaget sekali. Di luar kesadarannya, rasa kaget itu telah membangkitkan
tenaga dalam. Dua hari belajar dalam goa rahasia telaga zamrud benar-benar
membuat Thian-leng seorang manusia baru. Kini ia telah memiliki semacam
tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi, sehingga setiap saat daapt
dikembangkan. Serangkum hawa hangat serentak menghambur dari tubuhnya.
“Uh….” terdengar jeritan tertahan dari kedua orang itu ketika pukulan mereka
terpental oleh tenaga dorongan yang tak tampak. Dan serentak dengan itu, Thianleng pun membalas. Ia memukul Thian-san Siu-sin dengan pukulan Lui-hwe-ciang
dan menebas Tiang Pek cinjin dengan ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam.
Terdengar jeritan ngeri dari tiga sosok tubuh yang terlempar sampai setombak
jauhnya. Tiang Pek cinjin pecah perutnya, ususnya berhamburan keluar. Thiansan Siu-sin terkapar di tanah tanpa berkutik lagi. Dan yang ketiga ialah paderi Ko
Bok yang remuk lengannya.
Waktu melihat Thian-san Siu-sin dan Tiang Pek cinjin menyerang Thian-leng, ia
yakin anak muda itu tentu akan terbekuk dan kitab pusaka pasti jatuh ke tangan
kedua tokoh itu. Dalam keadaan lengannya masih kesemutan, ia tetap bernafsu
untuk ikut merebut kitab.
Segera ia menghantam Thian-leng dengan tinju kirinya. Tetapi akibatnya
mengerikan sekali. Thian-leng berputar dan menyongsong dengan pukulan.
Tubuh paderi Ko Bok laksana layang-layang putus talinya, ia terlempar sampai
setombak lebih. Separoh badan gosong, tulang remuk dan jiwanyapun
melayang….
Sepasang suami isteri Im Yang songsat menjerit ngeri dan mundur beberapa
langkah. Thian-leng memandang terlongong-longong ke arah ketiga mayat yang
menjadi korbannya itu. Ia benar-benar seperti bermimpi………….
“Adik Bun, apakah ….. ini benar-benar terjadi?” beberapa saat kemudian ia
bertanya.
Siau-bun tertawa sedap.”Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, kau sudah
tergolong jago nomor satu atau dua dalam dunia persilatan! Kau tentu sudah
mengetahui apa manfaat pelajaran yang kau yakinkan dalam dua hari itu!”
Di luar dugaan Thian-leng malah menghela napas dan segera mengajak Siau-bun
berjalan. Ia tak tahu apakah ia harus bergembira atau bersedih. Apa yang dicitacitakan selama ini telah tercapai. Seharusnya ia bergembira, tetapi entah
bagaimana terharu sekali. Hampir tak dapat ia menahan air matanya.
“Ah, masih ada dua orang pengganggu lagi!” tiba-tiba Siau-bun berseru seraya
melirik kepada sepasang suami isteri Im Yang songsat yang berlumuran darah.
Thian-leng tak setuju atas tindakan Siau-bun yang sering main bunuh orang. Ia tak
mau mengganggu jiwa suami isteri itu. Tiga jiwa tadi sudah cukup mengerikan.
“Eh, apa mereka mau melepaskan engkau?” Siau-bun tertawa ketika Thian-leng
hendak melanjutkan langkah.
“Sudah tiga jiwa melayang, apakah……” belum lagi ia menyelesaikan katakatanya, kedua suami isteri Im Yang menghampirinya. Bluk…, serta merta kedua
suami isteri ganas itu berlutut di hadapan Thian-leng.
“Silakan pergi, aku bukan orang yang suka mengganas!” Thian-leng berseru
heran.
Kedua suami isteri itu saling berpandangan. Si wanita berseru, “Kami berdua
sekali-kali bukan takut mati. Tetapi kami mohon Bu Beng tayhiap suka menerima
kami.”
“Menerima apa? Sebagai murid?” Thian-leng heran. Ia duga kedua suami isteri itu
masih tak mau mundur untuk mencari kitab pusaka.
Yang-sat Go Goan-pa cepat berseru, “Seumur hidup kami suami isteri belum
pernah tunduk pada orang lain, tetapi terhadap Bu Beng tayhiap kami benar-benar
kagum sekali. Mohon Bu Beng tayhiap suka menerima kami sebagai budak. Kami
rela melayani tayhiap
seumur hidup!”
“Ah jangan!” buru-buru Thian-leng berseru, “aku masih muda dan masih
mempunyai tugas berat. Aku tiada tempat tinggal menentu dan tak mau kuseret
kalian turut menderita. Dan yang ketiga......”
“Jika tayhiap menolak, lebih baik kami bunuh diri saja...” tiba-tiba kedua suami
isteri itu menukas dan berbareng bersikap hendak menghantam ubun-ubun
kepala mereka.
“Tunggu!” Thian-leng cepat mencegah, “kita bicara dulu!” Ia berpaling kepada
Siau-bun dan menegur, “Adik Bun, mengapa tak mau mencegah mereka?”
Nona itu tertawa menyengir,”Segala urusan aku bersedia memberi pendapat,
kecuali dalam hal ini,” ia deliki mata kepada anak muda itu, serunya lebih
lanjut,”Mereka menyatakan bersungguh hati hendak menghamba, menerima atau
tidak terserah padamu. Jika kukatakan supaya ditolak saja, mereka tentu akan
mendendam padaku, hal ini.....”
“Nona mengerti jelas, “buru-buru suami isteri itu menghadap ke arah Siau-bun,
“bahwa kami bersungguh hati hendak menjadi hamba tayhiap. Kami harap
bantuan nona untuk menganjurkan tayhiap supaya sudi menerima permintaan
kami. Dahulu kami telah bersumpah, kalau tak dapat menjadi jago nomor satu di
dunia, kami rela menjadi budaknya saja atau lebih baik mati!”
“Telah kukatakan,” Siau-bun tertawa sinis, “aku tak mau campur urusan ini. Lebih
baik kalian langsung menanyakan padanya, mungkin....... Bu Beng tayhiap bukan
orang yang suka mengecewakan harapan orang, mungkin saja......” ia tertawa.
Dengan girang kedua suami isteri itu segera mendesak Thian-leng pula.
“Aku mempunyai kesulitan yang sukar kukatakan,” akhirnya Thian-leng menyahut.
Yang-sat Go Goan-po menghela napas panjang. “Ah, kalau begitu, hambapun tak
berani memaksa. Ah,…” ia berpaling kepada isterinya, “kita terpaksa harus
melaksanakan sumpah kita dahulu!”
Sahut si isteri Im-sat dengan menghela napas, “Apa boleh buat, kita tak dapat
berbuat apa-apa!”
“Yang jelek adalah nasib kita,” kata Yang-sat Go Goan-po dengan nada rawan, ia
mengangkat tinjunya lagi ke atas. “Selamat tinggal isteriku, kutunggu kau di pintu
akhirat!” Ia segera ayunkan tinjunya.
Benar-benar Thianleng kaget tak terkira. Ia tak mau melihat korban yang keempat.
Tanpa disadari, ia ulurkan tangannya menyambar lengan Yang-sat Go Goan-po.
Go Goan-po meronta-ronta, “Lepaskan tayhiap, karena tayhiap tak mau menerima
permintaan kami lebih baik kami mati saja. Apa artinya kami hidup di dunia lagi,
lebih baik…..” ia meronta-ronta seperti orang kalap hendak bunuh diri.
“Mengapa kau begitu keras kepala. Ketahuilah kalau kalian ikut padaku, lebih
banyak menderita daripada bahagia.... ”
“Tetapi itu sudah menjadi sumpah kami. Untung celaka kami sudah bersedia!” si
wanita Im-sat menyeletuk.
Kembali Thian-leng memandang ke arah Siau-bun, tapi nona itu hanya tertawa
mengikik tak mengacuhkan. Akhirnya Thian-leng mengalah, “Baiklah, kuterima
permintaan kalian, tetapi.......... ” tiba-tiba ia berobah nada bengis, “Lebih dahulu
kalian harus berjanji tak boleh melakukan kejahatan lagi. Segala hal harus
berunding padaku......... ”
“Sudah tentu hamba tak berani bertindak sendiri. Dalam segala hal, biar kecil
maupun besar tentu akan menjalankan perintah tuan!” buru-buru kedua suami
isteri itu menyatakan.
Thian-leng menghela napas. Terpaksa ia menerima kedua suami isteri itu menjadi
budaknya, walaupun sebenarnya ia tak suka.
“Aku harus memberi selamat padamu......” Siau-bun tertawa, “pertama atas
pengangkatanmu sebagai ketua partai pengemis dan kini mendapat pengabdian
dari dua orang tokoh berilmu……..”
“ Kau harus memaklumi keadaanku………..” Thian-leng tertawa meringis dan terus
melanjutkan langkah. Siau-bun dan kedua suami isteri Im Yang song-sat
mengikuti.
Di luar lembah rombongan pengemis yang dipimpin Lau Gik-siu tentu akan
menyambut kedatangannya dengan gembira. Demikian pikir Thian-leng. Tetapi
ternyata ia tak melihat barang seorangpun pengemis.
“Lau tongcu....Lau ......tong....cu,” demikian Thian-leng meneriaki Lau Gik-siu.
Tetapi suaranya tak menyahut, orangpun tak tampak.
Thian-leng gelisah.
“Eh, mengapa kau ini?” tegur Siau-bun.
“Sebagai ketua kaypang, aku belum pernah mendirikan jasa apa-apa terhadap
partai. Kini kelihatannya malah membuat mereka tertimpa bahaya. Bukankah
perbuatanku ini merugikan Kay-pang?” Thian-leng membanting-banting kaki.
“Bagaimana kau tahu mereka terancam bahaya?” Siau-bun balas bertanya.
“Kalau tidak terserang bahaya, mengapa mereka tak berada di sini?”
Siau-bun tertawa, “Sudah dua hari kita meninggalkan tempat ini. Apakah kau kira
mereka mau menunggu di sini? Siapa tahu mereka sudah pulang ke sarangnya!”
“Ah, kau tak mengetahui tata tertib Kay-pang!” Thian-leng penasaran, “ketua
memerintahkan mereka menunggu di sini, biarpun menghadapi bahaya apa saja,
mereka tentu tetap menunggu di sini. Itulah sebabnya....”
“Sekalipun benar mereka tertimpa bahaya, apakah penyesalanmu ini dapat
menolong ? Apalagi di sekitar sini tiada terdapat sesosok mayatpun. Juga tidak
ada tanda-tanda bekas pertempuran.” sejenak Siau-bun memandang Thian-leng
dengan tajam, serunya pula, “Mungkin mereka ditipu anak buah Sin-bu-kiong
supaya pergi ke lain tempat atau mungkin anak buah Kay-pang itu memang sudah
tertangkap musuh. Tak perlu bingung-bingung, yang penting kita harus mencari
jejak mereka!”
Thian-leng tergerak hatinya. Tiba-tiba ia menarik tangan si nona terus diajak
berlari menuju ke tempat barisan partai Thiat-hiat-bun.........
Penyesalan.
Kini Thian-leng bukanlahThian-leng pada dua hari yang lalu. Betapapun Siau-bun
dan kedua suami isteri Im Yang song-sat hendak menyusul, tetapi tetap
ketinggalan beberapa tombak di belakang anak muda itu.
Pada saat itu barisan partai Thiat-hiat-bun terlihat. Teganglah hati Thian-leng.
Sekalipun masih terpisah pada jarak puluhan tombak, tetapi Thian-leng dapat
melihat jelas. Sesaat kemudian Siau-bun dan Im Yang song-satpun tiba.
Merekapun mengetahui apa yang telah terjadi di dalam barisan Thiat-hiat-bun saat
itu.
Tokoh-tokoh sakti dari partai Thiat-hiat-bun, Sin-bu-kiong dan Hek Gak, semua
lengkap berkumpul di tengah lapangan.
Dari wajah mereka terlihat rupanya mereka sedang menghadapi suatu masalah
berat. Tiba-tiba Thian-leng dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang
mengherankan. Si gendut Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi berada di samping
Tokko Sing ( algojo Hek Gak).
“Adik Bun, bukankah Bok cianpwe telah kau beri minum pil? Mengapa dia.......”
baru Thian-leng bertanya dengan ilmu menyusup suara, Siau-bun sudah
menukas. “Mestinya pil itu dapat menyembuhkan ingatannya yang linglung. Hanya
ada dua kemungkinan. Dia telah diberi racun ganas, atau entah diapakan oleh
ketua Hek Gak!”
Thian-leng menghela napas. Kalau ketua Hek Gak benar-benar telah merusak urat
syaraf jago tua itu, sukarlah untuk menyembuhkannya lagi.
Ketiga partai yang hadir di lapangan itu tak kurang dari dua tiga ratus orang
banyaknya. Sekalipun belum ada tanda-tanda petempuran tetapi suasananya
tegang sekali.
“Telah membuat saudara menunggu sampai dua hari dua malam. Sekarang ......
apakah hendak bubaran?” tiba-tiba Jenggot perak Lu Liang-ong berseru.
Sin-bu Te-kun segera menggembor, “Lu loji, tak kuhiraukan segala apa lagi
kecuali hendak bertempur denganmu. Di dunia persilatan hanya terdapat satu,
ada Thiat-hiat-bun tak ada Sin-bu-kiong, ada Sin-bu-kiong tak ada Thiat-hiat-bun!”
Lu Liang-ong tertawa acuh tak acuh, “Oh, jadi kedatanganmu ke gunung Thayheng-san sini untuk hal itu?”
Sin-bu Te-kun terbeliak diam. Matanya berkeliaran menyapu ke sekeliling.
Dilihatnya rombongan Hek Gak hadir lengkap. Agak legalah hati Sin-bu Te-kun.
“Apakah maksud kedatanganku kemari, tak perlu kauresahkan. Yang jelas,
sekarang kita selesaikan dulu persoalan kita!” serunya dengan dingin.
“Bagaimana dengan kitab pusaka It Bi siangjin? Tidak kuatir didahului orang lain?”
Jenggot perak tertawa mengejek.
“Dengarlah!” seru Sin-bu Te-kun dengan suara mantap, “sekalipun orang yang
mempunyai peta telaga zamrud itu sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka,
tetapi jangan harap dia bisa lolos dari gunung ini!”
Ucapan itu mengandung maksud bahwa Sin-bu Te-kun telah memerintahkan anak
buahnya untuk menghadang semua jalan di Thay-heng-san. Karena ketua Hek
Gak juga mempunyai kepentingan dalam memburu kitab itu, ia hanya mendengus
saja. Rupanya ia mempunyai rencana juga.
Jenggot perak Lu Liang-ong tetap ganda ketawa, “Berulang kali kukatakan, aku tak
bermaksud bermusuhan padamu. Juga telah kujanjikan akan membantumu dalam
rapat tokoh persilatan nanti supaya kau berhasil melaksanakan cita-citamu. Tetapi
eh, mengapa kau selalu bersikap memusuhi aku saja?”
“Hm, aku sudah kenyang makan tipu muslihatmu! Jangan harap kau dapat
meninabobokan aku lagi!” Sin-bu Te-kun menggerung.
“Jadi kau tetap hendak bermusuhan dengan Thiat-hiat-bun?”
“Sedikitpun tak salah!”
“Jika tak dapat menahan diri dalam urusan kecil, tentu akan menderita kerugian
dalam urusan besar. Apakah kau tak akan menyesal?”
Sin-bu Te-kun benci setengah mati kepada ketua Thiat-hiat-bun itu. Seolah-olah
kalap hendak menempur Thiat-hiat-bun. Tetapi di kala mendengar penegasan Lu
Liang-ong itu hatinya berdebar keras.
Di sampingnya ialah Kongsun Bu-wi, ketua Hek Gak yang berambisi besar. Bukan
saja dia hendak memburu kitab pusaka, tetapi juga hendak merebut kedudukan
kepala dunia persilatan. Jika ia bertempur dengan ketua Thiat-hiat-bun, tentulah
keduanya menderita kehancuran. Dan...ah..... siapa lagi yang akan memperoleh
keuntungan kalau tidak ketua Hek Gak yang licin dan ganas itu....
“Aku bertekad hendak menempur Thiat-hiat-bun, bagaimana dengan saudara
Kongsun......”, baru ia hendak mencari penegasan pada Kongsun Bu-wi, ketua Hek
Gak itu sudah menegas,”Aku bersedia berdiri di belakangmu saudara Ki!”
Diam-diam ketua Hek Gak itu girang dan mengharapkan agar Sin-bu-kiong lekas
bertempur dengan Thiat-hiat-bun. Kebalikannya hati Sin-bu Te-kun seperti disiram
air. Kemarahannya pun mereda. Kalau toh hendak bertempur, paling tidak ia harus
menarik supaya pihak Hek Gak ikut serta dengan serempak.
Rupanya jenggot perak dapat membaca isi hati kedua tokoh itu. Tiba-tiba ia
berseru dengan nada bengis, “Aku si orang tua tak suka ribut-ribut, kalau kalian
memang belum mengambil keputusan, silakan merundingkan kembali!” Habis
berkata ia memberi isyarat dengan kebutan lengan baju. Jago-jago Thiat-hiat-bun
yang terdiri dari empat su-kiat, tigapuluh enam Thian-kong dan tujuhpuluhdua Tesat segera pecahkan diri dalam dua formasi deretan. Mereka berjajar mengawal
ketuanya.
Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak terkejut. Merekapun segera memberi isyarat
kepada anak buahnya supaya bersiap. Rombongan jago Sin-bu-kiong dan Hek
Gak segera berbondong-bondong merintangi rombongan Thiat-hiat-bun.
Jenggot perak tertawa meloroh. Ia mengebutkan lengan bajunya lagi dan
rombongan anakbuahnya segera berhenti. Gerakan mereka rapih sekali. Jelas
mereka telah terlatih baik. Seratus orang lebih dapat bergerak dengan serempak.
“Lu loji, aku tak sudi menelan tipumu lagi. Barisanmu itu mungkin tak sempat mainmain lagi di hadapanku!” seru Sin-bu Te-kun.
“Andaikan barisan itu hancur, tetap kau ini kuanggap sepi....” seru Lu Liang-ong
sambil menatap tajam kepada Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak. “Kita akan
bertempur satu lawan satu atau secara keroyokan? Silakan kau memilih, kalau
tidak.......ah, aku tak punya waktu lagi menemani kalian! ”
“Kau mau pergi?” seru Sin-bu Te-kun.
“Tidak semudah itu kawan!” ketua Hek Gak pun menambahi.
Namun Jenggot perak tetap sabar, serunya,“Kalau begitu harap kalian segera
mengatakan caranya bertempur. Aku si orang tua tentu takkan mengecewakan
harapan kalian!”
“Aku mempunyai rencana, entah saudara Kongsun.... ” kata Sin-bu Te-kun kepada
ketua Hek Gak.
“Thiat-hiat-bun berani masuk ke wilayah Tionggoan, tentu tak bermaksud baik..... ”
“Salah!” Jenggot perak menukas. “Penyelenggaraan rapat orang gagah itu adalah
sebagai suatu penghormatan kepada ksatria-ksatria Tionggoan...... ” ia tertawa.
“Tetapi sayang, di antaranya masih terdapat tokoh yang tak kupandang sebelah
mata. Yang satu dari Sin-bu-kiong dan yang satu dari Hek Gak!”
Bukan kepalang marahnya Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak. Seru Sin-bu Te-kun
kepada ketua Hek Gak, “Kita berdua masing-masing menempur si Lo tua itu satu
jurus, kemudian .... silakan cong-houhwat Ang-tim gong-khek ( Bok Sam pi)
menempurnya sejurus. Jadi tua bangka itu harus bertempur tiga jurus. Kalau dia
kalah dua jurus...... ”
Sengaja kata-kata itu diucapkan dengan keras agar Jenggot perak mendengar.
Sebelum selesai, Jenggot perak sudah menukas, “Jika aku si tua ini sampai kalah
dua kali, aku segera meninggalkan Tionggoan dan Thiat-hiat-bun takkan muncul
lagi di masyarakat.....
Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Aku setuju dengan cara itu,
tetapi….bagaimana kalau aku yang menang?”
Sin-bu Te-kun gelagapan. Buru-buru ia berpaling kepada ketua Hek Gak,
“Bagaimana pendapat saudara Kongsun?”
Sebenarnya ketua Hek Gak tak menyetujui usul Sin-bu Te-kun. Tetapi ia tiba-tiba
mendapat pikiran. Ia merasa kepandaiannya masih kalah dengan Sin-bu Te-kun.
Ia harus mengadu Sin-bu Te-kun dengan Jenggot perak. Andaikata Sin-bu Te-kun
yang menang, ia akan mengajukan gurunya. Tetapi kalau Jenggot perak yang
menang, ia nanti akan mencari alasan untuk membatalkan perjanjian.
Tertawalah ia dengan sinis, “Lo tua berjanji akan pergi dari Tionggoan kalau
sampai kalah. Kitapun juga demikian. Kalau sampai kalah, kita harus
mengasingkan diri takkan muncul lagi di dunia persilatan. Adil bukan?”
Jenggot perak mengangguk-angguk tertawa puas, “Aku tak berani meminta lebih
dari itu. Perjanjian itu kita resmikan……..” ia mengisar maju selangkah, serunya,
“Aku si orang tua harus menghadapi tiga lawan. Siapakah yang lebih dulu hendak
menjadi lawanku?”
Cepat ketua Hek Gak menyahut, “Nama Sin-bu-kiong sudah termasyhur di dunia
persilatan, sudah tentu aku tak berani melancangi!”
Diam-diam Sin-bu Te-kun mendamprat kelicikan ketua Hek Gak. Namun iapun
sgera melangkah ke hadapan jago Thiat-hiat-bun, serunya, “Baiklah, aku akan
mohon sejurus pelajaran darimu!”
Dalam kitab pusaka Im-hu-po-kip, ilmu jari Hiat-im-ci termasuk yang paling hebat
sendiri. Dan ilmu itu telah dilatihnya dengan sempurna. Apabila kelima jarinya
digerakkan, hebatnya bukan kepalang. Betapapun lihaynya Jenggot perak, pun
tentu akan kalah.
Sin-bu Te-kun menutup kata-katanya dengan sebuah jurus jurus Ngo-hian-ki-hwat
atau lima jari serentak menyambar. Jenggot perak tertawa. Ia menamparkan
tangannya ke kanan. Tar..........
Keduanya adalah tokoh kelas satu. Gerakan mereka cepat dan dahsyat. Dalam
lingkungan satu tombak, bumi terasa bergetar! Tetapi ketika kedua jago itu belum
beradu pukulan, sekonyong-konyong terdengar lengking bentakan orang, “Tahan!”
Sesosok tubuh menyela di tengah kedua tokoh itu. Jenggot perak dan Sin-bu Tekun serentak menyurut mundur beberapa langkah. Seorang pemuda berbaju biru
tegak berdiri dengan gagahnya. Jenggot perak girang, Sin-bu Te-kun terkejut dan
sekalian orang berteriak kaget. Itulah Thian-leng!
Mereka melihat gerakan pemuda itu jauh bedanya dengan dua hari yang lalu.
“Hai budak, apakah kau hendak melanjutkan pertempuran kita lagi?” teriak Sin-bu
Te-kun.
“Benar, memang aku hendak melanjutkan pertempuran kita yang belum selesai
itu,” seru Thian-leng.
Sin-bu Te-kun membelalakkan matanya, “Eh”, rupanya dalam dua hari ini
kegagahanmu bertambah……”
“Tahu sendiri sajalah, ” Thian-leng tertawa dingin, lalu memberi hormat kepada
Jenggot perak, “Wanpwe telah berjumpa .....”
Maksudnya hendak menjelaskan tentang si dara Lu Bu-song, tetapi Jenggot perak
segera menukas dengan ilmu menyusup suara, “Mengapa kau mengganggu
pertempuranku dengan iblis tua ini?”
Thian-leng menyahut juga dengan ilmu menyusup suara, “Wanpwe hendak
mewakili....”
“Mana kau sanggup menandinginya?”
“Terus terang, wanpwe telah mendapatkan ilmu ajaran It Bi siangjin!”
Jenggot perak tersentak kaget, “Apakah kitab itu ada padamu?”
“Tidak, pelajaran itu dilukis di tembok!”
“Tetapi kau hanya belajar dua hari, mana dapat mempelajari dengan mahir?”
Jenggot perak menegas, walaupun tadi telah diketahui jelas betapa jauh bedanya
gerakan pemuda itu sekarang.
“Harap locianpwe jangan kuatir, wanpwe sanggup menandinginya,” sahut Thianleng dengan yakin.
“Baik, cobalah,” Jenggot perak tertawa riang.
Di antara sekalian orang yang berada di situ, adalah Ang-tim gong-khek Bok Sampi yang paling tegang. Ia masih ingat ketika di dalam Hek Gak dijatuhkan oleh
anak perempuan kawan pemuda itu.
Segera ia hendak melangkah maju, tetapi ketua Hek Gak cepat-cepat
membisikinya. Bok Sam-pi terpaksa menahan kemarahannya.
Di manakah Siau-bu dan kedua suami isteri Im Yang song-sat? Ternyata mereka
bersembunyi untuk menunggu perkembangan.
Sebagai seorang tokoh yang berpengalaman. Sin-bu Te-kun sudah menaruh
kecurigaan atas sikap Thian-leng yang begitu garang. tentu pemuda itu telah
mendapat apa-apa yang luar biasa. Namun ia tak percaya bahwa hanya dalam
dua hari saja, pemuda itu dapat berganti tulang. Bagaimanapun ia tentu dapat
menguasainya.
“Lu tua, hendak menerencanakan apa kau dengan budak hina itu? Bagaimana
dengan acara kita?” tegurnya ketika melihat Jenggot perak bertukar cakap dengan
Thian-leng.
Jenggot perak tertawa, “Aku hendak menarik diri!”
“Menarik diri?” Sin-bu Te-kun terkejut, “hai, apakah kau menyesal karena takut
mati di tangan orang Sin-bu-kiong?”
“Kuwakilkan pada anak muda ini, aku cukup menonton di samping saja.” sahut
Jenggot perak.
“Budak itu?” Sin-bu Te-kun tertawa mengejek.
“Iblis tua, jangan temberang!” bentak Thian-leng seraya melangkah maju.
“Baiklah, takkan kutolak maksudmu, tetapi....” Sin-bu Te-kun tertawa. Ia berkata
kepada ketua Hek Gak, “dengan anak itu aku mempunyai taruhan seratus jurus.
Masih sepuluh jurus belum selesai. Maksudku hendak menyelesaikan perjanjian
itu, baru kemudian memberesi Lu tua.......”
“Terserah saja pada saudara Ki, aku menurut,” tukas ketua Hek Gak. Justru itulah
yang dikehendakinya. Serentak ia mundur ke samping.
Sin-bu Te-kun membuat garis lingkaran lagi di tanah, kemudian ia berdiri di
tengah-tengahnya. “Budak, ayo seranglah!”
“Aku tak sudi bertanding dengan cara begitu lagi!” Thian-leng tertawa hina.
“Apa ? Kau hendak menunda lagi?” teriak Sin-bu Te-kun gusar.
“Sama sekali tidak! Aku menghendaki pertempuran secara adil!”
“Adil?”
“Benar, kita adu pukulan atau senjata secara berimbang!”
“Kau gila!” teriak Sin-bu Te-kun.
Thian-leng berseru nyaring, “Di hadapan sekalian orang gagah pada malam ini,
jika dalam sepuluh jurus aku kalah, aku akan tetap melaksanakan perjanjian
tempo hari. Tetapi jika kau yang kalah, janganlah menyesal!“
Sin-bu Te-kun mengerutkan alis. Tak habis herannya melihat sikap pemuda itu,
tetapi cepat ia merobah dugaan. Kemunculan Thian-leng dalam gerakan yang
sebat sekali tadi dan kasak-kusuknya dengan Jenggot perak, tentu mengandung
sesuatu yang luar biasa.
Tetapi betapapun juga, hanya dalam dua hari saja masakah pemuda itu dapat
berobah menjadi sakti sekali. Andaikata Thian-leng benar-benar telah
mendapatkan warisan kitab pusaka It Bi siangjin, pun dalam waktu dua hari saja
apa yang dapat dicapainya.
“Baik, baik, aku menurut saja kehendakmu budak!” ia segera tertawa mengejek.
Segera ia melangkah keluar dari garis lingkaran , serunya, “Seranglah!”
Thian-leng mendengus hina, “Hm, iblis tua, jangan sombong kau, hati-hatilah!”
Peringatan itu ditutup dengan sebuah gerakan menampar. Tamparan itu
menggunakan jurus Lui-hwe-ciang. Jurus yang sudah diketahui jelas oleh Sin-bu
Te-kun. Karena waktu pertandingan sembilan pulu jurus yang lalu, tanpa balas
menyerang, Sin-bu Te-kun dapat menghindari seluruh serangan Lui-hwe-ciang
dari Thian-leng.
“Oho, permainan lama kau keluarkan lagi. Apakah kau sudah bosan hidup....
”ejeknya. Ia yakin sekali gerak tentu dapat memunahkan serangan anak muda itu.
Ia hendak membunuh pemuda itu. Maka sekali gerak ia menggunakan ilmu Kinna-chiu.
Pil Pahit!
Kin-na-chiu adalah ilmu tangan kosong untuk merampas senjata atau meringkus
lawan. Sin-bu Te-kun sekali gerak hendak mencengkeram lengan kanan Thianleng. Tetapi baru tangannya bergerak setengah jalan, ia terkejut. Ia merasakan
jarinya seperti tercengkam api dan lengannya seperti dirayapi aliran tenaga panas
yang menyerang dadanya…
Sebagai seorang tokoh sakti, ia cukup paham apa artinya itu. Nyata kepandaian
anak muda itu sepuluh kali lipat dari yang dulu! Ya, memang demikianlah. Ilmu
Lui-hwe-ciang memang dapat membakar hangus organ dalam tubuh orang dan
dapat memusnahkan tenaga lawan.
Gerakan Kin-na-chiu Sin-bu Te-kun tadi telah menimbulkan reaksi hebat. Dia
seperti membentur tenaga membalik yang hebat, sehingga di luar kehendaknya,
tubuhnya terhuyung. Untunglah ia cepat-cepat loncat ke samping. Karena
gerakannya itu secepat angin, maka pukulan Thian-leng menghantam tempat
kosong dan……… Bum. Sebuah batu besar yang berada beberapa langkah di
sebelah depan berguguran hancur. Dan serentak dengan itu berhembuslah angin
panas keseluruh penjuru. Sekalian orang sama terkejut!
Pukulan Thian-leng itu memancarkan hawa panas. Sedemikian panasnya hingga
batupun berguguran lumer.
“Budak, dalam dua hari ini apa yang kau ketemukan?” teriak Sin-bu Te-kun
dengan wajah pucat.
Thian-leng sendiri juga terkejut atas hasil pukulannya itu. Hampir ia sendiri tak
percaya. Memang yang dilancarkan itu ialah pukulan Lui-hwe-ciang ( api geledek).
Tetapi perbawanya jauh sekali bedanya dengan yang dulu.
“Tak perlu kau tanyakan..........”
“Jurus kesatu....................!” Jenggot perak tertawa menghitung.
“Ya, masih ada sembilan jurus lagi. Dan kali ini silakan kau yang menyerang dulu!”
seru Thian-leng.
Sin-bu Te-kun masih tercekam dalam keheranannya. Ia sudah terlanjur
mengumbar kata-kata besar. Terpaksa ia harus bertindak. Setelah menenangkan
semangat, ia mengembor dan mendorongkan kedua tangannya.
Itulah baru pertama kali ia menggunakan pukulan dalam kitab pusaka Im-hu-pokip dengan sepasang tangan. Biasanya dengan satu tangan saja, cukuplah ia
mengalahkan lawan. Kali ini ia gemas sekali.
Tetapi Thian-leng sudah mendapat kepercayaan atas kemampuannya. Iapun juga
segera menyongsong dengan kedua tangannya. Dess…….. ketika dua pasang
tinju saling beradu, bukan ledakan keras yang terdengar, melainkan suara
mendesis macam api tersiram air. Tinju mereka saling melekat. Sampai lama
barulah mereka sama menarik diri, menyurut tiga langkah ke belakang.
“Dua!” kembali jenggot perak menghitung.
Wajah Sin-bu Te-kun pucat seperti kertas. Darahnya serasa bergolak. Matanya
berkunang-kunang gelap. Bumi yang dipijaknya serasa berputar, bluk, akhirnya ia
jatuh ke tanah.
Juga Thian-leng tak kurang penderitaannya. Wajahnya menguning pucat,
darahnya bergolak dan hampir saja ia rubuh. Untunglah ia dapat
mempertahankan diri. Setelah menyalurkan napas beberapa saat, ia sudah pulih
kembali.
Maju lagi ke muka Sin-bu Te-kun, ia menantang , “Ayo, serang lagi!”
Adu tenaga tadi menghasilkan keduanya sama-sama menderita luka dalam.
Seharusnya mereka perlu beristirahat beberapa saat untuk memulihkan diri.
Bahwa Thian-leng dalam beberapa kejap saja sudah berani menantang lagi,
benar-benar mengejutkan orang.
Bahkan Sin-bu Te-kun sendiri juga seperti melihat hantu di siang hari. Ia mundur
beberapa langkah.....
“Iblis tua, masih delapan jurus lagi, ayo silakan menyerang lagi!” seru Thian-leng.
Sin-bu Te-kun paksakan tertawa, “Aku hendak mengajukan sebuah usul...”
“Katakan!” Thian-leng heran.
“Sisa delapan jurus supaya ditangguhkan dulu, karena........ kaupun pernah
meminta begitu!” kata Sin-bu Te-kun dengan kemalu-maluan.
Thian-leng kaget. Jelas bahwa sekarang Sin-bu Te-kun jeri padanya. Sebenarnya
ia ingin
menghancurkan si iblis saat itu juga. Tetapi dulu ia pernah mengajukan usul
begitu. Di hadapan sekalian orang gagah, terpaksa ia meluluskan usul Sin-bu Tekun.
“Baiklah, aku setuju. Pergilah........!” akhirnya ia memberi jawaban.
(bersambung ke jilid 21)
Jilid 21 .
Sin-bu Te-kun seperti jago yang keok. Tetapi dari kerut di wajahnya, ia tetap
menyungging senyum misterius. Ia tak mau segera angkat kaki, tetapi masih
bertanya pula, “ Aku masih hendak bertanya lagi!”
“Silakan!”
“Dalam dua hari ini, kau memperoleh apa saja?”
“Ini......”
“Suatu rahasia yang tak dapat kau katakan?” Sin-bu Te-kun menegas.
Thian-leng tertawa menghamburkan kemarahannya. “Aku tak takut mengatakan
padamu. Dengarlah! Aku sudah memperoleh ajaran It Bi siansu!”
Kejut Sin-bu Te-kun seperti disambar petir sehingga ia terhuyung-huyung dua
langkah ke belakang. Juga sekalian orang yang hadir di situ, kecuali Jenggot
perak Lu Liang-ong, memekik kaget.
“Kau sudah menyebut dirimu sebagai muridnya?” seru Sin-bu Te-kun.
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun tertawa gelak-gelak, “Baiklah, hari ini aku mengaku kalah.
Sisa yang delapan jurus lagi, kutunggu kedatanganmu di istana Sin-bu-kiong.
Tetapi apabila kau tak datang, tetap akan kucari engkau kemanapun.!”
“Hm, sekalipun tanpa pertadingan seratus jurus itu, akupun akan tetap hendak
menuntut balas untuk Oh se-Gong-mo cianpwe. Sin-bu-kiong akan kuratakan
dengan tanah!”
Sin-bu Te-kun tak mau banyak bicara lagi. Ia memutar tubuh lalu melesat pergi
tanpa mengucapkan apa-apa kepada ketua Hek Gak. Rombongan orang Sin-bukiongpun segera mengikuti.
Kepergian mereka diantar oleh gelak tertawa Jenggot perak yang dalam
keheningan malam seperti menyambar-nyambar di angkasa. Puas tertawa, ia
menegur ketua Hek Gak, “Eh, Kongsun loji, kaupun seharusnya angkat kaki juga!”
“Tidak!” di luar dugaan, ketua Hek Gak tertawa sinis.
Jawaban itu membuat Jenggot perak terbeliak, “Jadi kau tetap hendak
bertanding?”
Ketua Hek Gak menyahut dengan congkak, “Kiranya belum perlu kuturn tangan
sendiri!”
Kini sadarlah Jenggot perak, “Hm, kau pintar sekali memainkan swipoamu,
tetapi…..”
“Cong-hou-hwat!” ketua Hek Gak serentak berteriak memanggil Ang-tim-gongkhek Bok Sam-pi.
“Ya!” Bok Sam-pi cepat tampil ke muka. Saat itu ia sedang dirangsang oleh
pembius ingatan. Matanya berapi-api, tetapi terhadap ketua Hek Gak ia bersikap
patuh.
Thian-lengpun sadar. Ketua Hek Gak tak berani menghadapinya, tetapi hendak
menyuruh Bok Sam-pi yang maju.
“Hajar budak kurang ajar itu!” tiba-tiba ketua Hek Gak memberi perintah, “tetapi
ingat, hanya boleh bertempur satu jurus. Tanpa perintah, jangan lanjutkan jurus
kedua!”
“Hamba mengerti!” sahut Bok Sam-pi.
Dengan perutnya yang buncit, jago tua itu loncat ke depan Thian-leng, bentaknya,
“Mana budak perempuan itu?”
Thian-leng tertegun, serunya, “Perlu apa kau tanyakan dia?”
“Aku hendak menuntut balas padanya. Ia berani menghina aku!”
Thian-leng tertawa dingin, “Kalahkan dulu aku baru kau dapat menemuinya. Jika
tidak, selakan kau tunggu di pintu akhirat saja!”
Marah Bok Sam-pi bukan kepalang, sehingga gelap seperti besi. Ia mengulurkan
tangan kanannya. Telapak tangannya yang bundar seperti kipas mulai diangkat ke
atas.
Seketika daun-daun pada gerombol pohon yang terpisah dua tombak jauhnya
sama berderak-derak bergoncangan keras.
Diam-diam Thian-leng terkejut. Pikirnya, “Ah, kepandaian orang tua ini lebih hebat
dari pada Sin-bu Te-kun!”
Segera ia memasang kuda-kuda. Tangannyapun mempersiapkan pedang. Ia tak
berani memandang ringan lawan.
Melihat sikap dan perawakannya, Bok Sam-pi seperti seorang gendut yang tak
mengerti ilmu silat. Tiba-tiba ia hentikan tinjunya di atas.
“Jika kau menyerahkan budak perempuan itu, kau akan kubebaskan dari
pertempuran ini!” serunya.
“Kalah menang belum ketentuan, bagaimana kau mengira aku akan kalah?” seru
Thian-leng dengan garang.
“Di kolong langit, siapakah yang dapat menandingi aku? Apakah kau berani
dengan aku?” teriak Bok Sam-pi.
Thian-leng tertawa getir. Memang kata-kata Bok Sam-pi itu benar. Dalam jaman
itu, jangankan dapat mengalahkan, sedangkan orang yang dapat melayani Bok
Sam-pi sampai belasan jurus saja , sudah jarang didapat. Sayang jago yang
sedemikian saktinya itu kini hilang ingatannya, sehingga kepandaiannya
digunakan orang untuk melakukan kejahatan.
Diam-diam Thian-leng telah membulatkan tekad. Pertempuran saat itu merupakan
mati hidup baginya. Dari pada mati konyol, lebih baik menyerang dulu. Siapa tahu
ia akan dapat mengeusai keadaan.
“Karena lo-cianpwe tetap hendak menempurku, maaf, aku hendak menyerang
dulu!” teriak Thian-leng seraya menutup dengan serangan. Memukul dengan
tangan kiri dan menebas dengan pedang di tangan kanan. Pukulan kiri untuk
menahan gerakan Bok Sam-pi dan pedang untuk menusuknya.
Tetapi hasil serangannya itu, tak seperti yang diharapkan. Begitu pukulan saling
beradu, tangan Thian-leng lekat dengan tinju Bok Sam-pi. Berhamburan
gelombang tenaga dalam yang hebat. Masing-masing berusaha untuk menindas
lawannya. Dan ini menggagalkan rencana Thian-leng untuk menggunakan
pedang, karena ia harus mencurahkan seluruh tenaganya untuk menghadapi
tekanan Bok Sam-pi. Walaupun mencekal pedang, tetapi tak berguna. Dan karena
ia menggunakan tangan kiri menghadapi tangan kana Bok Sam-pi, ia menderita.
Melihat itu Jenggot perak mengerutkan dahi. Ia merasa gelisah sekali. Adu tenaga
dlam merupakan pertandingan yang mengerikan. Lebih hebat daripada
pertempuran biasa. Sekali tenaga dalam beradu, sukar dhentikan sebelum ada
salah satu yang remuk. Dari posisinya, jelas bahwa Thian-leng di bawah angin.
Tetapi apa daya, ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong........
Ketua Hek Gak juga tak kurang terkejutnya. Adanya tadi ia membatasi Bok Sam-pi
supaya bertempur sejurus saja, adalah karena takut terjadi pertandingan adu
tenaga dalam. Dan ternyata kekutiarannya itu terjadi. Kalau Bok Sam-pi menang,
bukan saja dapat menindas partai Thiat-hiat-bun, tetapi juga sekaligus dapat
merebut kitab pusaka It Bi siangjin. Hek Gak akan menguasai dunia persilatan!
Tetapi apabila kalah, akibatnya tak dapat dibayangkan. Hek Gak pasti akan
dilenyapkan dan Thiat-hiat-bun akan menguasai dunia persilatan Tiong-goan.
Sakit hati Hek Gak kepada Hun-tiong Sin-mo, takkan terbalas selama-lamanya.
Rombongan Sin-bu-kiong sudah mengundurkan diri. Kini tinggal Hek Gak yang
berhadapan dengan Thiat-hiat-bun. Dan kitab pusaka It Bi siangjin jelas jatuh ke
tangan pemuda itu. Diam-diam ketua Hek Gak membuat kesimpulan; pertempuran
saat itu akan membawa akibat hebat, tetapi juga akan membuahkan keuntungan
luar biasa. Mati hidup tergantung dari hasil pertempuran saat itu!
Dahi ketua Hek Gak bercucuran keringat. Matanya tak berkedip mengawasi Bok
Sam-pi.
Siau-bun dan Im Yang songsat yang bersembunyi di balik geombol pohon juga
gelisah sekali. Sekeliling penjuru hening seketika.
Wajah Bok Sam-pi dan Thian-leng berobah merah gelap. Tubuh mereka
menghamburkan asap tipis. Pertanda bagaimana dahsyatnya adu tenaga dalam
itu berlangsung. Masing-masing telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Selang sepeminum teh lamanya, wajah mereka berobah biru gelap, kemudian
hijau lalu pucat lesi. Tubuh mereka mandi keringat, mata berkedip-kedip dan bahu
bergetaran. Demikianlah detik demi detik berlangsung. Keadaan mereka makin
menyeramkan. Rupanya mereka bertekad hancur bersama-sama……
Sekonyong-konyong terdengar bunyi genderang. Datangnya secar tiba-tiba,
nadanya tak begitu keras. Tetapi bunyi genderang itu mengandung kekuaan gaib
yang dapat menyedot pikiran dan semangat orang. Termasuk Jenggot perak,
ketua Hek gak dan Siau-bun, serta Im Yang songsat yang tak kuasa
membebaskan diri dari pengaruh suara genderang itu. Buru-buru Jenggot perak
menyalurkan tenaga dalamnya untuk menenangkan semangatnya.
Tung…. terdengar pula genderang itu meletup. Kali ini lebih hebat dari tadi.
“Celaka, malam ini habislah riwayat kita.” diam-diam Jenggot perak menghela
napas. betapapun ia berusaha untuk menolak, namun talu genderang itu tetap
melengking tajam menembus dinding pertahanannya. Dadanya terasa sesak,
darah bergolak keras, sehingga kakinya pun terhuyung. Orang yang tak tinggi
kepandaiannya, pasti akan binasa seketika itu juga.
Thian-leng dan Bok Sam-pi masih terbenam dalam adu tenaga dalam. Rupanya
mereka tak menghiraukan perobahan yang terjadi di sekelilingnya. Tiba-tiba
genderang itu makin gencar. Tung...tung....tung.....tung...... deras bagaikan hujan
dicurahkan. Bluk, bluk, bluk... satu demi satu anak buah Thiat-hiat-bun dan Hek
Gak susul menyusul roboh ke tanah.. Dan paling akhir adalah ketua Hek Gak
sendiri serta Jenggot perak yang tak dapat bertahan lagi. Keduanya jatuh terduduk
di tanah. Bagaimana keadaan Bok Sam-pi dan Thian-leng, tak dapatlah mereka
mengetahui lebih jauh.
Ternyata Thian-leng dan Bok Sam-pi pun mengealami nasib yang hebat. Pada
saat genderang bertalu gencar, keduanya terlempar sampai dua tombak jauhnya
dan tak ingat diri lagi.
Sebenarnya mereka sudah tak kuat lagi. Tetatpi emreka memaksakan diri untuk
bertempur terus. Sampai akhirnya, habislah sudah pertahanan mereka. Pancaran
tenaga dalam mereka menimbulkan tenaga membalik yang membuat mereka
terpental.......
Pada saat lapangan penuh dengan tubuh orang-orang yang menggeletak
pingsan, sesosok tubuh kecil melesat keluar dari dalam hutan. Orang itu
mengenakan pakaian warna merah. Dandanannya seperti seorang wanita. Di
belakang punggungnya menggemblok sebuah genderang kecil. Sepintas
pandang ia mirip dengan nona rombongan main sulap yang suka
mempertunjukkan permainan di jalan-jalan.
Usianya paling banyak baru sebelas-duabelas tahun. Seorang dara belia yang
berwajah cantik berseri. Dalam pakaian warna merah makin menonjollah
kecantikannya!
Begitu lari ke tengah lapangan, ia celingukan kian kemari. Orang-orang yang
menggeletak itu tak dihiraukan. Begitu matanya tertumbuk pada Thian-leng,
segera ia menyambar tubuh pemuda itu terus dibawa lari. Hanya dalam dua
lompatan saja, dara tak dikenal itu sudag lenyap dalam kegelapan malam.....
Sekalian orang tak mengetahui apa yang terjadi pada saat itu. Satu-satunya yang
samar-samar masih dapat melihat ialah Jenggot perak Lu Liang-ong. Namun
karena tenaganya punah dan kaki tangannya lemas, ia tak dapat berbuat apa-apa.
Berselang beberapa saat, Jenggot perak loncat bangun. Dialah orang pertama
yang dapat bangun. Kemudian ketua Hek Gak, lalu keempat su-kiat dari partai
thiat-hiat-bun. Sejam kemudian barulah anak buah Thiat-hiat-bun dan hek gak.
Jenggot perak tegak berdiam diri. Tampaknya seperti menyalurkan tenaga dalam
untuk memulihkan diri. Tetapi sebenarnya ia tengah merenung keras. Pikirannya
bekerja keras untuk mencari tahu siapakah dara berbaju merah itu. Jelas bahwa
bunyi genderang itu mengandung tenaga dalam yang tinggi sekali. Dan yang
paling istimewa, dara itu pandai sekali menyusupkan bunyi genderangnya di kala
pikiran oeang sedang kosong. Andaikata dalam keadaan biasa, tidak sedan
mencurahkan perhatian pada Bok Sam-pi dan Thian-leng yang sedang mengadu
tenaga dalam, mungkin ia dan jago-jago Thiat-hiat-bun tak semudah itu dijatuhkan
oleh genderang si dara.
Namun ia tetap mengagumi si dara. Dara itu baru berumur duabelasan tahun,
tetapi sudah sedemikian hebat, apalagi orang tuanya, tentulah sakti luar biasa.
Betapapun Jenggot perak menggali ingatannya, namun tak dapat juga ia
mengetahui siapa gerangan si dara itu.
Saat itu sekalian orang pun sudah lama sadar. Tetapi mereka terkesima. Tiba-tiba
ketua Hek Gak lari menubruk tubuh Bok Sam-pi. “Bok cong houhwat, suhu.... “
melihat keadaan gurunya ia tak tahan lagi berteriak-teriak seperti orang kalap.
Kaki dan tangan jago tua itu kaku. Daya menolak dari tenaga dalam thian-leng
telah membuat organ dalam tubuhnya terluka parah. Wajahnya pucat seperti
kertas, napasnya lemah. Keadaannya seperti lilin yang tertiup angin……
Ketua Hek gak berbalik diri dan menatap Jenggot perak, serunya, “Mana
orangmu?”
“Lenyap!” sahut Jenggot perak lesu.
“Lenyap!” ketua hek gak tersentak kaget. Gurunya terluka parah dan pemuda itu
lenyap. Apakah pemuda itu benar-benar lebih sakti dari Bok Sam-pi?
Dan……. dan bunyi genderang tadi! Mengapa begitu hebat perbawanya sehingga
dapat merobohkan sekalian orang. Ajaib sekali! Siapakah gerangan yang
membunyikannya?
Ketua Hek Gak pun tak lepas dari mencari-cari. tetapi ia pun tak dapat mendugaduga siapakah si pemukul genderang ajaib itu. Hanya satu hal yang melegakan
hatinya, ialah orang itu terang tak bermusuhan dengan pihak Thiat-hiat-bun
maupun Hek Gak.
Kelegaan hatinya hanya sesaat, karena pada lain saat timbullah kecemasannya
pula. Tiang andalannya ialah Bok Sam-pi. Kini gurunya itu terluka parah, apabila
Jenggot perak memerintahkan anak buahnya menyerang, bukankah......
“Apa yang terjadi malam ini benar-benar di luar dugaan!” ia tutup kecemasan
hatinya dengan tertawa terpaksa.
“Benar,... memang tak terduga-duga, ” sahut Jenggot perak dengan tertawa lesu
juga. Tiba-tiba ia menyadari maksud ketua Hek Gak. Buru-buru ia menyusuli katakatanya, “Tak nanti aku menyerang secara hina, silakan kalian pergi!”
Lega hati ketua Hek Gak, serunya, “Bagaimanapun juga Hek Gak dan Thiat-hiatbun tak dapat hidup bersama. Kelak kita selesaikan perhitungan lagi!”
Jenggot perak tertawa hambar, “Berani masuk ke daerah tionggoan, berati berani
menangung resikonya. Di mana dan kapan saja aku selalu melayani
kehendakmu!”
“Ingatlah, kelak Hek Gak tentu akan mencucui bersih hinaan dua hari dua malam
ini!” ketua Hek gak tertawa dingin. Habis itu segera ia mengajak anak buahnya
pulang. Bok Sam-pi disuruhnya digotong.
“Tunggu!” tiba-tiba Jenggot perak membentak.
“Eh, apakah kau menyesal?” ketua Hek Gak mendengus geram.
Jenggot perak tertawa, “Kau mengukur baju orang dengan badanmu sendiri!
Sekali kukatakan boleh pergi, tentu takkan kurintangi lagi. tetapi……….” ia tertegun
sejenak, katanya pula. “Tahun depan bulan satu tanggal lima belas, aku hendak
menyelenggarakan rapat besar orang gagah di gunung Tiam-jong-san. Hendak
kuundang sahabat-sahabat dunia persilatan Tiong-goan. Kuharap kau juga hadir!”
Ketua Hek Gak tertegun, ujarnya, “Asal kau masih dapat hidup sampai saat itu, aku
pasti datang!”
Jenggot perak tertawa, “Akan kuberi kesempatan besar, tentulah kau datang!”
“Kesempatan apa yang kau berikan padaku itu?” ketua Hek Gak heran.
“Kabarnya kau mempunyai rencana hendak melenyapkan sembilan partai dan
semua tokoh-tokoh dunia persilatan. Apabila kuundang mereka semua, bukankah
kau mempunyai kesempatan untuk melaksanakan cita-citamu itu?”
“Kau kira aku tak mampu melaksanakan?“ merah muka ketua Hek Gak.
Jenggot perak tertawa, “Mampu atau tidak, saat itu baru dapat dibuktikan. Silakan
pergi, jangan tunggu lama-lama di sini. Siapa tahu nanti hatiku berobah!”
Dengan menahan kemarahan, ketua Hek Gak segera melanjutkan perjalanan. Kini
yang tinggal di lapangan hanyalah rombongan Thiat-hiat-bun. Setelah merenung
beberapa lama, Jenggot perakpun hendak mengajak rombongannya pergi.
Tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan. Walaupun terpisah berpuluh-puluh tombak
jauhnya, namun dengan ilmu Melihat-langit-mendengarkan-bumi, dapatlah ia
menangkap gerak-gerik mereka. Seharusnya ia tahu bahwa ketiga orang itu Siaubun dan kedua suami isteri Im Yang songsat. Tetapi karena seluruh perhatiannya
ditumpahkan pada kejadian di lapangan, maka ia tak mengetahui tempat
persembunyian mereka.
Siau-bun melangkah perlahan-lahan ke hadapan ketua Thiat-hiat-bun. Jenggot
perak risih dibuatnya. Ia tahu Siau-bun itu cucunya, tetapi tak pernah sang cucu itu
menatapnya begitu rupa. Belum sempat ia memikirkan bagaimana menghadapi
cucu itu, tiba-tiba Siau-bun sudah berlutut di hadapannya, “Kek…..”
Jenggot perak tertawa meloroh dan segera mengangkat bangun nona itu, “Ah,
kau…… sudah tahu bukan?”
“Aku bukan seorang tolol. Tetapi …… selama kakek tak mau mengakui diriku,
akupun tak mau minta kasihan!”
“Tetapi mengapa sekarang kau menemui diriku?” Jenggot perak tertawa.
„Ah, karena kakek tak suka melihatku, akupun hendak pergi saja!“ Siau-bun terus
hendak berputar diri.
Jenggot perak terkejut dan buru-buru mengibaskan lengannya. Segulung tenaga
lunak seperti menahan langkah Siau-bun. Siau-bun tak dapat bergerak dan
memang sebenarnya ia tak bersungguh-sungguh hendak pergi.
“Kakek tak mau mengakui aku, perlu apa menahan?” lengkingnya dengan sikap
aleman.
“Siapa bilang kakek tak mau mengakui kau?”Jenggot perak tertawa. Tiba-tiba
iamenarik nona itu ke dalam pelukannya. Dibelai-belainya rambut dara itu dengan
penuh kasih sayang. Dan tanpa dapat ditahan dua butir air mata mengucur keluar
dari kelopak jago tua itu..................
Sekalian anak buah Thiat-hiat-bun dan kedua suami isteri Im Yang songsat hanya
mengawasi adegan itu tanpa berani berkata apa-apa.
Sampai beberapa lama kemudain barulah Siau-bun melepaskan diri dari pelukan
kakeknya itu.
“Kek....., ” serunya lembut.
“Hm……”
“Aku hendak bertanya padamu.”
“Bilanglah!”
“Kemankah Bu Beng-jin?”
“Bu Beng-jin?” Jenggot perak terbeliak, “mengapa kau menaruh perhatian pada
Bu Beng-jin?”
Merahlah seketika wajah Siau-bun, “Aku……….aku sudah berjanji untuk sehidup
semati dengannya……………………..”
Jenggot perak seperti disengit kalajengking. Wajahnya berobah seketika.
“Aha? Katakan sekali lagi!” teriaknya.
oo000000oo
Dara baju merah
“Dia...... dia telah setuju memperisterikan aku. Sudah selayaknya aku
menanyakannya...........!” Siau-bun menjawab terbata-bata, “dengan kepandaian
kakek yang sakti, tentulah tahu ke mana perginya tadi?“
Wajah Jenggot perak pucat lesi, serunya agak gugup, “Dia .....dibawa lari oleh
seorang dara baju merah!”
Siau-bun pun terbeliak kaget, “Apa? Dibawa lari orang?”
“Benar, dia telah dilarikan……. tetapi rupanya orang itu tak bermaksud jahat dan
memang bermaksud menolong………….”
“Dengan ilmu Mendengar bumi, bukankah kakek dapat mengetahui kemana
larinya? Siapakah dara itu?”
“Kakekpun telah menyelidiki….. Tetapi genderang dara itu telah menghanyutkan
pikiran kakek, sehingga ia sempat melaksanakan rencananya. ketika kakek dadar
dara itu telah jauh sekali…..”
“Lantas kakek tak menghiraukan lagi nasibnya?”
“Kutanggung pemuda itu tentu takkan mati……Ah, jangan banyak bertanya ini itu
dulu. Aku hendak bertanya padamu………… tetapi jangan bohong!”
“Silakan!”
“Bilakah pemuda itu mengadakan perjanjian hidup dengan engkau?”
“Hanya beberapa hari yang lalu….” Siau-bun mengedipkan matanya sambil
menggelendot manja di dada Jenggot perak.
Sambil mengenang peristiwa malam sumpah hidup bersama Thian-leng, nona itu
berkata dengan berbisik-bisik, “Pada malam itu kami menginap di hotel Bu-khekcan. Karena kamar tinggal satu, terpaksa kami pakai….”
“Hai, kalian sudah tidur sekamar?” Jenggot perak berteriak kaget.
Siau-bun hanya mendengus, “Bukan hanya sekamar, melainkan juga
seranjang….”
Rambut Jenggot perak berdiri seketika. Tiba-tiba ia menggeram keras, “Celaka!”
“Mengapa celaka? Apakah kakek tak suka?” Siau-bun heran.
“Jangan memutus omonganku!” bentak Jenggot perak, “kau yang memikat
pemuda itu atau dia yang memikatmu, bilanglah dengan jujur!”
Wajah Siau-bun memerah, “Kau anggap aku anak perempuan yang bagaimana.
Mengapa kau masih tak sungkan menanyakan begitu? Aku….. aku tak mau hidup
lagi, kek!” tiba-tiba ia menangis dan mengayunkan tangannya hendak menampar
batok kepala sendiri.
Sudah tentu Jenggot perak gelagapan dan cepat mencegahnya. Siau-bun
menangis tersedu-sedu.
“Ah, akulah yang bersalah. Kukuatir kelak masih akan timbul kesulitan lagi!”
Jenggot perak menghela napas.
Sambil meronta dari pelukan kakeknya, Siau-bun berseru, “Kakek bersalah? Akan
timbul kesulitan?”
Kembali Jenggot perak menghela napas. Mulutnya berkomat-kamit sberkata
seorang diri, “Kenal orangnya tak kenal hatinya. Tak kira anak itu ternyata seorang
pemuda hidung belang!”
Siau-bun pura-pura tak mendengar. Tiba-tiba ia bertanya ,”Apakah kakek tahu di
mana ibu berada?”
Jenggot perak gelagapan, “Kemarin malam ia mengantarkan ketua Tiam-jong-pay
Lu Cu-liong pulang ke Tiam-jong-san!”
“Apakah kakek tahu jelas?”
“Pada saat Thiat-hiat-bun mengepung Sin-bu-kiong dan Hek Gak, ibumu masih
sempat menggunakan ilmu menyusup suara untuk bercakap-cakap dengan aku.”
“Kalau begitu aku hendak mencarinya!” kata Siau-bun.
Sejenak Jenggot perak melirik Im Yang song-sat, lalu menggunakan ilmu
menyusup suara kepada Siau-bun, “Saat ini jago-jago Hun-tiong-mo-hu sudah
berbondong-bondong menuju ke Tiam-jong-san. Kakek bermaksud untuk
menyelesaikan pergolakan dunia persilatan Tiong-goandalam rapat besar yang
akan kuadakan pada tahun depan, bulan satu tanggal lima belas. Baiklah kalau
kau hendak menyusul ibumu ke sana. Beritahukan kepada ibumu tentang
urusanmu itu, terserah bagaimana ia hendak memberi keputusan. Kakek tak dapat
mengurusi kesulitan-kesulitan begitu……” Jenggot perak berhenti sejenak, lalu
katanya pula, “Tentulah kau belum memberitahukan hal itu kepada ibumu?”
Siau-bun tertawa mengikik, “Beliau sudah tahu!”
“Sudah tahu?” kembali jenggot perak terbelalak kaget, “ dia setuju?”
“Masakah kakek tak kenal akan perangai ibu? Jika ia tak setuju, masakah aku
berani……..”
“Ya, ya…. mungkin hal ini sudah suratan takdir. Kukuatir kalian akan menghadapi
kehebohan!” Jenggot perak tertawa datar.
“Apa? Aku tak mengerti masksud kakek..... ”
“Sudahlah, jangan banayk bertanya lagi, berangkatlah sekarang juga!” buru-buru
Jenggot perak membentak untuk menutupi kekagetannya.
Diam-diam Siau-bun girang. Dalam gelanggang asmara, ia telah berhasil
memakan jurus kedua. Betapapun Jenggot perak sudah mengikat Thian-leng
supaya bersumpah memperisterikan Lu Bu-song, tetapi sampai babak ini, mau tak
mau ia tentu terpaksa harus menyerahkan Thian-leng padanya.
Tetapi saat itu Siau-bun tetap gelisah. Siapakah dara baju merah yang melarikan
Thian-leng itu.
Apakah maksudnya? Namun ada sedikit hal yang melonggarkan perasaan Siaubun, ialah Thian-leng tentu tak mati. Dengan terpilihnya pemuda itu sebagi
pewaris It Bi siang-jin, tentulah sudah diramalkan jelas bahwa pemuda itu takkan
berumur pendek.....
“Selamat tinggal kek, harap kakek baik-baik menjaga diri.” Siau-bun terus
melangkah pergi. Im Yang song-sat pun segera mengikutinya.
“Tunggu!” Tiba-tiba Jenggot perak berseru. Siau-bun terpaksa berhenti. Jenggot
perak melesat ke depannya.
“Kakek hendak memberi pesan apa lagi?”
Wajah Jenggot perak mengerut tegang,“Adik misanmu Lu Bu-song saat ini juga
berada di gunung Tiam-jong-san!”
“Sejak kecil kita tak pernah berjumpa. Kali ini kita tentu dapat bermain-main
dengan gembira!”
“Sejak kecil ia sudah kehilangan ayah bunda dan ikut aku sampai besar. Dia,,,,,
sungguh kasihan sekali!” kata Jenggot perak dengan nada berat.
Siau-bun tertegun. Tak tahu ia apa yang tersembunyi dalam kata-kata kakeknya
itu. Namun ia segera menjawab dengan hati lapang, “Harap kakek jangan kuatir,
aku tentu ekan memperlakukannya dengan baik sebagai adikku sendiri!”
Jenggot pertak mengangguk-angguk, “Selain itu, kau .......,” ia bersangsi sejenak,
katanya pula, “Urusan dengan budak itu jangan kau katakan padanya!”
“Mengapa ?” Siau-bun kaget.
Jenggot perak menghela napas, “Jangan mendesak aku, pokoknya kau harus
ingat permintaanku ini!”
Siau-bun tak mau mendesak. Ia pura-pura mengerti, Baik kek. Apakah masih ada
pesan lain lagi?”
“Masih,” kata jenggot perak, “karena sejak kecil adik misanmu itu kumanjakan,
perangainyapun kurang baik. Kau lebih besar, sebagai cici harap kau suka
mengalah sedikit…..”
“Tentu kek, tentu,” sahut Siau-bun.
Jenggot perak menghela napas lagi, “Sudahlah, kau boleh pergi!”
Dengan diikuti kedua suami isteri Im Yang song-sat, Siu-bun segera pamit. Dalam
beberapa loncatan saja mereka sudah lenyap.
Jenggot perak menghela napas. Iapun segera memberi isyarat kepada anak
buahnya. Tetapi langkah kakinya terasa berat. Selangkah demi selangkah ia
berjalan seperti orang kehilangan semangat.
Keempat Su-kiat, ketiga puluh enam Thian-kong, ketujuh puluh dua Te-sat dan
anak buah Thiat-hiat-bun tahu juga akan kesulitan yang dihadapi ketuanya. tetapi
mereka tak berani mengucapkan apa-apa.
Rombongan Thiat-hiat-bun berbopndong-bondong menuruni gunung Thay-hengsan. Saat itu haripun sudah fajar.
oo0000000oo
Thian-leng yang pingsan karena terluka dalam itu, setelah berselang beberapa
lama, barulah dapat juga tersadar. Samar-samar ia masih ingat akan peristiwa
yang dialami tadi. Pada saat tenaga dalamnya hampir habis, tiba-tiba terdengar
genderang dipukul dan tak ingatlah lagi ia apa yang terjadi selanjutnya……
Tubuhnya terasa panas ketika sinar matahari menimpa ke mukanya. Ia paksakan
membuka matanya, tetapi pandangannya masih sayup, tenaganya seperti lenyap.
Sekonyong-konyong ia loncat hendak bangun, ah………..kepalanya terasa berat
sekali dan iapun terpaksa harus telentang di pembaringan lagi. Tak tahu ia saat itu
berada di mana.
Ia paksakan diri merentang mata lebar-lebar. Walaupun keadaan sekelilingnya
masih gelap, tetaoi lama kelamaan dapat juga ia melihat agak terang.
Didapatinya dirinya berada di sebuah rumah gubuk yang serba sederhana
perabotannya, tetapi cukup bersih. Ia sedang terlentang di atas sebuah ranjang
kayu. Sinar matahari pagi tumpah ruah menyinari matanya. Ah, itulah ebabnya ia
merasa panas seperti terbakar!
Gubuk itu tertutup rapat. Tiada seorangpun ada di situ. “Heran, siapakah yang
menolongku ini?” demikian pertanyaan yang meliputi pikirannya.
Tiba-tiba ia terkejut sekali. matanya tertumbuk pada sebuah genderang kecil yang
tergantung di sudut dinding. Pikirannya segera melayang-layang.
“Apakah pemilik gubuk ini, benar-benar dia.....”, baru ia memikir sampai sampai di
situ, tiba-tiba pintu dibuka orang.
Samar-samar Thian-leng melihat seorang dara berbaju merah menerobos masuk.
Usianya baru belasan tahun, rambut dikuncir, kulit mukanya berwarna merah
segar. Dalam pakaian warna merah, dara itu tampak menyala sekali.
“Kau sudah bangun?” dara itu terkejut begitu melihat Thian-leng tersadar.
“Adik kecil, di manakah aku ini, aku.......”
“Jangan banyak bicara dulu, minumlah obat ini,” kata si dara itu seraya
menghampiri. ternyata ia membawa sebutir pil putih dan disisipkan ke mulut Thianleng.
Dara itu lincah dan ramah. Thian-leng menerima saja. Pil terus ditelannya.
“Eh, kau minum pil tanpa diantar air?” dara itu tertawa bertepuk tangan.
“Jam berapakah ini?” tanya Thian-leng.
“Hampir tengah hari!”
“Sudah berapa lamakah aku tidur di sini…………”Thian-leng menggeliat bangun.
“Berapa lama……………………….. kau sudah hampir sebulan lebih di sini. Dan
baru sekarang kau dapat membuka mata.”
“Sebulan lebih?”teriak Thian-leng, “jangan bergurau!” Ia merasa pertempurannya
melawan Bok Sam-pi baru kemarin malam.
“Sungguh,” kata dara itu dengan nada sungguh-sungguh, “sekarang sudah akhir
bulan sebelas,s ebulan lagi bakal tahun baru…….” tiba-tiba wajah dara itu berseri
girang, serunya, “Tahun baru yang lalu, hanya aku dan ayah yang merayakan.
Tetapis ekarang kita akan merayakan dengan ramai. Selain kau, juga kedua enci
Ki juga..... ”
“Maaf, aku tak dapat melewatkan tahun baru di sini. Aku masih punya banyak
urusan dan harus segera pergi,” tukas Thian-leng.
“Mana bisa,” dara itu tertawa, “lukamu masih belum sembuh. Lewat tahun baru,
baru kau sembuh sama sekali!”
Kembali Thian-leng terbeliak kaget. Ia menghela napas, “Apakah ayahmu yang
menolong aku?”
“Aku sendiri!”
“Kau?” Thian-leng menatap dara itu tajam-tajam, lalu melirik pada genderang di
dinding, “Genderang itu kepunyaanmu?”
“Ya, peninggalan dari nenekku…..eh, tahukah kau siapa nenekku?”
Thian-leng menggelengkan kepala.
“Dulu semasa hidupnnya, nenek telah membuat nama yang termashyur sekali,
digelari sebagai Sin-ko-sian-poh,….” dara itu memandang sejenak wajah Thianleng. Rupanya ia yakin Thian-leng tentu akan menunjukkan kekaguman. Tetapi di
luar dugaan Thian-leng
menggelengkan kepala. Ia tak kenal siapa Sin-ko-sian-poh ( Dewi genderang
sakti ) itu.
“Ibuku juga sudah meningal dunia,” kata dara itu dengan rawan, “Aku hanya hidup
bersama kakek. Kakek membawaku ke Tiong-goan!”
“Oh, kau bukan orang Han?”
“Bukan, tetapi kakek bangsa Han..... aku berasal dari daerah ajauh, di padang
pasir yang tak dihuni orang. Dari sana kemari memerlukan perjalanan tiga hari tiga
malam.”
Mendengar cerita itu, diam-diam timbullah rasa kasihan Thian-leng pada si dara.
Neneknya pasti mati kemudian ibunya. Dia kini hidup sebatang kara ikut pada
kakeknya. Ah, nyata di dunia ini banyak sekali manusia-manusia yang menderita!
“Ayahmu?” tanyanya.
“Dia sedang keluar mengurus suatu hal, mungkin juga segera akan pulang,” dara
itu buru-buru menyahut, “eh siapakah namamu? Bagaimana seharusnya aku
memanggilmu?”
Thian-leng mengerutkan alisnya, “Aku tak punya nama , panggil saja Bu-bengjin....”
“Ih, mengapa orang tak punya nama, bohong!” dara itu melengking.
Thian-leng menghela napas, “Tidak, aku tak bohong. Memang dulu aku punya
nama, tetapi nama itu palsu......, ah, jika kututurkan hal itu kepadamu, kaupun tentu
tak mengerti juga.......”
“Ih, mengapa nama ada yang palsu? Siapakah nama palsumu itu?” si dara
semakin heran.
“Namaku yang palsu itu Kang Thian-leng.”
( bersambung ke jilid 22 )
Jilid 22 .
“Kang Thian-leng? Ah, merdu juga kedengarannya,” tiba-tiba dara itu berseru
gembira, “begini saja, kuanggap kau sebagai kaka angkatku. Kau pakai saja she
keluarga kami, mau?”
“Tentu saja aku suka mendapatkan seorang adik seperti kau. Ya, ya, baiklah. Tapi
siapakah namamu?”
“Kau setuju?” dara itu melonjak-lonjak gembira sekali seperti anak kecil mendapat
permen, “keluargaku orang she Pok. Namaku Pok Lian-ci, tetapi ayah selalu
memanggilku Ang-ko ( si merah). Kau pun boleh panggil Ang-po saja!”
Baru Thian-leng hendak membuka mulut, tiba-tiba seorang sasterawan melangkah
masuk.
Pedang bebas.
“Kau sudah pulang, yah!” teriak Ang-ko seraya menubruk dada sasterawan
setengah umur itu. “Dia sudah sadar dan kuangkat sebagai engkoh. Kau tetntu
suka, bukan?”
Sasterawan setengah umur itu tertawa. Dibelainya rambut si dara itu dengan
penuh kasih,“Sudahlah jangan ribut-ribut............. ”
Mata sasterawan itu itu menuju ke Thian-leng yang gagal bangun. Tangan dan
kaki Thian-leng lemas tak bertenaga. terpaksa ia rebah lagi.
“Pok cianpwe, maaf aku tak dapat bangun menghaturkan hormat..... ” serunya.
Sasterawan itu melangkah ke muka pembaringan dan memberi isyarat tangan,
“Tak apa, tidur sajalah!”
Kini barulah Thian-leng dapat memandang jelas wajah sasterawan itu. Seorang
lelaki cakap dan berwibawa. Hidung mancung, mulut lebar, mata bundar dengan
sepasang alis tebal. Hanya sayang pada gumpalan alisnya terdapat dekik warna
gelap dan kerut-kerut tanda ketuaan. Seri wajahnya sunyi dan rawan.
Thian-leng menghaturkan terima kasih atas pertolongan si dara.
“Aku paling tak suka dengan peradatan-peradatan kesungkanan…….,”sahut
sasterawan itu. Ditatapnya wajah Thian-leng, tegurnya, “Siapakah namamu?”
“Dia bernama Kang Thian-leng, tetapi katanya nama itu palsu dan tak dipakainya
lagi. Karena sudah jadi engkoh angkat, diapun memakai she keluarga kita.” si dara
menyeletuk.
‘Jangan ribut saja, nak…………” ayahnya mendamprat halus. Ia minta maaf
kepada Thian-leng atas keliaran Ang-ko.
“Tetapi wanpwe sendiri menerima dengan senang hati.”
“Ah, kau tentu terpaksa karena sungkan,” tukas sasterawan itu.
“Tidak, memang wanpwe sendiri senang dengan setulusnya. Kalau Pok cianpwe
mengatakan begitu, berarti cianpwe tak mau menerima diri wanpwe!”
Sasterawan itu terpaksa mengalah. Kemudian ia menanyakan diri anak muda itu.
Thian-leng menuturkan riwayat hidupnya dengan terus terang.
“Dulu aku sedih karena tak punya she, tetapi kini aku girang sekali memakai she
Pok. Pok Thian-leng!” kata Thian-leng.
Sasterawan setengah tua itu menghela napas dalam-dalam.
“Nak, tahukah kau siapa aku…?”
“Aku Pendekar pedang bebas Pok Thiat-beng,” tanpa menunggu jawaban Thianleng, sasterawan itu memberi keterangan sendiri.
“Oh......” Thian-leng mendesah, “seharusnya aku dapat menduga,” ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya. Sanubarinya penuh sesak dengan rasa kaget dan
girang.
Ia teringat akan pesan Toan-jong-jin Cu Giok-bun untuk mencari pendekar pedang
itu. Kini bukan saja telah bertemu, bahkan dipungut sebagai anak angkat. Dengan
begitu Toan-jong-jin pun menjadi ibu angkatnya. Tak tahu ia bagaimana perasaan
hatinya kala itu.
Menurut keterangan Nyo Sam-koan, sepasang suami isteri Pok Thiat-beng dan
Toan-jong-jin itu retak hubungannya akibat salah paham. Dan hal itu akibat
rencana busuk yang dilakukan oleh Ma Hong-ing.
Kini jelaslah sudah bahwa setelah meninggalkan Toan-jong-jin, Pok Thiat-beng
mengembara ke luar perbatasan (daerah Tibet), bertemu Sin-ko-Sian-lo (Dewi
tambur, nenek si dara Ang-ko), menikah dengan anak perempuannya dan
mendapat seorang puteri, yakni si Ang-ko. Setelah Sin-ko Sian-lo dan ibu si Angko meninggal dunia, maka Pok Thiat-bengpun lalu membawa anaknya kembali ke
Tiong-goan pula.
Timbul pertanyaan dalam hati Thian-leng. Apakah Pok Thiat-beng mengetahui
tentang drama salah paham antara ia dengan Toan-jong-jin? Dan kembalinya
jago pedang itu ke Tiong-goan apakah karena teringat akan Toan-jong-jin atau
hendak menundukkan dunia persilatan Tiong-goan lagi?
Sejenak Thian-leng memandang Ang-ko. Wajah dara yang sedemikian kekanakkanakan itu, tak mungkin mengetahui sekian banyak rahasia dalam diri ayahnya.
Pesan dari Toan-jong-jin yang sedianya hendak dikatakan kepada Pok Thiatbeng, entah bagaimana, Thian-leng ragu-ragu mengatakan.
“Gihu (ayah angkat), aku hendak mohon tanya sedikit hal!” akhirnya Thian-leng
membuka mulut.
“Silakan!”
“Pernahkah gihu mengunjungi puncak Giok-lo-hong di gunung Heng-san?”
Mendengar itu Ang-ko tercengang. Tak tahu ia apa maksud pertanyaan engkoh
angkatnya itu.
Pok Thiat-beng pun terkesiap lalu menyahut dengan terbata-bata, “Giok.... lo.....
hong.....”
“Aneh sekali pertanyaanmu, nak!” serunya pula.
Dengan wajah dan nada bersungguh-sungguh, Thian-leng menyusuli bertanya
pula. “Apakah dahulu gihu pernah berjanji dengan seorang sahabat untuk pesiar
ke puncak Giok-lo-hong?” Habis berkata Thian-leng diam-diam melirik kepada
Ang-ko.
Seketika berobah wajah Pok Thiat-beng. Segera ia megerti apa maksud Thianleng. Setelah merenung sejenak, ia berpaling kepada Ang-ko yang terlongonglongong, “Coba tengoklah kedua taci beradik Ki, apakah nasi sudah masak?”
“Ya, ya, kalian hendak bicara rahasia yang tak boleh kudengarkan……..” Ang-ko
mencibirkan bibir. Dara yang masih kekanak-kanakan itu tiba-tiba bertepuk tangan
dan tertawa. “Ai, benar… benar, aku memang hendak memberitahukan kedua cici
itu!”
Setelah puterinya pergi, Pok Thiat-beng segera meminta Thian-leng bicara.
“Sudah beberapa kali aku bertemu dengan gibo (ibu angkat)….”
“Maksudmu Giok-bun, apakah dia tak kurang suatu apapun?” belum Thian-leng
menyelesaikan kata-katanya, Pok Thiat-beng sudah menukasnya.
“Beliau baik-baik saja,” buru-buru Thian-leng menyahut, “hanya saja beliau setiap
saat selalu mengenangkan gihu. Karena kejadian yang lalu itu ternyata hanya
suatu kesalah-pahaman saja.....”
“Bagaimana kau tahu?” Pok Thiat-beng mengerutkan dahi.
“Aku pernah bertemu dengan Nyo Sam-koan di dalam penjara Sin-bu-kiong.
Dialah yang menceritakan hal itu.” jawab Thian-leng.
Pok Thiat-beng diam, hatinya bergolak-golak.
“Gi-bo suruh aku mencari berita di mana gihu berada.” kata Thian-leng pula,
“apabila bertemu supaya menyampaikan pesan beliau agar gihu suka
menemuinya di puncak Giok-lo-hong........” ia berhenti sejenak, katanya pula. “Gibo tak mau mengatakan dirinya dengan terus terang dan menyamar sebagai
seorang nenek berambut putih yang bernama Toan-jong-jin. Tetapi dari pesan itu
dapatlah kuketahui bahwa beliau memang sungguh-sungguh terkenang pada gihu!”
Pok Thiat-beng menundukkan kepala, karena ia malu diketahui bahwa dua butir
air mata telah mengalir dari pelupuk matanya.
“Apakah ia benar telah melupakan peristiwa yang lampau?” katanya dengan suara
tersekat.
“Apakah gi-hu masih menyangsikan hati gi-bo?”
Pok Thiat-beng menghela napas, “Tidak, aku tak menyangsikannya, tetapi aku …..
telah berbuat hal yang menyalahinya. Pada waktu itu seharusnya aku menyelidiki
dulu dan selama tujuh belas tahun itu seharusnya aku mencarinya…..dan..
dan….akupun telah menikah lagi…..”
Setelah berhenti beberapa saat, barulah jago pedang itu berkata pula, “Karena itu,
maka aku tak berani bertemu muka dengannya!”
“Aku berani memastikan bahwa tak sedikitpun gi-bo pernah melupakan gi-hu.
Sudah tentu beliau tidak marah kepada gihu. Tahukah gi-hu bahwa beliau
tinggal…..” tiba-tiba Thian-leng tak melanjutkan kata-katanya. Karena ia merasa
salah omong. Dia sendiri tak tahu di mana tempat tinggal Toan-jong-jin dan Cu
Siau-bun. Teringat nona itu, hatinya terasa tersayat dan pikirannya segera
melayang ke peristiwa yang dialami baru-baru ini. Ketika ia pingsan dalam adu
tenaga dalam dengan Bok Sam-pi, ia ingat si Jenggot perak masih tantangtantangan dengan ketua Hek Gak. Siau-bun dan kedua suami isteri Im Yang songsat bersembunyi di sekitar tempat itu. Tetapi ketika ia sadar, orang-orang itu sudah
lenyap…..
“Setelah kuajak Ang-ko kembali ke Tiong-goan, aku menetap di gunung Thayheng-san. Meskipun mendengar juga sedikit tentang diri gi-bomu, tetapi belum
mendapat bukti-bukti yang jelas. Karena itulah aku tak menemuinya!”
“Apakah di sini masih termasuk lingkungan Thay-heng-san?”
Pok Thiat-beng mengangguk, “Gunung Thay-heng-san luasnya sampai beratusratus li.Tempat ini termasuk daerah pinggirannya!”
“Apakah gi-hu tak pernah berjumpa dengan ketua Thiat-hiat-bun si Jenggot perak
itu?” tanya Thian-leng.
“Aku tak tahu bagaimana pandangannya terhadap diriku. Tetapi karena aku
menikah dengan gi-bomu hanya setahun lalu berpisah, mungkin dia ( Jenggot
perak ) tak dapat memaafkan aku….”
“Asal dapat bertemu dengan orang tua itu, tentu dapat menanyakan tempat tinggal
gi-bo. Dan jika gi-hu dapat bersatu lagi dengan gi-bo, beliau tentu girang sekali
dan takkan membenci gi-hu!” kata Thian-leng
Pok Thiat-beng mondar-mandir dalam ruangan sambil menggendong tangan.
“Ah, temponya terlalu lama, delapan bulan siapa tahu……” tiba-tiba Thian-leng
membuka mulut lagi, tetapi secepat itu pula ia berhenti. Rupanya ia merasa
kelepasan omong.
“Selain itu, masih ada satu daya……” tiba-tiba Pok Thiat-beng berkata sambil
tertawa rawan.
“Bagaimana?” tanya Thian-leng.
Pok Thiat-beng menghela napas. “Menurut apa yang kuketahui, gi-bomu telah
pergi ke gunung Tiam-jong-san….”
Diam-diam Thian-leng mengakui ketepatan kata-kata ayah angkatnya itu.
“Jika aku ke Tiam-jong-san juga, mungkin dapat menjumpai gi-bomu. Akan
kujelaskan salah paham yang dulu dan melepaskan rinduku kepada puteri Siaubun. Tetapi………..”
Mendengar itu hati Thian-leng gelisah sekali. Ternyata Pok Thiat-beng sudah
mengetahui tentang kejadian di luaran. Apakah jago itu mengetahui juga tentang
hubungannya dengan Siau-bun?
“Kalau begitu, silakan gi-hu segera menuju ke Tiam-jong-san saja.” Thian-leng tak
menghiraukan dirinya. Pokoknya asal kedua suami isteri itu dapat bersatu padu
lagi.
Pok Thiat-beng menghela napas, “Tetapi aku masih mempunyai keresahan, ialah
tentang Ang-ko…..Selama ini dia tak kuberitahukan hal itu, bahkan mendiang
mamanyapun tidak tahu. Mungkin perasaan anak itu akan tersinggung…..”
“Ang-ko cerdas dan lapang hati. Biarlah aku yang memberitahukan hal itu, rasanya
dia tentu....... ” belum selesai Thian-leng berkata, Pok Thiat-beng sudah menukas,
“Baik, aku akan ke Tiam-jong-san, tetapi,.......ah, nanti saja bila lukamu sudah
sembuh. Sesudah tahun baru , baru aku berangkat!”
“Tak usah gi-hu tunggu aku, silakan berangkat sendiri…..”
“Keputusanku sudah tetap, jangan banyak bicara lagi!” berkata Pok Thiat-beng,
“kau menderita luka dalam yang parah, masih memerlukan perawatan yang
teratur........mereka datang!” tiba-tiba Pok Thiat-beng berseru.
“Yah, nasi sudah masak..... hari ini engkoh Leng pun boleh makan nasi!”, masih di
luar kamar si dara Ang-ko sudah berteriak. Dan sesaat kemudian muncullah ia
bersama dua orang nona yang membawa hidangan.
Kejut Thian-leng bukan kepalang. Kedua nona itu bukan lain ialah Ki Gwat-wan
dan Ki Seng-wan. Dan kedua nona itupun girang karena Thian-leng sudah sadar.
Mereka mencuri lirik sejenak, lalu menunduk tersipu-sipu.
Adalah Thian-leng yang menegur dulu, menanyakan keadaan mereka selama ini
dan luka Ki Seng-wan.
Ki Seng-wan tak mau menjawab. Ia mengunjukkan sikap dingin. Ki Gwat-wan yang
menuturkan bahwa mereka ditolong dan disembuhkan Jenggot perak, tetapi
ditinggalkan begitu saja, hingga di temukan dan dibawa pulang oleh Pok Thiatbeng.
“Untunglah Pok tay-hiap memungut kami sebagai anak angkat, sehingga kini kami
mempunyai tempat meneduh yang tetap. Oleh karena usia kami lebih tua, baiklah
kau panggil taci kepada kami!” kata Ki Gwat-wan lebih lanjut.
“Baiklah,” Thian-leng tertawa meringis, “nanti setelah lukaku sembuh, tentu akan
kuberi hormat kepada taci berdua!” Dia percaya keterangan nona itu tentu tak
bohong.
“Dulu aku seorang diri, sekarang aku mempunyai seorang engkoh dan dua orang
taci….” Ang-ko berseru dengan melonjak-lonjak kegirangan. Ia mendekap dada
ayahnya, “Yah, kaupun harus bergembira!”
Sekalipun berseri girang, namun lekuk alis jago pedang itu mengerut kedukaan
yang dalam.
“Setelah berpisah, apakah kau masih ingat kepada kami berdua?” tiba-tiba Ki
Gwat-wan bertanya.
“Aku....uh, siaote (adik).....” Thian-leng berkata tersekat-sekat.
“Hai, mengapa kau tersendat-sendat? Lekas bilang, kau pernah teringat kedua taci
ini atau tidak?” tiba-tiba Ang-ko membentak.
Thian-leng sebenarnya sukar untuk mengutarakan hal itu. Terus terang sejak
berpisah, ia tak ingat lagi kepada kedua nona Ki itu.
“Sejak berpisah, aku selalu menghadapi bahaya maut, sehingga tak pernah
mengingat mereka lagi…..” akhirnya Thian-leng terpaksa menerangkan.
Ki Gwat-wan tertawa dingin, “Sekalipun tidak menghadapi bahaya maut, masakah
kau mau mengingat kita berdua……. karena kami berdua ialah anak angkat dari
Song-bun-Kui-mo Ki Pek-lam!”
“Ah, janganlah terlalu menyiksa diriku……..”
Gwat-wan tak menghiraukan anak muda itu. Tiba-tiba ia berlutut di hadapan Pok
Thiat-beng. Sudah tentu Pok Thiat-beng tersipu-sipu mengangkatnya bangun,
“Kalau ada persoalan, katakanlah…..”
Dengan masih berlutut Ki Gwat-wan menyurut mundur selangkah, serunya, “Ada
sebuah hal tak penting yang anak hendak mohon gi-hu memberi keputusan!”
“Katakanlah!”
Ki Seng-wan yang sedang mengemasi piring mangkok, kaget tak terkira,
“Cici……….”
“Mengapa? Apakah tak boleh kukatakan?” balas Ki Gwat-wan.
Ki Seng-wan tersipu-sipu malu, ujarnya rawan, “Perlu apa mengungkit hal yang
sudah lampau?”
“Apa? Hal yang sudah lampau? Tetapi hal itu menyangkut nasibmu. Sekalipun kau
sanggup menderita, tetapi aku sebagai taci tak dapat melihat kau tersiksa!”
Ki Seng-wan jengah dan menundukkan kepala.
“Eh, apa saja? Bilanglah, nanti dapat kuputuskan!” desak Pok Thiat-beng.
“Tentang diri adik Seng-wan itu. Pada suatu hari ketika lewat di lembah Hong-lim-
koh, kami melihat sesosok....... ” ia berhenti sejenak, melirik ke arah Thian-leng,
katanya pula, “ dikata mayat, tapi sebenarnya masih hidup. Hanya orang itu sudah
sehari semalam menggeletak di muka lembah. Kaki tangannya kaku, napasnya
hampir habis. Paling banyak dia hanya dapat hidup sejam dua jam lagi.....”
Thian-leng terbeliak. Teringat ia akan peristiwa dahulu itu.
“Orang itu ternyata menderita pukulan dahsyat dari Cong-hou-hwat Sin-bu-kiong
yang brnama Ni Jin-hiong. Organ dalamnya goncang, darah bergolak, napas
hampir putus. Benar keadaannya menyedihkan sekali!” kata Ki Gwat-wan pula.
Tiba-tiba ia menuding pada Thian-leng, “Orang itu adalah dia!”
“Jadi …… kalian berdua yang menolong aku?” Thian-leng tersekat-sekat. Memang
pada saat itu ketika tersadar ia mendapatkan dirinya berada dalam biara rusak.
Karena tubuhnya tertutuk, ia tak tahu kalau dihantam Ni Jin-hiong.
“Aku sih tak punya hati sebaik itu. Jika menurut kehendakku mungkin saat ini kau
sudah menjadi tumpukan tulang..... ” Gwat-wan tertawa dingin.
“Lalu siapakah yang menolongku?” Thian-leng heran.
“Adikku..... ” sahut Gwat-wan dengan nada berat, “dengan ilmu Hian-im-kiu-coan
adikku telah mengorbankan kesuciannya hingga dapat menolong jiwamu!”
Thian-leng mendengus. Wajahnya pucat, serentak ia hampir pingsan.
“Hian-im-kiu-coan……?” Pok Thiat-beng mengerutkan kening.
“Apakah gi-hu tahu cara pertolongan dengan ilmu Hian-im-kiu-coan itu?” tanya Ki
Gwat-wan.
Pok Thiat-beng mengangguk, “Sudah tentu…..aku tahu!”
“Adik Seng-wan telah menolong jiwanya, untuk itu ia tak berkeberatan
menyerahkan kehormatannya. Bagaimanakah baiknya, harap gi-hu suka
memberikan pertimbangan,” kata Gwat-wan pula.
Ki Seng-wan meringkuk di ujung dinding. Wajahnya merah sekali. Sedang Ang-ko
melongo, sebentar memandang ke sana, sebentar melihat ke sini. Ia tak tahu apa
itu Hian-im-kiu-coan.
Thian-leng seperti dipalu kepalanya. Matanya berkunang-kunang, dadanya serasa
sesak, napas sukar dihembus. Benar-benar ia tak percaya apa yang diceritakan
nona itu. Lu Bu-song dan Cu Siau-bun, sudah membuatnya pusing. Sekarang
tampil lagi seorang Ki Seng-wan, amboi……
Ki Seng-wan masih tetap berlutut dan Pok Thiat-beng terdiam. Ruangan hening
lelap.
“Gwat-wan …. bangunlah!” beberapa saat kemudian Pok Thiat-beng berseru.
“Sebelum gi-hu memberi keputusan, aku takkan bangkit,” sahut Gwan-wan.
Pok Thiat-beng mengerang, “Ah..kau…menyiksa aku……..” ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya, karena pikirannya benar-benar limbung.
“Cici, hidangan sudah dingin, engkoh akan kuberi makan!” tiba-tiba Ang-ko
melengking.
“Tak usah, mungkin dia tak bernapsu makan malam ini. Mari kita ke ruang
belakang!” sahut Ki Gwat-wan. Ia terus ajak dara itu menuju keluar.
Tak berapa lama, ruangan itu menjadi sunyi.
ooo000ooo
Waktu berjalan laksana anak panah terlepas dari busur. Cepat sekali tahun
barupun sudah tiba.
Sejak partai Thiat-hiat-bun, Sin-bu-kiong dan Hek gak berhadapan di gunung
Thay-heng-san tanpa hasil apa-apa, dunia persilatan aman tenang.
Pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh misterius yang selalu meninggalkan
tanda panji tengkorak darah pun sudah dua bulan lebih tak mengganas lagi.
Tetapi benarkah begitu? Tidak, tidak! Ketenangan itu hanyalah suatu persiapan
dari banjir darah yang akan melanda dunia persilatan!
Sebenarnya kaum persilatan sedang membayang-bayangkan suatu malapetaka
besar. Cemas mereka membayangkan, sekali peristiwa itu meletus, maka dunia
persilatan akan dilanda oleh gempa hebat yang mungkin akan merobah wajah
dunia persilatan seluruhnya.
Ah, benarlah. Bayang-bayang itu akhirnya menjadi kenyataan……
Rencana dari ke sembilan partai persilatan, untuk menantang Hun-tiong Sin-mo
bertempur di puncak gunung Bu-san telah dibatalkan. Tetapi sebagai gantinya,
mereka telah menerima undangan dari ketua partai Thiat-hiat-bun untuk
menghadiri rapat-besar kaum gagah di gunung Tiam-jong-san. Undangan itu
tersebar luas. Bukan hanya terbatas pada ke sembilan partai persialtan saja,
bahkan kelompok perguruan yang ternama dan berpengaruh di setiap daerah
sama mendapat undangan.
Rapat pertemuan orang gagah itu akan diselenggarakan di markas partai Tiamjong-pay pada bulan satu tanggal lima belas. Disebut perjamuan, tetapi tak ada
acara hidangannya. Baru pertama kali itu dalam sejarah dunia persilatan
menerima undangan yang seaneh itu. Dan perhatian kaum persilatan segera
tertumpah pada markas Hun-tiong-hu!
Apakah tokoh Hun-tiong Sin-mo yang menjagoi dunia persilatan selama enam
puluh tahun itu juga menerima undangan? Dan kalau menerima apakah dia akan
menghadiri?
Pecah berita yang menambah keseraman suasana. Yakni ada orang yang
menyaksikan sendiri pihak Hun-tiong-hu telah menyebar anak buahnya
berbondong-bondong menuju ke gunung Tiam-jong-san. Rombongan anak buah
Hun-tiong-hu itu mengenakan pakaian aneh dari berbagai corak.
Inilah yang menimbulkan berbagai tafsiran. Kalau Hun-tiong Sin-mo benar-benar
mau menghadiri pertemuan di Tiam-jong-san itu, mengapa tak datang saja
dengan terang-terangan, tetapi mengirim anak buahnya secara rahasia….
Berita yang lebih mengejutkan lagi telah tersiar, bahwa rombongan Hun-tiong-hu
itu telah disambut dengan penuh penghormatan oleh pihak Tiam-jong-pay.
Memang telah diduga semula bahwa antara Hun-tiong-hu, Thiat-hiat-bun dan
Tiam-jong-pay mempunyai hubungan yang erat.
Dunia persilatan hiruk-pikuk dalam topan desas-desus. Tetapi anehnya ke
sembilan partai persilatan tampaknya tenang-tenang saja dan tak mengadakan
reaksi apapun.
Setelah Hun-tiong-hu, sasaran kedua yang diperhatikan kaum persilatan ialah Sinbu-kiong.
Peristiwa Sin-bu Te-kun dihajar oleh Bu-beng-jin di gunung Thay-heng-san telah
menjadi buah pembicaraan luas di kalangan persilatan. Bahwa Bu-beng-jin telah
menerima ilmu pelajaran dalam kitab peninggalan It Bi siangjin pun telah diketahui
oleh kaum persilatan.
Dengan adanya peristiwa itu, kaum persilatan menganggap bahwa undangan
Thiat-hiat-bun untuk mengadakan pertemuan orang gagah di gunung Tiam-jongsan itu, bagi Sin-bu-kiong benar-benar suatu tamparan yang hebat!
Apakah Sin-bu-kiong akan menghadiri rapat itu? Ah, kali ini Sin-bu-kiong benarbenar dihadapkan pada persoalan yang pahit. Kalau tak hadir, tentu dianggap
menyerah kalah. Namun kalau hadir, tentu akan menghadapi bahaya kekalahan
yang fatal.
Pihak pengundang ialah Thiat-hiat-bun, sebuah partai persilatan yang kuat dan
berpengaruh. Apa lagi dibantu oleh Hun-tiong Sin-mo, ah, benar-benar ngeri.
Seluruh perhatian dunia persilatan tercurah pada pertemuan besar di Tiam-jongsan.
Walaupun lambat, tetapi akhirnya haripun merayap terus. Akhirnya………….
Bulan satu tanggal lima belas telah tiba.
Hari itu adalah malam widadari ( malam sehari sebelumnya ) dari rapat besar
orang gagah di gunung Tiam-jong-san….
Heboh!
Tanggal satu bulan satu.
Gunung Tiam-jong-san ramai sekali. Orang datang berbondong-bondong dari
seluruh penjuru. Kesibukan tampak nyata. Mulai dari markas besar Tiam-jong-pay
yang terletak di muka puncak Lok-he-hong sampai turun ke kaki gunung, telah
dihias dengan lampu warna-warni yang gilang-gemilang.
Di muka markas Tiam-jong-pay, juga didirikan bangsal penginapan untuk para
tetamu. Tiam-jong-san saat itu benar-benar tenggelam dalam lautan kesibukan
yang luar biasa.
Perjamuan atau pertemuan orang gagah yang diselenggarakan saat itu, bukan
saja merupakan lembaran baru dari sejarah partai Tiam-jong-pay, tapi juga
merupakan peristiwa besar yang terjadi di dunia persilatan!
Para tokoh-tokoh gagah dari empat penjuru gunung dan delapan pelosok daerah
di seluruh negeri, sama datang hadir.
Anak buah Tiam-jong-pay bekerja keras dan teratur, sehingga banjir tamu itu
dapat diatur rapi.
Yang datang termasuk ke sembilan partai persilatan, kelompok-kelompok
perguruan dari tiap-tiap daerah, pemimpin-pemimpin piau-kiok (pengantar
barang), jago-jago ternama sampai pada pendekar-pendekar yang tak begitu
terkenal. Mereka terdiri dari segala lapisan. Kaum paderi, biarawati (nikoh), imam,
pengemis, lelaki, perempuan, tua dan muda.
Telah dituturkan bahwa sekalipun tempat pertemuan diadakan di gunung Tiamjong-san, tetapi yang menjadi tuan rumah ialah partai Thiat-hiat-bun yang dipimpin
oleh Jenggot perak Lu Liang-ong. Ketua Tiam-jong-pay, yakni Poh-ih siu-su Li Culiong hanya merupakan salah seorang anak buah dari Jenggot perak.
Banyak tafsiran dan dugaan telah dilontarkan. Tetapi sedikit orang yang tahu
bagaimana sesungguhnya hubungan antara ketua Thiat-hiat-bun dengan ketua
Tiam-jong-pay itu. Mengapa Li Cu-liong begitu menghormat sekali terhadap
Jenggot perak Lu Liang-ong….
Yang tahu akan rahasia mereka hanyalah sedikit sekali, bahwa Li Cu-liong itu
sebenarnya adalah anak angkat dari Lu Liang-ong.
Partai Thiat-hiat-bun ternyata mengerahkan seluruh anak buahnya. Selain ke
empat Su-kiat, ke tiga puluh enam Thian-kong dan ke tujuh puluh dua Te-sat,
masih ada juga ratusan jago-jagonya yang berada di Tiam-jong-san. Mereka ikut
dalam mendirikan perkemahan, menjaga keamanan dan menyambut tamu.
Sekilas pandang, pertemuan itu merupakan suatu perjamuan besar. Suatu pesta
ria antara kaum persilatan. Tetapi sebenarnya pertemuan itu membawa arti yang
besar. Merupakan suatu pertemuan yang memastikan. Barangsiapa yang berhasil
merajai pertemuan itu, dialah yang akan dinobatkan sebagai yang dipertuan
dalam dunia persilatan!
Untuk menjaga keamanan , selain petugas-petugas yang mengadakan
perondaan, dibentuk pula sebuah regu rahasia. Regu ini mengenakan pakaian
serba putih, rambut terurai dan serba menyeramkan.
Gerak-gerik merekapun serba misterius. Sebentar tampak, sebentar lenyap.
Mereka tak ditempatkan di suatu tempat tertentu dan tak diketahui jumlahnya.
Tetapi setiap orang merasa bahwa setiap sudut dari daerah Tiam-jong-san, selalu
terdapat bayangan mereka.
Siapakah regu rahasia itu?
Bagi setiap orang persilatan yang hadir dalam pertemuan itu segera mencium bau.
Regu rahasia itu bukan lain adalah jago-jago dari Hun-tiong-hu yang berilmu
tinggi.
Apakah Hun-tiong Sin-mo juga hadir?
Adanya regu rahasia dari Hun-tiong-hu itu menyebabkan setiap tamu tak berani
sembarangan bergerak kemana-mana. Mereka takut menghadapi hal-hal yang tak
diinginkan.
Perhatian para tamu beraalih pada lain sasarn.
Mengapa sampai detik itu pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak tak tampak muncul?
Soal Sin-bu Te-kun dan Hek Gak telah menjadi bahan pembicaraan para tamu.
Hjek Gak muncul kembali setelah memendam diri selama enam puluh - tujuh
puluh tahun.
Kembalinya Hek Gak di dunia persilatan itu tentu dengan tujuan besar, dan tujuan
besar itu jelas ditunjukkan pada hiasan pagar tembok markasnya.
Di sekeliling pagar tembok markas Hek Gak, penuh digantung patung-patung
tokoh persilatan yang ternama. Tokoh-tokoh itulah yang hendak dilenyapkan. Dan
sekali muncul, ketua Hek Gak tentu sudah mempersenjatai diri dengan ilmu
kepandaian yang sakti.
Antara lain misalnya, cukup dengan mengandalkan tenaga dari Ang-tim-gongkhek Bok Sam-pi yang menjabat sebagai Cong-hou-hwat Hek Gak saja, cukuplah
sudah menundukkan jago-jago persilatan yang manapun juga. Munculnya Hek
Gak benar-benar merupakan ancaman besar di dunia persilatan.!
Sementara mengenai diri Sin-bu Te-kun, dia sebenarnya adalah Song-bun Kuimo, salah seorang dari kui-mo yang pernah menggetarkan dunia persilatan. Di
samping Hek Gak, Sin-bu-kiong pun merupakan momok yang menyita perhatian
besar.
Membicarakan Hek Gak dan Sin-bu Te-kun, orang tak dapat lepas dari
membicarakan Hun-tiong Sin-mo. Selama lebih dari enam puluh tahun lamanya,
setiap bulan sembilan tanggal lima belas, markas Hun-tiong-hu selalu menerima
kedatangan jago-jago yang hendak menantang bertempur. Selama enam puluh
tahun, entah sudah berapa banyak jago-jago yang harus menderita kekalahan
pahit. Mereka yang berani datang, tentu tak pernah pulang lagi!
Selama enam puluh tahun, Hun-tiong Sin-mo telah menjagoi dunia persilatan.
Beberapa bulan yang lalu, di dunia persilatan telah timbul kehebohan. Di sana-sini
timbul pembunuhan dan pembunuhnya meninggalkan Panji tengkorak darah.
Rakyat dan dunia persilatan gentar. Mereka membenci Hun-tiong Sin-mo yang
diduga tentu melakukan keganasan itu.
Adalah karena pernah dikalahkan Hun-tiong Sin-mo, maka Hek Gak segera
bertapa selama enam puluh tahun. Dia hendak menuntut balas atas kekalahannya
dari Hun-tiong Sin-mo yang telah membuat cacat tubuhnya.
Pihak Sin-bu-kiong selalu menjaga perdamaian dengan kaum persilatan.
Beberapa bulan yang lalu, mereka telah menerima undangan dari pihak Siu-limpay untuk bersama-sama mengeroyok Hun-tiong Sin-mo.
Sekalipun akhirnya rencana itu batal karena adanya undangan rapat orang gagah
oleh Thiat-hiat-bun ini, namun takkan berobah sifatnya. Dalam pertemuan maut
kali ini, tentu akan terjadi pertempuran maut yang menentukan.
Ditinjau dari perkembangan selama ini, posisi Hun-tiong Sin-mo tidak
menguntungkan. Ke sembilan partai besar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak
memusuhinya.
Tetapi di luar dugaan, kini muncul Thiat-hiat-bun. Partai dari luar Tiong-goan ini
muncul di wilayah Tiong-goan dan rupanya bersekutu dengan Hun-tiong Sin-mo.
Orang sama menduga, bahwa pihak Hun-tiong-hu tentu sudah berada lebih dulu
di Tiam-jong-san. Tidak menampilkan muka kepada para tamu, mungkin telah
direncanakan oleh hun-tiong Sin-mo dan thiat-hiat-bun. Sekaligus mereka hendak
menjaring seluruh tokoh-tokoh silat untuk dilenyapkan.
Apabila sampai pada kesimpulan itu, mau tak mau bergidiklah bulu roma sekalian
tamau. Dan yang lebih mencemaskan hati mereka, mengapa sampai detik ini Sinbu Te-kun dan ketua Hek Gak tak muncul! Takutkah kedua tokoh itu?
Menurut perhitungan, tanpa hadirnya ketua Sin-bu-kiong dan Hek Gak, pasti akan
merupakan kehilangan yang besar. Sekalipun seluruh tokoh-tokoh silat yang hadir
di tiam-jong-san itu bersatu padu menghadapi tantangan tuan rumah dan Huntiong Sin-mo, namun mereka tetap seperti telor beradu dengan tanduk. Pasti
mereka akan dihancur -leburkan oleh momok Hun-tiong Sin-mo. Bayang-bayang
dunia persilatan bakal dikuasai oleh momok Hun-tiong Sin-mo makin jelas.
Ada lagi sebuah hal yang lebih merontokkan nyali sekalian tamu. Ialah tentang
pemuda Bu-beng-jin yang konon telah mendapat ajaran kitab pusaka It Bi siangjin. Pemuda itu memang sakti sekali. Pernah bertempur belum selesai dengan Sinbu Te-kun dan bertempur seri dengan sama-sama terluka melawan Bok Sam-pi.
Kemanakah beradanya pemuda itu sekarang? Apakah ia sudah mati atau masih
hidup?
Demikianlah hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan penting di kalangan para
tamu. Kebanyakan mereka itu tak tahu jelas bagaimana keadaan pertempuran di
gunung Thay-heng-san yang lalu. Karena mereka membenci Hun-tiong Sin-mo,
maka simpati merekapun tertuju pada Hek Gak dan Sin-bu-kiong. Karena Bubeng-jin dianggap bermusuhan dengan Sin-bu Te-kun dan Hek Gak, maka
sekalian tamu mengharap agar pemuda itu sudah mati dan jangan muncul lagi di
dunia persilatan.
Pemuda itu pernah membunuh orang-orang dari ke sembilan partai persilatan dan
ke sembilan partai persilatan menganggap pemuda itu sebagai anak buah Huntiong Sin-mo, sehingga dipukul dan dilempar ke dalam sungai. Jelas pemuda itu
tentu mendendam. Jika ia muncul lagi di Tiam-jong-san, hebatlah akibatnya bagi
kesembilan partai persilatan.
Ramai dan sibuk sekali para tamu memperbincangkan kemungkinan-kemungkina
yang bakal mereka hadapi besok pagi. Tetapi pada keseluruhannya, mereka lebih
banyak bergelisah dari pada besar hati.
Sampai jauh malam masih terdengar orang bercakap-cakap memperbincangkan
hal itu.....
Pembukaan
Di bawah naungan kabut rahasia yang penuh teka-teki, tibalah hari pembukaan
rapat orang gagah di gunung Tiam-jong-san. Rapat yang sangat dinanti-nantikan
dengan penuh perhatian oleh seluruh kaum persilatan.
Jelas sudah bahwa maksud ketua Thiat-hiat-bun menyelenggarakan rapat itu
bukan untuk menjamu dalam rangka perkenalannya dengan kaum persilatan
daerah Tiong-goan. Apakah maksud ketua Thiat-hiat-bun di balik undangannya
itu, belum diketahui jelas!
Di muka halaman markas Tiam-jong-pay, telah dibuat sebuah lapangan seluas
berpuluh-puluh bau. Tanahnya dibuat rata sekali dan licin hingga tepat dijadikan
gelanggang adu kepandaian.
Gunung Tiam-jong-san seolah-olah bermandikan cahaya lampu warna-warni.
Beberapa pos penjagaan didirikan, petugas-petugas yang melakukan ronda
keamananpun dilipat-gandakan jumlahnya.
Di balik kesibukan dan ketegangan suasana yang meliputi medan perjamuan, di
dalam sebuah kamar rahasia dalam markas Tiam-jong-pay, sedang berlangsung
perundingan rahasia juga.
Limapuluh jago-jago Hun-tiong-hu golongan Pek-ih-tiang-hwat ( orang tua jenggot
putih berbaju putih). Jangan harap orang dapat mendekati kamar rahasia itu.
Siapakah yang sedang mengadakan perundingan rahasia di situ? Di dalam kamar
rahasia terdapat beberapa kursi. Yang duduk di kursi kehormatan ialah si Jenggot
Perak Lu Liang-ong, kemudian Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay. Duduk di sebelah
Jenggot perak, seorang wanita pertengahan umur, yakni puteri semata wayang
dari Jenggot Perak atau isteri yang ditelantarkan oleh pedang bebas pok Thiatbeng, ialah Cu Giok-bun...
Momok hun-tiong Sin-mo yang menggetarkan dunia persilatan itu tak lain tak
bukan ialah Cu Giok-bun sendiri. Mengapa Giok-bun memakai she Cu dan
mengapa ia menjadi Hun-tiong Sin-mo, memang tak diketahui jelas.
Duduk di samping Cu Giok-bun adalah puterinya, yakni Cu Siau-bun. Selain
keempat orang itu tampak juga seorang pengemis tua. Bahwa seorang pengemis
tua mendapat kehormatan diajak berunding oleh tokoh-tokoh seperti Hun-tiong
Sin-mo dan Jenggot perak, tentulah bukan sembarangan pengemis. Dan memang
demikianlah halnya. Pengemis tua itu ialah Thiat-ik Sin-kay atau Pengemis sakti
sayap besi, cousu (guru besar) angkatan yang terdahulu dari partai pengemis.
Kiranya sewaktu Thian-leng memerintahkan Lau Gik-siu supaya menjaga di luar
lembah Pak-bong-kiap dahulu, Thiat-ik Sin-kay tiba-tiba muncul. Dalam
kedudukannya sebagai seorang cousu, ia menyuruh Lau Gik-siu mengajak
rombongannya pulang ke markas Kay-pang. Sementara ia sendiri menuju ke
Tiam-jong-san.
Perundingan dalam kamar rahasia itu berlangsung dalam suasana yang sepi.
Rupanya mereka tengah menghadapi masalah berat. Beberapa saat kemudian
tiba-tiba Li Cu-liong membuka mulut, “Dari regu penyelidik yang pulang melapor,
pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak tak memperlihatkan gerakan apa-apa.
Kemungkinan besar mereka tak menghadiri rapat ini!”
Jenggot perak menghela napas perlahan, “ Pintar juga tindakan mereka itu,
tetapi..... ia tertawa datar, “mungkin perhitunganmu itu meleset!”
Merahlah wajah Li Cu-liong.
“Menurut pendapatku, bukan saja mereka akan datang, juga kedatangan mereka
itu tentu dengan tujuan jahat. Mungkin........” tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk,
tetapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ibunya sudah memutuskan ,
“Eh, apakah kau berhak bicara di sini?”
Siau-bun bungkam.
“Giok-bun, mengapa kau begitu keras terhadap anak!” Jenggot perak tertawa.
kemudian dengan pandangan ramah ia menatap Siau-bun, ujarnya, “Sebenarnya
dugaanmu itu tadi benar. Mereka pasti datang dengan berbekal rencana jahat.
Tetapi, ..eh, mengapa kau
dapat menduga begitu?”
Siau-bun hendak menyahut, tetapi didahului Lu Bu-song, “Itu mudah saja! Kalau
tidak masakah kakek tegang sekali sehingga memerintahkan supaya Tiam-jongsan dijaga seketat ini?”
Kembali Jenggot perak tertawa keras, “Benar, benar jugalah. kalian memang anak
perempuan keranjingan.......” ketika memandang Cu Siau-bun, tiba-tiba Jenggot
perak berhenti bicara. Teringatlah ia akan kata-kata Siau-bun ketika berada di
gunung Thay-heng-san tempo hari. Ia telah meluluskan untuk menjodohkan Busong dengan Bu-beng-jin. Siapa tahu ternyata sebelumnya Bu-beng-jin telah
mengadakan hubungan luar biasa dengan Siau-bun. Jenggot perak pedih hatinya
atas tindakan Bu-beng-jin yang beriman tipis itu. Bagaimana nanti dengan Lu Busong.
Sebaliknya karena dipuji sang kakek, Bu-song girang hatinya. Dengan
membusungkan dada ia memandang Siau-bun beberapa saat. Siau-bun pun
balas memandang adik misannya itu.
Karena tak tahu apa yang sedang dipikirkan Jenggot perak saat itu, begitu tampak
wajah orang tua itu muram, diam-diam Li Cu-liong terkejut. Sejak kecil ia dipungut
anak oleh jenggot perak, maka tahulah ia bagaimana perangai ayah angkatnya
itu.
Menghadapi persoalan yang bagaimanapun beratnya, selalu Jenggot perak itu tak
acuh. Tetapi kalau saat itu tampak begitu gelisah, terang masalahnya genting
sekali.
“Sin-bu-kiong dan Hek Gak sudah menderita kekalahan di gunung Thay-heng-san.
Kegarangan mereka pun tentu sudah merosot. Maksud gi-hu menyelenggarakan
rapat orang gagah ini, selain untuk berkenalan dengan kaum persilatan Tionggoan, juga hendak membantu mereka melenyapkan kedua momok jahat itu.
Dalam hal ini mungkin pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak sudah mencium itu, maka
kemungkinan besar mereka tentu tak datang.....”
“Mereka datang atau tidak, aku tak peduli. begitu perjamuan ini selesai, aku
segera mengajak Bu-song pulang ke Ling-lam lagi....” ia menghela napas, “Dunia
persilatan Tiong-goan bakal menjadi bagaimana, aku tak sudi mengurus lagi!”
Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan nada rawan.
Li Cu-liong melongo. Ia tak tahu apa yang dimaksud dalam ucapan ayah
angkatnya itu. Suasana kamar rahasia itu diliputi oleh kerawanan.
“Kek,....... apa katamu?” teriak Bu-song.
Beberapa bulan yang lalu karena marah-marah, ia berpisah dengan Thian-leng.
Tetapi hatinya selalu terkenang pada anak muda itu. Diam-diam ia menyesal atas
tingkah lakunya sendiri. Karena tak tahu kemana perginya Thian-leng, terpaksa ia
menggabungkan diri dengan kakeknya lagi. Jenggot perak menghibur cucunya
dan memeberi jaminan, bahwa Thian-leng pasti akan berkumpul lagi dengan dara
itu. Karena mendapat jaminan, barulah dara itu mau ikut ke Tiam-jong-san. Tetapi
dalam perjalanan, Jenggot perak telah mengetahui hubungan antara Thian-leng
dengan Cu Siau-bun. Sikap Jenggot perak serentak berobah seratus delapan
puluh derajat. Hanya saja ia mendapat kesulitan untuk menceritakan hal itu
kepada Bu-song.
“Apakah kata-kataku tadi belum jelas?” Jenggot perak menyeringai kepada Busong.
Bu-song terkejut. Selama ini belum pernah kakeknya bersikap begitu kepadanya.
“Kek, kuminta kau mengatakan lagi!” serunya.
“Besok lusa, kita pulang ke Ling-lam dan takkan datang ke Tiong-goan lagi
selama-lamanya!” kata Jenggot perak dengan suara berat.
“Mengapa ..?” wajah Bu-song berobah seketika.
“Tidak apa-apa,” kata Jenggot perak dengan suara tetap, “kudapatkan dunia ini
kotor palsu, hati manusia banyak yang culas. Aku tak mau keluar ke dunia ramai
lagi selama-lamanya!”
“Eh, kek, mengapa hari ini? ” serentak Bu-song bangkit dengan kaget, “apakah
yang terjadi? Apakah ... ” cepat sekali dara itu mereka dugaan, jangan-jangan Bubeng-jin mendapat bahaya. Bukankah tempo hari kakeknya itu pernah
mengatakan bahwa pemuda itu lenyap di gunung Thay-heng-san?
Jenggot perak menghela napas pula, ujarnya, “Nak, jangan mendesak
pertanyaan. Aku mau pulang ke Ling-lam adalah demi kebaikanmu!”
Bu-song makin bingung. Segera ia menubruk kapada kakeknya dan merajuk,“Kek,
kau harus mengatakan yang sebenarnya. Apakah dia....., bagaimana?”
Siau-bun mengulum lidah dan tertawa dingin, “Eh, Adik Song, siapakah yang
kaumaksudkan ‘dia’ itu?”
Tetapi Bu-song tak menghiraukan, ia tetap menggelendoti bahu kakeknya.
“Bilanglah kek, bagaimana dia?”
Sejenak Jenggot perak melirik kepada Siau-bun, ingin berkata tetapi tak jadi.
“Kek, aku bukannya anak kecil yang tak tahan menderita siksaan batin. Bilanglah,
apakah dia mati?” kembali Bu-song mendesak dengan garang.
Dengan gerakan yang perlahan, Jenggot perak menganggukkan kepala, “Benar,
dia....mati!”
Air mata yang sudah mengembang di pelupuk mata Bu-song segera melanda
keluar laksana banjir meluap.
Melihat itu hati Siau-bun pilu. Ia menundukkan kepala. Kedukaan kakek dan
cucunya itu benar-benar menyayat sanubari.
Tiba-tiba Bu-song mengusap air matanya dan berkata dengan suara gagah.
“Lebih baik mati, dia….. memang seharusnya dulu-dulu sudah mati!”
Kata-kata dara itu mengejutkan sekalian orang. Jenggot perak mengelus-elus
bahu Bu-song dan berkata dengan lemah, “Nak, kau…..”
“Aku benci padanya. Sebenarnya akan kubunuh , syukur kalau dia sudah mati!”
Bu-song tertawa.
“Benarkah itu?” Jenggot perak terbelalak.
“Mengapa tidak ? Setelah rapat besok pagi selesai, kita segera pulang saja!”
“Bagus, besok lusa kita tentu pulang!”
“Tetapi… siapakah yang membunuhnya?” tiba-tiba Bu-song bertanya.
“Kau toh sudah benci, buat apa menanyakan?” sahut Jenggot perak yang
sebenarnya tak tahu bagaimana keadaan Bu-beng-jin .
“Ah, aku hanya ingin tahu saja. Siapa tahu aku akan berterima kasih padanya.”
Terpaksa Jenggot perak memberitahukan, “Bok Sam-pi, tetapi dia sendiripun
terluka parah!”
“Apakah besok pagi dia datang,” Bu-song tertawa.
Jenggot perak terkejut melihat sikap cucunya yang tak wajar. Ia tertawa getir. “Bok
Sam-pi menjabat Cong-hou-hwat dari Hek Gak. Jika pihak Hek Gak berani datang,
sudah tentu diapun ikut serta!”
Bu-song mengangguk, “Baik, akupun hanya ingin tahu begitu saja. Sekarang
silakan membicarakan hal-hal lain yang penting.” Ia kembali duduk di tempatnya
semula. Wajahnya menyungging senyum yang aneh.
Beberapa kali sebenarnya Cu Siau-bun hendak membuka mulut, tapi tak jadi.
Sedangkan Thian-ik Sin-kay pun hanya terlongong-longong saja mengawasi
Jenggot Perak.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk perlahan tiga kali…..
“Masuk!” seru Jenggot perak.
Li Cu-liong segera bangkit dan membukakan pintu. Seorang anggota rombongan
Pek-ih-tiang-hwat (jago-jago Hun-tiong-hu yang berjenggot dan berbaju putih)
memberi hormat di ambang pintu.
“Seorang murid Kay-pang mohon menghadap!” serunya. Jenggot perakpun
menyuruhnya membawa masuk.
Seorang pengemis melangkah masuk dan setelah memberi hormat kepadanya
serta Jenggot perak, lalu berlutut di hadapan Thiat-ik Sin-kay. “Murid Nyo Bu-hiong
kepala cabang Liang-ci, mohon menghadap cousu!”
“Lekas katakan berita yang kau bawa kepada Lu lo-cianpwe!” perintah Thia-ik Sinkay.
Nyo Bu-hiong mengiyakan, lalu menghadapi Jenggot perak, ujarnya, “Kami
mendapat berita dari anggota kami yang sedang bertugas… ”
“Katakanlah terus!” seru Jenggot perak
“Pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak telah mulai mengunjukkan tanda-tanda
bergerak. Tetapi yang keluar hanya beberapa orang saja…..”
“Ah, dugaanku tak meleset!” Jenggot perak menepuk perlahan-lahan, “mereka
akan bergerak secara bergelombang. Apakah mereka itu terdiri dari orang-orang
Sin-bu-kiong atau Hek gak semua?”
“Benar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak mengeluarkan beberapa jago-jago desa yang
sudah lama tak muncul,” sahut Nyo Bu-hiong.
“Apakah mengetahui siapa mereka itu?”
Nyo Bu-hiong menyahut agak gugup, “ Ini….maaf, tecu kurang cermat, sehingga
tak menyelidiki asal-usul mereka. Hanya salah satu dikenal sebagai Cian-bin
cuncia….”
“Cukup!” tiba-tiba Jenggot perak bangkit lalu mondar-mandir di dalam kamar
rahasia. Rupanya persoalan memang genting sekali.
Kecuali Thiat-ik Sin-kay, sekalian orang yang berada dalam kamar rahasia itu
sama tercengang. Cian-bin cun-cia atau paderi seribu wajah, memang asing bagi
mereka. Namun dari reaksi Jenggot perak, jelas bahwa Cian-bin cuncia itu tentu
bukan tokoh sembarangan.
Sampai beberapa lama kemudian barulah jenggot perak menyuruh Nyo Bu-hiong
keluar.
“Anak tak kenal siapa Cian-bin cuncia itu Gihu… ” baru Li Cu-liong bertanya begitu
Jenggot perak sudah menukas. “Gelar Cian-bin cuncia itu diperoleh karena orang
itu benar-benar dapat berobah dalam seribu macam wajah. Sebentar menyaru jadi
pengemis, sebentar imam tua. Jadi pendek kata menyaru jadi orang apa saja dia
bisa. Ilmu kepandaian itu benar-benar menyesatkan orang..... ”
“Ah, kalau begitu pertempuran besok pagi sudah tentu akan membuat Lu lohiap
sibuk sekali,” seru Thiat-ik Sin-kay.
“Tetapi telah kukatakan tadi, begitu rapat besok pagi itu selesai, aku segera
kembali ke Ling-lam. Tetapi menilik gelagatnya, Sin-bu-kiong telah berhasil
menarik manusia belut itu dalam pihaknya. Siapa tahu rencanaku pulang akan
mengalami kegagalan, karen atulang-tulangku yang bangkotan ini bakal terkubur
di sini!”
Thiat-ik Sin-kay tertawa, “Ah, ucapan Lu lohiap itu terlalu meremehkan diri sendiri.
Jangankan Cian-bin cuncia belum tentu berani menghadapi engkau secara
terang-terangan, sekalipun berani tetap takkan menang. Kekuatiran Lu lohiap tak
beralasan....,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Sekalipun aku si
pengemis tak berguna ini, juga belum tentu begitu mudah menyerah!”
“Tetapi yang aku kuatirkan bukan Cian-bin cuncia itu melainkan mengenai hidup
matinya seseorang. Ketahuilah, kalau Sin-bu-kiong berhasil menarik Cian-bin
cuncia, mungkin Lam-yau (siluman selatan), Pak-koay (orang aneh utara) Bu Te
suseng dan lainnya telah dapat dikuasai Sin-bu-kiong. Jika kawanan pentolan itu
bersatu, tentu sukar ditundukkan. Dalam pertempuran besok pagi, tentu akan
timbul pertumpahan darah yang hebat....”
Thiat-ik Sin-kay pun tegang wajahnya. Apa yang menjadi kekuatiran Jengot perak ,
memang bukan mustahil. Kawanan Cian-bin cuncia itu merupakan momok-momok
termashyur di dunia persilatan. Munculnya mereka tentu akan mempergenting
suasana rapat besok pagi.!
Siau-bun diam saja. Wajahnya mengerut, hatinya bergolak. Demikian juga Busong. Kedua gadis ini sama gelisah memikirkan Bu-beng-jin.
Tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh suara jenggot perak yang bertanya kepada
Li Cu-liong, “Apakah tamu-tamu yang hadir itu telah diketahui asal-usulnya?”
Li Cu-liong tersentak kaget. Serentak ia bangkit, “Setiap tamu tentu membawa
undangan. Kebanyakan pemimpin-pemimpin partai persilatan yang terkenal.
Sampai sebegitu jauh belum terdapat orang yang mencurigakan....”
“Apakah kau sudah memeriksa sendiri?”
“Ah, ini.....”
“Bagaimana?” desak Jenggot perak.
“Karena banyak pekerjaan, anak sampai tak melakukan hal itu,” wajah Li Cu-liong
berobah pucat.
Jenggot perak menghela napas. “Kelalaian sedetik dapat menyebabkan mala
petaka seumur hidup.... tetapi tak dapat kusalahkan engkau. Akulah yang lalai..”
“Anak segera akan melakukan pemeriksaan, entah.....”
“Kini para tamu sudah hadir, masakah engkau hendak memeriksanya satu
persatu?” tukas Jenggot perak.
“Tidak!” Thiat-ik Sin-kay menyeletuk, “hal ini dapat dianggap menghina kaum
persilatan....”
Li Cu-liong bungkam. Memang memreiksa tamu satu persatu, tidak dapat
dibenarkan.
Akhirnya Cu Giok-bun menghela napas. Katanya kepada Jengot perak, “Kalau
begitu biarlah li-ji (anak perempuan) saja yang melakukan tugas itu!”
Jenggot perak tertawa mengangguk. “Kalau kau yang bertindak itulah bagus.
Tetapi ayahmu mempunyai rencana yang lebih bagus!”
“Apakah itu, kek?”Cu Siau-bun menyeletuk.
“Sebaiknya kita pergi beramai-ramai agar mudah menghadapi sesuatu!” sahut
Jenggot perak.
Cu Giok-bun mngerutkan kening, “Apakah memang berat sekali?”
Jenggot perak mengelengkan kepala, “Mungkin kecurigaanku berlebihan. tetapi
tiada jeleknya kita berhati-hati!” Ia bangkit dan menyuruh Li Cu-liong segera
membukakan pintu.
Demi melihat pemimpin mereka keluar, rombongan Thiat-ik Sin-kay serentak
mengundurkan diri bersembunyi dalam kegelapan malam.
Li Cu-liong menjadi penunjuk jalan. Mereka menuju ke lapangan di luar markas.
Walaupun malam gelap tiada bintang, tetapi karena empat penjuru dihias lentera
warna-warni, lapangan terang-benderang seperti siang hari.
Dengan ilmu Memandang langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak
mengetahui persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Anak
buah Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan jago-jago Hun-tiong-hu mengadakan
penjagaan dengan ketat. Bangsal penginapan untuk para tamu telah dijaga rapat.
Diam-diam jago tua itu mengangguk puas. Dia mengikuti Li Cu-liong menuju ke
bangsal penginapan para tamu.
Bangsal penginapan para tamu didirikan tepat di muka markas tiam-jong-pay.
Meskipun terbuat dari bambu, tetapi dibuat indah sekali. Dari pintu bangsal,
terbentang sebuah jalan panjang yang masuk ke dalam. Di dalam penuh dengan
ruangan-ruang untuk para tamu. Meskipun belum larut malam, tetapi pintu-pintu
kamar sudah tertutup semua. Keadaan sunyi senyap.
Kiranya para tamu mempunyai perhitungan sama. Dalam tempat dan suasana
yang sedemikian gawat, lebih baik mereka jangan gegabah keluar kemana-mana.
Kalau tidak tidur, mereka lebih suka menyekap diri bersemedhi memelihara
tenaga.
Kurang lebih setengah jam, rombongan Jenggot perak sudah menjelajahi seluruh
kamar-kamar para tamu. Li Cu-liong berhenti di ujung bangsal dan dengan suara
berbisik-bisik menanyakan pada Jenggot perak apakah melihat sesuatu yang
mencurigakan.
“Selain bangsal ini, apakah tak ada tempat untuk menampung para tamu lagi?”
Jenggot perak mengerutkan kening.
“Anak hanya menurut semua petunjuk gi-hu. Selain di sini, memang tak ada lain
tempat penampungan lagi.”
Jenggot perak tersenyum, lalu berpaling kepada Cu Giok-bun, “Mungkin ayahmu
sekarang sudah tua, sehingga tadi tak mendengar dan melihat sesuatu yang
menimbulkan kecurigaan. Tetapi entah bagaimana kesanmu?”
Sahut hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, “Li-ji pun tak mendapatkan sesuatu hal yang
mencurigakan, hanya......” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “li-ji telah
menemukan sesuatu hal yang agak aneh!”
“Coba katakanlah!”
“Sekarang baru kurang lebih jam sepuluh malam, mengapa tak seorangpun yang
keluar? Apakah mereka sudah tidur semua?”
“Mungkin mereka tak mau terlibat hal-hal yang tak diinginkan, maka lebih baik
mengeram diri dalam kamar saja.....”
“Akupun semula mempunyai kesimpulan begitu. Memang kalau lain-lain partai
berbuat begitu, dapatlah dimaklumi. Tetapi lain halnya dengan Siau-lim-pay....”
tukas Cu Giok-bun. Tetapi belum ia menyelesaikan pendapatnya, Jenggot perak
sudah balas menukas, “Benar! Siau-lim-pay adalah pemimpin dari ke sembilan
parta persilatan. Ketiga cuncia Siau-lim-pay pernah mengajak sembilan partai dan
mengundang Sin-bu-kiong untuk menempurmu di puncak Giok-li-hong.
Seharusnya sekarang ia tak bertindak begini aneh....”
Jenggot perak merenung sejenak, serunya kemudian, “Apakah kecurigaanmu
tertumpah pada kamar Siau-lim-pay?”
Belum Cu Giok-bun menyahut, tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk, “Mungkin tidak!”
Cu Giok-bun memberi isyarat mata kepada puterinya itu, tetapi tak mengatakan
apa-apa.
“Cobalah terangkan mengapa tidak?” seru Jenggot perak.
Sambil tersenyum kecil, Cu Siau-bun berkata, “Aku tak mengatakan kamar Siaulim-pay tak boleh dicurigai, melainkan mengatakan bahwa kecurigaan itu dapat
ditujukan pada semua kamar tamu!” ia berhenti sejenak, lalu mengedipkan mata.
“Kakek seorang cerdik, tentu mengetahui apa sebabnya!”
Senang juga hati Jenggot perak mendapat pujian itu. Dan berbareng itu diapun
menyadari. Sambil mengelus-elus jenggotnya, ia tertawa, “Benar, memang Siaulim-pay patut dicurigai, tetapi lain-lain partai yang tak keluar dari kamar itupun juga
harus mendapat perhatian kita. Karena kalau tidak, masakah mereka tak mau
keluar semua!”
Meliha tSiu-bun mendapat angin, Bu-song resah hatinya. Segera iapun berseru,
“Kek, bolehkah aku buka suara?”
Bu-song mencibirkan bibir, serunya, “Dari segala jenis racun yang beredar di
dunia persilatan, kabarnya racun Peh-tok-jong ( kutu beracun) yang paling ganas
sendiri. Benarkah itu?”
Jenggot perak terkesiap, tanyanya, “Bukan saja Peh-tok-jong itu merupakan
rajanya racun, juga merupakan raja kutu beracun. Tetapi mengapa kau
menanyakan hal itu?”
“Bagaiana keganasan kutu itu?”
“Korbannya segera meleleh menjadi cairan darah. Tak ada obatnya lagi!”
“Siapa yang pertama mendapatkan kutu itu?”
“Raja kutu beracun Coh Sing!”
Bu-song menghela napas, “Agaknya kita telah mendapat ancaman hebat!”
Bukan hanya Jenggot perak, juga Cu Siau-bun terheran-heran memandang Busong.
“Nak, mengapa kau main goda dengan kakek? Katakanlah lekas!” Akhirnya
Jenggot perak berseru.
“Masakah kakek belum tahu?” tanya Bu-song.
Dara itu segera melirikkan matanya ke ujung kamar yang terakhir.
Sekalian orangpun ikut memandang ke sana. Di belakang kamar tamu itu, tampak
berserakan selongsong kulit ular, kaki laba-laba, betis tonggeret dan lain-lain.
Sayup-sayup seperti terbaur hawa anyir.
“Kamar tamu itu ditempati oleh partai Ji-tok-kau,” Jenggot perak tertawa hambar,
“karena kuatir lain tamu tak puas dengan adat kebiasaan Ji-tok-kau, maka
kuperintahkan supaya rombongan Ji-tok-kau ditempatkan di kamar yang paling
belakang sendiri... apakah hubungannya dengan Peh-tok-jong?”
Bu-song tertawa, “Coh Sing si raja kutu beracun itu mungkin berada di sini!”
“Mustahil!” teriak Jenggot perak, “apakah kau tahu sendiri?”
“Sekalipun Peh-tok-jong itu memerlukan ramuan macam-macam binatang
beracun, tetapi yang paling penting adalah sejenis Lok-bi-ciat ( kalajengking hijau)
dan ular Ang-sian-nio ( ular merah). Bukankah kakek pernah menceritakan hal
itu?” kata Bu-song.
“Ya, kakek memang pernah bercerita begitu.... ” Jenggot perak mengerang
perlahan.
Sekalian orangpun segera menyadari tentang hal yang mencurigakan itu.
Kosongan kulit kutu yang berhamburan di tanah itu memang layak dicurigai. Yang
paling menarik perhatian ialah selongsongan kulit ular berwarna merah dan
seekor kalajengking warna hijau.
Kedua binatang beracun itu merupakan unsur utama dari racun Peh-tok-jong.
Partai Ji-tok-kau termashyur dalam ilmu racun, sudah tentu takkan membawanya
kemana-mana!
Jenggot perak merenung, ujarnya, “Nak, kau memang teliti sekali. Kalau tidak,
perjamuan besok pagi tentu gagal berantakan!”
“Bersihkan kotoran ini!” Jenggot perak memberi perintah kepada Li Cu-liong.
Ketua Tiam-jong-pay itu mengiyakan dan segera hendak keluar.
“Nanti dulu, kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun berseru.
“Eh, kau mau apa lagi?”
Siau-bun cebikan bibir tertawa, “Aku hendak unjuk ketololan di hadapanmu, tidak
secerdik adik Song. Tetapi cobalah kakek pikirkan. Di dalam perumahan para
tamu ini penuh dengan jago-jago ulung yang membawa rombongan anak
buahnya. Bagaimana juga gerak-gerik Coh Seng tentu akan ketahuan. Tetapi ada
dua hal yang patut menjadi perhatian.... ”
“Apakah itu?”tanya Jenggot perak dengan segan.
Siau-bun tertawa, “Pertama, agar kawanan penjaga dapat mempertinggi
kewaspadaan. Siapa tahu bakal menghadapi hal-hal yang genting. Kedua,
menjaga jangan samapai menimbulkan kesalah-pahaman partai-partai
persilatan...”
“Lalu bagaimnana menurut pendapatmu?” Jenggot perak bertanya.
Siau-bun tertawa pula, “Hanya beberapa anak buah partai Ji-tok-kau dan
ditambah seorang Raja kutu beracun Coh Seng, dapat berbuat apa? Asal kita
dapat menjaga jangan sampai mereka sempat menggunakan racun, tentulah
pertemuan besok dapat diselamatkan. Masakah kakek tak mampu menindak
mereka?”
“Baik, biarlah aku sendiri yang turun tangan!” kata Jenggot perak seraya loncat ke
udara, melayang ke dalam ruang tamu.
Thiat-ik Sin-kay, Li Cu-liong , Cu Giok-bun, Cu Siau-bun dan Bu-song segera
mengikuti. Mereka melesat ke tengah ruang tamu.
Tempat mereka omong-omong tadi tak berapa jauh dari ruang tamu. Bagi tamu
yang tinggi ilmu lwekangnya, tentulah dapat menangkap pembicaraan Jenggot
perak tadi. Tetapi ternyata keadaan sepi-sepi saja.
Bahkan setibanya di dalam ruanga tamu, Jenggot perak sudah disambut oleh bau
anyir darah. Dan segera jago tua itu menyaksikan pemandangan yang
mengerikan. Di ruang tamu kamar tengah, tampak empat sosok tubuh manusia
tergeletak di lantai.
Ketika dihampiri, kiranya mereka adalah anak buahTiam-jong-pay yang bertugas
melayani keperluan para tamu. Wajah mereka menjadi hitam, jelas terkena racun.
“Biadab sekali.......” Li Cu-liong menggertak gigi, lalu menggunakan ilmu
menyusup suara kepada Jenggot perak. “Anak hendak menuntut balas atas
kematian merek!”
Sebelum Jenggot perak membuka mulut, Li Cu-liong sudah menggeliat melesat ke
ruangan tengah.
Jenggot perak terkejut sekali. Buru-buru ia memanggil. “Tahan dulu!”
Tetapi seruannya agak terlambat. Li Cu-liong menghantam daun pintu kamar dan
menerobos masuk.
Karena kamar-kamar itu terbuat dari bambu, maka sekali hantam dapatlah Li Culiong menjebolnya.
Karena dia sendiri yang mengawasi pembuatan bangsal penginapan para tamu,
maka pahamlah ia akan keadaan di situ. Setiap ruang terdiri dari empat buah
kamar yang di jajar empat jurusan. Di tengah-tengahnya sebuah ruang tamu dan
dua buah kamar tidur.
Di luar dugaan, kamar-kamar di situ sunyi senyap saja. Dan ketika ia mendorong
pintu sebuah kamar, serangkum asap hitam membaur ke luar. Buru-buru ia
menutup pernapasan dan melepaskan sebuah pukulan. Brak.... terdengar suara
benda berhamburan jatuh, tetapi anehnya tak seorangpun manusia yang muncul.
Pukulan itu menghembus asap hitam ke samping.
Li Cu-liong terkejut. Secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya mencelat kembali ke
tengah ruangan. Ia tahu bahwa asap itu tentulah asap beracun. Asal
menghentikan pernapasan, tentulah takkan kemasukan racun. Tetapi
perhitungannya meleset. Asap beracun itu luar biasa cara kerjanya. Begitu
menyentuh tubuh manusia, terus merembes masuk melalui lubang pori-pori.
Terjangannya melalui taburan asap, cukup membuatnya celaka. Begitu berada di
luar, seketika ia merasakan sendi-sendi tulangnya sakit sekali, dada sesak dan
kepala serasa berputar. Bluk.... jatuhlah ia terkapar di lantai.....
Kagt dan marah sekali Jenggot perak, serunya, “Memang racun Peh-tok-jong!
Kau.... ”
“Pil Tay-hoan-tan masih tinggal dua butir, untung kubawa!” seru Hun-tiong Sin-mo
Cu Giok-bun. Segera Li Cu-liong diberinya minum sebutir. Ketua Tiam-jong-pay itu
muntah-muntah dan tersadar.
Suasana di bangsal penginapan para tamu itu sunyi saja. Seolah-olah tak ada
orang yang mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan.
Jenggot perak tertawa datar, “Kalau samapai jatuh di tangan tikus kecil itu, kami
ayah dan anak tentu mendapat malu besar. Bagaimana dengan pertemuan besok
pagi?”
“Mengapa ayah masih bersikap seperti dulu, begitu mengindahkan kepada
mereka?” kata Cu Giok-bun.
Jenggot perak mengepal-ngepal tinju seraya menggeram, “Kalau sudah ganas
biarlah ganas habis-habisan. Coba saja lihat nanti apakah mereka mampu
menerima tinjuku ini!”
Begitu marahnya Jenggot perak saat itu sehingga dari tubuhnya menghambur
semacam hawa panas yang mendesis-desis.
“Nanti dulu kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun mencegah kakeknya yang bersiap hendak
menghantam.
Jenggot perak mengakui kecerdikan kedua anak perempuan itu. Mendengar Siaubun mencegahnya, iapun berhenti. “Apa lagi?”
Sahut Siau-bun dengan perlahan. “Gerombolan Ji-tok-kau mahir sekali dalam ilmu
racun. Tadi Li ciang-bun telah terkena racun Peh-tok-jong. Ini menandakan bahwa
si raja racun Coh Seng tentu berada di sini. Pukulan kakek luar biasa hebatnya.
Seluruh isi ruang gerombolan Ji-tok-kau tentu hancur binasa. Tetapi tidakkah
dengan begitu racun mereka akan berhamburan kemana-mana. Mereka dapat
dibinasakan, tetapi kitapun tentu celaka......”
“Ah, benar! Tetapi...apakah membiarkan saja mereka berbuat sesuka hatinya?
Apakah kita rela mengundurkan diri?” Jenggot perak membantah.
“Tidak, perbuatan merekapun harus mendapat hukuman yang setimpal!” Siau-bun
tertawa, “segala jenis racun tak ada yang dapat melawan api. Pukulan Cek-ihciang dari mamahku, mungkin ada gunanya!”
Cu giok-bun mendengus, “Hm, budak, kau berani mempamerkan ibumu!”
walaupun mulutnya mengatakan begitu tetapi ia segera bertindak.
Tangannya diangkat, seketika menghamburlah serangan sinar merah. Tenaga
tamparan segera menghambur ke dalam jendela. Seketika sekeliling tiga tombak
terasa panas. Menyusul terdengar bunyi berkeretekan bambu yang termakan api.
Susul menyusul jeritan ngeri dari beberapa orang di dalam kamarpun
berhamburan mengaduh.
Ruang yang terbuat dari bambu itu terbakar oleh pukulan Cu Giok-bun. Asap
mengepul membawa bau daging gosong. Selain bau bangkai manusia, juga
tercampur dengan bau anyir dari binatang-binatang beracun yang mati terbakar.
Jenggot perak mengerutkan alis, “Meskipun cara ini baik, tetapi bagaimana
pertanggungan jawab kita terhadap sekalian tamu? Bukankah tindakan kita ini
akan menjadi buah ejekan dari para tamu besok pagi? Tidakkah mereka akan
mengatakan kita sebagai tuan rumah telah menindas tamu?”
Cu Siau-bun mengerutkan kening, “Kakek terlalu baik. Tetapi bukankah setiap
kejahatan harus diberantas habis? Jika bangsa manusia ganas semacam ini
dibiarkan hidup, dunia akan terancam bahaya! Cara kita tadi, rasanya tepat!”
“Kek, aku mempunyai cara untuk menundukkan sekalian tamu besok pagi!” tibatiba Bu-song menyeletuk. Ia melirik Siau-bun.
“Mengapa tak lekas bilang?” dengus Jenggot perak.
Bu-song tertawa mengikik, “Keempat orang Tiam-jong-pay yang menjadi korban
itu cukup menjadi bukti. Apabila besok pagi keempat mayat mereka ditunjukkan
dalam pertemuan, tentulah mereka akan mengerti dan memaklumi tindakan kita!”
Jenggot perak bertepuk tangan, “Benar, tepat sekali....ayo, lekas pindahkan mayat
anggota Tiam-jong-pay itu!”
Li Cu-liong yang sudah sembuh segera memerintahkan anggotanya mengangkut
keempat mayat itu keluar.
Bangsal penginapan para tamu tetap sunyi-sunyi saja.
Hanya sebuah kamar, yakni tempoat menginap gerombolan partai Ji-tok-kau yang
terbakar. Dan sekalian tamu tetap berdiam diri dalam kamar tak berani menjenguk
keluar.
Memang dari dalam kamar Ji-tok-kau telah menghambur keluar bau manusia
terbakar, tetapi apakah si Raja racun Coh Seng juga turut terbakar, masih belum
diketahui.
Api makin menjalar besar. Jika tak dipadamkan tentu akan memakan seluruh
abngsal.
“Api ini seharusnya .....” baru Siau-bun berseru begitu, Jenggot perak sudah
menukasnya, “Api yang menyulut ibumu, bagaimana kau hendak suruh kakek
yang memadamkan?” Sekalipun mulutnya mengatakan begitu, tetapi jago tua itu
segera menampar beberapa kali. Serangkum hawa dingin segera menghambur
keluar. Api makin lama makin menyurut kecil.
Di dalam kejadian itu, sukar diketahui berapa jumlah korban yang terbakar. Tetapi
dengan ilmu Melihat langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui
bahwa tak seorangpun yang ada dalam kamar Ji-tok-kau dapat meloloskan diri.
“Bagaimana sekarang?” tanya Li cu-liong kepada Jenggot perak.
“ Terpaksa kita harus minta ibu melepas pukulan lagi, biar seluruh orang ji-tok-kau
mati semua!” Cu Siau-bun menyeletuk.
“Ah, tetapi tindakan itu agak terlalu ganas,” Jenggot perak mengerutkan dahi.
Bu-song menyeletuk, “Ganas atau tidak ganas, tak usah dibicarakan dulu. Tetapi
dalam hal ini memang masih ada hal-hal yang mencurigakan....” ia berhenti
sejenak lalu berkata pula, “Tiga buah kamar yang dihuni rombongan Ji-tok-kau
tentulah bukan terdiri dari orang-orang tuli semua. Apakah mereka begitu saja
mau menerima kematian tanpa memberi perlawanan apa-apa? Apakah tak ada
seorangpun yang mempunyai pikiran untuk lolos?”
“Benar-benar, akupun mempunyai pikiran begitu.... ” sambung Jenggot perak,
“ruangan penuh orang, tetapi sedikitpun tak tampak suatu gerakan apa-apa!”
“Kek, bolehkah aku masuk memeriksa salah sebuah kamar mereka?”akhirnya
Siau-bun berseru.
Jenggot perak tergopoh-gopoh menolak.
Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Kek, kecurigaanmu berlebihan. Meskipun aku nanti
terkena racun Peh-tok-jong, tetapi ibu masih mempunyai pil Tay-hoan-tan yang
mukjijat!” Tanpa menunggu ijin kakeknya, gadis itu sudah mencelat masuk ke
dalam sebuah kamar.
“Gadis liar!” bentak Cu Giok-bun yang menyusul puterinya. Jenggot perak
sedianya hendak menyusul, tetapi setelah melihat Cu Giok-bun sudah bertindak,
ia membatalkan maksudnya.
“Kek, kemarilah lekas!” tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru dari dalam kamar.
Ketua Thiat-hiat-bun itu terkejut bukan kepalang. Sekali loncat ia menerjang ke
dalam. Thiat-ik Sin-kay, Bu-song dan Li Cu-liong pun mengikuti.
Apa yang mereka lihat di dalam kamar benar-benar membuat mereka tercengang.
Di dalam kamar itu tampak tujuh-delapan orang Ji-tok-kau. Sekilas pandang
mereka seperti orang yang duduk bersemedhi dengan mata merem melek. tetapi
setelah diperhatikan lagi kiranya mereka sudah tak bernyawa lagi.
Seperti telah dikatakan di atas, ketiga ruangan itu khusus ditinggali oleh
rombongan Ji-tok-kau. Di luar bangsal dijaga keras oleh para penjaga, baik yang
terang maupun yang meronda secara gelap. Ketatnya penjagaan begitu rupa,
sehingga umpama lalat terbang masukpun tentu diketahui.
Jenggot perak mengerutkan alis. Selama hidup baru sekali itu menyaksikan
perbuatan yang sedemikian kejamnya.
“Kek, mereka mati keracunan semua!” kata Bu-song sehabis memeriksa orangorang itu.
“Kali ini mungkin kau salah raba!” Jenggot perak menggelengkan kepala.
Ternyata korban-korban itu wajahnya seperti biasa, seperti orang yang hanya
ditutuk jalan darahnya saja. Baik alis maupun bibir mereka sedikitpun tak tampak
tanda-tanda keracunan.
Thiat-ik Sin-kay dan lain-lain yang banyak pengalamanpun, tak dapat memberi
komentar apa-apa. Segala sesuatu yang mereka hadapi memang sukar diduga....
“Budak, mengapa kau diam saja?” tegur Jenggot perak kepada Siau-bun.
Nona itu menggelengkan kepala, “Adik Song sudah mengatakan tepat. Mereka
memang mati keracunan, apa yang masih harus kukatakan lagi?”
Jenggot perak tercengang, “Mengapa kau juga berpendapat begitu? Kalau
memang mati keracunan, mengapa tak ada tanda-tandanya?”
Siau-bun tertawa, “Kek, apakah kau memang berpura-pura hendak menguji kami!
Pertama, mereka telah terlatih dan kebal terhadap racun. Begitu kena racun,
sudah tentu tubuhnya biasa saja. Kedua, jika tidak mati keracunan, mengapa
mereka duduk begitu rapi? Dan ketiga, karena raja racun Coh Seng berada di sini,
siapa lagi yang berbuat begitu kalau bukan dia........ kakek kaya pengalaman,
dalam hal-hal sekecil ini, bagaimana aku dapat mengelabuimu? Benar atau
salahkah kata-kataku ini?”
“Kalau dapat menganalisa sedemikian rinci, mungkin ibumu belum tentu
menang....” Jenggot perak memuji. Siapa tahu Bu-song mendengus karena Siaubun mendapat pujian.
“Ayo, kaupun juga ikut menyatakan pendapat!” seru Jenggot perak kepada Cu
Giok-bun, “Si Raja racun Coh Seng diundang partai Ji-tok-kau untuk membantu
meracuni jago-jago yang kita undang. Tetapi mengapa mendadak sontak ia malah
meracuni orang-orang Ji-tok-kau sendiri?”
Bu-song tertawa dingin, “Tak usah kakek memuji aku, aku tak secerdas cici Bun...”
dara itu agak merajuk, tetapi pada lain kejap ia menyusuli pula, “Itupun
sebenarnya sederhana saja. Tentulah kakek mengetahui bahwa sekalipun kutu
dengan racun itu berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai kegunaan yang
sama. Raja racun Coh Seng memang hebat dalam menggunakan kutu, tetapi ia
tak mampu melawan kepandaian orang Ji-tok-kau dalam menggunakan racun.
Kalau tidak, tentulah dulu-dulu kedua orang itu sudah bersatu. Mengapa Ji-tok-kau
tak mau berdaya menyelidiki penggunaan kutu itu.
Akibatnya undangan Ji-tok-kau kepada Coh Seng itu suatu kesalahan besar. Coh
Seng mendapat kesempatan untuk menghancurkan saingannya.
Rombongan partai Ji-tok-kau yang datang kesini antara lain termasuk ketuanya,
yakni Ti Bo dan jago-jago pilihan mereka. Apabila dapat melenyapkan mereka,
mudahlah bagi Coh Seng untuk menguasai Ji-tok-kau dan mengambil alih partai
itu!
Nah, cukup dengan hal-hal yang kusebutkan ini, jelas menunjukkan bahwa
kebinasaan orang-orang Ji-tok-kau itu adalah dilakukan oleh Coh Seng.”
(bersambung ke jilid 24)
Jilid 24 .
Si Wajah Seribu!
Jenggot perak tercengang. Apa yang dikatakan Bu-song memang mungkin.
Meskipun ada Thiat-hiat-bun, Hun-tiong Sin-mo, Tiam-jong-pay dan jago-jago
sakti, tetapi tiada pimpinan yang cakap. Jika menderita serangan dari luar, tentu
markas akan kacau balau. Jika sampai terjadi hal itu, bagaimana nanti
pertanggungan jawab mereka dalam pertemuan besok pagi? Bukankah mereka
akan kehilangan muka?
Karena gugup, tanpa menunggu perintah Jenggot perak lagi, sekalian orang
segera lari serabutan menuju ke markas. Jenggot perak hendak menyusul, tetapi
tiba-tiba terdengar suara mengiang di telinganya, “Ah, sudah terlambat Lu tua!
Kalian kali ini tentu akan hancur lebur! ”
Menyusul kata-kata itu, terdengar ledakan keras diiringi dengan muncratnya nyala
api ke udara.
“Celaka, kekalahan kali ini benar-benar hebat.....” Jenggot perak menghela napas.
Ia segera mencelat keluar sambil menamparkan kedua tangannya. Serangkum
hawa dingin berhamburan keluar dan apipun mulai reda.
Tetapi ledakan itu rupanya berasal dari bahan peledak. Sekalipun api dapat
dipadamkan, tetapi sebagian besar dari markas telah hancur berantakan.
Jenggot perak menghela napas dalam-dalam dan membanting-banting kaki, “Ah,
tak kira aku bakal mengalami kekalahan di Tiong-goan. Kemana hendak kutaruh
mukaku besok di hadapan sekalian orang gagah?”
Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa nyaring memecah angkasa. Seorang
wanita tua bertubuh pendek gemuk loncat keluar dari lautan api. Bukan kepalang
terkejutnya sekalian orang. Perempuan tua itu dapat berjalan di tengah api tanpa
merasa apa-apa.
“Kek, siapakah dia? Manusia atau setan?” Bu-song berseru kaget.
Jenggot perak sendiripun tertegun. Cepat-cepat ia berpandangan sejenak dengan
Thiat-ik Sin-kay, lalu ia balas tertawa nyaring, serunya, “Ah, saudara lincah benar.
Belum sempat aku keluar menyambut, saudara sudah tiba!”
Perempuan tua itu tertawa mengekeh, “Oh, kau kenal juga diriku?”
Jenggot perakpun tertawa, “Sekalipun kenalanku tidak banyak, tetapi terhadap
tokoh ternama seperti saudara, mungkin aku akan kenal.... Kalau tak salah
saudara ini tentu Cian-bin Cuncia Auyang teng.... ”
Perempuan tua bertubuh gemuk pendek itu memang Cian-bin cuncia atau rahib
wajah seribu Auyang Teng.!
“Ah, matamu ternyata masih awas Lu tua,” Rahib wajah seribu tertawa.
Bu-song dan Siau-bun terkejut mendengar nama rahib tua itu. Juga Li Cu-liong
dan Cu Giok-bun pun tak terkecuali.
Baru saja tadi mereka mendapat berita dari para pengintai dan dalam beberapa
kejap saja
Rahib seribu wajah sudah muncul. Juga ilmu berjalan di tengah api yang
diperagakan tadi benar-benar menakjubkan.
“Maaf, karena satu dan lain hal, aku tak dapat menyambutmu dengan penuh
kehormatan,” Jenggot perak tertawa.
“Disambut atau tidak, aku tak pusing. Tetapi apakah satu dan lain hal yang kau
katakan itu? Katakanlah!” seru si wajah seribu.
“Kesatu, seorang lelaki jantan mengapa mengenakan pakaian wanita? Orang
begitu aku paling muak. Kedua, kalau toh datang, datanglah dengan terangterangan, tak perlu main sembunyi-sembunyian macam bangsa perampok yang
membakari rumah rakyat! Terhadap orang begitupun aku paling benci sekali.
Ketiga, kabarnya kau sudah menggabung pada Sin-bu-kiong, rela menjadi anak
buah Song-bun Kui-mo. Ah, dalam hal ini aku tak berani campur tangan…..”
“Cukup! Terhadap orang semacam aku, mengapa kau berani berkata begitu
keterlaluan!” marahlah Si wajah seribu seketika.
Jenggot perak tertawa mengejek, “Sebenarnya gerak-gerikmu banyak sekali yang
memalukan, tetapi enggan kukatakan. Cukup dengan beberapa hal yang
kukatakan tadi, cukuplah sudah untuk meremehkanmu. Maka selain tak memberi
penyambutan yang pantas, juga malam ini aku hendak mengadu kekuatan
dengan kau, siapa yang nanti lebih kuat!”
Wajah-seribu tertawa mengekeh, “Baiklah, memang aku selalu bertindak menurut
kemauanku sendiri, tak peduli orang senang atau tidak senang. Jika kau
mengehendaki begitu, akupun tak keberatan.!”
Habis berkata begitu ia mencelat sampai tujuh-delapan tombak dan pada lain saat
lenyap dari pemandangan.
“Kek, iblis itu memuakkan sekali. Mengapa kau biarkan dia pergi?” teriak Bu-song.
Jenggot perak tertawa, “Mungkin tak semudah itu kita menundukkan dia!”
Baru ia mengucapkan begitu, tiba-tiba terdengar suara orang mengucap salam.
Suaranya
lantang nyaring, berasal dari arah sebelah kiri. Dan pada lain saat muncullah
seorang imam tua bertubuh kurus kering.
Kembali Bu-song dan Siau-bun menjerit kaget.
“Hai, imam hidung kerbau, dari mana kau?” serentak Bu-song berseru.
“Eh, budak perempuan, apa kau lupa?” imam tua itu tertawa meloroh.
Jenggot perak tertawa dingin, “Cian-bin cuncia, betapapun kau hendak unjuk
kepandaianmu menyaru, jangan harap kau dapat mengelabui mataku!”
“Hai, apakah dia si Wajah seribu?” Bu-song menjerit kaget.
“Benar,” kata Jenggot perak, “dia memang mahir dalam hal itu. Sebentar menjadi
lelaki sebentar jadi perempuan atau sesaat seorang paderi, pada lain saat
seorang rahib. Tubuhnyapun dapat berobah menjadi gemuk-pendek, kurus-kering,
tinggi-besar menurut kemauannya! Tetapi kakekmu tak nanti dapat dikelabuinya!”
Memang imam tua itu adalah si Wajah seribu, ia tertawa terkial-kial, “Lu tua, kau
memang hebat, dapat mengenali diriku!”
Bu-song, Siau-bun dan Li Cu-liong terkesiap. Jika bukan Jenggot perak yang
mengatakan, tentu mereka takkan percaya. Apa yang dilihat memang berbeda
sama sekali. Yang tadi seorang perempuan gemuk pendek, kini seorang imam tua
bertubuh tinggi kurus. Kalau tadi seorang rahib, kini seorang imam....
Kebakaran dari bahan peledak itu telah menimbulkan kerusakan besar. Beberapa
bagian dari gedung markas Tiam-jong-pay telah ambruk. Kamar rahasia yang
dibuat berunding oleh Jenggot perak tadipun hancur. Beberapa penjaga regu Pikih-tiang-hoat dari Hun-tiong-hu menjadi korban. Kesemuanya itu adalah perbuatan
si Wajah seribu...
Dengan gusar berserulah Jenggot perak, “Ayo suruh kawan-kawanmu keluar. Kita
putuskan dulu siapa di antara kita yang lebih unggul.... ”
Wajah seribu tertawa keras, “Kawan? Hm, masakah kau tak pernah mendengar
bahwa aku selalu bergerak seorang diri?”
“Baik, katakan apa tujuanmu kemari!”
“Aku senang melihat keramaian yang bakal diadakan di sini. Sekalipun kau lupa
mengundang aku, aku tetap akan datang sendiri..... Kenbakaran markasmu itu
adalah selaku hukuman kecil untuk kelalaianmu mengundang aku!”
Ketua Tiam-jong-pay tak dapat menahan amarahnya lagi. Sambil loncat ke muka,
ia mendamprat, “Iblis tua, jangan ngaco belo di sini, serahkan jiwamu!” katakatanya ditutup dengan sebuah pukulan.
Bukannya menghindar atau menangkis atau balas memukul, sebaliknya Wajah
seribu itu hanya tertawa gelak-gelak. Tetapi pada saat tinju Li Cu-liong tiba, entah
bagaimana tiba-tiba Wajah seribu hilang lenyap. Ketua Tiam-jong-pay itu terkejut
hingga membuatnya terlongong-longong seperti melihat hantu.
Dan alangkah kagetnya ketika sesaat kemudian ia melihat dua orang Wajah
seribu berdiri di kanan kirinya….
Ketua Tiam-jong-pay tak mau dibuat permainan. Dia ayunkan kedua tinjunya
memukul ke kanan dan ke kiri. Terdengar kedua Wajah seribu itu tertawa gelakgelak dan sekonyong-konyong lenyap!
Li Cu-liong tertegun. Hai…… tiba-tiba ia terbeliak kaget sekali. Kini bukan hanya
dua, tetapi empat orang Wajah seribu yang berdiri mengepungnya dari empat
jurusan….!
Li Cu-liong menyadari bahwa di antara keempat Wajah seribu, hanya satulah yang
tulen. Yang tiga hanya bayangan kosong. Tetapi pengertian itupun tak banyak
membantunya, karena ia tak tahu yang manakah yang tulen dan yang palsu.
Selagi ia bingung, tiba-tiba keempat Wajah seribu itupun sudah menyerangnya. Li
Cu-liong kaget. Serentak iapun menghantam mereka. Ia menggunakan seluruh
tenaganya untuk menyambut serangan mereka. Pikirnya, asal dihantam serempak
saja, tentu beres. Yang tulen kena, yang palsu ambyar.
Tetapi perhitungannya meleset. Adalah karena ia menyerang dengan tenaga
penuh, kerugian yang dideritanyapun makin besar. Tampaknya ia sedang
menghadapi serangan empat orang musuh, tetapi ketika saling bentur pukulan,
ternyata hanya tiga musuh yang menyerang.
Ketua Tiam-jong-pay itu tak sempat memikirkan apa-apa lagi. Kemarahannya
makin meluap-luap. Dengan kalapnya dihantamnya pula sang musuh dengan
tenaga berlipat ganda. Ah.... segera ia menyadari kalau termakan tipu Wajah
seribu. Ketiga musuh yang dihantamnya itu hanya bayangan belaka. Dengan
begitu tenaga pukulannya tadi hanya penghamburan yang sia-sia. Dan karena
memukul sasaran kosong, mau tak mau keseimbangan tubuhnyapun goyah. Ia
terperosok ke muka. Dan sebelum ia sempat memperbaiki posisinya, sesosok
tubuh sudah melesat sambil menghantamnya.
Itulah Wajah seribu yang asli!
Pada saat Li Cu-liong terancam maut, bertindaklah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.
Sambil menunjukkan jarinya ke muka, ia membentak, “Siluman, jangan terlalu liar!”
Mengira orang sudah tak berdaya, Wajah seribu segera hendak memberi pukulan
maut kepada Li Cu-liong. Pukulannya dilancarkan cepat dan ganas.
Tetapi tutukan jari maut Hun-tiong Sin-mo pun sakti sekali. Walaupun dari jauh,
tetapi angin tenaganya bagaikan kilat menyambarnya. Wajah seribu kaget. Untuk
menyelamatkan jiwanya, terpaksa ia loncat menghindar.
Li Cu-liong diam-diam mengeluh. Dengan keringat bercucuran, ia loncat mundur.
Wajahnya tersipu-sipu merah. Sampai beberapa saat ia terlongong-longong.
Seumur hidup belum pernah ia mengalami peristiwa aneh sedemikian rupa.
Di sana Hun-tiong Sin-mo pun agak terkesiap. Meskipun tutukan jari maut itu
bukan merupakan ilmu simpanannya, tetapi Wajah seribu dapat menghindar
dengan begitu mudah, mau tak mau membuat Hun-tiong Sin-mo tercengang juga.
Karena sejak belasan tahun, belum pernah terdapat orang yang mampu lolos dari
tutukan jarinya. Dan belum pernah ada yang selamat. Kalau tidak mati, tentu
menderita luka parah.........
Tetapi kekagetan Wajah seribu pun tak kalah besarnya. Di dalam dunia persilatan,
tak ada orang yang sekali gebrak dapat mengundurkannya. Sebelumnya ia tak
percaya, tetapi apa yang dialaminya saat itu, benar-benar membuatnya seperti
orang bermimpi!
Hun-tiong Sin-mo bersikap seperti tak minat bertempur. Sehabis berhasil
menolong Li Cu-liong iapun segera loncat mundur pula.
Tetapi sikap itu bahkan membangkitkan kemarahan Wajah seribu. Dengan murka
ia membentak, “Perempuan hina, jika malam ini tak kuhancurkan tubuhmu, aku tak
mau meningalkan Tiam-jong-san ini!”
“Oh, mungkin tak mudah bagimu untuk meninggalkan gunung ini!” Hun-tiong Sinmo membalas.
Wajah seribu pun segera merangsek. Tubuhnya pecah berkembang menjadi
tujuh-delapan sosok bayangan. Hun-tiong Sin-mo tak gentar. Ia hendak
menyambut, tetapi dicegah Jenggot perak, “Giok-bun, belum saatnya kau turun
tangan, ayah masih dapat melayaninya!”
Ia menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan. Terdengar suara ledakan keras.
Pasir dan batu berhamburan. Ke tujuh-delapan sosok bayangan itupun lenyap.
Yang tampak hanya seorang Wajah seribu terhuyung-huyung melangkah ke
belakang.
Kiranya Jenggot perak telah berhasil menghantam dadanya. Tetapi dia sendiripun
menderita juga. Tenaga tolakan yang dilancarkan Wajah seribu membuat Jenggot
perak juga terhuyung-huyung sampai tiga langkah. Jago Thiat-hiat-bun itu
tertegun. Ia merasa sekali ini benar-benar mendapat tanding.
Dengan penasaran Jenggot perak maju pula mengirim sebuah pukulan ke
punggung lawan!
Wajah seribu mengeluh kaget. Cepat ia menggoyangkan tubuhnya, seketika
pecahlah tubuhnya menjadi belasan sosok bayangan yang bagaikan pinang
dibelah dua semuanya. Mereka bergerak-gerak mengepung Jenggot perak.
Jenggot perak mendengus. Ia menarik pukulannya untuk melindungi tubuh. Ia
tegak berdiri tak mau bergerak lagi, tetapi diam-diam mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya untuk melapis diri.
Dalam beberapa saat, belasan sosok bayangan Wajah seribu itupun lenyap. Kini
tampaklah ia tegak berdiri beberapa langkah di hadapan Jenggot perak.
Dengan mata berkilat-kilat Wajah seribu menatapnya, “Lu tua, mengapa kau diam
saja? Takutkah kau kepadaku?”
Jenggot perak tertawa keras, “Pernahkah kau mendengar cerita orang, kepada
siapa aku pernah merasa gentar?”
Wajah si Wajah seribu berobah gelap, “Kalau begitu, mengapa kau tak bergerak?
Lebih baik kau menyerah sajalah!”
“Memang aku sengaja mengalah supaya kau menyerang dulu!” sahut Jenggot
perak.
“Binatang tua yang sombong, kau berani menghina aku!” Wajah seribu berteriak
seraya menggerakkan kedua tangannya. Gayanya mirip hendak menampar, tetapi
juga seperti hendak menutuk. Tampaknya hendak mencengkeram, tetapi juga
menyerupai orang hendak meremas. Secepat kilat tangannya sudah menjulur ke
muka Jenggot perak. Berbareng itu sekonyong-konyong tubuhnya pecah menjadi
tiga-empat sosok bayangan.
Seketika itu Jenggot perak seperti diserang oleh banyak Wajah seribu. Sukar
dibedakan mana yang palsu dan mana yang sungguhan.
Jago Thiat-hiat-bun itu tegak laksana sebuah gunung. Pada saat serangan itu tiba,
barulah ia bergerak dengan tak terduga-duga. Sekonyong-konyong ia
menamparkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Tar... tar.., terdengar letupan keras
dan bayangan yang menyerupai Wajah seribu itupun lenyap seketika, berganti
dengan Wajah seribu asli yang terhuyung-huyung sampai empat-lima langkah.
Jenggot perak sendiripun terhuyung tiga langkah ke belakang. Ia merasakan
darah dalam tubuhnya agak bergolak.
Sekilas pandang memang tampaknya Jenggot perak yang lebih unggul!
Wajah seribu mengerutkan dahi dan termangu sampai beberapa saat, serunya
kemudian, “Setan tua, bagaimana kau dapat membedakan diriku dengan
bayanganku?”
“Hm, masakah permainan anak kecil semacam itu dapat mengelabui aku......”
Jenggot perak tertawa gelak-gelak, “tetapi memang ilmu ginkangmu patut dipuji!”
“Ilmu Pek-pian-mo-ing ( bayangan setan seratus macam) ku tiada duanya di dunia
persilatan. Mana hanya mengandalkan ilmu ginkang saja?”
Jenggot perak tertawa pula, serunya “Mungkin kau belum tahu bahwa aku si tua ini
memiliki ilmu Melihat langit mendengar bumi? Betapapun kau hendak merobah
dirimu menjadi apa saja, memang pada detik permulaan mungkin dapat
mengelabui mataku, tetapi beberapa saat kemudian, tentu kuketahui juga....”
“Melihat langit mendengar bumi?“ Wajah seribu berseru kaget.
“Ho, kau belum pernah mendengar ilmu itu?”
“Tetapi ilmu itu kan kekuatannya hanya tertuju pada jarak luas dan jauh,
bagaimana kau dapat meneropong ilmu sakti Pek-pian-mo-ing ku?”
Jenggot perak tertawa nyaring.
“Sebenarnya ilmu Pek-pian-mo-ing itu hanya suatu ilmu ginkang yang tinggi.
Bayang-bayangmu itu hanya kosong. Dengan ilmu Melihat langit mendengar
bumi, sudah tentu dapat kuteropong mana dirimu yang asli, mana yang palsu.
Mengapa kau heran.....”
Wajah seribu meringkikkan tawa hantu.
“Silakan kau kerahkan seluruh kepandaianmu. Tetapi malam ini adalah malam
kejatuhanmu. Besok pagi, jangan harap kau dapat membuka rapat para orang
gagah.....!”
Tambur Mukjijat.
“Oh, mungkin kau tak mempunyai kemampuan begitu!” sahut Jenggot perak.
Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo tak ikut bicara. Mereka
berdiri di samping mendengarkan percakapan Jenggot perak dan si Wajah seribu
dengan penuh perhatian.
Kebakaran di markas besar Tiam-jong-pay pun sudah reda. Tetapi asap masih
bergulung-gulung memekatkan udara. Banyak anak buah Thiat-hiat-bun, Huntiong-hu dan Tiam-jong-pay yang menjadi korban. Tetapi sebagian yang dapat
lolos keluar. segera tenang kembali.
Saat itu sudah terang tanah. Pertemuan besar para orang gagah, segera akan tiba
waktunya. Menilik letak pesanggrahan tempat menginap para tamu itu tak jauh di
muka markas Tiam-jong-pay, maka kebakaran di markas itu tentu diketahui oleh
para tamu. Tetapi anehnya, pesanggrahan para tamu itu tampak sunyi-sunyi saja.
Ketua Tiam-jong-pay Li Cu-liong mulai gelisah. Ia mencuri kesempatan untuk
bertanya pada Jenggot perak dengan ilmu menyusup suara, “Hari sudah terang
tanah, pertemuan akan segera dimulai. Rupanya durjana ini hendak mengulur
waktu supaya pertemuan tak dapat berlangsung tepat pada waktunya….” Ia melirik
memandang ke empat penjuru, lalu berkata pula, “Menurut pendapat anak, lebih
baik kita lekas bertindak menyingkirkan durjana ini. Tak perlu kita menghiraukan
tata kehormatan kaum persilatan lagi!”
“Pertemuan tetap akan dibuka tepat pada waktunya! Serahkan momok ini padaku,
kau lekas atur prsiapan pertemuan itu. Apakah meja kursi sudah diatur menurut
rencana!” sahut Jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.
Li Cu-liong mengerutkan alis, ujarnya, “Tetapi durjana ini licin sekali, apakah
ayah…..”
“Jangan banyak bertanya lagi, aku dapat mengatasinya!” tukas Jenggot perak
dengan ilmu menyusup suara. Kemudian ia berganti nada dengan bentakan
biasa, “Lekas kerjakan persiapan yang perlu!”
Li Cu-liong mengiyakan lalu pergi. Wajah seribu berpaling memandang markas
Tiam-jong-pay yang menderita kerusakan. Ia tertawa mengejek.
Sejenak melirik pada pengemis Thiat-ik Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo, tiba-tiba
Jenggot perak membentak lawannya, “Hai, iblis tua, kalau membawa kawan, suruh
mereka unjukkan diri!”
Wajah seribu terbeliak, teriaknya, “Aku selalu bekerja seorang diri, tak pernah
kubersekongkol dengan orang. Jangan banyak curiga!”
“Kek, bolehkah aku bicara?” mendadak Bu-song maju selangkah.
Jenggot perak berpaling, “Eh, kau melihat hantu apa lagi?”
Dara itu tertawa melengking, “Durjana ini seolah-olah membanggakan keagungan
dirinya, tetapi sebenarnya dia seorang hina! Percvuma kau tanya ini itu padanya,
bunuh sajalah!”
Bukan kepalang marahnya Wajah seribu, teriaknya, “Kau berani menghina aku,
budak? Kaupun takkan menjadi mayat utuh....” tiba-tiba ia menampar.
“Iblis hina, kau tak malu mengganas pada seorang anak perempuan!” iapun
menyongsongkan pukulannya.
Karena ilmu Pek-pian-mo-ing ( seratus bayangan iblis) tak mempan, Wajah seribu
menggunakan pukulan biasa.
Plak.... terdengar letupan keras dari dua pukulan yang beradu. Debu dan tanah
berhamburan. Kedua tokoh itu mundur beberapa langkah. Sekalipun tampaknya
Jenggot perak menang angin, tetapi kekuatan mereka berimbang.
Sesaat berdiri tegak, Wajah seribu tertawa nyaring.”Setan tua, kecuali kalian maju
berbareng, jangan harap dapat menangkan aku!”
“Aku paling benci main keroyok. Mari kita bertanding satu lawan satu!” Jenggot
perak marah sekali.
Wajah seribu tertawa, “Aku tak suka menggunakan kekerasan. Membunuh
engkaupun tak ada gunanya. Cukup asal jiwamu tak tenteram, aku sudah puas!”
“Kau benar, iblis!” tiba-tiba Bu-song menyeletuk, “hanya sayang tipu muslihatmu itu
tak berguna. Pertemuan orang gagah takkan terpengaruh oleh pengacauanmu!”
Wajah seribu tertawa sinis, “Orangnya kecil tetapi mulutmu besar! Coba katakan,
siasatku apa yang gagal?”
Bu-song tertawa dingin, “Menghadapi seorang manusia rendah semacam engkau,
perlu apa memakai akal!” Tiba-tiba ia menantang, “Apakah kau berani bertempur
sejurus saja denganku?”
“Kau berani menantang aku?” Wajah seribu tertawa menghina.
“Kau sudah mendapat kehormatan!” Bu-song mengejek.
Wajah seribu melangkah maju, bentaknya ,“Aku mengalah tiga jurus untukmu....”
dari tubuhnya mengepul asap tipis. Ia bersiap menerima serangan.
Bu-songpun dengan tenang segera mencabut pedang dari belakang bahunya.
“Budak, kakekmu di sini, jangan lancang!” serentak Jenggot perak membentak si
dara.
“Iblis tua ini kelewat sombong. Aku hendak mewakili kakek menghajar adat
padanya!”
“Jangan ngaco, lekas enyah!” bentak Jenggot perak. Kemudian ia menyusuli
dengan ilmu menyusup suara, “Dia seorang tak perlu dikuatirkan, tetapi Lam-yau
(siluman selatan), Pak-koay (manusia aneh dari utara) dan Bu-cui-su-seng (pelajar
tak berdosa) tentu juga berada di sekitar tempat ini…….”
“Dan si Raja kutu Coh Seng , eh, mengapa kakek melupakannya?” tukas Bu-song
dengan ilmu menyusup suara.
“Benar,” sahut Jenggot perak, “orang itu dapat meluputkan diri dari ilmu Melihat
langit mendengar bumi, tentulah sakti sekali. Jauh beberapa kali saktinya dari
berpuluh tahun yang lalu. Kakek harus hati-hati menghadapi mereka. Mengapa
kau hendak sembrono, ayo lekas menyingkir!”
“Bagaimana kakek hendak menghadapi meeka!” tanya Bu-song.
Jenggot perak tertegun. Memang pertanyaan sang cucu itu tepat sekali. Baru ilmu
Pek-pian-mo-ing atau Seratus wajah tanpa bayangan dari si Wajah seribu saja
sudah cukup memusingkan, apalagi ditambah dengan beberapa tokoh lagi. Tetapi
bagaimanapun ia harus bertindak.
Pertandingan tadi menunjukkan bahwa kekuatannya berimbang dengan si Wajah
seribu. Untuk menundukkan tokoh ini, ia harus menggunakan waktu sedikitnya
sejam. Ah, terlalu lama.
“Jangan kuatir, kakek mempunyai rencana.” akhirnya ia menghibur si dara.
Bu-song cebikan bibirnya, “Tindakanku ini justru hendak membantu kakek.
Hendak kupancing mereka keluar baru kita hancurkan!”
Ia tahu jelas suasana saat itu. Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay, Hun-tiong Sin-mo,
Cu Siau-bun dan tokoh-tokoh lainnya, terpancang oleh Jenggot perak. Tanpa
perintah jago tua itu, mereka tak berani bertindak.
Tetapi tampaknya Jenggot perak tak punya rencana apa-apa. Kalau terusmenerus hanya tantang-tantangan begitu saja, tentulah pertemuan para orang
gagah tak dapat berlangsung!
“Bagaimana akalmu hendak memancing mereka?” tanya Jenggot perak.
Bu-song tertawa, “Ini…..sekarang tak dapat kukatakan dulu! Tetapi paling tidak
hendak kuberi hajaran dulu pada momok ini, syukur kalau dapat membunuhnya!
Dengan begitu gerombolan mereka tentu keluar semua!”
Jenggot perak mengelus-elus jenggotnya. Beberapa saat ia tak dapat bicara. Ia
percaya akan kecerdasan bocah perempuan itu. Sekalipun tindakannya kali ini
sangat berbahaya, tetapi ia berada di sana. Setiap saat tentu dapat memberikan
pertolongan apabila perlu.
Melihat Jenggot perak dan Bu-song bicara dengan ilmu menyusup suara, Wajah
seribu hanya tersenyum ewa saja. Setelah beberapa saat, baru ia melengking ,
“Eh, sudah berunding beres atau belum?”
Jenggot perak menyahut dingin, “Karena cucuku ingin sekali mendapat pelajaran
dari engkau, maka kali ini aku memberikan kelonggaran padanya!”
Wajah seribu tertawa gelak-gelak, “Aku seorang yang ganas, sekali turun tangan
kalau sampai cucumu mati, harap jangan salahkan aku!”
“Iblis tua, mungkin kau tak mempunyai kemampuan berbuat begitu!” Bu-song
melengking marah.
“Silakan kau mulai!” Wajah seribu tertawa mengejek.
Bu-song tertawa gemerincing. Ia memutar pedangnya, tetapi ia berpaling melirik
pada Siau-bun.
Siau-bun tegak berdiri di tempat. Hanya mulutnya menyungging senyuman. Diamdiam ia menggunakan ilmu menyusup suara kepada si dara, “Bertindaklah, jangan
kuatir! Aku tahu maksudmu!”
“Kau pintar juga!” sahut Bu-song juga dengan ilmu menyusup suara. Dan mulailah
ia melancarkan serangannya….
Wajah seribu tertawa mengekeh. Sekali kedua bahunya bergoyang, terpecahlah
dirinya menjadi tiga-empat sosok bayangan yang menyerangnya dari empat
penjuru.
Bu-song seorang dara yang cerdik. Serangannya ini hanya serangan kosong. Ia
tahu bahwa menghadapi si Wajah Seribu, tak boleh menggunakan kekerasan
melulu, tetapi harus pakai tipuan. Maka ia menggunakan ilmu Suara di timur
serangan dari barat.
Begitu perhatian lawan tercurah pada serangan pedang, secepat kilat tangan kiri
Bu-song menaburkan senjata rahasia Hong-thau-kiong ( passer kepala burung
Hong).
Sekalipun Bu-song tak dapat membedakan mana bayangan lawan yang tulen dan
mana yang palsu, tetapi empat batang passer yang ditaburkan itu kiranya cukup
untuk menghancurkan keempat sosok bayangan itu.
Untuk memperoleh hasil yang mengesankan, ia menggunakan ilmu timpuk yang
paling ganas. Tiap-tiap passer itu sengaja diarahkan untuk mencari mata si
bayangan.
Seketika terdengar raung kemarahan yang hebat dan lenyaplah ke empat sosok
bayangan itu.
Sama sekali Wajah seribu tak menduga bahwa Bu-song akan menggunakan
senjata rahasia, karena itu ia agak lengah. Dan juga ia tak tahu bahwa ilmu
menimpuk Hong-thau-kiong dari partai Thiat-hiat-bun hebat sekali. Seratus kali
timpuk, tentu seratus kali kena. Dan masih ada kelemahan bagi Wajah seribu,
ialah bahwa telinga, mata, hidung dan lubang-lubang tubuh manusia itu paling
sukar untuk disaluri tenaga dalam. Betapapun lihainya si Wajah seribu, namun tak
dapat ia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian-bagian itu. Untung dia banyak
pengalaman. Pada detik-detik maut henak merenggut nyawa, masih dapat
memiringkan kepalanya sedikit ke samping, sehingga matanya terhindar dari
kehancuran. Namun tak urung, sudut matanya tetap termakan passer si dara...
Wajah seribu menggerung laksana harimau terluka. Sebelum ia sempat mencabut
passer yang menancap di ujung matanya, sekonyong-konyong angin berkesiur
dan serangkum benda mengkilap menyambar mukanya!
Tetapi yang menaburkan senjata rahasia kali ini bukan Bu-song, melainkan Siaubun. Nona itupun tak ketinggalan. Ia menaburkan tiga batang passer Tui-hongkiong ( passer pemburu angin). Sebelum si Wajah seribu berdiri tegak, Siau-bun
sudah membarengi. Dalam hal menimpuk, Siau-bun tak kalah sebatnya dengan
Bu-song. Betapapun lihaynya Wajah seribu, namun sukar untuknya menyingkir.
Dalam usahanya yang terakhir, ia masih dapat menyelamatkan bagian berbahaya
dari tubuhnya. Bahunya sebelah kanan menjadi mangsa Tui-hong-kiong. Sakitnya
bukan kepalang, sehingga hampir saja ia terjungkal roboh. Ia terhuyung-huyung
empat lima langkah ke belakang. Bahu kanannya tak dapat digerakkan lagi......
Tui-hong-kiong merupakan senjata pusaka Hun-tiong-san. Sekalipun tak dilumuri
racun, tetapi senjata rahasia itu dibuat sehalus rambut. Begitu menyusup ke dalam
jalan darah, sang korban pasti mati seketika!
Setitikpun Wajah seribu tak pernah bermimpi, bahwa hari ini ia bakal jatuh di
tangan dua orang anak perempuan. Saking marahnya tubuhnya sampai menggigil
dan mulut meraung-raung. Tetapi sudut matanya yang kiri sakit sekali , begitu pula
bahu kanannya seperti putus rasanya......
“Sasaran tepat, sayang tak dapat menembus ulu hatinya!” Bu-song berpaling dan
berseru kepada Siau-bun.
“Apa perlu ditambahi lagi?” sahut Siau-bun dengan tertawa.
Buru-buru Bu-song menggunakan ilmu menyusup suara, “Tadi saja sudah
menyalahi peraturan kakek. Kalau tak percaya, boleh coba lagi, lihat saja kakek
akan menghajarmu atau tidak!”
Siau-bun terkejut. tetapi secepat itu ia insyaf. Mungkin yang dikatakan si dara itu
benar. Jenggot perak, kakek mereka memang seorang tua yang aneh
perangainya.
Siau-bun tertawa tawar, serunya dengan ilmu menyusup suara, “Tadi aku hanya
bermaksud membantumu saja. Jika aku tak turun tangan, iblis tua itu tentu dingin
saja menghadapi passer Hong-thau-kiong mu. Mungkin.............”
“Tak usah kau bicara semerdu itu, aku tak menerima bantuanmu!” sahut Bu-song
dengan dingin.
“He, kuterangkan sedikit,” sahut Siau-bun, “sebelum kau turun tangan, tentulah kau
sudah mengetahui bahwa aku tentu akan membantumu. Dengan begitu barulah
kau berani berkata besar di depan kakek!”
“Benar,” Bu-song tertawa, “hal itu didasarkan pada watakmu. Kutahu kau tentu
takkan melepaskan kesempatan untuk mendirikan pahala!”
“Salah!” Siau-bun tertawa.
“Ha?” Bu-song terkesiap.
“Kau melupakan Lam-yau, Pak-koay, Bu-cui-su-seng dan raja kutu Coh Seng?”
seru Siau-bun.
Bu-song tertegun. Diam-diam ia mengakui kelalaiannya.
Kalau tokoh-tokoh itu memang datang dan bersembunyi, setelah tahu kawannya
terluka, tentulah segera akan muncul. Tetapi mengapa mereka tak menampakkan
diri?
Sekilas merosotlah ambisi Bu-song. Tadi ia berani membuka mulut besar di
hadapan Jenggot perak, bahwa ia tentu dapat memikat gerombolan Wajah seribu
keluar.
Tetapi buktinya, tak seorangpun dari gerombolan lawan yang muncul...
Di sana tampak Wajah seribu berkeliaran memandang ke empat penjuru. Begitu
dilihatnya Jenggot perak dan tokoh-tokoh lainnya tak bergerak, barulah ia agak
tenteram dan segera meramkan matanya untuk menyalurkan tenaga dalam. Ia
hendak memulihkan bahunya yang mati rasa itu.
Bu-song memandang lawannya dengan tajam. Tiba-tiba ia melengking dan
menerjangnya.
“Eh, bocah perempuan, partai Thiat-hiat-bun tak pernah menyerang orang yang
sedang terluka. Tak boleh mencari kemenangan secara curang....!” tiba-tiba
Jenggot perak berseru.
“Kek, sekarang aku tak sempat memberi penjelasan padamu!” teriak si dara yang
terus melanjutkan serangannya.
Dara baju merah
Jenggot perak berteriak mencegah, tapi tak berbuat apa-apa. Sementara si Wajah
seribu masih meram sambil menyalurkan tenaga dalam. Tampaknya ia tak
melawan...
Pada saat pedang akan menusuk tubuh Wajah seribu, tiba-tiba sesosok bayangan
melayang dari udara. Seorang yang bertubuh pendek seperti semangka, tetapi
luar biasa cepatnya sekali ulurkan tangan, telah mencengkeram pedang si dara.
Bu-song seorang dara yang cekatan dan cedas. Meskipun tengah menusuk, tetapi
diam-diam ia sudah memperhitungkan tentu bakal ada orang yang akan menolong
Wajah seribu. Secepat kilat ia menggeliatkan mata pedang dan membabat
pergelangan tangan orang itu. Berbareng itu tangan kirinya menimpukkan tiga
batang passer....
Orang itu tertawa meloroh seraya turun ke bumi. Sepasang tangannya mengibas.
Terdengar dering pedang tertampar dan gemerincing tiga batang passer jatuh
berhamburan!
Bu-song terkejut bukan kepalang. Ia mundur tiga langkah.
Terhindar dari maut, Wajah seribu marah bukan kepalang. Pada saat Bu-song
menyurut mundur, sekonyong-konyong Wajah seribu mengayunkan tubuhnya
mencengkeram si dara dengan sepuluh jarinya yang dipentangkan.
Kali ini dia tidak menggunakan ilmu Pek-pian-mo-ing, melainkan menggunakan
ilmu nyata. Sekali gerak ingin menghancurkan tulang-belulang si dara.
Memang bukan olah-olah kepandaian Wajah seribu. Jika orang lain, bahunya
tentu sudah lumpuh. Paling tidak harus istirahat beberapa hari baru sembuh.
Tetapi dalam waktu singkat ia sudah dapat menyembuhkannya seperti sediakala.
Bahkan dapat digunakan untuk menyerang.
Sebenarnya ketika Bu-song menyerang tadi, ia bukan sekali-kali meramkan mata
menunggu nasib. Ia sudah tahu bahwa dalam saat-saat genting, kawannya tentu
akan muncul. Dan dugaannya ternyata benar. Begitu si pendek muncul dan
mengundurkan Bu-song, terus disusuli lagi dengan taburan asap hitam.
Kini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Kalau tadi Wajah seribu
yang terancam, sekarang Bu-songlah yang terancam. Dua tokoh sakti berbareng
menyerangnya.
Melihat itu tak dapat Hun-tiong Sin-mo tinggal diam lagi. Serentak ia melepaskan
pukulan Cek-koay-ciang kepada si orang pendek. Demikian pun Jenggot perak. Ia
menghantam Wajah seribu.
Terdengar suara mendesis macam api meranggas.
Itulah suara dari pukulan Cek-koay-ciang. Asap yang dihamburkan si orang
pendek itu adalah asap beracun. Tetapi ketika terhantam pukulan panas Cekkoay-ciang, seketika asap itu menjadi menjadi hangus dan membumbung ke
udara.
Tidak cukup hanya membuyarkan asap saja, tenaga pukulan Cek-koay-ciang juga
masih dapat membuat si orang pendek terpental sampai tujuh-delapan langkah
jauhnya.
Jenggot perak pun berhasil. Sekalipun luka Wajah seribu sudah sembuh, tetapi
menghadapi pukulan maut dari ketua Thiat-hiat-bun, ia harus menelan pil pahit.
Memang kepandaiannya kalah setingkat dari Jenggot perak, apalagi ia baru saja
sembuh dari luka di bahunya. Wajah seribu terhuyung sampai lima langkah.
Wajahnya pucat lesi, darah dalam tubuhnya bergolak-golak......
Jenggot perak hanya tersurut mundur selangkah. Sikapnya biasa seperti tak
mengalami apa-apa.
Kini jelaslah sudah kekuatan mereka.
Wajah seribu dan orang pendek itu saling berpandangan.
“Coh Seng, sungguh beruntung dapat berjumpa!” tiba-tiba Jenggot perak berseru
tertawa.
Ah, kiranya orang pendek itu si Raja kutu Coh Seng. Selain mahir dalam ilmu
pengetahuan jenis kutu-kutu beracun, Coh Seng pun memiliki sebuah ilmu yang
dapat membuat tulang-belulangnya sekeras baja.
Itulah sebabnya maka passer Hong-thau-kiong yang dilepaskan Bu-song tak
mempan.
Pada saat Coh Seng hendak bicara, tiba-tiba terdengar suara seruling melengking
di udara. Jenggot perak terkesiap. Buru-buru ia berpaling dan menyuruh
rombongannya menyalurkan tenaga dalam melawan lengkingan seruling.
Sepintas lalu, suara seruling itu seperti alunan suling biasa. Tetapi lagu yang
ditiupnya sangat memikat hati.
“Tentulah Bu-cui Su-seng yang meniup seruling itu. Lekas, jangan sampai terpikat
oleh suara seruling....” pengemis Thiat-ik Sin-kay pun memberi peringatan kepada
rombongannya.
Sekalian orang menurut. Jenggot perak memang hebat. Selain dapat
membentengi diri dari lengkingan seruling, ia masih dapat membagi perhatiannya
untuk menjaga gerak-gerik Coh Seng dan Wajah seribu.
Suara seruling tetap melengking-lengking. Tiba-tiba suaranya berobah menjadi
menyeramkan, seperti burung hantu berbunyi di tengah malam. Rupanya si
peniup menggunakan ilmu Cian-li-yang-seng ( dari ribuan li meniup seruling).
Betapapun lihaynya ilmu Melihat langit mendengar bumi dari Jenggot perak,
namun tak berhasil mengetahui di mana beradanya si peniup seruling itu.
Jenggot perak, Thiat-ik Sin-kay dan Hun-tiong Sin-mo masih dapat bertahan. Tapi
Bu-song dan Siau-bun harus menderita. Beberapa saat kemudian, kedua nona itu
hampir tak tahan lagi.
Kedua anak perempuan itu mulai berkunang-kunang matanya, semangatnya
mulai limbung. Suara seruling itu serasa menembus ke dalam ulu hati, meremasremas jantung. Menangis tak dapat mengeluarkan air mata, tertawa tak dapat
bersuara.
Jenggot perak tahu keadaan kedua anak perempuan itu, tetapi ia tak dapat
menolong. Ia sendiri sedang berjuang mempertahankan diri.
Hari makin terang. Pertemuan makin mendesak waktunya. Tuan rumah terancam
kemusnahan!
Sekonyong-konyong terdengar tambur bertalu-talu nyaring.
Jenggot perak mengerang. Ia kaget-kaget gembira. Suara tambur itu tak asing
baginya. Teringatlah ia ketika melihat Bu-beng-jin bertempur dengan Bok Sam-pi
di gunung Thay-heng-san, tambur itupun terdengar. Hanya bedanya bunyi tambur
itu keras sekali, jauh lebih nyaring dari ketika di Thay-heng-san.
Aneh! Begitu tambur menderu, serulingpun sirap seketika.
(bersambung ke jilid 25)
Jilid 25 .
Raja kutu Coh Seng dan Wajah seribu pucat pasi. Setelah saling berpandangan,
mereka terhuyung mundur. Genderang itu mempunyai pengaruh besar terhadap
mereka. Dengan terhuyung-huyung kedua durjana itu lari menyembunyikan diri
dalam kegelapan.
Setelah seruling sirap dan kedua durjana itu mundur, tamburpun perlahan-lahan
lenyap. Suasana pun hening...........
Jenggot perak mengerutkan kening. Serunya tergagap, “Siapa.......?”
“Siapakah yang membunyikan tambur itu?” tanya Bu-song. Jenggot perak hanya
menggeleng.
“Masakah kakek yang banyak pengalamannya sedikitpun tak dapat meraba?”
desak Bu-song.
Setelah merenung sejenak, berkatalah Jenggot perak, “Beberapa tahun yang lalu,
kudengar di daerah Se-hek (Tibet) terdapat seorang tokoh wanita bergelar Sin-kusian-lo ( dewi tambur). Mungkin tambur itu mempunyai hubungan dengan wanita
sakti itu. Tetapi kakek belum pernah mendengarnya!”
Diam-diam Jenggot perak teringat akan Bu-beng-jin. Nasib pemuda itu terletak di
tangan si pemilik tambur. Karena jelas ketika di gunung Thay-heng-san, pembawa
tambur itu tak lain tak bukan hanyalah seorang dara baju merah yang baru
berumur belasan tahun. Tetapi, ah, mengapa dara itu tak muncul?
Juga Hun-tiong Sin-mo dan pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay bingung. Suara tambur
itu terdengar jelas dan lenyap secara misterius. Tetapi yang jelas, suaranya hebat
sekali, menggetarkan urat-urat jantung orang.
“Kek, di mana orang itu?” seru Bu-song pula.
“Mungkin ia tak mau menemui kita....... atau mungkin ia mendapat perintah jangan
menemui kita,” kata Jenggot perak.
“Kakek kenal padanya?” Bu-song terkesiap.
Jenggot perak tertegun, “Baru kali ini kakek mendengar tambur, bagaimana aku
tahu?”
“Kalau tak kenal, mengapa kakek bisa mengatakan dia mendapat perintah orang?”
tanya Bu-song lagi.
“Ah,.......kakek hanya menduga saja,” Jenggot perak kewalahan.
“Lalu di mana dia? Mengapa tak menjumpainya?”
“Bagaimana kakek bisa tahu?”
“Toh kakek mempunyai ilmu Melihat langit mendengar bumi?” desak si dara.
“Dia menggunakan ilmu Cian-li-yang-seng, ilmu Melihat langit mendengar bumi
percuma saja!”
Bu-song tertawa dingin, “Ah, tak kira malam ini kita bertemu dengan tokoh-tokoh
sakti. Tetapi sayang mereka tak mau unjuk diri!” Dengan kata-kata itu, ia hendak
memancing supaya si pemukul tambur unjuk diri. Ia yakin kata-katanya tentu
terdengar sampai beberapa puluh tombak.
Tetapi tetap tiada reaksi apa-apa.
“Sudahlah, budak, jangan ribut-ribut saja!” akhirnya Jenggot perak membentak.
Sebaliknya Bu-song malah penasaran, Dengan sekeras-kerasnya ia berteriak,
“Huh, apa-apaan itu. Hanya ilmu memukul tambur saja masa hendak
dibanggakan!”
Pemilik tambur sebenarnya masih bersembunyi di sekitar tempat itu. Waktu
mendengar hinaan Bu-song, ia tak dapat menahan lagi. Serentak ia loncat
melayang keluar dan muncul di hadapan Bu-song.
Bu-song terkejut bukan kepalang. Ternyata yang muncul di hadapannya itu hanya
seorang dara belasan tahun yang memakai pakaian serba merah. Rambutnya
dikepang dua, sepasang matanya yang bundar melotot marah kepada Bu-song.
Sambil menepuk-nepuk tambur kecil yang digendong di belakang punggungnya,
dara itu melengking congkak, “Memang tamburku yang butut ini tak berguna,
tetapi..... ” ia mengerutkan keningnya menyengir, dan tiba-tiba membentak, “Kau
mempunyai berapa muka!”
Walaupun bernada marah, tetapi sikap dara itu wajar kekanak-kanakan sekali.
Memang usianya baru sekitar dua belas-tiga belas tahun.
“Oh, aku tak menyangka kalau yang memukul tambur engkau.” seru Bu-song
setelah hilang kejutnya.
“Kau sangka siapa?”lengking si dara.
“Kukira tentu seorang yang tua, seorang kakek yang berwajah bengis. Ah, tak kira
ternyata seorang adik yang manis dan lincah!”
“Eh, benarkah aku ini manis?” seru si dara.
Bu-song tertawa, “Benar, aku tak pernah memuji orang. Kalau kau mau, aku suka
mengakumu sebagai adik!”
Dara itu memandang Bu-song dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, kemudian
tertawa, “Bagus, sekarang aku mempunyai tiga orang taci, seorang engkoh.....”
setelah memainkan matanya yang bundar, dara itu berseru pula, “Cici, aku
bernama Pok Lian-ci. Siapakah namamu?”
Bu-song mengerutkan keningnya, “Hai, apakah ibumu,”
“Sudah meninggal…!” sahut Pok Lian-ci dengan rawan.
“Meninggal?” Bu-song terharu juga. Maskah seorang dara yang masih begitu kecil
sudah tak beribu lagi. Dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri. Ayah bundanya
sudah meninggal. Bu-beng-jin yang sudah berjanji pada kakeknya untuk
dijodohkan padanya, ternyata hilang di gunung Thay-heng-san. Bu-song
berlinang-linang……
“Eh, mengapa kau? Bagaimana aku harus memanggilmu?” seru si dara.
Bu-song tertawa rawan, “Tak apa-apa! Aku bernama Lu Bu-song. Kita senasib.
Sejak kecil akupun sudah kehilangan ayah bunda dan ikut pada kakek.......” ia
menunjuk pada Jenggot perak, “Kenalkanlah pada kakekku!”
Pok Lain-ci maju ke hadapan Jenggot perak, serunya, “Kek....eh, bagaimana aku
memanggilmu?”
Jenggot perak tertawa meloroh, “Ya, ya....dengan siapa kau datang ke Tionggoan?”
“Dengan ayah!” sahut si dara.
“Apakah ayahmu orang Mongol?”
“Tidak, nenekku!”
“Nenekmu?” Jenggot perak terkesiap, “Kalau begitu, nenekmu tentulah Dewi
Tambur!”
Pok Lain-ci bertepuk tangan, “Tepat sekali dugaanmu, kek! Selain tambur, nenek
juga pandai meniup seruling, memainkan harpa dan lain-lain…. eh, apakah kakek
kenal padanya?”
Jenggot perak menggelengkan kepalanya, “Telah lama kudengar namanya, tetapi
tak pernah berjumpa muka. Apakah dia sehat-sehat saja?”
“Nenek sudah meninggal!” kembali wajah Pok Lian-ci mengerut rawan.
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berseru, “Ayahmu?”
“Dia …. dia datang bersama aku…..” katanya tergagap. Dara itu tak dapat
berbohong. Walupun sebenarnya ia tak mau mengatakan hal itu, namun tak dapat
juga ia menyimpan rahasia.
“Dimana ayahmu? Mengapa tak ajak ia menjumpai aku!” Jenggot perak berseru
tegang.
“Tidak!” seru Pok Lian-ci, “Ayah mengatakan, jika tak perlu tak mau menemui
kakek. Sebenarnya aku tak boleh mengatakan tentang dirinya, karena kuatir kakek
mendampratnya.....!”
“Kalau begitu ayahmu itu....”
“Juga tak boleh mengatakan namanya!” tukas Pok Lian-ci.
Mendengar itu Cu Giok-bun segera menghampiri. Dengan lemah-lembut
dibelainya rambut Pok Lian-ci. Katanya halus, Nah, jika kau mengaku mempunyai
taci, mempunyai kakak, akulah bibimu!”
Bibi!” seru Lian-ci tertawa riang.
Cu Giok-bun sejenak bertukar pandang dengan Jenggot Perak, lalu berkata
kepada Lian-ci, “Nak, katakanlah siapa nama ayahmu. Kita sekarang orang
sendiri!”
Pok Lian-ci mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Ia hendak mengatakan
sesuatu, tetapi ragu-ragu. Akhirnya ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tak
boleh melanggar pesan ayah!”
Cu Giok-bun kewalahan. Katanya pula, “Bukankah ayahmu itu tokoh yang gemar
memakai pedang besi, yang batangnya digantungi kantong kecil berbentuk
hati.....”
“Benar!” teriak Pok Lain-ci serentak, “apakah bibi kenal padanya?”
Seketika berobahlah muka Cu Giok-bun, “Tidak, aku tak kenal......mungkin dulu
pernah kenal, tetapi sekarang tidak!”
Pok Lain-ci memandang bibi itu dengan heran. Namun ia tak berani mengatakan
apa-apa.
Siau-bun telah melihat perobahan airmuka ibunya. Begitupun pengemis sakti
Thiat-ik Sin-kay dan Lu Bu-song, tetapi mereka tak berani bertanya.
Adalah Jenggot perak yang memecah kebuntuan dengan berbatuk-batuk, ujarnya,
“Eh, kau mempunyai seorang engkoh dan dua orang taci?”
Lian-ci tertawa, “Sekarang tambah dengan seorang taci lagi..... tetapi ibuku hanya
melahirkan seorang anak saja. Yang lain adalah setelah aku datang ke Tionggoan, aku mendapat engkoh dan taci angkat....”
“Apakah engkoh angkatmu itu kau dapatkan di gunung Thay-heng-san?” tanya
Jenggot perak.
Lian-ci mengangguk.
Jenggot perak menghela napas. Tiba-tiba ia berpaling kepada Cu Giok-bun,
“Urusan ini masih penuh tabir kegelapan, kau.....”
“Tujuh belas tahun telah lampau, masakah aku masih mndendam hal itu?” Cu
Giok-bun tertawa.
Jenggot perak tertawa juga, “Itulah baik. Apabila dia benar Thiat-beng, tentulah dia
juga menderita. Jika bertemu muka, kau harus mengalah....” kata-kata itu ia
ucapkan dengan ilmu Menyusup suara, sehingga orang lain tak mndengarnya.
Cu Giok-bun tertawa rawan, “Memang , kini aku tahu bahwa dia bukan orang yang
tak setia. Adalah karena perbuatan Ma Hong-ing yang mengadu domba sehingga
kami suami isteri menjadi retak........” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena
tersekat rasa haru.
Po Lian-ci bergantian memandang pada Jenggot perak dan Cu Giok-bun, serunya
terbata-bata, “Bibi, ..... kau kenapa? Apakah kau juga mempunyai kesedihan?”
Cu Giok-bun menghela napas, “Nak, bibi hendak bertanya padamu, maukah
engkau menjawab dengan terus terang?”
Lian-ci mengangguk, “Asal jangan menanyakan nama ayahku, tentulah akan
kuberi keterangan sejujurnya!”
“Tak usah kau katakan hal itu. Cukup asal kau jawab apakah yang kukatakan itu
benar atau tidak!” Cu Giok-bun berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Bukankah
ayahmu bernama Pedang bebas Pok Thiat-beng?”
Gemetar tubuh si dara mendengar pertanyaan itu. Serunya terkejut,
“Bibi,...kau.....?”
“Apa yang kukatakan itu benar atau tidak?” Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun
mendesak.
Lian-ci terengah-engah napasnya seperti orang menghadapi soal sulit.
“Benar sih benar, tetapi ayah melarang aku mengatakan!” sahutnya.
Cu giok-bun menghela napas, “Kalau kata-kataku itu benar, janganlah kau
memanggilku bibi lagi, nak...”
“Eh, habis bagaimana aku harus memanggil?” kata si dara gugup.
“Panggil aku mamah!” seru Cu Giok-bun dengan nada mantap.
Bukan saja Lian-ci, tetapi Siau-bun dan Bu-song pun terbeliak kaget.
Siau-bun menarik ujung baju ibunya dan bertanya dengan tegang, “Mah, apakah
ayah.....”
“Mungkin tak salah .....” Cu Giok-bun menghela napas, “Kalau datang mengapa tak
lekas menemui aku!”
“Mengapa aku harus menyebutmu mamah? Mamahku.... sudah meninggal!“ teriak
Lian-ci.
Cu Giok-bun tertegun, “Apakah ayahmu tak pernah menceritakan?”
Eng-hiong tay-hwe.
“Tidak!” Lian-ci menggelengkan kepala. Ia merenung sejenak lalu berkata pula,
“Memang ibuku dulu pernah bercerita bahwa ketika tiba di daerah Se-hek, ayah
sakit berat. Tubuhnya kurus kering seperti tulang terbungkus kulit. Sudah tiga hari
menggeletak di tepi telaga. Jika tak ditemui ibu, ayah tentu sudah mati!”
Cu Giok-bun menghela napas. Ia membayangkan keadaan Pok Thiat-beng kala
itu. Karena salah paham, Thiat-beng merantau ke Se-hek (Tibet). Bukan mustahil
keadaannya menderita, jatuh sakit tiada yang merawat. Tentulah ia merasa
berhutang budi pada puteri Dewi tambur yang menolongnya. Kemudian mereka
tentu menikah. Hal itu mungkin juga karena Thiat-beng tentu masih mendendam
kepadanya. Kemungkinan Thiat-beng tak mau mengatakan bahwa sebenarnya ia
sudah menikah dengan Cu Giok-bun.
Beberapa saat Cu Giok-bun , Lian-ci, Jenggot perak dan yang lain-lain berdiam
diri. Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng dan tambur. Itulah tanda pembukaan rapat
Eng-hiong-tay-hwe ( rapat besar orang gagah), akan dimulai.
Jenggot perak gelagapan, “Bun-ji, dalam beberapa hal Thiat-beng memang harus
dikasihani. Dalam Eng-hiong-tay-hwe nanti, mungkin kau bisa berjumpa…..” ia
berhenti sejenak, katanya pula, “Dahulu ayah yang menjodohkan. Sekarang
ayahpun tetap hendak berusaha supaya kalian suami isteri bisa berkumpul
kembali.”
Tiba-tiba seorang lelaki berlari-lari mendatangi dan memberi hormat di hadapan
Jenggot perak, “Subuh sudah lewat, apakah rapat akan dibuka menurut waktu
yang telah ditetapkan?”
Orang itu ternyata Li Cu-liong, ketua partai Tiam-jong-pay yang menjadi anak
angkat Jenggot perak. Dahi dan kepala ketua Tiam-jong-pay itu mandi keringat,
sikapnya gugup dan gelisah. Tetapi ketika pandangannya tertumbuk pada si dara
Pok Lian-ci, ia tertegun.
“Seorang ksatria harus memegang janji. Apalagi mengenai urusan yang
sedemikian pentingnya. Rapat tetap dibuka tepat pada waktu yang telah
ditetapkan!”
Li Cu-liong tersipu-sippu mengiyakan. Ia menerangkan bahwa saat itulah rapat
sudah harus dimulai.
“Apakah persiapan sudah lengkap semua?”
Li Cu-liong mengiyakan.
“Apakah para tamu sudah hadir semua?”
“Sudah tujuh-delapan bagian yang hadir, tapi……” ketua Tiam-jong-pay itu
sejenak mengedipkan mata, katanya,”Rombongan Sin-bu-kiong dan Hek Gak
belum tampak!”
Jenggot perak tertawa meloroh, “Jika mereka sungguh tak datang. Setelah
mendapat persetujuan rapat, aku hendak mengajak sekalian tamu untuk ngeluruk
ke Sin-bu-kiong dan Hek Gak………”
Jenggot perak segera mengajak rombongannya menuju ke lapangan, “Ayo kita
bertemu dengan para ksatria dari delapan penjuru.!”
Bangsal pertemuan penuh dengan orang. Meja berhias hidangan-hidangan
minuman arak dan makanan yang lezat. Perjamuan itu benar-benar meupakan
pertemuan yang jarang terjadi selama beberapa puluh tahun. Sekalian orang
gagah dari seluruh penjuru berkumpul menjadi satu, sama-sama menikmati
hidangan dan menguji kesaktian.
Tetapi suasana perjamuan bukan diliputi oleh kegembiraan, melainkan
kecemasan. Sekaligus ada beberapa ratus orang yang hadir, tetapi suasanya
masih sunyi-sunyi saja.
Pol Lian-ci m emang masih kekanak-kanakan. Kalau orang-orang gelisah,
sebaliknya dia malah gembira sekali. Sambil melonjak-lonjak seperti anak kecil, ia
bertanya kepada Jenggot perak, “Kek, apakah hari kau mengadakan ulang
tahun?”
Ia teringat dulu ketika neneknya merayakan ulang tahun, juga menyelenggarakan
pesta besar.
“Bukan ulang-tahunku, tetapi kakek sedang mengundang tamu!” Jenggot perak
tertawa.
“Mengundang tamu?” Lian-ci heran.
Jenggot perak menyahut dengan nada mantap. “Adalah karena telah
mengundang para tamu ini, maka kakek sampai perlu datang dari tempat yang
jauh…..”
Walupun kata-kata itu ditujukan pada Lian-ci tetapi sebenarnya Jenggot perak
hendak menumpahkan keresahan hatinya. Yang paling menjadi pikirannya ialah
diri Bu-beng-jin. Jika pemuda itu muncul dalam perjamuan nanti, bagaimana
reaksi Bu-song dan Siau-bun? Bagaimana ia akan menyelesaikan urusan
mereka?
Dari keterangan Lian-ci tadi, jelas bahwa Bu-beng-jin telah ditolongnya.
Kemungkinan pemuda itu akan datang bersama dengan Pok Thiat-beng.
Saat itu Jenggot perak sudah memasuki ruang pertemuan dan diantar oleh Li Culiong ke tempat duduk yang disediakan untuknya. Tempat duduk itu merupakan
kursi pimpinan rapat. Letaknya di tengah. Di sebelah kanan dan kiri, terdapat dua
buah kursi kosong. Itulah kursi yang diperuntukkan bagi Sin-bu Te-kun dan ketua
Hek Gak. Tetapi saat itu kedua tokoh tersebut belum juga muncul.
Sambil mengambil tempat duduk, jago tua itu bertanya kepada Li Cu-liong,
“Karena gara-gara partai Ji-tok-kau, Wajah seribu sampai muncul. Selain itu
apakah masih terdapat orang-orang yang patut dicurigai lagi?”
Li Cu-liong buru-buru menyahut, “Dalam rombongan partai Go-bi-pay terdapat dua
orang paderi yang tak diketahui asal-usulnya. Lain-lain rombongan tak sempat
menyelidiki….”
“Rapat boleh segera dimulai!” seru Jenggot perak.
Serentak Li Cu-liong loncat ke atas sebuah meja kosong dan mengumumkan
bahwa rapat Eng-hiong-tay-hwe dibuka. Atas nama tuan rumah ia menghaturkan
selamat datang kepada sekalian orang gagah. Ketua Tiam-jong-pay itu memeiliki
tenaga dalam yang kuat. Suaranya terdengar nyaring dan jelas. Pidatonya
mendapat sambutan hangat dari hadirin.
Tetapi tidak semua orang gagah yang hadir di situ, suka kepada Tiam-jong-pay.
Mereka sudah mempunyai prasangka yang jelek terhadap Hun-tiong Sin-mo yang
ganas. Hubungan yang rapat antara Hun-tiong Sin-mo dengan Thiat-hiat-bun dan
Tiam-jong-pay, menimbulkan kecurigaan dalam hati mereka.
Di bawah meja tempat Li Cu-liong berdiri, tampak empat sosok mayat terbujur.
Ketika itu Li Cu-liong menerangkan bahwa korban-korban itu adalah anak buah
partai Tiam-jong-pay yang diracuni oleh partai Ji-tok-kau. Hadirin terdiam semua.
Ada yang tak percaya, ada juga yang takut memberi pernyataan , karena kuatir
membuat marah salah satu pihak.
Setelah Li Cu-liong turun, Jenggot perak bangkit dan mengangkat cawan arak
mengajak sekalian hadirin minum, “Inilah yang pertama kali aku mengunjungi
Tiong-goan. Pertama karena ingin menyaksikan keindahan tanah Tiong-goan
yang termashyur dan kedua karena hendak mengikat persahabatan dengan para
ksatria Tiong-goan. Maka dengan meminjam tempat di markas Tiam-jong-pay ini,
aku menyelenggarakan perjamuan besar guna menghormati sekalian sahabat.
Atas kesudian dan penghargaan saudara-saudara untuk memenuhi undanganku,
kuhaturkan banyak terima kasih dan marilah kita minum untuk keselamatan kita
bersama!”
Jenggot perak segera hendak mengantar cawan ke mulutnya, tetapi sekonyongkonyong terdengar suara orang membentak, “Tunggu!”
Suaranya lantang nyaring bagai genta bertalu. Sekalian hadirin tersentak kaget.
Jenggot perak melirik. Seorang paderi gemuk bangkit di tengah-tengah hadirin
dan berjalan ke muka.
“Toa-suhu hendak memberi pelajaran apa?” tegur Jenggot perak.
Paderi itu tertawa dingin, “Ada beberapa hal yang lo-ni (paderi membahasakan
dirinya) tak jelas, dan mohon saudara menjelaskan.”
“Dalam hal apa, silakan toa-suhu mengatakan,” kata Jenggot perak.
“Saudara adalah partai dari luar daerah. Tetapi saudara berani memaksa
mengundang ksatria Tiong-goan berkumpul di sini. Ini sudah tak menghormat. Dan
pula, pada malam sebelum pembukaan rapat, saudara telah membunuh empat
puluh orang rombongan patai Ji-tok-kau. Tindakan itu jelas hendak saudara
tunjukkan sebagai pameran kekuatan. Untuk mematahkan nyali sekalian ksatria.
Untuk cara-cara yang serendah itu, apakah alasan yang saudara hendak
kemukakan?”
Jemggot perak tertawa nyaring, “Akupun hendak bertanya sepatah kata padamu.
Apakah kau bukan si Wajah seribu?”
Memang paderi gemuk itu bukan lain adalah si Wajah seribu yang telah
menyamar. Setelah dipukul mundur oleh ilmu Tambur dara Pok Lian-ci, dia terus
menyusup ke dalam rombongan partai Go-bi-pay.
Wajah seribu tertawa congkak, “Benar, matamu memang tajam benar. Kalau
sudah mengenal aku, mengapa kau masih berlagak... ” Ia memandang ke empat
penjuru lalu berseru keras, “Ho, apakah kau hendak mengelak dari pertanyaanku
tadi?”
“Kalau kau sudah mengakui sebagai Wajah seribu, aku hendak bertanya sebuah
hal lagi!” sahut Jenggot perak.
“Silakan!”
“Dimanakah Sin-bu Te-kun sekarang?”
“Mana aku tahu!” jawab Wajah seribu.
“Ada orang menyaksikan sendiri bahwa kau bersama Lam-yau, Pak-koay dan Bukiu su-seng telah menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong!”
“Fitnah yang keji! Siapakah yang berani menghina aku begitu?” teriak Wajah
seribu.
“Aku.......!” sekonyong-konyong terdengar suara nyaring disusul dengan
melesatnya sesosok bayangan ke tengah gelanggang.
Hadirin sekalian terkejut. Itulah pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay. Sekalipun dalam
dunia persilatan nama partai Kay-pang itu tak tinggi kedudukannya, tetapi
termashyur sebagai partai yang jujur dan adil. Apalagi Thiat-ik Sin-kay adalah
ketua angkatan terdahulu dari Kay-pang. Mereka yakin akan kesaksian ketua Kaypang itu yang tentu tak bohong. Tetapi anehnya, soal masuknya Wajah seribu ke
dalam Sin-bu-kiong itu tak banyak menimbulkan keheranan sekalian hadirin. Hal
ini dikarenakan sebagian tokoh-tokoh yang hadir tak mempunyai dendam
permusuhan dengan Sin-bu-kiong.
Wajah seribu tertawa, “Nah sekarang kau harus menjawab pertanyaanku tadi!”
Jenddot perak berseru dengan nyaring, “Sekalipun kebinasaan rombongan partai
Ji-tok-kau itu karena perbuatan Raja kutu Coh Seng, tetapi kaulah yang menjadi
biang keladinya. Coh Seng hanya menerima perintahmu saja. Adapun mengenai
kedatanganku di Tiong-goan, memang mempunyai dua tujuan. Pertama, hendak
mengikat persahabatan dengan kaum ksatria daerah Tiong-goan dan kedua,
hendak membantu ksatria Tiong-goan membasmi dua benggolan yang
mengancam keselamatan dunia persilatan...!”
“Siapakah yang kau maksudkan dengan dua benggolan itu?”
“Hek Gak dan Sin-bu-kiong…..!” sahut Jenggot perak. “Yang pertama adalah
seorang durjana ganas. Sepal terjangnya pada enam puluh tahun berselang tak
mudah dilupakan sekalian kaum persilatan. Kini dengan tipu daya, dia berhasil
mengikat Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi. Membangun markasnya di gunung
Tang-san dan bermaksud hendak menguasai dunia persilatan. Sedangkan Sinbu-kiong pun lebih licik dan hina lagi. Dia memfitnah dan memalsukan panji
Tengkorak darah agar kaum persilatan membenci Hun-tiong Sin-mo. Dengan
memperoleh dukungan sekalian kaum persilatan, dia hendak membasmi Huntiong-san dan kemudian merajai dunia persilatan.
Apabila kedua durjana ini berhasil melaksanakan rencananya, kaum persilatan
pasti akan melewati hari-hari yang menyedihkan!”
Mata Wajah seribu berkeliaraan ke empat penjuru. Ia tertawa senyaringnyaringnya, “Apakah sekalian hadirin percaya pada ocehan si tua bangka ini?”
Para hadirin tak berani menjawab. Mereka takut menderita akibat yang tak
diinginkan.
Seketika berobahlah muka si Wajah seribu, “Soal ini baiklah kita tangguhkan
dahulu. Sekarang aku hendak bertanya padamu.....” ia berhenti untuk tertawa,
kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Apakah kau mengundang Hun-tiong Sinmo?”
Jenggot perak terkesiap, kemudian menyahut samar-samar, “Benar!”
“Apakah saat ini dia juga hadir?”
“Tentu saja!” sahut Jenggot perak.
Keterangan ketua Thiat-hiat-bun itu menimbulkan kegemparan dalam rapat.
Sekalian orang saling pandang-memandang, tetapi mereka tak atahu yang
manakah tokoh Hun-tiong Sin-mo itu.
Kecuali beberapa gelintir tokoh persilatan, boleh dikata kaum persilatan pada
umumnya menganggap Hun-tiong Sin-mo itu sebagai tokoh dalam dongeng yang
ajaib. taks eorangpun yang pernah melihat wajahnya.
Juga Wajah seribu tak henti-hentinya menyapukan mata ke empat penjuru.
Serunya pula, “Kalau dia benar sudah hadir, mengapa tak diperkenalkan dengan
sekalian hadirin?”
“Apa gunanya diperkenalkan? Apakah kau bersedia menempurnya sampai mati?”
sahut Jenggot perak.
Wajah seribu berobah air mukanya. Pada lain saat ia tertawa congkak, serunya
“Memang aku mempunyai maksud begitu!”
“Karena kau sendiri yang meminta, biarlah kukabulkan permintaannmu itu!” tibatiba terdngar lengking suara wanita. Dan pada lain saat Hun-tiong Sin-mo Cu
Giok-bun melayang di hadapan Wajah seribu.
Terdengar seruan tertahan dari mulut Wajah seribu dan teriakan gemuruh dari
para hadirin. Hampir mereka tak percaya bahwa momok yang begitu disohorkan
karena keganasannya, ternyata hanya seorang wanita yang bertubuh langsing
kecil.
Sesaat terbangun dari ketegunan. Wajah seribu menghambur tertawa nyaring,
“Siapa kau? Anak perempuan dari Hun-tiong Sin-mo atau cucunya atau………”
“Aku inilah Hun-tiong Sin-mo!” bentak Cu Giok-bun.
Masih Wajah seribu tertawa gelak-gelak, “Aneh, siapakah yang tak tahu kalau
Hun-tiong Sin-mo seorang lelaki tinggi besar? Mengapa kini berobah menjadi
seorang wanita……”
Cu Giok-bun tertawa dingin, “Di hadapan sekalian ksatria dari seluruh penjuru,
biarlah kusingkapkan rahasia ini. Hun-tiong Sin-mo Teng Ih-hui adalah mendiang
guruku. Sebelum menutup mata, beliau telah menurunkan seluruh kepandaiannya
padaku. Beliau meninggalkan pesan bahwa turun temurun, kaum Hun-tiong-san
hanya boleh mempunyai seorang murid tunggal dan pewaris itu harus tetap
memakai nama Hun-tiong Sin-mo, serta tinggal di gunung Hun-tiong san.
Maka…….”
Sekalian orang gagah terlongong-longong mendengar keterangan itu. Mereka
setengah tak percaya..
“Ngaco belo, keterangan itu sukar kupercaya!” teriak Wajah seribu.
“Kalau tak percaya, mengapa kau tak mencoba?” Cu Giok-bun tertawa dngin.
“Baik, memang aku ingin menguji kesaktian kaum Hun-tiong-san yang dishorkan
itu!” Wajah seribu tertawa seraya bergeser maju. Ia tetap tak percaya yang
dihadapannya itu adalah Hun-tiong Sin-mo. Maka iapun bersikap acuh tak acuh.
“Tetapi Hun-tiong-hu mempunyai sebuah peraturan. JIka bertempur dengan orang,
tak pernah membiarkan orang itu hidup!”
“Asal kau mempunyai kemampuan begitu, matipun aku rela!” teriak Wajah seribu.
Tiba-tiba ia menamparkan tangannya dan serentak dengan itu tubuhnya
bergoyang dan pecah menjadi beberapa sosok bayangan.
Sekalian hadirin tercengang kaget.
“Baik, akan kupenuhi keinginanmu!” teriak Hun-tiong Sin-mo seraya menghantam.
Yang dituju hanya sesosok bayangan saja. Padahal beberapa bayangan
berhamburan menerjangnya, sehingga sekalian hadirin sama mengucurkan
keringat dingin.
Dess… terdengar bunyi mendesis dan beberapa sosok bayangan itupun lenyap.
Cu Giok-bun dan Wajah seribu sama-sama tegak di tempat masing-masing.
Tampaknya pertukaran pukulan itu berimbang kekuatannya.
Wajah Cu Giok-bun dingin membeku, serunya, “ Enam puluh tahun lamanya,
belum pernah peraturan Hun-tiong-hu dilanggar. Coba saja, apakah kau mampu
melanggar peraturan itu!”
Kelima jarinya dipentang dan dicengkeramkan kepada lawan…
Wajah seribu baru saja mengadu pukulan dan sadarlah ia akan tenaga lawan.
Meskipun pukulan lawannya tak membuatnya mundur, tetapi ia cukup tergetar
hatinya.
Jelas tenaga pukulan lawan itu mengandung daya dorong yang luar biasa……
Sebelum ia sempat menilai lebih jauh, cengkeraman jari Cu Giok-bun sudah
merangsaknya. Tampaknya gerakan wanita itu biasa dan perlahan., tetapi
sebenarnya Cu Giok-bun tengah melancarkan jurus yang sangat ganas.
Wajah seribu tak berani berayal, cepat ia hendak menangkis, tetapi ia terlambat.
Ilmu yang paling diandalkan hanyalah Pek-pian-mo-ing, merobah diri menjadi
seratus bayangan. Tetapi ia lupa bahwa lawan mahir juga dalam ilmu melihat
langit mendengar bumi, maka Pek-pian-mo-ing tak berguna sama sekali.
Cu Giok-bun kali ini telah melancarkan serangan yang sangat telengas sekali.
Jauh lebih hebat dari pukulan-pukulan yang dilepaskan Jenggot perak tadi.
Seketika Wajah seribu merasakan dadanya sakit sekali. Tak dapat ia bertahan
lagi. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah dan sempoyongan hendak
jatuh.
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun meloncat maju dan menyusuli pula dengan sebuah
tamparan. Segumpal sinar merah menghambur, disusul dengan segulung asap.
Sebelum Wajah seribu sempat mengerang, ia sudah roboh di tanah menjadi
sesosok tubuh yang telah hangus…..
Hun-tiong Sin-mo telah menggunakan ilmu pukulan Cek-koay-ciang yang dilampiri
tenaga penuh. Pukulan pusaka Hun-tiong-hu yang tak pernah gagal selama
enampuluh tahun.
Sebenarnya Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun sudah gemas dengan tingkah laku
Wajah seribu yang telah membakar markas besar Tiam-jong-pay. Tetapi karena
selama itu ayahnya yang menghadapiny, ia tak mau menyinggung perasaan
ayahnya dan membiarkan sang ayah yang menyelesaikan.
Tetapi kini di hadapan ratusan ksatria dari seluruh penjuru, Wajah seribu berani
meremehkan dirinya, benar-benar tak dapat diberi ampun lagi. Untuk menegakkan
kewibawaan Hun-tiong-hu yang sudah enam puluh tahun merajai dunia
persilatan, Cu Giok-bun terpaksa harus membunuh lawannya.
Pemandangan yang sengeri itu membuat sekalian hadirin serentak berdiri. Mereka
terkejut melihat kesaktian Hun-tiong Sin-mo yang sedemikian hebatnya. Kini baru
mereka terbuka matanya, bahwa Hun-tiong Sin-mo yang disohorkan itu ternyata
memang tidak bernama kosong.
Jerit teriakan kaget-kaget ngeri, berkumandang memenuhi gelanggang
pertempuran!
Bahkan Jenggot perak sendiripun tak urung terkesiap dalam hati. Ia tak
menyangka kalau anak perempuannya itu memiliki ilmu pukulan yang sedemikian
saktinya.
“Ayah tak mengira kalau Hun-tiong Sin-mo memiliki pukulan yang sedemikian
saktinya....!”
(bersambung ke jilid 26)
Jilid 26 .
Lam-yau dan Pak-koay
Kini barulah sekalian hadirin percaya bahwa wanita yang tegak di tengah
gelanggang itu memang benar Hun-tiong Sin-mo.
Sekonyong-konyong terdengar serangkum gelak tawa yang riuh. Sekalian hadirin
gempar. Sesaat kemudian tampak serombongan orang masuk. Yang mengantar
adalah beberpa anak buah Thiat-hiat-bun dan Tiam-jong-pay.
Dan ternyata yang diantar adalah rombongan Sin-bu-kiong dan Hek Gak.
Berpuluh-puluh anak buah Sin-bu-kiong dan Hek Gak dengan dipimpin sendiri
oelh ketuanya telah tiba!
Jelas bahwa kedua partai itu memang telah bersepakat untuk datang bersamasama. Dan jelas pula, bahwa kedua partai itu telah bertekad hendak menghadapi
Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan Hun-tiong-hu.
Sesaat masuk di ruangan petemuan, ketua Hek Gak dan Sin-bu Te-kun segera
memberi salam kepada hadirin. “Karena ada urusan, kami datang terlambat.
Harap sekalian saudara memaafkan!”
Ucapan itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin. Karena rata-rata mereka
ngeri dan benci melihat keganasan Hun-tiong Sin-mo tadi.
Jenggot perak tertawa gelak-gelak, “Kami kira saudara berdua tak sudi datang.
Apabila demikian, sebenarnya kami hendak mengunjungi istana kalian. Siapa
tahu ternyata saudara sudi memenuhi undangan kami, sehingga kami tak perlu
bersusah payah mengadakan perjalanan lagi!”
Marah benar Sin-bu Te-kun mendapat sambutan begitu. Serunya, “Menekan kaum
persilatan, mengganas partai Ji-tok-kau dan merangkul momok Hun-tiong Sin-mo
yang bergelimang darah. Hm, kedatanganku kemari adalah hendak membasmi
kuman berbahaya dalam dunia persilatan!”
Jenggot perak melantang, “Memalsukan panji Tengkorak darah, memfitnah orang,
membujuk kaum persilatan untuk mencapai tujuan menguasai dunia persilatan,
itulah akal busukmu, hai setan laknat!”
“Percuma banyak bicara! Pepatah mengatakan, kalau menang menjadi raja, kalau
kalah menjadi buronan. Lebih dulu lenyapkan merka saja....... ” tukas ketua Hek
Gak.
“Kau benar, saudara Kongsun..... ” Sin-bu Te-kun cepat balas memutus omongan.
Kemudian ia menuding pada Cu Giok-bun, “Hun-tiong Sin-mo Teng Ih-hui sudah
mampus. Jika saudara Kongsun hendak membalas hinaan dulu, balaslah pada
wanita itu!”
“Siapakah dia?” ketua Hek Gak terkesiap.
Sin-bu Te-kun tertawa, “Dia adalah murid pewaris Hun-tiong Sin-mo teng Ih-hui,
atau anak perempuan ketua Thiat-hiat-bun!”
Tiba-tiba ketua Hek Gak tertawa mengekeh, “Heh,he, kiranya si tua Teng Ih-hui itu
sudah mampus! ”
“Kalau dapat membunuh perempuan itu juga sama artinya!” Sin-bu Te-kun tertawa
dingin.
Ketua Hek Gak mendengus, “Tentu! Setelah membunuh, aku tetap hendak ke
gunung Hun-tiong-san untuk merangket mayat Teng Ih-hui sampai tiga ratus
kali.....” tiba-tiba ia menuding pada Cu Giok-bun dan berseru memberi perintah,
“Lekas ringkus perempuan itu dan cincang dagingnya!”
Dua lelaki yang berdiri di belakang, yang satu Bok Sam-pi dan yang satu seorang
tua bertubuh kurus, segera melesat maju.
Cu Giok-bun tertawa datar. Menghadapi Bok Sam-pi dan si tua kurus, ia berseru,
“Jika kalian tak ingin cari mati, harap tinggalkan tempat ini saja!”
“Mah, hati-hatilah terhadap si gemuk. Dia adalah Ang-tim-gong-khek Bok Sampi….” buru-buru Siau-bun memberi peringatan kepada ibunya. “Dia diberi obat
bius oleh ketua Hek Gak, hingga lupa ingatan.!”
“Aku sudah tahu, kau urus dirimu sendiri sajalah!” sahut Cu Giok-bun dengan
dingin.
Bok Sam-pi tak mau bicara. Diam-diam ia mengerahkan lwekang dan tiba-tiba
menghantam. Juga si tua kurus tak bicara. Sepuluh jarinya yang runcing macam
cakar segera dicengkeramkan. Gerakan itu menimbulkan angin mendesis-desis.
Suatu tanda bahwa ilmu orang kurus itu telah mencapai tingkat yang tinggi.
Cu Giok-bun hanya mendengus. Ia menggunakan telunjuk jari kiri dan pukulan
tangan kanan untuk menangkis. Sekaligus ia menyambut dua buah serangan dari
tokoh-tokoh sakti.
Tiga tokoh sakti yang berilmu tinggi berbareng adu tenaga. Hadirin sekalian
mengira bakal menyaksikan kejadian yang dahsyat. Tetapi alangkah terkejutnya
mereka.
Ketika tenaga ketiga orang itu saling berbenturan, di luar dugaan sebagian besar
kekeuatan tenaga itu buyar lenyap. Tampaknya gerakan ketiga tokoh itu tidak
menggunakan tenaga.
Tetapi dari wajah mereka bertiga yang berobah gelap, terlihat bahwa sebenarnya
mereka sedang melakukan pertempuran yang dahsyat. Dibandingkan dengan adu
pukulan yang mengeluarkan suara dahsyat, jauh lebih hebat beberapa kali.
Sebagian besar dari hadirin adalah jago-jago silat yang memiliki ilmu lwekang.
Serentak mereka berdiri dan memperhatikan dengan seksama pada ketiga tokoh
yang sedang adu kekuatan itu.
Sin-bu Te-kun mengekeh sinis, “Lu tua, kau pun jangan menjadi penonton saja.
Aku telah mengundang dua sahabat untuk mengadu kepandaian dengan engkau!”
Jenggot perak tertawa, “Karena ada tamu agung, aku tentu akan melayani!”
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh, lalu memberi isyarat kepada rombongannya.
“Orang tua ini adalah ketua Thiat-hiat-bun. Jika kedua saudara suka, boleh
bermain-main dengannya!”
Dua lelaki berwajah buruk seperti siluman, melangkah ke depan. Mereka memberi
hormat kepada Jenggot perak, “Sebenarnya hasrat kami dua bersaudara hendak
mengukur kepandaian dengan Hun-tiong Sin-mo, demi membalas kematian
Wajah seribu. tetapi karena Hun-tiong Sin-mo sudah ada lain saudara yang
melayani, maka kami ingin bermain-main dengan saudara saja!”
Kedua orang perawakannya sama. Hanya yang satu berpakaian warna putih dan
yang satu berwarna hitam. Sepasang mata mereka menonjol keluar, rambutnya
terurai sampai ke bahu. Sepintas pandang mirip dengan setan.
Jenggot perak tertawa nyaring, serunya, “Lam-yau dan Pak-koay, sungguh
beruntung dapat berjumpa dengan kalian!”
Memang kedua orang berwajah seram itu adalah Lam-yau (siluman selatan) dan
Pak-koay (manusia aneh dari utara).
Jenggot perak maju selangkah, ujarnya, “Karena saudara berdua mendapat
perintah dari Sin-bu Te-kun, silakan saja. Aku tentu akan melayani dengan
gembira!”
Merah wajah kedua orang itu. Serempak mereka melengking. “Ngaco! Cukup
dengan mengenal kami berdua kakak beradik saja, masakah dapat diperintah
orang!”
Sin-bu Te-kun tertawa nyaring, “Harap saudara jangan pedulikan ocehan yang
memanaskan dari setan tua itu. Aku pasti membantu saudara!”
Lam-yau dan Pak-koay saling berpandangan. Pada lain saat merekapun segera
menyerang berbareng.
Gaya serangan mereka aneh sekali. Yang satu membentuk jarinya seperti cakar
baja. Yang lain tidak meyerang dengan jari atau tinju, tetapi dengan siku lengan.
Keduanya mirip dengan orang tolol.
Jenggot perak tak berani memandang remeh. Ia duga mereka tentu menggunakan
ilmu silat yang istimewa. Iapun serentak menggerakkan kedua tangannya
menyambut kedua lawan.
Dar…. terdengar getaran keras dan ketiga tokoh itu masing-masing mundur tigaempat langkah. Jelas bahwa kekuatan mereka berimbang.
Lam-yau dan Pak-koay menggembor keras, lalu mengayunkan tubuh menerjang
lagi. jenggot perakpun tak mau kalah hawa. Ia juga menggerung keras dan
menyongsong.
Saat itu di gelanggang rapat Eng-hiong-tay-hwe telah terjadi dua kelompok
pertempuran yang dahsyat. Hun-tiong Sin-mo dikeroyok Bok Sam-pi dan si tua
kurus. Jenggot perakpun dikerubut Lam-yau dan Pak-koay. Pertempuran yang
dilakukan oleh tokoh-tokoh itu, lain dari yang lain. Begitu dahsyat dan rapat
sehingga sukar dipisah dan dibedakan satu dengan yang lain.
Kesempatan itu tak disia-siakan ketua Hek Gak. Ia segera menghampiri Li Culiong ketua Tiam-jong-pay, “Karena tak ada musuh, maka kaulah yang akan
kuganyang!”
Kata-kata itu ditutup dengan sebuah pukulan dahsyat. Li Cu-liong tak berani
berayal. Ia menyongsong dengan kedua tangannya.
Bum.... terdengar letupan keras dan Li Cu-liong terhuyung-huyung ke belakang.
Hal itu jelas menunjukkan bahwa tenga ketua Tiam-jong-pay masih kalah jauh
dibandingkan ketua Hek Gak!
Ketua Hek Gak tertawa mengekeh, “Ho, kantong nasi yang tak berguna, lekas
serahkan jiwamu!”
Ia membarengi meloncat dengan sebuah pukulan. Pada saat Li Cu-liong terancam
maut, sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan meluncurnya empat
sosok tubuh, yang serentak menangkis pukulan ketua Hek Gak. Keempat orang itu
ternyata Thiat-hiat Su-kiat atau empat pahlawan Thiat-hiat-bun.
Betapapun saktinya ketua Hek Gak, namun ia tetap tak mampu menahan tenaga
empat jago sakti dari Thiat-hiat-bun. Seketika ketua Hek gak terhuyung-huyung ke
belakang, hampir saja ia roboh.
Melihat itu empat orang su-cia dari Hek Gak pun tak tinggal diam. Mereka cepat
melompat menerjang empat su-kiat dari Thiat-hiat-bun. Seketika suasana menjadi
gaduh dengan pertempuran amuk-amukan.
Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh pula. Sekali melambaikan tangan, terdengarlah
tambur berbunyi menggemuruh. Ternyata di dalam rombongannyapun terdapat
beberapa tokoh yang memiliki Im-in sin-kang ( suara sakti). Delapan orang duduk
sambil memukul tambur. Nadanya makin tinggi dan hati setiap orang yang berada
di situ seperti dipalu....
Dara Pok Lian-ci yang sejak tadi terlongong-longong mengawasi ribut-ribut itu,
tampak gelagapan. Buru-buru ia menjemput tambur kecil di belakang bahunya,
lalu ditabuhnya.
Sekalipun hanya sebuah tambur kecil, tapi nadanya hebat sekali. Udara seolaholah penuh dengan kumandang bunyi tambur dan bumi serasa bergetar-getar.
Kedelapan orang penabuh tambur dari rombongan Hek Gak tadi, segera
menghentikan pukulannya. Mereka tak dapat menahan desakan bunyi tambur si
dara.
Pertempuran secara massal segera terjadi. Ke tiga puluh enam Tian-kong, tujuh
puluh dua Te-sat dari Thiat-hiat-bun segera terjun dalam gelanggang, disambut
oleh jago-jago Hek Gak dan Sin-bu-kiong.
Sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun memekik keras. Tubuhnya mencelat ke udara
dan dengan gaya Jip-hau-kin-kau ( masuk ke laut menangkap naga), ia meluncur
ke arah Bu-song dan Siau-bun.
“Cici Bun, lekas Tui-hong-kiongmu!” seru Bu-song kepada Siau-bun. Dan ia sendiri
segera menaburkan tiga batang Hong-thau-kiong (passer berkepala burung
Hong).
Siau-bun cepat melakukan seruan si dara. Serangkum passer Tui-hong-kiong
( passer pemburu angin) segera ditaburkan.
Sin-bu Te-kun hanya mengekeh tertawa, “Ho, budak perempuan, hari ini kalian
tentu akan mati di tanganku!”
Tubuhnya bergetaran di udara, disusul oleh dering gemerincing dari passer Hongthau-kiong dan Tui-hong-kiong yang berhamburan jatuh di tanah.
Medan pertempuran kacau seketika. Hadirin serempak bubar. Meja berantakan,
hidangan tumpah ruah. Mereka menyingkir karena tak mau ikut bertempur.
Saat itu Bu-song dan Siau-bun pun terkesiap kaget.Untung saat itu pengemis sakti
Thiat-ik Sin-kay segera bertindak menolong. Ia loncat menghantam Sin-bu Te-kun.
Tetapi Sin-bu Te-kun bukan tokoh sembarnagan. Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay
terpental sampai setombak lebih jauhnya. Bu-song dan Siau-bun pun meundur
belasan langkah.
Sin-bu Te-kun makin merangsak. Ia melepaskan sebuah pukulan lagi kepada
kedua nona itu.
Sekonyong-konyong di udara terdengar suara gemboran keras dan sesosok tubuh
melayang. Di tengah udara orang itu melontarkan sebuah pukulan kepada Sin-bu
Te-kun....
Reuni
Sin-bu Te-kun terkejut.
Yang paling ditakuti ialah Thian-leng. tetapi yang menyerangnya itu seorang yang
tak dikenal, maka iapun tak gentar. Diiringi dengan gemboran keras, ia
menamparnya.
Lwe-kang yang dimiliki oleh Sin-bu Te-kun sudah mencapai tingkat yang hebat.
Jarang orang yang kuat menerima pukulannya. Apalagi pukulannya saat itu
dilakukan dengan cepat dan keras. Kalau tak mati atau luka berat, tentulah
korbannya akan mencelat beberapa langkah.
Tetapi orang itu hanya tertawa mengejek . Tidak menangkis pukulan, melainkan
hanya menghindar dan tetap melayang ke samping.
Sin-bu Te-kun terkejut bukan kepalang. Ilmu pelajaran Im-hu-po-kip,
mengutamakan kecepatan. Tak mungkin orang akan dapat menghindar. Tetapi
bahwa orang itu dengan mudah dan leluasa dapat menghindar, benar-benar ia tak
menyangkanya.
Siau-bun dan Bu-song pun terkejut. Mereka tak kenal siapa pendatang itu.
Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay sebenarnya hendak menegur pendatang itu, tetapi
tak jadi.
“Siapa kau?” bentak Sin-bu Te-kun.
“Masakah kau tak dapat menduga!” sahut orang itu dengan nyaring.
Sin-bu Te-kun terbeliak. Ia hendak menjawab, tetapi suasana pertempuran tibatiba berobah. Yang pertama meloncat mundur ialah Hun-tiong Sin-mo Cu Giokbun.
Tetapi setelah meloncat mundur, ia hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ia bersangsi,
berhenti dan berpaling.
Sebenarnya pertempuran antara Bok Sam-pi dan si tua kurus melawan Cu Giokbun , masih berjalan seimbang. Sebenarnya kedua pengeroyok itu kewalahan.
Melihat Cu Giok-bun tiba-tiba mundur, merekapun mendapat kesempatan untuk
memulangkan napas.
Wajah Jenggot perak pun berobah. Secepat kilat ia melontarkan tiga buah pukulan
untuk mendesak mundur Lam-yau dan Pak-koay, lalu jago Thiat-hiat-bun itu
mengenjot tubuhnya ke udara dan melayang ke samping pendatang itu.
Lam-yau dan Pak-koay terkesiap. Merekapun memandang kepada si pendatang
dengan tercengang.
Pok Lian-ci juga menghentikan tamburnya. Rombongan penabur dari Sin-bu-kiong
sudah tak kuat. Dara itupun tak mau mendesak.
Anak buah Thiat-hiat-bun, Hun-tiong-san,Tiam-jong-pay, Hek Gak dan Sin-bukiong yang bertempur, karena melihat pemimpinnya berhenti, merekapun ikut
berhenti.
Kini seluruh mata ditujukan ke arah pendatang yang tak dikenal itu.
“Thiat-beng.......!” tiba-tiba Jenggot perak berseru perlahan. Nadanya rawan, mata
berlinang-linang.
Memang orang itu adalah Pok Thiat-beng, si Pedang bebas. Juga Thiat-beng
berkaca-kaca menyambut, “Gak-hu….”
“Nak, beberapa tahun ini.........”
“Panjang sekali ceritanya, tetapi siau-say ( anak mantu ) memang bersalah…..”
tukas Thiat-beng.
Jenggot perak menggoyangkan tangan, “Sudahlah jangan mengungkit hal yang
lampau. Asal kau sudah tak kurang suatu apapun, sudahlah…..” ia berpaling
memandang Cu Giok-bun. “Apakah kau tahu Giok-bun…..”
“Ya, aku bersalah padanya, aku…….” Thiat-beng tak dapat melanjutkan katakatanya karena Sin-bu Te-kun tiba-tiba mundur selangkah dan menukas. “Oh,
kiranya kau Pedang bebas Pok Thiat-beng……….!”
“Kau baru tahu sekarang?” Thiat-beng menertawakan.
Sin-bu Te-kun tertawa sinis. “Tahu atau tidak, tidak penting. Aku hanya merasa
kasihan padamu!”
“Ki Pek-lam!” bentak Thiat-beng, “Aku tak kenal padamu. Bagaimana si Ma Honging dapat menjadi gundikmu!”
Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh. “Itulah yang kukatakan kasihan! Banyak sekali
hal yang tak kau ketahui. Sekalipun kau merengek-rengek sampai mati, jangan
harap kuberitahukan.......” ia sejenak mengedipkan matanya dan menyambung
pula, “Kasihan puluhan tahun kau telah menderita.....”
“Tutup mulutmu!” bentak Thiat-beng.
“Oh, oh, apakah kata-kataku menyinggung hatimu?” Sin-bu Te-kun mengejek.
Thiat-beng mengerutkan kening, “Asal kau serahkan Ma hong-ing, aku takkan
memusuhimu!”
“Seumur hidup aku tak pernah menerima tekanan orang. Bagaimanapun pribadi
Ma Hong-ing, tetap ia adalah permaisuri Sin-bu-kiong. Mana dapat diserahkan
padamu!”
“Oh, kalau begitu kau hendak bermusuhan denganku!”
“Bukan hanya musuh, tetapi kita harus memutuskan siapa yang harus mati dan
hidup..... ” ia maju selangkah, mendengus, “Pok tayhiap..., ayolah mulai!”
Thiat-beng tertawa dingin, “Bukan karena aku tak sudi bertempur denganmu,
sebenarnya.......”
Sin-bu Te-kun tertegun, serunya, “Bagaimana? Kecuali kau sudah menyadari
bahwa percuma untuk melawan....”
Thiat-beng tertawa, “Aku kuatir sekali turun tangan nyawamu amblas. Padahal
jiwamu hendak kuserahkan pada orang lain....”
“Pok Thiat-beng, jangan terlalu sombong!” bentak Sin-bu Te-kun dengan murka.
Cepat ia menghantam dengan pukulan Hian-im-ciang.
Ilmu pukulan Hian-im-ciang sebenarnya tergolong Im-khi-han-sin-kang ( ilmu sakti
lwekang dingin). Sin-bu Te-kun telah mempelajari isi kitab Im-hu-po-kip. Dan ia
menggunakan tenaga penuh dalam pukulannya itu. Sekalipun tampaknya tidak
begitu dahsyat, tetapi dayanya bukan kepalang. Sekaligus dapat meremukkan
sepuluh jago sakti.
Seluas dua tombak, saat itu terbaur oleh oleh hawa dingin yang menusuk tulang,
sehingga sekalian orang menggigil kedinginan.
Thiat-beng mengerutkan dahi. Ia tahu bahwa pukulan lawan sukar dihindari. Ia
harus menangkisnya. Tetapi sebelum ia bertindak, tiba-tiba terdengar getaran
keras dan Sin-bu Te-kun terhuyung-huyung sampai tujuh-delapan langkah
jauhnya!
Kiranya serangkum tenaga kuat tiba-tiba meluncur dari udara dan membentur
pukulan Sin-bu Te-kun. Itulah tenaga pukulan Hian-im-ciang yang hebat.
Datangnya pukulan itu benar-benar tak terduga sama sekali. Sin-bu Te-kun tak
mampu mendengarnya. Pada saat menghantam Thiat-beng, ia sudah
memperhitungkan bahwa tentu takkan ada orang yang membantu lawan. Bahwa
Jenggot perak yang berada di samping Thiat-beng pun tak nanti dapat
mengimbangi kecepatan serangannya itu!.
Bukan hanya Sin-bu Te-kun saja, tetapi semua hadirinpun kaget. Mereka menjerit
terkejut.
Sesosok bayangan biru meluncur turun dari udara dan tegak berdiri di tengahtengah Sin-bu te-kun dan Thiat-beng.
Kang Thian-leng......
“Bu-beng-jin, memang telah kuduga tentu engkau!” teriak Sin-bu Te-kun dengan
murka.
Thian-leng telah melayang dari jarak sepuluh tombak jauhnya. Tetapi ia dapat
menghantam Sin-bu Te-kun sampai mundur beberapa langkah.
“Aku bukan Bu-beng-jin lagi!” sahut pemuda itu.
“Eh, apakah kau sekarang sudah mempunyai nama? Siapakah namamu?” ejek
Sin-bu Te-kun.
“Pok Thian-leng!”
“Ha, ha, ha, !” Sin-bu Te-kun tertawa tergelak-gelak, “oh, kiranya begitu. Kau....”
“Memakai nama ayah angkatku, apakah salah?”
“Baik, taruh kata kau Pok Thian-leng, tetapi ayah bunda kandungmu..... ”
“Setan tua, kau berani mengoceh tak keruan? Hari ini hendak kucincang tubuhmu
sampai hancur-lenur!” bentak Thian-leng dengan bengis, walaupun diam-diam
hatinya pedih. Karena apa yang dikatakan Sin-bu Te-kun itu memang nyata.
Sampai saat itu ia belum mengetahui asal-usulnya.
Begitu pula Sin-bu Te-kun. Sebenarnya ia juga kebat-kebit, mendengar ancaman
Thian-leng. Ia sadar bahwa kepandaiannya sekarang kalah dengan pemuda itu.
Begitu pula situasi pertempuran tadi, tak menunjukkan keuntungan apapun bagi
pihaknya.
“Rupanya kau mengandalkan ilmu pelajaran It Bi siangjin!” serunya.
“Begitulah!” sahut Thian-leng.
“Kalau begitu pukulanmu tadi….”
“Ya, benar! Itulah yang disebut Coan-hun-ciang (pukulan menembus awan).
Dalam jarak sepuluh tombak dapat menghantam mati orang. Lain-lain ilmu
mungkin kau tak pernah dengar!”
Sin-bu Te-kun terkesiap, tetapi cepat ia tertawa, ”Jangan membual! Sekalipun ilmu
pelajaran It Bi siangjin tinggi, tetapi belum tentu sesakti itu…. dan juga palingpaling kau hanya mempelajari beberapa jurus permainan saja!”
“Hm, sejak dahulu kala siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan?” Thianleng tertawa mengejek.
“Ya, memang hanya It Bi siangjin seorang,” Sin-bu Te-kun menghela napas.
Sejenak menyapu pandangan ke sekeliling medan perjamuan, berkatalah Thianleng, “Aku tak sudi banyak bicara dengan kau. Pertaruhan seratus jurus kita dulu,
masih kurang delapan jurus. Sekarang di hadapan para tokoh-tokoh persilatan,
seharusnya kita selesaikan!”
Wajah Sin-bu Te-kun berobah, “Dahulu bukankah kaupun pernah meminta-minta
supaya diundur, bukan?”
“Jika kau minta mundur, akupun tak keberatan!” sahut Thian-leng,”Tetapi
sebutkanlah waktu dan tempatnya!”
Sin-bu Te-kun tertawa, “Baiklah, nanti sepuluh hari lagi kutunggu kedatanganmu di
istana Sin-bu-kiong!”
“Dan menyelesaikan sisa delapan jurus itu?”
“Bukan hanya delapan jurus itu saja, juga segala macam kepandaianmu boleh
kau keluarkan!” sahut Sin-bu Te-kun dengan garang.
Thian-leng tertawa mengejek, “Baik, kali ini kuampuni jiwamu!” ia melirik tajam
kepada lawannya, serunya, “tetapi apakah lain-lain cianpwe mau memberi ampun
kepadamu atau tidak, terserah saja, aku tak berani mencampuri!”
Jenggot perak memandang sejenak kepada Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun dan
lain-lain, lalu tertawa gelak-gelak, “Dalam hal ini aku dapat memberi keputusan.
Kita setuju sepuluh hari lagi ke Sin-bu-kiong, bahkan akupun bersedia menjadi
saksi!”
Sekalian orang diam saja.
Thiat-beng dan Giok-bun diam-diam mengerti, bahwa ayah mereka tentu sudah
mempunyai rencana.
Pertama supaya mereka segera terangkap sebagai suami isteri lagi. Kedua
supaya lekas dapat mencari Ma Hong-ing. Karena hanya dari si bujang wanita
yang beracun lidahnya itu dapat diketahui duduk perkara yang sebenarnya.
Dan ketiga, soal Thian-leng dengan Siau-bun dan Bu-song harus segera
diselesaikan juga.
Di antara sekalian orang, Bu-songlah yang mempunyai pikiran tersendiri. Setelah
mendapat keterangan dari Jenggot perak bahwa Thian-leng mati di tanganBok
Sam-pi, bencinya terhadap Bok Sam-pi meluap-luap. Bu-song memutuskan,
apabila hun-tiong Sin-mo dapat membunuh Bok Sam-pi, ia hendak mencincang
tubuh si gemuk itu. Tetapi andaikata Hun-tiong Sin-mo kalah, BU-song bertekad
hendak mengadu jiwa dengan Bok Sam-pi.
Di luar dugaan, Thian-leng telah muncul dengan tak kurang sesuatu apapun,
bahkan dengan membawa kesaktian yang mengagumkan, Bu-song sampai
terlongong-longong tak dapat berbicara.
Juga Siau-bun tak kurang girangnya. Hampir saja ia tak dapat mengendalikan diri
untuk menghampiri pemuda itu. Tetapi karena malu dengan sekian banyak orang,
terpaksa ia hanya berdiam diri saja. Paling-paling ia mencuri kesempatan melirik
pemuda itu.
“Kalau begitu aku pulang dulu!” dengan gaya garang Sin-bu Te-kun yang licin
segera menggunakan kesempatan.
Jenggot perak tertawa, “Dari jauh-jauh saudara datang kemari, mengapa terburuburu hendak pulang?”
Sin-bu Te-kun terbeliak, “Apakah kau hendak mengajukan acara lain lagi?”
Jenggot perak tertawa, “Jangan kuatir, sahabat! Sekali sudah kusetujui
pengunduran sepuluh hari itu, tak nanti aku berobah pikiran....” ia berhenti sejenak
lalu berkata pula, “meskipun medan perjamuan ini sudah morat-marit, tetapi dalam
setengah jam saja dapat diatur rapih lagi. Mengapa saudara tak mau menghadiri
perjamuan para ksatria ini?”
Kerut wajah Sin-bu Te-kun agak mengendor, ujarnya, “Terima ksih, tetapi lebih
baik aku pulang saja!” tanpa menunggu sahutan orang lagi, segera ia melangkah
pergi. Berhenti di depan ketua Hek Gak, ia menggunakan ilmu menyusup suara,
“Situasi berobah begini, apakah saudara Kongsun masih mempunyai rencana
lain?”
Tiang andalan ketua Hek Gak hanyalah Bok Sam-pi. tetapi ternyata walaupun bok
Sam-pi maju bersama si tua kurus, tetap tak dapat mengalahkan Hun-tiong Sin-mo
Cu Giok-bun. Diam-diam hati ketua Hek Gak sudah gentar. Apalagi Pok Thiat-beng
dan Thian-leng berturut-turut muncul, nyali ketua Hek Gak semakin rontok.
Segera ia menyahut dengan ilmu menyusup suara, “Akupun sudah kehilangan
paham, harap saudara Ki memberi petunjuk!”
“Saudara masih mempunyai dendam dari enam puluh tahun silam,” Sin-bu Te-kun
tertawa, “Nafsu besar tetapi nyali kecil. Jika mempunyai rencana untuk menguasai
dunia persilatan, tak boleh kita takut menghadapi kesulitan!”
Merahlah muka ketua Hek Gak, serunya, “Bagaimanakah pendapat saudara Ki!”
“Terus terang, aku sudah mempunyai rencana untuk mati bersama-sama mereka!”
Mendengar itu ketua Hek Gak terbelalak, tetapi cepat ia menegas, “Bagaimanakah
caranya?”
“Telah dapat kuundurkan pertempuran kita sampai sepuluh hari lagi dan
tempatnyapun kupilih di Sin-bu-kiong. Lihat saja apakah mereka nanti dapat
keluar dari Sin-bu-kiong dengan masih bernyawa!” sahut Sin-bu Te-kun dengan
bangga.
“Apakah saudara bermaksud.....”
“Harap saudara Kongsun jangan mendesak pertanyaan lagi. Maksudku hanya
hendak membantu saudara membuka jalan hidup!”
“Terserah pada kebijaksanaan saudara saja!” buru-buru ketua Hek Gak
menyambuti dengan nada setengah merintih kasihan.
Sin-bu Te-kun tersenyum, “Asal saudara Kongsun mau meluluskan sebuah
syaratku, kutanggung Hek Gak tentu takkan hancur, bahkan akan dapat bangkit
kembali untuk menegakkan keharuman nama di dunia persilatan!”
“Jangankan hanya satu. Sepuluh buah permintaanpun aku bersedia
menyanggupi!”
sahut ketua Hek Gak.
Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berganti nada serius, “Asal saudara suka mengajak anak
buah saudara berkumpul di Sin-bu-kiong, kutanggung harapanmu tentu
terlaksana….,” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “bersatu kita teguh, bercerai
kita runtuh. Asal kita bersatu, siapakah yang dapat menandingi? Harap saudara
Kongsun memberi keputusan!”
Ketua Hek Gak mengerutkan wajah dan menjawab terbata-bata, “Ini..... sebagai
ketua Hek Gak aku.....”
Permintaan Sin-bu Te-kun itu berarti menyuruh ketua Hek Gak takluk pada Sin-bu
Te-kun. Suatu hal yang terlampau berat bagi ketua Hek Gak.
“Bagaimana? Apakah saudara keberatan!” Sin-bu Te-kun mendesak.
“Ya, ya, setuju, setuju.....” akhirnya dengan wajah meringis, ketua Hek Gak
menyahut, “memang seharusnya kubantu kesulitan saudara dalam pertempuran di
Sin-bu-kiong nanti!”
Sekalipun kedudukannya terpojok, namun ketua Hek Gak berusaha untuk
menjaga gengsi dengan ulasan kata-kata garang.
Tiba-tiba wajah Sin-bu Te-kun mengerut gelap, ujarnya, “Mungkin saudara belum
menangkap kata-kataku. Maksudku agar saudara menggabung pada Sin-bu-kiong
atau jelasnya supaya Hek Gak masuk menjadi anak buah Sin-bu-kiong. Segala
apa harus menurut perintahku......” ia berhenti sejenak, katanya pula, “tetapi
hendaknya saudara Kongsun jangan cemas. Kesemuanya ini hanya rencana
sementara. Begitu sudah berhasil, dunia persilatan akan menjadi di bawah
kekuasaan Hek Gak dan Sin-bu-kiong! Aku pasti tak akan...”
Walaupun di dalam hati benci sekali, namun ia tak berdaya dan terpaksa batukbatuk, “Ya, ya , aku menurut saja!”
Percakapan yang dilakukan oleh kedua tokoh itu menggunakan ilmu menyusup
suara, sehingga orang lain tak mendengar sama sekali. Tetapi karena memakan
waktu lama, Thian-leng pun tak sabar lagi, bentaknya, “Kalau tetap tak lekas
enyah, jangan menyesal kalau keputusanku berobah menjadi tak menguntungkan
dirimu!”
Ia menutup peringannya dengan sebuah tamparan. terdengar deru angin
menggelegar dan teriakan kaget dari para hadirin....
Kiranya tamparan yang ditujukan pada Sin-bu Te-kun itu itu tidak langsung
ditujukan pada orangnya, melainkan ke sebelahnya.
Seketika tanah seluas dua meter di sisi Sin-bu Te-kun meranggas hangus. Sampai
beberapa lama api baru padam. Sekalian orang terkejut bukan kepalang.
Pukulan yang dapat membakar tanah...... Di dunia persilatan mungkin tak ada
orang kedua yang memiliki ilmu pukulan semacam itu.
Sin-bu Te-kun mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat seperti kertas.
Beberapa saat baru ia dapat menenangkan hatinya. Dengan dengusan mengejek
yang disengaja untuk menutupi ketakutannya, segera ia memutar diri dan
melangkah pergi.
Tiba-tiba terdengar raung seperti singa. Sesosok tubuh gendut loncat ke muka
Thian-leng.
Thian-leng terkesiap, serunya, “Locianpwe, apakah kau sudah sembuh?”
Kiranya yang tegak di hadapannya itu ialah Bok Sam-pi, tokoh linglung yang
bertubuh gemuk.
“Buyung, ayo kita bertanding sejurus lagi!” Bok Sam-pi menggerung. Walaupun
linglung, namun ia masih ingat akan pertempuran di gunung Thay-heng-san
tempo hari.
Karena belum memperdalam ilmu ajaran It Bi siangjin, Thian-leng lebih parah
lukanya, walaupun begitu Bok Sam-pi pun harus beristirahat lebih dari sebulan
untuk memulihkan lukanya.
“Bok cong-hou-hwat!” cepat-cepat ketua Hek Gak meneriaki.
“Ya, hamba di sini!” Bok Sam-pi tertegun.
“Sebelum mendapat perintahku, tak boleh bertindak sendiri , mengapa kau…..”
“Dalam kedudukan sebagai guru dan murid, siapakah yang harus mendengar
perintah?” di luar dugaan Bok Sam-pi marah.
Jago tua itu selama hidup jarang menderita kekalahan. Bencinya terhadap Thianleng benar-benar merasuk tulang. Ia tak menghiraukan peringatan ketua Hek Gak
lagi.
Ketua Hek Gak semakin gelisah. Ia tahu bahwa kalau Bok Sam-pi menempur
Thian-leng, tentu akan kalah. Tiang andalan satu-satunya hanyalah pada Bok
Sam-pi. Jika Bok Sam-pi sampai kenapa-napa, ia tentu akan kehilangan tiang
andalannya.
“Locianpwe, apakah kau tak ingat pada cucumu Bok Ceng-ceng?” masih Thianleng bersabar. Dia berusaha hendak menyadarkan ingatan jago tua itu. Mungkin
dengan mengemukakan Ceng-ceng, Bok Sam-pi akan pulih kesadarannya.
Di luar dugaan, usaha Thian-leng itu malah menimbulkan kebalikan. Bok Sam-pi
marah sekali dan membentak-bentak, “Siapa suruh kau mengatakan anak
perempuan itu!” sekoyong-konyong ia menghantam.
Thian-leng tahu bahwa orang tua itu masih hilang ingatannya. Maka ia tak mau
menandingi dan hanya menghindar ke samping saja.
Bok Sam-pi terkesiap. Ia kaget menyaksikan kegesitan si anak muda menghindar.
Tubuh Thian-leng berputar-putar seperti angin dan tahu-tahu sudah beberapa
meter di sebelah kirinya.
“Suhu!” kembali ketua Hek Gak meneriaki dengan cemas.
Tetapi Bok Sam-pi tetap tak mau menghiraukan dan membentak Thian-leng,
“Buyung, mengapa kau tak berani menyambut pukulanku!”
“Locianpwe, aku tak bermusuhan denganmu. Mengapa locianpwe berkeras
hendak membunuh aku?”
Sebenarnya Sin-bu Te-kun sudah melangkah pergi, tetapi begitu Bok Sam-pi
menantang Thian-leng, ia menghentikan langkahnya dan mengikuti perkelahian
itu.
Ketika melihat ketua Hek Gak gelisah, segera ia menghampirinya.
“Saudara Kongsun, apakah obat pembius sudah punah dayanya?” tegurnya
dengan ilmu menyusup suara.
Ketua Hek Gak menggeleng, “Tak mungkin! Kekuatan obat itu dapat bertahan
sampai petang hari!”
“Kalau begitu..... ”
Antara suami isteri
“Dengan beberapa patah kata, aku dapat menguasainya!” seru Sin-bu Te-kun.
“Apakah saudara Ki bergurau?” ketua Hek Gak menegas girang.
Wajah Sin-bu Te-kun mengerut serius, “Masakah dalam saat seperti sekarang aku
bergurau?”
“Kalau benar, aku taat dan ikhlas untuk menjadi orang bawahan sin-bu-kiong!”
Sin-bu Te-kun tertawa sinis. Tiba-tiba ia menggunakan ilmu menyusup suara
kepada Bok Sam-pi, “Tahukah Bok locianpwe saat ini berada di tempat apa?”
Bok Sam-pi yang sebenarnya hendak melontarkan pukulan lagi, tiba-tiba tertegun
mendengar kata-kata Sin-bu Te-kun. Sesaat kemudian ia menyahut dengan ilmu
menyusup suara juga, “Apa hubungannya dengan diriku?”
“Banyak sekali locianpwe,” kata Sin-bu Te-kun, “perlukah kukatakan?”
“Katakanlah!”
“Kesatu, di hadapan sekian banyak jago-jago dari seluruh penjuru, kemarahan
locianpwe untuk bertempur dengan seorang anak muda, dapat menurunkan
derajat locianpwe. Kedua, pertempuran di gunung Thay-heng-san antara
locianpwe dengan budak liar itu belum banyak yang tahu. Kalau sekarang
locianpwe hendak mengulangi lagi, apakah tidak berarti memberitahukan orangorang?
Ketiga, sepuluh hari lagi budak itu tentu akan datang ke Sin-bu-kiong, akan kuatur
supaya cianpwe dapat mengahjarnya dan kusiapkan segala sesuatu agar budak
itu jangan sampai lolos.
Dan keempat.....”
Bok Sam-pi yang semula terlongong-longong, tiba-tiba tertawa mengekeh,
serunya,“Benar! Benar! Kuterima usulmu....” kemudian ia berpaling kepada Thianleng, “Budak, kuberi engkau hidup sepuluh hari lagi!”
Dan tanpa menghiraukan sahutan orang lagi, jago tua itu berputar dan terus
melangkah pergi dengan kepala menengadah.
Thian-leng meringis. Sekalipun ia tak tahu apa yang dibicarakan antara Sin-bu Tekun dan Bok Sam-pi tadi, tapi ia mempunyai dugaan bahwa Bok Sam-pi tentu kena
ditipu. Diam-diam ia kasihan dengan locianpwe yang kehilangan pikirannya itu.
Sayang ia belum dapat mempelajari ilmu pengobatan dari kitab It Bi siangjin,
sehingga tak dapat menolong jago tua itu.
Bok Sam-pi tak menghiraukan semua orang. Dia terus melangkah keluar. Ketua
Hek Gak segera memberi isyarat kepada anak buahnya. Seluruh rombogan Hek
Gak pun segera mengikuti Bok Sam-pi. Sin-bu Te-kun, Lam-yau, Pak-koay, Bu-ciu
su-seng dan rombongan Sin-bu-kiong pun segera angkat kaki.
Karena pemimpinnya tak memberi komando, anak buah Tiam-jong-pay dan Thiathiat-bun pun tak berani mencegah mereka.
Saat itu fajar mulai menyingsing. Hanya kurang lebih setengah jam lamanya, Sinbu Te-kun dan ketua Hek Gak datang dengan semangat menyala-nyala, tetapi
pergi dengan nyali pecah. Sekalian hadirin menyaksikan kejadian itu, tetapi
mereka tak berani bicara dengan mulut melainkan dalam hati. Ada sebagian besar
yang masih menganggap bahwa pihak Sin-bu-kiong adalah bintang penolong,
yang akan menyelamatkan dunia persilatan Tiong-goan dari kekejaman Hun-tiong
Sin-mo dan Thiat-hiat-bun.
Kepergian jago-jago yang mereka harapkan kemenangannya itu, meninggalkan
kegelisahan di kalangan hadirin. Lebih-lebih ketiga cuncia dari Siau-lim-si dan
rombongan ke sembilan partai. Mereka kenal Thian-leng. Mereka merasa telah
membuat kesalahan pada pemuda itu, yaitu telah melemparkannya ke dalam
sungai. Rasa takut segera mencengkam mereka. Biasanya anak muda tentu
berdarah panas dan suka mendendam. Apabila pemuda itu akan menuntut balas,
ah..... ngeri mereka membayangkan.
Tetapi apa yang terjadi, benar-benar di luar dugaan mereka. Thian-leng sama
sekali tak menghiraukan rombongan sembilan partai. Tampaknya pemuda itu
sudah lupa pada apa yang terjadi di selat Sing-sim-kiap dulu. Dia hanya sibuk
berbicara dengan ketua Thiat-hiat-bun saja.
Yang lucu adalah kedua tokoh Im Yang song-sat. Semula kedua orang itu ikut Cu
Siau-bun, tetapi ketika Thian-leng muncul, mereka segera terbirit-birit melarikan
diri.
Sejenak melayangkan pandangan ke medan perjamuan, tertawalah Jenggot
perak, serunya nyaring, “Berhubung ada sedikit keributan, maka sampai
mengganggu medan perjamuan. Dalam hal ini kuharap saudara-saudara suka
memaafkan!”
Pernyataan ketua Thiat-hiat-bun itu benar-benar melegakan dada hadirin. Mereka
tersipu-sipu membalas hormat kepada tuan rumah. Keteganganpun menjadi agak
reda.
“Li-ciangbun!” tiba-tiba Jenggot perak berseru kepada Li Cu-liong ketua Tiamjong-pay.
(bersambung ke jilid 27)
Jilid 27 .
Li Cu-liong buru-buru maju. “Apakah pesan gihu?”
Ketua Thiat-hiat-bun berkata dengan keren, “Medan pesta telah berobah menjadi
medan pertempuran. Kegembiraan para tamu kita terganggu.... Entah makan
waktu berapa lama untuk mengembalikan meja kursi yang telah morat-marit ini?”
“Setengah jam cukup!” sahut Li Cu-liong.
“Kalau begitu harap Li Ciangbun suka menyuruh orang untuk mengatur lagi!”
Li Cu-liong mengiyakan.
Jenggot perak menatap Thiat-beng dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tiba-tiba
ia berputar dan lalu berjalan menuju ke markas Tiam-jong-pay. Walaupun
kebakaran tadi cukup besar, tetapi di dalam markas masih terdapat banyak
ruangan yang masih utuh.
Jenggot perak tak menuju ke ruangan besar, tetapi ke belakang markas. Di situ
terdapat sebuah hutan kecil, yang walaupun tak lebat, namun cukup sepi. Ketika
berada di tengah hutan, ia berhenti. Tanpa memalingkan tubuh ia sudah tahu
bahwa Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun, Siau-bun, Bu-song serta si pengemis sakti
Thiat-ik Sin-kay mengikutinya.
“Thiat-beng.....!” serunya tanpa berpaling kepala.
“Gakhu, apakah selama ini kau baik-baik saja?” Thiat-beng tertegun menghela
napas. Gakhu artinya ayah mertua.
“Ngaco, apakah aku tak sehat?” lengking si Jenggot perak.
Thiat-beng kemerah-merahan wajahnya.
Jenggot perak tertawa, “Anak tolol, mengapa seorang yang sudah berumur empat
puluhan tahun masih seperti kanak-kanak. Apakah tak mau mengakui kesalahan
yang dulu?”
Thiat-beng terdesak. Berpaling ke arah rombongan yang berada di situ, merahlah
mukanya. Tetapi tanpa ragu-ragu ia segera menghampiri ke muka Hun-tiong Sinmo Cu Giok-bun.
“Giok-bun, dahulu.........akulah yang bersalah!” serunya dengan perlahan.
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun merah mukanya. Namun karena di hadapan
anaknya dan beberapa orang lain, ia merasa malu.
“Tujuh belas tahun lamanya!” tiba-tiba dari mulutnya meluncur kata-kata sayu.
“Ya, ya, tujuh belas tahun……” Thiat-beng menyambuti.
Keduanya tenggelam dalam kenangan. Salah paham pada tujuh belas tahun
berselang, menimbulkan berbagai duka nestapa. Banyak sekali hal-hal yang telah
terjadi selama tujuh belas tahun itu. Setelah berpisah selama tujuh belas tahun,
kini mereka berjumpa pula. Lama, lama benar kedua suami isteri itu terbenam
dalam lautan kenangan…..
Thiat-beng mengusap dua titik air mata yang mengucur di celah matanya. “Giokbun, aku…. berdosa padamu, aku……”
“Ah, kau tak bersalah. Semuanya itu, akulah yang paling bersalah…..”
“Tidak!” Thiat-beng berkeras, “Kumaksudkan ….. sejak kutinggalkan engkau ….”
“Teringat akan ibu dan anaknya?”
“Oh, kau sudah tahu?”
“Aku tak menyesalinya,” kata Giok-bun. “Aku tahu waktu itu kau kesepian?”
“Bukan maksudku untuk menghianatimu, selama tujuh belasa tahun itu telah
banyak mengalami perubahan, namun hatiku tidak sedikitpun berubah. Walaupun
kepergianku membawa semua kemarahan, kegalauan dan bermaksud untuk
mengasingkan diri karena kekecewan hati, ditambah aku beristeri lagi, tak pernah
aku melupakan dirimu. Sebenarnya aku berniat pulang, namun aku merasa takut
kalau kau membenciku, maka .........”
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menundukkan kepala penuh haru dan katanya,
“Aku....pun begitu juga, tetapi tak sekeras hatimu. Andaikata kutahu tempat
tinggalmu tentu........ akan segera kususul!”
Thiat-beng menatap isterinya dengan penuh kasih, “Giok-bun, maafkanlah aku,
marilah kita susun kembali tali kasih kita dan membangun kembali mahligai rumah
tangga kita yang telah berantakan. Marilah kita ...” Tiba-tiba pecahlah suara tangis.
Ah, kiranya si dara Pok Lian-ci yang menggelendot pada batang pohon dan
menangis tersedu-sedu.
Thiat-beng menghampirinya, “Ang-ko.....”
Tetapi dara itu tetap menangis tak mau menghiraukan ayahnya. Hun-tiong Sin-mo
yang ikut menghampiri tersenyum. Ujarnya dengan ramah, “Nak, apakah kau tak
suka mempunyai seorang ibu seperti aku?”
Tiba-tiba dara Lian-ci mengangkat kepala dan tangan berserabutan menolak,
“Tidak, aku tak bermaksud begitu......”
Hun-tiong Sin-mo melangkah selangkah lagi dan memeluknya, “Nak, mengapa
kau menangis?”
“Seharusnya dahulu ayah .......tak membohongi aku! Kuteringat akan mendiang
ibuku!”
Hati Pok Thiat-beng seperti disayat. Dua butir air mata mengalir dari kelopaknya.
Sampai lama mereka tak dapat berkata-kata.
Tiba-tiba Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun memecah kesunyian, “Siau-bun, mari kita
pergi!”
“Pergi? Me...ngapa?” Siau-bun tergagap.
Thiat-beng pun terbelalak. Ia baru tahu bahwa gadis cantik yang berada di
hadapannya itu adalah puterinya sendiri.
“Kau Siau-bun?” serunya gugup.
Tiba-tiba Siau-bun melengking menangis, “Yah, kau...... menyiksa mamah..”
Thiat-beng gelagapan. Ia berpaling kepada Hun-tiong Sin-mo, “Apakah karena
Lian-ci, kau lantas mau pergi?”
Hun-tiong Sin-mo menggelengkan kepala, “Sebagian memang begitu, tetapi
masih ada lagi lain hal yang memaksa aku harus pergi!”
“Bolehkah aku mengetahui?”
“Tahukah kau bahwa aku adalah ahli waris dari Hun-tiong Sin-mo?”
“Aku .... tahu!”
“Tahukah kau mengapa aku memakai she Cu?”
“Ini .... ” Thiat-beng terkesiap sesaat, “aku tak tahu!”
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menghela napas, ujarnya “Kalau diceritakan
panjang sekali. Saat ini hanya dapat kututurkan secara singkat. Jika dahulu tak
berjumpa dengan seorang penolong she Cu, mungkin kami ibu dan anak tentu
sudah mati!”
“Eh, mengapa kau tak memberitahukan hal itu kepadaku? Apakah kau mendapat
ayah angkat?” tiba-tiba Jenggot perak menyeletuk.
“Hubungannya tak sampai di situ saja!” sahut Cu Giok-bun dengan tegas.
“Lalu ....”
“Yah, kau hatus memaafkan. Orang tua she Cu itu telah melepas budi sebesar
lautan kepadaku. Dia tak ubahnya seperti ayah kandungku sendiri. Kalau tak ada
dia, tak mungkin aku bertemu dengan suhu. Tak menjadi ahli waris dari Hun-tionghu.”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Karena itu maka aku telah
mengucapkan sumpah di hadapannya, akan merawatnya sampai mati dan
mengganti she dengan she Cu, menganggapnya sebagai ayah kandung
sendiri.....”
“Hai, apakah dia bukan Tabib sakti Cu Thian-hoan?“ celetuk Jenggot perak.
Cu Giok-bun mengerutkan alis, “Benar, memang dia.”
“Dia .... adalah sahabatku juga! Sekarang ...... apakah dia tak kurang suatu
apapun?”
Cu Giok-bun tertawa rawan, “Seorang yang banyak menolong jiwa manusia dan
berbuat kebaikan, pada hari tuanya malah menderita penyakit....”
“Eh, apakah sakitnya?”
“Entahlah, aku tak tahu. Hanya kaki tangannya terasa lemas, tak bertenaga sama
sekali. Bangun dan bergerak harus dibantu orang!”
“Di mana dia sekarang?”
“Di Hun-tiong-hu!”
Jenggot perak mengelus-elus jenggotnya, tertawa, “Nak, meskipun kau sudah
berganti she Cu, aku tak menyalahkan. Membalas budi adalah perbuatan yang
mulia. Apalagi Cu Thian-hoan itu juga sahabatku sendiri.”
Sejenak ia mengedarkan pandangan, lalu berkata pula, “Setelah urusan di sini
selesai, mungkin aku hendak menjenguk ke Hun-tiong-san menyambangi si tua
itu....”
“Kalau begitu, maaf, aku hendak pulang dulu!” kata Cu Giok-bun.
“Pulang ke Hung-tiong-san?”
“Ya, aku harus lekas-lekas menjenguk ayah angkatku itu,”sahut Cu Giok-bun,
kemudian ia memandang Thiat-beng, ujarnya, “Tetapi nanti sepuluh hari lagi, aku
hendak ke Sin-bu-kiong mencari budak hina Ma Hong-ing, agar apa yang terjadi
dahulu menjadi terang semua!”
Thiat-beng hendak membuka mulut tetapi sukar bicara.
“Siau-bun, apakah kau tak ikut mamah?” tegur Cu Giok-bun kepada si dara. Lalu
dipandangnya Thian-leng dengan tatapan tajam. Thian-leng tersipu-sipu
menundukkan kepala. Banyak nian yang berkecamuk dalam hatinya, sehingga
sesaat ia tak dapat berkata apa-apa.
Walaupun mulutnya mengiyakan tetapi berat sekali kaki Siau-bun bergerak. Juga
wajah Jenggot perak tegang. Cu Giok-bun telah menceritakan kepadanya tentang
hubungan Siau-bun dengan Thian-leng dan perjanjian hidup mereka. Bahkan
yang lebih lanjut, tentang hubungan yang sudah melampaui batas antara kedua
anak muda itu. Siau-bun sudah tentu tak mau pergi.....
Yang agak mendingan adalah si dara Bu-song. Ia sudah mempunyai keyakinan
bahwa Thian-leng telah mengikat pertunangan dengannya. Ia tak kuatir pemuda
itu akan meninggalkannya lagi. Biarkan Siau-bun berusaha setengah mati untuk
merebut, tentu tak mungkin dapat merobah ikatan itu. Sayang, ia tak tahu apa yang
telah terjadi antara Siau-bun dengan pemuda tunangannya itu. Begitu pula
hubungan Thian-leng dengan kedua taci beradik Ki, Bu-song sama sekali tak
tahu.......
Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tak sabar lagi. Memang sebenarnya ia tak
bermaksud sungguh-sungguh untuk mengajak putrinya pergi. Tetapi hal itu hanya
siasat saja agar Thian-leng memberi reaksi. Siapa tahu, di luar dugaan Thian-leng
tak memberi reaksi apapun dan Siau-bun pun enggan pergi. Suatu hal yang
membuat Hun-tiong Sin-mo risih.
“Siau-bun, karena kau tak suka ikut, terpaksa aku akan pergi sendiri!” serunya
sesaat kemudian.
Siau-bun tergopoh-gopoh menyusul, serunya dengan rawan, “Mah, silakan
berjalan dulu, aku tentu akan menyusul!”
“Sesukamulah,” kata Hun-tiong Sin-mo seraya melesat pergi.
Thiat-beng hendak mengucapkan sesuatu, tetapi mulutnya terasa berat. Suasana
hening seketika. Hanya angin pagi yang berhembus menusuk kulit.
Lian-ci sudah berhenti menangis. Kedua kelopak matanya bendul. Sekonyongkonyong kesunyian itu tergetar oleh munculnya sesosok bayangan. Ah, ternyata Li
Cu-liong ketua Tiam-jong-pay yang melapor kepada Jenggot perak bahwa medan
perjamuan telah disiapkan lagi.
“Apakah hidangan sudah dikeluarkan,” tanya Jenggot perak.
“Sudah!”
“Bagaimana sikap para tamu?”
“Ini ...”
“Bagaimana,” tegur Jenggot perak.
“Tampaknya mereka diliputi oleh kecemasan. Apapun yang Gihu rencanakan
rupanya mereka hanya menurut saja,” jawab Li Cu-liong.
Jenggot perak melirik Bu-song, Thiat-beng dan lainnya. Ia paksakan tertawa,
“Sebagai tuan rumah sudah tentu aku tak mau mengecewakan mereka..... silakan
kalian bercakap-cakap, aku hendak melayani mereka!”
Thiat-beng mempersilakan ayah mertuanya. Walaupun memikirkan diri puterinya
dan anak mantunya, namun terpaksa Jenggot perak harus menjamu para
tamunya.
Kepergian Jenggot perak itu kembali meninggalkan kesepian. Siau-bun perlahanlahan menghampiri Thian-leng, serunya lirih, “Engkoh Leng!”
Baru pertama kali itulah ia memanggil Thian-leng seperti itu. Walaupun sudah
dibesarkan nyalinya, namun nadanya tetap bergetar juga.
Wajah Thian-leng agak berubah. Ia menyurut mundur dua langkah. Mulutnya
bergerak-gerak tetapi tak dapat mengucapkan kata-kata.
Pok Thiat-beng pun mengerutkan dahi, serunya, “Siau-bun!”
Tahu Pok Thiat-beng itu ayahnya, tetapi karena sejak kecil ia tak pernah
berkumpul, maka perasaannyapun seperti orang asing.
“Ayah hendak memesan apa?” serunya hambar.
Thiat-beng sedikit banyak dapat mengetahui hubungan kedua anak muda itu,
serunya dengan tegang, “Thian-leng sekarang menjadi putera angkatku. Kalian
harus berbahasa engkoh-adik!”
Dendam dan Kasih
“Berbahasa engkoh dan adik?” tiba-tiba Siau-bun tertawa acuh.
“Itulah sudah selayaknya!” sahut Thiat-beng.
Siau-bun tertawa manja, “Yah, tahukah kau siapa di antara kami berdua yang lebih
tua? Kalau aku lebih tua beberapa hari, bagaimanakah harus memanggilnya?”
Thiat-beng tertegun. Ia tak menyangka bahwa puterinya ternyata seorang gadis
yang pandai bicara.
“Sudah tentu ayahmu tahu. Panggillah ia engkoh!”
Tetapi Siau-bun seorang gadis yang berhati keras. Untuk menumpahkan
kemengkalan, ia berseru dengan nada sinis, “Oh, engkoh Leng, kuhaturkan
selamat padamu.”
“Adik ... Adik ....” Thian-leng tergagap-gagap.
“Apa yang hendak kau perintahkan?” Siau-bun tertawa dingin.
Merah seketika telinga Thian-leng, serunya, “Mana aku berani memberi perintah
padamu, hanya .... ada sebuah hal yang perlu kuberitahukan padamu!”
“Katakanlah saja!”
Baru Thian-leng hendak berkata, Bu-song sudah mendahului, “Piauci, bolehkah
aku bicara beberapa patah padamu?”
Siau-bun meliriknya, “Tentu, apa halangan bicara beberapa patah saja?”
Bu-song muramkan wajah, “Apakah kau tahu dia……. berhubungan dengan aku?”
Siau-bun tertawa dingin, “Mengapa tidak? Kakek telah menjodohkannya dengan
kau, bukan?”
Wajah Bu-song merah, “Kalau sudah tahu ya sudah. Tetapi mengapa kau terusmenerus melihatnya saja?”
Seketika merahlah wajah Siau-bun, lengkingnya, “Ngaco! Jika tak memandang
muka kakek, tentu sudah kutampar mulutmu!”
Dan bertengkarlah kedua dara itu dengan ngotot. Sekalian orang tak mengerti apa
persoalan mereka.
“Berhenti!” tiba-tiba Thiat-beng membentak Bu-song yang hendak bicara. Nadanya
menggeledek penuh wibawa. Kedua dara itupun bungkam. Mereka saling
berpandangan dengan mata melotot.
Thiat-beng mengerutkan dahi. Ditatapnya Siau-bun dengan tajam, “Apa katamu
tadi?”
Siau-bun tertegun. Sahutnya dengan terbata-bata, “Mengapa ayah tak langsung
menanyainya?” katanya seraya melirik pada Bu-song.
Si dara Bu-song merah pipinya dan menunduk.
Setelah memandang pada Thian-leng, Pok Thiat-beng pun menghamapiri Busong, serunya dengan tertawa, “Bilanglah, putera-puteri persilatan pantang
bersikap malu-malu!”
Bu-song menenangkan hatinya lalu mengangkat muka, “Belum lama ini atas
kehendak kakek, aku telah….. dijodohkan padanya!”
“Benarkah itu?” Thiat-beng terkejut.
“Silakan paman bertanya pada kakek!”
Thiat-beng menyurut mundur, keningnya agak mengerut dan mulutnya berkemakkemik “Celaka! Celaka! Ini ....” ia berpaling kepada Thian-leng, serunya, “Benarkah
itu?”
Thiat-beng membanting-banting kaki, “Mengapa tak kau katakan hal ini dari dulu?”
“Semula memang anak hendak menceritakan hal itu kepada gihu. Tetapi karena
gihu melarang aku banyak bicara, jadi sampai sekarang belum ......”
Memang Thiat-beng teringat hal itu dan bahkan pernah memaksa pemuda itu
menikah dengan Ki Seng-wan.
“Ah, aku yang salah, akulah yang mencelakai kalian ....” Akhirnya ia menghela
napas.
“Paman, apa kesalahanmu? Ini,…. apa artinya?” seru Bu-song dengan heran.
“Tahukah kau bahwa Thian-leng sudah menjadi calon suami orang?” seru Thiatbeng.
Bu-song mendesak kaget, “Apa?”
“Thian-leng sudah mempunyai isteri!”
“Benarkah ...?” Bu-song melengking kaget. Lebih kaget dari mendengar halilintar
menyambar di tengah hari. Tubuhnya gemetar hampir tak kuat berdiri lagi. Ia tekan
keras supaya darahnya jangan meluap keluar dari mulut.
Juga Siau-bun gemetar. Wajahnya pucat seperti kertas. Kegoncangan hatinya tak
kalah dengan Bu-song.
“Sudah tentu sungguh!” jawab Thiat-beng.
Bu-song segera mengalihkan matanya menatap Thian-leng, serunya kalap,
“Kau .... terlalu....” dia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena tersekat oleh
tangis.
“Tak dapat menyalahkannya, akulah yang bersalah!” Thiat-beng menghela napas.
Bu-song mengusap air matanya, ujarnya, “Kalau begitu perkawinannya itu atas
kehendak paman?”
“Be..... nar ....”
“Siapa isterinya?”
“Ki Seng-wan!”
“Ki Seng-wan? .... eh, puteri kedua dari Sin-bu-kiong?”
“Ya, tetapi mereka berdua taci beradik itu baik-baik, dan pula ...”
“Paman, aku ……benci kau” tiba-tiba Bu-song menjerit.
Thiat-beng mengerutkan dahi tak bicara. Dia tak tahu peristiwa Thian-leng dengan
Bu-song. Jika tahu tentu takkan dipaksanya Thian-leng menikah dengan Ki Sengwan. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bahwa Bu-song
menyatakan kebenciannya, Thiat-beng tak dapat berbuat apa-apa. Ia mandah
saja!
Sebenarnya Bu-song hendak menghambur kemarahannya, tetapi ketika melihat
Thiat-beng terlongong-longong diam, kemarahannya pun menurun. Tiba-tiba ia
memutar dan melesat pergi…..
“Bu-song, kembalilah!” Thiat-beng berseru kaget.
Tetapi dara itu tak mau mempedulikan, bahkan berteriak, “Aku takkan kembali
selama-lamanya dan takkan menemui kalian lagi!”
Sembari berlari dara itu sudah menyelinap jauh. Thiat-beng termangu-mangu tak
dapat berbuat apa-apa. Mau mengejar tak enak, tidak mengejarpun tak enak.
Bagaimana ia harus bertanggung jawab kepada Jenggot perak apabila dara itu
sampai kena apa-apa.
“Adik Song, tunggulah!” tiba-tiba Siau-bun berteriak.
Bu-song yang sudah jauh terpaksa berhenti. Sambil berpaling ia tertawa sinis,
“Perlu apa kau hendak mencari aku? Apakah kau hendak menuduh aku
melarikannya?”
Sekejap saja Siau-bun telah tiba di hadapan dara itu, “Adik Song, sekarang kita
harus bersatu padu!”
“Apa guna bersatu padu? Toh dia sudah menikah dengan orang lain!”
Siau-bun tertawa getir, “Lalu bagaimana kalau menurut pendapatmu?”
“Kita aduk-aduk sampai kacau balau baru kemudian mencukur rambuk masuk
menjadi rahib!”
“Apakah cara itu tepat?” Siau-bun tertawa tawar.
“Lalu bagaimana pendapatmu?”
“Kalau tak dapat memperolehnya, jangan sampai orang lain bisa
mendapatkannya!” sahut Siau-bun.
“Tetapi orang sudah mendapatkannya, nasi sudah menjadi bubur, apa daya kita?”
“Hancurkan mereka!” Siau-bun menjerit sengit.
“Hancurkan .....?” Bu-song mengerutkan dahi, lalu berseru, “Bagus, pikiranmu
tepat!”
Siau-bun berseru gembira, “Suami isteri yang berantakan jauh lebih menderita
dari kekasih yang patah hati!”
Tiba-tiba Bu-song mengerutkan kening, “Rencana sih bagus tapi bagaimana
pelaksanaannya?”
“Eh, kau biasanya cerdik mengapa sekarang tak dapat memikirkan hal itu?” Siaubun tertawa.
Bu-song agak kemerah-merahan mukanya. “Kalau kau hanya hendak mengolokolok saja, lebih baik jangan mengganggu aku!”
Siau-bun tersenyum lalu membisik ke telinga Bu-song, wajah Bu-song segera
berseri gembira. “Benar, siasatmu itu memang tepat. Kita memang bukan orang
baik-baik. Jika tak suruh mereka merasakan pil pahit, hati kita tentu tak lega.”
Siau-bun segera mengajak berangkat. Dalam beberapa loncatan, kedua gadis itu
pun sudah lenyap.
Semula Thiat-beng mengira Siau-bun hendak menasehati Bu-song. Ia tak mengira
kalau gadis itu malah mengajak lari.
“Thian-leng, lekas kejar!” serunya gelagapan.
“Gihu ... ” baru Thian-leng hendak berkata. Thiat-beng sudah membentak, “Lekas
kejar!”
Thian-leng segera loncat menyusul.
ooo000ooo
Menjerat Kerbau
Bu-song dan Siau-bun tahu bahwa Thian-leng mengejar mereka, namun mereka
pura-pura tak menghiraukan dan lari sekencang-kencangnya.
“Hai, kalian berhenti dulu,” teriak Thian-leng.
“Piauci, rencana berhasil. Manusia lupa budi itu mengejar!” Bu-song berseru
kepada Siau-bun dengan ilmu menyusup suara.
Siau-bun menyahut dengan ilmu menyusup suara juga, “Asal rencana pertama
berhasil, kemungkinan besar kita tentu berhasil!”
Kedua gadis itu mempercepat larinya. Sebenarnya Thian-leng dapat menyusul
tetapi ia tahu watak kedua gadis yang keras kepala itu. Maka ia sengaja
memperlambat larinya. Dalam sekejap saja mereka sudah mencapai tiga-empat li
jauhnya. Kedua gadis itu lari sekencangnya tanpa menghiraukan teriakan Thianleng lagi.
Akhirnya Thian-leng tak tahan lagi. Sekali empos semangat, ia melesat
mendahului kedua gadis itu dan menghadang mereka. “Harap kalian suka
memandang mukaku..”
“Orang she Pok, hendak apa kau!” tukas Siau-bun.
“Kau hendak merintangi kami?” lengking Bu-song.
Thian-leng tertawa hambar. “Aku mempunyai kesukaran yang susah kukatakan,
harap nona berdua suka memafkan ... sejak saat ini aku berjanji hendak
memperlakukan kalian berdua sebagai adik kandung. Untung ....”
“Jangan banyak bicara, lekas menyingkir!” bentak Bu-song.
Siau-bun ikut menyeletuk, “Menempuh beribu kesulitan, sayang hanya bersua
dengn orang yang tak bertanggung jawab. Adik song, mari kita ambil jalan lain
saja!”
“Ya, ya, mari kita belok ke jalan ini!” sahut Bu-song seraya melesat ke jurusan lain.
Thian-leng cepat mengayunkan diri menghadang mereka lagi. “Harap nona
berdua berpikir masak-masak, jangan hanya menuruti hawa marah.....”
Tetapi kedua nona itu tidak menghiraukannya dan tetap berjalan maju. Thian-leng
terpaksa melintangkan kedua tangannya. “Andaikata aku bersalah, harap nona
suka .....”
“Eh, apakah kau hendak berkelahi?” teriak Siau-bun.
“Tidak!” buru-buru Thian-leng menyahut.
“Kalau tidak mengapa kau gerakkan kaki dan tanganmu?” teriak Bu-song.
Thian-leng tertawa meringis. “Eh, mengapa kalian begini pemarah?”
Kedua gadis itu tertawa dingin dan tetap melesat dari samping Thian-leng. Karena
gugup, Thian-leng melintangkan lagi tangannya.
“Fui, laki dan perempuan tak boleh bersentuhan. Mengapa kau begitu tak tahu
aturan?” bentak Siau-bun. Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya...
Plak .... karena tak menduga, pipi Thian-leng kena tampar. Lima buah bekas jarijari halus melekat di pipinya. Dan dari ujung mulutnya mengalir darah.
Bu-song tertegun. Ia tak menyangka Siau-bun bertindak demikian. Tetapi melihat
keadaan Thian-leng yang meringis-ringsi, ia tertawa geli.
Thian-leng malu dan menyesal tetapi ia tak berani berkata apa-apa. Dilepasnya
kedua nona itu dengan mata terlongong-longong. Setelah beberapa saat, barulah
ia ayunkan langkah mengikuti mereka.
Ia tahu bahwa kedua nona itu tentu mendendam sekali kepadanya. Mereka rela
berkorban segalanya. Maka dapat dimengerti bagaimana terpukulnya hati mereka
ketika mendengar ia sudah menikah dengan lain nona. Melihat watak mereka,
bukan mustahil mereka akan melakukan hal-hal yang sukar diduga. Dan
andaikata terjadi sesuatu dengan mereka, bukan saja ia harus mempertanggung
jawabkan kepada Jenggot perak dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, ia sendiri
juga akan tersiksa seumur hidup.
( bersambung ke jilid 28)
Jilid 28 .
Kalau yang mengikuti dicengkeram kecemasan, yang diikuti sebaliknya malah
riang gembira. Berjalan perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Bagaikan tingkah
pemburu, mereka mengambil jalan di lereng gunung curam.
Thian-leng benar-benar tersiksa perasannya, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa
kecuali mengikuti saja kurang lebih duapuluhan tombak di belakang mereka.
Ketika matahari tenggelam, barulah kedua nona itu berhenti di sebuah kuil kecil.
“Cici, hari sudah malam, kita bermalam di kuil ini saja!” kata Bu-song.
Siau-bun mengangguk, “Baik, sehari suntuk perut kita tak terisi. Mari kita buat sate
kelinci yang kutangkap di hutan tadi,” sahut Siau-bun.
Sambil bercakap-cakap diseling tertawa-tawa, kedua nona itu membuat api dan
membakar kelinci. Tampaknya mereka riang gembira. Thian-leng yang
bersembunyi di balik sebuah batu yang berada sepuluhan tombak di luar kuil,
hanya mengigit jari saja. Bau sate kelinci yang dibawa oleh angin malam, benarbenar mengelitik perutnya. Air liurnyapun beberapa kali terpaksa ditelannya.
Tetapi karena sikap kedua nona yang begitu dingin, ia tak berani menghampiri ke
dalam kuil. Terpaksa ia mengawasi mereka di luar saja.
Menjelang tengah malam, tak terdengar lagi percakapan kedua nona. Rupanya
mereka tidur nyenyak di dekat api unggun. Sebaliknya Thian-leng tak berani
memejamkan mata karena kuatir kedua nona itu lenyap.
Tiba-tiba dari dalam kuil terdengar suara helaan napas. Thian-leng terkejut. Jelas
itulah suara helaan napas Bu-song. Benar-benar ia tak dapat mengendalikan diri
lagi. Ia memberanikan diri menghampiri ke dalam kuil. Melangkah ke dalam
ruangan kuil, barulah hatinya lega. Kedua nona itu tidur disamping api unggun.
“Adik Bun .... adik Song,” Thian-leng membangunkan dengan perlahan-lahan.
Siau-bun menggeliat bangun, “Eh, orang she Pok, mengapa kau kemari lagi?”
“Apakah adik Song Sakit?” sahut Thian-leng.
Tiba-tiba dara itu mencelat bangun. “Aku sakit atau tidak, apa pedulimu,” ia
tengkurap lagi.
Thian-leng terkesiap, serunya, “Adik berdua ... mengapa kalian ini?”
Siau-bun tertawa tawar, “Apakah kau benar-benar menaruh perhatian kepada
kami?”
“Biarlah langit dan bumi menjadi saksi isi hatiku. Mengapa kau tak dapat
memaafkan aku?”
“Lalu mengapa kau....?”
Thian-leng menghela napas, “Mengapa bisa terjadi hal itu, ah ....”
Thian-leng masih menanyakan keadaan Bu-song.
“Jangan kuatir, dia hanya masuk angin karena mendongkol,” jawab Siau-bun. Ia
memberi minum dara itu sebutir pil.
Tak berapa lama dara itupun sudah dapat bangun. Tetapi ketika melihat Thianleng ia segera melengos.
Sampai sekian saat Thian-leng terlongong-longong, baru ia dapat berkata,
“Apakah kalian masih marah kepadaku?”
“Seumur hidup membencimu, takkan kulupakan selama-lamanya!” teriak Bu-song
dengan marah.
“Sekarang jangan turut campur urusan kami lagi!” celetuk Siau-bun.
Thian-leng menghela napas, “Jika kalian tak mau pulang, akupun takut menemui
Lu dan Cu cianpwe dan ikut saja pada kalian terus!”
Siau-bun tertawa mengikik, “Percuma kau ikut, toh takan kupedulikan...”
“Apakah kalian sungguh-sungguh membenci aku sedemikian rupa?” Thian-leng
tertawa getir.
“Coba katakan apa maksudmu mengintil aku?” Siau-bun tertawa dingin.
“Untuk minta kalian pulang!”
“Boleh tetapi paling tidak harus memenuhi sebuah syarat!” kata Siau-bun.
“Jangankan hanya sebuah, tujuh-delapan bahkan sepuluh syarat pun aku
sanggup memenuhi!” sahut Thian-leng serentak.
Siau-bun tertawa, “Ah, sebenarnya bukan syarat yang sukar. Hanya asal kau mau
mengatakan dengan sejujurnya!”
“Ah, aku tak pernah bohong. Silakan adik Bun bertanya?”
Siau-bun memberi lirikan kepada Bu-song, ujarnya, “Apakah pernikahanmu
dengan Ki Seng-wan itu keluar dari setulus hatimu?”
“Bukan, tetapi karena didesak oleh ayahmu!” sahut Thian-leng tegas.
“Kau tak cinta padanya?”
“Ini .... dia pernah menolong jiwaku dengan ilmu Hian-im-kiu-coan dan karena itu
ia telah kehilangan kehormatannya, maka ......”
”Di mana ia sekarang?”
“Di rumah ayahmu di gunung Thay-heng-san!”
Siau-bun tertawa datar dan berpaling kepada Bu-song, “Adik, pertanyaanku sudah
selesai.”
Bu-song mendengus, serunya. “Eh, sampai berapa jauh telah kau pelajari ilmu
dalam kitab It Bi siangjin itu?”
“Ah, belum seberapa,” sahut Thian-leng.
“Apakah ada ilmu mengobati binatang beracun jenis Tok-jong!”
“Ada, tetapi aku belum sempat mempelajari.”
“Hm, pertanyaankupun selesai .... itu ada sisa sate kelinci, silakan makan!”
“Aku tak lapar!”
“Kau takut sate itu beracun?” Bu-song delikkan mata.
“Ah, adik Song terlalu menghina!” kata Thian-leng terus menyambar paha kelinci
dan dimakannya.
Tetapi begitu daging kelinci masuk ke dalam perut, perutnya seperti diaduk.
Serangkum hawa memuakkan menghambur ke atas. Kepalanya serasa pusing
dan bluk ..... jatuhlah ia tak sadarkan diri.
“Hola, taci, rencana kedua, berhasil!” Bu-song tertawa mengikik.
“Jangan lagi kedua, sampai habispun tentu berhasil!” sahut Siau-bun, “Mana ayam
alasnya?”
Bu-song mengambil seekor ayam hutan dari meja. Kaki ayam itu diikat kencang.
Siau-bun menyambut dengan gembira. Dirobeknya baju Thian-leng sedikit di
bagian dada.
“Rencana ketiga mungkin tak berhasil!” tiba-tiba Bu-song berkata.
“Apa sebabnya?” Siau-bun heran.
“Jika aku, tentu tak mau kemari!”
Siau-bun tertawa,“Sayang wanita itu tak secerdas kau. Jika ia tak datang. Aku
berani memberikan kepalaku kepadamu!”
“Apa yang hendak kau tulis?”
“Sederhana saja, lihatlah!” Siau-bun segera menusuk ayam hutan dan memotes
kepalanya. Kemudian ia menggunakan darah ayam itu untuk menulis di baju
Thian-leng :
Kepada isteriku Seng-wan,
Aku terkena racun, jiwaku tak dapat tertolong.Entah siang entah malam tentu mati.
Harap lekas datang ke puncak Ceng-liong-ma gunung Tiam-jong-san di kuil
gunung.
Thian-leng
Di belakang baju itu ditulis pula kata-kata, “Penting!”
“Wanita hina itu jika menerima surat ini tentu segera datang dan tentu menangis
sedih,” kata Siau-bun.
“Ya,ya, kita lihat pertunjukan itu di sini. Kemudian kita cari akal lagi untuk
menyiksanya lebih lanjut. Ah, cici benar-benar cerdik.... eh, tetapi bagaimana
mengirimkan surat ini?”
“Dia sekarang adalah ketua Kay-pang. Anak buah partai Kay-pang banyak sekali.
Asal kita mencari seorang anak buahnya, surat berdarah ini tentu segera
disampaikan pada penerimanya....”
“Thay-heng-san jauh sekali. Taruh kata wanita itu segera berangkat paling tidak
juga memakan waktu seminggu. Dalam jangka waktu sekian lama apakah takkan
terjadi sesuatu?” Bu-song menyatakan kekuatirannya.
“Setelah menerima surat ini, dia tentu segera berangkat dan menempuh
perjalanan siang malam. Mungkin dalam waktu tiga-empat hari tentu tiba di
gunung Thay-heng-san. Tentang terjadinya perobahan, memang sukar diduga.
Tetapi .........paling tidak pemuda ini tetap berada dalam tangan kita!”
“Benar, benar,” Bu-song tertawa, “ tetapi sampai berapa lama kekuatan obat tidur
itu?”
“Jika orang biasa tentu tertidur selama sepuluh jam. Tetapi karena dia yang
makan, mungkin hanya tahan dua jam saja.”
Bu-song tertawa. Tiba-tiba ia mainkan jarinya menutuki seluruh tubuh Thian-leng,
“Nah, begini dia tentu tak berdaya lagi. Biarlah dia bangun tak jadi soal!”
“Mengapa?”
“Seluruh jalan darah di tubuhnya telah kututuki, hanya kutinggalkan jalan darah
pembisu. Nanti kalau bangun, dia hanya dapat mendengar dan bicara tetapi tak
dapat bergerak ...”
“Mungkin tak semudah itu....” di luar dugaan Siau-bun membantah.
“Eh, mengapa?” Bu-song terkejut, “apakah ada orang yang hendak
melindunginya?”
“Bukan begitu maksudku,” Siaubun tertawa, “aku kuatir ilmu tutukanmu tak
mempan kepadanya!”
Bu-song terkejut, “Ya, Ya, benar. Dia sudah mendapatkan pelajaran sakti dari It Bi
siangjin. Mungkin dapat mengatasi tutukanku dengan mudah!”
Kedua nona itu menjadi bingung.
“Jika tak dapat melumpuhkan kepandaiannya atau memotong kedua kakinya,
rasanya sukar untuk menguasai pemuda ini,” akhirnya Bu-song berkata.
“Ah, tidak sampai begitu,” Siau-bun menghibur, “meskipun kepandaiannya telah
sempurna sehingga ia kebal di tutuk jalan darahnya, tetapi dia tentu tak berdaya
apabila diikat dengan semacam tali istimewa. Misalnya tali dari urat ular atau ulat
sutera dan sebagainya….”
“Tetapi benda itu sukar di dapat. Dan saat ini kita berada di tengah gunung yang
terpencil. Kemana hendak kita cari?” bantah Bu-song
“Kalau kau dapat menyulap?”
“Menyulap?” Bu-song terkejut heran, “apakah kau sudah membawanya?”
Dari bajunya Siau-bun mengeluarkan dua kerat otot ular besar, serunya, “Telah
lama kusimpan benda ini. Bukan karena khusus untuk menangkap pemuda ini,
tetapi memang menjadi alat-alat yang kubekal. Ah, tak kira hari ini ada gunanya!”
“Memang banyak hal-hal yang tak terkira. Ayo, kita ikat saja dia!” seru Bu-song.
Dara itu segera menyambar tali dari Siau-bun, terus diikatnya tubuh Thian-leng
sekencang-kencangnya.
“Sekarang kita harus cari anggota Kay-pang untuk mengirimkan surat ini kepada
perempuan hina itu ...” kata Siau-bun.
“Aku yang menunggu di sini, silakan taci yang mencari!” kata Bu-song.
Setelah menyimpan robekan baju yang bertuliskan darah. Siau-bun segera pergi.
Ia tak paham jalan di gunung situ apalagi di tengah malam. Hampir sejam lamanya
baru ia dapat mencapai kaki gunung dan berhasil menemukan seorang anak buah
Kay-pang.
Demi mendengar ketuanya sakit, pengemis itu pucat. Segera ia menyerahkan
surat darah itu kepada kepalanya. Siau-bunpun bergegas-gegas kembali ke
gunung. Tiba di kuil, hari sudah hampir terang tanah. Thian-leng pun sudah
terjaga tetapi matanya tetap meram dan terdiam. Kedua belah pipinya terdapat
jalur bekas merah biru, mulutnyapun berdarah. Terang bahwa dia menerima
beberapa tamparan dari Bu-song.
Siau-bun mengerutkan dahi, “Perempuan hina itu tentu beberapa hari baru dapat
tiba kemari. Tak perlu buru-buru menyiksanya. Jika dia sampai mati, urusan malah
menjadi .... ”
“Dia pernah berjanji mengikat jodoh dengan aku. Sedang aku tak merasa kasihan
sedikitpun kepadanya, mengapa kau berbalik hendak membelanya?” Bu-song
melengking.
Siau-bun tertawa dingin, “Banyak sekala hal-hal di dunia yang di luar dugaan
manusia. Memang hati manusia sukar diduga. Dia sudah berjanji menikah dengan
kau, mengapa bisa jatuh di pelukan lain orang. Sejak ini mungkin ......”
Dada Bu-song berombak keras, “Tunggu kalau perempuan hina itu sudah datang,
di hadapannya nanti tentu akan kubunuh lalu kucincang perempuan hina itu,
barulah hatiku puas!”
“Apa katamu?” sekonyong-konyong Thian-leng membuka mata dan berteriak.
Bu-song terkesiap kaget. Katanya kemudian, “Aku tak bicara padamu, mengapa
kau bertanya?”
Thian-leng menyahut, “Jika kalian membenci padaku, bunuhlah segera tetapi
jangan memaki aku sebagai orang yang tak kenal budi. Ketahuilah ......” ia berhenti
sejenak, lalu katanya pula, “Walaupun jagad raya tak terbatas luasnya, tetapi
kekuasan Thian tiada batasnya. Janganlah nona berdua lekas berputus asa!”
“Apakah kau hendak menasehati kami?” bentak Bu-song dengan marah. Plak .... ia
memberi sebuah tamparan lagi.
Pipi Thian-leng makin bengap. Pemuda itu tak dapat menahan kemarahannya
lagi, “Akulah yang buta sehingga tak dapat mengetahui bahwa kalian ternyata
begini buas!”
“Hm, kau toh sudah mendapat ilmu sakti dari It Bi siangjin, mengapa tak mampu
melepaskan diri dari ikatan tali saja? Ayo, mari kita bertempur!”
Thian-leng benar-benar marah sekali. Ia mulai meronta-ronta, mengerahkan
tenaganya.
“Hi, hi, hi ,” Siau-bun tertawa, “tali itu walaupun tampaknya kecil tetapi tak mudah
putus. Asal kau mampu memutuskannya, tak perlu bertempur lagi, aku dan adik
Song segera akan bunuh diri!”
Thian-leng menghentikan usahanya. Memang tak perlu dinasehati, ia sudah
mencoba kekuatan tali itu. Jika bukan tali dari urat ular, tentulah dari ulat Thian-jan
yang jarang terdapat di dunia. Betapun saktinya tentu tak mungkin dapat
memutuskan tali itu.
Ia menghela napas, serunya perlahan , “Bilanglah, apa maksud kalian ini?”
“Pada saatnya kau tentu tahu sendiri. Sekarang kau harus menderita beberapa
hari dulu!” seru Bu-song.
“Adik Song, kasih tahu dong!” Siau-bun tertawa.
“Mengapa?”
“Adik Song, kau toh seorang cerdik, mengapa harus kuterangkan lagi? Dia toh
saat ini menjadi tawanan kita, takut apa kita kasih tahu padanya?”
Bu-song bertepuk tangan, serunya, “Ya, ya, benar. Toh perempuan hina itu baru
empat-lima hari lagi datang. Kita beritahukan dia agar dia bisa merenungkan!”
Hati Thian-leng seperti disayat, serunya “Bilanglah, sebenarnya ......”
Bu-song tertawa, “Biarlah kuberitahukan sekarang. Ki Seng-wan dalam empat-lima
hari tentu datang kemari.”
Thian-leng terkejut, “Bagaimana kau tahu?”
“Kamilah yang memanggilnya!” sahut Bu-song.
“Tak nanti dia menurut perintahmu, tentu takkan datang kemari,” jawab Thian-leng.
“Jika ia tak datang, kau akan kubebaskan dan aku akan bunuh diri!” seru Bu-song.
“Apakah yang kalian rencanakan ini?”
“Oh, kau sungguh-sungguh tak mengerti?” Bu-song tertawa.
Dipandangnya baju Thian-leng yang robek dan bangkai ayam hutan, lalu tertawa
mengikik, “Kami telah membuat surat palsu yang ditulis dengan darah ayam. Dan
telah menyerahkan surat itu kepada anak buah Kay-pang supaya diantarkan ke
Thay-heng-san. Dalam surat itu kukatakan bahwa kau tengah meregang nyawa
karena keracunan dan minta perempuan hina itu segera datang....”
“Keji sekali!” damprat Thian-leng.
“Terhadap manusia rendah budi semacam kau, terpaksa harus dihadapi dengan
siasat begitu. Tunggu saja pertunjukan yang lebih bagus bila perempuan hina itu
sudah datang nanti.!”
Thian leng tak dapat berbuat apa-apa kecuali menghela napas dalam-dalam. Ia
tahu bahwa keganasan kedua nona itu disebabkan kekecewaan hatinya. Hati
yang patah karena merasa dikhianati cintanya....
Diam-diam Siau-bun memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Ia tahu bahwa
tindakannya terhadap pemuda itu terlalu ganas. Dan ia pedih sekali sebenarnya
melakukan hal-hal yang di luar suara hatinya itu.
Haripun makin terang. Akhirnya Siau-bun menghela napas, “Adik Song aku lelah.
Harap kau yang menjaga dulu.”
Memang Siau-bun letih. Letih tenaga dan hati. Sekalipun saat itu ia mendapat
kemenangan, tetapi hatinya rawan sekali. Tak beberapa lama iapun jatuh tertidur.
Setelah memberi tamparan beberapa kali, hati Bu-songpun longgar sekali. Karena
mengingat kuil di situ sunyi senyap dan tak mungkin terjadi apa-apa, maka iapun
mulai layap-layap tidur.
Tiba-tiba pada saat ia meram-meram ayam, serangkum angin dingin menghambur
dari belakang. Ia terkejut dan cepat loncat bangun tetapi sudah terlambat. Angin itu
merupakan angin tenaga tutukan jari yang tak bersuara. Pada saat ia hendak
menggeliat bangun, jalan darah bagian Ciang-tay-hiat sudah terkena. Bluk.....
iapun jatuh terkulai......
Tetapi suara itu cukup membangunkan Siau-bun. Jelas dilihatnya bahwa seorang
manusia aneh yang bermuka hitam sekali dan berambut putih, berpakaian warna
merah tengah menutuk roboh Bu-song. Dan kini orang itu tengah menyerangnya.
Kejut Siau-bun bukan kepalang. Walaupun tengah tidur, tetapi suara yang timbul
dari jarak beberapa puluh tombak jauhnya, dapat diketahuinya. Anehnya, manusia
aneh itu muncul tanpa suara sama sekali, dan cara-cara serangannyapun luar
biasa. Kalau Bu-song tak roboh tentu dia tak mendengar suara apa-apa.
Cepat-cepat Siau-bun menggelinding di lantai sampai lima tombak jauhnya,
sehingga ia dapat terhindar dari serangan si orang aneh.
“Lekas bukakan ikatanku. Kau bukan tandingan orang itu!” terdengar Thian-leng
berseru kepadanya. Tetapi Siau-bun tak menghirauka. Ia tahu bahwa manusia
aneh itu tentulah seorang tokoh yang sakti. Cepat ia taburkan passer Tui-hongkiong. Kaki, perut dan tenggorokan orang itu sekaligus diserangnya.
Tring, tring tring ..... terdengar orang aneh itu mengekeh dan menangkis jatuh Tuihong-kiong. Menyusul ia gerakkan tangan kirinya. Dari kelima jarinya terdengar
angin mendesis-desis menyambar ke arah Siau-bun.
Siau-bun terkejut dan tergopoh-gopoh loncat menghindar. Hanya sedikit memakai
tenaga kaki, orang aneh itu sudah melesat ke tengah-tengah Siau-bun dan Thianleng.
Karena tak dapat berkutik, Thian-leng hanya mengawasi kejadian itu dengan mata
melotot.
Siau-bun mencabut pedang. Tiga buah jurus ia lancarkan ke arah manusia aneh
itu. Suaranya menderu-deru, sinarnya berkelebatan laksana kilat menyambar.
Jurus itu dinamakan Toh beng sam-kiam atau Pedang pencabut nyawa. Sejak
kecil Siau-bun sudah meyakinkannya, sehingga sudah mendarah daging.
Orang aneh itu tetap tak memakai senjata. Dengan kesepuluh jarinya yang runcing
seperti cakar besi, ia menyambar pedang Siau-bun.
“Siluman, kau hendak cari mampus!” teriak Siau-bun. Ia percepat gerak
permainannya. Segulung sinar perak berhamburan menyilaukan mata.
Orang aneh itu tetap tak berkisar. Matanya berapi-api membentak, “Serahkan!”
Hok Mo tongcu
Tring...tring.... tahu-tahu pedang Siau-bun sudah berpindah ke tangan si orang
aneh.
Kepandaian orang aneh itu benar-benar mengagumkan. Bukan hanya Siau-bun,
Thian-leng pun yang masih terikat kaki dan tangannya juga tercengang-cengang.
“Budak perempuan, ayo keluarkan kepandaianmu lagi!” seru orang aneh itu
seraya tertawa mengikik.
Siau-bun kaget dan marah sekali. Dengan berteriak kalap seperti orang gila, ia
menaburkan tui-hong-kiong lagi.
“Eh, mainan anak kecil itu hendak kau pertunjukkan di hadapanku?” orang aneh
itu tertawa gelak-gelak seraya menyapu dengan tangannya. Tring,..tring... tring...
Tui-hong-kiong jatuh berhamburan.
“Silumankah engkau?” Siau-bun terlongong-longong kaget.
“Aku adalah naganya manusia, mengapa kau katakan siluman?” orang aneh
berbaju merah itu tertawa.
“Siapakah kau!” Siau-bun membentak.
“Aku adalah Hok Mo tongcu....pernahkah kau mendengarnya?”
“Apa itu? Siapa kenal dengan bangsa manusia tak ternama!”teriak Siau-bun.
Hok Mo tongcu atau kepala dari goa Hok-mo-tong, tertawa dingin, “Benar, aku
memang bukan manusia ternama. Tetapi banyak sudah tokoh-tokoh terkenal yang
menyembah kakiku.....” ia menyapu pandangannya kepada si nona, lalu berkata
pula, “Jadi kau tak memandang mata kepadaku?”
Siau-bun membelalakkan matanya. Thian-leng masih terikat, sedang Bu-song
sudah tertutuk jalan darahnya. Menghadapi manusia setengah siluman yang
berkepandaian sakti itu, ia benar-benar bingung.
“Oh, jadi kau menganggap dirimu sebagai tokoh nomor satu di dunia?” serunya
sesaat kemudian.
Hok-mo-tong-cu tertegun sejenak, ujarnya, “Sekalipun bukan begitu, tetapi
hampirlah!”
“Lalu apa maksud kedatanganmu kemari!”
Orang aneh itu kembali tertegun. Tiba-tiba ia membentak keras, “Budak
perempuan, kau terlalu lancang!”
Siau-bun tak menghiraukan dan melanjutkan kata-katanya, “Kalau kau
menganggap dirimu tokoh nomor satu di dunia, beranikah kau bertanding dengan
jagoku? Cukup tiga jurus saja. Asal kau mampu menerima pukulannya, aku sedia
menyerah padamu!”
“Siapa?” dengus Hok-mo-tong-cu.
“Dia!” Siau-bun menunjuk pada Thian-leng.
Wajah si orang aneh yang hitam seperti pantat kuali tampak berobah. Pada lain
saat ia tertawa nyaring, “Dia seorang pemuda yang lemah, bagaimana aku sudi
bertanding dengannya?”
“Jangan pakai alasan ini-itu. Pokoknya, kau berani atau tidak!” teriak Siau-bun.
Mata Hok-mo-tong-cu berkeliaran, serunya mengejek, “Jika dia sakti, mengapa
diringkus orang sampai tak berkutik?”
Siau-bun hendak membikin panas hati orang aneh itu sehingga memberi
kesempatan padanya untuk membuka ikatan Thian-leng. Tetapi ternyata walaupun
tampaknya ketolol-tololan, orang aneh itu cerdik juga. Dia tak kena diakali.
Thian-leng tak kurang gelisahnya. Tetapi karena masih terikat. Ia tak dapat berbuat
apa-apa.
Pada saat itu Bu-songpun sudah berusaha keras untuk menyalurkan tenaga
dalamnya. Tetapi sampai detik itu ia belum berhasil membuka jalan darah yang
tertutuk.
“Heh, heh, budak perempuan, kau tunduk padaku atau tidak ?” tiba-tiba manusia
aneh itu tertawa mengekeh.
“Huh, siapa sudi mendengar ocehanmu...” dengus Siau-bun. Ia terus hendak
mengulur waktu sambil mencari akal.
Orang aneh itu menatap Siau-bun tajam-tajam. Tiba-tiba ia tertawa mengikik,
“Budak perempuan, aku hendak bertanya padamu. Asal kau mau menjawab
sejujurnya, tentu takkan kubikin susah. Tetapi kalau berani membohong, awas….,
kalian tentu akan kusiksa satu demi satu!”
“Bertanyalah!” seru Siau-bun.
Hok –motong-cu melirik Thian-leng, serunya, “Apakah dia benar Bu-beng-jin yang
telah mendapat ilmu pelajaran dari It Bi siangjin itu?”
“Hm, kini kau mulai membuka kartu,” kata Siau-bun. “Kalau benar bagaimana dan
kalau bukan bagaimana pula?”
Hok-mo-tong-cu membentak, “Aku hanya minta kau menjawab sejujurnya. Jika kau
banyak mulut, jangan sesalkan aku berlaku ganas. Tentu kuberi engkau sedikit
hajaran.... lekas bilang, apakah dia benar Bu-beng-jin?”
“Benar!” Siau-bun terkejut.
Hok-mo-tong-cu tertawa puas. “Benda apapun di dunia ini, tak ada yang
kuinginkan, kecuali satu ialah kitab pusaka peninggalan It Bi siangjin…..” Ia
berhenti sejenak lalu menyambung pula. “Apakah kitab itu berada padanya?”
“Mengapa kau tak tanya sendiri padanya?” balas Siau-bun.
Hok-mo-tong-cu tersenyum, “Kukira wanita mudah bicara terus terang…..”
“Mungkin kau buta!” Siau-bun tertawa mengikik. “Jangankan aku memang tak tahu,
sekalipun tahu, jangan kau harap dapat mencari keterangan dariku.”
Hok mo-tong-cu marah, “Rupanya tulangmu keras sekali, budak! Jika tak kuberi
hajaran tentu tak mau berkata terus terang!” tiba-tiba ia mencengkeram bahu Siaubun.
Karena pedang dan senjata rahasianya tak berhasil, Siau-bun sudah putus asa.
Dengan berteriak seperti orang gila ia menerjang manusia aneh itu. Tetapi ia
terkejut sekali karena tahu-tahu tenaganya hilang. Yang dirasakan hanya angin
dingin yang menghambur dari kelima jari Hok mo-tong-cu, tahu-tahu tenaganya
terbawa hanyut. Dan yang lebih mengejutkan, jari-jari berhawa dingin dari Ho-motong-cu itu langsung menusuknya.....
Siau-bun sudah kehilangan daya perlawanannya lagi. Ia mengerahkan tenaganya
untuk bergulingan di tanah. Keadaannya benar-benar pontang-panting.
Sebenarnya Hok-mo-tong-cu tak bermaksud sungguh-sungguh untuk melukainya.
Tetapi ia sengaja menggembor keras dan melesat mendekati. Tangannya
diangkat hendak dihantamkan.
“Berhenti!” teriak Thian-leng.
Hok-mo-tong-cu tertawa sinis. Ia menghentikan tinjunya, “Heh, heh, kau hendak
mengaku.”
Thian-leng berteriak, “Kau seorang tongcu, mengapa kau hendak menganiaya
seorang anak perempuan,? Apakah kau tak malu kepada dirimu?”
“Selamanya aku hanya mementingkan tujuan!” Hok-mo tong-cu tertawa.
“Manusia rendah!” damprat Thian-leng.
Menggunakan kesempatan mereka sedang berbicara, diam-diam Siau-bun
beringsut ke dekat Thian-leng. Secepat kilat segera ia hendak membuka tali
pengikat pemuda itu.
Tetapi hal itu tak dapat lepas dari mata Hok-mo-tong-cu. Dengan tertawa
mengekeh, ia membalikkan tangannya. Serangkum asap putih menyembur ke
arah Siau-bun. Tuk ..... jalan darah Ciang-thay-hiat Siau-bun tertutuk. Robohlah
nona itu........
“Iblis tua, jangan melukainya!” teriak Thian-leng.
“Heh, heh, erat sekali hubungan kalian ini. Mereka berdua telah mengikatmu dan
menyiksamu, tetapi kau masih begitu sayang kepada mereka, hm, jarang sekali
ada orang semacam kau.....” Hok mo-tong-cu tertawa mengejek.
Sejenak memandang kepada ketiga anak muda yang terbaring di tanah, momok
itu kembali berseru, “Karena kau begitu sayang kepada mereka, baiklah hendak
kusiksa mereka supaya kau dapat menikmati!”
Ia menutup kata-katanya dengan mencengkeram bahu Siau-bun. Karena jalan
darahnya tertutuk, Siau-bun tak dapat berbuat apa-apa. Ia meramkan mata
menerima nasib....
“Jangan menyiksanya, baik, akan kuberitahukan padamu!” teriak Thian-leng.
“Kau bawa?” Hok mo-tong-cu menghentikan tangannya.
“Tidak, tetapi aku dapat mengantarkan engkau!” sahut Thian-leng.
Hok-mo-tong-cu sangsi, “Tetapi ingat, jangan kau berani menipuku atau kalian
bertiga tentu akan kusiksa sampai mati!”
“Bagaimana supaya kau bisa percaya?”
“Bersumpahlah!”
Tanpa ragu-ragu Thian-leng segera mengangkat sumpah berat.
“Dimana tempatnya?” Hok-mo-tong-cu tertawa puas.
“Sudah tentu berada di gunung Thay-heng-san!”
Hok-mo-tong-cu merenung sejenak, ujarnya. “Kalau siang malam menempuh
perjalanan, lima hari baru sampai. Hm, tak apalah, karena kau sudah bersumpah,
akibatnya kau tentu dapat membayangkan sendiri......”
Thian-leng tertawa, “Sekali meluluskan sudah tentu takkan bohong. Lekas
lepaskan aku dan marilah kita berangkat!”
Iblis Hok-mo-tong-cu tertawa mengekeh, “Budak, enak sekali kau bicara. Sekali
kulepas, habislah segala jerih payahku.”
Ia mengeluarkan sehelai karung dari kain hitam, serunya, “Biarlah dalam
beberapa hari aku memeras tenaga dan kaupun perlu menderita sedikit.”
Habis berkata, ia terus menjinjing Thian-leng dan dimasukkan ke dalam karung,
lalu dipanggulnya. Dalam keadaan begitu, tiada seorangpun yang mengira iblis itu
tengah membawa karung berisi manusia.
Siau-bun dan Bu-song meskipun tak dapat berkutik, tetapi pikiran mereka masih
tetap sadar. Mereka menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada diri Thian-leng.
Diam-diam timbullah rasa sesal mereka.
Tiba-tiba Hok-mo-Tong-cu menghentikan langkah dan berputar. Ia mengambil dua
butir pil merah, serunya, “Jika gagal mendapatkan kitab pusaka It Bi siangjin, aku
akan kembali menyembelih kalian. Tetapi pulang pergi kesana, paling tidak tentu
memakan waktu sepuluhan hari. Agar kalian jangan sampai mati kelaparan, kuberi
masing-masing sebutir pil tahan lapar.”
Ia menyusupkan pil itu ke mulut Siau-bun dan Bu-song.
“Kuil yang kalian pilih ini memang tepat sekali. Takkan ada orang yang datang
kemari, takkan ada orang yang mengetahui kalian!”
Momok dari Hok-mo-tong itupun segera lenyap. Tak berapa lama haripun terang.
Sinar matahari mulai merembes di celah-celah retakan dinding kuil, seolah
berusaha menerobos masuk untuk membantu mengeringkan air mata yang
membasahi pipi kedua dara itu.....
Siau-bun dan Bu-song membasuh muka mereka dengan kucuran air mata yang
deras. Sampai lama mereka bungkam dibenam penyesalan.
“Taci, kita salah perhitungan!” kata Bu-song.
Siau-bun mendengus, “Bukan rencana kita yang salah, tetapi karena diganggu
oleh kejadian yang tak terduga-duga!”
Bu-song menghela napas, “Bagaimanapun juga, kita mencelakai orang akhirnya
mencelakai diri kita sendiri...”
“Kau menyesal?”
Bu-song tertegun, serunya, “Aku tak menyesal. Yang penting sekarang kita harus
mencari akal bagaimana supaya jangan tersiksa begini!”
“Jangan takut!” kata Siau-bun, “dia hanya menutuk jalan darah kita. Beberapa saat
lagi kita tentu dapat terlepas!”
Bu-song tersenyum tawar. “Ah, percuma. Ilmu tutuk iblis itu berbeda dengan yang
lain. Kalau tak percaya kau boleh coba!”
Siau-bun diam-diam mengerahkan tenaganya. Tetapi sampai sepeminuman teh
lamanya belum juga ia berhasil membuka jalan darahnya.
“Bagaimana?” Bu-song tertawa rawan, “rupanya kita harus menunggu ajal dengan
perlahan!”
Siau-bun pun tertawa sedih, “Ah, belum tentu. Kita toh masih mempunyai waktu
lima hari. Perempuan hina Ki-seng-wan itu tentu datang kemari….”
“Itu lebih celaka lagi, ia tentu akan membunuh kita!” seru Bu-song.
Siau-bun menghela napas. “Apa boleh buat kalau memang harus begitu!”
“Manusia berdaya, Thian yang berkuasa. Taci Bun. Aku tetap menganggap
rencana kita ini gagal.”
Siau-bun tak menyahut. Dan memang ia tak mempunyai bahan yang dapat
dikatakan lagi. Adalah karena munculnya iblis Hok mo-tong itu maka rencananya
gagal total, bahkan dirinya sendiripun celaka.
Kembali mereka berdiam diri.
Daerah gunung Ceng-liong-nia memang daerah terpencil, jarang didatangi
manusia. Meskipun siang hari, tak tampak manusia atau binatang yang
berkeliaran. Dan haripun berganti malam, berarti mereka telah tersiksa sehari.
Hari keduapun tak ada perobahan. Demikianpun ketiga dan keempat, hingga hari
yang kelimapun tiba.
Menjelang magrib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki orang berlari-lari
mendatangi.
“Dia datang....” bisik Siau-bun.
“Tetapi agaknya bukan hanya seorang, apakah tidak .....” baru Bu-song berkata
sampai di situ, sesosok bayangan warna ungu dan hijau menerobos ke dalam kuil.
Ah, pendatang itu bukan lain Ki Gwat-wan dan Ki Seng-wan taci beradik.
Wajah mereka kumal penuh debu dan tampaknya letih sekali. Jelas bahwa
mereka telah melakukan perjalanan jauh tanpa berhenti.
Begitu masuk ke dalam kuil, mereka terlongong-longong, Gwat-wan cepat menarik
adiknya diajak keluar ke pintu lagi, serunya, “Adik, apa yang kukatakan ternyata
benar. Pok siangkong mempunyai kepandaian yang sakti, mungkin dalam masa
ini ia terhitung jago yang nomor satu. Tetapi mengapa bisa keracunan. Dan taruh
kata keracunan, mengapa tidak diangkut pulang oleh anak buah Kay-pang?
Melainkan hanya mengirim surat memanggil kau kemari. Dan lagi, bukankah dia
bersama gihu menuju gunung Tiam-jong-san? Sekarang mengapa gihu tak
tampak………..?”
Ki Seng-wan menghela napas, “Kita harus percaya apa yang nyata. Memang aku
tak pernah berpikir begitu jauh………..” ia melirik ke arah Bu-song dan Siau-bun
lalu tertawa dingin. “Bangunlah! Karena kalian sudah berhasil menipu kami
berdua kemari, ayo bangun dan bereskan perhitungan. Mengapa kalian pura-pura
menggeletak di situ?”
Tetapi Siau-bun dan Bu-song tak menyahut dan tak bergerak. Suatu hal yang
menimbulkan keheranan kedua taci beradik Ki itu.
“Apa kalian bisu?” tegur Ki Seng-wan.
Siau-bun dan Bu-song tetap membisu.
Walaupun marah tetapi diam-diam hati Ki Seng-wan lega juga. Ia tahu bahwa
dirinya telah dijebak kedua dara itu. Tetapi karena Thian-leng tak berada di situ,
berarti tentu selamat. Bahwa pemuda itu terkena racun, tentu isapan jempol saja.
“Takkan kubenci kalian asal kalian mau mengatakan dia sekarang?” katanya
kepada Siau-bun dan Bu-song.
Tetapi Gwat-wan cepat menarik adiknya, “Tak perlu tanya mereka, masakah kita
tak mampu mencari sendiri?”
“Tetapi dunia begini luasnya, kemana kita harus mencari?” Seng-wan meragu.
Gwat-wan tertawa dingin, “Dia toh hadir dalam rapat Eng-hiong tay-hwe di gunung
Tiam-jong-san. Kita kesana tentu dapat menemuinya. Paling tidak kita dapat
bertanya pada orang!”
“Benar, benar. Ayo, kita kesana!” seru Seng-wan seraya terus hendak melangkah
pergi.
“Tunggu!” tiba-tiba Siau-bun berseru, “tak nanti kalian bisa mencari di sana!”
Seng-wan menghentikan langkah, “Eh, mengapa? Apa dia sudah pergi?”
ditatapnya kedua dara itu tajam-tajam.
“Hai, mengapa kalian terus-menerus berbaring di lantai saja?”
Bu-song mendengus, “Jika kami dapat bangun tentu tak mau membuang waktu
bicara dengan engkau! Eh, coba kau tolong bukakan jalan darah Ciang-thay-hiat
ini!”
Kini baru kedua taci beradik itu tahu akan keadaan kedua dara itu. Ki Seng-wan
serentak hendak memberi bantuan.
“Tunggu dulu,” tiba-tiba Gwat-wan mencegah, “mereka membencimu setengah
mati. Mereka telah menipu supaya kau datang kemari. Jika kau tolong mereka,
bukankah seperti melepas naga ke dalam lautan? Apakah kita berdua dapat
hidup?”
Setelah merenung beberapa saat, berkatalah Ki Seng-wan, “Kita harus dapat
memaafkan orang, jangan orang yang memaafkan kita. Bermusuhan atau
bersahabat tergantung dari anggapan mereka sendiri!”
Tanpa menghiraukan peringatan tacinya, Seng-wan segera menghampiri kedua
dara itu. Gwat-wan menghela napas seraya menggelengkan kepala. Ia tahu watak
adiknya yang sukar dicegah.
Dua buah tamparan berhasil membuka jalan darah Bu-song dan Siau-bun.
“Apakah adik berdua tahu dimana dia sekarang?”
“Jika ingin menemuinya, harap ikut kami!” sahut Bu-song dingin. Terus ia hendak
bangkit.
Ah....walaupun jalan darahnya sudah terbuka, tetapi tubuhnya masih tak dapat
berkutik, seolah-olah seperti terikat oleh tali. Juga Siau-bun serupa keadaannya.
ooo000ooo
Jilid 29 .
Air susu dibalas air tuba
“Percuma,” kata Ki Gwat-wan, “Ilmu tutukannya istimewa sekali. Kepandaian kita
tak mampu membukanya. Lebih baik kita tinggalkan saja!”
Seng-wan menghela napas, “Bukan karena aku tak mau menolong kalian, tetapi
benar-benar.....” habis berkata ia terus mengikuti Gwat-wan pergi.
“Jangan terburu-buru,” tiba-tiba Siau-bun berseru, “Tahukah kau kemana
perginya? Dan tahukah kau bagaimana keadaannya sekarang?”
Seng-wan terhenti.
“Mungkin kaupun tak tahu!” ujarnya.
“Hm, kita tahu sejelas-jelasnya, tetapi tak semudah begini memberitahukan
padamu!”
“Apa syaratnya?” tanya Seng-wan.
“Paling tidak kau harus berusaha membuka jalan darahku ini!” sahut Siau-bun.
Seng-wan mengerutkan dahi, “Kalau dapat membukanya tentu saat ini kalian
sudah sembuh. Bukan karena tak mau membantu kalian, tetapi sesungguhnya aku
tak mampu.....”
“Aku ada akal!” seru Siau-bun.
“Lekas katakan! Asal aku mampu tentu tak menolak!” kata Seng-wan.
Sejenak Siau-bun berdiam diri, ujarnya, “Asal kau dapat membuka jalan darah
kami berdua, tentu akan kuberitahukan dimana Thian-leng berada. Tetapi aku
hendak bertanya padamu!”
“Silakan.”
“Apa kau kenal Hok-mo-tong-cu?”
Seng-wan tertegun, “Tidak! Jangankan kenal, mendengar namanyapun belum
pernah!”
Kata Siau-bun, “Dia mempunyai pukulan dan tutukan jari yang berhawa dingin.
Dibanding dengan Sin-bu-Te-kun, Hok-mo-tong-cu lebih tinggi kepandaiannya.....”
“Apakah kau berkata dengan sesungguhnya?” Seng-wan makin heran.
“Masakah aku berolok-olok!”
Seng-wan melirik kepada Gwat-wan, serunya, “Sin-bu Te-kun mendapat
kesaktiannya dari kitab Im-hu-po-coan yang berinti tenaga Im-han (dingin). Kuingat
dulu Sin-bu Te-kun pernah mengatakan bahwa dia hanya mendapat kitab Im hupo-tong-cu.....”
“Hai, benar!” teriak Siau-bun, “dengan begitu ilmu kepandaian kalian sesumber
dengan iblis itu.... tentulah sedikit banyak Sin-bu Te-kun telah memberi kalian
pelajaran-pelajaran dasar?”
“Tetapi hanya kulitnya saja!” sahut Seng-wan.
“Tak apa,” kata Siau-bun, “Ini kuberitahu. Tiap hari tolong kau mengurut-urut jalan
darahku yang tertutuk itu sampai tiga jam. Paling lama dalam tiga hari, betapapun
hebatnya ilmu tutukan itu, tentu akan terbuka juga. Maukah kalian meluluskan
permintaan ini?”
Seng-wan mengerutkan dahi, ujarnya, “Jika permintaanmu itu keluar dari hati
setulusnya, aku mau. Tetapi kalau hanya siasat, aku ................”
“Adik, maukah kau mendengar nasehatku?” tiba-tiba Gwat-wan menyeletuk.
“Silakan, masakah aku tak mau mendengar?“
Gwat-wan menggeleng-gelengkan kepala, “Kedua budak perempuan ini, hatinya
sekejam ular. Menolong mereka mungkin akan mendatangkan bahaya. Menurut
hematku, lebih baik kita ....”
Siau-bun berteriak, “Walaupun kalian mempunyai hubungan kakak beradik, tetapi
dengan kami adalah ipar. Jangan kau mengadu domba untuk meretakkan
hubungan rumah tangga kami.... Ensoh,” teriak Siau-bun kepada Seng-wan. “Pok
Thian-leng mengaku ayahku sebagai gihu dan ikut memakai she Pok. Dengan
begitu kau adalah ensohku...!”
“Akupun saudara misan, jadi kau ensoh misanku. Apakah kau tega hendak
meninggalkan tempat ini?” Bu-songpun ikut berseru.
Seng-wan memandang tacinya, “Karena ada jalan untuk menolong, aku harus
berusaha melakukannya. Kalau tidak, bagaimana aku harus mempertanggung
jawabkan apabila bertemu dengan Thian-leng?”
Gwat-wan menghela napas dan tak berkata apa-apa lagi. Tak berani lagi ia
berbicara. Ia lebih tua dari Seng-wan, tetapi karena Seng-wan sudah menikah
dengan Thian-leng, iapun tak berani campur tangan menguasai adiknya lagi. Ia
tak dapat mencegah Seng-wan menolong Siau-bun dan Bu-song yang merupakan
adik Thian-leng.
Seng-wan segera menghampiri Siau-bun, ujarnya, “Sekarang aku hendak mulai
menggunakan ilmu Hian-im-chiu-hwat untuk mengurut jalan darahmu yang
tertutuk itu. Tetapi kau sendiripun harus mengerahkan lwekangmu untuk
membantu dari dalam!”
Siau-bun tersenyum kemenangan. Sambil melirik kepada Gwat-wan, ia segera
mengucapkan terima kasih kepada Seng-wan. Dan mulailah Seng-wan
melakukan pengurutan. Siau-bunpun mengerahkan lwekang untuk membantu
menerobos jalan darahnya yang tertutuk itu.
Dengan bermuram durja, Gwat-wanpun terpaksa mengurut Bu-song. Setelah
hampir tiga jam lamanya, barulah pengurutan dihentikan. Kedua kakak beradik itu
mandi keringat, napasnya terengah-engah. Tiga jam mengurut, cukup
menghabiskan tenaga.
“Bagaimana sekarang?” tanya Seng-wan.
Siau-bun tersenyum manis, “Boleh juga!”
“Bagus!” seru Seng-wan. “Tak perlu tunggu besok pagi, nanti saja akan kuurut lagi.
Hanya harapanku, jangan kau ......mendendam!”
“Ah, enso, jangan mencurigai aku!” kata Siau-bun.
Ki Seng-wan tak menyahut. Ia memejamkan mata menjalankan pernapasan.
Lewat lohor ia mendusin. “Taci, mari kita mengurut lagi!” katanya.
Gwat-wan tersenyum hambar, “Budak perempuan, kau benar-benar meletihkan
aku!”
Namun sekalipun mulutnya bersungut, iapun segera mengurut Bu-song lagi. Kali
ini pengurutan berjalan lebih payah. Selang sejam kemudian, kedua taci beradik
Ki itu sudah mandi keringat. Dua jam lagi haripun sudah malam. Di luar angin
malam menderu-deru, menambah keseraman suasana.
Wajah kedua taci beradik itu pucat, kedua bahunyapun mulai gemetar. Jelas
bahwa mereka telah menguras seluruh tenaga dalamnya. Hampir mendekati tiga
jam, rupanya Seng-wan tak kuat. Mulutnya gemetar dan tubuhnya terjerembab
roboh.
“Adik! Adik...kau....!” Gwat-wan menghentikan urutannya, lalu merangkak
menghampiri sang adik. Tetapi belum sampai di tempat Seng-wan, iapun juga
terjungkal roboh.
Suasana di dalam kuil menjadi sunyi-senyap. Entah berselang beberapa lama,
tampak Siau-bun bergeliat duduk. Setelah memejamkan mata mengambil napas,
ia tersenyum girang dan memandang kedua saudara Ki, lalu bangkit berdiri
karena jalan darahnya telah terbuka.
Semula Bu-song masih menggeletak di tanah. Tetapi begitu melihat Siau-bun
berdiri, iapun ikut bergerak. Ah, ternyata ia juga sudah sembuh.
“Cici Bun, kita sudah sembuh!” serunya girang.
Siau-bun tertawa, “Rencana kita semula ialah menipu mereka supaya datang
kemari, lalu kita siksa, baru kemudian kita bunuh. Ah, siapa kira mereka malah
berbalik menjadi penolong kita!”
Bu-song mengerutkan keningnya, “Lalu bagaimana tindakan kita sekarang?”
Sejenak Siau-bun merenung, ujarnya, “Karena mereka telah melepas budi, kita
terpaksa memberi ampun jiwanya!”
Bu-song mendengus, “Uh, sayang aku tak pemurah hati seperti engkau! Dia telah
merebut tunanganku. Kuanggap dia musuh bebuyutan. Dia atau aku yang berhak
hidup di dunia!”
Walaupun kehabisan tenaga, tetapi panca indera kedua saudara Ki masih baik.
Mereka terkejut mendengar ucapan kedua gadis itu. Seng-wan memaksakan diri
berseru, “Taciku memang benar. Kalian ternyata memang bangsa ular berbisa.
Jika tidak kami berdua yang menolong, masakah kalian bisa hidup. Kalau tidak
dimakan binatang buas, tentu akan mati kelaparan!”
Siau-bun tertawa, “Ah, tidak begitu mengerikan! Sebelum pergi, iblis Hok-mo-tongcu telah memakankan sebutir pil kepada kami. Pil itu dapat menahan lapar selama
sepuluh hari!”
“Kalau begitu, kalian hendak mengapakan kami?” Seng-wan tertawa getir.
Jawab Siau-bun, “Kau adalah ensohku. Aku tak dapat mengapa-apakan kau.
Tetapi......” ia mengedipkan mata, lalu berkata pula, “Sebelum menikah dengan
engkau, Pok Thian-leng sudah bertunangan dengan adik misanku ini. Sakit hati
direbut suaminya, termasuk dendam yang hebat. Hal ini biarlah adikku yang
mengambil keputusan!”
Bu-song tertawa riang, “Akupun bukan orang yang haus darah. Apalagi kalian
sudah melepas budi kepadaku. Sedikit banyak tentu akan kubalas…..” ia berhenti
sejenak, lalu ujarnya pula, “Sebenarnya kau harus menerima hukuman mati.
Tetapi hukuman itu kutiadakan. Hanya akan kusuruh kalian menerima hukuman
hidup!”
Seng-wan terkejut, serunya, “Jika hal itu dianggap bersalah, biarlah aku yang
menanggung sendiri. Taciku ini tiada sangkut-pautnya. Hendak kau bunuh atau
kau siksa, aku rela menerima asalkan jangan kau ganggu taciku ini!”
Bu-song diam beberapa saat. Siau-bun tersenyum, “Eh, tetapi jika ditinjau
sedalam-dalamnya, tacimulah yang berdosa!”
“Ngaco!” teriak Seng-wan, “tacikulah yang menolong nona Lu dan dulupun belum
pernah bersalah kepada kalian. Jangan mengada-ada kesalahan pada dirinya!”
Siau-bun tertawa, “Segala rencana adalah dia yang mengeluarkan. Masakah dia
tak bersalah....”
ia melirik Bu-song, katanya pula, “Sesungguhnya, biang keladinya ialah tacimu.
Dalam hal hukuman, dia juga harus menerima......”
“Gadis busuk!” damprat Seng-wan marah sekali, “jangan memfitnah orang
sesukamu! Coba saja bagaimana kelak kau akan mempertanggung jawabkan
perbuatanmu kepada kakekmu dan Pok Thian-leng!”
Siau-bun tertawa mengikik, “Tak usah kau pikirkan diriku. Akupun hanya
mengatakan hal yang sebenarnya. Tentang bagaimana hukuman padamu, tetap
kuserahkan pada adikku!”
Teriak Seng-wan, “Baik, anggap saja aku seorang buta. tetapi ingat, Jika kau tak
membunuh aku, kelak pada suatu hari aku tentu akan membalas dendam,
padamu.....”
Gwat-wan tertawa rawan, “Adik, sudahlah, jangan banyak bicara. Jatuh di tangan
gadis yang sebuas itu, masakah kita dapat bicara tentang budi welas asih?”
Kemarahan Seng-wan tak dapat ditumpahkan. Ia berusaha sekuat-kuatnya untuk
bergerak, tetapi ah…… kedua kaki tangannya lemas lunglai, tenaga dalamnya
habis.
Ia sadar tak dapat memberikan perlawanan lagi. Akhirnya ia memejamkan
matanya saja menunggu kematian.
“Adik Song, aku sudah memberi siksaan batin kepada mereka. Sekarang silakan
kau memberi hukuman badan!” kata Siau-bun.
“Menurut pendapatmu, apakah iblis Hok Mo tongcu itu bisa kembali lagi ke sini
atau tidak?” tanya Bu-song.
Siau-bun menggelengkan kepalanya dan menyahut dengan yakin, “Tidak bisa!”
“Bagaimana kau bisa mengatakan begitu?”
“Bukankah Thian-leng mengatakan kitab pusaka itu berada di gunung Thay-hengsan? Kuduga Hok Mo tongcu tentu takkan balik ke sini lagi!”
“ Mengapa?” tanya Bu-song.
“Mungkin kau masih belum jelas. Apa yang disebut kitab pusaka peninggalan It Bi
siangjin itu, terukir pada dinding goa rahasia di dalam telaga zamrud....”
“Jadi dia akan mengajak iblis itu ke dalam goa?”
“Ya!”
Bu-song terkejut sekali, serunya, “Tetapi tangan dan kaki Thian-leng terikat
dengan tali urat-ular. Jika Hok Mo tongcu berhasil masuk ke dalam goa Telaga
zamrud dan dapat meyakinkan lukisan di dinding goa, bukankah........ ”
”Siau-bun tertawa, “Kau tahu satu, tetapi tak tahu dua. Di dalam Telaga zamrud
maish dijaga oleh seorang tokoh aneh. Dia juga banyak mempelajari ilmu
peninggalan It Bi siangjin. Dia sudah mengangkat saudara dengan Thian-leng.
Begitu masuk goa, Hok Mo tongcu tentu bakal dibekuk oleh murid It Bi siangjin itu.
Maka kita tak perlu kuatir lagi!”
Bu-song tertawa riang, “Kalau begitu iblis Hok Mo tongcu itu pasti mampus dan
takkan balik lagi ke sini. Di sini jarang didatangi orang. Bagaimana kalau kita tiru
saja tindakan Hok Mo tongcu untuk menghukum mereka?”
Siau-bun tertawa, “Sayang kita tak mampu menutuk seperti Hok Mo tongcu!”
Bu-song mendengus, “Sekalipun bisa, tetapi kita takkan menyuruh mereka enakenak tidur di lantai. Aku sudah mempersiapkan suatu rencana bagus.......kita
lakukan tutukan Tiam-hong-kian-jin-yok!”
Tiam-hong-kian-jin-yok artinya menutuk angin menyusupkan ke daging orang.
Siau-bun tertegun, “Apakah itu? Apakah yang hendak kau rencanakan itu?”
Bu-song tak menyahut, melainkan mengeluarkan dua utas tali sebesar ibu jari.
Direntangnya tali itu di hadapan Siau-bun.
“Tali ini terbuat dari sutera asli. Walaupun tak sesakti tali urat ularmu, tetapi dapat
menahan tenaga meeka. Tiang penglari di atas itu rasanya tempat yang cocok
untuk mereka beristirahat!”
Tak lama Bu-song telah melaksanakan rencananya. Kedua taci beradik Ki dikerek
ke atas dan digantung pada tiang penglari dengan tubuh terikat. Tubuh mereka
bergelantungan kian kemari mirip daging yang digantung di warung.
Ki Gwat-wan dan Ki Seng-wan memejamkan matanya. Tak sepatahpun mereka
keluarkan erangan.
Setelah puas menertawakan pemandangan yang dianggap lucu, Siau-bun dan
Bu-song segera menutup pintu dan melangkah keluar. Kala itu sudah lewat tengah
malam.
Tantangan
“Taci Bun, kemanakah sekarang kita hendak pergi?” tanya Bu-song setelah
menguap.
“Eng-hiong-tay-hwe sudah lewat beberapa hari. Saat ini kakek dan ayah tentu
sudah meninggalkan Tiam-jong-san……”
“Sin-bu Te-kun sudah menantang. Sepuluh hari lagi akan menunggu mereka di
Sin-bu-kiong. Mungkin mereka sudah menuju ke sana!” tukas Bu-song.
“Benar,” sahut Siau-bun, “bukan hanya mereka saja, rasanya Thian-leng pun juga
akan ke sana……. eh, kalau berjumpa dengannya, kita harus merangkai cerita
bohong untuk mengelabuinya!”
“Tetapi ia sudah tahu sendiri, bagaimana kita dapat membohonginya?” tanya Busong.
Siau-bun tertawa lagi. Tiba-tiba ia mendekati telinga Bu-song dan membisikinya.
Bu-song serentak bertepuk tangan dan tertawa riang, “Bagus, kau sungguh pintar
benar….. ayo kita cepat ke sana. Kini waktunya hanya tinggal satu hari saja!”
Menjelang tengah hari baru mereka tiba di kaki gunung Ceng-hun-san. Gunung itu
tak berbahaya, tetapi puncak-puncaknya saling berdekatan.
Sambil memandang ke atas puncak, berkatalah Bu-song, “Pintar juga Sin-bu Tekun memilih tempat. Jika dia tak temaha hendak merajai dunia persilatan, tentulah
sudah hidup enak di tempat setenang ini!”
Siau-bun tertawa, “Eh, mengapa kau tiba-tiba punya lamunan begitu?”
Bu-song hanya tertawa dan terus berlari. Karena paham jalannya dan dengan
menggunakan ilmu berlari cepat, mereka segera tiba di Sin-bu-kiong.
“Celaka……” tiba-tiba Siau-bun berhenti.
“Mengapa?”
“Thian-leng bukan pemuda yang berhati sempit. Walaupun kita bertindak terlalu
kejam padanya, tetapi kita pernah menolong jiwanya. Dia tentu tetap
memperhatikan keselamatan kita!”
“Bukankah itu lebih baik?” seru Bu-song.
Siau-bun menghela napas, “Kalau sudah lolos dari Thay-heng-san, dia tentu
segera ke Tiam-jong-san untuk menolong kita…..”
“Ai, benar!” Bu-song membanting-banting kaki, “begitu tiba di puncak Ceng-liongnia, dia tentu akan mendapatkan perempuan hina itu. Dan perbuatan kita tentu
akan diketahuinya….kita balik ke sana saja!”
Siau-bun menghela napas, “Ke sana paling tidak tentu memakan waktu empat
hari. Dan lagi dia dengan kedua dara Ki itu, belum tentu masih ada di sana!”
Bu-song bingung, “Kalau begitu, bagaimana tindakan kita sekarang? Ai, harap kau
cari rencana lagilah!”
“Tetapi sudah begini, tak ada jalan lain lagi…..” Siau-bun tertawa tertawa getir.
“Eh, kakekku....... Sekalipun kuminta bintang di langit, kakek tentu akan menuruti!”
kata Bu-song dengan aleman.
Siau-bun bertepuk tangan, “Kalau begitu jadilah....” segera ia membisiki telinga
Bu-song. Wajah si dara tampak berseri.
“Ayo, kita lekas cari kakek!” serunya.
Kedua gadis itu segera meneruskan larinya. Tetapi mereka tidak menuju ke pintu
gerbang Sin-bu-kiong, melainkan menyelinap ke dalam gerombol di samping
gedung itu.
ooo0000ooo
Baru saja hari mulai gelap, istana Sin-bu-kiong sudah terang benderang dengan
penerangan yang gemilang. Memang malam itu adalah hari ke sepuluh dari
tantangan Sin-bu Te-kun kepada Thian-leng dan rombongannya.
Tetapi suasana dalam istana itu tampak sunyi saja. Berpuluh-puluh penjaga
dengan menyelipkan senjata di pinggang tampak mondar-mandir berseliweran
kian kemari. Seolah-olah sedang menghadapi kesibukan. Tetapi mereka diam,
tidak menimbulkan suara berisik....
Di ruang tengah, penerangannya paling terang. Hanya sunyinya luar biasa.
Sehingga apabila ada sebatang jarum jatuh ke lantai, pasti terdengar juga.
Di luar ruangan, berjajar dua deret pengawal tua berseragam baju ungu. Mereka
membentuk diri dalam formasi burung garuda. Dengan senjata terhunus di
pinggang masing-masing, tampaknya mereka gagah sekali.
Di dalam ruangan besar, tak tampak barang seorangpun juga. Tetapi di dalam
bilik, sedang berkumpul belasan orang. Wajah mereka tampak tegang sekali.
Rupanya mereka tengah berunding dengan suara seperlahan mungkin.
Di antara orang-orang yang tengah rapat itu, terdapat Sin-bu Te-kun, ketua Hek
Gak, Bu Cui suseng, kedua Lam-yau dan Pak-koay, Ko Liu siangjin, Bok Sam-pi
dan lain-lain.
Di antara sekian hadirin, hanya Bok Sam-pi yang tetap tenang wajahnya. Dia
duduk dengan kepala menengadah. Tangannya memegang sebuah cawan arak
yang tak hentinya diteguk.
Yang istimewa, jago tua itu tidak lagi telanjang badan, tetapi sudah mengenakan
baju kapas yang kedombrongan, sehingga menutupi kedua lengannya.
Walaupun tenang, tetapi sebenarnya sikap dan tingkah laku Bok Sam-pi saat itu
jauh lebih linglung dari beberapa hari yang lalu.
Selain orang itu, masih terdapat juga tiga orang aneh yang wajahnya mirip satu
sama lain. Sama mengenakan pakaian putih, berambut merah. Tiga bagian seperti
manusia, tujuh bagian menyerupai setan.
Ketua Hek Gak duduk di sudut dengan lunglai.
Tiba-tiba ia bangkit dan mondar-mondir, kemudian berkata perlahan-lahan kepada
Sin-bu Te-kun, “Rencana kita hari ini harus berhasil, jangan sampai gagal. Apakah
saudara Ki menganggap persiapan-persiapan sekarang ini sudah sempurna?
Karena kalau sampai gagal, entah bagaimana kedudukan kita di hari-hari yang
akan datang!”
Sin-bu Te-kun tertawa meloroh, “Seorang lelaki, hanya mempunyai dua pilihan.
Gagal atau berhasil. Berhasil kita mulia, gagal kita binasa. Kalau yakin takkan
berhasil, lebih baik kita lekas-lekas sediakan peti mati saja. Mengapa kau begitu
kuatir..........”
Sin-bu Te-kun berhenti sejenak, kemudian tertawa iblis, “Sebenarnya saudara
Kongsun tak usah kuatir lagi. Sekalipun si tua Lu itu mengundang seluruh jagojago persilatan, jangan harap mereka mampu keluar dari istanaku ini.........!”
Perjanjian Sin-bu Te-kun
“Yang kutakuti bukan jago-jago persilatan lainnya, melainkan hanya Pok Thianleng seorang!” kata ketua Hek Gak, “asal dia sudah lenyap, barulah kita dapat
melaksanakan cita-cita………”
Sin-bu Te-kun mengangguk.
“Benar. Tetapi ruang Thiau-hui-thia (pencuci dosa) yang telah kupersiapkan itu
memakan waktu berpuluh tahun. Dibangun atas dasar Ngo-heng-ki-bun ( ilmu
ajaib lima unsur ). Biar dia atau malaikat, asal berani masuk ke dalam ruang itu,
tentu akan amblas nyawanya……”
Ketua Hek Gak mengerutkan alisnya.
“Rupanya saudara Ki mempunyai keyakinan besar. Kita pasti menang!”
Tetapi wajah Sin-bu Te-kun mengerut, ujarnya, “Menang atau kalah lebih baik
jangan kita bicarakan dulu. Lebih dulu aku hendak memperingatkan engkau!”
“Silakan!”
Sinbu Te-kun tertawa iblis, “Kuperingatkan padamu agar engkau jangan
melupakan perjanjian kita di Tiam-jong-san…….”
Raja Sin-bu-kiong batuk-batuk sebentar, lalu katanya pula, “Apakah layak kalau
sekarang kita menggunakan panggilan saudara?”
Ketua Hek Gak terkejut buk