...

PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA BERDASARKAN

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA BERDASARKAN
MANUSKRIP PUBLIKASI
PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA
BERDASARKAN MASS FEVER SURVEY MENGGUNAKAN
RAPID DIAGNOSTIC TEST DI DESA LUAN KECAMATAN
MUARA SAMU KABUPATEN PASER
ASIH NOR UTAMI
1010015020
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
MARET 2014
MANUSKRIP PUBLIKASI
PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA
BERDASARKAN MASS FEVER SURVEY MENGGUNAKAN
RAPID DIAGNOSTIC TEST DI DESA LUAN KECAMATAN
MUARA SAMU KABUPATEN PASER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
ASIH NOR UTAMI
1010015020
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
MARET 2014
i
LEMBAR PERSETUJUAN
PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA BERDASARKAN MASS
FEVER SURVEY MENGGUNAKAN RAPID DIAGNOSTIC TEST DI DESA
LUAN KECAMATAN MUARA SAMU KABUPATEN PASER
MANUSKRIP PUBLIKASI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S. Ked)
Oleh:
ASIH NOR UTAMI
1010015020
Komisi Pembimbing
Dosen Pembimbing I,
Dosen Pembimbing II,
dr. Loly R.D. Siagian, M.Kes. Sp.PK
drg. Masyhudi, M.Si
NIP. 19700621 200212 2 001
NIP. 19710623 200501 1 002
Universitas Mulawarman
Fakultas Kedokteran
Dekan,
dr. H. Emil Bachtiar Moerad, Sp. P
NIP. 19530812 198111 1 001
ii
LEMBAR PENGESAHAN
PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA BERDASARKAN MASS
FEVER SURVEY MENGGUNAKAN RAPID DIAGNOSTIC TEST DI DESA
LUAN KECAMATAN MUARA SAMU KABUPATEN PASER
Oleh :
ASIH NOR UTAMI
1010015020
Telah dipertahankan di depan Penguji
Pada tanggal 13 Maret 2014
dinyatakan telah memenuhi syarat
Komisi Penguji
Penguji I
Penguji II
drg. Very Asfirizal, M.Kes
dr. Tumpak M. Sinaga, MPH
NIP. 19671222 199903 1 005
NIP. 550 005 640000
Universitas Mulawarman
Fakultas Kedokteran
Dekan,
dr. Emil Bachtiar Moerad, Sp.P
NIP. 19530812 198111 1 001
iii
PENEMUAN KASUS PENDERITA MALARIA BERDASARKAN MASS FEVER
SURVEY MENGGUNAKAN RAPID DIAGNOSTIC TEST DI DESA LUAN
KECAMATAN MUARA SAMU KABUPATEN PASER
Asih Nor Utami, Loly R.D. Siagian, drg. Masyhudi, M.Si
*Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
**Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
***Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Email korespondensi: [email protected]
ABSTRACT
Until today, malaria is still one of the health problem in developing countries especially
those have tropical climate, including Indonesia. Kecamatan Muara Samu in
Kabupaten Paser is one of the endemic area of malaria, with a total 4.211 people with
risk, with the total of Annual Paracite Index (API) counts in 2010-2012 is 18,91‰,
24,28‰, and 15,64‰. The aim of this research is to know the amount of patient who
are diagnosed with malaria by using Rapid Diagnostic Test (RDT) based on Mass
Fever Survey (MFS) found cases in Desa Luan, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten
Paser. This research is using MFS methods in the villagers of Desa Luan which are
villagers with fever or had experienced fever in the past week and than the sampels
blood are tested with Rapid Diagnostic Test (RDT). There were 45 samples in this
research, the biggest age group was between 15-53 years old (93.33%) and the
dominating samples were men (53,33%). From 45 villagers in Desa Luan that showed
fever as symptoms, there has been found 2 positive malaria in samples (4.44%) with the
type of Plasmodium is non-falciparum. There is an increase in the number of cases than
in August 2012 and July 2013.
Key Word : Malaria, case detection Malaria, Mass Fever Survey, Rapid Diagnostic
Test, Paser
ABSTRAK
Malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara
berkembang terutama negara yang beriklim tropis, termasuk Indonesia. Kecamatan
Muara Samu di Kabupaten Paser merupakan salah satu daerah endemis malaria, dengan
jumlah penduduk berisiko sebanyak 4.221 jiwa, dengan perhitungan Annual Paracite
Index (API) pada tahun 2010-2012 yakni sebesar 18,91‰, 24,28‰, dan 15,64‰.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah kasus penderita malaria melalui kegiatan
Mass Fever Survey (MFS) menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) di Desa Luan,
Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser. Penelitian ini menggunakan metode MFS
pada penduduk Desa Luan yang mengalami keluhan demam 1 minggu terakhir
kemudian diperiksa sediaan darahnya menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT).
Sampel pada penelitian ini berjumlah 45 orang, persentase terbanyak terdapat pada
kelompok usia 15-53 tahun (93,33%) dan berjenis kelamin laki-laki (53,33%). Dari 45
sampel didapatkan 2 orang positif malaria (4,44%) dengan jenis Plasmodium berupa
non-falciparum. Terjadi peningkatan jumlah kasus dibandingkan pada bulan Agustus
2012 dan Juli 2013.
Kata kunci : Malaria, Penemuan Kasus Malaria, Mass Fever Survey, Rapid Diagnostic
Test, Paser
PENDAHULUAN
Malaria merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian dan menjadi
salah satu masalah kesehatan masyarakat saat ini (Depkes RI, 2008). Setiap tahunnya
655.000 orang meninggal di dunia karena malaria, kasus terbanyak terdapat di Afrika
596.000 orang, sementara di Asia sebanyak 38.000 kematian (Depkes RI, 2012). Negara
yang memiliki kasus malaria tertinggi di Asia Tenggara adalah India (diperkirakan 24
juta kasus per tahun) diikuti Indonesia dan Myanmar (WHO, 2012).
Angka kesakitan malaria di Indonesia masih cukup tinggi terutama di kawasan
Timur Indonesia (Depkes RI, 2008). Pada tahun 2007 dari 495 kabupaten di Indonesia
terdapat 396 kabupaten yang merupakan endemis malaria, diperkirakan 45% penduduk
tinggal di daerah berisiko tertular malaria (Kepmenkes, 2009). Data yang diambil dari
bank data Depkes RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Paser menunjukkan bahwa
penderita malaria di Kalimantan Timur pada tahun 2008 masih mencapai 18.141 jiwa
dan 5.103 jiwa diantaranya berada di Kabupaten Paser. Salah satu kecamatan di daerah
Kabupaten Paser yang merupakan daerah endemis malaria yaitu Kecamatan Muara
Samu dengan jumlah penduduk berisiko sebanyak 4.221 jiwa, dengan perhitungan
Annual Paracite Index (API) pada tahun 2010-2012 berturut-turut yakni sebesar
18,91‰, 24,28‰, dan 15,64‰. Sejak 2010 hingga 2012, Desa Luan di Kecamatan
Muara Samu memiliki angka kejadian malaria yang relatif tinggi setiap tahunnya.
Muara samu masih merupakan daerah merah untuk malaria sampai tahun 2012, hal ini
menunjukkan cukup tingginya transmisi malaria di daerah tersebut.
Salah satu target pembangunan Millenium Developmant Goals (MDGs) yang
dicanangkan oleh World Health Organization (WHO) adalah menghentikan penyebaran
dan mengurangi kejadian insiden malaria (Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber
Binatang, 2011). Untuk menekan angka kesakitan dan kematian kasus malaria, beberapa
upaya telah dilakukan di Indonesia melalui program pemberantasan malaria yang
meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor
yang semuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria (Depkes RI,
2008).
Di daerah yang belum mempunyai program penanggulangan malaria secara
teratur penilaian situasi malaria dilaksanakan dengan berbagai survei, salah satunya
yaitu melalui kegiatan Mass fever Survey (Gunawan S. , 2000). Mass fever Survey
2
(MFS) adalah kegiatan pengambilan sediaan darah pada semua orang yang
menunjukkan gejala klinis malaria di suatu wilayah (Departeman Kesehatan RI, 2007).
Dengan kondisi desa Luan yang letak pelayanan kesehatannya cukup jauh dan
tidak adanya juru malaria desa (JMD) di daerah tersebut Mass Fever Survey dan
pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostik Test dianggap cocok bagi peneliti sebagai
metode yang dilakukan untuk mengintesifkan pencarian kasus jika dibandingkan dengan
pemeriksaan menggunakan mikroskopik karena sumber daya manusia yang terlatih
untuk melakukan pemeriksaan terbatas. Selain itu pemeriksaan menggunakan RDT
tidak memerlukan keterampilan khusus, pemeriksaaan ini dapat dilakukan dengan cepat
dan mudah tanpa mengurangi keakuratan hasil (Departeman Kesehatan RI, 2007).
Pada penelitian ini peneliti menggunakan RDT merek Abon dengan 2 parameter
yang dapat mendeteksi Plasmodium falciparum dan Plasmodium non-falciparum
sehingga diharapkan dapat memaksimalkan pemberian obat anti malaria sesuai jenis
Plasmodium yang didapat oleh petugas puskesmas setempat walaupun harganya relatif
mahal dari metode konvensional (Departeman Kesehatan RI, 2007).
TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penderita malaria di Desa
Luan melalui kegiatan MFS menggunakan RDT, mengetahui perbandingan jumlah
kasus yang didapatkan dengan laporan kasus malaria di tahun sebelumnya di bulan yang
sama (Agustus 2012), dan untuk mengetahui perbandingan jumlah kasus yang dengan
laporan kasus malaria di bulan sebelumnya di tahun yang sama (Juli 2013).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian jenis survei dengan desain deskriptif dan
dilakukan pada tanggal 27 Agustus 2013- 2 September 2013. Sampel dalam penelitian
ini adalah penduduk di Desa Luan Kecamatan Muara Samu Kabupaten Paser yang
menunjukkan gejala klinis demam 1 minggu terakhir dan atau pernah mengalami
demam dalam jangka waktu 1 bulan sebelum survei dilakukan, bertempat tinggal dan
atau sedang berkunjung dalam kurun waktu minimal 2 minggu di Desa Luan pada saat
penelitian, dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani lembar
persetujuan (informed consent).
Data diperoleh melalui kegiatan Mass Fever Survey (MFS) dengan melakukan
pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostik Test (RDT)
pada penduduk yang
3
memiliki gejala klinis demam setelah mendapat persetujuan dari responden berupa
penandatanganan pada lembar informed consent.
Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan variabel dalam penelitian
dengan gambaran distribusi dan frekuensi dalam bentuk narasi dengan persentasenya
dalam bentuk tabel dan diagram.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil survei didapatkan 45 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi dalam penelitian dari 402 jiwa penduduk yang ada di Desa Luan pada waktu
penelitian 27 Agustus 2013 – 2 September 2013.
Pada penelitian Ompusunggu dan Ferdinand (2008) di Kabupaten Nias, dari 5
desa yang terletak di dua wilayah Puskesmas Idanogawo dan Awa’ai pada April 2006
telah dilakukan MFS dan hasilnya didapatkan 133 sampel penelitian. Hal ini serupa
dengan penelitian Parwati & Ismoedijanto (2001) di Kabupaten Sikka NTT, sampel
yang ditemukan dalam 2 bulan yakni Mei dan Juni 1999, didapatkan sebanyak 165
sampel penelitian. Berdasarkan hal tersebut maka untuk mendapatkan peluang yang
lebih besar dalam penemuan penderita malaria disarankan untuk menambahkan waktu
penelitian agar didapatkan sampel yang lebih banyak pada penelitian serupa kelak.
Sampel pada penelitian ini sebagian besar didominasi oleh jenis kelamin lakilaki (53,33%). Hal ini serupa dengan penelitian Ahmadi (2008) dimana didapatkan
sebesar 55,6% sampel berjenis kelamin laki-laki. Begitu pula dengan penelitian di
Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung dimana didapatkan 54,6% sampel berjenis
kelamin laki-laki (Ernawati et al, 2011). Banyaknya laki-laki yang memiliki gejala
klinis malaria dalam hal ini gejala klinis demam, dapat disebabkan oleh pekerjaan
penduduk laki-laki di Desa Luan yang bekerja di perkebunan sawit sehingga memiliki
peluang lebih besar untuk kontak dengan vektor terutama jika melakukan pembukaan
lahan baru di hutan untuk daerah perkebunan kelapa sawit yang ada di daerah setempat.
Hal ini sesuai dengan penelitian di Flores dimana infeksi malaria oleh Plasmodium
vivax lebih banyak didominasi oleh pria dibandingkan perempuan dikaitkan dengan
pekerjaan di luar rumah (Kaisar et al, 2013). Penduduk yang paling berisiko terkena
malaria adalah bayi, anak dan wanita hamil, selain itu secara teoritis pekerja
penebangan hutan, pekerja tambang emas, nelayan, pekerja kontruksi jalan dan industri
juga mempunyai risiko tinggi tertular malaria (Soedarto, 2011).
4
Dilihat dari data kependudukan di Desa Luan, jumlah penduduk laki-laki lebih
banyak dibandingkan perempuan sehingga peluang untuk terkena malaria jauh lebih
besar pada laki-laki. Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dalam kejadian
malaria yang mungkin berkaitan dengan pekerjaan, faktor ekonomi, tingkat pendidikan
dan budaya di daerah tersebut perlu dilakukan penelitian lebih detail mengenai analisis
faktor risiko yang mempengaruhi angka kejadian malaria di Desa Luan.
Sedikit berbeda dengan pendapat Gunawan, pada penelitian yang dilakukan di
daerah perbatasan antara Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung, walaupun
didapatkan 73,3% kasus berjenis kelamin laki-laki namun dikatakan pula bahwa
perbedaan antara laki-laki dan perempuan tersebut dianggap tidak bermakna
berdasarkan perhitungan statistik.
Sampel pada penelitian ini paling banyak merupakan kelompok usia produktif
yaitu 15-53 tahun (93,33%). Sampel yang dinyatakan positif pada penelitian ini juga
merupakan kelompok usia produktif. Pada penelitian Mooduto (2012) sampel penelitian
tertinggi didapatkan pada kelompok usia 15-53 tahun sebanyak 70%. Hal ini
kemungkinan berkaitan dengan pekerjaan dan tingkat mobilitas yang tinggi sehingga
lebih banyak kontak dengan vektor malaria yaitu nyamuk Anopheles. Hal ini didukung
dengan data di Desa Luan yang menunjukkan bahwa pada usia tersebut banyak
masyarakat Desa Luan bekerja di perkebunan kelapa sawit setempat dimana lokasinya
dekat dengan hutan bahkan berada di hutan.
Pada penelitian ini juga ditemukan sampel pada kelompok usia 1-4 tahun
(2,22%) dan 5-9 tahun (4,44%) serta tidak ditemukannya sampel usia 0-11 bulan, 10-14
tahun dan >55 tahun. Pada penelitian di Kabupaten Sikka-NTT, kelompok usia 0-11
bulan juga merupakan kelompok usia yang paling rendah jumlah penderita malarianya
yakni sebesar 11,4%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh masih terdapatnya
kekebalan maternal dan tingginya konsentrasi Hb F yang dapat menghambat
perkembangan parasit malaria (White, 1996). Selain dikarenakan adanya kekebalan
maternal, rendahnya angka kesakitan dan kematian pada bayi kemungkinan disebabkan
karena bayi lebih banyak mendapat perlindungan dari paparan terhadap nyamuk
dibanding anak yang lebih besar (Spencher, 1986; Vince, 1992).
Pada penelitian ini kelompok usia 1-4 tahun hanya terdapat 1 (2,22%) sampel.
Secara teori hal ini terjadi dikarenakan anak-anak mempunyai respon imun yang lebih
5
lambat dan kekebalan maternal yang dimiliki sudah berkurang (Sutisna, 2004; Nugroho,
2010 dalam Angel 2012). Sedangkan untuk kelompok usia 5-9 tahun, angka kesakitan
malarianya lebih rendah dibandingkan kelompok usia 1-4 tahun. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh timbulnya imunitas anti parasit (anti parasitic imunity).
Anti parasitic imunity adalah bentuk imunitas yang mampu menekan
pertumbuhan parasit dalam derajat sangat rendah namun tidak sampai nol, hingga
mencegah hiperparasitemia yang berkembang sejak usia >5 tahun hingga dewasa. Hal
ini dibuktikan dengan menurunnya densitas parasit pada anak usia >5 tahun dan pada
orang dewasa, dibandingkan anak-anak dengan usia yang lebih muda. Sedangkan pada
orang dewasa timbul keadaan premonition yaitu keadaan dimana telah terbentuk
kekebalan akibat infeksi berulang sehingga penderita malaria memberikan gejala ringan
atau bahkan tidak menimbulkan gejala, pasien dianggap tidak sakit dan tidak berobat
(Nugroho, Harijanto, & Datau, 2000).
Menurut Gunawan (2000) bahwa perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis
kelamin sebenarnya berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi
keterpaparan terhadap gigitan nyamuk. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada
dasarnya setiap orang dapat terkena malaria.
Pada penelitian ini sebanyak 7 (15,5%) sampel merupakan penduduk asli Desa
Luan dan sisanya sebanyak 38 sampel (84,4%) merupakan pendatang. Pada penelitian
ini dari 84,44% pendatang sebanyak 53,3% berasal dari NTT, 6,66% berasal dari Jawa
timur, 6,66% lainnya berasal dari Jawa Barat, 6,66% lainnya berasal dari Sulawesi Barat
dan sisanya sebanyak 11,11% berasal dari berbagai daerah lainnya yang berbeda-beda.
Sedikitnya sampel yang menunjukkan gejala klinis demam pada penduduk asli
Desa Luan kemungkinan dikarenakan masyarakat yang berada di daerah endemis
malaria biasanya memiliki imunitas/kekebalan secara alamiah, sehingga lebih tahan
terhadap infeksi malaria (Depkes, 2003). Selain itu dari data yang ada di Ditjen PP &
PL Depkes RI (2009) menyebutkan bahwa dari tahun 2008-2009 NTT merupakan salah
satu provinsi dengan API tertinggi di Indonesia selain Papua dan Papua Barat hal ini
menunjukkan kemungkinan adanya peluang lebih besar terkena malaria pada para
pendatang yang berasal dari NTT tersebut dimana pada hasil penelitian ini didapatkan 2
penderita malaria yang merupakan pendatang dari daerah NTT.
6
Menurut Onori & Grab (1980) dalam Susana (2011), faktor-faktor penentu
terjadinya penularan malaria di zona epidemiologis salah satunya yaitu importasi parasit
malaria lewat perpindahan penduduk dan migrasi penduduk yang non imun. Pada
penelitian yang dilakukan Santi & Hakim (2011) didapatkan dari 100 responden yang
melakukan migrasi 11 orang diantaranya terkena malaria. Hal ini kemungkinan terjadi
karena terbentuknya imunitas spesifik terhadap malaria yakni sekitar 2 tahun setelah
tiba di daerah endemis, dan terbentuknya imunitas ini tidak berkaitan dengan banyaknya
paparan dengan parasit namun lebih ditentukan oleh usia dan kematangan sistim imun
tubuh (Nugroho, Harijanto, & Datau, 2000).
Berdasarkan riwayat terkena malaria hanya terdapat 17,7% sampel dan riwayat
penggunaan OAM dalam rentang waktu 1 minggu terakhir sebanyak 6,66%. Pada
penelitian ini penderita malaria yang ditemukan 50% memiliki riwayat terkena malaria
dan penggunaan OAM 1 minggu terakhir.
Hal ini dikarenakan pekerja migrasi yang pernah mengalami sakit malaria
sebelum berangkat ke tujuan migrasi, lebih tinggi risiko untuk terkena malaria, sehingga
riwayat sakit malaria sebelumnya menjadi faktor risiko terjadinya penularan malaria.
Secara teoritis, infeksi malaria merangsang pembentukan zat anti yang memperlihatkan
sekelompok reaksi serologi. Aktivitas zat anti terdapat pada immunoglobulin G, M dan
A akan tetapi konsentrasi lgG lebih tinggi dengan adanya prespitin sehingga tidak
memberi perlindungan terhadap infeksi ulang malaria bahkan cenderung terjadi
kebalikannya (Pribadi, 1984). Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukannya penelitian
mengenai keterkaitan antara faktor migrasi, riwayat terkena malaria dan riwayat
penggunaan OAM untuk menilai hubungan faktor risiko dengan angka kejadian malaria
pada penelitian selanjutnya.
Pada penelitian ini seluruh sampel yang diambil memiliki keluhan demam yang
terjadi dalam rentang 1 minggu terakhir. Berdasarkan riwayat keluhan 51,11% sampel
mengalami riwayat demam disertai satu atau lebih gejala lain yakni mual/muntah, diare,
sakit kepala dan nyeri otot.
Sedangkan 48% sampel penelitian hanya mengalami
riwayat demam saja. Berdasarkan keluhan penyerta, sebanyak 44,44% sampel
mengalami keluhan penyerta berupa sakit kepala dan sebanyak 24,44% mengalami
keluhan penyerta berupa nyeri otot. Sedangkan untuk keluhan penyerta berupa
mual/muntah sebanyak 17,77% dan keluhan penyerta berupa mencret/diare sebanyak
7
8,88%. Pada kedua sampel yang dinyatakan positif terkena malaria sebanyak 50%
mengalami mual dan muntah serta nyeri otot, keduanya juga mengalami sakit kepala
namun tidak memiliki keluahan diare.
Gejala malaria biasanya berlangsung antara hari ke tujuh sampai hari ke lima
belas setelah terjadi inokulasi oleh nyamuk. Tanda dan gejala malaria bervariasi, akan
tetapi umumnya sebagian besar pasien akan menderita demam. Demam terdapat pada
78% sampai 100% pasien malaria namun periodesitas demam sering tidak dijumpai
(Coll et al., 2008). Patogenesis terjadinya demam pada malaria disebabkan oleh
pecahnya skizon yang telah matang bersama sel darah merah yang telah terinfeksi dan
masuknya merozoid ke dalam aliran darah. Hal ini diduga disebabkan oleh pirogen
endogen yang dilepaskan oleh makrofag/monosit dan sel inang lain dalam respon
terhadap toksin mikrobial, yaitu TNF dan interleukin-1 (Rampengan, 2010).
Penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penilitian Angel (2011), dimana pasien
malaria non komplikasi yang di rawat inap di RSUD A.W Sjahranie Samarinda tahun
2010 didapatkan sebanyak 40,33% mengalami gejala klinis demam namun sebanyak
18,55% tidak menunjukkan adanya gejala klasik malaria
yang terdiri dari demam
paroksismal, anemia, dan splenomegali. Kebanyakan mengalami perubahan dimana
gejala klinis negatif tetapi pada pemeriksaan hapusan darah tebalnya positif malaria.
Pada penelitian yang dilakukan Santoso, Supargiyono & Wijayanti (2012)
didapatkan bahwa gejala klinis awal yang ditemukan berupa menggigil, sakit kepala,
pusing, anoreksia dan nyeri otot. Gejala klinis tersebut memang sering ditemukan pada
penderita malaria yang merupakan gejala yang timbul sebelum gejala utama berupa
demam. Namun pada penelitian tersebut juga dikatakan bahwa gejala klinis pada
penderita P.vivax tidak selalu muncul hal ini kemungkinan terjadi karena meningkatnya
imunitas tubuh penderita malaria terutama di daerah dengan endemisitas tinggi.
Sedangkan pada penelitian di Kabupaten Nias Selatan didapatkan 35,3% dari penderita
malaria tanpa gejala klinis demam begitu juga yang ada di Kotamadya Sabang sebanyak
41,5% tidak menunjukkan adanya gejala klinis demam. Hal ini menunjukkan adanya
perbedaan gejala klinis yang perlu diteliti di Desa Luan terkait dengan tingkat
endemisitas suatu daerah maupun jenis Plasmodium yang menginfeksi.
Jumlah penemuan penderita dengan pemeriksaan menggunakan Rapid
Diagnostic Test pada penelitian ini adalah 2 sampel. Dari kedua kasus tersebut
8
terdiagnosis sebagai Plasmodium non-falciparum. RDT dapat membedakan infeksi
Plasmodium falciparum ataupun Plasmodium non-falcifarum, namun kit yang
digunakan tidak dapat membedakan antara Plasmodium vivax, Plasmodium ovale,
ataupun Plasmodium malariae. Hal ini dikarenakan antigen HRP-2 yang spesifik untuk
P. falciparum, sedangkan untuk jenis Plasmodium lainnya tidak terdapat antigen
spesifik yang bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya, sehingga pada kit
yang dinyatakan positif malaria selain terdiagnosis sebagai P.falcifarum hanya bisa
didiagnosis sebagai Plasmodium non-falcifarum ataupun mixed-infection dengan
terdeteksinya enzim Pan Aldolase yang dihasilkan oleh ke empat plasmodium yang
menginfeksi manusia (Depkes RI, 2007).
Jenis Plasmodium non-falcifarum yang ditemukan pada penelitian ini sesuai
dengan data yang ada di bank data Dinas Kesehatan Kabupaten Paser tahun 2012 bahwa
dari 66 kasus malaria yang ada di kecamatan Muara Samu 33 kasus diantaranya
merupakan Plasmodium non-falcifarum, 18 kasus merupakan Plasmodium Falcifarum
dan 15 lainnya merupakan Mixed-Infection. Khusus untuk Desa Luan pada tahun 2012
dari 29 penderita malaria didapatkan 20 penderita terdiagnosis P. vivax, 5 penderita P.
falciparum dan 4 penderita terdiagnosis mixed-infection. Hal ini menjelaskan hasil dari
jenis plasmodium yang menginfeksi pada penelitian yang dilakukan di desa Luan
banyak merupakan dari jenis Plasmodium non-falciparum.
Pada penelitian ini kedua sampel yang dinyatakan sebagai penderita malaria
merupakan pendatang dari NTT. Dari data yang didapatkan saat wawancara, salah satu
dari sampel tersebut memiliki riwayat terkena malaria di daerah asalnya sehingga ada
kemungkinan kejadian relaps pada pasien tersebut. Secara teori relaps disebabkan oleh
hipnozoit yang menjadi aktif kembali dan dapat ditemukan pada infeksi P.vivax di
Indonesia yang tidak diobati secara radikal (Gandahusada S. , Ilahude, D, & Pribadi,
2000). Sehingga perlu penelitian lebih lanjut mengenai angka kejadian malaria relaps di
Kabupaten Paser.
Berdasarkan gambar 5.5 pada hasil penelitian, dapat dilihat bahwa terdapat
penderita malaria positif yang ditemukan saat dilakukan penelitian yakni pada bulan
Agustus 2013 dengan memeriksa penduduk yang mengalami demam menggunakan
RDT. Data dari bulan Januari – Juli 2013 didapatkan dari laporan Puskesmas Muser di
Kecamatan Muara Samu. Selain itu dari gambar 6.1 juga terlihat adanya peningkatan
9
kasus dari bulan sebelumnya di tahun yang sama yakni Juli 2013. Sejak Januari - Juli
2013 di Desa Luan tidak didapatkan adanya penderita malaria positif, sedangkan saat
penelitian didapatkan 2 penderita malaria positif yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan
RDT pada penelitian ini. Dilihat dari grafik penderita malaria selama 3 tahun terakhir
yakni 2010-2012, untuk penelitian selanjutnya di Desa Luan bisa dilakukan pada bulan
Juni - Juli dimana angka kejadian malaria pada bulan tersebut relatif stabil.
Dari penelitian ini ditemukan adanya peningkatan kasus malaria jika
dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya yakni Agustus 2012
ataupun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya di tahun yang sama yakni bulan
Juli 2013 dimana tidak ditemukan adanya kasus malaria pada bulan tersebut, sedangkan
pada Agustus 2013 didapatkan 2 kasus positif malaria dalam penelitian ini. Pada
penelitian Ikawati & Wijayanti (2009) dimana sampel juga didapatkan dari MFS dan
pemeriksaan juga dilakukan menggunakan RDT ditemukan adanya 39 kasus penderita
malaria dari 717 penduduk di Desa Bendawuluh. Dalam penelitian tersebut didapatkan
adanya peningkatan kasus lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya
sehingga dapat dikategorikan sebagai KLB.
Pada penelitian Desrinawati (2001) yang membandingkan hasil pemeriksaan
menggunakan tehnik immunochromatographic test (ICT) dengan perwarnaan giemsa
didapatkan 51 orang positif terkena malaria dengan pemeriksaan Giemsa dan 53 orang
positif terkena malaria dengan pemeriksaan ICT. Terdapat 2 sampel yang menunjukkan
hasil yang berbeda pada pemeriksaan menggunakan tehnik ICT. Secara teori,
kemampuan RDT dalam mendeteksi antigen yang diproduksi oleh gametosit (seperti
pLDH) dapat memberikan hasil positif pada penderita yang hanya mengandung
gametosit. Gametosit tidak bersifat patogen sehingga dapat berada di dalam darah
walaupun penderita telah mendapat pengobatan, meskipun tidak berhubungan dengan
resistensi obat namun dapat menimbulkan positif palsu (false positif). Kesalahan positif
palsu yang terjadi pada RDT dapat dijelaskan antara lain karena adanya sisa-sisa
metabolit pasca pengobatan yang masih ada dalam peredaran darah dan metabolit ini
akan ditangkap oleh antibodi monoklonal dari RDT. Hal ini masih dapat terjadi
meskipun penderita masih dalam 2 minggu pasca pengobatan sehingga tidak ditemukan
Plasmodium dalam pemeriksaan mikroskopis (Tjitra et al., 1999).
10
Khusus untuk infeksi Plasmodium falcifarum, RDT dapat mendeteksi saat
parasit bersekuestrasi pada kapiler darah sehingga terdeteksi dengan pemeriksaan secara
mikroskopik biasa begitu pula pada placenta ibu hamil dengan infeksi Plasmodium
falciparum (Depkes RI, 2007). Selain itu, perbedaan ini kemungkinan disebabkan
sampel yang telah dinyatakan positif malaria telah minum obat sehingga parasit di
dalam darahnya tidak ditemukan lagi tetapi Pf HRP II masih terdeteksi dalam darah
penderita tersebut. HRP II menetap dan masih dapat terdeteksi setelah gejala klinik dan
parasit sudah menghilang dalam darah. P.falciparum HRP II masih dapat terdeteksi
sampai 4 minggu setelah parasit dalam darah tidak ditemukan lagi (Taylor et al, 2002).
Penyebab menetapnya Pf HRP II belum dapat diketahui dengan pasti dan mungkin
refleksi dari masa laten dan viabilitas parasit (kemungkinan pengobatan yang gagal atau
kompleks antigen-antibodi masih beredar dalam darah) (Harijanto, 2000).
Pemeriksaan menggunakan mikroskopik merupakan gold standar diagnosis
malaria, namun diperlukan pemeriksaan yang lebih sensitif untuk mencari adanya
parasit yang tidak dapat dideteksi menggunakan sediaan mikroskopik misalnya dengan
pemeriksaan menggunakan PCR. Prinsip pada pemeriksaan menggunakan PCR adalah
dengan menggandakan segmen DNA spesifik dari parasit Plasmodium dengan 3
tahapan reaksi yaitu denaturasi, annealing dan polimerasi. Namun pemeriksaan PCR
menggunakan alat yang canggih yang hanya dimiliki beberapa rumah sakit besar di
Indonesia dan biaya pemeriksaannya relatif mahal sehingga pada penelitian ini tidak
bisa dilakukan oleh peneliti.
KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian dan pengolahan data yang dilakukan, maka diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Terdapat 45 sampel penelitian, persentase terbanyak terdapat pada kelompok usia
15-53 tahun (93,33%) dan jenis kelamin laki-laki (53,33%).
2. Jumlah penderita malaria yang ditemukan melalui Mass Fever Survey menggunakan
Rapid Diagnostic Test di Desa Luan pada bulan Agustus 2013 didapatkan sebanyak
2 orang (4,44%), keduanya berjenis kelamin laki-laki (100%), dengan hasil
pemeriksaan di diagnosis sebagai Plasmodium non-falciparum.
3. Terjadi peningkatan jumlah penderita malaria jika dibandingkan bulan yang sama di
tahun sebelumnya yakni Agustus 2012.
11
4. Terjadi peningkatan jumlah penderita malaria jika dibandingkan bulan sebelumnya
di tahun yang sama yakni Juli 2013.
SARAN
1. Pada penilitian selanjutnya sebaiknya lebih memperpanjang waktu penelitian dan
memperbanyak jumlah sampel yang akan diteliti.
2. Perlunya penelitian serupa menggunakan metode survei yang lain misalnya Mass
Blood Survey (MBS) ataupun menggunakan Malariometrik Survey (MS)
3. Mencari penderita malaria di daerah endemis pada perkiraan periode puncak angka
kejadian malaria di daerah yang akan diteliti.
4. Perlunya penelitian serupa menggunakan tehnik pemeriksaan PCR agar sensitifitas
dan spesifitasnya lebih baik dibandingkan jika menggunakan pemeriksaan
mikroskopik ataupun RDT.
5. Perlu dilakukan penelitian lanjutan di Kecamatan Muara Samu tidak hanya di desa
luan tetapi juga di 8 desa lainnya.
6. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai jenis Plasmodium yang menginfeksi
dan faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian malaria di kecamatan Muara
Samu, Kabupaten Paser.
7. Perlunya perhatian lebih dari pemerintah daerah khususnya Dinas Kesehatan terkait
dan pihak puskesmas untuk melakukan pemantauan secara terus-menerus agar tidak
terjadi peningkatan jumlah penderita malaria di bulan-bulan berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Coll O, Menendez C, Botet F et al ; Treatment and Prevention of Malaria in
Pregnancy and Newborn, J Per Med. 2008, Vol 36,p 15-29.
2. Departeman Kesehatan RI. (2007). Pedoman Penemuan Penderita. Jakarta: Bakti
Husada.
3. Depkes RI. (2012, april 17). Retrieved april 28, 2013, from Departemen Kesehatan
RI:
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/berantas
kembali
malaria.pdf
4. Depkes RI. (2008). Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia. Jakarta:
Bakti Husada.
12
5. Desrinawati.
(2001).
Perbandingan
Hasil
Pemeriksaan
Metoda
Immunochromatographic (ICT) dengan Pewarnaan Giemsa pada Infeksi Malaria
Falciparum, Tesis. Fakultas Kedokteran Sumatera Utara, Medan.
6. Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. (2011, April). Epidemiologi
Malaria di Indonesia. Jendela Data dan Informasi Kesehatan , p. 1.
7. Ernawati, Kholis., Budhi Soesilo., Artha Duarsa., Rifqatussa’adah. Hubungan
Faktor Risiko Individu Dan Lingkungan Rumah Dengan Malaria Di Punduh
Pedada Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Indonesia 2010. In Makara,
Kesehatan, Vol. 15, No. 2, Desember 2011: 51-57
8. Gandahusada, S., Ilahude, Pribadi, W., & Herry, D. (2000). Parasitologi
Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
9. Gunawan, S. (2000). Malaria : Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, &
Penanganan. In P. G. Harijanto, Epidemiologi Malaria. Jakarta: EGC.
10. Ikawati, Bina., & Tri Wijayanti. (2009). Penyelidikan Epidemiologi Peningkatan
Kasus
Malaria
Di
Dusun
Bendawuluh,
Desa
Beji,
Kecamatan
Banjarmangu,Kabupaten Banjarnegara
11. Kaisar, M.M.M., Supali, T., Wiria, A.E., Hamid, F., Wammes, L.J., Sartono, E.,
Verweij, J.J. 2013. Epidemiology of Plasmodium infections in Flores Island,
Indonesia using real-time PCR. Malaria Journal, 12(169),1-8
12. Kepmenkes. (2009). Eliminasi Malaria di Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
13. Mooduto, Patricia T. (2012). Karakteristik Penderita Malaria Di Wilayah Kerja
Puskesmas Bongomeme Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo tahun 20092011. Skripsi, Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Gorontalo.
14. Nugroho, A., Harijanto, P., & Datau, E. (2000). Imunologi Pada Malaria. In P.
Harijanto,
MALARIA
Epidemiologi,
Patogenesis,
Manifestasi
Klinis
dan
Penanganan (pp. 128-150). Jakarta: EGC.
15. Ompusunggu, Sahat., & Ferdinand J. Laihad. (2008). Situasi Malaria Di Kabupaten
Nias, Sumatera Utara Selama Satu Tahun Sesudah Gempa Bumi Dan Tsunami. In
Jurnal Ekologi Kesehatan vol.7 no-1, April 2008: 706-721.
16. Parwati., & Ismoedijanto. (2001). Faktor Determinan Klinis pada Malaria Anak. In
Sari Pediatri, Vol. 3, No. 2, September 2001: 106 - 114
13
17. Pribadi. W. 1984. Aspek imunologis malaria. Kumpulan makalah Bagian 1.
Kongres ilmu kesehatan Anak ke-VI . Hal 98-108. Denpasar 15-19 Juli 1984.
18. Rampengan. (2010). Malaria pada Anak. In N. A. Harijanto P.N., Malaria dari
Molekul ke Klinis (pp. 157-158). Jakarta: EGC.
19. Santi, M., Hakim, L. 2011. Hubungan Faktor Penularan dengan kejadian Malaria
pada Pekerja Migrasi yang berasal dari Kecamatan lengkong Kabupaten
Sukabumi. Aspirator, 3(2),89-99
20. Santoso., Supargiyono., & Mahardika Agus Wijayanti. (2012). Perbedaan Gejala
Klinis Dan Efek Samping Pengobatan Pada Malaria falciparum dan vivax. In Jurnal
Pembangunan Manusia Vol.6 No.2 Tahun 2012.
21. Soedarto. (2011). Malaria. Jakarta: Sagung Seto.
22. Suryanto. (2005). Kejadian Malaria Berdasarkan Kegiatan Mass Fever Survey di
Puskesmas Alian Kabupaten Kebumen Tahun 2004,Skripsi.Fakultas Kesehatan
Masyarakat,Universitas Diponegoro,Semarang
23. Susana, D. (2011). Dinamika Penularan Malaria. Jakarta: UIP.
24. Taylor WRJ, et al. Assessing the Parasight F test in Northeastern Papua, Indonesia,
an Area of Mixed Plasmodium Falciparum and Plasmodium Vivax Transmission.
Trop. Med.Hyg 2002; 66: 649-52
25. Tjitra, E., Supriyanto, S., Dyer, M., Bart, J., Currie, Anstey N.M Field Evaluation of
the ICT P.f/P.v Immunochromatographic Test for detection Plasmodium falciparum
and Plasmodium vivax in patients with presumptive Clinical Diagnosis of Malaria in
Eastern Indonesia.J. Clin. Microbiol. 1999.USAID. (2009). Transporting, Storing,
and Handling Malaria Rapid Diagnostic Tests in Health Clinics. Manila: WHOWPRO.
26. Utami, B. Sri., Lusi Estiana., Sekar Tuti. (2008). Penggunaan Rapid Diagnostic Test
(RDT) Oleh Kader Sebagai Alat Bantu Dalam Penemuan Kasus Malaria Di Desa
Guntur, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. In Jurnal Ekologi Kesehatan
vol.7 no-2, Agustus 2008: 740-746.
27. WHO. (2012). Malaria Report 2012. Geneva, Switzerland, Geneva, Switzerland:
World Health Organization.
14
Fly UP