...

Kompetensi Dasar Pustakawan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kompetensi Dasar Pustakawan
KOMPETENSI DASAR PUSTAKAWAN
DALAM MENULIS KARYA ILMIAH
Oleh : Drs. Hari Santoso, S.Sos.1
Abstrak. Kurang produktifnya pustakawan dalam melahirkan karya ilmiah disebabkan oleh
kurangnya motivasi dan keberanian dalam mengapresiasikan ide-ide dan gagasannya, takut
salah atau gagal/ditolak, dan terbelenggu oleh pekerjaan rutin. Dalam penulisan karya
ilmiah seorang pustakawan dituntut memiliki kompetensi yang mencakup aspek : (1) Ilmu
atau knowledge, (2) Keterampilan atau skill, (3) Perilaku atau attitude. Oleh karena itu, agar
pilar-pilar kompetensi tersebut dapat benar-benar kokoh dan bermakna, dibutuhkan fondasi
etis (ethical foundation) yang terdiri dari kecerdasan spiritual, moral dan etika serta integritas
profesional.
Seorang pustakawan dalam penyusunan karya limiah harus melalui langkah-langkah sebagai
berikut : (1) Memilih topik dan menentukan judul. (2) Menelaah bahan-bahan pustaka (3)
Menentukan kerangka tulisan. Pemilihan kata dalam penulisan karya ilmiah harus
memperhatikan 4 (empat) hal pokok, yaitu : (1) pemilihan kata hendaknya sesuai dengan
tingkat keresmian tulisan (formality), (2) penggunaan kata secara tepat, (3) menghindari katakata yang samar tau tidak jelas, dan (4) menghilangkan kata-kata yang berlebihan.
Komponen-komponen yang harus dihadapi oleh seseorang pustakawan ketika menulis karya
ilmiah, yaitu : (1) tujuan menulis, (2) isi yang hendak disampaikan, (3) pemahaman terhadap
bakal pembaca, (4) proses menulis, (5) tata bahasa, (6) sintaksis, (7) pemilihan kata, (8)
teknik penulisan, dan (9) pengorganisasian gagasan.
Untuk dapat menjadi penulis karya ilmiah seorang pustakawan dituntut memiliki sikap
seperti : (1) Bersedia untuk bekerja keras. (2) Mempunyai keberanian moral. (3) Memiliki
keyakinan tentang apa yang ditulisnya. (4) Dapat memandang sesuatu secara proporsional.
(5) Dapat berpikir secara logis. (6) Dapat mempertanggungjawabkan ide dan gagasannya. (7)
Berani melakukan otokritik. (8) Memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi dalam
masyarakat. Disamping sikap seperti tersebut di atas, seorang pustakawan yang ingin menjadi
penulis karya ilmiah yang baik harus memiliki kompetensi yang dipersyaratkan, yaitu : (1)
Kemampuan menemukan masalah yang akan ditulisnya, (2) Memiliki kepekaan terhadap
kondisi pembaca, (3) Kemampuan menyusun perencanaan penulisan, (4) Kemampuan
menggunakan bahasa Indonesia, (5) Kemampuan untuk memulai menulis, (6) Kemampuan
memeriksa karangan sendiri
Kata Kunci : Pustakawan, Karya ilmiah
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan modern menulis karya ilmiah bukan
saja monopoli dari dunia
akademis seperti dosen, peneliti, guru dan tenaga kependidikan namun dari kalangan profesi
yang lain juga dituntut untuk memiliki keterampilan tersebut. Bagi seorang pustakawan ,
keterampilan menulis karya ilmiah merupakan keharusan sebagai bagian dari rasa tanggung
jawab untuk ikut serta dalam pengembangan ilmu perpusdokinfo pada khususnya serta ilmu
pengetahuan dan teknologi pada umumnya. Disamping itu penulisan karya ilmiah juga
merupakan tuntutan profesi dimana
jabatan fungsional pustakawan merupakan jabatan
profesional dalam pengertian suatu jabatan dimana pejabat fungsional pustakawan untuk
dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dituntut memiliki keahlian dan kecakapan khusus,
1
Penulis adalah Pustakawan Madya
pada UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang
1
sehingga menjadi tugas dan kewajiban pejabat fungsional pustakawan untuk mengembangkan
jabatannya secara profesional.
Namun kenyataannya keterampilan pustakawan dalam menulis karya ilmiah belum
sebagaimana yang diharapkan. Terlalu banyak pustakawan yang tidak produktif dalam
melahirkan karya ilmiah atau banyak pustakawan yang menghasilkan karya ilmiah namun
kualitas karya ilmiah yang dihasilkan belum memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan. Hal
tersebut terjadi karena terbatasnya pengetahuan dan keterampilan pustakawan dalam
memahami teknik-teknik atau prosedur-prosedur penulisan karya ilmiah.
Hal tersebut dipertegas oleh Santoso (2007) bahwa dalam pelaksanaan tugas
kepustakawanan terdapat beberapa pejabat fungsional pustakawan tidak bisa mengusulkan
kenaikan jabatan karena tidak terpenuhinya sejumlah angka kredit yang dipersyaratkan untuk
kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi. Salah satu faktor tidak terpenuhinya angka kredit
tersebut disebabkan pejabat fungsional yang bersangkutan dalam pengumpulan angka kredit
lebih banyak mengandalkan unsur-unsur kegiatan di luar unsur pengembangan profesi yang
bobot kreditnya relatif kecil, sedangkan unsur pengembangan profesi yang memiliki bobot
kredit yang cukup tinggi kurang mendapat perhatian .
Unsur pengembangan profesi memiliki bobot nilai yang lebih tinggi dibandingkan unsurunsur yang lain dan oleh sebab itu pejabat fungsional pustakawan perlu memberikan perhatian
khusus terhadap unsur ini agar usaha memperoleh sejumlah angka kredit yang dipersyaratkan
untuk kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi dapat terpenuhi. Dalam Keputusan Menpan
No.132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya
terutama yang menyangkut unsur pengembangan profesi, terdapat enam komponen dan salah
satu unsur yang mendapat nilai tertinggi adalah komponen membuat karya ilmiah .
Kurang produktifnya pustakawan dalam melahirkan karya ilmiah juga disebabkan oleh
kurangnya motivasi dan keberanian dalam mengapresiasikan ide-ide dan gagasannya, takut
salah atau gagal/ditolak, dan terbelenggu oleh pekerjaan rutin. Oleh sebab itu seorang
pejabat fungsional pustakawan dituntut untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya dalam menulis karya ilmiah agar dapat menghasilkan karya ilmiah yang
berkualitas , sehingga ide dan gagasanya dalam pengembangan ilmu perpusdokinfo
bermanfaat, dihargai dan menjadi rujukan bagi pustakawan lain maupun pemerhati dalam
dunia perpusdokinfo. Disamping itu dengan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,
diharapkan pustakawan dapat mewujudkan akselerasi peningkatan kariernya sebagai seorang
pustakawan.
2
PEMBAHASAN
A. Karya ilmiah
Karya ilmiah menurut Sudjiman (1991) adalah suatu karya tulis yang penyusunannya
didasarkan pada kajian ilmiah. Penyusunan karya ilmiah didahului oleh penelitian pustaka
dan/atau penelitian lapangan. Sedangkan Brotowidjojo (1988) menegaskan bahwa karya
ilmiah adalah karangan yang ditulis berdasarkan fakta umum, yaitu fakta yang dapat
dibuktikan benar tidaknya. Fakta umum yang dimaksud menurut Mustiningsih (2001) adalah
fakta-fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan pengamatan empirik.
Dalam pandangan Ulfatin (1991) karya ilmiah sering juga disebut dengan istilah karangan
ilmiah atau tulisan ilmiah merupakan suatu karya manusia atas dasar pengetahuan, sikap dan
cara berpikir ilmiah yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan dengan cara ilmiah
pula. Perbedaan pendekatan ilmiah dengan yang bukan ilmiah menurut Boyd dan Westfall,
sebagaimana dikutip Marzuki (1989) terletak pada tiga hal yang menjadi karakteristik metode
ilmiah, yaitu : ( (1) Objektivitas peneliti. Pendapat atau pertimbangan-pertimbangan yang
diambil didasarkan atas fakta; tidak seperti pada cara memperoleh keyakinan yang lain
(method of tenacity, --authority, --intuition), (2) Ketelitian ukuran. Metode ilmiah berusaha
memperoleh ukuran yang seteliti-telitinya. Hal ini bagi ilmu pengetahuan alam sangat
diperlukan dan mungkin terlaksana. Untuk ilmu pengetahuan sosial ukuran yang
dipergunakan relatif kasar, sering dengan questionnaire atau angket. (3) Tabiat penyelidikan
yang terus menerus dan menuju kesempurnaan. Penyelidikan ilmiah mempertimbangkan
semua fakta secara tepat ke dalam masalah. Ia merupakan penelitian yang agresif untuk
mencari bukti dan membuat kesimpulan. Namun peneliti tidak pernah begitu yakin bahwa ia
telah menemukan pokok kebenaran. Sikap yang selalu menantang inilah membawa kemajuan
ilmu pengetahuan. Dari pengertian itu, dapat dikatakan bahwa karya ilmiah terbentuk dari tiga
komponen, yaitu pengetahuan ilmiah, sikap ilmiah dan berpikir ilmiah. Hasil dari proses
ketiga komponen itu selanjutnya dikomunikasikan secara tertulis kepada kelompok sasaran.
Oleh sebab itu Ulfatin (1991) mengemukakan bahwa
karya ilmiah berfungsi
: (1)
Sebagai alat untuk mengkomunikasikan secara tertulis ide-ide baru hasil kajian kepustakaan,
penyelidikan atau pemikiran dari seseorang, (2) Sebagai alat untuk melaporkan secara tertulis
tentang pengalaman ilmiah baik pengalaman teoritis maupun pengalaman praktis, (3) Sebagai
alat untuk mengkomunikasikan secara tertulis tentang pengembangan ilmu pengetahauan dan
tekonologi, (4) Sebagai alat untuk mendesiminasikan secara tertulis suatu inovasi atau
penemuan-penemuan baru , (5) Sebagai alat dokumentasi ilmiah dalam bentuk tulis yang
3
dapat dijadikan sumber informasi. Sedangkan bentuk karya ilmiah terdiri dari : (1) Karya
ilmiah dengan suatu penelitian. Karya ilmiah ini lebih merupakan suatu laporan dari hasil
penelitian yang diorganisir secara lengkap mulai dari permasalahan yang dikemukakan
sampai dengan hasil analisis data yang menjawab permasalahan tersebut. Karya ilmiah dalam
bentuk ini biasa disebut dengan skripsi untuk mahasiswa S1, tesis untuk mahasiswa S2 dan
disertasi untuk mahasiswa S3,
(2) Karya ilmiah tidak dengan penelitian. Karya ilmiah ini
lebih merupakan suatu uraian tentang suatu pembahasan dari topik tertentu yang terbatas dari
pemikiran penulis dan terbatas dari kajian pustaka saja tanpa disertai hasil analisis data dari
suatu penelitian. Karya ilmiah bentuk ini biasanya disebut makalah atau paper.
Adapun karakteristik atau syarat umum dari karya tulis ilmiah menurut Mustiningsih
(2001) adalah : (1) Isi, dimana karya tulis ilmiah harus menyajikan fakta umum yang dapat
dibuktikan secara empirik dan dapat digunakan menarik kesimpulan, (2) Sistematika, dimana
karya ilmiah harus menggunakan teknik sistematika penulisan tertentu, (3) Bahasa, dimana
bahasa dan gaya penulisan karya ilmiah harus baku dan logis, bukan bahasa sehari-hari yang
sifatnya tidak jelas dan emosional., (4) Publikasi, dimana karya ilmiah harus dipublikasikan
baik dalam bentuk cetak maupun non cetak, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga
dapat diketahui dan ditindaklanjuti dalam berbagai bentuk oleh masyarakat.
Karakteristik karya ilmiah secara umum juga dikemukakan oleh Sonhadji (1999) yang
menyatakan ada empat persyaratan suatu karya tulis yang termasuk ke dalam karya ilmiah,
yaitu isi, sistematika, bahasa dan publikasi. Pertama, karya ilmiah harus menyajikan fakta
umum yang dapat dibuktikan secara empirik dan dapat digunakan untuk membangun suatu
kesimpulan. Kedua, karya ilmiah harus memiliki sistematika penulisan tertentu. Ketiga
bahasa dan gaya penulisannya harus baku dan logis, bukan bahasa sehari-hari yang sifatnya
tidak jelas dan emosional. Keempat, karya ilmiah harus dipublikasikan atau disebarluaskan
melalui berbagai bentuk baik cetak maupun non cetak, baik langsung maupun tidak langsung,
sehingga dapat diketahui, ditindaklanjuti dalam berbagai bentuk oleh masyarakat.
Sedang ciri-ciri karya ilmiah menurut Kartini (1999) sebagai berikut : (1) Logis, artinya
bahwa segala informasi yang dipaparkan memiliki argumentasi yang dapat diterima oleh akal
sehat, (2) Sistematis, artinya segala yang dikemukakan disusun berdasarkan urutan yang
berkesinambungan dan berjenjang, (3) Obyektif, artinya segala keterangan yang dikemukakan
didasarkan atas fakta yang ada dan benar-benar terjadi dan bukan hasil rekaan penulisnya
(fiktif), (4) Tuntas dan menyeluruh, artinya hal-hal yang dikemukakan merupakan hasil
telaah masalah dan dibahas tuntas, sehingga uraian yang ada memberikan informasi tentang
permasalahan secara lengkap dan menyeluruh, (5) Seksama, artinya isi tulisan dihindarkan
4
dari berbagai kesalahan meskipun kecil, (6) Jelas dan lugas, artinya segala keterangan yang
dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih dengan menggunakan bahasa yang
sederhana cenderung baku dan tidak berbelit-belit. Penggunaan bahasa yang berbelit-belit
dapat menimbulkan salah persepsi bagi pembaca, sehingga ada kemungkinan maksud yang
sebenarnya tidak dapat ditangkap secara jelas., (7) Valid, artinya segala keterangan didasarkan
pada data yang benar, sehingga kebenaran tulisan dapat teruji, (8) Terbuka, artinya sesuatu
yang dikemukakan dapat berubah seandainya muncul pendapat baru yang diakui dan telah
teruji kebenarannya, (9) Berlaku umum, artinya kesimpulan-kesimpulan yang dikemukakan
dapat digeneralisasi atau berlaku bagi semua anggota populasi, (10) Penyajiannya
memperhatikan sopan santun bahasa dan tata tulis yang sudah baku.
B. Kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang pustakawan dalam menulis karya
ilmiah
Watson Wyatt sebagaimana dikutip Ruky (2003) mendefinisikan kompetensi sebagai
kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku yang diamati dan
diterapkan secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi
pribadi karyawan terhadap organisasinya. Dengan demikian kompetensi merupakan
pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang telah menjadi cara berpikir dan bertindak
seseorang dalam menghadapi permasalahan.
Oleh sebab itu
individu yang memiliki
kompetensi dapat diukur dari kemampuannya untuk menjadi pelaku kinerja unggulan atau
pelaku kinerja efektif.
Sejalan dengan hal tersebut Abeng (2007) mengemukakan bahwa pilar kompetensi
mencakup aspek ilmu atau knowledge, keterampilan atau skill, dan perilaku atau attitude.
Kompetensi tidak mempunyai arti tanpa pijakan etis yang kuat. Oleh karena itu, agar pilarpilar kompetensi tersebut dapat benar-benar kokoh dan bermakna, dibutuhkan fondasi etis
(ethical foundation) yang terdiri dari kecerdasan spiritual, moral dan etika serta integritas
profesional. Ketiga aspek ini sangatlah
penting dan menjadi prasyarat yang mutlak
dibutuhkan untuk membentuk kepribadian dan karakter manusia untuk menjadi seorang
profesional.
Bagi seorang pustakawan ketiga aspek tersebut merupakan modal dasar yang harus
dimiliki untuk bisa menempatkan dirinya sebagai seorang pustakawan profesional. Secara
rinci kompetensi dasar yang harus dimiliki pustakawan dalam menulis karya ilmiah meliputi
aspek-aspek :
5
1. Ilmu atau knowledge
Mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu perpusdokinfo dan
disiplin ilmu lain wajib hukumnya bagi seorang pustakawan. Sebab dengan kekayaan
khazanah ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang pustakawan, ia akan semakin memiliki
kredibilitas dan mendapat penghargaan lebih tinggi dari lainnya. Disamping itu
pengembangan ilmu pengetahuan bagi seorang pustakawan dapat menjawab akan tuntutan
tugas kepustakawanannya yang semakin meningkat dan kompleks.
Oleh sebab itu bagi
seorang pustakawan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat
menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional. Pengembangan ilmu pengetahuan bagi
pustakawan dapat dilakukan melalui pendidikan formal, seminar, diklat, membaca
buku/jurnal, mengakses berbagai informasi dari internet
serta mengikuti perkembangan-
perkembangan yang terjadi dalam dunia perpusdokinfo. Pustakawan yang memiliki kekayaan
ilmu pengetahuan tentu saja akan penuh dengan ide , gagasan dan inovasi serta memiliki
mentalitas kreatif dan mentalitas pembelajar.
Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang perpusdokinfo
diharapkan seorang pustakawan memiliki keunggulan kompetitif sebagai sarana untuk
mewujudkan profesionalismenya. Profesionalisme itu sesungguhnya lebih banyak berkaitan
dengan kualitas kinerja yang mampu memberikan kepuasan kepada pengguna. Dengan
penguasaan ilmu pengetahuan di bidang perpusdokinfo diharapkan seorang pustakawan dapat
memberikan kepuasan kepada masyarakat pengguna yang dilayaninya dengan menjadikan
dirinya sebagai seorang ilmuwan yang memiliki sifat-sifat kritis, terbuka menerima kebenaran
dari manapun datangnya, serta senantiasa menggunakan daya nalar.
2. Keterampilan atau skill
Dalam menulis karya ilmiah, diperlukan keterampilan khusus yang dapat diperoleh
melalui aktivitas menulis secara rutin dan pelatihan. Melalui kegiatan menulis karya ilmiah,
seorang pustakawan akan mendapatkan keterampilan dalam berbagai aspek yang terkait
dengan penulisan karya ilmiah. Demikian juga pada saat mengikuti pelatihan penulisan karya
ilmiah akan didapat pengetahuan baru untuk bisa diterapkan pustakawan dalam penulisan
karya ilmiah. Oleh sebab itu sesungguhnya penulisan karya ilmiah merupakan proses
pembelajaran untuk bisa menghasilkan karya ilmiah yang lebih berkualitas. Keterampilan di
sini menyangkut keterampilan pustakawan dalam mengikuti prosedur dan penggunaan bahasa
dalam penulisan karya ilmiah
6
a. Prosedur penulisan karya ilmiah
Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahawa karya ilmiah merupakan suatu karya
manusia atas dasar pengetahuan, sikap dan cara berpikir ilmiah yang selanjutnya dituangkan
dalam bentuk tulisan dengan cara ilmiah pula. Oleh sebab itu dalam penulisan karya ilmiah
harus mengikuti prosedur penulisan karya ilmiah yang berlaku. Mustiningsih (2001)
mengemukan bahwa penyusunan karya limiah harus melalui langkah-langkah sebagai berikut
: (1) Memilih topik dan menentukan judul. Dengan merujuk pada pandangan Ulfatin (1991),
maka dalam pemilihan topik hendaknya berpedoman pada pendekatan dan kriteria pemilihan
topik. Pendekatan pemilihan topik merupakan strategi atau cara memilih topik karya ilmiah.
Pada umumnya ada tiga pendekatan yang dapat dipilih pustakawan dalam menulis karya
ilmiah, yaitu : (a) Pendekatan pemilihan topik berorientasi pada masalah (a problems
oriented). Pendekatan ini biasanya berdasarkan pertimbangan pada kecermatan mengajukan
pertanyaan terhadap masalah-masalah yang diminati yang secara spesifik dikonfirmasikan
dengan telaah kepustakaan sesuai dengan bidang yang dikaji.(b) Pendekatan pemilihan topik
berorientasi pada proses (a process oriented). Pendekatan ini biasanya berdasarkan
pertimbangan pada telah tersedianya instrumen pengukuran, adanya perlakuan yang menarik
dan adanya kemampuan strategi analisis untuk memilih masalah dimana suatu proses dapat
diaplikasikan, (c) Pendekatan pemilihan topik berorientasi pada ekspediensi (an expediency).
Pendekatan ini biasanya berdasarkan pertimbangan pada keberadaan kondisi given (kondisi
yang ada) yang meliputi keberadaan data dan adviser (pembimbing), berkaitan dengan bidang
yang ditekuni dan minat pustakawan , kepentingan-kepentingan lain bagi pustakawan.
Sedangkan kriteria pemilihan topik merupakan syarat atau standar minimal yang seharusnya
dipenuhi oleh suatu topik yang dipilih. Topik yang dipilih pustakawan seharusnya memenuhi
kriteria sebagai berikut : (a) Topik tersebut layak untuk dibahas artinya topik tersebut cukup
sempit atau tidak terlalu luas, topik cukup berarti dalam memberikan kontribusi keilmuan
baik secara teoritis maupun praktis, topik tersebut cukup unik dengan memperhatikan tingkat
keasliannya (originality), (b) Topik seyogyanya sesuai dengan kompetensi pustakawan. Topik
yang sesuai dengan kompetensi pustakawan meliputi : (a) sesuai minat pustakawan, (b)
sesuai dengan latar belakang keilmuan pustakawan, (c) sesuai dengan kemampuan yang ada
pustakawan. (2) Menelaah bahan-bahan pustaka. Kegiatan telaah pustaka merupakan
pencarian bahan-bahan pustaka atau sumber yang akan dijadikan sebagai sumber rujukan
dalam membahas dan menyusun karya ilmiah. Telaah pustaka dapat dilakukan sebelum dan
setelah menentukan topik bahasan. Sumber rujukan dapat digolongkan menjadi sumber
primer dan sekunder. Sumber primer adalah deskripsi langsung dari kejadian atau orang yang
7
benar-benar mengamati suatu peristiwa atau karangan asli yang ditulis secara lengkap oleh
satu atau beberapa orang. Yang termasuk sumber Primer adalah monografi, artikel majalah,
hasil penelitian, laporan langsung atau reportase, skripsi, tesis dan desertasi. Sedangkan
sumber sekunder yaitu setiap publikasi yang ditulis pengarang yang bukan dari pengamatan
langsung atau merupakan segala jenis ringkasan sumber primer. Yang termasuk dalam sumber
sekunder adalah biografi, bibliografi, almanak, direktori , buku pegangan , indeks , kamus
dan ensiklopedia. (3) Menentukan kerangka tulisan. Secara umum kerangka tulisan karya
ilmiah terdiri atas 3 bagian, yaitu : (a) Bagian awal. Bagian awal meliputi halaman judul, kata
pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran dan daftar tanda-tanda lain
yang diperlukan,
(b) Bagian Inti. Bagian inti terdiri dari pendahuluan, pembahasan dan
penutup. Bagian pendahuluan mengemukakan tentang isi pokok/gagasan yang akan dibahas,
tujuan dan ruang lingkup pembahasan. Hal ini meliputi 3 bagian utama yaitu identifikasi dan
definisi tentang pokok bahasan, perkembanagan yang berkaitan dengan pokok bahasan dan
rumusan masalah pokok yang akan dipecahkan/dijawab. Bagian pembahasan merupakan
pengembangan secara logis komponen-komponen gagasan sesuai dengan topik yang dibahas.
Penulisan bagian ini mengikuti kerangka acuan yang ditetapkan., dimulai dari topik utama
kemudian dikembangkan menjadi pembahasan yang lebih luas dan mendalam (c) Bagian
akhir. Bagian akhir dari karya ilmiah terdiri dari daftar rujukan yang memuat semua sumber
yang dijadikan rujukan dalam penulisan karya dengan mengikuti konvensi atau pedoman
tertentu dan lampiran-lampiran yang merupakan lembar tambahan yang berhubungan dengan
teks dan penting untuk dipelajari tetapi tidak diletakkan di teks utama.
b. Bahasa karya Ilmiah
Suwandi dan Nurkamto (1997) mengungkapkan bahwa dalam penulisan karya ilmiah
banyak ditemukan kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kesalahan itu meliputi
bidang ejaan, diksi, kalimat dan pengorganisasian paragraph. Kesalahan-kesalahan itu
terutama disebabkan ketidaktahuan penulis akan pembatasan kaidah (ignorance of rule
restrictions) dan penerapan kaidah yang tidak sempurna (incomplete applications of rules).
Pada hakekatnya menulis karya ilmiah merupakan suatu upaya mengkomunikasikan ide,
gagasan atau pikiran penulis dan temuan penulis . Sebagai suatu proses , komunikasi
dikatakan efektif bila pesan-pesan dalam bentuk lambang-lambang, bahasa dan simbol-simbol
dirancang sedemikian rupa sehingga menarik perhatian dan dimengerti sama oleh penulis
maupun pembaca. Oleh sebab itu pemilihan kata dalam penulisan karya ilmiah menurut
Calderonello dan Edwards (1986) sebagaimana dikutip Suwandi (2004)
8
harus
memperhatikan 4 (empat) hal pokok, yaitu : (1) pemilihan kata hendaknya sesuai dengan
tingkat keresmian tulisan (formality), (2) penggunaan kata secara tepat, (3) menghindari katakata yang samar tau tidak jelas, dan (4) menghilangkan kata-kata yang berlebihan.
Menulis merupakan proses berpikir dalam kebenaran dan hal tersebut sejalan dengan
pendapat Raimes (1983) sebagaimana dikutip Suwandi (2004) bahwa ada sejumlah komponen
yang harus dihadapi oleh seseorang termasuk pustakawan ketika menulis karya ilmiah, yaitu
: (1) tujuan menulis, (2) isi yang hendak disampaikan, (3) pemahaman terhadap bakal
pembaca, (4) proses menulis, (5) tata bahasa, (6) sintaksis, (7) pemilihan kata, (8) teknik
penulisan, dan (9) pengorganisasian gagasan.
Berdasarkan kajian tersebut di atas , Suwandi dan Nurkamto (1997) menyatakan bahwa
keterampilan menulis karya ilmiah adalah kecakapan menyusun suatu tulisan berdasarkan
fakta (umum) yang dapat dipertanggungjawabkan, menggunakan metode penulisan ilmiah,
menggunakan Bahasa Indonesia baku, dan bertaat asas pada ejaan yang disempurnakan serta
kaidah penulisan ilmiah. Dalam penulisan karya ilmiah dibutuhkan kemampuan penalaran
yang merupakan penarikan simpulan logis dari pengamatan, fakta-fakta , hipotesis atau
premis. Suriasumantri (1987)
menyatakan bahwa sebagai kegiatan berpikir, penalaran
bersifat logis dan analitis. Berpikir logis adalah kegiatan berpikir menurut logika tertentu.
Logika adalah ilmu bernalar secara tepat .
Oleh sebab itu pustakawan dalam menulis karya ilmiah harus memahami sifat-sifat ragam
bahasa ilmiah yang mengacu kepada pembakuan dan berlandaskan pada kerangka acuannya
yang menurut Ramlan sebagaimana dikutip Arifin (1991) terdiri dari : (1) Ragam bahasa
ilmiah termasuk
ragam baku, karena itu ragam bahasa ilmiah mengikuti kaidah-kaidah
bahasa baku yaitu dalam ragam tulis menggunakan ejaan baku yakni EYD dan dalam ragam
lisan menggunakan ucapan baku, kata-kata, struktur frase dan kalimat yang sudah dibakukan,
(2) Dalam ragam ilmiah banyak digunakan istilah yang terdiri dari kata-kata yang
mengandung arti denotative dan bukan konotatif, (3) Ragam bahasa ilmiah lebih
berkomunikasi dengan pikiran dari pada dengan perasaan, oleh karena itu ragam bahasa
ilmiah bersifat tenang, jelas , tidak berlebihan dan hemat serta tidak emosional, (4) Hubungan
gramatika antara unsur-unsurnya dalam kalimat dan alinea serta hubungan antar alinea antara
yang satu dengan yang lainnya bersifat padu, oleh karena itu untuk menyatakan hubungan
digunakan alat-alat penghubung seperti kata-kata penunjuk, kata penghubung dan lain-lain,
(5) Hubungan semantik antar unsur-unsurnya bersifat logis, sehingga penggunaan kalimat
ganda dihindari, (6) Lebih mengutamakan penggunaan kalimat pasif karena dalam kalimat
pasif peristiwa lebih dikemukakan daripada pelaku perbuatan , (7) Konsisten dalam segala
9
hal, misalnya dalam penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda dan juga dalam penggunaan
kata ganti diri.
3. Perilaku atau attitude
Yang dimaksud dengan perilaku atau attitude di sini berkaitan dengan sikap dan etika
pustakawan dalam menulis karya ilmiah. Syafi’ie (1988) mengemukakan bahwa menulis
adalah keterampilan yang dapat dipelajari . Orang yang memang mempunyai bakat menulis
dan mendapat kesempatan yang banyak belajar menulis, tentu akan menjadi penulis yang
baik. Orang yang tidak mempunyai bakat menulis tetapi
mau belajar menulis dengan
sungguh-sungguh serta mendapat kesempatan untuk belajar dan berlatih akan dapat juga
menjadi seorang penulis. Berbakat menulis saja tanpa mau berusaha belajar tentu tidak
menjamin seseorang akan menjadi seorang penulis yang baik.
Dengan merujuk pada pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap pustakawan
baik yang berbakat maupun tidak berbakat mempunyai kesempatan untuk menjadi penulis
karya ilmiah, asalkan memiliki kesungguhan dalam belajar menulis yang merupakan kunci
keberhasilan menjadi seorang penulis karya ilmiah yang baik.
Dengan mengadopsi pandangan Syafi’ie (1988), untuk dapat menjadi penulis karya ilmiah
seorang pustakawan dituntut memiliki sikap seperti : (1) Bersedia untuk bekerja keras.
Penulisan karya ilmiah menuntut kerja keras, baik fisik maupun psikologis, dimana secara
fisik pustakawan harus mampu duduk di belakang meja tulis atau komputer sampai berjamjam dalam setiap hari dan juga harus mencari di berbagai tempat untuk mendapatkan sumber
referensi. Secara psikologis penulisan karya ilmiah memerlukan kerja otak, kesabaran
berpikir, kehalusan perasaan dan kemauan yang keras. (2) Mempunyai keberanian moral.
Penulis karya ilmiah yang baik harus memiliki kejujuran , mempunyai rasa tanggung jawab
yang tinggi terhadap kebenaran dan dan berani mengungkapkan fakta atau data secara
obyektif. (3) Memiliki keyakinan tentang apa yang ditulisnya. Seorang pustakawan sebagai
penulis karya ilmiah harus memiliki keyakinan tentang apa yang ditulisnya. Berdasarkan
rasional yang baik yang didukung oleh evidensi yang cukup pustakawan yakin bahwa yang
disampaikan itu adalah benar. Pustakawan juga harus yakin bahwa karya ilmiah yang
ditulisnya itu perlu dan bermanfaat dan untuk memperkuat keyakinan diri sendiri, seorang
pustakawan harus mengetahui serta memahami benar masalah yang ditulisnya. Untuk itu
seorang pustakakan dalam menulis karya ilmiah harus didukung dengan ketersediaan sumber
rujukan yang cukup, (4) Dapat memandang sesuatu secara proporsional. Dalam penulisan
karya ilmiah, seorang pustakawan dituntut untuk dapat memandang suatu masalah secara
10
proporsional dengan tidak membesar-besarkan suatu masalah yang kecil dan juga tidak
mengecilkan masalah yang besar. Dengan sikap proporsional ini, seorang pustakawan dapat
mengemukakan suatu masalah sesuai dengan pentingnya masalah itu dalam kaitannya dengan
masalah-masalah lain yang dibahasnya. Tulisan yang disusun dengan memperhatikan proporsi
setiap masalah dapat memudahkan pembaca untuk memahaminya (5) Dapat berpikir secara
logis. Dalam penulisan karya ilmiah , seorang pustakawan dituntut untuk dapat
mengembangkan cara-cara berpikir yang rasional melalui penyajian tulisan dengan
pendekatan penalaran secara induktif dan dapat pula secara deduktif (6) Dapat
mempertanggungjawabkan ide dan gagasannya. Seorang pustakawan harus memiliki
keberanian untuk mempertanggungjawabkan ide dan gagasan yang dituangkan dalam karya
ilmiah yang ditulisnya kepada orang lain. Adalah tidak etis dan tidak bermoral apabila
seorang pustakawan melemparkan tanggung jawab mengenai apa yang ditulisnya kepada
orang lain, sementara itu ia mau menerima keuntungan dari tulisannya. (7) Berani melakukan
otokritik. Seoarang pustakawan dalam penulisan karya ilmiah dituntut untuk dapat
mengembangkan sikap kritis terhadap tulisan-tulisannya. Dengan sikap ini , pustakawan
membaca kembali tulisannya untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam
tulisannya dan kemudian memperbaikinya. Dengan kata lain pustakawan harus mengoreksi
dan merevisi naskah tulisan yang disusunnya sampai ia memperoleh naskah yang baik. (8)
Memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat. Seorang pustakawan
dituntut memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat dan lingkungan
tempat tinggalnya yang akan mempertajam wawasannya serta memperkaya pengalaman
batinnya. Hal ini akan sangat berguna dalam meningkatkan kemampuannya dalam menulis
karya ilmiah. Seorang pustakawan yang ingin menjadi penulis karya ilmiah yang baik harus
memiliki kompetensi yang dipersyaratkan, yaitu : (1) Kemampuan menemukan masalah yang
akan ditulisnya, (2) Memiliki kepekaan terhadap kondisi pembaca, (3) Kemampuan
menyusun perencanaan penulisan, (4) Kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, (5)
Kemampuan untuk memulai menulis, (6) Kemampuan memeriksa karangan sendiri
Disamping itu seorang pustakawan dalam menulis karya ilmiah harus memperhatikan
kode etik yang tidak lain merupakan seperangkat norma yang berkaitan dengan pengutipan
dan perujukan, perijinan terhadap bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data atau
informan. Pustakawan harus secara jujur menyebutkan rujukan terhadap bahan atau pikiran
yang diambil dari sumber lain. Pemakaian bahan atau pikiran dari suatu sumber atau orang
lain yang tidak disertai dengan rujukan dapat diidentikan dengan pencurian. Penulisan karya
ilmiah harus menghindarkan diri dari tindak kecurangan yang lazim disebut plagiat. Plagiat
11
merupakan tindak kecurangan yang berupa pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain
yang diaku sebagai hasil tulisan atau hasil pemikirannya sendiri. Dalam penulisan karya
ilmiah, rujuk merujuk dan kutip mengutip merupakan kegiatan yang tidak dapat dihindari.
Kegiatan ini amat dianjurkan, karena perujukan dan pengutipan akan membantu
perkembangan ilmu. (Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang, 2000)
Berkaitan dengan hal tersebut Mustiningsih (2001) mengemukakan bahwa dalam
menggunakan bahan dari suatu sumber (misalnya instrumen, bagan, gambar, dan tabel),
penulis wajib meminta ijin kepada pemilik bahan tersebut secara tertulis. Jika pemilik bahan
tidak dapat dijangkau, penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan apakah
bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, dimodifikasi atau dikembangkan.
Dengan demikian dalam penulisan karya ilmiah, pustakawan boleh melakukan segala cara
untuk menghasilkan karya ilmiah yang baik, namun tidak boleh menghalalkan segala cara
dengan mengabaikan etika penulisan karya ilmiah (plagiasi) yang justru akan sangat
merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh sebab itu dalam penulisan karya ilmiah, seorang
pustakawan harus merujuk pada kode etik penulisan karya ilmiah agar apa yang ditulisnya
bisa dipertanggungjawabkan secara moral, hukum dan akademis
PENUTUP
Dalam menjalankan tugas kepustakawannya, seorang pustakawan dituntut untuk
memiliki kompetensi dalam bidangnya yang merupakan perpaduan antara aspek ilmu atau
knowledge, keterampilan atau skill, dan perilaku atau attitude agar bisa menampilkan kinerja
yang profesional. Disamping itu seorang pustakawan dituntut juga untuk dapat menuangkan
ide dan gagasan dalam bidang profesinya melalui produktivitasnya dalam penulisan karya
ilmiah dengan terus menerus mengembangkan kompetensi dasar yang ada pada dirinya
sehingga terwujud kecerdasan spiritual, moral dan etika serta integritas profesional.
Produktivitas seorang pustakawan dalam penulisan karya ilmiah akan menempatkan
pustakawan tersebut bukan saja sebagai praktisi melainkan juga sebagai seorang ilmuwan
yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu perpusdokinfo
yang sekaligus menempatkan dirinya sebagai seorang pustakawan yang memiliki kredibilitas.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abeng, Tanri.2007.
Profesi Manajemen : Kristalisasi Teori dan Praktik Pembelajaran
Manajemen Korporasi, Lembaga Nirlaba, dan Pemerintahan. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
Arifin, Zaenal. Ragam Bahasa Ilmiah dalam Penulisan Bahasa Indonesia Baku. Gema
Rinjani : Media Lintas Informasi Ilmiah. No.8 Tahun IV September 1991.
Brotowidjoyo, Mukayat D. 1988. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta : Akademika Presindo.
Kartini, Hati. 1999. Tata Tulis Laporan. Malang : Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang
Marzuki. 1989 . Metodologi Riset. Yogyakarta : Hanindita
Mustiningsih. 2001. Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Malang : Fakultas Ilmu Pendidikan
Universtas Negeri Malang
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2000. Malang : Universitas Negeri Malang
Ruky, H. Achamd S.2003. Sumber Daya Manusia Berkualitas Mengubah Visi Menjadi
Realitas. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, Hari. 2007. Peningkatan Keterampilan Menulis Karya Ilmiah bagi Pustakawan.
Makalah tidak dipublikasikan dan didokumentasikan di UPT Perpustakan Universitas
Negeri Malang
Sonhadji, Ahmad. 1999. Diktat Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Malang : Universitas Negeri
Malang
Sudjiman, Panuti dan Sugono, Dendy. 1991. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta :
Kelompok 24 Pengajaran Bahasa Indonesia.
Suwandi, Sarwiji. Keterampilan Mahasiswa dalam Menulis Karya Ilmiah : Survei di
Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Tengah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 048
Tahun ke-10 Mei 2004
Suwandi, Sarwiji dan Nurkamto, Joko. 1997. Analisis Kesalahan Pemakaian Bahas Indonesia
dalam Skripsi Mahasiswa : Sebuah Studi di Program/Jurusan Non-Bahasa Indonesia
Universitas Se-Kotamadya Surakarta. Surakarta : Laporan Penelitian DPPM Ditjen
Dikti Depdikbud.
Suriasumantri, Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar
Harapan.
Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta : Direktorat Jenederal Pendidikan
Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
Ulfatin, Nurul. 1991. Penulisan Karya Ilmiah. Malang : Fakultas Ilmu Pendidikan Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang
13
14
Fly UP