...

Document

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
Seminar NasionalPeternakan don Veteriner 1998
PENGARUH SUPLEMEN LUMPUR SAWIT KERING (DRIED PALM OIL
SLUDGE) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN DEDAK PADI TERHADAP
KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR DOMBA JANTAN
A.
NuRHAYU, MATHEUS SARIUBANG,
dan A.
DARMAWIDAH
Instalasi Penelitian dan Perrgkajian Teknologi Pertanian Gowa
P.O . Box 1285, Ujung Pandang 90001
ABSTRAK
Pada masa sulit seperti sekarang ini, di mana ketersediaan bahan pakan semakin terasa sulit
disebabkan antara lain meningkatnya harga pakan ternak clan terbatasnya produksi hijauan
disebabkan lahan yang semakin sempit, Inaka penlanfataan limbah pertanian clan industri sangat
penting . Salah satu limbah pertanian adalah lumpur kelapa sawit sebagai hasil ikutan industri
pengolahan kelapa sawit . Tujuannya untuk melihat tingkat optinnun pemanfaatan lumpur sawit
kering sebagai pengganti dedak padi terhadap kecernaan protein kasar clan serat kasar pada domba
jantan yang mendapat ransum basal hijauan lapangan . Penelitian ini menggunakan 15 ekor domba
jantan lokal yang benlmur 6-12 bulan, dengan rata-rata bobot badan 10 kg. Pakan hijauan
lapangan sebagai ransum basal diberikan secara ad libiltuu dan konsentrat diberikan 1% dari bobot
badan . Menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri 5 macam perlakuan clan 3 kelompok
(ulangan) . Parameter yang diukur adalah protein kasar clan serat kasar . Hasil penelitian
menunjukkan sampai tingkat pemberian 60% lumpur kelapa sawit sebagai pengganti dedak padi
tidlk mempenganlhi kecernaan protein kasar dan serat kasar domba jantan . Sehingga dapat
disimpulkan bahwa lumpur kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan suplemen pegganti dedak
padi .
Kata kunci : Lumpur sawit kering, dedak padi, kecernaan
PENDAHULUAN
Penggunaan pakan hijauan sebagai pAan utalna rulnlnansla untuk meningkatnyn
produksinya, sering dihadapkan kepada rendahnya kualitas hijauan tersebut karena kandungan
seratnya yang tinggi dan rendah kecernaannya . Untuk mengatasi masalah tersebut sering
ditambahkan bahan-bahan makanan yang mengandung energi clan protein dan yang sering
digunakan adalah dedak padi yang menlpakan komponen utama dalam penyusunan ransum.
Namun demikian persediaannya sering dibatasi oleh panen musiman, harga yang cukup mahal,
dan penggunaannya pada ternak niminansia semakin kompetitif dengan ternak non ruminansia.
Oleh karena itu perlu dicari bahan yang dapat menggantikan dedak padi dalam ransum ternak
ruminansia. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah lumpur sawit yang menipakan limbah
industri pengolahan minyak sawit .
Perkembangan produksi Kelapa Sawit (Elneis guinensis) di Indonesia cukup pesat. Seiring
dengan meningkatnya produksi kelapa sawit, produksi limbah industri kelapa sawit turut
meningkat . Di antara limbah tersebut yang dapat dimanfiatkan sebagai pakan, yaitu bungkil
kelapa sawit, lumpur minyak sawit clan serat perasan buall sawit.
Lumpur sawit kering (Paler Oil Sludge = POS) menlpakan larutan buangan yang diperoleh
setelah proses ekstraksi minyak kelapa sawit, yang terdiri dari 4-5% padatan, 0,5-1% sisa minyak
455
Seminar Nasional Peternakan dan Vetwiner 1998
dan sebagian besar air yaitu sebanyak 95%. Untuk setiap ton hasil minyak sawit dihasilkan sekitar
2-3 ton lumpur minyak sawit (Hu rAGALUNG dan JALALuDiN, 1982). Larutan buangan ini langsung
dialirkan ke selokan, kolam atau sungai di sekitar pabrik sehingga menimbulkan pencemaran
lingkungan .
Oleh karena itu lumpur kelapa sawit perlu dimanfaatkan, dalam hal ini digunakan sebagai
ransum ternak (SurARDI, 1979) seperti halnya bungkil inti sawit tanpa memberikan efek buruk
terhadap penampilan produksi ternak . Pemberiannya bukanlah dalam bentuk lumpur basah
melainkan dalam bentuk kering. Salah satu cara penggunaan lumpur sawit adalah sebagai
substitusi bahan makanan sumber energi lainnya, dalam penelitian ini adalah dedak padi. Hal ini
disebabkan kedua bahan makanan tersebut mempunyai komposisi zat-zat makanan yang tidak jauh
berbeda (DEVENDRA, 1977). Perbandingan komposisi zat-zat makanan antara lumpur s<zwit dan
dedak padi dapat dilihat pada Tabel 1 .
Tabel 1 .
Komposisi nutrisi lumpur sawit (palm oil suldge) dan dedak padi
Zat makanan
Bahan Kering
Protein Kasar
Serat Kasar
Lemak
Abu
Beta-N
Kalsium (Ca)
Pospor (P)
TDN"
Gross Energi (GE), KkaUgr
Palm oil suldge(% BKs)
Dedak padi (% BK')
91,19
12,37
18,82
87,16
13,26
15,72
21,32
15,58
19,45
14,48
28,04
1,09
40,96
0,20
68,32
4,978.62
70,89
4,666.13
0,29
1,79
Hasil
analisa laboratorium ilmu nutrisi dan makanan temak fakultas petemakan, Institut Pertanian Bogor, 1991
Sumber :
MATERI DAN METODE
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 15 ekor domba jantan lokal yang berumur
6 - 12 bulan . Bobot badan rata-rata 10 kg dengan sebaran antara 7 - 16 kg, hijauan pakan yaitu
rerumputan (Graminae), lumpur sawit diperoleh dari pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di
Kecamatan Bone-bone Kabupaten Luwu.
Penelitian ini diatur berdasarkan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 5 macam
perlakuan dan 3 kelompok. Sedangkan perlakuan yang digunakan adalah konsentrat (dedak padi
dan lumpur sawit kering) . Lumpur sawit kering yang digunakan sebagai pengganti sebagian dedak
padi, yang diatur komposisinya menurut perlakuan .
Kandang domba yang digunakan berbentuk panggung dengan ukuran 800 x 400 x 225 cm,
dan tinggi lantai kandang individu berukuran 150 x 75 x 85 cm sedangkan kandang individu
berulnuan 150 x 75 x 85 cm.
Untuk menghilangkan parasit saluran pencernaan domba percobaan diberikan obat cacing
Septichemia epizootica secara intra musculer dengan dosis 0,5 cc per ekor untuk menghilangkan
parasit darah.
456
Seminar Nasional Peternakan dar Vetenner 1998
Komposisi konsentrat setiap perlakuan selama penchtian adalah sebagai berikut
A. 100°/a dedak padi + Me lumpur sawit kering
B. 85% dedak padi + 15% lumpur sawit kering
C. 70% dedak padi + 30% lumpur sawit kering
D. 55% dedak padi + 45% lumpur sawit kering
E. 40% dedak padi + 60% lumpur sawit kering
Setiap perlakuan tersebut di atas dicampur secara homogen clan ditambahkan pikuten 5 gram,
kemudian diberikan kepada domba percobaan sebanyak 1% dari bobot badannya.
Lumpur sawit kering yang telah digiling, dicampur dengan dedak padi dengan persentase
yang sesuai dengan konsentrat. Makanan diberikan pada waktu pagi setiap hari dalam wadah yang
mudah dijangkau oleh domba . Sedangkan pakan hijauan lapangan serta air minum diberikan
secara ad libitum pada tempat yang berbeda dengan konsentrat.
Sampel konsentrat diambil sebanyak 25 gram dan pakan hijauan sebanyak 100 gram serta
feses sejundah 10% dari total yang dihasilkan setiap hari selama tahap koleksi . Sub sampel diambil
dari sampel harian dan segera ditentukan bahan keringnya . Sampel lainnya disimpan dalam
freezer untuk mempertahankan kesegarannya . Untuk kebutuhan analisis, sampel yang telah
dikumpulkan tahap koleksi dicampur secara merata dan diambil sub sampel secukupnya untuk
menentukan kandungan protein kasar clan serat kasarnya yang dilakukan menurut analisis
proksimat .
Peubah yang diukur adalah kecernaan protein kasar dan serat kasar, dengan menggunakan
rumus koefisien cerna sebagai berikut
Zat makanan yang dimakan - Zat makanan dalam feses
x
Zat makanan yang dimakan
100%
Data yang diperoleh diolah secara statistik berdasarkan analisis sidik ragam dalam
Rancangan Acak Kelompok (STEEL clan TORRIE, 1988).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2.
Prosentase protein kasar clan serat kasar ransum perlakuan
Perlakuan
A. 100% dedak padi + 0% hunpur sawit kering
B . 85% dedak padi + 15% lumpur sawti kering
C . 70% dedak padi + 30% lumpur sawit kering
D. 55% dedak padi + 45% lumpur sawit kering
E. 40% dedak padi + 60% lumpur sawit kering
Hijauan lapangan
Protein kasar
Serat kasar
9,02
20,77
11,55
9,67
9,67
12,91
7,91
15,28
20,20
18,83
20,45
30,29
Pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein kasar
3.
Rata-rata kecernaan Protein kasar domba jantan menurut perlakuan dapat dilihat pada Tabel
45 7
Seminar NasionalPeternakan don Veteriner 1998
Tabel 3.
Rata-rata persentase kecernaan protein kasar pada domba jantan
Perilakuan
A . 100% dedak padi + 0% lurnpur sawit kering
B. 85% dedak padi + 15% ltunpur sawti kering
C. 70% dedak padi + 30% lumpur sawit kering
D. 55% dedak padi + 45% ltunpur sawit kering
E. 40% dedak padi + 60% lurnpur sawit kering
Rata-rata
Kecernaan
67,13
68,47
72,83
70,26
68,08
69,35
Pada Tabel 3, pada perlakuan C dengan pemberian 30% lumpur sawit kering + 70% dedak
padi kecernaan protein kasar domba jantan menunjukkan angka yang tertinggi . Namun sampai
pemberian 60% lumpur sawit kering, kecernaan protein kasar juga cukup tinggi. Sedangkan rata
rata kecernaan protein kasar adalah 69,35% . Angka ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian
DEVENDRA (1977) yang memperoleh nilai kecernaan protein kasar 39,3%-2,3% pada tingkat
pemberian lumpur sawit kering dan serat sawit 10%-30%. Perbedaan ini kenningkinan disebabkan
perbedaan kandungan protein kasar ransum (12,80%) serta perbedaan komposisi balian makanan
ransum perlakuan dan perbedaan ternak yang digunakan .
Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruli nyata (P>0,05)
terhadap kecernaan protein kasar, ini berarti bahwa substitusi dedak padi dengan lumpur sawit
kering tidak nyata pengaruhnya terhadap kecernaan protein kasar ransum.
Tidak adanya pengaruh yang nyata pada tingkat kecernaan protein kasar memperlihatkan
bahwa komposisi kimia lumpur sawit kering tidak berbeda jauh dengan dedak padi yang
disubstitusinya . Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Mc DONALD et al. (1988) baliw,
faktor-faktor yang mempenganihi kecernaan makanan moliputi : komposisi makanan, komposis
ransum, penyiapan makanan, faktor hewan serta level pemberian makanan .
Pengaruh perlakuan terhadal) kecernaan scrat kasar
Rata-rata kecernaan serat kasar domba jantan menurut perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
Rata-rata persentase kecernaan serat kasar pada domba jantan
Perlakuan
A. 100% dedak padi + 0% lumpur sawit kering
B. 85% dedak padi + 15% hunpur sawti kering
C. 70% dedak padi + 30% lumpur sawit kering
D. 55% dedak padi + 45% ltunpur sawit kering
E. 40% dedak padi + 60% ltunpur sawit kering
Rata-rata
Kecernaan
59,97
68,01
78,91
75,91
75,52
71,67
Seperti pada kecernaan protein kasar, kecernaan serat kasar tertinggi pada perlakuan C. Ir
berarti perlakuan C dengan komposisi 30% lurnpur sawit kering + 70% dedak padi yang palin
baik dicerna oleh domba jantan . Namun perlakuan E dengan komposisi 40% lumpur sawit kerin
+ 60% dedak padi juga cukup baik kecernaan protein kasar maupun serat kasarnya.
45 8
Seminar Nasional Peternakan don Veteriner 1998
Dari hasil analisis ragam menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berpengaruh nyata
terhadap kecernaan serat kasar ransum. Ini berarti substitusi dedak padi dengan lumpur sawit
kering dan rumput lapangan tidak nyata pengaruhnya terhadap kecernaan serat kasar .
Dengan demikian ditinjau dari segi kecernaan khususnya kecernaan protein kasar dan serat
kasar maka lumpur sawit kering dapat digunakan dalam ransum ternak ruminansia sebagai
pengganti dedak padi setidaknya sampai tingkat 60% . Hal ini tentunya sangat menguntungkan
karena dedak padi tidak selamanya tersedia karena tergantung pada musim panen dan harganya
relatif mahal . Di lain pihak, lumpur sawit yang merupakan limbah pengolahan ininyk sawit
cukup banyak tersedia dan sampai saat ini masih dapat diperoleh tanpa dibeli . Penggunaan lumpur
sawit sebagai pakan juga akan menibantu mengatasi masalah pencemaran lingktmgan di sekitar
industri pengolahan minyak sawit.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan : dltlnjau dari segi kecernaan
protein kasar dan serat kasar ransum maka lumpur sawit kering dapat digunakan dalanl ransunl
sebagai pakan suplemen pengganti dedak padi sampai 60% untuk ternak domba yang diberi
rumput lapangan sebagai pakan utama .
DAFTAR PUSTAKA
ANGGORODI, R . 1979 . Ilmu Makanan Ter7lak Unmm . PT . Gramedia, Jakarta .
D . 1996 . Perkebunan kelapa sawit, sumber pakan ternak Indonesia. A-Iaialah Pertanian
Departemen Pertanian, Jakarta . No . 1 1985/1986 .
ARITONANG,
DALZELL, R .
1977 . A case study on the utilization of effluent and by-product of oil palm by cattle and
buffaloes on an oil palm estate . Feedingstuffs for Livestock in South East Asia . p . 13 2-14 1 .
DEVENDRA, C . 1977 . Utilization of feedingstutfs from the oil palm . Feedingstuffs for Livestock in South East
Asia . p . 116 - 131 . Malaysian Agricultural Research and Development Institute, Serdang, Selangor,
Malaysia.
HUTAGALUNG dan JALALUDDIN . 1982 . Feeds for Farm Animal from the Oil Palm . Serdang, Malaysia.
KEMALA, S . 1987 . Pola Pertanian, Industri, Perdagangan Kelapa dan Kelapa Sawit di Indonesia .
Disertasi .
Fakultas Pascasarjana, IPB, Bogor .
Mc DONALD, P., R .A . EDWARDS, and J .F .D . GREENHALGH. 1988 . Animal Nutrition . 4th Ed . Longman
Scientific and Technical . Co published in the United State with John Wiley and Sons, Inc ., New York .
SOEWARDI, B . 1974 . Gizi Ruminansia . Fakultas Petemakan IPB, Bogor.
STEEL, R .G .D . dan J .H . TORRIE . 1988 . Prinsip dan Prosedur Statistika . PT . Gramedia,
Jakarta .
SURBAKTI, P . 1982 . Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq) di Kebun Butung PTP X
(Persero)
Palembang IV. Laporan Praktek Lapang. Fakultas Pertanian 1PB, Bogor. p . 32 .
SUTARDI, T . 1979 . Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi mikroba rumen dan
manfaatnya
bagi peningkatan produktivitas ternak . Proceding Seminar Penelitian dan Penuqjang Pengeuibangan
Peternakan, Bogor . p . 25-26 .
SUTRISNI, L . dan R . WINAHYU. 1991 . Kelapa Sawit. Kajian Sosial Ekonond . Aditya Media,
Yogyakarta .
45 9
SeminarNasional Peternakan dan Yeteriner 1998
A. 1983 . Pengarnh tingkat konsentrat dalam ransum terhadap koefisien cerna bahan kering, bahan
organik dan serat kasar ransum pada kerbau muda jantan . Karya Ilmiah . Fakultas Peternakan IPB,
Bogor. p. 12 .
SuPRAPTO,
YEGNG, S .W . 1988 . Amino acid availability of palm kemal cake, palm oil sludge and fermented product
(Prolima) in studies with chickens. Mardi Res. Bull. 11 :84-88 .
YousRY, R.M. ABou AKKADE, and A.K . ABou RAYA . 1977 . Requirement of sheep in hot climates. World
Review ofAninial Production 13 (3): 23-28.
Fly UP