...

SALINAN-POJK.9 Alih Daya

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

SALINAN-POJK.9 Alih Daya
OTORITAS JASA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN
NOMOR 9 /POJK.03/2016
TENTANG
PRINSIP KEHATI-HATIAN BAGI BANK UMUM YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
KEPADA PIHAK LAIN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN,
Menimbang
: a.
bahwa dengan semakin berkembangnya dunia usaha
dan ketatnya tingkat persaingan, kegiatan usaha bank
menjadi semakin kompleks dan beragam;
b.
bahwa agar dapat lebih fokus pada pekerjaan
pokoknya
dalam
intermediasi
undangan,
dan
bank
rangka
sejalan
dapat
melaksanakan
dengan
fungsi
perundang-
menyerahkan
sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada pihak lain;
c.
bahwa penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada pihak lain berpotensi meningkatkan risiko bagi
bank;
d.
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c
dipandang perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan tentang Prinsip Kehati-hatian Bagi Bank
Umum
Yang
Melakukan
Penyerahan
Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Pihak Lain;
Sebagian
-2Mengingat
: 1.
Undang-Undang
Perbankan
Nomor
(Lembaran
7
Tahun
Negara
1992
Republik
tentang
Indonesia
Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah
diubah
dengan
Undang-Undang
Nomor
10
Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3790);
2.
Undang-Undang
Perbankan
Indonesia
Nomor
Syariah
Tahun
21
Tahun
(Lembaran
2008
2008
Negara
Nomor
94,
tentang
Republik
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4867);
3.
Undang-Undang
Nomor
21
Tahun
2011
tentang
Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia
Tahun
2011
Nomor
111,
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5253);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
: PERATURAN
PRINSIP
OTORITAS
JASA
KEHATI-HATIAN
MELAKUKAN
KEUANGAN
BAGI
PENYERAHAN
BANK
SEBAGIAN
TENTANG
UMUM
YANG
PELAKSANAAN
PEKERJAAN KEPADA PIHAK LAIN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam
Peraturan
Otoritas
Jasa
Keuangan
ini
yang
dimaksud dengan:
1.
Bank adalah bank umum yang melaksanakan
kegiatan
dimaksud
usaha
secara
dalam
konvesional
Undang-Undang
sebagaimana
Nomor
7
Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah
dengan
Undang-Undang
Nomor
10
Tahun 1998, termasuk kantor cabang dari bank yang
berkedudukan di luar negeri, serta bank umum
syariah
dan
unit
usaha
syariah
sebagaimana
-3-
dimaksud
dalam
Undang-Undang
Nomor
21
Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
2.
Penyerahan
Sebagian
Pelaksanaan
Pekerjaan
kepada Pihak Lain, yang selanjutnya disebut Alih
Daya,
adalah
penyerahan
sebagian
pelaksanaan
pekerjaan kepada perusahaan penyedia jasa melalui
perjanjian pemborongan pekerjaan dan/atau melalui
perjanjian penyediaan jasa tenaga kerja.
3.
Perusahaan Penyedia Jasa adalah perusahaan yang
melaksanakan sebagian pekerjaan yang diserahkan
Bank
melalui
perjanjian
pemborongan
pekerjaan
dan/atau melalui perjanjian penyediaan jasa tenaga
kerja.
4.
Direksi:
a.
bagi Bank berbentuk badan hukum Perseroan
Terbatas adalah direksi sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas;
b.
bagi Bank berbentuk badan hukum:
1)
Perusahaan
Umum
Daerah
atau
Perusahaan Perseroan Daerah adalah direksi
sebagaimana
dimaksud
dalam
Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan
diubah
Daerah
terakhir
sebagaimana
dengan
telah
Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2015;
2)
Perusahaan Daerah adalah direksi pada
Bank yang belum berubah bentuk menjadi
Perusahaan Umum Daerah atau Perusahaan
Perseroan Daerah sesuai Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah sebagaimana telah diubah terakhir
dengan
Undang-Undang
Nomor
9
Tahun 2015;
c.
bagi Bank berbentuk badan hukum Koperasi
adalah pengurus sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian;
-4-
d.
bagi
Bank
yang
berstatus
sebagai
kantor
cabang dari bank yang berkedudukan di luar
negeri adalah pemimpin kantor cabang dan
pejabat satu tingkat di bawah pemimpin kantor
cabang.
5.
Dewan Komisaris:
a.
bagi Bank berbentuk badan hukum Perseroan
Terbatas adalah dewan komisaris sebagaimana
dimaksud
dalam
Undang-Undang
Nomor
40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
b.
bagi Bank berbentuk badan hukum:
1)
Per
usahaan
Umum
pengawas
Daerah
sebagaimana
Undang-Undang
Nomor
adalah
dewan
dimaksud
dalam
23
Tahun
2014
tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah
diubah
terakhir
dengan
Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015;
2)
Perusahaan Perseroan Daerah adalah
komisaris
sebagaimana
Undang-Undang
Nomor
dimaksud
23
Tahun
dalam
2014
tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah
diubah
terakhir
dengan
Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015;
3)
Perusahaan Daerah adalah pengawas
pada Bank yang belum berubah bentuk
menjadi Perusahaan Umum Daerah atau
Perusahaan
Perseroan
Undang-Undang
Nomor
Daerah
23
sesuai
Tahun
2014
tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah
diubah
terakhir
Undang Nomor 9
c.
dengan
Undang-
Tahun 2015;
bagi Bank berbentuk badan hukum Koperasi
adalah pengawas sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian;
d.
bagi
Bank
yang
berstatus
sebagai
kantor
cabang dari bank yang berkedudukan di luar
-5-
negeri
adalah
pihak
yang
ditunjuk
untuk
melaksanakan fungsi pengawasan.
Pasal 2
(1)
Bank dapat melakukan Alih Daya kepada
Perusahaan Penyedia Jasa.
(2)
Dalam melakukan Alih Daya, Bank wajib
menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen
risiko.
BAB II
ALIH DAYA
Pasal 3
(1)
Alih Daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2
ayat (1) dilakukan Bank melalui perjanjian:
a.
pemborongan pekerjaan; dan/atau
b.
penyediaan jasa tenaga kerja.
(2)
Bank wajib memastikan bahwa pelaksanaan
pekerjaan
yang
dialihdayakan
sesuai
dengan
perjanjian yang dibuat dan peraturan perundangundangan.
(3)
Bank tetap bertanggung jawab atas pekerjaan
yang
dialihdayakan
kepada
Perusahaan
Penyedia
Jasa.
Pasal 4
(1)
Dalam
rangka
Alih
Daya,
kegiatan
Bank
dikategorikan sebagai:
(2)
a.
kegiatan usaha; dan
b.
kegiatan pendukung usaha.
Dalam setiap kegiatan usaha dan kegiatan
pendukung usaha sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terdiri atas serangkaian pekerjaan pokok dan
pekerjaan penunjang.
(3)
Bank hanya dapat melakukan Alih Daya atas
pekerjaan penunjang pada alur kegiatan usaha Bank
-6-
dan pada alur kegiatan pendukung usaha Bank.
Pasal 5
(1)
Pekerjaan penunjang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) paling sedikit memenuhi
kriteria:
a.
berisiko rendah;
b.
tidak
membutuhkan
kualifikasi
kompetensi
yang tinggi di bidang perbankan; dan
c.
tidak
terkait
pengambilan
langsung
keputusan
dengan
yang
proses
mempengaruhi
operasional Bank.
(2)
Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dijabarkan dalam kebijakan Bank mengenai
Alih Daya.
(3)
Bank dilarang melakukan Alih Daya yang
mengakibatkan beralihnya tanggung jawab atau risiko
dari obyek pekerjaan yang dialihdayakan kepada
Perusahaan Penyedia Jasa.
Pasal 6
Bank hanya dapat melakukan perjanjian Alih Daya dengan
Perusahaan Penyedia Jasa yang memenuhi persyaratan
paling sedikit:
a.
berbadan hukum Indonesia;
b.
memiliki izin usaha yang masih berlaku dari
instansi berwenang sesuai bidang usahanya;
c.
memiliki kinerja keuangan dan reputasi yang
baik serta pengalaman yang cukup;
d.
memiliki
mendukung
sumber
daya
pelaksanaan
manusia
pekerjaan
yang
yang
dialihdayakan; dan
e.
memiliki
sarana
dibutuhkan dalam Alih Daya.
dan
prasarana
yang
-7-
BAB III
PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DAN MANAJEMEN
RISIKO
Bagian Kesatu
Pemilihan Perusahaan Penyedia Jasa
Pasal 7
Untuk memastikan pemenuhan persyaratan dalam rangka
pemilihan Perusahaan Penyedia Jasa, Bank wajib:
a.
meneliti
dokumen
sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 6 huruf a dan huruf b; dan
b.
melakukan analisis dan penilaian terhadap
aspek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c,
huruf d, dan huruf e, yaitu mengenai:
1.
kinerja keuangan dan reputasi yang baik serta
pengalaman yang cukup;
2.
sumber
daya
manusia
yang
mendukung
pelaksanaan pekerjaan yang dialihdayakan; dan
3.
sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam
Alih Daya.
Pasal 8
Hasil penelitian, analisis, dan penilaian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 wajib disusun secara tertulis dan
didokumentasikan dengan baik.
Pasal 9
(1)
Bank
wajib
memantau
dan
mengevaluasi
pemenuhan persyaratan Perusahaan Penyedia Jasa
secara berkala, paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi
perubahan kinerja dan/atau reputasi Perusahaan
Penyedia Jasa.
(2)
Hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib disusun secara tertulis
dan didokumentasikan dengan baik.
-8-
Bagian Kedua
Perjanjian Alih Daya
Pasal 10
(1)
Dalam
melakukan Alih Daya, Bank wajib
membuat perjanjian dengan Perusahaan Penyedia
Jasa secara tertulis.
(2)
Perjanjian Alih Daya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) paling sedikit mencakup:
a.
ruang lingkup pekerjaan;
b.
jangka waktu perjanjian;
c.
nilai kontrak;
d.
struktur biaya dan mekanisme pembayaran;
e.
hak, kewajiban, dan tanggung jawab Bank
maupun Perusahaan Penyedia Jasa, antara lain:
1.
kewenangan Bank untuk melakukan evaluasi
dan
pemeriksaan
terhadap
Perusahaan
Penyedia Jasa terkait dengan pelaksanaan
perjanjian Alih Daya;
2.
kewajiban
termasuk
Perusahaan
tenaga
kerja
Penyedia
yang
Jasa
digunakan
dalam Alih Daya untuk menjaga kerahasiaan
dan pengamanan informasi Bank dan/atau
nasabah Bank;
3.
kewajiban Perusahaan Penyedia Jasa untuk
menyampaikan
laporan
dan
informasi
kepada Bank secara tertulis dan berkala;
4.
kewajiban
mematuhi
masing-masing
ketentuan
pihak
dan
untuk
peraturan
perundang-undangan;
5.
kewajiban para pihak untuk melindungi hak
dan
kepentingan
nasabah
Bank
terkait
dengan pekerjaan yang dialihdayakan;
6.
kewajiban
Perusahaan
Penyedia
Jasa
memiliki contingency plan; dan
7.
kesediaan Perusahaan Penyedia Jasa untuk
-9-
memberikan
akses
pemeriksaan
kepada
Otoritas Jasa Keuangan dan/atau otoritas
lain yang berwenang bersama-sama dengan
Bank dalam hal diperlukan;
f.
ukuran dan standar pelaksanaan pekerjaan;
g.
kriteria atau kondisi pengakhiran perjanjian
sebelum berakhirnya jangka waktu perjanjian
(early termination);
h.
sanksi dan penalti; dan
i.
penyelesaian perselisihan.
Bagian Ketiga
Penerapan Manajemen Risiko
Pasal 11
(1)
Bank wajib menerapkan manajemen risiko
secara efektif dalam melakukan Alih Daya sesuai
skala, karakteristik, dan kompleksitas pekerjaan yang
dialihdayakan.
(2)
Penerapan
manajemen
risiko
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mencakup:
a.
pengawasan
aktif
Direksi
dan
Dewan
Komisaris;
b.
kecukupan kebijakan dan prosedur;
c.
kecukupan proses identifikasi, pengukuran,
pemantauan,
dan
pengendalian
risiko
serta
sistem informasi manajemen risiko; dan
d.
sistem pengendalian intern.
Pasal 12
Pengawasan aktif Direksi paling sedikit mencakup:
a.
menyusun dan menyempurnakan kebijakan
Alih Daya;
b.
menetapkan prosedur Alih Daya;
c.
menyetujui rencana Bank untuk melaksanakan
Alih Daya;
d.
memantau,
mengevaluasi,
dan
bertanggung
- 10 -
jawab atas penerapan manajemen risiko atas Alih
Daya; dan
e.
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Alih
Daya secara keseluruhan.
Pasal 13
Pengawasan
aktif
Dewan
Komisaris
paling
sedikit
mencakup:
a.
menyetujui dan mengevaluasi kebijakan Alih
Daya termasuk penyempurnaan atas kebijakan Alih
Daya; dan
b.
mengevaluasi pertanggungjawaban Direksi atas
penerapan manajemen risiko atas Alih Daya.
Pasal 14
(1)
Bank
wajib
memiliki
dan
menerapkan
kebijakan dan prosedur tertulis mengenai Alih Daya.
(2)
Kebijakan
dan
prosedur
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mencakup:
a.
tujuan Alih Daya;
b.
kriteria pekerjaan yang dialihdayakan;
c.
cakupan analisis;
d.
kebijakan mitigasi risiko dalam pelaksanaan
Alih Daya;
e.
kriteria Perusahaan Penyedia Jasa;
f.
cakupan minimum perjanjian Alih Daya;
g.
prosedur standar dalam melakukan Alih Daya;
dan
h.
penetapan
unit
atau
fungsi
khusus
yang
melaksanakan proses Alih Daya serta kejelasan
tugas dan tanggung jawab.
(3)
Kebijakan
dan
prosedur
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dikaji ulang secara
berkala atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.
- 11 -
Pasal 15
(1)
Bank
wajib
melakukan
identifikasi,
pengukuran, pemantauan, dan pengendalian terhadap
seluruh risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan
Alih Daya.
(2)
Pelaksanaan
identifikasi,
pengukuran,
pemantauan, dan pengendalian risiko sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib didukung oleh sistem
informasi manajemen yang tepat waktu serta dapat
memberikan laporan yang akurat dan informatif
mengenai risiko pada pelaksanaan Alih Daya.
Pasal 16
(1)
Bank wajib melaksanakan sistem pengendalian
intern yang efektif atas Alih Daya.
(2)
Sistem
pengendalian
intern
yang
efektif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain
meliputi:
a.
pengawasan terhadap proses Alih Daya; dan
b.
pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan
oleh Perusahaan Penyedia Jasa.
(3)
Pengawasan
terhadap
proses
Alih
Daya
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a wajib
dilakukan oleh pihak yang independen terhadap pihak
yang melakukan proses Alih Daya.
BAB IV
PELAPORAN
Pasal 17
(1)
Bank wajib menyampaikan laporan mengenai
Alih Daya kepada Otoritas Jasa Keuangan secara
lengkap, benar, dan tepat waktu.
(2)
Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup:
a.
rencana Alih Daya; dan
b.
Alih Daya yang bermasalah.
- 12 -
(3)
Laporan
rencana
Alih
Daya
sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a memuat informasi
paling sedikit mengenai:
a.
jenis pekerjaan yang dialihdayakan;
b.
gambaran umum dan cakupan pekerjaan;
c.
jenis perjanjian Alih Daya;
d.
perkiraan jumlah tenaga kerja Alih Daya yang
dibutuhkan;
e.
jangka waktu perjanjian;
f.
tujuan Alih Daya; dan
g.
analisis perkiraan biaya dan manfaat serta
risiko dan mitigasinya.
(4)
Laporan
Alih
Daya
yang
bermasalah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b memuat
informasi paling sedikit mengenai:
a.
jenis pekerjaan yang dialihdayakan;
b.
nama Perusahan Penyedia Jasa;
c.
gambaran permasalahan yang terjadi; dan
d.
langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank
untuk mengatasi Alih Daya yang bermasalah.
(5)
Laporan
rencana
Alih
Daya
sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a wajib disampaikan
setiap tahun paling lambat pada tanggal 31 Desember.
(6)
Bank hanya dapat melakukan penambahan
dan/atau
perubahan
rencana
pekerjaan
yang
dialihdayakan yang sudah dilaporkan kepada Otoritas
Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
paling banyak 1 (satu) kali dan wajib menyampaikan
Laporan Perubahan Rencana Alih Daya dimaksud
paling lambat pada tanggal 30 Juni tahun berjalan.
(7)
Dalam hal batas waktu penyampaian laporan
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6)
jatuh pada hari Sabtu, hari Minggu atau hari libur,
laporan disampaikan pada hari kerja berikutnya.
(8)
Laporan
Alih
Daya
yang
bermasalah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b wajib
disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah
- 13 -
diketahuinya permasalahan oleh Bank.
Pasal 18
Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
dan ayat (6) disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan
dengan alamat sebagai berikut:
a.
Departemen
Pengawasan
Bank
terkait,
Departemen Perbankan Syariah, atau Kantor Regional
1 Jabodetabek, Banten, Lampung dan Kalimantan,
bagi Bank yang berkantor pusat atau kantor cabang
dari bank yang berkedudukan di luar negeri yang
berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,
dan Bekasi (Jabodetabek), serta Provinsi Banten; atau
b.
Kantor Regional Otoritas Jasa Keuangan atau
Kantor Otoritas Jasa Keuangan setempat bagi Bank
yang berkantor pusat di luar wilayah Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), serta
Provinsi Banten.
BAB V
SANKSI
Pasal 19
(1)
Bank
yang
menyampaikan
laporan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
dan/atau Pasal 17
ayat (6) melampaui batas waktu
penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (5),
Pasal 17 ayat (6) atau Pasal 17 ayat
(8) dikenakan:
a.
sanksi administratif berupa denda sebesar
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari kerja
keterlambatan apabila terlambat 1 (satu) hari
kerja sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja;
b.
sanksi
administratif
berupa
denda
sebagaimana pada huruf a ditambah dengan
sanksi
administratif
berupa
denda
sebesar
Rp1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah)
- 14 -
per hari kerja keterlambatan berikutnya apabila
terlambat 11 (sebelas) hari kerja sampai dengan
20 (dua puluh) hari kerja;
c.
sanksi
administratif
berupa
denda
sebagaimana pada huruf a dan huruf b ditambah
dengan
sanksi
administratif
berupa
denda
sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah) per hari
kerja keterlambatan berikutnya, dengan jumlah
sanksi
keterlambatan
paling
banyak
sebesar
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) apabila
terlambat 21 (dua puluh satu) hari kerja atau
lebih.
(2)
Bank
yang
diketahui
oleh
Otoritas
Jasa
Keuangan telah melakukan Alih Daya tetapi belum
menyampaikan
laporan
rencana
Alih
Daya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf
a
dan/atau
penambahan
atau
perubahan
rencana Alih Daya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (6), dikenakan sanksi administratif
berupa denda sebesar Rp125.000.000,00 (seratus dua
puluh lima juta rupiah).
Pasal 20
Bank yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3 ayat (2), Pasal 4
ayat (3), Pasal 5 ayat (3), Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9,
Pasal 10 ayat (1), Pasal 11 ayat (1), Pasal 14 ayat (1),
Pasal 15, Pasal 16 ayat (1), Pasal 16 ayat (3), atau Pasal 17
ayat (1)
Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan ini dan
ketentuan pelaksanaan terkait lainnya dikenakan sanksi
administratif antara lain berupa:
a.
teguran tertulis;
b.
penurunan tingkat kesehatan Bank; dan/atau
c.
pembekuan kegiatan usaha tertentu.
- 15 -
BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 21
(1)
Bank yang sebelum tanggal 9 Desember 2011
telah melakukan Alih Daya atas pekerjaan yang
diperbolehkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan ini namun Perusahaan Penyedia Jasa
dan/atau
cakupan
perjanjian
Alih
Daya
belum
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 dan/atau Pasal 10 ayat (2), dapat melanjutkan
pelaksanaan Alih Daya sampai dengan berakhirnya
perjanjian.
(2)
Dalam
hal
Bank
melakukan
perpanjangan
terhadap perjanjian Alih Daya sebagaimana dimaksud
pada
a.
ayat (1), Bank wajib:
melakukan penelitian, analisis, dan penilaian
atas
pemenuhan
persyaratan
Perusahaan
Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6; dan/atau
b.
menyesuaikan perjanjian sesuai Pasal 10 ayat
(2).
BAB VII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 22
(1)
Alih Daya yang dilakukan oleh Bank selain
tunduk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini
juga tunduk pada ketentuan lainnya yang terkait
dengan Alih Daya.
(2)
Persyaratan badan hukum bagi Perusahaan
Penyedia
Jasa
yang
memberikan
jasa
untuk
penyelenggarakan teknologi informasi tetap mengacu
pada
ketentuan
mengenai
penerapan
manajemen
risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh
Bank.
- 16 -
Pasal 23
Otoritas Jasa Keuangan berwenang menghentikan Alih
Daya yang dilakukan Bank dalam hal menurut penilaian
Otoritas
Jasa
membahayakan
Keuangan
Alih
kelangsungan
Daya
berpotensi
usaha
Ba
- 17 BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 24
Ketentuan
lebih
lanjut
dari
Peraturan
Otoritas
Jasa
Keuangan ini diatur dalam Surat Edaran Otoritas Jasa
Keuangan.
Pasal 25
(1)
Pada saat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini mulai
berlaku,
Peraturan
Bank
Indonesia
Nomor 13/25/PBI/2011 tanggal 9 Desember 2011
tentang Prinsip Kehati-hatian Bagi Bank Umum Yang
Melakukan
Penyerahan
Pekerjaan
Kepada
Republik
Indonesia
Tambahan
Pihak
Lembaran
Sebagian
Lain
Tahun
Negara
Pelaksanaan
(Lembaran
2011
Nomor
Republik
Negara
131,
Indonesia
Nomor 5263), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
(2)
Peraturan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia
Nomor 13/25/PBI/2011 tanggal 9 Desember 2011
tentang Prinsip Kehati-hatian Bagi Bank Umum Yang
Melakukan
Penyerahan
Sebagian
Pelaksanaan
Pekerjaan Kepada Pihak Lain dinyatakan tetap berlaku
sepanjang
tidak
bertentangan
dengan
ketentuan
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.
- 18 -
Pasal 26
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini mulai berlaku pada
tanggal diundangkan.
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 26 Januari 2016
KETUA DEWAN KOMISIONER
OTORITAS JASA KEUANGAN,
ttd
MULIAMAN D. HADAD
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 27 Januari 2016
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
YASONNA H. LAOLY
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR 21
Salinan sesuai dengan aslinya
Direktur Hukum 1
Departemen Hukum
ttd
Yuliana
-2-
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN
NOMOR 9 /POJK.03/2016
TENTANG
PRINSIP KEHATI-HATIAN BAGI BANK UMUM YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
KEPADA PIHAK LAIN
I.
UMUM
Semakin berkembangnya dunia usaha dan ketatnya tingkat
persaingan mendorong semakin kompleks dan beragamnya kegiatan
usaha Bank. Hal ini menyebabkan Bank dituntut untuk berkonsentrasi
pada pekerjaan pokoknya dan melaksanakan fungsinya sebagai
lembaga intermediasi.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Bank untuk lebih
berkonsentrasi pada pekerjaan pokoknya adalah dengan menyerahkan
sebagian pelaksanaan pekerjaan penunjang kepada pihak lain sehingga
sumber daya Bank dapat dikerahkan pada pekerjaan-pekerjaan pokok.
Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada pihak lain ini juga
sejalan dengan peraturan perundang-undangan.
Di sisi lain, penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada
pihak lain berpotensi meningkatkan risiko yang dihadapi Bank
sehingga penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan tersebut harus
dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen
risiko yang memadai. Disamping itu, kejelasan atas tanggung jawab
Bank terhadap pekerjaan yang diserahkan kepada pihak lain tersebut
dan aspek perlindungan nasabah menjadi hal yang sangat penting
untuk diperhatikan.
-2Penguatan penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko
dalam penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada pihak lain
yang diiringi dengan terlindunginya kepentingan nasabah diharapkan
dapat menjaga integritas sistem perbankan secara khusus dan sistem
keuangan secara keseluruhan.
II.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Termasuk dalam Alih Daya oleh Bank adalah Alih Daya yang
dilakukan oleh unit usaha syariah pada bank umum yang
melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Huruf a
Ketentuan ini tidak mengatur mengenai pemborongan
pekerjaan yang hasil akhirnya berupa barang atau yang
pada umumnya dikenal sebagai pengadaan barang,
misalnya
pengadaan
slip
setoran,
buku
tabungan,
inventaris kantor, pembangunan gedung kantor, dan
Automated Teller Machine (ATM).
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pelaksanaan Alih Daya tidak menghilangkan tanggung jawab
Bank
atas
akibat
dari
tindakan
yang
dilakukan
oleh
Perusahaan Penyedia Jasa dalam melaksanakan pekerjaan
-3yang dialihkan, termasuk apabila terdapat tindakan yang
merugikan nasabah Bank.
Pasal 4
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “kegiatan usaha” adalah kegiatan
usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7
Undang-Undang
Nomor
7
Tahun
1992
tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998, serta Pasal 19 dan
Pasal 20 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah. Termasuk kegiatan usaha antara
lain
adalah
penghimpunan
dana
dari
masyarakat
(funding), pemberian kredit atau pembiayaan (lending
atau financing), serta membeli, menjual atau menjamin
atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas
perintah nasabahnya.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “kegiatan pendukung usaha”
adalah kegiatan lain yang dilakukan Bank di luar
kegiatan usaha Bank. Termasuk kegiatan pendukung
usaha antara lain adalah kegiatan yang terkait dengan
sumber daya manusia, manajemen risiko, kepatuhan,
internal
audit,
akunting
dan
keuangan,
teknologi
informasi, logistik, dan pengamanan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pekerjaan pokok” adalah pekerjaan
yang harus ada dalam alur kegiatan usaha atau alur kegiatan
pendukung usaha Bank sehingga apabila pekerjaan tersebut
tidak ada maka kegiatan dimaksud akan sangat terganggu
atau tidak terlaksana sebagaimana mestinya.
Yang dimaksud dengan “alur” adalah serangkaian pekerjaan
dari awal sampai akhir dari suatu kegiatan usaha atau
kegiatan pendukung usaha, misalnya alur pemberian kredit
atau pembiayaan mencakup pekerjaan
pemasaran, analisis
kelayakan,
pemantauan,
persetujuan,
pencairan,
dan
-4-
penagihan kredit atau pembiayaan.
Contoh pekerjaan pokok dalam alur kegiatan usaha Bank
misalnya alur kegiatan pemberian kredit atau pembiayaan
antara lain pekerjaan account officer dan analis kredit atau
pembiayaan, pada alur kegiatan penghimpunan dana antara
lain pekerjaan customer service, customer relation, dan teller.
Contoh pekerjaan pokok dalam alur kegiatan pendukung
usaha Bank, misalnya alur kegiatan manajemen risiko antara
lain pekerjaan analisis risiko, pada alur pengembangan
organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia antara lain
pekerjaaan perencanaan dan pengembangan organisasi serta
perencanaan sumber daya manusia, pada alur kegiatan
pengelolaan
teknologi
informasi
antara
lain
pekerjaan
perencanaan dan pengembangan teknologi informasi, dan
pada
alur
kegiatan
pengendalian
internal
antara
lain
pekerjaan audit internal.
Yang
dimaksud
dengan
“pekerjaan
penunjang”
adalah
pekerjaan yang tidak harus ada dalam alur kegiatan usaha
atau alur kegiatan pendukung usaha Bank sehingga dalam
hal pekerjaan tersebut tidak ada, kegiatan dimaksud masih
dapat terlaksana tanpa gangguan yang berarti.
Contoh pekerjaan penunjang pada alur kegiatan usaha Bank,
misalnya alur kegiatan pemberian kredit atau pembiayaan
antara lain pekerjaan call center, pemasaran (telemarketing,
direct sales atau sales representative) dan penagihan, contoh
pada
alur
kegiatan
perkasan
misalnya
pekerjaan
jasa
pengelolaan kas Bank.
Contoh pekerjaan penunjang pada alur kegiatan pendukung
usaha, misalnya pekerjaan yang dilakukan oleh sekretaris,
agendaris,
resepsionis,
petugas
kebersihan,
petugas
keamanan, pramubakti, kurir, data entry, dan pengemudi.
Ayat (3)
Contoh pekerjaan penunjang pada alur kegiatan usaha Bank
dan pada alur kegiatan pendukung usaha Bank sebagaimana
dimaksud dalam Penjelasan ayat (2).
-5Pasal 5
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pekerjaan berisiko rendah”
adalah pekerjaan yang apabila terjadi kegagalan tidak
akan mengganggu aktivitas operasional Bank secara
signifikan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan kualifikasi kompetensi di bidang
perbankan antara lain mencakup pendidikan formal dan
pengetahuan atau pengalaman di bidang perbankan.
Huruf c
Proses
pengambilan
analisis
dan
keputusan
proses
mencakup
judgement
dalam
proses
rangka
pengambilan keputusan.
“Keputusan
yang
mempengaruhi
operasional
Bank”
adalah keputusan yang dapat meningkatkan risiko
secara signifikan dan/atau mengganggu berjalannya
operasional Bank apabila tidak dilakukan dengan benar.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Sebagai contoh, dalam Alih Daya penagihan kredit atau
pembiayaan melalui perjanjian pemborongan, Bank tidak
diperbolehkan mengalihkan risiko kredit atau pembiayaan
yang
ditimbulkan
oleh
tidak
tertagihnya
kredit
atau
pembiayaan dengan menggunakan cara seperti mekanisme
penjualan tagihan kredit atau pembiayaan melalui skim anjak
piutang.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Huruf a
Penelitian
kondisi
dokumen
terkini
dilakukan
Perusahaan
terhadap
Penyedia
informasi
Jasa.
Dalam
dan
hal
-6-
diperlukan
dapat
dilakukan
konfirmasi
atau
klarifikasi
kepada instansi yang berwenang.
Huruf b
Analisis dan penilaian dilakukan untuk meyakini bahwa
Perusahaan Penyedia Jasa telah memenuhi seluruh kriteria
yang ditetapkan dan mampu melakukan Alih Daya.
Analisis dan penilaian menggunakan informasi dan kondisi
terkini Perusahaan Penyedia Jasa.
Kedalaman dan intensitas analisis dan penilaian disesuaikan
dengan
skala
dan
kompleksitas
pekerjaan
yang
dialihdayakan.
Angka 1
Penilaian terhadap kinerja keuangan bertujuan untuk
memastikan bahwa Perusahaan Penyedia Jasa memiliki
kemampuan
keuangan
yang
dapat
mendukung
kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai perjanjian
yang telah disepakati, yang antara lain mencakup
penilaian terhadap modal, likuiditas, dan profitabilitas
Perusahaan Penyedia Jasa.
Penilaian terhadap reputasi termasuk penilaian terhadap
rekam jeja (track record) Perusahaan Penyedia Jasa
bertujuan
untuk
menilai
kepatuhan
Perusahaan
Penyedia Jasa terhadap ketentuan dan/atau peraturan
perundang-undangan, yang antara lain mencakup:
a.
permasalahan hukum yang pernah atau sedang
dihadapi yang dapat berdampak negatif;
b.
kepatuhan terhadap ketentuan dan/atau peraturan
perundang-undangan; dan/atau
c.
kepatuhan terhadap perjanjian Alih Daya dengan
Bank lain atau pemberi kerja sebelumnya.
Penilaian terhadap pengalaman Perusahaan Penyedia
Jasa bertujuan untuk memastikan bahwa Perusahaan
Penyedia Jasa memiliki pengalaman yang memadai
untuk melaksanakan pekerjaaan yang dialihkan, antara
lain mencakup:
a.
pengalaman
perusahaan
dalam
pekerjaan yang dialihdayakan; dan/atau
menangani
-7-
b.
pengalaman
manajemen
perusahaan
dalam
menangani pekerjaan yang dialihdayakan.
Angka 2
Penilaian terhadap sumber daya manusia bertujuan
untuk memastikan pemenuhan kecukupan kuantitas
dan kualitas atau keahlian sumber daya manusia.
Angka 3
Penilaian terhadap sarana dan prasarana bertujuan
untuk memastikan kecukupan sarana dan prasarana
yang dibutuhkan dalam Alih Daya, termasuk pemenuhan
kecukupan
kuantitas
dan
kualitas
serta
spesifikasi
khusus yang dibutuhkan dalam Alih Daya.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Termasuk dalam struktur biaya adalah biaya-biaya
selain nilai kontrak yang terkait dengan pelaksanaan
pekerjaan.
Dalam mekanisme pembayaran diatur mengenai pihak
yang harus membayar biaya tersebut dan tata cara
pembayarannya.
-8-
Huruf e
Angka 1
Cukup jelas.
Angka 2
Kewajiban menjaga kerahasiaan dan pengamanan
informasi nasabah mengacu pada ketentuan dan
peraturan
perundang-undangan
antara
lain
mengenai rahasia Bank, ketentuan yang mengatur
mengenai transparansi informasi produk Bank dan
penggunaan data pribadi nasabah, serta ketentuan
yang mengatur mengenai perlindungan konsumen
sektor jasa keuangan.
Angka 3
Cakupan dan frekuensi laporan sesuai dengan
kesepakatan para pihak.
Angka 4
Ketentuan
antara
dan
lain
peraturan
di
bidang
perundang-undangan
ketenagakerjaan
dan
perbankan.
Angka 5
Perlindungan
hak
dan
kepentingan
nasabah
mengacu pada ketentuan dan peraturan perundangundangan
antara
lain
mengenai
perlindungan
konsumen serta ketentuan mengenai transparansi
informasi
produk
Bank
dan
penggunaan
data
pribadi nasabah.
Angka 6
Yang dimaksud dengan “contingency plan” adalah
upaya-upaya
yang
harus
Perusahaan
Penyedia
Jasa
dilakukan
untuk
oleh
mengatasi
keadaan memaksa atau gangguan yang signifikan
dalam pelaksanaan pekerjaan, antara lain yang
disebabkan
oleh
bencana
pemogokan
tenaga
dan/atau perselisihan.
kerja,
alam,
demonstrasi,
gangguan
sistem,
-9-
Angka 7
Pemeriksaan
otoritas
lain
Perusahaan
dilakukan
Penyedia
sesuai
Jasa
oleh
wewenangnya
berdasarkan pada ketentuan yang terkait dengan
alih daya yang dilakukan oleh Bank.
Huruf f
Ukuran pelaksanaan pekerjaan meliputi ukuran atas
kuantitas dan/atau kualitas pekerjaan.
Standar pelaksanaan pekerjaan merupakan prosedur
yang
paling
sedikit
harus
dipenuhi
dalam
proses
pelaksanaan pekerjaan yang dialihdayakan. Standar
dimaksud dapat pula mengacu pada prosedur operasi
standar yang dimiliki oleh Bank.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Prinsip-prinsip penerapan manajemen risiko berpedoman
pada
ketentuan
yang
mengatur
manajemen risiko bagi Bank.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
mengenai
penerapan
- 10 -
Ayat (2)
Huruf a
Tujuan Alih Daya mencakup penjabaran atas hasil yang
ingin dicapai melalui pelaksanaan Alih Daya, sesuai
strategi dan tujuan bisnis Bank secara keseluruhan.
Huruf b
Kriteria pekerjaan yang dapat dialihdayakan paling
sedikit mengacu pada kriteria sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.
Huruf c
Cakupan analisis mencakup aspek-aspek antara lain
risiko, biaya, dan manfaat yang ditimbulkan oleh Alih
Daya.
Dalam analisis manfaat dan biaya perlu memperhatikan
pula pelaksanaan prinsip kehati-hatian dan pengawasan
oleh Bank atas Alih Daya tersebut.
Huruf d
Kebijakan mitigasi risiko mencakup jenis pekerjaan yang
harus dilakukan upaya mitigasi risiko serta upaya-upaya
mitigasi yang dapat dilakukan atas pekerjaan tersebut.
Huruf e
Kriteria
Perusahaan
Penyedia
Jasa
paling
sedikit
mengacu pada kriteria sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.
Huruf f
Cakupan minimum perjanjian Alih Daya paling sedikit
mengacu pada cakupan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.
Huruf g
Prosedur standar dalam melakukan Alih Daya antara
lain
mencakup
prosedur
pemilihan
dan
penetapan
Perusahaan Penyedia Jasa, pengikatan perjanjian, dan
pengawasan pelaksanaan Alih Daya.
- 11 -
Huruf h
Unit atau fungsi khusus tersebut dapat berdiri sendiri
atau merupakan bagian dari unit yang mengalihdayakan
pekerjaannya.
Ayat (3)
Frekuensi pengkajian ulang dilakukan sesuai kebutuhan
Bank dan perkembangan aktivitas Bank, terutama untuk
memastikan kesesuaian dengan strategi dan tujuan bisnis
Bank secara keseluruhan.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Proses Alih Daya merupakan serangkaian proses yang
harus
dilakukan
dalam
rangka
penunjukan
dan
penggunaan Perusahaan Penyedia Jasa dalam Alih Daya.
Huruf b
Pengawasan
terhadap
pelaksanaan
pekerjaan
merupakan pengawasan atas pemenuhan perjanjian Alih
Daya termasuk pemenuhan ukuran dan standar yang
ditetapkan.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “pihak independen” adalah:
a.
unit kerja atau fungsi khusus dalam Bank yang tidak
terkait dengan proses Alih Daya, dapat berdiri sendiri
atau dapat merupakan bagian dari unit atau fungsi
khusus yang berdiri sendiri sebagaimana dimaksud
dalam Penjelasan Pasal 14 ayat (2) huruf h; atau
b.
bagian dari unit kerja atau fungsi khusus dalam Bank
yang melakukan pengawasan secara independen, antara
lain internal audit, manajemen risiko atau kepatuhan.
- 12 -
Pasal 17
Ayat (1)
Laporan mencakup laporan Bank secara gabungan untuk
seluruh kantor Bank. Laporan disampaikan oleh Bank yang
telah melakukan maupun yang merencanakan melakukan
Alih Daya.
Ayat (2)
Huruf a
Laporan rencana Alih Daya memuat rencana Alih Daya
atas pekerjaan yang belum pernah dialihdayakan.
Tidak termasuk dalam pekerjaan yang belum pernah
dialihdayakan adalah perpanjangan perjanjian Alih Daya.
Huruf b
Alih Daya dianggap bermasalah
dalam hal
terjadi
permasalahan baik pada pelaksanaan Alih Daya maupun
pada
Perusahaan
Penyedia
Jasa
yang
berpotensi
meningkatkan risiko Bank secara signifikan dan/atau
akan mengganggu kelangsungan pelaksanaan pekerjaan
yang dialihdayakan, terlepas dari mengakibatkan atau
tidak mengakibatkan penghentian perjanjian dan/atau
penggantian Perusahaan Penyedia Jasa.
Contoh permasalahan:
Pelanggaran
ketentuan
dan
peraturan
perundang-
undangan, pelanggaran perjanjian, gugatan, pengaduan
nasabah, perselisihan intern pada Perusahaan Penyedia
Jasa baik antar manajemen maupun antara manajemen
dengan karyawan.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Gambaran umum dan cakupan pekerjaan menguraikan
secara singkat pekerjaan yang dialihdayakan dan lokasi
kantor tempat pekerjaan yang dialihdayakan.
Huruf c
- 13 -
Perjanjian Alih Daya yang dibuat berupa perjanjian
pemborongan dan/atau penyediaan jasa tenaga kerja.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Gambaran permasalahan menguraikan secara singkat
permasalahan
yang
terjadi,
potensi
risiko
yang
ditimbulkan, lokasi, waktu terjadinya permasalahan, dan
waktu diketahuinya permasalahan.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (5)
Laporan yang disampaikan mencakup rencana Alih Daya
yang akan dilakukan selama 1 (satu) tahun yang akan
datang.
Ayat (6)
Laporan Perubahan Rencana Alih Daya paling sedikit memuat
informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3)
serta uraian singkat latar belakang dan tujuan penambahan
dan/atau perubahan rencana Alih Daya.
Ayat (7)
Yang dimaksud dengan “hari libur” adalah hari libur nasional
yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan/atau hari libur
lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 18
- 14 -
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5845
Fly UP