...

Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?
Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?
Ditulis oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Selasa, 13 Oktober 2009 07:41
Arieeeeeeeef, kok masih juga main mobil-mobilannya, Mama kan sudah bilang dari tadi, kamu
sekarang harus mengerjakan pr dari sekolah, sebentar lagi kan mau berangkat kumon.
Aaaah Mama, nanti dulu deh, Arief kan mainnya baru sebentar banget, belum selesai nih
Ma. Ini kan ambulans, ambulansnya lagi antar Lala ke rumah sakit, nggak boleh berhenti
di jalan harus cepat sampai, kalau brenti-brenti kan kasian Lalanya, nanti nggak cepat
sembuh. Brem brem brem brem breemmmmmmmmm
Banyak orangtua mengatakan kalau anak-anaknya malas dan tidak mau disuruh belajar,
maunya maiiiiiin saja dan nonton tv. Orangtua harus tarik urat kalau menyuruh anaknya belajar.
Tapi di sisi lain justru bisa dilihat kalau anak masa sekarang justru lebih banyak belajar
dibandingkan dengan masa kanak-kanak saya, misalnya. Sekolah-sekolah untuk anak-anak
ada yang sudah dimulai dari anak umur 1,5 tahun (walaupun sekolah usia ini tentunya belum
mulai belajar). Banyak TK yang menekankan kurikulumnya untuk mengajar anak membaca,
menulis dan berhitung, bukan lagi sekedar bermain-main. Anak-anak SD bersekolah dengan
waktu sekolah yang lebih panjang. Pulang sekolah anak masih mengikuti bermacam-macam
les, misalnya kumon, sempoa, super brain, balet, piano dan komputer. Selain untuk sekolah
dan les, anak-anak juga masih perlu waktu untuk mengerjakan pr, mandi, makan dan istirahat
(tidur). Jadi kapan dong waktu anak-anak bermain? Jadi sebenarnya, apakah anak-anak
memang malas belajar atau mereka kurang waktu bermain? Orangtua sekarang ini seringkali
cukup ambisius terhadap anak-anaknya, mereka ingin anaknya sepintar mungkin, dan
diwujudkan dengan mengikutkan anak pada berbagai macam les. Tidak salah kalau orangtua
berharap anak sepintar mungkin, tapi kebutuhan anak untuk bermain jangan diabaikan, karena
bermain adalah hal yang penting buat anak.
1/4
Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?
Ditulis oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Selasa, 13 Oktober 2009 07:41
Apakah bermain itu?
1. Bermain tentunya merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Menurut
Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak, harus ada 5 unsur di bawah ini dalam suatu
kegiatan yang disebut bermain:
2. Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan mendapat kepuasan karena
melakukannya (tanpa target), bukan untuk misalnya mendapatkan uang.
3. Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak
ada yang menyuruh ataupun memaksa.
4. Menyenangkan dan dinikmati.
5. Ada unsur kayalan dalam kegiatannya.
6. Dilakukan secara aktif dan sadar.
Di luar pendapat Hughes, ada ahli-ahli yang mendefinisikan bermain sebagai apapun kegiatan
anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable).
Bermain dapat menggunakan alat (mainan) ataupun tidak. Hanya sekedar berlari-lari keliling di
dalam ruangan, kalau kegiatan tersebut dirasakan menyenagkan oleh anak, maka kegiatan
itupun sudah dapat disebut bermain.
Apakah bermain penting?
Papalia (1995), seorang ahli perkembangan manusia mengatakan bahwa anak berkembang
dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak
menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia
sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa
diri mereka sendiri. Dengan bermain anak-anak, menemukan dan mempelajari hal-hal/keahlian
baru (dan belajar {learn} kapan harus menggunakan kemampuan tersebut) serta memuaskan
apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat permainan, fisik anak akan terlatih, kemampuan
kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.
Apa untungnya kalau anak bermain?
2/4
Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?
Ditulis oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Selasa, 13 Oktober 2009 07:41
Membaca uraian tentang pentingnya bermain, orangtua mungkin berpikir hal-hal tersebut di
atas bisa didapatkan anak dengan cara belajar (study). Malah dengan belajar anak bisa pintar,
kalau main terus-terusan anak tidak bisa pintar. Pendapat ini ada benarnya juga, terutama jika
kepintaran hanya berhubungan dengan kemampuan akademis seperti membaca, menulis dan
berhitung. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kepintaran bukan hanya sekedar membaca,
menulis dan berhitung, dan juga kemampuan akademis bukan satu-satunya hal yang penting
dan dibutuhkan. Ada hal lain yang penting dan dibutuhkan, misalnya kemampuan
berkomunikasi, memahami cara pandang orang lain dan bernegosiasi dengan orang. Hal-hal
tersebut tidak bisa didapatkan dengan belajar. Perasaan senang, menikmati, bebas memilih
dan lepas beban karena tidak punya target, juga tidak bisa didapatkan dari kegiatan belajar.
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya.
Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki tentang dunia dan kemudian juga
sekaligus bisa mendapatkan pengetahuan baru, dan semua dilakukan dengan cara yang
menggembirakan hatinya. Tidak hanya pengetahuan tentang dunia yang ada dalam pikiran
anak yang terekspresikan lewat bermain, tapi juga hal-hal yang ia rasakan, ketakutan-ketakutan
dan kegembiraannya. Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati ketika
anak bermain. Bahkan lewat permainan (terutama bermain pura-pura/role-playing) orangtua
juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtuanya dan
keluarganya. Bermain pura-pura menggambarkan pemahamannya tentang dunia dimana ia
berada.
Kreativitas anak juga semakin berkembang lewat permainan, karena ide-ide originallah yang
keluar dari pikiran anak-anak, walaupun kadang-kadang terasa abstrak bagi orangtua.
Tidak hanya orangtua yang mengalami stres, anak-anak juga bisa. Stres pada anak dapat
disebabkan oleh beban pelajaran sekolah dan rutinitas harian yang membosankan. Bermain
dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari.
Jadi apakah anak saya masih perlu bermain?
Tentu saja sudah jelas jawabannya bahwa anak perlu bermain. Mungkin yang dikawatirkan
orangtua adalah kalau anak terlalu banyak bermain dan tidak mau belajar. Kembali kepada
ilustrasi awal, yang perlu dipastikan adalah apakah anak masih punya waktu bermain, setelah
3/4
Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?
Ditulis oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Selasa, 13 Oktober 2009 07:41
kegiatan belajar yang padat. Kalau memang sebenarnya anak punya waktu bermain, lalu
berlanjut terus hingga tidak mau belajar, maka masalahnya adalah bagaimana kita memotivasi
anak agar mau belajar. Hal memotivasi anak belajar tidak akan dibicarakan dalam artikel ini.
Saran bagi orangtua:
- Pastikan dalam jadwal kesibukan anak sehari-hari, masih terdapat waktu luang yang
cukup untuk anak bermain.
- Sesekali ikut bermain bersama anak, pahami dirinya, kegembiraan, ketakutan dan
kebutuhannya. Siapa tahu setelah itu tidak lagi menjadi orangtua yang terlalu ambisius.
- Mendukung kreativitas permainanan anak, sejauh apa yang diperbuat anak dalam
permainan bukanlah perbuatan yang kurang ajar, tidak merugikan, menyakiti dan
membahayakan diri sendiri dan orang lain.
- Membimbing dan mengawasi anak dalam bermain, tapi tidak over-protective. Anak
mungkin tidak tahu kalau apa yang dilakukannya dalam permainan adalah perbuatan yang
salah, karena itu mereka perlu dibimbing. Tapi jangan bersikap over-protective sampai
menghalangi kebebasannya. Misalnya, kalau anak bermain lari-larian dan pernah terjatuh
adalah wajar, jadi tidak perlu melarang anak bermain lari-lari karena takut anak jatuh. Tapi
kalau anak mengebut ketika bermain sepeda, tentunya perlu dilarang karena berbahaya.
- Sekalipun dunia bermain adalah dunia anak-anak, tapi anak membutuhkan peran
orangtua untuk dapat berada dalam dunianya itu secara aman dan nyaman. Dengan bermain,
tidak hanya anak merasa senang dan bahagia ketika melakukannya; tapi dengan bimbingan
yang tepat dari orangtua, potensi diri anak juga dapat berkembang, anak dapat menjadi pintar
lewat sarana permainan. Anak senang dan orangtua bahagia.
Daftar pustaka:
Hughes, Fergus. (1999). Children, Play and Development. Boston.
Papalia, Diane E. (1995). Human Development. New York: McGrwa-Hill Inc.
(e-psikologi)
4/4
Fly UP