...

Apakah Lima Agregat tersebut? Mengapa kita perlu memahami

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Apakah Lima Agregat tersebut? Mengapa kita perlu memahami
No. 1
|Apakah Lima Agregat/Kelompok?
dari 4 seri
AGREGAT adalah tidak kekal dan penderitaan,
oleh sebab itu tidak dapat dianggap sebagai diri.
.
Apakah Lima Agregat tersebut?
.
.
.
.
.
Bentuk Perasaan Persepsi Bentukan Mental Kesadaran
Buddha mengajarkan kita bahwa "Anda" bukanlah entitas yang terpadu, otonom.
Diri (kebenaran konvensional) adalah kombinasi dari lima kelompok (kebenaran
tertinggi), yaitu Badan (bentuk) dan Batin (perasaan, persepsi, bentukan mental
dan kesadaran).
Mengapa kita perlu memahami Lima Agregat?
Mereka adalah objek-objek yang dilihat oleh identitas dan tempat
munculnya kemelekatan. Mereka adalah objek penyelidikan untuk
mendapatkan pencerahan (insight).
Yang Mulia Ananda mencapai Pengarung
arus (Sotāpanna) ketika Arahat Punna
Mantaniputta menasehatinya , "Dengan
1. Lima kelompok kemelekatan adalah apa yang Buddha ringkaskan sebagai
melekatlah, sahabat Ananda, bahwa ada
Kebenaran Mulia akan Penderitaan (Dukkha Ariya Sacca). Hanya ketika
'aku,' bukan tanpa melekat. Melekat pada
kita memahami dukkha dengan benar, barulah dapat kita terbebas dari
apa?" Melekat pada bentuk, perasaan,
penderitaan.
persepsi, bentukan mental dan kesadaran.
Mereka harus dilihat sebagaimana adanya 2. Dukkha berasal dari suku kata "du" yang berarti "buruk" dan "kham" berarti
dengan ketajaman yang tepat sebagai "Ini
"kosong dari kebahagiaan dan diri". Dukkha datang ketika kita melekat pada
bukan saya."– SN 22.83
lima kelompok sebagai saya, milik saya, diri saya, perasaan saya yang
menyenangkan, perasaan saya yang tidak menyenangkan, saya melihat, saya
Kita berlatih untuk melihat bahwa
mendengar …
semua lima agregat/kelompok ini
tidak kekal, tidak permanen. Apa yang 3. Lima Kelompok adalah objek-objek pandangan identitas dan tempat
tidak kekal adalah penderitaan dan
munculnya kemelekatan. Mereka adalah objek penyelidikan untuk
apa yang merupakan penderitaan
mendapatkan pencerahan
tidak dapat dianggap sebagai diri.
Yang ada hanya hubungan sebab dan Mengapa kita melekat pada Lima Agregat?
Karena kita tidak dapat melihat kesalahan dan bahaya melekat
akibat. Hanya ketika kita dapat
pada mereka.
melihat mereka muncul dan lenyap
bersama-sama dengan sebab-akibat
Kita melekat pada lima kelompok sebagai saya, milik saya, diri saya sendiri, karena
mereka, barulah kita dapat menjadi
kecewa dan akhirnya melepaskan
kita tidak dapat melihat kesalahan dan bahaya menempel pada mereka. Lima
kemelekatan kita terhadap mereka.
kelompok adalah objek pandangan identitas dan keinginan. Mereka adalah objek
dari pandangan terang (vipassanā) bagi seseorang untuk terbebasdari dukkha.
Tujuan dari latihan vipassanā kita adalah – untuk mengalamai muncul dan
Lima agregat ini, jika
lenyapnya lima kelompok secara konstant dan melihat dengan jelas bahaya
tidak dilekati,
melekat pada mereka– seperti anak kecil melihat bahaya akan terluka bakar jika
mengantarkan kita pada
menyentuh kembang api karena terpesona.
kebahagiaan jangka
panjang dan
.
kesejahteraan.
DEL13 | | Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susilā pada 10 Maret 2012 di Bodhi Heart Sanctuary, Penang,
Malaysia. Teks disiapkan oleh Swas Tan | Teks diedit oleh Boon Tat | Artwork dikerjakan oleh Anlin Tan
Websites: www.sayalaysusila.net & sayalaysusila.marveltech.biz | Facebook: www.facebook.com/sayalaysusilaretreat
Diterbitkan pada 2012.08.24
HANYA UNTUK DIBAGIKAN SECARA GRATIS. Hak Cipta ada pada penerbit
.
No. 2
| Lima Kelompok Secara Rinci
Mengapa sangat penting mempelajari
Lima aggregat? Karena lima kelompok
kemelekatan adalah kebenaran tentang
penderitaan yang harus dipahami secara
penuh melalui insight: “Ini bukan milik saya,
ini bukan saya, ini bukan diri saya.”
dari 4 seri
Memahami sutta ini penting
sehingga kita tidak melekati
lima agregat/kelompok dan
tidak menganggap salah
satu dari mereka sebagai
"diriku”. Lima Agregat ini
yang tidak dilekati,
menyebabkan kebahagiaan
jangka panjang dan
kesejahteraan.
— Sayalay Susilā
Kelompok materialitas (rūpakkhandha)
Rupa artinya "terus berubah" dan tunduk pada perubahan bentuk dan penindasan. Ia terdiri
dari empat unsur utama (bumi, api, air, dan angin) dan 24 materialitas yang berasal dari empat
elemen tersebut. Apa yang menyebabkan munculnya empat elemen? Hal ini karena karma
masa lalu, kesadaran, nutrisi, dan suhu - semua ini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi
empat unsur yang kemudian dilihat sebagai tidak kekal, tidak memuaskan, dan bukan-diri,
seperti tubuh bereaksi terhadap sebab dan kondisi yang disebabkan oleh keempat faktor.
Kelompok
perasaan
(vedanākkhandha)
Bergantung pada kontak, perasaan muncul. Ada enam jenis kontak (mata, telinga, hidung,
lidah, tubuh, dan batin). Setiap kontak menimbulkan tiga jenis perasaan menyenangkan,
tidak menyenangkan, dan netral). Jadi total ada 18 jenis perasaan. Perasaan selalu muncul
berlatih mengamati mereka saat mereka muncul dan berhenti.
Mereka adalah objek latihan Anda. Ketika kita tidak merenungkan
perasaan yang muncul, dua belenggu mengikuti. .Pertama, orang
salah mengindentifikasi perasaan sebagai "diriku" sehingga
memperkuat pandangan mengenai pribadi. Kedua, perasaan
mengkondisikan keinginan dan keinginan orang bertambah
Kelompok
persepsi (saññākkhandha)
Ia mempersepsikan kualitas sebuah objek dengan mengenali "tandanya." Tanda ini
adalah tanda terdistorsi, seperti ketika kita salah mempersepsikan tali sebagai ular saat hampir gelap. Kita salah
menganggap lima kelompok sebagai permanen, kebahagiaan, dan bahkan memiliki diri yang
tidak berubah. Meskipun kita mengalami dalam drama kehidupan kita sehari-hari perubahan
perasaan dan emosi kita yang konstan, persepsi ketidakkekalan masih tidak sangat
membekas di batin kita. Kita gagal merenungkan atau mencatat "ketidakkekalan " pada
saat itu. Akan perlu waktu yang lama untuk memperbaiki persepsi sesat ini.
Kelompok formasi
mental (sankhārakkhandha)
Karakteristiknya membentuk, membuat, dan membangun. Fungsinya adalah mengumpulkan kamma.
Di luar perasaan dan persepsi, sisa 50 faktor mental dikelompokkan sebagai kelompok pembentuk/formasi.
Manifestasinya dalam mengintervensi dan membuat tertarik. Berlatih kemurahan hati, moralitas, dan konsentrasi
adalah kamma baik yang memperpanjang keberadaan samsara. Namun melalui Vipassanā merenungkan
ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa-diri dari formasi-formasi, batin berpaling dari keterlibatan akan formasiformasi, sehingga melepaskan genggaman, yang sebenarnya memotong pendek keberadaan samsara kita.
Kelompok
kesadaran (viññanakkhanda)
Karakteristiknya adalah untuk mengetahui objek. Manifestasinya adalah sebagai kontinuitas proses, bukan seperti apa
yang tampak: tampaknya seolah-olah suatu makhluk independen (suatu entitas yang padat, bukannya gabungan)
sedang mengalami fenomena. Kebenaran akan ketidakkekalan tersembunyi oleh kontinuitas ini, karena kesadaran
muncul dan lenyap begitu cepat. Karena tidak dapat memecah kepadatan kontinuitas, kita salah menganggapnya
sebagai diri yang independen.
6 JENIS KESADARAN = MATA  TELINGA  HIDUNG  LIDAH  TUBUH + BATIN
DEL14 | Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susilā pada 11 Maret 2012 di Bodhi Heart Sanctuary, Penang,
Malaysia. Teks disiapkan oleh Swas Tan | Teks diedit oleh Sayalay Susilā | Artwork dikerjakan oleh Marcie Barth
Websites: www.sayalaysusila.net & sayalaysusila.marveltech.biz | Facebook: www.facebook.com/sayalaysusilaretreat
Diterbitkan pada 2012.08.08
HANYA UNTUK DIBAGIKAN SECARA GRATIS. Hak Cipta ada pada penerbit.
Jangan Percaya Batin Anda
Seri
Intisari
Dharma
Jika kita cukup menyadari apa yang sedang
terjadi dalam batin kita, kita mungkin akan
melihat bahwa batin kita terus-menerus
dalam pertarungan antara yang jahat
dan yang baik (iblis dan Malaikat).
Seringkali kondisi batin yang jahat —
seperti nafsu keinginan, kemarahan, irihati, kegelisahan, kesombongan,
ketamakan, sikap “ bossy”, dan sikap
defensif—lebih berperan dibandingkan
dengan kondisi batin yang baik karena
batin yang tidak terlatih masih lemah.
Tanpa pemahaman yang jelas, kita tertipu dan berpikir
Bahwa kondisi batin yang jahat adalah nyata, sehingga bertindak
dan berkata demikian.
Akibatnya, penderitaan mengikuti kita “seperti roda pedati
yang mengikuti kaki sapi,” sebagaimana yang dikatakan
dalam pembukaan Dhammapada.
Jika kita melihat melalui batin kita, kita menyadari bahwa
batin kita menciptakan kisah-kisah mereka tanpa tujuan. Saat
batin memikirkan sesuatu yang baik—mungkin kenangan masa
lalu yang manis atau harapan masa depan— segera menjadi
senang dan menangkap episode itu sebagai nyata dan stabil.
Sebaliknya, jika batin perpikir tentang sesuatu yang buruk,
menjadi kesal, depresi, dan stress—dan ia menangkap episode
itu sebagai nyata dan stabil, juga.
Dengan demikian, batin terus bereaksi terhadap pikiran-
PAPAÑCA
OH, RAJA
KEMATIAN,
SEGERA KAMU
TIDAK AKAN
MENEMUKAN
SAYA
pikiran keliru yang diciptakannya, seperti orang gila. Tidak ada
ketenangan batin, hanya pergolakan.
Setelah melihat cara batin melakukan sihirnya, kita
dapat menjadi makin sadar dan menjaga dari
kemungkinan tertipu lagi.
Dengan usaha yang gigih untuk
mengembangkan kesadaran dan pemahamam
yang jelas, batin menjadi kurang bereaksi.
Ketika kebijaksanan kita menjadi matang dan
dapat melihat melalui semua keadaan
mental sebagai tidak nyata —sebagai embun di
teratai yang miring, sebagai mimpi, sebagai
bayangan, sebagai gelembung—kita akan
mencapai tanpa kematian.
Journal Entry 27 Februari 2014 di Penang, Malaysia | Design: Jesse James Chen
Website: www.sayalaysusila.net atau sayalaysusila.marveltech.biz
Untuk dibagikan gratis. S e m u a h a k a t a s teks d an image di lembar ini milik si pemilik masing-masing yang berhak dan tidak digunakan untuk mencari keuntungan..
|Bahaya dari Lima Agregat Kemelekatan
No. 3
dari
4 seri
Karena puas diri, kita melekat pada lima aggregat.
Oleh Sayalay Susilā
Karena tidak mengetahui dengan jelas, kita mengembangkan kemelekatan.
Karena mengetahui dengan jelas, kita melepaskan kemelekatan.
Sama seperti anjing, diikat pada sebuah tiang.
Jika berjalan, ia berjalan tepat di sekeliling tiang
itu. Jika berdiri, ia berdiri tepat di samping tiang
itu. Jika duduk, ia duduk tepat di sebelah tiang
itu. Jika berbaring, ia berbaring tepat di tiang itu.
Dengan cara yang sama, orang awam
menganggap lima kelompok sebagai "Ini adalah
milikku, ini adalah diriku, ini adalah saya". Jika dia
berjalan, berdiri, duduk atau berbaring, dia tepat di
sebelah lima kelompok kemelekatan ini. Jadi
seseorang harus merenungkan batinnya setiap saat
"Untuk waktu yang lama batin ini ini telah dikotori
oleh nafsu, kebencian dan kebodohan" .
SN 22.100
Seperti pembunuh licik yang menyamar
sebagai pelayan yang setia untuk
mendapatkan kepercayaan Anda dan setelah
itu akan membunuh Anda. Anda menganggap
lima kelompok sebagai diri sendiri dan tidak
melihat pembunuh ini yang akan membawa
Anda pada kerugian jangka panjng dan
penderitaan.
SN 22.85
Seperti orang yang terlahir buta, diberi
kain kotor, percaya itu adalah kain yang
bersih dan tidak bernoda, sehingga, melekat
padanya. Kita telah tertipu oleh batin kita,
berpikir bahwa lima agregat adalah
permanen dan membawa kebahagiaan.
MN 75
Apa kepuasannya, apa bahayanya,
dan apa jalan keluar dari lima agregat?
Kesenangan dan sukacita, bhikkhu, yang muncul dalam
ketergantungan pada setiap agregat - ini adalah kepuasannya.
Agregat-agregat ini tidak kekal, penderitaan dan dapat berubah ini adalah bahayanya. Penghilangan dan meninggalkan
keinginan dan nafsu - ini adalah jalan keluarnya.
MN 109
Lima agregat adalah kosong.
Bentuk seperti gelembung busa yang besar. Perasaan
seperti gelembung air. Persepsi seperti fatamorgana.
Formasi seperti pohon pisang. Kesadaran seperti seorang
penyihir. Setelah diselidiki, mereka akan terlihat kosong,
hampa, dan tanpa unsur.
SN 22.95
Mahā Kotthita bertanya:
Bagaimana cara yang tepat untuk
merenungkan lima agregat?
YangMulia Sarīputta menjawab: "Seorang bhikkhu saleh
harus memperhatikan lima kelompok kemelekatan dengan
cara yang tepat, dengan merenungkan mereka sebagai
tidak kekal, tidak memuaskan, kanker, panah, menyakitkan,
penderitaan, alien, pemutus, kekosongan dan bukan
sebagai diri."
SN 22.122
Memahami sutta-sutta di atas
penting agar kita tidak
melekat pada lima agregat
dan tidak menentukan yang
mana pun sebagai "diriku”.
Lima agregat ini, jika tidak
dilekati, mengarahkan kita
Melekat pada Lima Agregat Berbahaya.
Lepaskanlah dan jangan melekat padanya.
pada kebahagiaan jangka panjang dan
kesejahteraan .
DEL15 | Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susilā pada 12 Maret 2012 di Bodhi Heart Sanctuary, Penang, Malaysia.
Teks disiapkan oleh Swas Tan | Teks diedit oleh Sayalay Susilā | Artwork dikerjakan oleh Anlin Tan
Websites: www.sayalaysusila.net & sayalaysusila.marveltech.biz | Facebook: www.facebook.com/sayalaysusilaretreat
Diterbitkan pada 2012.08.24
HANYA UNTUK DIBAGIKAN SECARA GRATIS. Hak Cipta ada pada penerbit.
| Pandangan Benar Mengenai Lima Agregat
No. 4
dari 4 seri
Bentuk, perasaan, persepsi, fabrikasi, dan kesadaran
adalah tidak konstan dan tanpa-diri. Semua fenomena
adalah tidak konstan dan tanpa-diri.
Yang Mulia Channa, setelah menerima dan mamahami ajaran
tentang tanpa-diri dari bhikkhu senior, berpikir bagi dirinya sendiri:
“Tetapi batin saya tetap tidak terhenyak, tumbuh kepercayaan diri,
teguh, dan melepas di akhir dari keinginan. Sebaliknya, pergolakan
dan kemelekatan masih muncul. Lalu, siapakah diri saya?”
— Channa Sutta (SN22.90)
Yamaka Sutta (SN 22.85)
Apakah bentuk, perasaan, persepsi,
fabrikasi, dan kesadaran konstan atau
tidak konstan?
Tidak konstan, sahabatku.
Dan yang tidak konstan itu, damai, atau
stress?
Stress, sahabatku.
Dan apakah tepat menganggap apa
yang tidak konstan, stress, dapat
berubah sebagai“Ini milikku. Ini diriku.
Ini aku?”
Tidak, sahabatku.
Apakah kamu menganggap bentuk,
perasaan, persepsi, fabrikasi, dan
kesadaran sebagai Tathāgata?
Tidak, sahabatku.
Apakah kamu menganggap
Tathāgata sebagai makhluk yang
berbentuk, perasaan, fabrikasi, dan
kesadaran?
Tidak, sahabatku.
Lalu, seorang Arahat tanpa kekotoran
batin, apa yang dilepas dari tubuh
setelah kematian?
Bentuk tidak konstan, perasaan,
persepsi, fabrikasi, dan kesadaran
tidak konstan. Apa yang tidak konstan
membuat stress. Apa yang membuat
stress telah berakhir dan lenyap
sampai ke akarnya.
Memahami sutta ini penting
sehingga kita tidak melekat
pada lima agregat dan tidak
menetapkan salah satu dari
mereka sebagai "diriku”. Lima
agregat ini, jika tidak dilekati,
mengantarkan kita pada
kebahagiaan jangka panjang
dan kesejahteraan.
Pergolakan muncul karena takut kehilangan “diri” yang
dilekati dengan kuat oleh seseorang.
Dia meminta bantuan dari Yang Mulia Ananda yang
mengajarkannya: "Dunia ini didukung oleh polaritas, yaitu ada
(eksistensi) dan tidak ada (non-eksintensi). Tetapi ketika seseorang
melihat asal usul dunia sebagaimana adanya, dengan ketajaman yang
tepat, "non-eksistensi" yang mengacu pada dunia tidak terjadi
baginya. Ketika seseorang melihat penghentian dunia sebagaimana
adanya, dengan ketajaman yang tepat, "eksistensi" yang mengacu
pada dunia tidak terjadi baginya.
Dia tidak memiliki ketidakpastian atau keraguan bahwa, bila ada
kemunculan, hanya stres yang muncul, dan bila ada lenyap, stres akan
berlalu."
Ini adalah
Jalan Tengah: "Semuanya ada. Itulah salah satu ekstrim. Semuanya
tidak ada. Itu adalah ekstrim kedua. Menghindari kedua
ekstrem,Tathagata mengajarkan Dhamma melalui Jalan Tengah
(Sebab Akibat Yang Saling Bergantungan)."
— Kaccayanagotta Sutta (SN12.15)
Instruksinya di sini adalah untuk merenungkan muncul
dan lenyapnya batin-dan-materi (nāma-rūpa) sehingga mitos "diri"
hancur. Ketika tidak ada "diri" maka hanya ada proses alami
muncul dan lenyap yang cepat; tidak ada kemelekatan terhadap
eksistensi (menjadi) dan non-eksistensi (tidak menjadi).
Dengan pemahaman yang jelas tentang Sebab Akibat
Yang Saling Bergantungan, seseorang membebaskan diri dari
pandangan yang salah dari kedua ekstrim. Memahami secara
intelektual tidak cukup karena pengetahuan pandangan terang
(insight) lemah.
DEL16 | Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susilā pada 13 Maret 2012 di Bodhi Heart Sanctuary, Penang, Malaysia.
Text disiapkan oleh Swas Tan | Text diedit oleh Sayalay Susilā | Artwork dikerjakan oleh Marcie Barth
Websites: www.sayalaysusila.net & sayalaysusila.marveltech.biz | Facebook: www.facebook.com/sayalaysusilaretreat
Diterbitkan pada 2012.08.24
HANYA UNTUK DIBAGIKAN SECARA GRATIS. Hak Cipta ada pada penerbit
Anathapindikovada Sutta
Seri
Intisari
Dharma
Instruksi-instruksi yang disampaikan oleh YM Sariputta kepada Anathapindika menjelang ajalnya
Latihan yang dahsyat dalam ketidak-melekatan ketika
seseorang mempelajari peta gambaran batin setahap demi
setahap
SAYA TIDAK AKAN MELEKAT PADA dan KESADARAN SAYA TIDAK AKAN BERGANTUNG PADA:
• 6 landasan indera — mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin
• Objek-objek 6 indera — bentuk, suara, bau-bauan, cita-rasa, sentuhan, dan objek-objek batin
• 6 jenis kesadaran — kesadaran mata, ~telinga, ~hidung,~lidah,~tubuh, dan ~batin
• 6 kontak — kontak mata, ~telinga, ~hidung, ~lidah, ~tubuh, dan ~batin
• 6 perasaan yang terlahir dari — kontak mata, ~telinga, ~hidung, ~lidah, ~tubuh, dan ~batin
• 4 unsur — tanah, air, api, dan udara
• 5 kelompok kemelekatan — bentuk, perasaan, persepsi, formasi mental, dan kesadaran
• jhāna tanpa materi yang berhubungan dengan lingkup — landasan ruang tanpa batas, landasan
kesadaran tanpa-batas, landasan ketiadaan-apa pun, dan landasan bukan persepsi maupun bukan
non-persepsi
• dunia ini atau di luar dunia ini
• apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disadari, dihadapi, dicari, dan diperiksa oleh batin
Kemelekatan pada fenomena-fenomena ini mendatangkan penderitaan. Mengapa? Semua formasi-formasi
ini sifat alamiahnya muncul dan lenyap. Ketika apa yang kita lekati dengan kuat – contohnya, perasaan menyenangkan –
mengalami perubahan dan lenyap, kita sangat menderita.
Selain itu, ketika ada kemelekatan, maka kesadaran menjadi bergantung. Ketika kesadaran menjadi
bergantung, maka 5 kelompok kemelekatan akan terbentuk. Ketika 5 kelompok kemelekatan muncul,
maka usia tua, penyakit, dan kematian, tak terelakkan, akan mengikuti.
Tetapi bagaimana caranya kita bisa meninggalkan kemelekatan dan membebaskan hati kita? Dengan
melatih kesadaran dan mengembangkan kebijaksanaan. Kesadaran perhatian penuh adalah selalu
sadar akan apa pun juga yang muncul di saat ini, tanpa menghasilkan reaksi-reaksi lebih lanjut.
Kebijaksanaan menembus apa pun yang muncul dan mengetahui bahwa itu semua adalah tidak kekal,
berkondisi, dan memberatkan — mendorong batin untuk melepaskan cengkeraman.
Pemahaman semacam itu muncul ketika seseorang mengikut instruksi-instruksi
tersebut di atas yang diberikan oleh YM Sariputta.
Ketika ada kemelekatan, ada penderitaan. Agar terbebas dari
penderitaan, Aku akan melepas segala macam kemelekatan
apapun juga. Bagaimana caranya seseorang bisa melepas?
Dengan merenungkan Anicca, Dukkha dan Anattā.
Rangkaian DHARMA ESSENCE – Dikutip dari Dhamma yang diberikan oleh Sayalay Susila pada tanggal 27 April 2010 di BHS, Penang, Malaysia
Design: Jesse James Chen
Blog: sayalay-susila.blogspot.com | Website: www.sayalaysusila.net atau sayalaysusila.marveltech.biz
Untuk dibagi secara cuma-cuma. S e m u a h a k c ip t a a t a s teks d an gambar pada lembar ini adalah milik si pemilik yang bersangkutan dan tidak
digunakan untuk mencari keuntungan..
Menerobos ke Pengarung-Arus
Seri
Intisari
Dharma
BERKAH
Maksimal 7 kehidupan lagi mencapai Arahat.
Tidak akan pernah terlahir kembali di 4 alam menyedihkan
Belenggu
Dihilangkan:
1. Pandangan Keliru tentang “Aku”
2. Keragu-raguan terhadap Tiga Permata
3. Kemelekatan pada Ritual dan Seremoni
PRAKTEK YANG MENGARAH KE PENGARUNG ARUS
1. BERGAUL DENGAN GURU-GURU YANG BIJAKSANA
Amati gerak-gerik tubuh dan ucapan guru serta perhatikan apakah itu didasari oleh keserakahan, kebencian, dan
kebodohan/delusi. Seorang guru yang bijak mengajarkan Dhamma yang mendalam, sulit dilihat, sulit untuk
diwujudkan, tenang, murni dan halus. Dhamma ini tidak dapat diajarkan oleh orang yang serakah, marah, dan
tertipu/terdelusi. Guru yang bijaksana diberkahi dengan pengetahuan tentang Sutta, Abhidhamma dan Vinaya. Dia
menghargai nilai meditasi dan tidak berbicara banyak. Dia mengajarkan ajaran Buddha (tanpa mengubah mereka)
dan tidak mengajarkan ajarannya sendiri. Untuk mengenali guru yang bijaksana seseorang harus memiliki
kemampuan yang jernih untuk mengamati dan harus tinggal bersama dengan guru tersebut untuk beberapa lama.
2. MENDENGARKAN DHAMMA SEJATI
Dhamma Sejati menyebabkan hilangnya nafsu, bukan bernafsu; menjadi tidak terbelenggu, bukan terbelenggu;
melepaskan keterikatan, bukannya mengumpulkan; kepuasan, bukannya tidak puas; terpisah/terbebas, bukannya
terbelit/terperangkap; munculnya ketekunan, bukan kemalasan; menjadi tidak terbebani, bukan terbebani.
3.PERHATIAN YANG BIJAKSANA
Menanggapi apa pun ide yang masuk ke batin, kekotoran batin yang belum muncul yaitu nafsu indera, kemarahan,
kekejaman, dan ketidaktahuan tidak muncul dan setiap kekotoran batin yang muncul ditinggalkan - ini disebut
perhatian yang bijaksana. Kita memberi perhatian pada lima kelompok/agregat kemelekatan dan melihat bahwa
keterikatan pada mereka adalah penyebab kelahiran kembali yang berulang. Kita memberi perhatian pada mereka
dengan cara yang tepat, melihat mereka sebagai tidak kekal, sebagai penderitaan, penyakit, seperti alien, sebagai
kosong dari diri, sebagai kekosongan, seperti gelembung, sebagai fatamorgana, sebagai tanpa-diri.
4. PRAKTEK SESUAI DENGAN DHAMMA
Kita mengamati Moralitas (Sīla) berdasarkan pemahaman akan Kamma dan Akibatnya, dan juga
karena welas asih pada orang lain. Kita berlatih Konsentrasi (Samādhi) untuk membuat pikiran
jernih, diam, terang dan mudah dibentuk demi melihat hal-hal sebagaimana adanya. Kita
mengembangkan Kebijaksanaan (Paññā) untuk melihat muncul dan lenyapnya lima kelompok
kemelekatan. Melihat dengan benar, kita menjadi kecewa/tidak tertarik, sehingga memungkinkan
untuk melepaskan kemelekatan kita kepada lima kelompok kemelekatan.
SERI INTISARI DHARMA
Dikutip dari ceramah Sayalay Susila pada 9-11-2012 Washington DC, US
Design: Jesse James Chen
Blog: sayalay-susila.blogspot.com | Website: www.sayalaysusila.net sayalaysusila.marveltech.biz
Untuk dibagi secara cuma-cuma. S e m u a h a k c ip t a a t a s teks d an gambar pada lembat ini adalah milik si pemilik yang bersangkutan dan tidak digunakan untuk mencari keuntungan
| PERENUNGAN BATIN
“Dan bagaimana, p a r a bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan batin sebagai batin?”
Di sini
seorang bhikkhu memahami batin yang terpengaruh nafsu sebagai batin
dipengaruhi oleh nafsu, dan batin tidak terpengaruh oleh nafsu sebagai batin tidak
terpengaruh oleh nafsu. Dia mengerti batin dipengaruhi oleh kebencian sebagai batin
dipengaruhi oleh kebencian, dan batin tidak terpengaruh oleh kebencian sebagai batin tidak
terpengaruh oleh kebencian. Dia mengerti batin dipengaruhi oleh khayalan sebagai batin
dipengaruhi oleh khayalan/delusi, dan batin tidak terpengaruh oleh khayalan sebagai batin
tidak terpengaruh oleh khayalan. Dia mengerti batin yang tercemar sebagai batin yang
tercemar, dan batin yang terganggu sebagai batin yang terganggu. Dia mengerti batin yang
terkonsentrasi sebagai batin yang terkonsentrasi, dan batin yang tidak terkonsentrasi
sebagai batin yang tidak terkonsentrasi.
INSIGHT/ PENCERAHAN
“Dengan cara ini ia berdiam merenungkan batin sebagai batin secara internal, atau ia
berdiam merenungkan batin sebagai batin secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan
batin sebagai batin secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan dalam batin
faktor-faktornya yang muncul, atau ia berdiam merenungkan dalam batin faktor-faktornya
yang menghilang, atau ia berdiam merenungkan dalam batin baik faktor-faktornya yang
timbul maupun yang hilang " (MN 10 : Empat Landasan Sadar Penuh). Atau sadar penuh
bahwa 'ada batin' telah terbentuk di dalam dirinya cukup hanya sebagai pengetahuan dan
sadar penuh. Dan ia berdiam independen, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Itulah
bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan batin sebagai batin.
Oleh
Sayalay Su silā
PERILAKU BATIN
Perilaku bagaimana yang Anda praktekkan? Perilaku benar atau salah? Batin yang
mengamati harus bebas dari segala harapan, penilaian, preferensi dan bias. Jagalah batin di tengah-tengah. Perhatikan
keadaan mental yang berbeda dengan cara tidak memihak, tanpa terlibat. Biarkan semuanya datang dan pergi tanpa
bereaksi terhadapnya.
Saat memperhatikan rasa sakit, sadarilah batin yang sedang memperhatikan rasa sakit, bukan rasa sakitnya. Periksalah
reaksi batin terhadap rasa sakit tersebut. Amatilah reaksinya seperti halnya pihak ketiga sedang mengamati rasa sakit
orang lain.
Kenali fenomena (marah, sukacita, keserakahan, panas, kebingungan, ketegangan, ketakutan, mengantuk, sakit,
kebahagiaan, depresi, kekakuan, penyesalan ... ) yang muncul. Biarkan mereka apa adanya, hanya peristiwa mental
impersonal. Pandangan salah mengenai ‘diri’ dengan keras kepala tetap utuh, mencemari arus mental kita, reaksi yang
menjadi kebiasaan terhadap hampir segala sesuatu yang timbul sebagai tubuh dan batin. Jika delusi/khayalan
menyebabkan kita secara spontan menganggap emosi sebagai milik saya, atau diri saya, cara memperbaikinya adalah
dengan tidak-mengidentifikasi dan melihat fenomena sebagai impersonal.
Tidak menganggap personal atau tidak-mengidentifikasi adalah mencatat dengan mental setiap emosi yang timbul
berulang-ulang sebagai "hanya emosi." Lihatlah kondisi mental ini dengan tanpa perasaan. Lihat apa pun yang muncul
sebagai benda asing, sebagai pihak ketiga, seperti kosong atau tanpa diri. Dengan cara ini, seseorang membebaskan
dirinya dari belitan. Dari sudut pandang psikologis, cara melihat hal-hal seperti ini memungkinkan seseorang untuk
mundur. Ia terpisah secara emosi dan dengan demikian terbebas dari khawatir dan takut yang, sebenarnya, bukan
miliknya. Pada kenyataannya, fenomena fisik dan mental hanya muncul sesaat, melakukan fungsi, dan secara alami
lenyap.
INTISARI DHARMA: No. 16 Dikutip dari ceramah Dharma Sayalay Susila pada 30 Sep 2012 di NYIMC USA
Teks dikumpulkan: Swas Tan | Editing: Sayalay Susila | Design: Anlin Tan Ean Ling
Blog: sayalay-susila.blogspot.com | Website: www.sayalaysusila.net | sayalaysusila.marveltech.biz
Diterbitkan 2012.09.27
Untuk dibagi secara cuma-cuma. S e m u a h a k c ip t a a t a s teks d an gambar pada lembar ini adalah milik si pemilik yang bersangkutan dan tidak digunakan untuk mencari keuntungan
Seri
Intisari
Dharma
Perenungan akan Perasaan
“Dan bagaimana, O para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan
perasaan dalam perasaan?”
D
H
“
i sini , O para bhikkhu, seorang bhikkhu saat mengalami perasaan yang menyenangkan,
memahami: 'Aku mengalami perasaan menyenangkan (duniawi dan spiritual)'; ketika
mengalami perasaan yang menyakitkan (duniawi dan spiritual), ia memahami: 'Aku
mengalami perasaan yang menyakitkan'; ketika mengalami perasaan yang tidakmenyenangkan-maupun-tidak-menyakitkan (duniawi dan spiritual), ia memahami: 'Aku
mengalami perasaan tidak-menyenangkan-maupun-tidak-menyakitkan.”
“Jadi dia berdiam merenungkan perasaan dalam perasaan secara internal, atau ia berdiam
merenungkan perasaan dalam perasaan secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan
perasaan dalam perasaan secara internal maupun eksternal. Ia berdiam merenungkan dalam
perasaan faktor-faktornya yang timbul, atau ia berdiam merenungkan dalam perasaan
faktor-faktornya yang menghilang, atau ia berdiam merenungkan dalam perasaan baik
faktor-faktornya yang timbul maupun yang hilang. Atau sadar penuh bahwa 'Perasaan ada'
terbentuk dalam dirinya hanya diperlukan sebagai pengetahuan dan untuk diingat, dan dia
hidup independen dan tidak melekat pada apapun di dunia”.
“Dengan demikian, memang, O para bhikkhu, seorang bhikkhu diam merenungkan
perasaan dalam perasaan”.
P
(MN10)
erenungan akan perasaan sangat penting. Saat seseorang tidak sadar penuh akan perasaan-perasaan,
Mereka pasti akan mengkondisikan keinginan dan pandangan salah tentang diri.
Perasaan adalah faktor mental. Karakteristiknya adalah "untuk dirasakan." Fungsinya mengalami "rasa" - apakah
disukai ataupun tidak disukai – dari objek tersebut: setiap bentuk, suara, bau, rasa, berwujud dan objek mental akan
memiliki “rasa” tertentu. Perasaan yang menyenangkan mengalami aspek yang disukai dari objek itu, dan
menggetarkan baik batin maupun tubuh. Perasaan yang tidak menyenangkan mengalami aspek yang tidak disukai
dari objek tersebut dan membuat batin dan tubuh layu. Perasaan yang tidak menyenangkan-maupun-menyakitkan
mengalami objek-objek tersebut yang tidak menyenangkan ataupun tidak tidak-menyenangkan, dan menyebabkan
batin dan tubuh tidak-peduli. Tidak ada "Aku," tidak ada orang yang merasa. Lebih tepatnya, perasaanlah yang
"merasakan."
Dengan terbentuknya kesadaran (eling), ketika perasaan menyenangkan muncul, seseorang menjadi sadar akan
keberadaannya dan, dengan memahami esensi individual perasaan, tidak menganggap perasaan itu sebagai "diri
saya." Dia selanjutnya merenungkan perasaan sebagai bentuk, terkondisi, dan bergantung pada keadaan yang
muncul. Perasaan timbul tergantung pada enam kontak yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin dengan
enam objeknya masing-masing.
Ketika seseorang memandang perasaan yang timbul tanpa perasaan, ia dapat melihat perasaan sebagai sekilas,
tidak kekal, penderitaan (karena perubahannya), dan kosong dari diri. Dengan pemahaman seperti itu, perasaan
kehilangan kekuatan mereka untuk mengaktifkan kecenderungan yang mendasari keinginan dan pandangan salah
mengenai identitas.
SERI INTISARI DHARMA
Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susila pada Februari 2013, Los Angeles, USA
Design: Jesse James Chen
Blog: sayalay-susila.blogspot.com | Website: www.sayalaysusila.net atau sayalaysusila.marveltech.biz
Untuk dibagi secara cuma-cuma. S e m u a h a k c ip t a a t a s teks d an gambar pada lembar ini adalah milik si pemilik yang bersangkutan dan tidak digunakan untuk mencari keuntungan.
TIRUAN DARI DHAMMA
YANG SEJATI
Kassapa Samyutta dalam
Samyutta Nikāya
Intisari
Dhamma
Oleh
Sayalay Susila
Pertanyaan 1: Apakah tiruan dari Dhamma Sejati,mengingat sekarang telah muncul tiruan Dhamma sejati di dunia?
Jawaban: Segala sutta selain kata-kata asli dari Buddha dikelompokkan sebagai tiruan dari Dhamma Sejati.
Pertanyaan 2: Mengapa sutta-sutta ini dikelompokkan sebagai tiruan dari Dhamma Sejati?
Jawaban: Karena ajaran dari semua sutta-sutta ini tidak konsisten dengan ajaran Buddha yang bertujuan untuk mencabut,
menghilangkan atau menghancurkan kekotoran batin. Tujuan dari ajaran Buddha adalah untuk memberantas nafsu
keinginan, penyebab semua penderitaan..
Pertanyaan 3: Dan apakah penyebab dari semua penderitaan?
Jawaban: Nafsu k einginan
Pertanyaan 4: Keinginan akan apa?
Jawaban:
1. Keinginan akan nafsu inderawi – Keinginan akan 6 objek-indera eksternal sense-bases
& internal
is a cause for rebirth.
2. Keinginan untuk ‘Menjadi’ – Keinginan akan hidup adalah penyebab kelahiran kembali.
is a(uccheda-diṭṭhi)
cause for rebirth.
3. Keinginan akan ‘Tidak-Menjadi’ – Ini adalah pandangan salah tentang kenihilan
Dan ini adalah 3 penyebab atau asal mula dari penderitaan. Tujuan dari ajaran Buddha adalah untuk membantu kita
menghilangkan segala jenis nafsu keinginan. Jadi jika ada sutta yang mendorong menikmati nafsu-nafsu indera, kehidupan
yang lebih (eternalisme) atau tanpa kehidupan (kenihilan), maka itu adalah pemalsuan/tiruan dari Dhamma Sejati.
Pertanyaan 5: Apakah Dham ma Sejati itu?
Jawaban: 1) Pariyatti - belajar Dhamma. 2) Patipatti - praktek/latihan Dhamma . 3) Pativedha - realisasi Dhamma.
Pertanyaan 6: Dan apa 5 praktek merugikan yang menyebabkan pembusukkan dan hilangnya Dham ma Sejati?
Jawaban: Mereka adalah ketika para bhikkhu, bhikkhuni, pengikut/umat awam laki-laki, umat awam perempuan tinggal tanpa
menghormati, rasa hormat dan hormat yang mendalam kepada:
1. Buddha (9 kualitas) 2. Dhamma (6 kualitas) 3. Sangha (4 jenis ariya-sangha)
4. Tiga Latihan (sīla, samādhi [4 jenis rūpa jhāna] & pañña) 5. Konsentrasi (4 jenis arūpa jhāna).
Pertanyaan 7: Dan apa 5 praktek kebajikan yang menyebabkan Dhamma Sejati dapat berumur panjang, tanpapembusukan dan tidak hilang?
Jawaban: Ketika para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam laki-laki & umat awam perempuan tinggal dengan menghormati,
rasa hormat dan hormat yang mendalam pada: 1. Buddha 2. Dhamma 3. Sangha 4. Latihan-latihan 5. Konsentrasi.
Ringkasan: Kelangsungan Dhamma Sejati bergantung kepada 4 kelompok orang: Para bhikkhu, bhikkhuni, umat
awam laki-laki & umat awam perempuan. Kita semua memiliki andil tanggung-jawab yang sama dalam tidak terjadinya
pembusukan dan tidak hilangnya Dhamma Sejati. Tolong perhatikan dengan serius !
Hilangnya Dhamma Sejati adalah kehilangan besar bagi kita, dan kit a m em i lik i t anggung -j aw ab yang s am a.
Dikutip dari Dhamma yang disampaikan oleh Sayalay Susila pada 8 April, 2011 di Nalanda Buddhist Society, Serdang, Selangor
| Teks diedit oleh Sayalay Susila| Teks disiapkan oleh Teoh Boon Tat| Artwork dikerjakan oleh Yian Nee
| Blog: sayalay-susila.blogspot.com | Website: www.sayalaysusila.net
Diterbitkan pada 08.06.2012
Fly UP