...

25 KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

25 KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN
ASI EKSKLUSIF DI UPT PUSKESMAS BANYUDONO I
KABUPATEN BOYOLALI
Oleh:
Fitria Ika Wulandari, Natalia Riski Iriana
AKBID Citra Medika Surakarta
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Perilaku ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif didunia masih
sangat kurang. WHO, AAP, AAFP, IDAI merekomendasikan pemberian ASI
eksklusif sampai 6 bulan dilanjutkan 2 tahun. Data hasil studi pendahuluan di
UPT Puskesmas Banyudono I tahun 2011 dari 1.025 bayi hanya 286 bayi (27,9%)
yang mendapatkan ASI eksklusif. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
karakteristik ibu menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif di UPT
Puskesmas Banyudono I Boyolali meliputi umur, paritas, pendidikan, pekerjaan.
Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Data diambil dari
responden menggunakan kuesioner. Sampel berjumlah 34 responden yaitu ibu
menyusui yang memiliki bayi > 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif
secara teknik accidental sampling. Analisis data dengan menggunakan analisia
yang menghasilkan distribusi dan presentase dengan rumus distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik ibu menyusui yang tidak
memberikan ASI eksklusif di wilayah UPT Puskesmas Banyudono I Kabupaten
Boyolali meliputi umur ibu < 20 tahun, paritas ibu primipara, pendidikan ibu
yaitu pendidikan dasar, pekerjaan ibu sebagian besar sebagai karyawan pabrik
(ibu bekerja). Dari data tersebut perlu dilakukan pelatihan konseling menyusui
bagi petugas kesehatan khususnya bidan di wilayah UPT Puskesmas Banyudono I
Kabupaten Boyolali agar meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
manfaat ASI eksklusif.
Kata Kunci : Karakteristik, ibu menyusui, ASI eksklusif
PENDAHULUAN
Proses menyusui akan membuat bayi mendapatkan asupan gizi yang cukup
dan limpahan kasih sayang yang berguna untuk perkembangannya. Pencapaian
perkembangan yang optimal juga dapat dilakukan dengan menyusui bayi secara
penuh (ASI murni/eksklusif) selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai berumur 2
tahun (Hidajati, 2012).
Menurut World Health Organization (WHO), American Academy of
Pediatrics (AAP), American Academy of Family Physicians (AAFP) dan Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun dapat memberikan keuntungan
bukan hanya bagi bayi dan ibu saja tetapi juga bagi tempat kerja ibu (IDAI, 2010).
Cakupan pemberian ASI eksklusif di indonesia tahun 2007 pada bayi 0 – 5
bulan adalah sebesar 62,2% tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi
56,2% namun meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan pada
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
25
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
bayi umur 6 bulan tahun 2007 turun dari 28,6% pada tahun 2008 menjadi 24,3%
dan naik lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009 (Kementrian Kesehatan R.I, 2010).
Millenium Development Goals (MDGs) terkait pengurangan prevalensi
kekurangan gizi tahun 2010 – 2014, bayi 0 – 6 bulan yang diberikan ASI eksklusif
pada tahun 2010 ditargetkan sebesar 65% dan tahun 2011 sebesar 67% kemudian
menjadi 100% untuk tahun 2014 (Bappenas, 2011).
Data dari profil kesehatan Kabupaten atau kota di Provinsi Jawa Tengah
tahun 2009 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 40,21%
walaupun terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2008 yang hanya 28,96% tetapi
berdasarkan data secara nasional maupun Jawa Tengah ternyata dirasakan masih
sangat rendah dari status pencapaian target MDGs pada tahun 2014 sebesar 100%
dan hanya 4 Kabupaten saja yang telah mencapai pemberian ASI eksklusif di atas
60% yaitu Kabupaten Banyumas, Klaten, Sukoharjo, dan Blora, di mana
Kabupaten Boyolali tidak termasuk didalamnya (Profil Provinsi Jawa Tengah,
2009). Data hasil studi pendahuluan pada tanggal 20 Maret 2012 di UPT
Puskesmas Banyudono I Kabupaten Boyolali dari 1.025 bayi pada tahun 2011,
hanya 286 bayi (27,9%) yang mendapat ASI eksklusif sampai umur 6 bulan.
Berdasarkan Permasalahan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian karakteristik Ibu menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif di
UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali.
LANDASAN TEORI
Air Susu Ibu (ASI)
Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi terpenting yang dibutuhkan oleh
setiap bayi idealnya diberikan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan
makanan pendamping sampai usia 2 tahun (IDAI, 2010). Menurut Roesli (2004)
dalam Hidajati (2012) dikatakan ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja
tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih,
dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit,
bubur nasi, dan tim. Rekomendasi terbaru UNICEF bersama World Health
Assembly (WHA) dan banyak negara lainnya menetapkan jangka waktu
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Adapun Kandungan dengan komposisi yang tepat, serta disesuaikan
dengan kebutuhan bayi adalah :
1. Lemak
Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak, kadar lemak dalam ASI
antara 3,5% – 4,5%. Kadar kolestrol ASI lebih tinggi daripada susu sehingga
bayi yang mendapat ASI seharusnya kadar kolestrol darah lebih tinggi, tetapi
ternyata penelitian Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapatkan
ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner pada usia muda
(Hidajati, 2012).
2. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktose, mempunyai kadar paling
tinggi dibanding susu mamalia lain (7%). Laktose mempunyai manfaat lain
yaitu mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan
lactobacillus bifidus (Hidajati, 2012).
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
26
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
3. Protein
Protein dalam ASI terdiri dari casein (protein yang sulit dicerna) dan
whey (protein yang mudah dicerna). ASI lebih banyak mengandung whey
daripada casein sehingga protein ASI mudah dicerna sedangkan pada susu sapi
kebalikannya (Proverawati dan Rahmawati, 2010).
4. Garam dan Mineral
ASI Mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi,
bayi yang mendapatkan susu sapi yang tidak dimodifikasi dapat menderita
tetani karena hipokalsemia (Hidajati, 2012).
5. Vitamin
ASI mengandung vitamin yang diperlukan bayi, vitamin K yang
berfungsi sebagai katalisator pada proses pembentukan darah dengan jumlah
yang cukup dan mudah diserap, dalam ASI juga terdapat vitamin D dan E
terutama dalam kolostrum (Hidajati, 2012).
Manfaat ASI Eksklusif adalah sebagai berikut :
1. Bagi ibu
a. Meneteki berarti memelihara hubungan emosional ibu dan bayi.
b. Menghemat waktu dan biaya penyiapan makanan bagi bayi.
2. Bagi bayi
a. Sebagai nutrisi makanan terlengkap untuk bayi, karena mengandung zat
gizi yang seimbang dan cukup serta diperlukan untuk 6 bulan pertama.
b. Mengandung antibodi (terutama kolostrum) yang melindungi terhadap
penyakit, terutama diare dan gangguan perpanasan.
c. Menunjang perkembangan motorik sehingga bayi yang diberi ASI ekslusif
akan lebih cepat bisa berjalan.
d. Meningkatkan jalinan kasih sayang.
e. Selalu siap tersedia, dan dalam suhu yang sesuai serta mudah dicerna dan
zat gizi mudah diserap.
f. Mudah dicerna dan zat gizi mudah diserap.
g. Melindungi dari alergi karena tidak mengandung zat yang dapat
menimbulkan alergi.
h. Mengandung cairan yang cukup untuk kebutuhan bayi dalam 6 bulan
pertama 87% ASI adalah air.
i. Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak
sehingga bayi ASI ekslusif potensial lebih pandai.
j. Menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan emosional,
kematangan spiritual dan hubungan sosial yang baik (Hidajati, 2012).
3. Bagi Keluarga
Pengeluaran untuk makanan bayi relatif kecil karena dengan memberi
makanan buatan kepada bayi dapat menghabiskan pendapatan keluarga.
4. Bagi masyarakat
Meneteki atau memberi ASI kepada bayi sangat penting untuk
mengatasi masalah kelaparan serta memberi jaminan pangan bagi keluarga
yang mengalami kekurangan pangan dalam situasi darurat (Anonim, 2009).
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
27
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif
Menurut Soetjiningsih (1997) dalam Hidajati (2012) antara lain :
1. Faktor sosial budaya ekonomi (pendidikan formal ibu, pendapatan keluarga,
dan status kerja ibu).
2. Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita, tekanan batin).
3. Faktor fisik ibu ( ibu yang sakit, misalnya mastitis, dan sebagainya).
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapatkan
penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI ekslusif.
Adapun menurut Roesli (2004) dalam Hidajati (2012) fenomena
kurangnya pemberian ASI eksklusif disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang ASI ekslusif.
2. Beredarnya mitos yang kurang baik.
3. Kesibukan ibu bekerja dan singkatnya cuti melahirkan.
Karakteristik Ibu Menyusui yang Memberikan ASI Eksklusif
Karakteristik adalah ciri – ciri khusus yang mempunyai sifat khas sesuai
dengan perwatakan tertentu (Sampurna, 2003). Menurut Hidajati (2012) dikatakan
karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif meliputi :
1. Umur
Menurut Martadisoebrata (1992) dalam Hidajati (2012) dikatakan usia
reproduksi sehat atau aman untuk kehamilan, persalinan, dan menyusui adalah
20 - 35 tahun. Usia reproduksi sangat baik dan mendukung dalam pemberian
ASI eksklusif.
2. Paritas
Menurut Nursalam (2001) dalam Hidajati (2012) dikatakan paritas
adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu. Perinansia (2004)
dalam Hidajati (2012) dikatakan seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin
akan mengalami masalah ketika menyusui hanya karna kurangnya pengetahuan
cara-cara menyusui yang sebenarnya dan apabila ibu mendengar ada
pengalaman menyusui yang kurang baik yang dialami orang lain. Hal ini
memungkinkan ibu ragu untuk memberikan ASI pada bayinya.
3. Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Hidajati (2012) dikatakan
pendidikan diperkirakan ada kaitan dengan pengetahuan ibu menyusui dalam
memberikan ASI eksklusif, hal ini dihubungkan dengan tingkat pengetahuan
ibu bahwa seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai
pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang
rendah.
4. Pekerjaan
Depkes RI (1999) dalam Hidajati (2012) mengatakan pekerjaan
diperkirakan dapat mempengaruhi pengetahuan dan kesempatan ibu dalam
memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan responden yang bekerja lebih baik
dibandingkan dengan pengetahuan responden yang tidak bekerja disebabkan
karena ibu yang bekerja memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai
informasi, termasuk mendapatkan informasi ASI ekslusif. IDAI (2010)
mengatakan bahwa ibu bekerja masih dianggap sebagai salah satu penyebab
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
28
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
kegagalan menyusui disebabkan pendeknya waktu cuti kerja, pendeknya waktu
istrahat saat bekerja sehingga ibu tidak mempunyai cukup waktu memerah
ASI.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif untuk
mendeskripsikan karakteristik ibu menyusui yang tidak memberikan ASI
Eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I. Sampel penelitian ini yaitu ibu - ibu
menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif yang berkunjung bulan Juni 2012
di UPT Puskesmas Banyudono 1 Kabupaten Boyolali sejumlah 34 responden
yang diambil secara Non Random menggunakan teknik Accidental Sampling. Alat
pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan alat pengumpul data yang
dibuat oleh peneliti yaitu berupa kuesioner. Penelitian ini menggunakan analisa
yang menghasilkan distribusi dan presentase dengan rumus distribusi frekuensi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menyajikan hasil secara deskriptif kuantitatif untuk melihat
gambaran secara kuantitatif ibu menyusui yang tidak memberikan ASI Eksklusif
berdasarkan umur, paritas, pendidikan, pekerjaan :
Karakteristik menurut umur ibu menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif
di UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali tahun 2012.
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Menurut Umur Ibu Menyusui
yang Tidak Memberikan ASI Eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
No.
1.
2.
3.
Jumlah
Umur
< 20 tahun
20–35 tahun
> 35 tahun
Frekuensi
18
10
6
34
Prosentase
53%
29%
18%
100%
Sumber : Data Primer 2012
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat dari 34 responden presentase terbanyak ditemui
pada kelompok usia < 20 tahun yaitu 18 responden (53%).
Karakteristik menurut paritas ibu menyusui yang tidak memberikan ASI
eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali tahun 2012.
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Menurut Paritas Ibu Menyusui
yang Tidak Memberikan ASI Eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
No.
Paritas
Frekuensi
Presentase
1.
Primipara
19
56%
2.
Multipara
15
44%
Jumlah
34
100%
Sumber : Data Primer 2012
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat dari 34 responden presentase yang terbanyak
ditemui pada paritas primipara sebanyak 19 responden (56%).
Karakteristik menurut pendidikan ibu menyusui yang tidak memberikan
ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali tahun 2012.
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
29
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Menurut Pendidikan Ibu
Menyusui yang Tidak Memberikan ASI Eksklusif di UPT Puskesmas
Banyudono I
NO
Pendidikan
Frekuensi
Presentase
1.
Dasar (SD,SLTP)
21
62%
2.
Menengah(SLTA)
10
29%
3.
Tinggi(Perguruan Tinggi)
3
9%
Jumlah
34
100%
Sumber : Data Primer 2012
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat dari 34 responden presentase terbanyak ditemui
pada kelompok pendidikan dasar 21 responden (62%).
Karakteristik menurut pekerjaan ibu menyusui yang tidak memberikan
ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali tahun 2012.
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Menurut Pekerjaan Ibu
Menyusui yangTtidak Memberikan ASI Eksklusif di UPT Puskesmas
Banyudono I
NO
Pekerjaan
Frekuensi
Presentase
1.
Bekerja
26
76%
2.
Tidak bekerja
8
24%
Jumlah
34
100%
Sumber : Data Primer 2012
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat dari 34 responden presentase terbanyak ditemui
pada kelompok ibu bekerja yaitu 26 responden (76%).
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan dalam bentuk tabel
distribusi selanjutnya peneliti akan membahas satu per satu dari sub variabel yang
diteliti sebagai berikut :
1. Karakteristik menurut umur
Berdasarkan tabel 1 distribusi frekuensi karakteristik ibu menyusui
yang tidak memberikan ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
Boyolali berdasarkan umur menunjukkan bahwa dari 34 responden yang
diteliti, didapatkan hasil mayoritas 18 responden (53%) yang memiliki umur <
20 tahun. Hasil penelitian ini sesuati dengan teori Martadisoebrata (1992) yang
dikutip Hidajati (2012), dikatakan bahwa umur < 20 tahun masih belum
matang secara fisik, mental maupun psikologi dalam menghadapi pemberian
ASI secara eksklusif pada bayinya.
2. Karakteristik menurut paritas
Berdasarkan tabel 2 distribusi frekuensi karakteristik ibu menyusui
yang tidak memberikan ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
Boyolali berdasarkan paritas menunjukkan bahwa dari 34 responden yang
diteliti, didapatkan 19 responden (56%) yang mempunyai satu anak.
Berdasarkan teori menurut Perinasia (2004) dalam Hidajati (2012) dikatakan
seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika
menyusui hanya karna kurang pengetahuan cara menyusui yang benar maupun
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
30
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
trauma dari pengalaman menyusui kurang baik yang dialami orang lain. Hal
tersebut yang memungkinkan ibu ragu untuk menyusui atau memberikan ASI
pada bayinya secara eksklusif. Penelitian ini sesuai dengan penelitiannya
Ginting, Nanan, Sukandar (2012) bahwa ada pengaruh antara paritas ibu
terhadap pemberian MP-ASI dini pada bayi usia < 6 bulan
3. Karakteristik menurut pendidikan
Berdasarkan tabel 3 distribusi frekuensi karakteristik ibu menyusui
yang tidak memberikan ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
Boyolali berdasarkan pendidikan menunjukkan bahwa dari 34 responden
didapatkan 21 responden (62%) yang memiliki pendidikan terakhir Dasar yaitu
hanya menempuh pendidikan hingga SD atau SLTP saja. Berdasarkan teori
menurut Notoatmodjo (2003) dalam Hidajati (2012) dikatakan pendidikan
diperkirakan ada kaitannya dengan pengetahuan ibu menyusui dalam
memberikan ASI eksklusif, hal ini dihubungkan dengan tingkat pengetahuan
ibu bahwa seseorang yang berpendidikan rendah akan mempunyai pengetahuan
yang lebih rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Hal tersebut sesuai
dengan hasil penelitiannya Widiayanto, Aviyanti, Tyas (2012) yang dilakukan
di Desa Kramat kabupaten Grobogan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara pendidikan dan pengetahuan ibu dengan sikap pemberian ASI Eksklusif
dengan korelasi sangat kuat.
4. Karakteristik menurut pekerjaan
Berdasarkan tabel 4 distribusi frekuensi karakteristik ibu menyusui
yang tidak memberikan ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I
Boyolali berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa dari 34 responden
didapatkan 26 responden (76%) sebagian besar ibu bekerja menjadi karyawan
(buruh) pabrik. Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (2010) dikatakan
ibu bekerja masih dianggap sabagai salah satu penyebab tingginya angka
kegagalan menyusui disebabkan pendeknya waktu cuti kerja, pendeknya waktu
istirahat saat bekerja sehingga ibu tidak mempunyai cukup waktu untuk
memerah ASI serta memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian Ginting, Sekarwarna, Sukandar di wilayah kerja puskesmas
Barusjahe Sumatera Utara bahwa ada pengaruh ibu yang bekerja terhadap
pemberian MPASI Dini pada bayi mereka usia kurang dari 6 bulan yang berarti
bahwa ibu menyusui yang bekerja tidak memberikan ASI Eksklusif secara dini.
KESIMPULAN
Hasil penelitian tentang karakteristik Ibu menyusui yang tidak
memberikan ASI eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I Boyolali dapat
disimpulkan bahwa Karakteristik menurut umur ibu menyusui yang tidak
memberikan ASI eksklusif adalah kelompok umur < 20 tahun sebanyak 18
responden (29%). Karakteristik menurut paritas ibu menyusui yang tidak
memberikan ASI eksklusif adalah kelompok Primipara sebanyak 19 responden
(56%). Karakteristik menurut pendidikan ibu menyusui yang tidak memberikan
ASI eksklusif adalah kelompok pendidikan dasar sebanyak 21 responden (62%).
Karakteristik menurut pekerjaan ibu menyusui yang tidak memberikan ASI
eksklusif adalah kelompok ibu bekerja sebanyak 26 responden (76%).
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
31
INFOKES, VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013
ISSN : 2086 - 2628
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2009. ASI dan ketahanan pangan. Jurnal kesehatan.
http://www.gizi.net/upload/artikel/2009-05-15.pdf. Diakses tanggal 12
Maret 2012.
Ginting D, Sekarwarna N, Sukandar H. 2012. Pengaruh karakteristik, faktor
internal dan eksternal ibu terhadap pemberian MP-ASI dini pada bayi
usia < 6 bulan di wilayah kerja puskesmas Barusjahe Kabupaten Karo
Provinsi
Sumatera
Utara.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2013/01/pustaka_unpad_pengaruh_karakteristik_faktor_in
ternal.pdf. Diakses tanggal 28 November 2013.
Hidajati A. 2012. Mengapa seorang ibu harus menyusui?. Jogjakarta: Flashbook.
IDAI. 2010. Indonesia menyusui. Jakarta: badan penerbit IDIAI.
Kementerian Kesehatan Indonesia: Profil Kesehatan Indonesia. 2010. .
http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 10 Maret 2012
Proverawati A, Rahmawati E. 2010. Kapita selekta ASI & menyusui. Yogyakarta:
Nuha medika.
Profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah: Daftar Tabel. 2009. http://www.profil
kesehatan jateng.go.id. Diakses tanggal 10 Maret 2012.
Sardjunani N. 2011. Peta jalan percepatan pencapaian tujuan pembangunan
milenium. Jakarta: Deputi menteri perencanaan pembangunan nasional
atau kepala Bappenas sidang SDM dan kebudayaan. http:/www.rakergub310111-bappenas-paparan.pdf. Diakses tanggal 14 Maret 2012.
Sampuna K. 2003. Kamus lengkap bahasa Indonesia. Surabaya: Cipta Karya.
Widiyanto S, Aviyanti D, Tyas M. 2012. Hubungan pendidikan dan pengetahuan
ibu tentang ASI eksklusif dengan sikap terhadap pemberian ASI eksklusif.
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, Volume 1, Nomer 1
Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
32
Fly UP