...

disini - Hukumonline.com

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

disini - Hukumonline.com
www.hukumonline.com
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 64 TAHUN 1957
TENTANG
PENYERAHAN SEBAGIAN DARI URUSAN PEMERINTAH PUSAT DILAPANGAN PERIKANAN LAUT,
KEHUTANAN DAN KARET RAKYAT KEPADA DAERAH-DAERAH SWATANTRA TINGKAT I SWATANTRA
TINGKAT I
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
bahwa mengingat kesanggupan dan kemampuan Daerah-daerah Swatantra tingkat I sebagian dari urusan
Pemerintah Pusat di lapangan perikanan laut, kehutanan dan karet rakyat dapat diserahkan kepada Daerah
Swatantra tingkat I.
Mengingat:
a.
Pasal 98 dan 131 Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia;
b.
Undang-undang No.1 tahun 1957 (Lembaran Negara Republik Indonesia 1957 Nomor 6).
Mendengar:
Dewan Menteri dalam rapatnya pada tanggal 19 Nopember 1957.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN DARI URUSAN PEMERINTAH PUSAT DI
LAPANGAN PERIKANAN LAUT, KEHUTANAN DAN KARET RAKYAT KEPADA DAERAH SWATANTRA
TINGKAT I, sebagai berikut:
BAB I
URUSAN PERIKANAN LAUT
Pasal 1
(1)
Pemerintah Daerah Swatantra tingkat I, selanjutnya dalam peraturan ini disebut Pemerintah Daerah,
menyelenggarakan penyuluhan teknis dan teknologis di lapangan perikanan laut dan penyuluhan tentang
teknik perusahaan perikanan laut.
(2)
Penyuluhan termaksud dalam ayat (1) didasarkan atas penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang dilakukan
oleh Pemerintah Pusat.
(3)
Pemerintah Daerah wajib membantu Pemerintah Pusat dalam penyelidikan ilmiah tersebut.
1 / 17
www.hukumonline.com
Pasal 2
Untuk memperkembangkan masyarakat nelayan ke arah otoaktivitet dan untuk melancarkan persediaan bahanbahan dan alat-alat perikanan laut, maka Pemerintah Daerah menganjurkan berdirinya organisasi-organisasi
nelayan dan mengawasi dan membimbing organisasi-organisasi itu.
Pasal 3
Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam "Organisasi pengambilan Lokan Mutiara, Teripang dan Bunga
Karang" (Stbl. 1916 No. 157) dan pasal 4 Peraturan Pemerintah ini, maka Pemerintah Daerah berhak
mengadakan peraturan mengenai perikanan laut yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia dalam
wilayahnya.
Pasal 4
Pemberian izin perikanan laut yang berdasarkan "Ordonansi Perikanan Pantai" (Stbl. 1927 No. 144) diperlukan
oleh perusahaan perikanan yang seluruh atau sebagian dari modalnya merupakan penanaman modal asing
ataupun yang mempergunakan tenaga asing dalam perusahaannya tetap menjadi kekuasaan Menteri Pertanian.
Pasal 5
(1)
Pemerintah Daerah menyelenggarakan kursus-kursus perikanan laut tingkatan mantri dan tingkatan
pengamat perikanan laut dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
(2)
Pemerintah Daerah menyelenggarakan latihan-latihan jurumudi dan juru-motor-kapal kapal-kapal
perikanan laut, dan mengadakan klas-klas pendidikan masyarakat perikanan laut, satu dan lain dengan
mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
Pasal 6
Pemerintah Daerah menyelenggarakan statistik dan dokumentasi mengenai perikanan laut dalam wilayahnya
dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
Pasal 7
(1)
Dengan tidak mengurangi hak kewenangan tugas dan kewajiban yang telah dijalankan oleh Daerah
tingkat II, Pemerintah Daerah mengatur, mengurus dan mengawasi pelelangan ikan dalam lingkungannya
dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
(2)
Apabila dalam lingkungan wilayah Daerah Swatantra tingkat I atau tingkat II terdapat organisasi nelayan
yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Dewan Pemerintah Daerah, maka penyelenggaraan
pelelangan ikan diserahkan kepada organisasi termaksud dengan mengingat ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan oleh Dewan Pemerintah Daerah.
(3)
Maksimum bea pelelangan yang dipungut bagi organisasi nelayan termaksud ditetapkan oleh Menteri
Pertanian.
BAB II
URUSAN KEHUTANAN
2 / 17
www.hukumonline.com
Pemangkuan Hutan
Pasal 8
(1)
Pemangkuan hutan, baik hutan yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian sebagai hutan yang dipertahankan
untuk kepentingan tata air, pemeliharaan tanah dan produksi hasil hutan, maupun hutan lainnya,
diserahkan kepada Pemerintah Daerah Swatantra tingkat I, selanjutnya dalam peraturan ini disebut
Pemerintah Daerah, terkecuali untuk wilayah bekas NIT, dimana urusan kehutanan telah ada pada
Daerah Swatantra tingkat II.
(2)
Untuk wilayah bekas NIT kepada Daerah Swatantra tingkat I diserahkan tugas koordinasi dan
pengawasan terhadap urusan kehutanan yang diselenggarakan oleh Daerah Swatantra tingkat II.
(3)
Untuk mencapai pemangkuan hutan yang sebaik-baiknya, wilayah hutan Daerah dibagi dalam beberapa
kesatuan-kesatuan wilayah pemangkuan yang batas-batasnya ditetapkan oleh Menteri Pertanian.
(4)
Dalam hal sesuatu wilayah hutan yang terletak dalam lebih dari suatu Daerah berdasarkan pertimbangan
teknis pemangkuan menurut Menteri Pertanian harus diselenggarakan sebagai suatu kesatuan
pemangkuan, maka pemangkuan wilayah hutan termaksud diselenggarakan oleh Daerah-daerah yang
bersangkutan bersama-sama, dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
(5)
Pemerintah Daerah menyelenggarakan pemangkuan hutan termaksud dalam batas-batas dan sesuai
dengan rencana karya yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk jangka waktu tertentu dengan
mengingat tujuan mempertahankan fungsi pelindung dan fungsi produksi dari hutan-hutan yang
bersangkutan.
(6)
Sepanjang untuk sesuatu hutan belum ditetapkan suatu rencana karya termaksud dalam ayat (2), maka
pemangkuan hutan diselenggarakan berdasarkan rencana karya sementara yang ditetapkan oleh Menteri
Pertanian.
(7)
Penyimpangan dari rencana-rencana karya itu hanya diperbolehkan dalam hal-hal istimewa setelah
mendapat persetujuan Menteri Pertanian.
(8)
Pemerintah daerah membantu Menteri Pertanian dalam mengumpulkan bahan-bahan, keteranganketerangan yang diperlukan untuk penyusunan rencana-rencana karya.
(9)
Dalam menyelenggarakan pemangkuan hutan, termasuk cara administrasinya, Pemerintah Daerah
mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
(10)
Untuk pembiayaan objek-objek kehutanan yang istimewa kepada Daerah yang bersangkutan dapat
diberikan ganjaran seperti termaksud dalam Pasal 1 ayat (2) sub c Peraturan Pemerintah No. 4 tahun
1957.
(11)
Pemerintah Daerah tiap triwulan memberikan laporan kepada Menteri Pertanian tentang urusan
kehutanan dalam daerahnya, dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
Eksploitasi Hutan
Pasal 9
Di Jawa dan Madura eksploitasi hutan diselenggarakan oleh Daerah sendiri.
Pasal 10
(1)
Untuk wilayah-wilayah di luar Jawa dan Madura, selama eksploitasi hutan belum dapat dilakukan oleh
3 / 17
www.hukumonline.com
Daerah sendiri pengambilan kayu dan hasil hutan lainnya dapat dilakukan oleh pihak ketiga berdasarkan
surat ijin menurut peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah, dengan mengindahkan
sepenuhnya rencana-rencana karya termaksud dalam Pasal 8.
(2)
Surat izin termaksud diberikan:
a)
b)
b)
untuk jangka panjang, yakni selama-lamanya dua puluh tahun dan untuk wilayah hutan seluasluasnya sepuluh ribu hektar (konsesi hutan);
untuk jangka pendek, yakni untuk selama-lamanya lima tahun dan untuk wilayah hutan seluasluasnya lima ribu hektar (persil penebangan);
untuk mengambil kayu dan hasil hutan lainnya dalam jumlah tertentu dan jangka waktu selamalamanya dua tahun (izin penebangan).
(3)
Untuk menjamin cara eksploitasi hutan yang sebaik-baiknya dan untuk menjaga agar supaya kepentingan
umum, kepentingan setempat dan hak-hak pihak ketiga tidak terganggu karena pemberian izin termaksud
dalam ayat (1) maka oleh Pemerintah Daerah dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian
ditetapkan dalam surat izin yang bersangkutan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pemegang surat
izin.
(4)
Pemerintah Daerah dapat mengadakan pemungutan cukai yang harus dibayar oleh pemegang surat ijin
termaksud dalam ayat (2).
(5)
Cukai tersebut bagi pemegang surat izin termaksud dalam ayat (2) sub a terdiri dari:
1)
cukai tanah hutan untuk tiap hektar hutan yang eksploitasinya diberikan kepada pemegang surat
izin yang dibayar pada permulaan tiap-tiap tahun;
2)
cukai hasil hutan yang ditetapkan menurut banyaknya hasil hutan yang diambil dari hutan oleh
pemegang surat izin.
(6)
Cukai hasil hutan bagi pemegang surat ijin termaksud dalam ayat (2) sub b ditetapkan menurut
banyaknya hasil hutan yang diambil dari hutan oleh pemegang surat izin dengan penetapan cukai
minimum yang setidak-tidaknya harus dibayarnya tiap-tiap tahun.
(7)
Cukai hasil hutan bagi pemegang surat ijin termaksud dalam ayat (2) sub c ditetapkan menurut
banyaknya hasil hutan yang diambil dari hutan oleh pemegang surat izin.
(8)
Dalam peraturan Pemerintah Daerah ditetapkan selanjutnya besarnya dan caranya pemungutan cukai
termaksud.
Pasal 11
Pemerintah Daerah mengatur pemberian izin kepada penduduk yang tinggal di sekitar hutan yang bersangkutan
untuk mengambil kayu dan hasil hutan lainnya untuk dipergunakan sendiri oleh penduduk termaksud.
Pasal 12
(1)
Sebagian dari hasil pemungutan cukai hutan untuk wilayah-wilayah di luar Jawa dan Madura termaksud
dalam Pasal 10 setelah dikurangi dengan biaya-biaya pemungutannya dan sebagian dari penghasilan
bersih lainnya yang diperoleh dari pemangkuan hutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
diserahkan kepada Negara dan Daerah-daerah Swatantra bawahan menurut ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
(2)
Untuk wilayah-wilayah di Jawa dan Madura, sebagian dari penghasilan bersih yang diperoleh dari
pemangkuan hutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah diserahkan kepada Negara dan
Daerah-daerah Swatantra bawahan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
4 / 17
www.hukumonline.com
Penjualan Dan Peroderan Hasil Hutan
Pasal 13
(1)
Pemerintah Daerah mengatur dan mengawasi penjualan dan peredaran hasil hutan di dalam dan keluar
Daerah, dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
(2)
Pemerintah Daerah diwajibkan memajukan ekspor hasil hutan ke luar negeri menurut petunjuk-petunjuk
Menteri Pertanian.
(3)
Untuk keperluan Pemerintah Daerah Swatantra lainnya akan kayu dan hasil hutan lain, yang tidak dapat
dipenuhi sendiri, maka atas permintaan Pemerintah Daerah Swatantra yang berkepentingan Pemerintah
Daerah memberi bantuan seperlunya agar supaya keperluan itu dapat dipenuhi.
Pasal 14
(1)
Pemerintah Daerah menetapkan peraturan perlindungan hutan untuk mencegah dan memberantas
kerusakan hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia dan hewan, kebakaran, daya-daya alam,
penyakit-penyakit dan hama-hama.
(2)
Untuk kepentingan perlindungan hutan termaksud dalam ayat (1) Pemerintah Daerah dapat menunjuk
wilayah-wilayah tertentu, dimana tiap pemilik hasil hutan dalam bentuk bahan mentah wajib dapat
membuktikan, bahwa ia memperoleh hasil hutan itu secara yang sah. Cara membuktikan termaksud di
atur oleh Pemerintah Daerah.
(3)
Oleh Pemerintah Daerah ditetapkan bahwa untuk mengangkut hasil hutan ke dalam, ke luar, melalui atau
di dalam lingkungan wilayah tertentu diperlukan suatu surat keterangan pengangkutan. Cara pemberian
dan pemakaian surat keterangan pengangkutan itu diatur oleh Pemerintah Daerah.
(4)
Surat keterangan pengangkutan yang dikeluarkan oleh sesuatu Daerah berlaku untuk seluruh wilayah
Indonesia. Contoh surat keterangan pengangkutan termaksud ditetapkan oleh Menteri Pertanian.
Penyelidikan Hutan
Pasal 15
Pemerintah Daerah memberikan bantuan sepenuhnya terhadap penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang dilakukan
oleh Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan.
Tentang Hal Pendidikan
Pasal 16
Pemerintah Daerah dapat menyelenggarakan pendidikan kehutanan tingkatan rendah, maupun tingkatan
menengah, dengan ketentuan bahwa untuk pendidikan tersebut syarat-syarat penerimaan siswa, banyaknya
dan jenis mata pelajaran, begitu pula syarat-syarat ujian ditetapkan oleh Menteri Pertanian.
Definisi Hutan
5 / 17
www.hukumonline.com
Pasal 17
(1)
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan hutan ialah tanah Negara bebas yang berhutan.
(2)
Menteri Pertanian bersama dengan Menteri Agraria memberi putusan dalam hal terdapat keragu-raguan
apakah sebidang tanah adalah hutan dimaksud dalam ayat 1 pasal ini.
(3)
Terhadap hutan-hutan Swapraja dan hutan-hutan persekutuan hukum rendahan berlaku juga ketentuanketentuan dalam Bab II.
(4)
Pengurusan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa termaksud dalam "Ordonansi Perlindungan Alam 1941"
(Stbl. 1941 No. 167) tetap merupakan urusan Pemerintah Pusat.
BAB III
URUSAN KARET RAKYAT
Pasal 18
Pemerintah Daerah, dimana terdapat tanaman karet rakyat yang berarti, selanjutnya dalam Bab III ini disebut
Pemerintah Daerah diserahi mengatur urusan karet rakyat di dalam daerahnya, yang tidak diurus oleh
Pemerintah Pusat, dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk dari Menteri Pertanian.
Pasal 19
Pemerintah Daerah membantu Pemerintah Pusat dalam mengumpulkan keterangan-keterangan, catatancatatan dan angka-angka mengenai karet rakyat dan memberi laporan tentang keadaan karet rakyat di dalam
daerahnya kepada Menteri Pertanian, menurut petunjuk-petunjuk yang ditetapkan oleh Menteri tersebut.
Pasal 20
Pekerjaan-pekerjaan penyelidikan ilmiah guna memecah soal teknis dalam lapangan karet rakyat adalah tugas
Pemerintah Pusat, begitu juga pelaksanaan, penyelenggaraan dan eksploitasi dari perusahaan-perusahaan
model sebagai contoh bagi para petani karet rakyat.
Pasal 21
Pemerintah Daerah diserahi urusan melaksanakan percobaan-percobaan berdasarkan hasil-hasil penyelidikan
ilmiah tersebut dan penyelidikan-penyelidikan perusahaan dan cultuur (bedrijfs dan cultuuranalyses) dalam
lapangan karet rakyat menurut petunjuk-petunjuk yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian, termasuk juga
pelaksanaan, penyelenggaraan dan eksploitasi dari perusahaan-perusahaan percobaan dalam lapangan karet
rakyat.
Pasal 22
Jika dipandang perlu oleh Menteri Pertanian, Pemerintah Daerah memberi bantuannya terhadap segala macam
penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh atau atas nama Pemerintah Pusat di lapangan karet rakyat.
6 / 17
www.hukumonline.com
Pasal 23
Belanja-belanja untuk membiayai usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang khusus berkenaan dengan
ketentuan-ketentuan dalam pasal 20 dan pasal 22 ditanggung oleh Menteri Pertanian.
Pasal 24
Untuk menjaga agar pada waktunya tersedia cukup biji, bibit dan okulasi tanaman karet yang bermutu tinggi,
Pemerintah Daerah mengadakan kebun-kebun induk (zaadtuinen) dan pembibitan-pembibitan bagi kepentingan
petani karet rakyat.
Pasal 25
Pemerintah Daerah menyediakan setiap waktu dalam jumlah yang cukup bahan-bahan, alat-alat, perkakasperkakas dan barang-barang pengolahan karet bagi kepentingan petani karet rakyat.
Pasal 26
(1)
Pemerintah Daerah mengadakan tindakan-tindakan dan memimpin pemberantasan dan pencegahan
penyakit-penyakit dan gangguan-gangguan tanaman karet rakyat dalam lingkungan daerahnya.
(2)
Jika dipandang perlu oleh Menteri Pertanian, Pemerintah Daerah memesan obat-obatan dan lain-lain
sebagainya untuk keperluan pemberantasan dan pencegahan penyakit-penyakit dan gangguan-gangguan
seperti yang tersebut dalam ayat (1), bila ada dari persediaan Negara, dengan perantaraan Menteri
tersebut.
Pasal 27
Bilamana berjangkit penyakit atau gangguan tanaman karet rakyat dengan hebat, sehingga sangat dikuatirkan
akan membahayakan keadaan karet rakyat, maka Pemerintah Daerah, selekas-lekasnya mengadakan
perundingan dengan Menteri Pertanian untuk membicarakan bersama-sama tentang tindakan-tindakan yang
dipandang perlu untuk memberantas dan mencegah penyakit atau gangguan tersebut.
Pasal 28
Pemerintah Daerah merencanakan dan menjalankan usaha-usaha dan tindakan-tindakan untuk menggerakkan
jiwa petani dan masyarakat petani karet rakyat kejurusan yang modern dan dinamis, antara lain dengan jalan:
a.
menganjurkan pembentukan dan berkembangnya organisasi-organisasi petani karet rakyat;
b.
mengadakan ceramah-ceramah, latihan-latihan, darmawisata-darmawisata, pertunjukan-pertunjukan,
pameran-pameran, contoh-contoh dan rapat-rapat di lapangan karet rakyat;
c.
mengadakan sayembara-sayembara, perlombaan-perlombaan dan penyiaran-penyiaran di lapangan karet
rakyat;
d.
menganjurkan berdirinya perkumpulan-perkumpulan dan koperasi-koperasi petani karet rakyat.
Pasal 29
(1)
Pemerintah Daerah mengusahakan adanya perpustakaan dan kamar pameran yang bersangkutan
dengan karet rakyat.
7 / 17
www.hukumonline.com
(2)
Pemerintah Daerah mengusahakan pengeluaran majallah-majallah brochures-brochures yang memuat
petunjuk-petunjuk dan rencana-rencana dalam lapangan karet rakyat, menurut keadaan di daerahnya
masing-masing.
Pasal 30
Pemerintah Daerah mengatur agar pegawai-pegawai ahli Daerah secara sistimatis, menurut rencana perjalanan
yang terlebih dulu telah ditetapkan, mengadakan inspeksi di dalam lingkungan wilayah Daerah tentang keadaan
karet rakyat dan membuat laporan tentang hasil inspeksi tersebut serta menyampaikannya antara lain kepada
Menteri Pertanian.
Pasal 31
Dalam melaksanakan usaha-usaha yang tersebut dalam pasal 28 dan 29 ayat (1) dan (2) Pemerintah Daerah
mengusahakan perhubungan yang rapat dengan instansi-instansi Daerah lainnya, pemuka-pemuka rakyat dan
organisasi-organisasi petani karet rakyat.
Pasal 32
Pemerintah Daerah menyelenggarakan pendidikan dalam lapangan karet rakyat dengan mendirikan sekolahsekolah usaha tani karet rakyat (bevolkingsrubber-bedrijfsscholen) dan kursus-kursus kader tani karet rakyat,
menurut pedoman-pedoman yang diberikan oleh Menteri Pertanian.
BAB IV
TENTANG HAL BENTUK DAN SUSUNAN DINAS-DINAS DAERAH
Pasal 33
Dalam membentuk dan menyusun Dinas Perikanan laut, Dinas Kehutanan dan Dinas Karet Rakyat Daerah,
Pemerintah Daerah memperhatikan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
Tentang hal tanah-tanah, bangunan-bangunan, alat-alat, perusahaan-perusahaan dan hutang-piutang
Pasal 34
(1)
Kepada Pemerintah Daerah diserahkan untuk diurus dan dipelihara segala bangunan-bangunan, tanahtanah dan barang-barang tidak bergerak lainnya yang kini telah dipergunakan guna urusan perikanan laut
dan karet rakyat yang kini menjadi kewajiban Daerah.
(2)
Kepada Pemerintah Daerah diserahkan untuk menjadi miliknya segala bahan-bahan, alat-alat, perkakasperkakas dan barang-barang lainnya yang telah ada dan dipergunakan bagi kepentingan urusan-urusan
tersebut dalam ayat (1).
(3)
Hutang-piutang yang bersangkutan dengan urusan-urusan tersebut dalam ayat (1) dan (2) yang ada pada
waktu penyerahan ini, menjadi urusan Daerah.
(4)
Penyerahan benda-benda dimaksud dalam ayat (1) dan (2) yang kini telah dipergunakan guna urusan
kehutanan, serta urusan hutang-piutang diatur oleh Menteri Pertanian.
8 / 17
www.hukumonline.com
(5)
Kepada Daerah diserahkan untuk diselenggarakan perusahaan-perusahaan karet rakyat kepunyaan
Pemerintah Pusat, yang lebih lanjut akan ditentukan oleh Menteri Pertanian.
Tentang hal pegawai
Pasal 35
(1)
Dengan tidak mengurangi hak untuk mengangkat pegawai Daerah termaksud dalam Pasal 53 Undangundang No. 1 tahun 1957, maka untuk menyelenggarakan hal-hal yang termasuk urusan rumah tangga
Daerah, dengan keputusan Menteri Pertanian kepada Daerah diperbantukan pegawai-pegawai Negara,
yang kini dalam wilayah Daerah yang bersangkutan diserahi urusan perikanan laut, kehutanan atau karet
rakyat.
(2)
Dengan peraturan Menteri Pertanian ditetapkan lebih lanjut kedudukan pegawai Negara yang
diperbantukan kepada Daerah termaksud dalam ayat (1) dengan tidak mengurangi peraturan yang
berlaku tentang kedudukan pegawai-pegawai Negara.
(3)
Penempatan dan pemindahan pegawai yang diperbantukan kepada Daerah yang dilakukan di dalam
lingkungan masing-masing Daerah termaksud dalam ayat (1), diselenggarakan oleh Dewan Pemerintah
Daerah yang bersangkutan dengan memberitahukan hal itu kepada Menteri Pertanian.
(4)
Pemindahan pegawai yang diperbantukan kepada Daerah dari sesuatu Daerah kepada daerah lain,
diselenggarakan oleh Menteri Pertanian, setelah mendengar pertimbangan Dewan-dewan Pemerintah
Daerah yang bersangkutan.
(5)
Penetapan dan kenaikan pangkat dan gaji dari pegawai yang diperbantukan itu, diselenggarakan oleh
atau atas nama Menteri Pertanian, dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Pemerintah Daerah
yang berkepentingan.
BAB V
ANGGARAN BELANJA
Pasal 36
Tiap-tiap tahun Daerah-daerah mengirimkan rencana anggaran belanja untuk urusan-urusan perikanan Laut,
kehutanan dan karet rakyat kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian untuk pengesahan.
Pengawasan
Pasal 37
Menteri Pertanian menjalankan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan-urusan perikanan laut,
kehutanan dan karet rakyat yang diselenggarakan oleh Daerah-daerah.
BAB VI
PENUTUP
9 / 17
www.hukumonline.com
Pasal 38
Kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan penyerahan urusan-urusan termaksud di atas diselesaikan dan
diputuskan oleh Menteri Dalam Negeri dengan persetujuan Menteri Pertanian.
Pasal 39
Peraturan Pemerintah ini dinamakan "Peraturan Pemerintah tentang penyerahan sebagian dari urusan
Pemerintah Pusat dalam lapangan perikanan laut, kehutanan dan karet rakyat kepada Daerah Swatantra tingkat
I.
Pasal 40
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1958.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 18 Desember 1957
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
(SOEKARNO)
MENTERI PERTANIAN,
Ttd.
(SADJARWO)
MENTERI DALAM NEGERI,
Ttd.
(SANOESI HARDJADINATA)
Diundangkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 27 Desember 1957
MENTERI KEHAKIMAN,
Ttd.
(G.A. MAENGKOM)
10 / 17
www.hukumonline.com
PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 64 TAHUN 1957
TANGGAL 18 DESEMBER 1957
TENTANG
PENYERAHAN SEBAGIAN DARI URUSAN PEMERINTAH PUSAT Di LAPANGAN PERIKANAN LAUT,
KEHUTANAN DAN KARET RAKYAT KEPADA DAERAH-DAERAH SWATANTRA TINGKAT I
PENJELASAN UMUM
1)
Dalam rangka usaha Pemerintah mewujudkan otonomi seluas-luasnya maka dengan mengingat
kesanggupan dan kemampuan Daerah-daerah Swatantra dengan Peraturan Pemerintah ini diserahkan
kepada Daerah Swatantra tingkat I urusan-urusan Pemerintah Pusat (Kementerian Pertanian) di lapangan
Perikanan Laut, Kehutanan dan Karet Rakyat. Juga dalam penyerahan urusan-urusan ini kepada Daerah
Swatantra sangat dirasakan pula kekurangan pegawai-pegawai teknik yang diperlukan untuk masingmasing Daerah Swatantra, bagi penyelenggaraan tugas-tugas baru ini. Distribusi pegawai-pegawai yang
ada harus dilakukan secara sebaik-baiknya. Karena itu dianggap perlu untuk. menetapkan bahwa Daerah
Swatantra dalam menyusun formasi Dinas Daerah mengindahkan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian.
2)
Di samping itu maka kekurangan pegawai ahli itu menyebabkan pula, bahwa dalam beberapa hal Daerah
dalam menyelenggarakan tugas yang diserahkan kepadanya perlu mengindahkan petunjuk-petunjuk dari
Pemerintah Pusat. Pemberian petunjuk ini bermaksud agar supaya satu dan lain dapat berjalan
sebagaimana mestinya, juga berhubung dengan pertanggungan jawab Pemerintah Pusat (Menteri
Pertanian) terhadap Parlemen untuk urusan-urusan yang telah diserahkan.
3)
Penyerahan urusan-urusan perikanan laut, kehutanan dan karet rakyat tidak meliputi penyerahan tugas
penyelidikan-penyelidikan ilmiah di lapangan kehutanan, perikanan laut atau karet rakyat. Berdasarkan
sifatnya penyelidikan-penyelidikan dasar itu yang dilakukan untuk kepentingan seluruh Negara, sudah
selayaknya tetap merupakan urusan Pemerintah Pusat. Adapun tugas penyebaran hasil penyelidikan
dasar itu di daerah-daerah adalah tugas Pemerintah Daerah Swatantra.
4)
Dengan penyerahan sebagian urusan Pemerintah Pusat di lapangan perikanan laut, kehutanan dan karet
rakyat maka telah dijalankan pula suatu langkah yang penting dalam usaha mengisi otonomi daerahdaerah otonom.
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Penyelidikan teknis dan teknologi perikanan laut misalnya penyelidikan biologis, teknik penangkapan ikan, teknik
perusahaan perikanan, teknologi pengawetan dan peralatan perikanan laut (food & geartechnology).
Pasal 2
Dalam usaha memperkembangkan masyarakat nelayan, maka organisasi nelayan merupakan batu loncatan
yang penting untuk membawa para nelayan ke tingkat penghidupan yang layak. Tugas menganjurkan berdirinya
organisasi nelayan dan mengawasi, membimbing organisasi-organisasi itu sebaiknya diserahkan kepada
Daerah. Dengan adanya organisasi nelayan maka persediaan bahan-bahan, alat-alat perikanan keperluan para
11 / 17
www.hukumonline.com
nelayan dapat disalurkan melalui organisasi mereka sendiri. Demikian juga perkreditan nelayan, usaha
penjualan bersama, dan sebagainya dapat diharapkan akan diatur melalui organisasi nelayan itu.
Pasal 3
Sebagaimana diketahui maka berdasarkan "Kustivessery Ordonnantie 1927" penyelenggaraan perikanan laut
memerlukan ijin Menteri Pertanian, jika perikanan laut itu dilakukan oleh perseroan dagang, ataupun oleh suatu
badan hukum. Dalam pasal ini diserahkan kepada Daerah hak memberikan ijin itu kepada perusahaan yang
seluruhnya bermodal nasional dan mempergunakan tenaga nasional.
Perusahaan asing dan campuran (joint enterprise) ataupun perusahaan nasional dengan mempekerjakan
tenaga asing tetap memerlukan ijin Menteri Pertanian menurut ordonansi tersebut.
Pasal 4
Sebagaimana diketahui maka berdasarkan "Kustivessery Ordonnantie 1927" penyelenggaraan perikanan laut
memerlukan ijin Menteri Pertanian, jika perikanan laut itu dilakukan oleh perseroan dagang, ataupun oleh suatu
badan hukum. Dalam pasal ini diserahkan kepada Daerah hak memberikan ijin itu kepada perusahaan yang
seluruhnya bermodal nasional dan mempergunakan tenaga nasional.
Perusahaan asing dan campuran (joint enterprise) ataupun perusahaan nasional dengan mempekerjakan
tenaga asing tetap memerlukan ijin Menteri Pertanian menurut ordonansi tersebut.
Pasal 5
1)
Kepada Kepala Daerah diserahkan tugas mengadakan kursus pengamat/mantri perikanan laut.
Pendidikan perikanan tingkatan menengah, tinggi atau semi akademis adalah tugas Pemerintah Pusat.
2)
Dengan klas masyarakat perikanan dimaksud pendidikan tambahan yang diberikan setelah sekolah
rakyat.
Pasal 6
Pengumpulan keterangan-keterangan tentang keadaan di lapangan perikanan laut penting sekali untuk dijadikan
dasar rencana pembangunan perikanan laut.
Pasal 7
Pelelangan ikan dapat dipergunakan untuk turut memupuk organisasi dan kepentingan para nelayan. Jika
urusan pelelangan dapat diselenggarakan oleh organisasi nelayan maka penjualan hasil usaha nelayan dapat
kiranya dijalankan secara yang lebih menguntungkan para nelayan sendiri. Karena itu dalam pasal ini ditetapkan
bahwa penyelenggaraan pelelangan diserahkan kepada organisasi nelayan, yang dengan sendirinya harus
memenuhi syarat-syarat kecakapan, keberesan administrasi dan sebagainya.
Pasal 8
1)
Pemangkuan hutan yang sebaik-baiknya, seefisien-efisiennya, menurut ilmiyah kehutanan, harus
didasarkan kepada letaknya (topografis) dan keadaannya hutan itu. Terutama untuk dapat
mengeksploitasikan hutan seefisien-efisiennya, letaknya hutan dalam rangka pegunungan, naik turunnya
tanah dan jalannya perairan mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu dalam membagibagi wilayah hutan dalam beberapa "kesatuan-pemangkuan" janganlah batas pembagian itu disandarkan
12 / 17
www.hukumonline.com
kepada adanya "batas administrasi" akan tetapi kepada letaknya dan sifatnya hutan itu, Dilihat dari sudut
faktor-utama inilah maka pemangkuan hutan itu harus dilaksanakan dalam daerah yang meliputi wilayah
seluas-luasnya. Maka Pemerintah beranggapan bahwa pemangkuan hutan hanya dapat dipertanggung
jawabkan jika urusan kehutanan sejauh-jauhnya hanya diserahkan kepada Swatantra tingkat I dan tidak
lebih lanjut kepada Swatantra rendahan. Hal ini tidak berarti bahwa Swatantra tingkat II atau III sama
sekali tidak boleh ikut serta dalam pemangkuan hutan. Dalam melaksanakannya Swatantra tingkat I dapat
memberikan tugas-bantuan kepada Swatantra bawahannya.
3)
Berhubung dengan uraian di atas maka Menteri Pertanianlah yang menetapkan batas-batas "kesatuankesatuan wilayah pemangkuan," oleh karena Kementerian Pertanian mempunyai satu instansi yang
mempunyai keahlian untuk mempertimbangkan hal itu.
4)
Untuk menjamin agar supaya pemangkuan hutan di seluruh Indonesia memenuhi syarat-syarat yang
bersifat teknis ilmiyah yang merupakan syarat mutlak bagi pemangkuan hutan yang baik, maka
dianggap bijaksana untuk menetapkan bahwa pemangkuan hutan yang diserahkan kepada Daerah
Swatantra tingkat I dilakukan dalam batas-batas yang sesuai dengan rencana karya yang disusun oleh
Menteri Pertanian.
5)
Untuk menjamin agar supaya pemangkuan hutan di seluruh Indonesia memenuhi syarat-syarat yang
bersifat teknis ilmiyah yang merupakan syarat mutlak bagi pemangkuan hutan yang baik, maka
dianggap bijaksana untuk menetapkan bahwa pemangkuan hutan yang diserahkan kepada Daerah
Swatantra tingkat I dilakukan dalam batas-batas yang sesuai dengan rencana karya yang disusun oleh
Menteri Pertanian.
10)
Ada kemungkinan bahwa sesuatu obyek yang untuk kepentingan tata-air, pemeliharaan tanah dan
produksi hasil hutan tidak dapat dilaksanakan berhubung sesuatu daerah tidak mampu menyediakan
keuangannya, pada hal mengingat kepentingan umum obyek itu harus dilaksanakan pada suatu waktu.
Dalam hal ini dianggap sangat bijaksanalah bahwa Menteri Pertanian mempunyai kewenangan untuk
memberi ganjaran kepada daerah yang bersangkutan, ganjaran mana harus dipergunakan khusus untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sangat perlu oleh Menteri Pertanian.
Pasal 9
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 10
Dalam pasal ini kepada Daerah diberikan pula kekuasaan untuk mengatur pemberian ijin kepada pihak ketiga
untuk melakukan eksploitasi hutan dengan mengindah kelaziman yang sampai sekarang dijalankan dan dalam
praktek ternyata memuaskan.
Pasal 11
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 12
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 13
1)
Tidak memerlukan penjelasan.
13 / 17
www.hukumonline.com
2)
Untuk menghindarkan saingan yang tidak sehat antara daerah-daerah yang akhirnya hanya melemahkan
kedudukan Negara terhadap Negara-Negara pembeli, maka sangatlah perlu ekspor diatur secara central
oleh Pemerintah Pusat. Dalam hal ini Kementerian Pertanian menentukan harga-harga dan kwalitet hasil
hutan yang boleh diekspor. Baik untuk kepentingan pemupukan devisen, maupun untuk menjamin supaya
badan-badan dan perusahaan-perusahaan vital dan daerah-daerah minus mendapatkan hasil hutan yang
dibutuhkan, harus sewaktu-waktu potensi hutan-hutan di seluruh Negara dapat dimobilisasikan. Oleh
karena itu untuk keperluan-keperluan tadi, bila diminta oleh Menteri Pertanian, daerah-daerah wajib
memberikan bantuan dengan jalan memberikan prioritas pertama di dalam mencukupi pesanan-pesanan
yang dilakukan oleh Menteri Pertanian.
Pasal 14
Guna melancarkan pengangkutan hasil hutan dari satu Daerah ke lain Daerah dianggap perlu untuk
menetapkan bahwa sesuatu surat pengangkutan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Hal ini tidak berarti
mengurangi kewenangan sesuatu Daerah untuk mengadakan pengawasan terhadap pengangkutan hasil hutan
dalam wilayahnya.
Pasal 15
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 16
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 17
Untuk kepentingan pemangkuan hutan yang sebaik-baiknya, Pemerintah berpendirian bahwa hutan-hutan
Swapraja dan persekutuan rendahan, selayaknya diperlakukan sama dengan hutan-hutan Negara.
Pasal 18
Walaupun urusan karet rakyat dalam lingkungan daerah diserahkan sebanyak-banyaknya kepada Daerah
tingkat I, namun masih ada hal-hal yang untuk sementara masih perlu diurus langsung oleh Pemerintah Pusat.
Ini disebabkan oleh karena hal-hal tadi umpamanya tidak semata-mata mengenai kedaerahan saja, akan tetapi
mengenai kepentingan umum untuk seluruh Indonesia bahkan kadang-kadang bersifat internasional, sehingga
Pemerintah Pusatlah yang selayaknya mengurus hal-hal itu. lagi pula biaya yang bersangkutan dengan hal-hal
itu sering begitu besarnya, sehingga sukar sekali untuk dipikul oleh Daerah masing-masing.
Pasal 19
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 20
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 21
14 / 17
www.hukumonline.com
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 22
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 23
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 24
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 25
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 26
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 27
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 28
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 29
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 30
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 31
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 32
Yang dimaksud dengan sekolah usaha tani karet rakyat (bovelkingsrubber bedrijfsschoolen) ialah sekolah karet
rakyat untuk mendidik calon-calon tani karet menjadi orang-orang tani karet yang dapat mengatur
15 / 17
www.hukumonline.com
perusahaannya sendiri dan mendapat penghidupan yang layak dari perusahaannya tadi. Dengan sendirinya
bedrijfsschool ini sedapat mungkin didirikan di tempat-tempat, di mana milik petani karet rakyat agak luas dan
letaknya terhadap pusat perdagangan tidak jauh atau hubungan tidak sukar adanya. Yang dimaksud dengan
kursus kader-tani karet rakyat ialah pendidikan pemuda-pemuda yang aktip dan dinamis dari daerah-daerah
karet rakyat yang penting dalam urusan karet rakyat dan dalam waktu yang singkat, supaya mereka nanti dapat
dipergunakan sebagai pelopor, propagandis dan orang penghubung di daerahnya masing-masing sekembalinya
dari kursus. Pada kursus-kursus yang dimaksud di sini, mata-pelajarannya disesuaikan dengan keadaan
pertanian karet rakyat setempat-setempat. Semua yang diterangkan di muka ini akan diatur di dalam pedoman
yang khusus dibuat untuk keperluan ini.
Pasal 33
Dalam membentuk dan menyusun dinas-dinas Daerah maka Daerah pada azasnya dapat menyelenggarakan
sendiri urusan ini, walaupun demikian perlu dikemukakan di sini, bahwa pada masa sekarang hal penyusunan
dinas-dinas i.c. pengangkatan pegawai baru, masih merupakan salah satu soal yang meminta penuh perhatian
yang khusus dari Pemerintah Pusat.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diingini telah dicari jalan bagaimana dapatnya mengadakan cara-cara
pengangkatan pegawai-pegawai yang rasionil dan efisien. Supaya Daerah untuk kepentingan umum dapat
melaraskan penyusunan dinasnya dengan aturan-aturan dari Pemerintah Pusat, maka penyusunan itu
hendaklah disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Menteri Pertanian, umpamanya tentang hal formasi dsb.
Pasal 34
(3)
Pada masa sekarang ini cara membagi wilayah kehutanan dalam wilayah pemangkuan tidak
mengindahkan batas-batas Daerah-daerah, sehingga banyak sekali wilayah-wilayah pemangkuan hutan
yang letaknya dalam dua atau tiga Daerah-daerah, misalnya Daerah Hutan Cepu letaknya dalam Daerah
tingkat I Jawa Timur dan Daerah tingkat I Jawa Tengah.
Berhubung dengan ini maka pada waktu menyerahkan barang-barang termaksud dalam ayat (1) dan (2)
pasal ini akan timbul kesulitan-kesulitan. Lain dari pada itu di beberapa wilayah pemangkuan hutan
terdapat juga tempat-tempat penimbunan barang-barang yang dikuasai langsung oleh Jawatan
Kehutanan Pusat. Di antara barang-barang tidak bergerak termasuk juga alat-alat perusahaanperusahaan penggergajian kayu, misalnya di Samarinda dan Balikpapan. Mengenai perusahaanperusahaan penggergajian itu pada masa ini sedang dipertimbangkan pembentukan beberapa perseroanperseroan terbatas untuk menjalankan eksploitasinya. Saham-saham perseroan-perseroan terbatas ini
dapat dimiliki oleh Negara dan/atau Daerah-daerah. Berhubung uraian di atas dianggap lebih bijaksana
dan lancar jika penyerahan barang-barang tersebut kepada Daerah-daerah diatur lebih lanjut satu demi
satu oleh Menteri Pertanian.
Pasal 35
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 36
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 37
Tidak memerlukan penjelasan.
16 / 17
www.hukumonline.com
Pasal 38
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 39
Tidak memerlukan penjelasan.
Pasal 40
Tidak memerlukan penjelasan.
17 / 17
Fly UP