...

Analisis Permasalahan Rendahnya Jumlah Pelanggan Internet Di

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Analisis Permasalahan Rendahnya Jumlah Pelanggan Internet Di
Analisis Permasalahan Rendahnya Jumlah Pelanggan Internet di Indonesia:
Mengambil Pelajaran dari Keberhasilan Layanan SMS
Kusno Prijono
PT. INTI Bandung-Program Magister CIO
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika-Institut Teknologi Bandung
[email protected]
Abstraksi
Internet yang di awal lahirnya hanya menghubungkan beberapa buah komputer dalam jaringan, saat ini telah
menghubungkan ratusan juta komputer. Dapat dibayangkan begitu melimpahnya resources berupa data, informasi
maupun knowledge serta peluang yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga,
masyarakat dan lingkungan di sekitar kita termasuk tentunya kesejahteraan rakyat Indonesia.
Sudah sekian tahun eksistensi internet itu, tetapi tampaknya kita sebagai bangsa Indonesia belum memanfaatkan internet
dengan maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam makalah ini akan dibahas salah satu permasalahan
yang berkaitan dengan rendahnya tingkat pemanfaatan internet di Indonesia, yaitu rendahnya jumlah pelanggan (rakyat
Indonesia) yang dapat mengakses resources yang ada di internet.
Penulis mengajukan usulan model bisnis yang dapat diterapkan untuk meningkatkan jumlah pelanggan internet di
Indonesia, yaitu:
1.Skema perhitungan tarif yang sederhana (mudah dipahami).
2.Tarif yang relatif terjangkau.
3.Tersedianya aplikasi (content) yang menarik (killer application).
Usulan model bisnis tersebut muncul sebagai hasil benchmarking terhadap kesuksesan model bisnis layanan SMS (Short
Message Service).
Kata Kunci: internet, model bisnis, jumlah pelanggan, sms
1. PENDAHULUAN
Sampai saat ini bangsa Indonesia belum memanfaatkan
resources yang ada di internet dengan maksimal, tentunya
ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Faktorfaktor penyebabnya itu diantaranya adalah terbatasnya
jumlah pelanggan yang memiliki akses ke jaringan internet
(keterbatasan infrastruktur maupun rendahnya minat untuk
berlangganan internet), komputer literacy dan internet
literacy serta budaya. Pada paper ini akan difokuskan untuk
membatasi masalah pada terbatasnya jumlah pelanggan
internet di Indonesia terutama kaitannya dengan minat
masyarakat untuk menjadi pelanggan internet.
Dengan minimnya jumlah pelanggan internet di Indonesia
tentu saja membuat pemanfaatan resources berupa data,
informasi dan knowledge yang bergitu berlimpah menjadi
tidak maksimal.
2. PEMBAHASAN
Struktur umum dari suatu jaringan informasi adalah seperti
tampak dalam gambar berikut ini:
Pertumbuhan pelanggan internet di Indonesia memang
kurang menggembirakan seperti tampak pada grafik berikut
ini:
Gambar 2. Jaringan Informasi
Gambar 1. Pertumbuhan Jumlah Pelanggan Internet
e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008)
Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia
21-23 Mei 2008, Jakarta
1
Dari gambar 2 di atas dapat kita lihat dengan jelas
bahwasanya secanggih apapun fasilitas dan feature yang
ditawarkan di sisi switching/backbone (sebagai jantung dari
suatu jaringan informasi), tidak akan ada artinya kalau
jaringan akses ke pengguna jaringan (pelanggan) jumlahnya
terbatas. Meskipun setiap operator menyadari bahwasanya
sumber pendapatan utama dari suatu jaringan informasi
adalah pelanggan tetapi kenyataannya pembangunan
jaringan akses itu seringkali tertinggal di belakang bila
dibandingkan dengan perkembangan feature yang
ditawarkan, seperti tampak dalam tabel di bawah ini:
(sumber: Rinaldi Firmansyah, Finance Director / CFO, One Day
Conference, Kuala Lumpur, March 1st 2006)
Gambar 3. Jumlah Pelanggan Telepon Tetap
Jumlah pelanggan telepon tetap (fixed line) di Indonesia
sampai dengan tahun 2005 sekitar 12 juta tentunya jumlah
yang sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah rakyat
Indonesia yang lebih dari 200 juta orang (2005). Demikian
juga dengan penetration rate nya yang hanya mencapai 4 %.
Merujuk pada proyeksi jumlah pelanggan telepon tetap
sampai tahun 2010 (Gambar 3) sebesar 18,4 juta dengan
teledensitas 7,7%, maka masih sangat berat untuk
mengharapkan kenaikan jumlah pelanggan internet dengan
menggunakan basis pelanggan telepon tetap (infrastruktur
jaringan akses telepon tetap).
Kalau merujuk pada jumlah dan penetrasi pelanggan telepon
tetap, dengan meyakinkan bisa kita simpulkan bahwasanya
minimnya jumlah pelanggan internet di Indonesia,
disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur untuk akses
internet yang ada (via eksisting infrastruktur). Tetapi kalau
kita amati perkembangan yang terjadi pada jumlah
pelanggan telepon bergerak (mobile phone) seperti tampak
pada Gambar 5 & Gambar 6, kesimpulan tersebut menjadi
tidak relevan lagi.
(sumber: Rinaldi Firmansyah, Finance Director / CFO, One Day
Conference, Kuala Lumpur, March 1st 2006)
Gambar 5. Jumlah Pelanggan Telepon Seluler
(sumber: Rinaldi Firmansyah, Finance Director / CFO, One Day
Conference, Kuala Lumpur, March 1st 2006)
Gambar 6. Proyeksi Jumlah Pelanggan Telepon Seluler
(sumber: Rinaldi Firmansyah, Finance Director / CFO, One Day
Conference, Kuala Lumpur, March 1st 2006)
Gambar 4. Proyeksi Jumlah Pelanggan Telepon Tetap
Angka 40 juta pelanggan telpon bergerak di tahun 2005
(sekitar 20% dari jumlah penduduk Indonesia) dan proyeksi
di tahun 2010 yang akan mencapai hampir 90 juta tentunya
bukan angka yang sedikit dan potensi pasar yang sangat
besar untuk menjadi pelanggan internet mengingat
infrastruktur jaringan akses (seluler) bukan masalah lagi.
Dengan demikian minat untuk berlangganan internet bisa
menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penyebab
rendahnya jumlah pelanggan internet di Indonesia.
e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008)
Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia
21-23 Mei 2008, Jakarta
2
Untuk memecahkan permasalahan tersebut di atas, yaitu
bagaimana meningkatkan minat para pelanggan telpon
khususnya pelanggan telpon seluler untuk menjadi
pelanggan internet, penulis menggunakan metode
pemecahan masalah melalui benchmarking. Adapun
benchmarking dilakukan terhadap keberhasilan operator
seluler dalam meraih jumlah pelanggan sehingga dalam
waktu singkat bisa melebihi jumlah pelanggan telpon tetap.
Menurut pengamatan penulis pertumbuhan jumlah
pelanggan telepon bergerak yang luar biasa itu disebabkan
oleh model bisnis yang diterapkan operator seluler,
khususnya dalam layanan SMS (Short Message Service).
Setidaknya ada 3 hal yang secara langsung berkaitan erat
dengan pertumbuhan jumlah pelanggan telepon seluler
yaitu:
1. Skema perhitungan tarif SMS lebih mudah dipahami.
2. Tarif SMS yang relatif murah.
3. Tersedianya aplikasi (content) dari layanan SMS yang
berhasil menarik minat para pengguna SMS (killer
application).
Dengan model pentarifan yang sederhana, yaitu satu tarif
untuk kirim SMS ke pengguna SMS ke berbagai operator
(atau maksimal ada 2 model tarif: ke pelanggan pada
operator yang sama dan tarif untuk kirim SMS ke operator
yang berbeda), menyebabkan para pengguna SMS relatif
lebih mudah untuk menghitung biaya yang sudah dihabiskan
untuk layanan SMS ini. Bandingkan dengan pentarifan pada
layanan suara yang tidak mudah untuk dipahami, jangankan
untuk orang awam, bagi orang yang paham seluk beluk
layanan suara pun masih diperlukan waktu dan konsentrasi
khusus untuk utak-atik perhitungan layanan suara ini, karena
memang cukup banyak parameternya, diantaranya: waktu
(semakin malam semakin murah), durasi (menit pertama dan
menit-menit berikutnya berbeda tarifnya), tarif tertentu
untuk minimal durasi tertentu (dengan munculnya konsep
talk time), basis perhitungan (permenit, perdetik, per 30
detik). Menurut pengamatan penulis para pemilik HP
(Handphone) sebagian besar menggunakannya untuk
layanan SMS bukannya layanan suara. Apabila tidak ada
layanan SMS belum tentu pertumbuhan jumlah pelanggan
telepon bergerak akan seperti sekarang.
Tarif yang murah pun tentunya menarik orang untuk
menggunakan layanan SMS ini. Bandingkan tarif SMS
dengan orde ratusan rupiah untuk satu kali kirim SMS (Rp.
250,- s.d. Rp. 350,-) dengan tarif layanan suara dengan orde
ribuan rupiah untuk menyampaikan pesan yang kurang lebih
sama dengan pesan yang dikirimkan lewat SMS.
Pada tahap selanjutnya selain skema perhitungan tarif yang
mudah dipahami dan tarif yang murah, satu faktor yang tak
kalah pentingnya berkaitan dengan boom jumlah pelanggan
telepon seluler ini adalah tersedianya content yang bisa
menjadi killer application. Pada tahap ini, meskipun biaya
untuk mengakses layanan ini termasuk premium (Rp.
1.000,- s.d. Rp. 2.500,-) per SMS tetapi karena content yang
ditawarkan sangat menarik maka pertumbuhan jumlah
pelanggan yang mengakses layanan ini tak bisa lagi
dibendung. Menurut pengamatan penulis faktor terpenting
yang membuat munculnya killer application ini adalah
keterlibatan para broadcaster (TV nasional) yang memang
nature nya memiliki ’customer base’ yang melimpah.
Dengan pengalaman yang dimiliki dalam mengemas suatu
tontonan para broadcaster berhasil menawarkan aplikasi
yang banyak menyedot perhatian para penontonnya.
Beberapa aplikasi yang berhasil menjadi killer application
diantaranya: AFI (Akademi Fantasi Indonesia: Indosiar),
KDI TPI, Penghuni terakhir (ANTV), dan Indonesian Idol
(RCTI), yang ’memanjakan’ para pengguna SMS untuk
menentukan/memilih
selebritis
favoritnya
menjadi
pemenang dalam acara-acara tersebut.
Tiga hal inilah yang harus diimplementasikan sebagai model
bisnis untuk meningkatkan jumlah pelanggan internet,
khususnya oleh para operator seluler mengingat jaringan
akses yang dimiliki sudah lebih dari cukup (Tahun 2003:
Jumlah pelanggan internet 800 ribu sementara itu jumlah
pelanggan telepon seluler 17 juta).
Semestinya para operator seluler jangan mengulang
kesalahan yang sama dengan kegagalan model bisnis yang
diterapkan untuk layanan WAP, GPRS dan MMS seperti
tampak pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Jumlah Pengguna GPRS & MMS Telkomsel
Dengan tarif yang mahal (orde ribuan rupiah) dan skema
tarif yang tidak familiar (berapa persen pelanggan
Telkomsel yang faham dengan istilah /kb) bisa jadi
merupakan penyebab gagalnya layanan ini diterima para
pelanggan telepon seluler. Sayangnya saat ini model bisnis
yang sama dengan MMS & GPRS, diterapkan kembali oleh
para operator seluler untuk layanan akses data/internet via
jaringan 3G nya. Menurut penulis layanan akses
data/internet dengan model bisnis seperti itu akan kembali
mengalami kegagalan jika ditargetkan untuk meraih
pelanggan sebanyak-banyaknya, kecuali kalau layanan
tersebut memang ditujukan untuk kalangan terbatas (yang
faham istilah kb dan tidak sensitif dengan harga).
Dengan demikian solusi yang penulis usulkan untuk
meningkatkan minat para pelanggan telepon seluler untuk
berlangganan internet vai infrastrukur jaringan seluler
adalah:
e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008)
Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia
21-23 Mei 2008, Jakarta
3
1. Gunakan skema tarif yang sederhana: sekian rupiah
perbulan (flat), tanpa batasan jumlah pemakaian
bandwidth (unlimited).
2. Tetapkan tarif yang murah/terjangkau: Rp. 150.000,perbulan.
3. Libatkan institusi yang memiliki ’customer base’ sangat
besar seperti halnya broadcaster dalam kasus SMS
untuk menyediakan content yang akan menjadi killer
application. Menurut penulis ’institusi’ tersebut adalah
dunia pendidikan.
2.1. Analisis Kelayakan Solusi
Analisis terhadap 3 solusi yang harus diterapkan sebagai
model bisnis untuk layanan akses internet bagi para
pelanggan telepon seluler adalah sebagai berikut:
1. Skema tarif yang sederhana.
Dengan menerapkan skema tarif yang sederhana,
peluang untuk meningkatkan minat pelanggan telepon
bergerak menjadi pelanggan internet bisa dikatakan 50%
karena yang perlu dilakukan calon pelanggan hanya
memutuskan ya atau tidak. Sedangkan jika diterapkan
skema tarif yang kompleks sehingga calon pelanggan
harus meluangkan waktu dan konsentrasi khusus untuk
mempelajari skema tarif yang ditawarkan, peluangnya
akan turun karena muncul kemungkinan calon pelanggan
tidak akan pernah sampai pada tahap memutuskan akan
menjadi pelanggan internet atau tidak. Calon pelanggan
akan berhenti di tahap tidak akan mempelajari skema
tarif dengan alasan tidak ada waktu, tidak mengerti, dan
seterusnya.
Pembatasan akses sampai 1 GB perbulan akan
menurunkan minat calon pelanggan karena pola akses
internet para pemula itu biasanya akses ke situs-situs
yang menarik secara tampilan bukannya isi/manfaat dari
situs itu sendiri, dan download file-file multimedia
seperti game, gambar, lagu, dan video. Tentu saja 1 GB
bukan ukuran yang cukup besar untuk para surfer
pemula. Padahal untuk para surfer sejati yang sudah
melewati tahap ’euforia’ berinternet (terkena efek
information overload, keterbatasan harddisk yang
dimiliki), hanya pada waktu-waktu tertentu saja
memerlukan kapasitas akses yang besar (download
data/informasi yang diperlukan dalam menyelesaikan
pekerjaan), sehingga kalau di rata-ratakan untuk
pemakaian pertahun bisa jadi angka 1 GB per bulan itu
tidak akan tercapai. Oleh karena itu para penyedia akses
internet tidak perlu khawatir untuk menerapkan skema
unlimited access.
2. Tarif yang murah/terjangkau: RP. 150.000,-/bulan.
Menurut pengamatan penulis tarif termurah untuk akses
internet saat ini adalah speedy PT. Telkom, yaitu Rp.
200.000,- per 1 GB. 1 bulan atau Rp. 750.000,- per bulan
untuk unlimited access, dengan kecepatan 384 kbps.
Secara teknis sebenarnya bisa saja sekelompok orang
(misalnya bertetangga) mendaftar paket unlimited
selanjutnya akses tersebut disharing. Jika satu kelompok
terdiri dari 3 orang, artinya setiap orang bisa
mendapatkan unlimited access dengan biaya Rp.
250.000,- perbulan, meskipun di saat-saat tertentu
kecepatannya tidak akan mencapai 384 kbps, tetapi
menurut pengamatan penulis akses speedy disharing
sampai dengan 5 PC pun tidak terlalu terasa penurunan
kualitas aksesnya, apalagi probabilitas 5 PC tersebut
mengakses internet pada saat yang sama hanya pada
jam-jam tertentu saja. Jadi mengapa para operator lebih
tertarik untuk memasang tarif yang tinggi (Rp. 750.000,per bulan unlimited access) dan membiarkan
pelanggannya untuk kreatif berbagi di antara mereka
dibandingkan dengan menerapkan tarif yang relatif
murah (Rp. 150.000,- per bulan unlimited access) untuk
5 orang pelanggannya.
3. Dunia pendidikan sebagai penyedia killer application
Seperti halnya pada dunia broadcasting, dunia
pendidikan pun memiliki customer base yang tidak kalah
besarnya. Dapat dibayangkan jika setiap materi
pendidikan (berbahasa Indonesia) dari mulai TK hingga
S3 disharing di internet, probabilitas untuk menjadi
killer application tentunya sangat besar, dan perlu
diingat dengan penanganan yang baik semua resources
itu bisa dihosting di dalam negeri sehingga tidak perlu
bandwidth internasional untuk mengakses semua itu,
cukup lewat IIX. Jikalau knowledge sharing ini bisa
diimplementasikan barangkali para orang tua tidak akan
kesulitan untuk mencari buku pegangan anak-anaknya
bersekolah, cukup akses internet (bahkan sekedar
intranet Indonesia) maka apapun yang dicari tersedialah
di sana, bukankah para orang tua itu calon pelanggan
internet potensial? Kalau lah dari 220 juta jiwa rakyat
Indonesia itu terdiri dari keluarga dengan anggota
keluarga 5 orang, artinya potensi pasar itu berjumlah 44
juta keluarga.
3. PENUTUP
Sudah menjadi hukum alam bahwasanya implementasi di
lapangan itu tidak sesederhana tulisan di atas kertas.
Meskipun demikian berbagai alternatif solusi selayaknya
dicoba apalagi jika solusi eksisting terbukti tidak efektif.
Semoga kita tidak termasuk bangsa yang tidak pandai
mengambil hikmah (belajar) dari kegagalan yang pernah
dialami.
4. Daftar Pustaka
[1].www.ictwatch.com/data
[2].Warta Ekonomi, 09/04/2003
[3].“Computer Desktop Encyclopedia”, The Computer
Language Co. Inc., 2004
[4].Rinaldi Firmansyah, “One Day Conference”, Kuala
Lumpur, March 1st 2006
[5].Bisnis Indonesia, 23/04/2004
[6].www.telkom.co.id/produklayanan/personal/internet/speedy.html
e-Indonesia Initiative 2008 (eII2008)
Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia
21-23 Mei 2008, Jakarta
4
Fly UP