...

KERETA CEPAT - Universitas Katolik Parahyangan

by user

on
Category: Documents
14

views

Report

Comments

Transcript

KERETA CEPAT - Universitas Katolik Parahyangan
Edisi 2016 Kuartal-II/April-Juni
Vol. III No. 2
Majalah
PARAHYANGAN
Humanum - Integral - Transformatif
Kereta Api Indonesia
KERETA
Transportasi
CEPAT
MASSAL
ISSN 2356-1335
9 772356 133121
Para pembaca yang budiman.
Transportasi merupakan salah satu elemen yang turut berperan dalam pembangunan bangsa.
Keberadaannya mendukung kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Rencana Pemerintah terkait kereta
api cepat juga turut menjadikan transportasi massal di Indonesia menjadi fenomena yang perlu mendapat
perhatian. Edisi kali ini mencoba mengangkat fenomena salah satu transportasi massal, yakni kereta api
Indonesia. Dua orang pakar di bidang transportasi memberikan pandangan soal kereta api Indonesia.
Selain itu, disajikan pula cerita tentang pengabdian mahasiswa Unpar bertajuk TOSAYA. Berbagai
prestasi dan kegiatan kemahasiswaan juga turut dihadirkan pada edisi Majalah Parahyangan Vol. III No. 2
ini. Rubrik Alumni menghadirkan Parahyangan Alumni Day, acara yang mengajak para alumni untuk kembali mengenang
masa-masa kuliah dan memberikan inspirasi bagi para mahasiswa. Sementara itu, Githa Naffeza, alumni yang pernah
berkecimpung di dunia jurnalistik kini merambah dunia kuliner.
Rubrik Disertasi menghadirkan tulisan mengenai ekonomi kreatif, dan dimuat pula sosok Arenst Andreas, sang Penyulap
Limbah yang mendapat penghargaan pada perayaan Dies Natalis ke-61 Unpar. Di samping itu, disajikan pula tulisan tentang
Dies Natalis Pertama Unpar, Rubrik Humanum, Integral, dan Transformatif, serta Rubrik Parahyangan.
Selamat membaca,
Redaksi Majalah Parahyangan.
MAJALAH PARAHYANGAN
Pengarah
Rektor
Wakil Rektor Bidang Akademik
Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya
Wakil Rektor Bidang Modal Insani dan Kemahasiswaan
Wakil Rektor Bidang Penelitian,Pengabdian kepada
...................................Masyarakat, dan Kerja Sama
Penasihat
Ketua Umum Ikatan Alumni Unpar
Transportasi Massal (hlm. 2)
Penerbit
Unpar Press
TOSAYA
Pengelola
Satuan Pelayanan Pendukung
Pemimpin Redaksi
L. Bobby Suryo K.
Penyelaras
Melania Atzmarnani
Parahyangan Alumni Day (hlm. 18)
Meniti Puncak Dunia (hlm. 23)
2016
(hlm. 37)
Administrasi
Merici Dhevi Pivita
Apolonius S.
Romantisme
dalam berbisnis kuliner
Alamat Redaksi
Jl. Ciumbuleuit 100 Bandung
Telp 022-2035137
email : [email protected]
[email protected]
Ralat: Pada edisi sebelumnya, di halaman 32 Rubrik Jendela Ilmu, tertulis
“Johannes Adhijoso Tjondro (Staf Akademik Prodi Arsitektur)”.
Seharusnya “Johannes Adhijoso Tjondro (Staf Akademik Prodi Teknik
Sipil).
Redaktur Pelaksana
Hary Gimulya
(hlm. 33)
Kontributor
A. Caroline Sutandi | B. S. Kusbiantoro | Stephanus Djunatan | Paulina Permata Sari |
Hadrianus Tedjoworo, OSC | Gilbert | Laura Lahindah | Rudi Setiawan | Isabella Revina |
Dion Driza | Henrique Armando | Dewiyani Djayaprabha | P. Krismastono Soediro |
Ezer Lumika (foto Pascasarjana)
Redaksi menerima tulisan, berita, foto, maupun artikel terkait dengan kegiatan-kegiatan civitas academica Unpar, buah pemikiran, atau
kisah para Alumni. Tulisan, berita, foto, maupun artikel tersebut dapat dikirimkan ke [email protected] dengan subjek: Artikel
Majalah Parahyangan paling lambat tanggal 9 Juni 2016. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Redaksi Majalah
Parahyangan
Penawaran Media Promosi
ÇŇİ Į CBL
Letak
SI1
Sampulbelakang
luar
Sampuldepan
dalam
Sampulbelakang
dalam
Bagiandalam
SI2
Bagiandalam
SI3
Bagiandalam
CDD
CBD
L: Landscape
Dimensi
1xTerbit
21x27,5cm
(1hal)(P)
21x27,5cm
(1hal)(P)
21x27,5cm
(1hal)(P)
21x27,5cm
(1hal)(P)
21x13,0cm
(1/2hal)(L)
9,5x12,75cm
(1/4hal)(P)
Rp2.000.000
2xTerbit
(disc5%)
Rp3.800.000
3xTerbit
(disc10%)
4xTerbit
(disc15%)
-
-
Rp1.500.000
Rp2.850.000
-
-
Rp1.300.000
Rp2.470.000
-
-
Rp1.000.000
Rp1.900.000
Rp2.700.000
Rp3.400.000
Rp750.000
Rp1.425.000
Rp2.025.000
Rp2.550.000
Rp500.000
Rp950.000
Rp1.350.000
Rp1.700.000
P: Potrait
Edisi Terbit
- Juli - September 2016
- Oktober - Desember 2016
Batas waktu konfirmasi
10 Juni 2016
10 September 2016
Bentuk file berupa .jpg (300dpi/CMYK) dan dikirim via ekspedisi atau email ke [email protected]
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi (022) 2035137 a.n. Vita/Bobby.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐potong di sini‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
ǺĶŌÏ ŤĤĎŌĠYǾYUĎAAĪ ÔAŌŜ ĎǾĎÔAǾĎ
Yangbertandatangandibawahini:
Nama :_________________________________________________________________________________
Institusi/Perusahaan :_________________________________________________________________________________
Alamat
:_________________________________________________________________________________
Telepon
:_________________________________________________________________________________
Email :
Denganinimenyatakankesediaanuntukberpartisipasimemasangiklan/advetorial/lowonganpekerjaan.
Adapunjeniskolomyangkamipilih:
CBL(Sampulbelakangluar)
SI1(Bagiandalam1hal)
CDD(Sampuldepandalam)
SI2(Bagiandalam½hal)
CBD(Sampulbelakangdalam)
SI3(Bagiandalam¼hal)
Frekuensiterbit:__________edisi
Juli–September2016
Oktober–Desember2016
Pembayarandilakukansecaratransferkerekening
Bank :OCBCNISPCabangUnpar,Bandung
AtasNama
:YayasanUniversitasKatolikParahyangan
NoRekening :017.010.87025.7
____________________,________________________________
(_____________________________________________________)
Konfirmasipartisipasidapatdilakukandenganmengirimkanformulirdiata[email protected]
ataufaxkenomor466-2031021
TATA NIAGA PRODUK PANGAN
Prof. Dr. Ir. Ign. Suharto, APU
Andy Chandra, S.T., M.M.
Prof. Dr. Ign. Suharto, APU
PROPOSAL
Dr. Henky Muljana, S.T., M.Eng.
Tony Handoko, S.T., M.T.
DAN
METODOLOGI PENELITIAN
Rp 35.000
Rp 55.000
ILMU HUKUM
INDONESIA
Upaya pengembangan Ilmu Hukum Sistematik yang responsif
terhadap perubahan masyarakat
EdisiRevisi
Rp 80.000
Untuk pemesanan, hubungi
Unpar Press
Jl. Ciumbuleuit 100 Bandung
Telp: 022 - 2035137 Fax: 022 - 2031021
[email protected]
B. Arief Sidharta
Rp 50.000
Salam Hangat
Terus Berupaya menuju The Great Unpar
D
engan hangat menyambut edisi terbaru Majalah
Parahyangan ini. Ini merupakan indikasi bahwa
pengelola majalah ini terus berusaha memenuhi
jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan. Selamat untuk semua
pihak yang berkontribusi terhadap hadirnya edisi ini. Kepada
pembaca, selamat membaca dan mengikuti geliat perubahan
yang terus bergulir di kampus tercinta, Universitas Katolik
Parahyangan.
Keterpenuhan jadwal kegiatan, sebagaimana Majalah
Parahyangan edisi ini, pada hakikatnya menggambarkan
sebuah disiplin kerja, konsistensi pada rencana kerja, dan
komitmen untuk mencapai target‐target yang sudah
ditetapkan. Perencanaan dan implementasi dari kebijakan
dan program kerja akan sangat menentukan kemajuan dan
perkembangan.
Kehendak untuk mewujudkan the great Unpar juga
menyiratkan pentingnya disiplin, komitmen, dan kerja keras.
Perencanaan sudah dibuat di dalam Rencana Strategis Unpar
2015‐2019. Komitmen sudah dibangun dan terus diperkuat.
Sejumlah program kerja misalnya untuk memperkuat
identitas menjadi langkah taktis untuk meraih pengakuan
yang lebih luas baik dari pihak pemerintah maupun dari
masyarakat. Sebab, menjadi universitas pilihan dan diakui
merupakan resultansi proaksi. Peringkat 25 secara nasional
yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti merupakan
pengakuan yang patut disyukuri. Hal itu tentu tidak membuat
kita berpuas diri. Sebaliknya, hal itu memberi informasi
bagian mana dari kita yang masih dan terus harus diperbaiki.
Akreditasi institusi (AIPT) yang dikeluarkan BAN‐PT pada
2013 lalu tetap memacu adrenalin kita untuk bisa meraih
predikat “baik sekali”.
Masih sangat banyak hal yang harus kita lakukan. Sementara
dalam hal penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya
lewat pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning),
kita boleh bersandar pada dedikasi dan komitmen para dosen
yang sangat tinggi, kita masih harus membenahi tatakelola
perguruan tinggi sesuai dengan tuntutan good university
governance. Sistem informasi dan manajemen sangat sentral
dalam hal ini, sehingga pengelolaan universitas bisa lebih
efisien dan efektif. Tenaga kependidikan dengan keahlian
informasi‐teknologi yang dimiliki serta kesediaan untuk terus
belajar dan mengembangkan diri menjadi andalan utama
dalam hal ini.
Eksekusi atas berbagai rencana, kebijakan, dan program yang
telah ditetapkan menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua
e ks e ku s i te r b e b a s d a r i ko nt ro ve rs i . Ko n s i d e ra s i
(pertimbangan) ini‐itu kerap membelenggu dan menyandera.
Akselerasi tidak selalu mudah didapatkan. Keberanian, atau
bahkan kenekadan, sering menjadi tawar dan hambar. Bukan
karena “politik kepentingan”, melainkan pertimbangan
kebaikan. Keputusan, pilihan, dan keberanian selalu memiliki
kebaikannya. Pertimbangan pun memiliki kebaikannya juga.
Akibatnya keputusan yang diambil adalah keputusan yang
mengorbankan kebaikan tertentu demi kebaikan yang
lainnya.
Hasil tentu saja menjadi ukuran yang sangat menarik
perhatian. Setelah sembilan bulan dengan tim rektorat yang
baru, banyak orang yang bertanya dan mulai menagih hasil
apa yang sudah diraih dalam rangka mewujudkan Unpar yang
lebih baik. Tidak sedikit yang bisa dikemukakan. Dalam
bidang akademis, Unpar telah cukup maju di dalam
mematuhi regulasi pemerintah, baik dalam hal pemenuhan
ratio dosen:mahasiswa, pelaporan ke PD‐Dikti, dan
ketertiban administrasi akademik. Telah pula berhasil
didapatkan NIDN dan sertifikasi bagi dosen‐dosen yang
belum memilikinya. Demikian juga dengan upaya
pembenahan dan pengembangan sistem informasi agar lebih
terintegrasi satu sama lain, seperti sistem informasi akademik
dengan keuangan serta sistem informasi kepegawaian dan
penelitian. Perihal yang terkait dengan sarana‐prasarana pun
juga diharapkan terbangun dan terintegrasikan dengan
sistem informasi lainnya.
Energi dan daya tahan nampaknya merupakan komponen
penting yang harus dipunya. Dukungan berbagai pihak dan
keikhlasan bekerjasama menjadi sumber utama. Sebab, cita‐
cita mewujudkan the great Unpar merupakan ikhtiar kolektif
dari semua yang berkehendak baik.
Rektor Unpar,
Mangadar Situmorang, Ph.D.
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 1
Utama
Kereta Api Cepat di Indonesia
sebagai Transportasi Massal
oleh: A. Caroline Sutandi
Transportasi massal
ereta api adalah salah satu moda transportasi massal
atau transportasi publik selain bus, ligh rapid transit
(LRT), subway, kereta api komuter, cable cars, angkot,
feri, monorail yang jika diselenggarakan bersamaan,
sebaiknya terintegrasi satu sama lain. Transportasi publik ada
untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi dari masyarakat
untuk berlalu lintas dengan cepat, mudah diakses, dan murah
dalam mendukung aktivitas yang beragam seperti
pendidikan, sosial, ekonomi, pariwisata, dan industri. Dari
jumlah penumpang yang dapat diangkut dari tempat asal ke
tempat tujuan, tentu moda transportasi massal dapat
mengangkut jauh lebih banyak penumpang per satuan waktu.
Moda transportasi kereta api ini dapat digunakan sebagai
kereta api penumpang, termasuk kereta api wisata, atau
kereta api barang.
K
Transportasi publik seharusnya menjadi transportasi utama
yang digunakan masyarakat. Untuk itu, selain memenuhi
kriteria cepat, mudah diakses, dan murah, transportasi publik
harus aman, nyaman, menjangkau daerah yang luas,
berkeselamatan, dan tersedia dengan jumlah armada yang
cukup. Jika kondisi ini tersedia, maka masyarakat akan dengan
sendirinya berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi ke
moda transportasi umum dalam menjalankan aktivitas
sehari‐hari. Sangat diharapkan kondisi ini menjadi ciri khas
kota besar di Indonesia, dan jika hal ini terjadi, maka
kepadatan dan kemacetan lalu lintas terutama di daerah
perkotaan akan berkurang drastis. Lebih lanjut, dukungan
ketersediaan infrastruktur, sarana dan prasarana jalan dan
jalan rel sangat diperlukan.
Kereta api dan kereta api cepat (high speed train) di dunia
Moda transportasi publik kereta api sudah diterapkan di
banyak negara di dunia, baik negara maju maupun negara
berkembang, sejak tahun 1830‐an. Seperti diketahui bahwa
negara‐negara di benua Eropa mempunyai jalan rel terpadat
di dunia yang melintasi beberapa negara sekaligus. Teknologi
pbase.com
2 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
y a n g t e r u s b e r ke m b a n g
mengikuti perkembangan
keilmuan dan kebutuhan
menyebabkan munculnya
kereta api cepat.
Kereta api cepat mulai
beroperasi tahun 1980 di
Jerman ( I C E – Inter City
Express) dengan kecepatan
550 km/jam, tahun 1981 di
Paris, Perancis dengan
kecepatan maksimum 574,8
km/jam, tahun 1992 di Korea
Selatan (KTX) dengan kecepatan maksimum 352 km/jam,
tahun 1999 antar kota Shanghai dan Hangzhou di China (CRH
380 Maglev Shanghai) dengan kecepatan maksimum 430
km/jam, yang dibangun dengan teknologi Jerman, di mana
China mempunyai jalan rel terpanjang di dunia (17.000 km
jalan rel), dan tahun 2003 antara kota Tokyo – Osaka di Jepang
(JR‐Maglev MLX01) dengan kecepatan 581 km/jam. Kereta
api super cepat ini bentuknya mirip pesawat, menggunakan
teknologi levitasi magnetik (maglev), sehingga bisa mencapai
kecepatan maksimum sampai 581 kilometer per jam dan
tercatat dalam Guinness World Records sebagai kereta api
listrik tercepat di dunia (Kompas.com, 2015).
Kemudian negara‐negara lain juga mengikuti menerapkan
kereta api cepat. Walaupun demikian, umumnya kereta api
cepat ini dioperasikan tidak dengan kecepatan maksimum
dengan alasan keselamatan dan karena harus berhenti di tiap
stasiun.
Kereta api di Indonesia
Kereta api di Indonesia pertama kali dibangun tahun 1864
dengan jalan rel sepanjang 26 km antara Kemijen‐Tanggung
oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian diikuti oleh jalan
rel‐jalan rel lainnya sampai dengan sekarang, yang
dunianyakereta.blogspot.com
flickr.com
diselenggarakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT
KAI, 2015). Di Indonesia, kereta api bukan saja sebagai moda
transportasi antar kota, tetapi juga dari dan ke bandar udara.
Kereta api cepat pertama di Indonesia
Kereta api cepat pertama di Indonesia direncanakan
dibangun antara Jakarta dan Bandung sepanjang 142
kilometer yang diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu 45
menit. Pihak Tiongkok dipilih sebagai mitra dengan alasan
telah berhasil membangun dan mengelola kereta cepat
sepanjang 17.000 km atau 60 persen dari jarak operasi jalan
rel di dunia, dalam berbagai kondisi geologis, dari iklim dingin
maupun tropis seperti Indonesia. Di samping alasan‐alasan
lain seperti penggunaan sebagian besar komponen lokal,
pelatihan personel perkeretaapian Indonesia dan pembagian
saham konsorsium (Kompas.com, 2015).
Di samping itu, dan adanya pro kontra terhadap setiap
kebijakan baru, maka yang lebih penting adalah bahwa
rencana pembangunan kereta api cepat di Indonesia itu harus
memperhatikan berbagai aspek, antara lain aspek teknik
(termasuk aspek keselamatan), aspek ketersediaan sumber
daya manusia (SDM) yang kompeten, aspek finansial, aspek
lingkungan, aspek sosial, dan yang lebih penting adalah aspek
peraturan dan standar, dan di atas semua aspek yang
terpenting adalah aspek besarnya manfaat untuk masyarakat
luas.
Aspek teknis yang harus diperhatikan adalah standar
konstruksi ballast atau teknologi konstruksi ballastness untuk
kereta api dengan kecepatan minimum 200 km/jam, gerbong
kereta api, stasiun pemberhentian kereta api cepat, sistem
telekomunikasi, monitoring, kontrol, dan signaling yang
berbasis IT, sistem pemeliharaan rutin dan insidental, serta
basis data operasional yang lengkap, akurat dan up to date.
Lebih lanjut aspek teknis yang penting adalah lebar sepur.
Lebar sepur yaitu lebar antara sisi dalam kepala rel. Di
Indonesia lebar sepur kereta api adalah 1,067 meter,
sedangkan lebar sepur di China adalah 1,435 meter, seperti
juga lebar sepur di negara‐negara Eropa, Amerika Utara,
Australia, dan Timur Tengah. Jadi pertimbangan biaya, waktu,
dan jalur lintasan, selain harus memenuhi syarat mutu, perlu
sangat diperhatikan dalam pembangunan jalan rel untuk
kereta api cepat, yang memiliki lebar sepur berbeda dengan
lebar sepur eksisting.
Stasiun kereta api yang eksklusif untuk penumpang atau
barang, yang memenuhi standar dengan kapasitas yang
memadai, dan jalan akses ke stasiun yang mudah dan murah,
serta koneksi terhadap ketersediaan feeder bus, wajib
tersedia. Sehingga pelayanan moda kereta api cepat saling
melengkapi dengan pelayanan moda feeder bus atau moda
alternatifnya.
Aspek teknis juga berkaitan dengan area yang dilalui, apakah
perlu jembatan dan terowongan seperti saat melewati daerah
Purwakarta. Jalan rel adalah milik pemerintah. Kondisi
eksisting yang ada menunjukkan bahwa hal ini adalah
masalah yang kompleks jika berkenaan dengan perlunya
dilakukan pembebasan lahan untuk keperluan jalan rel kereta
api cepat.
Lebih detail, teknologi kereta api dan teknologi operasional
yang berkeselamatan adalah hal yang sangat penting.
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 3
Aspek lain yang harus diperhatikan adalah tersedianya SDM
yang kompeten dalam mengoperasikan kereta api cepat
berbasis IT, dalam jumlah cukup. SDM ini termasuk SDM di
stasiun dan SDM di kereta api sebagai masinis dan teknisi.
beritasatu.com
Koordinasi dan sinkronisasi sistem signaling kereta api dan
jalan rel perlu sangat disiplin dan ketat berbasis IT, baik antar
kereta api penumpang dan barang, terutama jika ada
persimpangan sebidang antara jalan rel dengan jalan, untuk
mencegah terjadinya tabrakan dan kecelakaan.
B e r ke n a a n d e n ga n ke s e l a m ata n , wa l a u p u n d ata
menunjukkan bahwa kecelakaan kereta api di jalan rel lebih
sedikit jumlahnya dari kecelakaan di jalan, tetapi jika terjadi,
maka akan melibatkan jumlah penumpang yang sangat
banyak. Oleh karena itu aspek keselamatan sangatlah penting
untuk diterapkan. Jika jalan rel kereta api (konvensional)
bersimpangan sebidang dengan jalan, maka pintu perlintasan
kereta api yang memenuhi standar wajib ada.
Massa kereta api yang besar dan kecepatan yang tinggi,
apalagi kereta api cepat, menyebabkan kereta api tidak dapat
segera berhenti jika mengetahui ada halangan. Hal ini akan
memperbesar tingkat fatalitas kecelakaan. Oleh karena itu,
untuk meningkatkan keselamatan, kereta api cepat sebaiknya
berada di jalan rel khusus (dedicated railway lines) jadi area
yang dilewati harus benar‐benar tidak terganggu atau
bersimpangan (crossing) dengan jalan (roadway), atau
menggunakan persimpangan tidak sebidang.
Aspek selanjutnya adalah aspek finansial dan aspek
lingkungan. Pembangunan kereta api cepat adalah mega
proyek dengan biaya besar. Investasi perlu mendapat
perhatian besar dengan melibatkan investor swasta dengan
pengaturan tersendiri, karena pendapatan yang akan
diperoleh adalah dari tiket penumpang dan iklan sebagai
alternatif dari kereta api penumpang dan ongkos pengiriman
barang dari kereta api barang atau kereta api kontainer.
Dari aspek lingkungan, kajian Amdal yang lengkap termasuk
Andal di dalamnya perlu dilakukan saksama dengan tahap
yang lengkap dan tidak terburu‐buru, dengan mengacu pada
Undang‐Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem, Undang‐Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pokok‐Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup, dan Undang‐Undang Nomor 27 Tahun
1997 tentang AMDAL.
Jika di bidang jalan ada Undang‐Undang Nomor 38 Tahun
2004 tentang Jalan, dan Undang‐Undang Nomor 22 Tahun
2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan, maka untuk
kereta api ada Undang‐Undang Nomor 23 Tahun 2007
tentang Perkeretaapian. Walaupun dalam undang‐undang
tentang perkeretaapian terdapat kalimat bahwa yang
dimaksud dengan “kereta api kecepatan tinggi” adalah kereta
api yang mempunyai kecepatan lebih dari 200 km/jam, tetapi
untuk kereta api cepat yang sudah akan dilaksanakan
pembangunannya, belum tersedia peraturan dan standar
khusus tentang kereta api cepat yang harus dipatuhi.
www.skyscrapercity.com
4 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Manfaat bagi masyarakat luas
Aspek manfaat untuk masyarakat luas adalah tujuan akhir
dari pemenuhan semua aspek lainnya. Jika aspek–aspek lain
sudah dipenuhi tetapi manfaatnya tidak signifikan, hanya
dirasakan manfaatnya oleh sebagian masyarakat dan tidak
dirasakan oleh masyarakat luas, maka pembangunan ini
dapat dikatakan belum berhasil.
Jika pembangunan kereta api cepat Jakarta ‐ Bandung adalah
pilot project, maka pembangunan kereta api cepat juga dapat
dibangun di daerah lain yang membutuhkan, seperti dari
ujung utara ke ujung selatan Pulau Sumatra, antar ibu kota
provinsi di Pulau Kalimantan, di Pulau Sulawesi dan di Papua,
walaupun jumlah penduduk di pulau‐pulau ini tidak sepadat
di Pulau Jawa, yang artinya calon penumpang juga tidak
banyak. Tetapi di masa depan, pembangunan kereta cepat di
pulau‐pulau ini akan berdampak positif terhadap
pertumbuhan sosial, ekonomi, dan pariwisata di daerah
tersebut.
Lebih lanjut, jika nanti dalam pelaksanaanya ternyata
pemerintah tidak memperoleh keuntungan dari pendapatan
operasional kereta api cepat ini, maka baik jika tetap
dilanjutkan operasionalnya dengan tarif tiket terjangkau
karena adanya subsidi pemerintah. Jangan sampai terjadi
karena alasan pendapatan, perhitungan B E P, nilai
penumpang‐km per tahun, maka tarif tiket dinaikan atau
menjadi mahal. Hal ini tidak sesuai dengan hakikat
tersedianya transportasi massal untuk kepentingan publik/
masyarakat luas. Subsidi ini dilakukan juga dalam operasional
kereta api di negara‐negara lain di luar negeri.
Dengan berbagai hal yang telah dipaparkan sebelumnya,
maka sangat diharapkan bahwa akan dilaksanakannya
pembangunan kereta api cepat pertama di Indonesia akan
bermanfaat besar untuk semua lapisan masyarakat. Oleh
karena itu kajian yang dilakukan sebelum pelaksanaannya,
tidak boleh terburu‐buru, tetapi harus lengkap, terintegrasi,
akurat dan up to date dengan memperhatikan berbagai
aspek, termasuk prioritas kebutuhan dan prioritas manfaat.
Anastasia Caroline Sutandi, Ph.D. merupakan Dosen di
Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Katolik Parahyangan, mengajar beberapa mata kuliah, Traffic
Engineering, Geometric Design of Highways and Streets,
Traffic Engineering and Management, dan Studio of Road
Network Maintenance. Sebelum masuk menjadi Dosen di
Unpar 29 tahun yang lalu, menyelesaikan pendidikan tingkat
Sarjana di Unpar. Kemudian, melanjutkan studi di Institut
Teknologi Bandung (1988), dan mengenyam pendidikan di
The University of Queensland pada tahun 1999.
Pada tahun 2010 hingga 2014 dipercaya menjadi Dekan
Fakultas Teknik Unpar dan hingga saat ini menjadi anggota
Dewan Pakar Transportasi Kementerian Perhubungan.
detik.com
detik.com
detik.com
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 5
Utama
Model R+P (Rail + Property)
Kereta Api Cepat Indonesia
oleh: B.S. Kusbiantoro
K
ehadiran KA Cepat di Indonesia akan mengubah pola
tempat tinggal masyarakat, misalnya penduduk ulang‐
alik sekitar Jakarta dengan radius 20‐50 km butuh
waktu 1‐2 jam ke tempat kerja, dengan KA cepat butuh waktu
kurang dari 1 jam untuk radius 150 km ke arah Bandung.
Artinya, pekerja ulang‐alik dapat tinggal lebih jauh dari
Jakarta untuk dapat memilih rumah lebih murah, tetapi
dengan waktu perjalanan yang lebih singkat.
Pada umumnya KA cepat tidak untuk transportasi barang,
demikian juga KA cepat hanya melewati pusat‐pusat kegiatan
kecil, artinya KA cepat tidak banyak memberikan dampak
terhadap relokasi industri atau tumbuhnya pusat‐pusat
kegiatan baru. Akan tetapi, KA cepat memberikan dampak
besar terhadap relokasi pusat‐pusat perwakilan bisnis dan
jasa ke kota‐kota besar, seperti yang terjadi antara Paris‐Lyon,
Madrid‐Barcelona, dan Lisbon‐Porto. KA cepat memperkuat
aglomerasi pusat‐pusat kegiatan besar (OECD, 2008;
Kusbiantoro, 2015).
Model R+P (rail + property) yang diterapkan di Hongkong,
yang mana pemerintah bekerja sama dengan swasta untuk
mengembangkan properti di sekitar stasiun. Hasil
keuntungan dari kenaikan nilai lahan beserta bisnis
propertinya digunakan untuk memperluas jaringan mass
transit railway. Demikian seterusnya jaringan berkembang
tanpa memerlukan dana pemerintah, bahkan pemerintah
memperoleh manfaat dari pajak, wilayah menjadi tertata
baik, dan sebagainya. Pembangunan berdasar model R+P juga
beritatrans.com
6 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
m e n e ra p ka n p e n d e kata n
transit oriented development
(TOD), yaitu pembangunan
p r o p e r t i d e n g a n
m e m a nfa at ka n t i n g g i nya
kualitas fasilitas dan layanan
transportasi publik.
Pembangunan KA cepat di
Jawa, baik KA cepat Jakarta‐
Bandung maupun Jakarta‐
Surabaya, belum merupakan
prioritas pembangunan
transportasi nasional. Akan tetapi, dengan model R+P serta
pendekatan TOD untuk wilayah sekitar stasiun, pemerintah
tidak perlu terus mengeluarkan subsidi dan bahkan dapat
memperoleh fasilitas serta layanan KA cepat yang prima dan
terbangunnya pusat‐pusat kegiatan yang terpadu dengan
sistem jaringan transportasi pendukungnya. Demikian pula
model R+P dan pendekatan TOD dapat diterapkan untuk
p e m b a n g u n a n M R T, L R T, d a n s e j e n i s nya . U nt u k
memungkinkan hal ini, dibutuhkan beberapa prakondisi agar
model R+P dan pendekatan TOD dapat dilaksanakan di
Indonesia.
Prakondisi pertama yang membutuhkan terobosan adalah
ketentuan tentang lahan seperti pembekuan nilai lahan atau
bentuk lainnya untuk lahan sekitar stasiun. Di Indonesia,
masalah pembebasan lahan, termasuk menjamurnya “mafia
www.jrpass.com
lahan”, merupakan salah satu masalah terbesar dalam
pembangunan infrastruktur. Kedua adalah terobosan
ketentuan tentang keuangan yang memungkinkan
pendapatan pemerintah dari pembangunan model R+P dapat
digunakan langsung untuk pembiayaan pembangunan model
R+P secara berkesinambungan. Ketiga terkait dengan
masalah kelembagaan, yakni dibutuhkan adanya satu
lembaga kuat untuk merencanakan, membangun, mengelola,
mengawasi, dan mengoordinasikan semua pembangunan
model R+P tersebut hingga menghasilkan win‐win bagi para
pihak terkait.
Keempat adalah terkait dengan RTRW, yakni dengan
tingginya dinamika serta besarnya perubahan teknologi,
dimungkinkan peninjauan kembali berbagai RTRW dengan
adanya KA cepat, MRT, LRT, dan sejenisnya. Dibutuhkan pola
pemikiran tidak hanya berdasar ships follow the trades, tetapi
terutama trades follow the ships, mengingat perubahan yang
cukup mendasar dari sistem jaringan (KA cepat, MRT, dan
sejenisnya) akan memengaruhi sistem kegiatan (kota baru,
pusat‐pusat kegiatan baru, dan sejenisnya).
Kelima adalah dibutuhkan adanya konsorsium perusahaan
swasta yang berpola pikir untuk berinvestasi jangka panjang
yang berkesinambungan seperti konsorsium swasta di Tokyo
Metropolitan Region, dan bagaimana pemerintah melalui
regulasi/deregulasinya dapat mendorong tumbuhnya
konsorsium‐konsorsium tersebut. Prakondisi terakhir, tetapi
terpenting, adalah dibutuhkan adanya kepemimpinan kuat
yang memiliki visi serta berani melawan arus kepentingan
sesaat golongan tertentu. Untuk terwujudnya semua
prakondisi tersebut dibutuhkan revolusi mental yang
menyeluruh. Hal ini tidak mudah tetapi bisa dilakukan.
Prof. B.S. Kusbiantoro, alumnus Wharton School,
Pennsylvania dan seorang pembelajar ilmu Transportasi.
Artikel ini pernah dimuat
di Koran Pikiran Rakyat, Sabtu, 12 Maret 2016
(HG)
lipsus.kompas.com
2 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 1
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 7
Universitaria
Perjalanan Panjang Sebuah Program Studi
Terus berupaya memberikan materi perkuliahan yang mampu menyajikan solusi yang aplikatif,
Program Studi Fisika Unpar kini menyandang Akreditasi A
P
rogram Studi (PS) Fisika dibentuk pada tahun 1993, di
bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam (FMIPA) yang pada tahun 2009 berganti nama
menjadi FTIS – Fakultas Teknologi Informasi dan Sains untuk
menonjolkan perannya secara lebih konkret. Pendirian ini
dilakukan dengan melihat bahwa suatu universitas perlu
memiliki minimal 3 fakultas di bidang ilmu pengetahuan alam.
Dengan semangat untuk terus berusaha memberikan solusi
yang dapat mengikuti perkembangan jaman, Program Studi
Fisika mempersiapkan mahasiswanya agar menjadi manusia
yang knowledgeable, literate tentang sains (“knowledge
society, having scientific literacy”) di lingkungan yang
didominasi perkembangan teknologi canggih.
Sejak semester pertama, mahasiswa diajak untuk ikut aktif
terlibat dalam proses pembelajaran. Salah satu contohnya
dapat dilihat pada mata kuliah Praktikum Fisika Dasar.
Mahasiswa tidak lagi melakukan praktikum yang hanya
bersifat prosedural. Sebaliknya, mahasiswa ditantang untuk
menyelesaikan suatu permasalahan fisis yang tak jarang
bersifat open ended. Di samping itu, kemampuan critical
thinking dikembangkan dimulai dari mata kuliah
Keterampilan Fisika. Pada mata kuliah tersebut mahasiswa
ditantang dalam berbagai persoalan sederhana fisika yang
tidak dapat diselesaikan tanpa pemahaman tentang fisika dan
sains secara mendalam. Kemampuan ini ditambah pada mata
kuliah Proyek Bersama. Di kuliah ini mahasiswa diajak untuk
berpikir kreatif dengan melakukan berbagai hands on
experiments yang akhirnya melahirkan beberapa karya fisika
kreatif yang sederhana namun membutuhkan pemahaman
fisika yang mendalam. Kemampuan komunikasi ilmiah
mahasiswa Fisika pun diasah melalui mata kuliah Teknik
Presentasi dan Seminar.
Seluruh perkuliahan Program Studi Fisika membekali
mahasiswa agar memiliki dasar sains yang kokoh, tanpa
melupakan pembentukan sikap critical thinking. Kurikulum
Fisika Unpar cukup fleksibel untuk mengakomodasi topik‐
topik terkini dalam bidang sains dan teknologi. Pada akhirnya,
mahasiswa akan diajak untuk ikut terjun langsung dalam
riset‐riset yang dilakukan oleh tenaga pendidik. Beberapa
hasil kolaborasi dari dosen dan mahasiswa ini telah
dipublikasikan.
Seluruh kegiatan perkuliahan didukung oleh tenaga pendidik
yang terdiri atas 12 orang dengan kualifikasi tinggi. Terdapat
satu orang tenaga pendidik yang memiliki jabatan sebagai
guru besar yakni Prof. Dr. Benedictus Suprapto Brotosiswojo.
Sebanyak 58% tenaga pendidik mengenyam pendidikan
hingga tingkat doktor yang didapat dari berbagai universitas
di Inggris, Australia, Kanada dan Amerika Serikat. Sedangkan
tenaga pendidik lainnya mendapatkan pendidikannya dari
universitas ternama di Indonesia ataupun di luar negeri
seperti Tehnische Universität Dresden, Institut Teknologi
Bandung, Universitas Gadjah Mada maupun Universitas
Katolik Parahyangan sendiri.
Pengalaman penelitian dari para tenaga pendidik ini pun tidak
perlu diragukan lagi karena beberapa dari mereka pernah
tergabung di institusi penelitian internasional seperti
Arrhenius Laboratory di Swedia dan Fermi National
Laboratory di Amerika Serikat. Penelitian para tenaga
pendidik Fisika Unpar meliputi fisika teoretik, fisika material,
fisika medis dan fisika instrumentasi. Hasil penelitian dari
tenaga peneliti telah menembus berbagai jurnal
internasional dengan impact factor yang tinggi yakni Physical
Review D, Journal of High Energy Physics, General Relativity
and Gravitation, Angewandte Chemie, The Journal of Physical
Chemistry, dan The Journal of Material Chemistry.
Untuk meningkatkan soft skills mahasiswanya,
diselenggarakan beberapa kegiatan di antaranya Bengkel
Sains Unpar (BSU), Fun Science Competition (FUSION), dan
Pelatihan Guru Fisika (PGF). BSU bermitra dengan beberapa
sekolah menengah di Bandung melalui kegiatan reguler
ekstrakurikuler Sains dengan pengajar yang merupakan
mahasiswa aktif prodi Fisika dan menggunakan metode
pengajaran yang lebih menekankan pada explorative science.
Demo Bengkel Sains Unpar pada acara
Festival Anak Bertanya 2015, Sabuga Bandung
8 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Pada bulan September 2015, Himpunan Mahasiswa Program
Studi (HMPS) Fisika menyelenggarakan kompetisi Fisika
nasional yang dinamakan FUSION untuk pertama kalinya.
FUSION lebih menekankan pemaknaan bahwa Fisika
sebenarnya hadir dalam kehidupan sehari‐hari. Peserta
berjumlah 50 tim yang berasal dari SMA di Jawa Barat dan
Jakarta.
Kegiatan PGF dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa di balik
siswa yang berprestasi, tentunya terdapat guru yang hebat
juga. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa guru memiliki
peran yang besar dalam proses pembelajaran siswa. Melalui
kegiatan PGF, yang rutin diselenggarakan dua tahun sekali,
mahasiswa dilatih untuk melakukan kegiatan pengabdian
masyarakat dengan bekerja bersama dosen. Para guru Fisika
yang mengikuti PGF dibekali dengan sejumlah kompetensi
dalam bidang pengajaran. Pada PGF 2014, para peserta
dilatih untuk mempelajari dan mengajarkan termodinamika
(tema PGF 2014) dengan beberapa cara yang menarik dan
inovatif, salah satunya membuat alat demonstrasi sederhana
secara mandiri yang nantinya alat tersebut dapat
dipergunakan oleh para guru.
Mahasiswa prodi Fisika telah dipersiapkan secara
menyeluruh baik dalam kemampuan sains maupun soft skills.
Rata‐rata lulusan untuk menunggu pekerjaan pertama kali
paling lama 2 bulan. Selain bidang kependidikan, beberapa
lulusan prodi Fisika juga berkecimpung di dunia industri.
Selain bekerja, cukup banyak lulusan prodi Fisika yang
melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
Pada umumnya, selama kuliah lanjut mereka melakukan riset
mutakhir. Contohnya pada tanggal 11 Februari 2016, tim dari
LIGO‐VIRGO Collaboration (LVC) mengumumkan penemuan
gelombang gravitasi yang diprediksi oleh Albert Einstein 101
tahun yang lalu. Pengumuman ini membawa kebanggaan
tersendiri bagi program studi Fisika karena salah satu
alumninya tergabung dalam kolaborasi tersebut. Yoshinta E.
Setiawati, lulusan tahun 2008 yang saat ini menempuh
pendidikan Magister di Radboud, Belanda, menjadi bagian
dari tim tersebut. Karena ketertarikannya akan teori
relativitas umum, yang dikenalnya selama kuliah di Unpar, ia
memutuskan untuk melanjutkan riset tentang gelombang
gravitasi selama pendidikan Magister. Riset inilah yang
membuat ia tergabung dalam LVC sehingga nama Yoshinta
tertulis di daftar penulis dari paper monumental yang
berhasil membuktikan prediksi teori relativitas umum
Einstein.
Mahasiswa prodi Fisika juga menorehkan sejumlah prestasi di
berbagai ajang. Prestasi internasional membanggakan dalam
bidang non‐akademik diraih oleh Broery Andrew Sihombing
yang berhasil mendaki tujuh puncak gunung tinggi dunia
dalam ekspedisi Seven Summits Expedition Indonesia
Mahitala Unpar 2011. Dalam bidang akademik, Meutia
Wulansatiti dan Muhammad Arifin Dobson bersama tim
mahasiswa dari FTIS berhasil meraih medali perak dan
perunggu pada kompetisi internasional University Physics
Competition 2015. Pada perlombaan ini mereka mencoba
memecahkan permasalahan fisika yang bersifat open
problem dan menuliskan hasilnya dalam format paper ilmiah.
Hasil dalam bentuk paper ini kemudian diadu dengan hasil
karya mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh dunia,
antara lain RTW Aachen, Yale University, dan National
University of Singapore.
Hingga tanggal 1 Maret 2016, prodi Fisika Unpar menjadi
satu‐satunya program studi Fisika universitas swasta yang
memperoleh akreditasi A.
(Reinard Primulando dan Flaviana Catherine/BS)
Pelatihan Guru Fisika 2014
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 9
Parahyangan
amali dan
Pendidikan Modern
oleh Stephanus Djunatan
lookuptabel.blogspot.co.id
i zaman modern ini, pendidikan menjadi salah bagian
yang tak boleh terlewatkan. Isi pendidikan modern
yang kita kenal ini berupa ilmu pengetahuan (sains)
d a n t e k n o l o g i . Ka u m p a ra p e n d i d i k m o d e r n i n i
menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digeluti
dan dikuasai kepada subjek didik: para mahasiswa.
D
Dalam proses tersebut, selalu muncul pertanyaan: apakah
kita hanya 'memindahkan' pengetahuan (knowledge) kepada
mahasiswa? Bagaimana dengan aspek non‐pengetahuan
yakni perilaku dan sikap (akademis) yang menjadi bagian tak
terpisahkan dari pendidikan sains dan teknologi? Ada banyak
jawaban untuk pertanyaan‐pertanyaan di atas. Pentingnya
etika akademik juga selalu ditekankan dan disampaikan
kepada mahasiswa baik secara langsung atau tidak.
Kali ini tulisan ini menawarkan jawaban alternatif. Kita akan
masuk dalam ranah budaya, yang di dalamnya sikap dan
perilaku tumbuh dan berkembang melalui kegiatan sehari‐
hari. Jika kita bicara budaya, kita tidak bisa mengabaikan
konteks tempat, atau lokasi di mana gaya hidup tersebut
hidup dan berkembang. Kali ini, budaya yang menjadi fokus
dalam tulisan kali ini berada di Tatar Sunda.
Pendidikan dan Gaya Hidup
Sikap dan perilaku akademik pada umumnya (termasuk yang
akademik) tidak bisa dilepaskan dari budaya sebagai orientasi
gaya hidup (kultur). Maksudnya, sikap dan perilaku melekat
erat dengan gaya hidup yang kita tampilkan sehari‐hari.
Orangtualah yang pertama‐tama berperan untuk
pertumbuhan dan pembentukan sikap dan perilaku anak‐
anaknya. Merekalah yang menanamkan sikap dan perilaku
sebagai gaya hidup sehari‐hari. Gaya hidup itu terbentuk
melalui aktivitas sederhana: sejak bangun tidur, mandi,
berpakaian, sarapan dan seterusnya sampai si anak siap
untuk tidur kembali. Juga pembentukan terjadi melalui
aktivitas yang kompleks seperti memahami pembicaraan,
mengungkapkan pikiran dan perasaan, mengambil
keputusan, memberikan penilaian, dan mengambil
keputusan.
10 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Pengungkapan baik hal‐hal
sederhana maupun kompleks
di atas membutuhkan 'gaya'
atau cara tersendiri. Tentu saja
'gaya' tersebut unik dari satu
keluarga ke keluarga lain,
bahkan unik dari satu anak ke anak lainnya. Dalam hal ini,
orang tua mengikuti 'kebiasaan yang sudah terpola'.
Kebiasaan yang terpola itu mengandaikan serangkaian sikap
dan perilaku yang sudah lumrah dan biasa diekspresikan,
atau apa yang berlaku di suatu daerah. 'Gaya' atau
serangkaian sikap dan perilaku yang sudah lumrah ini bisa
disebut adat (Mustapa 2010:1). Dengan kata lain, orangtua
'menurunkan' gaya atau adat tersebut kepada anak‐anaknya
melalui perkataan dan perilaku yang menjadi panutan.
Orangtua dalam hal ini menjadi 'role model' untuk sikap dan
perilaku yang layak dan pantas sebagai manusia. Dalam hal
ini, orangtua memberikan 'adat pengajaran' kepada anak‐
anaknya (Mustapa 2010:5 dst). Serangkaian sikap dan
perilaku dalam bentuk perkataan dan perbuatan
disampaikan dalam bentuk cerita, dongeng, nasihat,
larangan, dan teguran.
Dengan demikian, sebuah proses pendidikan membutuhkan
'lahan' agar proses pembelajaran ilmu pengetahuan
menemukan 'wadah'nya. Sains dan teknologi ibarat bayi yang
lahir dari kemampuan berpikir kita dan ia membutuhkan
'buaian' (cradle) yakni 'gaya' hidup yang sesuai dengan adat
yang berlaku. Tanpa 'buaian kultur' sains dan teknologi tidak
memiliki tempat untuk bertumbuh. Gaya hidup itulah yang
membantu sains dan teknologi menemukan sikap dan
perilaku yang pas.
Pamali sebagai Gaya Hidup
Salah satu dari rangkaian pembentuk gaya hidup itu adalah
nasihat dan larangan. Dalam Tatar Sunda, kita mengenal
seperangkat nasihat dan larangan yang disebut Pamali.
Pamali sering kali dikaitkan dengan larangan untuk tindakan
yang tabu. Kita akan mengalami hal buruk jika larangan
tindakan tabu itu dilanggar (bdk. Mustapa 2010:7). Misalnya,
'jangan duduk di atas nyiru, bisa meninggal di perantauan'
(Mustapa 2010:6); 'Jangan duduk di depan pintu, nanti
jodohnya terhalang', dan sebagainya.
Apa hubungannya pamali dengan pendidikan untuk
membangun sikap dan perilaku di era modern ini? Seringkali
pamali dalam adat istiadat Sunda dikaitkan dengan mitos dan
ungkapan yang tidak masuk akal (lih.
http://www.mawarnada.com/2013/03/Tabu‐Pamali‐Atau‐
Hal‐Dilarangan‐Orang‐Sunda‐Jaman‐Dahulu.html. a tau
http://berbagus.com/kumpulan‐mitos‐pamali‐di‐
indonesia/). Ungkapan tersebut juga dianggap sudah kuno,
tidak lagi sesuai dengan semangat modernitas yang
menjunjung tinggi rasionalitas dan pembuktian empirik.
Memang kalau kita melihat isinya, pamali berisi lebih banyak
mengancam daripada menjelaskan apa maksud larangan itu.
Seringkali dikaitkan juga dengan 'ancaman neraka'. Haji
Hasan Mustapa menuliskan sesuatu yang menarik tentang
ancaman tersebut.
“karena itu, tabu dan akibatnya sering tidak dimengerti oleh orang yang
mengatakannya atau yang mendengarkannya. Hanya dapat diartikan oleh
kebiasaan setiap orang yang melanggar adat istiadat, akan dibalas dengan
sesuatu yang tidak menyenangkan, yaitu siksaan.” (2010:15)
Dengan kata lain, Haji Hasan Mustapa hendak menyatakan
bahwa alasan menabukan tindakan tertentu ialah
pengalaman yang tidak menyenangkan. Pengalaman yang
buruk itu menimpa mereka yang mengabaikan tindakan‐
tindakan yang dilarang itu. Pengalaman akan tindakan
tabu/larangan yang diamati dan diceritakan secara turun
temurun ini bisa jadi menunjukkan akumulasi pengamatan
atas pengalaman buruk yang dialami pelakunya.
Jika demikian halnya, kita perlu juga mengetahui apa
sebenarnya pamali yang bertujuan mencegah pengalaman
buruk dialami seseorang. Kata 'pamali' dalam bahasa Sunda,
menurut analisa Haji Hasan Mustapa (2010:8), berasal dari
kata 'mali'. Kata 'mali' ini identik dengan bahasa sunda 'bali'
atau merujuk ke kata 'balik', dan 'malik'. Awalan 'pa',
menurut Mustapa, berfungsi sebagai alat yang membalikkan
ke kondisi semula. Maksudnya, membawa kembali orang
yang ingin melanggar pantangan ke kondisi semula, yakni
kepada pengalaman yang baik. Kata 'pamali' juga berkaitan
dengan peribahasa Sunda, demikian menurut Mustapa,
'kudu inget ka bali geusan ngajadi'. Peribahasa ini
menyatakan bahwa orang harus ingat pada kodrat asal‐
mulanya. Kodrat asal‐mula ini merujuk kepada pengertian
bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam kondisi yang
baik dan bersih. Dalam kondisi yang bersih dan baik itu, setiap
orang tentunya diharapkan senantiasa menjaga sikap dan
perilakunya. Tindakannya pun disertai dengan 'sikap hati‐
hati'. Maksudnya ia berusaha ingat bahwa tindakannya dapat
merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Inilah sikap eling,
atau senantiasa menyadari apa yang dilakukan.
Saat orang lain menyatakan pamali kepada kita, ia bermaksud
memotivasi kita agar lebih memilih hal yang baik dan
bermanfaat daripada yang buruk dan sia‐sia. Sikap lebih
memilih hal baik dan bermanfaat sama saja artinya dengan
bermawas diri. Tujuannya mencegah orang yang diberi
hubpages.com
peringatan ini tidak berlaku seenaknya sendiri. Tindakan
sewenang‐wenang biasanya tidak memikirkan keselamatan
atau kebaikan dirinya dan orang lain. Akibat tindakan yang
semaunya sudah jelas berbuah kesulitan apalagi penderitaan.
Inspirasi dari Pamali
Inspirasi pertama dari pernyataan 'pamali' dalam Budaya
Sunda bagi kita, para pendidik modern, terletak pada ajakan
kita pada mahasiswa untuk bersikap dan berperilaku mawas
diri. Jika kita hendak memberikan larangan kepada
mahasiswa dalam proses pendidikan di kelas, kita
memberikan pemahaman tentang sikap dan perilaku mawas
diri. Mahasiswa kita ajak mawas diri, menjaga sikap dan
perilaku supaya tidak membawa pengalaman buruk di saat
ini, atau di masa mendatang.
Inspirasi kedua berkaitan dengan sikap sebagai panutan.
Pemberi perintah pamali tidak melakukan pelanggaran
terhadap larangan yang disampaikan. Kita tidak bisa berlaku
seenaknya dalam memberikan aturan di kelas. Misalnya, kita
datang dan selesai tepat waktu di kelas; tidak seenaknya
menunda kelas dimulai atau menyelesaikan kelas sebelum
waktunya. Jangan sampai kita membatalkan kelas hanya
karena 'pekerjaan lain yang lebih penting'. Kita juga bisa
mencontohkan mematikan 'telepon pintar' di kelas; atau kita
tidak membuka peralatan canggih tersebut selama kelas
berlangsung. Dua hal di atas hanya contoh kecil dari sikap
mawas diri selaku pendidik yang perlu ditunjukkan kepada
mahasiswa. Dengan kata lain, adat pamali menegaskan
bahwa peraturan atau larangan ditujukan kepada semua
orang, baik si pemberi larangan maupun orang yang menjadi
subjek dari peraturan dan larangan itu. Dua inspirasi di atas
dapat menjadi masukan untuk membangun sikap dan
perilaku akademis baik dalam diri pendidik maupun subjek
didik.***
(sumber: Haji Hasan Mustapa, Adat Istiadat Sunda, [Bandung:
Penerbit PT. Alumni, 2010])
www.mbatang.com
Dr. Stephanus Djunatan, Ketua Program Pendidikan
Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik
Parahyangan.
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 11
Denyut
Memaknai Peran Setiap Unsur dalam
Perkembangan Sebuah Institusi
Dies Natalis ke-61 Fakultas Pertama Universitas Katolik Parahyangan.
F
akultas Ekonomi Universitas
Katolik Parahyangan mengadakan
Dies Natalis ke‐61 pada tanggal 5
Februari 2016 di Aula Fakultas
Ekonomi. Acara yang dimulai pada
pukul 8.30 ini diawali dengan tarian
tradisional dari UKM Listra dan paduan
suara FE Unpar yang kemudian
dilanjutkan dengan sambutan‐
sambutan. Elsje Kosasih, Dra., Ak. M.Si.,
CMA, selaku ketua panitia memulai
sambutan. Sambutan dilanjutkan oleh
Dr. Maria Merry Marianti, Dra., M.Si.,
Dekan Fakultas Ekonomi. Dalam
sambutannya, Merry mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang
telah mengambil bagian dan turut
berkontribusi dalam sejarah
perkembangan Fakultas Ekonomi
Universitas Katolik Parahyangan,
terutama kepada 14 orang yang pernah
menjabat sebagai Dekan Fakultas
Ekonomi dengan kontribusi masing‐
masing terhadap pengembangan
Fakultas Ekonomi. Berturut‐turut
kemudian, Mangadar Situmorang,
Ph.D. (Rektor Unpar), Drs. Antonius
Tardia (Ketua Ikatan Alumni Unpar),
dan Drs. Boedi Siswanto Basuki (Ketua
Ikatan Alumni FE), memberikan
sambutannya.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan
dengan oratio dies yang dibawakan
oleh Paulina Permata Sari, S.E., M.Ak.,
CMA dengan judul “Unpar menuju
Universitas yang Berkelanjutan
(Sustainable University). Dalam
orasinya dipaparkan bahwa Unpar telah
menjalankan beberapa upaya menuju
Sustainable University meskipun belum
“sekomprehensif” yang telah dijalankan
universitas kelas dunia yang
berpredikat sebagai “sustainable
university”. Meskipun demikian perlu
diakui bersama bahwa saat ini bagi
Unpar mungkin masih terdapat banyak
“pekerjaan rumah” yang perlu
dilakukan bersama jika ingin benar‐
benar dapat menyandang predikat
“sustainable university” secara utuh
dan dapat menjalankan seluruh aspek atas kondisi fisik di lapangan;
dari model keberlanjutan universitas
wawancara dengan beberapa pimpinan
dengan pendekatan terintegrasi.
universitas dan fakultas serta beberapa
pemangku kepentingan lainnya; dan
Untuk dapat mengidentifikasi sejauh
pembagian
kuesioner pada dosen dan
mana terdapat “pekerjaan rumah” ini,
mahasiswa.
langkah pertama yang perlu dilakukan
adalah melakukan pemetaan atas apa
yang telah dicapai selama ini yang
merupakan gambaran dan “potret diri”
Unpar dari aspek keberlanjutan
universitas. Dari hasil “potret diri”
tersebut akan terlihat aspek mana yang
telah dipandang baik dan perlu
Dalam sambutannya, Anton
mengatakan bahwa hubungan dengan dipertahankan sementara di area mana
yang perlu dilakukan perubahan,
para alumni perlu lebih
pembenahan dan perbaikan. Dalam hal
diberdayagunakan, bisa melalui
ini Paulina melakukan tiga cara yaitu
berbagai kegiatan ataupun rangkaian
diskusi yang membahas perkembangan observasi atau pengamatan langsung
kondisi jaman saat ini. Sementara itu,
dalam sambutannya yang dibacakan
pengurus IKA FE, Boedi menyampaikan
bahwa setiap insan tak bisa
mengabaikan keberhasilan yang telah
dicapai Unpar selama ini, namun juga
tetap harus rendah hati mengakui
masih banyak yang perlu ditingkatkan.
“Tugas bersama kita adalah melakukan
perbaikan terus menerus dengan
memperhatikan aspek sosial ekonomi
dan lingkungan, sebagaimana prasyarat
dari konsep pembangunan yang
berkelanjutan.”
12 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Setelah oratio dies, acara dilanjutkan
dengan pembacaan laporan Dekan FE
Unpar mengenai perkembangan
Fakultas Ekonomi Unpar selama
periode 2015. Pemberian penghargaan
kepada mahasiswa berprestasi di FE
Unpar juga menjadi salah satu acara
yang ada. Setelah semua rangkaian
acara selesai, acara dilanjutkan dengan
doa, makan siang, sekaligus ramah
tamah seluruh undangan yang hadir.
(HG)
Universitaria
Unpar menuju Universitas yang Berkelanjutan
(Sustainable University)
oleh Paulina Permata Sari
Keberlanjutan (Sustainability)
A
urali Ella Dade (2010) mendefinisikan keberlanjutan
sebagai proses di mana suatu organisasi berusaha
untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang
berhubungan dengan organisasi di sekitarnya sambil
menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Keberlanjutan ini merupakan irisan dari aspek ekonomi,
sosial dan lingkungan yang berdampak pada semua area ini
(Bartlett Chase, 2004), yang sekaligus merupakan tiga pilar
utama keberlanjutan (Soif et al. 2009). Ketiga pilar ini yang
dinamai “Triple Bottom Line” oleh ekonom John Elkington
yang dituangkan dalam bukunya “Cannibals with Forks : The
Triple Bottom Line of 21st Century Business” (Elkington,
1998).
Keberlanjutan Universitas (University Sustainability)
Velazquez et al. (2006) mendefinisikan universitas yang
berkelanjutan sebagai : “A higher educational institution, as a
whole or as a part, that addresses, involves and promotes, on
a regional or a global level, the minimization of negative
environmental, economic, societal, and health effects
generated in the use of their resources in order to fulfill its
functions of teaching, research, outreach and partnership,
and stewardship in ways to help society make the transition to
sustainable lifestyles.” Konsep keberlanjutan pertama kali
diperkenalkan pada dunia pendidikan internasional pada
tahun 1972 dalam konferensi PBB yang membahas mengenai
Human Environment (Carter and Simmons, 2010). Sejak saat
itu, sejumlah deklarasi nasional dan internasional yang
berkaitan dengan konsep keberlanjutan semakin
berkembang (Wright 2004) dan makin banyak berkembang
organisasi di bidang keberlanjutan universitas yang
mempromosikan dan memfasilitasi upaya keberlanjutan
melalui konferensi, publikasi, penelitian, dan berbagai forum
komunikasi (Calder & Dautremont‐Smith, 2009) serta
pemberian sertifikasi dan penghargaan (award) bagi
universitas – universitas yang dinilai telah menyandang
predikat “sustainable university” di berbagai bidang.
Model Keberlanjutan Universitas
Universitas yang berkelanjutan merupakan suatu universitas
yang ditandai dengan kegiatan operasional sosial dan
ekonomi yang mendukung kelangsungan hidup jangka
panjang dari sebuah struktur lingkungan dan sosial (Razak et
al, 2011). Hubungan antara ekonomi, sosial dan lingkungan
merupakan ketiga aspek yang tidak terpisahkan. Karena
ketiga aspek ini saling berhubungan maka untuk mencapai
suatu keberlanjutan universitas, pertimbangan ketiga
komponen ini menjadi sangat
penting.
Keberlanjutan lingkungan.
Populasi manusia yang
semakin bertambah akan
meningkatkan penggunaan
a ta s s u m b e r d aya u n t u k
memenuhi kebutuhan. Oleh
karena itu telah menjadi suatu
ke h a r u s a n b a hwa p e r l u
dilakukan upaya untuk
melestarikan dan mengelola
sumber daya secara bijaksana.
Keberlanjutan sosial. Goodland (1995) membahas
pentingnya membangun masyarakat, mengembangkan
budaya, menghargai keanekaragaman, menjunjung toleransi
dan berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan
dengan pelestarian kehidupan sosial. Adanya keterlibatan
sosial yang tinggi ini menggambarkan bahwa mahasiswa dan
pemangku kepentingan universitas bersama‐sama untuk
menciptakan kehidupan yang berkelanjutan (Bardaglio &
Putnam, 2009).
Keberlanjutan ekonomi. Tanpa adanya sistem ekonomi yang
memungkinkan masyarakat untuk berkembang, maka
kelestarian lingkungan tidak mungkin dapat tercapai. Daly
(1996) memanfaatkan istilah “sustainable development” and
“smart growth” untuk menunjukan perlunya perspektif
ekonomi yang memadai dalam permasalahan sosial dan
lingkungan.
Pendekatan dalam Upaya Mencapai Keberlanjutan
Universitas (Approaches for Achieving University
Sustainability)
Wals dan Jickling (2002) berpendapat bahwa dalam konteks
pendidikan tinggi tidak harus membatasi diri dalam suatu
pendekatan keberlanjutan tertentu. Jain & Pant (2010)
menyatakan bahwa bagi suatu universitas yang penting disini
adalah mereka harus mampu menciptakan kesadaran publik
mengenai bagaimana keberlanjutan dapat diintegrasikan
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 13
dalam kehidupan sehari‐hari. Pendekatan yang paling banyak
digunakan adalah pendekatan green building, ISO 14001 dan
EMAS (Alshuwaikhat dan Abubakar, 2008). Green Building
merupakan suatu pendekatan yang dirancang untuk
mengurangi produksi limbah dan bahan‐bahan yang
berbahaya untuk lingkungan, mengurangi penggunaan
energi dan menjadikan bangunan universitas menjadi
bangunan hemat energi, ISO 14001 merupakan standar yang
memandu organisasi dalam mengelola dampak atas kegiatan
yang dilakukan terhadap lingkungan, sedangkan Eco‐
Management and Audit Scheme (EMAS) merupakan
pendekatan yang dirancang untuk membawa perubahan
dalam kinerja lingkungan.
Di tengah perkembangan isu lingkungan yang semakin
kompleks, Alshuwaikhat dan Abubakar (2008) menyatakan
bahwa diperlukan adanya suatu pendekatan yang lebih
komprehensif yang mencakup pengelolaan lingkungan untuk
mengurangi konsumsi sumber daya dan dampak negatif dari
aktivitas serta kegiatan universitas lainnya untuk mendorong
keberlanjutan universitas.
Model Pendekatan Terintegrasi untuk mencapai
Keberlanjutan Universitas
Alshuwaikhat dan Abubakar (2008) mengembangkan suatu
pendekatan yang mengadopsi tiga strategi secara terpadu
yaitu: (i) Implementasi University Environmental
Management System (EMS); (ii) Partisipasi masyarakat dan
tanggung jawab sosial; dan (iii) Pengajaran serta penelitian
mengenai keberlanjutan. Setiap strategi ini memiliki
beberapa inisiatif yang bertujuan untuk mencapai misi
keberlanjutan dari suatu universitas (Gambar 1).
i. University Environmental Management System (EMS)
EMS merupakan pendekatan yang menangani masalah
lingkungan yang memberikan tanggung jawab kepada
universitas untuk menerapkan praktik serta prosedur yang
dapat memastikan bahwa dampak dari lingkungan dapat
dikurangi. EMS juga menyediakan suatu standar yang
bermanfaat untuk mengidentifikasi program – program
terkait keberlanjutan lingkungan yang menjadi prioritas
dengan menyediakan juga indikator – indikator terkait
keberlanjutan lingkungan yang dapat diukur dan dinilai untuk
menentukan sejauh mana kegiatan operasi perusahaan telah
menjadi lebih ramah lingkungan (enviromentally friendly).
Alshuwaikhat dan Abubakar (2008) menyebutkan bahwa
implementasi EMS dapat dilakukan dengan cara pengelolaan
dan pengembangan lingkungan serta menerapkan konsep
kampus hijau (green campus) seperti pengelolaan energi
listrik dan air dengan menggunakan peralatan hemat energi,
menggunakan sumber daya alam seperti angin, matahari dan
panas bumi, memasang sistem kontrol tersentralisasi untuk
mengendalikan penggunaan alat‐alat elektronik secara
efisien.
Gambar 1.
Kerangka Pendekatan yang Terintegrasi
untuk Mencapai Keberlanjutan Universitas
14 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
ii. Partisipasi Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial
Strategi ini berfokus pada partisipasi para pemangku
kepentingan dalam mencapai keberlanjutan dan tanggung
jawab universitas agar mendorong terciptanya keadilan
sosial. Keadilan sosial ini mengacu pada pentingnya martabat
manusia, kesetaraan, perdamaian dan keadilan serta
kesehatan. Menjadi universitas yang berkelanjutan juga
membutuhkan kerjasama dengan lembaga pemerintahan
dan lembaga‐lembaga lain dalam membina keberlanjutan
kampus (Alshuwaikhat dan Abubakar, 2008). Strategi ini berisi
upaya‐upaya yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat
dan kerjasama, pengabdian pada masyarakat dan keadilan
Sosial.
iii.Pengajaran serta penelitian mengenai keberlanjutan
Universitas membawa misi pendidikan, penelitian, dan
pelayanan publik, oleh karena itu universitas memiliki
tanggung jawab sosial untuk mendidik mahasiswa dan
masyarakat berkaitan dengan konsep keberlanjutan.
Universitas adalah pusat inovasi dan ide pengembangan serta
merupakan tempat yang tepat untuk menumbuhkan ide‐ide
yang berkaitan dengan keberlanjutan. Selain itu, universitas
juga mampu menciptakan kesadaran publik mengenai
bagaimana keberlanjutan dapat diintegrasikan ke dalam
kehidupan sehari‐hari (Jain & Pant, 2010). Alshuwaikhat dan
Abubakar (2008) menyebutkan upaya ini dapat dicapai
dengan menggabungkan konsep keberlanjutan ke dalam
sistem pendidikan dan pengajaran, penyelenggaraan
berbagai kegiatan dan pertemuan ilmiah, serta penelitian dan
pengembangan.
Praktik Terbaik dari Universitas – Universitas yang
Berkelanjutan (Best practices of Sustainable Universities)
Untuk memperoleh gambaran mengenai bagaimana
penerapan konsep keberlanjutan pada beberapa universitas
terkemuka di dunia yang telah berpredikat dan mendapat
penghargaan sebagai “sustainable university”, penulis
mengulas tentang “best practice” yang telah diterapkan di
beberapa “sustainable university” tersebut. Adapun
universitas – universitas tersebut adalah Osaka University,
University of Western Australia, Brown University National
University of Singapore, University of Melbourne dan
Chulalongkorn University, Universitas Indonesia dan
Universitas Gadjah Mada. Dalam tulisan ini penerapan “best
practice” pada beberapa universitas ini dipaparkan dengan
merujuk pada model keberlanjutan universitas dengan
pendekatan terintegrasi dari Alshuwaikat dan Abubakar
(2008).
Pada parameter keberlanjutan implementasi EMS, yang
paling banyak dilakukan oleh universitas‐universitas
terkemuka tersebut adalah komitmen untuk mengurangi
emisi gas yang dihasilkan dari kegiatan universitas,
melakukan berbagai upaya untuk mengurangi penggunaan
energi ait, listrik dan gas, melakukan daur ulang limbah,
menyusun pedoman dan standar gedung yang mendukung
keberlanjutan dan membuat suatu perencanaan jangka
panjang untuk mendukung pengembangan berkelanjutan.
Dalam parameter partisipasi publik dan tanggung jawab
sosial, inisiatif kebelanjutan yang paling banyak dilakukan
adalah melakukan kerjasama baik dengan pemerintah,
industri dan masyarakat dalam skala nasional dan
internasional, mengadakan suatu program perencanaan yang
dapat menimbulkan interaksi sosial, dan menjada lingkungan
kerja yang sehat, aman dan nyaman. Sedangkan parameter
terakhir yaitu pengajaran dan penelitian, universitas –
universitas terkemuka lebih banyak melakukan inisiatif
keberlanjutan dalam melakukan penelitian dan kegiatan
pendidikan yang berkaitan dengan keberlanjutan.
Hal lainnya yang menarik jika melihat bagaimana “best
practices” ini, beberapa dari universitas ini secara eksplisit
menunjukan bagaimana mereka benar – benar
mempromosikan isu keberlanjutan dalam segala aspek
termasuk dalam hal bagaimana mereka menginformasikan
mengenai setiap program yang ada di universitas mereka
dengan penekanan pada kata sustainability di antaranya
melalui pemembuatan khusus “website keberlanjutan” dan
berbagai upaya untuk dapat diperolehnya penghargaan
keberlanjutan (sustainability award).
Praktik Keberlanjutan di Unpar Saat ini (Existing
Sustainability Practice in Unpar)
Beberapa upaya menuju Sustainable University telah Unpar
jalankan meskipun belum “sekomprehensif” yang telah
dijalankan universitas kelas dunia yang telah berpredikat
sebagai “sustainable university”. Meskipun demikian perlu
diakui bersama bahwa saat ini bagi Unpar mungkin masih
terdapat banyak “pekerjaan rumah” yang perlu dilakukan
bersama jika ingin benar – benar dapat menyandang predikat
“sustainable university” secara utuh dan dapat menjalankan
seluruh aspek dari model keberlanjutan universitas dengan
pendekatan terintegrasi sebagaimana dipaparkan di atas.
Inisiatif keberlanjutan universitas yang saat ini telah
dijalankan di Unpar masih terbatas, hal ini menunjukkan
bahwa masih banyak yang Unpar perlu lakukan jika ingin
mengimplementasikan inisiatif keberlanjutan universitas
yang terintegrasi secara utuh sejalan dengan berbagai upaya
menuju “The Great Unpar”.
Proses Pengimplementasian Inisiatif Keberlanjutan
Universitas
Proses pengimplentasian berbagai upaya dan inisiatif menuju
keberlanjutan dalam pendidikan tinggi merupakan proses
yang kompleks (Rasmussen, 2011). Agar proses implementasi
inisiatif keberlanjutan universitas ini berhasil karenanya
diperlukan beberapa pertimbangan khusus dalam
melaksanakan hal ini. Pertimbangan yang dimaksud
diantaranya adalah: (i) Diperlukannya penetapan visi, misi
dan tujuan yang jelas terkait arah keberlanjutan universitas
(Alshuwaikhat dan Abubakar, 2007). Menurut Norton et al.
( 2 0 0 7 ) , p e r e n c a n a a n p e m b a n g u n a n u n i v e rs i t a s
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 15
mempengaruhi pengembangan lingkungan, sosial dan
ekonomi sehingga perencanaan tersebut harus mengacu
pada misi universitas terkait keberlanjutan; (ii) Upaya
pengimplementasian model keberlanjutan universitas yang
terintegrasi akan lebih mudah dilaksanakan jika budaya dan
nilai universitas atas keberlanjutan telah dikembangkan dan
dibudidayakan (Bartlett & Chase, 2004; McGonigle & Starke,
2006; Blewitt & Cullingford, 2009); (iii) Kurangnya kesiapan
sumber daya (pendanaan, sumber daya manusia dan
infrastruktur) dapat menjadi penghalang utama untuk
menerapkan inisiatif keberlanjutan universitas (Blackburn,
2007). Oleh karena itu sumber pendanaan perlu diidentifikasi
dari awal dan membuat perencanaan yang baik terkait
penggunaan dana tersebut, membentuk struktur organisasi
yang tepat bergantung pada penempatan staff yang tepat
yang bertanggung jawab atas pekerjaan terkait keberlanjutan
lingkungan dan pembentukan suatu komite keberlanjutan
yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan terkait
isu keberlanjutan universitas agar dapat tercipta sinergi antar
civitas akademika (Creighton dan Rapport, 2007); (iv)
Melibatkan berbagai pemangku kepentingan termasuk
administrator, dosen, staff serta mahasiswa sangatlah
penting dalam mengembangkan upaya keberlanjutan yaitu
ketika menetapkan tujuan untuk keberlanjutan lingkungan
(Wright, 2002; Bartlett & Chase, 2004); (v) Keberhasilan
program keberlanjutan sangat memerlukan Komitmen
Keberlanjutan itu sendiri yang diantaranya dapat dituangkan
dalam bentuk Deklarasi Keberlanjutan; (vi) Mempertahankan
c i t r a h i j a u m e n ca ku p u p aya b e r ko m u n i ka s i d a n
menyampaikan pesan pada para mahasiswa dan masyarakat
dalam berbagai cara seperti melalui penyusunan website
keberlanjutan, penerbitan newsletter dan lain sebagainya
(Rasmussen, 2011).
Scott et al. (2012) mengidentifikasi sepuluh langkah yang
dapat dilakukan agar universitas mampu mengatasi
hambatan‐hambatan yang ada dalam menanamkan konsep
keberlanjutan pada universitas, yaitu: (1) memahami adanya
tantangan dan kompleksitas dalam upaya tercapainya
keberlanjutan universitas; (2) mempertajam fokus dan
pemahaman mengenai keberlanjutan universitas; (3)
memastikan adanya integrasi dan keselarasan untuk
mendukung keberlanjutan universitas; (4) memonitor dan
meningkatkan kualitas dari program keberlanjutan yang telah
ada secara lebih sistematis; (5) menyusun upaya‐upaya
keberlanjutan dengan tepat; (6) melibatkan lembaga
kepemimpinan yang lebih atas; (7) menerapkan konsep
manajemen perubahan yang berhasil dalam lembaga
p e n d i d i ka n ; ( 8 ) m e m fo k u s ka n p a d a ka p a b i l i t a s
kepemimpinan; (10) menerapkan pendekatan yang produktif
16 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
atas pembelajaran kepemimpinan untuk pengembangan
profesionalisme dari para pemimpin keberlanjutan
universitas.
Penutup
Menerapkan inisiatif keberlanjutan universitas yang
komprehensif menuntut sejumlah besar perubahan
termasuk diperlukannnya perubahan individu dalam hal
kebiasaan atau rutinitas yang selama ini dijalankan
(Criehgton, 1998; McKenzie‐Mohr, 2011). Universitas harus
dapat berperan sebagai pusat pengajaran dan pembelajaran
serta mengakomodasi kebutuhan dari semua peserta didik
d a n m e l aya n i s e b a ga i p u s at ko m u n i ta s u nt u k
mempromosikan keberlanjutan. Perguruan tinggi juga harus
mampu bekerja sama dengan semua anggota komunitas dan
mempromosikan kemitraan serta kolaborasi dengan semua
pemangku kepentingan dalam pembuatan kebijakan dan
perencanaan lingkungan, sosial dan ekonomi yang
berkelanjutan untuk pembelajaran dan
penelitian.Pendekatan yang terintegrasi sebagaimana
dipaparkan di atas merupakan suatu pendekatan dalam
mencapai keberlanjutan universitas yang dapat membantu
universitas meningkatkan efisiensi operasi, proses
pembelajaran dan proses lainnya, meningkatkan kesadaran
akan dampak lingkungan serta membangun citra
keberlanjutan universitas terkait tanggung jawab sosial
universitas.
Unpar saat ini masih memiliki banyak “pekerjaan rumah”
terkait keberlanjutan universitas yang salah satunya dapat
diselesaikan dengan pengimplementasian model inisiatif
keberlanjutan universitas yang terintegrasi. Sejauh ini Unpar
telah terbukti mampu bertahan (sustainable) namun jika
ditantang dengan satu pertanyaan apakah Unpar saat ini
sudah benar – benar layak menyandang predikat “sustainable
university” dan siap dinobatkan sebagai salah satu universitas
penerima award di bidang keberlanjutan universitas? Marilah
kita jawab dan kaji tantangan ini bersama.
Paulina Permata Sari, S.E., M.Ak., CMA., lulusan Fakultas
Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Katolik
Parahyangan (1990 - 1994) dan Magister Akuntansi Unpad
(2003 - 2005). Sejak tahun 1995 menjadi Dosen Tetap
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Unpar. Pernah
menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Akuntansi (1996 - 2003)
dan Ketua Jurusan Akuntansi (2005 - 2010). Saat ini tengah
melanjutkan studi Program Doktor Ilmu Ekonomi konsentrasi
Ilmu Akuntansi di Universitas Trisakti Jakarta.
Denyut
Dig Into Science Novelty Expo and Tour
Siswa Sekolah Menengah Atas diajak untuk memanfaatkan limbah menjadi bahan
produktif. Sebuah upaya pelestarian alam melalui Ilmu Kimia.
H
impunan Mahasiswa Program
Studi Teknik Kimia (HMPSTK)
Unpar bekerjasama dengan
Program Studi Teknik Kimia Unpar
mengadakan acara Pekan Ilmiah 2016
pada Senin, 1 Februari 2016 bertajuk
Dig Into Science Novelty Expo and Tour
(DISCOVER). Kegiatan Pekan Ilmiah ini
merupakan suatu rangkaian acara Tour
Lab, Science Expo‐Bazaar, dan Lomba
Karya Ilmiah tingkat SMA dengan
peserta siswa‐siswi SMU dari Bandung,
Jakarta serta Pontianak.
Pada kegiatan Tour Lab, siswa‐siswi
berkunjung dan diperkenalkan
beberapa laboratorium yang ada di
lingkungan Program Studi Teknik Kimia
Unpar, yakni Laboratorium Kimia
Terapan, Laboratorium Rekayasa Reaksi
Kimia dan Pemisahan, Laboratorium
Teknologi Pangan dan Bioproses, serta
Laboratorium Polimer dan Membran.
Animo siswa‐siswi SMA dalam kegiatan
ini sangat tinggi. Hal ini nampak dengan
total peserta tour lab yang hadir yaitu
180 orang dan antusias menyimak serta
bertanya mengenai berbagai hal yang
dijelaskan. Sementara kegiatan Science
Expo berlangsung atas kerja sama
dengan Puspa Iptek Sundial Kota Baru
Parahyangan, yang menyajikan
berbagai alat peraga ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Prototype hidroponik panel surya
Kegiatan Lomba Karya Ilmiah menjadi
puncak acara Pekan Ilmiah Teknik Kimia
Unpar 2016 ini. Sejak September 2015,
peserta telah diminta untuk
mempersiapkan karya ilmiah tertulis
yang dinilai oleh Dewan Juri layak
untuk lolos ke babak final. Pada babak
final yang dilaksanakan tanggal 1
Februari 2016, setiap peserta diminta
untuk membawa alat peraga, prototipe
atau pun produk yang dihasilkan, serta
mempresentasikannya di hadapan
pengunjung dan Dewan Juri.
Dari 10 tim yang menjadi finalis, tim
dari SMA Santo Paulus Pontianak
berhasil meraih juara pertama Lomba
Karya Ilmiah membawakan makalah
berjudul “Ale‐Ale Pengikat Besi:
Pemanfaatan Limbah Cangkang Ale‐Ale
Sebagai Media Filtrasi untuk
Mengurangi Kadar Besi dalam Air
Gambut”. Juara kedua diraih SMA
Regina Pacis Jakarta yang
mempresentasikan makalah
“Penggunaan Limbah Rumah Tangga
sebagai Media Pupuk Hidroponik
Portabel Bertenaga Panel Surya”. Juara
ketiga Lomba Karya Ilmiah ini diraih
oleh SMA Santa Angela Bandung,
dengan makalah “Pemanfaatan Kulit
Semangka (Citrullus ianatus) Bagian
Dalam sebagai Bahan dasar Pembuatan
Selai”. Sementara itu, juara favorit hasil
voting pengunjung Pekan Ilmiah diraih
oleh SMA Trinitas Bandung, dengan
makalah “Kolaborasi Limbah Plastik dan
Limbah Kubis menjadi Bahan Bakar
Premium”.
(BS)
Tour Lab
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 17
Denyut
Menyatu
dalam Kenangan,
Memberi Makna
untuk Masa Depan
Persembahan kolaborasi
mahasiswa dan alumni
untuk bersama mengenang
masa kuliah bagi para alumni
dan memberikan inspirasi
bagi mahasiswa.
mahasiswa Unpar sebelum berkarya di
dunia profesional.
Person menghadirkan pembicara Willy
Jonathan
(CEO dari @infojakarta) serta
embaga Kepresidenan Mahasiswa
Galih
Mulya
Nugraha (Owner &
Universitas Katolik Parahyangan
Pada perhelatan pertama, tanggal 12
Managing
Director
Embara Films).
(LKM Unpar) menyelenggarakan
Februari 2016, sesi pertama diawali
Untuk
talk
show
terakhir
yang diadakan
kegiatan Parahyangan Alumni Day
oleh Maruarar Sirait (anggota DPR RI
pada tanggal 26 Februari 2016, tema
2016 (PAD 2016). PAD 2016
Komisi XI) dan Yunarto Wijaya
yang
diambil adalah entertainment.
merupakan sebuah kegiatan yang
(Pengamat Politik) dengan tema
Para
narasumber
pada kegiatan ini
bertujuan mempererat jalinan
“Berkarir di dunia politik? Siapa takut!”. adalah Baron Suprayogi (eks‐gitaris
hubungan antara mahasiswa dan
Pada sesi berikutnya, hadir Paulus
Gigi), Yosi Mokalu (penyanyi), dan Rizki
alumni Unpar. Acara yang mengusung
Winarto (motivator & best‐selling
Darmasetiawan
(Founder Briz
tema 'Menyatu dalam kenangan,
author) serta Annisa Pagih (model &
Entertainment).
memberi makna untuk masa depan'
news anchor) dengan tema “Find your
terbagi ke dalam serangkaian kegiatan
Sebagai acara puncak, pada tanggal 27
passion and make a living from it”.
seperti 'Alumni Giving Back', talk show,
Februari 2016, dari pukul 15.00 hingga
dan acara puncak yang diselenggarakan Selanjutnya pada tanggal 19 Februari
21.00 WIB diadakan berbagai acara
pada tanggal 27 Februari 2016.
2016, talk show sesi pertama
seperti food bazaar, mini games,
menghadirkan narasumber Drs. Boedi
faculty
booth, dan wall of memory di
“Talk Show Bersama Alumni” sebagai
Siswanto Basuki (pemilik dari Yogya
parkiran
Rektorat Unpar. Acara ini juga
kegiatan awal dari PAD 2016
Group), Celerina Judisari (CEO dari
dimeriahkan
dengan penampilan
diselenggarakan setiap hari Jumat
Mahaka Pictures), serta Stefanie
spesial
dari
SevenChords,
KSP Band, EP
mulai dari tanggal 12 Februari hingga
Kurniadi (Founder dari Warunk
Project,
Tuff
Gong,
serta
Aria
Baron and
26 Februari 2016 di Ruang Mgr. Geise
Upnormal). Mereka bertiga membahas friends.
Lecture Theatre, Fakultas Ilmu Sosial
topik Expanding Your Career Business.
dan Ilmu Politik (FISIP) Unpar. Setiap
Untuk sesi kedua yang mengambil tema
minggunya, talk show dibagi menjadi 2
(HG)
Change Our Mindset to be a Creative
sesi. Antonius Tardia selaku Ketua
Ikatan Alumni Unpar (IKA Unpar) yang
juga merupakan Anggota Pengurus
Yayasan Unpar ikut hadir pada
pembukaan acara.
L
Dalam sambutannya beliau
mengatakan bahwa belajar itu tidak
hanya melalui buku karena yang
terpenting adalah bagaimana manusia
dapat mentransformasikan sebuah ilmu
menjadi sebuah aksi. Dr. Paulus
Sukapto, Wakil Rektor III Bidang Modal
Insani dan Kemahasiswaan, yang ikut
hadir juga berharap dengan
diselenggarakannya kegiatan bincang‐
bincang dengan alumni ini, dapat
memberikan bekal pengalaman bagi
18 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Boedi S. berbagi pengalaman dan inspirasi
Tarian Mentari
dan Embun Pagi
Panorama pagi di jalan masuk ke Gedung Balaikota (1930-an)
sumber: Album Bandoeng Tempo Doeloe (edisi 200 tahun Bandung)
Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Khazanah Bahari, Bandung, 2010
ACampusof
TransformativeExperience
1955
Unpar wants to ensure that the university is providing
students a transformative experience – intellectually, socially,
andpersonally–thatwillpreparethemforameaningfullifeof
serviceandcontribution.Withqualifiedlecturersandquality
of the facilities, students have resources they need to fulfill
theiracademicandpersonalpotential.
At the heart of Ciumbuleuit Street, students live, learn, work
togetherwithlecturers,anddotheirextracurricularactivities.
These multigenerational communities provide personal and
enriching interactions that shape students intellectually,
socially,andpersonally.Witha61-yeartraditionofeducating
young leaders, Unpar is proud to deliver an education in
knowing, doing, living together, and being, in a supportive
environmentofcoolairandpanoramicviewinnorthernpart
of Bandung City. Situated in a beautiful surroundings, Unpar
offersalearningcommunitythatisexcitingandvibrant.
Transformatif
Keterberian Melimpah
oleh Hadrianus Tedjoworo, OSC
“Supaya ada pemberian, tidak boleh ada resiprositas” (J.-L. Marion).
Artinya, makna sebuah pemberian akan 'menghilang' segera
setelah ada (sistem) pertukaran. Pemberian hilang dari dirinya
sendiri gara-gara suatu sistem yang mengharuskan beberapa
persyaratan untuk dipenuhi supaya efektivitas prosesnya tercapai.
Dengan kata lain, mentalitas ekonomis menghisap setiap
pemberian! Kalau mau menghancurkan arti hadiah yang kita
terima dari seseorang, katakan bahwa kita ingin memberi sejumlah
uang yang setara dengan harga barang yang dihadiahkan kepada
kita itu. Memberi balasan terhadap suatu pemberian terdengar
bagus dan saleh, tetapi sebetulnya mengurangi atau
menghilangkan arti penting pemberian.
Apresiasi
M
ungkin ilmu tetap harus dikorelasikan dengan
tradisi. Ketika ilmu pengetahuan yang kita dalami
selalu berada dalam dialog dengan kultur dan
tradisi, nilai‐nilai yang telah membesarkan kita akan tetap
relevan karena terus menerus didiskusikan. Bahkan, ilmu
pengetahuan kita akan mengajari apa artinya
mengungkapkan apresiasi terhadap setiap 'pemberian' yang
kita terima dari alam, dari masyarakat, dan dari dunia.
Kebiasaan mempelajari teori dan model di dunia akademis
bisa menempatkan kita sebagai orang yang berusaha
mengatasi dan memecahkan masalah. Akan tetapi, menjadi
problem‐solver bukan segala‐galanya dalam hidup. Sebagian
besar yang ada di sekitar kita bukanlah 'masalah' yang harus
dipecahkan, melainkan hal‐hal yang terjadi dan 'ada' tanpa
usaha kita.
Lantas apa yang harus kita lakukan ketika tidak ada masalah
yang harus dipecahkan? Menerima. Mengapresiasi.
Bersyukur. Lingkungan akademis sudah lama terpisah dari
gestur‐gestur semacam ini. Efektivitas dan efisiensi terus
menerus ditekankan. Akibatnya, hal‐hal yang amat
sederhana seperti menerima dan bersyukur bisa jadi
dianggap tidak akademis untuk diungkapkan. Mungkin ini
sebentuk arogansi tersendiri setelah berbagai pencapaian
dan prestasi kita dalam ilmu pengetahuan, padahal kita
semua pasti pernah menjadi murid di kelas – sosok yang
diandaikan banyak menerima dan mengapresiasi pemberian.
Apa yang kita terima dari masyarakat di sekitar universitas?
Sekali lagi, bukan apa yang kita 'berikan', melainkan apa yang
kita terima. Memberi itu mengandaikan superioritas, yaitu
kondisi bahwa kita punya lebih banyak, sehingga bisa
menempatkan diri sebagai pemberi sesuatu terhadap pihak
lain. Akan tetapi, menerima itu mengandaikan kondisi bahwa
kita masih belajar sesuatu dari orang lain. Ada yang
mengatakan bahwa menjadi pembicara di suatu konferensi
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 21
kebiasaan kita, itu semua ada di sana tanpa menuntut suatu
pengakuan atau ucapan terima kasih dari siapapun. Dan
semua keterberian itu melimpah ruah, tidak bisa ditahan‐
tahan, hampir 'tak terkendali', dalam bahasa kita para
akademisi. Itu bahasa kita karena kita memang senang
menganalisis, mengobservasi, dan memecahkan masalah.
Bagi kita, semua fenomena yang terberi dalam segala
kejadian itu benar‐benar lepas dari kendali kita. Kita
kehilangan remote control atas semuanya itu.
http://caramita.com
adalah sesuatu yang hebat karena tergantung kompetensi
yang dimiliki seseorang, tetapi menjadi pendengar di tempat
yang sama pun tak kalah hebatnya, seandainya sungguh‐
sungguh terjadi penerimaan dalam diri orang tersebut.
Mengapresiasi berarti menghargai sebuah pemberian yang
bukan usaha kita sendiri. Dalam arti tertentu itu bahkan
berarti kesediaan untuk belajar, kesediaan untuk menjadi
inferior daripada superior.
Apakah iklim studi dan diskusi kita masih menemukan dan
mengakui saat‐saat hening semacam itu? Terlalu banyak
bicara adalah penyebab tumpulnya kepekaan (intuisi) akan
kehadiran semua yang terberi dan tersedia secara ajaib. Iklim
studi kita barangkali terlalu diskursif, kurang 'hening', kurang
peka terhadap anomali‐anomali yang seharusnya
menyingkapkan kebenaran yang mengagumkan. Ini bukan
berarti lantas kita bermeditasi saja setiap hari. Bukan begitu.
Kita hanya perlu menyertakan suatu kepekaan dalam setiap
hal yang kita lakukan dan kata‐kata yang kita ucapkan.
Beberapa kali terjadi bahwa baik mahasiswa maupun dosen
banyak sekali berkata‐kata namun tidak menyadari apa yang
dikatakannya. Kita kadang‐kadang tercenung di tengah
diskusi, “Apa yang sebenarnya tadi mau saya katakan?”
Ada saatnya untuk berhenti banyak bicara, dan belajar
menerima pemberian‐pemberian yang luar biasa di sekitar
kita. Kita tak pernah menduga bahwa di saat‐saat seperti itu,
pengetahuan kita bisa tiba‐tiba bertambah kaya dengan cara
yang aneh, dan melimpah.
Keterberian
Sejak bangun pagi hingga tidur larut malam, sebagian besar
hal yang terjadi di sekitar kita bukanlah usaha kita. Ada kuasa Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC, Kepala Program Studi Ilmu
Filsafat Universitas Katolik Parahyangan
yang menyelenggarakan semua itu sehingga dengan atau
tanpa persetujuan kita, suka atau tidak suka, semuanya itu
akan tetap terjadi – sekali lagi – bukan karena usaha kita.
Itulah keterberian. Itulah jejak‐jejak keilahian yang
menampakkan diri dalam keseharian, dan berbeda dengan
22 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Mahasiswa
Di Puncak Aconcagua,
Merah Putih Berkibar
S
etelah berhasil mengibarkan
bendera Merah Putih di Gunung
Carstenz Pyramid, Papua,
Indonesia pada Agustus 2014 dan
Gunung Elbrus, Rusia serta Gunung
Kilimanjaro, Tanzania pada Mei 2015
lalu, Tim Mahitala Unpar melanjutkan
petualangannya menuju Gunung
Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina.
Mereka berangkat dari Jakarta ke
Argentina pada tanggal 11 Januari
2016. Tim ini terdiri dari Fransiska
Dimitri Inkiriwang (22), Mathilda Dwi
Lestari (22), dan Dian Indah Carolina
(20). Ketiganya merupakan mahasiswi
aktif Unpar yang tergabung dalam Tim
The Women of Indonesia's Seven
Summits Expedition Mahitala Unpar
(WISSEMU).
Ketiganya dilepas langsung oleh
Mangadar Sitomorang, Ph.D, Rektor
Unpar, dalam upacara pelepasan di
kampus Unpar, 6 Januari 2016.
Mangadar mengatakan bahwa manfaat
yang didapat dari rangkaian kegiatan
tersebut harus diakui lebih dari sekedar
hasil yang bersifat fisik dan kuantitatif.
“Keberhasilan Mahitala menaklukan
Angklung Bergema
tujuh puncak dunia membuktikan
mahasiswa Unpar memiliki karakter
yang tangguh dan penuh percaya diri,”
ujarnya.
Fransiska Dimitri Inkiriwang yang akrab
disapa Deedee menuturkan bahwa
mereka sengaja memilih berangkat
pada bulan Januari karena di bulan ini
merupakan cuaca terbaik untuk
melakukan pendakian di Gunung
Aconcagua. Dengan cuaca yang baik,
maka memperbesar peluang mereka
untuk bisa mencapai puncak. “Namun
bukan berarti kami tidak menghadapi
tantangan. Karena Gunung Aconcagua
terkenal dengan cuaca ekstrem yakni
angin El Viento Blanco,” kata Didi.
Angin ini kabarnya memiliki kecepatan
90 km/jam yang bertiup bersamaan
dengan kabut dan ditambah dengan
adanya hujan salju. Angin ini juga tidak
bisa diprediksi dan bisa tiba‐tiba
muncul.
Menurut Deedee, karena sulitnya
pendakian ini, tim membuat
perencanaan yang matang. Mulai dari
latihan fisik, seperti lari, latihan beban,
dan latihan yoga. Ditambah dengan
bedah peta, latihan teknik navigasi, dan
persiapan alat‐alat.
Gunung Aconcagua di Argentina
merupakan gunung tertinggi di Benua
Amerika Selatan dan Gunung Tertinggi
kedua dalam rangkaian seven summits
setelah Gunung Everest. Gunung ini
tidak hanya mempunyai jalur yang
panjang, namun juga cuaca ekstrim
seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya. Bagi tiga mahasiswi yang
masih duduk di jurusan Hubungan
Internasional Unpar ini, Gunung
Aconcagua memiliki kesan yang
berbeda. Karena Indonesia punya
pengalaman berduka di sana. Dua
pendaki Indonesia yaitu Norman Edwin
dan Didiek Samsu gugur saat
melakukan ekspedisi seven summits.
“Karena itu pendakian ini kami
dedikasikan untuk para pendahulu kami
yang pernah gugur di sana,” kata
Deedee.
Anggota tim publikasi ekpedisi
Mahitala Bandung, Alfon Yoshio,
mengabarkan pendakian yang
Bersama rombongan Indonesia di Puncak Bonete
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 23
dilakukan tim WISSEMU ditempuh
selama seminggu. “Pertama perjalanan
tim melewati base camp Plaza De
Mulas 4.250 mdpl untuk beristirahat
dan dilanjutkan ke Plaza Canada 4.900
mdpl lima hari kemudian, Nido De
Condores 5.400 mdpl sehari
setelahnya, Refugio Berlin 5.930 mdpl
pada 29 Januari 2016 sebelum
berangkat ke puncak Aconcagua,”
tuturnya melalui siaran pers.
Berdasarkan laporan tim publikasi
ekpedisi, tim WISSEMU merasakan
angin kencang dan suhu mencapai ‐10°
Celcius di Refugio Berlin. Dari pantauan
cuaca selama pendakian, tim
WISSEMU selalu berhadapan dengan
angin yang kencang dengan kecepatan
50 kilometer per jam.
akhirnya mengukir keberhasilan
mencumbui puncak Gunung
Pada perjalanan menuju puncak
Aconcagua, meskipun hanya dua dari
Aconcagua, kata Alfhon, Dian Indah
tiga anggota tim yang berhasil
Carolina diputuskan untuk tidak
mengibarkan Merah Putih pada Sabtu,
melanjutkan pendakian pada
(30/01/2016) pukul 17.45 waktu
ketinggian 6.300 mdpl, karena
setempat,” katanya.
mengalami gangguan kesehatan dan
diharuskan kembali ke camp‐3.
Alfhon menjelaskan, berkat kerja keras
Keputusan tersebut diambil mengingat dan doa dari semua pihak maka tim
keselamatan personil pendaki adalah
WISSEMU dapat mencapai Puncak
hal yang utama dan sangat penting.
Aconcagua. “ Tetapi sayang, waktu
Maka, untuk melanjutkan summit
tetap berjalan dan mereka harus segera
attack pendakian hanya dilanjutkan
turun untuk kembali ke camp Berlin.
oleh Fransiska Dimitri dan Mathilda
Kekhawatiran utamanya dalam
Dwi Lestari. “Proses yang panjang dan
pendakian menuju 'atap' Argentina ini
perjuangan yang tak kenal lelah,
adalah cuaca yang sangat cepat
Menuju Puncak Bonete, kemiringan tebig 70 derajat
24 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Panji Unpar di Puncak Bonete
berubah dengan angin yang tiba‐tiba
dapat bertiup dengan sangat kencang,”.
Oleh karena itu, mereka tidak dapat
berlama‐lama di Puncak Aconcagua,
walaupun matahari di Amerika Selatan
terbenam pada pukul delapan malam.
Perjalanan turun menuju camp Berlin
juga tergolong tidak mudah, banyak
jalur‐jalur sulit yang harus mereka lalui
untuk kembali dan bertambah sulit
ketika digunakan untuk berjalan turun.
Sesampainya di base camp Plaza de
Mulas Senin, (01/02/2016) sekitar
pukul 20.00 waktu setempat, tim baru
bisa mengabarkan dengan detail
kepada tim di Bandung mengenai
keadaan di sana melalui internet.
Tim menceritakan panjangnya jalur
menuju puncak dan curamnya tanjakan
yang harus mereka hadapi. Hambatan
yang harus dihadapi tim seperti jalur
traverse sepanjang 500 meter yang
langsung disusul tanjakan terjal
Canaleta (6.600 mdpl) sebelum Puncak
Aconcagua. Tantangan dalam
perjalanan ini masih ditambah dengan
angin yang bertiup kencang dalam
perjalanan. Setelah dua orang
anggotanya berhasil mencapai puncak,
tim WISSEMU langsung kembali ke
Mendoza untuk memeriksakan kondisi
Carolina yang mengalami gangguan
kesehatan saat mendaki. Hasil dari
pemeriksaan menunjukan bahwa
Carolina masih harus tinggal di
Mendoza untuk menstabilkan kondisi.
Sesuai dengan perencanaan awal, kata
Alfhon, Mathilda langsung kembali ke
Jakarta via Buenos Aires pada Kamis,
(04/02/2016).
Rektor Unpar juga menyatakan
kegembiraannya atas keberhasilan tim
WISSEMU. "Keberhasilan mencapai
Puncak Aconcagua adalah buah dari
tekad yang gigih, stamina yang kuat,
dan jiwa optimis yang tinggi. Pelatihan
dan persiapan yang serius menjadi
persyaratan penting. Selain itu,
dukungan dari berbagai pihak juga
sangat berperan. Mulai dari anggota
tim, tiga srikandi yang saling
menguatkan, organisasi Mahitala yang
solid, orang tua dan sanak‐saudara
serta teman‐teman, semuanya sangat
membantu. Bantuan dari
KBRI di Argentina juga sangat
diapresiasi. Demikian juga
dengan bantuan dan berbagai
bentuk dukungan dari mitra
kerjasama amat berharga.
Kepribadian yang tangguh,
organisasi yang kompak, dan
bantuan dari semua pihak
membuat kerja keras
pendakian ini berhasil.
Terimakasih untuk
semuanya,” katanya.
(Berbagai sumber/HG/BS)
Foto: Mahitala Unpar
Angklung dan Bendera Merah Putih di Puncak Aconcagua
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 25
Denyut
Water Conflict in Globalization
Kolaborasi Indonesia-Korea Selatan menyiapkan mahasiswa yang mampu memberikan
solusi permasalahan sumber daya air.
W
ater Intensive Course (WIC) merupakan kegiatan
kerjasama Unpar dengan Kyung Hee University
(Korea Selatan), yang diselenggarakan dari
tanggal 25 Januari hingga 5 Februari 2016. Kegiatan ini
bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk
menghadapi dan memberikan solusi atas masalah dan konflik
yang muncul terkait dengan sumber daya air. Terdapat
beberapa konflik yang dapat berasal dari sumber daya air,
misalnya akses pada air bersih, sistem distribusi, manajemen
sumberdaya air yang tidak baik, alokasi dan pemanfaatan air
bagi sesama pengguna air.
Unpar diwakili oleh 7 mahasiswa, 6 mahasiswa program
Sarjana Teknik Sipil dan Ilmu Hubungan Internasional, serta 1
mahasiswa program Magister Manajemen Unpar yang
berasal dari Nigeria. Sementara itu, Kyung Hee University
diwakili 12 mahasiswa program Sarjana Teknik Sipil.
Kami, calon peserta W I C, berkewajiban mengikuti
serangkaian persiapan. Persiapan dibagi menjadi lima sesi
pelatihan, yang dimulai dari bulan November 2015 hingga
Januari 2016. Kami dilatih untuk dapat menyajikan presentasi
dalam bahasa Inggris secara formal namun menarik dan
berkualitas kepada pihak stakeholders, mengidentifikasi
permasalahan di lapangan, dan mendesain proposal yang
berisi usulan program sebagai solusi mengatasi suatu
permasalahan.
Dalam program WIC, beragam
metode disajikan oleh panitia, di
antaranya, pengajaran di kelas,
pembelajaran mandiri, kunjungan
lapangan, dan pertukaran budaya.
Penggunaan bahasa internasional
menantang saya untuk dapat
memahami apa yang disampaikan
pembicara dan turut berpartisipasi
aktif di dalam proses tanya jawab.
Pada sesi pembelajaran, kami
diberikan dua tugas besar yang
bertujuan untuk memberikan kesempatan peserta berlatih
mengembankan ide dan mengasah kemampuan untuk
mengimplementasikan teori‐teori yang telah disampaikan.
Selain itu, adanya pertukaran budaya menjadi salah satu
kegiatan yang menarik bagi saya. Kami mengajarkan peserta
dari Korea bahasa Indonesia dan rekan‐rekan dari Korea
mengajarkan kami bahasa Korea. Selain untuk menambah
pengetahuan bahasa dan budaya, kegiatan ini juga mampu
mendekatkan para peserta. Hal lain yang menarik, kegiatan
WIC juga diisi dengan kegiatan sosial, yakni berkunjung,
bermain, dan menemani anak‐anak yang tinggal di panti
asuhan.
Kegiatan lain yang menarik adalah field trip. WIC sendiri
membagi field trip menjadi dua jenis, kunjungan wisata dan
kunjungan edukasi. Dalam kunjungan wisata, peserta
mengunjungi Floating Market, makan malam di Kampung
Daun, dan menikmati suasana alam pemandian air panas
Maribaya. Sementara itu, PDAM menjadi lokasi kunjungan
edukasi kami, guna mengetahui proses pengolahan sumber
daya air (mata air, sungai, dan air tanah) menjadi air bersih.
Gilbert, mahasiswa semester 4 Fakultas Teknik Universitas
Katolik Parahyangan. Tercatat sebagai anggota Himpunan
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil.
26 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Disertasi
Pengaruh Strategic Entrepreneurship dan
Kreativitas terhadap Inovasi dan Dampaknya
terhadap Kinerja Organisasi
Survei pada Usaha Menengah Sektor Industri Kreatif
Subsektor Kuliner
M
enghadapi perubahan arah dari ekonomi industri
menuju ekonomi kreatif, (Liang, 2013) fokus
pemerintah beralih kepada sektor industri kreatif.
Kondisi ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk
meraih peluang ekonomi kreatif dan mengubahnya menjadi
sumber kekuatan baru ekonomi yang dapat menjadi tulang
punggung perekonomian Indonesia . Perubahan tersebut
menyebabkan arah penelitian kinerja organisasi kini
diharapkan dapat mendukung program‐program yang
ditetapkan oleh pemerintah dalam kaitannya dengan
peningkatan kinerja industri kreatif. Sehingga penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor‐faktor apa sajakah yang
menjadi variabel‐variabel utama dalam peningkatan kinerja
industri kreatif yang tentunya memberikan kontribusi secara
signifikan bagi perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sektor ekonomi
kreatif pada tahun 2013 berhasil menciptakan nilai tambah
sebesar Rp 641.815,4 milyar rupiah atau 7,04% dari Produk
Domestik Bruto (PDB) nasional atau naik sekitar 10,9%
dibandingkan tahun 2012. Sektor ekonomi kreatif juga
menyerap 11,87 juta tenaga kerja (10,71%) dari total nasional
bahkan meningkatkan devisa melalui kontribusi net trade
sebesar Rp 641.815,4 milyar (6,91%) dari total nasional.
Sehingga jika dibandingkan dengan sektor‐sektor lainnya,
keberhasilan kinerja industri kreatif ini menyebabkan industri
kreatif dinilai dapat lebih bertahan dan menciptakan ekonomi
kreatif yang diharapkan dapat menjadi kekuatan Negara
oleh: Laura Lahindah
Indonesia dalam era globalisasi.
Industri kreatif dikelompokkan
menjadi 15 kelompok, yaitu:
arsitektur; desain; film, video dan
fotografi; fesyen (mode); musik;
kerajinan; kuliner; penerbitan dan
percetakan; periklanan;
permainan interaktif; riset dan
pengembangan; seni pertunjukan;
seni rupa; teknologi informasi;
serta televisi dan radio. Dari
kelimabelas subsektor tersebut,
subsektor kuliner mendominasi peningkatan kontribusi nilai
tambah terhadap ekonomi kreatif yaitu memberikan nilai
tambah rata‐rata sebesar 32,44 % dari tahun 2010 hingga
2013 serta menyerap sekitar 31,85 % tenaga kerja.
Sumber Daya Insani sebagai Salah Satu Modal Utama
Kesuksesan Kinerja Industri Kreatif
Konsep ekonomi kreatif dikembangkan dengan tujuan untuk
menciptakan kesejahteraan organisasi sebagai penopang
perekonomian nasional. Ekonomi kreatif terdiri dari enam
pilar yaitu sumber daya insani, industri, teknologi, sumber
daya, institusi serta lembaga pembiayaan, di mana sumber
daya insani menjadi kunci utama terciptanya kreativitas.
D e n ga n p e m a nfa ata n s u m b e r d aya i n s a n i , a ka n
memunculkan kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan
teknologi yang menciptakan kesejahteraan organisasi.
Sejalan dengan konsep industri kreatif pada proses
penciptaan kesejahteraan, maka organisasi diharapkan dapat
fokus pada sumber daya insani yang dimilikinya, sehingga
fokus organisasi adalah peningkatan kemampuan individu.
Ireland mengemukakan bahwa karakteristik kunci yang
menjadikan organisasi mencapai kesejahteraannya adalah
adanya karakteristik strategic enterpreneuship yang
didalamnya meliputi pola pikir kewirausahaan, budaya
kewirausahaan dan kepemimpinan kewirausahan. Maka
dengan merangkai sumberdaya‐sumberdaya tersebut,
diharapkan organisasi dapat mengidentifikasi dan
mengeksploitasi kesempatan, untuk mencapai keunggulan
bersaingnya. Ketiga karakteristik tersebut menjadi modal
bagi organisasi dalam menciptakan kesejahteraan. Di
samping ketiga karakteristik tersebut, Scumpeter
mengemukakan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam
konteks pasar yang dinamis. Kreativitas merupakan sebuah
respon atau tingkat sensitivitas dalam menghadapi sebuah
persoalan, sedangkan inovasi sendiri merupakan sebuah
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 27
realisasi ide, praktik atau objek yang dianggap baru, seperti
penciptaan produk baru, penciptaan proses baru dan
penciptaan pasar baru.
Organisasi yang menjadi penggerak pertama dalam
menciptakan sesuatu yang baru memecah kebekuan pasar
dan menyebabkan pesaing jauh tertinggal di belakang dalam
merespon. Beberapa bukti menunjukkan bahwa kreativitas
merupakan dasar dan pendukung dari inovasi saat sumber
daya dikelola dengan strategis. Kreativitas memengaruhi
kualitas dan kuantitas dari pendobrakan dan inovasi yang
dapat bertahan. Sehingga dalam proses pencapaian
kesejahteraan, kreativitas menjadi salah satu karakteristik
utama bagi organisasi dalam menghadapi kesempatan yang
sangat beragam.
Peta Industri Kuliner di Kota Bandung
Bandung kerap dijadikan sebagai salah satu tujuan berlibur
atau belanja masyarakat. Hal ini disebabkan karena
banyaknya sektor ekonomi kreatif di kota Bandung yang
berkembang pesat. Penduduk Bandung dikenal selalu sukses
menciptakan sesuatu yang baru, dan berhasil menembus
pasar lokal. Bandung telah ditetapkan sebagai salah satu kota
wisata dunia oleh UNESCO pada tanggal 25 September 2013
yang lalu. Hingga kini bahkan Kota Bandung sedang diusung
menjadi salah satu dari empat kota di Indonesia yang
diusulkan menjadi Kota Kreatif UNESCO. Ketua Tim
Pengajuan Kota Kreatif Bandung, Fiki Satari mengungkapkan
bahwa hingga kini progres pengajuan Bandung sebagai Kota
Kreatif sangat positif. Lebih lanjut dikatakan bahwa ada enam
kategori Kota Kreatif yang disyaratkan UNESCO yakni unggul
di bidang desain, musik, gastronomi atau kuliner, kerajinan,
literatur, dan media teknologi.
Dari sekian kategori Kota Kreatif yang disyaratkan UNESCO,
industri kuliner menjadi salah satu industri unggulan di Kota
Bandung. Industri kuliner di Kota Bandung belakangan ini
menjadi industri yang sangat menarik untuk dibahas. Industri
kuliner yang berkembang di Kota Bandung berkembang dari
cemilan sampai makanan berat. Ide‐ide kreatif yang muncul
dalam industri kuliner contohnya adalah paduan kue kering
dengan aneka rasa buah, keripik singkong yang pedas luar
biasa, hingga
usaha kuliner kaki
l i m a y a n g
namanya cukup
d i ke n a l d i
Indonesia. Ide‐ide
para pelaku
industri kuliner ini
sangat menarik
untuk dipelajari,
karena selalu baru
(BS)
dan memberikan
terobosan yang
diluar dugaan kita.
I d e ‐ i d e p e l a ku
kuliner di Kota
Bandung bahkan
28 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
seringkali bersinergi dengan beberapa subsektor lain seperti
fesyen, musik kerajinan hingga literatur sehingga
menciptakan iklim perkembangan ekonomi kreatif yang
sejahtera. Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Bandung, industri kuliner yang telah memiliki ijin pada
Agustus tahun 2014 berjumlah 660 restoran dan rumah
makan. Perkembangan industri kuliner ini tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh sumber daya insani atau individu‐
individu yang memiliki kreativitas, kemampuan, dan talenta
yang sangat luar biasa. Beragam kreativitas dan inovasi
nampak dari produk‐produk baru, proses‐proses baru dan
pasar baru yang diperkenalkan oleh para pelaku industri
kuliner di Kota Bandung. Dukungan dari modal sumber daya
manusia inilah yang menyebabkan industri kuliner di Kota
Bandung bertumbuh dengan sangat pesat.
Jika ditelaah lebih dalam lagi, naiknya kinerja industri kuliner
di Kota Bandung nampaknya karena para pelaku industri
kuliner di kota Bandung memiliki sumber daya insani yang
unggul. Sumber daya insani yang unggul tersebut yang
menyebabkan terciptanya produk ataupun proses ataupun
pasar baru (inovasi) yang akhirnya menjadi keunggulan
bersaing bagi industri kuliner di kota Bandung. Dalam salah
satu dimensi SE yang dikemukakan Ireland dikatakan bahwa
cara mengelola sumber daya strategis yang dimiliki organisasi
adalah dengan memiliki sebuah pola pikir (mindset) yang
fokus pada pertumbuhan melalui fleksibilitas, kreativitas dan
inovasi, dan pembaharuan yang terus menerus.
Sejalan dengan pernyataan Ireland, nampak bahwa hal itulah
yang menjadi jiwa dalam pelaksanaan bisnis industri kuliner
di Kota Bandung yang pada akhirnya menciptakan
kesejahteraan bagi kinerja organisasi industri kuliner di Kota
Bandung. Selain pola pikir yang fleksibel, kreatif dan inovatif,
sumber daya insani yang mendukung terciptanya
kesejahteraan kinerja organisasi adalah sumber daya insani
yang memiliki jiwa kepemimpinan kewirausahan. Para pelaku
industri kuliner yang memiliki kepemimpinan kewirausahaan
akan memiliki beberapa ciri‐ciri seperti memiliki keterbukaan
informasi dengan anggota organisasi untuk mendeskripsikan
inovasi yang kemungkinan dapat terlepas, kemampuan untuk
mengkomunikasikan nilai‐nilai unggulan dari sebuah peluang
serta kepemimpinan yang memahami kondisi pasar sehingga
memungkinkan organisasi dapat bersaing.
Di samping sumber daya insani yang unggul, iklim bisnis
kuliner di Kota Bandung kini mulai memunculkan budaya
kewirausahaan yang unik. Budaya kewirausahaan yang
terbentuk pun kini telah menjadi sebuah budaya yang
mengakar pada kehidupan berwirausaha. Contoh‐contoh
budaya wirausaha yang telah kuat pada setiap jiwa para
wirausahawan adalah maraknya teknologi baru, maraknya
ajang‐ajang kompetisi kreativitas (seperti Braga Culinary
Night, Bandung Creative Food Expo 2014, Bandung
I n t e r n a t i o n a l C a ke Fe s t i v a l ) , p e rs a i n ga n d a l a m
mengemukakan inovasi, serta perubahan‐perubahan yang
terus menerus pada pelaku industri kuliner di Kota Bandung.
Jadi, dapat dipahami bahwa pertumbuhan industri kuliner
yang sangat pesat dan menarik di Kota Bandung ini terjadi
karena sumber daya insani yang dimilikinya, dan didukung
oleh budaya kewirausahaan, akan melahirkan serangkaian
proses yang berkesinambungan yang menjadi kekuatan
industri kuliner di Kota Bandung dalam mencapai
kesejahteraannya.
Beberapa pengamat kuliner mengemukakan bahwa
meskipun jumlah pelaku industri kuliner terus meningkat,
namun keberadaan resto‐resto tersebut silih berganti. Data
dari YoungEntrepreneur.com menjelaskan bahwa sekitar 75%
dari resto dan kafe yang berdiri rata‐rata tidak dapat bertahan
di atas lima tahun. Ketua Bidang Kafe dan Restoran Persatuan
Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dedie Soekartin
mengungkapkan bahwa hingga bulan Maret 2014, jumlah
kafe dan restoran yang tercatat di PHRI dan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung hanya sekitar 630.
Sedangkan lebih dari 1.000 kafe dan restoran belum tercatat
dan memiliki ijin . Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak
usaha kuliner yang belum dapat bertahan dan terus menerus
silih berganti.
Uraian sebelumnya menunjukkan bahwa inovasi, baik inovasi
produk, inovasi proses serta inovasi pasar, memiliki peran
penting dalam menentukan kinerja organisasi. Sedangkan
proses inovasi baik inovasi produk, proses maupun inovasi
pasar dapat muncul saat wirausahawan memiliki
kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi
peluang yang ada.
Di samping itu, proses inovasi juga harus didukung oleh
beberapa anteseden lainnya seperti budaya kewirausahaan
ya n g m e m fa s i l i ta s i d a n m e m b e r i ka n r u a n g b a g i
wirausahawan untuk menciptakan inovasi‐inovasi serta
adanya kepemimpinan kewirausahaan yang merupakan
kepemimpinan secara stategis untuk mendorong diri sendiri
serta anggota organisasi untuk dapat menciptakan inovasi.
Variabel penting lainnya yang menjadi anteseden dari inovasi
adalah kreativitas, yang menjadi salah satu variabel yang
memiliki hubungan yang sangat kuat dengan inovasi.
Dengan alasan tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk
menjawab pertanyaan utama apakah karakteristik strategic
entrepreneurship memengaruhi kinerja organisasi (melalui
inovasi produk, inovasi proses, dan inovasi pasar).
Penutup
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh positif antara strategic entrepreneurship dan
kreativitas terhadap inovasi serta dampaknya terhadap
kinerja organisasi. Strategic entrepreneurship yang dimiliki
pelaku kuliner di Kota Bandung memiliki dampak yang sangat
besar terhadap terjadinya proses inovasi. Kondisi ini sejalan
dengan model yang telah dikembangkan oleh Ireland.
Sebelumnya, bahwa strategic entrepreneurship yang
dikategorikan ke dalam empat bagian utama yaitu pola pikir
kewirausahaan (entrepreneurial mindset), budaya
kewirausahaan (entrepreneurial culture), kepemimpinan
kewirausahaan (entrepreneurial leadership) merupakan aksi‐
aksi kewirausahaan dengan perspektif strategis.
D e n ga n p e rs p e k t i f t e rs e b u t , p e m i m p i n m a m p u
mengidentifikasi peluang‐peluang yang ada. Pemimpin yang
tidak memiliki kemampuan atau perspektif tersebut tidak
akan dapat melakukan inovasi‐inovasi dan pada akhirnya
dapat menurunkan kinerja organisasinya. Selain strategic
entrepreneurship, pelaku kuliner di Kota Bandung juga
memiliki kreativitas yang berdampak signifikan pada
terjadinya inovasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa inovasi
yang dilakukan oleh pelaku kuliner di Kota Bandung juga
dipengaruhi oleh kreativitas yang dimilikinya.
Semakin besar kreativitas yang dimiliki oleh pelaku kuliner di
Kota Bandung, menunjukkan adanya peningkatan inovasi
pada pelaku kuliner di Kota Bandung. Temuan ini sejalan
dengan konsep yang telah dikemukakan sebelumnya yang
mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu
anteseden dari inovasi. Kreativitas menjadi sebuah
tantangan bagi para pengambil keputusan pada organisasi
saat dihadapkan pada keterbatasan sumber daya seperti
sumber daya keuangan. Kreativitas merupakan sebuah
respon atau tingkat sensitivitas dalam menghadapi sebuah
persoalan , atau membentuk sebuah pola yang tidak umum
sehingga tercipta ide yang pada akhirnya menciptakan
inovasi.
Dr. Laura Lahindah, S.E., M.M., mengenyam pendidikan
Sarjana di Jurusan Manajemen, Universitas Kristen
Maranatha dan melanjutkan program Magister Manajemen di
Unpad, dan program Doktor Ilmu Ekonomi, Konsentrasi Ilmu
Manajemen di Universitas Katolik Parahyangan. Saat ini
berprofesi sebagai Dosen Tetap Jurusan Manajemen Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Harapan Bangsa.
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 29
whereyoungleaders
learnandshare
Students’ConsultativeAssemblyofUnparStudentsUnion.
DiplomaIII(D3)Program•CorporateManagement
Bachelor(S1)Program•DevelopmentEconomics•Accounting•Management
•BusinessAdministration•PublicAdministration•InternationalRelation•Law
•Philosophy•Mathematics•Physics•Informatics•Architecture
•CivilEngineering•IndustrialEngineering•ChemicalEngineering
•ElectricalEngineering(concentration:Mechatronics)
www.unpar.ac.id
Humanum
Waktu Senggang
dan Pendidikan Humaniora
S
uatu hari, saya iseng bertanya kepada mahasiswa saya,
“Untuk apa kamu kuliah?” Spontan mahasiswa itu
menjawab, “Supaya saya kelak bisa mendapat
pekerjaan”. Saya pun teringat akan kata‐kata Aristoteles, sang
filsuf besar Yunani, bahwa manusia bekerja untuk pada
akhirnya menikmati waktu senggangnya. Lantas saya
berefleksi dalam hati, “Manakah yang lebih utama bagi saya,
bekerja atau menikmati waktu senggang?” Jika pertanyaan ini
ditujukan pada Anda, ‐ silakan Anda menjawab dengan jujur‐
mana yang saat ini akan Anda pilih: kehilangan pekerjaan atau
kehilangan waktu senggang?
Jawaban mahasiswa tadi didukung oleh fakta bahwa
kurikulum pendidikan tinggi kita saat ini dikaitkan dengan soal
kompetensi yang dicapai lulusan untuk siap bekerja. Kualitas
dosen atau tenaga kependidikan dinilai dari produktivitas
kerjanya. Dunia akademik lantas menjadi dunia yang begitu
diabdikan bagi kerja manusia. Kita memang hidup di zaman
yang amat mengagungkan nilai pekerjaan. Meskipun
demikian, mudah‐mudahan kita tidak menjadi lupa, bahwa
ada nilai lain untuk menghidupi hidup yang indah ini selain
bekerja, dan lebih jauh lagi, ada nilai lain dalam pendidikan
selain untuk memproduksi ahli‐ahli yang siap bekerja.
Ada kerinduan orang zaman ini akan waktu senggang yang
makin hilang ditelan kesibukan kerja. Kerinduan akan waktu
senggang sangat kentara dalam dunia para pekerja pasca
revolusi industri di Eropa. George Eastman, sang pendiri
Kodak, bukan hanya fenomenal karena memproduksi kamera
dan film, tetapi juga dikenang berkat Kodak Culture‐nya.
Kemunculan kamera dan film rol Kodak mewarnai akhir era
revolusi industri abad ke‐19 di Eropa.
Saat itu, masyarakat begitu sibuk bekerja di bidang industri
untuk memproduksi barang‐barang material. Setelah
seminggu bekerja keras, para pekerja ini membutuhkan
relaksasi. Kodak mengembangkan strategi pemasaran
kamera dan rol film mereka dengan memadukan aspek
fotografi, keluarga, dan hasrat berwisata. Alhasil, Kodak
bukan hanya sukses menjual kamera dan film, tetapi juga
mengubah secara besar‐besaran pola perilaku masyarakat:
seminggu bekerja keras, lalu di akhir pekan pergi berwisata
bersama keluarga dan mengabadikan momen berharga itu
dalam foto‐foto yang dipajang atau dipamerkan kepada orang
lain. Akhir pekan adalah momen penting membangun
kebersamaan dalam keluarga. Kamera bukan lagi sekadar alat
untuk memotret, tetapi ikon untuk mempopulerkan cara‐cara
baru dalam mensiasati hidup. Kamera menjadi sarana efektif
manusia dalam waktu luangnya untuk menikmati hasil jerih
payahnya, keluar dari rutinitas kerja, dan menimba kekuatan
hidupnya kembali.
Ketika membaca buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis
oleh: Rudi Setiawan
karya Pastor Elis Handoko, saya
terusik dengan tulisan bertema
makna hari Minggu sebagai
hari keluarga. “Bersamaan
dengan meningkatnya budaya
kerja, harus ada juga budaya
rekreasi…..”, tutur sang pastor
yang membahasakan inspirasi
hidup Paus Fransiskus dalam
bukunya itu. Ia menambahkan,
“…Ketika pekerjaan tidak lagi
memberi waktu untuk
berekreasi dan waktu istirahat
untuk pemulihan, maka pekerjaan memperbudak Anda.
Anda tidak lagi bekerja demi suatu martabat, melainkan
untuk kompetisi. Inilah yang merendahkan nilai kerja
sesungguhnya”. (Handoko: 182‐183).
Mungkin kita sering mendengar istilah “budaya kerja”. Istilah
ini mengandaikan bahwa ada hubungan antara kerja dengan
budaya. Manusia bekerja dalam rangka membangun
kebudayaannya, merealisasikan dirinya sebagai manusia,
maupun berproduksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
seperti kata Hegel maupun Marx. Kerja itu bernilai karena
tidak hanya dilakukan dalam rangka membuat manusia
makin beradab, tetapi juga dilakukan dengan cara‐cara yang
beradab.
Sementara, istilah “budaya rekreasi” mengandaikan bahwa
pemanfaatan waktu senggang adalah juga cara untuk
memperadabkan manusia. Peradaban manusia tidak hanya
dibentuk dari kemampuan manusia untuk berkreasi, tetapi
juga ber‐rekreasi. Adanya waktu senggang menentukan
adanya suatu budaya, kata Pieper (Pieper: 17). Tingkat suatu
peradaban barangkali bisa dinilai tidak hanya dari tingginya
produktivitas kinerja, tetapi juga dari kemampuan
masyarakatnya untuk menikmati waktu senggangnya. Waktu
luang memberi bentuk pada kemanusiaan kita, disamping
kerja. Di zaman Rousseau, filsuf modern Perancis, banyak
pemikiran filosofis lahir dari obrolan‐obrolan saat menikmati
minum kopi di cafe. Tidak bisa disangkal, banyaknya waktu
senggang dalam budaya bercocok tanam berperan besar
melahirkan kesenian, aturan, permainan, atau masakan.
Masyarakat Aztec misalnya, mengapresiasi waktu senggang
mereka dengan berolah raga dengan bergembira dengan cara
bermain tlachtli, sejenis permainan bola kuno di Amerika
tengah (Carrasco: 180).
Manusia bekerja untuk hidup, bukan sebaliknya hidup untuk
bekerja. Kerja itu idealnya membutuhkan juga istirahat. Keliru
jika menyatakan bahwa jantung kita tidak pernah berhenti
bekerja. Adalah lebih tepat kita mengatakan bahwa jantung
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 31
terpilah‐pilah dalam kategori‐kategori (clara et distincta).
Sayangnya, pengetahuan ini tidak menyinggung aspek relasi
manusia: dengan dirinya, orang lain dan lingkungan, atau
sang pencipta. Manusia lantas sibuk dengan urusan
produktivitas, tetapi kehilangan intimitas, moralitas,
solidaritas, dan spiritualitas. Ketika yang sistemik dan
prosedural menjadi segala‐galanya, tidak ada waktu lagi bagi
cinta, bela rasa bagi sesama, maupun kekaguman pada yang
Kuasa.
Permainan tlachtli/lavitaminat.com
tidak pernah lupa untuk berhenti bekerja karena selalu ada
jeda dalam kerja jantung memompa darah ke seluruh tubuh
manusia. Kerja lalu mendapatkan maknanya ketika dilakukan
demi hidup manusia. Manusia yang bermartabat tidak
menghabiskan seluruh hidupnya semata‐mata hanya untuk
bekerja, tetapi juga mampu memanfaatkan waktu luang
untuk menikmati hasil kerjanya. Tidak seperti mesin, manusia
bisa menentukan diri untuk tidak menjadi budak atas
pekerjaannya sendiri. Bekerja melampaui batas berarti
melawan hakekat dan tujuan kerja itu sendiri.
Lantas, mengapa manusia bisa menjadi begitu sibuk bekerja?
Bagaimana kerja menguasai waktu senggang manusia?
Pieper mengatakan bahwa manusia telah kehilangan waktu
senggangnya, dan ironisnya itu diakibatkan oleh peran
pendidikan sains dan teknologi eksakta. Padahal, menurut
Pieper, sekolah hakekatnya adalah institusi untuk mengisi
waktu senggang, sebagaimana istilah scola (Latin) berasal dari
kata Yunani yaitu waktu senggang. (Pieper: 26, bdk. Subianto:
195).
Pendidikan yang terlalu menekankan aspek saintifik dan
teknologis cenderung melihat manusia secara praktis,
mekanis, prosedural, dan instrumental, sehingga kurang
memberi perhatian pada aspek‐aspek kemanusiaan. Di sini,
manusia disiapkan untuk menjadi tenaga ahli yang siap
bekerja: tajam dalam mengobservasi, menganalisa, dan
memecahkan masalah. Semuanya mesti serba jelas dan
Di sini, bolehlah kita mengatakan bahwa pendidikan
humaniora di universitas, yang dikenal dengan artes liberales
atau studium generalis itu, tetaplah relevan. Pendidikan
humaniora berikhtiar memberi visi kemanusiaan pada sains
dan teknologi. Ia tidak bertujuan menentang atau mengganti
peran ilmu‐ilmu eksakta, melainkan melengkapinya. Jika
sains dan teknologi menyiapkan orang untuk menjadi ahli
dengan nalarnya, humaniora memberikan sentuhan
kemanusiaan lewat apresiasi pada waktu senggangnya:
membuat batin yang peka merasa, rela bertanggung jawab
pada diri sendiri, orang lain, dan alam, berkesadaran religius,
dan sebagainya. Pendidikan humaniora idealnya menjadi
pedagogi yang penuh cinta, di mana di dalamnya orang bisa
menjadi rileks, hening, gembira, penuh syukur, sehingga
karenanya ia mendapatkan kesempatan dan kekuatan untuk
memulihkan kembali berbagai hubungan yang ada.
Sumber:
Carrasco, David; Sessions, Scott, Daily Life of The Aztecs,
(London: Greenwood Press, 1998).
Handoko, Elis, 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis,
(Jakarta: Grasindo, 2016).
Pieper, Josef, Leisure, The Basis of Culture, transl. from
“Musse und Kult” by Gerlad Malsbary (Indiana: St.
Augustine's Press, Inc., 1998).
Subianto, Anton, “Humanisme: Agama Alternatif ”,
Humanisme dan Humaniora, ed. Bambang Sugiharto,
(Bandung: Matahari, 2008).
Rudi Setiawan, S.Ag., M.M, Wakil Ketua Lembaga
Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan
Unpar Kid Outbond
2 | |MAJALAH
32
MAJALAHPARAHYANGAN
PARAHYANGAN| |Vol.
Vol.IIIIIINo.
No.22
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 3
Alumnus
Romantisme
dalam berbisnis kuliner
G
itha Nafeeza merupakan mantan host Metro TV yang
terkenal dengan acara andalannya, Public Corner.
Githa lahir di Bogor pada tanggal 19 Oktober 1980
dan memiliki nama lengkap Githa Asterita. Bersekolah di SD
Priangan, SMP S.I.I.P, dan SMA 5 Bandung, ia lalu
menamatkan jenjang S1‐nya di jurusan Hubungan
Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Kemudian ia meneruskan pendidikan di jurusan Magister
Manajemen Bisnis Eksekutif, Prasetiya Mulya Business
School, Jakarta.
Ia memulai terjun ke dunia broadcast pada tahun 2001 saat
menjadi penyiar di Radio Ardan, Bandung, hingga tahun 2003.
Kemudian ia melanjutkan karier broadcasting‐nya di MQTV
pada kurun waktu 2004‐2005 sebagai pembawa acara. Baru
pada tahun 2006 ia masuk ke stasiun TV nasional yaitu Trans
TV. Di stasiun Trans TV, ia merasakan pengalaman yang luar
biasa dengan menjadi reporter yang harus keliling Indonesia
untuk meliput keunikan yang ada di bumi Nusantara. Selain
menjadi reporter, ia juga membawakan beberapa program
berita di stasiun TV tersebut.
Mulai Februari 2008 ia pindah ke stasiun khusus berita
pertama di Indonesia yaitu Metro TV. Di Metro TV, ia menjadi
pembawa acara beberapa acara talk show seperti Public
Corner, The Interview, dan Special Dialogue. Selain itu ia juga
menjadi reporter acara‐acara khusus di Metro TV seperti We
Do Green Concert. Kemudian pernah juga ia membawakan
program sport news khusus golf bulanan yaitu Metro Golf. Ia
memilih terjun serius dalam dunia broadcast karena
menurutnya memang di situ‐lah jiwanya.
Dalam perjalanan kariernya cukup banyak tantangan yang
harus dihadapi. Namun menurutnya semua tantangan
tersebut justru menjadi pemicu untuk membuktikan bahwa ia
mampu mengalahkan semua permasalahan yang ada. Sikap
pantang menyerah atas segala tantangan yang dihadapinya
tercermin pada moto hidupnya yaitu "Never give up to any
condition... live to
the fullest".
Saat menjadi news anchor di Trans TV (kiri) dan Metro TV (kanan)
Semenjak kuliah di
jurusan Hubungan
Internasional Unpar,
ia telah menekuni
dunia broadcasting
dan sudah mulai
siaran juga. Dari radio
berkembang ke dunia
jurnalistik. “Dalam
dunia jurnalistik, kita
menyampaikan
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 33
Hongkong Business Trip 2011
sebuah berita
yang seharusnya
m a m p u
m e n g e d u k a s i ”,
ujar Githa. Ia
mengaku senang
m e m b a g i
pengetahuan
terhadap orang
lain. “Untuk bisa
maju kita harus
bisa mengenal dan
mempelajari
kesuksesan orang
l a i n d e m i
kesuksesan diri
sendiri.”
Hal paling menarik
yang dirasakannya selama menekuni dunia jurnalistik adalah
ketika bertemu dengan banyak politikus Indonesia, ia merasa
banyak hal yang bisa diperbaiki negara Indonesia dari
pandangan‐pandangan yang mereka berikan. “Di antara
banyaknya berita‐berita negatif yang bermunculan terhadap
beberapa politikus kita, ternyata masih ada orang‐orang
muda yang ingin membersihkan politik di Indonesia”. Disinilah
muncul sebuah dinamika dimana para senior yang sudah lama
berkuasa harus “melawan” orang‐orang muda yang baru
berkecimpung dalam ranah politik.
Jauh sebelum dikenal orang sebagai pembawa acara berita,
Githa pernah menekuni dunia modelling. Hal itu dimulai saat
ia terpilih menjadi salah satu finalis Wajah Femina tahun
2001. Kemudian ia bekerja sebagai model profesional di grup
majalah yang menyelenggarakan kontes Wajah Femina
tersebut. Selain menjadi finalis Wajah Femina, Githa juga
pernah menjadi juara 2 Ramli Model Indonesia (Jawa Barat)
tahun 2004. Kemudian ia juga menjadi runner up Putri
Indonesia Provinsi Jawa Barat pada tahun yang sama. Tidak
hanya suka menjadi objek bidikan kamera, Githa juga sangat
menyukai fotografi. Menurut pendapatnya fotografi itu
tentang sensitivitas dan kepekaan hati dalam melihat sesuatu
dan meng‐capture‐nya dalam sebuah bingkai foto. “Foto yang
bagus adalah foto yang bisa membuat mata kita tertegun
lama, dan hati serta jantung kita tersentuh, terbangkitkan
baik emosi maupun spiritual kita”, ungkapnya.
Berbagai profesi telah dicobanya sejak dulu awal kuliah. Mulai
dari menjadi pegawai bank, penyiar radio, model, serta
pembaca berita. Namun semua itu telah berlalu. Kini wanita
cantik ini telah melirik hal baru yang menurutnya lebih
menantang. Selama beberapa tahun menjadi pembaca
berita, ia bertemu dengan banyak CEO muda. Perbincangan
penuh inspirasi yang ia pandu ternyata berhasil memotivasi
dirinya untuk membangun mimpi sebagai entrepreneur.
Mimpi Githa yang menyukai tantangan ini pun satu persatu
terangkai menjadi kenyataan. Langkah pertama ia mulai saat
mendapat beasiswa program Master Bisnis di Sekolah Bisnis
Prasetiya Mulya.
34 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Sejak saat itu, ia dipercaya untuk menjadi direktur sebuah
perusahaan elektronik. Namun, ternyata menduduki posisi
puncak di sebuah perusahaan belum bisa membuatnya puas.
Ia berusaha mencari ladang lain yang bisa menjawab gairah
berbisnisnya. Githa memberanikan diri untuk membuat
steakhouse bernama Nafeeza Steak di kawasan Ampera,
Jakarta Selatan. Keberanian Githa memulai usaha tersebut
karena hobinya mencicipi kuliner. Meski tidak sejalan dengan
pendidikan di jurusan Hubungan Internasional, Githa merasa
bahwa kuliner memiliki daya pikat tersendiri. “Padahal
kesibukan membuka bisnis restoran melebihi padatnya
jadwal siaran radio, reporter televisi, bahkan direktur
perusahaan elektronik sekalipun”, ungkapnya.
Githa menceritakan alasan mengapa ia memilih bisnis
kuliner. Awalnya, ia dan suami sedang makan malam di
sebuah restotan outdoor di bilangan Sudirman, Jakarta.
Suami Githa tercengang ketika melihat city view dari resto ini.
Dia membayangkan betapa senang punya restoran sebagus
itu. Bila Taj Mahal dibuat untuk menunjukkan rasa cinta
seorang suami pada istrinya, maka suaminya pun ingin
membuatkan sesuatu untuk Githa. Berawal dari membuka
sebuah warung kaki lima, nantinya pasti akan menjelma jadi
restoran. Sangat susah untuk menemukan tempat makan
murah yang enak dengan harga terjangkau di Jakarta. Githa
ingin nantinya kalau makan di kaki lima lebih layak.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dirinya untuk terjun
dalam bidang politik seperti beberapa rekannya, dengan
tegas Githa mengatakan dirinya tidak tertarik masuk ke dalam
bidang politik karena ia lebih senang menjadi orang bisnis.
Meskipun sudah ada beberapa partai yang mengajaknya
untuk bergabung, namun ia merasa itu bukanlah passion‐nya.
Githa lebih senang membangun negara dari sisi yang lain.
Misalnya ketika membuka bisnis kuliner ini, ia mengaku
Ketika menjalani hobi fotografi
Restoran Shabu Hachi (kanan) dan tampilan Yakitori (kiri)
senang bisa merekrut banyak karyawan untuk bekerja di
tempatnya. Itu artinya ia bisa membuka banyak lowongan
pekerjaan bagi mereka.
Terkait mengenai tantangan dalam bisnis kuliner, ia
mengatakan bahwa tantangan di dunia Food & Beverage
(F&B) berbeda dengan menjadi newscaster. Bergelut di dunia
bisnis itu jauh lebih kompleks, mulai dari mengatur keuangan
sampai strategi. Itu semua ada di dalam kepalanya. Githa
sendiri yang harus turun langsung mengatur di lapangan.
Tentu saja tantangannya menjadi lebih tinggi. Sedangkan di
dunia broadcast, menjadi reporter dan newscaster lelahnya
luar biasa. Berpanas‐panasan ke daerah bencana, menunggu
narasumber berjam‐jam demi mengejar berita. “Masing‐
masing pekerjaan punya tantangan dan pelajaran tersendiri.
Tetapi lebih banyak pelajaran yang didapatnya pada bisnis ini.
Bila mengambil pelajaran dari Ilmu Hubungan Internasional
yang didapat semasa kuliah, untuk melihat sesuatu harus dari
berbagai sisi, misalkan dari sisi human, jam kerja, hingga
logika”, ungkap Githa.
Meskipun Nafeeza Steak bisa dibilang sukses dan mampu
menarik perhatian para pencinta kuliner, namun Githa tidak
segan‐segan untuk mengubah konsep bisnisnya tersebut.
Alhasil sejak lebih kurang 1 tahun yang lalu Githa mengubah
konsep restonya yang tadinya menjual steak dengan konsep
Western food, Chinese food, dan Indonesian food, menjadi
restoran yang menjual makanan Jepang (shabu‐shabu)
dengan nama Shabu Hachi. Restoran Shabu Hachi saat ini
sudah memiliki 5 cabang, yaitu 4 cabang berada di Jakarta dan
1 cabang yang sebentar lagi akan beroperasi di Bandung.
Rencananya Githa juga akan membuka cabang Shabu Hachi di
Surabaya dan Denpasar. Meskipun belum ada 1 tahun
beroperasi, namun beberapa website telah menobatkan
restoran Shabu Hachi ini sebagai the best restaurant di Jakarta
dalam hal all you can eat.
Ketika ditanya mengenai alasannya mengubah konsep
restonya, Githa mengungkapkan bahwa menjalankan bisnis
restoran tidaklah semudah ketika memberikan menu atau
menyajikan makanan. Di belakangnya banyak hal yang rumit.
Ia ingin mensimplifikasi restorannya dan memberikan hal
yang paling diminati oleh masyarakat sekarang. Di Jakarta
saat ini, masyarakatnya sudah sangat memperhatikan
makanan sehat. Makanan sehat itu identik dengan sayur‐
sayuran dan rebus‐rebusan. Itu sebabnya terpikirkan oleh
Githa untuk membuat restoran Shabu Hachi ini. Dengan
kesadaran bahwa udara kota Jakarta yang sudah kotor dan
penuh polusi, ia ingin memberikan sesuatu yang positif bagi
kehidupan masyarakatnya. “Dengan banyaknya polusi, maka
kita harus menjaga stamina tubuh dari dalam. Dari dalam itu
bisa berasal dari makanan dan olah raga.” Ada bisnis katering
di Jakarta yang mengenakan biaya Rp 3.500.000 – Rp
5.000.000 setiap bulannya untuk makanan sehat yang
mereka buat, namun tetap laris diserbu.
Ilmu/mata kuliah yang dirasakan Githa sangat bermanfaat
ketika terjun dalam dunia kerja adalah dasar‐dasar ekonomi,
baik makro maupun ekonomi. Lalu juga logika berpikir yang
diajarkan dalam mata kuliah politik internasional. Di antara
semua profesi yang pernah ditekuni, ia merasa bisnislah yang
paling menantang. Tanpa mengecilkan bidang pekerjaan lain
yang pernah dijalaninya, Githa mengatakan bahwa ketika
menjalankan sebuah bisnis, maka pikiran seseorang sudah
berpindah kuadran dari seorang karyawan menjadi seorang
pemilik bisnis.
Dengan menjadi seorang pemilik bisnis, maka beban
tanggung jawabnya bisa jadi lebih banyak berkali‐kali lipat
dibandingkan seorang karyawan. Oleh karena itu, pola
pikirnya haruslah berubah. “Kita harus berkenalan dengan
banyak pihak seperti supplier, vendor, serta harus paham
dengan lingkup industri yang dijalani, teknologinya, serta
siapa target konsumen akhirnya. Andaikan kita salah
mengartikan pasar kita sendiri atau mendapat supplier yang
salah, habislah bisnis kita,” ujarnya.
Terkait dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Githa
memberikan pengandaian bahwa jika dirinya adalah orang
Singapura, maka ia akan tenang‐tenang saja menghadapi
situasi ini. Namun sebagai orang Indonesia, MEA akan
membuat dirinya menjadi sangat khawatir. Dari segi apapun,
kondisi SDM orang Indonesia belumlah kuat. “Jika SDM kita
merupakan tipe pekerja yang giat seperti orang Singapura,
mampu melakukan multitasking seperti orang China,
maupun agresif dan ambisius seperti orang India, maka kita
tidak perlu takut. Namun masyarakat Indonesia belumlah
seperti mereka. Sehingga bisa dibilang tantangan Indonesia
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 35
menghadapi MEA sangatlah luar biasa”.
Githa merasa Indonesia belumlah siap, namun mau tidak mau
harus siap. Ia mencontohkan dalam bisnis kuliner seperti yang
digelutinya sekarang ini adalah pada pelayan restoran. Saat
mendidik pelayan untuk mengikuti standar pelayanan yang
telah ditetapkan bukanlah perkara mudah. “Perlu beberapa
kali penjelasan agar mereka terbiasa. Berbeda dengan orang
Filipina, yang relatif lebih cepat belajar,” jelasnya.
Dari sisi bisnis kuliner juga, pastinya makin banyak restoran
luar yang masuk ke Indonesia. Dengan modal mereka yang
besar, untuk bisa mendirikan banyak restoran mungkin hanya
memerlukan waktu yang sebentar. Namun ada satu faktor
ya n g m e m b u at I n d o n e s i a u n g g u l , ya i t u d a r i s i s i
keramahannya. “Misalnya saat dirinya berkunjung ke
Australia dan hendak meminta makanan yang dipesan untuk
dibawa pulang, pelayan di sana hanya memberikan kita
tempatnya dan kita harus membungkusnya sendiri. Itu
dikenakan biaya. Berbeda dengan di Indonesia, di mana
pelayan langsung membungkus makanan tersebut lengkap
dengan plastiknya dan lalu memberikannya pada kita. Begitu
juga ketika berada di Singapura, ketika kita banyak bertanya,
orang di sana tidak akan terlalu menanggapi dan malah
menyuruh kita untuk membaca peraturan yang tertulis.
Berbeda dengan di Indonesia, saat kita bertanya, kita akan
diberikan penjelasan dengan detail,” kenang Githa.
Membicarakan mengenai mahasiswa Unpar, Githa
mengatakan banyak sekali lulusan Unpar yang sukses di
bidang yang mereka jalani. Contohnya saja anak‐anak
arsitektur. Arsitek Unpar sudah diakui banyak orang sangat
berkualitas. Lalu juga teman‐teman seangkatan dirinya yang
banyak sekali terjun ke bidang yang berbeda dari jurusan yang
mereka ambil saat kuliah dulu. Meskipun begitu, mereka bisa
terkenal dan diakui di bidangnya masing‐masing.
Ia berpesan bagi mahasiswa Unpar sekarang ini untuk
meneruskan nama besar Unpar yang sudah diharumkan oleh
para alumninya. Saat masih kuliah di Unpar dulu, ia
merasakan bahwa yang paling berkesan itu adalah
persahabatannya yang solid. “Kita bisa menjadi besar karena
pertemanan yang dimiliki,” pungkasnya.
Karier di dunia broadcast:
Radio Ardan, Bandung, announcer (2001-2003)
MQTV, Bandung, pembawa acara (2004-2005)
Trans TV, Jakarta, pembawa acara, Reporter (2006-2008)
Metro TV, Jakarta, pembawa acara & Host Talkshows (2008-2011)
Bersama teman-teman Magister Manajemen
(Dihimpun dari berbagai sumber dan
wawancara dengan Githa/HG)
Prestasi
Finalis Wajah Femina 2001
Juara 2 Putri Indonesia (Jawa Barat) 2004
Juara Favorit Putri Indonesia (Jawa Barat) 2004
Juara 2 Ramli Model Indonesia (Jawa Barat) 2004
Salad dan US Premium di Shabu Hachi
36 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Kemahasiswaan
TOSAYA Memaknai Kepedulian
Melalui Pengabdian
2016
L
embaga Kepresiden Mahasiswa
kembali menyelenggarakan
Tosaya. Tahun ini, kegiatan
dipusatkan di Desa Tanimulya,
Kecamatan Ngamprah, Kabupaten
Bandung Barat. Berbagai kegiatan
pengabdian masyarakat dirancang dan
dilaksanakan oleh mahasiswa Unpar
dan berkolaborasi dengan berbagai
elemen yang ada, baik dosen Unpar,
dosen non‐Unpar, dan masyarakat lain.
Tosaya berupaya untuk tidak hanya
memberikan keceriaan pada
masyarakat melalui aksi nyata, namun
juga turut mendorong masyarakat
berdaya, mampu mengaktualisasikan
dirinya dan kemampuan yang dimiliki
untuk dapat memberikan pengaruh
positif bagi sekitarnya.
membantu dan mengembangkan baik
masyarakat maupun infrastruktur desa.
Di hari Minggu, 14 Februari 2016,
TOSAYA 2016 berisi kegiatan sosialisasi
tentang tanaman hidroponik kepada
ibu‐ibu PKK Desa Tanimulya. Hal ini
Tanggal 13 Februari 2016,
bertujuan supaya dengan pemanfaatan
diselenggarakan sosialisasi kepada
hasil dari rumah sendiri, dapat
warga RW 09 dan RW 11 Desa
menekan pengeluaran rumah tangga.
Tanimulya. Sosialiasi ini sebagai langkah Selain itu, dilaksanakan juga pengajaran
awal sekaligus ramah tamah dengan
Bahasa Inggris yang dibantu oleh
masyarakat sehingga ada sinergi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi
panitia dengan masyarakat, untuk
Ilmu Hubungan Internasional dan
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 37
pengajaran seni tari yang dibantu Unit
Kegiatan Mahasiswa Listra, yang
diperuntukkan bagi anak‐anak RW 09
dan RW 11 Desa Tanimulya.
Memasuki minggu kedua, TOSAYA
2016 sedang melaksanakan kegiatan
sosialisasi tentang DBD disertai dengan
pembagian abate oleh Bapak Prof. Dr.
Andreanus A. Soemardji dan sosialisasi
tentang gizi oleh Ibu Siti Farah R., M.Si
yang kedua nya merupakan pengajar
dari Sekolah Farmasi ITB. Kegiatan
minggu ini kemudian di lanjutkan
dengan praktek memasak masakan
sehat oleh ibu‐ibu PKK Desa Tanimulya,
yang diharapkan dapat memberi
dampak baik untuk kesehatan di desa
TOSAYA berasal dari kata Ngabantos Sadaya dalam bahasa Sunda berarti
“Membantu Sesama”, merupakan salah satu kegiatan pengabdian
mahasiswa Unpar. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata
pengimplementasian Sesanti Unpar yang berbunyi “Bakuning Hyang Mrih
Guna Santyaya Bakti ”. Kegiatan ini mau mewadahi cita-cita luhur
mahasiswa Unpar untuk mengabdikan hasil dinamika bangku kuliah dalam
bentuk yang lebih nyata dan signifikan. Melalui kegiatan ini, pihak yang
terlibat diajak untuk makin mampu mewujudnyatakan nilai humanis secara
nyata.
ini serta mencegah terjadinya kasus
Demam Berdarah yang sedang marak.
Selain itu, di minggu ini juga
dilaksanakan pengajaran matematika
yang dibantu oleh HMPSMAT dan
pengajaran tari yang dibantu oleh UKM
Listra kepada anak‐anak RW 9 dan RW
11 Desa Tanimulya.
Memasuki minggu ketiga, 28 Februari
2016, TOSAYA 2016 diisi kegiatan
sosialisasi pemilahan sampah yang
dilanjutkan dengan praktek pemilahan
sampah organik dan anorganik kepada
ibu‐ibu PKK Desa Tanimulya, yang
diharapkan dapat membantu menjaga
kelestarian dan kebersihan lingkungan,
juga mendukung keberadaan Bank
Sampah di daerah tersebut.
Selain itu, dilaksanakan juga pengajaran
Bahasa Inggris dan seni tari. Di samping
itu, dibangun juga pos ronda di RW 11.
Pada tanggal 6 Maret 2016, atau
minggu keempat TOSAYA 2016,
kegiatan diisi dengan senam jantung
sehat bersama ibu‐ibu PKK Desa
Tanimulya, yang dilanjutkan dengan
klinik karier untuk warga yang belum
38 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
memiliki pekerjaan dan buruh
serabutan. Kegiatan ini dibantu oleh
Pusat Pengembangan Karier.
Selain itu, diselenggarakan juga
pengajaran matematika yang dibantu
mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa
Program Studi Matematika dan seni tari
oleh UKM Listra. Kegiatan ini juga
ditambah dengan pembangunan
instalasi tanaman hidroponik.
(BS)
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 39
Denyut
Sustainable Rural Development:
Moving towards Inclusive Growth for All
Kemajuan teknologi informasi dan transportasi membuat
dunia seolah tak lagi terbatas oleh sekat antarnegara. Oleh
karena itu, lembaga pendidikan, dalam hal ini pendidikan
tinggi, perlu merancang program maupun kegiatan yang
bisa mempersiapkan mahasiswa menjadi global citizen.
H
al itu tercermin dalam
International Student
Conference (ISC) on Global
Citizenship, kegiatan
internasionalization at home yang
diselenggarakan setiap tahun oleh
Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar) sejak 2013.
Kegiatan bertaraf internasional ini
dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa
Unpar untuk meningkatkan
kemampuan berargumentasi dan
berinteraksi dalam Bahasa Inggris,
memiliki pengalaman internasional,
memperkenalkan Unpar sebagai
lembaga pendidikan tinggi kepada
masyarakat dunia, dan memberi
crossed culture experiences kepada
para peserta.
tema besar dalam penyelenggaraan ISC
kali ini adalah “Global Citizenship”.
Pemahaman atas konsep global
citizenship ini sangat penting untuk
diterapkan oleh generasi muda, demi
menciptakan rasa tanggung jawab
bahwa mereka bukan hanya warga
negara, melainkan juga warga dunia.
Kegiatan ini telah meningkatkan
kesadaran dari kaum muda dunia untuk
memikirkan masalah‐masalah dunia
dan memberikan usulan solusi dari
masalah tersebut.
Pada 2016, topik utama ISC adalah
“Sustainable Rural Development:
Moving towards Inclusive Growth for
All”, dengan pertimbangan pedesaan
seringkali menjadi daerah yang
terabaikan. Dengan peningkatan
urbanisasi dan lambatnya
Acara yang diikuti 83 mahasiswa dari
pertumbuhan wilayah pedesaan,
24 negara yang digelar pada 17‐25
Januari 2016 tersebut adalah salah satu pembangunan di wilayah tersebut
menjadi sangat penting.
wujud tanggung jawab Unpar dalam
meningkatkan kesadaran mahasiswa
Kegiatan berupa kuliah umum dengan
sebagai global citizen. Oleh karena itu,
pengajar dari Amerika Serikat,
Argentina dan 3 orang dari Unpar.
Pembangunan pedesaan dikaji dari
berbagai pendekatan seperti:
pendekatan lingkungan, ekonomi,
sosial, pembangunan berkelanjutan
dan tata ruang. Selanjutnya, 2
workshop diberikan kepada para
peserta, untuk membekali mereka
kemampuan untuk menemukan
masalah, mengetahui kebutuhan dan
menentukan cara untuk memenuhi
kebutuhan, serta menentukan program
yang sesuai dan strategi pelaksanaan
program tersebut.
Materi workshop membekali peserta
untuk membuat proposal program
kerja yang harus dipresentasikan dan
dinegosiasikan peserta dengan
pemangku kepentingan lain di dalam
sebuah roleplay. Pada akhir konferensi,
peserta melakukan roleplay untuk
menegosiasikan usulan program dan
pendanaan proposal, yang
menghasilkan 3 proposal terbaik dalam
bidang perlindungan anak dan
pemberdayaan perempuan; agrikultur;
serta koperasi dan usaha kecil dan
menengah.
ISC juga ditujukan untuk promosi
budaya Indonesia. Hal itu dilakukan
dengan menyelenggarakan kegiatan
pertandingan permainan tradisional
anak‐anak, menonton pertunjukan tari‐
tarian tradisional yang dilakukan oleh
Lingkung Seni Tradisional (Listra Unpar),
bermain angklung interaktif bersama
Saung Angklung Udjo, berlatih menatah
wayang kulit, menggambar wayang di
atas kaca, dan bermain gamelan serta
menyinden. Selain itu, para peserta
diajak mengunjungi Candi Borobudur
sebagai salah satu ikon budaya
Indonesia.
(Panitia ISC/BS)
40 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 1
Denyut
International Student Conference 2016
on Global Citizenship
Sustainable Rural Development:
Moving towards inclusive growth for all
B
ersentuhan dan terlibat dengan komunitas
internasional sebenarnya sudah saya patrikan sebagai
sebuah angan belaka, sesuatu yang sulit diwujudkan
dengan kemampuan ekonomi pas‐pasan. Semenjak saya
duduk di bangku SMP, saya memiliki hasrat yang kuat untuk
bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran dengan individu‐
individu dari belahan dunia nun jauh di sana. Hal itu masih
terbawa hingga saya sekarang telah menjadi seorang
mahasiswa. Mungkin dulu saya hanya sebatas penasaran dan
ingin tahu tentang dunia di luar sana, namun sekarang ada
makna tersendiri yang saya temukan dari keinginan tersebut.
Tahun ini ISC mencanangkan tema Sustainable Rural
Development: Moving Towards Inclusive Growth for All.
Setelah melewati proses seleksi yang cukup menegangkan,
saya diterima menjadi salah satu delegasi Unversitas Katolik
Parahyangan dalam ISC 2016. Saya tidak menyangka bahwa
proses persiapannya membutuhkan cukup banyak waktu dan
tenaga. Materi bacaan paper yang
p e r l u d i b a ca s e t i a p s e b e l u m
pertemuan, diskusi dan debat
selama pertemuan, proses kreatif
merangkai proyek yang cukup
melelahkan, dan banyak hal lainnya.
oleh: Isabella Revina Wibowo
yang dirasakan; adrenalin yang
berpacu akibat antusiasme
melihat wajah‐wajah baru di
sekeliling, lidah yang terasa kelu
karena tidak terbiasa berbicara
dalam Bahasa Inggris seintens
itu, tawa kecil canggung di
percakapan awal perkenalan,
serta dahi yang senantiasa
berkerut entah karena
berusaha mengingat‐ingat
nama atau karena sedang
mencoba memahami apa yang
dikatakan lawan bicara. Di tengah huru‐hara suasana hari
pertama konferensi, hati saya tersenyum puas: inilah momen
yang saya nantikan.
ISC berlangsung selama sepuluh hari, dan selama 240 jam
itulah kami berproses bersama. Tidak hanya sebagai ajang
temu‐tawa‐canda, ISC juga membawa kami menuju
kesadaran akan masalah yang tengah dialami dunia:
terhambatnya perkembangan aspek‐aspek kehidupan di
daerah pelosok. Kami disadarkan bahwa kami adalah bagian
dari dunia, dan sebenarnya ada yang bisa kami lakukan untuk
memperbaikinya. Bahwa kami sebagai bagian dari berbagai
tempat di dunia, dapat bergabung dan menemukan formula
solusi terbaik – dibandingkan dengan bekerja secara
individual tanpa hasil yang komprehensif. Setidaknya, itu
yang saya rasakan seiring berjalannya ISC. Masing‐masing
teman dari berbagai negara membawa masuk banyak ide,
pemahaman, sudut pandang, dan pengalaman nyata yang
mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya sepanjang
hidup saya. Seperti Mahmoud asal Madagascar, yang sangat
ISC baru benar terasa nyata ketika
saya pertama berkenalan dengan
teman dari Malaysia. Kemudian
teman dari Australia, Bangladesh,
Jepang, Korea Selatan, Swedia,
Amerika Serikat, Ukraina, Kenya,
Zimbabwe, Guinea, Singapura,
Thailand, Madagascar, Argentina,
dan bahkan Kyrgyzstan (peserta ISC
83 orang berasal dari 24 negara).
Dihadapkan dengan situasi tersebut,
hari pertama membuat saya merasa
kewalahan dengan segala sensasi
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 41
memahami penderitaan dan perjuangan hidup di tempat
yang minim sumber daya, karena situasi konflik antar suku
senantiasa terjadi di kampung halamannya. Atau seperti
Yuuki yang membawa ide proyek One Village One Product –
sebuah konsep yang berhasil mengembangkan dan
memaksimalkan potensi desa, serta menyejahterakan
masyarakat prefektur Oita di Jepang. Proses pertukaran
pikiran dan informasi ini terasa sangat nyata dan bermakna,
bukanlah sesuatu yang dapat ditemukan dalam mesin pencari
Google. Pada akhirnya, kami semua mampu
memformulasikan konsep proyek realistis yang membawa
detail unik dari pencampuran ide individu dengan berbagai
latar belakang.
Dalam berbagai proses itu pula, kami membangun relasi satu
sama lain. Saling bertukar cerita, budaya, nilai‐nilai yang
dianut, atau hanya sekedar berbagi tawa bersama. Mereka
tak hanya individu‐individu yang hanya bisa saya lihat melalui
layar komputer dengan koneksi internet, yang saya pelajari
melalui artikel‐artikel hasil tulis entah siapa, yang saya
pahami melalui generalisasi singkat sosiolog atau antropolog
tertentu – mereka nyata ada di hadapan saya, dan saya
berkesempatan untuk membangun koneksi dengan mereka.
42 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Di momen tersebut, dunia tidak lagi terasa begitu asing dan
menakutkan. Merekalah wajah‐wajah familiar yang akan
selalu saya ingat bila suatu saat nanti saya berkunjung ke
lokasi lain di dunia ini.
Isabella Revina Wibowo, mahasiswa program studi Ilmu
Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan,
angkatan 2015. Saat ini menjadi pengurus Himpunan
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional.
menjadi staf MUN Division in International Relations English
Club.
Menjadi anggota delegasi Unpar dalam Pertemuan
Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia ke-27 dan
menjadi The Best Delegation.
where
science&engineering
meethumanity
Science and engineering play critical roles in enhancing social progress and
improvingqualityoflife.Unpar’sprogramsinscience and e ngineeringeducatefuture
leaders with the technical background necessary to develop and critically evaluate
the waves of innovations, to apply these innovations to important local and global
problems,andtomakeinformeddecisionsabouttheminasocietalcontext.
BecauseprogramsinscienceandengineeringexistswithinUnpar’spromotionoflife
andhumandignity,theprogramsprovidestudentswithboththebreadthanddepth
ofstudynecessarytoexcelinintegrativeareasofscienceandengineering.
Denyut
blj.co.id
Berharap
pada Generasi Muda
Program 1.000 Buku untuk Anak Sumba
B
erawal dari kegiatan Workshop Digital Learning yang
diselenggarakan pada tanggal 11 November 2015 di
Taman Bacaan Seraphine, Weetebula, Tambolaka,
Sumba Barat Daya, NTT. Workshop tersebut di fasilitasi oleh
Unpar melalui Pusat Inovasi Pembelajaran, Gugus Tugas
Digital Learning APTIK, dan STKIP Weetebula yang diikuti
oleh mahasiswa dan dosen STKIP Weetabula serta guru dari
berbagai sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Nusa
Cendana. Kemudian timbul gagasan untuk mengumpulkan
buku‐buku bagi anak‐anak di Sumba. Gagasan ini timbul
setelah melihat sedikitnya jumlah dan kurang beragamannya
buku yang ada di taman bacaan tersebut.
Agus Sukmana, Kepala Pusat Inovasi Pembelajaran
merupakan salah seorang yang selalu mengkampanyekan
pentingnya buku bagi anak‐anak di Sumba, khususnya Sumba
Barat Daya. Bagi orang yang tinggal di Pulau Jawa, buku bukan
merupakan barang yang sulit didapat. Untuk mencari buku
30 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
44
1
“Di Sumba, saya menarik minat baca anak
dengan mengajaknya bermain di taman
bacaan ini. Sebelum bermain, anak-anak wajib
membaca terlebih dahulu,” begitulah cara
suster Mathilda biarawati dari kongregrasi
Amal Kasih Darah Mulia (ADM) memancing
minat baca anak-anak setelah mereka pulang
sekolah. Namun ketersediaan bahan bacaan
menjadi salah satu tantangan dalam
menggalakkan kampanye gemar membaca
bagi anak-anak di Sumba.
kita bisa pergi ke toko buku yang dekat dengan tempat tinggal
dengan harga yang terjangkau atau langsung memesan
melalui media online. Namun lain cerita jika kita tinggal di
daerah Sumba, selain sulit didapatkan, biaya untuk mengirim
buku sangatlah mahal. Hal ini yang menjadi alasan mengapa
buku merupakan barang yang berharga di Sumba. Selain
karena harga, buku menjadi berharga karena ilmu di
dalamnya yang bisa dibagikan kepada orang banyak. Buku
memberi mimpi dan warna bagi anak. Dengan buku, seorang
anak bisa memiliki harapan akan masa depan.
Pusat Inovasi Pembelajaran ingin memberi mimpi yang lebih
tinggi dan harapan yang lebih besar pada anak‐anak di
Sumba. Lewat buku ini diharapkan anak‐anak di Sumba mau
belajar lebih giat dan berusaha lebih keras bagi keluarga dan
daerahnya. Bukankah hal ini seperti yang diutarakan Malala
Yousafzai dalam quotesnya, “Let us remember, a one book,
one pen, one child, and one teacher can change the world.”
Semoga dengan kesadaran penuh, kita memaknainya
sehingga sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti
menjadi semakin hidup.
(Doni Driza-Pusat Inovasi Pembelajaran/BS)
Universitaria
Masih Adakah
Due Process of Law di Indonesia?
“Constitutional guarantee… that no person will be deprived of life, liberty, or property for
reasons that are arbitrary… protect the citizen against arbitrary actions of the
government” – Magna Charta
oleh Henrique Armando
S
etiap warga negara di muka bumi ini memiliki hak yang
sama atas persamaan di hadapan hukum. Begitulah
seharusnya cerminan dari penegakan hukum yang
berlaku di suatu negara, termasuk di Indonesia. Keadilan
merupakan salah satu dari begitu banyaknya versi mengenai
cita hukum. Salah satu bentuk keadilan yang diamanatkan
Undang‐Undang Dasar 1945 sebagai Konstitusi Negara
Re p u b l i k I n d o n e s i a ke p a d a Pe m e r i n ta h s e b a ga i
penyelenggara negara adalah keharusan untuk mendapat
perlakuan yang sama di hadapan hukum. Konstitusi Indonesia
memberikan jaminan yang mutlak kepada setiap warga
negara untuk diperlakukan secara adil di hadapan hukum.
Terhadap pernyataan tersebut muncullah sebuah pertanyaan
besar, apakah pernyataan itu masih relevan dengan kondisi
sekarang?
Tidak ada satu orang pun yang dapat menampik bahwa
sedang terjadi kekacauan di negeri kita ini. Konstitusi seakan‐
akan tidak lagi dihayati secara tulus dan sungguh‐sungguh,
akan tetapi cenderung dianggap sekedar naskah tertulis
belaka. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya
permasalahan di berbagai bidang kehidupan. Salah satu
masalah yang masih terus berlangsung hingga saat ini adalah
mengenai perlindungan hukum terhadap rakyat kecil yang
melakukan tindak pidana.
Pertanyaan demi pertanyaan akan terus bermunculan
mengenai masalah perlindungan hukum terhadap kaum
marginal, terutama mengenai
posisi negara hukum. Sebagai
negara hukum yang telah enam
puluh tujuh tahun “merdeka”,
h u k u m t a m p a k nya m a s i h
menjadi salah satu
permasalahan utama dan
ko m p l e k s y a n g a c a p k a l i
menimbulkan keadaan yang
penuh dilema. Sebagaimana
yang dikemukakan oleh Prof. Dr.
Satjipto Rahardjo, S.H., hukum
merupakan institusi sosial yang
tujuannya adalah untuk
menyelenggarakan keadilan
dalam masyarakat. Terhadap
pendapat tersebut dapatlah
disimpulkan bahwa hukum
bukan diciptakan untuk
menciptakan masalah baru dan
m e m b e r i k a n ke t i d a k a d i l a n ,
melainkan untuk menyelesaikan
pelbagai konflik yang timbul secara
kontinu dalam masyarakat dan
m e m b e r i ka n ke a d i l a n b a g i
masyarakat. Untuk itu negara
hukum seharusnya terus
m e n g u p ay a ka n a ga r h u k u m
diberlakukan secara konsisten dan
persisten sehingga tidak timbul
kekacauan yang berdampak masif
terhadap kelangsungan negara ini.
Menyoal kembali mengenai perlindungan hukum, khususnya
terhadap fakir miskin dan anak terlantar, perlu ditinjau
kembali mengenai tanggung jawab negara terhadap
kelompok minoritas tersebut. Merujuk pada Pasal 34 ayat (1)
UUD 1945, dinyatakan bahwa negaralah yang bertanggung
jawab untuk memelihara fakir miskin dan anak‐anak yang
terlantar. Ketentuan ini secara jelas dan tegas membebankan
kesejahteraan mereka kepada negara yang tentu saja dapat
dikorelasikan pula dengan perlindungan hukum yang
selayaknya mereka peroleh.
Bukan sekali atau dua kali kita melihat fakir miskin dan anak‐
anak yang terlantar berlalu‐lalang di berbagai ruas jalan raya,
di berbagai daerah. Bukan sekali atau dua kali pula kita
menyaksikan aksi kejahatan yang dilakukan oleh mereka dan
kompasiana.com
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 45
balairungpress.com
atas perbuatannya itu, dijatuhi hukuman yang dirasa tidak
sesuai dengan perbuatan mereka. Bahkan lebih ekstrem lagi
dapat dikatakan bahwa penjatuhan hukuman terhadapnya
seringkali dianggap bertentangan dengan rasa keadilan dalam
masyarakat. Plato mengatakan bahwa keadilan menghendaki
perilaku bagi manusia yang sedemikian rupa, sehingga
mencerminkan kebaikan yang transsedental, yang tidak
mungkin dicapai melalui pengetahuan rasional. Sehingga
akan sulit untuk merumuskan keadilan yang dapat berlaku
secara universal.
Beberapa persoalan mengenai masih ada atau tidaknya
keadilan di negara Indonesia mungkin dapat tergambar dari
beberapa kasus berikut.
Masih lekat di benak kita berbagai kasus yang menimpa rakyat
kecil di tanah air. Kasus yang menyeret Nenek Minah yang
dituduh telah mencuri tiga buah kakao seharga kurang lebih
Rp2.000,00 merupakan salah satu kasus yang membuat
publik tercengang. Bagaimana bisa seorang nenek tersangkut
masalah hukum hanya karena mengambil barang yang
dianggap tidak seberapa harganya hingga akhirnya
dimejahijaukan, divonis 1 bulan 15 hari?
Tidak berhenti sampai di situ, sejak saat itu berbagai kasus
yang menimpa rakyat kecil terus bergulir, sebut saja kasus
pencurian sandal oleh seorang pelajar di Palu, Sulawesi
Tenggara, pencurian merica oleh seorang kakek berusia 66
tahun di Sulawesi Selatan, dan masih banyak lagi kasus yang
menyeret rakyat kecil sebagai tersangka. Fenomena‐
fenomena yang terjadi tersebut tidak dapat terlepas dari
peran negara sebagai pelindung warga negara, terutama
kaum yang seringkali dimarginalkan oleh hukum.
Indonesia adalah negara hukum yang mengakui konstitusi
sebagai sumber hukum tertinggi dalam hierarki peraturan
perundang‐undangan. Berdasarkan ketentuan tersebut,
negara mengakui adanya kedaulatan hukum di negara
Indonesia. Pada tataran implementasi selalu saja terjadi
berbagai masalah dan menghadapi hambatan. Kalau sudah
begini akan cenderung sulit menentukan siapa yang benar‐
benar bersalah.
Pertama, perlu dilihat terlebih dahulu tujuan dan cita‐cita
46 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
nasional bangsa Indonesia. Cita‐cita dan tujuan nasional
bangsa Indonesia tertuang di dalam Alinea Keempat
Pembukaan UUD 1945. Beberapa diantaranya adalah
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum
dalam rangka mewujudkan keadilan sosial. Dengan demikian,
cita hukum dan tujuan bangsa Indonesia yang menjadi
dambaan sebenarnya telah ada sejak lama dan menjadi
pemikiran para founding fathers kita.
Kedua, perlu ditelusuri apakah pemerintah telah
melaksanakan amanat Konstitusi melalui pembentukan
peraturan perundang‐undangan. Undang‐Undang Nomor 11
Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (selanjutnya
disebut UU Kesejahteraan Sosial) merupakan wujud upaya
pelaksanaan Pasal 34 ayat (4) UUD 1945. Butir b Bagian
Menimbang UU Kesejahteraan Sosial menyatakan, “bahwa
negara menyelenggarakan pelayanan dan pengembangan
kesejahteraan sosial secara terencana, terarah, dan
berkelanjutan.” Ketentuan ini memberikan amanat kepada
negara selaku penyeleng gara utama dari proses
penyelenggaraan pelayanan sosial untuk memenuhi
kebutuhan fundamental setiap warga Negara Indonesia.
Salah satu bentuk pelayanan sosial yang diberikan negara
berdasarkan UU ini adalah dengan cara memberikan jaminan
sosial yang dimaksudkan untuk menjamin fakir miskin dan
anak terlantar agar kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Selanjutnya, UU Kesejahteraan Sosial juga telah mengatur
mengenai advokasi sosial dan bantuan hukum yang diatur
dalam Pasal 16 dan Pasal 17. Artinya adalah bahwa tidaklah
hilang suatu hak untuk mendapatkan pendampingan oleh
pemberi bantuan hukum, sekalipun orang yang berhak
memperoleh bantuan hukum secara finansial memiliki
keterbatasan. Selanjutnya, upaya serius penanganan
masalah pemberian bantuan dan advokasi hukum tidak
terhenti sampai di situ. Demi mencapai “due process of law”,
Pemerintah telah membuat sejumlah Undang‐Undang lain
yang berkenaan dengan pemberian bantuan hukum kepada
masyarakat. Sebut saja UU Advokasi dan UU Bantuan Hukum
yang secara subtansi cukup baik.
Menyikapi apa yang dimaksud dengan due process of law
atau proses hukum yang adil, hal ini harus diartikan sebagai
perlindungan atas kemerdekaan seorang warga negara yang
dihadiahkan tersangka dan terdakwa, di mana status
hukumnya berubah ketika ia ditangkap atau ditahan, tetapi
hak‐haknya sebagai warga negara tidak hilang. Sehingga
proses hukum yang adil harus tetap memperhatikan dan
menjamin hak‐hak seseorang tidak terlanggar. Fakir miskin
dan anak terlantar yang kemudian terseret kasus hukum
tentu juga berhak atas hal yang sama. Apabila menapak tilas
kembali mengenai hak untuk didampingi advokat atau
penasihat hukum (access to legal counsel) sebenarnya telah
ada sejak dahulu.
lembaga yang berada di bawah Persatuan Ikatan Advokat
Indonesia (P E R A D I N) pada masa itu adalah untuk
menegakkan keadilan di wilayah negara Republik Indonesia,
yang toh pada kenyataannya prinsip pemberian bantuan
secara cuma‐cuma seringkali dikesampingkan oleh
pengemban profesi hukum itu sendiri. Tidak hanya persoalan
finansial yang seringkali menjadi faktor penghambat akses
untuk memperoleh keadilan. Hati nurani seseorang
merupakan ranah yang sulit untuk dijangkau dengan nalar,
termasuk pengemban profesi hukum itu sendiri. Dalam kasus
ini, pemberi bantuan hukum tidak luput dari unsur tersebut.
Undang‐Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang‐
Undang Hukum Acara Pidana telah mengatur hal tersebut,
yang dinyatakan bahwa bantuan hukum diberikan pada
setiap tingkat pemeriksaan. Dalam hal ini pemberi bantuan
hukum memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan
secara baik terhadap klien yang menghadap kepadanya
untuk meminta bantuan hukum. Sudah sewajarnya pemberi
bantuan hukum tidak mendiskriminasi masyarakat golongan
ekonomi lemah. Terlebih lagi bantuan hukum, khususnya
kepada rakyat kecil haruslah dijiwai sebagai suatu upaya
pemberian bantuan hukum yang non‐profit oriented dan
didasarkan pada adanya suatu pemahaman bahwa pemberi
bantuan hukum sebagai officium nobile. Sehingga
berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
dalam ruang lingkup hukum materiil sebenarnya telah ada
upaya lebih lanjut untuk menangani masalah serius yang
timbul di kalangan masyarakat miskin.
Pada akhirnya, kesejahteraan sosial mau‐tidak‐mau harus
dikaitkan pula dengan upaya penyejahteraan dalam bidang
hukum. Itulah yang kiranya menjadi esensi dari negara hukum
yang menjunjung tinggi the rule of law. Maka dari itu, upaya
penyejahteraan sosial di bidang hukum tidak serta‐merta
membebankan tanggung jawab penegakan hukum kepada
advokat semata, tetapi diperlukan kerja sama dari aparat
penegak hukum seperti jaksa, hakim, polisi, dan masyarakat,
serta institusi terkait lainnya. Kesemuanya ini untuk
mewujudkan integrated criminal justice system yang juga
memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tidak melakukan
tebang pilih hukum. Selain itu, muara dari segala
permasalahan hukum yang pelik ini akan tergantung pada
sejauh mana seseorang mampu mengolah dan
menempatkan kemampuan afektifnya dalam menghadapi
dan menyelesaikan suatu perkara. Kiranya uraian di atas
dapat dijadikan refleksi untuk lebih memahami bahwa setiap
warga negara memiliki hak yang sama terhadap access to
justice.
Ketiga, mengenai implementasi terhadap peraturan hukum
yang telah dikeluarkan Pemerintah ataupun lembaga yang
berwenang. Kasus‐kasus yang telah dijabarkan sebelumnya
hanyalah sebagian kecil dari rentetan kasus yang
menimbulkan problematika dalam penegakan hukum di
Indonesia. Pemberian bantuan hukum seharusnya mampu
menjadi salah satu cara untuk dapat mengentaskan
kemiskinan dalam rangka mewujudkan keadilan sosial dan
menjamin terpenuhinya persamaan di hadapan hukum. Akan
tetapi, tidak jarang pemberi bantuan hukum sendiri
melanggar prinsip‐prinsip yang seharusnya diemban oleh
seorang pemberi bantuan hukum selaku pengemban profesi
hukum.
Sebagai contohnya adalah pemungutan biaya terhadap
masyarakat miskin yang hendak mendapatkan bantuan
hukum. Padahal, awal mula dibentuknya LBH adalah sebagai
Secara lebih luas, negara tidak luput dari kesalahan sebagai
pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan
kesejahteraan sebagaimana yang diamanatkan Konstitusi
Negara Republik Indonesia. Kiranya uraian di atas dapat
dijadikan bahan renungan bagi kita semua bahwa Equum et
bonum est lex legume (apa yang adil dan baik adalah
hukumnya hukum).
Henrique Armando Asril Haznam, S.H.
Sarjana Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan
angkatan 2009. Memperoleh gelar Master dari International
Arbitration Law, University of Bucharest, Romania.
Pernah bekerja sebagai staf administrasi dan teknis Kedutaan
Republik Indonesia di Bucharest (2014-2015).
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 47
Bandung
Kita
Penandatanganan naskah kesepahaman antara kota
Bandung dan Kawasaki Jepang, terkait kerjasama
lingkungan Low Carbon dan rencana pembangunan
Recycling Center skala besar di Bandung, sebagai
bagian dari rencana strategis penanggulangan sampah
kota Bandung.
Kota Bandung menerima
penghargaan Anugerah
Kebudayaan 2015 dari
PWI Pusat
Rapor Kinerja Pemerintah
Kota Bandung memperoleh
rangking 1 Nasional.
Satu-satunya pemerintah
yang memperoleh nilai A
Kota Bandung menggalakkan
perpustakaan di taman kota.
Microlibrary di Taman Lansia
48 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Dewi
“Dee”
Lestari
Alumnus Unpar ‘93
“Unparakanselalu
menjadibagianutama
dantakterlupakan
daripertumbuhansaya
sebagaipenulis,musisi,
danmanusia.
Takterbilang
pengalamandankenangan
yangsayatuaidarikampus,
terutamadarimasaskripsi.
IfIcouldrewindthetime,
Iwouldlovetovisitmycampus
daysoverandoveragain”
Dewi Lestari
(Nama Pena: Dee Lestari),
lahir di Bandung, 20 Januari 1976,
alumnus Ilmu Hubungan
Internasional Unpar ‘93
Saat ini berdomisili di BSD City,
Tangerang Selatan.
Berprofesi sebagai penyanyi,
penulis lagu dan penulis buku
populer (Madre, Perahu Kertas,
Filosofi Kopi, Rectoverso,
dan Seri Supernova).
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 49
Denyut
Perguruan Tinggi di Tengah Dinamika Pembangunan Nasional
dan Desakan Integrasi Regional/Internasionalisasi untuk
mewujudkan The Great Unpar
Peran perguruan tinggi sebagai agen inovasi penting. Perguruan tinggi
diharapkan lebih responsif dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas riset
P
ada tanggal 18 Januari 2016,
berlokasi di Aula Pascasarjana
Unpar, diselenggarakan Dies
Natalis ke‐61 Unpar. Rangkaian
perayaan terdiri atas misa syukur, orasi
dies, dan pemberian penghargaan
kepada dosen berprestasi. Misa
dipimpin langsung oleh Uskup
Bandung, Mgr. Antonius Subianto, OSC,
Pst. B. Hendra Kimawan, OSC, dan Pst.
Fabianus H. Dalam kothbahnya, Mgr.
Anton mengatakan bahwa hidup dan
semangat baru untuk mewujudkan the
great Unpar harus didukung dengan
cara‐cara baru pula. “Keteladanan
menjadi kekuatan moral dan spiritual
yang mendasari revolusi mental dalam
menggapai cita‐cita besar,” ungkapnya.
“Kekuatan teladan mengubah situasi
apapun dan mewujudkan cita‐cita
setinggi apapun.” Mgr. Anton mengutip
pesan yang pernah disampaikan oleh
Mgr. Laurentius Tarpin, OSC, mantan
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan
Unpar. “Melak cabe moal jadi bonteng,
melak hade moal jadi goreng.
Menanamkan yang baik akan
menghasilkan buah yang baik pula.”
Setelah misa, acara dilanjutkan dengan
orasi dies yang didahului sambutan‐
sambutan. Pada kesempatan
sambutan, Rektor Unpar, Mangadar
Situmorang, Ph.D. mengatakan bahwa
Refleksi 61 tahun Unpar menunjukkan
bahwa Unpar berbasis dan bertumpu
pada tujuan visionernya untuk
mendidik generasi muda bangsa
Indonesia untuk menjadi tenaga‐tenaga
yang handal dalam pembangunan
masyarakat dan negara Indonesia.
Sejak awal, dalam misi pendiriannya
yang bertumpu pada semangat
pelayanan pendidikan tinggi, maka
Unpar sejak awal diakui statusnya yang
disamakan dengan perguruan tinggi
negeri. Dalam perkembangannya fokus
ada pada program‐program studi
sehingga program studi perlu
diakreditasi sesuai dengan kebijakan
pemerintah.
Mangadar mengatakan bahwa Unpar
sudah menyiapkan tiga program
prioritas. Pertama, program‐program
yang terkait dengan penguatan
identitas. Kedua, peningkatan
akreditasi dan rekondisi, dan yang
ketiga, peningkatan implementasi tata
kelola universitas, pendidikan, dan
penyelenggaraan pendidikan tinggi.
“Pemberlakuan MEA banyak
memunculkan komunitas tanpa batas.
Penguatan identitas menjadi perlu
untuk menanggapi kondisi tersebut,”
ungkap Mangadar.
demikian perguruan tinggi menjadi
engine of innovation (mesin
perubahan) bangsa,” ujar Dirjen
Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Kementrian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti)
tersebut.
Prof. Intan Ahmad, dalam orasinya,
menekankan pada pengembangan ilmu
pengetahuan dan penelitian. “Telah
kita ketahui bersama bahwa di abad ke‐
21 ini ditandai dengan terjadinya
banyak perubahan di dunia yang saling
berkaitan. Di antaranya dalam bentuk
globalisasi serta perkembangan science
dan teknologi.”
Selain itu, Intan mengatakan bahwa
pada tahun 2015 sudah ada 5.600 hasil
riset perguruan tinggi yang sudah
dipublikasi secara internasional. Angka
tersebut jauh dari yang dicapai
Malaysia. Demikian pula dengan raihan
paten yang hanya 771 paten. Malaysia
saat ini sudah 2.600 paten dan Thailand
sebanyak 1.400 paten.
Di millenium ini penciptaan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan,
science, dan teknologi secara kreatif
dan inovatif yang kini menjadi dasar
terbentuknya suatu paradigma
ekonomi baru yang disebut sebagai
knowledge space economy.
Perguruan tinggi harus lebih responsif
bagi pertumbuhan ekonomi melalui
penelitian dan inovasinya. Dengan
Dari segi pendanaan penelitian,
kontribusi dari pemerintah hanya 0,09
dari pendapatan nasional. Angka ini
membuat Indonesia tertinggal dari
Uganda dan Ethiopia sekalipun. Intan
mengatakan, beberapa negara Asia,
seperti Tiongkok, India, Jepang, Korsel,
Singapura, Malaysia, dan Thailand,
sudah menyadari pentingnya riset di
perguruan tinggi. “Negara‐negara itu
mengembangkan ekonomi berbasis
pengetahuan dengan mengintegrasikan
perguruan tinggi, industri, dan
pemerintah,” pungkasnya.
Intan Ahmad menyampaikan orasi
(BS)
50 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Universitaria
Ketika Unpar Menyongsong
Dies Natalis Pertama, 1956
Segenap Komunitas Unpar bersyukur karena Unpar telah melewati usia 61 tahun. Kini
Unpar telah berkembang sebagai satu di antara perguruan-perguruan tinggi papan atas.
Semua ini tentu tidak lepas dari perjuangan para perintis di masa lalu. Nah,
bagaimanakah gambaran bayi Unpar, yang baru saja lahir, ketika menyongsong dies
natalis pertamanya?
S
esudah pengakuan kedaulatan atas Indonesia, pada
tahun 1950 dibentuk Provinsi Jawa Barat, dan
pemerintahan yang bersifat sementara (sampai dengan
September 1956). Sementara itu gerakan DI/TII yang
dipimpin oleh S.M. Kartosowirjo membuat negara Indonesia
dan Provinsi Jawa Barat yang masih muda itu menyingsingkan
lengan baju. Pertempuran antara TNI dan TII berlangsung di
wilayah‐wilayah Jawa Barat. Antara tahun 1955 sampai tahun
1962 jumlah pengungsi atau yang melarikan diri dari desa
rata‐rata pertahun mencapai 200.000‐an orang.
Jalan Merdeka
Bandung baheula jauh tidak sepadat sekarang. Jalan Merdeka
belumlah seperti sekarang. Pada masa lalu jalan ini
dinamakan Schoolweg (Jalan Sekolah) karena di situ terdapat
Sekolah Santa Angela, meisjeschool Zusters Ursulinen. Jalan di
samping Kotapraja (dahulu dinamakan gemeentehuis,
kemudian dinamakan Balai Kota) ini pada medio dasawarsa
1950‐an masih lengang. Jarang sekali kendaraan bermotor
melintasinya; waktu itu orang‐orang lebih banyak
mengendarai sepeda.
Di Jalan Merdeka Nomor 32 terdapat sebuah rumah yang
dahulu merupakan kediaman seorang notaris, yang
kemudian sempat dijadikan asrama mahasiswa. Di bangunan
itulah pada 17 Januari 1955 didirikan Akademi Perniagaan
Parahyangan. Monsinyur P.M. Arntz, OSC dan Monsinyur
N.J.C. Geise, OFM mendirikannya dengan bekal VISI, TEKAD,
dan KEBERANIAN, tanpa disertai modal finansial yang
memadai.
Setahun Pertama
Ketika memulai Akademi Perniagaan, jumlah mahasiswa
angkatan pertama 38 orang. Almarhum Hasan Sidik, dahulu
satu di antara yang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa
pada bulan Januari 1955, mengisahkan, “Kesan pertama
melihat Akademi Perniagaan yang baru didirikan itu, di mana
saya akan menjadi mahasiswanya, ialah sebuah lembaga
pendidikan yang sangat sederhana, yang belum mempunyai
gedung perkuliahan khusus, bahkan juga tidak mempunyai
kantor administrasi. Tempat Akademi Perniagaan ini adalah
sebuah gedung asrama mahasiswa di Jalan Merdeka
Bandung.”
Bagaimanakah saat‐saat pertama pendaftaran? Hasan Sidik
mengisahkan, “Pada saat saya mendaftarkan diri perkuliahan
sudah dimulai, tetapi penerimaan mahasiswa baru terus
berjalan, mungkin karena jumlah mahasiswanya dianggap
oleh P. Krismastono Soediro
belum cukup. Di ruang muka
terdapat sebuah meja dan
sebuah kursi tempat
mahasiswa mendaftarkan diri,
dan Pastor Duijnhoven‐lah
yang mencatat nama saya
waktu saya mendaftarkan
d i r i .” P a s t o r J a n v a n
D u i j n h ove n , O S C a d a l a h
tangan kanan Mgr. Arntz dalam
banyak hal, termasuk dalam
merintis Akademik Perniagaan
Parahyangan hingga menjadi
Universitas Katolik Parahyangan selama sekitar dasawarsa
pertama.
Menurut Hasan Sidik, para mahasiswa angkatan pertama
tersebut terdiri dari
“berbagai kalangan, ada
lulusan SMA [Sekolah
Menengah Atas], lulusan
SGA [Sekolah Guru Atas],
lulusan SMEA [Sekolah
M e n e n g a h E ko n o m i
Atas], bahkan karyawan‐
karyawan baik negeri
maupun swasta dan juga
beberapa anggota
militer”. Kuliah‐kuliah
dilakukan di tempat yang
sangat sederhana. Hasan
Sidik mengisahkan,
“Kemudian setelah kuliah
saya tahu bahwa satu‐
satunya ruang kuliah ialah sebuah ruangan samping gedung
itu, yang katanya bekas kamar tidur mahasiswa yang sudah
dikosongkan. Kantor administrasinya ialah ruang muka
gedung tersebut. Kedua buah ruangan inilah merupakan
tempat kegiatan akademi baru itu. Meskipun hanya
menggunakan satu ruangan kuliah tetapi hal ini tidak menjadi
masalah karena mahasiswanya baru satu angkatan sehingga
tidak ada kuliah‐kuliah yang bersamaan waktu.”
Dalam perkembangan selanjutnya, ruangan‐ruangan kuliah
ditambah dengan beberapa ruangan di Gedung Biru di Jalan
Kenari, yaitu gedung Sekolah Kesejahteraan Keluarga
Pertama (SKKP) Mater Amabilis yang diselenggarakan oleh
para suster Ursulin (OSU) di Kompleks Santa Angela, Jalan
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 51
ditugaskan di Bandung/Cimahi, termasuk ditugaskan belajar
untuk belajar di Parahyangan. Beliau tamat dari PTSE
Parahyangan pada tahun 1957, dan kemudian ditugaskan ke
tempat lain.
Merdeka. Kuliah‐kuliah dilakukan pada sore hari,
sebagaimana dikisahkan Hasan Sidik, “Sudah biasa kami para
mahasiswa datang di tempat kuliah sebelum dosen pengajar
datang. Kuliah dilakukan di sore hari. Banyak mahasiswa yang
sudah bekerja, dan biasanya mereka pergi kuliah langsung
dari tempat kerjanya. Sebelum kuliah kami bergerombol di
pinggir jalan ngobrol sambil bersenda gurau.”
Bagaimana dengan ujian? Hasan Sidik mengisahkan,
“Menurut ketentuan pada waktu itu ujian‐ujian yang disebut
tentamen dapat ditempuh setelah selesai satu tahun
perkuliahan. Tentamen dilaksanakan secara lisan dan
individual. Setelah satu tahun mengikuti kuliah setiap
mahasiswa yang merasa sudah siap dapat mengajukan
permohonan langsung kepada dosen pengajarnya untuk
menempuh tentamen. Waktu ujian ditetapkan oleh dosen.
Karena pada umumnya dosen‐dosen tersebut bukan
pengajar tetap dan mereka punya pekerjaan sendiri, maka
waktu yang tersedia untuk menguji sangat terbatas, biasanya
setelah jam kerja sampai malam. Para mahasiswa menunggu
gilirannya yang sudah dijadwalkan.”
Hasan Sidik di kemudian hari turut mengabdi dalam
pengelolaan Unpar pada masa‐masa awal, menjadi dosen,
hingga menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Unpar. Istri beliau,
Jopi Suhartini, yang juga belajar di Parahyangan, adalah putri
Sanusi Hardjadinata (Gubernur Jawa Barat 1952‐1956, yang
kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri 1957‐1960).
TNI Angkatan Darat
Sejak 1955 sejumlah
anggota TNI Angkatan
Darat pun ditugaskan
belajar di Parahyangan
untuk mengembangkan
kapasitas intelektual
mereka. Satu di antara
mereka adalah
(almarhum) Letjen. TNI
(Purn.) Hasnan Habib.
Pria kelahiran Maninjau,
Agam, Sumatera Barat
itu waktu itu anggota
TNI Angkatan Darat yang
52 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Karir militer Hasnan Habib terus meningkat. Dari tahun 1973
hingga 1978, Habib menjadi anggota MPR. Beliau kemudian
bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada
tahun 1982‐1985. Selain itu, beliau pernah menjadi Duta
Besar Keliling Gerakan Non‐Blok untuk Amerika Utara,
Karibia dan Amerika Latin dari tahun 1992 hingga 1995. Habib
kemudian menjabat sebagai penasihat Menteri Riset dan
Teknologi/Ketua Badan Pusat Pengembangan Teknologi
untuk Industri‐industri Strategis. Beliau meninggal pada
tahun 2006, dan dimakamkan di TMP Kalibata.
Walikota R. Enoch
Pada bulan Agustus
1955 Akademi
Perniagaan ditingkatkan
menjadi Perguruan
Tinggi Sosio Ekonomi
(P T S E) Parahyangan,
yang terdiri dari dua
bagian, yaitu Sosiologi
dan Pengetahuan
Dagang. Pada perayaan
dies natalis pertama
pada tanggal 17 Januari
1956 di Balai Pertemuan
Sosial Katolik 'Panti
Budaya', Mgr. Arntz
menjelaskan tujuan perguruan tinggi. Dalam perayaan itu
Walikota Bandung, (almarhum) R. Enoch, menyampaikan
rasa gembiranya. Sambutan Walikota Bandung ini
mencerminkan dukungan pemerintah dan masyarakat
kepada Akademi Perniagaan Parahyangan yang telah
dikembangkan menjadi PTSE Parahyangan.
Kegembiraan Walikota Enoch bisa dimengerti karena pada
masa itu masih begitu sedikit jumlah perguruan tinggi di
Indonesia. Di Bandung ada Universitas Indonesia (UI)
Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, serta Fakultas Teknik, yang
pada tahun 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Universitas Padjadjaran baru dibentuk pada tahun 1957.
Dengan demikian, Parahyangan termasuk relatif “tua”
dibandingkan dengan banyak perguruan tinggi lain, kecuali
segelintir perguruan tinggi yang lebih dahulu didirikan.
Enam puluh tahun telah berlalu sejak dies natalis pertama.
Unpar terus memberikan persembahan kepada nusa pertiwi.
Dirgahayu, dirgahayu, dirgahayu. *
P. Krismastono Soediro, S.T., M.A., Kepala Kantor Yayasan
Universitas Katolik Parahyangan.
Universitaria
Arenst Andreas
Penyulap
Limbah
Dari pengalaman sehari-hari, seorang Dosen Unpar terinspirasi mengubah limbah
menjadi bahan produktif yang dapat dimanfaatkan.
N
ama Arenst Andreas, S.T., S.Si., M.Sc., Ph.D. (40)
sebagai peneliti di bidang pemanfaatan biomassa
untuk baterai semakin diperhitungkan. Pasalnya, di
Indonesia kurang dari sepuluh orang yang menekuni bidang
tersebut. Namun, itu juga menyulitkan Arenst untuk meneliti
secara berkolaborasi. Penelitian Arenst terkait baterai itu
awalnya merupakan bagian dari pencapaian gelar doktor
yang ia tempuh di Korea Institute of Science and Technology
(KIST) di Seoul, Korea Selatan. Arenst berpendapat, mencari
inspirasi penelitian itu tidak sulit. Semua bisa dimulai dengan
lingkungan sekitar.
“Saya memulainya dengan ide sederhana yang saya alami
sehari‐hari,” ujar peraih penghargaan Dosen dengan Kinerja
Terbaik dalam Dies Natalis ke‐61 Universitas Katolik
Parahyangan ini. Arenst melihat kapasitas baterai lithium
yang terbatas, yang dalam pandangannya dapat diperbesar.
Dalam penelitian doktoralnya, ia menggunakan bahan untuk
material karbon nano seperti yang digunakan dalam
permunian air. Kebetulan di KIST, instrument untuk
penelitian Arenst tersedia. Oleh karena itu, ketika pengajuan
penelitian dilakukan, langsung diterima oleh KIST.
Sepulang dari Korea Selatan pada 2011, ia melanjutkan
penelitiannya. Penelitiannya masih sebatas anoda dari
baterai, sedangkan untuk baterai mesti ada tiga elemen yang
dipenuhi, yakni katoda, anoda, dan elektroda. Dengan
demikian, ia harus bersabar
untuk menemukan mitra yang
tepat dalam menyelesaikan
mimpinya itu. “Karena
penelitian ini tidak berdiri
sendiri,” ujarnya. Peneliti di
bidang itu masih jarang. Oleh
karenanya, dalam perjalanan, ia
melirik material yang murah dan
mudah didapat. Ia ingin
materialnya merupakan barang
tidak berharga. Ia pun mencoba
menggunakan biomassa seperti
kulit salak, kulit pisang, dan kayu.
Material yang melimpah di Indonesia itu, menurutnya, dapat
menghasilkan kapasitas baterai yang besar. Tidak hanya
untuk ponsel dan komputer jinjing, bahkan dapat
dimanfaatkan untuk baterai mobil. “Pokoknya ini bahan
murah yang tak berharga, bukan yang masih dapat dimakan,
sehingga jika produksi massal bahan bakunya tidak akan
berebutan dengan pasar makanan,” ujar alumnus Teknik
Kimia Unpar angkatan 1994 itu.
Karena keterbatasan instrumen di Indonesia, Arenst terus
bekerja sama dengan KIST. Arenst mengaku penelitiannya
masih jauh untuk dikomersialkan. Ia masih harus menjalani
proses penelitian, kemudian proyek percontohan, baru
masuk ke industri.
Selain menuntaskan penelitiannya, Arenst masih memiliki
mimpi lain. Ia ingin semakin banyak mahasiswa dan dosen
menjadi peneliti. Oleh karena itu, kini Arenst memposisikan
dirinya sebagai manajer bagi mahasiswanya. Ia mengarahkan
mahasiswa yang memiliki ketertarikan penelitiannya yang
sama dengannya. Saat ini sudah ada mahasiswanya yang juga
menyelesaikan pendidikan doktoral di KIST. Sepulang dari
sana, ia berharap anak didiknya itu berkolaborasi dengannya.
Meneliti dan memublikasikan karya, menurutnya, tidak sulit.
Ia menyarankan, mulai membiasakan mendokumentasikan
penelitian meskipun itu sederhana. Lalu, beranikan diri
mengirimkan karyanya ke jurnal nasional dan internasional.
“Ide orisinal yang kemudian dipublikasikan di jurnal
internasional akan membuat peneliti diakui. Itu juga akan
membuka kesempatan bekerja sama dengan banyak orang,”
kata peneliti yang lebih dari 30 karyanya dipublikasikan di
jurnal internasional itu.
Artikel ini pernah dimuat di Koran Pikiran Rakyat
edisi 22 Januari 2016
(HG)
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 53
Humanum
Membentuk
Pola Belajar
yang Unik
oleh Dewiyani Djayaprabha
D
alam artikel kali ini, saya ingin mengajak teman‐
teman lebih mengenali bagaimana kalian menyerap
dan menangkap informasi. Tujuan dasarnya adalah
agar teman‐teman sekalian dapat lebih berprestasi terutama
karena kalian menemukan pola belajar yang unik dan tepat
bagi masing‐masing pribadi. Teman‐teman akan belajar
dengan cara masing‐masing tersebut dan bukan dengan cara
orang lain, karena setiap individu memiliki pola belajar yang
berbeda, tergantung pada berbagai faktor.
Setiap manusia sudah belajar sejak mereka lahir, misalnya
belajar untuk mengekspresikan diri, belajar untuk
m e n g u n g ka p ka n s e s u at u , d a n b e l a j a r m e n ge n a l i
lingkungannya. Namun dalam perjalanannya, setiap manusia
membentuk pola belajarnya masing‐masing, karena mereka
dibentuk di lingkungan yang berbeda‐beda dan memiliki
pengalaman berbeda‐beda dalam menghadapi
lingkungannya.
Yang pertama perlu kita perhatikan adalah, kekuatan
pembelajaran seringkali tidak terletak semata‐mata pada
kemampuan intelektual seseorang (walaupun struktur
kemampuan intelektual seseorang seperti daya tangkap dan
daya ingat, menentukan juga bagaimana seseorang
menangkap suatu informasi). Namun kekuatan dalam
menangkap informasi dan talenta (bakat) masing‐masing
individu juga memiliki peranan penting dalam proses belajar.
Kekuatan seseorang dalam menangkap dan menyerap
informasi salah satunya dapat diperoleh dari alat indera serta
pengalaman yang dialami seseorang dalam
perkembangannya.
Sebagai contoh, bila indera penglihatannya yang
berkembang, mereka akan mudah menangkap informasi
melalui apa yang dilihat (tipe visual). Bila indera pendengaran
54 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
ya n g l e b i h b e r ke m b a n g ,
mereka akan mudah
menangkap informasi melalu
pendengaran (tipe auditorik).
Ya n g t e r a k h i r b i l a y a n g
berkembang adalah motorik
seseorang, mereka mudah
belajar dan menangkap
informasi melalui gerak dan
pengalaman yang dialaminya
(tipe kinestetik).
Talenta atau bakat adalah
s u a t u ke m a m p u a n y a n g
memang dibawa individu sejak lahir dan itu dapat merupakan
faktor genetis. Setiap orang memiliki talenta atau bakat
tertentu, misalnya bakat dalam menghafal, menghitung, dan
merangkai. Hal ini yang kemudian membantunya untuk
memahami dan mempelajari bidang tertentu dengan lebih
mudah.
Cara untuk mengoptimalkan diri agar dapat berprestasi
dalam studi dimulai dari mengenali sungguh siapakah dirimu
dan apakah talenta atau bakatmu, barulah nanti teman‐
teman dapat menemukan cara paling baik bagi kalian untuk
mempelajari dan memahami sesuatu.
Yang kedua, temukan pola belajar yang tepat yang
merupakan gabungan dari kekuatan dan talentamu. Ini pola
khusus. Bahkan setiap individu bisa menciptakan sendiri pola
yg baru. Pola itu biasanya sesuai dengan talenta atau bakatmu
dan bagaimana otak kita biasa bekerja. Misalnya: belajar
dengan menulis, dengan merekam suara sendiri lalu
mendengarkannya, dengan gambar atau sketsa.
Selain pola belajar yang unik tadi bagi masing‐masing
akan membantu otak kita terlatih menyerap dan menangkap
informasi dengan teratur dan tidak ruwet, terutama ketika
menghadapi permasalahan yang tidak terduga.
Misalnya, setelah sekolah atau kuliah, malamnya, kalian bisa
mereview kembali apa yang sudah dipelajari sebelum
melupakannya. Buat catatan kata kunci, bagi yang memiliki
kekuatan belajar secara visual, membaca referensi dan
berdiskusi dengan teman bagi yang memiliki kekuatan belajar
secara auditorik dan kinestetik, membuat pertanyaan sendiri
baik pertanyaan informatif maupun pertanyaan kritis.
individu, mengoptimalkan proses belajar perlu disertai tujuan
belajar itu apa. Tujuan belajar adalah sebenarnya untuk
memberi latihan berpikir menghadapi masalah dan masa
depan bukan sekedar untuk ujian. Karena itu bila kita memiliki
tujuan untuk melatih cara berpikir, hasil belajar hendaknya
berupa pemahaman yg maksimal.
Sebagai contoh tentang belajar sebagai latihan berpikir
adalah belajar matematika. Ada berapa banyak orang yang
dulu belajar matematika tapi sekarang tidak ingat lagi dengan
rumus‐rumus matematika? Tapi dari cara berpikir orang
tersebut kita bisa tahu bahwa orang itu dulu pernah belajar
matematika dengan sungguh‐sungguh. Orang‐orang seperti
itu biasanya akan berhasil dan memiliki kehidupan yang
memuaskan.
Pada jaman sekarang ini dimana masa hidup dibagi
berdasarkan generasi, pola belajar tetap harus dimulai dan
diawali dari kekuatan pribadi tadi, kalau tidak, maka akan
dengan mudah ada judgement orang ini pintar atau orang itu
bodoh, padahal setiap orang dapat memiliki kekuatan yang
unik. Kekuatan itu bila tidak diasah maka tidak akan
berkembang dan mati sehingga orang terlihat bodoh dan
tidak memiliki kekuatan apapun.
Akhir kata, kita semua adalah individu yang unik yang
memiliki pola belajar masing‐masing. Kita harus mampu
untuk mengenali kekuatan dan talenta (bakat) kita untuk
dapat membentuk pola unik itu dan menggunakannya untuk
dapat belajar, mengoptimalkan diri dan menghadapi
Dewiyani Djayaprabha, S.Psi., Psikolog, Kepala Pusat
Pengembangan Karier Universitas Katolik Parahyangan
Belajar harus diatur atau lebih tepatnya teratur karena hal itu
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 55
Universitaria
Ketua Pertama Ikatan Arsitek Indonesia
telah Berpulang
U
niversitas Katolik Parahyangan tengah berduka. Guru
Besar Jurusan Arsitektur Unpar, Prof. Dr. Sandi A.
Siregar Ir., MAE., IAI telah wafat pada pukul 06.00,
hari Jumat, 29 Januari 2016.
Beliau lahir di Madiun, 24 Juni 1945 dengan riwayat
pendidikan lulus jenjang strata satu dari Jurusan Arsitektur
Unpar pada 10 Juni 1968 dan gelar Master dari Katholieke
Universiteit Leuven di Leuven, Belgia pada 15 Juni 1976.
Kemudian, beliau menyandang gelar Doktor di de Toegepaste
Wetenschappen (Doktor Terapan Ilmu‐Ph.D.) dari Katholieke
Universiteit Leuven di Leuven, Belgia pada 12 Juni 1990.
Semasa hidup, almarhum turut bekerja sebagai seorang
praktisi dan akademisi, khususnya di Jurusan Arsitektur Unpar
dengan mengajar Architectural Design, Urban Design, serta
Morfologi Kota dan Tipologi Bangunan. Dengan ide dan
kapabilitasnya, almarhum turut serta dalam tim Masterplan
Pembangunan
K a m p u s U n p a r,
t e r m a s u k
perancangan
Gedung 5 Fakultas
Teknik (FT) Unpar
yang masih berdiri
tegak di kawasan
Ciumbuleuit.
Dengan latar
b e l a k a n g
pendidikan serta
pengalaman, tidak
heran apabila
a l m a r h u m
dipercaya sebagai
56 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
ketua pertama Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) dan juga
sebagai arsitek senior di PT Ciptapura Architects & Engineers.
Selain dedikasinya terhadap bidang pendidikan, almarhum
turut memegang jabatan penting di Yayasan Rumah Sakit
Islam (YRSI) KSWI – Rumah Sakit Al Islam, Bandung.
Menurut Dr. Johannes Adhijoso Tjondro selaku Dekan FT
Unpar, berita duka ini tentu mengagetkan seluruh keluarga
dan kerabat. Kini, almarhum telah tiada, tetapi dedikasi yang
telah almarhum abdikan selama lebih dari 40 tahun, telah
membawa kejayaan, khususnya bagi Jurusan Arsitektur
Unpar.
Dari rumah duka di Jalan Panumbang Jaya No. 12,
Ciumbuleuit Bandung, almarhum disholatkan di Masjid
Kolam dan disemayamkan di Lobby Rektorat Unpar pada
pukul 11.30 waktu setempat. Kemudian, jasad dimakamkan
di Sirnaraga.
(HG)
Kemahasiswaan
Rakornis Diklat Badiklat Kemhan
Tahun 2016
Pertahanan negara tak semata menjadi tanggung jawab tentara ataupun kepolisian.
Masyarakat, termasuk di dalamnya kaum muda dan mahasiswa, juga mengemban
tanggung jawab menjaga keutuhan negara ini.
L
embaga Kepresidenan
Mahasiswa, yang diwakili
Presiden Mahasiswa dan
Direktorat Jenderal Kajian dan Aksi
Strategis memenuhi undangan dari
Kementerian Pertahanan Republik
Indonesia untuk hadir dalam Rakornis
(Rapat Koordinasi Teknis) Diklat
Badiklat Kemhan Tahun 2016, dengan
topik Bela Negara dan tema
“Penguatan Nilai‐Nilai Strategis Bela
Negara Guna Mewujudkan Pendidikan
dan Pelatihan Bela Negara secara
Nasional dalam Rangka Mendukung
Sistem Pertahanan Negara yang
Tangguh”, 4 Maret 2016.
Narasumber pada diklat tersebut
adalah Mayjen TNI Hartind Asrin
(Kabadiklat Kemhan) dan Ir. Arief
Sorboyo Moekiyat, M.T. (Deputi bidang
Koordinasi Kesatuan Bangsa
Kemenkopolhukam). Hadir dalam
kegiatan ini Pejabat Kemhan
58 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
TNI/Angkatan, Lembaga Non
Kementerian Pemprov Jawa Barat,
organisasi kepemudaan, dan unsur
masyarakat lainnya yang berjumlah 40
orang.
Dalam kegiatan ini, LKM Unpar
merupakan satu‐satunya perwakilan
badan eksekutif mahasiswa yang
diundang dan hadir. “Perlu adanya
pelibatan orang muda, mahasiswa, dan
kalangan kreatif yang lebih intensif
supaya bela negara tidak sekadar
menjadi formalitas belaka namun
benar masuk dan diterima masyarakat”,
ujar Ang, Presiden Mahasiswa Unpar.
(BS)
Denyut
Peluncuran Buku Karya Dosen Unpar
Diplomasi dalam Politik Global diperlukan untuk mendukung perdamaian dan mewujudkan eksistensi
negara. Kebanggaan nasional dibutuhkan untuk mengemban hukum yang nyata.
Diplomasi dalam Politik Global
erlokasi di Ruang Pameran
Tetap, Gedung Merdeka
(Museum Konferensi Asia
Afrika), Bandung, diselenggarakan
peluncuran buku Diplomasi dalam
Politik Global karya Dr. Sukawarsini
Djelantik selaku editor. Acara
diselenggarakan pada hari Jumat, 26
Februari 2016 mulai pukul 09.00.
B
Acara ini dihadiri oleh Rektor Unpar,
Dekan FISIP, Duta Besar Esty Andayani
(Direktur Jenderal Informasi dan
Diplomatik Publik Kementerian Luar
Negeri Republik Indonesia), yang juga
bertindak sebagai narasumber, Duta
Besar Ramli Saud yang menjadi
moderator, Thomas A. Siregar (Ketua
Museum Konferensi Asia Afrika), media
massa, para mahasiswa dan dosen dari
Unpar, Unpas, Unpad, IWU, Al‐Ghifari,
dan Unjani, sekitar 200 orang
Suasana seminar dan peluncuran buku
sambutan dan mengucapkan terima
kasih kepada Museum Konferensi Asia
Afrika, Kementerian Luar Negeri, dan
seluruh pihak yang mendukung acara
ini. “Perguruan tinggi seperti Unpar
juga menjalankan peran diplomasi
publik serta selalu membutuhkan
arahan untuk menjalankan peran
tersebut.” Mangadar juga
Acara diawali dengan menyanyikan lagu
menyampaikan kebanggaan atas
Indonesia Raya yang dilanjutkan
peluncuran buku ini dan berharap hal
dengan sambutan‐sambutan. Thomas
ini menjadi contoh yang baik. “Semoga,
A. Siregar mengawali sambutan dan
makin banyak dosen Unpar dan luar
mengapresiasi peluncuran buku yang
Unpar yang menerbitkan buku dan
memilih lokasi bersejarah. Thomas juga
menularkan semangat belajar serta
sedikit bercerita mengenai perjuangan
transfer ilmu pengetahuan melalui
menjaga eksistensi Museum Konferensi
tulisan.”
Asia Afrika serta usaha‐usaha yang
Sesi selanjutnya diisi dengan seminar.
dilakukan untuk menyebarkan
Hadir pada sesi ini, Dr. Sukawarsini
semangat perdamaian. “Akibat
Djelantik, selaku penulis dan editor
kemajuan teknologi informasi,
buku Diplomasi dalam Politik Global,
diplomasi dan museum berada di titik
serta Esti Andayani. Sesi ini
persimpangan yang sama,” ujarnya.
dimoderatori oleh Ramli Saud. Dalam
Thomas menjelaskan bahwa di era
pemaparannya, Suke, demikian
pasca modern, museum harus
Sukawarsini Djelantik biasa disapa,
memperhatikan masyarakat sebagai
memberikan gambaran yang luas dan
target audiensinya.
mendalam mengenai berbagai hal
Setelah itu, Rektor Unpar, Mangadar
terkait diplomasi. Suke berangkat dari
Situmorang, Ph.D. menyampaikan
pemahamannya sebagai seorang
akademisi. Latar belakang diplomasi,
pola dan prasyarat terjadinya
diplomasi, jenis‐jenis diplomasi, dan
beberapa contoh diplomasi menjadi
bahasan beliau.
Kegiatan yang diikuti kurang lebih 200
orang ini dilanjutkan dengan
pemaparan dari narasumber, Esti
Andayani. Esti menjabarkan diplomasi
dari sisi praktis. Beliau juga
memberikan cukup banyak data terkait
bentuk‐bentuk diplomasi yang terjadi.
Di samping itu, mantan Duta Besar RI
untuk Ethiopia ini mengatakan bahwa
dukungan pemerintah menjadi penting
dalam diplomasi global. “K‐Pop menjadi
sesukses sekarang bukan hanya karena
kualitas seni mereka. Dukungan
pemerintah Korea Selatan dan peran
media menjadi faktor lain yang
menyebabkan budaya K‐Pop bisa
sedemikian menjamur,” ujarnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan
sesi diskusi dan tanya jawab, serta
peluncuran buku terbitan Unpar Press
tersebut.
Ilmu Hukum Indonesia
Hukum tak hanya untuk dipahami
dan diketahui. Hukum haruslah
diemban dan dihidupi dalam
tingkah laku sehari‐hari. Hukum yang
dihidupi dapat memberi makna bagi
keberadaan manusia dan menjadi
sarana untuk mewujudkan masyarakat
“
Sukawarsini D., Ramli Saud, dan Esti Andayani
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 59
yang beradab.” Sepenggal pesan yang
muncul dalam acara peluncuran buku
Ilmu Hukum Indonesia (edisi revisi)
pada tanggal 2 Maret 2016 di Aula
Fakultas Hukum Unpar.
Hadir pada acara ini, Pembina dan
Pengurus Yayasan Unpar, pimpinan
Universitas, pimpinan Fakultas Hukum
dan kepala unit kerja lainnya, para
dosen dan mahasiswa Unpar, tamu
undangan, dan kerabat serta keluarga
Arief Sidharta. Peluncuran buku ini juga
bertepatan dengan peringatan 100 hari
wafatnya Prof. Dr. B. Arief Sidharta,
S.H., Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas
Hukum Unpar.
Ada dua rangkaian kegiatan, yakni misa
peringatan dan peluncuran buku. Misa
dipimpin oleh Pst. Fabianus H., Pr., yang
dalam kotbahnya mengajak semua
orang, termasuk pengemban profesi
hukum untuk dapat mencontoh Arief
Sidharta. “Beliau adalah salah satu
orang yang secara konsisten
menghidupi hukum. Keyakinan dan
konsistensi atas upaya pengembanan
hukum membuat beliau berbeda dari
yang lain.”
Setelah misa, acara dilanjutkan dengan
peluncuran buku. Rangkaian
peluncuran buku dimulai dengan
resensi yang disampaikan oleh Budi
Prastowo, S.H., M.H., yang juga Kepala
Program Studi Ilmu Hukum. Mengawali
paparannya, Budi bercerita tentang
proses penerbitan buku ini. “Pak Arief
memberikan file buku revisi tersebut
kepada Unpar Press. Saya dan tim dari
Fakultas (Fakultas Hukum Unpar, red.)
lalu berkoordinasi untuk mewujudkan
harapan Pak Arief. Dua hari sebelum
wafatnya, Saya sempat berdiskusi
dengan beliau terkait buku itu. ‘Tolong
diurus yah, Pak Budi bukunya’,
demikian pesan Pak Arief pada Saya,”
kenang Budi.
Dalam sajian resensinya, Budi
menyampaikan bahwa buku ini
berupaya memberikan gambaran
tentang ilmu hukum (Indonesia). Budi
mengatakan bahwa buku ini baik
dibaca oleh seluruh kalangan, terutama
mahasiswa Fakultas Hukum tingkat
Sarjana, Magister, dan Doktor. “Prof.
Arief memberikan gambaran bahwa
Indonesia memiliki hukumnya sendiri,
yakni Ilmu Hukum Indonesia. Kita telah
60 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Malam Ariefian
elang beberapa hari sebelum
peluncuran buku Ilmu Hukum
Indonesia, tepatnya Jumat, 19
Februari 2016, diselenggarakan Malam
Ariefian. Malam Ariefian merupakan
kegiatan yang diselenggarakan oleh
Himpunan Mahasiswa Program Studi
Ilmu Hukum dan bekerja sama dengan
Kelompok Ariefian serta Lembaga
Pengembangan Humaniora Unpar.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai
upaya menjaga dan menyebarkan
semangat pembelajaran dan
pengembanan hukum yang selama ini
dilakukan oleh Prof. Arief.
S
Penyerahan simbolis dari Dekan FH
kepada Rektor
memiliki hukum sendiri yang juga harus
Acara dengan tema “Bersama
diemban,” sambung Budi.
Melanjutkan Pengembanan Ilmu
Hukum Indonesia” dan tagline
Setelah pemaparan resensi dari Budi,
“Mengenal dan memperkenalkan
kegiatan dilanjutkan dengan
peluncuran buku oleh Dekan FH. Buku pemikiran dan sosok Arief Sidharta” ini
diantar oleh Ibu Arief Sidharta bersama berupa diskusi dan pertunjukan seni.
Diskusi bagi menjadi dua sesi. Sesi
sang putri dan diserahkan kepada Dr.
Tristam P. Moeliono, S.H., M.H., LL.M., pertama menghadirkan Dr. Tristam P.
Moeliono (FH Unpar) dan Dr. Shidarta
Dekan Fakultas Hukum Unpar.
(Universitas Binus). Sesi ini membahas
Kemudian Tristam memberikan
sosok guru besar, Prof. Arief, selama
sambutan terkait buku dan secara
berkarya
di dunia hukum.
resmi meluncurkan buku tersebut
dengan membuka gulungan sampul
Sementara itu, Donny Danardono, M.A.
buku berukuran besar.
(Fakultas Filsafat Universitas
Soegijapranata) dan Dr. Herlambang P.
Setelah resmi diluncurkan, Dekan
berturut‐turut memberikan buku Ilmu Wiratraman (Fakultas Hukum
Universitas Airlangga), menjadi
Hukum Indonesia kepada Pengurus
narasumber untuk sesi kedua. Sesi ini
Yayasan, Rektor Unpar, Sunaryati
Hartono, para undangan, di antaranya sendiri membicarakan karya‐karya Prof.
Arief semasa hidup, terutama tentang
perwakilan Direksi RS St. Borromeus,
Pancasila.
Selain diisi dengan diskusi,
perguruan lain di mana Arief Sidharta
ada pula pembacaan puisi dari
mengajar, IKA FH, dan perwakilan
mahasiswa FH Unpar dan penampilan
mahasiswa.
seni dari Pst. Fabianus Sebastian, Pr.,
Acara berlanjut dengan pemutaran
Ketua Lembaga Pengembangan
video kenangan atas Prof. Arief
Humaniora Unpar.
Sidharta, dan sambutan dari pihak
keluarga, yang ditutup dengan doa
(BS)
bersama.
Tristam P. sedang menyampaikan pendapatnya mengenai sosok Prof. Arief
MahasiswaUnpar
MenyabetBestofTheBestdalam
FestivalGeoteknikdiMalaysia
1955
Tahukah Anda bahwa Tim Mahasiswa Teknik Sipil FT Unpar
menyabetduaposisiterbaikdariempatkategoridalamInternational
GeotechnicalEngineeringFestival(GeoFest2015)diMalaysia?
Kompetisi diselenggarakan oleh Research Centre for Soft Soils
Malaysia (RECESS), Faculty of Civil and Environmental Engineering
(FKAAS) UTHM, dan Office of Research, Innovation,
Commercialization, and Consultancy Management (ORICC), di
Langkawi,Malaysia,pada25-26Oktober2015.
Tim Unpar meraih dua posisi terbaik dari empat kategori
penghargaan. Kategori The Best Poster dengan tema Study on the
Dyke Failure and Its Countermeasure for Mud Protection in Sidoarjo,
EastJavadiberikankepadaNisaUtamiRachmayanti,AndreasErdian
Wijaya,JeremyGamaliel,danAflizalArafianto.
KategoritertinggiyaituBestofthe Best dengantemaMitigationand
Risk Reduction of Mud Eruption Disaster in East Java Using Vacuum
Consolidation Method diberikan kepada Joshua Kurniawan Sindaka,
Evelyn, Angeline Dite Panca Kartika Ningtyas, dan Rahadiyan
Narendra.
Denyut
The Great Unpar: The Great Alumni
Berbekal pengetahuan, pengalaman, dan pengembangan diri selama studi di Unpar, sebanyak
1.167 wisudawan/wisudawati siap mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi dengan semangat
dan peran yang baru.
P
ada hari Sabtu, tanggal 12 Maret
2016 Unpar menyelenggarakan
Upacara Wisuda I – 2015/2016
dan melepas sejumlah lulusan baru
untuk diabdikan kepada masyarakat.
Pada kesempatan yang
membahagiakan dan membanggakan
ini, Unpar mewisuda 1.167 lulusan
baru, yang dinyatakan lulus pada
periode 7 Juli 2015 – 1 Februari 2016.
Acara wisuda dimulai dengan
menyanyikan lagu kebangsaan
Indonesia Raya yang kemudian
dilanjutkan dengan menyanyikan
Hymne Unpar. Setelah itu dilanjutkan
dengan pembacaan Keputusan Rektor
tentang lulusan fakultas/program studi
yang disambung dengan sambutan
Pengurus Yayasan Unpar oleh Boedi
Siswanto Basuki dan dilanjutkan
sambutan Rektor Unpar, Mangadar
Situmorang, Ph.D. serta pelantikan para
wisudawan.
Unpar hendak menunjukkan bukti akan
kesetiaan dan komitmen pada tujuan
misionernya, yakni mendidik generasi
muda agar menjadi insan yang lebih
cerdas, lebih matang, dan lebih mampu
untuk menjalani kehidupan di
masyarakat dan menjadi insan
pembangunan bangsa dan negara.
Melalui proses belajar‐mengajar yang
sedemikian rupa, para mahasiswa
didampingi, diarahkan, dan
dimampukan untuk memaknai setiap
informasi dan pengetahuan demi
pengembangan diri yang selanjutnya
akan dibaktikan pada bangsa dan
masyarakat. Itulah inti pendidikan
Unpar yang transformatif dan berakar
independen dalam perubahan dan
pada sesanti Bakuning Hyang Mrih
kemajuan masyarakat dan bangsa.
Guna Santyaya Bhakti.”
Maka, bersamaan dengan rasa percaya
Mangadar juga mengingatkan kembali diri untuk melepas para
The Great Alumni sebagai cerminan The wisudawan/wisudawati patut pula
Great Unpar. “Dalam kaitannya dengan disampaikan harapan‐harapan untuk
peristiwa wisuda kali ini, kembali
terus berjuang mengembangkan diri
Dalam sambutannya, Mangadar
hendak ditegaskan bahwa salah satu
dan membangun masyarakat, terus
menyampaikan syukur, bahagia, dan
ukuran dari Unpar adalah the great
memberikan yang terbaik dari diri anda
bangga kepada para wisudawan,
alumni. Artinya, Unpar hanya akan
untuk kemajuan lembaga/perusahaan
keluarga wisudawan, segenap civitas
diakui kehebatannya jika, dan hanya
tempat anda berkarya, berusaha selalu
academica, dan seluruh pihak karena
jika, para alumninya hebat. Masyarakat menjadi anggota tim, anggota
bertambahnya jumlah alumni Unpar.
akan menilai Unpar berdasarkan
masyarakat, yang kontributif dan
“Dengan tambahan ini, lulusan Unpar
kinerja, karya, prestasi para alumni,
konstruktif, serta memelihara dan
sejak didirikan tahun 1955 menjadi
entah itu di kantor pemerintah atau
menjaga nama baik Unpar. (HG)
55.227 alumni. Lewat prosesi wisuda ini swasta atau menjadi penggerak yang
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 63
Galeria
Tim Basket Putri Unpar
menjuarai Liga Basket
Mahasiswa 2015-2016
Wilayah Jawa Barat
Tim Basket Putra Unpar
memperoleh peringkat dua
Liga Basket Mahasiswa
2015-2016 Wilayah Jawa
Barat
Tim Reang Pajingkrak Listra
menjuarai Perbanas Dance
Competition, Perbanas Institute
Jakarta, 4-5 Maret 2016.
64 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
PAR
YAN
N
GA
AH
Gapura
Jln Ranca Bulan
bah
Lem tu
i
s
Ci
an
ng
ja
UNPAR
Jl. Cisitu Indah II
Jl. C
Pintu Gerbang 2
Pasaga
isitu
Inda
Pintu Gerbang 1
hI
gan
Parahyan
Reksa Raga
Jembatan
Jl. Ciumbuleuit
Jl.
Sili
wa
ngi
Sungai Cikapundung
Jl. Ciumbuleuit
OBC
Jl.
Balai Diklat
Geologi
Sa
Mapolsek
ng
ku
ria
ng
Jl. Cisit
u Lama
en
M
Jl. Siliwangi
Jl. Siliwangi
Pasaga
PARAHYANGAN REKSA RAGA
CISITU INDAH VI | 082217004512
Galeria
Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional
tanggal 21 Februari, Himpunan D3 Manajemen
Perusahaan Unpar mengadakan acara Gerakan Pungut
Sampah (GPS) dan bekerjasama dengan Bandung
Clean Action serta PT Pos Indonesia dengan
disponsori oleh Buburia. Selain menyaring sampahsampah di Cikapundung, GPS kali ini juga
mengadakan gerakan 1000 tumblr untuk mengurangi
pemakaian botol plastik.
Alfonsius Adhityo Nugroho menjadi juara
ketiga pada Kejuaraan Nasional 5th Dekan Cup
Unsoed sebagai tim KKI Jabar.
Revian Wirabuana (Arsitektur 2012), Jeanne
Sanjaya (HI 2013), Devi Rifandiani
(Arsitektur 2015) yang telah berhasil meraih
peringkat 2 di perlombaan Climate Week
Debate Competition dan Revian berhasil
mendapatkan posisi ke-5 sebagai best speaker.
66 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. I No. 3 | 15
Resensi Buku
B
uku yang merupakan kumpulan
tulisan mahasiswa jurusan Hubungan
Internasional serta Magister Ilmu
Sosial Universitas Katolik Parahyangan ini
terdiri dari 3 bagian. Tiga bagian tersebut
adalah Diplomasi Multilateral, Diplomasi
Bilateral, dan Diplomasi Publik. Pada
Diplomasi Multilateral, pertama-tama
dibahas mengenai Diplomasi Multilateral
secara umum, lalu dilanjutkan dengan
Diplomasi Indonesia di Timur Tengah,
Diplomasi RI Untuk Keamanan Internasional
dan Perlucutan Senjata, Diplomasi Indonesia
untuk Reformasi Dewan Keamanan PBB,
serta Diplomasi Konferensi Indonesia
terhadap Australia Terkait Skema REDD.
Melalui Peran Jacky Chan, Diplomasi Budaya
Indonesia di Korea Selatan, Diplomasi Publik
Indonesia di Etiopia, dan Diplomasi Publik
Amerika Serikat melalui Facebook di
Indonesia.
Buku ini dibuat karena adanya keprihatinan
akan terbatasnya bahan-bahan referensi baik
untuk perkuliahan maupun penelitian, yang
saat ini dialami oleh mahasiswa maupun
peneliti bagi studi Hubungan Internasional.
Editor berharap dengan adanya buku ini akan
memberikan sumbangan pemikiranpemikiran bagi Diplomasi Indonesia dan juga
memperkenalkan diplomasi secara luas
kepada kalangan publik.
Pada bagian Diplomasi Bilateral berisikan
Diplomasi Indonesia terhadap Belanda dalam
Memperoleh Pengakuan Internasional (19451949), Diplomasi Indonesia terhadap Timor
Leste Paska Jajak Pendapat, Diplomasi
Indonesia untuk Rekonsiliasi dengan Timor
Leste, Diplomasi Amerika Serikat
Menghadapi Krisis di Libya, dan Diplomasi
Indonesia dalam Membela Kepentingan TKI.
Pada bagian Diplomasi Publik dibahas
mengenai Diplomasi Publik Tiongkok
Judul
Editor
Penerbit
Tahun
Halaman
:
:
:
:
:
Diplomasi dalam Politik Global
Dr. Sukawarsini Djelantik
Unpar Press
2016
352 halaman
MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2 | 67
B
uku ini merupakan hasil pengolahan dan
pengembangan makalah berjudul
“Paradigma Ilmu Hukum Indonesia
Dalam Perspektif Positivis”, yang
dipresentasikan dalam Simposium Nasional
Ilmu Hukum tentang “Paradigma Dalam Ilmu
Hukum Indonesia”, pada tanggal 10 Februari
1998, di Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang. Tulisan yang diberi
judul “Ilmu Hukum Indonesia”, dimaksudkan
sebagai bahan bacaan untuk mempelajari
tatanan hukum positif yang berlaku di
Indonesia, khususnya bagi para mahasiswa yang
sedang mempelajari hukum di perguruan tinggi
di Indonesia. Berkenaan dengan hal itu, Paul
Scholten dalam suatu makalah berjudul “De
Structuur van De Rechtswetenschap”
mengemukakan bahwa “Ilmu dari hukum
positif pada akhirnya adalah ilmu tentang
hukum positif tertentu yang berlaku di suatu
negara tertentu. Hukum positif demikian sangat
dipengaruhi sejarah dan berada pada lingkup
nasional. (…) Hanya mereka, yang menjadi
bagian dari hukum yang demikian itu yang
dapat bekerja di dalamnya.” Karena itu bagi
Judul
Penulis
Penerbit
Tahun
Halaman
:
:
:
:
:
Ilmu Hukum Indonesia (edisi revisi)
B. Arief Sidharta
Unpar Press
2016
187 halaman
68 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
ILMU HUK
UM
IN
DONESIA
Upaya pengem
ba
terhadap peru ngan Ilmu Hukum Sistem
atik yang resp
bahan masyara
onsif
kat
EdisiRevisi
B. Arief S
idharta
Scholten, hanya peneliti Belanda yang
dapat menelaah hukum positif Belanda.
Jika pendapat Scholten ini benar, maka
pernyataan tadi berlaku bagi semua
ilmu hukum, yang pada dasarnya
adalah selalu ilmu hukum positif suatu
negara tertentu, termasuk bagi Ilmu
Hukum Indonesia. Konsepsi dasar
tentang ilmu hukum yang tercantum
dalam buku ini dalam intinya masih
merupakan kelanjutan dari apa yang
tercantum di dalam makalah terdahulu
itu. Tentu saja pengolahan dan
pengembangan makalah yang lama itu
dilakukan juga dengan mengacu pada
perkembangan pemikiran tentang
hukum dan ilmu hukum dewasa ini,
baik yang terjadi di dalam maupun di
luar negeri, seperti munculnya gagasan
Hukum Progresif dari Satjipto
Rahardjo, polemik tentang keilmiahan
ilmu hukum di Belanda yang dipicu
oleh kasus Wrongful Birth (kasus
kelahiran bayi yang lahir cacat fisik dan
mental), pemikiran Ronald Dworkin
dan Jürgen Habermas, pemikiran
postmodernisme, munculnya berbagai
kebutuhan hukum baru, dan gejalagejala kemasyarakatan yang baru serta
perubahan ekologikal.
PENGURUS
YAYASAN UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
AlexanderT.M.K.
BambangH.
B.S.Kusbiantoro B.HendraK.,OSC HendraGunawan
Bendahara
BendaharaUmum
Sekretaris
SekretarisUmum
Ketua
A.GumawangJati
Anggota
G.Widjonarko
Anggota
HermanS.
Anggota
BoediSiswantoB. AntoniusTardia
Anggota
Anggota
IwanSupriadi
Anggota
Pengurus Yayasan Unpar
mengucapkan
Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan
segenap masyarakat kepada
Universitas Katolik Parahyangan
UNPAR
GUESTHOUSE
Jl.GunungAgungDalamNo.4
CiumbuleuitBandung40142
T:(022)2032800/F:(022)2038854
M:0857.2138.8585
alang
Dan
a
L es
tari
Badan
ngg
Pe
BADAN PENGGALANG
DANA LESTARI
Badan Penggalang Dana Lestari menghimpun dana sumbangan
dari berbagai sumber, di antaranya orang tua mahasiswa, alumni,
perusahaan dan yayasan pemberi beasiswa yang peduli akan
pentingnya bantuan dana beasiswa bagi dunia pendidikan dan
masa depan bangsa.
Prioritas penyaluran beasiswa diberikan kepada mahasiswa yang
didasarkan pada potensi akademik, kondisi finansial, keaktifan di
bidang kemahasiswaan di lingkungan kampus dan organisasi di
lingkungan sosial kemasyarakatan.
No. Rekening Badan Penggalang Dana Lestari Yayasan Unpar
1. Yayasan Universitas Katolik Parahyangan
Bank BCA KCP Pasirkaliki Atas, Bandung
No. Rekening: 8480.444.443
2. Yayasan Universitas Katolik Parahyangan
Bank OCBC NISP Cabang Unpar, Bandung
No. Rekening: 017.8100.2999.5
UL
U
AN RAN
AK
U
BA NTU
NG
K
SA
BEASISWA
LESTARI PRIMA
BEASISWA
LESTARI ULTIMA
BEASISWA
LESTARI FLEKSIBEL
Jl. Ciumbuleuit No 100 Bandung 40141
Telp 022-2035137
Fax 022-2031021
Email [email protected]
[email protected]
Penerbit Unpar Press
Jl. Ciumbuleuit 100 Bandung 40141
Tlp (022) 2035137
Fax (022) 2031021
Warta Himahi meraih penghargaan Bronze Winner pada
kategori The Best of Java Magazine untuk edisi November
2015 - Food Diplomacy dalam The 5th Indonesian Student
Print Media Awards (ISPRIMA).
Malam Penghargaan InMA, IYRA, IPMA, dan ISPRIMA
2016 yang diadakan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS)
Indonesia di Golden Palace Hotel, Mataram, NTB.
Senin, 18 Januari 2016
LKM Unpar melalui Dirjen Pengmas,
Kementerian Luar Negeri didukung oleh
Kakak Asuh FISIP berkunjung ke SD
Panorama 1, 2, dan 3 di Secapa untuk
melakukan sosialisasi mengenai gerakan
pilah sampah. Sosialisasi ini ditujukan
kepada murid-murid kelas 1 hingga 6 SD.
Mahasiswa juga memberikan bantuan tong
sampah organik dan anorganik.
Anita Irensya (2013910034) menjuarai
Taekwondo Senior Putri U-63 pada Festival
Kavaleri Cup 2016 di Bandung.
72 | MAJALAH PARAHYANGAN | Vol. III No. 2
Selasar Kampus
Gedung Pascasarjana Unpar
http://halboor.com/unpar
Beasiswa
Anthony Kesumah - 2010410038 / Program Studi Teknik Sipil
“Saya merasa senang, bangga, serta terbantu dengan mendapatkan beasiswa.
Saya bisa membantu orang tua saya dalam meringankan pembayaran uang
kuliah yang cukup besar nilainya.
Beasiswa Dana Lestari memberikan saya pengalaman bagaimana menghadapi
psikotes dan juga wawancara, walaupun masih dalam lingkup yang kecil.
Kegiatan geladi yang disediakan bagi penerima beasiswa juga membantu saya
lebih mengenal mahasiswa jurusan lain.”
Maria Adeline - 2010130067/Program Studi Akuntansi
“Beasiswa Dana Lestari yang saya terima memberikan banyak manfaat
untuk diri saya. Pertama karena Dana Lestari membantu meringankan biaya
pendidikan saya sehingga saya bisa fokus kulliah tanpa memikirkan
kekurangan biaya. Kedua, dengan adanya beasiswa ini saya terdorong untuk
terus mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi akademis saya agar
bisa mempertahankan beasiswa tersebut hingga saya lulus.
Ketiga, dengan kegiatan geladi kepribadian yang rutin diadakan saya dapat
terus meningkatkan kualitas diri dan mendisiplinkan diri karena geladi
tersebut sangat menantang saya untuk keluar dari comfort zone.”
Fendri – 2009610028 / Program Studi Teknik Industri
“Kesan saya terhadap beasiswa yang saya terima adalah sungguh luar biasa.
Beasiswa sangat membantu saya untuk menyelesaikan studi saya di Unpar.
Pesan untuk penerima selanjutnya adalah jangan pernah menyia-nyiakan
segala sesuatu yang telah diberikan kepada kita. Manfaatkanlah beasiswa
yang diberikan sebaik mungkin.”
Vendri - 2007730022/Program Studi Teknik Informatika
“Saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada BPDL selaku salah satu unsur
pendukung dan penyemangat yang mengantarkan saya untuk dapat lulus dari
Unpar, saya sedikit dapat bernapas lega bahwa secara tidak langsung saya ikut
membantu keluarga.
Selain itu, adanya geladi dari tim PKH membantu saya untuk mengenal temanteman baru yang kadang bernasib lebih buruk daripada saya. Hal ini
membenturkan saya dengan keadaan yang saya alami, bahwa seharusnya saya
tetap dapat bersyukur bagaimanapun kondisi yang sedang saya hadapi.
Terimakasih banyak atas segala bimbingan, masukan, dan kritik yang
membangun dari semua tim terkait yang bertujuan untuk membantu
perkembangan pribadi saya seutuhnya.”
Preparing
ethicalprofessionals
inthemoreglobalizedsociety
Atraininginleadershipandinnovationchallengein21stcenturywithDr.JolStoffers,MBA(professorof
employability,ZuydUniversity,TheNetherlands).
TheGraduateSchool
MasterProgram
•Management•SocialScience•Law•Theology
•Architecture•CivilEngineering•IndustrialEngineering•ChemicalEngineering
DoctoralProgram
•Economics•Law•Architecture•CivilEngineering
www.pascasarjana.unpar.ac.id
Fly UP