...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
Pengaruh Kadar Silika Pada Agregat Halus campuran Beton (Nadia – Anwar Fauzi)
PENGARUH KADAR SILIKA PADA AGREGAT HALUS CAMPURAN BETON
TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN
Oleh:
Ir. Nadia, MT
Dosen Tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email: [email protected]
Anwar Fauzi, ST
Alumni Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
ABSTRAK: Beton umumnya tersusun dari tiga bahan penyusun utama yaitu semen, agregat, dan air. Jika
diperlukan, bahan tambah (admixture) dapat ditambahkan untuk mengubah sifat-sifat tertentu dari beton yang
bersangkutan. Pada umumnya, beton mengandung rongga udara sekitar 1% - 2%, pasta semen (semen dan air)
sekitar 25% - 40%, dan agregat (agregat halus dan agregat kasar) sekitar 60% - 75%. Untuk mendapatkan
kekuatan yang baik, sifat dan karakteristik dari masing-masing bahan penyusun tersebut perlu dipelajari.
Dalam agregat terutama agregat halus memiliki sifat-sifat yang sangat mempengaruhi kuat tekan beton yaitu
keras dan kuat, bersih, tahan lama, massa jenis tinggi, butir bulat, distribusi ukuran butir yang cocok. Selain itu,
di dalam agregat halus terdapat kandungan senyawa SiO2 yang memberikan kontribusi dalam proses
pengerasan maupun peningkatan kuat tekan pada beton. Salah satu upaya yang akan dilakukan untuk
mengetahui korelasi antara besarnya kandungan senyawa SiO2 dalam agregat halus terhadap peningkatan
kuat tekan beton adalah dengan dilakukannya suatu penelitian beton dengan menggunakan 3 kategori pasir
yang memiliki kandungan senyawa SiO2 yang berbeda. Kategori pasir yang digunakan pada penelitian ini
antara lain : pasir mundu (SiO2 > 40%), pasir cileungsi (SiO2 20% - 40%), pasir cianjur (SiO2 < 20%). Selain itu,
untuk mendapatkan optimalisasi kuat tekan dari beton, diperlukan juga standarisasi kuat tekan karakteristik
yaitu K300 (f’c = 250 kg/cm2). Hasil yang didapatkan pada pengujian kuat tekan beton yang dilakukan dengan
menggunakan 3 kategori pasir yang berbeda pada umur 7, 14, 21, 28 hari menunjukkan adanya hubungan
antara besarnya kandungan senyawa SiO2 dalam pasir terhadap peningkatan kuat tekan beton. Walaupun
demikian, hasil yang didapatkan pada pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan campuran pasir yang
mengandung senyawa SiO2 tidak begitu significant (pengaruhnya sangat kecil).
Kata Kunci: Beton, agregat, Kuat tekan, SiO2.
ABSTRACT: Concrete is generally composed of three main building blocks of cement, aggregates, and water. If
necessary, add ingredients (Admixture) can be added to alter certain properties of the concrete in question. In
general, the concrete containing the air cavity of about 1% -2%, the cement paste (cement and water) about
25% - 40%, and aggregate (fine aggregate and coarse aggregate) approximately 60% - 75%. To get good
power, the nature and characteristics of each of the constituent materials need to be studied. In theaggregate,
especially fine aggregate has properties that greatly affect the compressive strength of concrete is hard and
strong, clean, durable, high density, rounded grains, grainsize distribution that fits. In addition, in the fine
aggregate content contained SiO2 compounds that contribute to the process of hardening and the
increase in concretecompressive strength. An effort will be made to determine the correlation between the
magnitude of the compound SiO2 content in fine aggregate to the increased compressive strength of concrete is
by doing a study using 3 categories of concrete with sand which has a different content of SiO2 compound.
35 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia Volume 3 Nomer 1 Desember 2011
Category of sand used in this study included: mundu sand (SiO2> 40%), Cullinan sand (SiO2 20% 40%), Cianjur sand (SiO2 <20%). In addition, to obtain the optimization of the compressive strength of
concrete, as well standardize required compressive strength characteristics of the K300 (f'c = 250 kg/cm2). The
results obtained on concrete compressive strength testing performed using three different categories of sand at
the age of 7, 14, 21, 28 days showed no associationbetween the magnitude of the compound SiO2 content in
the sand to the increasedcompressive strength of concrete. Nevertheless, the results obtained on testing the
compressive strength of concrete by using a mixture of sand containing SiO 2 compoundsare not
so significant (the effect is minimized).
Keyword: Concrete, agregate, concrete strength, SiO2
LATAR BELAKANG
Struktur beton adalah suatu bahan bangunan
komposit yang terbuat dari kombinasi agregat
dan pengikat semen. Bentuk yang paling
umum dari Beton adalah campuran semen
Portland dan agregat mineral (kerikil dan
pasir) serta air.
Bahan-bahan dasar pembentuk Beton ini akan
saling mempengaruhi satu sama lain dalam
pencapaian Kuat Tekannya.
Silika (SiO2) merupakan bahan kimia yang
dapat meningkatkan Mutu Beton, akibat
reaksi yang terjadi antara Silika dan Kapur
bebas yang ada didalam campuran beton.
Umumnya Silika (SiO2) yang dicampurkan
pada beton merupakan bahan additive buatan
pabrik seperti Silica fume atau hasil
pembakaran Batubara seperti Fly ash.
Pasir, ternyata mengandung Silika (SiO2)
yang jumlahnya bervariasi mulai < 20 %
sampai dengan > 40 % tergantung dari mana
pasir itu berasal.
Untuk itulah perlu penelitian lebih lanjut,
sejauh mana Silika (SiO2) dalam Pasir
berpengaruh terhadap Kuat Tekan Beton yang
dihasilkannya.
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Bagaimana
pengaruh
Pasir
yang
mengandung SiO2 terhadap Kuat Tekan
Beton?
36 | K o n s t r u k s i a
2. Seberapa besar pengaruhnya Pasir
tersebut terhadap Kuat Tekan Beton?
3. Bagaimana dan seberapa besar umur
Beton berpengaruh terhadap Kuat
Tekannya?
BATASAN MASALAH
1. Kategori pasir yang digunakan :
 Pasir Mundu ( SiO2 > 40% )
 Pasir Cileungsi ( SiO2 20% - 40% )
 Pasir Cianjur ( SiO2 < 20% )
2. Agregat kasar yang digunakan adalah split
dari Cileungsi.
3. Ukuran butir agregat kasar adalah 4,75
mm – 25,4 mm
4. Ukuran butir agregat halus adalah 0,075
mm - 4,75 mm
5. Admixture yang digunakan adalah
Concrete Plasticizer (CP-100).
6. Semen yang digunakan adalah Portland
Composite Cement (PCC) Tiga Roda.
7. Air yang digunakan adalah air PDAM.
8. Rencana Kuat Tekan Beton standar yang
dipakai adalah K300 (f’c = 250 kg/cm2).
9. Untuk
perhitungan
Mix
Design
menggunakan ketentuan SK-SNI-T-151990-03.
10. Benda uji beton berbentuk silinder dengan
diameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
11. Pengujian kuat tekan beton dilakukan
pada umur 7, 14, 21, 28 hari.
Pengaruh Kadar Silika Pada Agregat Halus campuran Beton (Nadia – Anwar Fauzi)
PERUMUSAN MASALAH
Pasir adalah termasuk bahan standard Beton
yang juga berfungsi sebagai filler. Sedangkan
Silika (SiO2) merupakan bahan perekat yang
mengikat kapur bebas didalam beton, jika
bahan tersebut dicampurksn didalam beton.
Dari hasil Penelitian, ternyata pasir
mengandung Silika yang bervariasi dalam
setiap jenisnya. Oleh karena itu sangat
mungkin jika kandungan Silika dalam Pasir,
dapat diantisipasi berdampak pada perolehan
Kuat Tekan Beton yang dihasilkannya.
MAKSUD DAN TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengaruh persentase
kandungan senyawa SiO2 dalam pasir
terhadap peningkatan kuat tekan beton.
2. Sebagai alternatif pemilihan agregat halus
(pasir) yang akan digunakan dalam
pembuatan beton.
HIPOTESA
1. Kadar SiO2 dalam pasir > 40%, maka akan
didapatkan nilai kuat tekan beton lebih
tinggi daripada pasir dengan kandungan
silika yang lebih kecil.
2. Kadar SiO2 dalam pasir 20% - 40%, maka
akan didapatkan nilai kuat tekan beton
lebih rendah dari ad.1.
3. Kadar SiO2 dalam pasir < 20%, maka
akan didapatkan nilai kuat tekan beton
paling rendah.
BETON DAN AGREGAT
Beton merupakan fungsi dari bahan
penyusunnya yang terdiri dari bahan semen
hidrolik (portland cement), agregat kasar,
agregat halus, air dan bahan tambah
(admixture atau additive). Untuk mengetahui
dan mempelajari perilaku elemen gabungan
(bahan-bahan
penyusun
beton),
kita
memerlukan
pengetahuan
mengenai
karakteristik masing-masing komponen.
Kandungan agregat dalam campuran beton
biasanya
sangat
tinggi.
Berdasarkan
pengalaman, komposisi agregat tersebut
berkisar 60% - 70% dari berat campuran
beton. Walaupun fungsinya hanya sebagai
pengisi tetapi karena komposisinya yang
cukup besar, agregat ini menjadi penting.
Karena itu perlu dipelajari karakteristik
agregat yang akan menentukan sifat beton
yang akan dihasilkan.
Agregat halus memiliki kandungan senyawa
SiO2 yang dapat mempengaruhi reaksi kimia
dalam proses pengerasan beton sehingga
didapat kuat tekan beton yang tinggi.
Agregat normal harus memenuhi syarat mutu
sesuai dengan syarat mutu sesuai dengan SII
0052-80, ”Mutu dan Cara Uji Agregat Beton”
dan jika tidak tercantum dalam syarat ini
harus memenuhi syarat ASTM C.33-82,
”Standard
Spesification
for
Concrete
Aggregates”.
PENGERTIAN SEMEN
Semen adalah bahan pengikat pada
pembentukan beton. Semen dapat dikatakan
sebagai tulang punggung beton. Silika
membentuk sekitar seperlima, sedangkan
alumina hanya ada sekitar seperduabelas dari
semen. Silika dalam kadar tinggi, yang
biasanya disertai alumina dengan kadar
rendah menghasilkan semen dengan ikatan
lambat dengan kekuatan tinggi dan
meningkatkan ketahanan terhadap agresi
kimia. Bilamana keadaan sebaliknya, alumina
pada kadar tinggi dan silika pada kadar
rendah, semen mengikat dengan cepat dan
kekuatannya tinggi.
37 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia Volume 3 Nomer 1 Desember 2011
Semen Portland adalah semen hidraulis yang
dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker
yang terdiri dari silikat-silikat kalsium yang
bersifat hidraulis bersama bahan tambahan
yang biasanya digunakan adalah gypsum.
Klinker adalah penamaan untuk gabungan
komponen produk semen yang belum
diberikan tambahan bahan lain untuk
memperbaiki sifat dari semen.
PCC (Portland Composite Cement)
Portland Composite Cement adalah bahan
pengikat hidrolis hasil penggilingan bersamasama terak semen portland dan gips dengan
satu atau lebih bahan anorganik atau hasil
pencampuran antara bubuk semen portland
dengan bubuk anorganik lain. Bahan
anorganik tersebut antara lain terak tanur
tinggi (Blast furnace slag), pozzolan, senyawa
silikat, batu kapur, dengan kadar total bahan
anorganik 6% - 35% dari massa semen
portland komposit.
Portland Composite Cement (PCC) dapat
dipergunakan untuk keperluan konstruksi
umum seperti rumah, gedung bertingkat,
jembatan, jalan beton, beton precast, beton
prestress. Kekuatan PCC sama dengan
Portland Cement tipe I.
Keunggulan Portland Composite Cement
(PCC) adalah :
1. Mudah pengerjaannya.
2. Suhu adukan rendah sehingga hasilnya
tidak mudah retak.
3. Menghasilkan permukaan plesteran dan
beton yang halus.
4. Kedap air.
5. Tahan terhadap serangan sulfat.
6. mempunyai kuat tekan yang tinggi.
38 | K o n s t r u k s i a
7.
Bangunan atau konstruksi menjadi tahan
lama.
Ketika semen Portland dicampur dengan air,
timbullah reaksi kimia antara campurancampurannya dengan air. Pada tingkatan
awal, sejumlah kecil dari retarder cepat
terlarut dan dapat berpengaruh terhadap
reaksi-reaksi kimia lain yang sedang bereaksi.
Reaksi-reaksi ini menghasilkan bermacammacam senyawa kimia yang menyebabkan
ikatan dan pengerasan.
Secara garis besar, ada 4 (empat) senyawa
kimia utama yang menyusun semen portland
yaitu :
Tricalsium Aluminate (3CaO.Al2O3) yang
disingkat menjadi C3A
Senyawa ini mengalami hidrat sangat cepat
disertai pelepasan sejumlah besar panas
menyebabkan pengerasan awal tetapi kurang
kontribusinya pada kekuatan batas.
Hidrasi C3A :
3CaO.Al2O3 + 3CaSO4 + 32H2O →
3CaO.Al2O3. 3CaSO4.32H2O
Tricalsium Silikat (3CaO.SiO2) yang
disingkat menjadi C3S
Senyawa ini mengeras dalam beberapa jam
dengan melepas sejumlah panas. Kualitas
yang terbentuk dalam ikatan menentukan
pengaruhnya terhadap kekuatan beton pada
awal umurnya terutama dalam 14 hari
pertama.
Hidrasi C3S :
2 (3CaO.SiO2) + 6H2O →
3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2
Dicalsium Silikat (2CaO.SiO2) yang
disingkat menjadi C2S
Pengaruh Kadar Silika Pada Agregat Halus campuran Beton (Nadia – Anwar Fauzi)
Senyawa ini berpengaruh terhadap progres
peningkatan kekuatan yang terjadi dari 14
sampai 28 hari.
Hidrasi C2S :
2
(2CaO.SiO2)
+
4H2O
3CaO.2SiO2.2H2O + Ca(OH)2
→
Tetra
Calsium
Aluminoferrite
(4CaO.Al2O3.Fe2O3 ) yang disingkat menjadi
C4AF
Adanya senyawa aluminoferrite kurang
penting karena tidak tampak pengaruhnya
terhadap kekuatan dan sifat-sifat semen keras
lainnya.
Hidrasi C4AF ( ± H2O 30ºC ) :
4CaO.Al2O3.Fe2O3 + 2Ca(OH)2 + 10H2O
→ 3CaO.Al2O3. 6H2O + 3CaO. Fe2O3.
6H2O.
PENGERTIAN AIR
Air diperlukan pada pembuatan beton untuk
memicu proses kimiawi semen, membasahi
agregat dan memberikan kemudahan dalam
pekerjaan beton. Air yang baik untuk
pembuatan dan perawatan beton adalah air
yang mengandung ion-ion utama yang
biasanya mengandung unsur kalsium,
magnesium, natrium, kalium, Bikarbonat,
sulfat, klorida, nitrat dan kadang-kadang
mengandung karbonat.
Air yang digunakan pada pembuatan beton
harus bersih, tidak boleh mengandung
minyak, asam, alkali, garam-garam zat organik
atau bahan-bahan lain yang dapat merusak
beton dan baja tulangan. Air tawar yang
umumnya dapat diminum baik air yang telah
diolah maupun yang tanpa diolah dapat
dipakai pada pembuatan beton.
Air tawar yang tidak bisa diminum, tidak
boleh dipakai untuk pembuatan beton kecuali
dapat dipenuhi ketentuan-ketentuan. Air
pembuangan kota biasanya mengandung 400
ppm
bahan-bahan
organik.
Apabila
diencerkan serta diturunkan hingga 20 ppm
maka air tersebut dapat dipakai sebagai
campuran beton. Tujuannya agar air dapat
bereaksi sehingga terjadi hidrasi yang
berakibat campuran beton mengeras.
KUAT TEKAN BETON
Standar kuat tekan adalah kuat tekan
(strength) beton yang direncanakan sesuai
dengan keperluan-keperluan yang akan
dicapai. Kekuatan tekan karakteristik ialah
kekuatan tekan dimana dari sejumlah besar
hasil-hasil
pemeriksaan
benda
uji,
kemungkinan adanya kekuatan tekan yang
kurang dari itu terbatas sampai 5% saja.
Kekuatan
tekan
karakteristik
yang
dipersyaratkan harus berdasarkan kekuatan
tekan benda uji beton berbentuk kubus 150
mm atau silinder diameter 150 mm dan tinggi
300 mm berumur 28 hari. K300 adalah kuat
tekan karakteristik beton sebesar 300 kg/cm2
dimana benda uji beton berbentuk kubus 15 x
15 x 15 cm.
Perbandingan kekuatan tekan beton pada
berbagai benda uji. (2)
Benda uji
Kubus
15 x 15 x 15 cm
Perbandingan
kekuatan tekan
1,00
Kubus
20 x 20 x 20 cm
0,95
Silinder 15 x 30 cm
0,83
39 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia Volume 3 Nomer 1 Desember 2011
Kekuatan tekan beton adalah kemampuan
beton untuk menerima gaya tekan persatuan
luas. Kuat tekan beton dihitung dengan
membagi beban maksimum ( Pmaks ) dengan
luas penampang.
f 'c 
Pmaks
A
Sebagaimana yang dijelaskan dalam SNI T-151990-03 pasal 3.4.3 kuat tekan pada umur 28
hari, data dihitung data kuat tekan pada umur
lainnya dengan menggunakan angka konversi
yang diturunkan dari hasil percobaan
dilaboratorium terhadap benda uji yng
dirawat dilaboratorium maupun dilapangan.
Bila percobaan ini tidak dilakukan, alternatif
lainnya untuk mendapatkan kuat tekan beton
umur 28 hari adalah dengan menggunakan
nilai konversi yang terdapat dalam tabel
dibawah ini, asalkan beton tersebut
menggunakan campuran tambahan ataupun
agregat ringan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh kandungan senyawa
SiO2 dalam pasir terhadap peningkatan kuat
tekan beton. Dalam pembuatan beton
digunakan jenis pasir dengan kategori yang
berbeda dilihat dari segi besarnya persentase
kandungan senyawa SiO2 yang terkandung
dalam pasir.
Kategori pasir yang digunakan
pembuatan beton yang meliputi :
dalam
Pasir SiO2 tinggi
( SiO2 > 40% )
meliputi : pasir mundu
Pasir SiO2 sedang
( SiO2 20% 40% ) meliputi : pasir cileungsi
40 | K o n s t r u k s i a
Pasir SiO2 rendah
( SiO2 < 20% )
meliputi : pasir cianjur
Pengujian kadar SiO2 dalam pasir dilakukan di
Laboratorium Afiliasi UI Departemen Kimia,
FMIPA UI, Kampus UI Depok 16424.
Sedangkan pelaksanaan pembuatan beton
dilakukan di Laboratorium Sipil Universitas
Muhammadiyah Jakarta di jalan Cempaka
Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510.
Pengujian kuat tekan beton dilakukan di
Laboratorium
Sipil
Universitas
Muhammadiyah Jakarta jalan Cempaka Putih
Tengah 27 Jakarta Pusat 10510.
Metode yang digunakan adalah pendekatan
eksperimen untuk mencari tingkat kuat tekan
optimal dari masing-masing beton dengan
menggunakan jenis pasir yang berbeda.
Peralatan
maupun
persyaratan
yang
digunakan
mengacu
pada
peraturan
konstruksi yaitu Standar SK-SNI-T-15-199003 dalam perencanaan mix design beton.
Jumlah sample beton secara keseluruhan
untuk setiap kategori pasir yang digunakan
dalam penelitian ini adalah 16 sample beton.
Dimana jumlah sample beton dari setiap
kategori pasir yang digunakan terbagi atas 4
kategori sesuai dengan umur uji kuat tekan
beton yaitu 7, 14, 21, 28 hari. Dalam setiap
kategori tersebut terdiri dari 4 sample beton
yang akan dianalisa sehingga dalam proses
pengecekan standar deviasi bahan uji tidak
menggunakan standar analisa berdasarkan
kurva normal melainkan menggunakan
standar analisa berdasarkan Kurva T (Student
T).
Pengaruh Kadar Silika Pada Agregat Halus campuran Beton (Nadia – Anwar Fauzi)
HASIL PENELITIAN
PERBANDINGAN KUAT TEKAN BETON
TERHADAP PERSENTASE SiO2
PADA UMUR 14 HARI
KUAT TEKAN KARAKTERISTIK BETON
PADA UMUR 7 HARI
KODE
(%)
KADAR
SiO2
1
Cianjur
13.12
163.62
2
Cileungsi
35.09
168.72
3
Mundu
50.4
169.85
231
Kuat tekan (Kg/cm 2)
NO
KUAT TEKAN
KARAKTERIST
IK
2
( kg/cm )
UMUR 14 HARI
230
229
y = 0.2051x + 218.6
R2 = 0.8849
228
227
226
225
224
223
222
221
220
0
10
20
30
40
50
60
Kadar SiO2 (%)
Keterangan :
sebenarnya
PERBANDINGAN KUAT TEKAN BETON
TERHADAP PERSENTASE SiO2
PADA UMUR 7 HARI
KUAT TEKAN KARAKTERISTIK BETON
PADA UMUR 21 HARI
UMUR 7 HARI
171.00
166.00
1
Cianjur
KADAR
SiO2
(%)
13.12
165.00
2
Cileungsi
35.09
242.32
3
Mundu
50.4
244.21
y = 0.1716x + 161.76
R2 = 0.9389
Kuat tekan (Kg/cm 2)
170.00
169.00
NO
KODE
168.00
167.00
164.00
163.00
10
20
30
40
50
Kadar SiO2 (%)
Keterangan :
sebenarnya
Garis grafik
Trendline dengan
nilai R2 = 0.9389
KUAT TEKAN KARAKTERISTIK BETON
PADA UMUR 14 HARI
NO
KODE
Cianjur
KADAR
SiO2
KUAT TEKAN
KARAKTERISTIK
2
(%)
( kg/cm )
13.12
221.94
2
Cileungsi
35.09
224.2
3
Mundu
50.4
229.87
KUAT TEKAN
KARAKTERISTIK
2
( kg/cm )
240.62
60
PERBANDINGAN KUAT TEKAN
TERHADAP PERSENTASE SiO2
PADA UMUR 21 HARI
BETON
UMUR 21 HARI
244.5
244
Kuat tekan (Kg/cm 2)
0
1
Garis grafik
Trendline dengan
nilai R2 = 0.8849
y = 0.095x + 239.26
R2 = 0.9823
243.5
243
242.5
242
241.5
241
240.5
240
0
10
20
30
40
50
60
Kadar SiO2 (%)
41 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia Volume 3 Nomer 1 Desember 2011
Keterangan :
sebenarnya
Garis grafik
Trendline dengan
nilai R2 = 0.9823
TABEL
PERSAMAAN
GRAFIK
PERBANDINGAN KUAT TEKAN BETON
TERHADAP PERSENTASE SiO2
KUAT TEKAN KARAKTERISTIK BETON
PADA UMUR 28 HARI
NO
KODE
1
Cianjur
Cileungs
i
Mundu
2
3
KADA
R SiO2
(%)
13.12
No
1
KUAT TEKAN
KARAKTERISTI
K
( kg/cm2 )
251
35.09
50.4
255.91
259.31
PERBANDINGAN KUAT TEKAN
TERHADAP PERSENTASE SiO2
PADA UMUR 28 HARI
3
4
10
20
Kuat tekan (Kg/cm 2)
42 | K o n s t r u k s i a
Satuan
f’c dalam satuan
2
kg/cm
f’c = 0.2051(Si) +
218.6
Si dalam satuan
persen (%)
f’c dalam satuan
2
kg/cm
Si dalam satuan
persen (%)
f’c = 0.09(Si) + 239.26 f’c dalam satuan
2
kg/cm
28
f’c = 0,2229(Si) +
248,08
Si dalam satuan
persen (%)
f’c dalam satuan
2
kg/cm
Keterangan : f’c menyatakan besarnya nilai y
(kuat tekan beton).
Si menyatakan besarnya nilai x
(persentase SiO2)
30
40
50
Kadar SiO2 (%)
Keterangan :
sebenarnya
21
Persamaan
Si dalam satuan
persen (%)
y = 0.2229x + 248.08
R2 = 1
0
14
f’c = 0.1716(Si) +
161.76
BETON
UMUR 28 HARI
260
259
258
257
256
255
254
253
252
251
250
2
Umur
7
Garis grafik
Trendline dengan
nilai R2 = 1
60
KESIMPULAN
Dari data-data yang diperoleh dari hasil
penelitian dan analisa kuat tekan beton,
didapatkan
suatu
kesimpulan
yang
menyatakan pembenaran pada hipotesa
sebelumnya yaitu:
1. Makin tinggi kandungan SiO2 dalam pasir
> 40%, didapatkan nilai kuat tekan beton
lebih tinggi daripada kuat tekan beton
pada campuran beton dengan pasir
kandungan silicanya yang lebih rendah.
Pengaruh Kadar Silika Pada Agregat Halus campuran Beton (Nadia – Anwar Fauzi)
2. Persentase kandungan SiO2 dalam Pasir,
tidak banyak pengaruhnya terhadap Kuat
Tekan Beton.
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Standardisasi Nasional, Standar
Nasional Indonesia Semen Portland
Komposit (SNI 15-7064-2004), 2004
2. Dajan, Anto. Pengantar Metode Statistik.
Jakarta : LP3ES, 1986.
3. Departemen Pekerjaan Umum. LPMB.
Tata
Cara
Pembuatan
Rencana
Campuran Beton Normal. SK SNI T-151990-03. Cetakan Pertama, Bandung : DPU
– Yayasan LPMB, 1991.
4. http://rieko.files.wordpress.com/2007/12/
proses-pembuatan-semen-pada-pt-holcimindonesia-tbk.pdf
5. http://wancik.files.wordpress.com/2007/0
6/sni-15-7064-2004_semen-portlandkomposit.pdf
6. http://www.indocementawards.com/down
load/Ed-144-Advertorial-Produk-ITPFinal.pdf
7. Mulyono,
Tri.
Teknologi
Beton.
Yogyakarta : ANDI, 2004.
8. Murdock, L.J.,K.M.Brook, dan Stephanus
Hendarko. Bahan dan Praktek Beton.
Jakarta, Erlangga, 1991.
43 | K o n s t r u k s i a
Fly UP