...

Kecemasan Pada Pasangan Menikah Yang Belum Memiliki

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Kecemasan Pada Pasangan Menikah Yang Belum Memiliki
Kecemasan Pada Pasangan Menikah Yang Belum Memiliki Keturunan
Siti Aisah
Pembimbing : Anita Zulkaida SPsi., Msi.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kecemasan
pada pasangan menikah yang belum memiliki keturunan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya kecemasan pada pasangan menikah yang belum memiliki
keturunan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam
bentuk studi kasus. Subjek pada penelitian ini yaitu pasangan suami istri yang belum
memiliki keturunan yang usia pernikahannya lebih dari 10 tahun. Pengumpulan data
menggunakan teknik wawancara dan observasi non partisipan.
Hasil penelitian secara umum kedua subjek mengalami kecemasan setelah
melakukan pemeriksaan infertilitas sampai dengan usia pernikahan yang ke 7 tahun.
Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala kecemasan fisik, psikis dan perilaku. Setelah
melakukan pemeriksaan infertilitas, kedua subjek merasa terkejut dan sedih. Subjek 1
(suami) merasa cemas jika bertemu dengan anggota keluarga lain seperti orangtua
ataupun saudara, subjek 1 menjadi lebih tegang pada sekujur badannya dan
berkeringat lebih banyak ketika bertemu orangtua ataupun saudara karena merasa
cemas dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan istrinya. Begitu juga
dengan subjek 2 (istri), dimana subjek 2 menjadi merasa canggung ketika berkumpul
dengan anggota keluarga lain. Faktor yang mempengaruhi kecemasan kedua subjek
setelah melakukan pemeriksaan infertilitas yaitu lingkungan, dimana subjek
seringkali mendapat berbagai macam pertanyaan seputar kehamilan baik dari
keluarga maupun orang sekitar kedua subjek.
Kata Kunci : Kecemasan, Pasangan Menikah, Infertilitas.
1
PENDAHULUAN
membuat suami istri memiliki
keterkaitan dan tanggung jawab untuk
membesarkan, merawat dan mencintai
bersama-sama. Jadi, kehadiran anak
secara tidak langsung akan semakin
mendekatkan pasangan suami istri.
Taher (2007) mengatakan keadaan
pasangan yang sudah menikah lebih dari
setengah tahun tanpa kontrasepsi dan
tidak mempunyai anak, dalam ilmu
kedokteran disebut dengan infertilitas.
Walaupun masalah infertilitas tidak
berpengaruh pada aktivitas fisik seharihari dan tidak mengancam jiwa, bagi
banyak pasangan hal ini berdampak
besar terhadap kehidupan berkeluarga.
Selain itu menurut Taher (2007)
pasangan yang mengalami infertilitas
akan memiliki tekanan secara psikologis,
dimana mereka akan merasa cemas
memikirkan bagaimana cara untuk
mendapatkan keturunan.
Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan wujud
menyatunya pria dan wanita ke dalam
satu tujuan yang sama, dan merupakan
peristiwa penting dalam kehidupan
seorang individu. Menurut Duval dan
Miller (2001) perkawinan adalah suatu
hubungan yang diakui secara sosial
antara pria dan wanita, yang mensahkan
adanya hubungan seksual dan adanya
kesempatan mendapatkan keturunan.
Widarjono (2007) mengatakan bahwa
tujuan perkawinan adalah mencapai
kebahagian yang langgeng bersama
pasangan hidup. Namun, jalan menuju
kebahagiaan tidak selamanya mulus,
banyak hambatan, tantangan dan
persoalan yang terkadang menggagalkan
jalannya rumah tangga.
Adapun
Akbar
(2001)
mengemukakan tujuan dari perkawinan
adalah mendapatkan kebahagian,
kepuasan, cinta kasih dan keturunan.
Menurut Taher (20 07) biasanya
sebanyak 85% pasangan yang sudah
menikah selama satu setengah tahun
sudah memiliki keturunan. Ini berarti
sebanyak 15% pasangan yang sudah
menikah selama satu setengah tahun
memiliki masalah belum hadirnya
seorang anak sebagai keturunannya.
Sidhi (1999) mengatakan bahwa
pasangan menikah yang tidak kunjung
memiliki anak, padahal tidak dinyatakan
mengalami gangguan organ reproduksi,
biasanya akan mengalami kondisi
psikologis yang sulit.
Menurut
Ramaiah
(2003)
kecemasan adalah sesuatu y an g
menimpa hampir setiap orang pada
waktu tertentu dalam kehidupannya.
Kecemasan menurut Prasetyono (2005)
adalah penjelmaan dari berbagai proses
emosi yang bercampur baur, yang terjadi
manakala seseorang sedang mengalami
berbagai tekanan-tekanan atau tegangan
seperti perasaan pertentangan batin.
Misalnya saja, bapak YN dari Samarinda
yang sangat mendambakan anak dari
darah daging sendiri, bapak YN dengan
istrinya telah menikah selama dua belas
tahun, tetapi sampai saat ini belum juga
dikarunai keturunan. Bapak YN tidak
mau menyakiti hati istrinya dengan
menikah lagi sebab merasa sudah cocok
sekali, namun bapak YN tetap penasaran
ingin memiliki keturunan (Kompas,
2000).
Menurut Widarjono (2007)
perkawinan tanpa kehadiran anak
seringkali memicu persoalan tersendiri.
Banyak keluarga atau pasangan suami
istri yang sulit mendapatkan anak dan
terus berusaha agar mempunyai
keturunan. Kehadiran seorang anak juga
2
Taher (2007) mengatakan bahwa
kenyataan menunjukkan, 40% masalah
yang membuat sulit untuk memiliki anak
terdapat pada wanita, 40% pada pria, dan
30% pada keduanya. Evaluasi terhadap
pria penderita infertilitas yang datang ke
klinik infertilitas bagian urologi RSUPN
Cipto Mangunkusumo menunjukkan, 2025% penderita tidak diketahui
penyebabnya. Besar kemungkinan hal
ini dipengaruhi oleh faktor genetik
karena penelitian muktahir mengarah
pada adanya kelainan kromosom.
Menurut Alam dan Hadibroto (2007)
tingkat infertilitas wanita berbeda-beda
ter gan tung d ar i k elompo k us ia.
Kelompok yang paling subur adalah
pada usia 20-29 tahun dengan tingkat
90% subur, atau hanya 10% pasangan
yang tidak subur. Setelah itu, pada usia
30-34 tahun angka ketidaksuburan naik
men j adi 1 4 %, us i a 35- 3 9 t ah u n
meningkat lagi menjadi 20%, dan usia
40-44 tahun menjadi 25%.
Desmita (2005) mengatakan
semakin lama usia pernikahan, maka
usia seseorang pun semakin bertambah.
Begitu pula dengan tingkat kesuburan
yang dimiliki oleh pria dan wanita akan
semakin menurun. Wanita dewasa akan
mengalami menopouse sekitar usia 50
tahun ke atas, sehingga apabila seorang
wanita belum merasakan dirinya
melahirkan, ada suatu perasaan yang
kurang bagi dirinya sebagai seorang
wanita.
gambaran kecemasan pada pasangan
menikah yang belum memiliki
keturunan, dan hal-hal yang
menyebabkan kecemasan pada subjek.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin diperoleh dari
penelitian :
1. Manfaat Teoritis
Dalam penelitian ini diharapkan dapat
memberi masukan khususnya bagi ilmu
pengetahuan berkaitan dengan masalah
kecemasan pada pasangan menikah yang
belum memiliki keturunan.
2. Manfaat Praktis
Penelitian
ini
diharapkan dapat
memberikan masukan kepada pasangan
menikah yang belum memiliki keturunan
agar lebih memahami masalah yang
sedang dialaminya sehingga dapat
menemukan jalan keluarnya. Dan untuk
pasangan yang akan menikah agar dapat
memberikan masukan tentang ilmu
pengetahuan sehingga dapat
mengantisipasi serta mempermudah
dalam mendapatkan keturunan.
TINJAUAN PUSTAKA
Kecemasan
Secara etimologis, kecemasan berasal
dari bahasa latin : angustus yang berarti
sempit, mampat, sesak serta ango dan
anxi yang berarti tercekik, terikat,
tersumbat. Pengertian secara etimologis
ini merupakan penggambaran keadaan
individu yang mengalami kecemasan
yaitu tercekik, sesak dan mampat (Stern,
1964). Menurut kamus psikologi,
kecemasan (anxiety) adalah 1) Perasaan
campuran berisikan ketakutan dan
keprihatinan mengenai masa-masa
mendatang tanpa sebab khusus untuk
ketakutan tersebut. 2) Rasa takut atau
kekhawatiran kronis pada tingkat ringan.
Berdasarkan gambaran penelitian
di atas penelitian ini dilakukan untuk
dapat mengetahui secara mendalam
tentang gambaran kecemasan pada
pasangan menikah yang belum memiliki
keturunan.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui
3
3) Kekhawatiran atau ketakutan yang
kuat dan meluap-luap.
Kecemasan menurut Ramaiah
(2003) adalah sesuatu yang menimpa
hampir setiap orang pada waktu tertentu
dalam kehidupannya. Kecemasan
merupakan reaksi normal terhadap
situasi yang sangat menekan kehidupan
seseorang. Sedangkan menurut Atwater
(1983) kecemasan adalah sebagai suatu
perasaan yang tidak jelas, tersamar dan
tidak nyaman, mengenai suatu bahaya
yang akan segera datang.
Dorongan untuk mencapai sesuatu
seperti menghindari situasi tegang
dan ingin melar ikan dir i d ar i
kenyataan.
d. Perilaku gelisah
Keadaan yang tidak terkendali seperti
gugup, kewaspadaan yang berlebihan
dan sangat sensitif.
e. Reaksi biologis
Keadaan seperti keringat, gemetar,
pusing dan berdebar-debar.
Faktor-faktorYangMempengaruhiKecemasan
Dari berbagai definisi kecemasan
d i atas , p en ulis m emb uat s u atu
kesimpulan mengenai kecemasan yaitu
suatu pengalaman subjektif mengenai
ketegangan-ketegangan mental yang
menggelisahkan sebagai reaksi umum
dan tidak adanya rasa aman. Kecemasan
merupakan suatu reaksi normal terhadap
situasi yang sangat menekan kehidupan
seseorang, biasanya berupa gangguan
perasaan (affective) yang ditandai
dengan perasaan ketakutan atau
kekhawatiran yang mendalam dan
berkelanjutan, kepribadian masih tetap
utuh, perilaku dapat terganggu tetapi
masih dalam batas normal.
Menurut Ramaiah (2003) ada
empat faktor utama yang mempengaruhi
rasa cemas yaitu :
a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat
tinggal mempengaruhi cara berpikir
tentang diri seseorang dan orang lain.
b. Emosi yang ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika seseorang
tidak mampu menemukan jalan
keluar untuk perasaan seseorang
dalam hubungan personal.
c. Sebab-sebab Fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa saling
berinteraksi dan dapat menyebabkan
timbulnya kecemasan.
d. Keturunan
Sekalipun gangguan emosi yang
ditemukan dalam keluarga-keluarga
tertentu, ini bukan merupakan
penyebab penting dari kecemasan.
Gejala-gejala Kecemasan
Menurut
Blackburn
dan
Davidson (1990) ada beberapa gejala
kecemasan adalah sebagai berikut :
a. Suasana hati
Keadaan
yang
menunjukkan
ketidaktenangan seperti mudah
marah, perasaan sangat tegang dan
lain-lain.
b. Pikiran
Keadaan pikiran yang tidak menentu
seperti khawatir, sukar konsentrasi,
pikiran kosong, sensitif dan merasa
tidak berdaya.
c. Motivasi
Dampak-dampak Kecemasan
Adapun menurut Haggin (dalam
Haryono, 2000) ada beberapa dampak
cemas antara lain, yaitu:
a. Penyakit cemas dapat memecah-belah
perasaan, karena itu emosinya tidak
stabil.
b. Kecemasan dapat memecah-belah
pengertian, karena itu keyakinankeyakinan dangkal dan berubah-ubah.
4
b. Untuk memenuhi kebutuhan secara
ekonomis seperti untuk memperoleh
keamanan finansial.
c. Kecemasan dapat memecah-belah
kesanggupan untuk melihat, karena
itu menjadi salah persepsi.
d.Kecemasan memecah-belah kecakapan
untuk menilai, karena itu sikap dan
keputusan seringkali tidak adil.
c. Untuk memenuhi kebutuhan secara
psikologis seperti untuk memperoleh
keintiman (intimacy), kasih sayang,
dukungan dari pasangan hidup
perasaan saling menghargai dan
saling melengkapi, ketergantungan,
kebahagiaan juga kepuasan dan
kebermaknaan hidup.
Perkawinan
Secara bahasa menikah adalah
penggabungan atau pencampuran antara
pria dan wanita. Sedangkan secara istilah
nikah adalah akad antara pihak pria
dengan wali wanita sehingga hubungan
badan antara kedua pasangan pria dan
wanita menjadi halal. Perkawinan
merupakan satu-satunya sarana yang sah
untuk membangun sebuah rumah tangga
dan melahirkan keturunan, sejalan
dengan fitrah manusia. (Indra dkk,
2004).
Infertilitas
Menurut Alam dan Hadibroto
(2007) kesuburan atau fertilitas (fertility)
adalah kondisi yang memungkinkan
terjadinya kehamilan pada seorang
wanita, sebagai hasil dari hubungan seks
dengan seorang pria. Adapun infertilitas
adalah kegagalan pasangan untuk
mendapatkan kehamilan dalam waktu
satu tahun atau lebih dalam pernikahan
mereka tanpa menggunakan alat
k ontr as eps i. P an gkahila ( 200 1)
infertilitas adalah pasangan suami istri
yang telah melakukan hubungan seksual
secara teratur tanpa alat kontrasepsi
selama satu tahun tetapi belum mampu
hamil dan melahirkan bayi hidup.
Me n u r u t Ma n u a b a ( 1 9 9 8)
pasangan infertilitas adalah pasangan
yang telah menikah selama satu tahun
dengan kehidupan keluarga harmonis
tetapi belum dikaruniai keturunan atau
hamil. Sugiharto (2007) infertilitas
adalah kek urangmampuan suatu
pasangan untuk menghasilkan
keturunan.
Berdasarkan definisi-definisi di
atas dapat disimpulkan bahwa infertilitas
adalah pasangan yang sudah menikah
selama satu tahun tanpa menggunakan
alat kontrasepsi.
Duval dan Miller (2001) perkawinan
adalah suatu hubungan yang diakui
secara sosial antara pria dan wanita yang
mensahkan hubungan seksual dan
adanya kesempatan mendapatkan
keturunan.
Dari
berbagai
definisi
perkawinan di atas dapat disimpulkan
bahwa perkawinan merupakan suatu
ikatan lahir bathin antara seorang pria
dan wanita yang diakui secara sosial dan
mensahkan hubungan seksual agar
mendapatkan keturunan sesuai dengan
ketentuan hukum dan agama.
Tujuan-tujuan Perkawinan
Ada beberapa hal yang bisa menjadi
tujuan utama seseorang untuk
melakukan perkawinan, Atwater (1983)
antara lain :
a. Untuk memenuhi kebutuhan secara
fisiologis seperti untuk memiliki
keturunan serta memenuhi kebutuhan
seksual.
5
c. Lingkungan :
Baik fisik, khemis maupun biologis
(panas, radiasi, rokok, narkotik,
alkohol, infeksi dan sebagainya).
c. Gizi dan nutrisi :
Terutama kekurangan protein dan
vitamin tertentu.
Jenis-jenis Infertilitas
Jenis-jenis infertilitas terbagi
menjadi tiga yaitu :
a. Infertilitas primer :
Jika istri belum berhasil hamil
walaupun bersenggama teratur dan
dihadapkan kepada kemungkinan
kehamilan selama 12 bulan berturutturut (Jacoeb, 1993 ; Widyandana,
2007).
d. Stress psikis :
Mengganggu
siklus
haid,
menurunkan libido dan kualitas
spermatozoa.
b. Infertilitas sekunder :
Jika istri pernah hamil akan tetapi
ti d a k b er h as il l ag i w al a u p u n
bersenggama teratur dan dihadapkan
kepada kemungkinan kehamilan
selama 12 bulan berturut-turut
(Jacoeb, 1993 ; Widyandana, 2007).
Adapun beberapa penyebab yang
perlu diperhatikan (Alam dan Hadibroto,
2007) yaitu :
a. Penyakit menahun, terutama kelainan
hormonal dan infeksi yang cukup
parah,
dapat
mempengaruhi
kesuburan.
b. Kurang seringnya berhubungan seks,
pada hubungan seks yang dilakukan
kurang dari tiga kali seminggu,
sperma kurang mendapat kesempatan
untuk bertemu sel telur didalam
saluran telur.
c. Gangguan pada alat reproduksi.
b. Infertilitas idiopatik atau tidak
terjelaskan :
Bentuk infertilitas yang setelah
pemeriksaan lengkap kedua pasangan
dinyatakan normal dan ditangani
selama 2 tahun tidak juga berhasil
hamil (Jacoeb, 1993).
Faktor-faktor Penyebab Infertilitas
Upaya untuk mencegah Infertilitas
Menurut Sugiharto (2007) faktor
penyebab infertilitas ada 5 yaitu :
Menurut Alam dan Hadibroto
(2007) upaya untuk mencegah
infertilitas yaitu :
a. Usia :
Untuk pria puncak kesuburan adalah
usia 24-25 tahun dan 21-24 tahun
untuk wanita, sebelum usia tersebut
kesuburan belum benar matang dan
setelahnya berangsur menurun.
a. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan wanita
a)Pemeriksaan vagina
b)
Pemeriksaan leher
rahim
2. Pemeriksaan pria
b. Frekuensi hubungan seksual :
Misalnya pasangan yang suaminya
bekerja sebagai pelaut dan berlayar
selama berbulan-bulan, belum dapat
dikatakan infertilitas bila istrinya
tidak hamil dalam kurun waktu 1
tahun.
Mengamati
kelainan
fisik,
penyebaran rambut dan lemak
yang tidak rata atau konsistensi
testis, bisa menjadi tanda akibat
ketidakseimbangan hormoral.
6
Ovulasi disertai dengan kenaikan
suhu tubuh dan ini dapat dipantau
untuk mengetahui terjadinya
ovulasi atau tidak. Tanda ovulasi
adalah apabila terjadi sedikit
k e n a i k a n s u h u t u b u h p ad a
pertengahan siklus haid.
2. Pemeriksaan hormonal merupakan
penyebab infertil yang banyak
ditemukan pada wanita.
b. Infertilitas yang tidak diketahui
penyebabnya merupakan masalah
bermakna karena meliputi 20%
penderita,
penanggulangannya
dengan cara pemberian beberapa
macam obat yang dari pengalaman
berhasil menaikkan jumlah dan
kualitas sperma.
c. Adanya penyumbatan disaluran
sperma hanya dapat dipastikan
dengan operasi.
3. Pemeriksaan kondisi indung telur
d. Sesuai dengan kelainan y ang
ditemukan maka penyebab lain bisa
di atasi dengan koreksi hormonal dan
penghentian obat-obatan yang diduga
menyebabkan gangguan sperma.
c. Pemeriksaan Kesuburan Pria
Hitung sperma (sperm count), cairan
semen yang akan diperiksa
dikumpulkan dalam botol plastik
diambil setelah tiga hari tidak
berhubungan seks. Cairan semen
yang normal harus terkumpul dalam
jumlah yang cukup (3ml),
mengandung sperma lebih dari 20
juta per ml (dapat dilihat di bawah
mikroskrop) dan sebagian besar
(lebih dari 60%) harus dalam keadaan
aktif dan selalu bergerak.
Kecemasan Pada Pasangan Menikah
Yang Belum Memiliki Keturunan
Menikah secara bahasa adalah
penggabungan atau pencampuran antara
pria dan wanita. Sedangkan secara istilah
menikah adalah akad antara pihak pria
dengan wali wanita sehingga hubungan
badan antara kedua pasangan pria dan
wanita menjadi halal. Perkawinan
merupakan satu-satunya sarana yang sah
untuk membangun sebuah rumah tangga
dan melahirkan keturunan, sejalan
dengan fitrah manusia (Indra dkk, 2004).
Perkawinan dapat dikatakan sebagai
suatu perjanjian pertalian antara pria dan
wanita yang berisi persetujuan hubungan
dengan maksud bersama-sama sesuai
dengan hukum dan agama dan juga
merupakan pintu gerbang kehidupan
yang wajar atau biasa dilalui oleh setiap
individu (Latif, 2001).
d. Pemeriksaan Kesuburan Pasangan
Tes pasca-sanggama, tes ini sangat
sederhana tetapi bermanfaat untuk
melihat apakah lendir rahim bersifat
melawan sperma atau tidak dilakukan
pemeriksaan sesudah hubungan seks
pada saat mendekati ovulasi.
Upaya
untuk
Infertilitas
menanggulangi
Menurut
Taher
(2007)
penanggulangan infertilitas sebagai
berikut, yaitu :
Kecemasan berasal dari bahasa
latin : angustus yang berarti sempit,
a. Varikokel, tindakan yang saat ini
dianggap paling tepat adalah dengan
7
mampat, sesak serta ango dan anxi yang
berarti tercekik, terikat, tersumbat.
Pengertian secara etimologis merupakan
penggambaran keadaan individu yang
mengalami kecemasan yaitu tercekik,
sesak dan mampat (Stern, 1964). Setiap
individu pasti pernah merasakan cemas,
kecemasan adalah sebagai suatu
perasaan yang tidak jelas, tersamar dan
tidak nyaman, mengenai suatu bahaya
yang akan segera datang (Atwater,
1983). Penyebab terjadinya kecemasan
timbul karena beberapa faktor yaitu dari
lingkungan, emosi ditekan, sebab-sebab
fisik dan keturunan (Ramaiah, 2003).
memberikan harapan baru dalam usaha
untuk mendapatkan keturunan yaitu
pemeriksaan riwayat medis, pengobatan
secara rutin, berkeinginan yang besar
untuk memiliki keturunan, mengadopsi
sebagai usaha terakhir (Alam dan
Hadibroto, 2007). Kalau usaha gagal,
maka sebaiknya pasangan suami istri
dapat menerima kehidupan tanpa anak
dan menjalaninya dengan persepsi baru
sebagai keluarga modern pada umumnya
dengan demikian semua beban
psikologis pun hilang dan juga bahagia.
Anak begitu berharga sebagai
pengikat keutuhan rumah tangga,
meskipun kenyataannya banyak juga
pasangan dengan banyak anak bercerai.
Kehadiran seorang anak juga membuat
pasangan suami istri memiliki
keterkaitan dan tanggung jawab untuk
membesarkan, merawat dan mencintai
bersama-sama. Jadi, kehadiran anak
secara tidak langsung akan semakin
mendekatkan pasangan suami istri
(Widarjono, 2007). Menurut Alam dan
Hadibroto (2007) pasangan suami istri
dianggap tidak subur apabila selama
setahun berhubungan seks secara normal
t a n p a k o n t r as ep s i t i d ak t er j a d i
kehamilan.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan
penelitian studi kasus. Studi kasus
merupakan salah satu metode penelitian
dalam penelitian kualitatif.
Menurut Suryabrata (2004) studi
kasus adalah penelitian mendalam
mengenai unit sosial tertentu yang
hasilnya merupakan gambaran yang
lengkap dan terorganisir baik mengenai
unit tersebut. Tujuan dari studi kasus
adalah mempelajari secara intensif
tentang latar belakang keadaan sekarang,
dan interaksi lingkungan suatu unit
sosial seperti individu, kelompok,
lembaga atau masyarakat. Sedangkan
menurut Yin (2005) studi kasus adalah
suatu inkuiri empiris yang menyelidiki
fenomena di dalam konteks kehidupan
nyata dimana batas-batas antara
fenomena dan konteks tidak tampak
dengan tegas, dan dimana multisumber
bukti dimanfaatkan. Melalui pendekatan
studi kasus, peneliti dapat memperoleh
pemahaman utuh dan terintegrasi
mengenai interelasi fakta dan dimensi
dari kasus khusus tersebut.
Kecemasan pada pasangan
menikah yang belum memiliki keturunan
s an g at ber per an dalam mas al ah
kehidupan selanjutnya. Masalah lain
yang menghambat pasangan yang ingin
m en d ap at k a n k et u r u n an ad al a h
keguguran, kehamilan diluar rahim dan
kelainan plasenta yang membuat janin
sulit bertahan hidup. Yang juga dapat
membuyarkan harapan mendapatkan
keturunan adalah ketakutan orang tua
mendapatkan bayi cacat. Dengan
pesatnya perkembangan ilmu reproduksi
manusia sejak lahir 1970-an telah
8
subjek penelitian dengan bertanya
kepada beberapa orang di
lingkungan sekitar dan meminta
bantuan kepada teman untuk
membantu mencari subjek
penelitian yang sesuai dengan
karakteristik subjek, peneliti
memperoleh satu subjek penelitian
yang sesuai dengan karakteristik
subjek. Kemudian, p en eliti
mencari tahu dan bersama-sama
menentukan waktu dan tempat
wawancara.
Subjek Penelitian
1. Karakter Subjek
Pada penelitian ini, peneliti
memberikan
batasan-batasan
mengenai
karakteristik
subjek
penelitian adalah sebagai berikut :
Subjek adalah pasangan suami istri
yang usia pernikahannya lebih dari
10 tahun yang belum memiliki
keturunan.
2. Jumlah Subjek
Patton (dalam Poerwandari,
2001) mengatakan bahwa salah satu
p e r b e d a a n a n t ar a p e n e l i t i an
kuantitatif dan kualitatif sangat jelas
terlihat pada cara pengambilan
sampel. Suatu penelitian kualitatif
dapat saja meneliti secara mendalam
kasus tunggal yang dipilih secara
purposif. Informasi mendalam dari
sejumlah kecil subjek akan sangat
berarti terutama pada kasus yang
kaya informasi. Oleh karena itu
peneliti menggunakan satu orang
subjek penelitian yang sesuai dengan
karakteristik subjek di atas.
b. Tahap Persiapan Alat bantu
Pengumpulan Data
Setelah menentukan waktu dan
tempat wawancara, maka peneliti
mempersiapkan segala keperluan
yang dibutuhkan untuk
memperlancar proses penelitian.
Keperluan yang dibutuhkan antara
lain adalah pedoman wawancara,
pedoman observasi serta alat
perekam atau tape recorder.
2. Tahap Pelaksanaan
Peneliti mulai melakukan
wawancara pada tempat dan waktu
yang sudah disepakati bersama
dengan subjek berdasarkan pedoman
wawancara. Selain merekam semua
jawaban dengan alat perekam,
peneliti juga mencatat hasil observasi
pada lembar pedoman observasi yang
telah disiapkan. Hasil rekaman
wawancara (verbatim). Lalu peneliti
m el a k u k a n a n a l i s i s d a t a d a n
di l a n ju t k an d e n g a n m em b u a t
kesimpulan serta saran.
Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap dalam penelitian ini
meliputi dua tahap, yaitu sebagai
berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dibagi menjadi dua
bagian, yaitu :
a. Tahap Pemilihan Subjek Penelitian
Pada tahap ini peneliti mencari
beberapa orang subjek yang
bersedia diwawancarai. Dalam
mencari subjek penelitian ini,
peneliti tetap berpegang pada
karakteristik subjek yang telah
ditentukan. Peneliti mencoba
mencari informasi mengenai
Teknik Pengumpulan data
Dalam proses pengumpulan data
pada penelitian studi kasus dapat di
dasarkan atas enam bukti (data) yaitu :
dokumen, rekaman arsip, wawancara,
9
pengamatan
langsung,
observasi
partisipan, dan perangkat fisik (dalam
Yin, 2005). Menurut Poerwandari (2001)
metode dasar yang umumnya banyak
dipakai dan dilibatkan dalam tipe-tipe
penelitian kualitatif adalah observasi dan
wawancara. Maka dalam penelitian ini,
peneliti akan menggunakan teknik
wawancara sebagai metode utama dan
observasi sebagai metode pelengkap.
1. Wawancara
Menurut
Moleong
(2005)
wawancara adalah percakapan
dengan maksud tertentu, percakapan
tertentu itu dilakukan oleh dua pihak,
yaitu pewawancara (interview) yang
mengajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan
itu. Banister dkk (dalam Poerwandari,
2001) wawancara kualitatif dilakukan
apabila peneliti bermaksud untuk
memperoleh pengetahuan tentang
m ak n a- ma k n a s ub j ekt if y an g
dipahami individu berkenaan dengan
topik yang diteliti dan bermaksud
melakukan eksplorasi terhadap isu
tersebut, suatu hal yang tidak dapat
dilakukan melalui pendekatan lain.
Wawancar a dapat mengambil
beberapa bentuk, yang paling umum
wawancara studi kasus bertipe open
ended, dimana peneliti dapat bertanya
kepada responden kunci tentang
fakta-fakta suatu peristiwa disamping
opini mereka mengenai peristiwa
yang ada (dalam Yin, 2005).
spontan dalam interaksi alamiah.
Tipe wawancara ini umumnya
dilakukan peneliti yang
melakukan observasi partisipasif.
Dalam situasi demikian, orang
yang diajak berbicara mungkin
tidak menyadari bahwa ia sedang
diwawancara secara sistematis
untuk menggali data.
b. Wawancara dengan pedoman
khusus yaitu dalam proses
wawancara
ini,
peneliti
dilengkapi pedoman wawancara
yang sangat umum yang
mencantumkan isu-isu yang
harus diliput tanpa menentukan
urutan pertanyaan. Wawancara
dengan pedoman sangat umum
dapat berbentuk wawancara
terfokus, yakni wawancara yang
mengarahkan pembicaraan pada
hal-hal tertentu dari kehidupan
subjek.
c. Wawancara dengan pedoman
terstandar yang terbuka yaitu
pedoman wawancara ditulis
secara rinci, lengkap dengan set
pertanyaan dan penjabarannya
dalam kalimat. Bentuk ini akan
efektif dilakukan bila peneliti
melibatkan banyak pewawancara,
sehingga
peneliti
perlu
mengadministrasikan
upayaupaya
tertentu
untuk
meminimalkan variasi, sekaligus
mengambil
langkah-langkah
menyeragamkan
pendekatanpendekatan terhadap responden.
Patton (dalam Poerwandari,
2001) membedakan dasar dalam
memperoleh data kualitatif melalui
wawancara, yaitu :
Peneliti memilih menggunakan
jenis wawancara dengan pedoman
khusus untuk memenuhi keperluan
penelitian ini. Peneliti memilih jenis
wawancara ini, karena wawancara ini
dilengkapi dengan pedoman yang sangat
umum dan dapat mengarahkan
a. Wawancara Informal yaitu proses
wawancara didasarkan
sepenuhnya pada berkembang
pertanyaan-pertanyaan secara
10
pembicaraan pada hal-hal tertentu dari
kehidupan subjek.
penelitian secara terbuka dalam
wawancara.
e. Jawaban terhadap pertanyaan akan
diwarnai oleh persepsi selektif
individu yang diwawancara.
Observasi memungkinkan peneliti
bergerak lebih jauh dari persepsi
selektif yang ditampilkan subjek
penelitian atau pihak-pihak lain.
2. Observasi
Untuk
menambah
dan
memperkaya data-data yang didapat
dari hasil wawancara, peneliti juga
menggunakan teknik observasi.
Patton (dalam Poerwandari, 2001)
menegask an bahwa obs er v as i
merupakan metode pengumpulan
data esensial dalam penelitian.
Observasi sendiri bertujuan untuk
mend eskripsikan setting yang
dipelajari,
aktivitas
yang
berlangsung,
orang-orang
yang
terlibat dalam aktivitas dan makna
kejadian dilihat dari perspektif
mereka yang terlibat dalam kejadian
y a n g d i a m a t i . P at t o n ( d a l a m
Poerwandari, 2001) mengatakan
bahwa data hasil observasi menjadi
data penting karena :
Menurut Riyanto (2001) terdapat
jenis-jenis observasi diantaranya :
1. Observasi non partisipan
Observasi non partisipan adalah
dimana seorang observer tidak ikut
terlibat dalam kegiatan observasi.
2. Observasi partisipan
Observasi
partisipan
adalah
dimana seorang observer terlibat
dalam observasi. Bentuk observasi
ini pada dasarnya muncul sebagai
usaha untuk mengatasi kelemahan
observasi non partisipan.
a. Peneliti
akan
mendapatkan
pemahaman lebih baik tentang
konteks dimana hal yang diteliti
ada atau terjadi.
b. Observasi memungkinkan peneliti
untuk
bersikap
terbuka,
berorientasi pada penemuan dari
pada
pembuktian,
dan
mempertahankan pilihan untuk
mendekati masalah secara induktif.
c. Mengingat individu yang telah
sepenuhnya terlibat dalam konteks
hidupnya
sering
mengalami
kesulitan merefleksikan pemikiran
mereka tentang pengalamannya,
observasi memungkinkan peneliti
melihat hal-hal yang oleh subjek
penelitian sendiri kurang disadari.
d. Observasi memungkinkan peneliti
memperoleh data tentang hal-hal
yang karena berbagai sebab
diungkapkan
oleh
subjek
3. Observasi sistematik
Observasi
sistematik
adalah
observasi yang menggunakan
pedoman tujuan. Pedoman ini akan
membatasi pokok masalah yang
diamati, yaitu pada kegiatankegiatan yang relevan dengan
masalah penelitian.
4. Observasi non sistematik
Observasi non sistematik adalah
observasi yang dilakukan oleh
pengamat
dengan
tidak
menggunakan
instrument
pengamatan.
5. Observasi eksperimental
Observasi eksperimental adalah
observasi yang dilakukan dengan
cara observer dimaksukkan ke
dalam suatu kondisi tertentu.
11
b. Pemeriksaan Kesuburan Wanitaoperasi berupa pengikatan pembuluh
1. Grafik suhudarah yang melebar (varikokel)
tersebut.
Jenis observasi yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah Observasi
non partisipan adalah dimana seorang
observer tidak ikut terlibat dalam
kegiatan observasi.
pada penelitian kuantitatif. Studi kasus
sebagai salah satu jenis penelitian dalam
pendekatan kualitatif menggunakan
istilah Kredibilitas untuk menggantikan
konsep validitas, dimaksudkan untuk
merangkum bahasan menyangkut
kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas
studi kualitatif terletak pada keberhasilan
mencapai maksud mengeksplorasi
masalah atau mendeskripsikan setting,
proses, kelompok sosial atau pola
interaksi yang kompleks. Deskripsi
mendalam yang menjelaskan
kemajemukkan (kompleksitas) aspekaspek yang terkait (dalam bahasa yunani
= Variabel) dan interaksi dari berbagai
aspek menjadi salah satu ukuran
kredibilitas penelitian kualitatif. Konsep
kredibilitas juga harus mampu
mendemonstrasikan bahwa untuk
memotret kompleksitas hubungan antara
aspek tersebut, penelitian dilakukan
dengan cara tertentu yang menjamin
bahwa subjek penelitian di identifikasi
dan dideskripsikan secara akurat (dalam
Poerwandari, 2001).
Alat Bantu Penelitian
Dalam pengumpulan data-data
yang diperlukan, peneliti menggunakan
beberapa alat bantu. Peneliti
menggunakan alat bantu, antara lain
adalah :
1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ini disusun
berdasarkan pertanyaan peneliti
mengenai kecemasan pada pasangan
menikah yang belum memiliki
keturunan.
2. Pedoman Observasi
Pedoman observasi ini digunakan
untuk melihat perilaku yang muncul
dalam diri subjek, bagaimana setting
fisik lingkungan dan aktivitasaktivitas yang berlangsung. Hasil
observasi ini digunakan sebagai
catatan lapangan bersifat deskriptif.
Dalam penelitian kualitatif juga dikenal
istilah Triangulasi. Menurut Moleong
(2005) triangulasi adalah tekhnik
pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar
data itu untuk keperluan pengecekan
atau sembanding terhadap data itu. Data
dari berbagai sumber berbeda dapat
digunakan untuk memperkaya penelitian
dan dengan memperoleh data dari
sumber berbeda dengan teknik
pengumpulan yang berbeda, kita akan
menguatkan derajat manfaat studi pada
setting berbeda.
3. Tape Recorder
Alat bantu ini merupakan alat yang
s a n g a t p en t i n g d al a m p r o s es
wawancara. Tape r ecorder ini
digunakan untuk merekam hasil
wawancara yang dilakukan terhadap
subjek. Dengan alat bantu ini, peneliti
dapat lebih berkonsentrasi pada
proses pengambilan data tanpa
terganggu dengan kegiatan lain.
Patton (dalam Poerwandari, 2001).
Menyatakan bahwa Triangulasi dapat
dibedakan dalam :
1. Triangulasi data, yaitu digunakannya
variasi sumber-sumber data yang
berbeda.
Keakuratan Penelitian
Konsep validitas dan reliabilitas
dalam penelitian studi kasus berbeda
dengan konsep validitas dan reliabilitas
12
2. Triangulasi peneliti,
yaitu
digunakannya beberapa peneliti atau
evaluator yang berbeda.
3. Triangulasi teori, yaitu digunakannya
beberapa perspektif yang berbeda
untuk menginterprestasikan data
yang sama.
4. Triangulasi metodologis,
yaitu
dipakainya beberapa metode yang
berbeda untuk meneliti suatu hal
yang sama.
verbatim dari data hasil wawancara,
peneliti lalu memberikan penomoran
disebelah kanan atau kiri transkip.
Pemberian nomor dapat dilakukan
secara urut dari satu baris ke baris lain
atau dilakukan pada tiap-tiap paragraf
(dalam Poerwandari, 2001). Peneliti
harus memilih nomor yang mudah di
ingat dan selalu menuliskan tanggal
ditiap berkas.
Menurut
Patton
(dalam
Poerwandari, 2001) bila diperlukan
peneliti dapat melakukan analisis antar
kasus. Pendekatan studi kasus dan
analisis antara kasus cukup sering
dibutuhkan pada suatu penelitian. Bila
berfokus pada kedalaman maka akan
lebih baik jika analisis antar kasus.
Dengan begitu peneliti akan
memperoleh gambaran yang lebih baik
dalam dan komprehensif tentang isu
yang diteliti.
Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan beberapa triangulasi
seperti triangulasi data atau sumber yang
beras al d ari hasil observ asi dan
wawancara dari subjek dan significant
others. Triangulasi teori yang berasal
d ar i b eb er ap a su mb er te or i dan
triangulasi metodologis yang memakai
metode observasi dan wawancara.
PEMBAHASAN
Teknik Analisa Data
ini subjek 1 (suami) maupun subjek 2
(istri) sudah tidak mengalami
kecemasan. Hal ter seb ut dilihat
berdasarkan gejala-gejala kecemasan
yang di peroleh subjek, yaitu:
1) Fisik
Menurut Gunarsa dkk (1989)
gejala-gejala kecemasan dapat dilihat
d ar i g ej a l a f i s i k y a i tu : t er j a d i
peregangan pada otot-otot pundak, leher,
p er u t , t e r j a d i p er u b ah a n i r a m a
pernafasan, dan terjadi kontaksi otot
setempat seperti pada dagu, sekitar mata
serta rahang. Sedangkan menurut
Hawari (2001) pada individu yang
cemas, dapat pula disertai keluhan
somatik (fisik). Keluhan somatik (fisik)
Dalam melakukan analisis data
terdapat beberapa tahapan yang harus
dilakukan. Pengolahan dan analisis data
dimulai dengan mengorganisasikan data
dengan rapih, sistematis dan selengkap
mungkin. Higlen dan Finley (dalam
Poerwandari, 2001) mengatakan bahwa
organisasi data memungkinkan peneliti
untuk memperoleh kualitas data yang
baik, mendokumentasikan analisis yang
dilakukan, serta menyimpan data dan
analisis yang berkaitan dalam
penyelesaian penelitian.
Setelah
peneliti
selesai
mengorganisasikan data, maka langkah
s el a n j u t n y a a d a l a h m e l ak u k an
pengkodean atau koding. Proses koding
ini dimulai dengan menyusun transkip
Dari
hasil
observasi
dan
wawancara dengan subjek dan
significant other, di ketahui bahwa saat
13
b. Pemeriksaan Kesuburan Wanitaoperasi berupa pengikatan pembuluh
1. Grafik suhudarah yang melebar (varikokel)
tersebut.
yang sering di kemukan oleh seseorang
yang mengalami kecemasan antara lain,
pendengaran berdenging, berdebardebar, sesak nafas, gangguan
pencernaaan, sakit kepala dan lain-lain.
Pada awalnya situasi yang dapat
membuat kedua subjek merasa tidak
nyaman adalah ketika melihat orang lain
berjalan bersama anak-anaknya atau
ketika berada sendirian di rumah, jika
merasa cemas kedua subjek mulai
mer asa ka n t eg an g pa da s ek u jur
badannya, detak jantung meningkat serta
berkeringat lebih banyak, ketika subjek
dihadapkan pada kondisi yang
mengharuskan subjek menjawab
pertanyaan dari keluarga ataupun
saudara subjek tentang keadaan subjek,
subjek biasanya menghela nafas dalamdalam sebelum menjawab. Namun saat
ini kedua subjek dapat lebih rileks,
tenang menghadapi situasi-situasi seperti
ini karena keluarga subjek sudah
memahami keadaan subjek sekarang.
hingga saat ini kedua subjek tetap
berusaha untuk mendapatkan keturunan
dengan cara tetap memeriksakan diri ke
dokter.
Namun seiring berjalannya
waktu subjek 1 pada pernikahan yang
kedelapan pada tahun 1998 dan subjek 2
pada pernikahan yang kesembilan pada
tahun 1999 sudah tidak merasa cemas
dan sudah pasrah dengan kondisinya,
kedua subjek mendapatkan dukungan
dari keluarga dan keponakan-keponakan
yang memiliki hubungan yang sangat
dekat dengan dirinya. Pada akhirnya
kedua subjek tidak merasa kesepian dan
sendiri dalam menghadapi
permasalahannya. Kedua subjek merasa
senang dengan kehadiran keponakannya
yang selalu menghiburnya. Kedua
subjek masih tetap percaya serta
mempunyai motivasi yang tinggi
walaupun sudah tidak menggebu-gebu
dalam memperoleh keturunan.
3) Perilaku
Adapun menurut Conley (2003)
menjelaskan beberapa gejala umum yang
berkaitan dengan kecemasan adalah
kesulitan tidur (insomnia), kikuk
(canggung).
Berdasarkan hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa pada awalnya
kedua subjek merasa canggung, kikuk
bila bertemu dengan keluarga besarnya
tetapi kedua subjek dari awal menikah
tidak pernah menghindari bertemu
dengan keluarga ataupun orang-orang di
sekitarnya ketika mereka menanyakan
kondisi kedua subjek tentang keturunan.
Kedua subjek tetap berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan
harapan mereka dapat memaklumi
kondisinya. Waktu istirahat kedua
subjek dapat dikatakan kurang di
karenakan kedua subjek sering tidur
larut malam dan hal ini berlangsung
2) Psikis
Menurut Gunarsa dkk (1989),
gejala kecemasan dapat dilihat dari
keluhan psikis antara lain, yaitu :
perubahan emosi, menurunnya rasa
percaya diri, tiada motivasi. Sedangkan
menurut Blackburn dan Davidson (1990)
gejala kecemasan dapat dilihat dari
suasana hati, pikiran, motivasi, dan
gelisah.
Setelah 4 bulan menikah kedua
subjek memeriksakan diri ke dokter
karena subjek 2 (istri) belum
menunjukkan tanda-tanda kehamilan
sampai akhirnya kedua subjek
mendapatkan hasil dari dokter yang
menyatakan bahwa sperma subjek 1
(suami) tidak dapat bergerak dan cair
sedangkan subjek 2 (istri) normal, saat
itu kedua subjek merasa shock, sedih dan
merasa cemas dengan hasil pemeriksaan
tersebut. Akan tetapi dalam kurun waktu
14
menyebabkan
timbulnya
kecemasan. Berdasarkan hasil
penelitian bahwa kedua subjek
pernah mengalami sakit
gondokkan yang efeknya bisa
berpengaruh pada sperma
khususnya subjek 1. Ketika
k ed u a s u b j e k m el a k u k a n
hubungan
intim
tidak
merasakan hal yang
menimbulkan tidak nyaman
pada salah satu bagian tubuh
pasangannya, serta saling
mengerti jika kondisi badan
salah satu subjek sedang lelah
ataupun sakit, kedua subjek
tidak pernah memaksa untuk
melakukan hubungan intim.
S ebelum menikah s amp ai
setelah menikah berat badan
kedua subjek masih dalam batas
normal walaupun berat badan
keduanya bertambah tetapi
tidak mempengaruhi dalam
kehidupan intim kedua subjek.
Begitu pula ketika kedua subjek
merasa lelah setelah bekerja
seharian penuh kedua subjek
tidak merasakan cemas saat di
rumah.
d. Keturunan
Menurut hasil penelitian yang
di dapat, keluarga besar kedua
subjek tidak memiliki masalah
dalam memperoleh keturunan
bahkan dapat dikatakan lancar
baik orang tua maupun saudara
kedua subjek yang lain
meskipun ada seorang
keponakan subjek 1 (suami)
yang juga lama dalam
memperoleh keturunan tetapi
b uk a n kar en a me n g al a mi
masalah yang sama dengan
kedua subjek. Pada awalnya hal
ini membuat kedua subjek
setiap hari.
b. Faktor Kecemasan Pada Subjek
Secara umum kecemasan subjek di
pengaruhi oleh beberapa faktor
seperti yang di kemukakan oleh
Ramaiah (2003) antara lain, yaitu :
a. Lingkungan
Lingkungan atau tempat sekitar
mempengaruhi cara berfikir
tentang diri seseorang dan orang
lain. Berdasarkan hasil penelitian
dari lingkungan sekitar maupun
dari keluarga, awalnya yang sering
menanyakan tentang kondisi
keluarga kedua subjek yaitu
keluarga besar dan hal itu membuat
kedua subjek merasa cemas.
Namun saat ini orang-orang sekitar
dan keluarga kedua subjek sudah
dapat memaklumi kondisi kedua
subjek bahkan lebih banyak yang
memberikan saran terhadap kedua
subjek untuk berobat agar segera
memiliki keturunan.
b. Emosi Yang Ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika
seseorang tidak mampu
menemukan jalan keluar untuk
perasaan seseorang dalam
hubungan personal. Dari hasil
penelitian yang di dapatkan adalah
ketika kedua subjek merasa sedih,
kedua subjek cenderung menutupi
hal tersebut, kedua subjek tidak
ingin orang lain mengetahui
kesedihan yang dirasakan kedua
subjek karena tidak memiliki
k et u r u n an . C ar a m e n g at as i
kecemasan kedua subjek dengan
menyibukkan diri seperti
mengurusi rumah tangga, bekerja,
baca buku dan bertemu dengan
keponakan.
c. Sebab-sebab Fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa
saling berinteraksi dan dapat
15
b. Pemeriksaan Kesuburan Wanitaoperasi berupa pengikatan pembuluh
1. Grafik suhudarah yang melebar (varikokel)
tersebut.
merasa cemas karena belum
memiliki keturunan tetapi
kedua subjek saat ini sudah
tidak merasa cemas bahkan
turut berbahagia bila ada
keluarganya yang memperolah
keturunan. Dengan adanya
keponakan, kedua subjek tidak
merasa kesepian karena kedua
subjek ikut membantu merawat
dan men j ag a k ep o na ka nkeponakannya ketika
berkunjung ke rumah kedua
subjek.
keadaannya
keturunan.
yang
belum
memiliki
Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian,
maka saran yang dianjurkan, antara lain :
1. Bagi subjek
Kedua
subjek
dapat
lebih
meningkatkan kualitas hubungan
s u a mi i s t r i s e r t a m en am b ah
informasi dan wawasan dalam
mengatasi setiap kesulitan yang
dihadapi kedua subjek dengan
berpikir positif.
2. Bagi pasangan menikah dan yang
akan menikah
a. Bagi pasangan yang akan
menikah sebaiknya melakukan
pemeriksaan infertilitas terlebih
dahulu
supaya
dapat
mengantisipasi
serta
mempermudah
dalam
memperoleh keturunan.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa gambaran
kecemasan yang dialami kedua subjek
hanya terjadi pada awal-awal usia
p er nik ah an s a mp ai d en g an u sia
pernikahan yang ke sembilan tahun.
Gambaran kecemasan yang muncul di
antaranya gejala fisik, psikis, dan
perilaku.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi kecemasan kedua subjek
di antaranya emosi, dimana kedua subjek
men utupi per asaan yang sedang
dialaminya agar tidak diketahui oleh
orang lain. Lingkungan, keluarga besar
d a n o r a n g - o r an g s e k i t a r s e l al u
menanyakan tentang kondisi kedua
subjek dan hal ini menimbulkan
kecemasan dalam diri kedua subjek,
dimana kedua subjek akan merasa
kurang nyaman bila bertemu dengan
keluarga dan orang sekitar kedua subjek.
Saat ini pada usia pernikahan
yang ke 18 tahun kedua subjek sudah
tidak mengalami gejala-gejala
kecemasan. Hal tersebut karena kedua
subjek sudah merasa pasrah dengan
b. Bagi pasangan yang sudah
menikah
yang
belum
mendapatkan keturunan agar
dapat menyikapi hal tersebut
dengan berpikir positif serta
menambah wawasan agar dapat
mengatasi permasalahan tersebut.
c. A g a r me r ek a y a n g b el u m
mendapatkan keturunan dapat
terlebih
dahulu
menerima
keadaannya, tapi sambil terus
berusaha memperbaiki diri dan
meningkatkan potensi untuk
memperoleh keturunan. Selain
itu di sarankan untuk bergabung
dengan kelompok yang memiliki
masalah yang sama sehingga
dapat saling membantu antar
pasangan yang belum memiliki
keturunan untuk menemukan
dunia lain yang sebelumnya tidak
terbayangkan, karena standar
16
nilai masyarakat harus
mempunyai keturunan. Namun
bisa juga dengan mendengar
cerita sukses perjuangan
mendapatkan keturunan dapat
membangkitkan semangat bagi
para pasangan yang belum
m em il i k i k e t u r u n a n u n t u k
berusaha lagi dan menerima
kenyataan kalau tidak berhasil.
Pahami bahwa tidak semua usaha
itu harus berakhir dengan sukses
dan gagal pun suatu akhir yang
mempunyai makna tersendiri.
Bazaid, A. ; Jacoeb, T. ; Surjana, E. &
Alkaff, Z. (1993).
Endokrinologi ginekologi.
Edisi I. Jakarta: Kelompok
Studi
Endokrinologi
Reproduksi
Indonesia
(KSERI).
Blackburn & Davidson. (1990). Terapi
kognitif untuk depresi dan
kecemasan suatu petunjuk
bagi praktisi. Alih bahasa:
Rusda Koto Sutadi.
Semarang: IKIP Semarang.
Budiman, L. Ch. (2000). Gonjangganjing perkawinan .
Jakarta: PT. Kompas Media
Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
Abud, A.G. (2004). Keluarga surgaku.
Jakarta: Hikmah.
Burgwyn, D. (1981). Marriage without
children. New York: MC.
Graw-Hill.
Alam, S. & Hadibroto, I. (2007). Infertil.
Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Chaplin. J. P. (2000). Kamus lengkap
psikologi. Alih bahasa :
Kartini Kartono. Jakarta:
Rajawali Press.
Amini, I. (2004). Hak-hak suami dan
istri. Bogor: Cahaya.
Anjoso, S. (1996). Persiapan menuju
perkawinan yang lestari.
Jakarta: Pustaka Antara.
Atwater, E. (1983). Psychology of
adjusment (2 nd. ed).
Englewood Cliff, New
York: Prentice Hall. Inc
Conley.
(2003).
Gejala-gejala
kecemasan.http://www.Yak
ita.or.id/kecemasan.htm.
Desmita.
(2005).
Psikologi
perkembangan. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Dinkmeyer, D. & Mckay,
How you feel is
The power of
choice. Alih
Emanuel.
Grasindo.
Atkinson, R. L. ; Atkinson, R. C ; &
Hilgard, E. R. (1999).
Pengantar psikologi. Jilid 2
edisi 8 . Alih bahasa:
Nurdjannah Taufiq. Jakarta:
Erlangga.
G. (2005).
up to you :
emotional
bahasa:
Jakarta:
Gunarsa, S. D. ; Satiadarma, M. P. ; &
Soekasah, M. H. R. (1989).
Psikologi olahraga .
17
b. Pemeriksaan Kesuburan Wanitaoperasi berupa pengikatan pembuluh
1. Grafik suhudarah yang melebar (varikokel)
tersebut.
Jakarta: PT. BPK. Gunung
Mulia.
Mansur, M. A. (2004). Mendidik anak
sejak dalam kandungan.
Yogyakarta : Mitra
Pustaka.
Hadiwidjaja & Hermanto. (2002).
An al i s i s s p e r m a p a d a
infertilitas pria. http://www.
tempo.co.id/medika/arsip/1
02002/pus-3.htm.
Manuaba, I. B. (1998). Ilmu kebidanan .
Penyakit kandungan dan
keluarga berencana untuk
pendidikan bidan. Jakarta :
Buku Kedokteraan EGC.
Hall, C. S. (2000). Libido kekuasaan
Sigmund Freud . Alih
bahasa : S. Tasrif.
Yogyakarta : Tarawang.
Marhiyanto, B. (1987). Psikologi ringan
. Cemas mempengaruhi
ketenangan jiwa .
Lamongan : CV. Bintang
Pelajar.
Haryono, R. (2000). Mengatasi rasa
cemas. Surabaya : PT.
Putra Pelajar.
Mulia, S. M. (2007). Islam menggugat
poligami. Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Agama
Hawari, D. (2001). Manajemen stress,
cemas dan depresi. Jakarta:
Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Munandar, U. (2001). Bunga rampai .
Psikologi perkembangan
dari bayi sampai lanjut
usia. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Indra, H. ; Ahza, I & Husnaini. (2004).
Potret wanita sholehah.
Jakarta : Penamadani.
Indrawan. (2007). Kamus lengkap
Bahasa Indonesia .
Jombang : Lintas Media.
Moleong, L. J. (2005). Metodologi
penelitian kualitatif .
Bandung : PT. Remaja
Perda Karya.
Kartono, K. (1992). Psikologi wanita I .
Mengenal gadis remaja dan
wanita dewasa. Bandung :
Mandar Maju.
Pangkahila, W. (2001). Seks yang indah.
J a k a r t a : P T . Ko m p as
Media Nusantara.
Poerwandari, K. (2001). Pendekatam
kualitatif untuk penelitian
perilaku manusia. LPSP3 :
Latif, N. (2001). Ilmu perkawinan .
Problematika
seputar
keluarga dan
rumah
tangga. Bandung : Pustaka
Hidayah.
Fakultas
Psikologi
Universitas Indonesia.
Prasetyono, S. D. (2005). Kiat mengatasi
cemas dan depresi .
:
Yogyakarta
Tugu
Publiser.
Prawiharjo,
S
Kagan, J ; & Segal, J. (1998).
Psychology . An
Introduction (6 th ed). San
Diego : Harcourt Brace
Jovanovich.
18
. ; Wiknjosastro, H. ;
Sumapraja, S & Saifuddin,
A. (1989). Ilmu kandungan.
Cetakan keempat. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka.
Syakir, M. F. (2002). Perkawinan
terlarang . Jakarta :
Cendikia Sentra Muslim.
Taher, A. (2007). Pria sebagai penyebab
sulit
punya
anak
http://www.kompas.com/ko
mpascetak/0208/04/keluarga/pre
s21.htm.
Ramaiah, S. (2003). Kecemasan
bag ai ma na me n ga t as i
penyebabnya. Jakarta :
Pustaka Populer Obor.
Sidhi, I. P. S. (1999). Anak angkat dan
anak pancingan.
http://www.indomedia.com
/intisari/1999/november/an
ak.htm.
Veralls, S. (1997). Anatomi dan fisiologi
terapan dalam kebidanan.
Edisi ketiga. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Wid ar j on o, S . ( 2 00 7 ). 10 k un ci
perkawinan bahagia.
http://www.tabloidnova.co
m/articles.asp?id=413.
Stern, P. (1964). The abnormal person
and his world. New York :
D. Van Nostrand Company.
Inc.
Sugiharto,
G.
(2005). Infertilitas.
http:[email protected]/msg00013.ht
ml.
Suryabrata,
S.
(1998). Psikologi
kepribadian. Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada.
Suryabrata,
S.
(2004). Psikologi
perkembangan anak dan
remaja. Bandung : PT.
Remaja Perda Karya.
Widyandana. (2007). Curhat : Infertil,
apaan
tuh.
http://www.kompas.com/ko
mpascetak/0507/22/muda/19163
31.htm.
Wolman, B. B & Sticker. G. (1994).
Anxiety and related
disorder : A Handbook .
New York : John Willey &
Sons. Inc.
19
Fly UP