...

Terbit setiap dua bulan sekali pada bulan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Terbit setiap dua bulan sekali pada bulan
Terbit setiap dua bulan sekali pada bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September dan
November yang kajian bidang geografi dan pendidikan geografi . ISSN
Ketua Penyunting:
Deasy Arisanty
Penyunting Pelaksana:
Sidharta Adyatma, Nasruddin, Arif Rahman Nugroho, Ellyn Normelani,
Karunia Puji Hastuti, Parida Angriani, Eva Alviawati, Rosalina Kumalawati,
Norma Yuni Kartika, Nevy Farista Aristin.
Penelaah:
Junun Sartohadi (Universitas Gadjah Mada), Herry Porda Nugroho Putro
(Universitas Lambung Mangkurat), Wahyu (Universitas Lambung Mangkurat),
Ariyani (Universitas Negeri Semarang), Iya Setiasih (Universitas Mulwarman),
Nugroho Hari Purnomo (Universitas Negeri Surabaya).
Pembantu Tata Laksana:
Hasa Noor Hasadi
Alamat Penyunting:
Program Studi Pendidikan Geografi, FKIP, Jl. H. Hasan Basry, Telp. (0511)
3304914,
Fax:
(0511)
3304914,
Banjarmasin,
70123,
Email:[email protected], HP 081348260253.
Jurnal Pendidikan Geografi diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan
Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung
Mangkurat bekerjasama dengan Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Regional
Kalimantan. Ketua Program Studi: Sidharta Adyatma, Sekretaris: Karunia Puji
Hastuti. Terbit pertama kali tahun 2014 dengan nama JPG (Jurnal Pendidikan
Geografi).
Penyunting menerima sumbangan naskah yang belum pernah diterbitkan dalam
media cetak lain. Syarat-syarat, format dan aturan tata tulis artikel dapat diperiksa
pada Petunjuk Bagi Penulis disampul belakang dalamjurnal ini.
DAFTAR ISI
Jurnal
Halaman
1.
Pengaruh Pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin (BSM) Terhadap
Motivasi Belajar Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin ...................................
2. Pengetahuan Guru IPS Terpadu Smp/Sederajat di Kecamatam
Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013 ....................
3. Kebisingan Lalu Lintas Kendaraan Bermotor PadaRuas Jalan di
Kecamatan Banjarmasin Tengah .................................................................
4. Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013......................
5. Pengetahuan Guru IPS Terpadu Smp/SederajatKecamatan Sungai
Tabuk Tentang Kurikulum 2013 .................................................................
6. Pengaruh Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Sebuku
Iron Lateritic Ores (Pt. Silo) Terhadap Tingkat Pendapatan
Masyarakat di Desa Tanjung Mangkuk, Kecamatan Pulau Sebuku,
Kabupaten Kotabaru ....................................................................................
7. Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) Melati Raya di Desa Jingah Habang Ilir
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar ................................................
8. Pengaruh Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Terhadap
Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 9
Banjarmasin .................................................................................................
9. Pengetahuan Guru Sma Kota Banjarmasin Mengenai Kurikulum 2013 .....
10. Karakter Siswa Kelas XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin Pada Mata
Pelajaran Geografi Tahun Ajaran 2013/2014 ..............................................
1
15
25
34
45
56
70
77
87
98
PENGARUH PEMANFAATAN BANTUAN SISWA MISKIN (BSM)
TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI 9
BANJARMASIN
Oleh:
Rahimah, Arif Rahman Nogruho, Parida Angrini
Abstrak
Judul penelitian ini adalah “pengaruh pemanfaatan bantuan siswa miskin
(BSM) terhadap motivasi belajar siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin”. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan bantuan siswa miskin
(BSM) terhadap motivasi belajar siswa SMP Negeri 9 Banjarasin.
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa penerima BSM kelas VII, VII,
dan IX SMP Negeri 9 Banjarmasin yaitu berjumlah 154 siswa, karena teknik
pengambilan sampel menggunakan sampel penuh maka sampel yang diambil
seluruh populasi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan studi
dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase dan korelasi
product moment.
Hasil penelitan yang telah dilakukan di SMP Negeri 9 Banjarmasin
menunjukkan bahwa (26,62%) siswa menggunakan BSM untuk membeli buku
pelajaran, (16,13%) siswa menggunakan BSM untuk membeli buku bacaan,
(55,84%) siswa menggunakan BSM untuk membeli alat tulis sekolah, (33,77%)
siswa manggunakan BSM untuk membeli seragam sekolah, (61,04%) siswa
menggunakan BSM untuk membeli perlengkapan sekolah, (5,19%) siswa
menggunakan BSM untuk biaya transportasi ke sekolah, (19,48%) siswa
menggunakan BSM untuk uang saku ke sekolah, (13,64%) siswa menggunakan
BSM untuk biaya kursus. ((92,86%) semangat siswa untuk mengulang pelajaran,
(73,38%) keinginan siswa untuk mengikuti ekstra kurikuler, (30,52%) siswa
mengikuti kursus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara
pemanfataan Bantuan Siswa Miskin (BSM) terhadap motivasi belajar siswa.
Kata kunci: Pemanfaatan, Bantuan Siswa Miskin (BSM), Motivasi Belajar.
I.
PENDAHULUAN
SMP Negeri 9 Banjarmasin adalah sekolah dengan jumlah penerima dana
BSM yang paling banyak dibandingkan dengan sekolah yang lainnya. Jumlah
penerima dana BSM di SMP Negeri 9 Banjarmasin yaitu 166 siswa, diantaranya
terdiri dari 65 siswa laki-laki dan 101 siswa perempuan.
Penerima dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) tahun ajaran 2013/2014
untuk kelas VII, VIII dan IX, di mana kelas VII berjumlah 77 siswa, kelas VIII
berjumlah 48 siswa, dan kelas IX berjumlah 41 siswa. Target utama penerima
dana BSM adalah siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan ditujukan
untuk membantu siswa dalam memenuhi kebutukan sekolah selama duduk
dibangku sekolah seperti membeli buku pelajaran, alat tulis dan perlengkapan
siswa yang lainnya.
1
Siswa yang mendapatkan dana BSM diharapkan dapat termotivasi untuk
lebih giat belajar dan mempermudah siswa dalam proses belajar. Motivasi belajar
adalah usaha seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan
antusiasisme dalam melaksanakan sesuatu kegiatan, baik yang bersumber dari
dalam diri individu maupun luar individu (Haryanto dan Yudhawati, 2011 dalam
Fatmawati, 2012).
Hasil observasi awal peneliti yaitu wawancara dengan salah satu murid di
SMP Negeri 9 Banjarmasin yang bernama Hidayatullah, menyatakan bahwa ia
hampir putus sekolah karena tidak ada biaya untuk sekolah sebelum mendapatkan
dana Bantuan Siswa Miskin (BSM), setelah mendapatkan dana BSM ia
manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya dan membuat lebih semangat
untuk belajar.
Peneliti menemukan masalah berdasaarkan pada uraian sebelumnya,
masalah di SMP Negeri 9 yaitu terdapat anak yang terancam putus sekolah karena
kekurangan biaya untuk memenuhi kebutuhannya bersekolah. Peneliti tertarik
untuk melukukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemanfaatan Bantuan Siswa
Miskin (BSM) Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin”.
Tujuan penelitian adalah “mengetahui pengaruh pemanfaatan Bantuan
Siswa Miskin (BSM) terhadap motivasi belajar siswa SMP Negeri 9
Banjarmasin”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Bantuan siswa miskin (BSM)
a. Pengertian Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Bantuan bagi siswa miskin disebut dengan Bantuan Siswa Miskin (BSM)
adalah pemberian bantuan dari pemerintah bagi siswa miskin berupa uang tunai
yang diberikan langsung kepada siswa sekolah sesuai kriteria yang telah
ditetapkan (Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 16/PB/2012).
b. Tujuan BSM
BSM memiliki tujuan untuk (Muhammad, 2013), yaitu: 1) Menghilangkan
halangan siswa miskin untuk akses pelayanan pendidikan; 2) Mencegah angka
putus sekolah dan menarik siswa miskin untuk bersekolah kembali; 3) Membantu
siswa miskin untuk memenuhi kebutuhan personal dalam kegiatan pembelajaran;
4) Mendukung penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,
pendidikan menengah, dan pendidikan menengah universal.
c.
Pemanfaatan BSM
Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) dimanfaatkan oleh siswa untuk
pembiayaan keperluan pribadi siswa dalam rangka penyelesaian pendidikan pada
jenjang pendidikan masing-masing siswa penerima BSM, antara lain digunakan
untuk: 1) Pembelian buku dan alat tulis sekolah; 2) Pembelian pakaian dan
perlengkapan sekolah (sepatu, tas, dll); 3) Biaya transportasi ke sekolah; 4) Uang
saku siswa ke sekolah; 5) Biaya kursus/les tambahan (Muhammad, 2013).
2. Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah tenaga atau inspirasi yang mendorong seseorang
untuk bertindak melakukan sesuatu prestasi yang tinggi (Retno Ningsih, 2005
dalam Nakman, 2012). Motivasi adalah kakuatan (energi) seseorang yang dapat
menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasisme dalam melaksanakan sesuatu
kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu maupun luar individu
(Haryanto dan Yudhawati, 2011 dalam Fatmawati, 2012). Motivasi adalah usaha
dari pihak luar dalam hal ini seperti guru untuk mendorong, mengaktifkan, dan
menggerakkan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran (Munadi, 2013).
III. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kuantitatif. Metode penelitian deskriptif kuantitatif adalah suatu proses
menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat
menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui (Margono, 2005).
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012). Tabel 1
menunjukkan jumlah penerima dana BSM Tahun Ajaran 2013/2014.
Tabel 1. Jumlah Populasi Penerima Dana BSM
Tahun Ajaran 2013/2014
No
Kelas
Jumlah siswa penerima dana BSM
1
VII
71
2
VIII
46
3
IX
37
Jumlah
154
Sumber: SMP Negeri 9 Banjarmasin
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2012). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian
ini adalah sampel jenuh. Sampel Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila
semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2012). Sampel
dalam penelitian ini adalah semua siswa penerima dana Bantuan Siswa Miskin
(BSM) kelas VII, VIII dan IX Tahun Ajaran 2013/2014 yang berjumlah 154
siswa.
Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data: (1) Data
primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung
dari sumber datanya (Ngadiyana,dkk., 2011). Teknik pengumpulan data primer
dilakukan dengan pengumpulan data yang pertama diambil dari sumber pertama,
meliputi observasi dan kuiseoner dari siswa penerima dana BSM di SMP Negeri 9
Banjarmasin. (2) Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
peneliti dari berbegai sumber yang telah ada (Ngadiyana,dkk., 2011). Teknik
pengumpulan data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data melalui studi
dokumen dan studi pustaka.
3
Pengolahan data adalah proses untuk memperoleh atau angka yang siap
dianalisis yang dapat diwujudkan dalam bentuk tabel, diagram atau grafik
(Ngadiyana,dkk., 2011). Data spasial diwujudkan dalam bentuk peta tematik.
Langkah-langka pengolahan data dalam penelitian ini yaitu: (1) Editing
(Pengeditan), (2) Coding (Pengkodean), (3) Scoring (Skor), (4) Tabulating
(Tabulasi).
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis diskriptif
kuantitatif. Rumus yang digunakan adalah rumus persentase dan korelasi product
moment. bertujan untuk mengetahui hubungan dana bantuan siswa miskin dengan
motivasi belajar siswa.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Bantuan siswa miskin (BSM)
a. Pembelian Buku
Jumlah persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan
untuk membeli buku pelajaran disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Responden yang Membeli Buku Pelajaran
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
41
26,62
Tidak
113
73,38
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 2 dengan Tabel 3.
Tabel 3. Buku Pelajaran yang di Beli Responden
Frekuensi
Alternatif jawaban
Harga
Persentase (%)
(F)
IPS Terpadu
> Rp 60.000
8
12,12
IPA Terpadu
>Rp 60.000
10
15,15
Matematika
>Rp 60.000
8
12,12
B.Inggris
>Rp 60.000
10
15,15
B. Indonesia
Rp 31.000- Rp 40.000
11
16,67
Pendidikan Agama
Rp 31.000-Rp 40.000
4
6,06
Islam (PAI)
Detik-Detik UN
>Rp 60.000
15
22,73
Jumlah
66
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memanfaatkan dana Bantuan Siswa
Miskin yang diberikan oleh pemerintah untuk membeli buku. Buku yang dibeli
oleh siswa adalah buku pelajaran. Buku pelajaran yang dibeli seperti buku IPS
Terpadu, IPA Terpadu, Matematika, B.Inggris, B.Indonesia, Pendidikan Agama
Islam (PAI), Detik-detik UN. Siswa yang mendapatkan Dana BSM namun tidak
digunakan untuk membeli buku, dimanfaatkan sebagai tabungan. Siswa yang
memanfaatkan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebagai tabungan bukanlah
pemanfaatan yang dimaksudkan oleh pemerintah, namun jika yang dimaksudkan
siswa dengan tabungan adalah untuk pembelian buku tahun ajaran berikutnya, hal
ini tidak dilarang selama pemanfaatannya masih sesuai dengan tujuan
pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin (BSM).
b. Pembelian Buku Bacaan
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
membeli buku bacaan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Responden yang Membeli Buku Bacaan
Alternatif jawaban
Frekuensi (F) Persentase (%)
Ya
25
16,23
Tidak
129
83,77
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 5 dengan Tabel 5.
Tabel 5. Buku Bacaan yang di Beli Responden
Alternatif
Frekuensi
Harga
Persentase (%)
jawaban
(F)
Novel
>Rp 50.000
19
63,33
Cerpen
Rp 21.000 - Rp 30.000
3
10
Komik
/Rp 21.000 - Rp 30.000
6
20
Cerita Dongeng
Majalah
Rp 21.000 – Rp 30.000
2
3,03
Jumlah
30
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memanfaatkan dana Bantuan Siswa
Miskin yang diberikan oleh pemerintah untuk membeli buku. Buku yang dibeli
oleh siswa salah satunya adalah buku bacaan. Buku bacaan yang dibeli oleh siswa
seperti novel, komik, cerpen, dan majalah, hal ini sesuai dengan tujuan
diadakannya program bantuan siswa miskin. Siswa yang mendapatkan Dana BSM
namun tidak digunakan untuk membeli buku, dimanfaatkan sebagai tabungan.
Siswa yang memanfaatkan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebagai tabungan
bukanlah pemanfaatan yang dimaksudkan oleh pemerintah, namun jika yang
dimaksudkan siswa dengan tabungan adalah untuk pembelian buku tahun ajaran
berikutnya, hal ini tidak dilarang selama pemanfaatannya masih sesuai dengan
tujuan pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin (BSM).
c.
Pembelian Alat Tulis Sekolah
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
membeli alat tulis sekolah disajikan pada Tabel 6.
5
Tabel 6. Responden yang Membeli Alat Tulis Sekolah
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
86
55,84
Tidak
68
41,16
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 6 dengan Tabel 7.
Tabel 7. Alat Tulis Sekolah yang di Beli Responden
Alternatif jawaban
Harga perbuah Frekuensi (F) Persentase (%)
Pulpen
Rp.500-Rp 3000
86
22,63
Buku Tulis
Rp.3100-Rp.4000
70
18,42
Buku Gambar
Rp.3100-Rp.4000
38
10,00
Penggaris
Rp.500-Rp 3000
69
18,15
Pensil
Rp.500-Rp 3000
66
17,37
Pensil Warna
>Rp.5000
36
9,47
Kotak Pensil
>Rp.5000
6
1,58
Jangka
>Rp.5000
3
0,79
Jumlah
380
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memanfaatkan dana Bantuan Siswa
Miskin untuk membeli alat tulis sekolah seperti pulpen, buku tulis, buku gambar,
penggaris, pensil, pensil warna, kotak pensil, dan jangka, serta alat tulis sekolah
yang lainnya yang diperlukan oleh siswa. Tujuan dari memanfaatan dana Bantuan
Siswa Miskin (BSM) salah satunya adalah pembelian alat tulis sekolah.
d. Pembelian Seragam Sekolah
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
membeli seragam sekolah disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Responden yang Membeli Seragam Sekolah
Alternatif jawaban
Frekuensi (F) Persentase (%)
Ya
52
33,77
Tidak
102
66,23
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 8 dengan Tabel 9.
Tabel 9. Seragam Sekolah yang Dibeli Responden
Alternatif jawaban
Harga
Frekuensi (F) Persentase (%)
Putih Biru
> Rp 70.000
46
43,39
Sasirangan
Rp 41.000-Rp.50.000
21
19,81
Batik
>Rp 70.000
1
0,94
Pramuka
>Rp 70.000
21
19,81
Olahraga
Rp 41.000-Rp50.000
18
16,98
Jumlah
106
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Pemanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) digunakan untuk
membeli pakaian sekolah (seragam sekolah) seperti seragam sekolah putih biru,
sasirangan, barik, pramuka, dan seragam olah raga. Siswa SMP Negeri 9
Bajarmasin yang mendapatkan dana BSM telah memanfaatkan dana BSM sesuai
dengan tujuan dari pemanfaatan BSM yaitu untuk membeli pakaian sekolah
e.
Pembelian Perlengkapan Sekolah
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
membeli perlengkapan sekolah disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Responden yang Membeli Perlengkapan Sekolah
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
94
61,04
Tidak
60
38,96
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 10 dengan Tabel 11.
Tabel 11. Perlengkapan Sekolah yang Dibeli Responden
Frekuensi
Persentase
Alternatif jawaban
Harga perbuah
(F)
(%)
Sepatu sekolah
>Rp50.000
74
36,09
Tas Sekolah
>Rp 50.000
52
25,36
Topi Sekolah
Rp 21.000-Rp 30.000
34
16,58
Dasi sekolah
Rp 21.000-Rp 30.000
34
16,58
Kacu Pramuka
Rp 21.000-Rp 30.000
6
2,92
Kaos Kaki
Rp 21.000-Rp 30.000
2
0,97
Kerudung sekolah
Rp 21.000-Rp 30.000
2
0,97
Jumlah
205
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memanfaatkan dana Bantuan Siswa
Miskin untuk membeli perlengkapan sekolah sekolah seperti sepatu sekolah, tas
sekolah, topi sekolah, dasi sekolah, kacu pramuka, kaos kaki, dan kerudung
sekolah, serta perlengkapan sekolah lainnya yang diperlukan oleh siswa. Tujuan
7
dari memanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) salah satunya adalah
pembelian perlengkapan sekolah.
f.
Biaya Tansportasi Ke Sekolah
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
biaya transportasi ke sekolah disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Responden yang Menggunakan BSM untuk
BiayaTransportasi ke Sekolah
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
8
5,19
Tidak
145
94,16
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 12 dengan Tabel 13.
Tabel 13. Transportasi yang Digunakan Responden
Alternatif jawaban Harga perbulan
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Angkot
Rp 60.000
1
12,5
Ojek
Rp 60.000
6
75
Sepeda Motor
Rp 60.000
1
12,5
Jumlah
8
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memanfaatkan dana Bantuan Siswa
Miskin sebagai biaya transportasi ke sekolah biaya angkot, ojek, dan biaya
pembelian bahan bakar minyak untuk sepeda motor bagi siswa yang berangkat ke
sekolah menggunakan sepeda motor pribadi. Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin
yang mendapatkan dana BSM juga banyak yang menggunakan sepeda dan
diantar oleh orangtuanya ke sekolah dan dana BSM yang mereka dapatkan tidak
digunakan untuk biaya transportasi melainkan untuk ditabung. Tujuan dari
memanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) salah satunya adalah
pemanfaatan untuk biaya transportasi ke sekolah.
g.
Uang Saku Sekolah
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan sebagai
uang saku ke sekolah disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Responden yang Menggunakan BSM untuk Uang
Saku ke Sekolah
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
30
19,48
Tidak
124
80,52
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 14 dengan Tabel 15.
Tabel 15. Uang Saku yang Digunakan Responden
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Rp 60.000 / bulan
22
73,33
Rp 80.000 / bulan
4
13,33
Rp 150.000 / bulan
>Rp 150.000 / bulan
4
13,33
Jumlah
30
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Pemanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) digunakan uang saku ke
sekolah. Siswa SMP Negeri 9 Bajarmasin yang mendapatkan dana BSM telah
memanfaatkan dana BSM sesuai dengan tujuan dari pemanfaatan BSM yaitu
sebagai uang saku ke sekolah
h. Biaya Kursus
Persentase responden yang menjawab dana BSM dimanfaatkan untuk
biaya kursus disajikan pada Tabel 16.
Tabel 17. Responden yang Menggunakan BSM untuk Biaya Kursus
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
21
13,64
Tidak
133
86,36
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 16 dengan Tabel 17.
Tabel 17. Kursus yang Diikuti Oleh Responden
Frekuensi
Peresentase
Alternatif jawaban
Biaya Persemester
(F)
(%)
Les Private
Rp.100.000-Rp.150.000
9
40,90
Primagama
>Rp.250.000
3
13,63
Ganesha
>Rp.250.000
1
4,54
Kursus B. Inggris
Rp.200.000-Rp.250.000
4
18,18
Kursus Komputer
>Rp.250.000
3
13,63
Kursus Matematika
Rp.150.000-Rp.200.000
1
4,54
Kursus IPA Terpadu Rp.150.000-Rp.200.000
1
4,54
Jumlah
22
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Pemanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) digunakan untuk biaya
kursus seperti les private, primagama, ganesha, kursus B.Inggris, kursus
komputer, kursus Matematika, kursus IPA Terpadu. Siswa SMP Negeri 9
9
Bajarmasin yang mendapatkan dana BSM telah memanfaatkan dana BSM sesuai
dengan tujuan dari pemanfaatan BSM yaitu untuk biaya kursus.
2.
a.
Motivasi Belajar
Semangat Mengulang Pelajaran
Persentase responden yang menjawab semangat mengulang pelajaran
disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Semangat Responden Mengulang Pelajaran
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
143
92,86
Tidak
11
7,14
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 28 dengan Tabel 19 dan Tabel 20.
Tabel 19. Buku Pelajaran yang Sering Dibaca Responden
Belajar saat di
Frekuen
Persentase
Alternatif jawaban
rumah dalam
si (F)
(%)
seminggu
IPS Terpadu
2 kali
114
17,24
IPA Terpadu
2 kali
121
18,30
Matematika
2 kali
117
17,70
B.Indonesia
2 kali
104
15,73
B. Inggris
2 kali
99
14,97
Pendidikan Agama Islam (PAI)
1 kali
90
13,61
PKN
1 kali
5
0,75
TIK
1 kali
7
1,05
Keterampilan
1 kali
1
0,15
Pendidikan Agama Kristen
1 kali
1
0,15
Detik-Detik UN
3 kali
4
0,60
Jumlah
661
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Tabel 20. Durasi Waktu Belajar Responden
Durasi waktu
Frekuensi
Alternatif jawaban
belajar di
(F)
rumah
IPS Terpadu
1 jam
113
IPA Terpadu
1-2 jam
120
Matematika
1-2 jam
118
B.Inggris
1 jam
103
B. Indonesia
1 jam
99
Pendidikan Agama Islam (PAI)
1 jam
89
PKN
1 jam
4
TIK
1 jam
5
Keterampilan
1 jam
1
Pendidikan Agama Kristen
1 jam
1
Detik-Detik UN
1-2 jam
4
Jumlah
654
Persentase
(%)
17,27
18,34
17,88
15,74
15,13
13,60
0,61
0,76
0,15
0,15
0,61
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memiliki semangat untuk belajar seperti
belajar IPS Terpadu, IPA Terpadu, Matematika, B.Indonesia, B.Inggris,
pendidikan Agam Islam (PAI), PKN, TIK, Keterampilan, Pendidikan Agama
Kristen, dan Detik-detik UN, dapat dilihat dari hasil analisis penelitian yang
menyatakan bahwa siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin bersemangat untuk belajar
baik di sekolah maupun di rumah. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
Motivasi belajar adalah tenaga atau inspirasi yang mendorong seseorang untuk
bertindak melakukan sesuatu prestasi yang tinggi (Retno Ningsih, 2005 dalam
Nakman, 2012).
b. Keinginan Siswa Untuk Mengikuti Kegiatan Ekstra Kurikuler
Persentase responden yang menjawab keinginan untuk mengikuti ekstra
kurikuler disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21. Keinginan Responden untuk Mengikuti Ekstra Kurikuler
Alternatif jawaban
Ya
Tidak
Jumlah
Frekuensi (F)
113
40
154
Persentase (%)
73,38
25,97
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 21 dengan Tabel 22.
11
Tabel 22. Ekstra Kurikuler yang Diikuti Oleh Responden
Alternatif jawaban
Pramuka
PMR
Mading
Puisi
Pidato
Drum Bnad
Habsy
Karate
Futsal
Paskibaka
Pencak silat
Tari
Basket
Pengembangan Bahasa
Paduan suara
Sasirangan
Jumlah
Ekstra kurikuler
di sekolah dalam
seminggu
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
2 kali
2 kali
1 kali
1 kali
2 kali
1 kali
1 kali
1 kali
Frekuensi (F) Persentase (%)
53
16
6
3
2
18
6
6
13
4
4
3
8
4
6
1
153
34,64
10,45
3,92
1,96
1,30
11,76
3,92
3,92
8,49
2,61
2,61
1,96
5,22
2,61
3,92
0,65
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memiliki keinginan untuk mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, PMR, mading, puisi, pidato, drumband,
habsy, karate, futsal, paskibraka, pencak silat, tari, basket, pengembangan bahasa,
paduan suara, sasirangan. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Motivasi
belajar adalah tenaga atau inspirasi yang mendorong seseorang untuk bertindak
melakukan sesuatu prestasi yang tinggi (Retno Ningsih, 2005 dalam Nakman,
2012).
c.
Dorongan Dari Diri Siswa Untuk Mengikuti Kursus
Persentase responden yang keinginan untuk mengikuti kursus disajikan
pada Tabel 23.
Tabel 23. Responden yang Mengikuti untuk Kursus
Alternatif jawaban
Frekuensi (F)
Persentase (%)
Ya
47
30,52
Tidak
107
69,48
Jumlah
154
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Responden yang menjawaba “Ya” boleh memilih alternatif jawaban yang
lain lebih dari satu jawaban, hal ini yang menyebabkan terjadi perbedaan
frekuensi antara Tabel 23 dengan Tabel 24.
Tabel 24. Kursus yang Diikuti Oleh Responden
Kursus dalam
Frekuensi
Alternatif jawaban
seminggu
(F)
Les Private
2 kali
23
Primagama
2 kali
4
Ganesha
2 kali
5
Kursus B. Inggris
2 kali
7
Kursus Komputer
3 kali
4
Kursus Matematika
3 kali
10
Kursus Dance
2 kali
1
Wahana Vidya
>3 kali
1
Kursus IPA Terpadu
2 kali
3
Kursus IPS Terpadu
2 kali
1
Jumlah
22
Peresentase
(%)
38,98
6,77
8,47
11,86
6,77
16,94
1,96
1,96
5,08
1,69
100
Sumber: Hasil analisis data primer, 2014
Siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin memiliki dorongan dari dalam diri
sendiri untuk mengikuti kursus seperti les private, primagama, ganesha, kursus
B.Inggris, kursus komputer, kursus matematika, kursus dance, kursus vidya,
kursus IPA Terpadu, kursus IPS Terpadu. Sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa Motivasi belajar adalah tenaga atau inspirasi yang mendorong seseorang
untuk bertindak melakukan sesuatu prestasi yang tinggi (Retno Ningsih, 2005
dalam Nakman, 2012).
3.
Pengaruh Pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin (BSM) terhadap Motivasi
Belajar
Hasil penelitan yang telah dilakukan di SMP Negeri 9 Banjarmasin adalah
tidak ada pengaruh antara pemanfataan Bantuan Siswa Miskin (BSM) terhadap
motivasi belajar siswa. Siswa tidak banyak menggunakan dana Bantuan Siswa
Miskin (BSM) sebagai dana untuk keperluan sekolah melainkan menjadikan dana
Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebagai tabungan. Siswa lebih banyak
memanfaatkan dana bantun siswa miskin untuk membeli alat tulis sekolah dan
perlengkapan sekolah. Alat tulis sekolah yang dimaksudkan seperti pulpen, pensil,
buku tulis, buku gambar, pensil warna, penggaris, sedang perlengkapan sekolah
seperti sepetu, tas, topi, dasi, kacu pramuka, kaos kaki, dan kerudung sekolah.
V.
KESIMPULAN
Hasil penelitian tentang pengaruh pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin
(BSM) terhadap motivasi belajar siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin dapat
disimpulkan bahwa pemanfatan Bantuan Siswa Miskin di SMP Negeri 9
Banjarmasin tidak ada pengaruh terhadap motivasi belajar.
VI.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih dIsampaikan kepada: (1) Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat; (2) Ketua Program Studi
13
Pendidikan Geografi; (3) Bapak Arif Rahman Nugroho, S.Pd., M.Sc. dan Ibu
Farida Angriani, M.Pd.; (4) Bapak/Ibu Dosen pada Program Studi Pendidikan
Geografi; (5) Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin beserta staf; (6) Bapak
kepala SMP Negeri 9 Banjarmasin beserta dewan guru; (7) Semua pihak yang
tidak dapat disebutkan oleh penyusun satu persatu.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Fatmawati. 2012. Motivasi Siswa Kelas IX SMP Negeri Se-Kecamatan
Banjarmasin Barat Melanjutkan ke SMA/Sederajat di Banjarmasin. Skripsi
tidak diterbitkan. Banjarmasin: Strata Satu FKIP UNLAM.
Margono, S. 2005. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Muhammad, H. dan Achmad Jazidie. 2013. Panduan (BSM) bantuan siswa miskin
SD, SMP, SMA, dan SMK. Jakarta: Kemdikbud.
Munadi, Y. 2013. Media Pembelajaran; Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: GP
Press Group.
Nakman. 2012. Pengaruh Penggunaan Bantuan Siswa Miskin Tehadap Semangat
Belajar Siswa, (online),(http: //SKRIPSI/Perpustakaan STAIN Salatiga.htm,
diakses 13 Januari 2014)
Ngadiyana, Y.M. Sidharta Adiyatma. Nasriddin. Ellyn Normelani. Dessy
Arisanty. Rosalina Kumalawati. Eva Alviawati. Norma Yuni Kartika.
Karunia Puji Hastuti. Parida Angriani. 2011. Pedoman Penulisan Karya
Ilmiah. Yogyakarta: Eja Publisher.
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-16/PB/2012 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pencairan dan Penyaluran dan Bantuan Siswa Miskin
dan Beasiswa Bakat dan Prestasi. Jakarta: Kementerian Keuangan Rapublik
Indonesia.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.
PENGETAHUAN GURU IPS TERPADU SMP/SEDERAJAT
DI KECAMATAM BANJARMASIN TIMUR MENGHADAPI
PENERAPAN KURIKULUM 2013
Oleh:
Mita Ariany, H.Sidharta Adyatma, Parida Angriani.
Abstrak
Penelitian ini berjudul “Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013”. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Timur yaitu sebanyak 28 orang. Sampel dalam penelitian
ini sebanyak 28 orang sehingga menggunakan sampel penuh. Teknik
pengumpulan data berdasarkan data primer dan data sekunder. Data primer
didapat melalui kuesioner dan observasi, dan data sekunder di dapat melalui studi
dokumen. Pengolahan data dengan cara editing, skoring dan tabulasi. Analisis
data menggunakan rumus banyak kelas, rumus kelas interval dan rumus
persentase.
Hasil dari penelitian tentang Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013 diketahui bahwa mayoritas Guru IPS memiliki pengetahuan agak
rendah sampai sangat rendah yaitu sebanyak 23 guru dengan persentase 82,14%,
hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi dan pelatihan dari Dinas
Pendidikan maupun tenaga ahli terkait tentang Kurikulum 2013.
Kata Kunci: Pengetahuan, Guru, Kurikulum 2013
I.
PENDAHULUAN
Mutu bangsa Indonesia tergantung pada pendidikan, terutama melalui
pendidikan formal yang diterima anak-anak di sekolah karena pendidikan
merupakan ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Pemerintah melalui
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terus melakukan pembaharuan dan
inovasi dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah pembaharuan dan inovasi
kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan nasional (Kunandar, 2013: 16). Undang – Undang No 20 Tahun 2003
pada Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 menyatakan bahwa kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Indonesia sejak masa awal kemerdekaannya telah melakukan sepuluh kali
pergantian kurikulum. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan pada tahun 2013 mengimplementasikan kurikulum baru sebagai
penyempurnaan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diberi
15
nama kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia
Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta mampu berkontribusi
pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia
(Kunandar, 2013: 16). Kementrian Pendidikan & Kebudayaan menyatakan bahwa
Kurikulum 2013 mengalami perubahan struktur pada semua jenjang satuan
pendidikan.
Peranan seorang guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangat penting
karena pendidikan di sekolah merupakan tanggung jawab seorang guru,
pernyataan disamping sejalan dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang
Tenaga Kependidikan Pasal 39 ayat (1) menyatakan bahwa tenaga kependidikan
bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan,
dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan,
didukung pada ayat (2) bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, memiliki hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Guru dapat menjadi ujung tombok
serta garda terdepan dalam pelaksanakan kurikulum. Pentingnya pengetahuan
guru dalam mengimplementasikan kurikulum selain kompetensi, komitmen dan
tanggung jawab serta kesejahteraan yang harus terjaga. Kompetensi guru bukan
saja menguasai apa yang harus dibelajarkan tapi bagaimana membelajarkan siswa
yang menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang
kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi,
bertanya, mencari tahu dan merefleksi (Hidayat, 2013).
Jumlah SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur adalah 12
Sekolah yang masih menggunakan kurikulum KTSP. Jumlah Guru IPS Terpadu di
Kecamatan Banjarmasin Timur adalah 28 Guru.
Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin menyatakan bahwa seluruh
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur belum menerapkan kurikulum
2013 dan masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Penerapan kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara serentak di seluruh
Indonesia pada tahun ajaran 2014/2015. Hasil observasi awal terhadap guru IPS
Terpadu di SMP Negeri 16 menyatakan bahwa guru mengaku sudah mengetahui
tentang Kurikulum 2013 tetapi guru mengaku masih bingung dalam
mengimplementasikan kurikulum 2013 karena kompetensi guru bukan hanya
menguasai apa yang harus diajarkan tapi bagaimana mengajarkan siswa dengan
cara menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang
kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi,
bertanya, mencari tahu dan merefleksi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Lahirnya kurikulum 2013 untuk menjawab tantangan dan pergeseran
paradigma pembangunan, hal ini sejalan dengan pernyataan yang menyatakan
bahwa kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman,
produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Kunandar, 2013: 16). Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013 menyatakan bahwa Guru
diwajibkan melaksanakan struktur kurikulum 2013 yang terdiri dari:
a.
Kompetensi Inti
Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik
pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai
kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga. Rumusan kompetensi inti
menggunakan notasi sebagai berikut :
1). Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual
2). Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial
3). Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan
4). Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah dapat disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kompetensi Inti Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
Kompetensi Inti Kelas Kompetensi Inti Kelas
Kompetensi Inti Kelas
VII
VIII
IX
1. Menghargai
dan 1. Menghargai
dan 1. Menghargai
dan
menghayati
ajaran
menghayati
ajaran
menghayati
ajaran
agama yang dianutnya
agama yang dianutnya
agama yang dianutnya
2. Menghargai
dan 2. Menghargai
dan 2. Menghargai
dan
menghayati perilaku
menghayati perilaku
menghayati
perilaku
jujur,
disiplin,
jujur,
disiplin,
jujur,
disiplin,
tanggungjawab,
tanggungjawab,
tanggungjawab, peduli
peduli
(toleransi,
peduli
(toleransi,
(toleransi,
gotong
gotong
royong),
gotong
royong),
royong),
santun,
santun, percaya diri,
santun, percaya diri,
percaya diri, dalam
dalam
berinteraksi
dalam
berinteraksi
berinteraksi
secara
secara efektif dengan
secara efektif dengan
efektif
dengan
lingkungan sosial dan
lingkungan sosial dan
lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
alam dalam jangkauan
alam dalam jangkauan
pergaulan
dan
pergaulan
dan
pergaulan
dan
keberadaannya
keberadaannya
keberadaannya
3. Memahami
3. Memahami
dan 3. Memahami
dan
pengetahuan (faktual,
menerapkan
menerapkan
konseptual,
dan
pengetahuan (faktual,
pengetahuan (faktual,
prosedural)
konseptual,
dan
konseptual,
dan
berdasarkan rasa ingin
prosedural)
prosedural)
tahunya tentang ilmu
berdasarkan rasa ingin
berdasarkan rasa ingin
pengetahuan,
tahunya tentang ilmu
tahunya tentang ilmu
teknologi,
seni,
pengetahuan,
pengetahuan, teknologi,
budaya
terkait
teknologi,
seni,
seni, budaya terkait
fenomena
dan
budaya
terkait
fenomena dan kejadian
kejadian tampak mata
fenomena
dan
tampak mata
kejadian tampak mata
17
4. Mencoba, mengolah, 4. Mengolah, menyaji, 4. Mengolah,
menyaji,
dan menyaji dalam
dan menalar dalam
dan menalar dalam
ranah
konkret
ranah
konkret
ranah
konkret
(menggunakan,
(menggunakan,
(menggunakan,
mengurai, merangkai,
mengurai, merangkai,
mengurai, merangkai,
memodifikasi,
dan
memodifikasi,
dan
memodifikasi,
dan
membuat) dan ranah
membuat) dan ranah
membuat) dan ranah
abstrak
(menulis,
abstrak
(menulis,
abstrak
(menulis,
membaca,
membaca,
membaca, menghitung,
menghitung,
menghitung,
menggambar,
dan
menggambar,
dan
menggambar,
dan
mengarang)
sesuai
mengarang)
sesuai
mengarang)
sesuai
dengan yang dipelajari
dengan
yang
dengan
yang
di sekolah dan sumber
dipelajari di sekolah
dipelajari di sekolah
lain yang sama dalam
dan sumber lain yang
dan sumber lain yang
sudut pandang/teori
sama dalam sudut
sama dalam sudut
pandang/teori
pandang/teori
b.
Mata Pelajaran dan Alokasi Waktu
Mata pelajaran dan alokasi waktu disusun berdasarkan kompetensi inti
yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Susunan mata pelajaran dan
alokasi waktu untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah yaitu :
1) Struktur Kurikulum mata pelajaran dan alokasi waktu (ISI) yang terdiri dari :
a). TIK menjadi media semua mata pelajaran
b). Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan
ekstrakurikuler
c). Jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10
d). Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan
pembelajaran
2). Proses Pembelajaran yang terdiri dari :
a). Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan
Konfirmasi dilengkapi dengan Mengamati, Menanya, Mengolah,
Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta.
b). Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan
sekolah dan masyarakat
c). Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
d). Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
e). IPS diajarkan secara terpadu
3). Penilaian hasil belajar yang terdiri dari :
a). Penilaian berbasis kompetensi
b). Pergeseran dari penilain melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan
berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur semua
kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan
hasil)
c). Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil
belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal
(maksimal)
d). Penilaian tidak hanya pada level KD (Kompetensi Dasar), tetapi juga
kompetensi inti dan SKL (Standar Kelulusan)
e). Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen
utama penilaian.
c.
Beban Belajar
Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta
didik dalam satu minggu, satu semester dan satu tahun pembelajaran.
1). Beban belajar di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
dinyatakan dalam jam pembelajaran per minggu.
Beban belajar satu minggu Kelas VII, VIII, dan IX adalah 38 jam
pembelajaran.
Durasi setiap satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
2). Beban belajar di Kelas VII, VIII, dan IX dalam satu semester paling sedikit
18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
3). Beban belajar di kelas IX pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu dan
paling banyak 20 minggu.
4). Beban belajar di kelas IX pada semester genap paling sedikit 14 minggu dan
paling banyak 16 minggu.
5). Beban belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 36 minggu dan paling
banyak 40 minggu.
d.
Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan
kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta
didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar
dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti
sebagai berikut :
1). Kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka
menjabarkan KI-1
2). Kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka
menjabarkan KI-2
3). Kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka
menjabarkan KI-3
4). Kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka
menjabarkan KI-4.
e.
Muatan Pembelajaran
Muatan pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah yang berbasis pada konsep-konsep terpadu dari berbagai disiplin ilmu
untuk tujuan pendidikan adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS
dikembangkan sebagai mata pelajaran dalam bentuk integrated social studies.
Muatan IPS berasal dari sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Mata pelajaran
19
IPS merupakan program pendidikan yang berorientasi aplikatif, pengembangan
kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan
sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Tujuan
pendidikan IPS menekankan pada pemahaman tentang bangsa, semangat
kebangsaan, patriotisme, dan aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang
atau space wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Integrasi berbagai
konsep dalam mata pelajaran IPS menggunakan pendekatan trans-disciplinarity
dimana batas-batas disiplin ilmu tidak lagi tampak secara tegas dan jelas, karena
konsep-konsep disiplin ilmu berbaur atau terkait dengan permasalahanpermasalahan yang dijumpai di sekitar. Kondisi diatas memudahkan pembelajaran
IPS menjadi pembelajaran yang kontekstual. Pembelajaran IPS diintegrasikan
melalui konsep ruang, koneksi antar ruang, dan waktu. Ruang adalah tempat
dimana manusia beraktivitas, koneksi antar ruang menggambarkan mobilitas
manusia antara satu tempat ke tempat lain, dan waktu menggambarkan masa
dimana kehidupan manusia terjadi.
III. METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.
Teknik pengumpulan data berdasarkan data primer dan data sekunder. Data
primer didapat melalui kuesioner dan observasi, dan data sekunder di dapat
melalui studi dokumen. Pengolahan data dengan cara editing, skoring dan
tabulasi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan dilaksanakan untuk mengetahui
Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur
Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013.
a.
Pengetahuan Terhadap Kompetensi Inti
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan bahwa kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia
peserta didik pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal
berbagai kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga. Rumusan
kompetensi inti menggunakan notasi yaitu Kompetensi Inti-1 untuk kompetensi
inti sikap spiritual, Kompetensi Inti-2 untuk kompetensi inti sikap sosial,
Kompetensi Inti-3 untuk kompetensi inti pengetahuan dan Kompetensi Inti-4
untuk kompetensi inti keterampilan. Berdasarkan hasil penelitian kepada Guru
IPS Terpadu SMP/Sederajat Di Kecamatan Banjarmasin Timur diketahui bahwa
sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak rendah sebanyak 14 guru dengan
persentase 50%, sedangkan sebagian kecil guru memiliki pengetahuan agak tinggi
sebanyak 3 guru dengan persentase 14,29%. Mayoritas Guru IPS Terpadu
memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah terhadap Kompetensi
Inti sebanyak 21 guru dengan persentase 75%.
b. Pengetahuan Terhadap Mata Pelajaran dan Alokasi Waktu
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan bahwa mata pelajaran dan alokasi waktu disusun berdasarkan
kompetensi inti yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Mata
pelajaran dan alokasi waktu terdiri dari struktur mata pelajaran, proses
pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian kepada
Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Di Kecamatan Banjarmasin Timur diketahui
bahwa sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah sebanyak 14 guru
dengan persentase 50%, sedangkan sebagian kecil guru memiliki pengetahuan
sedang sebanyak 3 guru dengan persentase 10,71%. Mayoritas Guru IPS Terpadu
memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah terhadap mata pelajaran
dan alokasi waktu yaitu sebanyak 25 guru dengan persentase 89,29%.
c.
Pengetahuan Terhadap Beban Belajar
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan bahwa beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus
diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun
pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian kepada Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat Di Kecamatan Banjarmasin Timur diketahui bahwa sebagian besar
guru memiliki pengetahuan agak rendah sebanyak 8 guru dengan persentase
28,57%, sedangkan sebagian kecil guru memiliki pengetahuan sangat tinggi
sebanyak 1 guru dengan persentase 3,57%. Mayoritas Guru IPS Terpadu memiliki
pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah terhadap beban belajar yaitu
sebanyak 16 guru dengan persentase 57,14%.
d. Pengetahuan Terhadap Kompetensi Dasar
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan bahwa kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi
inti. Rumusan kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian kepada Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Di
Kecamatan Banjarmasin Timur diketahui bahwa sebagian besar guru memiliki
pengetahuan sangat rendah yaitu sebanyak 16 guru dengan persentase 57,14%,
sedangkan sebagian kecil guru memiliki pengetahuan agak tinggi yaitu sebanyak
3 guru dengan persentase 10,71%. Mayoritas Guru IPS Terpadu memiliki
pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah terhadap kompetensi dasar yaitu
sebanyak 25 guru dengan persentase 89,29%.
e.
Pengetahuan Terhadap Muatan Pembelajaran
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan
bahwa
muatan
pembelajaran
di
Sekolah
Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah yang berbasis pada konsep-konsep terpadu dari
berbagai disiplin ilmu untuk tujuan pendidikan adalah Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) yang dikembangkan sebagai mata pelajaran dalam bentuk integrated social
studies. Berdasarkan hasil penelitian kepada Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Di
Kecamatan Banjarmasin Timur diketahui bahwa sebagian besar guru memiliki
pengetahuan sangat rendah yaitu sebanyak 17 guru dengan persentase 60,71%,
sedangkan sebagian kecil guru memiliki pengetahuan agak tinggi yaitu sebanyak
1 guru dengan persentase 3,57%. Mayoritas Guru IPS Terpadu memiliki
21
pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah terhadap kompetensi dasar yaitu
sebanyak 21 guru dengan persentase 74,99%.
f.
Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Di Kecamatan
Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menyatakan bahwa Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013 menjelaskan tentang
5 subvariabel yaitu pengetahuan kompetensi inti yang terdiri dari sikap spiritual,
sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan, pengetahuan mata pelajaran dan
alokasi waktu yang terdiri dari struktur mata pelajaran, proses pembelajaran dan
penilaian hasil belajar, pengetahuan beban belajar yang terdiri dari beban belajar
per minggu, durasi setiap satu jam pembelajaran, beban belajar satu semester dan
beban belajar satu tahun, pengetahuan kompetensi dasar yang terdiri dari rumusan
sikap spiritual, rumusan sikap sosial, rumusan pengetahuan mata pelajaran IPS
dan rumusan keterampilan mata pelajaran IPS dan pengetahuan muatan
pembelajaran yang terdiri dari model pembelajaran, jenis modul pelatihan dan
orientasi program pendidikan mata pelajaran IPS.
Hasil perhitungan persentase jawaban Guru IPS yang berjumlah 28 guru
dapat diketahui bahwa mayoritas Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Timur memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah
terhadap penerapan Kurikulum 2013 yaitu sebanyak 23 guru dengan persentase
82,14% sehingga hipotesis pada penelitian terbukti.
Guru bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi
proses pembelajaran merupakan titik sentral dalam pendidikan. Dalam hal ini,
gurulah yang melaksanakan proses pembelajaran secara langsung kepada siswa.
Proses pendidikan yang baik dapat dicapai apabila guru memiliki kemampuan
yang memadai. Guru memberikan peranan sangat besar pada kualitas pendidikan
(Praditaliana, 2012: 19). Kurangnya Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Timur Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013 diakui karena guru masih menggunakan kurikulum lama
sehingga belum mempersiapkan diri menghadapi penerapan kurikulum 2013 dan
kurang adanya sosialisasi maupun pelatihan yang didapat dari Dinas Pendidikan
maupun tenaga ahli terkait tentang Kurikulum 2013. Sebagian besar guru
mengaku belum mengetahui dan memahami isi dari kurikulum 2013, sehingga
sebagian guru mengaku hanya mendapat informasi tentang kurikulum 2013 lewat
media internet. Pelatihan tentang Kurikulum 2013 memang pernah diadakan tetapi
hanya beberapa orang guru yang menjadi perwakilan sekolah dan informasi
tentang kurikulum 2013 yang disampaikan diakui beberapa guru masih bersifat
umum dan mengenai informasi kurikulum 2013 untuk mata pelajaran IPS Terpadu
masih belum pernah disampaikan secara khusus, maka sebagian besar guru
mengaku kesulitan ketika ditanya tentang penerapan kurikulum 2013 khususnya
untuk mata pelajaran IPS Terpadu. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang
menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pengetahuan guru berasal dari
dalam maupun dari luar. Faktor yang berasal dari dalam diri guru yaitu motivasi,
bakat, intelegensi, kemandirian, kreativitas, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Faktor yang berasal dari luar yaitu lingkungan keluarga, pendidikan formal,
informasi dunia kerja, sarana dan prasarana belajar, serta pengalaman mengajar
(Praditaliana, 2012: 23). Sebagian besar guru berharap agar diadakan sosialisasi
maupun pelatihan dari Dinas Pendidikan maupun tenaga ahli terkait tentang
kurikulum 2013 khususnya untuk mata pelajaran IPS Terpadu.
V.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dengan responden yaitu guru IPS Terpadu
tentang Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Timur menghadapi penerapan Kurikulum 2013 maka dapat
disimpulkan bahwa mayoritas Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Timur menghadapi penerapan Kurikulum 2013 memiliki
pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah yaitu sebanyak 23 guru dengan
persentase 82,14%, sehingga hipotesis pada penelitian terbukti. Kurangnya
pengetahuan guru disebabkan karena kurangnya sosialisasi dan pelatihan dari
Dinas Pendidikan maupun tenaga ahli terkait tentang Kurikulum 2013.
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih oleh penulis sampaikan kepada dosen pengampu
yang telah memberikan pemahaman kepada penulis mengenai penyusunan jurnal
penelitian.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pedekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Hasbullah. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Hayati, Rahmah. 2010. Upaya Orang Tua Siswa SMP Negeri 2 Bati-Bati
Memotivasi Kegiatan Belajar Di Rumah Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi.
Banjarmasin: FKIP UNLAM.
Hidayat, Sholeh. 2013. Kesiapan Guru Menyongsong Kurikulum 2013, (Online),
(http://untirta.ac.id.html, diakses 02 Januari 2014).
Khairiah. 2010. Kesiapan Guru SMP Negeri 5 Banjarmasin dalam Penerapan
KTSP. Skripsi. Banjarmasin: FKIP UNLAM.
Kusuma. 2013. Analisis Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum 2013
pada Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jurnal. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Kunandar. 2013. Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum
2013. Jakarta: Rajawali Pers.
Masduki, M. dkk. 1990. Pengantar Statistika. Banjarmasin: Lambung Mangkurat
University Press.
Muzamiroh, M. L. 2013. Kupas Tuntas Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena.
Ngadiyana, Y. M. dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Eja
Publisher.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/
Madrasah Tsanawiyah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
23
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada.
Susilo, Try. 2010. Kesiapan Guru SMAN 1 Plaihari Kecamatan Plaihari
Kabupaten Tanah Laut dalam Penerapan KTSP. Skripsi. Banjarmasin:
FKIP UNLAM.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
KEBISINGAN LALU LINTAS KENDARAAN BERMOTOR PADA
RUAS JALAN DI KECAMATAN BANJARMASIN TENGAH
Oleh
Khairina, Deasy Arisanty, H.Sidharta Adyatma
Abstrak
Penelitian ini berjudul “ Kebisingan Lalu Lintas Kendaraan Bermotor pada
Ruas Jalan di Kecamatan Banjarmasin Tengah”. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui jumlah kendaraan bermotor, skala intensitas tingkat kebisingan
dan hubungan jumlah kendaraan dengan tingkat kebisingan pada ruas jalan di
Kecamatan Banjarmasin Tengah. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah kendaraan bermotor. Sampel
dalam penelitian ini adalah semua kendaraan bermotor yang melintas pada ruas
jalan di Kecamatan Banjarmasin Tengah. Teknik pengumpulan data berdasarkan
data primer dan data sekunder. Pengolahan data dengan cara editing dan
tabulating. Analisis data menggunakan rumus interval, persentase dan analisis
regresi linear: satu prediktor.Hasil dari penelitian tentang Kebisingan Lalu Lintas
Kendaraan Bermotor pada Ruas Jalan di Kecamatan Banjarmasin Tengah bahwa
rerata tingkat jumlah kendaraan bermotor/menit yang melintas saat jam sibuk
pada waktu pagi (07.00-08.30 WITA) adalah agak banyak berjumlah 89 unit
dengan persentase 41%, siang (12.30-14.00 WITA) adalah agak banyak berjumlah
68 unit dengan persentase 33%, dan sore (16.30-18.00 WITA) adalah sangat
sedikit berjumlah 72 unit dengan persentase 33%. Rerata skala intensitas tingkat
kebisingan saat jam sibuk pada waktu pagi (07.00-08.30 WITA) adalah keras,
rerata tingkat kebisingan/menit 76,6 dB A dengan persentase 67%, siang (12.3014.00 WITA) adalah keras yaitu 74,7 dB A dengan persentase 92%, dan sore
(16.30-18.00 WITA) adalah keras yaitu 76,7 dB A dengan persentase 75%. Ada
hubungan jumlah kendaraan bermotor dengan tingkat kebisingan pada ruas di
Kecamatan Banjarmasin Tengah, hal ini disebabkan jalan di Kecamatan
Banjarmasin Tengah adalah jalan utama sehingga banyak kendaraan bermotor
yang melintas, sehingga menyebabkan tingkat kebisingan tinggi.
Kata Kunci: Kendaraan Bermotor, Lalu Lintas dan Kebisingan
I. PENDAHULUAN
Transportasi adalah kegiatan pemindahan barang dan manusia dari tempat
asal (origin) ke tempat tujuan (destination) (Adisasmita, 2012). Transportasi
berfungsi sebagai faktor penunjang, perangsang pembangunan (the promoting
sector) dan pemberi jasa (the service sector) bagi perkembangan ekonomi
(Nasution dalam Petrus, 2010). Transportasi terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
transportasi darat, transportasi air, transportasi udara. Transportasi darat tidak
lepas dari adanya kegiatan kendaraan bermotor, semakin meningkatnya
kepemilikan kendaraan bermotor, baik milik pribadi maupun yang dipergunakan
untuk usaha, semakin meningkatkan kepadatan arus lalulintas di jalan raya.
Transportasi dapat menurunkan kualitas lingkungan yang diakibatkan oleh
25
padatnya arus lalulintas, antara lain : kebisingan, polusi udara dan getaran (Zaini,
2013).
Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki oleh pendengaran
manusia yang mempunyai multi frekuensi dan multi amplitudo dan umumnya
terjadi pada frekuensi tinggi (Nasri dalam Leksono, 2009). Kebisingan memiliki
efek terhadap kesehatan. Efek kebisingan terhadap kesehatan terbagi menjadi dua
yaitu efek terhadap pendengaran dan efek terhadap non pendengaran. Efek
terhadap pendengaran terdiri dari pergeseran nilai ambang batas sementara yang
bersifat sementara dan non patologis dan pergeseran nilai ambang batas menetap
yang bersifat patologis dan menetap, terjadi di tempat kerja karena trauma akustik
dan kebisingan dan terjadi bukan di tempat kerja. Efek terhadap gangguan bukan
pendengaran, dapat berupa: penyakit akibat stress, kelelahan, perubahan
penampilan dan ganggguan komunikasi (Mokuno dalam Rahayu, 2010).
Kebisingan lalu lintas jalan merupakan sumber utama yang mengganggu
sebagian besar masyarakat perkotaan. Sumber bising lalulintas jalan antara lain
berasal dari kendaraan bermotor, baik roda dua, tiga maupun roda empat, dengan
sumber penyebab bising antara lain dari bunyi klakson saat kendaraan ingin
mendahului atau minta jalan dan saat lampu lalulintas tidak berfungsi. Gesekan
mekanis antara ban dengan badan jalan pada saat pengereman mendadak dan
kecepatan tinggi; suara knalpot akibat penekanan pedal gas secara berlebihan atau
knalpot imitasi; tabrakan antara sesama kendaraan; pengecekan perapian di
bengkel pemeliharaan; dan frekuensi mobilitas kendaraan, baik dalam jumlah
maupun kecepatan (Depkes, 1995).
Kendaraan bermotor di Kalimantan Selatan angka pertumbuhannya sangat
pesat dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 terjadi pada tiap moda kendaraan
dimana untuk prosentase peningkatan diatas 10% pada moda sepeda motor
dengan prosentase peningkatan sebesar 13% pertahunnya (Badan Pusat Statistik –
Kepolisian Republik Indonesia, 2013).Data kendaraan bermotor di wilayah Kota
Banjarmasin dari tahun 2009 hingga 2010 juga mengalami kenaikan yaitu dari
315.552 unit menjadi 365.630 unit; pada tahun 2011 hingga 2012 mengalami
sedikit penurunan dari 367.697 unit menjadi 360.611 dan tahun 2013 mengalami
peningkatan lagi menjadi 391.766. Tahun 2011 hingga 2012 mengalami
penurunan namun kepadatan di Kota Banjarmasin terus meningkat apalagi di
kecamatan Banjarmasin Tengah, disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Jumlah Kendaraan Bermotor Kota Banjarmasin
Tipe
No
Kendaraan
2009
2010
2011
2012
2013
Bermotor
1 Sedan
3.991
4.253
3.955
3.892
3.732
2 Jeep
6.824
7.324
7.560
7.371
7.783
3 S.Wagon
0
0
42
35.643
431
4 M.Bus
24.756
28.749
32.618
405
40.362
5 Bus
79
65
65
19
19
6 Pick Up
9.974
11.234
12.081
13.690
14.620
7 Truck
9.653
9.918
10.014
9.275
9.693
8 A.Berat
3
1
1
45
64
No
Tipe
Kendaraan
Bermotor
2009
2010
2011
2012
9
Spd.Motor
226.276
249.907
224.698
194.104
10
Scoter
33.502
53.685
76.214
95.615
11
R3 Bermotor
40
494
449
552
315.552
365.630
367.697
360.611
Jumlah
2013
180.86
8
113.35
9
601
371.53
2
Sumber : Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Banjarmasin, 2014
Arus lalu lintas di jalan terdiri dari berbagai tipe kendaraan antara lain:
sepeda motor, mobil penumpang, taksi, mini bus, pick up, bus, truk ringan dan
kendaraan berat yang mempunyai tingkat kebisingan masing-masing, sehingga
kebisingan lalu lintas dipengaruhi oleh jenis kendaraan yang melintasi jalan
(Wardika, 2010). Kecamatan Banjarmasin Tengah adalah salah satu kecamatan di
Kota Banjarmasin. Kecamatan Banjarmasin Tengah mempunyai luas wilayah
11,66 km2 (BPS, 2013). Jalan arteri di kecamatan Banjarmasin Tengah berjumlah
tiga jalan disajikan pada Tabel 2.
No
1
2
3
Tabel 2. Data Nama Jalan di Kecamatan Banjarmasin Tengah
Klasifikasi Jalan
Tipe
Nama Jalan
Jalan
Fungsi/Peranan
Pembinaan
Perintis Kemerdekaan
2/2 UD
Arteri Sekunder
Kota
Jendral Sudirman
4/2 D
Arteri Sekunder
Kota
Pangeran Samudera
4/1 UD
Arteri Primer
Nasional
Sumber:Dinas Perhubungan, Komunikasi Dan Informatika Banjarmasin, 2014
Jalan arteri adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara efisien. Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem
jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk
pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan menghubungkan semua
simpul jasa distribusi yang terwujud dalam pusat-pusat kegiatan. sistem jaringan
jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan
perkotaan(Adisasmita, 2012). Jalan arteri di Kecamatan Banjarmasin Tengah
merupakan jalan yang sering mengalami kepadatan yang cukup tinggi, di sajikan
dalam Tabel 3.
27
Tabel 3. Data Kepadatan Arus Lalu Lintas dan Jam Padat Perjam
Tahun 2013.
Kepadatan
Panjan
Nama Ruas
Lebar
Kapasitas
Lalu
Jam
No
g
Jalan
(M)
(*SMP)
Lintas
Terpadat
(M)
(*SMP)
1
2
4
5
6
Ahmad Yani
1
26,0
602
7896
0,58
15.00-16.00
Km.1
Ahmad Yani
2
23,0
297
7256
0,93
07.00-08.00
Km.3
3 Sutoyo S.
10,0
3.213
3792
0,97
08.45-09.45
4 S. Parman
13,4
1.397
5175
0,71
07.30-08.30
5 Hasan Basri
14,4
2.918
5442
0,69
07.15-08.15
6 P. Antasari
15,5
1.498
5762
0,47
07.30-08.30
7 P. Samudera
15,3
827
4974
0,58
07.00-08.00
8 Sudirman
09,0
377
5122
0,67
15.30-16.30
Perintis
9
09,3
455
2658
0,65
16.30-17.30
Kemerdekaan
Sumber: Dinas Perhubungan, Komunikasi Dan Informatika Banjarmasin, 2013
Keterangan :
*SMP: Satuan Mobil Penumpang
Kendaraan bermotor, jika ditinjau secara teliti penyebab kebisingannya
akan ditentukan oleh: mesin kendaraan, jenis motor bakar, jenis kipas angin
pendinginan, system pembuangan gas sisa, hisapan dari karburator, jenis ban
(standar atau radial) dan bentuk kendaraan (Widyantoro, 2011). Kendaraan
bermotor yang melewati jalan raya berpengaruh terhadap kualitas lingkungan baik
dari segi polusi udara, polusi suara (kebisingan), polusi air tanah maupun getaran.
kendaraan bermotor dengan pemakaian yang semakin bertambah, tingkat
kebisingan di tepi jalan raya di beberapa kota besar di Indonesia umumnya
mendekati 70 hingga 80 dB (Sembiring dalam Mediastika, 2005). Peningkatan
jumlah kendaraan bermotor adalah waktu dimana lalu lintas kendaraan bermotor
yang melewati jalan menjadi lebih banyak yang disebabkan oleh peningkatan
jumlah pengguna jalan sehubungan dengan aktivitasnya seperti dimulainya jam
masuk sekolah untuk pelajar dan jam masuk kerja oleh para pekerja pada pagi
hari, selesainya jam sekolah dan adanya waktu istirahat kerja untuk pekerja pada
siang hari, dan selesainya waktu kerja untuk para pekerja pada sore harinya
(Suharyono dalam Sumarawati, 2004). Observasi awal tentang jam-jam sibuk
pada ruas jalan arteri primer dan sekunder di Kecamatan Banjarmasin Tengah
terjadi pada waktu pagi jam 07.00 – 08.30 WITA disebabkan oleh aktivitas orang
berangkat kerja dan sekolah, siang jam 12.30 – 14.00 WITA disebabkan oleh
aktivitas orang pulang sekolah dan waktu istirahat kerja dan sore jam 16.30 –
18.00 WITA disebabkan oleh aktivitas orang pulang kerja.
Penelitian dilaksanakan pada ruas jalan arteri primer dan sekunder di
Kecamatan Banjarmasin Tengah dengan mempertimbangkan volume kendaraan
bermotor yang melintas di jalan arteri primer dan sekunder tiap tahun semakin
bertambah karena ruas jalan berada di kota dan sebagai jalur utama kendaraan
umum yang menuju daerah lain. Sumber bunyi dari mesin kendaraan yang lewat
akan memberikan efek kebisingan pada masyarakat yang tinggal dan bekerja ,
maka penelitian ini berjudul “Kebisingan Lalu Lintas Kendaraan Bermotor
Pada Ruas Jalan di Kecamatan Banjarmasin Tengah”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kendaraan diklasifikasikan karena kendaraan menghasilkan spektrum
bunyi yang berbeda, yang dimaksud kendaraan adalah unsur lalu lintas di atas
roda. Secara umum, kendaraan yang beroperasi di jalan raya dapat dikelompokkan
dalam beberapa kategori (Sam, 2012) :
1. Kendaraan berat (HV)
Kendaraan berat adalah kendaraan bermotor dengan lebih dari 4 roda meliputi
bis, truk 2 as, truk 3 as, dan truk kombinasi.
2. Kendaraan ringan (LV)
Kendaraan ringan adalah kendaraan bermotor ber as dua dengan empat roda
dan dengan jarak as 2,0-3,0 m. Kendaraan ini meliputi mobil penumpang,
microbus, pick up, dan truk kecil.
3. Sepeda motor (MC)
Kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda, meliputi sepeda motor dan
kendaraan roda 3.
4. Kendaraan tak bermotor (UM)
Kendaraan dengan roda yang digerakkan oleh manusia atau hewan, meliputi
sepeda, becak, kereta kuda, dan kereta dorong.
Bising adalah setiap bunyi gabungan dari berbagai bunyi-bunyian yang
mempunyai efek tidak menyenangkan atau tidak diingini pada perasaan para
pendengar yang tingkat atau intensitasnya dapat diukur. Bunyi adalah suatu
gelombang berupa getaran dari molekul-molekul zat yang saling berada satu
dengan yang lain secara terkoordinasi sehingga menimbulkan gelombang dan
meneruskan energi serta sebagian dipantulkan kembali (Mustofa dalam Razib,
2000).
Sumber bising ada dua bentuk, yaitu (Sasongko dan Hadiyarto dalam Hadi
1998):
1. sumber titik, berasal dari sumber suara yang berhenti. Penyebaran sumber
bising ini berbentuk bola-bola konsentris dengan sumber bising sebagai pusat
dan menyebar dengan kecepatan suara 360 meter/detik.
2. sumber garis, berasal dari sumber bising yang bergerak dan menyebar di udara
dalam bentuk silinder konsentris dengan kecepatan 360 meter/detik. berbentuk
silinder yang memanjang. Sumber bising ini berasal dari kegiatan transportasi.
Lalu lintas pada saat ini merupakan sumber bising yang paling dominan.
Penyebab kebisingan dari kendaraan bermotor, jika ditinjau secara teliti akan
ditentukan faktor - faktor sebagai berikut (Widyantoro, 2011):
29
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Mesin Kendaraan
Jenis motor bakar
Jenis kipas angin pendinginan
System pembuangan gas sisa
Hisapan dari karburator
Jenis ban (standart atau radial)
Bentuk Kedaraan.
Menurut Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Tingkat kebisingan
adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat Db.
Tingkat kebisingan dapat diklasifikasikan berdasarkan intensitas yang diukur
dengan satuan decibel (dB) seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Skala Intensitas Tingkat Kebisingan (dB A)
Tingkat Bising dB (A)
Sumber Bunyi
Skala Intensitas
Gemerisik daun Suara
0 – 20
Sangat tenang
gemerisik
20 – 40
Perpustakaan, Percakapan
Tenang
Radio pelan, Percakapan
40 – 60
Sedang
keras Rumah, gaduh Kantor
Perusahaan, Radio keras,
60 – 80
Keras
Jalan
Peluit polisi, Jalan raya
80 – 100
Pabrik tekstil, Pekerjaan
Sangat keras
Mekanis
Ruang ketel, Mesin turbin
100 – 120
uap, Mesin diesel besar,
Sangat amat keras
Kereta bawah tanah
Ledakan bom, Mesin jet
>120
Menulikan
Mesin roket
Sumber: Suharsono dalam syarif, 2013
III. METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.
Teknik pengumpulan data berdasarkan data primer dan data sekunder. Data
primer di dapat melalui obsevasi lapangan dan data sekunder di dapat melalui
studi dokumen. Pengolahan data dengan cara editing dan tabulating. Analisis data
menggunakan rumus interval, persentase dan analisis regresi linear: satu
prediktor.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan dilaksanakan untuk mengetahui jumlah
kendaraan bermotor, skala intensitas tingkat kebisingan dan hubungan jumlah
kendaraan dengan tingkat kebisingan pada ruas jalan di Kecamatan Banjarmasin
Tengah.
1. Jumlah Kendaraan Bermotor
Rerata jumlah kendaraan bermotor/menit yang melintas saat jam sibuk
pada waktu pagi (07.00-08.30 WITA), siang (12.30-14.00 WITA) dan sore
(16.30-18.00 WITA) di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Jenderal Sudirman
dan Jalan Pangeran Samudera diketahui paling banyak adalah saat jam sibuk pada
waktu pagi (07.00-08.30 WITA) pada ruas Jalan Pangeran Samudera hari senin
berjumlah 152 unit, karena di Jalan Pangeran Samudera orang yang berangkat
kerja dan sekolah melalui jalan ini sebagai jalur utama. Rerata jumlah kendaraan
bermotor/menit yang melintas paling sedikit adalah saat jam sibuk pada waktu
pagi (07.00-08.30 WITA) pada ruas Jalan Jenderal Sudirman hari minggu
berjumlah 7 unit, karena hari minggu adalah hari libur dan adanya aktivitas lari
pagi di jalan ini sehingga ditutup satu arah jalan di jalan ini.
2. Skala Intensitas Tingkat Kebisingan
Rerata tingkat kebisingan kendaraan bermotor/menit saat jam sibuk pada
waktu pagi (07.00-08.30 WITA), siang (12.30-14.00 WITA) dan sore (16.3018.00 WITA) di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Jenderal Sudirman dan
Jalan Pangeran Samudera diketahui paling tinggi adalah saat jam sibuk pada
waktu pagi(07.00-08.30 WITA) hari senin pada ruas jalan pangeran samudera
yaitu 85,1 (dB A), hal ini disebabkan rerata jumlah kendaraan bermotor/menit
yang melintas pada ruas Jalan Pangeran Samudera hari senin paling banyak dari
yang lainnya yaitu berjumlah 152 unit. Kebisingan yang tinggi kebanyakan
disebabkan oleh knalpot yang tidak standar SNI, sehingga menyebabkan bunyi
yang sangat tinggi selain itu disebabkan oleh jenis kendaraan bermotor. Jenis
kendaraan bermotor yang sudah lama maka semakin tinggi mengeluarkan bunyi
meskipun Jalan Pangeran Samudera ini mempunyai lebar jalan 15,3 meter tetapi
tidak memepunyai median jalan, tidak adanya pohon-pohon disamping jalan yang
menghambat kebisingan dan Jalan Pangeran Samudera mempunyai jalur satu arah
sehingga kecepatan kendaraan bermotor sedikit lebih tinggi dari Jalan Perintis
Kemerdekaan dan Jalan Jenderal Sudirman sehingga kebisingannya akan lebih
tinggi. Rerata tingkat kebisingan kendaraan bermotor/menit paling rendah adalah
saat jam sibuk pada waktu pagi (07.00-08.30 WITA) hari minggu pada ruas Jalan
Jenderal Sudirman yaitu 57,2 (dB A), hal ini disebabkan jumlah kendaraan
bermotor/menit yang melintas sangat sedikit, lebar jalan jenderal sudirman lebih
lebar dari yang lainnya yaitu 18 meter, mempunyai median jalan yang ditanami
pohon-pohon dan samping jalannya juga ditanami pohon-pohon, sehingga sedikit
menghambat kebisingan yang terjadi pada Jalan Jenderal Sudirman.
3. Hubungan Jumlah Kendaraan Dengan Tingkat Kebisingan Pada Ruas
Jalan Di Kecamatan Banjarmasin Tengah
Ada hubungan antara jumlah kendaraan bermotor dengan tingkat
kebisingan di tiap ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Jenderal Sudirman dan
Jalan Pangeran Samudera saat jam sibuk pada waktu pagi (07.00-08.30 WITA),
siang (12.30-14.00 WITA) dan sore (16.30-18.00 WITA). Jam sibuk pada waktu
pagi (07.00-08.30 WITA) memiliki korelasi yang paling tinggi dari jam sibuk
lainnya yaitu 0,955 karena tingkat kebisingannya tinggi, hal ini disebabkan jumlah
kendaraan bermotor yang melintas banyak saat jam sibuk pada waktu pagi,
31
sehingga adanya hubungan jumlah kendaraan bermotor dengan tingkat
kebisingan. Jam sibuk pada waktu siang korelasinya berjumlah 0,919 karena
tingkat kebisingan sedikit lebih rendah daripada waktu pagi, hal ini disebabkan
oleh jumlah kendaraan bermotor yang melintas tidak sebanyak pada waktu pagi,
sehingga adanya hubungan jumlah kendaraan bermotor dengan tingkat
kebisingan. Jam sibuk pada waktu sore korelasinya berjumlah 0,892 karena
tingkat kebisingannya tinggi, hal ini disebabkan oleh jumlah kendaraan bermotor
yang melintas banyak, sehingga adanya hubungan jumlah kendaraan bermotor
dengan tingkat kebisingan .
V. KESIMPULAN
Tingkat jumlah kendaraan bermotor yang melintas pada ruas jalan arteri
primer dan sekunder di Kecamatan Banjarmasin Tengah hari senin (mewakili
selasa, rabu dan kamis), jumat, sabtu dan minggu saat jam-jam sibuk, yaitu: pada
waktu pagi (07.00 – 08.30 WITA) adalah agak banyak, siang (12.30 – 14.00
WITA) adalah agak banyak dan sore (16.30 – 18.00 WITA) adalah agak banyak.
Skala intensitas tingkat kebisingan pada ruas jalan arteri primer dan sekunder di
Kecamatan Banjarmasin Tengah hari senin (mewakili selasa, rabu dan kamis),
jumat, sabtu dan minggu saat jam-jam sibuk, yaitu: pada waktu pagi (07.00 –
08.30 WITA) adalah keras , siang (12.30 – 14.00 WITA) adalah keras dan sore
(16.30 – 18.00 WITA) adalah keras. Ada hubungan antara tingkat jumlah
kendaraan bermotor dengan tingkat Kebisingan pada ruas jalan arteri primer dan
sekunder di Kecamatan Banjarmasin Tengah hari senin (mewakili selasa, rabu dan
kamis), jumat, sabtu dan minggu saat jam-jam sibuk, yaitu: pada waktu pagi
(07.00 – 08.30 WITA), siang (12.30 – 14.00 WITA) dan sore (16.30 – 18.00
WITA).
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih oleh penulis sampaikan kepada dosen pengampu
yang telah memberikan pemahaman kepada penulis mengenai penyusunan jurnal
penelitian.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita. 2012. Perencanaan Infrastruktur Transportasi Wilayah. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi
Revisi 2010. Cetakan ke-14. Rineka Cipta, Jakarta.
BPS Kota Bajarmasin, 2014.
Buchari, Kebisingan Industri dan Program Hearing Conservation Program,
(http:// Library.us.ac.id), 2007
Hadi, Sutrisno. 2000. Analisis Regresi. Yogyakarta: PT Andi.
Hidayati,
N.
2007.
Pengaruh
Arus
Lalu
Lintas
Terhadap
Kebisingan.Skripsi.Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
2007.
Kadir, A. 2006. Transportasi: Peran dan Dampaknya dalam Pertumbuhan
Ekonomi Nasional.
Leksono. 2009. Gambaran Kebisingan di Area Kerja Shop C – D Unit Usaha
Jembatan PT. Bukaka Teknik Utama. Skripsi.Universitas Indonesia.
2009.
Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Petrus. 2012. Analisis Faktor-Faktor Makroekonomi Yang Mempengaruhi
Investasi Sektor Transportasi Di Indonesia Periode 2001-2010. Skripsi.
Universitas Hasanuddin. 2012.
Rahayu. 2010. Dampak Kebisingan Terhadap Munculnya Gangguan Kesehatan.
Razif, M. 2000. Pemetaan Tingkat Kebisingan Akibat Aktivitas Transportasi di
Jalan Kertajaya Indah – Darmahusada Indah Timur – Darmahusada
Indah Utara.
Sam.2012. Studi Model Hubungan Karakteristik Lalu Lintas Dengan Tingkat
Kebisingan Kendaraan Pada Ruas Jalan Tol Ir. Sutami Makassar. Jurnal
Tugas Akhir. Universitas Hasanuddin 2012.
Sukarto, H. 2006. Transportasi Perkotaan dan Lingkungan.
Sulastri. 2009. Dampak Kebisingan Jalan Raya Terhadap Gangguan Proses
Belajar Siswa
kelas IX.5 SMP Negeri 15 Palembang Tahun
2009.Skripsi.2009.
Sumarawati. 2004. Pengaruh Kepadatan Lalu-Lintas pada Jam Puncak Terhadap
Kandungan Gaskarbon Monoksida (Co) di Jalan Raya Kaligawe
Semarang. Skripsi. Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran
Universilas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. 2004.
Tim Dosen Pendidikan Geografi, FKIP – Unlam, Banjarmasin. 2011. Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Eja Publisher.
Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Banjarmasin. 2014. Data Kendaraan
Bermotor. Banjarmasin.
Wardika, K. 2010. Analisis Kebisingan Lalu Lintas pada Ruas Jalan Arteri.
Widyantoro. 2011. Pemetaan Sebaran Kebisingan Akibat Aktivitas Transportasi
Dikaitkan dengan Tata Guna Lahan di Jalan Arif Rachman Hakim
Surabaya. Skripsi.Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. 2011.
Zaini, A.K. Analisa Kebisingan Arus Lalu Lintas Terhadap Rumah Sakit Prof. Dr.
Tabrani Rab Pekanbaru.
33
PENGETAHUAN GURU IPS TERPADU SMP/SEDERAJAT DI
KECAMATAN BANJARMASIN BARAT MENGHADAPI PENERAPAN
KURIKULUM 2013
Oleh
Utami Noviani, Karunia Puji Hastuti, H. Sidharta Adyatma.
Abstrak:
Penelitian ini berjudul Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013. Tujuan
Penelitian adalah mengetahui pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk
menggambarkan Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh guru IPS Terpadu
yang berjumlah 31 orang. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Data primer berupa angketdan observasi, sedangkan data sekunder
berupa studi dokumendan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan
adalah teknik banyak kelas, panjang kelas interval dan persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013 memiliki kriteria pengetahuan sangat rendah. Hal ini diketahui
dari hasil analisis menggunakan perhitungan persentase, dimana P = 45% yang
berada antara 0-15 pada kriteria sangat rendah.
Kata Kunci: Pengetahuan, Guru, Kurikulum 2013
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses
pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan. Pembangunan
diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang
berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan lainnya saling
berkaitan dan berlangsung dengan berbarengan (Hamalik, 2013).
Kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus
sebagai pedoman pelaksanaan pendidikan. Kurikulum mencerminkan falsafah
hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan itu kelak akan di
tentukan oleh kurikulum yang di gunakan oleh bangsa tersebut. Perjalanan sejarah
kurikulum sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami
perubahan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999,
2004 dan 2006, sampai saat ini terjadi perubahan kurikulum lagi menjadi
kurikulum 2013 (Pengembangan Kurikulum 2013, 2012).
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis pada pengembangan
kompetensi peserta didik. Pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian
kompetensi yang dirumuskan dari Standar Kompetensi Lulusan. Penilaian hasil
belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi melalui sikap,
keterampilan dan pengetahuan. Keberhasilan kurikulum diartikan sebagai
pencapaian kompetensi oleh seluruh peserta didik yang mengacu pada rancangan
dokumen kurikulum resmi (Tjahjono, 2013). Kurikulum 2013 merupakan
penyempurnaan dari kurikulum terdahulu yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), karena secara umum konsep yang ada pada kurikulum 2013
sebenarnya tidak semuanya merupakan hal-hal yang baru, sehingga komponenkomponen yang ada pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
sebenarnya sebagian masih tetap ada pada kurikulum 2013 (Hasibuan, 2013).
Pelaksanaan kurikulum berdasarkan Dokumen Kurikulum 2013 di seluruh
sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:
a) Juli 2013: Kelas I, IV, VII, dan X
b) Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
c) Juli 2015: kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
Hasil observasi awal terhadap guru IPS Terpadu SMP/Sederajat
menyatakan bahwa para guru sudah mengetahui tentang kurikulum 2013 tetapi
masih bingung dalam penerapan kurikulum 2013 karena kompetensi guru dalam
pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada guru tetapi peserta didik juga
diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya sehingga guru
harus memahami lebih dalam mengenai kurikulum 2013 melalui buku pegangan
serta menyajikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013.
Peneliti menemukan masalah berdasarkan uraian sebelumnya, masalah di
Kecamatan Banjarmasin Barat yaitu SMP/Sederajatmasih menggunakan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jumlah Sekolah Menengah Pertama/Sederajat di Banjarmasin Barat
berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin dan Kementerian
Agama Kota Banjarmasin sebanyak 19 sekolah dan jumlah Guru IPS Terpadu
adalah 31 orang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No 68 Tahun 2013, tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah adalah sebagai berikut:
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman,
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Struktur Kurikulum 2013 meliputi:
1) Kompetensi inti, dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik
pada kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai
kompetensi dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga. Rumusan kompetensi
inti menggunakan notasi sebagai berikut: (a) Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk
kompetensi inti sikap spiritual, (b) Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi
35
2)
3)
4)
5)
inti sikap sosial, (c) Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti
pengetahuan, (d) Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti
keterampilan.
Mata pelajaran , berdasarkan kompetensi inti disusun mata pelajaran dan
alokasi waktu yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Susunan
mata pelajaran dan alokasi waktu untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah
Beban Belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta
didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran, yaitu:
(a) Beban belajar di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
dinyatakan dalam jam pembelajaran per minggu. Beban belajar satu minggu
Kelas VII, VIII, dan IX adalah 38 jam pembelajaran. Durasi setiap satu jam
pembelajaran adalah 40 menit, (b) Beban belajar di Kelas VII, VIII, dan IX
dalam satu semester paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu,
(c) Beban belajar di kelas IX pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu
dan paling banyak 20 minggu, (d) Beban belajar di kelas IX pada semester
genap paling sedikit 14 minggu dan paling banyak 16 minggu, (e) Beban
belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 36 minggu dan paling banyak
40 minggu.
Kompetensi Dasar, dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan
kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta
didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar
dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi
inti sebagai berikut: (a) Kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap
spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1, (b) Kelompok 2: kelompok
kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2, (c) Kelompok
3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3,
(d) Kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka
menjabarkan KI-4.
Muatan Pembelajaran, di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
yang berbasis pada konsep-konsep terpadu dari berbagai disiplin ilmu untuk
tujuan pendidikan adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada hakikatnya IPA dan IPS dikembangkan
sebagai mata pelajaran dalam bentuk integrated sciences dan integrated social
studies. Muatan IPS berasal dari sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi.
mata pelajaran tersebut merupakan program pendidikan yang berorientasi
aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin
tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap
lingkungan sosial dan alam.
III. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kuantitatif.
Penelitian deskriptif artinya penelitian yang memberikan penjelasan dan
gambaran dengan sistematis, cermat, fakta-fakta aktual, sifat populasi dan sifatsifat tertentu (Margono, 2007). Jenis data yang dipakai penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi
dan sampel tertentu serta data penelitian berupa angka-angka dan analisis
menggunakan statistik (Sugiyono, 2013).
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat yang berjumlah 31 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Memperhatikan sedikitnya jumlah populasi
maka tidak dilakukan teknik penarikan sampel karena apabila subjeknya kurang
dari 100 lebih baik diambil semua sehingga dinamakan penelitian populasi
(Arikunto dalam Susilo, 2010). Populasi dalam penelitian berjumlah 31 orang
sehingga semua populasi dijadikan sampel.
Pengumpulan data terdiri dari teknik pengumpulan data primer dan
pengumpulan data sekunder yangdiuraikan sebagai berikut: (1) Pengumpulan
Data Primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data (Sugiyono, 2013). Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan
data primer dengan cara: kuesioner dan observasi, (2) Pengumpulan Data
Sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data (Sugiyono, 2013). Pengumpulan data sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini, yaitu: studi dokumen dan studi pustaka.
Pengolahan Data adalah proses untuk memperoleh data atau angka yang
siap di analisis yang dapat diwujudkan dalam bentuk tabel, diagram atau grafik.
Pengolahan Data dalam penelitian ini adalah editing, scoring dan tabulating.
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul.Analisis data dalam penelitian ini
adalahmenggunakan rumus banyak kelas, kemudian dihitung menggunakan rumus
panjang kelas interval selanjutnya menggunakan rumus persentase.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Pengetahuan Guru terhadap Kompetensi Inti
Pengetahuan guru terhadap kompetensi inti terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS
Terpadu terhadap Kompetensi Inti
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1.
≥30
Sangat Tinggi
2.
24-29
Tinggi
3.
18-23
Agak Tinggi
4.
12-17
Agak Rendah
5.
6-11
Rendah
6.
0-5
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
37
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 2, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap kompetensi inti yang
disajikan pada Tabel 3, dengan menggunakan rumus persentase.
Tabel 2. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap
Kompetensi Inti
Skor
Persentase
No
Kriteria
Frekuensi (f)
Pengetahuan
(%)
1. ≥30
Sangat Tinggi
1
3
2. 24 – 29
Tinggi
0
0
3. 18 – 23
Agak Tinggi
0
0
4. 12 – 17
Agak Rendah
2
7
5. 6 – 11
Rendah
5
16
6. 0 – 5
Sangat Rendah
23
74
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah, yaitu sebanyak
23 guru (74%), sebagian kecil memiliki pengetahuan sangat tinggi, yaitu
sebanyak 1 guru (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai
sangat rendah sebanyak 30 guru (97%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa kompetensi inti dirancang dengan meningkatnya usia peserta
didik pada kelas tertentu. Pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi penerapan kurikulum 2013 terhadap
kompetensi inti yaitu sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak rendah
sampai sangat rendah sebanyak 30 guru (97%), dengan kriteria sangat rendah
sebanyak 23 guru (74%) dari total 31 guru (100%).
b. Pengetahuan Guru terhadap Mata Pelajaran
Kriteria kelas interval Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Mata
Pelajaran terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS
Terpadu terhadap Mata Pelajaran
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1.
≥10
Sangat Tinggi
2.
8–9
Tinggi
3.
6–7
Agak Tinggi
4.
4–5
Agak Rendah
5.
2–3
Rendah
6.
0–1
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 4, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap mata pelajaran yang
disajikan pada Tabel 5, dengan menggunakan rumus persentase.
Tabel 5. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Mata
Pelajaran
No
Skor
Kriteria
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Pengetahuan
1.
≥10
Sangat Tinggi
0
0
2.
8–9
Tinggi
3
10
3.
6–7
Agak Tinggi
0
0
4.
4–5
Agak Rendah
1
3
5.
2–3
Rendah
10
32
6.
0–1
Sangat Rendah
17
55
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah, yaitu sebanyak
17 guru (55%), sebagian kecil memiliki pengetahuan agak rendah, yaitu sebanyak
1 guru (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 28 guru (90%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa mata dan alokasi waktu disusun berdasarkan kompetensi inti
yang sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Pengetahuan guru IPS
Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi penerapan
kurikulum 2013 terhadap mata pelajaran yaitu sebagian besar guru memiliki
pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah sebanyak 28 guru (90%), dengan
kriteria sangat rendah sebanyak 17 guru (55%) dari total 31 guru (100%).
c. Pengetahuan Guru terhadap Beban Belajar
Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Beban
Belajar terdapat pada Tabel 6.
Tabel 6. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS
Terpadu terhadap Beban Belajar
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1. ≥15
Sangat Tinggi
2. 12 – 14
Tinggi
3. 9 – 11
Agak Tinggi
4. 6 – 8
Agak Rendah
5. 3 – 5
Rendah
6. 0 – 2
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 6, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap beban belajar yang
disajikan pada Tabel 7, dengan menggunakan rumus persentase.
39
Tabel 7. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Beban
Belajar
Skor
Frekuensi
No
Kriteria
Persentase (%)
Pengetahuan
(f)
1.
≥15
Sangat Tinggi
3
10
2.
12 – 14
Tinggi
2
6
3.
9 – 11
Agak Tinggi
1
3
4.
6–8
Agak Rendah
18
58
5.
3–5
Rendah
4
13
6.
0–2
Sangat Rendah
3
10
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak rendah, yaitu sebanyak
18 guru (58%), sebagian kecil memiliki pengetahuan agak tinggi, yaitu sebanyak
1 guru (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 25 guru (81%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus
diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun
pembelajaran. Pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat menghadapi penerapan kurikulum 2013 terhadap beban belajar
yaitu sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 25 guru (81%), dengan kriteria agak rendah sebanyak 18 guru
(58%) dari total 31 guru (100%).
d. Pengetahuan Guru terhadap Kompetensi Dasar
Kriteria kelas interval pengetahuan guru ips terpadu terhadap kompetensi
dasar terdapat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS
Terpadu terhadap Kompetensi Dasar
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1.
≥15
Sangat Tinggi
2.
12-14
Tinggi
3.
9-11
Agak Tinggi
4.
6-8
Agak Rendah
5.
3-5
Rendah
6.
0-2
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 8, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap kompetensi dasar
yang disajikan pada Tabel 9, dengan menggunakan rumus persentase.
Tabel 9. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Kompetensi
Dasar
Skor
No
Kriteria
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Pengetahuan
1. ≥15
Sangat Tinggi
0
0
2. 12 – 14
Tinggi
2
7
3. 9 – 11
Agak Tinggi
6
19
4. 6 – 8
Agak Rendah
5
16
5. 3 – 5
Rendah
1
3
6. 0 – 2
Sangat Rendah
17
55
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah, yaitu sebanyak
17 guru (55%), sebagian kecil memiliki pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 1
orang (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 23 guru (74%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.
Pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat
menghadapi penerapan kurikulum 2013 terhadap kompetensi dasar yaitu sebagian
besar guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah sebanyak 23
guru (74%), dengan kriteria sangat rendah sebanyak 17 guru (55%) dari total 31
guru (100%).
e. Pengetahuan Guru terhadap Muatan Pembelajaran
Kriteria kelas interval pengetahuan guru ips terpadu terhadap muatan
pembelajaran terdapat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS
Terpadu terhadap Muatan Pembelajaran
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1.
≥15
Sangat Tinggi
2.
12-14
Tinggi
3.
9-11
Agak Tinggi
4.
6-8
Agak Rendah
5.
3-5
Rendah
6.
0-2
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 10, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap muatan pembelajaran
yang disajikan pada Tabel 11, dengan menggunakan rumus persentase.
41
Tabel 11. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu terhadap Muatan
Pembelajaran
Skor
Frekuensi
Persentase
No
Kriteria
Pengetahuan
(f)
(%)
1. ≥15
Sangat Tinggi
0
0
2. 12 – 14
Tinggi
1
3
3. 9 – 11
Agak Tinggi
0
0
4. 6 – 8
Agak Rendah
3
10
5. 3 – 5
Rendah
3
10
6. 0 – 2
Sangat Rendah
24
77
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah, yaitu sebanyak
24 guru (77%), sebagian kecil memiliki pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 1
orang (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 30 guru (97%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa muatan pembelajaran di Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah berbasis pada konsep-konsep terpadu dari
berbagai disiplin ilmu. Pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi penerapan kurikulum 2013 terhadap
muatan pembelajaran yaitu sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak
rendah sampai sangat rendah sebanyak 30 guru (97%), dengan kriteria sangat
rendah sebanyak 24 guru (77%) dari total 31 guru (100%).
f. Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan
Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013
Kriteria kelas interval Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi penerapan Kurikulum 2013 terdapat
pada Tabel 12.
Tabel 12. Kriteria Kelas Interval Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi
Penerapan Kurikulum 2013
No
Skor Pengetahuan
Kriteria
1.
≥80
Sangat Tinggi
2.
64 – 79
Tinggi
3.
48 – 63
Agak Tinggi
4.
32 – 47
Agak Rendah
5.
16 – 31
Rendah
6.
0 – 15
Sangat Rendah
Sumber: Modifikasi Rumus Arikunto, 2010
Kriteria kelas yang disajikan pada Tabel 12, digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi pengetahuan guru IPS Terpadu terhadap kurikulum 2013 yang
disajikan pada Tabel 13, dengan menggunakan rumus persentase.
Tabel 13. Jumlah Skor Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013
No
Skor
Kriteria
Frekuensi (f) Persentase (%)
Pengetahuan
1.
≥80
Sangat Tinggi
0
0
2.
64 – 79
Tinggi
1
3
3.
48 – 63
Agak Tinggi
0
0
4.
32 – 47
Agak Rendah
4
13
5.
16 – 31
Rendah
12
39
6.
0 – 15
Sangat Rendah
14
45
Jumlah
31
100
Sumber: Data Primer, 2014 (diolah)
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan sangat rendah, yaitu sebanyak
14 guru (45%), sebagian kecil memiliki pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 1
orang (3%). Mayoritas guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 30 guru (97%).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun 2013
menjelaskan bahwa kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar, kompetensi
dasar dan muatan pembelajaran merupakan bagian dari struktur kurikulum yang
terdapat pada kurikulum 2013. Pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di
Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi penerapan kurikulum 2013 yaitu
sebagian besar guru memiliki pengetahuan agak rendah sampai sangat rendah
sebanyak 30 guru (97%), dengan kriteria sangat rendah sebanyak 14 guru (45%)
dari total 31 guru (100%).
Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin
Barat Menghadapi Penerapan Kurikulum 2013, yang berjumlah 31 guru yaitu
sebagian besar pengetahuannya agak rendah sampai sangat rendah sebanyak 30
guru (97%). Hal ini sesuai dengan hipotesis pada penelitian yaitu pengetahuan
guru IPS Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat menghadapi
penerapan Kurikulum 2013 sebagian besar masih sangat rendah. Hasil wawancara
saat membagi angket kepada Guru IPS Terpadu menyatakan sudah mengetahui
tentang Kurikulum 2013, tetapi hanya mengetahui sedikit dikarenakan belum ada
pelatihan dan sosialisasi, pelatihan dan sosialisasi yang dilaksanakan kurang
merata, yang mengikuti pelatihan dan sosialisasi hanya sebagian guru saja,
sebagian besar masih banyak guru yang mengajar menggunakan KTSP dan belum
mencari referensi tentang kurikulum 2013, sehingga guru IPS belum
mempersiapkan dan mengetahui secara mendalam tentang kurikulum 2013.
V. KESIMPULAN
Hasil penelitian dan pembahasan mengenai “Pengetahuan Guru IPS
Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013” dapat diambil kesimpulan bahwa Pengetahuan Guru IPS
Terpadu SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat Menghadapi Penerapan
Kurikulum 2013 sebagian besar pengetahuan guru agak rendah sampai sangat
rendah sebanyak 30 guru (97%) dari total 31 guru (100%), hal ini sejalan dengan
43
pernyataan para Guru IPS Terpadu yang menyatakan masih mengajar
menggunakan KTSP dan belum mencari referensi tentang kurikulum 2013, serta
kurangnya pelatihan dan sosialisasi dari Dinas Pendidikan, jadi hanya sebagian
guru yang sudah mendapatkan pelatihan dan sosialisasi tentang kurikulum.
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
TerimaKasih disampaikan kepada: (1) Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, (2) Ketua Program Studi
Pendidikan Geografi, (3) Ibu Karunia Puji Hastuti, M.Pd, dan Bapak Drs. H.
Sidharta Adyatma, M.Si (4) Bapak/Ibu Dosen pada Program Studi Pendidikan
Geografi, (5) Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, dan Kepala Kantor
Kementrian Agama beserta staf, (6) Kepala Sekolah dan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat di Kecamatan Banjarmasin Barat, (7) Semua pihak yang tidak
dapat disebutkan oleh penyusun satu persatu.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, O. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Muzamiroh, M. L. 2013. Kupas Tuntas Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena.
Ngadiyana, Y. M. dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Eja
Publisher.
Sudijono, A. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif
dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/
Madrasah Tsanawiyah. 2013.
Khairiah, 2009. KesiapanGuru SMP Negeri 5 Banjarmasin dalam Penerapan
KTSP. Skripsi. Banjarmasin: FKIP UNLAM.
Dokumen Kurikulum 2013. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2012.
Tjahjono, A. 2013. Petunjuk Teknik Persiapan Implementasi Kurikulum Tahun
2013. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2013.
Hasibuan, M. F. 2013. Paradigma Tugas Guru Dalam Kurikulum 2013, (Online).
(http://sumut.kemenag.go.id/file/file/TULISANPENGAJAR/odip1379404
126.pdf)
Arifin, Z. 2011. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Dalam
Fajar. Karakter Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Plaihari pada Mata
Pelajaran Geografi. Skripsi: FKIP UNLAM.
PENGETAHUAN GURU IPS TERPADU SMP/SEDERAJAT
KECAMATAN SUNGAI TABUK TENTANG KURIKULUM 2013
Oleh
Fahmi Azhari, Eva Alviawati, Karunia Puji Hastuti.
Abstrak
Judul dalam penelitian ini adalah “Pengetahuan Guru IPSTerpadu
SMP/Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk Tentang Kurikulum 2013’’, disusun
oleh Fahmi Azhari. Dosen pembimbing I: KaruniaPujiHastuti, M.Pd dan dosen
pembimbing II: Eva Alviawati, S.Pd.,M.Sc. Penelitian ini bertujuanmengetahui
pengetahuan guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk tentang
kurikulum 2013.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam
penelitian adalah semua guru IPSTerpadu SMP/Sederajat Kecamatan Sungai
Tabuk yang berjumlah 19 orang. Sampel diambil secara penuh sebanyak 19
orang Guru IPSTerpadu SMP/Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk. Data primer
diperoleh melalui observasi dilapangan, wawancara dan kuesioner (angket),
sedang data sekunder diperoleh dari Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian
Agama, sumber buku/literatur dan Sekolah tingkat Sekolah Menengah
Pertama/Sederajat. Teknik analisis data menggunakan rumus banyak kelas,
panjang kelas interval dan persentase.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pengetahuan guru tentang
kurikulum 2013 sangat rendah, rendah dan agak rendah sebanyak 14 guru dengan
persentase 73,4%, membuktikan pengetahuan guru masih rendah dengan belum
pernah mengikuti bimbingan teknis maupun pelatihan kurikulum 2013 sehingga
hanya sedikit mengetahui tentang isi dan pelaksanaan kurikulum 2013, belum
meratanya pelatihan kurikulum 2013 yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan
sehingga hanya sebagian guru saja yang sudah mengikuti kurikulum 2013, dan
belum meratanya distribusi buku sekolah elektronik Ilmu Pengetahuan Sosial
Terpadu kurikulum 2013 yang merupakan buku pegangan guru.
Kata Kunci: Pengetahuan, Guru, Kurikulum 2013
I.
PENDAHULUAN
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentangSistemPendidikanNasionaldinyatakanbahwapendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Aktivitas pada belajar mengajar, kedudukan kurikulum sangat krusial,
karena dengan kurikulum anak didik akan memperoleh manfaat (benefits). Di
samping kurikulum bermanfaat bagi anak didik, kurikulum juga mempunyai
45
fungsi-fungsi lain :1) fungsi kurikulum dalam rangka pencapaian tujuan
pendidikan; 2) fungsi kurikulum bagi anak didik; 3) fungsi kurikulum bagi
pendidik; 4) fungsi kurikulum bagi kepala sekolah/pembina sekolah; 5) fungsi
kurikulum bagi orang tua; 6) fungsi bagi tingkat diatasnya ( Idi, 2006: 204-216).
Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara
sistematis, mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan (peserta
didik). Dianalisis secara sederhana sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dimana
sekolah sebagai institusi sosial melaksanakan operasinya paling tidak dapat
ditentukan tiga jenis peranan kurikulum yang dinilai sangat pokok atau krusial,
yaitu: 1) peranan konservatif; 2) peranan kritis dan evaluatif; 3) peranan kreatif.
Ketiga peran tersebut sama pentingnya dan saling berkaitan yang dilaksanakan
secara berkesinambungan (Idi, 2006: 217).
Kurikulum baik pada tahap kurikulum sebagai ide, rencana, pengalaman
maupun kurikulum sebagai hasil dalam pengembangannya harus mengacu atau
menggunakan landasan yang kuat dan kokoh, agar kurikulum dapat berfungsi
serta berperan sesuai dengan tuntutan pendidikan yang ingin dihasilkan seperti
tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Reformasi kurikulum yang dilakukan akan membawa perubahan yang
cukup signifikan, termasuk perubahan dalam karakteristik kurikulum 2013, mulai
jenjang SD sampai dengan SMA, beberapa mata pelajaran akan dipangkas atau
ditiadakan. Mulai tahun pelajaran (2013/2014), kurikulum SD/SMP/SMA/SMK
mengalami perubahan-perubahan antara lain Tentang proses pembelajaran, jumlah
mata pelajaran, dan jumlah pelajaran (Muzamiroh, L.M, 2013: 142).
Sungai Tabuk merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Banjar yang
memiliki 3 SMP Negeri, 1 MTs Negeri dan 5 MTs Swasta. SMP/Sederajat di
Kecamatan Sungai Tabuk pada tahun ajaran 2013/2014 tidak ada yang ditunjuk
oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar untuk menerapkan kurikulum 2013.
Berikut data SMP/Sederajat dan jumlah guru IPS Terpadu di Kecamatan Sungai
Tabuk, disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar Sekolah dan Jumlah Guru IPS Terpadu di Kecamatan
Sungai Tabuk
Jumlah Guru IPS
No
Nama Sekolah
Kurikulum
Terpadu (Orang)
1 SMP Negeri 1 Sungai Tabuk
KTSP
2
2 SMP Negeri 2 Sungai Tabuk
KTSP
4
3 SMP Negeri 3 Sungai Tabuk
KTSP
2
4 MTs Negeri Sungai Tabuk
KTSP
2
5 MTs Ar-Rahmah
KTSP
1
6 MTs Miftahul Ulum
KTSP
1
7 MTs Raudhatul Islamiyah
KTSP
3
8 MTs Nurul Hidayah
KTSP
1
9 MTs Raudatusyubban
KTSP
3
Jumlah
19
Sumber: diolah dari Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjar
Tahun 2013-2014)
Kekhawatiran guru untuk implementasi kurikulum 2013 di tingkat SD,
SMP, SMA dan SMK terdapat pada dua aspek, yaitu sosialisasi untuk pemahaman
implementasi kurikulum dan kelanjutan sertifikasi guru. Sosialisasi implementasi
kurikulum tidak dilaksanakan secara serentak kepada seluruh guru di tanah air
dalam waktu singkat. Mekanisme sosialisasi oleh pemerintah dan penerapannya
dengan model koordinasi dan keterwakilan. Guru yang dipilih akan kembali
membagi kerangka kerja dan model implementasi yang harus dilakukan oleh guru
di sekolah masing-masing (Muzamiroh, L.M, 2013: 137-138). Pergantian dan
perubahan kurikulum menjadi tolak ukur dalam keberhasilan dalam mencapai
tujuan pendidikan, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pengetahuan
guru pada kurikulum baru yang akan diterapkan. Pengetahuan merupakan hasil
“tahu’’ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu
obyek tertentu (Soekidjo, Notoadmodjo: 2003).
Guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan penerapan kurikulum
di sekolah, pengetahuan guru tentang kurikulum 2013 sangat perlu untuk
dijadikan bahan pertimbangan pokok untuk menerapkan suatu kurikulum baru ke
sekolah, terutama pengetahuan guru tentang struktur kurikulum 2013, yaitu :
kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar, kompetensi dasar dan muatan
pembelajaran (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 68 Tahun
2013).
Berdasarkan uraian diatassosialisasi implementasi kurikulum yang tidak
dilaksanakan secara serentak kepada seluruh guru di tanah air dalam waktu
singkat. Mekanisme sosialisasi oleh pemerintah dan penerapannya dengan model
koordinasi dan keterwakilan menyebabkan guru masih terkendala pada
mekanisme pelaksanaan kurikulum 2013 yang belum mengetahui secara lebih
mendalam tentang kurikulum 2013.
Penelitian ini bertujuan “mengetahui pengetahuan guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk tentang kurikulum 2013’’.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian guru, tugas guru, peran guru dan tanggung jawab guru adalah:
1) Pengertian Guru
Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan
tentang guru:
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan
menengah”.
2) Tugas Guru
Tugas guru merupakan suatu proses yang meliputi: mendidik, mengajar,
dan melatih peserta didik. Tugas mendidik berarti meneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai hidup (afektif). Tugas mengajar berarti meneruskan
dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (kognitif). Tugas melatih
berarti mengembangkan keterampilan para siswa (psikomotorik) (Sukadi, 2006:
17).
47
3) Peran Guru
Guru memiliki beberapa peranan dalam melaksanakan tugasnya,
diantaranya yaitu :
 Peran Guru sebagai Demonstrator
Sebagai demonstrator, guru adalah seorang pengajar dari bidang ilmu yang
ia kuasai.
 Peran Guru sebagai Pengelola Kelas,
Sebagai pengelola kelas, seorang guru harus mampu menciptakan suasana
atau kondisi belajar di kelas.
 Peran Guru sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator, seorang guru dituntut memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan sebagai alat komunikasi dalam
proses pembelajaran.
 Peran Guru sebagai Evaluator
Sebagai evaluator, seorang guru dituntut mampu melakukan proses
evaluasi, baik untuk mengetahui keberhasilan dirinya dalam melaksanakan
pembelajaran (feed back), maupun untuk menilai hasil belajar siswa (Sukadi,
2006: 20-22).
4) Tanggung Jawab Guru
Tuntutan terhadap profesionalisme terhadap anak didik, sudah pasti akan
menambah tanggung jawab guru.
Berikut beberapa tanggungjawab guru sebagai berikut :
 Guru harus menuntut murid-murid belajar
 Turut serta membina kurikulum sekolah
 Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak, dan
jasmaniah).
 Memberikan bimbingan kepada murid
 Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan
penilaian atas kemajuan belajar
 Menyelenggarakan penelitian
 Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
 Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan pancasila
 Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan
perdamaian dunia
 Turut mensukseskan pembangunan
Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru (Nurfuadi, 2012:
68-69).
Guru merupakan ujung tombak dalam penerapan kurikulum 2013, berikut
struktur kurikulum 2013 yang harus diketahui guru sebagai modal pengetahuan
guru dalam meimplementasikan kurikulum 2013.
1) KompetensiInti
Kompetensiintidirancangseiringdenganmeningkatnyausiapesertadidikpada
kelastertentu. Kompetensiinti, integrasivertikalberbagaikompetensidasarpadakelas
yang berbedadapatdijaga.
Rumusankompetensiintimenggunakannotasisebagaiberikut:
1) Kompetensi Inti-1 (KI-1) untukkompetensiintisikap spiritual;
2) Kompetensi Inti-2 (KI-2) untukkompetensiintisikapsosial;
3) Kompetensi Inti-3 (KI-3) untukkompetensiintipengetahuan; dan
4) Kompetensi Inti-4 (KI-4) untukkompetensiintiketerampilan.
2) Matapelajaran
Berdasarkankompetensiintidisusunmatapelajarandanalokasiwaktu
yang
sesuaidengankarakteristiksatuanpendidikan.
SusunanmatapelajarandanalokasiwaktuuntukSekolahMenengahPertama/Madrasah
Tsanawiyah. Mata pelajaranSekolahMenengahPertama/Madrasah Tsanawiyah di
sajikan pada Tabel 2.
Tabel2. Mata PelajaranSekolahMenengahPertama/Madrasah Tsanawiyah
Alokasi Waktu Belajar
Per Minggu
Mata Pelajaran
VII
VIII
IX
Kelompok A
1. Pendidikan Agama
3
3
3
2. Pendidikan Pancasila dan
3
3
3
Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
6
6
6
4. Matematika
5
5
5
5. Ilmu Pengetahuan Alam
5
5
5
6. Ilmu Pengetahuan Sosial
4
4
4
7. Bahasa Inggris
4
4
4
Kelompok B
1. Seni Budaya (termasuk muatan lokal)
3
3
3
2. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan
3
3
3
Kesehatan (termasuk muatan lokal)
3. Prakarya (termasuk muatan lokal)
2
2
2
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu
38
38
38
Sumber: Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2013: 7
3) BebanBelajar
Bebanbelajarmerupakankeseluruhankegiatan
yang
harusdiikutipesertadidikdalamsatuminggu,
satu
semester,
dansatutahunpembelajaran.
(a) Bebanbelajar
di
SekolahMenengahPertama/Madrasah
Tsanawiyahdinyatakandalam
jam
pembelajaran
per
minggu.
BebanbelajarsatumingguKelas VII, VIII, dan IX adalah 38 jam pembelajaran.
Durasisetiapsatu jam pembelajaranadalah 40 menit.
(b) Bebanbelajar di Kelas VII, VIII, dan IX dalamsatu semester paling sedikit 18
minggudan paling banyak 20 minggu.
49
(c) Bebanbelajar di kelas IX pada semester ganjil paling sedikit 18 minggudan
paling banyak 20 minggu.
(d) Bebanbelajar di kelas IX pada semester genap paling sedikit 14 minggudan
paling banyak 16 minggu.
(e) Bebanbelajardalamsatutahunpelajaran paling sedikit 36 minggudan paling
banyak 40 minggu.
4) KompetensiDasar
Kompetensidasardirumuskanuntukmencapaikompetensiinti.
Rumusankompetensidasardikembangkandenganmemperhatikankarakteristikpesert
adidik,
kemampuanawal,
sertaciridarisuatumatapelajaran.
Kompetensidasardibagimenjadiempatkelompoksesuaidenganpengelompokkanko
mpetensiintisebagaiberikut:
(a) Kelompok
1:
kelompokkompetensidasarsikap
spiritual
dalamrangkamenjabarkanKI-1;
(b) Kelompok 2: kelompokkompetensidasarsikapsosialdalamrangkamenjabarkan
KI-2;
(c) Kelompok
3:
kelompokkompetensidasarpengetahuandalamrangkamenjabarkan KI-3; dan
(d) Kelompok
4:
kelompokkompetensidasarketerampilandalamrangkamenjabarkan KI-4.
5) MuatanPembelajaran
Muatanpembelajaran di SekolahMenengahPertama/Madrasah Tsanawiyah
yang
berbasispadakonsepkonsepterpadudariberbagaidisiplinilmuuntuktujuanpendidikanadalahmatapelajara
nIlmuPengetahuanAlam (IPA) danIlmuPengetahuanSosial (IPS).
Hakikatnya
IPA
dan
IPS
dikembangkansebagaimatapelajarandalambentukintegrated
sciences
danintegrated social studies. Muatan IPA berasaldaridisiplinbiologi, fisika,
dankimia, sedangkanmuatan IPS berasaldarisejarah, ekonomi, geografi,
dansosiologi. Keduamatapelajaranitumerupakan program pendidikan yang
berorientasiaplikatif, pengembangankemampuanberpikir, kemampuanbelajar, rasa
ingintahu,
danpengembangansikappedulidanbertanggungjawabterhadaplingkungansosialdana
lamIndonesia. (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2013: 6-97).
III. METODE
Metode yang digunakandalampenelitianadalahdeskriptif kuantitatif.
Penelitiandeskriftifartinyapenelitian
yang
memberikanpenjelasandangambarandengansistematisdancermatfaktafaktaaktualdansifatpopulasidansifat-sifattertentu (Margono, 2007: 8). Jenis data
yang dipakai, penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Penelitian
kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang berdasarkan pada
realitas/gejala/fenomena yang dapat diklasifikasikan dan digunakan untuk peneliti
pada populasi atau sampel tertentu karena menggunakan data yang berbentuk
angka atau data kualitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2003: 14).
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel, yaitu pengetahuan
guru IPS Terpadu tentang kurikulum 2013 yang terdiri dari kompetensi inti,
menyusun mata pelajaran dan alokasi waktu, beban belajar, kompetensi dasar dan
muatan pembelajaran.
1. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SMP/Sederajat Kecamatan Sungai
Tabuk, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2013 – 2014.
2. Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini menggunakan analisis data per
indikator, yaitu jawaban guru tentang kompetensi inti, mata pelajaran dan alokasi
waktu, beban belajar, kompetensi dasar, muatan pembelajaran dan total semua
pengetahuan guru tentang kurikulum 2013. Hasil dari angket dilakukan
pentabulasian dan skoring.
a. Rumus banyak kelas
Banyak kelas = 1 + (3,3) log n
Keterangan:
n = Jumlah data
Banyaknya kelas yang telah diketahui, digunakan untuk mencari nilai
panjang kelas interval.
b.
Rumus panjang kelas interval
 =


Keterangan:
i =Panjangkelas interval
R = Dataterbesar dikurangi data terkecil
K = Banyak kelas
Berdasarkan nilai rentang, banyak kelas, dan panjang kelas interval
disusun kriteria pengetahuan guru yang digunakan untuk menganalisis
distribusi frekuensi dengan dengan menggunakan rumus persentase.
c. Rumus persentase

P =  x 100%
Keterangan:
P
= Angkapersentase(%)
f
= Frekuensi yang sedangdicaripersentasenya
N
= Jumlahfrekuensi/banyaknyaresponden.
51
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil kuesioner yang dijawab oleh guru kemudian diolah melalui editing,
scoring dan tabulasi. Hasil pengetahuan guru tentang kurikulum 2013 disajikan
pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Kecamatan
Sungai Tabuk Tentang Kurikulum 2013 (Skor 97)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Nama Responden
GtRinaHerniyanti, S.Sos
Dra. Zaituniah
Syamsuri, S.Pd
Rustiyati, S.Pd
Rusiman, S.Pd
Arba'iyah A, S.Pd
Asti Mayasari, S.Pd
Kusnadi, S.Pd
Hamdian Noor, S.Pd
Muhammad Busiri, S.Pd
NorlailaSanti, SE
AkhmadHudawi
Hikmah
Baidawi, S.Pd.I
M. Zaini, S.Pd.I
M. Nordin, S.Pd
Rusnah, S.Pd
Ariani. S.Pd.I
SayyidMuchsin. S.Pd
Skor Total Jawaban
Guru
90
90
13
13
12
13
22
22
83
81
37
37
24
12
15
39
68
34
34
Sumber: Anlaisis Data Primer, 2014 (diolah)
Data terbesar pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat tentang
kurikulum 2013 di Kecamatan Sungai Tabuk adalah 97 berdasarkan Tabel 3,
kemudian dianalisis menggunakan rumus banyak kelas, yang diuraikan sebagai
berikut:
Diketahui:
Jumlah Guru IPS Terpadu (n) = 19
Jawab:
Banyaknya kelas
= 1 + ( 3,3 ) log n
= 1 + (3,3 ) log 19
= 1 + (3,3) log 1, 2787
= 5, 2197
≈6
Hasil banyak kelas, digunakan untuk mencari nilai panjang kelas interval
yang dijelaskan sebagai berikut:
Diketahui:
Rentang = data terbesar – data terkecil
= 97 – 0
= 97
Jawab:
rentang
Panjang Kelas Interval =
banyak kelas
=
97
6
= 16,16
≈ 16
Berdasarkan nilai rentang, banyak kelas, dan panjang kelas interval maka
disusun kriteria pengetahuan Guru IPS Terpadu tentang kurikulum 2013 di
Kecamatan Sungai Tabuk pada Tabel 3, digunakan untuk mengelompokkan skor
guru ke dalam kriteria yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kelas Interval dan Kriteria Pengetahuan Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk Tentang Kurikulum 2013
Nomor Kelas
Skor Pengetahuan
Kriteria
1
0 – 15
Sangat Rendah
2
16 – 31
Rendah
3
32 – 47
Agak Rendah
4
48 – 63
Agak Tinggi
5
64 – 79
Tinggi
6
≥80
Sangat Tinggi
Sumber: Modifikasi Rumus (Arikunto,2010)
Kriteria kelas interval yang dijelaskan pada Tabel 4, digunakan untuk
menganalisis distribusi frekuensi pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat
tentang kurikulum 2013 disajikan menggunakan rumus Persentase yang dijelaskan
pada analisis data di Bab III. Persentase Jumlah Nilai Guru IPS Terpadu
SMP/Sederajat tentang kurikulum 2013 di Kecamatan Sungai Tabuk disajikan
pada Tabel 5.
Tabel 5. Persentase Jumlah Nilai Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat
Kecamatan Sungai Tabuk Tentang Kurikulum 2013
No Skor Pengetahuan
Kriteria
Frekuensi (f) Persentase (%)
1
0 – 15
Sangat Rendah
6
31,6
2
16 – 31
Rendah
3
15,8
3
32 – 47
Agak Rendah
5
26,3
4
48 – 63
Agak Tinggi
0
0,0
5
64 – 79
Tinggi
1
5,3
6
≥80
Sangat Tinggi
4
21,1
19
100,0
Jumlah
Sumber: Analisis Data Primer, 2014 (diolah)
53
Sebagian besar guru memiliki pengetahuan yang sangat rendah yaitu
sebanyak 6 guru (31,6%) dan sebagian memiliki pengetahuan yang sangat tinggi
yaitu sebanyak 4 guru (21,1%). Mayoritas guru yang memiliki pengetahuan
rendah sampai tinggi sebanyak 9 guru (47,4%).
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diketahui pengetahuan guru IPS
Terpadu SMP/Sederajat tentang kurikulum 2013 di Kecamatan Sungai Tabuk
dengan jumlah responden sebanyak 19 orang guru IPS Terpadu antara lain, yaitu
mayoritas pengetahuannya sangat rendah sampai, rendah dan agak rendah
sebanyak 14 guru dengan persentase 73,7%, hal ini sesuai dengan hipotesis
penelitian.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/
Sederajat Kecamatan Sungai Tabuk Tentang Kurikulum 2013, dapat disimpulkan,
yaitu:
1.
2.
Pengetahuan Guru IPS Terpadu SMP/Sederajat Tentang Kurikulum 2013
mayoritas pengetahuannya sangat rendah, rendah dan agak rendah sebanyak
14 guru dengan persentase 73,7%, berdasarkan hasil wawancara guru
menyatakan:
a. Belum pernah mengikuti bimbingan teknis maupun pelatihan kurikulum
2013 sehingga hanya sedikit mengetahui tentang isi dan pelaksanaan
kurikulum 2013.
b. Belum meratanya pelatihan kurikulum 2013 yang ditunjuk oleh dinas
pendidikan sehingga hanya sebagian guru saja yang sudah mengikuti
kurikulum 2013.
c. Belum meratanya distribusi buku sekolah elektronik IPS Terpadu
kurikulum 2013 yang merupakan buku pegangan guru untuk
mempersiapkan penerapan kurikulum di sekolah.
Guru yang pengetahuannya tinggi dan sangat tinggi sebanyak 5 guru dengan
persentase 26,4%, berdasarkan hasil wawancara guru menyatakan:
a. Mengetahui informasi kurikulum 2013 melalui buku sekolah elektronik
IPS Terpadu kurikulum 2013
b. Mencari tahu dengan guru mata pelajaran lain yang sudah mengkuti
pelatihan dan bimbingan teknis kurikulum 2013
c. Mencari tahu informasi kurikulum 2013 melalui media sosial internet.
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillah saya panjatkatkan kehadirat Allah SWT, tak lupa pula
shalawat dan salam saya hanturkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Karena
saya dapat menyelesaikan sebuah skripsi untuk memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan, seyogyanya apa yang saya tulis dalam sebuah karya ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi orang banyak.
Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
kedua orang tua saya Bapak Muhammad Fauzi dan Ibu Siti Marhamni, adikku
Marina Fizria. apa yang saya persembahkan ini tidak lah dapat membalas semua
pengobanan dari kedua orang tua saya! Dan karya ini juga saya dedikasikan
kepada semua kelurga besar saya yang selalu memotivasi dan membantu saya
sehingga selesai skripsi ini, Terimakasih semuanya.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada
dosen pembimbing selama pembuatan skripsi ini, yaitu Ibu Karunia Puji Hastuti,
M.Pd dan Ibu Eva Alviawati, S.Pd., M.Sc yang telah banyak memberikan saran
dan motivasi dalam penyelasaian skripsi ini,,,dan juga kepada seluruh dosen
pengajar di Program Studi Pendidikan Geografi saya ucapkan terimakasih yang
setingi-tingginya telah memberikan ilmu pengetahuan selama saya duduk di
bangku kuliah. Saya minta rela dan mohon maaf dengan Bapak Ibu semua jika
selama ini berbuat salah baik kata dan sikap yang tidak berkenan dihati Bapak dan
Ibu dosen.
VII.DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Praktik. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
DepartemenPendidikanNasionalRepublik
Indonesia.
UndangundangRepublikIndonesia
Nomor
20
Tahun
2003
tentangSistemPendidikan Nasional.Jakarta:2003.
DepartemenPendidikanNasional. 2003. KamusbesarBahasa Indonesia. Edisi 3.
Jakarta :BalaiPustaka
Hamalik, Oemar. 2003. Proses BelajarMengajar. Jakarta: PenerbitBumiAksara.
Idi, Abdullah. 2006. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktik. Jogjakarta:
AR-RUZZ MEDIA.
Margono, S.2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Erlangga.
Masduki, M. Y. M. Ngadiyana. Eliani Dharmanata. 1990. Statistika Pengajaran.
Banjarmasin. Lambung Mangkurat University Press.
Muzamiroh, M.L. 2013. Kupas Tuntas Kurikulum 2013. Jakarta:Kata Pena.
Ngadiyana, dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Banjarmasin:
Yogyakarta: Eja Publisher.
Notoatmodjo, S.2007. Pengetahuandan Tingkat Pengetahuan. Jakarta: PT.
RinekaCipta.
Nurfuadi, 2012. Profesionalisme Guru. Purwokerto. Stain Press.
PeraturanMenteriPendidikandan
KebudayaanNomor
68
Tahun
2013
TentangKerangkaDasardan
StrukturKurikulumSekolahMenengahPertama/Madrasah
Tsanawiyah.
2013.
Sugiyono. 2003. MetodePenelitianBisnis. Bandung. PusatBahasaDepdiknas.
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukadi, 2006. Guru Powerful. Guru Masa Depan. Bandung: Kolbu.
55
PENGARUH PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
PT. SEBUKU IRON LATERITIC ORES (PT. SILO) TERHADAP TINGKAT
PENDAPATAN MASYARAKAT DI DESA TANJUNG MANGKUK,
KECAMATAN PULAU SEBUKU, KABUPATEN KOTABARU
Oleh
Hasa Noor Hasadi, Parida Angriani, Karunia Puji Hastuti
Abstrak
Penelitian berjudul “Pengaruh Program Corporate Social Responsibility
(CSR) PT. Sebuku Iron Lateritic Ores (PT. SILO) terhadap Tingkat Pendapatan
Masyarakat di Desa Tanjung Mangkuk, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten
Kotabaru”. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruhprogram CSR PT.
SILO terhadap tingkat pendapatan masyarakat di Desa Tanjung Mangkuk,
Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru.
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh penerima program CSR PT. SILO di
Desa Tanjung Mangkuk, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru dengan
jumlah 21 orang, karena teknik pengambilan sampel menggunakan sampel penuh
maka sampel yang diambil seluruh populasi. Teknik pengumpulan data
menggunakan kuesioner dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan
analisis persentase dan korelasi product moment.
Hasil penelitian menunjukkan adanya program CSR tidak atau belum
mempunyai pengaruh terhadap tingkat pendapatan para peternak ayam pedaging,
petani ikan air tawar dan petani kepiting cangkang lunak di Desa Tanjung
Mangkok Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru.
Kata Kunci: Pengaruh, Program CSR, Tingkat Pendapatan.
I.
PENDAHULUAN
Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan (TJSP) merupakan suatu bentuk aktivitas perusahaan mendukung
pembangunan ekonomi berkelanjutan yang di dalamnya kepedulian terhadap
pemberdayaan masyarakat maupun global (Simorangkir & Arifah, 2009). CSR di
atur dalam Undang-Undang Pasal 1 Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang mendefinisikan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan sebagai
“Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk
berperan serta dalam pembangu/nan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan
kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan
sendiri, komunitas sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada
umumnya”.
Tujuan dilaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam
Undang-Undang Pasal 74 Nomor 40 Tahun 2007 adalah mewujudkan
pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat bagi komunitas setempat dan masyarakat pada
umumnya maupun Perseroan sendiri dalam rangka terjalinnya hubungan
Perseroan yang serasi seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai norma, dan
budaya masyarakat setempat.
PT. Sebuku Iron Lateritic Ores (PT. SILO) merupakan perusahaan swasta
nasional yang bergerak di bidang pertambangan dan industri biji besi yang berdiri
sejak tahun 2004 di Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Provinsi
Kalimantan Selatan. Pusat pertambangan PT. SILO mencakup area seluas 8.087
Ha di sebelah utara Pulau Sebuku yang terletak di Kabupaten Kotabaru,
Kalimantan Selatan (Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KAANDAL) PT. SILO, 2011).
PT. SILO telah merealisasikan Program Pemberdayaan Masyarakat
sebagai tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat di Desa Tanjung
Mangkuk, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru yaitu Program
Kolaborasi. Program kolaborasi meliputi beberapa jenis usaha masyarakat dari
skala kecil menengah hingga menengah keatas, diantaranya adalah Ternak Ayam
Pedaging, Budidaya Ikan Air Tawar dan lebih besar biayanya adalah kelompok
usaha Kepiting Soka yang dapat menghasilkan kepiting cangkang lunak.
Desa Tanjung Mangkuk mempunyai luas wilayah 36,50 km2 merupakan
desa yang pertama kali menerima program CSR. Program CSR tersebut melipitu:
Ternak Ayam Pedaging, Budidaya Ikan Air Tawar dan Kolaborasi Kepiting
Cangkang Lunak oleh perusahaan PT. SILO. Ternak Ayam Pedaging mulai
dikembangkan pada tahun 2007 dan di kelelola oleh kelompok “Sipatuo
Sippatokkam” dengan jumlah anggota 4 orang yang bergerak dibidang usaha
ternak ayam ras. Budidaya Ikan Air Tawar yang dikelola kelompok “Rumpun
Family” terbentuk pada tahun 2012 dengan jumlah anggota 11 orang yang
bergerak dibidang usaha budidaya ikan air tawar. Sedangkan Budidaya Kepiting
Soka yang dikelola kelompok “Bersama Maju” mulai dikembangkan pada tahun
2012 dengan jumlah anggota 6 orang yang bergerak dibidang usaha budidaya
kepiting soka.
Program CSR yang dikembangkan masing-masing kelompok
mendapatkan pembinaan, pelatihan dan bantuan modal dari perusahaan PT. SILO.
Keterkaitan pembinaan antara masing-masing kelompok dengan perusahaan PT.
SILO hanya 8 bulan selebihnya program tersebut di kelola oleh masing-masing
kelompok. Program CSR yang dikembangkan masing-masing kelompok sekarang
tidak ada keterkaitan dengan perusahaan PT. SILO.
Berdasarkan masing-masing kelompok penerima program CSR, sebagai
pengelola Ternak Ayam Pedaging, Budidaya Ikan Air Tawar dan Kolaborasi
Kepiting Cangkang Lunak merupakan pekerjaan pokok yang dilakukan
masyarakat karena sebagian dari mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi
bagi yang mempunyai pekerjaan tetap adalah hal yang sebaliknya yaitu sabagai
usaha sampingan. Adanya program CSR sebagai upaya masyarakat untuk
meningkatkan pendapatan guna mengejar kebutuhan keluarga yang terus
mengingkat, tetapi bagi yang belum berkeluarga pendapatan tersebut digunakan
untuk kebutuhan bagi diri sendiri dan untuk membantu kebutuhan keluarga seperti
orang tua.
Pendapatan yang mereka dapatkan dalam satu minggu bahkan 1 bulan
tidak menentu tergantung dari hasil penjualan. Hasil penjualan yang mereka
57
dapatkan seperti Ternak Ayam Pedaging sebesar Rp 6.500,00 – 83.000,00/orang,
hasil penjualan Budidaya Ikan Air Tawar sebesar Rp 2.500,00 – 15.000,00/orang
sedangkan Kepiting Cangkak Lunak hasil penjualan antara Rp 6.500,00–
44.000,00/orang. Hasil pendapatan dari penjualan tersebut diperoleh dalam 1
minggu.
Hasil wawancara dan observasi terdapat pengaruh hasil program CSR
terhadap pendapatan masyarakat di Desa Tanjung Mangkok, Kecamatan Pulau
Sebuku, Kabupaten Kotabaru. Pendapatan tergantung hasil penjualan yang
mereka peroleh. Besarnya pendapatan dapat meningkatkan pendapatan (taraf
hidup ekonomi) penduduk, mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi
pendapatan masyarakat di Desa Tanjung Mangkok Kecamatan Pulau Sebuku,
Kabupaten Kotabaru sehingga hal ini dapat diteliti lebih jauh. Berdasarkan latar
belakang, penulis ingin meneliti dengan judul, “Pengaruh Program Corperate
Social Responbsibility (CSR) PT. Sebuku Iron Lateritic Ores (PT. SILO)
Terhadap Tingkat Pendapatan Masyarakat di Desa Tanjung Mangkuk,
Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Corporate Social Responsibility (CSR)
a. Pengertian CSR
Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan (TJSP) merupakan suatu bentuk aktivitas perusahaan mendukung
pembangunan ekonomi berkelanjutan yang di dalamnya kepedulian terhadap
pemberdayaan masyarakat maupun global (Simorangkir & Arifah, 2009).
Corporate Social Responsibi/lity (CSR) di atur dalam Undang-Undang Pasal 1
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mendefinisikan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan sebagai “Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam
pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas sendiri,
komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya”.
CSR merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh
perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru. Undang-Undang ini, industri atau
korporasi-korporasi wajib untuk melaksanakannya, tetapi kewajiban ini bukan
merupakan suatu beban yang memberatkan. Pembangunan suatu Negara bukan
hanya tanggung jawab pemerintah dan industri saja, tetapi setiap insan manusia
berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pegelolaan kualitas hidup
masyarakat. Industri dan korporasi berperan untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan pula faktor lingkungan hidup
(Hendrastuti, 2009).
Subtansi keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan
perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerja sama antara stakeholder
yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program
pengembangan masyarakat sekitarnya. Kemampuan perusahaan dalam dapat
beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait
dengannya, baik lokal, nasional, maupun global (Simorangkir & Arifah, 2009).
Tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR merupakan sebuah konsep
manajemen yang menggunakan konsep “triple bottom line” yaitu keseimbangan
antara mencetak keuntungan, harus seiring dan berjalan selaras dengan fungsifungsi sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup demi terwujudnya pembangunan
yang keberlanjutan (suistainable) (Ambadar, 2008).
Konsep CSR melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah,
lembaga sumberdaya masyarakat dan kumuniti setempat (lokal). Kemitraan
tidaklah bersifat pasif dan statis, tetapi kemitraan merupakan tanggung jawab
bersama secara sosial antar stakeholder. Konsep kedermawanan perusahaan
(corperate philanthropy) dalam tanggung jawab sosial tidak lagi memadai, karena
itu konsep tersebut tidak melibatkan kemitraan tanggung jawab perusahaan secara
sosial dengan stakeholder lainnya (Rudito, dkk dalam Nasruddin, 2008).
b. Tujuan Corporate Social Responsibility (CSR)
Perusahaan tidak berfungsi secara terpisah dari masyarakat sekitarnya.
Faktanya, kemampuan perusahaan untuk bersaing sangat tergantung pada keadaan
lokasi di mana perusahaan itu beroperasi (Suharto dalam Hendrastuti, 2009). Oleh
karena itu, piramida CSR yang dikembangkan Archie B. Carrol harus dipahami
sebagai satu kesatuan. Sebab CSR merupakan kepedulian perusahaan yang
didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah triple bottom lines, yaitu
profit, people dan plannet (3P):
1) Profit. Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan
ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
2) People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan
manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti
pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana
pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan
ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi
warga setempat.
3) Plannet. Perusahaan peduli terhadap lingkungan hayati. Beberapa program
CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan hidup
lingkungan hidup, penyediaan sarana pengembangan pariwisata.
c.
Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR)
Pelaksanaaan TJSP, Perseroaan wajib sesuai Peraturan Daerah Kabuapten
Kotabaru Nomor 19 Tahun 2013 Pasal 10 yang menjelaskan sebagai berikut:
1) Menyusun, menatan merancang dan melaksanakan kegiatan TJSP sesuai
dengan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial dunia usaha sesuai dengan
Keputusan forum pelaksanaan TJSP.
2) Menumbuhkan, menetapkan dan mengembangkan sistem jaringan kerjasama
dan kemitraan dengan pihak-pihak lain serta melaksanakan kajian, monitoring
dan evaluasi pelaksanaan TJSP dengan memperhatikan kepentingan
Perseroaan, pemerintah daerah, masyarakat dan kelestarian lingkungan
59
3)
Menetapkan bahwa TJSP adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam
kebijakan menajemen maupun program pengembangan Perseroaan.
d. Program Corporate Social Responsibility (CSR)
Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan berdasarkan Peraturan
Daerah Kabupaten Kotabaru Nomor 19 Tahun 2013 Pasal 1 meliputi:
1) Bina Lingkungan dan Sosial
Program bina lingkungan dan sosial merupakan program yang bertujuan
mempertahankan fungsi-fungsi lingkungan hidup dan pengelolaannya yang
berada dalam wilayah sasaran, meliputi bina lingkungan fisik, bina lingkungan
sosial dan bina lingkungan usaha mikro, kecil dan koperasi. Program bina
lingkungan sosial dapat berupa:
(a) Hibah, yang dapat diberikan oleh Perseroan kepada masyarakat yang
membutuhkan yang besarnya sesuai dengan kemampuan Perseroan,
(b) Penghargaan berupa beasiswa kepada karyawan atau warga masyarakat yang
berkemampuan secara akademis namun tidak mampu membiayai pendidikan,
(c) Subsidi, berupa penyedian pembiayaan untuk proyek-proyek pengembangan
masyarakat, penyelenggaraan fasilitas umum atau bantuan modal usaha skala
mikro dan kecil,
(d) Bantuan sosial, berupa bantuan dalam bentuk uang, barang maupun jasa
kepada panti-panti sosial/jompo, para korban bencana dan para Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial (PKMS),
(e) Pelayanan sosial, berupa bantuan layanan pendidikan, kesehatan, olah raga
dan santunan pekerja sosial,
(f) Perlindungan sosial, berupa pemberian kesempatan kerja bagi para atlet
nasional/daerah yang sudah purna bakti dan bagi penyandang cacat yang
mempunyai kemampuan khusus.
2) Kemitraan Usaha Mikro, Kecil dan Koperasi
Program kemitraan usaha mikro, kecil dan koperasi merupakan program
untuk menumbuhkan, meningkatkan dan membina kemandirian berusaha
masyarakat di wilayah sasaran. Program kemitraan meliputi aspek-aspek kegiatan:
(a) Penelitian dan pengkajian kebutuhan
(b) Penguatan kelembagaan sosial-ekonomi masyarakat
(c) Pelatihan dan pendampingan berwirausaha
(d) Pelatih fungsi-fungsi manajemen dan tata kelola keuangan
(e) Pelatihan pengembangan usaha seperti peningkatan mutu produk dan desain,
kemasan, pemasaran, jejaring kersajama dan peningkatan klasifikasi
Perseroaan
(f) Meningkatkan kemampuan manajemen dan produktifitas
(g) Mendorong tumbuhnya inovasi dan kreatifitas
3) Program/kegiatan Pemerintah Daerah yang tidak Terakomodir Melalui
Anggaran dan Belanja Daerah/Anggara Pendapatan dan Belanja Negara
Program atau kegiatan pemerintah daerah yang tidak terakomodir melalui
anggaran dan belanja daerah/anggara pendapatan dan belanja negara dapat berupa:
(a) Kegiatan penelitian dan pengembangan
(b) Pembangunan fasilitas publik
(c) Pengembangan organisasi kemasyarakat, kepemudaan, keagamaan, seni dan
budaya.
e.
Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)
Manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan
CSR yaitu: Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan
perusahaan mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. Kedua,
perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga,
perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang
berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan
pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan
manajemen risiko (risk management) (Arief dalam Simorangkir & Arifah, 2009).
Manfaat aplikasi CSR bagi perusahaan antra lain: 1) Mempertahankan
serta mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan. 2) Mendapatkan lisensi
untuk beroperasi secara sosial, 3) Mereduksi resiko bisnis perusahaan, 4)
Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha, 5) Membuka peluang
pasar yang lebih luas, 6) Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan
limbah, 7) Memperbaiki hubungan dengan stakeholder, 8) Memperbaiki
hubungan dengan regulator, 9) Meningkatkan semangat dan produktivitas
karyawan, 10) Peluang mendapatkan perusahaan (Untung, 2008).
2.
Pendapatan
Pendapatan adalah hasil kerja atau usaha yang diterima oleh seseorang
berupa uang atau barang. Pendapatan adalah hasil berupa uang atau meteril
lainnya yang dicapai dari pada penggunaan kekayaan atau jasa-jasa manusia bebas
(Kamus Bahasa Indonesia, 2000).
Pendapatan sebagaimana dijelaskan Sumardi dalam Rahman (2005)
dibagi menjadi 2 pengertian, yaitu pendapatan berupa uang dan barang.
Pendapatan berupa uang merupakan suatu penghasilan yang diterima oleh
seseorang sebagai balas jasa atau kegigihan atau jerih payah yang telah
dikerjakannya, sedangkan pendapatan yang berupa barang adalah penghasilan
yang sifatnya regular dan biasa, tetapi tidak selalu berbentuk balas jasa, yang
diterima adalah dalam bentuk barang atau jasa. Barang dan jasa yang diperoleh
dinilai dengan harga pasar meskipun tidak di imbangi atau disertai transaksi uang
oleh yang menikmati barang dan jasa.
III. METODE
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Teknik pengumpulan data berdasarkan data primer dan data sekunder. Data
primer didapat melalui kuesioner dan observasi, dan data sekunder di dapat
melalui studi dokumen. Pengolahan data dengan cara editing, skoring dan
tabulasi. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase dan korelasi
product moment.
61
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan dilaksanakan untuk mengetahui
pengaruhprogram CSR PT. SILO terhadap tingkat pendapatan masyarakat di Desa
Tanjung Mangkuk, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru.
1.
a.
Program CSR
Perusahaan Memberikan Pelatihan/Keterampilan Kepada Masyarakat
dalam Mengelola Program CSR
Responden berdasarkan padapengelolaan program CSR perusahaan
memberikan pelatihan/keterampilan kepada masyarakat terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perusahaan Memberikan Pelatihan/Keterampilan Kepada
Masyarakat dalam Mengelola Program CSR
No
Keterangan
1.
Sangat Baik
2.
3.
4.
Baik
Kadang-Kadang
Sangat Tidak Baik
Jumlah
Frekuensi
Persentase (%)
2
9,52
12
7
0
57,14
33,33
0
21
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Responden banyak menyatakan baik tentang perusahaan memberikan
pelatihan/keterampilan kepada masyarakat dalam mengelola program CSR yaitu
12 responden atau 57,14% dan responden paling sedikit menyatakan sangat baik
yaitu 2 atau responden atau 9,52%. Sedangkan responden yang menyatakan
sangat tidak baik tidak ada. Perusahaan bekerjasama dengan Universitas Lambung
Mangkurat Banjarbaru untuk memberikan pelatihan kepada semua penerima
program CSR. Pelatihan yang diberikan bagaimana mengelola yang baik usaha
dikembangkan hingga pemasaran atau penjualan.
b. Perusahaan Melakukakan Analalisis Kebutuhan dan Menindaklanjuti
Keluhan Masyarakat dalam Pelaksanaan Program CSR
Perusahaan melakukakan analalisis kebutuhan dan menindaklanjuti
keluhan masyarakat dalam pelaksanaan Program CSR terdapat pada Tabel 2.
Tabel 22. Perusahaan Melakukakan Analalisis Kebutuhan dan
Menindaklanjuti Keluhan Masyarakat dalam Pelaksanaan Program CSR
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Sangat Baik
0
0
2.
Baik
11
52,38
3.
Kadang-Kadang
8
38,10
4.
Sangat Tidak Baik
2
9,52
Jumlah
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
21
100
Perusahaan melakukakan analalisis kebutuhan dan menindaklanjuti
keluhan masyarakat dalam pelaksanaan program CSR. Sebagian besar responden
menyatakan baik yaitu 11 responden atau 52,38%, dan responden yang responden
sebagian kecil menyatakan sangat tidak baik yaitu 2 responden atau 9,52%.
Sedangkan responden yang menyatakan sangat tidak baik tidak ada. Dilihat dari
banyaknya responden menyatakan baik, maka program kemitraan antara
perusahaan dengan masyarakat berjalan dengan baik.
c.
Perusahaan Mengadakan Pertemuan dan Membahas Program CSR
dengan Masyarakat
Tanggapan responden mengenai informasi program CSR masyarakat
mendapatkan langsung dari perusahaan terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Masyarakat Mendapatkan Informasi Mengenai Program CSR
Langsung dari Perusahaan
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Sangat Baik
1
4,76
2.
Baik
7
33,33
3.
Kadang-Kadang
13
61,90
4.
Sangat Tidak Baik
0
0
Jumlah
21
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Tanggapan responden tentang informasi mengenai program CSR, sebagian
besar responden menjawab kadang-kadang yaitu 13 responden atau 61,90% dan
paling sedikit responden menyatakan baik yaitu 1 responden atau 4,76%.
Sedangkan responden yang meyatakan sangat tidak baik tidak ada. Dilihat
banyaknya responden yang menyatakan kadang-kadang, hal tersebut menunjukan
informasi yang didapatkan oleh masyarakat dari perusahaan belum efektif karena
informasi yang diperoleh responsen bukan lansung diperoleh dari perusahaan.
d. Pemberian Bantuan Pengebangan Fasilitas Usaha dapat Meningkatkan
Kemampuan Usaha
Tanggapan responden mengenai pemberian bantuan pengebangan fasilitas
usaha dapat meningkatkan kemampuan usaha terdapat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pemberian Bantuan Pengebangan Fasilitas Usaha dapat
Meningkatkan Kemampuan Usaha
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Sangat Baik
1
4,76
2.
Baik
10
47,62
3.
Kadang-Kadang
10
47,62
4.
Sangat Tidak Baik
0
0
Jumlah
21
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pemberian bantuan pengembangan fasilitas usaha dapat meningkatkan
kemampuan usaha. Sebagian besar responden menyatakan baik tentang yaitu 10
63
responden atau 47,62% dan menyatakan kadang-kadang yaitu 10 responden atau
47,62%. Sedangkan sebagian kecil responden menyatakan sangat baik yaitu 1
responden atau 4,76%. Bantuan fasilitas dari perusahaan agar dapat
mempermudah atau memperlancar pengembangan usaha yang dijalankan
responden. Bantuan fasilitas seperti pembuat kolam dan bantuan mesin pembuatan
pakan.
e.
Perusahaan Memberikan Bantuan dalam Penjualan/Pemasaran Hasil
Program CSR
Tanggapan responden berdasarkan pada perusahaan memberikan bantuan
dalam penjualan/pemasaran hasil program CSR Tabel 6..
Tabel 6. Perusahaan Memberikan Bantuan dalam Penjualan/Pemasaran
Hasil Program CSR
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Sangat Baik
2
9,52
2.
Baik
13
61,90
3.
Kadang-Kadang
6
28,57
4.
Sangat Tidak Baik
0
0
Jumlah
21
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Perusahaan memberikan bantuan dalam penjualan atau pemasaran hasil
program CSR. Sebagian besar Responden menyatakan baik tentang yaitu 13
responden atau 61,90% dan paling sedikit responden yang menyatakan sangat
baik yaitu 2 responden atau 9,52%. Sedangkan responden yang menyatakan
sangat tidak baik tidak ada. Bantuan dalam penjualan atau pemasaran hasil
program CSR, perusahaan membeli hasil program CSR dari responden untuk
keperluan kantin yang ada di perusahaan.
f.
Adanya Program CSR Meningkatkan Tingkat Pendapatan Masyarakat
dari Sebelumnya
Tanggapan responden tentang adanya program CSR meningkatkantingkat
pendapatan masyarakat dari sebelumnya terdapat pada Tabel 7.
Tabel 7. Adanya Program CSR Meningkatkan Tingkat Pendapatan
Masyarakat dari Sebelumnya
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Sangat Baik
1
4,76
2.
Baik
12
57,14
3.
Kadang-Kadang
5
23,81
4.
Sangat Tidak Baik
3
14,29
Jumlah
21
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Tanggapan responden tentang adanya program CSR meningkatkan tingkat
pendapatan masyarakat dari sebelumnya. Sebagian besar responden menyatakan
baik yaitu 12 responden atau 57,14%, dan sebagian kecil responden menyatakan
sangat baik yaitu 1 responden atau 4,76%. Dilihat dari banyaknya responden
menyatakan baik, dapat diketahui adanya program CSR meningkatkan pendapatan
responden dari sebelumnya. Pendapatan responden diperoleh dari hasil penjualan
berupa uang.
2. Pendapatan Masyarakat
a. Pendapatan Budidaya Ikan Air Tawar
1) Peningkatan Pendapatan Setiap Tahun Setelah Adanya Budidaya Ikan
Air Tawar
Tanggapan responden tentang peningkatan pendapatan setiap tahun setelah
adanya beididaya ikan air tawar terdapat pada Tabel 8.
Tabel 8. Peningkatan Pendapatan Setiap Tahun Setelah Adanya
Budidaya Ikan Air Tawar
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1. Ya
1
9,10
2. Tidak
10
90,90
Jumlah
11
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan responden setiap tahun setelah adanya budidaya ikan air tawar
tidak meningkat yaitu 10 responden atau 90,90% dan yang meningkat yaitu 1
responden atau 9,10%. Berdasarkan Tabel 38 dan Gambar 29, penyebab tidak
meningkatnya pendapatan responden dikarenakan penghasilan budidaya ikan air
tawar hanya mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu Budidaya ikan
air tawar usaha yang baru mereka kerjakan.
2) Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Panen Penjualan Ikan
dalam 1 Kali Panen
Rata-rata pendapatan yang diperoleh dari hasil panen penjualan ikan yang
dihasilkan dalam 1 kali panen terdapat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Panen
Penjualan Ikan yang Dihasilkan dalam 1 Kali Panen
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1. > Rp 1.600.000,0
0
2. Rp 1.300.000,- s/d Rp 1.600.000,0
0
3. Rp 1.000.000,- s/d Rp 1.300.000,2
18,18
4. < Rp 1.000.000,9
81,82
Jumlah
11
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan rata-rata responden dari hasil penjualan ikan sebesar kurang
dari Rp 1.000.000,- yaitu 9 responden atau 81,82%, karena responden hanya
sebagai buruh sedangkan rerata pendapatan sebesar Rp 1.000.000,- s/d Rp
1.300.000,- yaitu 2 responden 18,18%, karena responden sebagai ketua pengelola
budidaya ikan air tawar. Besar dan kecilnya pendapatan responden tergantung dari
65
banyaknya ikan yang dibudidayakan responden dan banyaknya hasil penjualan
yang diperoleh responden.
b. Pendapatan Budidaya Kepiting Cangkang Lunak
1) Peningkatan Pendapatan Setelah Adanya Budidaya Kepiting Cangkang
Lunak
Tanggapan responden tentang peningkatan pendapatan setiap tahun setelah
adanya Budidaya Kepiting Cangkang Lunak terdapat pada Tabel 10.
Tabel 10. Peningkatan Pendapatan Setelah Adanya Budidaya Kepiting
Cangkang Lunak
No
Keterangan
Frekuensi Persentase (%)
1. Ya
2
33,33
2. Tidak
4
66,67
Jumlah
6
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan responden setiap tahun setelah adanya budidaya kepiting
cangkang lunak tidak meningkat yaitu 4 responden atau 66,67% dan yang
meningkat yaitu 2 responden atau 33,33%. Penyebab banyak tidak meningkatnya
pendapatan responden dikarenakan penghasilan budidaya ikan air tawar hanya
mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu budidaya ikan air tawar
usaha yang baru mereka kerjakan.
2) Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Penjualan Kepiting
yang Dihasilkan dalam 1 Kali Panen
Rata-rata pendapatan yang diperoleh dari hasil panen penjualan kepiting
yang dihasilkan dalam 1 kali panen terdapat pada Tabel 11.
Tabel 11. Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Penjualan
Kepiting yang Dihasilkan dalam 1 Kali Panen
No
Keterangan
Frekuensi Persentase (%)
1. > Rp 1.600.000,1
16,67
2. Rp 1.300.000,- s/d Rp 1.600.000,0
0
3. Rp 1.000.000,- s/d Rp 1.300.000,1
16,67
4. < Rp 1.000.000,4
66,67
Jumlah
6
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan rata-rata responden dari hasil penjualan kepiting cangkang
lunak sebesar lebih dari Rp 1.600.000,00 yaitu 1 reponden atau 16,67% dan
pendapatan terendah kurang dari Rp 1.000.000,00 yaitu 4 responden atau 66,67%.
Pendapatan berbeda karena responden ada sebagai ketua kelompok da nada
sebagai buruh atau anggota kelompok. Selain itu besar dan kecilnya pendapatan
responden tergantung dari banyaknya ikan yang dibudidayakan responden dan
banyaknya hasil penjualan yang diperoleh responden.
c. Pendapatan Budidaya Ternak Ayam Pedaging
1) Peningkatan Pendapatan Setiap Tahun Setelah Adanya Ternak Ayam
Peningkatan pendapatan setiap tahun setelah adanya ternak ayam terdapat
pada Tabel 12.
Tabel 12. Peningkatan Pendapatan Setiap Tahun Setelah Adanya
Ternak Ayam
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
Ya
Tidak
3
1
4
Jumlah
75,00
25,00
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan responden setelah adanya budidaya ternak ayam pedaging
yang meningkat yaitu 3 responden atau 75,00% dan yang tidak meningkat yaitu 2
responden atau 25,00%. Pendapatan responden banyak meningkat karena hasil
pendapatan yang diperoh dari budidaya ternak ayam pedaging membantu
perekonomian responden. Sebagian kecil pendapatan responden tidak meningkat
karena penghasilan yang diperoleh dari budidaya ikan air tawar hanya mencukupi
kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu budidaya ikan air tawar usaha yang baru
mereka kerjakan.
2) Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Penjualan Ayam yang
Dihasilkan dalam 1 Kali Panen
Rata-rata pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan yang dihasilkan
dalam 1 kali panen terdapat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rata-Rata Pendapatan yang Diperoleh dari Hasil Penjualan
Ayam yang Dihasilkan dalam 1 Kali Panen
No
Keterangan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
> Rp 8.000.000,Rp 6.000.000,- s/d Rp 8.000.000,Rp 4.000.000,- s/d Rp 6.000.000,< Rp 4.000.000,Jumlah
0
0
1
3
0
0
25,00
75,00
4
100
Sumber: Hasil Analisis Data Primer, 2014
Pendapatan rata-rata responden dari hasil penjualan budidaya ayam
sebesar dari Rp 4.000.000,00 s/d Rp 6.000.000,00 yaitu 1 reponden atau 25,00%
dan pendapatan terendah kurang dari Rp 4.000.000,00 yaitu 3 responden atau
675,00%. Pendapatan berbeda karena responden ada sebagai ketua kelompok dan
ada sebagai buruh atau anggota kelompok. Selain itu besar dan kecilnya
67
pendapatan responden tergantung dari banyaknya ayam yang dibudidayakan
responden dan banyaknya hasil penjualan yang diperoleh responden.
3.
Pengaruh Program CSR PT. SILO Terhadap Tingkat Pendapatan
Masyarakat
Hasil penelitan yang telah dilakukan diketahui Program CSR PT. SILO
tidak ada mempunyai pengaruh terhadap tingkat pendapatan para peternak ayam
pedaging, petani ikan air tawar dan petani kepiting cangkang lunak di Desa
Tanjung Mangkuk Kecamatan Pulau Sebuku Kabupaten Kotabaru. Berdasarkan
hasil wawancara dan jawaban kuesioner dari responden didapat, kendala dalam
melaksanakan program CSR para peternak ayam pedaging, petani ikan air tawar
dan petani kepiting cangkang lunak dikarenakan 1) usaha yang mereka jalankan
baru pertama kali pernah melaksanakan, 2) kurangnya pengetahuan dalam
mengelola usaha sehingga mempunyai kendala dalam pelaksanaan usaha, 3)
kurangnya pembinaan dari perusahaan dalam mengelola usaha yang dijalankan
masyarakat, 4) kurangnya modal yang dimiliki sehingga kesulitan dalam
mengembangkan usaha yang dijalankan dan 5) usaha yang dikerjakan para
peternak ayam pedaging, petani ikan air tawar dan petani kepiting cangkang lunak
bukan pekerjaan utama yang mereka kerjakan tetapi sebagai pekerjaan sampingan.
V.
KESIMPULAN
Hasil penelitan yang telah dilakukan diketahui pengaruh program CSR
PT. SILO terhadap tingkat pendapatan para peternak ayam pedaging, petani ikan
air tawar dan petani kepiting cangkang lunak di Desa Tanjung Mangkuk
Kecamatan Pulau Sebuku Kabupaten Kotabaru dapat disimpulkan tidak
mempunyai pengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat.
VI.
UCAPATAN TERIMAKASIH
Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya Bapak
Hasanudin dan Ibu Wahidah, adikku Muhammad Wahyudi dan M. Taupik
Rahman. Apa yang saya persembahkan ini tidak dapat membalas semua
pengobanan mereka dan karya ini juga saya dedikasikan kepada semua kelurga
besar saya yang selalu memotivasi dan membantu saya sehingga selesai skripsi
ini, Terimakasih semuanya.
Terima kasih yang tak terhingga kepada dosen pembimbing selama
pembuatan skripsi ini, yaitu Ibu Parida Angriani, M.Pd., dan Karunia Puji Hastuti,
M.Pd yang telah banyak memberikan saran dan motivasi dalam penyelasaian
skripsi ini, dan juga kepada seluruh dosen pengajar di Program Studi Pendidikan
Geografi saya ucapkan terimakasih yang setingi-tingginya telah memberikan ilmu
pengetahuan selama saya duduk di bangku kuliah. serta tak lupa pula saya
mengucapkan terima kasih kepada Para Sahabat dan teman yang tak hentinya
memberikan semangat dan motivasinya baik dalam pembuatan skripsi dan hingga
menyelasikan kuiah S1.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Simorangkir, Theodrik & Arifah, Ninuk (Eds.). 2009. Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan. Jakarta: Departemen Hukum dan HAM RI.
Undang-Undang Pasal 1 Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang
mendefinisikan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
PT. SILO. 2011. KA-ANDAL Pertambangan dan Pengolahan Bijih Besi di
Kecamatan Pulau Sebuku Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan
Selatan. Kotabaru: PT. SILO.
Hendrastuti, Fenny. 2010. Persepsi Penerimaan Program Terhadap Program
Corparate Social Responbility (CSR) PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk.
Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Ambadar, Jackie. 2008. CSR dalam Praktik di Indonesia. Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo.
Nasruddin. 2008. Evaluasi Program Pengembangan Masyarakat Bidang Ekonomi
Perusahaan Minyak dan Gas Bumi di Kecamatan Muara Jawa Kabupaten
Kutai Kartanegara Tahun 2006. Tugas Akhir tidak diterbitkan.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan dan Lingkungan Perseroaan Terbatas.
Rahman, Helmi. 2005. Hubungan Antara Lama Kerja dengan Pendapatan
Penambang Pasir di Kecamatan Batang Alai Selatan. Tugas Akhir tidak
diterbitkan. Banjarmasin: Program Studi Pendidikan Geografi FKIP
Unlam Banjarmasin.
69
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN
PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) MELATI RAYA
DI DESA JINGAH HABANG ILIR KECAMATAN KARANG INTAN
KABUPATEN BANJAR
Oleh:
Baini, Arif Rahman Nogruho, Parida Angrini
Abstrak
Penelitian ini berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melati Raya Desa Jingah Habang Ilir
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar”. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui persepsi masyarakat terhadap adanya penyelenggaraan program
paket C setara SMA di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melati Raya
desa Jingah Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam
penelitian ini berjumlah 239 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan
sampel penuh. Jenis data yang digunakan adalah data primer berupa angket dan
observasi, sementara data sekunder diperoleh dari studi dokumen. Teknik analisis
data yang digunakan adalah teknik persentase.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai persepsi masyarakat, maka dapat
disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat masih belum puas dengan tingkat
pendidikan yang dimilikinya saat ini, dan berkeinginan melanjutkan kejenjang
berikutnya, dan masyarakat itu sendiri menyatakan bahwa dengan adanya
penyelenggaraan program paket C merasa sangat tertarik untuk mengikuti
program paket C. Adanya lembaga pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM)Melati Raya memberikan kontribusi yang tinggi dalam peningkatan
kualitas sumber daya manusia, sehingga membantu perbaikan tingkat pendidikan
masyarakat melalui program pendidikan kesetaraan yang memberikan kesempatan
bagi warga masyarakat putus sekolah dan warga tidak dapat melanjutkan
pendidikannya pada jalur pendidikan formal.
Kata Kunci : Persepsi, Masyarakat, Program Paket C Setara SMA, Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM).
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan dalam pengertian yang sederhana dan umum adalah usaha
manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani
maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan
budaya. Menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional Pasal 1, pendidikan itu dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
pendidikan formal (sekolah), pendidikan nonformal (luar sekolah) dan pendidikan
informal (keluarga dan lingkungan). Pendidikan nonformal dibagi pula menjadi
yang dilembagakan dan yang tidak dilembagakan. Pendidikan luar sekolah yang
tidak dilembagakan adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari
pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, pada umumnya tidak
teratur dan tidak sistematis. Pendidikan nonformal yang dilembagakan bersifat
fungsional dan praktis, serta pendekatannya lebih fleksibel.
Salah satu upaya yang ditempuh untuk memperlancar kegiatan pendidikan
luar sekolah dilakukan dalam bentuk pendekatan yang berbasis masyarakat
melalui sebuah wadah yang bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
yang berperan dalam menjalankan pendidikan nonformal di perdesaan maupun
perkotaan. Kebijakan awal mengenai penyelenggaraan dan pengoperasian PKBM
bermula dari hasil pertemuan antara Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat
(Dikmas) se Indonesia dengan Direktur Dikmas yaitu Dr. U. Sihombing di Bali
awal tahun 1998. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
“mengetahui persepsi masyarakat terhadap adanya penyelenggaraan program
kejar paket C setara SMA di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melati
Raya desa Jingah Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pendidikan
Menurut UUD Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Pengertian pendidikan yang tertuang
dalam Undang-Undang Sisdiknas tersebut menjelaskan bahwa pendidikan sebagai
proses yang di dalamnya seseorang belajar untuk mengetahui, mengembangkan
kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya untuk menyesuaikan
dengan lingkungan di mana dia hidup. Dalam UUD Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ini disebutkan bahwa pendidikan
digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal.
2.
Pengelolaan
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata manajemen yang berasal dari
kata management, terbawa oleh derasnya penambahan kata pungut kedalam
bahasa Indonesia, istilah Inggris tersebut lalu di Indonesiakan menjadi manajemen
atau menejemen (Arikunto, 1992).
3.
Program Paket C setara SMA
Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang
menyelenggarakan pendidikan setara SD/MI, SMP/MTS, DAN SMA/MA dengan
nama program paket A, paket B dan paket C. Pendidikan kesetaraan juga
berfungsi sebagai upaya penuntasan wajib belajar pendidikan dasar melalui
program paket A dan paket B, sedangkan program paket C berfungsi sebagai
model pendidikan mencegah bagi mereka yang membutuhkan tingkat pendidikan
setara menengah atas. (Muljono, 2008).
4.
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
PKBM atau pusat kegiatan belajar masyarakat adalah merupakan suatu
wadah untuk memberikan pendidikan dan keterampilan kepada masyarakat yang
71
diselenggarakan oleh masyarakat dalam bentuk pendidikan nonformal yang
bekerjasama dengan pemerintah (Dinas Pendidikan).
5.
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidik dan tenaga kependidikan adalah dua “profesi” yang sangat
berkaitan erat dengan dunia pendidikan, sekalipun lingkup keduanya berbeda. Hal
ini dapat dilihat dari pengertian keduanya yang tercantum dalam Pasal 1 Undangundang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan, bahwa Tenaga
Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat
untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sementara Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
6.
Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah perantara
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Azhar Arsyad,
2009). Menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2009), media
apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi dan kejadian yang
membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,
ketrampilan atau sikap.
7.
Sarana dan Prasarana Pembelajaran
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dikatakan bahwa Sarana adalah
segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan.
Sedangkan prasarana adalah merupakan penunjang terselenggaranya suatu proses
(usaha, pembangunan, proyek, dsb). Sarana prasarana pendidikan adalah semua
benda yang bergerak maupun tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang
penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Sarana prasarana merupakan keseluruhan proses pengadaan,
pendayagunaan dan pengawasan sarana prasaranadan peralatan yang digunakan
untuk menunjang pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
tercapai secara efektif dan efisien (Soetjipto, 2009).
8.
Persepsi Masyarakat
Seorang pakar organisasi bernama Robbins (2001) mengungkapkan bahwa
persepsi dapat didefinisikan sebagai proses dengan mana individu-individu
mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna
kepada lingkungan mereka. Sejalan dari definisi diatas, seorang ahli yang
bernama Thoha (1998), mengungkapkan bahwa persepsi pada hakekatnya
adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami
informasi tentang lingkungannya baik lewat penglihatan maupun pendengaran.
9.
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat
Robbins ( 2001 ) mengemukakan bahwasanya ada 3 faktor yang dapat
mempengaruhi persepsi masyarakat yaitu Pelaku persepsi, Target atau objek dan
Situasi.
III. METODE PENELITIAN
a. Pemilihan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PKBM Melati Raya Desa Jingah Habang Ilir
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.
b. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah warga sekitar lembaga PKBM Melati
Raya yang berpendidikan SLTP sederajat yang berjumlah 239 orang. Adapun
sampel pada
c.
Prosedur Pengumpulan Data
Data merupakan sekumpulan informasi yang di perlukan untuk
pengambilan kesimpulan (Samsu, 2013). Permasalahan dalam penelitian ini, maka
data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data primer adalah pengupumlan data secara mandiri oleh
peneliti langsung melalui jaringan pengisian kuesioner oleh responden yang
bersifat langsung (Nuning, 2012).
2. Data sekunder adalah perolehan data dari berbagai jurnal dan laporan peneliti
terdahulu (Nuning, 2012).
d. TeknikPengolahan Data
Pengumpulan data dilapangan selesai dilakukan, maka tahap berikutnya
adalah pengolahan data dan analisis data yaitu:Pengolahan data adalah
mentabulasi data menjumlahkan atau memilah- milah data menjadi yang disajikan
dan kemudian di analisis sesuai dengan kebutuhan (Nuning, 2012). Data yang
diperoleh dari penyebaran angket dapat dilakukan dengan cara, Editing, Coding,
Scoring dan Tabulating
e.
Analisis Data
Data primer yang diperoleh dalam penelitian di analisis dengan
menggunakan random atau teknik acak dengan menggunakan perhitungan
presentase. Teknik analisis data pada penelitian menggunakan teknik persentase
dan teknik korelasi Product Moment yang disajikan pada uraian berikut:
1. Persentase hasil angket
Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan dimasukkan kedalam
tabel frekuensi untuk diketahui persentase masing-masing indikator, dengan
rumus sebagai berikut :
f
p = N x 100 %
73
Keterangan :
p: persentase
f: frekuensi jawaban responden
N : jumlah sampel penelitian(Sudijono,2010).
IV.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Keberadaan lembaga pendidikan seperti Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) dirasakan sangat bermanfaat dalam kemajuan pendidikan
bagi masyarakat sekitar lembaga. Program paket C merupakan salah satu jenis
layanan pendidikan yang sangat diketahui oleh masyarakat. Pendidikan
kesetaraan sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan nonformal bertujuan
memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk mengikuti pendidikan
menengah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan peserta didik yang tidak
memiliki kesempatan belajar pada pendidikan formal. Pelaksanaan program paket
C oleh pemerintah disosialisasikan melalui Dinas Pendidikan, Sanggar Kegiatan
Belajar (SKB), UPT Pendidikan, Penilik PLS dan Lembaga Nonformal seperti
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Masyarakat yang berdomisili di sekitar PKBM Melati Raya Desa Jingah
Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar pada umumnya
mengetahui program paket C setara SMA. Selain masyarakat Desa Jingah
Habang Ilir, masyarakat dari desa lain yang berada disekitar PKBM Melati Raya
juga banyak yang datang untuk ikut serta belajar pada program paket C.
Berdasarkan hasil dari kuesioner yang dijawab para responden, mereka
berkeinginan melanjutkan pendidikannya karena merasa belum cukup dengan
tingkat pendidikannya yang sekarang, dan mereka sangat setuju dan berminat
untuk mengikuti program paket C karena dirasa sangat bermanfaat bagi ke
depannya. Selain diberikan ilmu pengetahuan berupa mata pelajaran, peserta
didik program paket C juga dibekali berbagai macam jenis keterampilan yang
sesuai dengan potensi daerah maupun potensi diri peserta didik, tujuannya adalah
agar memiliki kesiapan untuk terjun ke masyarakat dan dunia kerja, karena
peserta didik yang lulus program paket C tidak semuanya melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi lagi seperti masuk Perguruan Tinggi.
Kegiatan pembelajaran paket C umumnya dilaksanakan tidak setiap hari
seperti sekolah formal, waktu pembelajarannya bisa hanya 2 atau 3 kali dalam
seminggu, di PKBM Melati Raya kegiatan pembelajaran dilaksanakan 2 kali
dalam seminggu yakni pada hari jum’at dan sabtu pada pukul 14.30 s.d 17.00
Wita. Menurut hasil dari jawaban responden yang telah diolah, sebagian besar
responden menyatakan bahwa jadwal pembelajaran yang dilaksanakan selama 2
kali seminggu di PKBM Melati Raya sudah cukup efektif karena kebanyakan
dari yang mengikuti program paket C ini adalah masyarakat yang kebanyakannya
sudah bekerja, sedangkan mengenai waktu pembelajaran pada sore hari yang
telah ditetapkan oleh PKBM Melati Raya juga sudah dirasa cukup efektif oleh
responden.
Setiap kegiatan pembelajaran pasti mempunyai sarana dan prasarana
pendukung yang bisa menunjang proses kegiatan pembelajaran, ketersediaan
gedung penyelenggaraan, kursi dan meja belajar, ATK, papan tulis dan buku
paket untuk peserta didik sangat diperlukan. Menurut hasil jawaban responden,
sarana dan prasarana yang perlu ditambah lagi oleh lembaga adalah buku paket
dan meja kursi pembelajaran, karena jumlah yang sekarang masih kurang
dibanding dengan jumlah peserta didik yang belajar. Pada proses pembelajaran,
tenaga pendidik juga sangat berperan didalamnya untuk mengajar dan
membimbing peserta didik, kesesuaian latar belakang tenaga pendidik terhadap
mata pelajaran yang diajarkannya menjadi salah satu bagian penting dalam proses
pembelajaran. Menurut hasil jawaban responden, hampir semua responden
menyatakan latar belakang pendidikan tenaga pengajarr sudah sesuai dengan
mata pelajaran yang diajarkan, namun ada juga yang menyatakan tidak sesuai.
Pada kenyataannya, di PKBM Melati Raya memang ada tenaga pendidik yang
mengajar tidak sesuai dengan latar pendidikannya, yakni pendidikan terakhir S1
Pendidikan Kewarganegaraan mengajar mata pelajaran Geografi, pendidikan
terakhir S1/PAI mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut 121 orang
responden (51%) menyatakan bahwa penyelenggaraan program paket C di
PKBM Melati Raya sudah cukup profesional, hal itu terlihat dari pengelolaan
yang sangat baik dan terstruktur dengan rapi, serta program kerja yang cukup
bagus, dan ini menjadikan PKBM Melati Raya Desa Jingah Habang Ilir
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar terus mendapat dukungan dari
pemerintah (Dinas Pendidikan) serta masyarakat sekitar lembaga.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian mengenai
persepsi masyarakat terhadap penyelenggaraan progam paket C setara SMA di
PKBM Melati Raya Desa Jingah Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kabupaten
Banjar, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Banyak pihak masyarakat masih belum puas dengan tingkat pendidikan yang
dimilikinya sekarang (SMP Sederajat), dan berkeinginan untuk melanjutkan
kejenjang berikutnya.
2. Banyak pihak masyarakat yang mempunyai persepsi bahwa dengan adanya
penyelenggaraan program paket C merasa sangat tertarik untuk mengikuti
program paket C.
3. PKBM Melati Raya memberikan kontribusi yang tinggi dalam peningkatan
kualitas sumber daya manusia.
4. Perbaikan tingkat pendidikan masyarakat melalui program pendidikan
kesetaraan yang memberikan kesempatan bagi warga masyarakat putus
sekolah dan warga tidak dapat melanjutkan pendidikannya pada jalur
pendidikan formal.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan
Evaluatif. Jakarta : PT. Raja Grafindo.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik..
Jakarta: Rineka Cipta Jakarta.
Arsyad, A. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Badan Pusat Statistik, 2013. Kecamatan Karang Intan dalam Angka. BPS.
75
Bafadal, I. 2003. Manajemen perlengakapan sekolah teori dan aplikasinya.
Jakarta : Bumi Aksara.
Direktorat Pembinaan SMA, 2011. Standar Proses Program Paket C. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Menegah Kementrian PendidikanNasional.
Direktorat Pendidikan Kesetaraan, 2010. Pedoman Penyelenggaraan Program
Paket C Umum. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan
Informal.
FK-PKBM Indonesia. 2011. Konsep dan Strategi Pengembangan Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM). Jakarta
Gojali, 2011. Pedoman Pengelolaan dan Pembinaan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM), (Online),
(http://lilighazali-pnfi.blogspot. com/2011/03/pedoman-pengelolaan-danpembinaan-pkbm.html, diakses pada tanggal 7 Oktober 2013).
Huda, N. 2011. Teori-teori Pendidikan. (online),
(http://hudanuralawiyah.wordpress.com/2011/11/25/makalah-teori-teoripendidikan, diakses pada tanggal 5 Nopember 2013).
Muljono, P. 2008. Urgensi Standarisasi Proses Pendidikan Kesetaraan di
Indonesia. Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Mulyasa, E. 2002. Manajemen berbasis sekolah. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Nuning. 2012. Pemanfaatan layanan ruang baca perpustakaan disekolah
menengah
atas
negeri
2
kota
Mojokerto,
(online)
(http://journal.unair.ac.id/filerPDF/ARTIKEL%20EJOURNAL%20SKRIPSI%20LAYANAN%20RUANG%20BACA.pdf
diakses 3 maret 2014).
Samsu, Saharia. 2013. Analisis pengakuan dan pengukuran pendapatan
berdasarkan PSAK. No. 23 pada PT. Misa utara Manado,(online),
(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/emba/article/download/1862/14711
471, di akses 2 januari 2014).
Soetjipto, Prof. Kosasi, Raflis. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta.
Sudijono, A. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers
Jakarta.
Sudjana, S. 2000. Manajemen program pendidikan. Bandung : PT. Falh
Production.
Sukardi, 2003. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. 2012. Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Bandung.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.2003.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30921/3/Chapter%20II.pdf.
(Online). (Diakses pada tanggal 7 Oktober 2013).
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31782/4/Chapter%20II.pdf.
(Online). (Diakses pada tanggal 7 Oktober 2013).
PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET SEBAGAI SUMBER
BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS
XII IPS SMA NEGERI 9 BANJARMASIN
Oleh:
Khairani, Parida Angriani, Eva Alviawati
Abstrak
Penelitian ini berjudul “ Pengaruh Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber
Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemanfaatan Internet Sebagai
Sumber Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 9
Banjarmasin.
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPS SMA
Negeri 9 Banjarmasin. Sampel yang dijadikan responden adalah Sampel penuh
yaitu seluruh siswa kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data primer
dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan metode
angket (kuesioner), sedangkan pengumpulan data sekunder menggunakan metode
studi dokumen dan studi pustaka. Analisis data penelitian ini adalah analisis data
dengan menggunakan teknik persentase dan teknik korelasi Product Moment.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ada hubungan yang signifikan
antara pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar terhadap hasil belajar
Geografi siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin, karena nilai rxy
bernilai 0,556 lebih besar r Tabel dari 1%, tabel nilai r menghasilkan angka 0,351
dan 5% Tabel nilai r menghasilkan angka 0,271 atau nilai rxy 0,556 lebih besar
dari r tabel 5% dan 1 % yaitu 0,271 < 0,556 > 0,351 dan bahwa pengaruh
pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar mempunyai pengaruh yang positif
dan signifikan terhadap hasil belajar Geografi siswa kelas XII IPS SMA Negeri 9
Banjarmasin semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal ini ditunjukkan dari
hasil analisis regresi memperoleh harga  = 63,91. Harga  lebih besar
daripada harga Ftabelbaik pada taraf signifikan 5% maupun 1%, yaitu
4,028<63,91>7,16. Artinya ada pengaruh yang positif dan hubungan yang agak
rendah antarapemanfaatan Internet sebagai sumber dengan hasil belajar siswa
Kelas
Kata Kunci : Pemanfaatan internet, Sumber Belajar, Hasil Belajar, Siswa
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
pembangunan nasional dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia
seutuhnya. Seluruh rakyat Indonesia mempunyai hak yang sama dalam
mendapatkan pendidikan, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional
pasal 1 dijelaskan bahwa ” pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
77
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Riyanto,
2012).
Sumber belajar merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi
pesan, bahan, alat, teknik dan lingkungan yang mana hal itu dapat berpengaruh
hasil belajar siswa (Sardiman, 2012). Penyelenggaraan pembelajaran merupakan
tugas guru, sehingga kegiatan pembelajaran siswa diharapkan mampu
memperoleh hasil belajar yang baik, hasil belajar merupakan faktor penting dalam
pendidikan. Hasil belajar adalah tolak ukur yang digunakan untuk menentukan
tingkat keberhasilan siswa dalam memahami konsep belajar (Sulandra, 2013).
Teknologi merupakan faktor budaya yang mempengaruhi hasil belajar
yang ada dari luar siswa. Perkembangan ilmu dan teknologi sangat pesat
membawa dampak yang sangat luas dalam semua sektor kehidupan (Ali,2009).
Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor yang mengalami pengaruh yang
besar terhadap perkembangan dan teknologi, yang sejalan dengan paradigma
belajar abad 21 yang dicirikan oleh empat karakteristik pokok,yaitu; informasi,
komputasi, otomasi dan komunikasi. Ciri yang pertama informasi, bahwa
informasi dapat diperoleh di mana saja dan kapan saja.Ciri kedua komputasi,
bahwa lebih cepat memakai mesin. Ciri ketiga otomasi, bahwa menjangkau segala
pekerjaan rutin. Ciri ke empat komunikasi, bahwa komunikasi bisa dari mana saja
dan kemana saja (Farisi,2013).
Proses belajar mengajar biasanya menggunakan berbagai media
pembelajaran atau multimedia yang berbasis komputer dan memiliki jaringan
internet, yang mana dapat mengatasi kekurangan guru guna memenuhi aspirasi
belajar pendidik dan membantu pelajar menguasai pengetahuan (Hananta, 2010).
Pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran mengkondisikan
peserta didik untuk belajar secara mandiri. Siswa dapat mengakses secara online
sumber belajar seperti mencari informasi pembelajaran melalui geogle dan yahoo,
mencari data yang berkaitan dengan pelajaran dan perpustakaan online
(Munadi,2013). Pemanfaatan jaringan internet sebagai sumber pembelajaran dapat
diimplementasikan melalui cara: Browsing, Searching, Resourcing, Consulting
dan Communicating(Andri,2007).
II. TINJAUAN PUSTAKA
a.
Internet
Internet adalah kumpulan yang luas dari jaringan komputer besar dan kecil
yang saling berhubungan menggunakan jaringan komunikasi yang ada diseluruh
dunia. Seluruh manusia yang secara aktif berpartisipasi sehingga internet menjadi
sumber daya informasi yang sangat berharga. Jaringan komputer adalah cara
menghubungkan beberapa komputer yang ada di dalamnya dapat saling
berhubungan dan berbagai sumber daya seperti perangkat penyimpan data
(Daryanto, 2004). Paradigma belajar abad 21 yang dicirikan oleh empat
karakterisrik pokok, yaitu :
1. Apek informasi, bahwa informasi dapat diperoleh di mana saja dan kapan
saja. Pada tahap ini pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik
mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.
2.
3.
4.
Aspek komputasi, bahwa lebih cepat memakai mesin. Pada tahap ini
pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah, bukan hanya
menyelesaikan masalah (menjawab).
Aspek otomasi, bahwa menjangkau segala pekerjaan rutin. Pada tahap ini
pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis (pengambilan
keputusan) bukan berfikir mekanis (rutin).
Aspek komunikasi, bahwa komunikasi bisa dari mana saja dan ke mana saja.
Pada tahap ini pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan
kolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Farisi, 2013).
b. Sumber Belajar
Sumber belajar merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi
pesan, bahan, alat, teknik dan lingkungan yang mana dapat berpengaruh hasil
belajar siswa (Sardiman, 2012).
c.
Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Pembelajaran
Pemanfaatan jaringan internet sebagai sumber pembelajaran, dapat
diimplementasikan melalui cara berikut :
1) Browsing (menjelajahi dunia maya)
Browsing atau surfing merupakan istilah umum yang digunakan bila
hendak menjelajahi dunia maya atau web. Tampilan web yang sangat artistik
menampilkan teks, gambar-gambar, dan malahan animasi yang ditampilkan
sedemikian rupa sehingga selalu membuat betah para pengunjungnya. Melakukan
browsing ini kita menggunakan suatu fasilitas yang bernama browser, banyak
jenis software browser yang tersedia dipasaran, mulai dari gratisan seperti mozilla
sampai komersil seperti Netscape dan internet explorer. Jenis aplikasi internet
yang akan kita lakukan tidak terlepas dari browser, karena browser merupakan
media komunikasi antara user dengan layanan internet. Sebagai pengguna
windows, maka software browser yang sering digunakan adalah internet explorer
dari Microsoft.
2) Searching (pencarian sumber bahan belajar)
Searching merupakan proses pencarian sumber pembelajaran guna
melengkapi materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Segala sesuatu
informasi yang berkaitan sumber informasi tersebut belum diketahui, sehingga
dengan memanfaatan Search engine adalah salah satu fasilitas yang tersedia pada
aplikasi untuk mencari informasi yang kita inginkan. Search engine menampung
database situs-situs dari seluruh dunia yang jumlahnya milyaran halaman web.
Cukup dengan memasukkan kata kuncinya, maka proses pencarian akan
dilakukan dan search engine akan menampilkan beberapa link situs yang disertai
dengan keterangan singkat.Banyak aplikasi search engine yang ditawarkan oleh
situs-situs tertentu yang ada di internet, yang populer antara lain geogle, yahoo,
altavista, dan sebagainya disamping fasilitas search yang disediakan oleh setiap
situs.
79
3) Resourcing (internet untuk sumber bahan belajar)
Resourching yang dimaksud disini adalah menjadikan internet sebagai
sumber pengajaran, dalam arti kata peranan internet sebagai gudangnya informasi
dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dan data yang berkaitan dengan
materi pengajaran yang disampaikan, Informasi yang berkaitan dengan alamat
situs yang akan dikunjungi sebagai sumber media ajar telah diketahui terlebih
dahulu melalui informasi yang diberikan pada buku pegangan pengajaran maupun
dari informasi lainnya.
4. Consulting dan Communicating (Konsultasi dan komunikasi)
E-Mail (Surat Elektronik)
E-mail merupakan aplikasi yang paling populer sejak internet pertama kali
diperkenalkan, karena dengan fasilitas ini dapat menjembatani komunikasi data
antar personal maupun antar perusahaan, e-mail terkenal karena memberikan cara
yang mudah dan cepat dalam mengirim informasi. Selain itu juga menangani
catatan yang kecil, hingga file yang besar berupa file yang ditumpangkan padanya
(attachment file).
Milis (Mailing List) (Berdiskusi Melalui Email)
Mailling list berarti daftar alamat E-mail untuk setiap orang yang ingin
menerima mail tentang topik tertentu. Mailing List atau Milis (kadang disebut
posting) pada dasarnya masih merupakan komunikasi dengan memanfaatkan
layanan e-mail, yakni mengirim dan menerima E-mail ke dan/atau dari
sekelompok orang dengan tujuan penggunaan sebagai sarana diskusi, yang
biasanya dikelompokkan berdasarkan topik diskusi, kelompok tertentu atau
pengelompokkan lainnya.
5.
Hasil Belajar
Hasil dari serangkaian kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar
dengan objeknya adalah siswa. Hasil belajar merupakan tolak ukur yang
digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami
konsep dalam belajar. Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas
guru, sehingga kegiatan pembelajaran diharapkan siswa memperoleh hasil belajar
yang baik, secara umum hasil belajar dipandang sebagai perwujutan nilai yang
diperoleh siswa melalui pembelajaran (Sulandra, 2013).
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam pendidikan, bahkan
menentukan kualitas belajar yang dicapai oleh siswa pada bidang studi yang
dipelajari. Siswa yang cerdas dapat dengan cepat menciptakan lingkungan belajar
yang mendorong perkembangan intelektual dirinya dalam bentuk macam-macam
kegiatan yang dapat meningkatkan hasil belajarnya.
III. METODE PENELITIAN
a. Pemilihan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Banjarmasin, beralamat di Jalan Tatah
Bangkal Luar, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin.
b. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek /subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya dan Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012).
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah mengambil sampel penuh, yaitu
dengan mengambil seluruh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin pada semester genap tahun
pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 53 siswa.
c.
Teknik Pengumpulan Data
Data merupakan sekumpulan informasi yang di perlukan untuk
pengambilan kesimpulan (Samsu, 2013). Permasalahan dalam penelitian ini, maka
data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data primer adalah pengupumlan data secara mandiri oleh
peneliti langsung melalui jaringan pengisian kuesioner oleh responden yang
bersifat langsung (Nuning, 2012).
2) Data sekunder adalah perolehan data dari berbagai jurnal dan laporan peneliti
terdahulu (Nuning, 2012).
d. Teknik Pengolahan Data
Pengumpulan data dilapangan selesai dilakukan, maka tahap berikutnya
adalah pengolahan data dan analisis data yaitu:Pengolahan data adalah
mentabulasi data menjumlahkan atau memilah- milah data menjadi yang disajikan
dan kemudian di analisis sesuai dengan kebutuhan (Nuning, 2012). Data yang
diperoleh dari penyebaran angket dapat dilakukan dengan cara, Editing, Coding,
Scoring dan Tabulating.
e.
Teknik Analisis data
Data primer yang diperoleh dalam penelitian di analisis dengan
menggunakan random atau teknik acak dengan menggunakan perhitungan
presentase. Teknik analisis data pada penelitian menggunakan teknik persentase
dan teknik korelasi Product Moment yang disajikan pada uraian berikut:
1) Persentase hasil angket
Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan dimasukkan
kedalam tabel frekuensi untuk diketahui persentase masing-masing indikator,
dengan rumus sebagai berikut :
p
f
100%
N
Keterangan :
p: persentase
f: frekuensi jawaban responden
N : jumlah sampel penelitian(Sudijono,2010).
81
2) Perhitungan korelasi Product Moment
Data yang diperoleh kemudian dihitung koefisien korelasinya dengan
menggunakan rumus korelasiProduct Moment, sebagai berikut :
xy =
N  X
N  XY  ( X )( Y )
2
 ( X ) 2 }{N  Y 2  ( Y ) 2

Keterangan:
 = Koefisien korelasi product moment
 = Jumlah Siswa
 = Nilai Kuesioner
 = Nilai Geografi
 2 = Kuadrat nilai koesioner
 2 = Kuadrat nilai Geografi ( Arikunto, 2002).
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hubungan antara variabel X (Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber
Belajar) dengan variabel Y (Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XII IPS) dapat
diketahui dengan teknik analisis Korelasi Product Moment. Perhitungan untuk
mengetahui korelasi antara variabel X (Pemanfaatan Internet) dengan varibel.
Taraf signifikan 5% Tabel nilai r menghasilkan angka 0,271, sedangkan
taraf signifikan 1% Tabel nilai r menghasilkan angka 0,351. Maka nilai rxy lebih
besar dari “r” tabel 5% dan 1 % yaitu 0,271< 0,556> 0,351. Berdasarkan uji
hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara varabel X (Pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar) dengan
variabel Y (Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XII IPS).
Taraf signifikan 5% Tabel nilai F menghasilkan angka 4, 028 sedangkan
taraf signifikan 1% Tabel nilai r menghasilkan angka 7,16. Maka nilai  lebih
besar dari “F” tabel 5% dan 1 % yaitu 4,028<63,91>7,16. Berdasarkan uji
hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh yang positif dan
signifikan antara varabel X (Pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar) dengan
variabel Y (Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XII IPS).
V.
PEMBAHASAN
Pemanfaatan jaringan internet sebagai sumber pembelajaran dapat
diimplementasikan melalui cara:
a.
Browsing (menjelajahi dunia maya)
Browsing atau surfing merupakan istilah umum yang digunakan bila
hendak menjelajahi dunia maya atau web. Tampilan web yang sangat artistik
menampilkan teks, gambar-gambar, dan malahan animasi yang ditampilkan
sedemikian rupa sehingga selalu membuat betah para pengunjungnya.
Berdasarkan dari data yang diperoleh bahwa pada indikator Browsing atau
mengakses internet, siswa Kelas XII IPS SMAN 9 Banjarmasin, seluruh siswa
pernah mengakses pelajaran Geografi di Internet dan aplikasi Browsing yang
paling banyak digunakan siswanya adalah Mozilla. Siswa mengakses pelajaran
Geografi dalam bentuk Teks, Gambar, Video dan Animasi yang mana keseringan
siswa dalam mengakses pelajaran itu rata- rata hanya 1-3 kali mengakses dan
Teks merupakan bentuk materi pelajaran yang paling banyak di akses.
b. Searching (pencarian sumber bahan belajar)
Searching merupakan proses pencarian sumber pembelajaran guna
melengkapi materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Segala sesuatu
informasi yang berkaitan sumber informasi tersebut belum diketahui, sehingga
dengan memanfaatan Search engine adalah salah satu fasilitas yang tersedia pada
aplikasi untuk mencari informasi yang kita inginkan.
Berdasarkan dari data yang diperoleh bahwa pada indikator Searching
Siswa Kelas XII IPS SMAN 9 Banjarmasin sebagian besar siswanya pernah
mencari informasi meteri geografi dari Google dan Yahoo dan rata- rata siswanya
hanya 1-3 kali dalam mencari informasi geografi di Internet sedangkan untuk
aplikasi Searching yang paling banyak digunakan adalah Google dibandingkan
Yahoo.
c.
Resourcing (internet untuk sumber bahan belajar)
Resourching yang dimaksud disini adalah menjadikan internet sebagai
sumber pengajaran, dalam arti kata peranan internet sebagai gudangnya informasi
dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dan data yang berkaitan dengan
materi pengajaran yang disampaikan, Informasi yang berkaitan dengan alamat
situs yang akan dikunjungi sebagai sumber media ajar telah diketahui terlebih
dahulu melalui informasi yang diberikan pada buku pegangan pengajaran maupun
dari informasi lainnya.
Berdasarkan pada data yang diperoleh bahwa pada Indikator Resourcing
siswa Kelas XII IPS SMAN 9 Banjarmasin sebagian besar siswanya mempelajari
materi pelajaran yang didapat di Internet dan siswa rata- rata hanya membaca 1-3
saja sumber materi pelajaran yang mereka dapat di Internet.
d. Consulting dan Communicating (Konsultasi dan komunikasi)
E-mail (Yahoo Mail) merupakan aplikasi Chating yang paling populer
sejak internet pertama kali diperkenalkan, karena dengan fasilitas ini dapat
menjembatani komunikasi data antar personal maupun antar perusahaan, e-mail
terkenal karena memberikan cara yang mudah dan cepat dalam mengirim
informasi.sekarang ini aplikasi chating lebih beragam diantaranya Facebook dan
Twitter yang mana mempermudah siswa berkomunikasi dengan guru maupun
dengan teman di Internet.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa pada indikator Communicating
siswa kelas XII IPS SMAN 9 Banjarmasin hanya sebagian kecil siswa yang
bekomunikasi menenai pelajaran Geografi baik itu dengan guru geografi maupun
dengan teman. Aplikasi Chating yang paling banyak digunakan siswa
berkomunikasi tentang meteri pelajaran dengan guru geografi adalan Yahoo Mail
83
sedangkan aplikasiyang paling banyak digunakan berkomunikasi tentang materi
pelajaran Geografi dengan teman adalah Twitter.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hubunganpemanfaatan
Internet sebagai sumber belajar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan
terhadap hasil belajar Geografisiswa kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin
semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis
korelasi product moment yang memperoleh harga rxy = 0,556. Harga rxylebih besar
daripada harga rtabelbaik pada taraf signifikan 5% maupun 1%, yaitu 0,271<
0,556> 0,351, danbahwa pengaruh pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar
mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil belajar Geografi
siswa kelas XII IPS SMA Negeri 9 Banjarmasin semester genap Tahun Pelajaran
2013/2014.Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis regresi memperoleh harga
 = 63,91. Harga  lebih besar daripada harga Ftabelbaik pada taraf signifikan
5% maupun 1%, yaitu 4,028<63,91>7,16.
VI.
KESIMPULAN
Berdasarakan penelitian yang telah dilakukan di SMA Negeri 9
Banjarmasin yang berjudul “ Pengaruh Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber
Belajar Terhadap Hasil Belajar Gografi Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 9 dapat
disimpulkan bahwa, ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan Internet
sebagai sumber belajarterhadap hasil belajar Geografi siswa Kelas XII IPS karena
nilai rxy bernilai 0,556 lebih besar r Tabel dari 1%,Tabel nilai r menghasilkan
angka 0,351 dan 5% Tabel nilai r menghasilkan angka 0,271 atau nilai rxy 0,556
lebih besar dari r tabel 5% dan 1 % yaitu 0,271< 0,556> 0,351dan bahwa
pengaruh pemanfaatan Internet sebagai sumber belajar mempunyai pengaruh yang
positif dan signifikan terhadap hasil belajar Geografi siswa kelas XII IPS SMA
Negeri 9 Banjarmasin semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014.Hal ini
ditunjukkan dari hasil analisis regresi memperoleh harga  = 63,91. Harga
 lebih besar daripada harga Ftabelbaik pada taraf signifikan 5% maupun 1%,
yaitu 4,028<63,91>7,16.
Ada pengaruh yang positif (signifikan) dan hubungan yang agak rendah
antara pemanfaatan Internet sebagai sumber dengan hasil belajar siswa Kelas XII
IPS SMAN 9 Banjarmasin.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Pt Rieneka Cipta.
Daryanto. 2004. Memahami Kerja Internet. Bandung : Yrama Widya.
Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Hadi, Sutrisno. 1983. Analisis Regresi. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Munadi, Yudhi. 2013. Media Pembelajaran(Sebuah Pendekatan Baru). Jakarta:
Gp Press Group.
Pujiyanti, Rezky. 2013. Pengaruh Motivasi Belajar dan Pemanfaatan
Perpustakaan Terhadap Prestasi Belajar Pada Siswakelas X SMAN 2
Barabai Tahun Ajaran 2012/2013. Banjarmasin: Fkip Geografi Unlam.
Sardiman, A.M. 2012. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo
Persada.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian (Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Adri, Muhammad. 2007. Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Pembelajaran,
(Online),(Http://Ilmukomputer.Org/Wp-Content/Uploads/2008/01/AdriModul0-Gurugoblog.Pdf, di akses 6 Januari 2014).
Ali, Muhammad. 2009. Peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran
melalui teknologi informasi dan komunikasi di universitas negeri
Yogyakarta,
(online),
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Muhamad%20Ali,%20S
T.,M.T./TIK%20dalam%20Pembelajaran%20%28Muhamad%20Ali%29.p
df diakses 3 maret 2013).
Farisi, Muhammad iman. 2013. Kurikulum rekonstruksionis dan implikasinya
terhadap ilmu pengetahuan sosial analisis dokumen kurikulum 2013,
(online),
(http://utsurabaya.files.wordpress.com/2010/08/imam8-teoriskema.pdf, diakses 6 maret 2014).
Hadi,
Ido
Priyono.2001.
Wawancara,
online,
(http://faculty.petra.ac.id/ido/courses/11_wawancara.pdf diakses tanggal 3
maret 2014).
Hananta, Amalia Putri Sari. 2010. Penggunaan internet sebagai sumber belajar
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa akselerasi kelas XI pada mata
pelajaran pendidikan agama islam di SMAN 1 Malang, (online),
(http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/06110220.pdf diakses 3
maret 2014).
Imron, Ahmad Ali. 2013. Pengaruh Pemanfaatan Internet Terhadap Motivasi
Belajar
Mahasiswa,
(Online),
(http://ejurnal.stkipjb.ac.id/index.php/AS/article/viewFile/53/38, di akses
24 oktober 2013).
Mustamin, hasmimiah ST.2010. Meningkatkan asil belajar matematika melalui
penerapan
asesmen
kinerja,
(online),
(http://ejurnal.uinalauddin.ac.id/artikel/03%20Meningkatkan%20Hasil%20Belajar%20%20St%20Hasmiah%20Mustamin.pdfhttp://ejurnal.uinalauddin.ac.id/artikel/03%20Meningkatkan%20Hasil%20Belajar%20%20St%20Hasmiah%20Mustamin.pdf diakses 3 maret 2014).
Nuning. 2012. Pemanfaatan layanan ruang baca perpustakaan disekolah
menengah
atas
negeri
2
kota
Mojokerto,
(online)
(http://journal.unair.ac.id/filerPDF/ARTIKEL%20EJOURNAL%20SKRIPSI%20LAYANAN%20RUANG%20BACA.pdf
diakses 3 maret 2014).
85
Purnamasari, Dian. 2010. Persepsi Siswa Terhadap Pengaruh Motivasi Dalam
Menggunakan Internet Sekolah Sebagai Sumber Informasi Pendidikan Si
SMK
Negeri
4
Yogyakarta,
(Online),
(http://digilib.uinsuka.ac.id/5413/1/BAB%20I%2CV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pd
f , di akses 24 oktober 2013).
Riyanto. 2012. Pemanfaatan Internet Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi
Belajar Siswa Kelas X (Studi Ksus Pada Kompetensi Keahlian Elektronika
Industry
Di
Smk
Muda
Patria
Kalasan
),(Online),(
Http://Eprints.Uny.Ac.Id/8853/1/JURNAL%20SKRIPSI.Pdf, di akses 24
Oktober 2013).
Samsu, Saharia. 2013. Analisis pengakuan dan pengukuran pendapatan
berdasarkan PSAK. No. 23 pada PT. Misa utara Manado,(online),
(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/emba/article/download/1862/14711
471, di akses 2 januari 2014).
Sulandra, M. 2013. Meningkatkan hasil belajar pkn siswa dengan menerapkan
strategi pembelajaran aktif tipe crossword puzzle pada materi pengertian
perundang-undangan di kelas V SDN 27/IX Sebapo, (online),
(http://fkipunjaok.com/versi_2a/extensi/artikel_ilmiah/artikel/A1D108183_349.pdf
diakses 3 maret 2013).
Wijaya, Niken Wijaya. 2010. Hubungan antara motivasi belajar dengan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran pkn di SMPN 77 Jakarta, (online),
(http://skripsippknunj.com/wp-content/uploads/2013/02/JURNAL-NikenRatna.pdf diakses tanggal 3 maret 2014).
Yusuf, Muh. Mappeasse. 2009. Pengaruh cara dan motivasi belajar terhadap
hasil belajar programmable controller (PLC) siswa kelas III jurusan
listrik SMK Negeri 5 Makassar, (online), (http://www.ftunm.net/medtek/Jurnal%20Medtek%20Vo.%201_No.2_Oktober%202009
/M.%20Yusuf%20Mappeasse.pdf diakses tanggal 3 maret 2014).
PENGETAHUAN GURU SMA KOTA BANJARMASIN MENGENAI
KURIKULUM 2013
Oleh
Muslimah, Parida Angriani, Karunia Puji Hastuti
Abstrak
Penelitian berjudul “Pengetahuan Guru SMA Kota Banjarmasin Mengenai
Kurikulum 2013”. Tujuan penelitian adalah mengetahui Pengetahuan Guru SMA
Kota Banjarmasin Mengenai Kurikulum 2013.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kuantitatif.
Populasi dalam penelitian adalah guru jurusan ilmu sosial SMA Kota Banjarmasin
sebanyak 34 orang. Sampel penelitian ini sebanyak 34 orang. Teknik
pengumpulan data berdasarkan data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui observasi dan angket, dan data sekunder diperoleh melalui studi
dokumen. Analisis data yang digunakan adalah analisis persentase.
Hasil penelitian adalah diketahui bahwa pengetahuan guru SMA Kota
Banjarmasin mengenai kurikulum 2013 yang terdiri dari pengetahuan guru
tentang kompetensi inti, mata pelajaran dan alokasi waktu, beban belajar dan
kompetensi dasar, sebagian besar pengetahuan guru jurusan ilmu sosial mengenai
kurikulum 2013, sudah mengetahui namun pengetahuannya masih cukup rendah
yaitu 55,9 % dari 34 orang.
Kata Kunci: Pengetahuan, Guru, Kurikulum 2013
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang paling diutamakan untuk kemajuan suatu
negara. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Aktivitas pendidikan diselenggarakan untuk
mencapai mutu kehidupan manusia, dalam rangka membentuk karakter yang
sesuai dengan kehidupan masyarakat pada umumnya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Dimensi kurikulum ada dua, yang pertama adalah rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedang yang kedua
adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum merupakan
salah satu komponen yang sangat penting, selain guru, sarana dan prasarana
pendidikan lainnya, kurikulum digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan
pendidikan dan sekaligus sebagai salah satu indikator mutu pendidikan.
Kurikulum memberikan pedoman kepada guru
untuk menyusun dan
87
melaksanakan program pembelajaran. Gambaran tentang tinggi mutu keluaran
juga dapat diperkirakan dari kurikulum yang dilaksanakan untuk mendukung
kegiatan pembelajaran diperlukan kurikulum yang memihak pelajar, yang
menunjukkan siswa berbuat aktif (Poerwati, 2013).
Kurikulum 2013 menurut Dokumen Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Desember 2012, yaitu kurikulum yang dikembangkan dengan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan
dalam kemampuan dan minat. Kurikulum memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah
ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan). Kurikulum berpusat
pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
lingkungannya.
Kurikulum 2013 SMA diterapkan secara bertahap dimana pada tahun 2013
dilaksanakan secara terbatas di 1.270 SMA yang tersebar di 33 provinsi dan 295
kabupaten/kota. Pelaksanaan terbatas mengacu pada Surat Edaran Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0128/MPK/KR/2013 tanggal 5 Juni 2013,
perihal Implementasi Kurikulum 2013 menyatakan bahwa Kurikulum 2013 telah
disepakati untuk diimplementasikan secara bertahap dan terbatas mulai tahun
pelajaran 2013/2014. Kota Banjarmasin memiliki tiga belas SMAN, dari tiga
belas SMAN di Kota Banjarmasin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
menunjuk lima SMAN yang menerapkan kurikulum 2013 mulai tahun pelajaran
2013/2014, disajikan pada Tabel 1. Sekolah yang tidak ditunjuk apabila ingin
menerapkan kurikulum 2013 diperbolehkan, tapi harus menggunakan biaya dari
sekolah sendiri, seperti biaya pelatihan guru, buku-buku pelajaran maupun buku
pegangan guru, dan kebutuhan lain yang harus dipersiapkan untuk menerapkan
kurikulum 2013.
Tabel 1. Daftar SMAN Kota Banjarmasin beserta Kurikulum yang Dipakai
dan Jumlah Guru Jurusan Ilmu Sosial
Nama Satuan
Jumlah Guru Jurusan
No
Kurikulum
Pendidikan
Ilmu Sosial(Jiwa)
1 SMAN 1 Banjarmasin
Kurikulum 2013
9
2 SMAN 2 Banjarmasin
Kurikulum 2013
11
3 SMAN 3 Banjarmasin
Kurikulum 2013
7
4 SMAN 6 Banjarmasin
Kurikulum 2013
7
Jumlah
34
Sumber :Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin
Guru sebagai salah satu pelaksana kurikulum merupakan penentu
keberhasilan penerapan kurikulum, guru harus memiliki pengetahuan dalam
melaksanakan pengelolaan kurikulum, namun tidak semua guru SMA
mendapatkan pelatihan mengenai pelaksanaan pengelolaan kurikulum 2013 dan
guru yang mendapatkan pelatihan kurikulum 2013 adalah guru inti yaitu guru
sejarah, bahasa indonesia, dan matematika yang berjumlah sembilan orang dari
Kalimantan Selatan yang ikut pelatihan di pusat, sehingga adanya keterbatasan
pengetahuan dari guru-guru mengenai pengetahuan dan pengelolaan struktur
kurikulum 2013, dengan demikian penelitian ini berjudul. “Pengetahuan Guru
SMA Kota Banjarmasin Mengenai Kurikulum 2013”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tidak tahu menjadi tahu, terjadi karena
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan
berasal dari bahasa latin (scientia) dan bahasa inggris (science) yang berarti ilmu.
Kata scienta berasal dari bentuk kata kerja scire yang artinya mempelajari,
mengetahui. Pengetahuan dapat diartikan sebagai informasi yang disaring dan
dimaknai (Sobur dalam Suhardiman, 2011). Pengetahuan berdasarkan kamus
besar bahasa Indonesia ialah segala sesuatu yang diketahui berupa kepandaian
berkenaan dengan hal mata pelajaran. Dari beberapa pengertian pengetahuan
dapat dipahami bahwa pengetahuan bukanlah ilmu dan akan menjadi ilmu
pengetahuan apabila telah melalui penelitian dan dituangkan secara sistematis
sehingga mudah dipelajari.
b. Guru
Guru menurut PP Nomor 74 tahun 2008 adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, menimbang, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik dan pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.PP RI nomor 74
Tahun 2008 tentang Guru dijelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi
akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru
adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta
mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada
akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses
pendidikan (Uno dalam Evanita., 2013).
c. Peran guru sebagai pengelola kurikulum
1) Guru bertanggung jawab membuat perancanaan mengajar (rencana tahunan,
rencana bulanan, rencana permulaan mengajar dan rencana harian).
2) Guru berusaha mengumpulkan dan mencari bahan dari berbagai badan atau
institusi yang dapat memantu dalam pelaksanaan kurikulum
3) Mengumpulkan data tentang partisipasi murid dalam mengikuti pelajaran atau
berbagai kegiatan kurikuler
4) Ikut serta menyusun jadwal pelajaran dan mengikuti berbagai pertemuan yang
diselenggarakan oleh sekolah dan para pengawas
5) Membuat laporan tentang hasil kegiatan kurikulum yang telah dilakukan.
Tugas guru sebagai pengelola kurikulum dengan tugas guru sebagai
administrator, menunjang pembinaan dan pengembangan kurikulum di sekolah
(Muzamiroh, 2013).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
89
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua
adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
d. Kurikulum
Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan
belajar yang didesain untuk siswa dengan petunjuk intitusi pendidikan yang
isisnya berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus
dimiliki. Kedua, kurikulum adalah seluruh pengalaman di bawah bimbingan dan
arahan dari institusi pendidikan yang membawa kedalam kondisi belajar
(Muzamiroh, 2013).
Kurikulum dapat diartikan sebagai seperangkat rencana dan peraturan
mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara
yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pendidikan (Mulyasa
dalam Gunawan,. 2012). Tafsiran tentang kurikulum dapat ditinjau dari segi lain,
sehingga diperoleh penggolangan (Poerwati, 2013), yaitu :
1) Kurikulum dapat berupa sebagai produk, yaitu sebagai hasil karya
pengembangan kurikulum, biasanya dalam suatu panitia.
2) Kurikulum dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah
untuk mencapai tujuan.
3) Kurikulum dapat dipandang pula sebagai hal-hal yang diharapkan akan
dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu.
4) Kurikulum sebagai pengalamanan siswa. Ketiga pandangan diatas berkenaan
dengan perencanaan kurikulum sedangkan pandangan ini mengenai apa yang
secaraaktual menjadi kenyataan pada setiap siswa.
III. METODE
A. Pemilihan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Banjarmasin, dan terdapat tiga belas
SMAN di daerah tersebut. Dengan pertimbangan bahwa lima SMAN Banjarmasin
telah menerapkan kurikulum 2013 ,yaitu SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 2
Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin, SMAN 6 Banjarmasin, kecuali SMAN 7
Banjarmasin tidak dilakukan penelitian disekolah ini karena SMAN 7 tidak
bersedia untuk dievaluasi tentang pengetahuan guru mengenai kurikulum 2013.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : Obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).
Populasi dalam penelitian adalah seluruh guru jurusan ilmu sosial SMAN yang
menerapkan kurikulum 2013 di Kota Banjarmasin yang berjumlah 34 orang.
2.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik
pengambilan sampel penuh. Sampel Penuh adalah teknik penentuan sampel bila
semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2010). Rincian
jumlah populasi dan sampel dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 8.
Tabel 2. Sebaran Populasi dan Sampel Berdasarkan Jumlah Guru
Jurusan Ilmu Sosial Pada Tiap Sekolah
Guru Jurusan Ilmu
No
Sekolah
Sosial(Jiwa)
1
SMAN 1 Banjarmasin
9
2
SMAN 2 Banjarmasin
11
3
SMAN 3 Banjarmasin
7
4
SMAN 6 Banjarmasin
7
Jumlah
34
Sumber :Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin
C. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Penelitian dirancang untuk mengetahui
pengetahuan guru SMAN mengenai kurikulum 2013 di Kota Banjarmasin.
Variabel merupakan faktor yang akan diuji dalam penelitian. Variabel, sub
Variabel dan Indikator dalam penelitian ini disajikan pada tabel 8.
Tabel 4. Variabel dan Indikator Penelitian
No Variabel Sub Variabel
Indikator
1. Strategi
1.Menguasai
1) Kompetensi
Inti-1
(KI-1)
Guru
Kompetensi
kompetensi inti sikap spiritual;
Inti
2) Kompetensi
Inti-2
(KI-2)
kompetensi inti sikap sosial;
3) Kompetensi
Inti-3
(KI-3)
kompetensi inti pengetahuan; dan
4) Kompetensi
Inti-4
(KI-4)
kompetensi inti keterampilan.
2. Menyusun
Mata Pelajaran
dan Alokasi
Waktu
3.Mengelola
Beban Belajar
untuk
untuk
untuk
untuk
1) Struktur Kurikulum Pendidikan
Menengah (Mata pelajaran dan alokasi
waktu)..
2) Proses pembelajaran.
3) Penilian hasil belajar.
4) Ekstrakurikuler
1)Beban belajar di Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah dinyatakan dalam jam
pembelajaran per minggu.
2) Beban belajar di Kelas X, XI, dan XII
91
dalam satu semester paling sedikit 18
minggu dan paling banyak 20 minggu.
3) Beban belajar di kelas XII pada semester
ganjil paling sedikit 18 minggu dan paling
banyak 20 minggu.
4) Beban belajar di kelas XII pada semester
genap paling sedikit 14 minggu dan paling
banyak 16 minggu.
5) Beban belajar dalam satu tahun pelajaran
paling sedikit 36 minggu dan paling banyak
40 minggu.
4.Menguasai
Kompetensi
Dasar
1. kelompok 1: kelompok kompetensi dasar
sikap spiritual dalam rangka menjabarkan
KI-1;
2. kelompok 2: kelompok kompetensi dasar
sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI2;
3. kelompok 3: kelompok kompetensi dasar
pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI3; dan
4. kelompok 4: kelompok kompetensi dasar
keterampilan dalam rangka menjabarkan KI4.
Sumber : Peraturan Pemerintah No 69 Tahun 2013
D. Teknik Pengumpulan Data
1.
Data Primer
Data primer adalah teknik pengumpulan data yang bersumber langsung dari
orang yang memberikan data kepada pengumpul data yaitu menggunakan
Kuesioner (Angket), merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya
(Sugiyono, 2010). Kuesioner berupa jawaban angket yaitu pernyataan beserta
jawaban, dalam bentuk angket terbuka. Angket diperoleh dari responden yaitu
Guru SMA Jurusan Ilmu Sosial Kota Banjarmasin.
2.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang terdapat pada instansi-intansi tertentu yang
sudah berbentuk tabel-tabel atau dokumen-dokumen yang lain. Teknik
pengumpulan data sekunder disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Data Sekunder
Sumber
Teknik
Sasaran sekolah SMA untuk Dinas Pendidikan
Studi Dokumen
penerapan kurikulum 2013 di Kota Kota Banjarmasin
Banjarmasin dan jumlah guru SMA
Jurusan Ilmu Sosial
Metode Penelitian, UU NO 20 Buku-buku dan UU
Studi Pustaka
Tahun 2003, Peraturan Pemerintah dan Peraturan
No 69 tahun 2013, Kupas Tuntas Pemerintah dan
Kurikulum 2013, Pengembangan jurnal-jurnal.
Profesi Guru, Pengantar Pendidikan
Teori dan Aplikasi, Bahan Uji
Publik Kurikulum 2013, PP Nomor
74 Tahun 2008, Panduan
Sumber : Hasil analisis (diolah 2014)
E. Pengolahan Data
Pengolahan data menggunakan cara editing, skoring dan tabulating
F. Analisis Data
Analisis data menggunakan rumus statistika yaitu rumus Banyak kelas, kelas
interval, dan persentase.
1. Rumus Banyak Kelas
Banyaknya Kelas = 1 + (3,3) Log n
(Masduki,dkk.,1990)
Keterangan :
n = Jumlah data
2.
Rumus Kelas Interval
I 
R
K
(Masduki, dkk.,1990)
Keterangan :
I = Kelas Interval
R= Rank (data terbesar dikurang data terkecil)
K= Banyak Kelas
3.
Rumus Persentase
P
f
x100%
N
(Sudijono, 2010)
Keterangan:
P= Persentase jawaban responden
93
f= Frekuensi jawaban
N= Jumlah responden yang memberikan jawaban
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan di SMAN yang telah menerapkan kurikulum 2013
yaitu SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin,
SMAN 6 Banjarmasin, kecuali SMAN 7 Banjarmasin dengan menggunakan
metode penelitian deskriftif kuantitatif yaitu membagi angket pada guru mata
pelajaran jurusan ilmu sosial yaitu guru Sosiologi, Geografi, Ekonomi, dan
Sejarah. Angket yang telah di isi oleh responden perlu diklarisifikasi sehingga
hasil jawaban dari responden tersebut mempunyai makna untuk menjawab
masalah peneltian.
Pengetahuan guru tentang kurikulum 2013 ialah pengetahuan guru secara
keseluruhan mengenai struktur kurikulum 2013 yang tercantum PP No 69 Tahun
2013 yang meliputi kompetensi inti, mata pelajaran dan alokasi waktu, beban
belajar dan kompetensi dasar. Skor total pengetahuan guru secara kelseluruhan
tentang kurikulum 2013 adalah 89 yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengetahuan Guru SMA di Kota Banjarmasin Tentang Kurikulum
2013
No Nama Responden
Skor Total Jawaban Responden
1 Dwi Sari Retnani, S.Pd
36
2 Noor Liana Waty, S.Pd
37
3 Hj. Nurhayati, S.Pd
34
4 Hermidah, S.Pd
66
5 Dra. Hj. Masliana
43
6 Rusniah, S.Pd
52
7 Dra. Hj. ST. Khairiah
69
8 Yohana, SE
34
9 Dra. Hj. Gusti Noor C
41
10 Hj. Hamidah, S.Pd
35
11 Azimatun Azimah, S.Pd
49
12 Nuryana, S.Pd
31
13 Riduansyah, S.Pd
22
14 Muhammad Redho, S.Pd
18
15 Dra. Hj. Yuspiana S
32
16 Eva Maya K,.S.Pd
25
17 Drs.H. Noorhasani R.
29
18 Rusdah, S.Pd
25
19 Hj. Dewi Fitria, S.Pd
35
20 Nunung Y, S.Pd
38
21 Sri Artati Indriani
61
22 Tri Guwati,S.Pd
43
23 Dra.Afifah Hairin Noor
34
24 Sri Fahriani, S.Pd
57
25 Drs. M. Hifni
33
No
26
27
28
29
30
31
32
33
34
Nama Responden
Dra.Hj. Noorhidayati
Dr. Hj. Trisnawati
Dra. Nooryani
Sri Hariyanti, S.Pd
Siti Noorhayah, S.Pd
Mahrita, S.Pd
Sasmiati, S.Pd
Mastora, S.Pd
Siti Nurhamidah, S.Pd
Skor Total Jawaban Responden
28
23
19
35
27
36
38
35
34
Sumber : Hasil Analisis Data Primer, Maret 2014
Pengetahuan responden tentang kurikulum 2013 menggunakan rumus
analisis sebagai berikut :
Diketahui :
K=6
Jawab :
Rentang = data terbesar –data terkecil
= 89-0
= 89
R
I 
K
89
I
6
= 14,8
≈ 15
Tabel 5. Nilai Responden Pengetahuan Guru Tentang Kurikulum 2013
Jumlah Responden
Persentase
Kriteria
Nilai Responden
(Jiwa)
(%)
Sangat Rendah
0-14
0
0
Rendah
15-29
9
26,5
Cukup Rendah
30-44
19
55,9
Cukup Tinggi
45-59
3
8,8
Tinggi
60-74
3
8,8
Sangat Tinggi
75-89
0
0
Jumlah
34
100
Sumber : Hasil Analisis Data Primer, Maret 2014
Tabel 5 menunjukkan pengetahuan guru SMA Kota Banjarmasin tentang
Kurikulum 2013 dengan jumlah 34 responden terdiri dari 9 responden (26,5%)
pengetahuan guru rendah, 19 responden (55,9%) pengetahuan guru cukup rendah,
3 responden (8,8%) pengetahuan guru cukup tinggi dan 3 responden (8,8%)
pengetahuan guru tinggi.
95
Hasil wawancara pada saat menyebar angket para guru jurusan ilmu sosial
menyatakan mereka sudah mengetahui tentang Kurikulum 2013, namun hanya
mengetahui sedikit isi dan tata pelaksanaan Kurikulum 2013, hal ini disebabkan
bahwa guru yang pelatihan dan sekolah yang ditunjuk untuk menerapkan
kurikulum 2013 lebih pada implementasinya sehingga kurang memperhatikan isi
dan tata pelaksanaan kurikulum 2013. Menurut guru yang mengalami pelatihan,
kurikulum 2013 sebenarnya mempermudahkan guru dalam hal mengajar dan
mendidik peserta didik karena yang lebih banyak aktif pada proses belajar adalah
siswa, guru berperan bagaimana caranya membentuk karakter peserta didik sesuai
dengan kompetensi yang ingin dicapai pada saat pembelajaran berlangsung. Guru
harus memberikan model dan metode pembelajaran yang berbeda setiap mengajar
tapi guru masih kesulitan untuk implementasi kurikulum 2013 karena
keterbatasan sumber belajar.
Wakasek kurikulum salah satu sekolah penelitian mengatakan sekolah
ditunjuk menerapkan kurikulum 2013, tapi guru-guru kurang memperhatikan isi
struktur kurikulum 2013 sesuai dengan PP 69 Tahun 2013. Jadi, guru hanya
diberikan informasi bahwa kurikulum 2013 harus menggunakan metode dan
model pembelajaran aktif , membentuk krakter peserta didik dan informasi
lainnya yang masih simpang siur tentang kurikulum 2013.
V. KESIMPULAN
a.
b.
c.
Pengetahuan guru tentang kurikulum 2013 yaitu :
Pengetahuan keseluruhan mengenai struktur kurikulum 2013 pendidikan
menengah yang tercantum pada PP No 69 Tahun 2013 yang meliputi
kompetensi inti, mata pelajaran dan alokasi waktu, beban belajar dan
kompetensi dasar.
Hasil penelitian bahwa 19 responden (55,9%) pengetahuan guru masih cukup
rendah tentang kurikulum 2013 dan pengetahuannya yang tinggi hanya 3
responden (8,8%) dan hipotesis peneliti terbukti, walaupun sekolah yang
dilakukan untuk penelitian telah menerapkan kurikulum 2013.
Cukup rendahnya pengetahuan guru disebabkan bahwa guru yang pelatihan
dan sekolah yang ditunjuk untuk menerapkan kurikulum 2013 lebih pada
implementasinya seperti setiap mengajar harus menggunakan metode dan
model pembelajaran aktif dan bervariasi sehingga kurang memperhatikan isi
dan tata pelaksanaan kurikulum 2013 pendidikan menengah sesuai PP No 69
Tahun 2013.
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya sehingga jurnal ini dapat selesai, kedua orangtua yang selalu
memberikan motivasi baik moril dan materil, dosen pembimbing yang selalu
memberikan bimbingan serta semua dosen Program studi Pendidikan Geografi
yang memberikan motivasi dan tidak untuk semua sahabat dan teman yang selalu
memberikan do’a dan motivasi.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Evanita. 2013. Analisis Kompetensi Pedagogik Dan Kesiapan Guru Sekolah
Menengah Atas Dalam Mendukung Implementasi Kurikulum 2013.
http://repository.library.uksw.edu/bitstream/handle/123456789/3147/PR
OS_evanita%20SW_%20Implementasi%20Strategi%20Pembelajaran_
Abstract.pdf?sequence=1 (Online, diakses 04 Januari 2014).
Gunawan, Heri. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Islam. Bandung :
Alfabeta.
Masduki, M., dkk. 1990. Pengantar Statistika.Banjarmasin: Percetakan Media
Kampus.
Mulyoto. 2013. Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013. Jakarta : Prestasi
Pustaka Jakarta.
Muzamiroh, M.L. 2013 . Kupas Tuntas Kurikulum 2013.Jakarta : Kata Pena.
Ngadiyana,Y.M., dkk. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Banjarmasin : Eja
Publisher.
Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
Poerwati, L.E. dan Sofan Amri. 2013. Panduan Memahami Kurikulum 2013.
Jakarta : Prestasi Pustaka Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru
Saud.U.S. 2010 . Pengembangan Profesi Guru. Bandung : Alfabeta.
Suardi, Moh. 2012. Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Indeks.
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Suhardiman, Bima. 2011. Pemanfaatan Internet dalam Meningkatkan
Pengetahuan
Guru
di
SMA
Muhammadiyah
1
Tanggerang.http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1
88/1/101133-BIMA%20SUHARDIMAN-FDK.PDF (online, diakses 03
Maret 2014).
Tanpa Nama. 2013. Kompetensi Dasar SMA/MA. Jakarta : Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Tanpa Nama. 2012. Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jakarta : Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
97
KARAKTER SISWA KELAS XI IPS 1 SMAN 10 BANJARMASIN PADA
MATA PELAJARAN GEOGRAFI TAHUN AJARAN 2013/2014
Oleh:
Nurul Dayanti, Karunia Puji Hastuti, Eva Alviawati.
Abstrak
Penelitian ini berjudul Karakter Siswa Kelas XI IPS 1 SMAN 10
Banjarmasin Pada Mata Pelajaran Geografi Tahun Ajaran 2013/2014. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui karakter siswa kelas XI IPS 1 Tahun Ajaran
2013/2014.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS 1 SMAN
10 Banjarmasin dengan jumlah 26 siswa, dengan sampel sebesar 26 siswa
menggunakan teknik sampel penuh. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan
observasi di lapangan , sedangkan data sekunder diperoleh dari tata usaha SMAN
10. Teknik analisis yang digunakan yaitu menggunakan teknik Persentase dan
Klasifikasi Interval.
Hasil Penelitian menunjukkan membuktikan adanya karakter (tanggung
jawab, partisipasi/peduli sosial, peduli lingkungan dan kreatif) siswa kelas XI IPS
1 SMAN 10 Banjarmasin.
Kata Kunci : Karakter, Siswa Kelas XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin, Mata
Pelajaran Geografi.
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat , bangsa dan Negara (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 butir 1).
Secara etimologis, kata karakter bisa berarti orang yang memiliki watak,
kepribadian, budi pekerti, atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri atau
karakterisik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari proses alamiah
sebagai hasil yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil,
dan juga bawaan sejak lahir (Fathurrohman, 2013).
Menurut Screnco, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya
sungguh-sungguh dengan cara dimana ciri kepribadian positif dikembangkan,
didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian, serta praktik emulasi.
Anne Lockword mendefinisikan pendidikan karakter sebagai aktivitas berbasis
sekolah yang mengungkap secara sistematis bentuk perilaku dari siswa (Wiyani,
2012).
Pendidikan moral sangat penting, karena di tengah memburuknya tatanan
sosial, sekolah harus mengajarkan dan menanamkan karakter yang baik pada
siswa atau anak-anak. Karakter yang baik terbentuk dari tiga macam bagian yang
saling berkaitan : pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral.
Karakter yang baik terdiri atas mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan dan
melakukan kebaikan.
SMAN 10 Banjarmasin terletak di Jalan Tembus Mentuil, Gang
Gandapura Kel. Kelayan Selatan Kec. Banjarmasin. Status sekolah SMAN 10
Banjarmasin adalah Negeri, didirikan pada 23 Agustus 1993. SMAN 10
Banjarmasin adalah salah satu sekolah di Banjarmasin yang memiliki akreditasi
sekolah B. Penetapan akreditasi sekolah SMAN 10 Banjarmasin adalah pada
tanggal 9 November 2009 (Data Sekunder, Tahun 2013).
Berdasarkan observasi, sebagian siswa di SMAN 10 Banjarmasin ada yang
melanggar peraturan sekolah (menurut penjelasan dari guru mata pelajaran, baik
itu mata pelajaran geografi maupun mata pelajaran lainnya dan guru
BK/Bimbingan Konseling), seperti: datang terlambat ke sekolah, berpakaian tidak
rapi, ribut dalam kelas, membolos, merokok dalam kelas dan pelanggaran lainnya.
Hal tersebut menunjukkan karakter siswa yang tidak sesuai atau melenceng dari
pendidikan yang diajarkan di sekolah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini berjudul
“Karakter Siswa Kelas XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin Tahun Ajaran
2013/2014”.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional).
Istilah karakter sering dikaitkan dengan sikap, pola perilaku dan atau
kebiasaan yang mempengaruhi interaksi seseorang terhadap lingkungan. Karakter
menentukan sikap, perkataan, dan tindakan. Hampir setiap masalah dan
kesuksesan yang dicapai seseorang ditentukan oleh karakter yang dimiliki
(Fathurrohman, 2013).
Pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta
didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati,
pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai dengan
pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak,
yang bertujuan untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang
baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh
hati (Wiyani, 2012).
Pendidikan karakter sering disamakan dengan pendidikan budi pekerti.
Seseorang dapat dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap
nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai
kekuatan moral dalam hidupnya (Zuriah, 2007).
- Unsur-unsur Karakter antara lain; 1) Sikap,
1. Emosi
2. Kepercayaan
3. Kebiasaan dan Kemauan
4. Konsepsi Diri (Self-Conception)
99
- Faktor Terbentuknya Karakter
1. Nature (faktor alami atau fitrah)
2. Nurture (faktor lingkungan)
- Karakter Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan tertentu (UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1).
Salah satu faktor yang memiliki andil cukup besar dalam menentukan
perkembangan karakteristik adalah faktor lingkungan.Kondisi lingkungan dengan
berbagai karakter tiap kelompok masyarakat yang berbeda-beda dimana pasti ada
yang baik dan ada yang buruk.
- Fungsi Pendidikan Karakter
1. Pengembangan
2. Perbaikan
3. Penyaring
-
Prinsip Pengembangan Pendidikan Karakter
Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan
karakter mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai
karakter sebagai milik peserta didik dan tanggung jawab atas keputusan yang
diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan
pilihan, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri.
Dengan prinsip ini peserta didik belajr melalui proses berpikir, bersikap, dan
berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam melakukan kegiatan social dan mendorong peserta didik
untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk social. Berikut prinsip-prinsip yang
digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter:
1) Berkelanjutan
2) Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya satuan
pendidikan
3) Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan melalui proses belajar (value is
neither cought nor taught, it is learned)
4) Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.
-
Pendidikan Karakter Dalam Implementasi KTSP
Implementasi KTSP menuntut kemandirian guru dan kepala sekolah untuk
memahami karakteristik peserta didik. Pemahaman peserta didik ini perlu
disesuaikan dengan satuan pendidikan masing-masing, misalnya pada tingkat
pendidikan dasar harus dipahami karakteristik peserta didik pada tingkat
pendidikan dasar; demikian halnya apabila kurikulum akan diimplementasikan
pada tingkat pendidikan menengah maka harus dipahami dulu perkembangan
peserta didik pada pendidikan menengah. Sedikitnya terdapat tiga hal berkaitan
dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik yang harus dipahami dan
dipertimbangkan dalam implementasi KTSP, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan kognitif, tingkat kecerdasan, kreativitas, serta kondisi fisik
(Mulyasa, 2009).
-
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pendidikan budaya dan karakter diartikan sebagai pendidikan yang
mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik
sehingga mereka memiliki nilai-nilai dan karakter sebagai karakter dirinya,
menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota
masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalisme, produktif dan kreatif
(Sudrajad, 2010).
-
Pendidikan Karakter di Sekolah
Penanaman karakter diselipkan pada RPP dan silabus. Guru harus
berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi dirinya sesuai dengan
apa yang digariskan dalam kurikulum, sebagaimana dijabarkan dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan silabus.Berbagai program sekolah
bisa dijadikan program untuk membangun karakter anak menuju peradaban
bangsa. Karena itu langkah-langkah pembentukan karakter bisa dilakukan semua
warga sekolah dan menjadi pembiasaan.
a) Masukkan konsep karakter pada setiap kegiatan pembelajaran dengan cara: (a)
knowing the good, yakni menanamkan kebaikan kepada anak, (b) desiring the
good, yakni menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau
keinginan untuk berbuat baik, (c) loving the good, yakni mengembangkan
sikap mencintai perbuatan baik, (d) acting the good, yakni melaksanakan
perbuatan baik.
b) Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala
tingkah laku masyarakat sekolah.
c) Pemantauan secara kontinu
d) Penilaian orang tua. (Aqib,2012).
III.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kuantitatif. Penelitian dilakukan di SMAN 10 Banjarmasin, karena dengan alasan
sebagai berikut:
1. Di SMAN 10 Banjarmasin belum pernah diadakan penelitian tentang karakter
siswa untuk mata pelajaran Geografi.
2. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan terdapat sebagian
siswa-siswi SMAN 10 Banjarmasin yang menunjukkan karakter yang kurang
baik, berupa pelanggaran tata tertib, khususnya mata pelajaran Geografi
(diketahui dari catatan buku pelanggaran tata tertib sekolah).
A. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012). Populasi dalam
101
penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin sebanyak 26
siswa.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:
109). Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2002: 112). Jumlah
populasi dalam penelitian ini subjeknya kurang dari 100 orang, maka
pengambilan sampelnya diambil semua yaitu 26 siswa.
B. Variabel Penelitian
Varibel peneitian terdapat pada Tabel 1
Tabel 1. Variabel, Sub Variabel, Indikator, dan Cara Pengumpulan Data
Variabel
Sub
Variabel
Indikator
1. Melaksanaan tugas piket secara
teratur
2. Bertanggung
jawab
dalam
mengemukakan pendapat
tanggung
3. Bertanggung
jawab
atas
jawab
perbuatan yang dilakukan
4. Bertanggung jawab atas tugas
yang diberikan guru
5. Bertanggung
jawab
dalam
organisasi
1. Berempati
kepada
sesama
Karakter Siswa
teman di kelas
Kelas XI IPS 1 partisipasi/
2. Melakukan aksi sosial
Tahun Ajaran peduli
sosial
3. Membangun kerukunan warga
2013/2014
kelas
1. Memelihara lingkungan kelas
peduli
2. Membuang
sampah
pada
lingkungan
tempatnya
3. Pembiasaan hemat energi
1. Mengerjakan tugas yang kreatif
2. Menghasilkan
karya
yang
Kreatif
inovatif
3. Mengajukan usulan pemecahan
masalah
Sumber: Hasil analisis data sekunder, 2013.
Cara
pengumpulan
data
Kuesioner &
Lembar
Observasi
C. Teknik Pengumpulan Data
Data adalah hasil pencatatan penelitian, baik berupa fakta atau angka yang
dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi (Arikunto, 1997). Data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
Teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Teknik pengumpulan data primer
a.
b.
c.
2.
Observasi
Wawancara
Kuesioner
Teknik pengumpulan data sekunder
a. Studi Dokumen
b. Studi Kepustakaan dan Internet
D. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data adalah proses untuk memperoleh data atau angka yang
siap untuk dianalisis yang dapat diwujudkan dalam bentuk tabel, diagram atau
grafik (Tim Dosen Pendidikan Geografi, 2011:18). Mengolah data yang diperoleh
dari penyebaran angket dapat dilakukan dengan cara, yaitu: 1) Editing, 2)Coding
dan 3)Tabulating.
E. Analisis Data
1. Analisis Persentase
Teknik analisis data pada penelitian ini terdiri dari pengolahan data dan
analisis data menggunakan rumus sebagai berikut:
f
 100
(Sudijono, 2004; 43)
N
%
Interval/Klasifikasi Menurut Ariffin
P
2.
=


(Ariffin, 2011:253)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil angket atau observasi yang sudah dibuat persentase dan
penskoran karakter tanggung jawab, partisipasi/peduli social, peduli lingkungan,
dan kreatif, diperoleh klasifikasi karakter siswa SMA Negeri 10 Banjarmasin
Tahun Ajaran 2013/2014 disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 . Klasifikasi Karakter Siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10
Banjarmasin Tahun Ajaran 2013/2014
No
Kriteria
Frekwensi (F)
Persentase(%)
1
Tidak Baik
0
0
2
Cukup Baik
0
0
3
Baik
10
38,5
4
Sangat Baik
16
61,5
Jumlah
26
100
Sumber: Hasil analisis data sekunder, 2014.
103
Berdasarkan Tabel 2, dapat kita ketahui bahwa 71,5% siswa kelas XI IPS
1 berkarakter sangat baik, 38,5% baik, cukup baik dan tidak baik 0%. Namun
sesuai dengan temuan di lapangan, siswa yang berkarakter sangat baik hanya
sebagian saja dan hampir setengah dari jumlah siswa yang berkarakter baik,
karakter yang cukup baik sedikit dan yang berkarakter tidak baik tidak ada.
Berdasarkan permasalahan yang telah diajukan pada Bab 1 terhadap
permasalahan yang digali tentang karakter siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 10
Banjarmasin, maka dapat dibahas pada pembahasan berikut berdasarkan hasil
temuan di lapangan yaitu :
Karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu system, yang
melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Terbentuknya
karakter manusia ditentukan oleh dua faktor (Megawangi, 2004:25).
1. Nature (Faktor alami atau fitrah)
Agama mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kecendrungan
(fitrah) untuk mencintai kebaikan. Namun fitrah ini adalah bersifat potensial, atau
belum termanisfestasi ketika anak dilahirkan. Jadi manusia yang memiliki fitrah
yang baik namun tidak dididik dan dikembangkan akan menjadi manusia yang
dapat berubah menjadi buruk.
2. Nurture (Sosialisasi dan pendidikan)
Nurture (faktor lingkungan). Yaitu usaha memberikan pendidikan dan
sosialisasi adalah sangat berperan dalam menentukan “buah” seperti apa yang
akan dihasilkan nantinya dari seorang anak, dalam pendidikan dan pengasuhan..
Salah satu faktor yang memiliki andil cukup besar dalam menentukan
perkembangan karakteristik adalah faktor lingkungan. Kondisi lingkungan dengan
berbagai karakter tiap kelompok masyarakat yang berbeda-beda dimana pasti ada
yang baik dan ada yang buruk.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pada umumnya siswa
kelas XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin sudah memiliki karakter yang baik.
Karakter yang dibentuk tersebut menurut silabus adalah tanggung jawab,
partisipasi/peduli sosial, peduli lingkungan, dan kreatif. Hal ini dibuktikan dari
hasil rata-rata scoring berdasarkan hasil kuesioner yaitu 95,6 dan berdasarkan
hasil observasi yaitu 94,4 (lihat lampiran 1). Hasil kuesioner dengan hasil
observasi tersebut hampir sama, hanya beda sedikit yaitu 1,2. Berarti siswa kelas
XI IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin sesuai dengan data yang diperoleh sudah
mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat, baik dari sekolah maupun di luar sekolah
sesuai dengan nilai dan peraturan yang berlaku di sekolah.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa SMAN 10
Banjarmasin yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan
menggunakan klasisifikasi interval dan distribusi frekuensi dalam persentase dan
scoring dapat disimpulkan bahwa dan pembahasan mengenai nilai-nilai karakter
yang tercantum diatas dapat disimpulkan bahwa:
Berdasarkan skor rata-rata, secara keseluruhan karakter siswa kelas XI IPS 1
SMA Negeri 10 Banjarmasin termasuk “Baik”. Penilaian yang dilakukan peneliti
tersebut bersifat normatif yaitu hasil penilaian hanya berlaku pada siswa kelas XI
IPS 1 SMA Negeri 10 Banjarmasin dalam mata pelajaran Geografi Tahun Ajaran
2013/2014.
VI. UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillah, segalapuji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
mengkaruniakan berkah dan kasih sayang-Nya sehingga atas izin-Nya penulis
akhirnya dapat menyelesaikan Skripsi ini yang berjudul “Karakter Siswa Kelas XI
IPS 1 SMAN 10 Banjarmasin pada mata pelajaran Geografi Tahun Ajaran
2013/2014“ dengan penuh ketercapaian lainnya.
Penulis menyusun skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu
persyaratan untuk mencapai gelar sarjana (S1) pada Program Studi Geografi,
Jurusan IPS, FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari
campur tangan berbagai pihak. Untuk itulah penulis ingin berterima kasih sebesarbesarnya dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pihak-pihak
terkait.
Dengan selesainya penulisan Skripsi ini, penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada Ibu Karunia Puji Hastuti, M. Pd., selaku Pembimbing I dan
Ibu Eva Alviawati, S. Pd., M.Sc., selaku Pembimbing II yang telah banyak
memberikan dukungan, arahan dan bimbingannya selama penyusunan dan
penulisan Skripsi.
Kepada segenap tim penguji yang menguji adrenalin, penulis haturkan
terima kasih yang luar biasa. Teruntuk Bapak Drs. H. Sidharta Adyatma, M. Si. ,
Drs. Yustinus Maria Ngadiyana dan Ibu Parida Angriani M.Pd., terima kasih atas
segala saran, kritikan dan koreksinya sebagai tim penguji dalam penyempurnaan
penulisan Skripsi ini.
Tak lupa pula terimakasih penulis haturkan kepada Bapak Drs. Yustinus
Maria Ngadiyana selaku dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan
banyak nasehat dan arahan setiap awal semester selama menempuh pendidikan di
Universitas Lambung Mangkurat. Tanpa nasihat dan arahan dari seorang
penasehat akademik, maka tiada terstruktur perencanaan studi selama menempuh
pendidikan strata 1.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
Dekan
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, Ketua Jurusan
Pendidikan IPS, dan kepada Bapak Drs. H. Sidharta Adyatma, M.Si., selaku ketua
Program Studi Geografi yang telah memberikan kemudahan dalam pengurusan
administrasi penulisan Skripsi ini, serta kepada seluruh dosen Program Studi
Geografi yang telah senantiasa memberikan ilmu pengetahuan dan bimbingan
selama mengikuti perkuliahan serta menjadikan kami lebih berguna dengan ilmu
yang telah diberikannya kepada kami. Tak lupa penulis berterima kasih kepada
seluruh staf BAAK Universitas Lambung Mangkurat yang telah banyak
membantu dan mengurusi segala administrasi.
105
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Kepala Sekolah SMAN
10 Banjarmasin, Ibu Farina Amelia,S. Pd., selaku guru Geografi , juga segenap
guru-guru dan staf TU di SMAN 10 Banjarmasin beserta siswa-siswi kelas XI IPS
1 SMAN 10 Banjarmasin. Terima kasih atas ketersediaan jasmani dan rohani
dalam membantu demi kelancaran penelitian dalam penyelesaian Skripsi ini.
Cinta dan dukungan berupa moril maupun materil dari kedua orang tua
penulis terkasih. Terima kasih atas segala yang telah dilakukan demi penulis, dan
terimakasih atas setiap cinta yang terpancar serta doa dan restu yang selalu
mengiring tiap langkah penulis. Terimakasih kepada Bapak Darsi dan MamaTini
Kurniati yang senantiasa memberikan kasih sayang sepanjang masa sehingga
penulis bisa sampai ke titik ini.
Teruntuk Adik-adik dan kakak-kakak tersayang, penulis haturkan banyak
doa dan terima kasih atas segala doa, dukungan, canda, tawa dan macam-macam
bantuan dalam menyelesaikan Skripsi ini. Semoga semua usaha penulis dapat
menjadi lecutan semangat tak terhingga agar adik-adik tercinta dapat menggapai
hal yang sama bahkan lebih demi kebahagiaan dan kebanggaan kedua orang tua
tercinta.
Kepada sahabat terbaik yang senantiasa ada untuk memberikan dukungan,
melantunkan doa serta mengusahakan segala macam bantuan terkait penyelesaian
Skripsi ini. Terima kasih atas semua yang telah dilakukan, terima kasih telah
senantiasa menguatkan di kala penulis terpuruk dan sempat merasa tidak mampu
melakukan apa-apa.
Terakhir, penulis hendak menyapa setiap nama yang tidak dapat penulis
cantumkan satu per satu, terima kasih atas doa yang senantiasa mengalir tanpa
sepengetahuan penulis. Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada orang-orang
yang turut bersuka cita atas keberhasilan penulis menyelesaikan Skripsi ini.
Alhamdulillah. Sebagai manusia biasa, tentunya penulis masih memiliki banyak
kekurangan pengetahuan dan pengalaman pada topik yang diangkat dalam Skripsi
ini,
Harapan penulis, semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi para penuntut ilmu dan pengajar, baik dalam bangku perkuliahan,
penelitian maupun berprofesi sebagai guru nantinya, guna membina generasi
muda penerus bangsa yang lebih berkualitas dan berdaya saing.
Akhirnya kepada Allah-lah penulis memohon agar usaha ini dijadikan
sebagai amal shalih dan diberikan pahala oleh-Nya. Shalawat serta salam semoga
tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam beserta keluarga,
para sahabat dan para pengikutnya hingga hari akhir, Aamiin.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan, Metode dan Paradigma Baru.
Bandung: PT Remaja posdekarya.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Wiyani, 2012. Manajemen Pendidikan Karakter: Konsep dan implementasinya di
sekolah. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Mulyasa, 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian
Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Zuriah, 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan:
Menggagas Platfom Pendidikan Budi Pekerti secara kontekstual dan
Futuristik. Jakarta: Bumi Aksara.
Lickona, 2013. Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi
Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.
Fathurrohman, Suryana, & Fatriany. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter.
Bandung: Refika Aditama.
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tim Dosen Prodi Pendidikan Geografi, FKIP - Unlam, Banjarmasin. 2011.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Pendidikan Geografi, FKIP - Unlam,
Banjarmasin
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prektik.
Yogyakarta: PT Bumi aksara.
Sulistyowati, Endah. (2012). Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter.
Yogyakarta: PT. Citra Aji Paramana.
Mu’in, Fatchul, 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Megawangi, Ratna, 2004. Pendidikan Karakter SoLUSI Tepat Untuk Membangun
Bangsa. Jakarta: Star Energy.
Aziz, 2011. Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati. Jakarta: Al Mawardi
Prima.
Sudrajad, Ahmad, 2010. Konsep Pendidikan Karakter (http//ahmad sudrajadwordpress.com/20210/10/15/konsep pendidikan karakter/. Diakses 14
Desember 2013).
Aqib, 2012. Pendidikan Karakter Di Sekolah, Membangun Karakter &
Kepribadian Anak. Bandung: Yrama Widya.
Fagan, R. 2006. Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other
Substance Use Problems and their Family. The Family Journal:
Counseling
therapy
For
Couples
and
Families.(http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326/.
Diakses
18
Desember 2013).
Thornburg D H. 1984. Development in Adolenscence. Second Edition. California:
Brook Cole Publishing Co.
Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK.
Gunung Media.
Brooks, B. David & Frank G. Goble. 1997. The case of Character Education. The
Role Of The School in Teaching Production. Northridge CA.
107
PETUNJUK BAGI PENULIS JPG









Naskah diketik satu (1) spasi pada kertas kuarto maksimum 15 halaman dan diserahkan
dalam bentuk print-out komputer beserta disket 3,5”. Berkas file dibuat dengan MS Word.
Teks dicetak dengan hurut Times New Roman 12.
Artikel yang dimuat meliputi hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang geografi dan
pendidikan geografi.
Artikel di tulisdalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan format essai, disertai judul
pada masing-masing bagian. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di tengah-tengah
dengan ukuran 12. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda
(semua judul bagian dicetak tebalatau tebal dan miring) dengan ukuran 12, dengan
menggunakan angka/nomor pada judul bagian.
PERINGKAT 1 (SEMUA HURUF BESAR, TEBAL, RATA KIRI)
Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil, Tebal, Rata Kiri)
Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil, Tebal, Rata Kiri)
Sistematika artikel hasil non penelitian: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak
(maksimum 100 kata); kata kunci (maksimum 8 kata atau tidak melebihi 1 baris);
pendahuluan yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkung tuliasan, bahasa
utama (dibagi ke dalam subjudul-subjudul); penutup atau kesimpulan; daftar pustaka (hanya
memuat pustaka yang dirujuk dalam naskah).
Sistematika artikel hasil penelitian: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); absrak
(maksimum 100 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian; kata kunci;
pendahuluan yang berisi latar belakang,tinjauan pustaka dan tujuan penelitian; metode; hasil
dan pembahasan; kesimpulan dan saran; daftar pustaka (hanya memuat pustaka yang dirujuk
dalam naskah).
Daftar Pustaka disusun dengan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diuraikan
secara alfabetis dan kronlogis
Rujukan Buku
Coren, L.& K. Weeks 1985a. Career Ladder Plans: Trends and Emerging Issues-1985.
Atlanta, GA: Career Ladder Clearinghouse.
Coren, L.& K. Weeks 1985b. Planning Ladder Ladders: Leassons from the State. Atlanta,
GA: Career Ladder Clearing-house.
Rujukam dari buku suntingan (edited book) atau prosiding
Harley,J.T., Harket, JO. & Walsh, D.A. 1980. Contemporary Issues and New Direction in
Adult Development of Learning and Memory. Dalam L. W. Poon (Ed), Aging in the
1980:Psycological Issues (hal: 239-252), Washington, DC: Americal Pscychologycal
Association.
Rujukan artikel dalam kumpulan artikel
Hasan, M.Z. 1980. Karakteristik Penelitian Kuantitatif. Aminuddin. Pengembangan
Penelitian Kuantitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra (hal: 12-25). Malang: HISKI
Komisariat Malang dan YA3.
Rujukan dari artikel dalam jurnal
Hanafi, A.1980. Partisifasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi.Forum
Penelitian, 1 (1): 33-47.
Rujukan artikel dalam majalah atau koran
Huda, M. 13 November,1991. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Jawa Pos, Hal: 6.
Rujukan dari skripsi, tesisi atau disertasi
Pangaribuan, T. 1992. Perkembangan Kompetensi Kewacanaan Pembelajaran Bahasa
Inggris di LPTK. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP
MALANG.
Rujukan surat kabar
Ropert, V. 1988. Keuntungan Penggunaan Kapur untuk Tanah Asam. Kompas, 12 September
1988, hlm. 14.
Rujukan dari internet berupa karya individual
Htchock, S. Carr, L. & Hall, W. 1996. A Survey Of STM Online Journalis , 1990-95: The
Calm before the Strom, (Online), (http://journal.ecs.soton.ac.uk/survey.html, diakses
12 Juni 1996).
Rujukan artikel dalam jurnal
Hanafi, A. 1980. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Form
Penelitian, 1 (1): 33-37.
Rujukan dari internet berupa Bahan Diskusi
Wilson, D. 20 November 1995. Summary of Citing Intternet Sites. NETTRAIN Discussion
List (Online), NERRRAIN@ ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22 November 1995.
Rujukan dari internet berupa E-mail Pribadi
Naga, Dali S. ([email protected]). 1Oktober 1997. Artikel untuk JIP. E-mail kepada Ali
Saukah ([email protected]).
109
Fly UP