...

KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI
TAMAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
1)
Ketut Yuniati, 2)Ziti Zaenab, dan 3)I Wayan Suadnya
1)
Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram
2),3)
Dosen Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Hindu
STAHN Gde Pudja Mataram
Diterima : 20 Januari 2015
Direvisi : 10 Maret 2015
Disetujui : 22 Maret 2015
Abstract
Communication from ritual perspective with regard to the activities of sharing,
participating, gathering, friendship and ownership of the same belief. In general, people
who have the same religious thought will do the same rituals and to gather in the same
group. But in Lombok West Nusa Tenggara, especially in Lingsar, there is ritual,
performed by two different ethnics and religious that called perang topat tradition.
Perang topat is the realization of cultural heritage practices carried out by the Islamic
Sasak ethnic communities and society Wetu telu Balinese are Hindu.
It is interesting to study because it shows how the tradition of ritual
communication perang topatconducted by two different ethnicities and religions. The
research was conducted in Lingsar Park West Lombok. Issues raised in this research
are form of communication regarding ritual, ritual communication function and
meaning of ritual communication in perang topat tadition. This study is a qualitative
research and the data was with data collected through interviews, direct observation
and documentation. While the theoretical basis used are communicative action theory,
cultural identity,symbolic interaction and theory of sense.
The results of this study indicate that form of ritual communication in the
tradition of the perang topat are group communication both verball and non-verball.
The function of ritual communication in perang topat traditionare function as a
unifying bridge, as a function of cultural preservation and cultural identity. While the
meaning found in the tradition of ritual communication perang topat is the meaning of
togetherness and a sense of satisfaction.
Keywords: Ritual communication, perang topat tradition, form, function, meaning
PENDAHULUAN
Tradisi perang topat merupakan realisasi praktik budaya warisan leluhur yang
dilaksanakan oleh masyarakat etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan masyarakat
etnis Bali yang beragama Hindu. Tradisi perang topat merupakan salah satu tradisi yang
sarat dengan kearifan budaya lokal, karena kandungan isi dari even ini sarat dengan
sakralisme yang kuat. Hubungan dengan Tuhan antara dua keyakinan Islam dan Hindu
tetap mendominasi, tanpa saling mempengaruhi satu sama lain.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
787
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
Perang topat merupakan wujud hubungan
denganTuhan, leluhur serta
hubungan antar manusia, yang memiliki esensi, yakni mewujudkan rasa syukur
kehadapan Tuhan atas kemakmuran yang dianugrahkan serta persatuan dengan adanya
hubungan antar dua budaya yang menyebabkan terjadinya rasa persaudaraan antara
umat Muslim dengan Hindu.
Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa dalam rangkaian ritual tradisi perang
topatterdapat
praktek komunikasi didalamnya, salah satunya adalah komunikasi
ritual.Komunikasi dalam perspektif ritual, berkaitan dengan kegiatan berbagi,
berpartisipasi, berkumpul, dan bersahabat dan kepemilikan akan keyakinan yang sama.
Secara umum orang-orang yang mempunyai pemikiran keagamaan yang sama akan
melakukan ritual keagaman yang sama dan akan berkumpul dalam kelompok yang
sama. Namun dalam tradisi perang topat, terdapat dua etnis dan agama yang berbeda
berkumpul melaksanakan tradisi ini.Ritual merupakan cara untuk menyampaikan
sesuatu,dalam hal ini ritual dalam tradisi perang topat merupakan media komunikasi
yang menghubungkan
manusia dengan yang gaib atau Tuhan dan sebagai media
komunikasi antara etnis Sasak Islam penganut Wetu teludan etnis Bali beragama Hindu.
Terkait dengan hal tersebut, persoalan yang muncul adalah bagaimana
pelaksanaan komunikasi ritual dalam kaitannya dengan tradisi perang topat yang
dilaksanakan oleh dua etnis dan agama yang berbeda yaitu etnis Sasak Islam penganut
Wetu Teludan etnis Bali yang beragama Hindu, apakah masih sesuai dengan esensi dari
pelaksanaan tradisi perang topat? ataukah sudah berubah?. Bertolak dari pemikiran
tersebut diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah
bentuk, fungsi dan makna komunikasi ritual dalam tradisi perang topat di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh kejelasan tentang komunikasi
ritual dalam kehidupan beragama, sehingga komunikasi tersebut dapat dipahami dan
dideskripsikan, sebagai aspek kebersamaan yang dilaksanakan oleh etnis Sasak Islam
penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama Hindu dalam tradisi perang topat di
Taman Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Sedangkan mamfaat dari penelitian ini
diharapkan dapat digunakan sebagai suatu pelajaran yang berharga tentang perlunya
memahami kontek komunikasi ritual yang terjadi disekitar kita, Sehingga bertindak dan
berprilaku sesuai dengan makna dan tujuan komunikasi ritual, khususnya komunikasi
ritual dalam tradisi perang topatdi Taman Lingsar Kabupaten Lombok Barat.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
788
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
PEMBAHASAN
BENTUK KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI
TAMAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
Dalam pandangan ritual, komunikasi tidak secara langsung diarahkan untuk
menyebarluaskan pesan dalam suatu waktu.Komunikasi yang dibangun juga bukanlah
sebagai tindakan untuk memberikan informasi melainkan untuk merepresentasi atau
menghadirkan kembali kepercayaan-kepercayaan bersama.Pola komunikasi yang
dibangun dalam pandangan ritual adalah upacara sakral atau suci(sacred ceremony)
dimana setiap orang secara bersama-sama bersekutu dan berkumpul (fellowship and
commonality) Carey (1992:18).Senada dengan hal ini, Couldry (2005:15) menambahkan
pola komunikasi dalam perspektif ritual bukanlah si pengirim (komunikator)
mengirimkan suatu pesan kepada penerima (komunikan), namun sebagai upacara suci
dimana setiap orang ikut mengambil bagian secara bersama dalam bersekutu dan
berkumpul. Dalam pandangan ritual, yang lebih dipentingkan adalah kebersamaan
masyarakat dalam melakukan doa, bernyanyi dan seremonial. Dalam hal ini komunikasi
ritual di wujudkan dalam bentuk materi seperti tarian, permainan, doa bersama dan
pertunjukkan.
Dalam penelitian ini komunikasi yang terjadi adalah antara sesama etnis maupun
antar etnis yakni etnis Sasak Islam Penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama Hindu
yakni pada saat mulai dari proses persiapan, pembukaan atau penaek gawe, upacara inti
yakni perang topat sampai dengan upacara penutupan atau beteteh. 1) Pada saat proses
persiapan komunikasi yang terjadi berkaitan dengan teknis pelaksanaan tradisi perang
topat adalah adanya proses komunikasi awal dengan mengadakan rapat terlebih dahulu
sebelum pelaksanaan tradisi perang topat selain itu adanya kegiatan pembersihan dan
pemasangan abah-abah. 2) Pembukaan atau Penaek Gawe komunikasi yang terjadi
pada saat upacara mendak, mendakKebon Odeq dan Murwe Daksine memakai Kebo
atau Koaq. 3)Pada upacara inti yakni perang topat komunikasi yang terjadi pada saat
nampah Koaq, membuat pesaji menata sesaji, nyerahang topat, mendak pesaji,
ngaturang pesaji dan perang topat. 4) pada saat upacara penutupan atau beteteh
komunikasi yang terjadi pada saat upacara beteteh ke Sarasute.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa bentuk komunikasi dalam prespektif ritual
yang terdapat dalam tradisi perang topat adalah bentuk komunikasi kelompok baik yang
dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi verbal diwujudkan dalam
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
789
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
bentuk rapat dan komunikasi antar pribadi sedangkan komunikasi nonverbal
diwujudkan dalam bentuk seperti tarian, pertunjukan, doa dan permainan.
Komunikasi secara verbal dapat dilihat dari komunikasi yang terjadi berkaitan
dengan teknis pelaksanaan tradisi perang topat adalah adanya proses komunikasi awal
dengan mengadakan rapat. Rapat disini adalah untuk mencapai suatu kesepakatan
tentang pelaksanaan tradisi ini.Komunikasi secara verbal juga dapat dilihat dari
komuniksi antar pribadi.Seperti percakapan yang dilakukan pada saat pelaksanaan
tradisi perang topat ini yang dilakukan oleh dua atau tiga orang baik sesama etnis
maupun berbeda etnis yang menggunakan bahasa Indonesia, Sasak maupun Bali.Dalam
komunikasi ini tidak dapat ditentukan mana komunikator maupun komunikan karna
dalam percakapan tersebut terjadi komunikasi timbal balik yakni masing-masing pelaku
komunikasi bisa menjadi komunikan maupun komunikator.Komunikasi antar pribadi
yang di lakukan secara verbal antara kedua etnis ini tampak berlangsung dengan
epektif, karna mengunakan bahasa yang sama yang dimengerti oleh kedua belah pihak,
sehingga pesan yang disampaikan antara kedua etnis bisa diterima dengan baik.
Sedangkan komunikasi secara nonverbal dapat ditemukan pada prosesi
pelaksanaan tradisi perang topat yakni pada saat persiapan sampai upacara penutupan
atau beteteh. 1) pada persiapan adanya kegiatan pembersihan dan pemasangan abahabah. Aktivitas ini merupakan bentuk komunikasi secara nonverbal yang digunakan
untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa sedang ada persiapan upacara. 2)
pada saat Pembukaan atau Penaek Gawe adanya upacara mendak, mendak Kebon Odeq
dan Murwe Daksine memakai Kebo atau Koaq. Aktivitas ini merupakan bentuk
komunikasi nonverbal yang diwujudkan dalam bentuk pertunjukkan dan doa bersama
yang digunakan untuk menyampaikan pesan yakni mendak sebagai simbol bersatunya
Bali dan Lombok, sedangkan mendakKebon Odeq dan Murwe Daksine mekai
Kerbauatau Koaq sebagai simbol menghaturkan rasa hormat kehadapan leluhur. 3) pada
upacara inti yakni perang topat bentuk komunikasi nonverbal seperti NampahKoaq
yang artinya menyembelih kerbau, membuat pesaji yakni membuat dan menata sesaji,
nyerahang topat yaitu menyerahkan ketupat, mendak pesaji yaitu mejemput sesaji,
ngaturang pesaji yaitu mempersembahkan sesaji, dan perang topat yaitu perang dengan
mengunakan media ketupat. Semua adalah bentuk komunikasi yang dilakukan secara
nonverbal yang diwujudkan dalam bentuk tarian dan pertunjukkan.terkecuali mebuat
pesaji dan menata pesaji ini, adalah bentuk komunikasi ritual dalam pandangan sakral
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
790
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
atau suci karna kegiatan ini dilakukan oleh kaum wanita yang sudah tidak haid atau
sedang tidak haid. 4) pada saat upacara penutupan atau beteteh, aktivitas ini merupakan
bentuk komunikasi nonverbal yang diwujudkan dalam bentuk doa bersama,
pertunjukkan dan tarian yang menyampaikan pesan bahwa berakhirnya rangkaian
prosesi perang topat dan mengembalikan tamu-tamu Agung.
Dari bentuk komunikasi yang dilakukan secara nonverbal tersebut di atas bahwa
segala aktivitas dalam taradisi perang topat merupakan interaksi antara etnis Sasak
Penganut Wetu telu dan etnis Bali beragama Hindu, interaksi terjadi karena adanya
komunikasi.Jadi sangatlah jelas bahwa bentuk komunikasi ritual yang terdapat dalam
tradisi perang topat di Taman Lingsar Kabupaten Lombok Barat adalah bentuk
komunikasi kelompok baik secara verbal maupun nonverbal. Secara verbal bentuk
komunikasi diwujudkan dalam bentuk rapat dan komunikasi antar pribadi sedangkan
bentuk komunikasi kelompok secara nonverbal diwujudkan dalam bentuk tarian, doa
bersama, pertunjukan, dan permainan. Dalam pandangan ritual, yang lebih dipentingkan
adalah kebersamaan masyarakat dalam melakukan doa, bernyanyi dan seremonial.
Demikian pula dalam pelaksanaa tradisi perang topat, adanya kebersamaan masyarakat
dalam melakukan seremonial serta pola komunikasi yang dibangun dalam ritual tradisi
perang topat ini adalah upacara sakral atau suci (sacred ceremony) dimana etnis Sasak
dan Bali secara bersama-sama bersekutu dan berkumpul dalam pelaksanaan tradisi ini.
FUNGSI
KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI
TAMAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
Komunikasi ritual merupakan salah satu bagian dari fungsi komunikasi.Sebagai
salah satu fungsi komunikasi, komunikasi ritual dijelaskan oleh Mulyana (2005:25)
sebagai penegasan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, komunitas, suku,
bangsa, negara, ideologi, atau agama mereka. Demikian pula pada tradisiperang topat,
didefinisikan sebagai kegiatan simbolis yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya, berisikan kepercayaan, menegaskan, serta menghubungkan diri dengan
kepercayaan mereka, dan mengembangkan identitas. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh bahwa fungsi komunikasi ritual dalam tradisi perang topat adalah fungsi
komunikasi ritual sebagai jembatan pemersatu, sebagai pelestarian budaya dan sebagai
identitas budaya.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
791
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
Fungsi Jembatan Pemersatu
Secara historis diketahui bahwa telah terjalin hubungan antar kedua etnis yang
bermukim di Desa Lingsar.Hubungan ini berlangsung sejak zaman Kerajaan Karang
asem
(Bali)
di
Lombok,
masa
colonial
Belanda
dan
masa
kemerdekaan
Indonesia.Hubungan erat antar kedua etnis ini pada awalnya diciptakan oleh para
penguasa (Raja) sebagai strategi politik yang tidak lepas dari aspek relegius ekonomi
dan kekerabatan.Strategi ini sengaja diciptakan demi menanamkan serta memperkokoh
kekuasaan raja, mempersatukan etnis Sasak khusunya penganut Wetu Telu dan etnis
Bali.Salah satu bentuk nyata dari strategi ini adalah pelaksanaan tradisi perang topat
yang berkaitan erat dengan mata pencaharian (ekonomi) terutama dibidang pertanian
sawah.
Dari hasil penelitian misi dari diadakannya upacara perang topat ini adalah
sebagai pemersatu antara Bali dan Lombok. Bila dilihat dari bangunan Pura didirikan
berdampingan dengan Kemaliq.Bila lihat dengan arah menghadap Gunung Rinjani (ke
utara) maka Kemaliq berada disebelah kanan, sedangkan Pura ada disisi kiri.Bila dilihat
menghadap Gunung Agung di Bali maka posisinya adalah sebaliknya.Ini mempunyai
misi mempersatukan roh-roh gaib di Gunung Rinjani (Bali) dan roh-roh gaib di Gunung
Agung (Bali).Oleh karenannya Pura di lingsar diwujudkan dalam tiga bentuk.Pertama
Pura Bhatara di Gunung Rinjani, kedua pura Bahatara di Bukit (tengah) dan yang ketiga
Pura Bhatara di Gungun Agung.Kesatuan wujud bangunan ini secara batin bertujuan
untuk mempersatukan masyarakat Sasak dan Bali.Dalam upacara Pujawali yang
menjadi inti adalah upacara tradisi perang topat.Pada pelaksanaan upacara ini yang
mpunya kerja adalah Kemaliq, sedangkan Pura adalah tamu agungnya.Menurut
keyakinan umat Hindu mereka berupacara untuk menghormati Bhatara Gde
lingsar.Sedangkan menurut keyakinan etnis Sasak mereka berupacara untuk
menghormati dan mentaati wasiat dari Datu Wali Milir.Sebutan Datu Wali Milir dan
Bhatara Gde lingsar ini mempunyai pengertian yang satu yakni Raden Mas Sumilir.
Selain hal tersebut bahwa yang datang untuk melaksanakan upcara perang topat
tidak hanya orang Lingsar tetapi mereka datang dari jauh seperti Lombok Utara,
Lombok Tengah, Lombok Timur. Masyarakat yang datang dari berbagai tempat ke Pure
Lingsar khususnya Kemaliq dengan tujuan ikut melaksanakan tradisi perang topat yang
diyakini akan mendatangkan kemakmuran dan kesuburan, namun dibalik itu disadari
atau tidak mereka datang karena memiliki suatu perasaan yang sama, kepentingan yang
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
792
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
sama, dan saling memerlukan satu sama lain. Perasaan-perasaan itulah yang tidak
disadari dapat memperkuat dan memperkokoh tali persaudaraan diantara mereka.
Dengan demikian adanya perasaan yang sama, tujuan yang sama dan
kepentingan yang sama akan dapat mepersatukan anggota-anggota komunitas, dan yang
mendasari ini semua adalah adanya komunikasi yang baik diantara kedua etnis. Jadi
dapat dikatakan bahwa komunikasi ritual dalam tradisi perang topat di Taman Lingsar
Kabupaten lombok Barat ini adalah sebagai jembatan pemersatu baik sesama etnis
maupun antar etnis.
Fungsi Pelestarian Budaya
Pentingnya pelestarian kebudayaan lokal yang diwujudkan dalam upacara ritual
di setiap daerah juga menunjukkan bahwa setiap suku bangsa di negeri tercinta ini
memiliki karakter yang khas sebagai dasar bertindak dan beraktivitas untuk
pengembangan diri ke depan. Oleh karenanya, pihak-pihak yang berkompeten secara
terpadu perlu memerhatikan keberadaan dan keberlangsungnya supaya tidak menjadi
punah.
Kebudayaan diciptakan dan dipertahankan melalui aktivitas komunikasi para
individu
anggotanya.Secara
menciptakan
realita
kolektif,
(kebudayaan)
perilaku
yang
mereka
mengikat
dan
individu.Sendjaja. (1994:286). Hal senada juga diuangkapkan
secara
bersama-sama
harus
dipatuhi
oleh
Lasswell (1960:118)
fungsi komunikasi dalam masyarakat yakni the transmission of the social heritage from
one generation to the next. Dengan demikian dapat dikatakan kebudayaan dirumuskan,
dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui komunikasi.Jadi dapat dikatakan bahwa
fungsi komunikasi adalah sebagai alat untuk mensosialisasikan nilai-nilai budaya
kepada masyarakatnya.
Demikian pula komunikasi ritual dalam tradisi perang topat yang berfungsi
sebagai sarana transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari hasil
observasi
dan wawancara menunjukkan bahwa ketika tradisi
perang topat ini
dilangsungkan, secara tidak langsung terjadi proses pembelajaran dari generasi tua yang
umumnya sebagai pelaku kegiatan ini kepada generasi muda. Berdasarkan observasi
pada saat prosesi upacara tradisi perang topat banyak kaum muda yang terlibat bahkan
anak- anak.Salah satunya dapat kita lihat dari prosesi mendak, barisan terdepan yakni
tari Baris dan tari Teleq di bawakan oleh para remaja dan anak-anak, begitu juga dengan
pembawa Payung Agung. Ini berarti telah terjadi proses pewarisan dari generasi tua
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
793
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
kepada generasi muda dalam hal ini terjadi proses pembelajaran secara ilmiah yang
terjadi dalam prosesi tradisi ini.
Dari hasil wawancara beberapa informan juga menunjukkan bahwa masyarakat
yang datang untuk menghadiri upacara perang topat ini juga beragam mulai dari orang
tua, orang dewasa sampai anak-anak, tradisi perang topat merupakan salah satu upacara
yang diterima dan diwariskan dari generasi sebelumnya secara turun-temurun. Jadi
dapat dipahami ketika suatu kelompok masyarakat telah mewariskan tradisinya secara
turun temurun, maka berarti kelompok tersebut telah melakukan usaha atau perjuangan
untuk memepertahankan serta melestarikan tradisinya. Demikian pula dalam proses
pewarisan tradisi perang topat ini sebagai salah satu nilai sosial yang dipelihara
masyarakat etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama
Hinduberlangsung secara alamiah. Tidak terjadi prosespembelajaran secara khusus
dalam melakukan tradisi ini. Dengan demikian, bila generasi tua sekarang ini telah tiada
maka generasi muda yang ada saat inilah yang akan menggantikan untuk melaksanakan
tradisi ini, sehingga tradisi ini tidak akan pernah punah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi ritual dalam tradisi perang
topat berfungsi sebagai pelestarian budaya, karna manifestasi budaya tidak akan dapat
ditransmisikan tanpa komunikasi. Hal senada diungkapkan oleh Fiske (2010:221) yang
menyatakan bahwa komunikasi menjadi sentral bagi keberlangsungan kehidupan
budaya tanpa komunikasi kebudayaan jenis apapun akan mati. Jadi dapat dikatakan
bahwa salah satu fungsi komunikasi ritual dalam tradisi perang topat di Taman Lingsar
Kabupaten Lombok Barat adalah untuk pelestarian budaya dan juga untuk melakukan
revitalisasi budaya (penguatan).
Fungsi Identitas Budaya
Tradisi perang topat merupakan sarana komunikasi yang penting untuk
membangun, memberdayakan, dan pengakuan suatu identitas budaya.Dari hasil
obsevasi menunjukkan bahwa tradisi perang topat merupakan wujud budaya yang
mencerminkan ciri kebudayaan Lombok. Hal tersebut dapat teridentifikasi dari proses
pelaksanaannya, seperti menyiapkan sesajen yang terdiri dari aneka makanan dan buah
yang yang mencerminkan bumi dan segala isinya yang disebut Kebon Odeq. Selain itu,
pencerminan jati diri tersirat dari pelaksanaan tradisi ini adalah
adanya rasa
kebersamaan, gotong royong atau bekerjasama untuk mencapai satu tujuan yang sama,
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
794
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
yakni untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan hidup, walaupun mereka
berasal dari etnis dan agama yang berbeda.
Menurut Larry A. Samovar, Richard E. Porter dan Edwin R. McDaniel dalam
Samovar (2006:56), identitas budaya merupakan
karakter khusus dari sistem
komunikasi kelompok yang muncul dalam situasi tertentu. Diverse groups can create a
cultural system of symbols used, meanings assigned to the symbols, and ideas of what is
considered appropriate and inappropriate. When the groups also have a history and
begin to hand down the symbols and norms to new members, then the groups take on a
cultural identity. Cultural identity is the particular character of the group
communication system that emerges in the particular situation.
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami ketika suatu kelompok masyarakat
telah mewariskan simbol-simbol dan norma-norma secara turun temurun, maka berarti
kelompok tersebut telah memiliki identitas budaya. Demikian juga halnya dengan
tradisi perang topat, dari hasil wawancara dengan beberapa informan menunjukkan
bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang telah diteruskan secara turun temurun dari
generasi ke generasi oleh masyarakat Lingsar khususnya etnis Sasak Islam penganut
Wetu Telu dan etnis Bali beragama Hindu sehingga menjadi ciri budaya dari orang
Lombok khususnya masyarakat Lingsar. Dapat dikatakan bahwa hal ini sebagai usaha
atau perjuangan untuk memepertahankan serta melestarikan tradisi ini sebagai simbol
identitas budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi perang topat ini termasuk
pada bentuk identitas budaya. Ciri budaya ini jugalah yang kemudian memiliki peran
tertentu dalam interaksi orang Sasak dengan orang Bali yang berbeda latar belakang
agama dan budaya.
Perang topat adalah perang dengan menggunakan media berupa ketupat yang
terbuat dari beras yang telah dimasak yang merupakan
ungkapan rasa syukur
kehadapan Tuhan atas kemakmuran yang dianugrahkan sekaligus menggambarkan
keharmonisan, toleransi yang tinggi antar dua penganut keyakinan yang berbeda di
Pulau Lombok. Tradisi perang topat sebagai identitas budaya merupakan bagian dari
suatu tradisi daerah yang mencirikan budaya pulau Lombok.Tradisi perang topat
berkembang sesuai dengan peradaban suatu masyarakat yang humanis. Tradisi yang
diadakan oleh masyarakat etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali
beragama Hindu ini diyakini dan dianggap memiliki kekuatan tersendiri dalam
masyarakat untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, leluhur serta
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
795
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
hubungan antar manusia serta alam. Kebudayaan yang bertongak pada peradaban
membentuk identitas sebuah bangsa.Identitas budaya inilah yang menjadi landasan
untuk memperkokoh karakter suatu peradaban.
MAKNA KOMUNIKASI RITUAL DALAM TRADISI PERNG TOPAT DI
TAMAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
Komunikasi ritual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah komunikasi yang
dibangun berkaitan erat dengan aktivitas perayaan yang dilaksanakan secara bersamasama oleh warga yakni etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama
Hindu dalam tradisi perang topat. Jadi yang diutamakan di sini adalah kebersamaan
antara kedua etnis dalam melaksanakan tradisi ini.Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh bahwa makna komunikasi ritual dalam tradisi perang topat adalah makna
kebersamaan dan makna kepuasan rasa.
Makna Kebersamaan
Sebuah kebersamaan menjadi suatu hal penting dalam membina sebuah
hubungan. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa membutuhkan orang lain dalam
kehidupannya. Begitu pula halnya dengan masyarakat etnis Sasak dan etnis Bali di
Lingsar.Interaksi antara kedua etnis yakni etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan
etnis Bali beragama Hindu merupakan suatu fenomena sosial yang dapat dilihat dalam
prosesi upacara tradisi perang topat. Keterlibatan kedua etnis dari yang tua, remaja
sampai dengan anak-anak, merupakan bentuk kebersamaan yang solid yang patut
dipertahankan dalam setiap aktivitas lain.
Hasil observasi juga menunjukkan bahwa kebersamaan masyarakat etnis Sasak
Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali Hindu dalam aktivitas pelaksanaan tradisi
perang topat, dapat dilihat mulai dari proses persiapan sampai peneutupan selalu
dilaksanakan secara bersama-sama oleh ke dua etnis. Salah satunya dapat dilihat pada
saat pelaksanaan perang topat berlangsung, yang menjadi penanda lempar ketupat
dimulai adalah suara ku-kul (kentongan) yang bertalu-talu, dan berhenti saat suara kulkul (kentongan) berhenti.Ini merupakan simbol atau tanda yang telah disepakati
bersama oleh para peserta perang topat. Sementara media yang digunakan sebagai alat
perang adalah ketupat, ketupat merupakan simbol dari kesuburan atau kemakmuran.
Simbol-simbol ini merupakan simbol yang telah disepakati secara bersama sehingga
tradisi ini dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
796
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
Proses interaksi sosial dalam berbagai peristiwa senantiasa melibatkan banyak
orang, simbol, situasi bersama diantara mereka, sehingga setiap tindakan memiliki
makna baik terhadap dirinya maupun bagi orang lain. Tegasnya, jika proses yang
berlangsung menurut kehendak, motivasi, tujuan dan kepentingan bersama, maka
keseluruhan tindakannya merupakan manifestasi dari konsep kehidupan sosial
budaya.Jadi dapat dikatakan bahwa tanpa ada niat yang sama, hati yang sama tujuan
yang sama dan pikiran yang sama tradisi ini tidak mungkin bisa terwujud, tanpa adanya
kebersamaan persepsi tidak mungkin membangun visi yang sama. Tanpa adanya visi
yang sama tidak mungkin ada misi bersama membangun kebahagiaan bersama.
Sementara hasil wawancara juga menunjukkan dengan dilaksanakannya tradisi
perang topat ini dapat menciptakan kerukunan dan memupuk kebersamaan diatara
kedua etnis. Terciptanya kerukunan dan kebersamaan antar kedua etnis ini dalam
melaksanakan tradisi ini dilatar belakangi oleh adanya komunikasi yang efektif selama
ini dan kesamaan idiologi yang berlaku pada waktu relatif sama. Keinginan untuk
mensukseskan proses upacara perang topat di Taman Lingsar inilah yang menuntut
adanya kerjasama dan komunikasi diantara kedua etnis.
Dengan demikian secara tidak langsung segenap anggota masyarakat etnis
Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali Hindu yang terlibat dalam pelaksanaan
tradisi perang topat telah menerapkan komunikasi ritual dalam melaksanakan ritual ini.
Komunikasi inilah yang sesungguhnya mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan
solidaritas diantara anggota masyarakat etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan etnis
Bali Hindu yang ada di Lingsar.sehingga dapat dikatakan salah satu makna komunikasi
ritual dalam tradisi perang topat ini adalah makna kebersamaan.
Makna Kepuasan Rasa
Kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat
sesuatu memadai.Sebuah kepuasan juga bisa didefinisikan sebagai persepsi terhadap
sesuatu yang telah memenuhi harapannya. Oleh karena itu, seseorang tidak akan puas
apabila mempunyai persepsi bahwa harapannya belum terpenuhi. Seseorang akan
merasa puas jika persepsinya sama atau lebih besar dari yang diharapkan Irawan
(2003:134).
Dalam menentukan kepuasan setiap orang merupakan hal yang sulit untuk
dilakukan. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memaknai
kepuasan. Konsep mengenai kepuasan hampir berbeda disetiap budaya yang ada,
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
797
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
penyebabnya adalah adanya perbedaan nilai-nilai yang dianut setiap masyarakatnya
sehingga setiap orang mampu memaknai kepuasan sesuai dengan nilai yang
dianutnya.Beberapa orang menilai kepuasan dari tingkat kesejahteraan hidupnya,
sedangkan yang lainnya menilai kepuasan berdasarkan hubungan sosial yang
dijalinnya.Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep kepuasan itu
sendiri sifatnya sangat subyektif, tergantung dari individu yang memaknainya.
Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa dari sistem kepercayaan etnis Sasak
Islam penganut Wetu Telu dan etnis Bali beragama Hindu percaya dengan adanya
kekuatan gaib, percaya akan adanya kekuatan supranatural. Kepercayaan-kepercayaan
inilah yang diaktualisasikan dengan melaksanakan ritual tradisi perang topat.untuk
melaksanakan ritual tersebut diperlukan alat-alat dan perlengkapan upacara. Melalui
perlengkapan upacara inilah mereka mengungkapkan emosi, perasaan mereka. Dengan
melaksanakan tradisi perang topat ini didasari dan dipercayai oleh masyarakat etnis
Sasak Islam penganut Wetu Telu dan Bali Hindu akan mendatangkan hujan yang dapat
memberi kemamuran dan mereka terbebas, merasa teratasi dari rasa takut akan sangsisangsi yang akan menimpa sesuai dengan sistem kepercayaan mereka. Sedangkan dari
hasil observasi jika dilihat dari ekspresi wajah para pelaku perang topat, di sana nampak
hanya ada rasa kebahagiaan setelah melaksanakan tradisi ini, walaupun mereka terkena
lemparan ketupat bahkan ada yang kena telur busuk, namun tidak ada ekspresi marah
diwajah mereka.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan bahwa terdapat
hubungan antara kepuasan rasa dengan keyakinan seseorang akan agamanya, kekuatan
hubungan seseorang dengan Tuhannya, ibadah, serta partisipasi dalam kegiatan
keagamaan. Hal ini dapat terjadi karena pengalaman religius ataupun kepercayaan yang
dimiliki
seseorang
membuat
seseorang
memiliki
perasaan
bermakna
dalam
kehidupannya. Agama atau religi juga mampu memenuhi kebutuhan sosial seseorang
melalui kegiatan agama yang dilakukan secara bersama-sama ataupun karena berbagi
nilai dan kepercayaan yang sama. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan tradisi perang
topat di Taman Lingsar yang dilakukan oleh masyarakat etnis Sasak Islam penganut
Wetu Telu dan Bali Hindu dapat membuat kedua etnis tersebut menjalin hubungan
pertemanan dengan anggota lainnya, sehingga dengan pelaksanaan tradisi ini dapat
membuat diri seseorang merasa bahwa ia menjadi bagian kelompok orang yang
memegang nilai dan kepercayaan yang sama.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
798
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
Dapat disadari bahwa masyarakat etnis Sasak Islam penganut Wetu Telu dan
Bali Hindu masih tetap melaksanakan tradisi perang topat ini karna disadari betul dan
dipercayai akan dapat mengatasi krisis-krisis yang mereka hadapi dalam menjalani
kehdiupan mereka. Dengan melaksanakan tradisi ini mereka akan merasa terbebas dari
rasa takut, sehingga mereka merasa tenang dan senang karena telah melaksanakan
kewajiban. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan tradisi ini akan
menimbulkan perasaan tenang dan senang, rasa senang inilah yang akan menimbulkan
rasa puas, karna kepuasan akan dirasakan apabila telah menikmati sesuatu dengan
perasaan senang.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai komunikasi ritual
dalam tradisi perang topat di Taman Lingsar Kabupaten Lombok Barat maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Bentuk komunikasi ritual dalam tradisi perang topatdi Taman Lingsar Kabupaten
Lombok Barat yaitu bentuk komunikasi kelompok yang dilakukan baik secara verbal
maupun nonverbal. Pada bentuk komunikasi secara verbal diwujudkan dalam bentuk
rapat dan komunikasi antar pribadi sedangkan komunikasi nonverbal diwujudkan
dalambentuk seperti tarian, pertunjukan, doa dan permainan.
2. Fungsi komunikasi ritual dalam tradisi perang topat di Taman Lingsar Kabupaten
Lombok Barat adalah fungsi sebagai jembatan pemersatu antar kedua etnis maupun
sesama etnis yakni etnsi Sasak Islam penganut Wetu Telu dan Bali beragama Hindu,
ketika tradisi perang topat diadakan peristiwa ini menjadi sebuah ajang pertemuan
dan silahturahmi antar ke dua etnis maupun sesama etnis, sehigga mampu memupuk
dan memperkokoh kerukunan antar kedua etnis. Fungsi sebagai pelestarian budaya
tradisi perang topat merupakan tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari
generasi kegenerasi. Ini bearti bahwa pelaksanaan tradisi ini merupakan usaha untuk
melestarikan tradisi perang topat. Fungsi sebagai identitas budaya istilah perang
topat hanya ada di Lombok, khususnya di lingsar. Sebagai identitas budaya
merupakan bagian dari suatu tradisi daerah yang mencirikan budaya Pulau Lombok.
Identitas budaya inilah yang menjadi landasan untuk memperkokoh peradaban suatu
bangsa.
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
799
Widya Sandhi : ISSN. 1907-7351 - Volume 6. Nomor 1. Mei 2015
3. Makna komunikasi ritualdalam tradisi perang topat di Taman Lingsar Kabupaten
Lombok Barat yakni makna kebersamaan dan makna kepuasan rasa. Dalam ritual
tradisi perang topat unsur yang paling menonjol adalah unsur kebersamaan dan
kerjasama. Bentuk kebersamaan yang dibangun bukan simbol semata, tetapi selalu
menjadi junjungan masyarakat etnis Sasak Islam Wetu Telu dan Bali beragama
Hindu di Lingsar. Sedangkan makna kepuasan rasa dalam hal ini adalah dengan
melaksanakan tradisi perang topat adanya perasaan senang yang dirasakan selain itu
adanya keyakinan dan kepercayaan bila tidak melaksanakan tradisi ini akan terkena
sanksi, seperti kena musibah, kelaparan, banyak yang sakit dan hal-hal buruk lainnya
sehingga hal ini menimbulkan rasa takut. Jadi dapat dikatakan bahwa kepuasan akan
dirasakan apabila telah menikmati sesuatu dengan perasaan senang.
Daftar Pustaka
Carey, James W. 1992. Communication as Culture: Essays on Media and
Society.Newyork : Routledge.
Couldry, Nick. 2005. Media Rituals; Beyond Functionalism., dalam Media
Anthropology. Editor: Eric W. Rothenbuhler dan Mihai Coman.Thousand Oaks
: SAGE Publications
Dep. Pendidikan & Kebudayaan.1983. Upacara Tradisi Dalam Kaitannya dengan
Peristiwa Alam dan Kepercayaan di Nusa Tenggara Barat.Mataram
Irawan, Handy. 2003. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta : PT. Elex Media
Computindo
Larry A Samovar, dkk. 2006. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta : Salemba Humanika
Lasswell, Harold. 1960. The Structure and Function of Communication in Society,
dalam Mass Communications, a Book of Readings Selected and Edited by the
Director of the Institute for Communication Research at
Moleong, Lexy J. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar.Bandung: Remaja
Rosdakarya
Sendjaja. 1994. Teori-Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Stanford University. Editor: Wilbur Schramm. Urbana: University of Illinois
Press.
Suprayogo dan Tabroni.2001. Metodelogi Penelitian Sosial Agama.Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
Ketut Yuniati, Ziti Zaenab,I Wayan Suadnya : Komunikasi Ritual Dalam Tradisi Perang Topat Di Taman
Lingsar Kabupaten Lombok Barat 787-800
800
Fly UP