...

PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN ATMOSFER TERHADAP

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN ATMOSFER TERHADAP
PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN ATMOSFER
TERHADAP KETAMPAKAN FAJAR SHADIQ
Nihayatur Rohmah
Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ngawi
Abstrak
Penelitian lapangan ini membahas ketampakan fajar dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya lewat pendekatan fiqih-astronomis yang disajikan dalam
bentuk deskriptif-analitis. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya putih yang
menyebar di sepanjang ufuk karena hamburan sinar Matahari oleh atmosfer
Bumi. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya berwarna biru, merah atau orange.
Ada korelasi antara posisi astronomis Matahari dan penentuan waktu fajar.
Penelitian, berkesimpulan bahwa ada pengaruh suhu terhadap sudut posisi
Matahari. Kedua variabel tersebut memiliki hubungan berbanding lurus.
Tegasnya, jika besarnya suhu atmosfer itu kecil (menurun) maka cahaya fajar
akan tampak pada sudut depresi yang rendah, seperti suhu 18.1° Celcius, fajar
shadiq tampak pada posisi Matahari -18°02’08’’. Sebaliknya, jika suhu
atmosfer itu besar (meningkat) maka cahaya fajar akan terlihat pada sudut
posisi Matahari yang tinggi pula, seperti pada suhu 18.9° Celcius maka fajar
shadiq tampak pada sudut Matahari -20°52’29’’. Adapun nilai rata-rata (mean)
posisi Matahari dengan merujuk pada keseluruhan data pengamatan, maka
diperoleh hasil sudut depresi Matahari -18°39’29.4’’. Penelitian ini menguatkan
teori bahwa astronomical twilight yang bersesuaian dengan fenomena fajar
astronomi mulai terbit ketika Matahari berada pada kedudukan sudut depresi
18o di bawah horizon.
Kata kunci: Fajar Shadiq, Temperatur dan Kelembaban, Posisi Astronomis Matahari.
A. Pendahuluan
Penentuan waktu ibadah umat Islam memerlukan pengetahuan posisi Matahari1
dan posisi geografis tempat di Bumi untuk keperluan salat lima waktu. Proses
penetapan waktu ibadah salat itu mendorong pemahaman manusia terhadap gerak
harian maupun gerak tahunan Matahari di langit yang selanjutnya dipergunakan untuk
menentukan posisi Matahari setiap saat.2 Data astronomi terpenting yang dibutuhkan
dalam penentuan jadwal awal waktu salat menurut Djamaluddin3 adalah posisi/
kedudukan Matahari dalam koordinat horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit.
Fenomena yang dicari kaitannya dengan posisi Matahari adalah fajar (morning
twilight), terbit, melintasi meridian, terbenam dan senja (evening twilight). Astronomi
berperan menafsirkan fenomena yang disebutkan dalam dalil agama (al-Qur’an dan
1
Posisi Matahari yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tinggi Matahari atau jarak yang
dihitung dari ufuk sampai dengan Matahari melalui lingkaran vertikal. Ketinggian ini dinyatakan dengan
derajat, minimal 0-90°, diberi tanda positif bila berada di atas ufuk dan diberi tanda negatif bila berada
di bawah ufuk.
2
Komaruddin Hidayat & Tarmi, dkk., Ilmu Astronomi: Islam untuk Disiplin (Jakarta: Dirjen
Bimas Depag RI, 2000), 15.
3
Thomas Djamaluddin, Menggagas Fiqih Astronomi, Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian
Solusi Perbedaan Hari Raya, cet. I, (Bandung: Kaki Langit, 2005), 138.
1
hadis}) menjadi posisi Matahari. Sebenarnya, penafsiran itu belum seragam tetapi
karena masyarakat telah sepakat menerima data astronomi sebagai acuan, kriterianya
relatif lebih mudah untuk disatukan.
Ada beberapa teks nas baik yang berasal dari al-Qur’an maupun Hadis}4 yang
mengisyaratkan tentang waktu-waktu salat, di antaranya adalah surat an-Nisa’(4):103,5
t}aha (20):130,6 al-Isra (17):78,7 Hud (11):114,8 ar-Rum (30): 17-18.9Apabila dalam alQur’an keterangan tentang waktu salat dijelaskan secara implisit sedangkan didalam
Hadi>s} Nabi penetapannya disebutkan secara eksplisit.Sepanjang penelusuran penulis,
ditemukan bahwa teks-teks yang dijadikan landasan dalam menetapkan awal waktu
salat bersifat interpretatif, termasuk pemahaman tentang fajar.
Para ulama10 telah sepakat tentang fenomena fajar s}a>diq sebagai pertanda
masuknya awal waktu salat shubuh.11 Fajar didefinisikan sebagai waktu mulai
munculnya cahaya di ufuk Timur dan kegelapan malam mulai tersebak. Ini adalah
cahaya putih muncul di sepanjang ufuk Timur yang dikenal dalam syariah dengan
istilah fajar s}a>diq. Menurut az-Zamakhsyari>12 yang dimaksud dengan fajar adalah awal
permulaan tampaknya cahaya fajar yang membentang di ufuq Timur seperti benang
yang dibentangkan. Dalam Tafsi>r al-Kasysyaf ini az-Zamakhsyari> mengutip pendapat
Ima>m Qurtu>bi> yang menjelaskan bahwa dinamakan fajar s}a>diq itu adalah benang,
karena yang muncul berupa warna putih yang terlihat memanjang itu seperti benang.
4
Hadit} berikut ini termasuk dalam kategori hadit} h}asan menurut at-Turmudziy dan Abu
Dawud, bahkan at-Turmudziy mengatakan: Imam Bukhari berkata bahwa hadit} ini adalah hadit} yang
paling s}ah}i>h yang membahas tentang waktu salat. Hadit} yang dimaksud adalah sebagai berikut:
‫َه ّى‬
ٍ َ‫ُْى اِ ْب ٍِ ِشٓا‬
َ ً
َّ ِ‫بى َرباَحٍ ع ٍَْ اا َ بِ ِز ْب ٍِ َع ْب ِذ هلل اَ ٌَّ ِاب ِْز ٌْ َم اَى َى انَُّب‬
ِ ‫اَ ْخبَ َزَا َ ٌُْٕ سُفُ بٍُْ َٔا‬
ِ َ‫ب ع ٍَْ بُزْ ٍد ع ٍَْ عَطاَ ِءب ٍِْ ا‬
ِ ‫ضخٍ لاَ َل َد َّذثَُا َ لُذَا َيتُ ٌَع‬
َّ
ْ
ْ
َّ
ّ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َّ
َ
َّ ‫ هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّ َى ٌُ َعهِّ ًُُّ َي َٕالٍِْتَ ان‬
‫ى‬
َّ ‫صه‬
َ ‫َه َّى هلل َعهٍّْ َٔ َسهى ف‬
َ ‫ى هلل َعهٍّْ َٔ َسهى خَهفُّ َٔانُاسُ خَهفَ َرسُْٕ ِل هلل‬
َّ ‫َه‬
َ ‫صال ِة فتَمذ َو ِاب ِْز ٌْ ُم َٔ َرسُْٕ ُل هلل‬
ْ
ُّ
ِّ
ْ
ْ َ‫انظ ْٓ َز ِدٍٍَْ سَان‬
َ
َُّ‫ى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى َٔ َسهَّى خ َْهف‬
َ
َ
َ
َّ
َ
َ
َ
َ
ْ
َّ ‫َه‬
َ ‫َُ َع فتمذ َو ِاب ِْزٌ ُم َٔ َرسُْٕ ُل هلل‬
َ ‫صُ َع ك ًَا‬
َ ‫ص ِّ ف‬
ِ ‫ت ان َّش ًْسُ َٔاَىاَُِ ِدٍٍَْ كاٌَ انظمُّ ِيثم شَخ‬
َّ
ْ
ُ
َّ
ْ
ّ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َّ
َ
َ
ْ
ْ‫ص‬
‫ هلل‬
‫ل‬
‫س‬
‫ر‬
ٔ
‫م‬
ٌ
‫ْز‬
‫ب‬
‫ا‬
‫و‬
‫ذ‬
‫م‬
‫ت‬
‫ف‬
ً
‫ش‬
‫ان‬
‫ت‬
‫ب‬
‫ا‬
ٔ
ٍ
‫د‬
ِ
‫َا‬
‫ى‬
‫ا‬
‫ى‬
‫ث‬
‫ز‬
‫ع‬
‫ان‬
‫ى‬
‫ه‬
‫ص‬
‫ف‬
‫ى‬
‫ه‬
‫س‬
ٔ
ّْ
ٍ
‫ه‬
‫ع‬
‫ هلل‬
‫ى‬
‫ه‬
َ
‫ هلل‬
‫ل‬
‫س‬
‫ر‬
‫ه‬
‫خ‬
‫ا‬
ُ
‫َٔان‬
َُّ‫َه َّى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى خ َْهف‬
ُ
ُ
ُ‫س‬
ُ‫س‬
ُْٕ
ٍَْ
َ
ُْٕ
َ‫ف‬
َ
َ َ ِ ِ َ
ْ
ََ َ ِ ُ
َّ َ َ َّ َ
َ َ
َّ َ
ِ َ
ُ ‫ب ان َّشف‬
َّ ‫ك ان‬
‫ى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى‬
َّ ‫َه‬
َ ‫صالَ ِة فَتَمَ َّذ َو ِاب ِْز ٌْ ُم َٔ َرسُْٕ ُل هلل‬
َ َ ‫ب ثُ َّى اَىَا ُِ ِدٍٍَْ غا‬
َ ‫ى ْان ًَ ْغ ِز‬
َّ ‫صه‬
َ َ‫ى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى ف‬
َّ ‫َه‬
َ ‫َٔانُّاَسُ خ َْهفَ َرسُْٕ ِل هلل‬
َّ ‫ى ان ِعشا َ َء ثُ َّى اَىاَُِ ِدٍٍَْ ا َْ َش‬
َُّ‫ى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى خ َْهف‬
َّ ‫َه‬
َ ‫ك ْانفَجْ ُز فَتَمَ َّذ َو ِاب ِْز ٌْ ُم َٔ َرسُْٕ ُل هلل‬
َّ ‫صه‬
َ َ‫ى هلل َعهٍَّْ َٔ َسهَّى ف‬
َّ ‫َه‬
َ ‫خ َْهفَُّ َٔانُّاَسُ َخ ْهفَ َرسُْٕ ِل هلل‬
ْ
ْ
ّ
َّ
ْ
ْ
َّ
ُ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
‫س‬
‫ي‬
‫ال‬
‫ا‬
‫ب‬
‫ع‬
ُ
َ
‫ا‬
‫ي‬
‫م‬
‫ث‬
‫ي‬
‫ع‬
ُ
‫ص‬
‫ف‬
ّ
‫ص‬
‫َخ‬
‫ش‬
‫م‬
‫ث‬
‫ي‬
‫م‬
‫ا‬
‫ز‬
‫ان‬
ُّ‫م‬
‫ظ‬
ٍ
‫د‬
‫اَى‬
‫انث‬
‫و‬
ٍ
‫ان‬
ِ
‫ا‬
‫ى‬
‫ا‬
‫ى‬
‫ث‬
‫ة‬
‫ا‬
‫َذ‬
‫غ‬
‫ان‬
‫ى‬
‫ه‬
‫ص‬
‫ف‬
‫ى‬
‫ه‬
‫س‬
ٔ
ّْ
ٍ
‫ه‬
‫ع‬
‫ هلل‬
‫ى‬
ُ
ٍَْ
َْٕ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
َّ
َّ
َ
َ
َّ ‫َه‬
َ ‫َٔانُّاَسُ َخ ْهفَ َرسُْٕ ِل هلل‬
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ُ
َ
ِ
َ
ِ
ِ
ُّ ‫ى‬
ْ َ‫صه َّى ان َعصْ َز ثُ َّى اَىَا ُِ ِدٍٍَْ َٔ َاب‬
‫صَُ َع‬
َ َ‫ت ان َّش ًْسُ ف‬
َ َ‫س ف‬
َ َ ‫صَُ َع كًَا‬
َ َ‫ص ٍْ ِّ ف‬
َ ‫انظْٓز ثُ َّى اَىاَُِ ِدٍٍَْ ِدٍٍَْ ِظمُّ انّ َز ُا ِم ِي ْث َم ش َْخ‬
َّ ‫صه‬
َ َ‫َٔ َسهَّى ف‬
ِ ‫ََُ َع بِاالَ ْي‬
ْ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ْ
‫س فصهاانعشاء ث َّى اَىاَُِ ِدٍٍَْ ا ْيت َّذ انفَجْ ُز َٔاََْ بَ َخ‬
َ َ ‫صَُ َع كًَا‬
َ َ‫ب فًَُُِاَ ث َّى ل ًُْا َ ثى ًَُِاَ ثى لًُا َ فاىاَُِ ف‬
َ ‫صهى ان ًَغ ِز‬
َ َ‫س ف‬
َ َ ‫كًَا‬
ِ ‫ََُ َع بِاالَ ْي‬
ِ ‫ََُ َع بِاالَ ْي‬
َ ‫صَُ َع كًَا‬
ّ ‫س فصهى انغذَا’َ ثُ ّى لاَل يا بٍٍََْ ْاَى ٍْ ٍِ ان‬
.‫صالَ ىَ ٍْ ٍِ َٔ ْلت‬
َ
َ َ‫َٔانُُّجُْٕ ُو با َ ِدٌَت ُي ْشتَبِكَت ف‬
ِ ‫ََُ َع بِاالَ ْي‬
(Hadit}diatas diriwayatkan oleh Nasa’i, tt:255-256).
5


6

7

8

9

10
11
2007), 3.
Ulama yang dimaksud adalah ulama Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali.
Molvi Yaqub Ahmed Miftahi, Fajar and Isha Times & Twilight (England: Hizbul Ulama UK,
12
Ima>m Abi> al-Qa>sim Ja>rullah Mah}mud bin Muhammad Zamakhsyari>, Tafsi>r al-Kasyayaf (‘an
H}aqa>iqi Gawamid}I at-Tanzi>l wa ‘Uyu>ni ‘al-Aqa>wil fi wuju>h at-Ta’wil), Juz I, (Beirut: Da>r alKutub al‘Ilmiyyah, 1995), 107.
2
Selain itu, az-Zamakhsyari> juga mengutip pendapat Ibnu Taimiyah yang menjelaskan
bahwa dinamakan putihnya siang dengan nama benang putih (al-khait} al-abyad}) dan
hitamnya malam dengan nama benang hitam (al-khait} al-aswad) menunjukkan fajar
yang terbit adalah awal permulaan warna putih yang berbeda dengan warna hitam
disertai dengan tipis dan samarnya, karena benang itu adalah tipis.
Dalam astronomi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rachim13 dikenal istilah
masa sesaat setelah Matahari terbenam dan sebelum Matahari terbit yang disebut
dengan twilight. Pada waktu Matahari terbit dan terbenam, cahaya yang berasal dari
Matahari sudah terlalu banyak kehilangan unsur-unsurnya yang bergelombang pendek
sebelum mencapai mata peninjau. Oleh karena itu, warnanya kelihatan kuning atau
merah.
Hamburan cahaya di saat pagi dan senja adalah pengaruh dari hamburan
atmosfer.14 Disebutkan dalam Astronomy Encyclopedia15 bahwa yang dimaksud
dengan twilight adalah periode senja sebelum Matahari terbit dan sesudah Matahari
terbenam ketika pencahayaan dari langit secara bertahap. Hal ini disebabkan oleh
hamburan sinar Matahari oleh partikel debu dan molekul udara di Bumi.
Fenomena alam yang terlihat di waktu pagi menjelang pergantian malam dan
siang sebelum terbit Matahari biasa disebut dengan fenomena terbit fajar. Terbit fajar
dalam konsep syar’i ada dua macam, yaitu fajar kaz{ib dan fajar s}a>diq. Sedangkan
dalam ilmu pengetahuan dan astronomi dikenal 3 macam terminologi fenomena akhir
senja, yaitu civil twilight, nautical twilight dan astronomical twilight.16
Sejauh ini, kajian tentang fajar menjadi permasalahan yang urgen dan sudah
selayaknya menjadi perhatian dari berbagai pihak. Di samping latar belakang yang
telah penulis paparkan di atas, dasar argumentasi guna mengkaji fenomena fajar dan
dikaitkan dengan faktor atmosfer dilatarbelakangi juga dengan adanya penjelasan Nabi
dan hasil interpretasi para ulama yang mengindikasikan beberapa warna fajar itu terdiri
dari cahaya putih, ada yang menyebut kemerah-merahan, dan menyebut juga dengan
biru atau kuning kemerah-merahan. Fenomena tersebut bila dikaji dari sisi astronomis,
warna senja (baik pra Matahari terbit maupun pasca Matahari tenggelam) merupakan
faktor adanya hamburan sinar Matahari yang dipengaruhi oleh kelembaban dan/
temperatur atmosfer.
13
A. Rachim, Ilmu Falak (Yogyakarta: Liberty, 1983), 39.
Ada beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang terminologi atmosfer dan bergunanya
lapisan-lapisan gas atau atmosfer itu bagi kita Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat
dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" Bumi dan juga keseluruhan alam semesta.
Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit Bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan. Di
antara ayat yang mensinyalir tentang istilah atmosfer terdapat dalam Qs. 2:29, Qs.41:11-12, Qs. 21: 32,
Qs. 41:11, Qs. 78:12. Terminologi lain tentang atmosfer dalam al-Qur’an merujuk pada kata sah}a>b,
anzalnaa ma’an, ihtazzat, rabat, suqna, maytan . Di antara tafsir yang menunjukkan kata sah}a>b terdapat
dalam tafsir Qs. Al-Baqarah:19 (Ra>zi, tt:22):
ِ
ِ َّ ‫ ع ِن الض‬،‫ عن جويٍِِب‬،‫ ثنا مروا ُن‬،َ‫ ثنا أَبو ب ْك ِر بن أَِِب َشيبة‬،‫ْي‬
ِ ْ ‫اْلُس‬
ٍ ِّ‫صي‬
."‫اب‬
َ َ‫الس َم ِاء﴾ ق‬
َّ ‫ب ِم َن‬
َّ ‫ ُه َو‬:‫ال‬
َ َْ ُ ْ َ ََْ
َ ‫ "﴿أ َْو َك‬:‫َّحاك‬
ُ ‫الس َح‬
َْ
ُْ َ ُ
َ ْ ‫َحدَّثَنَا َعل ُّي بْ ُن‬
14
15
Leif J. Robinson, Philip’s: Astronomy Encyclopedia (London: Philip’s, 2002), 47.
Sayyid Muhammad Rizvi, 1991, Al-Fajr As-Sadiq: A New Perspective (tt: Dar-es-salaam,
http://www.baabeilm.org/articles/scientific_fajr.pdf), 1.
16
3
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jorg Haber dari Jerman17 beberapa
ilmuwan mengatakan bahwa korelasi warna senja juga dipengaruhi oleh tingkat
atmosfer. Kajian terhadap pengamatan fajar yang dipengaruhi oleh kondisi atmosfer
perlu dilakukan di wilayah sekitar khatulistiwa dengan mengambil lokasi tepi pantai
untuk mengeliminir keberadaan penghalang di muka Bumi.
Ijtihad yang digunakan di Indonesia adalah posisi matahari 20° di bawah ufuk
dengan landasan dalil syar’i dan astronomis yang dianggap kuat. Kriteria tersebut yang
kini digunakan Kementerian Agama RI untuk jadwal salat yang beredar di masyarakat.
Kalau saat ini ada yang berpendapat bahwa waktu shubuh yang tercantum di dalam
jadwal salat dianggap terlalu cepat, Djamaluddin (2010) mengatakan bahwa hal itu
disebabkan oleh dua hal: Pertama, ada yang berpendapat bahwa fajar s}a>diq ditentukan
dengan kriteria fajar astronomis pada posisi matahari 18° di bawah ufuk, karena
beberapa program jadwal salat di internet menggunakan kriteria tersebut, dengan
perbedaan sekitar 8 menit. Kedua, ada yang berpendapat fajar s}a>diq bukanlah fajar
astronomis, karena seharusnya fajarnya lebih terang, dengan perbedaan sekitar 24
menit.
Diskursus awal waktu Shubuh di Indonesia mengemuka belakangan ini
terutama setelah komunitas Qiblati melaksanakan anjangsana ke berbagai pelosok
sembari menjelaskan awal waktu Shubuh di Indonesia versi jadwal waktu salat
Kementerian Agama RI adalah 24 menit lebih cepat dibanding saat munculnya fajar
s}a>diqyang menjadi acuan awal waktu Shubuh. Komunitas ini mendasarkan pada
interpretasi sejumlah teks hadits dan ditopang hasil observasi fajar s}a>diq (rukyat fajar)
pada beberapa tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY.
Diskursus ini menjadi bahan pembicaraan hangat di sejumlah media, baik cetak
maupun elektronik, di antaranya majalah Qiblati yang secara khusus membahas
tentang koreksi awal waktu shubuh dan dilanjut dengan banyaknya dialog serta
komentar dari masyarakat mengenai hal ini melalui jejaring internet. Karena
pemberitaan tentang hal ini dianggap meresahkan masyarakat, maka Majelis Ulama
Indonesia di berbagai tempat telah mengambil sikap terhadap diskursus ini, termasuk
di antaranya MUI Propinsi DIY. Hal ini juga menjadi salah satu bahan kajian dalam
Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat 2010 yang diselenggarakan Kementerian Agama
RI di Semarang, 23–25 Februari 2010 lalu. Penentuan ulang waktu salat Subuh di
Indonesia sebagaimana usulan PP Muhammadiyah (Kompas, 4 April 2010) perlu
melibatkan sejumlah ormas Islam yang lain dan seharusnya dibahas dalam kongres
nasional sehingga penetapan waktu shubuh dapat diterima oleh seluruh umat Islam
diIndonesia. Sebelum dibahas dalam kongres, penetapan waktu salat Shubuh perlu
diadakan penelitian oleh para ahli ilmu perbintangan (falak) dari berbagai aliran dan
substansi pembahasan tentang adanya pengaruh atmosfer terhadap ketampakan fajar
belum dilakukan, oleh karena itu perlu ditambahkan.
Berangkat dari fenomena diatas, menjadi minat penulis untuk
mengembangkan kajian ini lebih mendalam terkait adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi ketampakan fajar. Berdasarkan latar belakang yang telah penulis
paparkan di atas, pokok permasalahan dapat penulis rumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat pengaruh kondisi atmosfer terhadap ketampakan fajar?
17
Jorg Haber, Jorg, Marcus Magnor, Hans-Peter Seidel, Physically Based Simulation of
Twilight Phenomena, Germany: MPI Informatik, Saarbr ucken, Marcus Magnor, Hans-Peter Seidel, tt,
Physically Based Simulation of Twilight Phenomena, Germany: MPI Informatik, Saarbr ucken, tt), 1.
4
2. Bagaimana korelasi antara posisi Mataharidengan terbitnya fajar dan awal shubuh
di Indonesia?
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketampakan Fajar
Diskusi tentang fajar s}a>diq tidak lepas dengan indikasi warna yang ditampilkan di
sepanjang ufuk, sebagaimana banyak dijelaskan dalam nass.
a. Warna putih membentang di sepanjang ufuk
Allah telah berfirman: ‚Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang
putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
(datang) malam‛ QS. Al-Baqarah: 187. Nabi menjelaskan maksud ayat tersebut dalam
haditsnya:
‫اًَِا َ ُْ َٕ َس َٕا ُد انه ٍْ ِم َٔبٍََاضُ انُٓاَ ِر‬
Artinya: ‚sesungguhnya ia adalah gelapnya malam dan putihnya (cahaya) siang‛. (HR.
al-Bukhari dan Muslim dari Adiy Ibn Hatim)
Jadi yang dimaksud dengan benang putih adalah putihnya siang bukan sekedar
cahaya siang. Sifat dari putihnya cahaya siang tersebut adalah menyebar memenuhi
langit, putihnya dan cahayanya memenuhi jalan-jalan. Menurut Syaikh Muhammad alAmin sebagai dikutip oleh al-Bukhairi18 mengatakan: maksudnya engkau merasakan
pengaruh cahaya itu mulai ada di jalan-jalan, bukan maksudnya hari menjadi siang.
Adapun cahaya putih yang menjulang atau meninggi di langit maka bukan yang
dimaksudkan oleh Allah dalam firmanNya.
Mahmud Ibn Abdillah al-Alusi al-Baghdadi (1270 H: 100) dalam Ru>h} alMa’ani(fi Tafsir al-Qur’an al-’az}im as-Sab’ul Mat}a>ni) berkata:
‚Firman Allah‛minal fajri‛ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan
benang putih adalah fajar shadiq, yaitu cahaya putih yang menyebar di ufuk,
bukan fajar kadzib yaitu cahaya putih yang meninggi karena fajar itu adalah
ledakan (letusan) cahaya, yaitu ada pada cahaya yang kedua bukan yang pertama.
Diserupakan dengan benang yaitu untuk menggambarkan awal kemunculannya
yang nampak kecil (seperti benang yang dibentangkan) kemudian naik menyebar
(dengan cepat). Maka dengan terbitnya awal cahaya shadiq wajib imsak.
Menurut Muhammad Ibn Rusyd19, para Ulama berselisih tentang awalnya
imsak puasa, maka jumhur berkata: ia adalah munculnya fajar kedua yang menyebar
putih, karena hal itu telah shahih dari Rasulullah. Maksud yang shahih dari Rasulullah
adalah batasannya dengan kata ‚mustat}ir‛ (menyebar). Syamsuddin as-Sarakhsi alHanafi dalam kitab al-Mabsut}20
} berkata: ‚fajar itu ada dua, kaz}ib yang disebut oleh
orang Arab dengan ekor serigala yaitu cahaya putih yang tampak menjulang di langit
lalu diiringi oleh gelap dan shadiq yaitu cahaya putih yang menyebar di ufuk‛.
b. Warna merah
Terdapat beberapa riwayat dan pendapat terkait memerahnya warna fajar s}a>diq:
1. Hadits riwayat Ahmad
‫ك َٔنكُُّ اَنُ ًُ ْعت َِزضُ اَالَدْ ًَ ُز‬
َ ٍَ‫ن‬
ِ ُ‫فً ْاالُف‬
ِ ‫ْس اَ ْنفجْ ُز اَ ْن ًُ ْستَ ِطٍْم‬
18
Mamduh F Al-Bukhairi & Agus Hasan B, Koreksi Awal Waktu Shubuh (Malang: Pustaka
Qiblati, 2010), 137.
19
Muhammad Ibn Rusyd, Bida>yah al-Mujtahid , jilid 1, (ttp: Azzam, tt), 292.
20
Al-Sarakhsi, al-Mabsu>t} (Beirut: Da>r al-Fikr, 1985), 141.
5
Artinya: ‚Bukanlah fajar itu cahaya yang meninggi di ufuk, akan tetapi yang
membentang berwarna merah (fajar putih kemerah-merahan)‛.
2. Hadits riwayat Imam Turmudzi: 705
Artinya: ‚Makan dan minumlah, janganlah cahaya yang menjulang tinggi ke atas
mengganggumu (menghalangimu) dari makan, makan dan minumlah hingga
membentang padamu cahaya yang merah‛.
3. Abu Uwanah berkata dalam mustakhrajnya atas Shahih Muslim21
ُ‫اَ ْنفَجْ ُزُْ َٕ اَ ْن ًُ ْستَ ِط ٍْ ُز اَن ِذي ىُخاَنِطُُّ اَ ْن ُذ ًْ َزة‬
Artinya: ‚Fajar adalah yang menyebar (di ufuk) yang bercampur merah‛.
4. Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Adab al-Safar, kitab ke tujuh dari rubu’alIbadat dari kitab Ihya Ulu>m al-di>n berkata: ‚Adapun shubuh maka tampak pertama kali
meninggi seperti seekor serigala, maka tidak diputuskan (apapun) dengannya hingga
usai satu waktu kemudian tampak terang cahaya putih yang membentang, tidak sulit
melihatnya dengan mata karena terangnya, maka ini adalah awal waktu shubuh.
Kemudian al-Ghazali menyebutkan satu Hadits sebagai dalilnya, lalu berkata: dia
mengisyaratkan kalau ia membentang. Diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah dari Hadits
Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih. Lalu al-Ghazali mengatakan: ‚Imam Ahmad
memiliki riwayat dari hadits Thalq Ibn Ali, ‚bukanlah fajar itu yang meninggi diufuk,
akan tetapi yang membentang yang merah,‛ sanadnya Hasan. Dia mengisyaratkan
bahwa ia membentang.22
c. Warna Biru membentang
Belum diketahui dalil syar’i secara pasti mengenai penyebutan warna biru
pada awal fajar shadiq, namun hal ini pernah disebutkan oleh salah satu penyair yang
bernama al-Tha’i sebagaimana dikutip oleh Mahmud Ibn Abdillah al-Alusi alBaghdadi23 dalam Tafsir Ruh} al Ma’ani (fi Tafsir al-Qur’an al-’Adzimas-Sab’ul
Mat}a>ni):
ُ ‫َٔاَ ْس َر‬
ِّ ‫ض‬
ِ ٍَ‫ق ْانفَجْ ِز ٌَاءْ ىِى لَ ْب َم اَ ْب‬
Artinya: ‚Birunya fajar datang sebelum putihnya‛.
Al-Bukhairi24 menyebutkan bahwa warna biru itu ada dua bagian: pertama, meninggi
kemudian setelah itu meredup. Kedua, membentang ke utara dan ke selatan,
sebagaimana hal ini disinyalir oleh Syaikh Muhammad Ibn Ahmad at-Turki dalam
makalahnya yang berjudul al-Fajr al-S}a>diq wa-Taqwi>m al-Kaz}ib:‛sesuatu itu jika
memancar, ia akan menyebar dan merebak (mengembang), maka salat shubuh tidak
21
Muslim, S}ahi>h Muslim, Juz 1, (Beirut: Da>r al-Fikr, tt), 309.
Beliau menambahkan bahwa: ‚Tidak boleh mengandalkan kecuali pada pandangan mata, dan
tidak mengandalkan pandangan mata kecuali atas dasar cahaya sudah menyebar dalam bentangan hingga
nampak awal-awal kekuningan. Sungguh telah salah dalam hal ini sekumpulan orang yang banyak,
mereka salat sebelum waktunya.‛ Kemudian al-Ghazali menyebutkan dalilnya yaitu hadits Thalq Ibn Ali
lalu berkata: ‚Diriwayatkan oleh Abu Isa at-Turmudzi dalam Jami’nya dan berkata: Hasan Gharib. Ia
seperti yang ia katakana. Abu Dawud juga meriwayatkannya. Ini adalah nyata dalam memperhatikan
warna kemerahan.‛ Maka sebaiknya tidak mengacu kecuali pada nampaknya warna kekuningan, seolaholah ia adalah awal-awal kemerahan‛(al-Bukhairi, 2010:181).
23
Al-Alusi, Tafsir Ruhul Ma’ani: Fi Tafsir al-Qur’an al-’Adzim as-Sab’ul Mat}ani, (ttp: Da>r alFikr, tt), 100.
24
Mamduh Fal-Bukhairi & Agus Hasan B, Koreksi Awal , 190.
22
6
halal dengan kemunculan cahaya pagi yang pertama kali (al-Mustat}il fil-Ufuq) hingga
yastat}ir (merebak), memenuhi langit, menutupi setiap benang hitam didalamnya, maka
berubahlah warna hitamnya menjadi biru nyata. Itu tatkala tampak terang benang putih
dari benang hitam, yaitu fajar.
Alhasil, setelah mengadakan penelusuran riwayat terkait warna fajar shadiq
maka penulis berkesimpulan bahwa terdapat kesepakatan oleh para ulama mengenai
karakter atau sifat dari fajar shadiq itu adalah membentang, merebak (mustat}ir) di ufuk
dari utara ke selatan atau sebaliknya bukan memanjang/menjulur (mustat}il) ke atas
seperti ekor serigala. Namun, ulama berbeda pendapat terkait warna fajar shadiq. Ada
yang menyebut dengan warna putih, merah bahkan biru. Tentunya para ulama dalam
menjelaskan warna fajar berdasarkan pengalaman empiris praktis di lapangan. Hal
tersebut tentunya dipengaruhi kondisi geografis tiap-tiap wilayah memiliki kandungan
atmosfer yang berbeda-beda, sehingga pengaruhnya menjadi warna senja yang
beragam.
Berdasarkan hasil analisis data hasil pengamatan yang dilakukan di beberapa
lokasi25 rukyah fajar, maka penulis mendapat kesimpulan tentang adanya pengaruh
tingkat kelembaban dan suhu atmosfer. Efek dari bervariasinya kelembaban udara akan
terjadi perubahan warna langit di sekitar horizon. Berdasarkan hasil analisis dari
keseluruhan citra fajar hasil pengamatan, diperoleh kesimpulan bahwa tingkat
kelembaban yang cenderung tinggi kisaran 90% - 94%, warna langit saat fajar shadiq
muncul adalah dominan warna orange bercampur biru tua atau kuning dan kadang
muncul pula warna hitam gelap. Menurut informasi yang penulis dapatkan dari BMKG
bahwa berdasarkan kebiasaan, tingkat kelembaban yang tinggi kisaran mencapai lebih
dari 90% sangat berpotensi untuk hujan, sehingga warna gelap yang sesekali
ditampilkan memang menunjukkan kondisi sedang berawan tebal.
Sedangkan tingkat kelembaban kisaran 80% - 89%, warna cahaya langit yang
muncul di sekitar ufuk Timur berwarna dominan putih buram, kuning, biru terang,
orange. Selanjutnya, dalam kondisi lokasi pengamatan sedang berkelembaban rendah
kisaran 66% - 79% warna langit ketika terbit fajar adalah dominan warna putih buram.
Untuk memudahkan pemahaman, berikut ini penulis paparkan klasifikasi
interval hasil analisis suhu dan kelembaban terhadap warna:
No
1.
2.
3.
Kategorisasi analisis tingkat kelembaban terhadap warna fajar
Kategori
Interval tingkat
Warna Fajar
kelembaban
Rendah
66 % - 79%
Putih buram
Sedang
81 % - 89%
Putih buram, kuning, biru terang,
orange
Tinggi
90% - 94%
Orange, biru tua, kuning, hitam
25
Adapun lokasi yang penulis jadikan sebagai tempat observasi fenomena fajar sa}>diq adalah
kota Lamajang, Kec. Pangalengan Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat, Dukuh Sedoro Desa Kaibon Kec.
Geger Kab. Madiun Prov. Jawa Timur, Lereng Gunung Merbabu Kab. Magelang Prov. Jawa Tengah,
Landasan Aeroplane pantai Parangkusumo Bantul Jogjakarta, Desa Tayu dan Desa Margomulyo, Kec.
Tayu, Kabupaten Pati Prov. Jawa Tengah, Bendo Ketitang Juwiring Klaten, Prov. Jawa tengah.
7
Citra fajar yang mendeskripsikan warna langit dipengaruhi oleh tingkat
kelembaban direpresentasikan oleh tiga citra berikut:
Gambar : Model citra fajar dari tingkat kelembaban rendah, sedang dan tinggi
Secara berurutan citra di atas menjelaskan tentang adanya efek dari
bervariasinya tingkat kelembaban. Citra dari arah kiri ke kanan sebagai representasi
tingkat kelembaban rendah, sedang dan tinggi. Terbukti untuk tingkat kelembaban
yang lebih tinggi warna langit dimunculkan berupa orange kemerah-merahan dibalut
warna biru di atasnya, dan untuk kelembaban sedang memungkinkan warna cahaya
putih muncul dan disertai warna orange tipis dibagian bawah dan biru dibagian langit
atas. Sedangkan pada tingkat kelembaban rendah bisa dilihat bahwa warna dominan
cahaya putih dan tidak ditemukan warna biru atau orange.
Kesimpulan analisis di atas kiranya dapat menjawab dan mengkorfirmasi
kebenaran ayat (upaya uji verifikasi) surat al-Baqarah:187. Dalam ayat tersebut
disinggung tentang indikasi munculnya fajar shadiq adalah ketika sudah terang khait
al-abyad} (benang/cahaya putih). Hemat penulis, warna putih yang disinyalir dalam ayat
tersebut sebagai representasi kondisi alam dimana ayat tersebut diturunkan. Ayat
tersebut diturunkan di kota Makkah yang notabene secara geografis kota ini datar yang
dikelilingi gunung dan bukit-bukit serta beriklim gurun kering dan Makkah memiliki
kelembaban rendah sekitar 32%. Hal ini memungkinkan pada saat ayat tersebut
diwahyukan, cahaya fajar shadiq hampir selalu muncul dengan warna cahaya di
sepanjang horizon dominan putih yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kelembaban.
Dalam ilmu fisika, warna putih merupakan kesan yang ditangkap oleh mata dan
merupakan gabungan (superposisi beberapa panjang gelombang) dari berbagai panjang
gelombang unik. Warna putih dapat dihasilkan dari gabungan tiga panjang gelombang
Merah Hijau dan Biru atau RGB (Red Green Blue).
Untuk ketampakan warna fajar selain putih dari hasil pengamatan adalah
warna orange-merah. Kesimpulan dari hasil pengamatan ini membuktikan kebenaran
sabda Nabi26 yang mengatakan bahwa warna fajar juga muncul dengan warna merah
bercampur putih atau sebaliknya. Warna Matahari berikut sinar cahayanya yang
dihamburkan oleh atmosfer di ufuk akan terlihat merah atau orange karena cahaya
Matahari yang sampai ke mata pengamat sudah dikurangi panjang gelombang biru,
26
‫ك َٔنكُُّ اَنُ ًُ ْعت َِزضُ اَالَدْ ًَ ُز‬
َ ٍَ‫ن‬
ِ ُ‫فً ْاالُف‬
ِ ‫ْس اَ ْنفجْ ُز اَ ْن ًُ ْستَ ِط ٍْ َم‬
8
violet, dan hijau. Sedangkan ketampakan warna sedikit orange sehingga awalnya
tampak orange, dan kemudian merah di mata pengamat.
Kajian meteorologis terutama menyangkut masalah temperatur dan kelembaban
menjadi urgen untuk dibahas lebih lanjut, karena keberadaannya memberikan pengaruh
yang dapat dikatakan sangat determinan dalam ketampakan twilight. Besarnya
temperatur diasumsikan sejalan linier dengan ketinggian (altitude) sesuai perkiraan
kondisi aktual secara rata-rata. Hasil bacaan penulis terhadap suhu atmosfer selama
masa pengamatan sangat variatif. Kisaran besarnya temperatur mulai dari suhu
terendah yaitu 17.7° Celcius hingga suhu tertinggi mencapai 28.4° Celcius. Untuk
memudahkan analisis, penulis membagi sebaran temperatur selama periode
pengamatan tahun 2010 hingga tahun 2013 menjadi tiga (3) skala. Suhu berskala
rendah terepresentasikan pada tingkat suhu 17.7°C - 18.9°C, suhu skala sedang kisaran
antara 20.3°C – 25.3°C dan suhu skala tinggi dengan kisaran antara 26.8°C – 28.4°C.
Korelasi antara temperatur level rendah dan level maksimum pada hamburan
cahaya twilight termanifestasikan dalam kurva dari hasil olah data dengan program Er
Mapper versi 7.1. Berikut ini penulis sajikan kurva dengan kondisi suhu level rendah:
Gambar 11.1: kurva intensitas cahaya dengan suhu rendah
Kurva tersebut menunjukkan perbandingan pengukuran rasio rata-rata
perubahan dari iluminasi ke iluminasi sebagai fungsi dari adanya ketinggian bersamasama dengan temperatur pada saat hamburan twilight. Dengan kondisi temperatur
minimum, tampak terlihat adanya ketidakteraturan hamburan dari waktu ke waktu dan
hal ini disebabkan oleh distribusi temperatur. Dalam situasi seperti ini setiap pengamat
akan kesulitan melakukan identifikasi ketepatan terbitnya cahaya fajar shadiq.
Sajian kurva berikutnya merupakan representasi dari hamburan cahaya fajar
dengan skala suhu sedang:
Gambar 11.2: Kurva intensitas cahaya dengan suhu sedang
9
Perhatikan kurva di atas, hamburan cahaya twilight terlihat teratur dan konstan.
Dalam keadaan stabil, gerakan perubahan intensitas cahaya dari pra terbitnya cahaya
fajar hingga jelang sunrise, kondisi langit semula gelap (malam) tanpa cahaya
hamburan sinar Matahari kemudian langit secara gradual mengalami peningkatan
cahaya dan demikian seterusnya. Bagi penulis, suhu sedang dengan tampilan kurva
sebagaimana di atas lebih mudah untuk dilakukan identifikasi dan analisis.
Selanjutnya, kurva dengan suhu level maksimum:
Gambar 11.3: Kurva intensitas cahaya dengan suhu tinggi
Pada suhu maksimum, kurva hamburan cahaya fajar terlihat tidak beraturan
namun konstan dan menunjukkan kondisi sebaliknya pencahayaan tidak stabil karena
kondisi terbalik dari terang ke gelap atau dari kurva yang semula di atas dan kemudian
semakin menurun ke bawah.
Dari keseluruhan olah data dari hasil pengamatan, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa kondisi ideal untuk melakukan rukyah fajar adalah ketika suhu pada
level ‚sedang‛ yaitu kisaran antara Suhu 20.3°C – 25.3°C guna mendapatkan
hamburan cahaya fajar yang relatif beraturan dari waktu ke waktu. Sedangkan masalah
kelembaban dianjurkan dalam kondisi stabil atau setidaknya berkelembaban rendah
(66%-79%) dan kelembaban sedang (81%-89%). Untuk kelembaban tinggi (90%-94%)
kemungkinan fajar sulit terlihat karena warna langit terlihat gelap.
Untuk menentukan waktu salat, Rasulullah dan para sahabat tidak memiliki
pedoman lainkecuali melihat posisi Matahari dan gejala alam. Salah satu hadits yang
bercerita tentang pelaksanaan waktu-waktu salat itu adalah yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim27. Hadits tersebut menceritakan kondisi cuaca terkait dengan posisi
Matahari yang digunakan umat Islam di Madinah waktu itu. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa kota Madinah secara geografis berada di belahan Utara khatulistiwa.
Persisnya pada garis 24° LU, sehingga memiliki kondisi pergerakan Matahari
sebagaimana yang diceritakan dalam hadits tersebut.
Pemberlakuan kedudukan posisi Matahari tidak berlaku tetap sepanjang waktu
dan lokasi, karena terkait lintang dan musim yang akan mempengaruhi pergerakan
Matahari sehingga memberikan pengaruh pula pada efek iluminasi saat terbit fajar.
27
Dari Abdullah Ibnu Amr bahwa Rasulullah bersabda: waktu dzuhur adalah jika Matahari
telah condong (ke Barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya, selama waktu ashar belum
tiba. Waktu ashar masuk selama Matahari belum menguning. Waktu salat maghrib selama awan merah
belum menghilang. Waktu salat isya’ hingga tengah malam. Dan waktu salat shubuh semenjak terbitnya
fajar hingga Mathari belum terbit. (HR. Muslim)
10
Beragamnya level ketinggian posisi Matahari tentunya bersumber pada satu
hal yaitu Matahari itu sendiri sebagai pusat iluminasi, dimana pra fajar terbit kondisi
langit masih gelap kemudian terdapat pencahayaan yang merupakan efek dari
perjalanan harian Matahari dari Timur ke Barat28. Diakui oleh banyak pihak bahwa
tidak mudah dalam mengidentifikasi fenomena fajar shadiq, meskipun belakangan ini
kian banyak para peminat pemerhati fajar namun belum mampu memberikan
kesimpulan yang valid tentang ada kebenaran baru dalam sudut depresi Matahari untuk
waktu shubuh. Hal tersebut karena begitu kompleksnya pembahasan yang ada dalam
hal observasi fajar dan keterbatasan SDM dalam penguasaan pengetahuan syar’i dan
sains, teori dan praktek secara utuh sehingga hal ihwal pemberian konklusi tidak
semudah membalikkan telapak tangan.
Berikut ini adalah tabel posisi ketinggian Matahari dari hasil pengamatan:
No
Tgl
Lokasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
11/10/2010
21/07/2010
23/07/2010
27/07/ 2013
29/07/ 2013
01/08/ 2013
19/08/ 2013
20/08/ 2013
22/07/ 2012
23/07/ 2012
22/09/ 2012
23/09/ 2012
19/08/2010
20/08/2010
23/08/2010
16.
07/02/2011
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Juwiring
Pati
Pati
Pati
Pati
Kaibon
Kaibon
Kaibon
Madiun
Kaibon
Temp
eratur
e
(°C)
17.7
18.6
18.1
18.9
19.3
17.9
18.5
18.2
20.3
21.6
22.6
22.6
28.4
27.9
27.0
26.8
86
89
85
89
94
89
83
81
90
79
79
79
71
66
77
04:08
04:37
04:37
04:37
04:37
04:37
04:33
04:33
04:37
04:37
04:18
04:18
04:31
04:30
04:29
04:00
04:31
04:31
04:31
04:31
04:31
04:27
04:27
04:28
04:28
04:10
04:09
04:24
04:24
04:23
Fajar
hasil
analisis
(WIB)
04:02:09
04:31:10
04:37:44
04:25:36
04:22:03
04:33:01
04:05:16
04:34:21
04:27:03
04:37:23
04:19:56
04:16:49
04:19:27
04:29:07
04:20:17
88
04:24
04:17
Tidak
Humi
dity
(%)
Prediksi Fajar
(-18°&-20°)
WIB
Altitude
(derajat:
menit:detik)
-19:9:05
-19:33:50
-18:02:08
-20:52:29
-21:41:48
-19:02:45
-24:53:20
-17:43:47
-19:50:38
-17:25:34
-17:03:02
-17:41:27
-20:41:44
-18:15:55
-20:10:07
-
28
‚The sun follows a well‐defined path across the sky each day, a path that sweeps from east to
west with the eastward rotation of the earth. Each day, however, the sun is in a slightly different place
with reference to the stars, which daily out‐speed the sun by 4 minutes and 55 seconds. Thus the sun
completes its annual journey in about 365.25 days to return to the same place against the background
stars. This slow march of the sun through the celestial sphere is along a path called the ecliptic, a
sinusoidal path reaching its northernmost point on 21 June and it’s southernmost on 21 December (the
solstices). The daily sweep of the sun crosses the meridian (the imaginary line from the south point of
your horizon through the zenith and the north point) at an angle above the horizon that depends on your
latitude. On the equinoxes this angle is 90 degrees minus your latitude. It is largest at the equator, being
90 degrees, which means that the sun passes through the zenith. Your shadow falls at your feet at noon
on these days at the equator. At the 41 degree latitude of New York this angle is 49 degrees, and you
cast a shadow about equal to your height. Latitude makes a big difference in the duration of sunset
effects. At the rising and setting points of the sun the diurnal path is tilted with respect to the vertical
by the angle of the latitude of the observer. At the equator this angle is zero, and the sun plunges quickly
below the horizon because the solar altitude is decreasing at its greatest rate. At high latitudes this angle
becomes large, and the sun sets more slowly because the solar altitude is decreasing slowly. This makes
twilight pass into night rapidly in the tropics and slowly in high latitudes, even though the sun moves
along its diurnal path at essentially the same rate‛ (A & M Meinel, Sunsets, Twilights and Evening
Skies)
11
17.
09/02/2011
Sedoro
25.3
88
04:24
04:18
18.
19.
06/07/2011
18/09/2012
18.8
27.0
91
74.5
04:37
04:21
04:31
04:15
20.
21.
22.
11/10/2010
12/10/2010
15/10/2010
Merbabu
Yogjaka
rta
Bandung
Bandung
Bandung
teridentif
ikasi
Tidak
teridentif
ikasi
04:39:04
04:20:58
20.7
20.7
20.7
86
86
86
04:20
04:20
04:18
04:12
04:12
04:10
04:36:10
04:28:15
04:28:10
-17:33:27
-18:03:55
-14:02:34
-15:51:27
-15:30:46
Berdasarkan hasil analisis, maka penulis mendapatkan variasi ketinggian
Matahari yang didapatkan dari titik lokasi pengamatan yang berbeda dengan kondisi
suhu dan tingkat kelembaban yang beragam pula. Jika dicermati, penulis mendapat
kesimpulan bahwa ada korelasi antara suhu dengan sudut depresi Matahari. Suhu udara
meningkat dengan bertambahnya sudut posisi Matahari, sehingga penulis melihat ada
keterkaitan antara kedua variabel. Ketika keadaan suhu sedang tinggi maka cahaya
fajar shadiq juga tampak terlihat/terbit lebih awal ketika sudut ketinggian Matahari
pada sudut tinggi.
Dari keseluruhan data hasil pengamatan, maka nilai rata-rata (mean) dari
sudut ketinggian Matahari saat terbitnya fajar shadiq adalah dengan cara menghitung
jumlah seluruh data kemudian dibagi banyaknya data.
Mean = Jumlah keseluruhan data
Banyak data
Mean = -19:9:05 + -19:33:50 + -18:02:08 + -20:52:29 + -21:41:48 + -19:02:45 +
-24:53:20 + -17:43:47 + -19: 50:38 +-17:25:34 + -17:03:02 + -17:41:27 + 20:41:44 + -18:15:55 + -20:10:07 + -17:33:27 + -18:03:55 + -14:02:34 + 15:51:27 + -15:30:46
Mean =373°9’48’’
20
Mean = 18°39’29.4’’
Walhasil, nilai rata-rata dari sudut ketinggian Matahari dari keseluruhan data
pengamatan adalah -18°39’29.4’’. Dengan demikian, Hasil penelitian ini cenderung
menguatkan teori bahwa astronomical twilight mulai terbit ketika Matahari berada
pada kedudukan sudut depresi 18o di bawah horizon.
C.
Penutup (Kesimpulan)
Dari bahasan-bahasan sebelumnya dan mengacu pada rumusan masalah dalam
kajian ini, penulis dapat menyajikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketampakan fajar
Diskusi tentang fajar shadiq tidak lepas dengan indikasi warna yang
ditampilkan di sepanjang ufuk, sebagaimana banyak dijelaskan dalam nass.
Berdasarkan hasil analisis data hasil pengamatan, penulis mendapat kesimpulan
tentang adanya pengaruh tingkat kelembaban dan suhu atmosfer. Terbukti untuk
12
tingkat kelembaban yang lebih tinggi warna langit dimunculkan berupa orange
kemerah-merahan dibalut warna biru di atasnya, dan untuk kelembaban sedang
memungkinkan warna cahaya putih muncul dan disertai warna orange tipis dibagian
bawah dan biru dibagian langit atas. Sedangkan pada tingkat kelembaban rendah bisa
dilihat bahwa warna dominan cahaya putih dan tidak ditemukan warna biru atau
orange. Sedangkan pengaruh suhu berdampak pada keteraturan dan kontinuitas cahaya
yang dimunculkan di sepanjang ufuk, sehingga kurva cahaya saat fajar shadiq dapat
didugaterbit ketika kurva mulai meningkat dan begitu seterusnya. Berdasarkan hasil
analisis data pengamatan, maka penulis berkesimpulan bahwa dengan kondisi
temperatur minimum, tampak terlihat adanya ketidakteraturan hamburan dari waktu
ke waktu dan hal ini disebabkan oleh distribusi temperatur. Dalam situasi seperti ini
tentu setiap pengamat akan kesulitan melakukan identifikasi ketepatan terbitnya
cahaya fajar shadiq. Sedangkan dalam kondisi temperatur sedang hamburan cahaya
twilight terlihat teratur dan konstan sehingga memudahkan dalam identifikasi
terbitnya fajar shadiq. Pada suhu maksimum, kurva hamburan cahaya fajar terlihat
tidak beraturan namun konstan dan menunjukkan kondisi sebaliknya pencahayaan
tidak stabil karena kondisi terbalik dari terang ke gelap.
2. Korelasi Posisi Astronomis Matahari terhadap penentuan Waktu Fajar
Masuknya waktu salat shubuh ditandai dengan munculnya cahaya fajar shadiq
memanjang di sekitar ufuk. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat pengaruh antara suhu dengan sudut posisi Matahari. Kedua variabel tersebut
memiliki hubungan berbanding lurus. Tegasnya, jika besarnya suhu atmosfer itu kecil
(menurun) maka cahaya fajar akan tampak pada sudut depresi yang rendah, seperti
suhu 18.1° Celcius, fajar shadiq tampak pada sudut posisi Matahari -18°02’08’’.
Sebaliknya, jika suhu atmosfer itu besar (meningkat) maka cahaya fajar akan terlihat
pada sudut posisi Matahari yang tinggi pula, seperti pada suhu 18.9° Celcius maka
fajar shadiq tampak pada sudut Matahari -20°52’29’’. Adapun nilai rata-rata (mean)
posisi Matahari dengan merujuk pada keseluruhan data pengamatan, maka diperoleh
hasil sudut depresi Matahari -18°39’29.4’’. Dengan demikian, Hasil penelitian ini
cenderung menguatkan teori bahwa astronomical twilight yang bersesuaian dengan
fenomena fajar astronomi mulai terbit ketika Matahari berada pada kedudukan sudut
depresi 18°di bawah horizon.
13
DAFTAR PUSTAKA
Al-Alusi, Mahmu>d Ibn Abdillah, tt,Tafsir Ruhul Ma’ani:Fi Tafsir alQur’an al- ’Adzim
as-Sab’ul Mat}ani, tt: Da>r al-Fikr.
Al-Bukhairi, Mamduh F & Agus Hasan B,2010, Koreksi awal waktu shubuh, Malang
:Pustaka Qiblati
Djamaluddin, T., 2005, Menggagas Fiqih Astronomi, Telaah HisabRukyat dan
Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya, cet. I, Bandung: Kaki Langit
Haber, Jorg, Marcus Magnor, Hans-Peter Seidel., tt, Physically Based Simulation of
Twilight Phenomena, Germany: MPI Informatik, Saarbr ucken
Halim, Abdul., tt, Penyelidikan Ilmu Falak di IPT: Kajian Atmosfera, Malaysia: Unit
Penyelidikan Ilmu Falak dan Sains Atmosfera Universiti Sains Malaysia
Hidayat, Komaruddin & Tarmi, dkk.,2000, Ilmu Astronomi: Islam untuk Disiplin,
Jakarta: Dirjen Bimas Depag RI
Miftahi, Molvi Yaqub Ahmed., 2007, Fajar and Isha Times & Twilight, England:
Hizbul Ulama UK
Muslim, tt, S}ahi>h Muslim Juz 1, Beirut: Da>r al-fikr
Rachim, A. 1983, Ilmu Falak, Yogyakarta: Liberty
Rizvi, Sayyid Muhammad, 1991, Al-Fajr As-Sadiq: A New Perspective ,
tt: Dar-es-salaam, http://www.baabeilm.org/articles/scientific_fajr.pdf
Robinson, Leif j. 2002, Philip’s: Astronomy Encyclopedia, London: Philip’s
Rusyd, Muhammad Ibn, tt, Bida>yah al-Mujtahid jilid 1, tt: Azzam
Al-Sarakhsi, 1985, al-Mabsu>t}, Beirut: Da>r al-Fikr.
Zamakhsyari>, Ima>m Abi> al-Qa>sim Ja>rullah Mah}mud bin Muhammad., 1995, Tafsi>r al-
Kasyayaf (‘an H}aqa>iqi Gawamid}I at-Tanzi>l wa ‘Uyu>ni ‘al-Aqa>wil fi wuju>h atTa’wil) , Juz I, Beirut: Da>r alKutub al-‘Ilmiyyah.
14
Fly UP