...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
ANALISIS KUAT TEKAN BETON CAMPURAN PECAHAN GENTENG SEBAGAI
PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT KASAR BETON MUTU SEDANG
Warsiti
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang
Abstract
In line with the economical development, there are a lot of old buildings renovation which
produces material waste like roof tile. To use the existing roof tile waste, the research on the
use of soka roof tile waste for concrete mixture was performed considering that soka roof tile
fraction is hard enough. By using part of soka roof tile fraction in the aggregate for concrete
mixture, it is expected that it doesn’
t affect the quality or pressure strength of the produced
concrete. This is more economical since the pebble price is more expensive than soka roof tile
price. The aim of the research is to find out the percentage of soka roof tile fraction in the
coarse aggregate for concrete mixture so that it doesn’
t affect the concrete pressure strength,
seek for the correlation between concrete pressure strength and the percentage of soka roof
tile fraction in coarse aggregate for concrete mixture, seek for the correlation between
concrete pressure strength and aggregate weathering. In this research, the testing material is
in the form of cube 15 x 15 x 15 cm with slump value as the fixed variable, mean while the non
fixed variable is the percentage of soka roof tile fraction in the mixture, that is 0, 10, 20 30,
40, 50 % of its coarse aggregate. From the result of the research, it is obtained that in the
10% percentage of soka roof tile fraction, the generated concrete pressure strength doesn’
t
change or has no influence. The correlation between concrete pressure strength and the
percentage of soka roof tile fraction in the aggregate is y = -1,5368X + 233,2 and the
correlation between concrete pressure strength and the aggregate weathering is y = -21,243
X + 64,63. With the percentage of roof tile fraction in the aggregate as much as 50% may
affects the decreasing of concrete quality and the concrete pressure strength reaches 31,32%.
Keywords : aggregate composition, concrete quality, pressure strength
PENDAHULUAN
Di daerah perkotaan atau pedesaan banyak
dijumpai perbaikan bangunan yang sudah tua.
Sehingga banyak ditemukan limbah atau bekas
berbagai bahan bangunan seperti genteng soka
baik yang masih utuh maupun yang sudah
pecah. Dalam hal ini peneliti bermaksud untuk
memanfaatkan pecahan genteng tersebut untuk
mengganti sebagian agregat kasar dalam
campuran
beton.
Diharapkan
dengan
mengganti sebagian agregat kasar dengan
pecahan genteng maka harga dari agregat
berkurang (lebih irit) tetapi tanpa mengurangi
mutu kuat tekan dari beton yang ada atau
dengan kata lain kuat tekan beton yang terjadi
tetap sesuai dengan rencana. Perumusan
masalah pada penelitian ini adalah apakah
dalam campuran beton sebagian agregat kasar
dapat diganti dengan pecahan genteng soka,
yaitu variabel prosentasi sebagian pecahan
genteng soka terhadap kuat tekan beton,
72
variabel kekerasan agregat kasar terhadap kuat
tekan beton. Penelitian ini bertujuan
menentukan prosentase pecahan genteng
terhadap agragat kasar sehingga tidak akan
mempengaruhi mutu beton yang diharapkan /
kuat tekan beton, mengkaji hubungan antara
proporsi pecahan genteng terhadap agregat
kasar dan mutu beton yang dihasilkan (kuat
tekan beton), dan mengevaluasi pengaruh
kekerasan agregat kasar terhadap kuat tekan
beton.
Beton merupakan campuran dari agregat kasar
(kerikil), agregat halus (pasir), semen, dan air,
untuk jenis beton tertentu ditambah bahan
tambahan seperti admixture (Aman Subakti
1994). Dengan berbagai komposisi dan mutu
beton masing-masing bahan campuraan beton
akan didapat hasil mutu beton yang berbedabeda. Mutu beton dapat dibedakan menjadi a)
beton mutu normal, yaitu beton dengan kuat
tekan 200 –
500 gk/cm2, b) beton mutu tinggi,
yaitu beton dengan kuat tekan 500 –
800
2
kg/cm , dan c) beton mutu sangat tinnggi, yaitu
beton dengan kuat tekan lebih besar 800
kg/cm2. Dari sifat pecahan genteng soka dan
agragat kasar (kerikil) yang hampir sama yaitu
mempunyai sifat keras, maka peneliti tertarik
untuk mengadakan penelitian genteng soka
sebagai pengganti sebagian kerikil dalam
campuran beton kususnya pada beton mutu
sedang.
Beton mutu sedang umumnya menggunakan
campuran dengan perbandingan semen : pasir :
agregat kasar (kerikil) = 1 : 2 : 3. Bahan untuk
membuat beton pada dasarnya terdiri daari
agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir),
semen dan air (LJ. Mardock dkk 1993).
Agregat halus jika diameter agregat = 4,75
mm, sedang agregat kasar berdiameter > 4,75
mm. Untuk membuat beton diperlukan
persyaratan agregat antara lain kandungan
lumpur untuk agregat halus < 5% dan agregat
kasar < 1% (Dep. Perindustrian, SII 0077-75
dan Dep. Perindustrian, SII 0078-75). Semen
(Portland cement) adalah bahan pengikat
hidrasi yang mempunyai sifat mengikat dan
kemudian mengeras apabila dicampur dengan
air. Air adalah bahan yang diperlukan semen
untuk melakukan proses hidrasi. Jumlah air
yang diperlukan semen untuk mendapatkan
campuran yang baik (konsistensi normal)
berkisar antara 24 –
33 % (Dep. PU, 1990.
SKSNI T-15-1990-03). Banyaknya air yang
diperlukan untuk mendapatkan kelacakan
(slump) tertentu dari adukan.
METODE PENELITIAN
Secara umum proses penelitian ini dimulai dari
persiapan yaitu menyiapkan bahan seperti
semen, kerikil, pecahan genteng (tertahan
ayakan 4,75 mm dan lolos 6,5 mm), dan pasir.
Dalam tahapan ini dilakukan pengujian
terhadap kandungan lumpur baik agregat kasar
maupun agregat halus, uji kekerasan agregat
kasar, dilanjutkan pembuatan benda uji dan
pengambilan data. Benda uji dibuat berbentuk
kubus dengan ukuran 15 x 15 x 15 dengan
komposisi semen : pasir : agregat 1 : 2 : 3,
dengan jumlah air yang sama ± 25 % sehingga
nilai slump sama. Adapun komposisi agregat
kasar diganti dengan pecahan genteng
sebanyak 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini
meliputi
kekerasan
agregat
berbagai
komposisi, nilai slump campuran beton, nilai
kuat tekan beton dari masing-masing campuran
setelah direndam 28 hari. Analisis data
meliputi kuat tekan rata-rata dan standart
deviasi masing-masing komposisi, uji dua
mean, regresi kuat tekan terhadap persentase
pecahan genteng, regresi keausan agregat
terhadap kuat tekan beton.
HASIL
Dalam peneltian telah dilakukan pengujian
terhadap kandungan lumpur, kekerasan, kuat
tekan, dua mean. Dari pengujian tersebut
dihasilkan data-data berikut.
Dari hasil uji kandungan lumpur agregat halus
diperoleh lebih kecil 5 %. Hasil uji kekerasan
(keausan) agregat dengan metode Los Angeles
ditunjukkan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Hasil Uji Keausan Agregat
Jenis agregat
keausan
Kerikil (%) Genteng (%)
(%)
100
0
19,466
90
10
20,588
80
20
21,042
70
30
21,786
60
40
22,388
50
50
23,196
0
100
30,988
Dari hasil uji keausan agregat terlihat
makin besar persentase pecahan genteng
makin besar persentase keausannya
ANALISIS KUAT TEKAN BETON CAMPURAN PECAHAN GENTENG……(Warsiti )
73
Berdasarkan pengujian kuat tekan benda uji (kg/cm2) didapatkan hasil berikut (Tabel 2)
No
1
2
3
4
5
Kuat tekan
rata-rata (s )
SD (standar
deviasi)
Tabel 2 Hasil Uji Kuat Tekan Beton
Prosentase pecahan genteng
10% (b)
20% (c)
30% (d)
40% (e)
217,778
196,444
195,111
160,889
220,444
204,444
191,111
170,667
222,222
194,667
198,222
161,778
221,333
199,111
193,333
163,556
222,222
200
195,556
162,222
0% (a)
226,667
231,111
231,111
235,556
233,333
50% (f)
161,333
156,444
160,444
159,111
157,778
231,556
220,8
198,933
194,667
163,822
159,022
6,813
1,843
3,739
2,648
6,515
1,972
Dari tabel diperoleh semakin besar
kandungan agregat pecahan genteng
semakin kecil kuat tekan (s )
No
s a dan sb
t tabel
t hitung
keputusan
2.31
2,307432
Ho diterima
kesimpulan
s aJ s b
Uji Dua Mean dilakukan dengan a = 0,05 two
tail (1-0.05/2;(5+5-2) dan hipotesis sebagai
berikut, yaitu Ho : m1 = m2 dan H1 : m1 ¹ m2
seperti dalam Tabel 3.
Tabel 3 Hasil Uji Dua Mean
Kuat tekan antara
s a dan
s a dan
s a dan
s a dan
sc
sd
se
sf
2.31
2.31
2.31
2.31
9,385595 11,28441 16,06648 22,86599
Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak
sa K sc
sa K sd
Dari tabel diperoleh H0 diterima pada uji dua
mean antara s a dan s b hal ini dapat dikatakan
bahwa kuat tekan beton tanpa pecahan genteng
dan kuat tekan beton dengan pecahan genteng
10% dapat dikatakan sama. Untuk pengujian
yang lain H0 ditolak yang berarti kuat tekan
s a K se
s a K sf
beton tanpa pecahan genteng berbeda dengan
kuat tekan beton campuran genteng.
Regresi antara persentase pecahan genteng
dengan kuat tekan beton dapat dilihat dalam
Grafik 1.
Gr a fik h u b u n g a n p r o s e n ta s e c a m p u r a n g e n te n g
d e n g a n k u a t te k a n
kuat tekan beton (kg/cm ^2)
250
200
150
y = -1 ,5 3 6 8 x + 2 3 3 ,2 2
R 2 = 0 ,9 6 4 8
100
50
0
0
10
20
30
40
50
60
Pr o s e n tas e g e n te n g (% )
Gambar 1. Grafik persentase kapur terhadap kuat tekan beton
Hasil grafik hubungan antara persentase
Y = - 1,5368 X + 233,2 dengan R2 = 0,9648
pecahan genteng dan kuat tekan beton adalah
dapat dikatakan bentuk regresi yang terjadi
74
Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 12 No. 1 April 2007: 72-77
sudah diangap baik/sesuai
mendekati 1 (satu).
R2
karena
Regresi antara persentase pecahan genteng
dengan keausan agregat dapat dilihat dalam
Grafik 2.
Gr afik hubungan keausan agregat kasar dengan kuat
tekan
kuat tekan beton
(kg/cm ^2)
250
200
150
y = -21,243x + 649,63
R2 = 0,9352
100
50
0
19
20
21
22
Keausan agregat (%)
23
24
Gambar 2. Grafik keausan agregat terhadap kuat tekan beton
Hasil grafik hubungan antara persentase
pecahan genteng dengan keausan agregat
benton adalah Y = - 21,243 X + 64,63 dengan
R2 = 0,935 dapat dikatakan bentuk regresi
yang terjadi sudah diangap baik/sesuai karena
R2 mendekati 1 (satu)
PEMBAHASAN
Dari hasil uji kadar lumpur agregat halus
maupun agregat kasar semua lebih kecil dari
5% yang berarti bahan agregat kasar maupun
agregat halus dapat langsung digunakan tanpa
melalui pencucian lebih dahulu.
Hasil uji keausan pada Tabel. 1 dapat
dikatakan pecahan genteng mempunyai
keausan hampir dua kali keausan kerikil yaitu
kerikil
mempunyai
keausan
19,466%
sedangkan pecahan genteng mempunyai
keausan 30,988 %. Sehingga dapat dikatakan
pecahan genteng mempunyai kekerasan yang
rendah. Keausan untuk campuran antara kerikil
dan pecahan genteng berbanding lurus dengan
banyaknya
persentase
genteng
dalam
campuran beton. Yang berarti semakin banyak
pecahan genteng semakin tinggi
keausannya.
(besar)
Pada pembuatan benda uji nilai slump
ditentukan sebagai variabel tetap yaitu 8 –
9
cm, ukuran benda uji berbentuk kubus dengan
ukuran 15 x 15 x 15 cm. Setelah dilakukan
pengujian kuat tekan beton benda uji didapat
hasil seperti pada Tabel 2 untuk masingmasing campuran dengan berbagai persentase
genteng. Hasil uji kuat tekan dapat dikatakan
besarnya kuat tekan beton berbanding terbalik
dengan jumlah persentase pecahan genteng,
yang berarti makin banyak pecahan genteng di
dalam campuran beton kuat tekan beton
semakin kecil. Kuat tekan tanpa pecahan
genteng 231,556 kg/cm2 sedang bila agregar
kasar dicampur pecahan genteng 50 % kuat
tekan beton menjadi 159,022 kg/cm2. Jadi,
dapat dikatakan kuat tekan beton turun sebesar
31,32%. Dengan demikian, dapat diambil
kesimpulan penambahan pecahan genteng
sangat mempengaruhi kuat tekan beton yang
terjadi. Penurunan kuat tekan beton dapat
dapat dilihat dalam Tabel 4.
Tabel 4. Besar Penurunan Kuat Tekan Terhadap Persentase Pecahan Genteng
No
1
2
3
4
4
% pecahan genteng
10
20
30
40
50
Besar penurunan kuat tekan (%)
4,6
14,08
15,93
29,25
31,32
ANALISIS KUAT TEKAN BETON CAMPURAN PECAHAN GENTENG……(Warsiti )
75
Berdasarkan hasil dari uji dua mean antara
kuat tekan beton tanpa pecahan genteng (s a)
dengan kuat tekan beton dan berbagai
persentase pecahan genteng (s b, s c, s d, s e, s f )
dapat dakatakan bahwa kuat tekan beton
dengan campuran pecahan genteng 10 % tidak
mempengaruhi besarnya kuat tekan beton. Hal
ini dapat dilihat dari uji dua mean antara s a
dengan s b didapat t hitung lebih kecil t tabel.
Yang berarti kuat tekan baton tanpa pecahan
genteng dianggap sama dengan kuat tekan
beton yang menggunakan pecahan genteng 10
%. Uji dua mean antara s a dengan yang lain
mengahsilkan t hitung lebih besar dari t tabel
yang berarti campuran dengan pecahan
genteng mempengaruhi besarnya kuat tekan
beton yang akan menurunkan kuat tekan beton.
Berdasarkan besarnya penurunan kuat tekan
dan uji dua mean maka pembuatan beton mutu
sedang diperbolehkan menggunakan agregat
pecahan genteng 10 %. Kuat tekan beton
tanpa pecahan genteng sama dengan kuat
tekan beton menggunakan pecahan genteng
10%. Dengan mempertimbangkan harga
agregat kasar (kerikil) lebih mahal dibanding
pecahan genteng, maka dapat dikatakan
dengan menggunakan pecahan genteng 10%
harga beton lebih ringan.
Hubungan kuat tekan beton dan persentase
pecahan genteng dengan mempergunakan
coba-coba progran Exell didapat bentuk regresi
antara kuat tekan beton (sumbu Y ) dan
persentase pecahan genteng (sumbu X )
didapat persamaan
Y = - 1,5368 X + 233,2
R2 = 0,9648
dengan Y = kuat tekan beton (kg/cm2), X =
persentase pecahan genteng dalam campuran
(%)
Dengan melihat besarnya R2 yang mendekati
satu berarti dapat dikatakan bentuk regresi
antara kuat tekan beton dan persentase pecahan
genteng adalah sudah sesuai. Bentuk regresi
antara keausan agregat kasar dengan kuat
tekan beton adalah sebagai berikut.
Y = - 21,243 X + 64,63
76
R2 = 0,935
dengan Y = kuat tekan beton (kg/cm2) dan
X = besar keausan agregat kasar (%)
Dari hasil regresi tersebut dapat dikatakan
bahwa makin besar keausan agregat makin
kecil kuat tekan beton yang dihasilkan.
Sehingga apabila ingin mengahasilkan kuat
tekan
yang
besar
maka
sebaiknya
mempergunakan agregat yang mempunyai
tingkat keausan kecil.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dan analisis data
yang telah dilakukan maka dapat diambil
kesimpulan bahwa. Pada persentase campuran
pecahan genteng 10 % terhadap agregat kasar
tidak akan mempengaruhi besarnya kuat tekan
beton, dengan kata lain bahwa persentase
pecahan genteng yang dianjurkan untuk
campuran beton sebesar 10 % dari agregat
kasar bila menginginkan kuat tekan beton yang
dihasilkan tetap (sama). Hubungan antara
persentase pecahan genteng terhadap kuat
tekan beton adalah berbanding terbalik artinya
semakin besar (banyak ) persentase pecahan
genteng semakin kecil kuat tekan beton yang
terjadi. Adapun persamaan antara kuat tekan
beton dengan persentase pacahan genteng
adalah Y = - 1,5368 X + 233,2 dengan Y =
kuat tekan beton (kg/cm2) dan X = persentase
pecahan genteng dalam campuran (%).
Pengaruh keausan agregat kasar terhadap kuat
tekan beton adalah Y = - 21,243 X + 64,63
dengan Y = kuat tekan beton (kg/cm2) X =
besar keausan agregat kasar (%)
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Politeknik Negeri Semarang yang telah
membiayai penelitian ini, para instruktur lab.
Bahan Bagunan Teknik Sipil Polines dan
semua pihak yang telah membantu dalam
pelaksanaan penelitian ini.
Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 12 No. 1 April 2007: 72-77
DAFTAR PUSTAKA
Subakti, Aman, 1994. Teknologi Beton dalam
Praktek. Teknik Sipil ITS. Surabaya
L.J Murdock, KM Brook, Hendarko Stefanus,
1993. Bahan dan Praktek Beton. Jakarta.
Erlangga
DPU 1990. SKSNI T-15-1990-03. Tatacara
Pembuatan Rencana Campuran Beton
Normal. DPU LPMB. Bandung
Departemen Perindustrian, SII 078-75.
Kekerasan Pasir untuk Adukan Beton.
Departemen Perindustrian, SII 0077-75. Kadar
Organik di dalam Agregat Halus Aduk
Beton.
ANALISIS KUAT TEKAN BETON CAMPURAN PECAHAN GENTENG……(Warsiti )
77
Fly UP