...

refleksi metodologis: perjalanan penelitian menghasilkan etnografi

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

refleksi metodologis: perjalanan penelitian menghasilkan etnografi
REFLEKSI METODOLOGIS: PERJALANAN PENELITIAN MENGHASILKAN
ETNOGRAFI
Sri Alem Br.Sembiring1
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
A. Pendahuluan
Tulisan berikut ini merupakan hasil refleksi metodologi dari perjalanan latihan
penelitian lapangan bidang ilmu Antropologi selama sepuluh hari di Lingkungan
Buher Kelurahan Karangpawitan Kecamatan Karawang, Jawa Barat.
Tulisan ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh semua orang, tidak hanya
bagi mahasiswa atau mereka-mereka yang berminat dalam bidang ilmu antropologi.
Hasil refleksi metodologi ini menggambarkan bagaimana suatu kegiatan penelitian
lapangan dilakukan dengan mengacu kepada landasan teoritis dan teknik-teknik
penelitian yang lazim digunakan dalam antropologi.
Dalam tulisan ini akan terurai bagaimana kisah perjalanan dan kiat-kiat
mencari dan mengumpulkan data, menentukan teknik wawancara yang tepat, dan
memilih informan yang representatif dalam penelitian. Penulis juga menyertakan
bagaimana kendala-kendala yang dijumpai di lapangan, dan juga kekecewaan dan
kecerian yang senantiasa akrab menyertai penulis dalam perjalanan penelitian ini.
B. Persiapan Awal
Penelitian ini merupakan kegiatan penelitian lapangan pertama bagi penulis
yang dilakukan di luar wilayah Sumatera Utara. Rasa khawatir sudah tentu ada,
terutama soal kemampuan penulis untuk beradaptasi agar dapat berbaur dengan
masyarakat setempat, yaitu orang-orang Sunda di Lingkungan Buher Kelurahan
Karangpawitan Kecamatan Karawang, Jawa Barat. Rasa khawatir penulis menjadi
sedikit berkurang dengan mengetahui bahwa lokasi penelitian terletak tidak terlalu
jauh dari Jakarta. Perjalanan menuju Lingkungan Buher dapat ditempuh sekitar dua
jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Kekhawatiran juga semakin sedikit
karena orang Sunda di Lingkungan Buher ternyata dapat mengerti Bahasa Indonesia,
walaupun mereka tidak lancar menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.2 Hal
ini membuat kendala bahasa dapat dikesampingkan untuk sementara waktu, paling
tidak pada hari-hari pertama penelitian. Kekhawatiran ini timbul karena penulis tidak
dapat berbahasa sunda baik secara aktif maupun pasif. Sementara, penguasaan
bahasa lokal bagi seorang peneliti menurut Malinowski (1950) adalah masalah paling
penting dalam mencari dan mengumpulkan data yang baik dalam suatu penelitian
antropologi.
Itulah gambaran awal di benak saya (penulis) setelah pada akhir kuliah
ditetapkan bahwa Karawang adalah lokasi penelitian. Informasi tentang Karawang
mulai saya kumpulkan. Dari beberapa teman-teman yang mengetahui tentang
daerah penelitian itu, saya hanya mendapat kisah tentang ‘goyang Karawang’ yang
Tulisan ini merupakan bagian dari tugas penulis selama mengikuti Program
Pascasarjana di Universitas Indonesia pada Program Studi Antropologi dalam mata
kuliah Teknik-Teknik Penelitian Antropologi.
2
Penduduk di Kelurahan Karangpawitan ini cenderung menggunakan bahasa Sunda
sebagai bahasa mereka dalam kehidupan sehari-hari.
1
2002 digitized by USU digital library
1
‘hangat’ dari para gadisnya. Dari artikel di sebuah surat kabar, saya mendapat
informasi bahwa banyak orang-orang dari Karawang yang bekerja di Jakarta dan di
pabrik di sekitar Karawang. Seluruh informasi yang saya kumpulkan terfokus pada
kegiatan non-pertanian dan juga kegiatan pertanian, serta perkembangan kehidupan
masyarakatnya, karena materi ini yang menjadi fokus penelitian..
‘
Perburuan’ informasi ini merupakan suatu persiapan mental awal untuk
menghadapai arena baru. Hal ini diperlukan mengingat saya adalah ‘orang asing’
bagi masyarakat yang didatangi. Dengan mengutip Chambers (1983) saya adalah
‘orang luar’ yang bukan orang desa setempat. Menurut Chambers (1983), kesadaran
sebagai ‘orang luar’ dari si peneliti ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi
hambatan kultural dan struktural yang nantinya dapat menghasilkan ‘bias’ dalam
penelitian. Saya berharap dengan pemahaman awal tentang kehidupan orang yang
akan saya kunjungi, saya dapat menghindari apa yang disebut Chambers (1983)
sebagai prasangaka ‘orang luar’. Prasangka yang salah akan dapat berpengaruh
buruk terhadap validitas hasil penelitian. Untuk itu, saya perlu menghindari
prasangka-prasangka, terutama penilaian tentang baik dan buruk, pintar dan bodoh
tentang apa yang mereka (orang di lingkungan Buher) lakukan.
Kesehatan fisik juga perlu dijaga sebelum terjun ke lokasi penelitian, dan juga
persediaan beberapa jenis-obat-obatan ringan sebagai persiapan di lapangan. Hal ini
perlu mendapat priorotas, sebab menurut Geertz (1983), peneliti adalah merupakan
alat yang sangat penting dalam mengumpulkan dan mencatat data, sehingga
kesehatan peneliti di lapangan perlu dijaga, di samping perlunya alat-alat bantu
seperti alat tulis, kamera dan lain-lain. Hal terakhir yang sata persiapkan adalah
barang-barang keperluan pribadi dan alat bantu penelitian lapangan, seperti; catatan
lapangan, pena, pinsil, tape-recorder, kertas folio, dan beberapa buku yang penting
untuk mendukung kegiatan penelitian. Hal terakhir ini dipersiapkan juga bersama
dengan teman-teman satu kelompok. Semua keperluan pribadi dan perlengkapan
lainnya saya catat dengan rinci dalam catatan pribadi agar tidak ketinggalan dan
hilang, seperti yang dikemukakan oleh Geertz (1983).
C. Adaptasi dengan Lingkungan Baru
Kiranya tanggal 15 Juli sore itu bukan hari baik untuk kelompok I dan
kelompok saya (IV). Hari itu kami ‘ditolak’ oleh kepala lingkungan desa dengan cara
yang amat halus.Sehingga kami harus menginap di Hotel Omega dekat Kelurahan
Karangpawitan. Peristiwa ini terjadi karena kurangnya koordinasi antara pihak kami
(tim peneliti) dengan pihak kelurahan. Salah satu alasan penolakan oleh Bapak
Kepala Lingkugungan Buher (Pak Mardi) yang menyambut kami di lokasi sangat
sederhana, yaitu tidak tersedianya tempat menginap yang menurut beliau layak
untuk kami. Kategori layak yang dimaksud Pak Mardi adalah tidak adanya rumah
penduduk yang telah memiliki MCK, khususnya rumah yang masih dapat ditumpangi
selama kami melakukan penelitian di lingkungan tersebut. Alasan lainnya adalah
karena kamarnya kecil, tidak memiliki kamar, rumahnya sempit dan dibumbui
beberapa alasan lainnya. Bahkan beliau (Pak Mardi) juga mengatakan bahwa
rumahnya juga tidak layak karena tidak memiliki WC. Namun kemudian dengan
alasan hendak mencuci tangan ke kamar mandi, saya melihat bahwa kamar mandi
Pak Mardi layak sebagai sarana MCK, bahkan sangat layak untuk ukuran penduduk
setempat.
Tanggal 16 Juli di keesokan harinya kami telah mendapat tempat tinggal.
Kelompok kami menyewa sebuah rumah yang baru selesai milik Pak Warsan dengan
biaya RP. 150.000.- selama sepuluh hari. Pada malam pertama itu pula kami
2002 digitized by USU digital library
2
meminta kesediaan Ibu Wakil (isteri Pak Mardi) untuk membantu menyediakan
makanan dan minuman dan untuk biaya makan tersebut, kami memberikan
sejumlah uang kepada beliau setiap pagi.
Sebelum melakukan tugas selanjutnya, kami terlebih dahulu memperkenalkan
diri dan menjelaskan maksud kedatangan kami, yaitu untuk melihat
keanekaragaman mata pencaharian mereka. Hal ini kami lakukan mengingat
pertimbangan etika dalam suatu penelitian. Perkenalan secara terbuka ini penting
dilakukan. Menurut Bogdan (1993:66), dalam penelitian yang terang-terangan,
peneliti dapat bergerak secara leluasa dalam ‘memburu’ informasi yang dibutuhkan
serta memperoleh kemudahan dari organisasi atau kelompok-kelompok di
masyarakat, dan dalam menjelaskan tujuan penelitian cukup sekedar penjelasan
umum, berkatalah yang sebenarnya pada saat permulaan penelitian (Bogdan 1993:
72-73).
Pak Mardi sebagai kepala lingkungan Buher adalah orang pertama yang kami
minta keterangannya mengenai kondisi lingkungan setempat, keragaman mata
pencaharian penduduk, pemanfaatan lahan-lahan kosong dan sebagainya. Pak Mardi
adalah informan pertama kami, dan dari beliau pula kami banyak mendapat
informasi yang dibutuhkan. Orang seperti Pak Mardi inilah yang disebut oleh Agar
(1980:85) sebagai ‘profesional stranger handler’, yaitu sebagai orang pertama yang
memberi penjelasan pada ‘orang luar’ seperti kami. Disamping itu Pak Mardi juga
adalah seorang kepala lingkungan yang mempunyai posisi ‘atas’ dalam bidang
pemerintahan di lingkungannya. Orang seperti ini disebut juga sebagai ‘natural
relation expert’ (Agar 1950). Orang-orang seperti ini dapat memberikan penjelasan
yang memuaskan pada ‘orang luar’ (peneliti) tanpa merugikan masyarakatnya.
Pak Wakil (itu adalah sebutan penduduk sekitar untuk Pak Mardi sebagai
kepala lingkungan) menyatakan bahwa masyarakatnya cukup ramah, walaupun cara
berbicara mereka sepertinya sedikit kasar, ‘itu mah sudah dari sononya’, begitu kata
beliau. Beliau mengatakan juga bahwa sebahagian besar warganya kurang dapat
berbahasa Indonesia dengan lancar. Sebagai peneliti yang baru tiba, saya berpikir
bahwa walaupun masyarakat setempat kelihatannya sangat ramah, seorang peneliti
juga perlu berhati-hati. Pelto dan Pelto (1989: 259) mengemukakan bahwa
walaupun dalam keadaan masyarakat yang lemah lembut, seorang peneliti perlu
peka kepada cara memperkenalkan diri dan melakukan interaksi sosial. Sikap hatihati ini perlu dibina agar mereka tetap terbuka menerima kehadiran si peneliti.
Hari berikutnya kami sudah berjalan sendiri-sendiri dengan pembagian tugas
masing-masing. Sebelum bergerak lebih jauh, kelompok kami yang terdiri dari saya,
Ibu Dewi, Pak Jabatin, Pak Edi, dan Pak Taufan berjalan mengelilingi desa (Kampung
Buher) dan juga Kampung Bambu Duri (pondokan kelompok I) sekitar pukul sepuluh
pagi. Ke dua kampung ini merupakan bagian dari Lingkungan Buher. Dalam
perjalanan pagi itu, kami mulai dengan menyusuri jalan kecil di arah kiri pondokan.
Perjalan kami lakukan dengan melewati hamparan sawah yang telah dipanen menuju
Kampung Bambu Duri. Secara serempak, pandangan kami tertuju ke tengah sawah.
Kami melihat sekelompok ‘pasukan bebek’ sedang sibuk mencari makan di bekas
lahan sawah. Bebek-bebek itu dipimpin seorang penggembala yang gaya hidupnya
bertualang dari satu lokasi sawah yang telah dipanen ke lokasi sawah lain, dari satu
kampung ke kampung lain untuk mencari bahan makanan bagi bebek peliharaannya.
Bebek dan penggembalanya diangkut dengan menggunakan kendaraan truk
kecil.Apabila bertemu dengan beberapa warga kampung, kami hanya ‘melempar’
senyum dan mengucap ‘mangga bapak/ibu/mbak’. Apabila mereka bertanya
‘kamana?’, maka kamipun menjawab ‘kadiek’ atau ‘jalan-jalan’.
2002 digitized by USU digital library
3
D. Kegagalan Pertama Saya
Dalam sebuah bukunya Bernard (1994:211) mengatakan bahwa jika kamu
menunjukkan rasa ketertarikan dan perhatian kamu, maka banyak informan dan
orang-orang akan menolong kamu. Kalimat inilah yang menjadi pegangan bagi saya
ketika akan turun ke lapangan. Saya mendapat banyak manfaat dari saran Bernard
(1994) itu. Namun, seperti yang juga ditulis oleh Turnbell (dalam Bernard 1994:211)
berdasarkan pengalamannya, bahwa hal itu tidaklah selalu benar sepenuhnya terjadi
dalam kenyataan di lapangan. Ada beberapa informan yang menunjukkan sikap acuh
tak acuh walaupun mereka bersedia menjawab beberapa pertanyaan. Jawabanjawaban yang diberikan informan sangat singkat dan tidak mengandung penjelasan
yang rinci. Hal ini saya alami ketika berbicara dengan Pak Mian (60 tahun). Pak Mian
ini menurut penduduk setempat tergolong oarang yang memiliki lahan sawah luas
dan satu buah pabrik penggilingan padi.
Waktu itu siang hari berkisar pukul 14.00 Wib. Saya pergi bersama Ibu Dewi.
Pada hari itu saya mendapat tugas dari kelompok untuk mengumpulkan data
mengernai kepemilikan lahan dan perubahan teknik-teknik pengolahan lahan
pertanian. Sebelum wawancara berlangsung, Ibu Dewi kembali ke pondokan untuk
mengambil kamera foto yang tertinggal. Pada awal wawancara saya terlebih dahulu
memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa saya butuh beberapa informasi dari
Pak Mian mengenai kegiatan penggilingan di pabrik padi miliknya. Saya melihat Pak
Mian menatap saya dengan pandangan yang menyelidik. Beliau terdiam untuk waktu
yang sedikit lama sebelum menjawab pertanyaan yang saya ajukan “ siapa saja yang
Bapak terima untuk bekerja di pabrik penggilingan padi ini”?. Saya harus mengulang
sekali lagi pertanyaan itu karena beliau tidak memberikan respon apa-apa, saya pikir
beliau tidak mendengarnya. Kemudian beliau menjawab “itu bukan saya yang
mengurus.” Jawaban itu diberikan Pak Mian tanpa ekspresi dan beliau langsung
memalingkan wajahnya ke arah jalan umum, seolah ingin menghindari pertanyaan
berikutnya.
Peristiwa ini membuat saya berpikir apakah Pak Mian takut dipungut pajak
atau takut ditata seluruh harta kekayaannya, entahlah..., ataukah ada persaingan
usaha antara sesama penduduk di Kampung Buher. Kemudian saya mengingat
bahwa kami tinggal di rumah Pak Warsan yang juga menurut penduduk kampung
diberi label ‘orang kaya’ dan memiliki sebuah traktor dan juga penggilingan padi.
Saya juga bertanya dalam hati apakah ada prilaku saya yang salah atau
kurang sopan. Namun ketika saya melihat beliau lebih banyak membuang muka dan
duduk tidak tenang sambil terus memalingakan wajah ke pabrik penggilingan padi
yang sedang beroperasi, maka tidak lama kemudian saya mohon pamit. Saya
menyalam Pak Mian sambil membungkukkan badan dan mengucap ‘maturnuhun
Bapak’, serta sedikit menyunggingkan senyum, lalu berpamitan dan menunggu rekan
saya Ibu Dewi. Untuk peristiwa ini, saya menghibur diri dengan menganggap bahwa
informan saya sudah terlalu tua, mempunyai masalah dengan pendengaran dan
mungkin Pak Mian merasa risih berdekatan dengan wanita muda, ataukah ini seperti
yang dikatakan Bgdan (1993:84) bahwa masyarakat umumnya menghindari
interaksi dengan orang asing pada hari-hari permulaan karena dipandang tidak
perlu. Tetapi hari itu saya tidak kecewa sepenuhnya. Hari itu merupakan hari yang
2002 digitized by USU digital library
4
sangat baik sebagai persiapan untuk melewati hari berikutnya. Saya mendapat
pelajaran yang sangat berharga dalam menghadapi seorang informan.
Malam harinya, saya memeriksa kembali catatan-catatan lapangan saya hari
itu. Saya memperbaiki beberapa pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal apa saja
yang akan ditanyakan sehubungan dengan tugas saya. Saya juga harus lebih hatihati lagi dalam memilih informan, waktu wawancara dan mengembangkan teknikteknik bertanya yang lebih baik. Kejadian dengan Pak Mian itu mungkin terjadi
karena kesalahan saya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Spradley (1979:46)
bahwa banyak kesalahan-kesalahan dalam wawancara disebabkan dari perbedaanperbedaan identitas, rintangan budaya, kepribadian yan tidak sesuai dan tidak
dipunyainya keahlian orang per orang (dari sudut si pewawancara).
Spradley (1979:46) juga menambahkan bahwa mewawancari informan
tergantung kepada kemampuan (keahlian) pewawancara yang meliputi; kemempuan
bertanya, bertindak sebagai pendengar dan bukannya pembicara, mengambil peran
yang pasif, menunjukkan ketertarikan melalui kontak mata dan bahasa nonverbal
lainnya. Beberapa keahlian di atas perlu dikembangkan untuk menciptakan suatu
situasi wawancara yang menyenangkan, sebab dari informanlah kita memperoleh
informasi atau data. Spradley (1979: 25) menyebutkan bahwa informan adalah
sumber informasi, mereka adalah guru bagi seorang etnografer.
E. Kesabaran dan Kendala Bahasa yang Melelahkan
Bahasa adalah satu kendala yang sedikit menganggu kelancaran wawancara
saya. Saya tidak dapat mengerti bahasa Sunda dengan baik. Sementara itu,
sebahagian besar penduduk kurang dapat berbahasa Indonesia dengan lancar.
Sebahagian besar wawancara cenderung terganggu oleh kendala bahasa ini,
terutama dengan munculnya terminologi-terminologi atau istilah-istilah khusus dari
informan. Istilah ini sendiri tidak dapat dijelaskan oleh informan dengan baik dalam
bahasa Indonesia. Hanya dengan informan kunci kendala ini dapat teratasi,
selebihnya dibutuhkan kerja keras dari saya dengan cara mengganti beberapa
pertanyaan atau menanyakan beberapa hal lain yang berhubungan dengan topik
utama data yang dibutuhkan.
Pengalaman ini saya dapatkan pada waktu berbicara dengan Pak Amin (30
tahun) yang seorang ‘pemaro’ (buruh tani). Waktu itu tanggal 17 Juli 1996 berkisar
pukul 15.30 Wib. Wawancara dilakukan dekat dengan lokasi pabrik Pak Mian.Siang
itu Pak Amin sedang istirahat setelah selesai mengantarkan padinya ke penggilingan
padi. Saya menghampirinya tanpa terlebih dahulu membuat janji untuk wawancara,
memberi salam dan Pak Amin mempersilahkan saya duduk di sampingnya. Dengan
sedikit perkenalan dan menjelaskan maksud saya, kami terlibat percakapan yang
menurut saya sangat ’berat’. Saya harus mengulang dua kali untuk pertanyaan yang
sama, karena Pak Amin tidak mengerti apa yang ditanyakan. Hal ini saya sadari
ketika saya bertanya apakah Pak Amin sebagai ‘pemaro’ dan Pak Mian sebagai
pemilik lahan yang digarapnya masih memiliki hubungan kerabat. Namun, jawaban
yang saya terima adalah jumlah anak Pak Mian dan lokasi tempat tinggalnya saat ini.
Untuk ini saya harus mengulang sekali lagi pertanyaan dengan maksud yang sama
tetapi dengan kalimat yang berbeda, “apakah Pak Mian itu paman atau mertua
Bapak?”. Kali ini beliau dapat menjawab dengan baik dan memberi penjelasan yang
panjang lebar.
Setelah situasi akrab seperti itu, tibalah giliran saya yang tidak mengerti
sepenuhnya penjelasan Pak Amin. Sebab, dalam menerangkan hubungan kerabat
atas dasar genealogis itu, Pak Amin menggunakan istilah-istilah lokal yang tidak
2002 digitized by USU digital library
5
saya mengerti. Dengan demikian, walaupun telah membuat catatan bagan hubungan
kekerabatan, tetap saja sulit untuk menempatkan istilah tersebut dalam bagan
secara tepat. Ketika saya tanyakan kembali, jawabannya tetap sama. Untuk kali ini,
saya tidak menyertakan seorang penterjemah karena wawancara yang berlangsung
merupakan wawancara yang tidak direncanakan sebelumnya. Dalam kasus ini, saya
mencatat istilah itu dan menanyakan artinya pada informan kunci.
Hal yang sama juga terjadi pada saaat wawancara dengan Pak Roji (45
tahun). Beliau seorang kepala tandur. Materi yang ditanyakan berkisar mengenai
perkembangan kelompok anggota penandur. Juga ketika wawancara dengan Pak
Tayu (50 tahun) mengenai kegiatan pertanian. Begitu pula wawancara dengan Pak
Encip (30 tahun) ketika bercerita tentang perubahan sistem pemanenan.
Untuk hal ini,saya harus bekerja dua kali dengan cara menanyakan kembali
ungkapan atau istilah itu kepada informan kunci atau penduduk lain yang dapat
berbahasa Indonesia sekaligus sebagai ‘re-check’ atas informasi yang telah
diperoleh. Sehubungan dengan hal ini, saya mengingat apa yang dikatakan Bogdan
(1993:101), telitilah ungkapan-ungkapan orang secara hati-hati; apa maksudnya itu,
siapa yang memakainya, apa itu berupa asumsi umum, dalam konteks apa istilah itu
dipakai, di bawah situasi bagaimana dipakai, apa istilah itu ditujukan kepada orang
atau kepada barang ?. Dalam hal ini dapat saja kata itu merupakan ‘kata kunci’ yang
dapat membantu menjelaskan suatu fenomena.
Rasa kurang puas atas hasil wawancara selalu saja timbul walaupun dalam
wawancara berikutnya saya menggunakan seorang penterjemah, namun selalu saja
ada beberapa hal yang sulit bagi saya untuk dipahami. Namun, saya berusaha untuk
tidak terlalu menghujani mereka dengan berbagai pertanyaan selanjutnya, karena
saya khawatir mereka menjadi bosan. Sebagaimana yang dikemukakan Bogdan
(1993:104) bahwa dibutuhkan kesabaran dalam mencari informasi, banyak peneliti
kurang sabar, mereka memberi pertanyaan-pertanyaan dan memburu informasi dari
satu topik ke topik lain atau memaksa para subjek agar berbicara berbagai masalah.
Hal ini perlu dipertimbangkan untuk melihat bagaimana penerimaan subjek atas
peneliti.
Sikap kurang sabar ini tanpa saya sadari pernah saya lakukan ketika
mewawancarai Pak Ralim (35 tahun) untuk yang ke dua kalinya. Pada perbincangan
pertama, beliau sangat ramah karena saya lebih bersifat mendengarkan. Jika
bertanya, saya menunggu penjelasannya selesai terlebih dahulu. Sikap seperti ini
seyogyanya tetap saya pertahankan. Seperti kata Spradley (1979:46; 1980:3)
bahwa sikap yang dilakukan peneliti adalah mendengarkan dan belajar dari
masyarakat setempat. Namun pada perbincangan ke dua, tanpa sadar dan dengan
bersemangat saya langsung memotong pembicaraan Pak Ralim begitu beliau
mengucapkan istilah dalam bahasa Sunda yang kurang saya mengerti. Untuk kali
pertama dan yang ke dua dengan tersenyum dan suara yang tetap bersemangat
beliau tetap memberi penjelasan. Untuk kesekian kalinya Pak Ralim masih tetap
menjawab dengan baik, tetapi setelah itu beliau memilih diam dan tidak melanjutkan
lagi keterangannya. Akhirnya saya harus memberi pertanyaan lagi dan jawaban
berikutnya diberikan dengan suara yang lebih rendah. Pak Ralim juga sudah mulai
menarik-narik sarungnya dan memanggil kerabatnya lalu berbicara dalam bahasa
Sunda yang tidak saya mengerti. Kemudian beliau bertanya sambil mengernyitkan
alis “masih ada lagi yang mau ditanyakan?”. Dengan sangat sopan sayapun
menjawab “cukup untuk hari ini Pak, saya mohon maaf jika ada kata-kata yang
kurang sopan”, lalu mengucapkan terimakasih dan berpamitan pulang.
2002 digitized by USU digital library
6
Dari pengalaman ini, saya belajar bagaimana sebaiknya memotong
pembicaraan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Whyte (1960:335 dalam Bernard
1994:219) ‘learn to interupt gracefully’; perlu dipelajari cara memotong penjelasan
tanpa menimbulkan kebencian dan jangan memotong secara tiba-tiba.
Disamping itu saya juga menemukan perbedaan makna yang mereka gunakan
dari satu kata dengan makna yang saya pahami. Seperti kata paceklik. Menurut yang
saya pahami, paceklik diartikan sebagai kegagalan panen. Pak Mardi (kepala
Lingkungan Buher) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan paceklik adalah masa
dimana tidak ada pemotongan padi, yaitu masa sesudah dan sebelum panen.
Sedangkan masa kegagalan panen disebut dengan bapuk atau puso.
Pengalaman ini mengingatkan saya akan apa yang diungkapkan oleh Bogdan
(1993:98) bahwa aspek yang paling penting adalah bahasa, peneliti harus berangkat
dari pokok pikiran bahwa bahasa atau simbol-simbol yang dipakai dalam dunia
mereka dapat mempunyai makna yang berbeda dengan yang dikenal peneliti. Hal ini
senada dengan yang dijelaskan oleh Spradley (1979:17) bahwa bahasa adalah alat
untuk membangun realitas, bahasa yang berbeda-beda menimbulkan dan
memperlihatkan realitas yang berbeda pula.
Kendala bahasa ini menyebabkan kekurangmampuan saya untuk mengerti
nuansa-nuansa makna dari istilah yang mereka gunakan. Keterbatasan ini juga yang
membuat saya kurang memahami emosi-emosi mereka sewaktu menjelaskan
bagaimana susahnya atau gembiranya mereka dalam menghadapi suatu persoalan
atau situasi.
F. Kepura-puraan yang Menyenangkan dalam Membina Hubungan Baik
Ternyata tidak mudah untuk membina hubungan yang ‘dekat’ (rapport)
antara peneliti dan masyarakat. Hubungan yang ‘dekat’ ini merupakan suatu hal
yang mutlak dan perlu dalam suatu penelitian. Seperti yang dikemukakan oleh
Spradley (1979:25) bahwa seorang etnografer selayaknya bekerja sama dengan para
informannya sebab kelulusan penelitian tergantung dari sifat hubungan ini. Dengan
hubungan yang baik, maka dapat diciptakan apa yang disebut ‘friendly conversation’
(Spradley 1979:55), yaitu perbincangan yang lebih bersahabat sehinggga dapat
menghindari jarak antara peneliti dan penduduk.
Bagi saya, apa yang disebut dengan ‘cultural approach’ (pendekatan budaya)
sudah sangat tipis kemungkinannya mengingat kendala utama saya adalah bidang
bahasa. Dari segi penguasaan bahasa lokal jelas poin saya sangat rendah. Saya
hanya mampu mengucapkan beberapa kalimat yang sederhana, seperti sapaan kalau
berpapasan di jalan, ucapan terimakasih, salam pertemuan dan sejenisnya. Cara lain
yang saya handalkan hanyalah dengan menunjukkan sikap yang bersahabat. Dalam
rangka cara inilah yang saya maksudkan menunjukkan minat dan perhatian, yaitu
perhatian dalam hal apa saja yang meliputi kehidupan masyarakat setempat.
Dalam rangka perhatian ini pula saya harus mengembangkan suatu sikap
kepura-puraan. Salah satu contohnya adalah pada saat saya mencoba menarik
perhatian seorang Ibu penjual kue (Ibu Ac) yang menjajakan dagangannya keliling
kampung. Pada waktu lewat di depan pondokan kelompok kami (kelompok IV),
beliau sepertinya berteriak lebih keras sambil memalingkan wajahnya ke pondokan
kami. Saya dan rekan saya Ibu Dewi memanggil Ibu Ac. Kami membeli beberapa
potong kue dan langsung mencicipinya di depan Ibu tersebut sambil berguman
dengan mengangkat alis seolah sangat menikmati “hmm... enak”. Saya menambah
dua potong kue lagi walaupun kemudian saya tidak memakannya. Secara bersamaan
2002 digitized by USU digital library
7
senyum Ibu Ac tidak hanya sekedar tersungging tetapi melebar sambil; berucap
maturnuhun neng, lalu memberi kami uang kembalian pembayaran kue. Kami tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat jadwal wawancara dengan beliau.
Demikian juga suatu siang selesai berjalan-jalan (19 Juli 1996). Ketika
hendak menuju podokan, saya mampir di warung Pak Kanta untuk membeli air sosro
dingin. Karena bercampur lapar, saya meminta Ibu Kanta untuk mengambilkan
sebuah pisang goreng. Tetapi ketika saya melihat pisang goreng yang berada dalam
wadah itu telah dihinggapi beberapa ekor lalat, saya berkelit agar diberi beberapa
potong pisang goreng yang masih panas. Saya meminta yang telah dingin agar
dibungkus untuk dibawa pulang. Syukurlah secara kebetulan masih ada di
penggorengan yang belum matang.
Sikap seperti ini diperlukan untuk menjaga dan membina hubungan baik
dengan informan. Sebagaimana yang diungkapkan Spradley (1979:78) bahwa
‘rapport’ diartikan sebagai hubungan yang harmonis antara peneliti dan etnografer.
Tetapi perlu juga diingat apa yang dikemukakan Vredenbregt (1984:90) bahwa pada
hakekatnya pewawancara selalu akan menjaga untuk memepertahankan rapport
yang baik, tetapi sekali lagi perlu diingat bahwa rapport yang baik bukanlah tujuan
dari wawancara, tujuan dari wawancara adalah untuk memperoleh data.
Banyak kepura-puraan lain yang harus ditampilkan, misalnya kemurahan
senyum, keramahan bertegur sapa dan sejenisnya. Dalam membina rapport yang
baik, pada saat-saat tertentu saya ikut bergabung bersama beberapa kelompok ibuibu di warung Pak Kanta dekat jembatan. Warung itu cenderung ditunggui oleh isteri
beliau dan seorang anak perempuannya yang telah menikah. Sambil duduk-duduk,
saya menanyakan beberapa kata bahasa Indonesia dalam bahasa Sunda dan
mencobanya. Mendengar pengucapan saya, mereka tertawa karena bagi mereka
pengucapan itu sangat kaku . Tetapi saya melihat mereka cukup memberi respon
yang baik karena sikap ingin tahu saya, ingin belajar dari mereka. Hal yang
terpenting adalah menunjukkan minat dan perhatian dalam setiap perbincangan
mereka. Kadangkala terselip juga kisah sedih dan gosip-gosip di antara mereka
sesama wanita. Saya merasa perlu menimpali sesekali dan menunjukkan sikap yang
bersemangat. Perbincangan itu sangat menarik bagi saya. Saya menemukan
beberapa isyu kecemburuan dan persaingan yang sifatnya spontan tanpa direkayasa
yang secara tidak sengaja terselib di antara obrolan mereka. Isu itu cenderung
mengenai harta, kesuksesan, kecantikan dan beberapa hal lain.
Bogdan juga memberikan masukan dalam rangka membina hubungan baik
dengan masyarakat ini. Menurut Bogdan (1993:84) agaknya berguna bagi peneliti
untuk menempatkan dirinya dalam posisi setengah-setengah (tidak menonjolkan
diri), seperti ikut berkumpul dalam aktivitas yang tidak resmi, misalnya di warungwarung atau acara minum kopi. Partisipasi ini dapat mengurangi perasaan canggung
dan menambah keakraban.
Malinowski (1961) juga mengemukakan pengalamannya di Trobriand. Dia
mengatakan bahwa menunjukkan minat dalam setiap perbincangan dan
perkembangan yang berlaku di kampung, ikut aktif dalam aktivitas mereka, seperti
upacara-upacara atau kegiatan lain. Partisipasi ini perlu dikembangkan untuk
menjalin hubungan dengan mereka, dimana hubungan baik ini merupakan suatu
kondisi penting untuk suatu penelitian (Malinowski 1961:7-8).
G. Sulitnya Menghindari Penilaian Subjektif dan Persoalan Etik - Emik
2002 digitized by USU digital library
8
Saya tidak menyangkal bahwa bagaimanapun kecilnya, unsur subjektifitas
dapat muncul dalam suatu laporan penelitian. Walaupun penulis dapat menghindari
analisa yang menyesatkan hasil penelitian tersebut. Dalam setiap wawancara selama
sepuluh (10) hari (15 Ju;i - 24 Juli 1996) dalam latihan penelitian ini, kadangkala
ada beberapa hal yang bergejolak dalam diri saya. Saya sangat tidak setuju dengan
beberapa sikap masyarakat setempat. Terutama kaum wanita yang bersikap biasa
saja dan merasa suatu hal yang lumrah jika mereka dimadu (untuk isteri pertama).
Begitu juga bagi wanita lain yang dijadikan isteri ke dua. Mereka menganggap itu hal
yang biasa dan tidak merasa malu menjelaskan kisahnya kepada saya. Malahan
terdapat dua orang isteri tinggal dalam satu rumah bersama satu orang suami
mereka, seperti keluarga Pak Dudung.
Kagum ..., saya sangat terpesona dengan sikap seperti itu. Namun, saya tidak
bisa membohongi diri saya. Saya memberikan penilaian, “ah sayang sekali,
segampang itu mereka mau melakukannya, jika si suami menginginkannya untuk
bercinta, maka mereka mengunjunginya, jika bosan ditinggal, kasihan nasib
mereka.” Hal seperti ini juga dialami oleh seorang informan wanita bernama Sn,
seorang sinden (penari/penyanyi) yang telah menikah sebanyak dua kali. Begitu
perasaan itu muncul, pertanyaan dalam wawancara saya sudah sedikit menyimpang
dan lebih banyak terarah kepada perasaan informan sebagai wanita.
Salah satu wawancara saya yang berlangsung demikian adalah dengan
Ny.Km (45 tahun). Beliau telah dimadu oleh suaminya sebanyak dua kali. Sesudah
kembali ke pondokan, saya merasa lucu dengan sikap saya. Apakah layak saya
mempertahankan sikap seperti ini dengan pandangan demikian. Saya menyadari
bahwa perasaan itu harus dibuang jauh-jauh. Saya menyadari bahwa saya datang
ke Lingkungan Buher untuk latihan penelitian dan yang saya alami ini hanyalah salah
suatu akibat yang dapat membawa konsekuensi buruk terhadap hasil peneltian.
Haluan saya putar, dan wawancara berikutnya dapat dilakukan lebih terarah. Saya
juga mendapat beberapa masukan dan saran dari teman-teman kelompok untuk
mengantisipasi hal yang saya alami.
Para wanita di Lingkungan Buher menilai bahwa perkawinan dengan dua isteri
merupakan hal yang biasa terjadi. Kelumrahan ini lebih dapat ditoleransi terutama
jika hal itu terjadi kepada mereka yang berprofesi sebagai sinden (penari/penyanyi).
Sinden-sinden muda cenderung identik dengan kehidupan perkawinan candung,
yaitu sebagai isteri simpanan atau isteri ke dua. Pernikahan para sinden ini
sebahagian besar berlangsung atas dasar pernikahan di bawah tangan dengan
disaksikan oleh Amil atau petugas dari KUA (Kantor Urusan Agama). Perkawinan
jenis ini tidak mempunyai akte nikah di catatan sipil dan tidak mempunyai kekuatan
hukum. Jika terjadi perceraian si isteri dan anaknya tidak berhak dan tidak dapat
menuntut hak waris dari suami.
Untuk kasus seperti ini kiranya sikap yang baik adalah seperti apa yang
dikatakan Bogdan (1993:38) bahwa kita mendengarkan mereka dari suara hati
mereka sendiri dan dari pengalaman mereka sendiri meskipun kita tidak menerima
wawasan mereka sebagai suatu kebenaran, namun pengembangan sikap empati
memungkinkaan kita memahami dunia mereka dari pandangan mereka sendiri.
Dalam hal ini, Boas (dalam Pelto &Pelto 1989:77-78) juga menyebutkan;
“...sekiranya kita benar-benar bertujuan untuk memahami pemikiran manusia, maka
seluruh analisa pengalaman mestilah diasaskan pada konsep mereka dan bukannya
konsep kita.”
Untuk masalah seperti ini, dalam pendekatan antropologi disarankan
hendaknya peneliti menggunakan pendekatan ‘emik’; menjelaskan sesuatu hal
2002 digitized by USU digital library
9
menurut pandangan masyarakat setempat. Pelto dan Pelto (1989:76) menyebutkan
bahwa masalah kita (para antropolog) lahir karena lemahnya strategi pengkonsepan
yang digunakan dalam kebanyakan uraian-uraian etnografi. Tingkah laku
kebudayaan sebaiknya dikaji dan dikategorikan mengikut pandangan orang yang
dikaji itu sendiri, defenisi yang diberikan oleh si pelaku yang mengalami peristiwa
itu. Disebutkan bahwa pengkonsepan perlu dilakukan dan ditemukan dengan cara
menganalisis proses kognitif masyarakat yang dikaji dan bukan dipaksakan secara
etnosentrik. Pandangan ini disebut sebagai ‘etnografi baru.’
Unsur subjektifitas yang saya bicarakan sebenarnya sedikit berbeda dengan
pendekatan etik dan emik. Tetapi dengan menekankan pada pendekatan emik
(‘native point of view’) seorang etnografer dapat menghindari atau setidaknya dapat
mengurangi masuknya hal-hal subjektifitas dalam analisa data. Koentjaraningarat
(1982) mencoba menjelaskan permasalahan ini sebagai aspek manusia dalam
penelitian masyarakat. Koentjaraningrat (1982:viii-ix) menjelaskan bahwa masalah
yang dihadapi seorang antropog adalah menyangkut masalah penyesuaian
pandangan emik dari para informan, responden dan warga masyarakat dengan
pandangan etik dari peneliti terhadap topik serta soal-soal yang sedang ditelitinya.
H. Seorang Etnografer yang Baik
Ternyata untuk memahami salah satu bahagian saja dari suatu kebudayaan,
maka seorang peneliti harus melihat secara keseluruhan dalam konteks sosio kultural
suatu masyarakat yang hendak diteliti. Hal ini begitu jelas saya rasakan ketika harus
memahami sejak kapan kegiatan-kegiatan non-pertanian di Lingkungan Buher mulai
banyak dilakukan oleh penduduk setempat.
Dalam rangka memahami munculnya kegiatan-kegiatan non-pertanian, saya
harus melihat sejarah perkembangan kota-kota di sekitar Buher atau sekitar
kelurahan Karangpawitan. Faktor eksternal juga harus diperhitungkan, yaitu sejak
kapan maraknya atau akrabnya penduduk dengan produk-produk elektronika, seperti
radio dan televisi yang memberikan banyak informasi.
Dari segi faktor internal, saya harus memperhatikan perkembangan tingkat
pendidikan dan hubungan Lingkungan Buher dengan lingkungan lain dan di luar
kelurahan mereka. Misalnya, terjadi perubahan status kepemilikan tanah. Banyak
orang-orang dari luar Lingkungan Buher bahkan dari kecamatan lain ataupun dari
Bekasi dan Jakarta yang membeli tanah di Buher sebagai akibat dari banyaknya
penggusuran di Bekasi. Dengan uang ganti rugi yang diterima, orang dari luar Buher
dapat membeli tanah yang cukup luas di Buher. Seiring dengan itu tertjadi pula
perubahan orientasi bagi kaum muda. Kaum muda cenderung enggan bekerja di
sawah dan memilih bekerja di pabrik-pabrik yang berkembang pesat di wilayah
Kecamatan Karawang, terutama sejak awal tahun 1990-an. Beberapa kaum muda ini
cenderung memberi alasan dengan mengatakan, “ kerja di sawah mah capek, hitam
kulit.” Beberapa ibu-ibu muda yang enggan bekerja di sawah juga mengemukakan
alasan dengan nada yang tidak jauh berbeda, “kalau nyawah ya capek, hitam,
hasilnya lama, juga tidak punya sawah sendiri, harus maro.”
Dari kejadian itu, saya merasa sulit untuk memformulasikan data yang saya
miliki pada awalnya. Berkat kerja sama tim kelompok IV yang cukup baik, kami
dapat memecahkan masalah-masalah itu satu per satu. Setelah berdiskusi bersama,
kami menemukan bahwa terdapat beberapa data yang tadinya kami rasa kurang
perlu pada awalnya ternyata dibutuhkan untuk menjelaskan beberapa hal.
2002 digitized by USU digital library
10
Dengan pengalaman ini, saya menyadari bahwa sulit untuk memahami suatu
fenomena. Walaupun kita sudah berada dekat bahkan di dalam fenomena itu dan
hadir di tengah-tengah orang-orang yang mengalaminya. Dari kejadian itu, saya
menemukan bahwa banyak rangkaian-rangkaian peristiwa lain yang harus saya
ketahui untuk menjelaskan suatu fenomena. Kemudian saya berkata dalam diri saya
sendiri, kiranya benar yang selama ini saya dengar dan baca bahwa seseorang yang
hendak menjadi etnografer yang baik dan tertarik pada lingkungan kebudayaan
tersebut perlu melibatkan rangkaian dari sekumpulan aspek budaya seluas mungkin.
Seperti apa yang dikemukakan Spradley (1980:3) bahwa etnografi adalah pekerjaan
menggambarkan kebudayaan. Tujuan utama dari etnografi adalah untuk memahami
cara-cara kehidupan lain dari sudut pandang masyarakat. Membuat suatu etnografi
tidak saja berarti kita mempelajari suatu masyarakat, etnografi berarti belajar dari
masyarakat.
Menjadi seorang etnografer yang baik ternyata tidak cukup hanya dengan
persiapan seperti yang saya lakukan untuk penelitian singkat ini. Hendaknya saya
lebih banyak lagi mempersiapkan pengetahuan mengenai latar belakang budaya
orang-orang Karawang, sehingga tidak terlalu sulit bagi saya untuk menemukan
makna dari perilaku mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Spradley (1975:69)
bahwa tujuan pendekatan etnografi adalah menemukan makna yang tersembunyi
yang terletak dibelakang perilaku dan pengetahuan yang digunakan untuk
menghasilkan dan menginterpretasikan perilaku.
Penelitian tidak hanya sekedar melakukan observasi, menerangkan perilaku
yang terlihat dan lingkungan fisik tanpa memperhatikan makna dari hal-hal tersebut
bagi anggota masyarakat itu. Dalam hal ini Agar (1980:77-81) mengatakan bahwa
tujuan etnografi adalah belajar untuk memperoleh pengetahuahn yang belum
diketahui dan tujuan seperti ini bergantng kepada gagasan mengenai urusan yang
menekankan pentingnya proses menginterpretasi mengenai segala sesuatu yang
menjadi perhatian; mengenai alam, gerak dan lain-lain. Ditegaskan bahwa, seorang
etnografer pada hakekatnya melakukan pekerjaan mentransformasikan observasiobservasi yang dilakukan ke dalam bentuk tulisan (laporan) yang dikategorikan
sebagai suatu proses. Sementara itu Spradley (1979:22) menyebutkan bahwa setiap
hasil etnografi adalah merupakan sebuah terjemahan, penulisan kembali dari datadata yang diperoleh dengan bahasa si peneliti.
Pada proses pentransformasian ini, saya juga mengalami apa yang
dikemukakan oleh Agar (1980:74-76) bahwa dalam penulisan etnografi dapat terjadi
perubahan arti dari data yang sesungguhnya di hasil laporan, yaitu pada proses
mentransformasikan data lapangan yang diperoleh ke dalam bentuk laporan. Saya
menyadari kebenaran dari apa yang dikemukakan oleh Agar (1980). Saya alami
ketika saya mulai menulis laporan perdana di lapangan pada tanggal 17 Juli 1996
(pukul 21.00 Wib) mengenai perkembangan sistem maro dan dinamika kepemilikan
tanah. Untuk hasil tulisan perdana ini, saya sendiri sangat kurang puas, terutama
setelah saya baca ulang. Keesokan harinya saya sesuaikan lagi dengan beberapa
hasil wawancara lain dan terdapat beberapa kekeliruan yang saya lakukan. Hal ini
dapat terjadi karena kurangnya pemahaman saya mengenai siklus kegiatan pertania
mereka. Dari sini saya banyak belajar tentang cara-cara menjadi seorang etnografer
yang baik sebagaimana yang diungkapkan Spradley (1972). Sparadley mengatakan
bahwa cara terbaik untuk belajar melakukan etnografi adalah dengan melakukannya.
Mudah-mudahan ini menjadi pengalaman berharga bagi saya di kemudian hari.
I. Kiat memperoleh Informasi Tertutup dan Memecah Kebekuan
2002 digitized by USU digital library
11
Dalam suatu wawancara adakalanya beberapa hal yang sifatnya rahasia sulit
untuk ditanyakan dan informan enggan menjawab. Hal ini kami alami pada waktu
mewawancarai seorang sinden (penari dan penyanyi kesenian Sunda) dengan satu
anak bernama Sanah (26 tahun). Pada saat akan membuat perjanjian untuk
wawancara, kami membuka pertemuan dengan satu pertanyaan yang berhubungan
dengan hal yang akrab dengan kehidupan Sanah, “apakah masih menjadi sinden?”.
Sanah menjawab’ “tidak,suami saya melarang, itu dulu.” Ketika kami (saya dan Ibu
Dewi) meminta kesediaannya untuk berbincang-bincang dan mengatakan bahwa
yang kami butuhkan hanya apa yang Sanah lihat tentang penampilan para sinden,
beliau tidak menolak, “tetapi tidak hari ini”, begitu katanya. Cara seperti ini perlu
untuk mendapatkan kesediaan seseorang sebagai informan. Sebagaimana yang
dikemukakan Bernard (1984:210) bahwa langkah terpenting untuk diambil ketika
memulai wawancara dengan informan untuk pertama kali adalah menjelaskan bahwa
yang kita ingin ketahui adalah sangat sederhana yaitu mengenai apa yang mereka
pikir dan apa yang mereka amati.
Melihat sikap Sanah yang sangat tertutup walaupun beliau bersedia
diwawancarai, saya mencoba menjumpai ibunya di warung untuk mendapatkan
informasi tentang Sanah. Selama ini hubungan kami dengan Ibu Sanah sudah sangat
baik sekali. Satu saja pertanyaan saya, “saya dengar Sanah itu dulu seorang sinden,
apakah suaminya mengijinkan dia tetap nyinden setelah menikah?”. Jawaban yang
saya terima dari sang Ibu sangat panjang. Sambil menggoreng pisang dan tempe, si
Ibu menjelaskan kisah perkawinan anaknya. Dari Ibunya ini kami mengetahui bahwa
suami Sanah sudah tidak kelihatan lagi. Suami Sanah tidak pernah lagi datang
mengunjunginya, dan dalam waktu dekat Sanah akan nyinden lagi untuk memancing
kembalinya sang suami kepadanya dan anaknya.
Cara ini menurut Bogdan (1993:105) merupakan suatu taktik khas yang
dapat dipakai peneliti untuk memperoleh informasi yang sulit dijangkau. Dari jenis
perbincangan seperti ini, informasi yang diperoleh dapat dipergunakan sebagai
langkah awal untuk memperoleh iformasi selanjutnya dari Sanah sendiri.
Wawancara itu akhirnya dilakukan juga di rumah Sanah. Sanah didampingi
oleh Bapaknya (Pak Kamta). Sebelum perbincangan dimulai, saya menanyakan
kepada Sanah apakah dia tidak keberatan apabila kami membuat catatan.
Permohonan izin dari informan seperti ini perlu dilakukan sebagaimana yang
dikemukakan Bernard (1984:210), katakan kepada informan untuk permisi membuat
catatan, dan ini sangat vital karena tanpa catatan dalam kebanyakan kasus, nilai
dari wawancara tidak akan dapat maksimal. Bernard (1984:181) juga melanjutkan
bahwa memori atau ingatan manusia adalah sangat miskin untuk merekam tandatanda, khususnya bentuk-bentuk detail dari data.
Perbincangan dilakukan sembari Sanah menyuapi anak laki-laki tunggalnya
makan siang, namun suasanya sedikit agak kaku. Sanah hanya menjawab singkat
dan lebih banyak menjawab “enggak tahu ya, memang sudah begitu dari dulu.” Pada
kesempatan ini, rekan kami yaitu Pak Edi menawarkan Sanah untuk
mempertunjukkan kebolehannya dengan berjanji memberi imbalan. Kesepakatan ini
disetujui Sanah.
Keesokan harinya, setelah Sanah mempertunjukkan kebolehannya (21 Juli
1996), sikapnya telah berubah. Sanah mulai sering menyapa kami. Jika berbicara,
Sanah juga mulai memegang pundak saya atau Ibu Dewi dan tidak malu untuk
tertawa terbahak-terbahak. Sepertinya Sanah merasa lebih ‘dekat’ dengan kami dari
sebelumnya.
2002 digitized by USU digital library
12
Ketika kami melakukan wawancara ke dua, Sanah lebih bersemangat
memberi informasi tentang profesi seorang sinden. Tetapi ketika pertanyaan
mengarah kepada kualifikasi dan teknik-teknik keberhasilan seorang sinden, kembali
suasana menjadi sedikit kaku. Sanah hanya tersenyum dan menjawab “enggak tahu
ya, memang biasa begitu.” Saya juga tersenyum dan memandang wajahnya lalu
mulai lagi dengan kalimat baru bernada memuji penampilan Sanah yang
dipertunjukkannya bersama rekannya (Mbak Acih) dalam pertunjukan kemarin. Saya
mengatakan bahwa gerakan pinggul dan tangannya yang bagus. Sanah segera
bereaksi sambil tersenyum, “...ah tidak, kalau saya mah tidak pakai apa-apa, tapi
Acih pakai susuk di pipi.” Ketika ditanya tentang dirinya, dengan menundukkan
kepala sambil menunjukkan lengannya Sanah mengatakan bahwa dia memakai
susuk emas di lengan kanannya. Akhirnya Sanah menceriterakan bagaimana cara
seorang dukun memasang susuk tersebut dan pantangan yang tidak boleh dilakukan
dan dimakan oleh si pemakai susuk, serta mengapa seorang sinden cenderung
memakai susuk pada salah satu bagian tubuhnya.
Cara lain yang saya lakukan apabila perbincangan menjadi kaku adalah
dengan mengulang kembali ide terakhir dari si informan dan mengatakan “ saya
setuju, di kampung saya juga sama.” Saya berusaha merangsang kegairahan
informan dan memberi beberapa informasi serupa dengan membandingkannya
dengan daerah saya di Sumatera Utara. Misalnya dalam hal pemanfaatan lahan
setelah panen menunggu masa tanam berikutnya atau teknik penyiraman tanaman
di musim kering.
Hal ini saya lakukan beberapa kali sewaktu berbicara dengan Pak Wakil Mardi
beserta isterinya, Pak Warsan ataupun Pak Roji mengenai kegiatan pertanian yang
berhubungan dengan kegiatan non-pertanian. Informan cenderung kembali
bersemangat memberi penjelasan lanjutan dan ternyata banyak penjelasan baru
lainnya yang sifatnya sangat informatif. Dalam hal ini terbukti apa yang dikatakan
Bogdan (1993:89) bahwa tukar-menukar informasi sering menjadi sarana yang
berguna bagi peneliti untuk memecah kebekuan dan sekali kebekuan itu pecah,
mereka akan memberi kita informasi lainnya.
J. Data Cepat
Jalur cepat perolehan data kami tempuh dengan FGD (‘Focus Group
Discusion’). Pelaksanaan FGD itu dilakukan pada hari Kamis 18 Juli 1996. Pada pagi
hari, kami menjumpai Pak Wakil Mardi. Pak Wakil tidak ditempat. Kelompok kami
meminta Ibu Wakil untuk mengantar kami ke rumah Pak Ralim. Pak Ralim adalah
seorang Ketua RT 02/02. Kami meminta bantuan beliau untuk menghubungi
beberapa orang lagi yang dianggap mengetahui hal yang menjadi fokus diskusi.
Fokus diskusi yang akan dilaksanakan dalam FGD adalah mengenai
pembuatan peta lingkungan Buher, kepemilikan lahan persawahan, dan
perkembangan teknik pengolahan lahan. Data ini diharapkan dapat menjelaskan
rasio antara kebutuhan tenaga kerja pertanian, jam kerja yang dibutuhkan, dan
kondisi demografi yang ada. Data lain yang kami harapkan adalah mengenai
persentase kepemilikan lahan pertanian sawah, untuk melihat jumlah perbandingan
petani pemilik tanah dan petani yang tidak memiliki tanah. Data ini dibutuhkan
untuk mendapat gambaran mengenai dinamika intern yang mendorong timbulnya
kegiatan lain di luar bidang pertanian. Bagian data-data ini adalah tugas saya.
2002 digitized by USU digital library
13
Sebahagian dari pertanyaan dalam FGD difokuskan untuk memancing
pendapat, interpretasi atau perasaan informan mengenai transformasi pengetahuan
bidang pertanian. Dalam hal ini, tipe pertanyaan adalah terbuka, seperti yang
disebut oleh Dawson (1993:28) sebagai jenis pertanyaan yang ‘open-ended
question.’
FGD dilakukan pada pukul 19.00 Wib di rumah Pak Wakil Mardi (Kepala
Lingkungan). Penduduk lain yang hadir adalah; Ibu wakil, Pak Ralim (Kepala
RT02/02), Pak Warsan (mantan Kepala Lingkungan), sementara beberapa orang
lainnya berhalangan hadir. Dari pihak kelompok kami, saya dan Ibu Dewi yang hadir.
Beberapa anggota kelompok lainnya mengerjakan tugas mereka masing-masing
pada hari itu. Dalam pelaksanaan FGD itu, Ibu Dewi akhirnya asyik berbincang
berdua bersama Ibu Wakil tentang sistem kekerabatan. Tinggallah saya sendiri
beserta partisipan FGD kami.
Ditengah diskusi kami kedatangan tamu, Pak Encip. Beliau tidak diundang.
Secara kebetulan beliau mampir ke lokasi pertemuan. Pak Encip merupakan warga
masyarakat biasa tanpa mempunyai peranan khusus di Lingkungan Buher. Kiranya
Pak Encip dapat memberi informasi yang lebih pasti soal jumlah luas tanah yang
dimiliki penduduk dan juga mengenai perkembangan teknik pengolahan lahan. Untuk
keadaan seperti ini terbukti apa yang dikatakan Dawson (1993). Dawson
mengatakan bahwa kadang-kadang orang-orang yang kelihatannya kurang mampu
untuk memberi informasi ternyata dapat menjadi sangat berguna. Untuk itu perlu
disadari bahwa semua anggota masyarakat dapat mempunyai pengetahuan atau
pengaruh terhadap persoalan yang kita teliti (Dawson 1993:24). FGD ini selesai
sekitar pukul 21.15 Wib. Sebagai penutup Ibu Wakil menawarkan kopi dan teh manis
beserta kacang goreng untuk kami nikmati bersama.
K. Diary-ku Sayang Diary-ku Malang
Hubungan yang paling dekat secara pribadi dengan Saya di lapangan adalah
sesosok benda mati berukuran 8 x 15 cm dengan tebal sekitar 1/2 cm. Dialah diaryku. Termuat di dalmnya catatan-catatan pribadi tentang perasaan dan gejolak emosi
yang saya alami selama di lapangan. Saya selalu ‘mengunjunginya’ terutama di
malam hari setelah semua tugas saya selesai. Kadangkala saya ‘berbicara’
dengannya di sore hari, tepatnya pada saat waktu istirahat sembari menunggu saat
wawancara dengan informan.
Diary-ku sangat membantu dalam banyak hal, seperti yang diungkapkan oleh
Bernard (1994:183), diary sifatnya pribadi, akan menolong kamu dalam keadaan
kesepian, ketakutan dan emosi-emosi lain yang membuat penelitian lapangan jadi
sulit. Namun apa hendak dikata, sebahagian lembaran dari sahabat baikku itu telah
terlepas. Beberapa lembar telah hilang karena kekurang hati-hatian dalam
penyimpanan, dan yang tersisa berupa penggalan-penggalan ungkapan kegembiraan
dan kekesalan. Tersisa juga satu bagian mengenai kebimbangan saya ketika
memasuki lokasi penelitian. Saya merasakan adanya sedikit ketegangan, walaupun
Bogdan menghibur dalam penjelasannya dengan mengatakan bahwa pelaku
observasi yang masih baru selalu merasa canggung tentang bagaimana bisa masuk
ke berbagai situasi penelitian, seyogyanya dia (peneliti) berkeyakinan bahwa mereka
senang menerima penelitiannya (Bogdan 1993:68).
“Apakah saya rakus”, itu merupakan salah satu topik kecil dari lembaran
sahabat baikku yang masih tersisa. Kalimat itu saya tuliskan ketika saya merasa
bahwa beberapa informan kunci telah terlalu sering saya wawancarai, dan telah
2002 digitized by USU digital library
14
banyak informasi yang saya dapatkan darinya. Sementara itu, Spradley (1979:38)
memperingatkan penelliti agar jangan mengeksploitasi informan.
I. Penutup
Saya mendapatkan suatu pengalaman menarik selama penelitian singkat ini,
yaitu dengan membiarkan informan bercerita tanpa memotongnya.Ternyata banyak
informasi yang dapat diperoleh dan dapat ditanyakan kembali dari hal yang
diceriterakan oleh informan. Dalam hal ini tentu saja saya bersikap sebagai
pendengar budiman. Namun, untuk beberapa informan diperlukan kiat tertentu
untuk memotong pembicaraannya.
Pengalaman singkat ini ternyata membuahkan sebuah kisah panjang.
Pengalaman berharga ini tidak hanya dapat saya nikmati. Orang lain juga dapat
memetik buah pengalaman itu melalui karya tulis ini. Ternyata untuk menjadi
peneliti yang handal bukanlah suatu profesi yang gampang dan tidak dapat diperoleh
dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi jika si peneliti berkeinginan untuk
memperoleh hasil yang valid dan terbebas dari nilai-nilai bias.
Kebersamaan, kerjasama, keceriaan, kegagalan, kekesalan, dan juga
kesuksesan berbaur menjadi satu selama sepuluh hari yang begitu berarti. Sepuluh
hari itu juga sekaligus menjadi hari-hari yang menegangkan. Sepuluh hari itu juga
dapat menjadi kebahagiaan apabila kita menikmati apa yang kita kerjakan dan apa
yang kita peroleh selama perjalanan sang waktu, dari detik ke detik hingga
memasuki tahap akhir.
-------------------Daftar Pustaka
Agar, Michael H
1980 The Professional Stranger :An Informal Introduction to Ethnography. Orlando:
Academic Press Inc.
Bernard, H. Russel
1984 Research Methods Anthropology, Qualitative and Quantitative Approach.
second edition. Thousands Oaks, Londond, New Delhi: SAGE Publication.
Bogdan, R & Taylor Steven, J.
1983 Kualitatif : Dasar - Dasar Penelitian ( terjemahan ). Judul Asli : Introduction
to Qualitative Research Methods. Surabaya: Usaha Nasional.
Chambers, Robert
1983 ( 1932 ) Pembangunan Desa: Mulai Dari Belakang ( terjemahan ). Judul Asli,“
Rural Development Putting the Last First.“ Jakarta: LP3ES.
Dawson, Susan and Manderson, Lenore and Tallo, Veronica, L,.
1983 A Manual for The Use of Focus Groups. Boston: INFDC.
Geertz, Hildred
1983 Keluarga Jawa ( terjemahan ). Jakarta: Grafiti Pers.
Koentjaraningrat dan Emmerson, Donald, K, ( ed )
2002 digitized by USU digital library
15
1982 Aspek Manusia dalam Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia..
Malinowski, B
1950 Agronauts of the western pacific. New York: E.P. Dutton & co.
Pelto, P,.J,. & Pelto G,.H,.
1989 Penyelidikan Antropologi; Struktur Penelitian ( terjemahan ). Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Spradley, J.P and D.W. Mc Curdy
1975 Anthropology The Cultural Perspective. New York: John Wiley & Sons. Inc.
Spradley, James, P.
1979 The Ethnographic Interview. New York: Rinehard and Winston..
1980 Participant Observation. New York: Rinehart and Winston.
Vredenbregt, J,.
1979 Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
2002 digitized by USU digital library
16
Fly UP