...

PERBANDINGAN VIGORITAS BENIH Acacia mangium HASIL

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

PERBANDINGAN VIGORITAS BENIH Acacia mangium HASIL
Perbandingan Vigoritas Benih Acacia mangium ....
Naning Yuniarti, et al.
PERBANDINGAN VIGORITAS BENIH Acacia mangium HASIL PEMULIAAN DAN
YANG BELUM DIMULIAKAN
(The Comparison of Seed Vigority of Acacia mangium on breeding and
unbreeding Seed)
Naning Yuniarti*, M. Zanzibar*, Megawati* dan Budi Leksono**
*Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
Jl. Pakuan Ciheuleut PO.Box 105 Bogor, Jawa Barat - Indonesia Telp./Fax. (0251) 8327768
**Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km.15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Indonesia Kode Pos 55582
Telp. (0274) 895954, Fax. (0274) 896080
Email : [email protected]
Diterima 18 April 2013; revisi terakhir 20 Desember 2013; disetujui 17 Januari 2014
ABSTRAK
Benih dengan vigoritas tinggi adalah benih yang mampu berkecambah normal pada kondisi sub optimum
dan di atas normal pada kondisi optimum. Untuk mengetahui tampilan benih setelah ditanam atau disimpan
perlu dilakukan uji vigor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vigor kekuatan tumbuh relatif dan vigor
daya simpan relatif pada benih Acacia mangium hasil pemuliaan dan yang belum dimuliakan. Rancangan
percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan ulangan sebanyak 4 kali, setiap ulangan
terdiri dari 100 benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vigor benih hasil pemuliaan memiliki vigor
kekuatan tumbuh relatif dan vigor daya simpan relatif yang lebih baik dari sumber benih yang belum
dimuliakan.
Kata kunci : Acacia mangium, vigor kekuatan tumbuh relatif, vigor daya simpan benih relatif
ABSTRACT
Seeds with high vigour are seeds that can germinate normally in sub-optimum conditions and above normal
in optimum condition. To predict the performance of seedlings after planting and the storability of seeds, it is
necessary to test the seed vigour. This study aims to investigate the growth and storage vigour of Acacia mangium
breeding and unbreeding seeds. The experiment design was arranged in completely randomized design with each
treatment being replicated four times with 100 seeds. Results obtained showed that breeding seeds had better
growth and storage vigour.
Keywords : Acacia mangium, growth vigour, storage vigour
I. PENDAHULUAN
Untuk mendapatkan benih unggul, benih
harus diperoleh dari sumber benih yang telah
dimuliakan. Beberapa jenis tanaman hutan
seperti Acacia mangium telah menghasilkan
benih unggul pada tingkat kebun benih semai
(KBS). Benih A. mangium yang berasal dari
sumber benih tersebut akan memiliki mutu
genetik yang tinggi (Leksono, 2009). Selain itu
benih A. mangium
dari KBS dapat
meningkatkan perolehan genetik sebesar 14 %
- 22 % untuk tinggi tanaman, 10 % - 24 %
untuk diameter batang dan 18 % - 22 % untuk
bentuk batang (Leksono, et al., 2007). Pada
Pinus merkusii yang berasal dari KBS memiliki
viabilitas dan vigor benih yang lebih baik
dibandingan benih yang berasal dari tegakan
benih teridentifikasi (Nurhasybi, et al., 2008)
Pengujian benih tanaman hutan di
Indonesia sampai saat ini masih terbatas pada uji
perkecambahan yang dilakukan di laboratorium
dengan kondisi yang ideal. Daya berkecambah
yang dihasilkan dari pengecambahan ini belum
mampu menggambarkan kemampuan benih
menghadapi tekanan pada kondisi lingkungan
yang mungkin terjadi di lapangan dan pada saat
penyimpanan. Dengan demikian untuk keperluan
operasional diperlukan uji vigor yang dapat
menggambarkan potensi benih dalam kisaran
kondisi lingkungan yang lebih luas. Benih dengan
57
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Vol. 3 No.1, April 2014: 57 - 64
vigoritas tinggi akan mampu berproduksi
normal pada kondisi sub optimum dan di atas
kondisi normal, memiliki kemampuan tumbuh
serempak dan cepat, serta lebih tahan untuk
disimpan dalam kondisi yang tidak ideal.
Menurut Lesilolo, et al. (2013) kecepatan
tumbuh mengindikasikan vigor kekuatan
tumbuh benih karena benih yang cepat
tumbuh lebih mampu menghadapi kondisi
lapang yang suboptimal.
Salah satu parameter viabilitas benih
adalah Vigor. Vigor merupakan kemampuan
benih untuk tumbuh normal dan berproduksi
normal pada kondisi sub optimum (Widajati, et
al., 2013). Peubah vigor benih atas vigor
kekuatan tumbuh dan daya simpan. Vigor
benih dapat diindikasikan misalnya dengan
tolak ukur laju perkecambahan, keserempakan
tumbuh.
Vigor
daya
simpan
dapat
diindikasikan dengan tolak ukur daya hantar
listrik, vigor
benih
terhadap deraan
etanol/fisik, dan sebagainya (Aryunis, 2009).
Vigor benih dipengaruhi oleh berbagai faktor
mulai dari ketika benih masih berada di
tanaman
induk
sampai
pemanenan,
pengolahan, ketika dalam transportasi, sampai
sebelum ditanam. Selain itu vigor benih juga
dipengaruhi oleh proses dan cara benih
dikeringkan, dibersihkan, disortir dan dikemas
di unit pengolahan benih (seed processing),
serta cara dan kondisi penyimpanan benih
(Ilyas, 2012). Vigor benih dapat dibagi dua
yaitu vigor kekuatan tumbuh benih yang
mencerminkan vigor benih bila ditanam di
lapangan dan vigor daya simpan yang
mencerminkan kemampuan benih untuk
berapa lama benih dapat disimpan (Widajati,
at al., 2013).
Vigor benih dicerminkan oleh dua
informasi tentang viabilitas, masing-masing
kekuatan tumbuh dan daya simpan benih.
Vigor daya simpan merupakan suatu
parameter vigor benih yang menunjukkan
kemampuan benih selama penyimpanan dalam
keadaan sub optimum. Benih yang memiliki
vigor tinggi, mampu disimpan untuk periode
simpan yang normal dalam keadaan sub
optimum dan akan lebih panjang daya
simpannya jika dalam keadaan ruang simpan
yang optimum (Widajati, at al., 2013). Kedua
nilai fisiologi ini menempatkan benih pada
kemungkinan kemampuannya untuk tumbuh
menjadi tanaman normal meskipun keadaan
biofisik lapangan produksi sub optimum atau
sesudah benih melampui suatu periode simpan
yang lama. Tanaman dengan tingkat vigor yang
58
tinggi mungkin dapat dilihat dari performansi
fenotipis kecambah atau bibitnya, yang
selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai
landasan pokok untuk ketahananya terhadap
berbagai unsur musibah yang menimpa. Vigor
benih untuk kekuatan tumbuh dalam suasana
kering dapat merupakan landasan bagi
kemampuannya tanaman tersebut untuk tumbuh
bersaing dengan tumbuhan pengganggu atau pun
tanaman lainnya dalam pola tanam multipa.
Vigor benih untuk tumbuh secara spontan
merupakan landasan bagi kemampuan tanaman
mengabsorpsi sarana produksi secara maksimal
sebelum panen. Juga dalam memanfaatkan unsur
sinar matahari khususnya selama periode
pengisian dan pemasakan biji. Pada hakekatnya
vigor benih harus relevan dengan tingkat
produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi
akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi.
Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain
tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan
hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya
serta mampu menghasilkan tanaman dewasa
yang normal dan berproduksi baik dalam
keadaan lingkungan tumbuh yang suboptimal
(Bagod Sudjadi, 2006).
Menurut Sadjad, et al. (1999), untuk
memperkirakan kekuatan tumbuh di lapangan,
kelompok benih harus bisa disimulasi vigornya
dengan menggunakan metode yang tepat. Makin
dini suatu metode dapat mengindikasikan vigor
benih dengan akurat akan semakin baik hasilnya,
baik untuk mengungkapkan kebenaran indikasi
mutu genetik maupun mutu fisiologis. Setiap
jenis akan memiliki kriteria vigor, misalnya vigor
kekuatan tumbuh relatif untuk indikator kuat
atau kurang kuat. Analisis vigor menjadi lebih
sederhana apabila tolok ukur itu bersifat relatif,
yaitu untuk membandingkan suatu kelompok
benih terhadap kelompok benih lainnya.
Menurut Artola, et al. (2003), vigor yang
rendah akan menghasilkan pohon yang buruk,
sehingga untuk penanaman seharusnya bibit
yang digunakan berasal dari benih dengan vigor
tertinggi. Uji vigor sangat tepat diaplikasikan
pada sumber-sumber benih yang telah
dikukuhkan, misalnya Kebun Benih Semai (KBS).
Pada sumber benih tersebut, besaran atau
standar vigor harus mampu didefenisikan
dengan benar kualitas fisiologisnya disamping
kualitas
genetiknya. Jaminan
kualitasnya
merupakan hal yang wajar diperoleh konsumen
karena pengorbanan yang relatif besar. Benih
vigor yang dicirikan oleh produksinya yang
unggul harus dapat diinformasikan lebih dini
bagi konsumen, dan harus bisa disimulasi
Perbandingan Vigoritas Benih Acacia mangium ....
Naning Yuniarti, et al.
kinerjanya, seperti kinerja fisik, fisiologis dan
genetik. Vigor benih yang tinggi akan
menghasilkan tanaman yang baik.
Tulisan ini menyajikan vigoritas pada
benih Acacia mangium hasil pemuliaan dan
yang belum dimuliakan dengan menggunakan
2 metode uji yaitu pengujian vigor kekuatan
tumbuh relatif dan vigor daya simpan benih
relatif.
II. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Benih yang diuji berasal dari sumber
benih di Sumatera Selatan, Jawa Tengah,
Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi,
Riau, dan Jawa Barat.
Pengujian benih
dilakukan di Laboratorium dan rumah kaca
Balai
Penelitian
Teknologi
Perbenihan
Tanaman
Hutan
Bogor.
Penelitian
dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu mulai
bulan Juli s/d September 2010.
B. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah benih A. mangium, batu bata
merah, media tanah dan pasir, bak kecambah,
sprayer, etanol (90%), dan mesin pengusang
cepat (MPC IPB 77-1).
Kelompok sumber benih yang digunakan
dalam penelitian ini ada 2 (dua), yaitu sumber
benih hasil pemuliaan dan sumber benih yang
belum dimuliakan.
Sumber benih hasil
pemuliaan diwakili oleh Kebun Benih Semai
(KBS), yang terdapat di Sumatera Selatan
(Sumsel), Jawa Tengah (Jateng), dan Kalimantan
Timur (Kaltim). Sedangkan sumber benih yang
belum dimuliakan diwakili oleh Areal Produksi
Benih (APB) yang terdapat di Kalimantan Selatan
(Kalsel), Jambi, Riau, dan Jawa Barat (Jabar) .
Data sumber benih disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Informasi sumber benih yang digunakan dalam penelitian
Table 1. Information of seed source used in this research
Kelompok Sumber
Benih
(Group of Seed
source)
Sumber benih hasil
pemuliaan
(Breeding Seed
source)
Sumber benih yang
belum dimuliakan
(Unbreeding Seed
source)
Sumsel
Jateng
Kaltim
Luas
(Large
area)
(Ha)
5
3,5
3
Tahun
Tanam
(Planting
year)
2000
1994
2002
Kalsel
Jambi
Riau
Jabar
Kalsel
2,56
10,8
20,9
25,6
21.73
1993
2001
1994
2002
1994
Lokasi
(Location)
C. Metode Pengujian
1. Pengujian Vigor Kekuatan Relatif
Untuk mengetahui vigor kekuatan
tumbuh relatif dilakukan uji vigor, yaitu benih
diuji di rumah kaca yang diasumsikan sebagai
kondisi optimum dan uji tekanan (stress test)
sebagai kondisi sub optimum. Uji tekanan
dilakukan dengan metode Hiltner dan uji
kejenuhan. Uji perkecambahan di rumah kaca
menggunakan media campuran pasir dan
tanah (1:1) (v/v). Metode Hiltner sama dengan
uji perkecambahan di rumah kaca, namun pada
bagian atas media dilapisi dengan hancuran
batu bata dan disusun setebal 3-4 cm. Uji
kejenuhan benih dilakukan pada media yang
sama pada bak kecambah plastik, namun
ditempatkan pada ruang gelap di laboratorium.
Asal Benih
(Seed source)
Papua Nugini (PNG)
Papua Nugini (PNG)
Papua Nugini (PNG) dan
Queensland
Papua Nugini (PNG)
Claudia River, Australia
Papua (PNG)
Majalengka (Perhutani)
Papua Nugini (PNG)
Klasifikasi Sumber Benih
(Classification of Seed
source)
KBS Generasi II
KBS Generasi II
KBS Generasi II
KBS Generasi II
APB
APB
APB
APB
Rancangan percobaan yang digunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan
perlakuan sebagai berikut :
M0 = metode perkecambahan optimum
M1 = metode Hiltner
M2 = uji kejenuhan
Model linier yang digunakan : Yij = μ + Mi + ‫ ع‬ij
Dimana :
Yij
= Nilai hasil pengamatan akibat
pengaruh metode ke-i, dan ulangan
ke-j
μ
= Nilai rata-rata umum
i
= Pengaruh metode ke-i
Mi
= Pengaruh metode ke-i
‫ ع‬ij = Random eror pada metode ke-i, dan
ulangan ke-j
59
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Vol. 3 No.1, April 2014: 57 - 64
2. Pengujian Vigor Daya Simpan Benih
Relatif
Benih yang telah diekstraksi dan sudah
kering dilakukan penderaan (accelerated
aging). Penderaan benih dilakukan dengan
menggunakan alat mesin pengusang cepat
(MPC IPB 77-1). Uap etanol dihembuskan
selama 5 menit, kemudian dengan udara panas
(500 C) selama 10 menit [x(5+10) menit], x =
Koefisien penderaan, terdiri atas : 0, 9, 12, 15,
18 dan 21 kali (Kartika, 1994). Benih yang
telah
mendapat
perlakuan
penderaan
kemudian
dikecambahkan
pada
media
campuran pasir : tanah (1:1)(v/v).
Rancangan percobaan yang digunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL),
dengan perlakuan sebagai berikut :
D0 = kontrol
D1 = 9 (5 + 10) menit
D2 = 12 (5 + 10) menit
D3 = 15 (5 + 10) menit
D4 = 18 (5 + 10) menit
D5 = 21 (5 + 10) menit
Model linier yang digunakan : Yij = μ + Di + ‫ ع‬ij
Dimana :
Yij = Nilai hasil pengamatan pada
perlakuan penderaan ke-i, dan
ulangan ke-j
μ
Di
‫ ع‬ij
=
=
=
Nilai rata-rata umum
Pengaruh penderaan ke-i
Random eror pada penderaan ke-i,
dan ulangan ke-j
Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali, masingmasing ulangan terdiri dari 100 butir. Pengamatan
dilakukan setiap hari terhadap benih yang telah
berkecambah normal. Pengamatan dihentikan
apabila selama 7 (tujuh) hari berturut-turut tidak
ada lagi benih yang berkecambah. Parameter
yang diamati adalah daya berkecambah (DB) dan
kecepatan tumbuh (KCT).
D. Analisis Data
Data hasil pengukuran dianalisis dengan
analisis varians. Apabila terdapat perbedaan yang
nyata pada perlakuan yang diuji dilanjutkan
dengan uji Duncan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Vigor Kekuatan Tumbuh Relatif
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan
pengujian vigor kekuatan tumbuh relatif benih
dari kedua kelompok sumber benih terhadap daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah benih
A. mangium disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis ragam pengaruh pengujian vigor kekuatan tumbuh relatif benih terhadap daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah benih A. Mangium
Table 2. Analysis of variances the effect of grouwth vigour treatment for germination percentage and
velocity of germination A. mangium
Sumber keragaman
(Source of variation)
Derajat
bebas
(Degree of
freedom)
Kuadrat tengah (Mean of square)
Daya berkecambah
(Percentage of germination)
Sumber Benih
1
(Seed source)
Perlakuan
4
(Treatment)
Sisa
12
(Residual)
Total (Total)
17
Keterangan : * = Berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%
Remarks : * = Significant at 95% confidence level
Berdasarkan
hasil
sidik
ragam
menunjukkan bahwa perlakuan pengujian
vigor kekuatan tumbuh relatif benih
berpengaruh
nyata
terhadap
daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah
benih A. mangium dari kedua kelompok
sumber benih. Hal ini berarti terdapat satu
60
Kecepatan berkecambah
(Speed of germination)
593,2099*
2,4107*
121,8091*
0,4802*
3,2247
0,0002
atau beberapa perlakuan yang menunjukkan daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah
berbeda satu sama lain. Untuk mengetahui lebih
lanjut perlakuan yang menimbulkan perbedaan
terhadap daya berkecambah dan kecepatan
berkecambah benih A. mangium, maka dilakukan
uji Duncan yang disajikan pada Tabel 3.
Perbandingan Vigoritas Benih Acacia mangium ....
Naning Yuniarti, et al.
Tabel 3. Rata-rata daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berdasarkan pengujian vigor
kekuatan tumbuh relatif benih A.mangium dari kedua kelompok sumber benih
Table 3. Average of germination percentage and velocity of germination based on grouwth vigour
treatment A.mangium from both seed source group
Parameter
(Parameter)
Daya Berkecambah
(Percentage of
germination) (%)
Kecepatan
Berkecambah (Speed of
germination)
(%/Etmal)
Kelompok
Sumber Benih
(Group of Seed
source)
Hasil Pemuliaan
(Breeding )
Belum Dimuliakan
(Unbreeding )
Hasil Pemuliaan
(Breeding )
Belum Dimuliakan
(Unbreeding )
Uji di
Rumah Kaca
(Test in Green
house)
91 a
82 a
Metode Uji
Kejenuhan
(Method of
saturation test)
80 a
80 b
71 b
66 b
5,67 a
5,13 a
4,94 a
4,98 b
4,41 b
4,15 b
Metode Hiltner
(Hiltner method)
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata
pada tingkat kepercayaan 95%
Remarks : Values followed by the same letter are not significantly different at 95 % confidence level
Tabel 3, menjelaskan bahwa vigor benih
dari kedua kelompok sumber benih (hasil
pemuliaan dan yang belum dimuliakan)
menurun ketika diuji dengan metode Hiltner
(uji tekanan) dan yang paling rendah nilai
vigornya dihasilkan pada uji kejenuhan
(kondisi gelap). Hal ini menunjukkan bahwa
benih A. mangium tidak dapat tumbuh dengan
baik pada kondisi lahan yang gelap atau
ternaungi. Pada umumnya kecambah akan
tumbuh dengan baik jika cahaya cukup untuk
kebutuhan fotosintesanya, sehingga nilai vigor
pada uji kejenuhan akan menggambarkan
potensi benih tersebut untuk tumbuh pada
kondisi gelap seperti lahan ternaungi
(Zanzibar dan Pramono, 2009).
Menurut Sutopo (2010), secara umum
vigor diartikan sebagai kemampuan benih
untuk tumbuh normal pada keadaan
lingkungan yang suboptimal. Lot benih yang
mempunyai vigor tinggi akan mampu bertahan
pada kondisi yang ekstrem dan proses
penuaan lambat dibandingkan dengan lot
benih yang mempunyai vigor rendah. Lot benih
yang mempunyai vigor tinggi akan tetap
memiliki daya berkecambah tinggi, sedangkan
lot benih yang mempunyai vigor rendah daya
berkecambahnya akan berkurang (ISTA,
2007).
Salah satu tolok ukur yang digunakan
untuk menilai vigor kekuatan tumbuh, yaitu
kecepatan berkecambah (Rofik, A dan E.
Murniati, 2008).
Dilihat dari nilai vigor
kekuatan tumbuh relatif, pada kedua kelompok
sumber benih tersebut menunjukkan adanya
perbedaan dalam kemampuan benih untuk
mengatasi tekanan fisik dan kondisi gelap selama
proses perkecambahan. Benih A. mangium yang
berasal dari sumber benih hasil pemuliaan
memiliki vigor yang lebih baik dibandingkan
dengan benih yang belum dimuliakan yaitu vigor
kekuatan tumbuh relatif dapat meningkatkan daya
berkecambah sebesar 14% dan mempercepat
kecepatan berkecambah sebesar 0,79%/etmal.
Beberapa alasan yang membuat mutu benih
hasil pemuliaan lebih tinggi mutunya adalah
(Zobel and Talbert, 1984) :
-
Keragaman tinggi dengan pohon bertetangga
tidak berkerabat sehingga peluang inbreeding
sangat kecil. Proses inbreeding sering kali
menghasilkan benih yang tidak berkembang
sempurna sehingga viabilitas dan vigoritasnya
rendah.
-
Tegakan tersusun dari pohon-pohon terseleksi
dengan kualitas baik dan terkelola dengan baik
dengan aksesibilitas yang mudah sehingga
proses penanganan benihnya lebih terkontrol.
Untuk mendapatkan benih unggul, benih
harus diperoleh dari sumber benih yang telah
dimuliakan. Beberapa jenis tanaman hutan seperti
Acacia mangium telah menghasilkan benih unggul
pada tingkat kebun benih semai (KBS). Pada Pinus
merkusii yang berasal dari KBS memiliki viabilitas
dan vigor benih yang lebih baik dibandingan benih
yang berasal dari tegakan benih teridentifikasi
(Nurhasybi, et al., 2008).
Benih bermutu adalah benih yang mampu
berkecambah dalam kondisi yang cukup baik.
Benih bermutu meliputi mutu fisik, fisologis dan
genetik. Mutu fisik mencangkup ukuran, berat dan
penampakan visual benih. Mutu fisiologis
61
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Vol. 3 No.1, April 2014: 57 - 64
menggambarkan kemampuan berkecambah
dan vigor benih. Sedangkan mutu genetik
mencerminkan
sifat-sifat
unggul
yang
diwariskan oleh tanaman induknya yang
berhubungan dengan pertumbuhan dan
penampakan tegakan di lapangan. Mutu
genetik sangat ditentukan oleh kondisi sumber
benihnya. Dari kondisi sumber benih yang
telah terseleksi atau teruji dimungkinkan
diperolehnya kemajuan genetik yang akan
mempengaruhi produktivitas tegakan pada akhir
daur (Nurhasybi, et al., 2006).
B. Vigor Daya Simpan Benih Relatif
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan
pengujian vigor daya simpan relatif benih dari
kedua kelompok sumber benih terhadap daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah benih
A. mangium disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Analisis ragam pengaruh pengujian vigor kekuatan daya simpan relatif benih terhadap daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah benih A. Mangium
Table 4. Analysis of variances the effect of storage vigour for germination percentage and velocity of
germination A. mangium
Sumber keragaman
(Source of variation)
Derajat bebas
(Degree of
freedom)
Kuadrat tengah (Mean of square)
1
Daya berkecambah
(Percentage of
germination)
1023,2890*
4
212,1812*
0,8496*
12
3,2489
0,0003
Sumber Benih
(Seed source)
Perlakuan
(Treatment)
Sisa ((Residual)
Total (Total)
17
Kecepatan berkecambah
(Speed of germination)
4,0321*
Keterangan : * = Berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%
Remarks : * = significant at 95% confidence level
Berdasarkan
hasil
sidik
ragam
menunjukkan bahwa perlakuan pengujian
vigor daya simpan relatif benih berpengaruh
nyata terhadap daya berkecambah dan
kecepatan berkecambah benih A. mangium
dari kedua kelompok sumber benih. Hal ini
menunjukkan bahwa satu atau beberapa
perlakuan menunjukkan daya berkecambah dan
kecepatan berkecambah berbeda satu sama lain.
Untuk mengetahui lebih lanjut perlakuan yang
menimbulkan
perbedaan
terhadap
daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah benih
A. mangium, maka dilakukan dengan uji Duncan
yang disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berdasarkan pengujian vigor daya
simpan relatif benih A. mangium dari kedua kelompok sumber benih.
Table 5. Average of germination percentage and velocity of germination based on storage vigour
treatment A. mangium from both seed source group
Parameter
(Parameter)
Daya
Berkecambah
(Percentage of
germination)
(%)
Kecepatan
Berkecambah
Speed of
germination)
(%/Etmal)
Kelompok
Sumber Benih
(Group of Seed
source)
Hasil Pemuliaan
(Breeding)
Belum Dimuliakan
(unbreeding)
Hasil Pemuliaan
(Breeding)
Belum Dimuliakan
(unbreeding)
90a
Penderaan
(Flogging)
9 (5+10)
menit
(minute)
91 a
Penderaan
(Flogging)
12 (5+10)
menit
(minute)
93 a
Penderaan
(Flogging)
15 (5+10)
menit
(minute)
84 a
Penderaan
(Flogging)
18 (5+10)
menit
(minute)
78 a
Penderaan
21 (5+10)
(Flogging)
menit
(minute)
72 a
79 b
81 b
83 b
71 b
67 b
63 b
5,65 a
5,71 a
5,83 a
5,23 a
4,88 a
4,50 a
4,98 b
5,07 b
5,21 b
4,43 b
4,18 b
3,94 b
Kontrol
(Control
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata pada
tingkat kepercayaan 95%
Remarks : Values followed by the same letter are not significantly different at 95 % confidence level
62
Perbandingan Vigoritas Benih Acacia mangium ....
Naning Yuniarti, et al.
Tabel 5 menunjukkan bahwa benih hasil
pemuliaan
memberikan
respon
daya
berkecambah dan kecepatan berkecambah
yang lebih baik daripada yang belum
dimuliakan. Pada tegakan yang telah
dimuliakan
kemungkinan
terjadinya
persilangan (out crossing) sangat besar karena
individu penyusunnya tidak berkerabat
(teridentifikasi), sehingga proses terbentuknya
buah terjadi secara sempurna. Keragaman
tinggi dengan pohon bertetangga tidak
berkerabat sehingga peluang inbreeding sangat
kecil.
Proses
inbreeding
sering
kali
menghasilkan benih yang tidak berkembang
sempurna sehingga viabilitas dan vigoritasnya
rendah.
Pada koefisien penderaan hingga 12 kali
terjadi peningkatan vigor benih pada kedua
kelompok sumber benih tersebut. Hal ini
dapat disebabkan karena uap etanol
memberikan pengaruh yang baik terhadap
daya berkecambah benih A. mangium. Dengan
perlakuan tersebut uap etanol dapat berfungsi
untuk melunakkan kulit benih yang membantu
memecahkan dormansi benih A. mangium.
Tetapi pada koefisien penderaan 15 hingga 21
kali, vigor benih cenderung menurun. Hal ini
berarti bahwa penderaan yang ditujukan untuk
menggambarkan perbedaan viabilitas akibat
penyimpanan hendaknya memakai taraf diatas
15(5+10) menit. Jadi berimplikasi pula pada
penentuan viabilitas awal dan perhitungan
kehilangan vigor, dimana kehilangan vigor
daya simpan dimulai setelah taraf tersebut
dicapai. Apabila dibandingkan, setelah proses
penderaan 21 kali, benih yang berasal dari
sumber benih hasil pemuliaan dapat
menghasilkan nilai vigor lebih tinggi
dibandingkan dengan sumber benih yang
belum dimuliakan. Vigor daya simpan relatif
benih hasil pemuliaan dapat meningkatkan
daya berkecambah sebesar sebesar 9% dan
mempercepat kecepatan berkecambah sebesar
0,56%/etmal. Hal ini berarti bahwa benih
benih hasil pemuliaan memiliki vigor daya
simpan relatif yang lebih baik. Vigor daya
simpan benih dipengaruhi oleh faktor genetik
dan kemungkinan dikendalikan oleh beberapa
gen dan daya simpan benih merupakan sifat
kuantitatif yang dipengaruhi oleh faktor
lingkungan selama pembentukan benih, panen
dan penyimpanan (Contreras and M. Barros,
2005).
Perlakuan penderaan merupakan fungsi
waktu, makin tinggi daya tahan benih terhadap
perlakuan penderaan, diasumsikan benih
tersebut memiliki daya simpan relatif yang tinggi.
Perlakuan penderaan sangat berhubungan dengan
perubahan kondisi lingkungan ekstrim, yaitu
peningkatan suhu dan kelembaban nisbi, karena
kedua faktor ini sangat penting pengaruhnya
selama proses penuaan benih. Perlakuan deraan
terhadap benih dengan pengusangan dipercepat
merupakan simulasi daya simpan benih untuk
kurun waktu tertentu. Deraan pengusangan cepat
menyebabkan kadar air benih meningkat. Bila
kondisi seperti ini berlangsung lama akan
menyebabkan akumulasi asam lemak sehingga
mengakibatkan kerusakan membran sel (Tatipata,
2008).
Kelembaban nisbi berpengaruh langsung
terhadap kadar air, sedangkan faktor suhu dapat
meningkatkan laju reaksi biokimia benih. Periode
hidup benih dalam penyimpanan dipengaruhi oleh
empat
faktor,
yaitu:
faktor
genetik
(karakteristik/varietas benih), kualitas (vigor
awal) benih sebelum disimpan, suhu lingkungan
simpan, dan kadar air benih atau kelembaban
nisbi lingkungan simpan (Harnowo, 2006).
Pada sumber benih hasil pemuliaan memiliki
viabilitas dan vigor yang lebih baik dibandingkan
dengan sumber benih yang belum dimuliakan. Hal
ini dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan
(genetik) dari pohon induk atau sumber benih dan
lingkungan. Menurut Milosevic, et al. (2010), Nilai
yang diperoleh dari penentuan vigor dipengaruhi
oleh susunan genetik benih, kondisi eksternal
dimana pohon induk ditanam, kematangan benih
saat panen, berat dan ukuran benih, kerusakan
mekanik, penuaan, patogen dan lain-lain. Benih
yang berasal dari pohon induk atau sumber benih
yang berbeda mungkin akan mempunyai
keragaman genetik yang berbeda dan mempunyai
respon yang berbeda pula terhadap viabilitas dan
vigor benihnya sehingga antara lot-lot benih
dalam satu jenis yang berbeda pohon induk atau
provenannya ada kemungkinan berkorelasi
dengan viabilitas dan vigor benih (Sudrajat, 2006).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Benih A. mangium yang berasal dari sumber
benih hasil pemuliaan memiliki vigor yang lebih
baik dibandingkan dengan benih yang belum
dimuliakan yaitu vigor kekuatan tumbuh relatif
dapat meningkatkan daya berkecambah sebesar
14% dan mempercepat kecepatan berkecambah
sebesar 0,79%/etmal dan vigor daya simpan
relatif dapat meningkatkan daya berkecambah
sebesar 9% dan mempercepat kecepatan
berkecambah sebesar 0,56%/etmal.
63
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Vol. 3 No.1, April 2014: 57 - 64
B. Saran
Untuk meningkatkan viabilitas dan
vigoritas benih A. mangium, sebaiknya
menggunakan benih yang berasal dari sumber
benih hasil pemuliaan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Leisolo, M.K, J. Riry dan E.A. Matatula. (2013).
Pengujian viabilitas dan vigor benih beberapa
jenis tanaman yang beredar di pasaran kota
Ambon. Jurnal Agrologia, 2(1), 1-9.
Milosevic, M., M. Vijakovic and D. Karagic, (2010).
Vigour Tests As Indicators Of Seed Viability.
Journal of The Serbian Genetic Society - Genetika,
42(1), 103 -118.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada PT. Arara Abadi di Riau, PT. Wirakarya
Sakti di Jambi, PT. Musi Hutan Persada di
Sumatera Selatan dan PT. Inhutani II di
Kalimantan Selatan atas kerjasama yang baik
dalam memberikan materi genetik untuk
penelitian ini. Terima kasih juga kami ucapkan
kepada teknisi yang telah membantu dalam
pelaksanaan pengujian di laboratorium dan
rumah kaca Balai Penelitian Teknologi
Perbenihan Tanaman Hutan (BPTPTH) Bogor.
Nurhasybi, E. Suita dan D.J. Sudradjat. (2006).
Pengembangan sumber Benih Untuk Pengadaan
Benih Bermutu. Makalah Utama dalam Prosiding
Seminar Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang
Teknologi Perbenihan “Teknologi Perbenihan
Untuk Pengadaan Benih Bermutu”. Bogor. Hal
77 – 85. Tanggal 14 Pebruari 2006.
DAFTAR PUSTAKA
Rofik, A. dan E. Murniati. (2008). Pengaruh Perlakuan
Deoperkulasi Benih dan Media Perkecambahan
untuk Meningkatkan Viabilitas Benih Aren
(Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.).
Buletin
Agronomi. 36(1), 33–40.
Aryunis. (2009). Penuntun Pratikum Teknologi Benih.
Jambi: Fakultas Pertanian, Universitas Jambi.
Artola, A., de los Santos, G. Garca, Casta Aeda and G.
Carrillo. (2003). A Seed Vigour Test for
Birdsfoot Trefoil (Lotus corniculatos L.). Seed
Science and Technology, 31(3), 753-757.
Contreras. S., M. Barros. (2005). Vigor tests on
lettuce (Lactuca sativa L.) seeds and their
correlation with
emergence. Ciencia E
Investigacion Agararia, 32, 3-10.
Harnowo, D. (2006). Teknologi Penaganan Benih
Tanaman Pangan Guna Menghasilkan Benih
Bermutu Tinggi. Makalah pada Pelatihan
Penangkar Benih Tanaman Pangan se NTB,
dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Provinsi
NTB, 12–15 September 2006.
Ilyas, S. (2012). Ilmu dan teknologi Benih; Teori dan
Hasil-hasil Penelitian. Bogor: PT. Penerbit IPB
Press.
ISTA. (2007). International rules for seed testing.
Switzerland: ISTA
Kartika, E. (1994). Penentuan Kriteria Vigor Bibit
serta Pengaruh Tingkat Devigorasi dan
Densitas
Benih
terhadap
Keberhasilan
Persemaian Paraserianthes falcataria dan
Acacia mangium. (Tesis). Bogor: Fakultas
Pasca Sarjana IPB.
Leksono, B., A. Nirsatmanto, R. Setyo W., A. Sofyan.
(2007). Uji Perolehan Genetik Kebun Benih
Semai Generasi Pertama (F-1) Jenis Acacia
mangium di Tiga lokasi. Jurnal Penelitian
Hutan Tanaman, 4(1), 27-39.
Leksono, B. (2009). Pemuliaan Tanaman Hutan.
Rencana Penelitian Integratif. Bogor: Badan
Litbang Kehutanan.
64
Nurhasybi, Sudrajat, D.J., dan P.S. Aisyah. (2008).
Penentuan Kriteria Kecambah Normal yang
Berkorelasi dengan Vigor Bibit Tusam (Pinus
merkusii Jungh et de Vriese). Jurnal Penelitian
Hutan Tanaman, 5(1), 1-11.
Sadjad, S., E. Murniati dan S. Ilyas. (1999). Parameter
Pengujian Vigor Benih.
Dari Komparatif ke
Simulatif. Jakarta: PT. Grasindo - PT. Sang Hyang
Seri.
Sutopo, L. (2010). Teknologi Benih (Edisi Revisi Fakultas
Pertanian UNIBRAW). Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Sudrajat, D.J. dan D. Haryadi. (2006). Berat dan Ukuran
Sebagai Tolok Ukur Dalam Proses Sortasi dan
Seleksi Benih Tanaman Hutan. Info Benih, 2(1),
45 – 51.
Sudjadi, Bagod. (2006). Biologi Sains dalam Kehidupan.
Surabaya: Yudhistira.
Tatipata, A. (2008). Pengaruh kadar air awal, kemasan
dan lama simpan terhadap protein membran
dalam mitokondria benih kedelai. Buletin
Agronomi, 36(1), 8-16.
Widajati, E., E. Murniati, E.R. Palupi, T. Kartika, M. R.
Suhartanto, A. Qadir. (2013). Dasar Ilmu dan
Teknologi Benih. Bogor : PT. Penerbit IPB Press.
Zanzibar, M dan Pramono, A.A. (2009). Penentuan
Vigor Kekuatan Tumbuh dan Vigor Daya Simpan
Relatif Benih Merbau, Akor dan Mindi. Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman, 6(3). 145 – 155.
Zobel, B. And Talbert, J. (1984). Applied Forest Tree
Improvement.
Carolina: North Carolina State
University.
Fly UP