...

Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan
TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan
Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Bagian Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Meningkatnya jumlah lanjut usia di dunia membawa beberapa masalah kesehatan masyarakat, antara lain yang dikaitkan dengan kemunduran
fungsi kognitif. Kemunduran fungsi kognitif tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik yang tidak bisa dihindari, seperti usia dan
gender, juga beberapa kondisi fisik atau penyakit yang dapat dikendalikan. Pemahaman atas faktor-faktor risiko tersebut dapat membantu
mengurangi risiko kemunduran fungsi kognitif.
Kata kunci: lanjut usia, kondisi fisik, kemunduran fungsi kognitif
ABSTRACT
The increase of old age population brings additional burden to community, particularly problems due to cognitive decline. Cognitive decline is
influenced by many risk factors; some risk factors are inherent such as aging and gender, but many conditions and diseases can be controlled.
The understanding about these risk factors can help reduces the risk of cognitive decline. Budi Riyanto Wreksoatmodjo. Some Physical
Conditions and Diseases as Risk Factors for Cognitive Decline.
Key words: old age, physical condition, cognitive decline
Tulisan ini merupakan bagian dari disertasi:
Budi Riyanto Wreksoatmodjo. Pengaruh Social
Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut
Usia di Jakarta. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, 2013.
LATAR BELAKANG
Saat ini, penduduk dunia diperkirakan
berjumlah sekitar 7 milyar, meningkat dari
sekitar 6.5 milyar di tahun 2006. Peningkatan
jumlah penduduk tersebut diikuti dengan
peningkatan jumlah penduduk berusia 60
tahun ke atas; antara tahun 1970 sampai
tahun 2025, jumlah mereka diperkirakan akan
meningkat 223% atau bertambah sekitar
694 juta jiwa. Di tahun 2025 akan terdapat
sekitar 1.2 milyar penduduk dunia berusia
60 tahun ke atas, yang akan menjadi 2 milyar
di tahun 2050; 80% di antaranya tinggal
di negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia.1 Jumlah lanjut usia di Indonesia
diperkirakan 18.575.000 jiwa;2 angka tersebut
sekitar 7% dari jumlah seluruh penduduk
yang diperkirakan sebesar 234.181.400 jiwa.
Proporsi populasi lanjut usia tersebut akan
terus meningkat mencapai 11.34% di tahun
2020.3
Alamat korespondensi
Salah satu masalah utama para lanjut
usia adalah kemunduran fungsi kognitif.
Kemunduran fungsi kognitif tersebut
selanjutnya mempengaruhi pola interaksi
mereka dengan lingkungan tempat tinggal,
dengan anggota keluarga lain, juga pola
aktivitas sosialnya,4 sehingga akan menambah
beban keluarga, lingkungan dan masyarakat.
Kemunduran fungsi kognitif dapat berupa
mudah-lupa (forgetfulness) yaitu bentuk
gangguan kognitif yang paling ringan;
gangguan ini diperkirakan dikeluhkan
oleh 39% lanjut usia berusia 50-59 tahun,
meningkat menjadi lebih dari 85% pada usia
lebih dari 80 tahun. Di fase ini seseorang
masih bisa berfungsi normal kendati mulai
sulit mengingat kembali informasi yang
telah dipelajari; tidak jarang ditemukan pada
orang setengah baya.5 Jika penduduk berusia
lebih dari 60 tahun di Indonesia berjumlah
7% dari seluruh penduduk, maka keluhan
mudah-lupa tersebut diderita oleh setidaknya
3% populasi di Indonesia. Mudah-lupa ini
bisa berlanjut menjadi Gangguan Kognitif
Ringan (Mild Cognitive Impairment-MCI)
sampai ke Demensia sebagai bentuk klinis
yang paling berat. Demensia adalah suatu
kemunduran intelektual berat dan progresif
yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan,
dan aktivitas harian seseorang.6 Penyakit
Alzheimer (AD) merupakan penyebab yang
paling sering, ditemukan pada 50-60%
pasien demensia; penderitanya diperkirakan
berjumlah 35.6 juta di seluruh dunia (2010),
yang akan meningkat mencapai 65.7 juta di
tahun 2030 dan menjadi 115.4 juta di tahun
2050;7 sehingga di antara penduduk usia
lanjut dunia yang mencapai 1.2 milyar di
tahun 2025,8 penyakit Alzheimer diidap oleh
setidaknya 5% populasi. Penyebab demensia
lainnya meliputi gangguan vaskuler (10-30%),
alkoholik, gangguan metabolik, infeksi otak,
trauma otak, anoksi dan lain-lain.9
BEBAN PELAYANAN LANJUT USIA
Beberapa studi di negara maju menunjukkan
bahwa peningkatan penduduk lanjut
usia akan meningkatkan kebutuhan dan
pembiayaan berkaitan dengan kebutuhan
mereka, termasuk kebutuhan pelayanan
kesehatan dan biaya yang berkaitan dengan
pelayanan sosial dan masyarakat.10 Data
Bank Dunia menunjukkan bahwa seiring
email: [email protected]
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
25
TINJAUAN PUSTAKA
Tabel 1 Biaya Perawatan Lanjut Usia di Berbagai Negara (billionUS$)7
Tabel 2 Biaya perawatan penderita demensia di Negara-negara berdasarkan klasifikasi Bank Dunia (US$)7
menghasilkan prevalensi demensia mulai
dari 0.4% pada pria dan perempuan usia 6064 tahun sampai 22.1% pada pria dan 30.8%
pada wanita berusia lebih dari 90 tahun.7
2. GENDER
Tidak terdapat perbedaan insidensi demensia
akibat semua penyebab antara laki-laki dan
perempuan.13 Beberapa studi besar tidak
menemukan perbedaan insiden demensia
Alzheimer maupun demensia vaskuler
di kalangan laki-laki dan perempuan.15-6
Meskipun demikian, dua meta analisis
menyimpulkan bahwa perempuan lebih
cenderung menderita demensia Alzheimer,
khususnya di usia sangat lanjut. Asosiasi ini
menetap sekalipun dikoreksi mengingat
perempuan mempunyai harapan hidup lebih
panjang.12,17 Sebaliknya laki-laki cenderung
lebih berisiko menderita demensia vaskuler
dibandingkan perempuan, terutama di usia
lebih muda.12 Hal ini dapat karena ada faktor
risiko seperti penyakit kardiovaskuler yang
lebih sering dijumpai di kalangan laki-laki.
Ket.: Indonesia tergolong dalam kelompok lower middle income countries dengan GNP US$ 2050 (2009) (http://data.
worldbank.org/country/Indonesia).
dengan meningkatnya pendapatan negara,
biaya perawatan demensia akan meningkat
terutama di bidang asuhan informal berupa
pelayanan pengasuhan dan bantuan
pengawasan aktivitas para lanjut usia (tabel
1).
risiko yang dapat dicegah. Faktor-faktor risiko
penurunan fungsi kognitif tersebut bisa
berasal dari faktor genetik (gen APOE, PS),
usia, faktor penyakit/kondisi kesehatan seperti
hipertensi, DM, defisiensi, maupun faktor
lingkungan tempat tinggal.11
Peningkatan biaya tersebut juga terlihat
jika dihitung berdasarkan biaya perorang
penderita demensia; terutama di bidang
pelayanan sosial dan informal (tabel 2). Yang
termasuk dalam informal care ialah bantuan
untuk aktivitas pribadi sehari-hari seperti
mandi, berpakaian, makan, dan bantuan
untuk bepergian, mengurus keuangan dan
sebagainya yang dilakukan oleh keluarga
tanpa dibayar (unpaid care provided by family
and others). Secara umum dapat dikatakan
bahwa makin tinggi pendapatan rata-rata
suatu negara, biaya pelayanan para lanjut usia
akan makin meningkat, terutama di sektor
pelayanan sosial dan informal.
Selanjutnya akan dibahas beberapa kondisi
fisik dan penyakit yang merupakan faktor
risiko gangguan kognitif.
Mengingat besarnya masalah dan beban
masyarakat akibat gangguan kognitif lanjut
usia, upaya pencegahan akan menghasilkan
dampak besar terhadap penghematan
sumberdaya masyarakat. Upaya tersebut
antara lain dapat melalui pengenalan faktor
26
FAKTOR RISIKO GANGGUAN KOGNITIF
1. USIA
Dapat dipahami jika angka kejadian demensia
meningkat sesuai dengan pertambahan
usia; peningkatannya sekitar dua kali lipat
setiap pertambahan usia 5 tahun.12 Suatu
meta analisis menghasilkan angka insidensi
demensia sedang-berat di AS sebesar 2.4, 5.0,
10.5, 17.7 dan 27.5 per 1000 person-years pada
kelompok usia berturut-turut 65-69, 70-74, 7579, 80-84 dan 85-89 tahun. Untuk demensia
Alzheimer, angkanya berturut-turut 1.6, 3.5,
7.8, 14.8 dan 26.0 per 1000 person-years. Angka
tersebut akan dua-tiga kali lipat jika kasus-kasus
ringan juga dihitung.13 Penelitian LEILA75+ di
Jerman menghasilkan annual incidence rate
demensia antara 45.8–47.4 per 1000 personyears.14 Studi EURODEM dari 8 negara Eropa
3. RAS
Beberapa studi di AS menunjukkan bahwa
insiden demensia dan Alzheimer kira-kira dua
kali lebih tinggi di kalangan Afrika-amerika
dan Hispanik dibandingkan dengan kulitputih.18-19 Prevalensi demensia dan Alzhemier
agaknya lebih rendah di negara-negara
Asia dibandingkan dengan di AS,12,20 selain
itu prevelensi demensia di kalangan orang
Jepang di Jepang lebih rendah daripada
di kalangan Jepang-Amerika yang tinggal
di Hawaii.21 Penelitian di Singapura yang
sebagian besar penduduknya etnis Cina,
mendapatkan prevalensi demensia sebesar
1.26%, etnis Melayu dua kali lebih berisiko
Alzheimer dibandingkan dengan etnis
Cina, sedangkan etnis India dua kali lebih
berisiko Alzheimer dan demensia vaskuler
dibandingkan dengan etnis Cina.22 Perbedaan
ini dapat lebih dipengaruhi oleh faktor
lingkungan daripada oleh faktor genetik;
diperlukan penelitian lanjutan untuk mencari
faktor utama penyebab perbedaan tersebut.13
4. GENETIK
Penyakit Alzheimer (AD) merupakan penyakit
genetis heterogen; dikaitkan dengan satu
susceptibility (risk) gene dan tiga determinative
(disease) genes.23 Susceptibility (risk) gene yang
diketahui ialah alel apolipoprotein Eε4 (APOE
ε4) di khromosom 19 pada q13.2.24 meskipun
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
TINJAUAN PUSTAKA
adanya alel tersebut di individu asimtomatik
tidak memprediksi AD di kemudian hari.25 Ada
satu jenis penyakit Alzheimer early-onset yang
sangat jarang; jenis yang diturunkan secara
autosomal dominan ini dikaitkan dengan
mutasi di khromosom 1 (gen presenilin 2
–PS2) atau di khromosom 14 (gen presenilin
1 – PS1), atau lebih jarang lagi, di khromosom
21.23
5. TEKANAN DARAH
Tekanan darah tinggi di usia pertengahan
dikaitkan dengan mild cognitive impairment26
dan peningkatan risiko demensia;27 sebaliknya
hipertensi di usia lanjut diasosiasikan dengan
penurunan risiko demensia.28 Selain itu
telah diamati bahwa tekanan darah mulai
turun sekitar 3 tahun sebelum demensia
didiagnosis29 dan terus menurun pada
penderita AD.30 Dari data ini bisa ditafsirkan
bahwa tekanan darah tinggi di usia
pertengahan meningkatkan risiko demensia
di kemudian hari, sedangkan rendahnya
tekanan darah di usia lanjut dikaitkan dengan
proses penuaan dan neuropatologi yang
menyertainya.31 Perbedaan risiko tersebut
dapat karena tingginya tekanan sistolik
di usia pertengahan akan meningkatkan
risiko
aterosklerosis,32
meningkatkan
jumlah lesi iskemik substansia alba,33 juga
meningkatkan jumlah plak neuritik dan
tangles di neokorteks dan hipokampus34
serta meningkatkan atrofi hipokampus dan
amigdala.35 Masing-masing kelainan tersebut
dapat berpengaruh negatif terhadap
fungsi kognitif. Sebaliknya, rendahnya
tekanan
darah
dapat
diasosiasikan
dengan peningkatan risiko gangguan
kognitif dan demensia karena perubahan
neurodegeneratif akibat hipoperfusi otak.36
6. PAYAH JANTUNG
Payah jantung di kalangan usia lanjut dikaitkan
dengan gangguan kognitif; skor MMSE lebih
rendah dikaitkan dengan disfungsi ventrikel
kiri yang lebih berat;37 selain itu di kalangan
usia lanjut berpenyakit jantung, mereka
yang menderita payah jantung mempunyai
fungsi kognitif lebih rendah.38 Riwayat payah
jantung dikaitkan dengan peningkatan risiko
demensia, termasuk demensia Alzheimer39
dan CIND (cognitive impairment no dementia).40
Kaitan ini bisa disebabkan oleh adanya
faktor risiko bersama seperti aterosklerosis,
hipertensi, diabetes melitus,41 atau karena
hipoperfusi serebral.42
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
7. ARITMI JANTUNG
Kejadian fibrilasi atrium dikaitkan dengan
gangguan fungsi kognitif maupun demensia,
terutama di kalangan perempuan dan usia
<75 tahun;43 fibrilasi atrium permanen pada
usia lanjut dikaitkan dengan nilai MMSE
yang lebih rendah, mungkin disebabkan
oleh lesi iskemik akibat mikroemboli; tetapi
fibrilasi atrium sering disertai dengan payah
jantung yang menurunkan cardiac output
dan penyakit lain seperti diabetes melitus
yang juga merupakan faktor risiko gangguan
kognitif.44
8. DIABETES MELITUS
Diabetes melitus di usia pertengahan
meningkatkan
risiko
mild cognitive
impairment,45 semua jenis demensia46-8 dan
demensia vaskuler,49 meskipun penemuan
Curb dkk (1999) tidak menyokong.50
Studi kasus-kontrol menunjukkan bahwa
peningkatan risiko dipengaruhi oleh onset
yang lebih dini, lama dan beratnya diabetes.51
Manfaat kontrol gula darah terhadap risiko
demensia masih belum dapat dipastikan.
Studi observasional mendapatkan para
diabetik yang diobati lebih sedikit yang turun
fungsi kognitifnya dibandingkan dengan yang
tidak diobati.52
Mekanisme hubungan diabetes melitus
dengan demensia belum diketahui pasti;
agaknya melibatkan beberapa proses yang
saling berkaitan: proses vaskular, metabolik
dan proses oksidatif/inflamasi.53 Diabetes
menyebabkan gangguan sistem pembuluh
darah, termasuk di otak; gangguan ini bisa
menyebabkan iskemi menghasilkan lesi
subkortikal di substansia alba, silent infarcts,
dan atrofi yang pada MRI terlihat lebih sering
dan berat di kalangan penderita diabetes.54
Diabetes lebih dikaitkan dengan risiko
demensia vaskuler dibandingkan dengan
demensia Alzheimer.55 Metabolisme Abeta56
dan tau-protein57 yang membentuk plak
dan kekusutan neuron di otak juga dapat
dipengaruhi oleh kadar insulin.
9. KADAR LIPID DAN KOLESTEROL
Kaitan kolesterol dengan demensia telah
banyak diteliti, tetapi hasilnya masih belum
konsisten. Serupa dengan tekanan darah,
kadar kolesterol tinggi di usia pertengahan
dihubungkan dengan peningkatan risiko
gangguan kognitif,58-9 peningkatan risiko
demensia46,60 dan peningkatan risiko penyakit
Alzheimer;61 sedangkan kadar kolesterol
tinggi di usia lanjut tidak berpengaruh62 atau
bahkan diasosiasikan dengan penurunan
risiko demensia.63 Penelitian menunjukkan
bahwa kadar kolesterol mulai turun sebelum
timbul gejala demensia; penurunan lebih
besar antara usia pertengahan dan usia lanjut
dikaitkan dengan lebih beratnya gangguan
kognitif di usia lanjut.64 Tingginya kadar HDL
kolesterol di usia pertengahan diasosiasikan
dengan nilai neuropsikometrik yang lebih
baik, sedangkan kadar trigliserida tidak
berpengaruh.65 Mungkin terdapat hubungan
nonlinear antara fungsi kognitif dengan
kadar kholesterol66 atau perbedaan kekuatan
asosiasi pada usia yang berbeda.67
Peranan kolesterol dalam patologi demensia
bisa berkaitan dengan alel APOEe4.
Dibandingkan dengan alel e2 dan e3, e4
dihubungkan dengan transpor dan clearance
kolesterol yang lebih buruk68 yang bisa
meningkatkan kadar kolesterol di usia lanjut.
Tingginya kadar kolesterol bisa menyebabkan
aterosklerosis yang mengurangi aliran darah
ke otak dan mempercepat neurodegenerasi69
melalui pengaruhnya terhadap metabolisme
beta amiloid (Abeta), protein pembentuk plak
yang ditemukan berlebihan di otak pasien
Alzheimer.70
Penurunan risiko demensia di kalangan
lanjut usia dengan kolesterol tinggi mungkin
berhubungan dengan peran kolesterol pada
plastisitas neuron71 atau sifat antioksidan
oksisterolnya,72 atau pada perlindungannya
terhadap general wasting dan hilangnya
massa tubuh yang dikaitkan dengan
demensia Alzheimer.73 Studi potonglintang
menunjukkan rendahnya penggunaan statin
di kalangan demensia dibandingkan dengan
di kalangan nondemensia, tetapi hasil ini
dapat disebabkan oleh perbedaan pola
preskripsi.74
10. FUNGSI TIROID
Perubahan fungsi tiroid merupakan bagian
dari perubahan yang umum diamati pada
usia lanjut.75 Hipertiroid subklinis diasosiasikan
dengan penurunan fungsi kognitif;76 tetapi
peranan disfungsi tiroid subklinis terhadap
status fungsional para usia lanjut masih
diperdebatkan.77 Mekanisme hubungan
tersebut masih belum diketahui,76 dapat
melalui mekanisme autoimunitas mengingat
kelainan tiroid autoimun juga lebih sering
27
TINJAUAN PUSTAKA
dijumpai di kalangan penderita Alzheimer.78
Selain itu peningkatan kadar hormon tiroid
cenderung meningkatkan stres oksidatif79 dan
mencetuskan apoptosis yang dapat merusak
dan menyebabkan kematian neuron.80
11. OBESITAS
Mengingat obesitas erat hubungannya
dengan hipertensi, kolesterol tinggi, dan
diabetes melitus, beberapa studi mencoba
mencari hubungannya dengan demensia.
Hasilnya tidak konsisten - studi pada kelompok
usia pertengahan umumnya menunjukkan
peningkatan risiko;46,81 sebaliknya, studi di
usia lanjut menunjukkan penurunan risiko
AD.82 Mungkin ada situasi lain dengan asosiasi
nonlinear – adipositas di usia pertengahan
meningkatkan risiko, kemudian terdapat
perubahan patofisiologi berkaitan dengan
demensia yang (juga) menurunkan indeks
massa tubuh.
Mekanisme yang paling jelas ialah melalui
peningkatan risiko hipertensi, diabetes dan
hiperkolesterolemi;83 tetapi perbaikan faktorfaktor tersebut ternyata tidak mengurangi
asiosiasinya,46 menandakan kemungkinan
obesitas secara independen berisiko
demensia. Mekanismenya bisa akibat efek
jaringan adiposa yang mensekresi beberapa
sitokin, hormon dan faktor pertumbuhan yang
menembus sawar darah otak83 mengingat
jaringan adiposa diketahui merupakan
jaringan endokrin aktif.84 Disregulasi hormon
leptin bersamaan dengan proses penuaan
dapat secara langsung mempengaruhi
degenerasi Alzheimer dengan meningkatkan
deposisi Abeta di jaringan otak.85
12. NUTRISI
12.1. Mikronutrien
Vitamin B6, B12 dan asam folat dapat
mengurangi risiko gangguan kognitif dan
demensia karena mengurangi peningkatan
kadar homosistein plasma, homosistein
diketahui dapat menyebabkan perubahan
patologi melalui mekanisme vaskuler dan
neurotoksik
langsung.86
Suplementasi
B12 hanya menguntungkan kalangan
defisiensi B12, yang lebih sering ditemukan
di kelompok lanjut usia karena gangguan
absorbsi akibat kondisi gastrik dan masalah
pencernaan lain.87 Tetapi Kwok dkk (2008)
mendapatkan bahwa suplementasi B12
selama 10 bulan tidak memperbaiki fungsi
kognitif di kalangan demensia yang defisiensi
28
B12.88 Analisis Cochrane juga menyimpulkan
bahwa suplementasi B12, dibandingkan
dengan plasebo, tidak meningkatkan fungsi
kognitif di kalangan demensia yang kadar B12
serumnya rendah.89 Juga, studi sistematik atas
14 penelitian suplementasi folat, B6 dan B12
tidak menghasilkan efek menguntungkan
di kalangan lanjut usia normal90 maupun
di kalangan yang sudah terganggu fungsi
luhurnya.86,90 Studi lanjutan hendaknya
menggunakan populasi yang lebih jelas
diagnosisnya dan menggunakan pengukuran
yang baku; selain itu juga dapat diperkuat
dengan studi pencitraan.90 Studi defisiensi B12
di usia muda hanya melaporkan komplikasi
jangka pendek seperti neuropati dan sklerosis
medula.91
Mengingat radikal bebas dan kerusakan
oksidatif juga diduga berperan pada kelainan
otak yang berhubungan dengan usia,92-3
asupan antioksidan (misalnya vitamin C dan E)
diharapkan bisa mengurangi risiko gangguan
kognitif dan demensia; tetapi laporannya
masih saling bertentangan. Vitamin C dan
E dari diet dan suplemen diasosiasikan
dengan penurunan risiko AD;94-5 konsumsi
buah dan sayuran di usia pertengahan juga
menurunkan risiko AD dan demensia.31
Tetapi ada studi yang tidak menemukan
asosiasi antara penggunaan zat antioksidan
di usia pertengahan96 maupun di usia lanjut97
dengan kejadian demensia. Asupan lebih
tinggi polifenol dari sari buah dan sayuran98
dan flavonoid dari buah, sayuran, anggur
merah dan teh99 diasosiasikan dengan
penurunan risiko demensia dan Alzheimer.
Coklat dan kakao juga mengandung
flavonoid tinggi telah terbukti memperbaiki
kesehatan kardiovaskuler melalui mekanisme
menurunkan tekanan darah,100-1 meningkatkan
sensitivitas insulin,101 menurunkan LDL
dan kolesterol,100-2 menurunkan reaktivitas
platelet,102 memperbaiki fungsi endotel103
dan menurunkan inflamasi102-3 yang potensiil
mempengaruhi kesehatan otak dan fungsi
kognitif.
Mekanisme
perlindungan
antioksidan
terhadap penurunan kognitif dan demensia
dapat berupa: 1) meningkatkan cadangan
otak, 2) mengurangi kejadian penyakit
serebrovaskuler, 3) mengurangi stres oksidatif
dan inflamasi yang berkontribusi pada proses
penuaan dan proses patologi yang dikaitkan
dengan demensia.93
12.2. Makronutrien
Makronutrien yang dikaitkan dengan
demensia ialah lemak. Ada asosiasi antara
asupan lemak di usia pertengahan berasal dari
olesan roti dan susu dengan risiko demensia
dan Alzheimer (AD) 21 tahun kemudian;104
asupan moderat (dibandingkan dengan
asupan rendah) lemak total dan lemak takjenuh
(misal mentega, margarin) diasosiasikan
dengan penurunan risiko demensia dan AD,
sedangkan asupan moderat lemak jenuh dari
olesan roti diasosiasikan dengan peningkatan
risiko.31
Orang yang mengkonsumsi ikan sedikitnya
1 kali/minggu 60% lebih kurang berisiko
menderita
Alzheimer
dibandingkan
dengan mereka yang tak pernah/jarang
mengkonsumsi ikan.97 Satu studi acak
terkontrol atas pengaruh minyak ikan
(sumber asam lemak tak jenuh termasuk
EPA dan DHA) terhadap fungsi kognitif tidak
menghasilkan efek pada usia lanjut, tetapi
ada sedikit efek untuk beberapa aspek atensi
di antara APOEe4 carrier dan pria.105
Peranan lemak pada fungsi kognitif dan demensia diduga melalui kolesterol, sedangkan
studi di tikus menunjukkan kemungkinan peranannya dalam deposisi amiloid.106
Konsumsi kafein lebih tinggi dilaporkan
mengurangi risiko penurunan kognitif
di kalangan perempuan,107 menurunkan
risiko demensia;108 juga dikaitkan dengan
penurunan risiko demensia Alzheimer pada
studi retrospektif yang mengukur konsumsi
kafein selama 20 tahun sebelum penilaian.109
Efek menguntungkan kafein mungkin melalui
mekanisme penurunan produksi Abeta110
atau dengan meningkatkan kadar protein
otak yang penting dalam proses mengingat
dan belajar seperti BDNF.111
12.3. Pola diet
Efek diet terhadap kognisi ialah secara
keseluruhan dan interaksi antar zat nutrien
atau pola diet – tidak berasal dari masingmasing nutrien dan/atau suplemen secara
tersendiri.112 Salah satu pola diet yang
diasosiasikan dengan penurunan risiko
AD ialah diet Mediterania yang kaya buah,
sayuran, wholegrain dan ikan.113
13. ALKOHOL
Kebanyakan studi
terdahulu
terpusat
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
TINJAUAN PUSTAKA
pada efek negatif konsumsi alkohol
berlebihan; tetapi konsumsi alkohol ringan
dan moderat – dibandingkan dengan
abstinensi dan konsumsi alkohol berat –
dapat menguntungkan kesehatan kognitif,
termasuk lebih kecilnya penurunan beberapa
domain kognitif.114 Suatu meta analisis atas
asosiasi prospektif penggunaan alkohol
dengan penurunan kognitif dan demensia
(termasuk Alzheimer dan demensia vaskuler)
menyimpulkan bahwa konsumsi ringan
sampai moderat diasosiasikan dengan
penurunan risiko demensia; risiko demensia
vaskuler dan penurunan kognitif juga
menurun tetapi tidak bermakna.115 Studi
konsumsi alkohol di usia pertengahan juga
menunjukkan efek protektif konsumsi alkohol
moderat. Lebih lanjut, ditemukan hubungan
U-shape dan modifikasi efek oleh ApoEe4 alel
di populasi Finlandia selama 23 tahun follow
up.116 Mehlig dkk (2008) melaporkan bahwa
konsumsi anggur (wine) yang lebih sering,
tetapi bukan spirit dan bir, di usia pertengahan
dikaitkan dengan insiden demensia yang
lebih rendah 34 tahun kemudian di kalangan
perempuan Swedia. Studi ini117 dan lainnya118
mendapatkan bahwa keuntungan konsumsi
alkohol moderat lebih besar atau terbatas di
kalangan perempuan, tetapi studi lain tidak
menemukan hal tersebut.119
Berlawanan dengan efek buruknya pada
pemakaian akut dan kronis, konsumsi alkohol
moderat agaknya menguntungkan kesehatan.
Mekanismenya mungkin melalui penurunan
beberapa faktor risiko kardiovaskuler120 seperti
meningkatkan HDL kolesterol, memperbaiki
sensitivitas insulin dan menurunkan reaksi
inflamasi, tekanan darah, faktor pembekuan
darah, homosistein plasma, hiperintensitas
massa alba dan infark subklinis. Mekanisme
potensial lainnya termasuk meningkatnya
pergaulan sosial121 yang dapat meningkatkan
cadangan otak, efek antioksidan dan flavonoid
antiamiloidogenik yang terkandung dalam
anggur merah122 dan upregulasi asetilkholin
hipokampus.123
14. MEROKOK
Studi awal hubungan merokok dengan risiko
demensia menunjukkan efek protektif, tetapi
studi longitudinal mendapatkan bahwa
efek tersebut disebabkan oleh survivor
bias124 - lebih sedikit kalangan perokok yang
mencapai usia berisiko demensia. Pada studi
atas pria Jepang-Amerika, risiko gangguan
kognitif lebih besar di kalangan perokok
dan mantan perokok dibandingkan dengan
yang tak pernah merokok,125 dan risiko AD
lebih besar di kalangan perokok sedang
dan berat dibandingkan dengan perokok
ringan.126 Metaanalisis asosiasi merokok
dengan demensia dan penurunan kognitif
di studi prospektif lain menunjukkan bahwa
perokok aktif meningkat risiko demensia dan
penurunan kognitifnya dibandingkan dengan
yang tak pernah merokok; perbedaan risiko
tidak pernah merokok dan mantan perokok
masih belum jelas karena masalah variasi di
antara studi.67
Asupan nikotin – zat adiktif utama dalam
rokok – dapat menguntungkan fungsi
kognitif, terutama atensi, belajar dan daya
ingat (memori) dengan memfasilitasi
pelepasan asetilkholin, glutamat, dopamin,
norepinefrin, serotonin dan GABA,127 tetapi
terpapar asap tembakau jangka panjang
terbukti meningkatkan risiko gangguan
kognitif dan demensia di kemudian hari,
termasuk peningkatan infark otak silent,
intensitas massa alba, kematian neuron dan
atrofi subkortikal. Merokok juga menurunkan
kadar antioksidan penangkap radikal bebas
dalam sirkulasi, meningkatkan respons
inflamasi dan mengarah ke aterosklerosis
yang
mempengaruhi
permeabilitas
sawar darah-otak, aliran darah otak dan
metabolisme otak.128 Merokok juga langsung
mempengaruhi patologi demensia dengan
meningkatkan jumlah plak.126
15. TRAUMA
Trauma kepala secara langsung mencederai
struktur dan fungsi otak, dan dapat mengakibatkan gangguan kesadaran, kognitif dan
tingkah laku.129 Studi kohort mendapatkan
bukti kuat bahwa riwayat cedera kepala
meningkatkan risiko penurunan fungsi
kognitif,130 risiko demensia dan AD131
sesuai dengan beratnya cedera.131-2 Riwayat
cedera kepala disertai kesadaran menurun
meningkatkan risiko AD 10 kali lipat, sedangkan jika tanpa penurunan kesadaran risikonya
3 kali lipat;131 selain itu mulatimbul Alzheimer
lebih dini jika ada riwayat hilang kesadaran
lebih dari 5 menit.133 Sebuah studi kasuskontrol juga menunjukkan risiko Alzheimer
meningkat dalam 10 tahun pertama setelah
cedera kepala.134 Mekanismenya dianggap melalui kerusakan sawar darah-otak, peningkatan stres oksidatif dan hilangnya neuron.135
RINGKASAN
Makin besarnya jumlah lanjut usia di dunia
membawa beberapa masalah kesehatan
masyarakat, terutama yang dikaitkan dengan
kemunduran fungsi kognitif.
Kemunduran fungsi kognitif dilatarbelakangi
oleh berbagai faktor risiko, baik yang tak
bisa dihindari seperti usia dan gender, juga
beberapa kondisi fisik atau penyakit; kondisi
– kondisi ini perlu diperbaiki agar dapat
mengurangi beban masyarakat maupun
keluarga akibat gangguan fungsi kognitif.
DAFTAR PUSTAKA
1.
WHO. Active Ageing: a policy framework. WHO, Geneva, 2002.
2.
BPS. Statistik Indonesia 2009. Jakarta. 2009,
3.
Komisi Nasional Lanjut Usia. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Jakarta: Komnas Lansia, 2010.
4.
Boedhi-Darmojo, R, Gerontologi Sosial. Dalam: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Ed. 4. Martono HH, Pranarka K. (eds). Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2010. pp. 14-34.
5.
Kusumoputro S, Sidiarto L. Otak menua dan Alzhemier stadium ringan. Neurona 2001; 18(3): 4-8.
6.
Assosiasi Alzheimer Indonesia Konsensus Nasional Pengenalan dan Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensia Lainnya. ed. 1, Asosiasi Alzheimer Indonesia, Jakarta. 2003,
7.
Alzheimer’s Disease International. World Alzheimer Report 2010 Executive Summary. London, 2010
8.
WHO. Active Ageing: a policy framework. Geneva:WHO, 2002.
9.
Dahlan P. Definisi dan diagnosa banding sindrom demensia. Permasalahan Kontinuum Forgetfulness–Demensia (Alzhemier). Perdossi, Jakarta. 1999,
10. Rahardjo TBW, Hartono T, Dewi VP, Hoogervorst E, Arifin EN. Facing the geriatric wave in Indonesia. Financial conditions and social support. Dalam Arifin EN, Ananta A. (eds.) Older Persons
in Southeast Asia. An Emerging Asset, ISEAS, Singapore. 2009,
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
29
TINJAUAN PUSTAKA
11. Patterson C, Feightner JW, Garcia A, Hsiung GY, MacKnight C, Sadovnick AD. Diagnosis and treatment of dementia: 1. risk assessment and primary prevention of Alzheimer disease. CMAJ
2008; 178(5): 548-56.
12. Jorm AF, Jolley D. The incidence of dementia: A Meta-Analysis. Neurology 1998; 51(3): 728-33.
13. Yaffee K, Barnes DE. Epidemiology and Risk Factors. The Behavioral Neurology of Dementia. Cambridge Medicine, Cambridge, 2009
14. Riedel-Heller SG, Busse A, Aurich C, Matschinger H, Angermeyer MC. Incidence of dementia according to DSM-III-R and ICD-10: Results of the Leipzig Longitudinal Study of the Aged
(LEILA75+), Part 2. Br. J. Psychiatr. 2001;179: 255-260.
15. Rocca WA, Cha RH, Waring SC, Kokmen E. Incidence of dementia and Alzheimer‘s disease. A reanalysis of data from Rochester, Minnesota, 1975-1984. Am J Epidemiol. 1998; 148(1): 5162.
16. Hébert R, Brayne C, Spiegelhalter D. Factors associated with functional decline and improvement in a very elderly community-dwelling population. Am J Epidemiol.1999; 150(5): 50110.
17. Gao S, Hendrie HC, Hall KS, Hui S. The relationships between age, sex, and the incidence of dementia and Alzheimer disease: a meta-analysis. Arch Gen Psychiatry 1998;55(9): 809-15.
18. Folstein MF, Bassett SS, Anthony JC, Romanoski AJ, Nestadt GR. Dementia: Case ascertainment in a community survey. J Gerontol. 1991;46(4): 132-8.
19. Tang MX, Cross P, Andrews H, et al. Incidence of AD in African-Americans, Caribbean Hispanics, and Caucasians in Northern Manhattan. Neurology, 2001; 56(1): 49--56.
20. Manly JJ, Jacobs DM, Mayeux R. Alzheimer disease among different ethnic and racial groups. Dalam: Miller BL, Boeve, BF (eds.). The Behavioral Neurology of Dementia, Cambridge University Press. 2009.
21. White L, Petrovitch H, Ross GW, et al. Prevalence of dementia in older Japanese-American men in Hawaii: The Honolulu-Asia Aging Study. JAMA. 1996; 276(12): 955-60.
22. Sahadevan S, Saw SM, Gao W, et al. Ethnic differences in Singapore’s dementia prevalence: the stroke, Parkinson’s disease, epilepsy, and dementia in Singapore study. J Am Geriatr Soc.
2008;56(11): 2061–8.
23. Post SG, Whitehouse PJ (eds.). Genetic testing for Alzheimer disease. Ethical and Clinical Issues. The Johns Hopkins University Press, 1998, pp. 37-64
24. Barber R, Gholkar A, Scheltens P, Ballard C, McKeith IG, Morris CM, O‘Brien JT. Apolipoprotein E ε4 allele, temporal lobe atrophy, and white matter lesion in late-life dementia. Arch.Neurol.
1999; 56(8): 961-5.
25. Roses AD A New Paradigm for clinical evaluation of dementia: Alzheimer disease and Apolipoprotein e genotypes. Dalam: Post SG, Whitehouse, PJ (eds.) Genetic testing for Alzheimer
disease. Ethical and Clinical Issues. The Johns Hopkins University Press,1998,pp. 37-64
26. Kivipelto M, Helkala EL, Laakso MP, et al. Apolipoprotein E _4 Allele, elevated midlife total cholesterol level,and high midlife systolic blood pressure are independent risk factors for late-life
Alzheimer disease. Ann Intern Med. 2002;137(3): 149-155.
27. Whitmer RA, Sidney S, Selby J, Johnston SC, Yaffe K. Midlife Cardiovascular Risk Factors and Risk of Dementia in Late Life. Neurology.2005; 64(2): 277-81.
28. Guo Z, Viitanen M, Fratiglioni L, Winblad B. Low blood pressure and dementia in elderly people: The Kungsholmen Project. BMJ 1996;312(7034): 805-8.
29. Qiu C, Winblad B, Fratiglioni L The age-dependent relation of blood pressure to cognitive function and dementia. Lancet Neurol. 2005; 4(8): 487-99.
30. Hanon O, Latour F, Seux ML, Lenoir H, Forette F, Rigaud AS, REAL.FR Group. Evolution of blood pressure in patients with Alzheimer‘s disease: a one year survey of a French cohort (REAL.
FR). J Nutr Health Aging 2005;9(2): 106-111
31. HughesTF, Ganguli M. Modifiable midlife risk factors for late-life cognitive impairment and dementia. Curr Psychiatry Rev,. 2009; 5(2):73–92.
32. Padwal R, Straus SE, McAlister FA. Cardiovascular risk factors and their effects on the decision to treat hypertension: evidence based review. BMJ 2001;322(7292): 977–80.
33. Havlik RJ, Foley DJ, Sayer B, Masaki K, White L, Launer LJ. Variability in midlife systolic blood pressure is related to late-life brain white matter lesions: The Honolulu-Asia aging study. Stroke
2002; 33(1): 26-30.
34. Petrovitch H, White LR, Izmirilian G, et al.‘Midlife blood pressure and neuritic plaques, neurofibrillary tangles, and brain weight at death: the HAAS. Honolulu-Asia aging study. Neurobiol
Aging. 2000;21(1): 57-62.
35. den Heijer T, Launer LJ, Prins ND et al. Association between blood pressure, white matter lesions, and atrophy of the medial temporal lobe. Neurology 2005; 64(2): 263-7.
36. Aliev G, Smith MA, Obrenovich ME, de la Torre JC, Perry G. Role of vascular hypoperfusion-induced oxidative stress and mitochondria failure in the pathogenesis of Alzheimer disease.
Neurotox Res. 2003; 5(7): 491-504.
37. Heckman GA, Patterson CJ, Demers C, St.Onge J, Turpie ID, McKelvie RS. Heart failure and cognitive impairment: Challenges and opportunities. Clinical Interventions in Aging 2007;2(2):
209–18.
38. Trojano L, Antonelli, Incalzi R, Acanfora D, Picone C, Mecocci P, Rengo F & Congestive Heart Failure Italian Study Investigators. Cognitive impairment: a key feature of congestive heart
failure in the elderly. J Neurol. 2003;250(12):1456-63.
39. Qiu C, Winblad B, Marengoni A, Klarin I, Fastbom J, Fratiglioni L Heart failure and risk of dementia and Alzheimer disease: a population-based cohort study. Arch Intern Med. 2006;166(9):
1003-8.
40. Di Carlo A, Baldereschi M, Amaducci L, Maggi S, Grigoletto F, Scarlato G, Inzitari D. Cognitive impairment without dementia in older people: prevalence, vascular risk factors, impact on
disability. The Italian Longitudinal Study on Aging. J Am Geriatr Soc. 2000;48(7): 775-82.
41. Cukierman T, Gerstein HC, Williamson JD. Cognitive decline and dementia in diabetes--systematic overview of prospective observational studies. Diabetologia 2005; 48(12): 2460-9.
42. Heckman GA, Patterson CJ, Demers C, St.Onge J, Turpie ID, McKelvie RS.Heart failure and cognitive impairment: Challenges and opportunities. Clinical Interventions in Aging 2007; 2(2):
209–18.
43. Ott A, Breteler MM, de Bruyne MC, van Harskamp F, Grobbee DE, Hofman A. Atrial fibrillation and dementia in a population-based study. The Rotterdam Study. Stroke 1997;(28) 2: 316-21.
44. Wozakowska-Kapłon B, Opolski G, Kosior D, et al. Cognitive disorders in elderly patients with permanent atrial fibrillation. Kardiol Pol 2009;67(5): 487-93.
45. Luchsinger JA, Reitz C, Patel B, Tang MX, Manly JJ, Mayeux R. Relation of diabetes to mild cognitive impairment. Arch Neurol. 2007;64(4): 570-5.
46. Whitmer RA, Sidney S, Selby J, Johnston SC, Yaffe K.‘Midlife Cardiovascular Risk Factors and Risk of Dementia in Late Life., Neurology.2005; 64(2): 277-81.
47. Xu W, Qiu C, Gatz M, Pedersen NL, Johansson B, Fratiglioni L. Mid- and late-life diabetes in relation to the risk of dementia a population-based twin study. Diabetes 2009; 58(1): 71–7.
48. Schnaider-Beeri M, Goldbourt U, Silverman JM, et al. Diabetes mellitus in midlife and the risk of dementia three decades later. Neurology. 2004; 63(10): 1902--7.
30
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
TINJAUAN PUSTAKA
49. Yamada M, Kasagi F, Sasaki H, Masunari N, Mimori Y, Suzuki G. Association between dementia and midlife risk factors: the radiation effects research foundation adult gealth study’ JAGS
2009;51(3): 410-414.
50. Curb JD, Rodriguez BL, Abbott RD, et al.‘Longitudinal association of vascular and alzheimer‘s dementias, diabetes, and glucose tolerance. Neurology 1999; 52(5): 971-5.
51. Roberts RO, Geda YE, Knopman DS, et al. ‘Association of duration and severity of diabetes mellitus with mild cognitive impairment. Arch Neurol. 2008; 65(8):1066-73.
52. Wu JH, Haan MN, Liang J, Ghosh D, Gonzalez HM, Herman WH. Impact of antidiabetic medications on physical and cognitive functioning of older mexican americans with diabetes mellitus: a population-based cohort study. Ann Epidemiol. 2003;13(5): 369-76.
53. Haan MN. Therapy insight: Type 2 diabetes mellitus and the risk of late-onset alzheimer‘s disease. Nat Clin Pract Neurol. 2006; 2(3): 159--66.
54. Manschot SM, Biessels GJ, de Valk H, et al & Diabetic Encephalopathy Study Group. Metabolic and vascular determinants of impaired cognitive performance and abnormalities on brain
magnetic resonance imaging in patients with type 2 diabetes. Diabetologia 2007;50(11): 2388–2397.
55. Hassing LB, Johansson B, Nilsson SE, Berg S, Pedersen NL, Gatz M, McClearn G. Diabetes mellitus is a risk factor for vascular dementia, but not for Alzheimer‘s disease: a population-based
study of the oldest old. Int Psychogeriatr. 2002 Sep;14(3):239-48.
56. Gasparini L, Netzer WJ, Greengard P, Xu H. Does insulin dysfunction play a role in Alzheimer‘s disease? Trends Pharmacol Sci. 2002;23(6): 288-93.
57. de la Monte SM, Wands JR.Review of insulin and insulin-like growth factor expression, signaling, and malfunction in the central nervous system: relevance to Alzheimer‘s disease. J Alzheimers Dis. 2005; 7(1): 45-61.
58. Kivipelto M, Helkala EL, Laakso MP, et al. Midlife vascular risk factors and alzheimer‘s disease in later life: longitudinal, population based study. BMJ 2001;322(7300): 1447–51.
59. Solomon A, Kåreholt I, Ngandu T, et al. Serum cholesterol changes after midlife and late-life cognition: twenty-one-year follow-up study. Neurology 2007; 68(10): 751-6.
60. Panza F, D‘Introno A, Colacicco AM, et al. Lipid metabolism in cognitive decline and dementia., Brain Res Rev. 2006; 51(2): 275-92.
61. Kivipelto M, Helkala EL, Laakso MP, et al. Apolipoprotein E _4 Allele, elevated midlife total cholesterol level,and high midlife systolic blood pressure are independent risk factors for late-life
Alzheimer disease. Ann Intern Med. 2002;137(3): 149-155.
62. Tan ZS, Seshadri S, Beiser A et al. Plasma total cholesterol level as a risk factor for alzheimer disease.the Framingham study. Arch Intern Med. 2003; 163(9): 1053-57.
63. Mielke MM, Zand, PP, Sjögren M, et al. High total cholesterol levels in late life associated with a reduced risk of dementia. Neuroepidemiology. 2000; 19(3): 141-8.
64. Solomon A, Kåreholt I, Ngandu T, et al.Serum cholesterol changes after midlife and late-life cognition: twenty-one-year follow-up study. Neurology 2007;68(10): 751-6.
65. Postiglione A, Cortese C, Fischetti A et al. Plasma lipids and geriatric assessment in a very aged population of south Italy., Atherosclerosis.1989; 80(1): 63-8.
66. Zhang MY, Katzman R, Salmon D, et al. The prevalence of dementia and Alzheimer‘s disease in Shanghai, China: impact of age, gender, and education. Ann Neurol. 1990;27(4): 428-37.
67. Anstey KJ, von Sanden C, Salim A, O‘Kearney R. Smoking as a risk factor for dementia and cognitive decline: A meta-analysis of prospective studies. Am J Epidemiol. 2007;166(4): 367–78.
68. Mahley RW. Apolipoprotein E: Cholesterol transport protein with expanding role in cell biology. Science 1988; 240(4852): 622-30.
69. Launer LJ, White LR, Petrovitch H, Ross GW, Curb JD. Cholesterol and Neuropathologic Markers of AD: A Population-Based Autopsy Study. Neurology.2001;57(8): 1447-52.
70. Simons M, Keller P, De Strooper B, Beyreuther K, Dotti CG, Simons K.Cholesterol depletion inhibits the generation of b-amyloid in hippocampal neurons. Proc. Natl. Acad. Sci USA 1998;
95(11):. 6460–64.
71. Pfrieger FW. Cholesterol homeostasis and function in neurons of the central nervous system. Cell Mol Life Sci. 2003;60(6): 1158--71.
72. Smith LL.Another cholesterol hypothesis: cholesterol as antioxidant. Free Radic Biol Med. 1991;11(1): 47-61.
73. Nourhashémi F, Vellas B. Weight loss as a predictor of dementia and alzheimer’s disease? Expert Rev Neurotherapeutics, 2008;(5): 691-3.
74. Rodriguez EG, Dodge HH, Birzescu MA, Stoehr GP, Ganguli M. Use of lipid-lowering drugs in older adults with and without dementia: a community-based epidemiological study. J Am
Geriatr Soc.2002;50(11): 1852-6.
75. Mariotti S, Franceschi C, Cossarizza A, Pinchera A.The aging thyroid. Endocr Rev. 1995;16(6): 686-715.
76. Ceresini G, Lauretani F, Maggio M, Ceda GP, Morganti S, Usberti E, dkk. Thyroid function abnormailties and cognitive impairment in elderly people: results of the InChianti study. J.
Am.Geriatr.Soc. 2009;57(1):89-93
77. SurksMI, Ortiz E, Daniels GH, et al. Subclinical thyroid disease scientific reviewand guidelines for diagnosis and management. JAMA 2004; 291(2): 228-238.
78. Lopez OL, Rabin BS, Huff FJ, Rezek D, Reinmuth OM. Serum autoantibodies in patients with Alzheimer‘s disease and vascular dementia and in nondemented control subjects. Stroke
1992;23(8): 1078-1083.
79. Videla LA, Sir T, Wolff C. Increased lipid peroxidation in hyperthyroid patients: suppression by propylthiouracil treatment. Free Radic Res Commun. 1988; 5(1): 1-10.
80. Chan RS, Huey ED, Maecker HL et al.Endocrine modulators of necrotic neuron death. Brain Pathol. 1996;6(4): 481-91.
81. Kivipelto M, Ngandu T, Fratiglioni L, et al. Obesity and vascular risk factors at midlife and the risk of dementia and Alzheimer disease. Arch Neurol. 2005;62(10):1556-60.
82. Sturman MT, de Leon CF, Bienias JL, Morris MC, Wilson RS, Evans DA. Body mass index and cognitive decline in a biracial community population. Neurology. 2008; 70(5): 360-7.
83. Gustafson D, Rothenberg E, Blennow K, Steen B, Skoog I.An 18-year follow-up of overweight and risk of Alzheimer disease. Arch Intern Med. 2003;163(3): 1524-8.
84. Gustafson D. Adiposity indices and dementia. Lancet Neurol. 2006;5(8): 713-20.
85. Fewlass DC, Noboa K, Pi-Sunyer FX, et al. Obesity-related leptin regulates Alzheimer’s abeta. The FASEB J. 2004;18(15): 1870-8
86. Aisen PS, Schneider LS, Sano M, et al.High-dose B vitamin supplementation and cognitive decline in alzheimer disease a randomized controlled trial. JAMA2008;300(15): 1774-83.
87. Carmel R. Cobalamin, the stomach, and aging. Am J Clin Nutr. 1997; 66(4): 750-9.
88. Kwok T, Lee J, Lam L, Woo J. Vitamin B(12) supplementation did not improve cognition but reduced delirium in demented patients with vitamin B(12) deficiency. Arch Gerontol Geriatr.
2008; 46(3): 273-82.
89. Malouf R, Areosa Sastre A.Vitamin B12 for cognition. Cochrane Database Syst Rev. 2003, vol. 3.
90. Balk EM, Raman G, Tatsioni A, Chung M, Lau J,Rosenberg IH, Vitamin B6, B12, and folic acid supplementation and cognitive function. a systematic review of randomized trials. Arch Intern
Med. 2007;167(1): 21-30.
91. Maamar M, Tazi-Mezalek Z, Harmouche H, Ammouri W, Zahlane M, Adnaoui M, Aouni M, Mohattane A, Maaouni A. Neurological manifestations of vitamin B12 deficiency: a retrospective
study of 26 cases]. Rev Med Interne. 2006 Jun;27(6):442-7. Epub 2006 Feb 28. French.
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
31
TINJAUAN PUSTAKA
92. Peila R, White LR, Masaki K, Petrovitch H, Launer LJ. Reducing the risk of dementia: efficacy of long-term treatment of hypertension stroke. 2006;37 (5): 1165-70.
93. Behl C. Alzheimer‘s disease and oxidative stress: implications for novel therapeutic approaches. Prog Neurobiol. 1999; 57(3): 301-23.
94. Engelhart MJ, Geerlings MI et al. Dietary Intake of Antioxidants and Risk of Alzheimer Disease’, JAMA 2002; 287(4): 3223-9.
95. Zandi PP, Anthony JC, Khachaturian AS, et al.Reduced risk of Alzheimer disease in users of antioxidant vitamin supplements: The Cache County Study. Arch Neurol. 2004; 61(1): 82-8.
96. Laurin D, Masaki KH, Foley DJ, White LR, Launer LJ. Midlife dietary intake of antioxidants and risk of late-life incident dementia. The Honolulu-Asia aging study’, Am J Epidemiol. 2004;159(10):
959–67.
97. Morris MC, Evans DA, Bienias JL, et al. Dietary intake of antioxidant nutrients and the risk of incident Alzheimer disease in a biracial community study. JAMA 2002;287(24): 3230-7.
98. Dai Q, Borenstein AR, Wu Y, Jackson JC, Larson EB. Fruit and vegetable juices and Alzheimer’s disease: the Kame project. Am J Med. 2006;119(9): 751–9.
99. Commenges D, Scotet V, Renaud S, et al. Intake of flavonoids and risk of dementia. Eur. J. Epidemiol 2000; 16, (4): 357-63.
100. Allen, RR, Carson, L, Kwik-Uribe, C, Evans, EM & Erdman, JW Jr. 2008, ‘Daily Consumption of A Dark Chocolate Containing Flavanols and Added Sterol Esters Affects Cardiovascular Risk
Factors in A Normotensive Population with Elevated Cholesterol’, J. Nutr., vol. 138, no. 4, pp. 725–31.
101. Grassi D, Desideri G, Necozione S et al. Blood pressure is reduced and insulin sensitivity increased in glucose-intolerant, hypertensive subjects after 15 days of consuming high-polyphenol
dark chocolate. J. Nutr. 2008;138(9): 1671–1676.
102. Hamed MS, Gambert S, Bliden KP, et al. Dark chocolate effect on platelet activity, C-reactive protein and lipid profile: A pilot study. South Med J. 2008;101(12): 1203-8.
103. Balzer J, Rassaf T, Heiss C, et al. Sustained benefits in vascular function through flavanol-containing cocoa in medicated diabetic patients a double-masked, randomized, controlled trial. J
Am Coll Cardiol. 2008;51(22):2141-9.
104. Laitinen MH, Ngandu T, Rovio S, et al. Fat intake at midlife and risk of dementia and Alzheimer‘s disease: A population-based. Dement Geriatr Cogn Disord.2006;22(1): 99-107.
105. van de Rest O, Geleijnse JM, Kok FJ, et al.Effect of fish oil on cognitive performance in older subjects: a randomized, controlled trial. Neurology 2008; 71(6): 430--8.
106. Sparks DL, Scheff SW, Hunsaker JC 3rd, Liu H, Landers T, Gross DR. Induction of Alzheimer-like beta-amyloid immunoreactivity in the brains of rabbits with dietary cholesterol. Exp Neurol.
1994;126(1): 88-94.
107. Ritchie K, Carrière, I, de Mendonca, A, et al. The neuroprotective effects of caffeine: a prospective population study (the Three City Study). Neurology, 2007; 69(6): 536-45.
108. Lindsay J, Laurin D, Verreault R, et al.‘Risk factors for Alzheimer’s disease: a prospective analysis from the Canadian Study of Health and Aging. Am J Epidemiol. 2002;156(5): 445–53.
109. Maia L, de Mendonça A. Does caffeine intake protect from Alzheimer‘s disease? Eur J Neurol. 2002; 9(4): 377-82.
110. Arendash GW, Mori T, Cao C, et al. Caffeine reverses cognitive impairment and decreases brain amyloid-β levels in aged Alzheimer’s disease mice. J. Alzheimer’s Dis. 2009;17(3):661–80.
111. Costa MS, Botton PH, Mioranzza S, etal.Caffeine improves adult mice performance in the object recognition task and increases BDNF and TrkB independent on phospho-CREB immunocontent in the hippocampus. Neurochem Int.2008; 53(3-4): 89-94.
112. Luchsinger JA, Mayeux R.Dietary factors and Alzheimer‘s disease. Lancet Neurol. 2004; 3(10): 579-87.
113. Scarmeas N, Stern Y, Tang MX, Mayeux R, Luchsinger JA. Mediterranean diet and risk for Alzheimer‘s disease. Ann Neurol. 2006; 59(6): 912-21.
114. Ganguli M, Vander Bilt J, Saxton JA, Shen C, Dodge HH.Alcohol consumption and cognitive function in late life: a longitudinal community study. Neurology. 2005;65(8): 1210-7.
115. Peters R, Peters J, Warner J, Beckett N, Bulpitt C.Alcohol, dementia and cognitive decline in the elderly: A systematic review. Age and Ageing 2008; 37(5): 505–12.
116. Anttila T, Helkala EL, Viitanen M, et al. Alcohol drinking in middle age and subsequent risk of mild cognitive impairment and dementia in old age: a prospective population based study.,
BMJ, 2004; 329(7465): 539.
117. Mehlig K, Skoog I, Guo X, Schütze M, et al.Alcoholic beverages and incidence of dementia: 34-year follow-up of the prospective population study of women in Goteborg. Am J Epidemiol..
2008;167(6): 684–91.
118. Mukamal KJ, Kuller LH, Fitzpatrick AL, Longstreth WT Jr, Mittleman MA, Siscovick DS. Prospective study of alcohol consumption and risk of dementia in older adults. JAMA. 2003;289(1):
1405-13.
119. Bond GE, Burr RL, McCurry SM, Rice MM, Borenstein AR, Larson EB. Alcohol and cognitive performance: a longitudinal study of older Japanese Americans, The Kame Project. Int Psychogeriatr. 2005; 17(4): 653-68.
120. Agarwal DP.Cardioprotective effects of light-moderate consumption of alcohol: A review of putative mechanism. Alcohol and Alcoholism. 2002;37(5): 409-15.
121. Baum-Baicker C. The psychological benefits of moderate alcohol consumption: A review of the literature. Drug Alcohol Depend. 1985;15(4): 305-22.
122. Marambaud P, Zhao H, Davies P.Resveratrol promotes clearance of Alzheimer’s disease amyloid- peptides. J. Biol. Chem. 2005;280(45): 37377–82.
123. McIntosh C, Chick J. Alcohol and the nervous system., J Neurol Neurosurg Psychiatry 2004;75(3): 16-21.
124. Hernán MA, Alonso A, Logroscino G.Cigarrette smoking and dementia. potential selection bias in the elderly. Epidemiol. 2008; 19(3).
125. Galanis DJ, Petrovitch H, Launer LJ, Harris TB, Foley DJ, White LR. Smoking history in middle age and subsequent cognitive performance in elderly Japanese-american men the HonoluluAsia Aging Study. Am J Epidemiol. 19971;45(6): 507-15.
126. Tyas SL, White LR, Petrovitch H et al. Mid-life smoking and late-life dementia: the Honolulu-Asia Aging Study’, Neurobiol Aging. 2003;24(4): 589-96.
127. Rezvani AH, Levin ED.Cognitive effects of nicotine. Biol Psychiatry. 2001; 49(3): 258-67.
128. Swan GE, Lessov-Schlaggar CN. The effects of tobacco smoke and nicotine on cognition and the brain. Neuropsychol Rev., 2007;17(3): 259-73.
129. Schmidt RH, Grady MS.Loss of forebrain cholinergic neurons following fluid-percussion injury: implications for cognitive impairment in closed head injury. J Neurosurg. 1995;83(3): 496502.
130. Luukinen H, Viramo P, Koski K, Laippala P, Kivelä SL. Head injuries and cognitive decline among older adults: A population-based study. Neurology.1999;52 (3): 557-62
131. Guo Z, Cupples LA, Kurz A, et al Head injury and the risk of AD in the MIRAGE study. Neurology 2000; 54(6): 1316-23.
132. Plassman BL, Havlik RJ, Steffens DC, et al. Documented head injury in early adulthood and risk of Alzheimer‘s disease and other dementias. Neurology. 2000; 55(8): 1158--66.
133. Schofield PW, Tang M, Marder K, et al.Alzheimer‘s disease after remote head injury: an incidence study. J Neurol Neurosurg Psychiatr, 1997; 62 (1): 119-24.
134. van Duijn CM, Tanja TA, Haaxma R, et al.. Head trauma and the risk of Alzheimer‘s disease. Am J Epidemiol., 1992;135(7): 775-82.
135. Lye TC, Shores EA. Traumatic brain injury as a risk factor for Alzheimer‘s disease: A review. Neuropsychol Rev. 2000;10(2): 115-29.
32
CDK-212/ vol. 41 no. 1, th. 2014
Fly UP