...

Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
Tinjauan Umum
Pada tanggal 27 Mei 2006 pukul 5:54
pagi waktu setempat, gempa dengan
magnitudo momen 6,3 menghantam
pulau Jawa, Indonesia di dekat
Yogyakarta. Daerah yang terkena
dampaknya merupakan daerah padat
penduduk yang merupakan wilayah
perpaduan perkotaan dan pedesaan di
lereng sebelah selatan Gunung Merapi
yang dikenal sebagai gunung berapi
aktif. Lokasi pusat gempa pertamatama dilaporkan berada di lepas pantai
Samudra Hindia (Gambar 1). Lokasi
pusat gempa ini kemudian direvisi
menjadi 20 km selatan tenggara
Gambar 1. Kawasan pusat gempa, UGM (2006)
Yogyakarta, pada 7,962° lintang
selatan, 110,458° bujur timur. Lokasi
pusat gempa ini letaknya di sebelah tenggara desa Imogiri di sepanjang Sungai Oyo di Kabupaten
Bantul (USGS, 2006). Menurut USGS, kedalaman gempa ini sedalam 10 km.
Menurut data terkini, jumlah korban mencapai 5.176 orang meninggal dan antara 37.000 sampai
dengan 50.000 orang terluka. Diperkirakan 600.000 sampai satu juta orang saat ini tidak punya
tempat berlindung permanen.
Jumlah total kerusakan dan kerugian karena gempa ini diperkirakan senilai US$ 3,1 miliar (CGI,
2006). Hal ini membuat gempa Yogya berada di urutan keempat dari bencana alam yang paling
merugikan di negara sedang berkembang dalam 10 tahun terakhir ini. Yang terkena dampak
paling parah adalah rumah-rumah, sehingga menyumbangkan lebih dari setengah dari total
jumlah kerugian dan kerusakan. Diperkirakan 154.000 rumah hancur total dan 260.000 rumah
mengalami beberapa kerusakan. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah total
gabungan dari rumah-rumah yang perlu direkonstruksi dan diperbaiki di daerah-daerah di
Indonesia yang terkena bencana tsunami 26 Desember 2004 dan gempa Nias 28 Maret 2005.
Daerah yang mengalami dampak paling parah adalah Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY), dimana 47.000 rumah hancur, dan Kabupaten Klaten di Provinsi Jawa Tengah,
dimana 66.000 rumah hancur. CGI, 2006 memperkirakan adanya 4,1 juta meter kubik puingpuing di daerah-daerah yang terkena dampak gempa (Gambar 2 dan 3).
Gambar
2. Puing-puing
di sepanjang jalan utama
Kerusakan
Rumah
menuju Imogiri, S7.92282°, E110.38374° IMG_6551
Gambar 3. Puing-puing di Gantiwarno (Klaten, Jawa
Tengah), S7.76802 E110.54156 IMG_6916
1
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
Kerusakan Rumah
Banyak rumah yang rusak parah akibat gempa ini. Diperkirakan 7,4% persediaan perumahan
telah hilang di enam kabupaten yang mengalami kerusakan paling parah (CGI, 2006). Di
beberapa desa, 70-90% dari rumah-rumah tersebut hancur total. Rumah-rumah yang ada di
daerah yang terkena gempa dapat dibagi menjadi tiga kategori umum:
(1) Rumah pasangan bata tanpa tulangan – rumah-rumah yang lebih tua (dibangun sebelum
tahun 1990) terdiri dari dinding pasangan bata tanpa tulangan dengan atap pelana atau
perisai dan kuda kuda dari kayu atau beratap bambu dengan genting,
(2) Rumah ikatan bata atau setengah ikatan bata – rumah-rumah yang lebih baru (dibangun
setelah tahun 1990) dibangun dengan ikatan atau setengah ikatan bata, batako atau batu
di dalam dinding beton dengan atap pelana atau perisai dengan kuda kuda dari kayu atau
beratap bambu dengan genting,
(3) Rumah kayu – rumah dengan rangka kayu jarang dijumpai; kalaupun ada sering kali masih
ada dinding pasangan batanya.
Rumah Pasangan Bata Tanpa Tulangan. Rumah dengan struktur pasangan bata tanpa
tulangan ada di mana-mana di daerah yang terkena dampak gempa dan merupakan jenis struktur
yang mengalami kerusakan paling parah (Gambar 4 dan 5). Tidak ada sloof, kolom, atau ring
balok dari beton bertulang yang digunakan pada rumah-rumah yang lebih tua.
Gambar 4. Rumah-rumah berstruktur pasangan bata tanpa
tulangan yang hancur, Pleret (Bantul), S7.83686°
E110.41552° IMG_6633
Gambar 5. Rumah berstruktur pasangan bata tanpa
tulangan, kategori kerusakan D3, Tlogo, Prambanan
(Klaten), S7.75259° E110.49550° IMG_6852
Batu bata dari tanah liat yang dibakar dengan kayu diletakkan dalam mortar yang terbuat dari
pasir dan tanah liat atau mortar lemah yang terbuat dari kapur (gamping), pasir, dan semen.
Dalam banyak kasus, mortar tersebut akan hancur saat diremas dengan tangan. Dinding rumah
berstruktur pasangan bata yang paling tua lebarnya sekitar 25 cm, dibangun dengan sistem
pasangan satu bata. Batu bata yang digunakan pada rumah-rumah yang paling tua cenderung
lebih panjang (25 cm x 11 cm x 4 cm) dibandingkan dengan batu bata yang digunakan pada
rumah modern (22 cm x 11 cm x 4 cm). Pasangan satu bata tidak mungkin dilakukan dengan
batu bata yang lebih pendek ukurannya, jadi yang sering dilakukan adalah membuat pasangan
bata dengan lebar 17 cm di mana dua bata diletakkan pada arah sejajar bidang dinding dan satu
bata dipasang menyamping (Gambar 6 dan 7).
2
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
Gambar 6. Pasangan bata tanpa tulangan. Sumbermilo
(Bantul) IMG_6771
Gambar 7. Pasangan bata tanpa tulangan, Bebekan Mulyodadi,
Bambang Lipuro (Bantul). S7.94160°, E110.32297° IMG_6806
Rumah Ikatan Bata atau Setengah Ikatan Bata. Banyak rumah yang baru saja dibangun
dengan struktur ikatan bata dengan kolom praktis dan sloof atau ring balok memiliki kinerja yang
baik selama terjadinya gempa. Contoh-contoh rumah ikatan bata, batako, dan batu yang
menunjukkan kinerja yang baik tersebar di sepanjang daerah-daerah yang terkena dampak paling
parah (Gambar 8 sampai 10). Kolom-kolom umumnya dicor rata dengan dinding setelah dinding
batanya dipasang, oleh karena itu lebarnya sama dengan lebar bata atau batako (10 atau 11 cm).
Besi tulangan polos umumnya dipakai, biasanya berdiameter 6 atau 8 mm dengan begel yang
diameternya berkisar dari 3 sampai 6 mm. Begel sering kali dipasang pada jarak 15 sampai 20
cm.
Gambar 8. Rumah ikatan bata yang dirancang dan dibangun
dengan baik, di ujung daerah yang mengalami kerusakan
sangat parah di Pleret (Bantul), S7.83686° E110.41552°,
IMG_6636
Gambar 9. Sisi belakang dari rumah ikatan bata yang dirancang dan
dibangun dengan baik, Bebekan Mulyodadi, Bambang Lipuro
(Bantul), S7.94160°, E110.32297°, IMG_6804
Sebelum gempa terjadi, ada tiga rumah yang
dibangun di Wonokromo, Pleret (Bantul) di bawah
pengawasan dan arahan dari Prof. Sarwidi dari
Pusat Studi Rekayasa Kegempaan, Efek Dinamika,
dan Kebencanaan (Center for Earthquake
Engineering, Dynamic Effect, and Disaster Studies CEEDEDS) di Universitas Islam Indonesia. Rumahrumah ikatan bata ini menggunakan detil
sambungan seperti yang ditunjukkan dalam posterposter
Gambar 10. Rumah setengah ikatan batu dengan ring balok
dari kayu, Platar Somopuro, Jokonalan (Klaten), S7.75478,
E110.53557, IMG_6897
3
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
yang dibagikan oleh CEEDEDS (Gambar 11). Rumahrumah ini memiliki kinerja sangat baik selama terjadinya
gempa. Yang terjadi hanyalah retak-retak rambut, dan
dalam satu kasus terjadi beberapa kerusakan pada
tombak layar yang terbuat dari pasangan bata (Gambar
12).
Gambar 11. Detil sambungan sloof dan ring balok
dalam poster-poster yang dibagikan oleh CEEDEDS,
UII, IMG_6618
Meskipun jelas bahwa rumah ikatan bata memiliki
kinerja yang baik selama gempa, banyak rumah
ikatan bata atau setengah ikatan bata yang runtuh
atau mengalami kerusakan parah. Alasan yang
paling umum diuraikan di bawah ini.
Gambar 12. Keretakan pada tombak layar yang terbuat dari
pasangan bata, rumah CEEDEDS, Jejeran-2, Wonokromo, Pleret
(Bantul), S7.86676° E110.38764°, IMG_6696
(1) Sambungan yang tidak cukup antara
kolom praktis dengan sloof atau ring balok
bertulang, dan antara kolom praktis dengan dinding pasangan bata. Hal ini merupakan
penyebab kerusakan paling dominan untuk rumah ikatan bata yang baru saja dibangun di
mana sudah terdapat kolom praktis dan sloof atau ring balok (Gambar 13 – 17).
Gambar 13. Rumah ikatan bata yang sedang dibangun,
sambungannya tidak cukup, Pleret (Bantul). S7.87574°,
E110.40703°, IMG_6575
Gambar 14. Tampilan diperbesar dari sambungan ring
balok– kolom. IMG_6577
Gambar 15. Tampilan diperbesar dari ring balok tanpa
sambungan, IMG_6579
Gambar 16. Sambungan yang tidak cukup antara kolom dengan
ring balok, Segoroyoso, Pleret (Bantul) S7.88174° E100.40869°,
IMG_6749
4
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
(2) Dinding tinggi dan langsing dari pasangan bata
yang tidak diikat dengan baik. Rumah-rumah yang
lebih baru menggunakan sistem pasangan
setengah bata (13 cm dengan plaster, 10-11 cm
tanpa plaster) dan sering kali tinggi dindingnya lebih
dari 3 m. Tombak layar menambah ketinggian 1 – 2
m. Kerusakan tombak layar dari pasangan bata
sangat umum dijumpai di daerah-daerah yang
terkena dampak gempa dan menimpa rumah baru
maupun rumah yang lebih lama dengan dan tanpa
ring balok bertulang (Gambar 18 dan 19). Dalam
banyak kasus, tombak layar dari pasangan bata
tidak diikat dengan tepat atau tidak dihubungkan ke
Gambar 17. Sambungan yang tidak cukup antara
atap secara benar. Sokong diagonal di antara dua
kolom dengan ring balok, Pleret (Bantul)
tombak layar tidak umum dipakai. Tombak layar
S7.88174° E100.40869°, IMG_6746
dengan model salah satu sisinya lebih panjang
daripada yang lain (offset gable) - sebuah gaya arsitektur populer yang membuat ruang tamu dan
teras lebih luas - juga mengalami kerusakan (Gambar 20 dan 21).
Gambar 18. Tombak layar dari pasangan bata yang terjungkir,
Keputren, Pleret (Bantul) S7.86905° E110.40272°, IMG_6721
Gambar 19. Tombak layar dari pasangan bata yang terjungkir
(Bantul) S7.89468°, E110.37341°, IMG_6542
Gambar 20. Kerusakan ringan pada tombak layar (offset
gable), Gantiwarno (Klaten), S7.75485° E110.53555°,
IMG_6905
Gambar 21 Tombak layar (offset gable) yang runtuh,
Kasongan, Kasihan (Bantul), S7.84512° E110.33534°,
IMG_6824
5
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
(3) Ketiadaan sloof dan ring balok. Banyak rumah-rumah yang lebih baru memiliki kolom dari
beton bertulang tapi tidak memiliki ring balok dari beton bertulang (Gambar 22 dan 23).
Gambar 22. Dinding pasangan bata yang runtuh
(perhatikan tidak adanya ring balok), Pleret (Bantul)
IMG_6589
Gambar 23. Dinding pasangan bata yang runtuh
(perhatikan tidak adanya ring balok), Kebutren, Pleret
(Bantul) S7.86905° E110.40272°, IMG_6725
(4) Sambungan yang tidak cukup antara dinding atau kolom dengan atap. Besi tulangan kolom
sering kali dilingkarkan pada balok kayu yang berfungsi sebagai ring balok (Gambar 24). Balok
kayu umumnya berdimensi 8 cm x 12 cm dan dibuat dari pohon kelapa atau kayu keras dari Jawa
dan Kalimantan. Bambu juga umum dipakai untuk struktur atap. Beberapa rumah yang lebih tua
menggunakan perpaduan dari beberapa sistem struktur, yang mana sebagian dari beban atap
disangga oleh kolom kayu dengan pasangan bata. Kuda kuda kayu yang umum dijumpai
diperlihatkan pada Gambar 25.
Gambar 24. Sambungan yang umum dijumpai di
antara kolom dan ring balok – besi tulangan kolom
dilingkarkan pada kayu, Jejeran-1, Wonokromo, Pleret
(Bantul), S7.86480° E110.38821° IMG_6672.
Gambar 25. Kuda kuda kayu yang umum dipakai
dengan plat baja untuk memperkuat sambungan,
Kasongan, Kasihan (Bantul), S7.84512° E110.33534°
IMG_6831.
6
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
(5) Penggunaan kuda kuda beton. Kuda kuda beton terlihat pada beberapa rumah. Semua kuda
kuda tersebut mudah patah/getas (tidak daktil) pada sambungan ring balok-kolom (Gambar 26
dan 27). Bangunan-bangunan ini dipakai untuk berbagai keperluan; bagian belakang dipakai
untuk penyimpanan atau tempat tinggal, dan bagian depan untuk toko. Dengan demikian, bagian
depan umumnya berupa rangka terbuka (tidak ada penguat di bagian ini).
Gambar 26. Rumah/toko dengan kuda kuda beton,
Bebekan Mulyodadi, Bambang Lipuro (Bantul) S7.93460°
E110.32194°, IMG_6778
Gambar 27. Tulangan pada ring balok untuk
rumah/toko, Bebekan Mulyodadi, Bambang Lipuro
(Bantul) S7.93460° E110.32194°, IMG_6781
(6) Masalah Pondasi. Pondasi baik untuk
rumah yang lebih lama maupun lebih baru
terdiri dari pondasi menerus dangkal yang
dibuat dari pasangan batu bata atau batu
gunung yang disusun secara acak dalam
mortar semen atau lumpur. Hanya satu
kerusakan yang berhubungan dengan pondasi
yang berhasil ditemukan yaitu dinding bata dari
rumah satu lantai bergeser secara horizontal
pada pertemuan antara dinding ini dengan
pondasi batu (Gambar 28).
Gambar 28. Pergeseran di sepanjang pertemuan antara
dinding/pondasi, Tegal Kebong Agung, Imogiri (Bantul)
S7.93434° E110.36667°, CIMG1769
Rumah Transisi
Tenda-tenda telah dibagikan di beberapa daerah. Juga palu, sekop dan perkakas lainnya untuk
mendukung pembersihan dan pengolahan ulang puing-puing. Banyak keluarga yang rumahnya
hancur telah membangun kembali tempat-tempat penampungan sementara yang terdiri dari satu
sampai dua ruangan di atas pondasi rumah mereka yang telah hancur (Gambar 29 dan 30).
Tempat penampungan sementara tersebut menggunakan kayu daur ulang, bambu, kusen jendela
dan pintu, terpal plastik baru, tripleks, dan seng. Selain itu, banyak keluarga yang memilih untuk
tetap tinggal dalam rumah yang telah rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Rumah-rumah ini
mudah sekali roboh jika ada gempa-gempa susulan.
7
Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006
DAMPAK terhadap RUMAH
NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi
19 Juni 2006
Gambar 29. Rumah transisi di Pleret (Bantul),
S7.83686° E110.41552°, IMG_6646
Gambar 30. Rumah transisi di Pleret (Bantul)
IMG_6727
Rekonstruksi Rumah
Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencananya untuk mengalokasikan Rp. 33 juta (US$
3.700) untuk membangun kembali tiap rumah yang hancur. Tidak jelas apakah dana tersebut
akan diberikan secara langsung kepada para pemilik rumah, atau disalurkan melalui para
kontraktor yang disewa oleh pemerintah.
Yogyakarta merupakan pusat budaya dan intelektual Indonesia, tempat beradanya banyak
universitas, tempat-tempat bersejarah, dan usaha berskala kecil sampai menengah, seperti
pembuat kerajinan tangan. Yogyakarta bukanlah pusat industri berat; meskipun batu bata
diproduksi di daerah tersebut, banyak material bangunan harus didatangkan dari kota-kota lain.
Survei harga yang dilakukan selama observasi awal mengindikasikan bahwa harga material sudah
sama dengan harga material terkini di daerah yang hancur oleh tsunami di Aceh. Di Aceh, harga
untuk bahan bangunan dan upah buruh untuk rumah ikatan bata, yang luasnya 36 m2 dengan 2
kamar tidur, yang dilengkapi dengan tangki septik dan listrik berada pada kisaran Rp. 52-60 juta
(US$ 5.800 - 6.700).
Referensi
Kelompok Konsultatif untuk Indonesia (Consultative Group on Indonesia - CGI), 2006. Penilaian
Kerusakan dan Kerugian Tahap Awal, Bencana Alam Yogyakarta dan Jawa Tengah. Laporan
Gabungan dari BAPPENAS, Pemerintah Provinsi dan Daerah D.I. Yogyakarta, Pemerintah
Provinsi dan Daerah Jawa Tengah, dan Mitra Internasional, Juni 2006. Pertemuan Kelompok
Konsultatif untuk Indonesia (Consultative Group on Indonesia - CGI) ke-15, Jakarta.
Tambah UGM, 2006, USGS, 2006
Kontributor untuk Bagian Perumahan adalah Dr. Elizabeth Hausler, Tety Sriana, Ainun Syam, dan
Irwansyah dari Build Change.
8
Fly UP